Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Sekretaris PWNU Sulawesi Utara Meninggal Dunia

Jakarta, Haedar Nashir?



Sekretaris ? PWNU Sulawesi Utara Suwarno Tuiyo meninggal dunia pada Rabu dini hari (5/10) sekitar pukul 01.00 WITA. Almarhum yang meninggal pada usia 56 tahun tersebut dimakamkan hari di kampung provinsi Gorontalo. ? Pukul 07.00 jenazahnya dibawa ke kampung halamannya.?

Sekretaris Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara Fadhila Djojosuroto mengatakan, Suwarno banyak berkontribusi kepada Muslimat NU, khususnya di Minahasa.?

Sekretaris PWNU Sulawesi Utara Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris PWNU Sulawesi Utara Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris PWNU Sulawesi Utara Meninggal Dunia

“Kontribusinya banyak dengan ide-ide serta pemikiran untuk kemajuan Muslimat dan selalu memberi motivasi kepada ibu-ibu berjuang demi kemaslahatan umat,” katanya ketika dihubungi Haedar Nashir dari Jakarta Rabu, (5/10).?

Menurut pengurus Lesbumi PBNU asal Sulawesi Utara Irfan Basri, Suwarno adalah perintis pendirian Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama di Sulawesi Utara. Selain itu, sampai meninggalnya ia masih menjadi Ketua Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa IslamIndonesia (IKA-PMII) Sulawesi Utara.

Haedar Nashir

"Beliau selama hidupnya fokus mengurus NU," demikian kesaksian Irfan Basri. Semoga almarhum diterima di tempat paling layak di sisi Allah SWT dan diampuni segala kekhilafannya. Semoga juga ada penerus yang bisa mendarmabaktikan hidupnya kepada NU, masyarakat, dan bangsa Indonesia di Sulawesi Utara, lanjutnya.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail, Lomba Haedar Nashir

Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Rembang, Haedar Nashir. Badan Hisab Rukyah (BHR) Kementerian Agama dan Lajnah Falakiyah? Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Rembang akan mengadakan standarisasi waktu berbuka puasa bulan Ramadhan. Standarisasi itu dilakukan agar terjadi persamaan waktu berbuka di wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Hal itu dikatakan Ketua Pengurus Cabang LFNU Ali Muhiddin Senin (23/6).

Muhiddin mengatakan, cenderung mengabaikan pencocokan waktu menurut wilayahnya, sehingga mereka sering berbuka terlambat atau bahkan lebih awal.

Haedar Nashir

"Masyarakat kebanyakan tidak peduli dengan kondisi waktu setempat, dan terkadang lebih sering mencocokkan jam yang mereka miliki secara sembarangan, dan terkadang hanya mengira-ngira. Banyak juga masyarakat perkotaan dan pedesaan meggunakan pedoman jam televisi, padahal waktu yang ada di televisi merupakan wilayah Jakarta, ini harus diluruskan," katanya.

Haedar Nashir

Terkait hal ini, LFNU Rembang berencana akan mendatangi setiap masjid yang menjadi pusat di kecamatan, serta masjid yang menjadi pusat organisasi masyarakat (Ormas ) Islam. Tujuannya, membenarkan jam penunjuk waktu pada tempat-tempat vital yang kerap menjadi rujukkan masyarakat tersebut.

"Yang paling utama masjid Agung Kota Rembang. Pasalnya, masjid ini terkadang pengurusnya masih menggukanakan jam televisi. Padahal kita sudah memberikan jadwal shalat dan imsakiyah di masjid ini. Yang kedua masjid dan mushala yang menjadi pusat perhatian masyarakat di sembilan kecamatan, imbuhnya.

Rencananya, kata Muhiddin, media massa, cetak ataupun radio di Rembang juga tak luput dari proses standarisasi waktu ini. Pasalnya, sebagian media di Rembang, terutama radio masih menjadi acuan warga Rembang. (Ahmad Asmui/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Ubudiyah, Hadits Haedar Nashir

Senin, 05 Februari 2018

Jihad, Jinen, Jimat

Subang, Haedar Nashir. Jihad, jinen, jimat adalah kependekan dari ngaji malam Ahad, ngaji malam Senen, ngaji malam Jumat, yang diasuh Kiai Thola AlBadar Karim, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat.

Jihad, Jinen, Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad, Jinen, Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad, Jinen, Jimat

Menurut salah seorang santri Kiai Thola AlBadar Karim, Dedi Setiawan, Jihad sudah memasuki tahun kedelapan, digelar seminggu sekali bertempat di Kampung Pungangan, pesantren Al-Karimiyah. Pengajian membahas bidang fiqih dalam Syarah kitab Sulam Munajat.

Dedi menambahkan, sebelum Jihad dimulai digelar tahlilan untuk mendoakan para orang tua peserta pengajian yang sudah meninggal.

Haedar Nashir

“Jihad digelar seminggu sekali, dihadiri tidak kurang seratus orang. Yang datang tidak hanya warga Kampung Pungangan, tapi dari Kecamatan Purwadadi, Kecamatan Patok Beusi, Ciasem,” ujar Dedi di Pesantren Al-Karimiyah, Kampung Pungangan, Kamis, (15/11).

Haedar Nashir

Jinen, tambah Dedi, pengajian digelar di Wanasari, Kecamatan Tambak Dahan, tiap sebulan sekali. Jinen dimulai tahun 2012 ini.

“Format pengajian adalah dialog keagamaan atau diskusi menyangkut masalah aktual di masyarakat. Biasanya dihadiri sekitar 50 orang, tambah Dedi Setiawan.

Sementara Jimat, pengajian keliling seminggu sekali di tujuh kampung, yaitu Kampung Wangun, Bakan Jati, Bakan Kiara, Pasir Hurip, Tegal Kuneng, Pintu Cijengkol, Sengon.

“Pengajian Jimat dihadiri tidak kurang seratus orang. Jika digelar di satu kampung misalnya, 40 motor dari kampung, bisa dipastikan hadir. Itu belum termasuk hadirin warga setempat,” tambah Dedi.

Menurut Dedi, Kiai Thola AlBadar Karim menyampaikan pesan-pesan agama dengan komunikatif, bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna. Dan tak ketinggalan, humor pasti menyelinap di antara mereka.

Kiai Thola AlBadar Karim adalah pengasuh pesantren Al-Karimiyah. Kiai berusia 41 tahun tersebut pernah nyantri di Pesantren Buntet Cirebon, Tebuireng Jombang, dan beberapa pesantren di wilayah Jawa Barat.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Lomba Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Haedar Nashir. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Haedar Nashir

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Haedar Nashir

“Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,” katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Kajian Haedar Nashir

Selasa, 23 Januari 2018

Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak

Anak adalah karunia Allah yang menjadi idaman utama pasangan suami-istri (pasutri). Karena sebuah karunia, kehadiran momongan tidak bisa dijadwalkan manusia. Untuk itu, setiap pasutri dianjurkan berdoa untuk diberikan bukan hanya anak, tetapi juga keturunan yang saleh.

Pasutri yang belum dikaruniakan momongan tidak perlu cemas atau frustasi karena anak adalah hak penuh Allah. Sementara anugerah-Nya tidak berkaitan dengan kesalehan pasutri yang bersangkutan. Banyak orang saleh, kiai, ulama, bahkan rasul yang tidak dikaruniai anak atau dikaruniakan di akhir hayatnya.

Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Nabi Ibrahim AS Minta Dikaruniai Anak

Satu sama lain juga tidak perlu saling menyalahkan karena tidak ada yang salah pada masing-masing dari keduanya. Yang diperlukan adalah keduanya berdoa dan mendekatkan diri selalu kepada Allah.

Berikut ini doa Nabi Ibrahim AS ketika mengharapkan kehadiran momongan. 

Haedar Nashir

Haedar Nashir

? ? ? ? ?

Rabbi hab lî minas shâlihîn

Artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100)



Doa ini menjadi alternatif sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Marahu Labid li Kasyfi Ma‘na Quranin Majid, juz II, halaman 221, Darul Fikr, 1980



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





Artinya, “Ketika hijrah menuju tanah suci, Nabi Ibrahim AS merindukan kehadiran seorang anak. Kala itu ia berdoa, ‘Tuhanku, berikan lah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100). Maksudnya seorang anak dari kalangan rasul. Lalu Kami kabulkan permohonannya.”

(Alhafiz K)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Senin, 15 Januari 2018

IPNU Tangsel Ajak Remaja Masjid dan OSIS Matangkan Kualitas

Tangsel, Haedar Nashir. Puluhan pemuda dan pelajar yang berasal dari beragam Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)  se-Kota Tangerang Selatan memadati Taman Wisata Situ Gintung, Kamis (22/12). Mereka hadir untuk mengikuti Workshop Manajemen Organisasi Pemuda dan Pelajar yang digagas PC IPNU Tangerang Selatan.

Workshop yang digelar selama dua hari hingga Jumat (23/12) mengusung tema Peningkatan Semangat dan Kinerja Pemuda, Pelajar, dan Remaja secara Profesional.

IPNU Tangsel Ajak Remaja Masjid dan OSIS Matangkan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tangsel Ajak Remaja Masjid dan OSIS Matangkan Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Tangsel Ajak Remaja Masjid dan OSIS Matangkan Kualitas

Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti keseriusan IPNU Tangsel dalam terlibat aktif bersama elemen pemuda dan pemerintah dalam menjadikan pelajar Kota Tangsel sebagai pelajar yang siap untuk membangun Tangsel.

Selain itu kegiatan juga untuk mewujudkan pelajar yang cerdas, modern, dan religius.

“Tangsel dianggap sebagai daerah merah, rawan teroris. Semua itu terjadi karena adanya pemahaman agama yang salah,” ungkap Amizar Isma, tokoh muda Tangerang Selatan dalam sambutannya.

Haedar Nashir

“Pemuda merupakan masa perkembangan menuju pematangan, tidak hanya biologis/fisik, tetapi juga perkembangan mental. Oleh karena itu, sasaran kita adalah remaja, kaum muda, dan pelajar. Khususnya mereka yang aktif di masjid, baik sebagai IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) maupun partisipan saja,” imbuhnya.

Arif Jamaludin, perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga berharap agar alumni dari acara ini dapat menjadi pionir di masjid mereka masing-masing untuk menggerakan kegiatan kepemudaan yang positif.

“Tujuannya, agar adik-adik remaja masjid lebih memahami bagaimana mengelola masjid yang ramah untuk kaum muda, sehingga kaum muda senang, nyaman, dan bisa lebih memakmurkan masjid,” jelasnya.(Hamdi Ramdhani/Kendi Setiawan)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi

Bandung, Haedar Nashir - Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Dianto Bachriandi menilai bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang sejuk sejak dahulu. Dengan demikian NU memunyai peran penting dan signifikan dalam memelihara stabilitas bangsa dengan upaya melakukan deradikalisasi gerakan-gerakan teroris.

"Terorisme mengacaukan situasi Indonesia, sehingga dominasi asing masuk ke Indonesia. Sebagaimana kasus 1965, situasi sudah kacau, lalu dikacaukan lagi oleh intervensi asing. Sebagaimana juga yang terjadi di Timur Tengah sehingga pihak asing mengambil keuntungan di bidang minyak," ungkap Dianto saat ditemui Haedar Nashir, Selasa (26/1) lalu.

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi

Dianto melihat seharusnya NU tidak hanya melakukan deradikalisasi melalui pengajaran, tetapi pihaknya melihat ada satu yang harus NU perhatikan adalah kondisi ekonomi masyarakat di daerah-daerah yang menyuburkan sikap-sikap antikemapaman.

"Itu berpotensi dimasuki oleh niat-niatan teroris. Apa itu? Yakni kemiskinan. NU punya kekuatan ekonomi di situ " ujar pria yang juga Ketua TIM Investigasi Penanggulangan Terorisme itu.

Haedar Nashir

NU, menurutnya, bisa lebih banyak bekerja di desa sehingga banyak masyarakat di pedesaan yang tidak mudah terpancing dan diajak di tengah situasi kesulitan ekonomi.

Haedar Nashir

Pemerintah, kata Dianto, seharusnya juga melakukan hal yang sama yakni membantu peningkatan taraf ekonomi masyarakat . "Jadi upaya-upaya paling utama meredam radikalisme adalah memberi makan orang," pintanya. (M Zidni Nafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Sunnah, Lomba Haedar Nashir

Minggu, 31 Desember 2017

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Jombang, Haedar Nashir - Terhitung sebulan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Karanglo, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur berdiri. Saat ini sejumlah pengurus sedang menyiapkan momen pelantikan untuk pengesahan.

Namun, meski belum dilantik, para Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Karanglo mulai membangun keakraban dengan masyarakat dengan cara membudayakan silaturrahim kepada warga dan sejumlah tokoh masyarakat.

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Salah satu pengurus IPPNU Ranting Karanglo Izzatul Mufidati menuturkan, sejak sepekan lalu, dirinya dan pengurus yang lain berkeliling desa mendatangi beberapa kediaman tokoh masyarakat. Hal itu untuk meminta mereka berkenan menjadi pembina IPNU-IPPNU Ranting Karanglo.

"Tanggal 20 Januari lalu, saya dan pengurus lainnya sowan ke rumah Pak Hadi, salah satu tokoh masyarakat di desa untuk merunding beliau menjadi pembina sekaligus meminta saran," tuturnya, Kamis (26/1).

Haedar Nashir

Dijelaskan Izzah, setiap pengurus mengunjungi beberapa tokoh masyarakat, ia mengaku selalu direspon positif dan diberikan saran positif pula. "Kalau sulit, jangan patah semangat, karena pasti ada jalan lain," kata Izzah menirukan ucapak Pak Hadi saat itu.

Haedar Nashir

Prihal sama juga didapati pengurus saat bersilaturrahim kepada tokoh masyarakat yang lain. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Lomba Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Menaker Hanif Dukung Rencana Apindo Dirikan Pusat Arbitrase dan Mediasi

Jakarta, Haedar Nashir

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mendukung upaya Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang berencana membentuk Pusat Arbitrase dan Mediasi Indonesia (PAMI).

Menaker Hanif Dukung Rencana Apindo Dirikan Pusat Arbitrase dan Mediasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Hanif Dukung Rencana Apindo Dirikan Pusat Arbitrase dan Mediasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Hanif Dukung Rencana Apindo Dirikan Pusat Arbitrase dan Mediasi

 

“Pada prinsipnya pemerintah memberikan dukungan kepada Apindo mau membentuk lembaga arbitrase dan mediasi Indonesia. Ya, silahkan saja, akan tetapi harus sesuai peraturan perundang-undangan,” kata Menaker Hanifsaat menerima audiensi Apindo, Jumat (22/9/2017).

Haedar Nashir

Menaker Hanif berharap nantinya keberadaan PAMI ini dapat membantu kinerja Kemnaker dalam menjaga hubungan industrial yang baik antara pekerja/buruh dan pengusaha.

Haedar Nashir

 

"Inisiasi pembentukan lembaga ini datang dari Apindo. Kami hanya bersifat mendukung saja. Tentunya ini hal yang bagus. Saya harap PAMI bisa membantu Kemnaker dalam menjalankan tugasnya yang dalam hal ini adalah hubungan industrial," katanya.





Menurutnya pengusaha atau buruh, pokoknya siapa saja yang mempunyai masalah hubungan industrial nantinya bisa minta bantuan ke PAMI. "Penyelesaian sengketa melalui mekanisme Arbitrase saya harap akan lebih efisien sehingga mampu meningkatkan produktivitas pelaku usaha,” kata Menaker.

 

Hanif mengingatkan semua pihak harus berkepentingan terhadap peningkatan daya saing. "Kalangan pengusaha dan dunia industri serta Serikat pekerja/serikat buruh juga harus mendukung dan bertanggung jawab peningkatan kompetensi dan  daya saing anggotanya," kata Hanif.

 

Dalam Audiensi tersebut, Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani mengharapkan Menaker Hanif berkenan hadir dan memberikan keynote speech dalam peresmian PAMI.

"Saat ini, PAMI belum secara resmi diluncurkan. Direncanakan launching akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2017 di Jakarta," kata Hariyadi.





Nantinya,  kata Hariyadi, PAMI akan berfungsi untuk membantu pihak-pihak yang berselisih atau yang mempunyai masalah hubungan industrial supaya lebih mudah masuk ke proses-proses penyelesaian. (Red. Kendi Setiawan).  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Lomba Haedar Nashir

Selasa, 26 Desember 2017

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Malang, Haedar Nashir. Wajah Islam Indonesia sejatinya bukan mengajarkan kebencian. Namun, wajah Islam di negeri ini, awalnya disebarkan dengan keramahan terhadap budaya dan tradisi. Penyebaran Islam di kawasan Nusantara, terutama oleh Wali Songo, menggunakan tradisi, musik dan kebudayaan.

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Hal itu ditegaskan dalam Seminar Internasional Islam and Peace di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Jawa Timur, Kamis (16/2). Seminar ini, dihadiri oleh Prof Anne Rasmussen (Professor of Ethnomusicology, The College of William and Mary Virginia-USA), Assoc Prof Yahya Don (Dean of School of Education and Modern Language, Universiti Utara Malaysia), dan Hasan Abadi (Rektor UNIRA Malang).

Prof Anne Rasmussen, mengungkapkan pentingnya toleransi dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Prof Anne merupakan pakar musik dan budaya Islam, yang lama meneliti tentang fenomena musik di Timur Tengah dan Indonesia. "Musik dapat menjadi instrumen untuk mengajarkan dan menyebarkan perdamaian," terang Anne.

Ia menjelaskan tentang toleransi yang menjadi karakter bangsa Indonesia. "Pada tahun 1999, ada Musabaqah Tilawatil Quran di Jakarta. Pada posternya, ada gambar lelaki dan perempuan yang ditampilkan beriringan. Ini penting, menggambarkan cara pandang yang luar biasa, sesuatu yang tidak akan terjadi di Arab Saudi, Pakistan atau Bangladesh," jelas Prof Anne.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yahya Don menjelaskan pentingnya perubahan masyarakat yang harus menjadi platform. "Perubahan masyarakat itu penting. Namun, yang harus jelas, ke arah mana perubahan masyarakat tersebut? Jelaslah ke arah perdamaian Islam," ungkapnya.

Perubahan ke arah perdamaian inilah, yang menjadi cara berpikir penting dalam membangun toleransi di tengah masyarakat. Dalam narasinya, Yahya Don menjelaskan tentang pentingnya menggunakan bahasa dalam pendidikan. Ia mengisahkan tentang hambatan budaya dari guru-guru yang menganggap etnis lain dengan tanpa pemahaman komprehensif, yang memicu kebencian.?

"Kita harus mengajar dengan perdamaian, bukan dengan bahasa kebencian. Inilah nilai penting yang perlu disampaikan dari pendidik muslim," terangnya.

Haedar Nashir

Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi mengungkapkan tentang pentingnya memahami nilai-nilai agama dengan beragam tafsir. "Yang paling penting adalah menggunakan pesan-pesan dalam agama. Apa yang dilakukan Gus Dur sangat tepat, dengan gagasan pribumisasi Islam. Jadi, dengan akar budaya bukan skripturalis," jelasnya.?

Dengan demikian, pesan perdamaian dalam Islam tersampaikan dengan media budaya. Di akhir seminar, dilanjutkan perumusan kerja sama UNIRA dengan Universitas Utara Malaysia dalam bidang riset Peace Education dan kerja sama penguatan pendidikan. (Abdillah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Sholawat, Lomba Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Sleman, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nailul Ula Plosokuning Yogyakarta, selain diajarkan kitab kuning, pengajian Al-Qur’an, tapi juga teknologi yang berkembang dewasa ini. Pengenalan teknologi diisi dengan pelatihan Teknologi Informasi (TI).

Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula KH. Aliy Asad mengatakan, di zaman serba "mobile" ini para santri diajak melek teknologi karena disadari atau tidak, Muslim Indonesia (Aswaja) sudah ketinggalan, “Kebanyakan aplikasi islami dibuat mereka (non-Aswaja). Berangkat dari keperihatinan itulah kami mengadakan kegiatan ini," terangnya, Ahad lalu (19/5).

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Menurutnya, pada zaman dahulu, Walisongo menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah di Jawa (islamisasi Jawa - jawanisasi Islam). Hal itu dilakukan karena masih kental dengan budaya Hindu-Budha.

Haedar Nashir

Walisongo kemudian berhasil mendakwahkan Islam melalui media budaya, “Kalau kita sebagai penerus Walisongo, berarti harus jeli menggunakan "perangkat budaya" yang paling dominan hari ini, yaitu teknologi digital, lebih spesifik lagi gadget,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebagai para pengikut Walisongo, semestinya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi digital sebagai alat untuk berdakwah, sebagai itiba kepada mereka. Selain itu juga untuk mengimbangi dominasi penguasaan teknologi orang non-Muslim yang semakin kuat dengan konten-konten yang tidak bertanggung jawab dan penuh maksiat.

Haedar Nashir

Metode pembelajaran di Nailul Ula tidak sepadat di pesantren pada umumnya, karena memang disesuaikan dengan kegiatan santri yang rata-rata aktivis kampus seperti UGM, AMIKOM, UIN, UII, UNY, dan lain-lain.

Pesantren yang terletak di daerah Ploso Kuning III No:81 Sleman juga menyediakan wadah mendukung minat dan bakat santri, dviantaranya seni rebana, english club, dan juga LPQ Bina Akhlaq.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor    : Ajie Najmuddin, M Khoiruddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pertandingan, Lomba Haedar Nashir

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi

Bandung, Haedar Nashir. Ditemui di Sekretariat Pergunu Jawa Barat lantai 2 Kantor PWNU Jawa Barat, Rabu (29/4) Jalan Terusan Galunggung No 9 Kota Bandung, Sekretaris PW Pergunu Jabar H Saepuloh menyatakan bahwa rencana sertifikasi PSK dengan membangun lokalisasi merupakan langkah yang keliru, karena itu tidak menyelesaikan masalah. 

“Justru dengan langkah tersebut akan menjadi semacam legalitas dari pemerintah terhadap prostitusi,” tegasnya.Lebih lanjut Saepuloh mengatakan, penting untuk diperhatikan bahwa pendidikan, mulai dari pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah serta pengawasan keluarga secara intens sangatlah penting.

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pandangan Pergunu Jawa Barat tentang Lokalisasi

“Orang tua dan guru mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menyelesaikan masalah tersebut,” tuturnya.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, pungkasnya, Pergunu Jawa Barat menghimbau kepada guru-guru NU agar dalam setiap kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan akan bahaya protitusi terhadap kesehatan jasmani dan rohani. (Awis/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Lomba, News Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Lebak, Haedar Nashir. Para kiai di wilayah Lebak, Banten, menyelanggarakan Halaqah Alim Ulama Nusantara bertema “Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi” di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Jalan Sampay-Cileles Km. 05 Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Halaqah yang diselenggarakan atas kerja sama Kemitraan (Partnership), Gusdurian dan Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini menjadi kelanjutan dari kegiatan yang sama di Yogyakarta akhir Juli 2015.

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Rais Syuriah PCNU Lebak KH. Muhammad Mas’ud yang hadir dalam kesempatan itu menyatakan, para kiai perlu berjihad melawan korupsi yang sudah kian mentradisi dalam masyarakat Indonesia.

Haedar Nashir

“Jika melihat kemungkaran seperti korupsi, maka ubahlah dengan tangan atau kekuasaan kita. Kita tidak boleh membiarkannya,” jelas pendiri Pondok Pesantren al-Hidayah Lebak ini, Rabu (2/9).

Terkait wacana hukum mati bagi koruptor, Kiai Mas’ud menyatakan, membunuh satu orang untuk melindungi ribuan orang lain bisa dimaklumi dan bahkan dibenarkan. “Lebih manusiawi mana membunuh satu orang atau membiarkan korupsi yang mengancam kelangsungan hidup orang banyak?” ujarnya.

Haedar Nashir

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua MUI Kabupaten Lebak menyatakan bahwa korupsi tidak akan terjadi di pesantren. “Apanya yang mau dikorupsi?” tanyanya. “Namun demikian, para kiai harus hati-hati jika menerima uang yang tidak jelas asal-muasalnya,” imbuhnya. ? ? ?

Usai sambutan para kiai, halaqah dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ahmad Suaedy dari Gurdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Dr. KH. Amas Tajuddin dari kalangan kiai pesantren dan Nurul H. Maarif sebagai perwakilan peserta halaqah di Jogjakarta.

Pada intinya, semua peserta sepakat untuk turut andil bersama pemerintah memberantas korupsi. Karena itu, di akhir kegiatan diadakan deklarasi yang disebut sebagai Deklarasi Lebak Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi, yang naskahnya dibacakan oleh KH. Asep Saefullah, M.Pd., Pengasuh Ponpes La Tahzan sekaligus Ketua ISNU Kabupaten Lebak.? ?

Secara umum, kegiatan ini sendiri bertujuan untuk; 1)? melindungi dan menjauhkan rakyat dan para pemimpin agama di masyarakat dari keterlibatan di dalam jaringan korupsi; 2) Memberi pemahaman kepada para pemimpin agama dan masyarakat tentang ancaman dan kerugian akibat korupsi terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia; 3) Mendorong para ulama dan lingkungan pesantren untuk ikut mendukung dan mencegah terjadi korupsi di semua level dalam berbagai bentuk korupsi; 4) Memberi perlindungan kepada para pelaku gerakan antikorupsi dari serangan jaringan koruptor di berbagai daerah.

Pada kegiatan yang diselenggarakan setengah hari ini, tampak hadir Ketua MUI Kabupaten Lebak yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH Achmad Syatibi Hambali, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Lebak KH Muhammad Mas’ud, intelektual NU KH Amas Tajuddin, Ahmad Suaedy dari Gusdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lebak Ade Budjaerimi, Ketua PC Fatayat Kabupaten Lebak Siti Nurasiah, Ketua ISNU Lebak KH. Asep Saefullah, dan lainnya. (Nurul Huda Maarif/Mahbib)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Lomba, Internasional Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Dakwah yang Beradab

Oleh M. Haromain



Dakwah merupakan satu bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan umat beragama. Dalam ajaran Islam, ia merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada pemeluknya, baik yang sudah menganutnya ataupun belum.

Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah yang Beradab

Syeikh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayah al-Mursyidin, sebagaimana dikutip oleh KH Sahal Mahfudh, menetapkan definisi dakwah sebagai ”Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Sementara dakwah menurut Quraish Shihab adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi ataupun masyarakat.

Dalam merealisasikan kewajiban dakwah ini, para da’i atau muballigh menggunakan banyak media dan metode, misalnya ceramah, diskusi, bimbingan penyuluhan, penerbitan buku, majalah dan lain sebagainya.

Haedar Nashir

Disini perlu ditegaskan bahwa masing masing media dan metode dakwah ini memiliki kelebihan, keistemewaan dan kekurangan, sehingga dibutuhkan kejelian penggunaan media dakwah tertentu sesuai dengan kondisi sasaran dakwah yang dihadapi. Ini dimaksudkan supaya kita tidak fanatik (ta’assub) kepada salah satu media dakwah dan menyepelekan kepada media dakwah lainnya.

Kegiatan dakwah dengan memahami dua definisi dakwah di atas, sepintas lalu tampak begitu mudah dan ringan bahkan nyaris tanpa hambatan. Tetapi kegiatan dakwah dalam tahap implementasi atau praktek di lapangan ternyata tidak sesederhana dan semudah itu.

Barangkali kalau sekadar menyampaikan materi atau pesan dakwah saja banyak yang mampu. Namun untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan dakwah, yang ditandai salah satunya lewat penerimaan secara sadar dari sasaran dakwah terhadap materi atau pesan dakwah yang kita sampaikan, maka di sinilah letak kesulitannya.

Hal itu membuktikan bahwa dalam menyampaikan materi atau pesan dakwah para juru dakwah terkadang tidak cukup hanya menyampaikan materi dakwahnya secara blak-blakan, lurus, dan transparan. Sebab penyampaian dakwah secara transparan (eksplisit) dan apa adanya ini kadang berpotensi besar menyudutkan tradisi, budaya, atau nilai-nilai yang diagungkan oleh masyarakat yang menjadi objek dakwah. Padahal sudah menjadi naluri manusia adalah tidak mau dipersalahkan. Dan orang akan mempertahankan diri secara emosional manakala mereka diserang atau dipojokkan secara psikologis. Bagaimana masyarakat bersedia menerima seruan dakwah jika mubalighnya tidak bisa menghargai mereka?

Haedar Nashir

Ketika seorang da’i dakwahnya tidak mendapat simpati dari masyarakat, janganlah keburu ia menuduh masyarakat tersebut sebagai komunitas masyarakat yang bebal hatinya, tidak mempan oleh nasihat. Justru pertama kali yang harus dikoreksi oleh da’i tersebut adalah cara, sikap, dan strateginya dalam menyampaikan dakwah. Sudah tepat dan benarkah metode yang ia sampaikan?

Oleh karena itu, demi tercapainya keberhasilan dakwah, supaya pesan dakwah dapat diterima dan dipraktekkan oleh objek dakwah diperlukan seni, metode, dan pendekatan yang benar. Dan strategi yang sering menjadi pedoman golongan ahlussunnah wal jama’ah dan merupakan manhaj dakwahnya salafusshaleh ? adalah metode dan cara pendekatan yang sangat bagus dan persuasif, yaitu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan diskusi atau dialog dengan cara yang lebih baik. Metode ini digali dari Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125.

KH Ahmad Shiddiq mengutip dari tafsir Al-Khazin menerangkan lebih detail tiga metode di atas. Mengajak dengan hikmah, artinya memberi keterangan yang mantap, kokoh, dan benar. Atau menggunakan dalil-dalil yang benar yang mengungkapkan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan.

“Mauidzah hasanah” artinya memberi petunjuk yang menggairahkan kepada kebenaran serta menunjukkan bahaya atau akibat perbuatan buruk, yang mengesankan rasa kasih sayangnya perawat bagi pasiennya. Metode dialog atau debat yang lebih baik artinya menggunakan pendekatan yang lemah lembut.

Kenapa penulis artikel ini mengatakan bahwa dakwah dengan ketiga metode diatas adalah metode terbaik dan persuasif? Karena dengan modal metode seperti itu, seperti apapun keadaan sasaran dakwah, sang da’i sedapat mungkin tetap menghargai meraka, memosisikan mereka sebagai manusia yang tidak hanya memiliki akal tetapi juga emosi dan perasaan yang tidak boleh diperlakukan seenaknya layaknya patung. Dan inilah istilah yang penulis sebut sebagai dakwah yang beradab.

Dengan demikian karena objek dakwah merasa dihargai dan diperlakukan selayaknya manusia lainnya, maka penerapan dakwah dengan metode hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah bi ahsan ini punya peluang lebih besar untuk diterima dan mendapat simpati dari masyarakat obyek dakwah.

Berbeda dengan metode dakwah yang disampaikan dengan jalan kekerasan, paksaan dan cara-cara yang bersifat sarkastik lainnya, alih-alih masyarakat akan bersimpati dan menerimanya, justru perlawanan dan permusuhanlah yang akan dikobarkan oleh mereka. Atau seandainya mereka mau menerima, besar dugaan penerimaan mereka itu karena keterpaksaan yang semu sifatnya, bukan penerimaan atas dasar kesadaran diri. Wallahu A’lam

*Penulis adalah alumnus MHM Lirboyo Kediri dan Unsiq Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Kiai, Lomba Haedar Nashir

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Pamekasan, Haedar Nashir

Beberapa bulan terakhir ini, Pimpinan Cabang GP Ansor Pamekasan, Jawa Timur memperkuat kaderisasi. Di samping memajukan organisasi, juga dimaksudkan untuk meneguhkan bela negara dan penanggulangan narkoba.

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Demikian penegasan Ketua PC GP Ansor Pamekasan, Fathorrahman kepada seorang tentara utusan Kodim Pamekasan yang melakukan pendataan dan koordinasi di sekretariat Ansor Jalan R Abd Aziz, Jumat (8/4).

Dalam kesempatan itu, pihak Kodim meminta data kepengurusan cabang dan PAC di 13 kecamatan. Permintaan tersebut dilayani langsung oleh Sekretaris PC GP Ansor Pamekasan, Abd Latif.

"Dua bulan lagi, Insyaallah kami menggelar Diklat Banser," terang Mas Paonk, panggilan akrab Fathorrahman.

Haedar Nashir

Dosen Universitas Madura tersebut menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengirim 4 kader ke Blitar guna mengikuti provost. Selain itu, 4 kader sudah dipastikan ikut PKL Ansor se-Jawa Timur di Kabupaten Sumenep, Sabtu-Ahad (9-10/4). (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Aswaja, Lomba Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Jombang, Haedar Nashir. Keberadaan makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek pemakaman pesantren Tebuireng terus menuai manfaat kepada masyarakat khususnya warga kurang mampu di daerah Jombang. Pasalnya, ribuan peziarah yang setiap hari datang ke makam Gus Dur selalu menyisakan infaqnya, yaitu  berupa uang recehan sampai puluhan ribu yang disisihkan ke dalam kotak amal di situ.

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Kotak amal tersebut sengaja disediakan oleh pesantren, yang dipercayakan kepada Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) untuk mengelolanya. Seperti diketahui LSPT merupakan Unit Pengelola Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur. Sehingga pengelolaan dana infaq itu berdasarkan manajemen lembaga zakat, yang penyalurannya melalui program-program sosial kemanusiaan untuk masyarakat kurang mampu di daerah Jombang.

Menurut bendahara LSPT Umi Anis Chaula, kotak amal itu rata-rata setiap bulannya memperoleh dana infaq senilai ratusan juta rupiah. 

Haedar Nashir

“yYa, biasanya yang meningkat signifikan itu pada bulan-bulan tertentu, seperti bulan Juni dan bulan Desember. Karena dua bulan itu adalah masa liburan, peziarah pasti bertambah pada bua bulan itu,” jelas Anis kepada Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Selama tahun 2014 ini, perolehan infaq dari kotak amal peziarah makam presiden keempat RI itu sudah mencapai 1,7 miliar lebih. Dengan perincian mulai bulan Januari perolehannya sebesar Rp127.506.500, Februari Rp158.892.400, Maret Rp75.510.100, April Rp156. 519.100, Mei Rp139.920.500, dan bulan Juni sebesar Rp291.200.000.

Untuk enam bulan selanjutnya perolehannya adalah Rp97.799.600 pada bulan Juli, Agustus sebanyak Rp65.198.900, September Rp148. 770.300, Oktober Rp151.846.000, November Rp162.038.900, dan Rp222.083.00 untuk bulan Desember.

“Untuk bulan Desember ini, sebenarnya penghitungannya belum selesai. Sampai sekarang masih kami hitung. Yang tertulis itu tadi hanya perolehan kotak amal sampai tanggal 20 Desember kemarin,” pungkas Anis. (romza/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Lomba, Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 30 November 2017

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Mojokerto. Haedar Nashir. Adam  terpilih menjadi Ketua Umum PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mojokerto Masa Khidmat 2013-2014 pada Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Kota Mojokerto X di Gedung Praja Wijaya Mojokerto, Sabtu (5/01/12).

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)
Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Forum tertinggi tingkat Cabang ini berlangsung dua hari yakni Kamis-Jum’at (04-05). Acara ini dibuka oleh Majelis Pembina Cabang PMII Kota Mojokerto. Setelah proses permusyawatan dan tatip pemilihan ditetapkan kemudian muncul nama Adam Faizal Farid Said asal komisariat STIT Raden Wijaya yang kemudian didukung oleh tiga komisariat yaitu: STIT Raden Wijaya, UNIM  dan STAI Uluwiyah maka secara aklamasi sahabat adam sebagai ketua umum terpilih untuk periode 2013-2014.

Ketika dikonfirmasi Haedar Nashir Adam mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut mensukseskan sebagai ketua Umum terpilih untuk periode 2013-2014. 

Haedar Nashir

“Kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang ikut serta mendukung saya untuk memimpin PMII kota Mojokerto untuk lebih baik,” katanya.

Haedar Nashir

Pria yang juga pernah menjabat Ketua I PC PMII Kota Mojokerto ini menyatakan bahwa Grand Tema untuk periode ke depan adalah kaderisasi sesuai dengan kearifan lokal. Karena kaderisasi dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu langsung bisa di aplikasikan di tingkatan lokal.

“Adapun grand tema untuk periode yang saya pimpin nanti adalah kaderisasi dengan disesuaikan kearifan lokal karena sistem kaderisasi non-formal dan informal dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu bisa di aplikasikan di daerah.” Terangnya.

Menanggapi tentang dinamika organisasi kedepan untuk bisa solid Adam berjanji untuk mengakomodir semua pihak yang nantinya akan ikut dalam pengembangan PMII lebih baik ke depannya. 

“Saya berjanji akan mengakomodir semua pihak untuk kami ajak bicara dan memajukan PMII kota mojokerto lebih baik,” pungkasnya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Islamabad, Haedar Nashir. Bertepatan dengan hari Asyura atau 10? Muharam, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) bekerja sama dengan Bagian Bahtsu-Masail (BM) Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Pakistan menyelenggarakan diskusi reguler di Islamabad, Pakistan.

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Menurut Koordinator diskusi, Ikmal Thoha, kegiatan yang digelar 4 November ini mengusung tema "Syiah dalam Lingkup Sejarah dan Eksistensinya di Tanah Air".? Saat ini, katanya, Syi’ah memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan di Pakistan.

“Diskusi berjalan menarik dan tentunya memberi memberikan antusias yang besar kepada rekan-rekan PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan dan juga dalam rangka meramaikan suasana di bulan Muharram dan mengisi kekosongan pada hari libur,” ujar? mahasiswa IIUI Pakistan asal Tuban ini.

Haedar Nashir

Hadir sebagai Narasumber dua mahasiswa Indonesia Program Magister di Pakistan, Eris Rismatullah, S.Phil.I? dan Syamsul Hadi, S.Th.I. Dalam pemaparannya Eris Rismatullah mengatakan bahwa Syi’ah awalnya adalah salah satu kelompok politik di dunia Islam.

“Sejarah aliran Syi’ah masuk ke Tanah Air adalah bersamaan dengan masuknya Islam ke Tanah Air. Bahkan, menurut Jalaluddin Rahmat, tokoh Syi’ah Indonesia, Syi’ah lebih dulu yang datang ke Tanah Air dari pada Islam Sunni,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, masuknya aliran Syi’ah ke Indonesia merupakan misi visualisasi dari cita-cita dan tujuan dari Revolusi Iran. Tujuan utamanya, menerapkan ajaran atau aliran Syi’ah secara komprehensif melalui kekuasan politik.

Sementara? narasumber kedua, Syamsul Hadi mencoba menyambung dengan menjelaskan sepak terjang aliran Syi’ah secara lebih rinci. Menurutnya, Syi’ah mulai masuk ke Indonesia secara sembunyi-sembunyi dalam artian hanya sebatas keyakinan masing-masing dalam keluarga dan tidak terang-terangan untuk berdakwah.

“Pada periode kedua, tepatnya pasca Revolusi Iran, penyebaran Syi’ah sudah mulai terang-terangan dengan adanya pondok-pondok pesantren Syi’ah yang telah bermunculan di Tanah Air, karena Syi’ah mulai berdakwah dari dunia pendidikan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCI-NU Pakistan Ahmad Badruddin mengatakan, perbedaan dalam agama memang tidak bisa dihindarkan, dan perbedaan pemikiran dalam ragam itu pasti ada. Menurutnya, hal itu merupakan cermin dinamika intelektualitas, dinamika rasionalitas dalam Islam.

Ia juga menegaskan, bahwa diskusi ini tidak mengarah pada tuduhan sesat pada siapapun, melainkan kajian ilmiah perihal sejarah dan ideologi sebuah kelompok. “Kita harus selalu berhati-hati untuk masalah takfir dan tahkim kepada sesuatu,” tuturnya. (Muhammad Taufiq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Internasional, Humor Islam Haedar Nashir

Selasa, 28 November 2017

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial

Jember, Haedar Nashir. Dalam rangka meningkatkan kemampuan para kader NU untuk membuat penelitian sosial, Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Jember menggelar “Halaqoh Riset” di kampus Universitas Islam Jember (UIJ), Ahad (21/11). Halaqoh dengan materi metodologi penelitian tersebut ditutori dosen senior UIJ, Samanhudi.

Peserta kegiatan tersebut terdiri dari 20 orang yang merupakan perwakilan dari Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember dan IAIN Jember. “Peserta memang kami batasi agar halaqoh ini lebih efektif hasilnya. Ini kami rencanakan hingga empat kali pertemuan,” ujar Pengurus IPNU Jember Muhammad Ardi Wiranata.

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial

Menurut Ardi, keterampilan atau kemampuan mahasiswa dalam membuat penelitian, secara umum masih rendah. Padahal, selain merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa untuk membuat skripsi, penelitian juga menjadi ciri khas akademis dalam memetakan persoalan dan mencari jalan keluarnya.

Oleh karena itu, katanya, IPNU-IPPNU Jember akan terus mendorong terselenggaranya kegiatan halaqoh, pelatihan dan sejenisnya untuk meningkatkan wawasan kemampuan kader dalam membuat penelitian. “Ini sudah menjadi komitmen kami untuk meningkatkan wawasan kader, khususnya dalam penelitian. Ini nanti juga direncanakan ada halaqoh riset gelombang kedua dan seterusnya,” tambah Ardi.

Sementara itu, Samanhudi berharap kader NU di manapun agar bisa menunjukkan jati dirinya sebagai pelajar atau mahasiswa yang mumpuni. Sebab, yang berbicara akhirnya adalah kemampuan individu, bukan lembaga.

Artinya, kata Simon, sapaan akkrabnya, di manapun mahasiswa menimba ilmu,? kementerengan lembaga sesungguhnya tak terlalu penting. Tapi yang jauh lebih penting justru kemampuan atau kecakapan sang kader. “Oleh karena itu, mari kita tunjukkan bahwa kita kader NU yang hebat dan mumpuni,” pungkasnya. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)?

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Aswaja, Khutbah Haedar Nashir

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Gresik, Haedar Nashir. Kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar? se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan digelar di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kec. Dukun, kab. Gresik, mulai Rabu (19/6) hari ini. Kejuaraan digelar dalam dalam rangka peringatan haul ke-50 pendiri pesantren, KH Ma’shum Shufyan.

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Sekitar 350 pendekar yang merupakan utusan Ranting/Rayon Pagar Nusa se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan memerebutkan “KH. Ma’shum Sufyan Cup 2013” untuk beberapa kategori dan kelas.?

Ada tiga kategori yang bertanding yakni usia dini (7-12 tahun), pra remaja (12-14 tahun), dan remaja (14-17 yahun). Masing-masing kategori terdiri dari beberapa kelas yang didasarkan pertimbangan berat badan.

Haedar Nashir

Dalam Rilis kegiatan yang diterima Haedar Nashir, setiap Ranting/Rayon hanya mengikutsertakan 1 peserta dari tiap-tiap kategori yang dipertandingkan.

Sementara itu, pakaian pesilat dan pendampingnya adalah seragam resmi Pagar Nusa (hitam-hitam). Sebelum bertanding, setiap pesilat tanding harus sudah menggunakan cap protector. Pesilat putri harus memakai pembalut dan aksesoris yang membahayakan pertandingan dilepas.?

Haedar Nashir

Peraturan pertandingan yang digunakan dalam kejuaraan kali ini adalah Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antara Bangsa hasil Keputusan Munas IPSI tahun 2012. Sementara sistem pertandingan yang digunakan adalah sistem gugur tunggal.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba, Pondok Pesantren Haedar Nashir