Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Oleh Fathan Subchi



Nahdlatul Ulama (NU) tidak lama akan memasuki satu abad. Tentu, sebagai organisasi sosial keagamaan, NU memang sepatutnya terus berinovasi. Jamiyah yang terkenal corak komunalnya dan identik dengan kaum sarungan ini harus kian akrab dengan isu-isu dan gagasan soal penguatan ekonomi warganya.?

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Dalam menapaki usianya yang kian matang ini--satu rentang waktu yang terbilang cukup matang mestinya dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan--tentu tuntutan warga menjadi satu keharusan yang terus diformulasikan oleh stakeholder, termasuk para pemangku kebijakan di berbagai daerah (eksekutif, legislatif, dll) ?

NU memang sejatinya jelmaan Indonesia itu sendiri. Sebaran warganya yang di berada pelosok-pelosok desa, tradisi kulturnya yang menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat, dan corak kegamannya yang terbuka dan menerima pandangan dari luar yang baik merupakan mozaik bangsa yang perlu dilestarikan oleh siapa pun, termasuk terhadap para penguasa.?

Namun, kendala yang kita hadapi memang sejatinya dari fase ke fase hampir sama, setidaknya ? problem kesejahteraan yang melekat pada kelompok-kelompk warga yang tak punya akses pendidikan, miskin keahlian, dan memang tertinggal secara pemikiran. Perlu ada intervensi semacam tandzimul harakah melalui sebuah kebijakan negara. ?

Haedar Nashir

Sebaran mereka yang mengenyam pendidikan yang baik memang seberuntung daripada mereka yang pada masa-masa lampau telah menjauh dan tak mau bersentuhan dengan dunia ? pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan dan pesantren. Yang tersebar menjadi petani, nelayan, buruh, guru swasta, pegawai kontrak, pekerja informal tentu kian rumit untuk diurai tali dan relasi kesejahteraannya, apalagi tantangan zaman juga kian kompleks.?

Sebagai jamiyah, kontribusi NU dalam berbagai aspek dalam menjejak satu abad memang terlihat sudah amatlah luas. Yang terlihat dan bisa dirasakan secara kultural adalah: pertama, kontribusinya dalam menjaga daya ketahanan sosial masyarakat melalui berbagai sarana persemaian nilai-nilai budaya dan tradisi-tradisi seperti yang menjadi langgam dakwah Wali Songo.?

Kedua, kontribusi secara tarbiyah bisa dilacak menjadi konsistensi NU dalam mengelola pesantren dan madrasah sebagai implementasi pendidikan keagamaan. Nilai-nilai keagaman yang disemai kalangan pesantren dan kiai NU jauh lebih bias diterima masyarakat luas, dan menjadi inspirasi pengetahuan keagamaan dan sumber-sumber kajian akademik di tengah oase padang tandus kerasnya aliran dan paham-paham radikal yang kian mulai berembus. Apalagi, secara jelas dunia sedang menggejala intoleransi. ?

Haedar Nashir

? ? ?

Nahdlatut Tujjar sebagai Gerakan?

Ada tiga pilar utama sebagai pondasi bagi tegaknya organisasi NU yaitu, Nahdlatul Wathan (Gerakan Cinta Tanahair), Tashwirul Afkar (Gerakan Intelektual dan Pemikiran) dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi). Ketiga pilar ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan NU dalam membangun bangsa ini. Ketiga pilar tersebut pada mulanya adalah sebuah organisasi yang masing-masing didirikan oleh ulama-ulama dari kalangan NU sendiri. Tahun 1914 berdiri Nahdlatul Wathan sebagai manisfestasi dari kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan.?

Kemudian Tashwirul Afkar pada 1918 sebagai ikon dari pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dan pada tahun yang sama berdiri pula Nahdlatut Tujjar sebagai perwujudan dari pengembangan ekonomi umat. Ketiga menjadi cikal bakal NU dan sekaligus sebagai pondasi fundamental NU.?

Nahdlatut Tujjar adalah narasi sejarah yang dilukis oleh para pendahulu-pendahulu NU. Nahdlatut Tujjar harus bisa dihadirkan kembali, apalagi secara jelas Raisul Akbar, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dengan kata-kata mutiaranya tentang “Pak Tani itulah penolong negeri”.?

Kata-kata mutiara itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat ? negeri didasarkan.” (artikel F. Rahman-NU, Online, 1/1/2017)?

Sesungguhnya banyak hal yang menyebabkan perlunya didirikan organisasi ini. Satu hal yang terpenting adalah keprihatinan ulama terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang terbelakang baik secara mental maupun sosial ekonomi hingga persoalan kebangsaan dan keagamaan. Sebagai bangsa yang berada di bawah kungkungan imperialisme bangsa barat pada saat itu bangsa Indonesia mengalami kondisi yang memperihatinkan. Dan di sinilah Nahdltut Tujjar dihidupkan. Saudagar ulama-santri konsolidasi dan lahirlah organisasi ini sebagai wahana dakwah yang kemudian bisa membesarkan jamiyah untuk lebarkan kekuatan anti-kolonial barat. ? ?

Sebagai embrio gerakan saudagar ulama-santri, Nahdlatut Tujjar bisa letakkan dalam konteks hari ini di mana kita menyadari bahwa warga NU masih jamak yang berada dalam lapis sosial yang tertinggal, mereka masih perlu diintervensi kesejahterannya.?

Mereka menjadi "miskin" secara intelektual dan ekonomi. Dua jalur yang sama-sama perlu diikhtiarkan, yaitu Intelektualisme dan ekonomi. Dua hal pokok kehidupan yang dapat menjadi awal keterbelakangan atau kemajuan suatu bangsa. NU sebagai ormas keagamaan lahir untuk membangkitkan bangsa Indonesia dari tidur lelapnya. ?





Strategi Cluster?

Sejak awal peran Nahdlatut Tujjar dalam memberdayakan ekonomi umat mendapat dukungan dari para pendiri NU yang kebanyakan adalah para pedagang atau sekurang-kurangnya mempunyai unit produksi yang membuat mereka bisa mandiri secara ekonomi.

Diakui atau tidak, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan dan mayoritas dari itu adalah warga Nahdliyin yang berada di pedesaan.?

Dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi menjadi satu hal terpenting. Karena sabda Rasul SAW yang artinya "kefakiran akan mendekatkan pada kekufuran". Ini mencerminkan bahwa dalam ekonomi islam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) akan sangat mempengaruhi keimanan dan keislaman seseorang. Memberdayakan ekonomi umat bisa dimulai dari mana saja. Pergerakannya berbanding lurus dengan konsistensi dan fokus yang menjadi sasaran pasarnya. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, di antaranya dengan model cluster :?

Pertama, pesantren sebagai cluster utama bagi NU. Formulasi gerakannya dititik tekankan pada studi kebutuhan dan kelayakan usaha, serta akses permodalan, kecakapan SDM, dan ketekunan induknya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan. Pesantren sesungguhnya sudah tak asing dengan gerakan ekonomi, produk-produk pesantren seperti Kopontren pada masa lampau termasuk produk yang kita banggakan bersama.

Saat ini, Pesantren bisa lebih agresif memfasilitasi santrinya pada bentuk misalnya pendidikan entrepreneur, pemagangan, dan lain-lain. Dan itu, bisa kami koneksikan dengan para pemangku kebijakan di pemerintahan. Dan PKB sudah merintis itu.?

Kedua, cluster warga berbasis pada Pedesaan. Dalam kontek ini, PCNU dan MWCNU bisa mengenali warganya yang telah menekuni pada bidang-bidang tertentu. Mereka yang menjadi petani, nelayan, pengrajin, peternak, pelaku UKM, bisa didata sehingga betul-betul bisa dijadikan acuan untuk menyalurkan bantuan dan bentuk-bentuk dukungan lainnya, seperti akses pelatihan, permodalan, dan lain lain.?

Ketiga, cluster jenis usaha. Lahirnya UU Desa yang memberikan perhatian penuh pada pembangunan di pedesaan, termasuk adalah soal pemberdayaan masyarakat berbasis Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). MWCNU bisa memetakan dan membuat satu formulasi Bumdes-Bumdes yang bisa dirancang untuk kesejahteraan warganya. Tentu Hal ini bisa ditempuh dengan membuat semacam pilot project, sehingga jenis-jenis usaha yang dikembangkan, tidak berdasar atas tren, tapi memang sudah menjadi penguasaan para ahli. ? ?

? ?

Dalam rangka ikhtiar membangun ekonomi umat yang kuat, dan tak mudah tergoyah oleh pengaruh global, maka landasan yang perlu ditanamkan saat ini bagaimana warga NU sejahtera, dan memiliki aset tak ternilai. Salah satu juga yang patut dirintis ulang- bagaimana dulu juga pernah dirintis oleh guru kita, Gus Dur—yaitu model bank Nusumma—yang menghadirkan sistem pembiayaan usaha mikro kecil yang bias berdampingan beriringan dengan kelompok masyarakat marjinal, seperti nelayan, petani, buruh, guru honorer, pekerja kasar, dan lain-lain.?

Lokomotif ekonomi menjadi tantangan tersendiri ketika stakeholder NU kini sudah merambah di berbagai jalur kekuasaan; eksekutif dan legislative. Kaum mudanya –yang terpelajar—harus bias diintegrasikan ke dalam model pengelolaan ekonomi pembiyaaan mikro tadi.?

Kita sungguh masih memiliki beban sejarah yang belum selesai. Setidaknya ini terekam dalam statuennya NU (AD/ART) Fatsal 3 poin f yaitu: "mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara Agama Islam". Di sini sangat jelas bahwa NU harus memperhatikan sektor-sektor penggerak ekonomi. Orientasi politik yang sangat kuat dari sebagian besar kaum Nahdliyyin harus dibarengi orientasi pengembangan ekonomi umat yang bermuara pada kesejahteraan warga.?

Inilah politik kemaslahatan NU yang perlu dirancang dan diimplementasikan segera, apalagi pasar dan Negara kian terbuka dengan model pendekatan NU yang terbuka. Kita memiliki gambaran bahwa 10-20 tahun ke depan adalah medan dari sebuah pilot projek yang amat strategis, bagaimana mengetengahkan politik ekonomi warga lebih dekat dengan bandul politik kemaslahatan NU.

Ibarat gadis cantik, NU seringkali hanya seksi di perebutan pesta lima tahunan. Mudah-mudahan ini menjadi kesadaran dan beban historis yang segera harus kita urai bersama. ?





Penulis adalah anggota DPR RI FPKB. Ketua IKAPMII DKI Jakarta. ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaNu, Ahlussunnah Haedar Nashir

Sabtu, 17 Februari 2018

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun

Brebes, Haedar Nashir. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Subhan Makmun mengatakan bahwa manusia hidup harus senantiasa menanamkan kebaikan di muka bumi, dimanapun berada. Pasalnya, kebaikan yang dilakukan akan disaksikan oleh teman, malaikat dan dilaporkan dalam ‘buku catatan’ abadi yang tersimpan di Lauhul Mahfudz.

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun

“Apa yang diperbuat manusia, akan dicatat dalam Lauhul Mahfuzh, yang berarti “terpelihara” (mahfuzh),” ujar Kiai Subkhan saat mengisi bimbingan mental (Bintal) bagi pegawai negeri sipil (PNS) Kabupaten Brebes di Pendopo Brebes, Jumat (8/1).

Jadi, lanjutnya, segala sesuatu yang tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. ? Untuk itu, dia berpesan untuk selalu bergaul dengan orang-orang baik. Orang baik yang di maksud memiliki ciri-ciri pertama, bila memandangnya selalu mengingatkan pada Allah. ? Kedua, bila berbicara selalu menambah ilmu yang bermanfaat dan ketiga, akhir dari pergaulan selalu menanamkan kebaikan.

Haedar Nashir

Untuk dapat bergaul dengan orang baik, tentu dirinya harus baik terlebih dahulu. Minimal di lingkungannya masing-masing. Sehingga ketika meninggal dunia akan dikenang selalu kebaikkannya, oleh lingkungan yang bersangkutan.?

Haedar Nashir

“Orang-orang disekitar kita, akan menjadi saksi kebaikan kita,” terang Kiai Subkhan yang juga pengasuh Pondok Pesanteren Assalafiyah Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah.

Kata Kiai Subkhan, perilaku kebaikan perlu disaksikan orang lain dengan tujuan untuk memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Sehingga kebaikan mampu memberi manfaat spiritual bagi orang lain. Maka dari itu, bergaul dengan orang baik akan menghasilkan kebaikan.?

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Brebes, H Angkatno merasa bahagia karena Bintal bagi PNS Brebes sudah dilakukan di pendopo Bupati. Sehingga semarak dan keakrabannya makin terasa. Namun demikian, masih perlu adanya kesepahaman dan kesadaran bersama dalam upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo SH menegaskan kepada seluruh PNS untuk semangat dalam meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Termasuk dalam melayani masyarakat, PNS harus bekerja sesuai dengan aturan. PNS harus melayani masyarakat secara keseluruhan.

“Buat apa jadi pemimpin ? kalau tidak bermanfaat, melayani masyarakat dengan semangat merupakan langkah yang memberi manfaat nyata,” ujar Narjo. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Budaya, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 16 Februari 2018

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Semarang, Haedar Nashir. Di tengah konferensi ke-10 yang bertema “Bangkitkan Semangat Juang Pemuda Untuk Keutuhan NKRI” di kampus MI Miftahush Shibyan Genuksari, GP Ansor Genuk Semarang menyelenggarakan kegiatan donor darah. Melibatkan kader IPNU-IPPNU, aksi donor ini menyedok banyak partisipasi masyarakat, Ahad (8/6).

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk  Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Ketua panita koferensi anak cabang GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, tema itu sengaja diangkat. Sebab, saat ini kita membutuhkan semangat kepemudaan mengingat pemuda penerus bangsa ini.

Senada dengan Muslimin, Ketua GP Ansor Semarang Saichu Amrin menambahkan, “Kita tidak mengkontrak negara ini. Kita adalah investor bagi bangsa ini. Maka dari itu, dengan semangat kepemudaan, kita harus memiliki kompetensi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.”

Haedar Nashir

Amrin mengingatkan kader Ansor Genuk akan pilpres dalam waktu dekat. Para pemuda, menurutnya, dituntut untuk berperan dalam menyukseskan pilpres.

“Sebagai Gerakan Pemuda, kita selayaknya memilih dari golongan pemuda dan tentu pemimpin itu harus memiliki darah Nahdliyin,” tutur Ketua GP Ansor Genuk Muhammad Sodri.

Haedar Nashir

Pada pemilu legislatif kemarin, Sodri terpilih menjadi anggota dewan Kota Semarang.

“Dengan semangat kepemudaan, saatnya kita bangkit menuju bangsa yang lebih bermartabat dan berdikari. Kita harus mewarnai bangsa ini sebagai bangsa yang hebat. Dari Ansor untuk Indonesia,” lanjutnya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme

Pringsewu, Haedar Nashir - GP Ansor Pringsewu tergugah untuk menjadi penggerak dalam mencegah dan menangkal paham Radikalisme yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Organisasi pemuda NU ini mengambil bentuk pembinaan terhadap pemuda khususnya bagi para kader melalui Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor, Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser, serta Pendidikan Orientasi guna memberikan pemahaman ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Ketua GP Ansor Pringsewu M Sofyan mengatakan, sebagai organisasi kepemudaan yang berbasis keagamaan GP Ansor diharapkan mampu membina dan mengajak para pemuda untuk lebih memahami ajaran Islam dengan sebaik-baiknya dan lebih cinta terhadap tanah air sehingga tak mudah didoktrin dengan Radikalisme.

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme

"Kami sudah lama melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, karena melalui rasa cinta tanah air inilah para pemuda akan bisa terhindar dari paham Radikalisme yang berujung pada tindakan teror. Bahkan PKD dan Diklatsar ini merupakan kegiatan wajib yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun," tutur Sofyan.

Haedar Nashir

Menurutnya, sebagian orang mungkin masih banyak belum tahu mengenai materi yang diberikan kepada para pemuda ketika mengikuti kegiatan ini. Tak hanya kegiatan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, tetapi lebih dari itu; olah fisik bela diri, bela agama dan bela negara, pemahaman ajaran agama, kepedulian sosial dan toleransi serta kecakapan dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dalam masyarakat.

Semua diberikan sebagai bekal dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.

Haedar Nashir

Saat dikonfirmasi mengenai aksi lain yang akan dilakukan oleh organisasi di bawah kepemimpinannya ini, M Sofyan menegaskan bahwa GP Ansor Pringsewu akan lebih mengutamakan pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif dalam rangka memberikan pemahaman akan bahaya tindakan teror bagi diri sendiri, masyarakat, agama, bangsa dan negara. (Henudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Hadits, Santri Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Jakarta, Haedar Nashir. International Interfaith Youth Summit atau konferensi pemuda lintas agama internasional 2012 akan digelar di Bali, 5--7 Oktober 2012.

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Konferensi yang digelar oleh Indonesia Youth Forum (IYF) bekerja sama dengan Global Peace Festival Indonesia Foundation (GPFIF) tersebut mengangkat tema "New Interfaith Paradigm for The 21st Century".

"Tujuan acara ini adalah untuk membangun pemahaman bersama akan pentingnya kerukunan umat beragama dan ikut mengambil peran nyata dalam pembangunan perdamaian," kata Direktur Eksekutif IYF Achmad Syamsuddin dalam siaran pers yang dikirim ke media, Jumat.

Haedar Nashir

Ketua GPFIF Chandra Setiawan mengatakan bahwa acara seperti itu patut didukung karena selain mengampanyekan kerukunan antarumat beragama, penggagasnya justru anak-anak muda. 

"Kami dari GPFIF menilai bahwa acara seperti ini sangatlah penting karena anak-anak muda terlibat aktif memikirkan perdamaian dunia. Saat ini saja mereka sudah mau untuk memberikan kontribusi nyata, bagaimana kelak ketika mereka akan menjadi pemimpin dunia, tentunya mereka akan senantiasa mengusung semangat mulia ini," kata Chandra.

Haedar Nashir

Rencananya, kurang lebih 200 orang pemimpin muda dunia dari berbagai negara akan hadir, diantaranya dari Pakistan, Philipina, Kamboja, Amerika Serikat, Korea Selatan, China, Malaysia, Timor Leste, Inggris, Bangladesh, Bosnia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Myanmar, Uzbekistan, India, Bangladesh, Vietnam, Madagaskar, Gambia, Mesir, Zimbabwe, Laos, Somalia, dan Indonesia.

Direktur Program IY Muhammad Abdul Idris menjelaskan bahwa konferensi pemuda lintas agama kali ini adalah konferensi keempat yang digelar IYF.

"Ini adalah tahun keempat kami mengundang pemuda dari berbagai negara untuk duduk bersama membangun dialog saling pemahaman, menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kegiatan ini sangat penting sebagai upaya ikut ambil bagian dalam perdamaian dunia," kata Idris yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP IPNU.

Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya konferensi tersebut, terutama pemerintah Indonesia dan perwakilan negara-negara sahabat yang ada di Jakarta.

"Juga ucapan terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di luar negeri, yang membantu kelancaran proses kedatangan teman-teman dari berbagai belahan dunia ini," demikian Idris. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Santri Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

KH Usman adalah putra pertama KH Abdurrohman Mranggen Demak, yang pada awalnya dididik langsung oleh orangtuanya sebelum disuruh mondok ke Brumbung Mranggen Demak yang di asuh oleh KH Ibrohim.

Selepas dari Brumbung, ia meneruskan belajar di pondok pesantren Lasem yang diasuh oleh KH Kholil dan KH. Mashum. Sekembalinya dari pesantren Lasem, pada tahun 1926 beliau berusaha mengembangkan pesantren Futuhiyyah dan pada tahun 1927 diserahi tanggung jawab mengelola pesantren di bawah pengawasan KH. Abdurrohman.

Usaha dawah yang dilaksanakan oleh beliau lebih banyak yang berorientasi keluar, dalam arti lebih sering melakukan dakwah keliling. Dawah keliling yang beliau lakukan berbentuk masrokhiyah (seni teater, sandiwara) dengan musik rebana yang dipandu dengan tarian zipin dan pencak silat yang disisipi ceramah agama.

Beliau lebih terkenal sebagai sosok seorang pendekar yang alim, karena pada saat itu wilayah Mranggen lebih dikenal dengan kaum abangan, jadi dawah dengan teater lebih menguntungkan.

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

Pada tahun 1927 ia dibantu oleh adiknya, KH Muslih, berusaha mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Futuhiyyah atas usulan adiknya. Namun madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU untuk merealisasikan progam pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat sendat dan akhirnya hilang. Selanjutnya tahun1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama.

Sekitar tahun 1931, pimpinan diserahakan kepada KH. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu KH. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada KH. Usman dan madrasah diserahkan kepada KH Murodi beserta para guru.

Setelah KH Muslih pulang dari Termas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena ia lebih memusatkan perhatiannya da’wah keliling dan NU cabang Mranggen, sedangkan KH. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.

Haedar Nashir

Disamping itu ia juga membuka pesatren khusus putri yang diberi nama An Nuriyyah, sampai akhir hayat beliau tetap membantu pengajaran di pondok Futuhiyyah meski ia sudah memiliki pesantren sendiri. Beliau wafat pada tahun 1967 dengan menorehkan berbagai kemajuan selama masa kepemimpinan beliau di Futuhiyyah. Kemajuan selama masa kepemimpinan KH Usman diantaranya penataan manajemen pesantren, penataan manajeman madrasah, dan pendidikan seni dan keterampilan.

Selain itu masih banyak kemajuan kemajuan dan peran sertanya dalam pendidikan pesantren atau dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

?

Haedar Nashir

Abdus Shomad, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Berita Haedar Nashir

Rabu, 17 Januari 2018

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme

Ă¯»¿Jepara, Haedar Nashir. Kelompok sufistik yang bergerak secara massif di kota dan di desa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Majelis zikir, jamaah Selawat, dan perkumpulan Barzanjian menjauhkan umat Islam dari pemahaman sempit beragama yang berujung pada kekerasan atas nama agama.

“Katakanlah jamaah sufi yang diprakarsai Habib Syekh dan Habib Luthfi. Gerakan keduanya sangat dahsyat. Karena, keduanya mengajarkan antikekerasan kepada warga dengan pendekatan popular,” kata Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang H Noor Ahmad di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Ahad (24/11). 

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme

Di Jakarta, meski budaya hedonis membabi buta, jamaah serupa juga luar biasa. Hal ini jelas bukan lantaran para haba’ib tidak punya pekerjaan. Namun itu merupakan solusi terbesar untuk membendung radikalisme, tegas H Noor Ahmad dalam seminar bersama kiai se-Jepara dengan tajuk “Pesantren Sebagai Benteng Antisipasi Deradikalisme”.

Haedar Nashir

H Noor Ahmad yang juga Ketua Umum Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) melanjutkan, dengan eksistensi kelompok sufi niscaya mata rantai radikalisme terputus. Setidaknya, gerakan-gerakan susupan yang radikal itu tidak akan besar.

Sedangkan Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya mengharapkan forum itu berdampak luar di masyarakat. “Pencerahan yang diberikan pembicara menjadi antisipasi bagi para kiai dan santri.”

Haedar Nashir

Catatan dalam seminar itu harus disebarkan kepada para santri dan masyarakat. Sehingga radikalisme berkurang di masyarakat, pungkas Marzuqi. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Ketua Ikatan Alumni PMII H Arief Mudatsir Mandan masa khidmah 2013-2018, Senin (10/11) pagi, usai menjalani perwatan di RS OMNI Alam Sutera BSD, Serpong, Tangerang Selatan.

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader

“Kami sangat kehilangan sosok alumni yang begitu peduli terhadap kader dan organisasi. Sampai wafatnya beliau masih mengurus IKA-PMII sebagai komitmen untuk terus berjuang atas nama organisasi,” kata Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf via surat elektronik, Senin.

Menurutnya, tokoh yang pernah menjabat Direktur Pengurus Pusat Lakpesdam NU ini sosok politisi cendekiawan. Selain produktif menulis, Arief dinilai selalu menjunjung tinggi etika politik di atas kepentingan pribadi.

Haedar Nashir

Penulis buku “Mendung di Atas Senayan” itu menghembuskan nafas terakhir sehari sebelum memperingati hari ulang tahunnya yang ke-58 pada 11 November 2014. Rencananya jenazah baru akan disemayamkan besok, Selasa (11/10), pukul 08.00 WIB di Pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Selain aktif memimpin IKA-PMII selama dua periode berturut-turut, Arief juga dikenal sebagai politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia terpilih sebagai Ketua IKA-PMII untuk kedua kalinya dalam Musyawarah Nasional IKA-PMII ke-5 di Jakarta, 2 Juli 2013. (Mahbib Khoiron)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pertandingan, Santri Haedar Nashir

Sabtu, 06 Januari 2018

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Kudus, Haedar Nashir. Bazar sembako murah yang dilaksanakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gebog Kudus menarik perhatian warga masyarakat. Pada putaran ketiga, Jumat (10/6) di halaman Mushola Baitus Shofa Dukuh Ngaringan Desa Klumpit Gebog, Kudus itu. Ratusan warga baik, anak-anak maupun orang tua berdatangan memadati arena bazar.

Seperti malam sebelumnya, bazar yang menjadi rangkaian kegiatan tarawih keliling pengurus GP Ansor ini menjajakan berbagai pakaian hem, kemeja dan paket sembako murah berisi beras, minyak dan gula. Selama satu jam, mereka menjajakan dagangaan di atas mobil Ansor. Warga-pun rela antri membeli sembako yang di banderol dengan harga di bawah pasaran.

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Salah seorang warga, Aminah menyatakan kegembiraannya adanya bazar Ansor ini. Menurutnya, adanya bazar sangat membantu warga yang membutuhkan. Apalagi harganya sangat murah di bawah harga pasar.?

"Kalau bisa kegiatan bazar tidak hanya sekali ini saja, tetapi nanti jelang lebaran diadakan lagi. Usahakan barang yang jual beragam terutama untuk kebutuhan lebaran," harapnya.

Haedar Nashir

Sekretaris PAC GP Ansor Gebog Ali Maghfuri merasa gembira melihat antusiasme warga. Ia tidak mengira putaran ketiga dibanjiri ratusan warga. "Untung, barang yang disiapkan sangat banyak sehingga bisa melayani semua warga yang membutuhkan," katanya.

Pada putaran ketiga ini, jelasnya, pihaknya menambah stok barang dan menggandeng sejumlah pengurus Ansor yang memiliki usaha. "Ini sesuai harapan Ansor, Bazar untuk memberdayakan kemandirian ekonomi anggota, kader dan pengurus Ansor," imbuh Ali.

Sebagaimana di ketahui, PAC GP Ansor Kecamatan Gebog mengadakan tarawih keliling di 11 desa mulai tanggal 6-22 Juni 2016 mendatang. Kegiatannya, tarawih bersama, ngaji kitab dan bazar. Tujuannya, disamping mengisi kegiatan ramadhan, juga untuk mengenalkan Ansor di tengah masyarakat serta membantu warga yang membutuhkan keperluan sembako. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri, Sholawat, Khutbah Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Sleman, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nailul Ula Plosokuning Yogyakarta, selain diajarkan kitab kuning, pengajian Al-Qur’an, tapi juga teknologi yang berkembang dewasa ini. Pengenalan teknologi diisi dengan pelatihan Teknologi Informasi (TI).

Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula KH. Aliy Asad mengatakan, di zaman serba "mobile" ini para santri diajak melek teknologi karena disadari atau tidak, Muslim Indonesia (Aswaja) sudah ketinggalan, “Kebanyakan aplikasi islami dibuat mereka (non-Aswaja). Berangkat dari keperihatinan itulah kami mengadakan kegiatan ini," terangnya, Ahad lalu (19/5).

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Menurutnya, pada zaman dahulu, Walisongo menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah di Jawa (islamisasi Jawa - jawanisasi Islam). Hal itu dilakukan karena masih kental dengan budaya Hindu-Budha.

Haedar Nashir

Walisongo kemudian berhasil mendakwahkan Islam melalui media budaya, “Kalau kita sebagai penerus Walisongo, berarti harus jeli menggunakan "perangkat budaya" yang paling dominan hari ini, yaitu teknologi digital, lebih spesifik lagi gadget,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebagai para pengikut Walisongo, semestinya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi digital sebagai alat untuk berdakwah, sebagai itiba kepada mereka. Selain itu juga untuk mengimbangi dominasi penguasaan teknologi orang non-Muslim yang semakin kuat dengan konten-konten yang tidak bertanggung jawab dan penuh maksiat.

Haedar Nashir

Metode pembelajaran di Nailul Ula tidak sepadat di pesantren pada umumnya, karena memang disesuaikan dengan kegiatan santri yang rata-rata aktivis kampus seperti UGM, AMIKOM, UIN, UII, UNY, dan lain-lain.

Pesantren yang terletak di daerah Ploso Kuning III No:81 Sleman juga menyediakan wadah mendukung minat dan bakat santri, dviantaranya seni rebana, english club, dan juga LPQ Bina Akhlaq.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor    : Ajie Najmuddin, M Khoiruddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pertandingan, Lomba Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI

Boyolali, Haedar Nashir. Hidup di tengah perbedaan butuh kesadaran untuk menjaga dan memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab, jika bercerai-berai mengancam iklim keamanan bangsa. Prinsip memegang paham Bhinneka Tunggal Ika harus ditanamkan di tengah masyarakat.

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah Choiruddin Ahmad, di sela pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) anggota Banser di kompleks Masjid Al-Faqih Kanoman, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan lalu (25-27/3).

Pengasuh Pesantren Mifathul Huda itu menambahkan, diharapkan para anggota Banser mampu melanjutkan tugas-tugas NU dalam beragama dan bernegara. “Selain tangguh secara fisik, melalui Diklatsar ini, para kader Banser kita harapkan menjadi anggota yang tangguh secara fisik maupun mental, serta semakin teguh untuk menjadi benteng Aswaja dan NKRI,” ujar Gus Din, sapaan akrab Choiruddin.

Dikatakannya, Diklatsar memberikan pemahaman kepada kader NU dalam menjalankan fungsi organisasi. Mereka mendapat berbagai materi mengenai Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan. Sehingga bisa bersama-sama dalam menjaga keutuhan NKRI. “Tetap semboyan kita NKRI harga mati,” tukasnya.

Haedar Nashir

Selain materi di atas, para peserta juga mendapatkan berbagai materi, yakni ke-NU-an, Ke-Ansor-an, Ke-Banser-an, dan bela negara. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, IMNU, Santri Haedar Nashir

Haedar Nashir

Ceramah KH Soleh Bajuri di Isra Miraj MWCNU Seputih Mataram

Lampung Tengah, Haedar Nashir. Pengurus MWCNU Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Rabu (14/5). Acara yang digelar di halaman Masjid Nurul Iman Desa Pelopor Pancasila Kecamatan Seputih Raman ini menghadirkan KH RM Soleh Bajuri, Ketua PWNU Lampung.

Ceramah KH Soleh Bajuri di Isra Miraj MWCNU Seputih Mataram (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceramah KH Soleh Bajuri di Isra Miraj MWCNU Seputih Mataram (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceramah KH Soleh Bajuri di Isra Miraj MWCNU Seputih Mataram

Hadir juga dalam peringatan tersebut H Suhaini (Camat Kecamatan Seputih Mataram), KH Bahrudin (Rais Syuriah MWCNU Seputih Mataram), KH Muhtarom (Ketua MWCNU Seputih Mataram), Muslimat NU, Fatayat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Kecamatan Seputih Mataram.

Kiai Soleh Bajuri dalam ceramahnya menegaskan, Isra Mi’raj merupakan perjalanan terhebat sepanjang sejarah manusia. Momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidratul Muntaha adalah peristiwa penting yang sangat bersejarah.?

Haedar Nashir

Dari Peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW memperoleh perintah ibadah wajib, yakni sholat lima waktu yang langsung dari Allah. Momen terpenting dari peristiwa Isra Miraj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah.?

“Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah" (Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja). Allah pun berfirman, "Assalamualaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh", tuturnya.

Haedar Nashir

Mendengar percakapan ini, lanjutnya, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat. Mudah-mudahan setelah kita mengetahui peristiwa terpenting ini, Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersemangat dalam mengerjakan shalat dan tidak lalai dalam mengerjakannya.?

“Semoga shalat menjadi penyejuk hati kita dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu semua ini bisa menjadi sebuah motivasi dalam melanjutkan perjuangan NU ke depan dengan dibarengi peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah,” harap Kiai Soleh. (Rudi Santoso/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Santri Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

Rekomendasi Anak Muda NU untuk Muktamar

Sleman, Haedar Nashir . Sekitar 80 aktivis muda NU yang mengadakan Musyawarah Kubro Anak Muda NU 2015 di Masjid Pathok Negara, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY, menyampaikan rekomendasi untuk dibahas dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang, Agustus mendatang.

Rekomendasi Anak Muda NU untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekomendasi Anak Muda NU untuk Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekomendasi Anak Muda NU untuk Muktamar

Usulan yang mengalami perdebatan dalam beberapa pertemuan sebelumnya dan ditetapkan dalam Musyawarah Kubro pada Sabtu (23/2) adalah sebagai berikut;

Pertama, mengusulkan agar NU menata organisasi secara berdikari dari tingkat paling bawah hingga tertinggi. Dalam penataan itu, perlu menghidupkan lagi sistem i’anah (iuran) yang dikelola oleh sebuah Baitul Mal yang profesional.

Haedar Nashir

Kedua, NU perlu memiliki sistem pengaderan yang bagus di semua tingkatan untuk penanaman ideologi Aswaja. Pengaderan ini harus dilakukan secara berjenjang dan terstandar, baik oleh badan otonom, lembaga atau lajnah, maupun struktur NU sendiri.

Ketiga,NU perlu merawat serius pondok pesantren sebagai basis kader dan sumber pembibitan ulama. Termasuk melakukan advokasi terhadap pesantren kecil, dan melakukan affirmative action mendorong santri ber-tafaqquh fid-din.

Haedar Nashir

Diusulkan pula pembentukan organisasi santri secara nasional. Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) sebagai wadah perhimpunan pesantren NU, sudah cukup melakukan pembinaan pesantren, namun santrinya sendiri belum diorganisir dalam wadah khusus. Alternatif untuk gagasan ini adalah dengan membentuk komisariat IPNU di setiap pesantren.

Keempat, Fatayat NU dan Muslimat NU yang telah mengelola pendidikan anak usia dini, perlu diperkuat kapasitasnya dan dibina secara baik, lalu disinergikan dengan LP Maarif bertanggungjawab mengurus SDM NU di tingkat SLTP dan SLTA. Sinergi ini dilanjutkan dengan IPNU/IPPNU, dengan lembaga perguruan tinggu NU dan PMII maupun lainnya. .

Kelima, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) perlu diberdayakan dan diperkuat untuk menjaga warisan budaya para wali dan dipopulerkan ke kaum muda sesuai konteks zaman.

Keenam,  NU harus selalu hadir di setiap problematika umat, dan harus dominan perannya, dan terkekspos di media. Agar tidak ada lagi pertanyaan: “NU ada di mana ketika umat punya masalah?”.

Musyawarah Kubro tersebut dihadiri para anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Mayoritas adalah aktivis atau pengurus NU yang pernah kuliah atau mondok di Yogyakarta.

Dari PBNU hadir salah satu ketua tanfidziyah, M Imam Aziz dan putri alm Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawwaroh Wahid. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Oleh Suwarsa

Ada semacam keanehan ketika Plato menyebutkan - secara detail - peradaban dari Timur. Dia menulis kisah tentang sebuah peradaban yang telah berkembang di belahan bumi bagian Timur. The East of Eden, sorga di Timur. Ekstase dan pencapaian batiniyah seorang Plato ini tentu bersebrangan dengan logika yang dianut oleh para sophis Yunani Kuno waktu itu.

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Buah pikiran Plato dengan tingkat transenden yang sangat tinggi ini menjadi sebab alam pikiran Yunani Kuno terbagi menjadi tiga: 1. Mereka para pemuja kebijaksanaan materi, phisik. 2. Mereka yang memadukan dua hal bertentangan, phisik dan nous. 3. Mereka para pemuja mitologi. Kelompok ketiga ini cenderung dianut oleh para penguasa dan agamawan yang dekat dengan kekuasaan.

Haedar Nashir

Pertentangan terjadi, jauh sebelum Plato menyodorkan konsep negara ideal. Gurunya, Socrates merupakan seorang filsuf? yang benar-benar menentang kekuasaan kelompok tirani. Kelompok ini membonceng keyakinan, mengendalikan masyarakat dengan dalil yang dikemas sedemikian bagus oleh kelompok agamawan berjubah. Sokrates memandang pembodohan masyarakat melalui pranata agama ini bertolak-belakang dengan hukum alam yang hakiki sebagai hukum Tuhan sejati. Penentangannya tersebut menjadi akibat, Sokrates dipaksa meminum racun. Kelompok tirani dan kaum agamawan palsu ini tetap ajeg mempertahankan konsep politheismenya, keyakinan dipaksakan agar masyarakat menganutnya.

Kaum filsuf , para pencari kebijaksanaan diawasi ruang gerak-geriknya oleh penguasa dan kaum agamawan. Mereka tampil sebagai minoritas di dalam kehidupan yang telah dipenuhi oleh racun kekuasaan dan hegemoni agama. Keterbatasan tersebut menjadi sebab mereka menjadi kelompok yang sering melakukan pengembaraan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan menyendiri di goa-goa sebagai bentuk penghindaran dari kesemrawutan dalam hidup. Mereka tetap memegang teguh satu ajaran, hukum semesta sejati yang digerakkan oleh Causa Prima, Kholiq. Akan tetapi, ajaran kaum sophis ini kemudian tetap juga diadopsi oleh para penguasa dan tokoh agama pengejar dunia, dalam bentuk kepura-puraan.

Haedar Nashir

Tiga abad kemudian, seorang pemuda Aramia, Yesus (Isa) melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh kaum sophis. Ajaran kebaikan disebarkan tidak melalui lembaga bernama agama. Dia menyelusup dari rumah ke rumah menelurkan kebaikan. Puncaknya, pada saat Khotbah di bukit, Yesus mengabarkan kebaikan tulus dan murni, memisahkan urusan Ketuhanan dengan Kekuasaan. Tokoh agamawan waktu itu menganggap Yesus adalah sebuah ancaman yang bisa meracuni masyarakat dengan ajaran tanpa ritus. Lantas mereka menghasud Yesus sebagai ancaman bagi kekuasaan Herodes.? Ajaran Yesus dikatakan telah menyerang dewa-dewa bangsa Romawi. Kembali, kaum agamawan membonceng kekuasaan untuk melenyapkan Yesus.

Setelah Yesus tiada, ajaran kebaikannya kemudian dimanfaatkan oleh kaum agamawan, nabi palsu (Saul, seorang Yahudi penghasud dan penyiksa ke 12 murid Yesus) dan mendapat sokongan dari penguasa Romawi. Tumbuhlah dengan pesat, ajaran transenden yang dipadukan dengan agama serta ritual Romawi menjelma menjadi agama yang terlembagakan sampai saat ini.

Tanah Haran, sebelum dikenal sebagai Mekah merupakan padang tandus tidak berpenghuni. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke 2 Sebelum Masehi. Sekelompok bangsa Nabatea dari pinggiran Jordan dan Kanaan pindah karena desakan kultural pasca eksodus kaum Yahudi dari Mesir ke Kanaan (daerah kuno yang terdiri dari Lebanon, Palestina, dan sebagian Yordania: pada masa? sekarang) Sebelum kedatangan kaum Yahudi, peradaban bangsa Nabatea telah begitu maju, mereka mahir dalam seni memahat, sastra dan prosa, bentuk tulisan Fenisia ditranslatasikan ke aksara yang sekarang menjadi Aksara Arab. Bangsa Nabatea lah yang memperkenalkan bentuk kubus sebagai dewa kesuburan, Manath, dan Hubal. Seorang Nabatea selalu membawa kubus kecil kemanapun mereka pergi. Di Haran, mereka membangun kubus berukuran besar. Ke sanalah, dari rumah-rumah mereka menghadap saat ritual keagamaan dilakukan.

Kehidupan di Haran semakin berkembang pesat. Kepiawaian bangsa Nabatea melakukan lobi dan kompromi dengan berbagai kabilah yang datang belakangan menghasilkan konsensus, mereka tetap memiliki posisi sebagai penjaga rumah tuhan. Sementara itu, kekuasaan diserahkan kepada kaum Nomaden, selanjutnya disebut Arab Badui. Mereka dinamai bangsa Arab karena kehidupannya tidak pernah lepas dari tapal kuda, bangsa nomaden yang gemar melakukan peperangan. Kabilah lain diberi kesempatan untuk menyimpan berhala yang mereka sembah di dalam bangunan tersebut, kemudian diberi nama rumah tuhan, lebih tepat adalah rumah para tuhan.

Kenapa pembangunan kubus bangsa Nabatea ini disematkan kepada Ibrahim dan Ismail? Secara historis, perjalanan spiritual Ibrohim tidak pernah sampai ke Haran. Jalur perjaanannya dari Babel ke Kanaan. Di Kanaan inilah terjadi interaksi antara bangsa Nabatea dengan Ibrahim. Interaksi intensif ini menjadikan seorang Ibrahim dipandang sebagai penasehat spiritual oleh bangsa Nabatea. Maka sebagai bentuk penghargaan kepada Ibrahim, pembangunan bangunan berbentuk kubus tersebut disematkan kepada Ibrohim, Sang Kekasih Tuhan. Di antara sekian banyak orang Nabatea, beberapa orang tetap mempertahan ajaran Ibrahim, dalam tradisi di Mekah mereka dinamai kelompok hanif atau hunafa. Kelompok ini yang kemudian akan melahirkan seorang messiah baru dari Mekah, Muhammad SAW.





Penulis adalah budayawan Sunda tinggal di Sukabumi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Kiai Haedar Nashir

Selasa, 12 Desember 2017

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyayangkan ketegangan antara Pemerintah Arab Saudi dan Pemerintah Iran. Kang Said berharap dua negara ini mengendalikan diri agar tidak menambah deretan konflik di Timur Tengah.

“Konflik yang terjadi antara Saudi Arabia dan Iran sangat tidak layak dan sangat menghawatirkan. Masing-masing negara memunyai bobot di dunia Islam ini,” ujar Kang Said di Jakarta, Senin (4/1) sore.

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harap Arab Saudi dan Iran Tahan Diri

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini berharap kedua negara bertetangga itu menyatukan barisan umat Islam. Menurutnya, banyak pihak di luar Islam tidak senang melihat umat Islam bersatu.

Haedar Nashir

“Tunjukkan umat Islam masih punya idealisme ingin memperkuat barisan dalam menghadapi era globalisasi yang cukup menantang ini,” ujar Kang Said.

Ia mengajak kedua negara untuk melupakan apa yang sudah terjadi.

Haedar Nashir

“Ke depan yang saya harapkan Saudi dan Iran masing-masing dengan jiwa besar dan lapang dada membangun persaudaraan yang kuat, persaudaraan yang kokoh demi kerukunan umat Islam.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Santri Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah

Malang, Haedar Nashir

GP Ansor Kabupaten Malang memberikan pembekalan terhadap kader-kadernya demi membentengi masuknya paham radikal dengan diklat kepemimpinan dasar.

Kegiatan itu dilaksanakan dalam rangka penguatan kader Ansor Banser. Husnul H Syadad, Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang mengungkapan kegiatan itu dilakukan demi meningkatkan pemahaman tentang Aswaja An-Nahdliyah.

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Malang Gelar Diklat Aswaja An-Nahdliyah

"Untuk membentengi kader dengan pemahaman Aswaja An-Nahdliyah agar tidak mudah terpengaruh dengan faham-faham baru yang cenderung radikal," ujar Husnul, di PP Sunan Kalijogo, Kecamatan Jabung, Ahad (7/2/2016).

Ia menambahkan diklat tersebut dilakukan untuk menyiapkan kader menghadapi paham-paham radikal yang mengancam keutuhan NKRI.

Haedar Nashir

Hadir sebagai pemateri diantaranya H Fathulloh anggota Fraksi PKB DPRD Provinsi Jawa Timur, Danramil setempat, dan Ketua LBM NU Kabupaten Malang. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Santri Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 07 November 2017

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Foto yang ditampilkan di halaman ini adalah hasil jepretan Muhammad Fatichin di pesawahan Desa Kalipucung Timur, Batang, Jawa Tengah, pada 11 April 2016. Sekilas, foto ini terlihat biasa dan tak ada yang istimewa, yaitu: para petani melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di pematang sawah.

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Namun, di balik apa yang tampak ini, betapa agama Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW 15 abad lalu di Makkah, telah membumi dan dilaksanakan oleh umat Islam sampai di pelosok desa. Pengaruh Islam begitu terasa, dan telah berakulturasi dengan adat dan budaya masyarakat.

Haedar Nashir

Belakangan, Islam ini mulai dikoyak dengan ide khilafah (Negara Islam). Mungkin mereka berpikir, butuh polisi syariat untuk menilang orang-orang yang enggan atau belum melaksanakan shalat pada waktunya. Padahal, tindakan pemaksaan seperti itu justru akan merendahkan kualitas ibadah seseorang: tidak berangkat dari kesadaran.

Haedar Nashir

Mereka lantang meneriakkan anti-Pancasila dan anti-demokrasi. Padahal, seharusnya mereka sadar, hanya demokrasi lah yang memungkinkan mereka bersuara tanpa kehilangan nyawa. Andai mereka berteriak ketika era Orde Baru dulu, tentu mereka sudah habis tanpa sisa, seperti beberapa aktivis Komunis yang mencoba menggulingkan negara.

Kemapanan Islam di Nusantara juga dikoyak oleh beberapa organisasi yang mengimpor Islam dari Timur Tengah. Dengan serta merta, tanpa pemahaman ideologis, metodologis dan historis yang memadahi, mereka menghakimi sesama muslim dengan ungkapan provokatif: bid’ah dan sesat.

Namun, sepertinya kita tak perlu khawatir dengan tingkah-polah mereka, karena dalam sejarahnya paham-paham yang mencerabut akar-budaya Nusantara selalu akan tergerus dan tidak laku. Meski demikian kita mesti waspada kepada gerakan mereka, oleh karena mereka memiliki jaringan internasional dengan biaya yang besar. Televisi, radio sampai buku dan majalah menjadi media mereka dalam mencerabut Islam dari akar-budaya Nusantara.

Sekali lagi, foto ketaatan petani ini mengingatkan, menegur, dan memberi teladan kepada kita, bahwa "orang kecil" pun memiliki kebesaran dan harga diri dalam melaksanakan ajaran Tuhan. Mereka bekerja, memakan hasil keringat sendiri, beribadah dan jauh dari ingar-bingar korupsi yang marak di parlemen, pemerintahan, sampai sekolahan. Mereka memiliki kemuliaan yang dewasa ini banyak hilang: kemandirian dan ketaatan kepada Tuhan.

Mereka para petani itu juga menjadi "tulang punggung bangsa", kata pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Keberadaannya belum sepenuhnya diperhatikan pemerintah, utamanya upaya protektif akan keberadaan cukong dan pemborong. Pemerintah lewat Kementan dan Bulog mesti kerja lebih keras lagi, akar nasib petani bisa menjadi tuan-rumah di negeri sendiri. Beruntung, tahun lalu Indonesia telah mengekspor beras kelas khusus/organik 148 ton yang artinya ada peningkatan yang signifikan.

Dengan tenaga, keringat, doa dan keringat para petani, nasi putih dan harum tersaji di meja makan kita, meja makan restoran mewah, warung-warung angkringan sampai meja makan istana negara. Semoga pemerintah kedepan bisa lebih memperhatikan petani. Juga, nasib petani bisa sejahtera sebagai pilar kemandirian sebuah negara. Amin.

Penulis adalah kader IPNU dan seorang anak petani desa.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Bahtsul Masail, Santri Haedar Nashir

Jumat, 03 November 2017

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Boyolali, Haedar Nashir - Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, dalam rangka pembangunan gedung SD NU Terpadu (Boarding School), yang berlokasi di Desa Gombang, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sawit. Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyelenggarakan acara ngunduh mantu, Ahad (8/1).

Konsep ngunduh mantu? adalah acara budaya lokal dalam penggalangan dana organisasi sehingga membuat masyarakat dari luar NU juga tertarik mengikutinya.

Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Meski demikian, di Boyolali sendiri, konsep ngunduh mantu ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan. Acara serupa, juga pernah dilakukan pengurus MWCNU Musuk, saat membangun gedung NU setempat, beberapa tahun yang lalu.

Haedar Nashir

Layaknya acara ngunduh mantu yang sesungguhnya, acara ngunduh mantu di NU Sawit pun dilaksanakan dari pagi hingga malam. Para tamu yang datang, silih berganti, mengalir seperti air, mulai pagi hingga malam. Layaknya acara ngunduh mantu mereka memasukkan amplop sumbangan ke dalam kotak yang telah disediakan.

Sebelumnya, panitia telah membagikan ulem (undangan) kepada calon tamu, yang di dalamnya telah tertera infaq minimal Rp. 50.000,- beserta jam undangan. Para tamu yang hadir, juga disuguhi penampilan 3 tim hadrah dan juga mendengarkan pengajian yang digilir selama 3 sesi.

“Pengajian dilaksanakan dalam 3 sesi, yaitu pagi pada pukul 09.00 - 12.00, siang pada pukul 13.00 - 15.00 dan malam pada pukul 19.30 sd 21.30. Pembicaranya pun ada 3, yakni Kiai Budi Santoso, Kiai Sujarwadi dan Rais Syuriah MWCNU Sawit, KH Joko Parwoto,” papar salah satu panitia yang juga Ketua PAC GP Ansor Sawit, Munshorif.

Haedar Nashir

Di akhir acara, setelah dihitung dana yang masuk ke kotak, terkumpul kurang lebih Rp. 80 juta.

Ketua panitia, Inpurwanta, berharap meski perolehan dana sedekah jariah cukup besar, tapi masih jauh dari kebutuhan untuk pembangunan, yakni Rp. 120 juta.

”Hingga saat ini pembangunannya baru dapat 45% dan masih membutuhkan bantuan dana yang besar,” terang Inpur, yang juga Sekretaris MWCNU Kecamatan Sawit itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Kajian, Santri Haedar Nashir

Kamis, 02 November 2017

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Jakarta, Haedar Nashir

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari Banten. Salah seorang Mustasyar PBNU, KH Syatibi Syarwani meninggal dunia, Jumat (15/9), sekitar pukul 12.00 WIB. Rumah duka beralamat di Kampung Langana, Desa Sukaharja, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Informasi tersebut disampaikan staf Syuriyah PBNU Mahbub Ma’afi. Kabar duka yang menyebar ke berbagai media sosial ini pun mengundang ungkapan belasungkawa dan doa warga NU.

Kiai Syatibi termasuk di antara nama-nama yang pernah direkomendasikan masuk dalam daftar anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 2015 lalu. Ulama kharismatik ini aktif di NU sejak muda.

Haedar Nashir

Atas kiprah dan jasanya, ia disebut-sebut sebagai salah satu “paku bumi” atau penyangga NU Banten. Meski usia melebihi 80 tahun, Kiai syatibi hampir tak pernah absen di acara-acara penting yang diadakan NU.

Kiai Syatibi mengemban amanah sebagai mustasyar PBNU hasil Muktamar Ke-33 NU untuk periode 2015-2020. Namun, perjalanan tugas mesti terhenti di tengah jalan karena pulang ke rahmatullah. Lahul fatihah. (Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Fragmen, Khutbah Haedar Nashir