Selasa, 26 Januari 2010

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

Banjar, Haedar Nashir - Ratusan siswa dan alumni Madrasah Aliyah Al-Azhar Kota Banjar menggelar perpisahan kelas dan Isra Miraj. Pada kesempatan ini mereka merampungkan Al-Quran sebanyak 30 kali khatam sejak pagi sekitar pukul 5.30-9.00 WIB di ruang kelas serta halaman sekolah, Rabu (11/5).

Menurut Ketua Panitia Irfan Saeful Rohman, sebanyak 142 siswa yang telah dinyatakan lulus perlu mendapatkan dorongan motivasi dari guru, orang tua, serta lingkungan menuju jenjang selanjutnya.

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

"Usaha kita upayakan para siswa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Doa pun kita panjatkan melalui khataman ini agar mereka dipermudah jalannya oleh Allah," terangnya kepada Haedar Nashir.

Irfan berharap melalui kegiatan ini siswa senantiasa cinta terhadap agama dan NKRI. Pasalnya, siswa yang telah lulus juga perlu mendapatkan arahan agar tidak terjebak paham yang tidak jelas arahnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Semua alumni selalu kita kumpulkan dalam momentum tertentu. Intinya agar kita tahu perjalanan para alumni sekolah ini," pungkasnya.

Kepala sekolah Al-Azhar Drs KH Muin Abdurrohim menegaskan, siswa yang telah lulus diimbau untuk memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

"Saya berpesan semua alumni MA Al-Azhar senantiasa dekat dengan pesantren, dekat kiai serta wajib menjaga keutuhan NKRI dari segala paham transnasional yang bertentangan dengan Pancasila," tegasnya.

Dari informasi yang dihimpun Haedar Nashir, sebanyak 31 siswa telah diterima di perguruan tinggi yang ada di Indonesia melalui jalur program SNMPTN. (Muhafid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Rabu, 20 Januari 2010

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Haedar Nashir. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Haedar Nashir

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Senin, 11 Januari 2010

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa.

Karenanya, kesempatan beribadah tidak hanya diberikan kepada jama’ah haji. Siapapun mendapat kesempatan beramal meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah

Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Artinya, “Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).

Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan. Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits di atas sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah. Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut. Ibnu Majah memberi judul bab hadis di atas dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”.

Dalam kajian hadits, pemberian judul bab sekaligus menunjukan pemahaman seorang rawi terhadap hadis yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa. Karenanya, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh.”

Kendati disebutkan puasa sepuluh hari dalam hadits di atas, ini bukan berati pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan ‘Idul Adha. Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Yang dimaksud sepuluh hari di sini ialah sembilan hari, terhitung dari tanggal satu Dzulhijjah.”

Berdasarkan pendapat An-Nawawi ini, siapapun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa sembilan hari di awal bulan. Dalam hadits lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul SAW, “Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada sepuluh hari tersebut?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid),” (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala beramal di sepuluh hari Dzulhijjah dan mati syahid. Karena konteks negara kita bukan perperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir