Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Oleh Fathan Subchi



Nahdlatul Ulama (NU) tidak lama akan memasuki satu abad. Tentu, sebagai organisasi sosial keagamaan, NU memang sepatutnya terus berinovasi. Jamiyah yang terkenal corak komunalnya dan identik dengan kaum sarungan ini harus kian akrab dengan isu-isu dan gagasan soal penguatan ekonomi warganya.?

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Dalam menapaki usianya yang kian matang ini--satu rentang waktu yang terbilang cukup matang mestinya dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan--tentu tuntutan warga menjadi satu keharusan yang terus diformulasikan oleh stakeholder, termasuk para pemangku kebijakan di berbagai daerah (eksekutif, legislatif, dll) ?

NU memang sejatinya jelmaan Indonesia itu sendiri. Sebaran warganya yang di berada pelosok-pelosok desa, tradisi kulturnya yang menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat, dan corak kegamannya yang terbuka dan menerima pandangan dari luar yang baik merupakan mozaik bangsa yang perlu dilestarikan oleh siapa pun, termasuk terhadap para penguasa.?

Namun, kendala yang kita hadapi memang sejatinya dari fase ke fase hampir sama, setidaknya ? problem kesejahteraan yang melekat pada kelompok-kelompk warga yang tak punya akses pendidikan, miskin keahlian, dan memang tertinggal secara pemikiran. Perlu ada intervensi semacam tandzimul harakah melalui sebuah kebijakan negara. ?

Haedar Nashir

Sebaran mereka yang mengenyam pendidikan yang baik memang seberuntung daripada mereka yang pada masa-masa lampau telah menjauh dan tak mau bersentuhan dengan dunia ? pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan dan pesantren. Yang tersebar menjadi petani, nelayan, buruh, guru swasta, pegawai kontrak, pekerja informal tentu kian rumit untuk diurai tali dan relasi kesejahteraannya, apalagi tantangan zaman juga kian kompleks.?

Sebagai jamiyah, kontribusi NU dalam berbagai aspek dalam menjejak satu abad memang terlihat sudah amatlah luas. Yang terlihat dan bisa dirasakan secara kultural adalah: pertama, kontribusinya dalam menjaga daya ketahanan sosial masyarakat melalui berbagai sarana persemaian nilai-nilai budaya dan tradisi-tradisi seperti yang menjadi langgam dakwah Wali Songo.?

Kedua, kontribusi secara tarbiyah bisa dilacak menjadi konsistensi NU dalam mengelola pesantren dan madrasah sebagai implementasi pendidikan keagamaan. Nilai-nilai keagaman yang disemai kalangan pesantren dan kiai NU jauh lebih bias diterima masyarakat luas, dan menjadi inspirasi pengetahuan keagamaan dan sumber-sumber kajian akademik di tengah oase padang tandus kerasnya aliran dan paham-paham radikal yang kian mulai berembus. Apalagi, secara jelas dunia sedang menggejala intoleransi. ?

Haedar Nashir

? ? ?

Nahdlatut Tujjar sebagai Gerakan?

Ada tiga pilar utama sebagai pondasi bagi tegaknya organisasi NU yaitu, Nahdlatul Wathan (Gerakan Cinta Tanahair), Tashwirul Afkar (Gerakan Intelektual dan Pemikiran) dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi). Ketiga pilar ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan NU dalam membangun bangsa ini. Ketiga pilar tersebut pada mulanya adalah sebuah organisasi yang masing-masing didirikan oleh ulama-ulama dari kalangan NU sendiri. Tahun 1914 berdiri Nahdlatul Wathan sebagai manisfestasi dari kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan.?

Kemudian Tashwirul Afkar pada 1918 sebagai ikon dari pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dan pada tahun yang sama berdiri pula Nahdlatut Tujjar sebagai perwujudan dari pengembangan ekonomi umat. Ketiga menjadi cikal bakal NU dan sekaligus sebagai pondasi fundamental NU.?

Nahdlatut Tujjar adalah narasi sejarah yang dilukis oleh para pendahulu-pendahulu NU. Nahdlatut Tujjar harus bisa dihadirkan kembali, apalagi secara jelas Raisul Akbar, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dengan kata-kata mutiaranya tentang “Pak Tani itulah penolong negeri”.?

Kata-kata mutiara itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat ? negeri didasarkan.” (artikel F. Rahman-NU, Online, 1/1/2017)?

Sesungguhnya banyak hal yang menyebabkan perlunya didirikan organisasi ini. Satu hal yang terpenting adalah keprihatinan ulama terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang terbelakang baik secara mental maupun sosial ekonomi hingga persoalan kebangsaan dan keagamaan. Sebagai bangsa yang berada di bawah kungkungan imperialisme bangsa barat pada saat itu bangsa Indonesia mengalami kondisi yang memperihatinkan. Dan di sinilah Nahdltut Tujjar dihidupkan. Saudagar ulama-santri konsolidasi dan lahirlah organisasi ini sebagai wahana dakwah yang kemudian bisa membesarkan jamiyah untuk lebarkan kekuatan anti-kolonial barat. ? ?

Sebagai embrio gerakan saudagar ulama-santri, Nahdlatut Tujjar bisa letakkan dalam konteks hari ini di mana kita menyadari bahwa warga NU masih jamak yang berada dalam lapis sosial yang tertinggal, mereka masih perlu diintervensi kesejahterannya.?

Mereka menjadi "miskin" secara intelektual dan ekonomi. Dua jalur yang sama-sama perlu diikhtiarkan, yaitu Intelektualisme dan ekonomi. Dua hal pokok kehidupan yang dapat menjadi awal keterbelakangan atau kemajuan suatu bangsa. NU sebagai ormas keagamaan lahir untuk membangkitkan bangsa Indonesia dari tidur lelapnya. ?





Strategi Cluster?

Sejak awal peran Nahdlatut Tujjar dalam memberdayakan ekonomi umat mendapat dukungan dari para pendiri NU yang kebanyakan adalah para pedagang atau sekurang-kurangnya mempunyai unit produksi yang membuat mereka bisa mandiri secara ekonomi.

Diakui atau tidak, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan dan mayoritas dari itu adalah warga Nahdliyin yang berada di pedesaan.?

Dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi menjadi satu hal terpenting. Karena sabda Rasul SAW yang artinya "kefakiran akan mendekatkan pada kekufuran". Ini mencerminkan bahwa dalam ekonomi islam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) akan sangat mempengaruhi keimanan dan keislaman seseorang. Memberdayakan ekonomi umat bisa dimulai dari mana saja. Pergerakannya berbanding lurus dengan konsistensi dan fokus yang menjadi sasaran pasarnya. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, di antaranya dengan model cluster :?

Pertama, pesantren sebagai cluster utama bagi NU. Formulasi gerakannya dititik tekankan pada studi kebutuhan dan kelayakan usaha, serta akses permodalan, kecakapan SDM, dan ketekunan induknya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan. Pesantren sesungguhnya sudah tak asing dengan gerakan ekonomi, produk-produk pesantren seperti Kopontren pada masa lampau termasuk produk yang kita banggakan bersama.

Saat ini, Pesantren bisa lebih agresif memfasilitasi santrinya pada bentuk misalnya pendidikan entrepreneur, pemagangan, dan lain-lain. Dan itu, bisa kami koneksikan dengan para pemangku kebijakan di pemerintahan. Dan PKB sudah merintis itu.?

Kedua, cluster warga berbasis pada Pedesaan. Dalam kontek ini, PCNU dan MWCNU bisa mengenali warganya yang telah menekuni pada bidang-bidang tertentu. Mereka yang menjadi petani, nelayan, pengrajin, peternak, pelaku UKM, bisa didata sehingga betul-betul bisa dijadikan acuan untuk menyalurkan bantuan dan bentuk-bentuk dukungan lainnya, seperti akses pelatihan, permodalan, dan lain lain.?

Ketiga, cluster jenis usaha. Lahirnya UU Desa yang memberikan perhatian penuh pada pembangunan di pedesaan, termasuk adalah soal pemberdayaan masyarakat berbasis Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). MWCNU bisa memetakan dan membuat satu formulasi Bumdes-Bumdes yang bisa dirancang untuk kesejahteraan warganya. Tentu Hal ini bisa ditempuh dengan membuat semacam pilot project, sehingga jenis-jenis usaha yang dikembangkan, tidak berdasar atas tren, tapi memang sudah menjadi penguasaan para ahli. ? ?

? ?

Dalam rangka ikhtiar membangun ekonomi umat yang kuat, dan tak mudah tergoyah oleh pengaruh global, maka landasan yang perlu ditanamkan saat ini bagaimana warga NU sejahtera, dan memiliki aset tak ternilai. Salah satu juga yang patut dirintis ulang- bagaimana dulu juga pernah dirintis oleh guru kita, Gus Dur—yaitu model bank Nusumma—yang menghadirkan sistem pembiayaan usaha mikro kecil yang bias berdampingan beriringan dengan kelompok masyarakat marjinal, seperti nelayan, petani, buruh, guru honorer, pekerja kasar, dan lain-lain.?

Lokomotif ekonomi menjadi tantangan tersendiri ketika stakeholder NU kini sudah merambah di berbagai jalur kekuasaan; eksekutif dan legislative. Kaum mudanya –yang terpelajar—harus bias diintegrasikan ke dalam model pengelolaan ekonomi pembiyaaan mikro tadi.?

Kita sungguh masih memiliki beban sejarah yang belum selesai. Setidaknya ini terekam dalam statuennya NU (AD/ART) Fatsal 3 poin f yaitu: "mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara Agama Islam". Di sini sangat jelas bahwa NU harus memperhatikan sektor-sektor penggerak ekonomi. Orientasi politik yang sangat kuat dari sebagian besar kaum Nahdliyyin harus dibarengi orientasi pengembangan ekonomi umat yang bermuara pada kesejahteraan warga.?

Inilah politik kemaslahatan NU yang perlu dirancang dan diimplementasikan segera, apalagi pasar dan Negara kian terbuka dengan model pendekatan NU yang terbuka. Kita memiliki gambaran bahwa 10-20 tahun ke depan adalah medan dari sebuah pilot projek yang amat strategis, bagaimana mengetengahkan politik ekonomi warga lebih dekat dengan bandul politik kemaslahatan NU.

Ibarat gadis cantik, NU seringkali hanya seksi di perebutan pesta lima tahunan. Mudah-mudahan ini menjadi kesadaran dan beban historis yang segera harus kita urai bersama. ?





Penulis adalah anggota DPR RI FPKB. Ketua IKAPMII DKI Jakarta. ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaNu, Ahlussunnah Haedar Nashir

Minggu, 18 Februari 2018

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir, saya ingin bertanya. Ayah saya berusia 65 tahun dan memiliki beberapa anak. Sebagian anaknya sudah menikah. Selama ini ayah dan ibu saya hidup cukup dari usaha pensiunan. Tetapi ayah saya kadang masih mengharapkan bantuan finansial dari anak-anaknya sebagai bentuk balas budi kepada orang tua. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Aisyah/Bogor).

Jawaban

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Allah memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua. Perintah ini disebutkan langsung antara lain di dalam Surat Luqman ayat 14-15.

Haedar Nashir

Dalam Surat Luqman ayat 14-15, Allah meminta manusia untuk berbakti kepada orang tua dalam segala hal. Manusia diperintahkan untuk membantu kedua orang tua baik selagi hidup maupun ketika keduanya sudah wafat.

Haedar Nashir

Adapun kebaktian anak terhadap orang tua dalam bentuk nafkah berupa makanan pokok adalah wajib selagi anak itu mampu membantu orang tuanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kedua orang tua wajib dinafkahi oleh anaknya dengan syarat antara lain kelapangan rezeki anak yang bersangkutan. Batasan kelapangan rezeki adalah mereka yang memiliki kelebihan harta setelah menutupi kebutuhan makanan pokok dirinya dan anak-istrinya sehari-semalam itu di mana kelebihan itu dapat diberikan kepada kedua orang tuanya. Jika anak itu tidak memiliki kelebihan harta, maka ia tidak berkewajiban apapun atas nafkah kedua orang tuanya lantaran kesempitan rezeki yang bersangkutan,” (Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2001 M/1422 H, halaman 577).

Meski demikian, tidak setiap orang tua memerlukan bantuan nafkah dari anaknya. Orang tua yang berhak menerima bantuan nafkah dari anak adalah mereka yang memenuhi dua syarat mustahik nafkah.

? ? ? ?) ? ? (?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Adapun orang tua wajib dinafkahi) oleh keturunannya (dengan dua syarat) atau salah satunya, yaitu ([pertama] kefakiran dan penyakit kronis) tertimpa musibah atau bencana [yang mencegahnya berusaha-pen], ([kedua] kefakiran dan kegilaan) karena riil hajat mereka ketika itu. Dari sini anak-keturunannya tidak wajib menafkahi orang tua yang fakir dan sehat; atau fakir dan waras meskipun mereka memiliki usaha/pekerjaan karena kemampuan berusaha/bekerja setara dengan potensi memiliki harta. Jika mereka tidak memiliki usaha, anak-keturunan mereka wajib menafkahinya, menurut pendapat lebih zhahir di Raudhah dan tambahan di Minhaj. Anak-keturunan diperintahkan bergaul dengan orang tuanya secara baik. Bukan termasuk kategori pergaulan baik kalau anak-keturunan membiarkan orang tua yang sudah renta/kakek-neneknya berusaha/bekerja,” (Lihat Muhammad bin Ahmad As-Syarbini, Al-Iqna’ pada Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1996 M/1417 H, juz IV, halaman 439-440).

Secara rinci kedua orang tua yang berhak menerima nafkah anaknya adalah mereka yang tidak kaya, tidak sehat, dan tidak waras.

? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “[Adapun orang tua wajib dinafkahi keturunannya dengan dua syarat atau salah satunya, yaitu (pertama kefakiran dan penyakit kronis) penderita penyakit kronis yang kaya atau orang fakir yang sehat-gagah tidak wajib dinafkahi, (atau kedua kefakiran dan kegilaan), orang gila yang kaya atau orang fakir yang waras tidak wajib dinafkahi,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, Situbondo, Al-Maktabah Al-As‘adiyah, cetakan pertama, 2014 M/1434 H, halaman 169).

Tetapi bagaimanapun, manusia tetap diharuskan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya sesuai dengan kondisi keuangannya, tidak perlu memaksakan diri secara rutin dengan besaran tertentu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nafkah untuk kerabat (baik usul yaitu ayah-ibu dan kakek-nenek ke atas maupun furu’ yaitu anak-cucu ke bawah) tidak ditentukan batasannya, tetapi sewajarnya. Nafkah untuk kerabat itu berbeda ukurannya sesuai dengan usia dewasa atau di bawah dewasa, kezuhudan atau kekurangzuhudannya... Kalau seseorang tidak menafkahi kerabatnya hingga beberapa waktu baik karena kelalaian atau bukan, maka tidak dihitung utang karena nafkah kerabat disyariatkan untuk membantu saja sifatnya, berbeda dari nafkah istri karena nafkah istri merupakan semacam imbalan. Wallahu a‘lam,” (Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Beirut, Darul Fikr, 1994 M/1414 H, juz II, halaman 115).

Melihat kondisi kecukupan kedua orang tua seperti deskripsi pada pertanyaan di atas, dapat disimpulkan bahwa anak-anaknya tidak wajib menafkahi kedua orang tuanya. Tetapi tentu saja anak dianjurkan untuk memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik dan sedikit-sedikit membantu keperluan kedua orang tuanya sesuai dengan kelonggaran kondisi keuangan anaknya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, AlaNu, Humor Islam Haedar Nashir

Jumat, 16 Februari 2018

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (LBH PP GP Ansor) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang atas aksi penyerangan oleh sekelompok orang pada 19 Agustus 2017 terhadap warga Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo yang sedang memperingati hari kemerdekaan ke-72 RI.

“LBH Ansor meminta dan mengimbau warga korban penyerangan, segenap anggota Ansor dan Banser untuk menahan diri, tidak melakukan aksi balasan atau aksi main hakim sendiri dan mempercayakan proses penyelidikan dan penyidikan kepada pihak kepolisian,” kata Direktur Advokasi dan Litigasi LBH PP GP Ansor Achmad Budi Prayoga dalam rilisnya, Senin (28/8) siang.

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Aksi Penyerangan di Sukoharjo, GP Ansor Minta Warga Percaya Proses Hukum

Menurut Budi Prayoga, aksi penyerangan oleh sekitar 30 orang ini merupakan masalah hukum yang tengah ditangani oleh oleh aparat hokum yang berwenang.

Haedar Nashir

Sebagaimana diketahui, aksi penyerangan terjadi pada 19 Agustus 2017, saat masyarakat sedang? bergembira memperingati hari kemerdekaan ke-72 Indonesia yang diadakan oleh warga Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Haedar Nashir

Berdasarkan hasil investigasi oleh tim litigasi LBH GP Ansor, penyerangan dilakukan oleh sekelompok orang bertopeng dengan jumlah sekira 30 orang. Pelaku membawa senjata tajam. Aksi penyerangan ini menyebabkan jatuhnya korban masyarakat umum serta seorang anak balita yang mengalami luka-luka. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 14 Februari 2018

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Banyuwangi, Haedar Nashir - Sebelum membuat kebijakan atau kegiatan, para kader NU harus menyiapkan konsep yang jelas. Mulai dari latar belakang masalah, segmentasi, waktu dan tempat, sampai apa kegiatan lanjutan setelah kegiatan itu dilakukan.

Demikian dikatakan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami saat memberikan materi "Advokasi Kebijakan Publik" pada Latihan Kader Utama (Lakut) yang digelar Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Banyuwangi, 16-19 Februari 2016, di Pondok Pesantren Baitussalam, Tampo, Cluring, Banyuwangi, Jatim.

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Menurutnya, masih banyak para kader IPNU melakukan beberapa kegiatan yang belum terkonsep dengan jelas dan rapi. "Sehingga hasilnya jelas, kegiatan yang telah dilakukan tidak memiliki manfaat yang signifikan," tegas Haikal.

Sumber daya manusia di setiap kader yang dimiliki juga masih banyak yang kurang kompeten dan profesional. "Betapa fatalnya jika selama ini hanya menjaring dan membentuk kader di setiap desa, akan tetapi tidak sebanding lurus dengan pelatihan pengembangan sumberdaya kader di masing-masing desa," imbuh Haikal.

Haedar Nashir

"Untuk itu, saya pribadi selaku pimpinan wilayah kedepan bertekad untuk mengumpulkan seluruh pimpinan cabang yang ada di Jatim, untuk kita didik melakukan inovasi-inovasi gerakan terbaru. Di antaranya, akan ada program ngaji Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)," tutur Haikal.

Haedar Nashir

Pelatihan Lakut ini adalah upaya positif yang terus didorong. "Dengan ini potensi SDM kader-kader yang kita miliki lebih baik. Juga akan menjadi muharrik (penggerak) di setiap desa. Ini investasi gerakan grass root (akar rumput)," tuturnya.

Pelatihan ini diikuti oleh puluhan perwakilan pengurus PC IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Selama empat hari mereka dididik dengan 15 materi lanjutan selepas latihan kader muda (Lakmud). (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Makam Haedar Nashir

Selasa, 06 Februari 2018

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Surabaya, Haedar Nashir. Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid. 

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari, pendiri NU.

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafii mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Haedar Nashir

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafii mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Haedar Nashir

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat. 

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Senin, 05 Februari 2018

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi

Surabaya, Haedar Nashir. Tidak ada pilihan lain bagi para pengelola madrasah khususnya di lingkungan NU untuk terus melakukan inovasi agar bisa menjawab kebutuhan zaman dengan tenaga-tenaga terampil. Kendati demikian, sejumlah terobosan tersebut juga harus tetap menjaga jati diri sebagai madrasah dakwah. Inovasi dalam dunia pendidikan adalah sebagai sebuah hal yang tidak dapat dihindarkan.

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jawab Kebutuhan Zaman, Madrasah NU Harus Kaya Inovasi

Demikian disampaikan oleh Ketua PW LP Maarif NU Jatim, Prof Dr H Abdul Haris, MAg, Senin (9/11). Dia mengingatkan bahwa tuntutan dunia kerja, kiprah di masyarakat serta jenjang pendidikan yang lebih tinggi kian mengingatkan akan pentingnya inovasi tersebut.

Bagi Profesor Haris, harapan yang demikian tinggi dari berbagai kalangan tersebut hendaknya dapat dijawab dengan berbagai kreasi. "Sehingga lembaga pendidikan tetap ditunggu kiprahnya," kata dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Haedar Nashir

Intensitas melakukan pertemuan dengan sesama pengelola lembaga pendidikan juga harus dapat dilakukan. "Dengan demikian terjadi saling berbagi kelebihan dan kreasi yang bermanfaat bagi para pengelola madrasah," terangnya.

LP Maarif NU Jatim misalnya secara berkala menyelenggarakan sejumlah pertemuan yang menghadirkan para pimpinan madrasah dan penentu kebijakan. "Hal ini seperti yang kami lakukan pada Sabtu, 7 November kemarin di UIN Malang," katanya.?

Haedar Nashir

Dalam pertemuan yang dikemas dengan rapat koordinasi Kepala LP Maarif NU se-Jatim tersebut juga menghadirkan Dr Basnang Said MAg selaku Kasi Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, lanjutnya.

"Pada pertemuan tersebut banyak usulan kreatif dari kepala madrasah yang akhirnya dapat diakomodir oleh Bapak Basnang Said," terangnya. Bahkan, imbuhnya, sejumlah kebijakan yang akan dan berlaku di setiap lembaga pendidikan juga disampaikan pada kegiatan tersebut.

Dengan kerapnya dilakukan pertemuan tersebut diharapkan para pengelola lembaga pendidikan di lingkungan NU mampu melakukan inovasi sehingga madrasah yang dikelola tetap dipercaya masyarakat. "Demikian juga kemampuan dalam menangklap informasi kebijakan yang akan diberlakukan di setiap lembaga pendidikan juga harus terus diasah," katanya.

Akan tetapi, segala prestasi dan inovasi tersebut tetap harus bertumpu pada terjaganya Ahlussunnah wal Jamaah ala NU. "Jangan sampai madrasah hanya berburu kemajuan prestasi akademis, namun menanggalkan ruh perjuangan yakni terjaganya Aswaja di setiap lembaga pendidikan," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Jumat, 02 Februari 2018

Terbaik dari Allah adalah Terbaik untuk Kita

Pringsewu, Haedar Nashir

Wakil Ketua PCNU Pringsewu KH Hambali mengajak segenap umat Islam untuk terus memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan diri dengan bekal yang cukup ketika saat nanti bertemu dengan alam keabadian yaitu alam akhirat.

Terbaik dari Allah adalah Terbaik untuk Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbaik dari Allah adalah Terbaik untuk Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbaik dari Allah adalah Terbaik untuk Kita





"Dunia itu adalah tempat menanam amal, yang nantinya akan kita panen di alam akhirat," jelasnya mengutip sebuah maqalah saat memberikan mauidzatul hasanah pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Aula Gedung NU Pringsewu (10/12).

Haedar Nashir





Haedar Nashir

Untuk sampai ke alam keabadian ini, lanjutnya, manusia harus bertemu dahulu dengan alam kematian. Sehingga sebagai umat yang beriman harus menyadari bahwa alam kematian adalah awal dari kehidupan baru.

"Kita harus bertemu kematian dulu sebelum menemui alam keabadian. Jangan dikira setelah kita meninggalkan dunia ini semua urusan selesai," jelas pria Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu.

Dengan modal kualitas dan kuantitas ibadah yang dimiliki, kata dia, diharapkan peluang pintu surga akan terbuka lebih lebar sehingga akan dapat menjadi penduduknya, walaupun pada dasarnya semua itu adalah kehendak Allah SWT.

"Yang masuk ke surga adalah mereka yang dipilih. Salah satunya adalah mereka yang mendapat syafaat dari Nabi dan mereka yang memang dikehendaki dari Allah SWT," jelasnya.

Oleh karenanya dalam setiap hembusan nafas, ia mengajak agar senantiasa mengingat Allah SWT seraya berharap semoga Allah memberi yang terbaik kepada umat-Nya.





"Tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah shalat dengan berjamaah, shalat sunah, zikir dan doa. Yang terbaik menurut Allah adalah yang terbaik untuk kita. Jangan meminta yang terlalu tinggi di luar kemampuan kita. Sesuaikan dengan diri kita sendiri," pesannya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, AlaNu Haedar Nashir

Kamis, 01 Februari 2018

LAZISNU dan UNU Sidoarjo Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (PC LAZISNU) Sidoarjo, Jawa Timur bersama Universitas NU Sidoarjo untuk yang pertama kalinya menggelar kegiatan bakti sosial bersama-sama. Bertempat di Jalan Monginsidi depan kampus Universitas NU Sidoarjo, sekitar 115 paket sembako dibagikan kepada abang becak yang ada di kota Sidoarjo.

LAZISNU dan UNU Sidoarjo Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU dan UNU Sidoarjo Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU dan UNU Sidoarjo Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak

Ketua PC? LAZISNU? Sidoarjo, Muhammad Ihsan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan pilot project lembaganya bersama Universitas NU? Sidoarjo. Rencananya, akan ada banyak kegiatan bersama lagi.

"Ke depan akan kita bahas lagi kegiatan-kegiatan lain dengan UNU (Universitas NU Sidoarjo), karena kegiatan hari ini bisa dibilang berhasil," ungkap Muhammad Ihsan saat ditemui usai kegiatan berakhir, Jumat (9/9) sore.

Ia menambahkan, kegiatan? LAZISNU? akan fokus pada keterlibatan mahasiswa sebagai pelaksananya. Tujuannya untuk membentuk karakter mereka? agar memiliki kepekaan sosial. Selain itu, mengenalkan mereka pada program pengabdian masyarakat yang ada pada Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Meski paket sembako yang dibagikan tidak terlalu banyak, lanjut Muhammad Ihsan, keterlibatan mahasiswa merupakan bagian terpenting dari kegiatan tersebut, karena mereka adalah mahasiswa baru.

Haedar Nashir

Peket sembako yang dibagikan juga merupakan sumbangan mahasiswa baru yang dikumpulkan saat orientasi mahasiswa baru bulan lalu. (Moh Kholidun/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Kyai Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif

Pesawaran, Haedar Nashir

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Lampung berkomitmen meningkatkan kapasitas kader dengan menggelar pelatihan wirausaha baru produktif di Pesantren Minhadlul Ulum, Trimulyo, ? Tegineneng, Pesawaran asuhan KH M Syaifudin Fatoni.?

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif

"Ilmu itu penting, Insyaallah ilmu yang diberikan akan bermanfaat dengan aplikasi di lapangan oleh kader," ujar Sekretaris Ansor Lampung, Budi H Yunanto, Rabu (26/10).

Pelatihan Wirausaha Baru Produktif tersebut bertema "Meningkatkan Keterampilan dan Produktifitas Menciptakan Nilai Tambah dan Mampu Menjawab Tantangan Baru". Kerja sama Pimpinan Pusat GP Ansor dan Kementerian Tenaga Kerja RI.

Pelatihan berlangsung 24-27 Oktober 2016 tersebut diikuti kader Ansor dari 7 kabupaten/kota: Lampung Tengah, ? Lampung Timur, Lampung Barat Metro, Pesawaran, Way Kanan dan Pringsewu.

Haedar Nashir

Materi diberikan meliputi motivasi wirausaha, budidaya tanaman organik, pembuatan pupuk serta pakan organik.

Peningkatan kapasitas kader Ansor Lampung dipimpin Hidir Ibrahim juga dilakukan pada 17-20 Oktober 2016 dengan menggelar Pendidikan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) ? digelar PW GP Ansor Lampung di Pesantren Darus Sholihin Kabupaten Tulang Bawang Barat. (Disisi Saidi Fatah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pendidikan, AlaNu Haedar Nashir

Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dua tahun sebelum muktamar NU ke-33, jurnal Tashwirul Afkar mewawancarai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Tanggal 25 Januari 2014, di tengah menjalankan tugas sebagai Rais Aam untuk ketiga kalinya, Kiai Sahal wafat.

Namun, isi wawancara yang dilakukan Ahmad Fawaid Sjadzili dan Hamzah Sahal dinilai amat relevan untuk diterbitkan lagi. Dalam wawancara ini, Allahu yarham Kiai Sahal seperti berwasiat tentang anakmuda, Nahdlatul Ulama, Aswaja, tak ketinggalan Indonesia.

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dengan beberapa pemotongan, Haedar Nashir menerbitkan kembali wawancara ini, di tengah peringatan 40 hari wafatnya, yang banyak diselenggarakan masyarakat di banyak tempat.

Haedar Nashir

Kiai Sahal, Anda masyhur dengan konsep fiqih sosial. Apa yang melatarbelakangi gagasan tentang fiqih sosial?

Saya melihat ulama itu kalau sudah bahtsul masail, dan membahas fiqih itu terlalu sakral. Saya tidak tahan dengan sikap-sikap seperti itu. Karena fiqih itu adalah hasil dari pemikiran manusia, berdasarkan ijtihad yang dilakukan manusia, bukan dogmatis. Jadi tidak sakral. Untuk menghilangkan itu, saya menggunakan istilah fiqih sosial, bagaimana fiqih itu menjadi hal yang memasyarakat, bukan hal yang sakral.

Haedar Nashir

Kongkretnya bagaimana?

Kongkretnya karena kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kode etik. Sekarang saja saya tidak bisa lepas dari kode etik. Saya harus melayani Anda sebagai tamu dengan ramah; Anda bertanya dan saya menjawab pertanyaan Anda. Fiqih itu luas. Anda jauh lebih muda dari saya, tapi saya suguhi minuman sebagai penghormatan. Jadi meskipun Anda masih muda, saya tidak pantang untuk melayani Anda, karena Anda tamu. Apalagi ada maksud baik, yaitu mau wawancara. Ini fiqih.

Apa yang paling prinsif dari fiqih sosial?

Fiqih sosial itu begini, masalah-masalah sosial yang ada kaitannya dengan hukum. Dan saya pikir semua masalah sehari-hari ini ada kaitannya dengan hukun dan juga fiqih.

Bagaimana agar fiqih tetap relevan?

Fiqih itu kan hidup dengan ijtihad. Ijtihad itu disesuaikan dengan kebutuhan. Ijtihad itu kan berusaha untuk mencapai kebutuhan.

Ijtihad jadi kata kunci dalam fiqih?

Ya. Ijtihad jadi kata kunci.

Bagaimana dengan anggapan pintu ijtihad telah tertutup?

Ijtihad bermacam-macam, ada ijtihad mutlaq dan ijtihad muqayyad, ijtihad yang bebas dan terbatas. Ijtihad itu ada yang ijtihad madzhab dan ijtihad qaul. Ijtihad itu tidak punya pintu, sehingga tidak ada istilah tertutup atau terbuka. Tidak mampu melakukan ijtihad, saya kira iya. Tapi jangan disamakan antara tidak mampu ijtihad dengan ijtihad ditutup.

Persoalannya, siapa yang memapu menjadi Imam Syafi’i sekarang? Apakah ada yang berani mengaku seperti Imam Syafi’i? kan imam mujtahid mutlaq seperti imam yang empat?

Sekarang bagaimana? Ada yang tahu hadits dan Al-Qur’an cuma sepotong-potong; ada yang hafal tapi tidak mengerti; ada juga yang mengerti tapi tidak hafal. Kekuarang selalu banyak. Berbedaan dengan ulama terdahulu yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai tafsir. Kemampuan saya dibanding ayah saya sangat jauh. Bahkan bisa dikatakan, saya tidak mampu menandingi ayah sama sekali. Ayah saya hafal Al-Qur’an, menguasai kitab dan pengetahuan kemasyarakatan. Tapi saya tidak mampu seperti itu.

Kiai, bagaimana perkembangan kajian keislaman saat ini?

Masih relatif bisa diharapkan, meskipun berkurang. Masih banyak pesantren yang memiliki prinsip mengajarkan dirosat islamiyah (kajian keislaman), terutama di bidang fiqih.

Keputusan bahtsul masail di Muktamar Boyolali dan Munas Surabaya dinilai tidak progresif dibandingkan dengan Munas Lampung. Bagaiamana menurut Kiai?

Tidak progresif?

Misalnya hermeunetika diharamkan di Muktamar Boyolali?

Kalau orang memutuskan haram itu karena situasi. Jangan dianggap menurun dong. Boleh dong kalau ada pertanyaan ‘kok dihalalkan terus?’ Harus obyektiflah. Orang yang berbicara begitu belum tentu tahu fiqih. Jadi harus melihatnya secara obyektif.

Berbicara tentang pesantren sebagai lumbung kader NU. Bagaimana situasi pesantren saat ini?

Keadaan pesantren sekarang lain dengan pesantren yang dulu. Kalau pesantren yang dulu itu terkonsentrasi. Para santri dan para kiai pengasuh pesantren terkonsentrasi pada ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga melahirkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang susah dipisahkan dan susah dibuang begitu rupa. Tradisi itu melekat, inhern pada kehidupan sehari-hari mereka. Itu yang pertama.

Yang kedua, pada sistem pesantren itu sendiri. Sistem pesantren itu dulu lebih memfokuskan kepemimpinan pada pengasuh. Tapi itu dulu. Sekarang pesantren beda, karena terpengaruh dengan sistem demokrasi. Jadi sistem demokrasi itu masuk di pesantren telah mengubah sistem pesantren, sehingga kepemimpinan pengasuh itu tidak terjadi lagi. Mending kalau pengasuhnya kebetulan peduli dengan perkembangan ini, sehingga kiai itu bisa memberikan arahan-arahan. Kalau tidak, susah juga.

Bagaimana pengalaman Kiai di Kajen?

Kalau saya, saya ikuti. Santri saya beri kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi dengan arahan. Tidak lalu bebas mutlak. Dan arahan saya tidak monolog. Saya selalu memberi arahan melalui dialog. Karena mereka sadar bahwa tidak mungkin santri itu hidup sendiri dengan kemandirian penuh, masih ada ketergantungan pada pengasuhnya. Mereka sendiri yang mempunyai kesadaran seperti itu, bukan karena saya yang memengaruhi.

Apa faktor yang mengubah kondisi pesantren saat ini?

Faktor pemahaman demokrasi yang kurang begitu tepat. Orang gampang bicara demokratisasi. Semetara di mana menempatkan demokrasi itu tidak dipikirkan. Dan tentu tidak semua hal secara general harus disikapi dengan demokrasi. Ada aspek-aspek yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi.

Misalnya?

Aspek dogmatis misalnya. Itu tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Banyak h al lain yang berkaitan dengan pesantren yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Bayangkan kalau aspek dogmatis diselesaikan dengan demokrasi.

Tentang politik praktis, Kiai. Apa tanggapan Anda tentang perbedaan politik praktis di NU dan pesantren?

Itu bukan perbedaan politik. Bagi saya, perbedaan sikap yang ada pengaruhnya. Sipa para pengurus pesantren yang belum bisa melepas politik akan berbeda ketika memimpin NU, karena akan selalu mempolitisir NU. Apabila pengurus NU-nya telah melepaskan politik praktis, tidak aka nada upaya mempolitisir NU. Salah satu contohnya adalah Pilkada.

Apa yang musti dilakukan pesantren?

Ya tergantung pengasuhnya. Kalau pengasuhnya cuek, ya sudah lepas semua. Tapi kalau pengasuhnya masih punya pengaruh dan punya idealisme, masih memberikan arahan-arahan pada santrinya, itu bisa terselamatkan. Jadi itu tergantung pada pengasuhnya. Sekarang banyak pengasuh-pengasuh muda yang sikapnya tidak lagi sesuai dengan motivasi munculnya pesantren waktu didirikan.

Nilai apa yang harus dipertahankan agar pesantren tetap pada relnya?

Ya Ahlussunnah wal Jama’ah. Apalagi?

Kenapa Ahlussunnah wal Jama’ah?

Ahlussunnah wal Jama’ah ini nilai yang bisa dinegosiasikan. Bagaimana juga kebiasaan-kebiasaan masyarakat dipertahankan. Cuma terkadang masyarakat terlalu formalistik, dan ini tidak diterima, menggunakan dalil ini dan dalil itu. Pendekatan-pendekatan budaya, lewat kultur dan tidak formalistik, itu harus dipertahankan.

Selain menjadi Rais Aam PBNU, Kiai juga menjadi Ketua Umum MUI. Apakah ada masalah?

Tidak ada.

Tidak ada konflik kepentingan?

Tidak ada. Yang penting ada komunikasi. Sikap-sikap NU terhadap MUI misalnya bisa saya netralisir di NU. Di MUI juga ada persoalan dengan NU, saya juga memberikan penjelasan di MUI. Dan sampai sekarang NU tidak pernah menanyakan bagaimana situasi di MUI. Saya selama menjadi ketua MUI, oleh siapapun di NU tidak menanyakan bagaimana situasi saya menjadi ketua.

Terkait dengan NU. Kita bisa bercerita bagaimana pengalamannya memangku Rais Aam PBNU sejak Muktamar Lirboyo tahun 1999?

Sejak saya memangku Rais Aam, kami sebenarnya ingin mengkongkretkan NU ke khittah 26, yang sampai saat ini sebenarnya masih tarik ulur dengan pengurus yang memiliki kepentingan politik. Itu yang saya rasakan suka dukanya memimpin NU. Di samping itu, bukan pekerjaan yang mudah menghilangkan atau menghapus syahwat politik yang demikian besar, baik di kalangan masyarakat NU sendiri maupun pengurus NU sendiri untuk kembali kepada NU sebagai jam’iyah maupun NU sebagai jama’ah yang memfokuskan diri kepada persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, tidak lagi berusan dengan partai politik atau politik praktis.

Nah, untuk mencapai itu semua saya mendapatkan banyak kendala. Pertama,susahnya menghilangkan syahwat politik dari kalangan masyarakat NU sendiri. Kedua, generasi pengurus baru yang akan membawa NU kembali ke khittah 26 juga belum siap sepenuhnya. Ketiga, lingkungan masyarakat di Indonesia ini diliputi oleh gejolak politik yang tidak stabil, yang itu juga mendorong warga NU untuk tidak saja meninggalkan respon politis. Itu yang saya rasakan selama ini.

Kenapa jama’ah dan jam’iyah NU gagap, padahal khittah 26 sudah berjalan 24 tahun?

Karena begitu kuatnya atmosifir politik praktis di NU. Lebih-lebih NU punya sejarah gemilang sebagai partai politik, Partai NU pernah menjadi partai terbesar ketiga. Sehingga wajar bila warga NU begitu kuat syahwat politiknya, dan susah meninggalkan sama sekali urusan politik praktis, kecuali orang NU yang memiliki idealisme. Sementara warga NU tidak semuanya memiliki idealisme, bahkan seringkali apa yang dilakukan merupakan respon sesaat.

Apa solusi terhadap kenyataan tersebut, Kiai?

Harus ada regenerasi. Regenerasi atau kaderisasi membutuhkan proses yang sangat panjang. Sayangnya generasi yang sudah siap juga terkontaminasi oleh politik praktis yang tidak jelas arahnya.

Bagaimana upaya menuju regenerasi?

Itu tak bisa saya sendiri dong. Karena apa? Cabang punya kepentingan. Itu karena hak pilih seorang pimpinan itu adalah muktamar kalau di tingkat Pengurus Besar. Atau Konferwil di tingkan Pengurus Wilayah, dan Konfercab di tingkangkat Pengurus Cabang. Jadi sebenarnya yang punya otoritas adalah Pengurus Cabang. Ini tidak mudah karena, perlu pemikiran komperhensif dan waktu yang panjang. Kembali lagi bahwa sementara ini pimpinan-pimpinan cabang itu juga tidak idealis, banyak yang pragmatis dalam memimpin NU. Sudahlah, kalaupun ada konferensi reformasi, kalau di sana-sini rebutan, apa idealnya ia menjadi pemimpin NU.

Apa upaya strategis untuk mengembalikan idelisme pengurus-pengurus NU dari tingkatan yang paling bawah hingga Pengurus Besar?

Saya kembali lagi pada masalah kaderisasi, regenerasi. Katakanlah pengurus lama itu anggap sudah selesai. Saya tidak sanggup untuk membalikkan pikiran kader-kader lama. Sudah berkali-kali saya upayakan sejak menjadi Rais Aam. Saya mendatangi seluruh orang Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tidak ada yang ketinggalan, mulai dari Banten hingga Banyuwangi tidak ketinggalan. Di luar Jawa saya datangi seluruh provinsi untuk memasarkan khittah NU. Tidak dengan ceramah monolog, tapi dialog. Saya tidak mau ceramah monolog, karena orang mungkin mantuk-mantuk tapi tidak mengerti. Saya ingin mengetahui komentar mereka. Nah, itu loh suara mereka di luar sana.

Selama Kiai menjadi Rais Aam, apa yang bisa diceritakan kepada generasi muda?

Sebenarnya banyak pengalaman saya. Saya merasakan demikian besar dan luasnya pola hidup dan pola pikir warga NU. Tampaknya waktu itu pola pikirnya satu, tapi setelah menjadi Rais Aam saya baru tahu ternyata beragam. Bahkan mungkin bisa diistilahkan ada polarisasi, tapi saya tidak mengatakan seperti itu.

Polarisasi?

Ada dua pengertian polarisasi. Polarisasi memperkaya dan bisa polarisasi ekstrim. Nah, saya khawatir dengan polarisasi ekstrim.

Di NU yang mana, Kiai?

Tidak ekstrim. Tapi tidak bisa dikatakan memperkaya. Saya tidak mengada-ngada. Saya ngomong yang riil. Kalau saya nggak mampu saya bilang nggak mampu, sebab ini bukan pekerjaan yang mudah.

Situasi seperti apa yang dialami selama menjadi Rais Aam, yang bisa dibagi-bagi dan kemudian bisa diteruskan oleh kader kita?

Bagi saya, sepanjang kita masih berpegang teguh kepada ajaran Aswaja. Itu saja. Kalau ini sudah tidak dipertahankan, itu sudah fatal. Itu yang saya anggap prinsip selama menjadi Rais Aam.

Bagaimana mengamalkan Aswaja?

Tentu melalui perbagai macam pendekatan, pendekatan dialog, pendekatan pendidikan, pendekatan perilaku dan sikap.

Banyak orang menilai NU di zaman reformasi ini seperti toserba?

Tergantung dari mana melihat. Apanya yang serba ada? Kalau melihat dari generasinya memang sudah campur baur tidak karuan.

Dari pemikiran akidah dan politiknya misalnya?

Pemikiran juga seperti itu. Kembali pada persoalan proses demokratisasi pemikiran tadi, itu sudah terkontaminasi.

Demokrasi itu menghambat ya?

Bukan menghambat sepanjang kita masih mampu. Kan bisa diarahkan.

Kiai, minta nasehat untuk generasi muda.

Ya itu tadi, ke depan pasti ada perubahan. Dan sudah pasti regenerasi dilakukan. Jadi, tolonglah generasi-generasi muda NU merspon betul perkembangan NU secara internal. Demikian juga perkembangan masyarakat secara eksternal dikaitkan dengan perkembangan NU ke depan. Hal-hal semacam ini harus didiskusikan di internal anak muda sajalah. Saya lebih senang anakmuda karena masa depan itu bukan milik saya. Ke depan Anda-anda yang akan berperan.

Diskusi-diskusi anak-anak muda NU sering dinilai rombongan liar, Kiai?

Sepanjang untuk perkembangan NU menurut saya bukan rombongan liar.

Apapun diskusinya?

Sepanjang kepentingan NU dan betul-betul untuk perkembangan NU. Jangan membahas NU yang sekarang. Yang penting bagaimana NU di masa mendatang. Terkadang orang-orang juga kelewatan. Mereka menyoroti pimpinan yang sekarang, siapa yang tidak tersinggung. Belum tahu permasalahan NU sudah menyoroti pimpinan NU. Akui saja itu, masih ada yang begitu. Sepanjang diskusi itu untuk kepentingan NU ke depan, ini memang milik mereka kok. Ke depan, perjalanan sejarah milik Anda. Begitu menurut saya.

Yang membedakan NU sepuluh tahun terakhir ini dibandingkan sebelumnya apa?

Tidak ada. Saya jujur saja. Apa yang harus saya banggakan? Tidak ada.

Perkembangan yang perlu dilanjutkan generasi muda?

Tidak ada, ya masih standar-standar saja. Saya akui saja, saya tidak neko-neko kok. Meskipun orang luar NU melihat perkembangan dibandangkan dengan zaman dulu, itu komentar pribadi saja.

Apa yang harus dilakukan agar NU konsisten dalam berjuang?

Ya, Aswaja. Konsep aswaja itu merakyat.

Soalnya terlalu banyak kelompok lain yang mengaku Aswaja?

Ya Aswaja kita, Aswaja NU. Biar dia mengaku Aswaja, silakan saja. Memang Aswaja itu bukan hanyak klaim NU. Ya kalau terpaksa, katakan saja Aswaja ala NU. Aswaja ala NU itu merupakan ajaran yang diwarisi dan sudah diasah terus menerus di pesantren. Jadi kelompok-kelompok yang anti NKRI dan semacamnya itu harus dilawan dengan itu. Mereka juga tidak berani dialog kok. Dialog itu jalur mentok. Kenyataannya, dialog bukan membuat mereka untuk sadar. Berkali-kali dilakukan dialog, tapi masih kembali lagi. Itu namanya orang ngotot. Orang seperti itu kalau dilayani terus bisa membuang-buang waktu. Saya malas melayani seperti itu.

NU salah satu elemen besar di Indonesia. Apa yang seharusnya NU berikan dalam konteks negara saat ini?

Konsep mempertahankan NKRI (secara Islam, red.) itu NU yang punya, yang lain belum. Dan NU sudah berjuang untuk itu, dan konsisten mempertahankannya sampai sekarang. Jadi perjuangan NU jangan dianggap remeh. NU merasa ikut berupaya, merasa ikut bersungguh-sungguh. Kiai sepuh-sepuh itu dulu bergerilya memperjuangkan kemerdekaan. Saya saja ikut bergerilya. Jadi seusia saya dulu ikut bergerilya. Bapak saya ditahan oleh Belanda sampai meninggal di penjara Ambarawa Semrang garagara memperjuangkan hak kemerdekaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Cerita, AlaNu Haedar Nashir

Selasa, 09 Januari 2018

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

Malang, Haedar Nashir

Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengadakan pelatihan jurnalistik di Gedung Aula MA Khairuddin, Jalan Murcoyo 1 Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Kegiatan yang berlangsung Ahad (31/1) ini dihadiri oleh pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Gondanglegi, kepala MA Khairuddin, para pengurus Pimpinan Ranting se-Kecamatan Gondanglegi dan para pelajar tingkat SLTA/sederajat se-Gondanglegi.

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

“Kegiatan ini merupakan program kerja awal di tahun ini di bidang Departemen Litbang dan Media IPNU-IPPNU Kecamatan Gondanglegi masa khidmah 2015-2017,” kata ketua pelaksana, Muhammad Fathoni.

Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Gondanglegi menggelar kegiatan ini untuk mengembangkan kreativitas pelajar-pelajar NU dalam mengasah bakat dalam penulisan berita, karya ilmiah, artikel dan lain-lain.

Haedar Nashir

Pelatihan jurnalistik yang mengusung tema "Mencetak Kader-Kader Jurnalis yang Berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah" ini dirangkai dengan tasyakuran dan doa bersama dalam rangka hari lahir (harlah) ke-90 NU yang jatuh pada 31 Januari 2016.

Ketua PAC IPNU Gondanglegi HasanuddinKhozin mengapresiasi panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini. “Semoga pelajar NU Gondanglegi ke depannya bisa lebih bermanfaat bagi agama bangsa dan negara,” tuturnya.

Hasan menambahkan, untuk program kegiatan IPNU-IPPNU Gondanglegi selanjutnya adalah makesta akbar yang akan dilaksanakan di Desa Ganjaran dan diikuti semua pimpinan ranting se-Kecamatan Gondanglegi. (Ansori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Tokoh, Sholawat Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Perkembangan fashion pakaian sangat beragam. Berbagai gaya pakaian didesain untuk menambah keelokan paras dan menambah pesona. Pilihan busana juga kian beragam, termasuk model kerudung penutup kepala.

Dewasa ini, khususnya di Indonesia, mulai ada pembedaan istilah tentang penyebutan kerudung penutup kepala. Dua sebutan yang banyak disebut adalah hijab dan jilbab. Hijab biasa disebutkan untuk kerudung yang dihias dan dikenakan dengan variasi sedemikian rupa, sesuai selera dan kepantasan. Sedangkan jilbab, adalah kerudung pada umumnya, baik model praktis yang langsung dikenakan, kerudung paris yang jamak di kalangan ibu-ibu, sampai model terbaru yang disebut sebagai jilbab syar’i, yang panjang menjulur menutupi bagian dada, sampai menutupi bagian perut bahkan hingga lutut.

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Preferensi dan kepantasan berkerudung, tentu adalah pilihan. Namun patut diketahui, bagaimana kita mendudukkan istilah penutup kepala yang ada dalam Islam?

Setidaknya masalah ini berkaitan erat dengan ayat-ayat Al Quran yang memuat dua istilah hijab dan jilbab. Utamanya terkait dengan perintah Allah kepada para istri-istri Nabi untuk tidak berinteraksi secara terbuka kepada lawan jenisnya. Hendaknya hal tersebut dilakukan di balik hijab.

Haedar Nashir

Seorang sastrawan Arab bernama Ibnul Manzhur menyebutkan dalam kitabnya Lisanul Arab tentang makna hijab. Hijab bermakna As-Sitr, yang bermakna tutup. Ia bisa diartikan tirai, penghalang, dan sebagainya.

Bagaimana dengan masalah penghalang untuk lawan jenis? Hal ini terjadi pada pemaknaan surat Al-Ahzab ayat 53 yang memerintahkan istri Rasulullah untuk tidak berbicara kepada selain mahram kecuali dengan menggunakan tirai penghalang terhadap kontak langsung, atau dengan menutup wajah mereka.

Haedar Nashir

...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “...Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka...”

Ayat ini disebutkan terkait dengan masalah terkait etika ketika bersama istri-istri Nabi. Karena itu, hijab di atas ini bermakna penutup kontak langsung, bukan terkait pakaian. Sedangkan bagaimana dengan jilbab? Jilbab disebutkan sekali dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Penyebutannya dalam bentuk plural, yaitu jalabîb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai Nabi, katakanlah terhadap istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang-orang yang beriman (agar) mereka mengulurkan jalaabib mereka. Demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak disakiti. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan bahwa penyebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, istri Nabi keluar karena suatu keperluan. Dahulu menggunakan kain penutup kepala belum begitu populer. Kemudian ternyata ada sekelompok orang nakal yang mengganggu mereka.

Mereka yang digoda itu mengadu ke Rasulullah. Melalui turunnya ayat ini, maka mereka diperintahkan untuk menutupi kepala hingga dada agar mudah dikenal, serta terhindar dari gangguan laki-laki yang nakal. Selain itu, perempuan yang merdeka ditandai dengan jilbab, sedangkan budak perempuan dengan kepala terbuka. Demikianlah asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat tentang jilbab.

Maka dari paparan di atas, setidaknya dalam Islam istilah yang muncul untuk busana penutup kepala perempuan adalah jilbab dibanding hijab, meskipun dalam perkembangannya dua kata tersebut sama-sama digunakan. Jilbab digunakan dalam masalah ajaran Islam, sedangkan istilah hijab bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Perbedaan tersebut, asalnya bukan dibedakan berdasarkan model pakaiannya. Yang terpenting dari cara berpakaian, busana yang sopan tentu akan tampak menawan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, AlaNu Haedar Nashir

Senin, 01 Januari 2018

Rumah Sakit di India Ajukan Sertifikasi Halal

Chennai, Haedar Nashir. Sejumlah rumah sakit di India tengah mengajukan permohonan untuk sertifikasi halal dari otoritas yang berwenang. Hal ini mengingat lebih dari 75 persen wisatawan medis yang datang ke India adalah muslim dari Timur Tengah. 

Global Health City yang berbasis di Chennai, adalah rumah sakit pertama di India yang mendapatkan sertifikasi halal dari Halal India, sebuah lembaga halal independen yang diakui pemerintah India (TCN) dan Aliansi Integritas Halal Internasional (IHIA) di Malaysia, dan Kamar Dagang dan Industri Islam di Arab Saudi. 

Rumah Sakit di India Ajukan Sertifikasi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Sakit di India Ajukan Sertifikasi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Sakit di India Ajukan Sertifikasi Halal

Sementara itu manajer operasional Halal India, Mohamed Noman Lateef, mengatakan, setidaknya ada lima rumah sakit di India telah mengajukan permohonan untuk sertifikasi tersebut.

Haedar Nashir

Kepala Rumah Sakit Global Health City, Dr K Ravindranath, mengatakan bahwa pihaknya membuat pengumuman mengenai waktu sholat sekaligus menyediakan tempat khusus bagi wanita untuk menjalankan sholat.

Haedar Nashir

"Kami memberitahu mereka [pasien] bahwa kita membuat pengumuman publik untuk sholat dan memastikan bahwa kami memberikan wanita tempat terpisah selama shalat," katanya belum lama ini.

Menurutnya, pengajuan untuk sertifikasi halal adalah salah satu proses paling sulit bagi rumah sakit di negara tersebut.

"Dengan dua miliar muslim di seluruh dunia, kami melihat sertifikasi halal merupakan bagian dari usaha untuk meraih kepercayaan dari pasien muslim," ungkapnya, seperti dikutip twocircle.net.

Ahli bedah transplantasi, Dr Shankar Madhu, mengatakan bahwa muslim Timur Tengah memiliki budaya yang berbeda dari yang lain.

"Orang-orang dari Timur Tengah memiliki budaya yang berbeda. Kami tidak memasuki ruangan pasien wanita tanpa izin mereka. Seorang perawat perempuan akan berjalan duluan dan meminta izin untuk memasukkan seorang dokter laki-laki," katanya.

"Ini bukan hanya tentang makanan atau ruang sholat, ini tentang gaya hidup. Bagi setiap muslim adalah penting bahwa setiap bisnis yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari haruslah bersih, higienis dan tidak merugikan kesehatan mereka sebagaimana diterangkan dalam teks agama. Artinya, ini adalah tolok ukur baru untuk kualitas," kata Manajer Pengembangan Bisnis Halal India Sheetal Bajaj.

Penulis : Sudarto Murtaufiq

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Humor Islam Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Ustad yang terhormat, saya pernah mendengar ada orang yang pernah menikah dengan jin. Bahkan ada juga dalam sinetron yang saya lihat di salah satu televisi swasta, terlepas apakah itu cerita fiktif atau bukan yang jelas ada cerita pernikahan dengan jin meskipun tidak dijelaskan bagaimana proses akadnya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum menikah dengan jin. Dan atas jawabannya, kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Yunus/Jakarta)

***

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mengenai pernikahan manusia dengan jin sebenarnya bukan soal baru. Kami juga pernah mendengar cerita pernikahan manusia dan jin, yang notabenenya adalah dua makhluk yang berlainan alam dan berbeda materi penciptaannya. Namun kami belum pernah menyaksikan bagaimana pernikahan manusia dengan jin bisa berlangsung. Hanya saja dalam benak kami, jin merubah dirinya menjadi wujud manusia seperti kita.

Para ulama juga sebenarnya juga jauh-jauh hari sudah membincang tentang pernikahan manusia dengan jin, bahkan sampai ada yang mempuyai anak dari hasil pernikahan tersebut. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan tersebut. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

“Bahwa merasukinya jin pada manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu, atau jatuh cinta sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Dan terkadang antara manusia dengan jin terjadi pernikahan sampai melahirkan anak. Hal ini banyak terjadi dan sudah diketahui secara umum. Sungguh, para ulama telah menyebutkan hal tersebut dan membicarakannya. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan (manusia) dengan jin” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatwa, Mesir-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005 M, juz, 19, h. 39)      

Di antara barisan para pakar hukum Islam yang memakruhkan pernikahan manusia dengan jin adalah imam Malik pendiri madzhab maliki.  Alasannya adalah adanya kekhawatiran nanti kalau ada perempuan hamil akibat melakukan zina bisa saja mengaku bahwa ia dihamili jin.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Dan terdapat riwayat dari imam Malik ra bahwa beliau membolehkan pernikahan manusia dengan jin, akan tetapi beliau memakruhkannya karena (khawatir) perempuan-perempuan yang hamil sebab zina mengaku-aku bahwa kehamilannya itu dari jin” (Lihat Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 50)

Haedar Nashir

Di kalangan madzhab syafii sendiri juga terjadi perselisihan pendapat. Ada yang memperbolehkan, dan ada yang tidak. Di antara pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan manusia dengan jin adalah al-Bariji dan Ibnu Yunus. Alasan yang dikemukakan adalah adanya perbedaan jenis antara bangsa manusia dan jin. Ini artinya manusia hanya boleh menikah dengan manusia. Hal ini didasarkan atas firman Allah swt berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri” (Q.S. An-Nahl [16]: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?. “Ibnu Yunus berpendapat bahwa di antara yang menjadi penghalang pernikahan adalah perbedaan jenis. Karenanya maka tidak boleh bangsa manusia menikah dengan bangsa jin. Dan pendapat inilah yang difatwakan al-Bariji karena didasarkan kepada firman Allah swt, ‘Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri’ (Q.S. An-Nahl [16]: 72]” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 3, h. 162)

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam soal pernikahan manusia dengan jin ternyata terjadi perbedaan di antara para ulama. Dan kami lebih memilih pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan tersebut.

Pertimbangan kami memilih pendapat yang tidak memperbolehkan di samping alasan yang dikemukakan oleh ulama di atas adalah, ketiadaan aturan teknis yang memadai yang menjelaskan mengenai pernikahan manusia dengan jin.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Anti Hoax, RMI NU Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa Pertandingkan 146 Partai

Jakarta,Haedar Nashir. Kejuaraan Nasional (Kejurnas) II Pencak Silat NU Pagar Nusa telah dimulai Ahad malam (21/8) di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Pertandingan dimulai sekitar 19. 30 sampai pukul 23.00.

Menurut Sekretaris Pertandingan Kejurnas II Abdul Wahab Mufarih pada kegiatan tersebut terdiri dari dua kategori yaitu tanding dan seni. Pada kategori tanding dibagi menjadi golongan dewasa putra dan putri dan golongan remaja putra dan putri.

Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa Pertandingkan 146 Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa Pertandingkan 146 Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejurnas Pencak Silat Pagar Nusa Pertandingkan 146 Partai

Pada kategori tanding remaja putra dan putri terdiri dari kelas A sampai F dengan batas usia dari 14 tahun sampai 17 tahun. Pada kelas A kisaran peserta harus memenuhi berat badan antara 39-43 kg, kelas B 43-47 kg, kelas C 47-51 kg, kelas D 51-55, kelas F 55-59 kg.

Haedar Nashir

Sementara kategori tanding golongan dewasa putra dan putri terdapat beberapa kelas juga, mulai A sampai D. Di kelas A berat badan peserta dalam kisaran 45-50 kg, kelas B 50-55 kg, kelas C 55-60 kg, kelas D 60-65 kg. Sementara kisaran usia golongan dewasa hanya diikuti peserta dari usia 17 sampai 33 tahun.

Di golongan remaja putra dan putri dari seluruh kelas, dari penyisihan sampai final, mempertandingkan 87 partai. Sementara pada golongan dewasa mempertandingkan 59 partai. Seluruh pertandingan akan dihabiskan selama 4 hari dari Ahad (21/8) sampai Rabu (24/8).

Haedar Nashir

Pada kategori seni, mempertandingkan kelas tunggal, ganda, dan regu. Kategori ini akan dimulai Selasa malam (23/8). Ini dilakukan supaya pesilat di kelas tanding beristirahat untuk menjaga stamina mereka menuju final. ?

Kejurnas II Pagar Nusa yang dibuka Menpora Imam Nahrowi tersebut akan ditutup pada Kamis (25/8). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, AlaNu, Kyai Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Merasa Dizalimi, Aktivis PMII Jember Laporkan Satpol PP

Jember, Haedar Nashir. Pembongkaran  tenda kemah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan kantor Pemkab Jember, Jawa Timur, yang disertai kekerasan oleh aparat Satpol PP, Rabu lalu berbuntut panjang.

Jumat (15/8), sejumlah aktivis Pengurus Cabang PMII Jember melaporkan Satpol PP ke Mapolres Jember. Menurut salah seorang pengurus PMII, Adil Satria Putra, pihaknya melaporkan Satpol PP karena telah memukuli sejumlah aktivis PMII  yang menolak pembongakran tenda itu.

Merasa Dizalimi, Aktivis PMII Jember Laporkan Satpol PP (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasa Dizalimi, Aktivis PMII Jember Laporkan Satpol PP (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasa Dizalimi, Aktivis PMII Jember Laporkan Satpol PP

“Kami harus melaporkan ini agar tidak tidak terjadi lagi kekerasan lagi kepada siapapun ingin menyampaikan aspirasi. Apalagi yang kami lakukan adalah aksi damai. Hanya menggelar tenda,” ujarnaya.

Haedar Nashir

Seperti diketahui, Rabu lalu sejumlah PMII menggelar tenda kemah di depan kantor Pemkab Jember. Mereka mendesak Bupati Djalal segera mengesahkan rancangan peraturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Mereka bertekad akan berkemah di situ sampai Djalal menemui mereka dan menyetujui pengesahan RTRW dimaksud. Tapi menjelang sore sebanyak 30 Satpol PP dibantu 50 aparat polisi membongkar paksa tenda tersebut, sehingga terjadi bentrokan.

Haedar Nashir

Sejumlah aktivis mengalami luka, di antaranya adalah Malikul Lubby, Tri Handoko, dan Verio Prestiawan. Mereka mengalami luka lebam di wajah, leher, dan kaki, dan sudah menjalani visum untuk kelengkapan laporan.

Adil menambahkan, sikap Buapti Djalal yang tidak mau mengesahkan RTRW adalah cermin pejabat yang tidak berpihak kepada rakyat. “Coba bayangkan draf RTRW itu diajukan oleh eksekutif, namun setelah dibahas di DPRD, malah ditolak,  karena di draf itu opsi penambangan dihapus oleh DPRD,” ucapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, AlaNu, Ulama Haedar Nashir

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan Rapat Pleno di Pondok Pesantren Mahasiswa Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah, 6-8 September 2013. Rapat Pleno dihadiri pengurus PBNU lengkap dari jajaran Syuriyah, A’wan dan Tanfidziyah, serta para ketua lembaga, lajnah dan badan otonom.

Dalam AD/ART NU disebutkan, Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Rapat Pleno membicarakan pelaksanaan program kerja.

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo

Sekretaris Panitia Rapat Pleno PBNU, H Sulthon Fathoni kepada Haedar Nashir Rabu (14/8) mengatakan, Rapat Pleno kali ini akan membahas beberapa hal penting, antara lain penataan organisasi, inventarisasi dan pengembangan aset NU, tata laksana kelembagaan, kaderisasi, dan evaluasi program sebagaimana amanat Muktamar NU di Makassar 2010.

Haedar Nashir

Rapat juga rencananya akan mematangkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi, atau model pemilihan baru Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk disahkan dalam Muktamar mendatang. Atas berbagai pertimbangan, pada Muktamar 2015 nanti direncanakan pemilihan pucuk pimpinan NU tidak akan dilakukan dengan model pemilihan langsung.

Haedar Nashir

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Daerah, AlaNu Haedar Nashir

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) SMK Raudlatul Malikiyah Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo menggelar lomba paduan suara dan lomba puisi, Rabu (11/11).

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Lomba yang digelar sejak pagi hari ini diikuti oleh seluruh siswa SMK Raudlatul Malikiyah. Satu persatu perwakilan setiap kelas menampilkan kelompok paduan suaranya dan membawakan puisi hasil karyanya.

“Lomba ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan bangsa yang telah gugur berjuang melawan penjajah sekaligus meneladani perjuangannya yang tidak pantang menyerah supaya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ketua PK IPPNU SMK Raudlatul Malikiyah Sri Wahyuni.

Haedar Nashir

Menurut Sri Wahyuni, lomba paduan suara dan lomba puisi ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang diberikan oleh generasi muda akan perjuangan yang dilakukan para pahlawannya.

“Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang kami berikan atas pengorbanan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk meraih kemerdekaan dari tangan penjajah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Melalui lomba ini Sri Wahyudi mengharapkan agar dari diri para pelajar ini nantinya tumbuh semangat patriotisme dan nasionalisme untuk bersama-sama mengisi pembangunan.

“Salah satu bentuk nyata dari pelajar dalam mengisi pembangunan adalah belajar demi menggapai cita-cita. Semoga nilai-nilai kepahlawanan ini bisa terus terpatri agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, AlaNu, Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

“Festival Lintas Budaya,” Tampilkan Karya Anak Negeri

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dengan suku-sukunya memiliki khasanah budaya yang luar biasa dan masing-masing memiliki keunggulan. Islam juga diterima dengan mudah melalui akulturasi kebudayaan, seperti yang dilakukan oleh wali songo.

Pengembangan dakwah melalui kebudayaan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai Islam yang menghargai tradisi. Dalam upaya inilah pada Bulan Harlah ke 82 NU, akan digelar Festival Lintas Budaya.

Senin, 20 November 2017

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Bandung, Haedar Nashir. Perubahan sosial begitu cepat. Indonesia tengah mengalami wabah gemar mencaci maki. Seolah menjadi orang paling mulia sehingga kita berhak mencaci dan yang tercaci seakan makhluk paling hina sejagat raya.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, mungkin saja yang tercaci itu mendapat tempat yang mulia sebab begitu banyaknya orang yang mencacinya.

“Ini orang luar biasa.Dia akan diampuni dosanya oleh Allah dan mungkin dia akan memperoleh tempat yang mulia karena didzolimi oleh semua orang,” katanya saat memberikan sambutan mewakili Ketua PWNU Jawa Barat pada gelaran pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (18/11).

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Indonesia merupakan negara hukum sehingga hukum menjadi punggawa. Menurutnya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain secara sepihak tanpa melalui proses persidangan.

“Padahal republik ini mengajarkan bahwa tidak boleh menghukumi seseorang sebelum melalui proses pengadilan,” lanjut Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung tersebut.

Selain itu, cepatnya perkembangan teknologi memudahkan semua orang untuk mengakses segala keinginannya. Secara instan, pelajar saat ini mudah saja bertanya kepada mesin pencari di internet tentang hal apapun.

Haedar Nashir

“Mereka (pelajar) bertanya pada Kiai Google, Ajengan Yahoo, kemudian Ustadz Bing,” katanya.

Ruang-ruang di dunia internet itu harus menjadi segmen garapan IPNU selanjutnya guna memberikan paham Islam ahlussunnah wal jamaah.

Haedar Nashir

Oleh karena itu,ia menyampaikan dua hal penting yang harus IPNU garap sebagai organisasi yang fokus pada dunia pelajar, yakni IPNU harus memberikan ruang pembelajaran bagaimana menghormati hukum sebagai pilar utama  dan bagaimana IPNU harus mengisi ruang-ruang non-mainstream seperti mencuci otak dengan informasi yang viral.

Pada kesempatan tersebut, hadir Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyyah, Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir, Pengurus PWNU Jawa Barat, dan alumni IPNU se-Jawa Barat serta para perwakilan organisasi kepemudaan dan badan otonom NU yang lain. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Kyai, Pahlawan Haedar Nashir