Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Kudus, Haedar Nashir. Ratusan santri MA NU TBS Kudus lakukan sholat istisqo’, Selasa (3/11). Ritual ini dilakukan di halaman madrasah tepatnya saat memasuki jam istirahat pertama. Hadir dalam kegiatan ini beberapa kiai sepuh madrasah ini, KH Choiruzyad Turaichan Adjhuri, KH Musthafa Imron, KH Munfaat Lc, KH Abdullah Hafidz dan beberapa dewan guru lainnya.

Pada kesempatan ini, yang menjadi imam sholat istisqo’ adalah KH Hasan Fauzi sedangkan yang menjadi khotib adalah KH Amin Yasin. Sebelum dimulainya prosesi sholat, terlebih dahulu diadakan pengarahan tentang tata cara sholat, khutbah serta penggunaan rida’ yang dilakukan oleh pihak madrasah. Prosesi ini, mulai dari pengarahan hingga berakhirnya sholat dan khutbah memakan waktu sekitar satu jam lamanya dan diakhiri dengan do’a yang intinya adalah memohon untuk diturunkannya hujan.

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Dalam khutbah yang disampaikan oleh khotib, ada beberapa pesan yang disampaikan. Beberapa pesan itu adalah siswa diharapkan memperbanyak istighfar serta menjauhi maksiat, karena bisa jadi sebab banyaknya kemaksiatan di bumi maka Allah tidak menurunkan hujan sebagai peringatan kepada manusia.

Haedar Nashir

Menurut Suwantho SPdI, selaku Wakil Kepala (Waka) bagian Humas, kegiatan semacam ini dilangsungkan karena kemarau yang cukup lama. “Atas inisiatif sendiri dan juga untuk melatih siswa agar mengetahui tata cara sholat istisqo,” jelasnya.?

Selepas serangkaian prosesi tersebut, pihak madrasah juga melakukan sedekah berupa dawet yang dibagikan kepada warga MANU TBS Kudus, serta perwakilan dari guru MI, MTS dan MPTs.

Haedar Nashir

Malam hari setelah pelaksanaan sholat minta hujan, tepatnya sekitar jam tujuh hingga jam delapan malam, hujan turun di daerah Kudus, khususnya daerah sekitar MANU TBS Kudus. (Ahmad Hanan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita Haedar Nashir

Sabtu, 17 Februari 2018

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun

Brebes, Haedar Nashir. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Subhan Makmun mengatakan bahwa manusia hidup harus senantiasa menanamkan kebaikan di muka bumi, dimanapun berada. Pasalnya, kebaikan yang dilakukan akan disaksikan oleh teman, malaikat dan dilaporkan dalam ‘buku catatan’ abadi yang tersimpan di Lauhul Mahfudz.

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU: Tanamkan Kebaikan Kapanpun dan Dimanapun

“Apa yang diperbuat manusia, akan dicatat dalam Lauhul Mahfuzh, yang berarti “terpelihara” (mahfuzh),” ujar Kiai Subkhan saat mengisi bimbingan mental (Bintal) bagi pegawai negeri sipil (PNS) Kabupaten Brebes di Pendopo Brebes, Jumat (8/1).

Jadi, lanjutnya, segala sesuatu yang tertulis di dalamnya tidak berubah atau rusak. ? Untuk itu, dia berpesan untuk selalu bergaul dengan orang-orang baik. Orang baik yang di maksud memiliki ciri-ciri pertama, bila memandangnya selalu mengingatkan pada Allah. ? Kedua, bila berbicara selalu menambah ilmu yang bermanfaat dan ketiga, akhir dari pergaulan selalu menanamkan kebaikan.

Haedar Nashir

Untuk dapat bergaul dengan orang baik, tentu dirinya harus baik terlebih dahulu. Minimal di lingkungannya masing-masing. Sehingga ketika meninggal dunia akan dikenang selalu kebaikkannya, oleh lingkungan yang bersangkutan.?

Haedar Nashir

“Orang-orang disekitar kita, akan menjadi saksi kebaikan kita,” terang Kiai Subkhan yang juga pengasuh Pondok Pesanteren Assalafiyah Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah.

Kata Kiai Subkhan, perilaku kebaikan perlu disaksikan orang lain dengan tujuan untuk memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Sehingga kebaikan mampu memberi manfaat spiritual bagi orang lain. Maka dari itu, bergaul dengan orang baik akan menghasilkan kebaikan.?

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Brebes, H Angkatno merasa bahagia karena Bintal bagi PNS Brebes sudah dilakukan di pendopo Bupati. Sehingga semarak dan keakrabannya makin terasa. Namun demikian, masih perlu adanya kesepahaman dan kesadaran bersama dalam upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo SH menegaskan kepada seluruh PNS untuk semangat dalam meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Termasuk dalam melayani masyarakat, PNS harus bekerja sesuai dengan aturan. PNS harus melayani masyarakat secara keseluruhan.

“Buat apa jadi pemimpin ? kalau tidak bermanfaat, melayani masyarakat dengan semangat merupakan langkah yang memberi manfaat nyata,” ujar Narjo. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Budaya, Aswaja Haedar Nashir

Minggu, 04 Februari 2018

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Jembrana, Haedar Nashir?

Ekspresi syukur bisa ditunjukan dengan berbagai hal. Umumnya bagi kalangan Nahdliyin menggelar doa bersama dan diakhiri dengan makan bareng. Namun ada juga syukur dengan tindakan yang tak biasa, seperti yang dilakukan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo ini.

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Mereka, sejak tanggal 6 Desember 2016, berjalan kaki dari Denpasar ke Situbondo sebagai ungkapan syukur atas anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada Almaghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin.?

Mereka yang berjumlah 8 orang tersebut, pada Kamis (8/12) memasuki hari ketiga dan telah berada di wilayah kabupaten Jembrana. Sebelumnya mereka ? melewati Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan. Target perjalanan hari ketiga ini memasuki wilayah pelabuhan Gilimanuk untuk selanjutnya menyeberang ke pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.

Syamsudin Boy, inisiator sekaligus koordinator dalam aksi jalan kaki ini mengungkapkan, selama perjalanan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan saat melewati perkampungan Muslim kerap disambut dengan berbagai macam bantuan seperti makanan dan air minum.

Haedar Nashir

“Kami terharu antusiasme masyarakat Muslim Bali meyapa kami, terutama sahabat-sahabt Banser Jembrana yang sempat menjamu kami. Sambutan mereka merupakan tambahan energi di tengah fisik yang mulai letih,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, bahwa aksi ini merupakan aksi tulus datang dari hati sebagai wujud ketakziman santri kepada ulama NU.?

“Sosok Kiai As’ad bagi masyarakat Muslim Bali begitu terasa dekat walaupun sudah lama tiada. Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad merupakan gelar yang sangat pantas disandangnya mengingat sepak terjang beliau mengusir penjajah,” paparnya.

Dengan aksi ini, lanjutnya, juga ingin mensyiarkan tauladan-tauladan ulama NU yang telah banyak berkorban untuk umat, salah satunya adalah Kiai As’ad. Ulama NU ada yang berjuang dengan berjalan kaki menembus hutan belantara ratusan kilometer.

Haedar Nashir

“Kita tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya zaman itu. Aksi jalan kaki ini setidaknya kami ingin menghadirkan kembali perjuangan itu, mengalahkan rasa lelah sebelum sampai pada tujuan di makam Kiai As’ad,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi jalan kaki yang berjarak tempuh sekitar 220 kilometer ini telah mendapat restu langsung dari Pengasuh Ponpes Sukorejo Asembagus Situbondo KHR. Achmad Aaim Ibrahimy. Rencananya, para peserta aksi ini akan disambut di kediaman cucu Kiai As’ad tersebut. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Internasional, Warta Haedar Nashir

Kamis, 01 Februari 2018

Masih Semangat, PMII Cianjur Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh

Cianjur, Haedar Nashir. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat menggalang dana untuk korban bencana Aceh dengan cara turun ke jalan. Upaya tersebut merupakan solidaritas PMII Cianjur terhadap korban gempa di Aceh.

Masih Semangat, PMII Cianjur Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Semangat, PMII Cianjur Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Semangat, PMII Cianjur Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh

Ketua Umum PC PMII Cianjur Tedi Sopian menjelaskan, aksi turun ke jalan ini merupakan aksi manifestasi dari kesolehan sosial yang wajib di lakukan oleh kader dan anggota PMII seperti yang termaktub dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII.

"Selain kader PMII harus soleh secara spiritual artinya dirinya antara dengan Allah SWT , mereka pun harus soleh secara sosial artinya berbuat baik terhadap sesama manusia," ungkap Tedi, Jumat (16/12).

Dia menambahkan, pada penggalangan dana kali ini, anggota dan kader PMII disebar di tiga titik. Di antaranya di Pasar Ramayana, Bundaran Mamaos Cianjur dan di Pasar Induk Pasir Hayam Cianjur, mereka menggalang dana dari hasil uluran tangan masyarakat Cianjur yang ingin menyumbangkan sebagian hartanya untuk di berikan kepada korban bencana gempa Aceh.

Haedar Nashir

"Hasil dari itu kami akan transper atau kami langsung berikan kepada tim relawan PMII yang berada di Jawa barat, mudah – mudahan sumbangan yang di berikan masyarakat Cianjur bisa bermanfaat dan sedikit meringankan derita korban bencana Aceh," ucapnya.

PMII berkomitmen akan senantiasa membantu warga masyarakat yang membutuhkan uluran tangan dengan kemampuan yang di miliki PMII, Karena pada dasarnya PMII , bukan organisasi pencitraan ? namun organisasi advokasi.

"Selain itu, pada 22 Desember 2016, PMII akan kembali turun ke jalan memperingati Hari Ibu," tandasnya. (Sopwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Daerah, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Selasa, 23 Januari 2018

Salim Hanya Dituntut Hukuman Percobaan 10 Bulan

Jakarta, Haedar Nashir. Salim Muhammad (75) terdakwa dalam kasus penggelapan asset tanah milik Yayasan Waqfiyah NU dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Teguh Suhendra hanya hukuman percobaan selama 10 bulan dengan hukuman 5 bulan penjara.

Jaksa berpendapat Salim, terbukti bersalah melakukan penggelapan asset milik Yayasan Waqfiyah NU yang didirikan oleh PBNU. Namun demikian, menurut JPU, nilai asset yang terbukti digelapkan hanya sebesar 94 juta dari 27 Milyar hasil penjualan tanah.

Salim Hanya Dituntut Hukuman Percobaan 10 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salim Hanya Dituntut Hukuman Percobaan 10 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salim Hanya Dituntut Hukuman Percobaan 10 Bulan

Salim yang juga seorang pengacara dan kini sedang membela Tommy Soeharto dalam kasus perceraiannya dengan Tata dalam perjanjian penjualan tanah tersebut mendapatkan 20 persen. Sebelumnya, Salim telah mendapatkan tanah 1/3 bagian untuk mengurusi berbagai masalah hukum yang menyangkut asset milik NU pada kepemimpinan Gus Dur.

Sebelumnya, Wakil Ketua Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama Fickar Hadjar menjelaskan bahwa tuntutan pidana kepada Salim, meskipun sudah berumur 75 tahun menargetkan agar asset milik PBNU tersebut bisa kembali.

Kasus penjualan tanah tersebut bermula ketika Yayasan Waqfiyah yang berlokasi di Jl. Piere Tendean mendapatkan surat dari Pemda DKI Jakarta bahwa lokasi tersebut bukan untuk pendidikan. Selanjutnya Salim menjual tanah tersebut kepada PT Pacific Buana Internasional dengan komisaris Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

Haedar Nashir

Dua sertifikat tanah yang dijual tersebut merupakan SHGB No 257 berlokasi di Kuningan Barat dengan luas 3.438 m2 dan SHGB No 273 berlokasi di Kuningan Barat dengan luas 3.439 m2 atas nama Yayasan Waqfiyah Nahdlatul Ulama.

Sempat pula terjadi perebutan lokasi tersebut yang melibatkan banser-banser NU. Plang nama yang menunjukkan tanah ini milik PBNU dirobohkan sampai akhirnya dengan tanah itu harus lepas dari PBNU.(mkf)

Proses persidangan kasus ini yang sudah berlangsung sejak November 2006 dengan berbagai penundaan seperti menunaikan ibadah haji dan beberapa kali sakit. Sidang akan dilanjutkan 18 Juni dengan agenda mendengarkan pleidoi atau pembelaan dari Salim. (mkf)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Kiai Maruf Jelaskan Langkah Sikapi Perbedaan dan Penyimpangan

Jakarta, Haedar Nashir

Walaupun memiliki manfaat yang sangat besar dari sisi komunikasi dan informasi, perkembangan media sosial dan konten-konten yang ada di dalamnya menimbulkan kegaduhan seperti hoaks, fitnah dan ujaran kebencian. Hal ini mendasari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial.

Kiai Maruf Jelaskan Langkah Sikapi Perbedaan dan Penyimpangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Jelaskan Langkah Sikapi Perbedaan dan Penyimpangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Jelaskan Langkah Sikapi Perbedaan dan Penyimpangan

Demikian dijelaskan Ketua Umum MUI Pusat KH Maruf Amin pada Silaturahmi Nasional I Stakeholders Konten Keislaman di Hotel Santika TMII Jakarta, Jumat (8/12).

Kiai yang juga Rais Syuriyah PBNU ini mengingatkan agar dalam dalam bermedia sosial senantiasa dapat melakukan seleksi ketat terhadap konten yang ada.

"Jangankan yang bohong, yang benar pun kalau diungkap akan menimbulkan ketidakbaikan, itu tidak boleh. Peristiwanya benar, tapi bisa menimbulkan kegaduhan juga tidak boleh," kata Kiai Maruf.

Haedar Nashir

Apalagi saat ini berbagai macam media baik cetak maupun elektronik banyak bermunculan yang dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan melalui konten-konten yang variatif.

Dalam hal penerbitan buku, Kiai Maruf melihat bahwa masih banyak buku-buku yang menyimpang, baik dari sisi agama maupun pemahaman kebangsaan dan kenegaraan.

Upaya MUI membuat Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) merupakan ikhtiar meneliti konten dan memberikan sertifikasi kepada buku yang baik. LPBKI MUI akan men-tashih buku-buku dan konten keislaman apakah terdapat penyimpangan atau tidak.

"Kalau perbedaan ditolelir tapi kalau penyimpangan tidak ada toleransi," tegasnya.

Terkait dengan komitmen kebangsaan, Kiai Maruf menjelaskan bahwa Indonesia bisa damai dan rukun di tengah kemajemukan yang ada karena ada keinginan untuk bersatu dan memiliki kesepakatan serta bisa menjaga kesepakatan tersebut.

Haedar Nashir

"Banyak orang yang punya kesepakatan tapi tidak bisa menjaganya. Di tengah jalan bubar," jelasnya tentang kesepakatan bangsa Indonesia berupa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45.

Bangsa Indonesia harus mempertahankan kesepakatan yang telah ada ini untuk terus mempertahankan kesejukan yang sudah dapat dinikmati saat ini. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Pamekasan, Haedar Nashir. Perjalanan bahtsul masail yang digelar Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Pamekasan berlangsung seru, akhir pekan kemarin (12/5) dan bertempat di pendopo Kecamatan Pegantenan. Pengasuh pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, KH Syaifuddin Syam bertindak sebagai mushahhih.

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Keseruan tersebut tidak terlepas dari semangat peserta. Pasalnya, para pengurus MWC NU dari 13 kecamatan di Pamekasan saling beradu argumen dengan ragam kitab kuning di tangannya. Sekitar 3 jam dihabiskan untuk berdiskusi guna mengupas tuntas 2 masalah, yaitu tentang penggunaan ruang kelas di luar peruntukannya dan khatib Jumat meninggalkan rukun/syarat khutbah.

Sebagaimana dimaklumi, deskripsi masalah yang pertama berangkat dari fakta yang sering terjadi di Madura. Ada suatu yayasan mengelola beberapa unit lembaga, yaitu PAUD, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK yang waktu pelaksanaannya dilaksanakan pagi hari, juga Madrasah Diniyah yang waktu belajarnya sore atau malam hari.

Haedar Nashir

Dari deskripsi masalah tersebut, diajukan 2 pertanyaan. Pertama, bagaimana hukumnya menggunakan ruang kelas yang peruntukan bantuannya untuk MI dipergunakan oleh unit lembaga yang lain yang waktu belajarnya bersamaan? Kedua, bolehkah unit lembaga yang waktu belajarnya tidak bersamaan dengan MI seperti Madrasah Diniyah mempergunakan ruang kelas tersebut, mengingat tidak sesuai peruntukan dan pada saat itu tidak dipakai?

Haedar Nashir

Adapun deskripsi masalah berikutnya juga berangkat dari kenyataan. Pasalnya, khatbah Jumat termasuk salah satu syarat sahnya sembahyang Jumat. Dalam khatbah tersebut ditentukan rukun dan syarat sahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terjadi dalam pelaksanaan sembahyang Jumat seorang khotib meninggalkan salah satu syarat atau rukun khutbah. Mamum tahu, sembahyang lagi di rumahnya dengan niat sembahyang Zuhur.

Ada 2 pertanyaan yang diajukan. Pertama ialah wajibkah mamum mengingatkan khotib tersebut dan bagaimana caranya? Kedua, kalau khotib diingatkan tetap tidak menghiraukan, apa yang harus dilakukan mamum selanjutnya?

Dari penelusuran kitab kuning yang dilakukan peserta bahtsul masail, dicetuskanlah beberapa jawaban atas permasalahan di atas.

Jawaban dari permasalahan yang pertama ialah tidak boleh, kecuali ada qorinah yang dikembalikan kepada urf.

Adapun permasalahan yang kedua dijawab wajib, cuma cara menegur khotib masih mauquf, belum disepakati.

Tetapi dalam sambutannya, ketua NU Pamekasan KH Abd Ghoffar menegaskan bahwa takmir masjid punya wewenang untuk menegur dan meluruskan kesalahan khutbah Jumat dari khotib dimaksud.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Aswaja, Ahlussunnah Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F

Pada suatu kesempatan, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, pimpinan majelis shalawat Ahbaabul Musthofa, pernah berpesan kepada para jamaahnya untuk selalu membentengi diri dan keluarga dengan cara memperdalam pemahaman tentang agama Islam. Ia juga mengingatkan agar kita semua mewaspadai 5F yang merupakan propaganda dari para musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam secara perlahan.

F yang pertama adalah Food. Makanan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh setiap manusia, karena di situlah terdapat sumber energi untuk menjalankan berbagai aktivitas. Seiring semakin majunya perkembangan zaman, kini makanan dari berbagai negara bisa kita dapatkan relatif mudah di berbagai tempat di Indonesia. Mulai dari yang dijual di restoran, mall, cafe dan sebagainya. Bahan pembuatan makanan tersebut juga bervariasi, ada yang berasal dari bahan yang halal maupun haram. Kita harus pandai dalam memilih makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Karena setiap daging yang tumbuh di tubuh kita setelah memakan makanan haram akan ditempatkan di dalam neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F

F yang kedua adalah Film. Sudah kita ketahui bersama bahwa bangsa Barat merupakan bangsa yang maju di dunia perfilman. Produktivitas mereka dalam menghasilkan film patut diacungi jempol. Film-film produksi mereka pun selalu laris di pasaran dan menghasilkan omzet yang fantastis. Hal-hal yang perlu kita waspadai adalah unsur pornografi dan kekerasan yang seringkali menghiasi film-film tersebut. Karena hal-hal tersebut dapat memicu kita untuk melakukan tindakan serupa di kemudian hari. Padahal di dalam Islam kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi pornografi dan kekerasan.

F yang ketiga adalah Fashion. Saat ini fashion sudah menjadi gaya hidup terutama bagi kaum hawa. Kebanyakan para wanita selalu mengikuti tren model pakaian terbaru karena ingin tampil menarik di muka umum. Namun seringkali wanita-wanita tersebut tidak memikirkan apakah yang mereka kenakan sudah sesuai syariat Islam atau belum. Pakaian yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat, kini beralih fungsi sebagai pembungkus aurat. Mereka berpakaian namun seolah-olah telanjang, sehingga menimbulkan syahwat bagi laki-laki yang memandangnya. Seharusnya mereka sadar bahwa itu adalah salah satu pemicu utama maraknya tindakan pemerkosaan akhir-akhir ini.

Haedar Nashir

F yang keempat adalah Football. Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari oleh masyarakat di negara manapun. Sepakbola dapat menjadi sarana yang dapat menyatukan semua lapisan masyarakat, tak peduli suku, agama, status sosial dan jenis kelamin. Di dalam sepakbola sudah menjadi kewajaran bahwa ada banyak bintang lapangan hijau yang di idolakan oleh para penggemarnya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita terlalu berlebihan (ghuluw) dalam mengidolakan tokoh tersebut melebihi rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW. Padahal Allah SWT sudah menegaskan bahwa di dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri tauladan yang baik dan harus di teladani oleh setiap umat Islam di manapun mereka berada. F yang kelima adalah Freesex. Bagi bangsa Barat, freesex bukanlah hal yang tabu. Mereka menganggap hal tersebut sebagai sebuah kewajaran. Di dalam Islam, freesex merupakan sebuah dosa besar karena menimbulkan madhorot yang sangat besar. Freesex dapat menghancurkan moral sebuah bangsa dan dapat menjerumuskan seseorang kedalam lembah kenistaan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari pedihnya siksaan dan panas api neraka, serta senantiasa menjaga umat Islam Indonesia dari berbagai marabahaya dan fitnah akhir jaman. Wallahu a’lam bisshowab.

Haedar Nashir

?

Muhammad Dliyauddin

BPH KMNU Regional 2

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Daerah, Aswaja Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’

Jombang, Haedar Nashir

Mencermati kondisi mutakhir persatuan bangsa, keluarga besar Pesantren Tebuireng dan civitas akademika Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) menyampaikan rumusan Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Pesan keprihatinan itu dibacakan oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat menutup acara peresmian Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari, Ahad (5/2).

Gus Sholah menilai, bangsa Indonesia adalah adikarya para pendiri bangsa yang amat ideal. Namun, perjalanan 71 tahun belum cukup memadai untuk bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan secara nyata. "Kita masih menghadapi banyak masalah mendasar yang harus diselesaikan," kata salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’

Bagi kalangan pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah mitsaqan ghalidhan (kesepakatan kokoh) para pendiri bangsa yang menjadi dasar bangunan negara sebagai pengejawantahan dari cita-cita bangsa Indonesia. Di dalamnya tercantum tujuan didirikannya negara dan dasar Negara Pancasila. "Karena itu, Pembukaan UUD 1945 adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa diubah," tegasnya.

Haedar Nashir

Menurut adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid ini, keindonesiaan dan keislaman yang semula dipertentangkan, telah berhasil dipadukan oleh para pendiri bangsa. "Perpaduan yang merupakan faktor utama persatuan Indonesia dan berpotensi menjadi model bagi dunia ini, harus kita kawal dan rawat bersama. Jangan sampai dilemahkan," tutur Rektor Unhasy itu.

Selama hampir 40 tahun setelah kemerdekaan, pertentangan itu masih ada. Dan, proses perpaduan itu mencapai puncak kematangannya pada 1984, saat NU secara resmi menerima Pancasila.? "Ironisnya, saat ini kita melihat ada gejala yang mempertentangkan lagi," ujarnya.

Haedar Nashir

Diakui oleh Gus Sholah, salah satu hal yang mendasari lahirnya pesan kebangsaan ini adalah timbulnya ontran-ontran (gonjang-ganjing) politik, terutama karena pilkada DKI. "Ada kesan, yang mendukung Ahok bukan Islam. Sedangkan yang tidak mendukung Ahok bukan Indonesia. Itu dua-duanya keliru," tegasnya.

Selain merespons situasi politik, pesan kebangsaan itu juga menyoroti fenomena ketidakadilan sosial dan ekonomi yang ada di tengah masyarakat. Juga jaminan hak dasar yang harus terus dipenuhi oleh negara secara bertahap. "Termasuk jaminan kebebasan beragama, perlu diterapkan secara utuh di dalam masyarakat," tandas mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Keluarga besar Pesantren Tebuireng juga berharap, peran aktif Indonesia yang berdaulat dalam perdamaian dunia sebagai tujuan bernegara perlu ditingkatkan.

?

Untuk mewujudkan semua itu, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi. Antara lain, diredamnya (potensi) konflik dan tumbuhnya rasa saling percaya antar kelompok masyarakat dan penegakan hukum yang menjamin keadilan. Juga, perbaikan akhlak bangsa, khususnya generasi muda dan mencegah merebaknya penyakit sosial.

Perbaikan birokrasi penyelenggara negara supaya efisien, efektif dan tidak korup juga tidak kalah penting. "(Prasyarat terakhir), hadirnya partai politik yang punya idealisme dan dipimpin oleh tokoh negarawan," urai Gus Sholah.

Acara yang berlangsung di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim Tebuireng itu juga dihadiri oleh mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga, wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Aswaja Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Jakarta, Haedar Nashir. Sekitar 50.000 santri yang mengikuti apel akbar dan upacara memperingati Hari Santri Nasional 2016 berkomitmen untuk menjaga bangsa dan negara Indonesia. Untuk maksud ini, santri Indonesia berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sabtu (22/10) di Lapangan Monas Jakarta.

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Ikrar dibacakan oleh perwakilan seluruh Ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai rumah besar santri Indonesia dengan dipandu oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini.?

Anggota LPOI antara lain: Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan DAI Indonesia (Ikadi), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Bina Mualaf.

Berikut isi ikrar kesetiaan NKRI dari santri Indonesia. Sebagai wujud dari semangat Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 kami santri Indonesia berikrar:

1. Setia mempertahankan Pancasila sebagai dasar bernegara dan berbangsa yang final di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Haedar Nashir

2. Setia menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menghormati keberagaman suku agama ras dan budaya. Menjunjung tinggi persatuan dalam kebhinekaan serta ikut menciptakan perdamaian dunia.

3. Menolak segala bentuk terorisme, radikalisme dan paham ekstrim lainnya. Dan senantiasa bersiap-siaga melawan segala bentuk ancaman yang berpotensi memecah belah bangsa.

Ikrar kesetiaan NKRI tersebut dipandang penting sebagai komitmen bersama mengingat radikalisme global terus berupaya memecah belah harmoniasi kehidupan bangsa.?

Sebab itu, santri Indonesia sebagai pewaris perjuangan para ulama mempunyai peran penting dalam mewujudkan kondisi masyarakat yang ramah, damai, toleran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sebanyak 1.433 pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa mengikuti wisuda khataman pertanda berakhirnya masa latihan. Kegiatan setahun sekali ini diadakan di kompleks kantor Pengurus Cabang Nahdlatu Ulama Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (1/12/2013).

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) PSNU Pagar Nusa Bojonegoro M Yasin mengatakan, total jumlah pendekar tersebut berasal dari 17 Kecamatan atau pimpinan anak cabang dari 27 kecamatan yang ada di Bojonegoro. Anak cabang lainnya sudah melaksanakan wisuda di masing-masing kecamatan.

"Proses latihan-latihan dilakukan di tingkat-tingkat dukuh, desa dan kecamatan yang diakhiri proses terakhir, yaitu khataman bagi pendekar yang sudah selesai," terangnya.

Haedar Nashir

Yasin menegaskan, Pagar Nusa merupakan badan otonom NU yang menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah melalui bela diri. pagar Nusa siap menjaga keamanan organisasi NU, masyarakat, dan NKRI.? (M Yazid/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pahlawan, RMI NU Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Solo, Haedar Nashir. Setelah beberapa bulan dinanti, majalah Serambi Al-Muayyad kembali terbit. Majalah yang dikelola para santri pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo ini, akan diluncurkan saat peringatan haul KH Umar Abdul Mannan, Jumat (18/7) mendatang.

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)
Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Kepada Haedar Nashir, seorang redaktur Serambi Al-Muayyad Miftahul Abrori menuturkan, edisi keenam ini membahas hubungan antara tiga sesepuh sekaligus pendiri pesantren Al-Muayyad. Mereka ialah KH Abdul Mannan, KH Ahmad Umar dan KH Ahmad Shofawi.

“Salah satu penulis Muhammad Ishom mengangkat tulisan ini agar lebih banyak orang memahami hubungan para sesepuh. Sebab sebelumnya, kami sering ditanya perihal tersebut. Mereka yang bertanya tidak hanya dari kalangan internal pesantren Al-Muayyad, tetapi juga dari kalangan masyarakat luas,” terang Miftah.

Haedar Nashir

Redaksi Serambi Al-Muayyad kali ini, Miftah melanjutkan, menyajikan kisah inspiratif seseorang warga negara Indonesia dalam menjaga keimanannya selama tinggal di Negeri Paman Sam. Redaksi juga mengulas tema terkait Pilpres, Ramadhan, dan Piala Dunia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri, Ubudiyah, Aswaja Haedar Nashir

Selasa, 26 Desember 2017

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Jombang, Haedar Nashir. Resolusi Jihad NU melawan penjajah yang dikeluarkan para kiai sudah 68 tahun berlalu. Dalam konteks kekinian, jihad umat Islam, khususnya warga NU, tidak perlu menggunakan senjata atau turun ke medan perang, tapi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Saat Ini Menjaga Keutuhan NKRI

Hal itu mengemuka pada Lokakarya Nderes Seni Budaya Jombangan yang digelar Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia NU Jombang di kantor PCNU, Jombang, Jawa Timur pada Selasa (22/10) malam.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Sholahuddin Wahid yang didaulat jadi pembicara, mengungkap masalah jihad yang harus dilakukan NU pada situasi saat ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari cerita perjuangan para kiai pendiri NU, kiai yang akrab disapa Gus Sholah itu menyatakan, bahwa untuk menjalankan dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam berbangsa dan bernegara, Indonesia tidak harus menjadi negara Islam. Pertimbangannya, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlatar belakang kemajemukan.

Dia menuturkan, pada kurun waktu tahun 1956 - 1957, para tokoh NU saat itu terus mendorong agar Indonesia menjadi negara Islam. Namun, para ulama NU dengan mempertimbangkan kemajemukan yang ada pada bangsa Indonesia, akhirnya mengambil keyakinan bahwa untuk memasukkan nilai-nilai ajaran agama, bukan menjadi negara Islam.

Haedar Nashir

"Para tokoh NU waktu itu, utamanya Rais Aam Bisri Syansuri mengambil kesimpulan bahwa tanpa negara Islam bisa memasukkan ajaran Islam. Ini artinya, pertimbangan keutuhan negara yang lebih diutamakan," ungkap Gus Sholah.

Berangkat dari situasi tersebut, PBNU kala itu menugaskan Ahmad Siddq untuk menyusun dokumen tentang agama dan pancasila. "Hasilnya, Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama.”

Pada konteks kekinian, jihad apa yang harus dilakukan oleh NU? Para ulama NU dulu menetapkan jihad NU adalah mencari titik temu antara agama dan Pancasila. “Saya pikir itu jihad yang harus terus dilakukan," ujar Rektor UNHASY Tebuireng Jombang ini.

Keyakinan NU untuk mengakui asas Pancasila sebagai dasar Negara memang memiliki kerugian dan keuntungannya. Namun, lanjut cucu Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari ini, keutuhan NKRI yang tetap terjaga hingga kini merupakan keuntungan yang patut disyukuri bersama.

"Ada kerugiannya, di antaranya partai-partai Islam tidak laku karena asasnya tidak jauh beda dengan partai nasionalis yang ada di Indonesia. Tapi keuntungannya, Indonesia tetap Indonesia yang tetap satu sampai sekarang. Tidak kayak Mesir yang sekarang negaranya kacau balau karena dominasi kepentingan kelompok agama," kata adik Gus Dur ini.

Ketua PC Lesbumi NU Jombang, Suudi Yatmo mengatakan, memaknai resolusi jihad, pihaknya mengambil pilihan untuk merawat dan melestarikan seni dan budaya tradisional. Hal itu berangkat dari kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia sejak awal berdirinya. "Kita merangkul seluruh elemen seni dan budaya, harapannya apa, supaya bangsa Indonesia bisa tetap satu di tengah keberagaman," ujarnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Oleh Muhammad Sahlan



Sebelum lebih jauh membahas radikalisasi tentunya penting diterangkan istilah radikalisasi secara singkat terlebih dahulu. Menurut Afif Muhammad, radikal berasal dari kata radic yang berarti akar, dan radikal sendiri adalah sesuatu yang mendasar atau hingga sampai ke akar-akarnya. Penyusunan predikat “radikal” dapat dikenakan pada pemikiran, yang kemudian ada istilah “pemikiran radikal”, dapat juga pada gerakan, yang kemudian disebut “gerakan radikal”. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai (a) fundamental, mendasar, primer, esensial, kardinal, vital, drastis; (b) ekstrim, fanatik, keras, militan, revolusioner; (c) liberal, maju, progresif, reformis, terbuka; (d) (kaum, orang) ekstrimis, reaksioner, revolusioner. Dengan demikian radikalisme dapat diartikan sebagai sebuah paham atau aliran keras yang ingin melakukan sebuah perubahan sosial atau politik dengan cara cepat, drastis, keras, dan ekstrem.

Dalam konteks radikalisme Islam, adalah upaya orang atau sekelompok orang Islam tertentu yang ingin menerapkan ideologi (syariat Islam) dengan cara cepat, keras, dan ekstrem tanpa melihat atau menerima ide-ide lain dengan berdalih agama. Hal ini bisa menjadi bencana besar bagi ketentraman manusia, jika ditilik kembali tentang definisi kebenaran menurut kelompok radikal. Pemahaman kebenaran dalam agama adalah berasal dari Tuhan. Sedangkan firman Tuhan ada dalam kitab suci. Kemudian, apabila kitab suci mempunyai beberapa tafsir yang berbeda, maka bagi radikalisme agama, paham kelompoknya-lah yang dianggap paling benar. Dengan demikian, jikalau terdapat beberapa kelompok orang ? yang berpaham agama secara radikal, kemungkinan berikutnya adalah terjadi sebuah clash atau benturan fisik yang mengakibatkan kekerasan dan perang saudara. Hal ini akan mengakibatkan zaman jahiliah terulang kembali oleh peperangan dan pembunuhan.

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Dari pemaparan fakta-fakta radikalisme di Indonesia saat ini menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia telah mengalami ancaman besar dari sisi pemuda, yang digadang-gadang sebagai “tulang punggung bangsa”. Merebaknya fenomena radikalisasi Islam di kalangan pemuda terutama terjadi di kampus-kampus besar merupakan sebuah kecolongan besar bagi masa depan bangsa, di mana mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika hal ini terus terjadi kemungkinan besar Pancasila sebagai Philosophische Grondslag atau dasar negara akan segera tergantikan oleh syariat Islam atau khilafah melalui pemimpin-pemimpin yang berpaham fundamental. Dan kemungkinan buruk selanjutnya sesuai premis awal tentang radikalisme, Indonesia akan mengalami beberapa peperangan, benturan fisik, dan pembunuhan antaragama yang ada. Hal ini bisa terjadi karena kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, banyak agama juga aliranya.

Pentingnya Semangat Pancasila sebagai Kontinuitas Pembangunan Bangsa

Seorang ahli sosial Indonesia, Ignas Kleden menyatakan bahwa kebudayaan adalah dialektika antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi, antara tradisi dan reformasi, yang dengan kata lain kedua hal tersebut akan selalu diperlukan. Misalkan jika tanpa tradisi atau integrasi, suatu kebudayaan akan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa suatu reformasi atau disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan berkembang dalam merespon jaman dan paksaan perubahan sosial.?

Haedar Nashir

Sebuah negara tidak akan menjadi lebih baik, lebih matang, dan lebih kuat dalam hal kebudayaan apabila setiap hasil kebudayaan yang ada atau kebudayaan masa lalu selalu diganti dengan sebuah kebudayaan baru dengan terus menerus. Kondisi ini telah dan masih terjadi di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Kleden, mengapa sejarah kebudayaan Indonesia modern pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Penyebabnya adalah setiap generasi selalu berusaha membangun sebuah tradisi baru dari nol (awal) dan bukan melakukan dilektika terhadap tradisi sebelumnya. Sikap (1) penolakan terhadap tradisi kebudayaan yang ada atau masa lalu atas dasar semangat modern dapat dilihat dari beberapa kasus misalnya, sering dikutipkanya pemikiran tokoh ekonom Barat daripada Hatta, sering dikutipnya pemikiran nasionalisme ahli Barat daripada Soekarno, sering dikutipnya pemikiran Islam transnasional daripada kiai-kiai yang ada di Indonesia, sering dikutipnya pemikiran kebudayaan Barat daripada (misalnya) pemikiran Ignas Kleden ini, dan masih banyak kasus-kasus penolakan tradisi lainya.

Sikap (2) konservatif alias selalu mempertahankan tradisi kebudayaan masa lalu, dapat dilihat dalam masyarakat yang tidak mau menerima semangat modern: materialis, rasional, dan individual yang memang perlu diserap di era saat ini. Konservatif terhadap tradisi akan berakibat juga dalam tersingkirnya masyarakat tertentu dari pertarungan global. Yang menjadi sebuah catatan dan poin penting adalah sikap masyarakat Indonesia seharusnya bisa berada dalam posisi moderat, dengan melanjutkan tradisi yang sudah ada, melakukan kritik terhadapnya, juga berinovasi.

Ditarik dalam konteks tema ini, Pancasila adalah sebuah hasil pemikiran tokoh pendiri Indonesia dalam merumuskan dasar negara dan pandangan hidup yang juga bisa disebut hasil kebudayaan bangsa Indonesia. Lebih dari itu Pancasila diciptakan sebagai dasar negara yang dimaksud sebagai fondasi negara yang kuat (ideologi), agar rumah kebangsaan yang bernama negara Indonesia dapat kokoh dan abadi, serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kemudian dalam membangun negara dan peradaban tanpa didasari dengan semangat transendental (ketuhanan) dan prinsip-prinsip ruhiah yang kuat adalah ibarat membangun bangunan istana yang rapuh. Sehingga Pancasila merupakan sesuatu yang jelas pokok dan sakral, tidak bisa diubah dalam kondisi apapun. Oleh sebab itu upaya mengganti sebuah dasar negara dengan dasar yang lain sama saja menghancurkan negara Indonesia.

Dari sisi sejarah, pembentukan Pancasila melalui perdebatan cukup menegangkan. Perumusan Pancasila mengalami beberapa ketegangan antara tokoh dari umat muslim dan non-Muslim ? dalam menetapkan sila pertama Piagam Jakarta (cikal bakal Pancasila), ? yakni “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Akhirnya dengan usaha keras persuasi Soekarno terhadap perwakilan tokoh Islam di detik-detik awal kemerdekaan Indonesia, tujuh kata di belakang ketuhanan dihapus demi persatuan dan kesatuan mengingat Indonesia baru merdeka. Usaha ini juga jelas menggarisbawahi bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari warga Muslim—meskipun Islam adalah mayoritas—bahwa ada penganut agama-agama lain yang hidup di Indonesia. Mereka semua sebagai warga negara harus memiliki hak yang sama. Upaya untuk mengganti Pancasila dengan Khilafah misalnya, adalah upaya untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain atau kelompok lain dalam negara baru yang dicita-citakan oleh kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Kembali lagi pada gagasan yang diangkat oleh Kleden tentang kontinuitas tradisi, dengan melakukan kritik terhadap tradisi yang sudah ada, kemudian melakukan reformasi tradisi agar lebih baru dan maju merupakan sebuah upaya positif dalam urun pembangunan. Konsep ini memiliki kesamaan dengan usul fiqih yang menjadi doktrin organisasi kegamaan Islam Nahdlatuh Ulama (NU), al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah yang artinya memelihara yang lama yang baik dan mengadopsi yang baru dan baik. Konsep “menjaga yang baik” di sini bisa disamakan dengan tetap bertradisi dengan mengkritik tradisi yang tidak kontekstual tentunya bentuk atau kemasanya saja, dan “mengambil yang lebih baik” di sini bisa disamakan dengan melakukan upaya perubahan mencari dan menemukan inovasi baru agar tetap eksis dalam perubahan zaman.

Pemahaman seperti Kleden dan NU tentang kebudayaan di atas dapat menjadi semangat positif dalam melanjutkan tradisi yang sudah ada (Pancasila). Mestinya dengan melakukan kritik dan tafsir ulang untuk disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Bentuk konkrit sikap ini, misalnya adalah melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah digagas, semisal Ekonomi Kerakyatan oleh Hatta, Dawam Raharjo, Mobyarto, dsb; Kebudayaan oleh STA, Kleden, Pram, Rendra, Ronggowarsito (Jawa) dsb; Pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, Dr Soetomo, dsb; Filsafat oleh Suryomentaram (Jawa) dsb; Islam oleh Hasyim Asyari, A. Dahlan, Mustofa Bisri, dsb; dan bidang-bidang sosial lainya di mana sesuai dengan konteks sosial budaya Indonesia itu sendiri.

Oleh sebab itu, semangat Pancasila menjadi penting sebagai usaha warga negara dalam memajukan bangsa dan menolak gerakan radikalisme agama. Gerakan radikalisme dalam beberapa kasus juga ingin menyuarakan permasalahan sosial bangsa yang sudah sangat pelik. Lalu, mereka memberi solusi dengan ikut bergabung dalam gerakanya. Dan puncaknya adalah penerapan khilafah atau syariat Islam di dalam negara sebagai solusi atas tidak becusnya sistem demokrasi dan ideologi Pancasila. Namun, apakah sistem baru yang ditawarkan sudah teruji atau diterapkan dengan hasil sebuah kemakmuran bangsa? Tentunya, biaya “peperangan antar suku, agama, aliran” belum juga kegagalan yang diakibatkan, kepentingan global yang mendompleng dibaliknya, lebih baik dialihkan pada usaha kongkrit dalam mengembangkan tradisi yang sudah ada. Terakhir, sebagai negara yang sudah berusia 72 tahun, Indonesia haruslah sudah mandiri di segala bidang. Untuk itu, berusaha berdikari dengan Pancasila adalah suatu keharusan.

“Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri musti merumuskan keadaan” (Rendra, Sajak Sebatang Lisong).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Khartoum, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta rombongan termasuk istri Hj Nurhayati Said Aqil, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Abdul Rashid Tang Abdullah, dan beberapa pengusaha Malaysia melakukan kunjungan kerjasama ke Sudan.

Menurut beberapa sumber, Kang Said Ke Sudan beserta rombongan yang langsung disambut dengan Seni Hadrah JSQ bertujuan untuk menyepakati sejumlah MoU antara Sudan, Malaysia, China dan Indonesia  yang diwakili oleh NU dalam rangka pengembangan sektor ekonomi dari berbagai bidang budidaya dan potensi.

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Acara yang bertajuk Silaturahim dan tatap muka bersama DR KH Said Aqil Siroj ini diselenggarakan di Wisma KBRI untuk Sudan dan Eritrea, atas kerjasama antara Pengurus Cabang Istimewa NU Khartoum Sudan dengan KBRI. 

Haedar Nashir

Hadir dalam acara tersebut WNI, baik mahasiswa dari berbagai aliansi dan partai, tenaga kerja maupun masyarakat umum yang berada di Sudan. 

Dubes RI untuk Sudan Sujatmiko dalam pidato penyambutannya menyampaikan optimisme Islam di Indonesia, sebagai  laju kebangkitan Islam dunia. Melansir beberapa data yang menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Indonesia adalah nilai nilai Islam di masa kejayaan.

Haedar Nashir

Dikatakannya, Islam dituntut mampu head to head membaca titik strategi dan kebutuhan global. Islam yang dinamis, anti radikal, toleran dan Berkemanusiaan. Ini selaras dengan pidato yang disampaikan sebelumnya oleh ketua tanfidziyah PCINU Sudan, Miftahuddin Ahimy.

Sementara itu KH Said Aqil Siroj (Kang Said) dalam pidatonya lebih bertendensi mensinergikan kembali semangat keilmuan, kemanusiaan dan nasionalis di mata Muslimin Indonesia. Juga beberapa catatan sejarah mengenai perkembangan Islam dan Nusantara, khususnya NU. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Tajul Mafachir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater

Subang, Haedar Nashir - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang yang diwakili oleh beberapa pengurusnya menerima wakaf dari pendiri dan pemilik Masjid As-Saadah di Lembah Sarimas Hotel, lingkungan kompleks masjid As-Sa’adah, Kabupaten Subang, Rabu (2/2). Proses serah terima wakaf ini berlanjut dengan pembahasan teknis pengelolaan masjid.

Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah mengatakan, pendiri dan pemilik Masjid As-Saadah H Ibrahim diketahui sudah lama ingin mewakafkan masjidnya ke PCNU Subang karena memang leluhur H Ibrahim adalah orang NU.

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater

"Tadinya pihak keluarga setuju masjid As-Sadah? diwakafkan. Walaupun ada sedikit keberatan dari salah satu ahli waris, tapi kemudian pada akhirnya mereka semua setuju," kata Kiai Musyfiq usai rapat.

Ia menambahkan, dalam pertemuan ini disepakati bahwa Nadhir Masjid Assaadah ini adalah Yayasan As-Saadah yang akan segera diurus pembuatan Akta Yayasannya di Notaris dan Akta Wakaf Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Haedar Nashir

"Susunan pengurusnya kebanyakan dari PCNU Subang," katanya.

Haedar Nashir

Sebagaimana diketahui Masdij As-Sa’adah adalah salah satu masjid yang cukup megah di Kabupaten Subang. Masjid ini didirikan oleh pengusaha bernama H Ibrahim. Masjid ini terletak di daerah pegunungan sehingga membuat masjid yang berdekatan dengan tempat wisata air hangat itu memiliki keindahan tersendiri. Anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid yang memiliki kubah berwarna biru ini menelan biaya hingga miliaran rupiah. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Haedar Nashir

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

Haedar Nashir

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Meme Islam, Sejarah Haedar Nashir

Minggu, 17 Desember 2017

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Matraman, Haedar Nashir

Untuk meningkatkan mutu kader-kader NU di semua lini, PBNU terus mengkampanyekan pentingnya kaderisasi. Pelaksanaan kaderisasi adalah amanah resmi Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur tahun 2015.

Dalam AD/ART NU Bab XIII Pasal 39 ayat 4-7 dijelaskan bahwa syarat untuk menjadi pengurus cabang NU, PWNU dan PBNU harus sudah mengikuti pendidikan kader atau kaderisai yang dibuktikan dengn sertifikat kader NU.

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Poin-poin tersebut terungkap saat Sidang Pleno Kedua pada Munas Konbes NU 2017, Kamis (23/11) malam di pelataran Masjid Islamic Center NTB.

Ketua PBNU didampingi Sekjen PBNU pada kesempatan tersebut, menjelaskan kaderisasi dilaksanakan melalui Madrasah Kader NU yang di-launching secara resmi pada Juni 2016. MKNU kemudian  secara resmi menjadi bagian dari suprastruktur kadeeisasi NU di semua lini dan tingkatkan.

Sejauh ini pelaksanaan Madrasah kader NU di berbagai daerah sudah menghasilkan beberapa angkatan alumni. Hingga November 2017, madraha kader NU sudah terselenggara di 20 titik, dengan luar Jawa sebgaia fokus prioritasnya.

Haedar Nashir

Beberapa materi yang disampaikan adalah relasi NU terhadap perkembangan ideologi dan gerakannya; arah, cita-cita dan strategi perjuangan NU; relasi dan respons NU terhadap negara; arah, cita-cita dan program perjuangan NU 2015-2020.

Selain itu juga strategi pembangunan dan pemberdayaan ekonomi NU, literasi media, kekuaatan dan tantangnnya.

Haedar Nashir

Madrasah kader NU langsung dipandu oleh instruktur dan fasilitator dai PBNU. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

Larangan PBNU Gunakan Fasilitas Kantor untuk Pilkada Tak Diindahkan PCNU Jember

Jember, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bisa saja melarang penggunaan fasilitas organisasi untuk kepentingan politik praktis. Namun Pengurus Cabang NU Jember merasa tidak bersalah memasang spanduk posko pemenangan pasangan calon bupati-wakil bupati Guntur Ariyadi-Abdullah Syamsul Arifin, di kantornya.

Wakil Ketua PCNU Jember Nur Hasan mengatakan, sejak awal pihaknya sudah mengagendakan keterlibatan NU dalam proses politik pemilihan umum kepala daerah dalam berbagai alternatif. Salah satunya dengan mengusung kader sendiri. Akhirnya NU Jember memutuskan untuk mendukung dan mengusung kader sendiri sebagai calon wakil bupati, yakni Ketua Tanfidziyah PCNU Jember Abdullah Syamsul Arifin.

Larangan PBNU Gunakan Fasilitas Kantor untuk Pilkada Tak Diindahkan PCNU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Larangan PBNU Gunakan Fasilitas Kantor untuk Pilkada Tak Diindahkan PCNU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Larangan PBNU Gunakan Fasilitas Kantor untuk Pilkada Tak Diindahkan PCNU Jember

Soal larangan penggunaan fasilitas kantor NU, Nur Hasan memaknai, "Kalau yang menggunakan orang lain tidak boleh. Tapi kalau keputusan resmi PCNU untuk mendukung salah satu kader sendiri, apa salahnya (menggunakan fasilitas kantor)."

Haedar Nashir

Sekretaris NU Jember Misbahussalam menambahkan, pemasangan spanduk posko pemenangan Guntur-Abdullah, tak lepas dari keputusan Musyawarah Kerja NU Jawa Timur.

"NU harus memberikan petunjuk calon mana yang harus didukung kepada warga NU. Dari empat pasangan calon yang maju dalam pemilukada Jember, tak ada kader NU kecuali Gus Aab (Abdullah Syamsul Arifin)," katanya.

Haedar Nashir

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj, melarang penggunaan fasilitas Nahdlatul Ulama untuk kepentingan politik pemilihan umum kepala daerah.

"Jangan sampai kandidat calon bupati atau wakil bupati menggunakan stempel, kop, tanda tangan NU, fasilitas NU," kata Said seperti dilansir beritajatim.com.

Said menyatakan baru tahu mengenai persoalan spanduk tersebut. "Saya sudah bincang-bincang dengan Pak Babun (Babun Sugiarto, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jember). (Saya katakan) kantor jangan sampai dijadikan untuk kepentingan politik. Jelas tidak benar kalau kantor NU dijadikan posko siapapun," katanya.

Salah satu bagian kantor NU Jember di Jalan Imam Bonjol digunakan sebagai posko pemenangan pasangan Guntur Ariyadi-Abdullah Syamsul Arifin. Di atas salah satu bangunan kantor, tampak spanduk bertuliskan Posko Pemenangan H. Guntur-Gus Aab, dengan gambar lambang Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Sekretaris PCNU Jember Misbahussalam memandang, penggunaan kantor sebagai posko tak perlu dipermasalahkan. "Tidak masalah, wong ketuanya sendiri yang mencalonkan diri," katanya, Jumat (7/5). Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab memang Ketua tanfidziyah PCNU Jember.

Hasil Musyawarah Kerja NU Jember menyatakan, secara kelembagaan NU harus memberikan petunjuk kepada kadernya tentang siapa yang akan dipilih dalam pemilihan umum kepala daerah. Hadirnya Abdullah Syamsul Arifin, Ketua NU Jember, dalam pemilukada sebagai calon wakil bupati membuat NU secara kelembagaan harus mendukung dan menyukseskannya. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Ulama, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Pamekasan, Haedar Nashir

Beberapa bulan terakhir ini, Pimpinan Cabang GP Ansor Pamekasan, Jawa Timur memperkuat kaderisasi. Di samping memajukan organisasi, juga dimaksudkan untuk meneguhkan bela negara dan penanggulangan narkoba.

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pamekasan Perkuat Kaderisasi Bela Negara dan Antinarkoba

Demikian penegasan Ketua PC GP Ansor Pamekasan, Fathorrahman kepada seorang tentara utusan Kodim Pamekasan yang melakukan pendataan dan koordinasi di sekretariat Ansor Jalan R Abd Aziz, Jumat (8/4).

Dalam kesempatan itu, pihak Kodim meminta data kepengurusan cabang dan PAC di 13 kecamatan. Permintaan tersebut dilayani langsung oleh Sekretaris PC GP Ansor Pamekasan, Abd Latif.

"Dua bulan lagi, Insyaallah kami menggelar Diklat Banser," terang Mas Paonk, panggilan akrab Fathorrahman.

Haedar Nashir

Dosen Universitas Madura tersebut menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengirim 4 kader ke Blitar guna mengikuti provost. Selain itu, 4 kader sudah dipastikan ikut PKL Ansor se-Jawa Timur di Kabupaten Sumenep, Sabtu-Ahad (9-10/4). (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Aswaja, Lomba Haedar Nashir