Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Jombang, Haedar Nashir. Arziqi Mahlil dan Munzir, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh berhasil meraih Juara II dalam festival film pendek dokumenter Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur.

Pengumuman juara festival film ini dipublikasikan melalui situs resmi NU (nu.or.id), Sabtu (1 agustus 2015), disebutkan, juara pertama diraih M. Iskandar Tri Gunawan dengan judul Bulan Sabit di Kampung Naga karya dan berhak menerima hadiah 20 juta, film ini mengungkap Islam pembawa misi rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin. Untuk juara kedua dengan hadiah 15 juta dimenangkan oleh Arziqi Mahlil & Munzir dengan judul Dalae (dalail khairat), film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan yang tumbuh dan berkembang Dalail di Aceh, sebaliknya dengan pemuda kota, sementara juara ke tiga Vedy Santoso dengan judul Al Ghoriib, ini mengisahkan seorang mualaf dari Jerman yang mondok di pesantren.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Arziqi Mahlil mengungkapkan, keikutsertaannya bersama Munzir pada festival film pendek dokumenter NU ini bersama yayasan Aceh Documentary, dari Aceh ada sekitar lima film yang ikut pada festival itu, dan semuanya masuk nominasi 15 karya terbaik film pendek Muktamar NU ke-33 tahun 2015.

Haedar Nashir

"Kami memilih tema tentang Dalae, ini menurut kami sangat penting, karena merupakan salah satu budaya di Aceh yang sangat kental dengan masyarakat, selama ini kami melihat budaya meudalae di Aceh sudah pudar, sudah jarang sekali, padahal budaya ini dapat mempersatukan masyarakat dan salah satu media dakwah," ujar Arziqi.

Ditambahkan, pembuatan film ini dilakukan di gampong Lamhui Kuta Cot Gli Aceh Besar dan diproduksi oleh Yayasan Aceh Documentary (ADC), ini dibawah bimbingan Adoc dalam ajang ADC pada tahun 2014.  

Haedar Nashir

"Kita berharap, dengan lahirnya karya film ini dapat menginspirasi para pemuda di Aceh untuk terus menggalakkan dalae di malam hari, selain sebagai nilai ibadah, ini juga dapat dijadikan sebagai ajang silaturrahmi dan pemersatu masyarakat di gampong-gampong," ujar Mahasiswa semester VIII jurusan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Hamzah Sahal, koordinator tim kreatif Muktamar ke-33 NU mengatakan, panitia menerima 69 karya film yang didaftarkan oleh peserta dari seluruh Indonesia, ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi, Jawa Tengah, Tawa Timur, DI Jogjakarta dan Aceh paling banyak mengirimkan karya.

"Dewan juri memilih tiga film di atas sebagai juara karena cukup menarik secara ide, cukup matang dalam eksekusi gagasan, cukup dalam teknis penyajian," kata Sahal. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Warta, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Senin, 26 Februari 2018

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Jakarta, Haedar Nashir



Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj memiliki kegiatan yang sangat padat. Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan.?

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Kegiatan tersebut tempatnya tidak hanya acara di dalam kota, tetapi juga di luar kota, tak jarang di desa, bahkan luar negeri. Oleh karena itu, butuh tubuh yang kuat dan semangat yang tinggi untuk menghadiri acara-acara tersebut.

Sekretaris pribadi KH Said Aqil Siroj Muhammad Sofwan menuturkan, Kiai Said memiliki fisik yang luar biasa. “Tubuh Kiai Said kuat. Mobilitasnya tinggi,” kata Sofwan di gedung PBNU, Senin (3/4).?

Dalam satu hari, cerita Sofwan, Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari ia pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat. Saking padat aktivitasnya, lanjut Sofwan, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat. ? ?

Haedar Nashir

“Penerbangan paling padet itu lima kali sehari. (Penerbangan) Surabaya ke Batam, Batam-Medan, ? Medan-Aceh, Aceh-Pidi, dan Aceh-Jakarta. Ini terjadi saat kejadian bencana Pidi (Aceh),” jelasnya.

Menurut Sofwan, Kiai Said tidak menganggap simbol-simbol kearaban sebagai simbol kesalehan. Namun demikian, ia sangat hormat dan bahkan tidak segan-segan untuk mencium tangan seorang habib yang notabennya adalah keturunan Arab.

“Beliau sangat hormat dengan habaib yang berilmu dan berakhlak seperti Habib Luthfi. Beliau juga mencium tangan Habib Luthfi dan bahkan duduk di bawah (sementara Habib Luthfi duduk di kursi),” terangnya.

Haedar Nashir

Sisi lain yang tidak banyak orang tahu tentang Kiai Said, lanjut Sofwan, adalah ia memiliki kekuatan hafalan yang sangat tinggi. Ia bisa hafal meski hanya baru sekali membaca sebuah buku, terutama bidang sejarah.?

“Ingatan beliau sangat luar biasa. Riyadlohnya (latian menghafalnya) ya dari kebiasaan dzikir (yang dilakukan sehari-hari), ” katanya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Pemurnian Aqidah, Warta Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Banyuwangi, Haedar Nashir - Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tapi harus juga memperhatikan kecerdasan emosional dan spiritual. Hal tersebut menjadi perhatian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Untuk melatih kecerdasan spiritual tersebut, Bupati Anas mengimbau kepada sekolah-sekolah di Banyuwangi untuk bershalawat setiap hari Jumat.

"Saya mohon kepada setiap kepala sekolah untuk melaksanakan shalawatan setiap hari Jumat," pinta Bupati Anas saat memberikan pengarahan kepala sekolah SD Negeri se-Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (18/1).

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Dengan membiasakan membaca shalawat tersebut, ungkap Anas, akan mampu menstimulus spiritualitas pelajar. "Hati akan tenang jika memperbanyak membaca shalawat. Jika hatinya tenang, maka akan juga berpengaruh pada kecerdasan anak didik," ungkapnya.

Menyemarakkan shalawatan di sekolah, lanjut Anas, bisa menumbuhkan kesenian islami. "Nantinya, juga bisa dikombinasikan kesenian hadrah," urai ketua umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 2000-2003 ini.

Haedar Nashir

Sementara itu, di Masjid Pemkab Banyuwangi sendiri, tiap usai sholat Jumat diisi dengan pembacaan shalawatan. Hal ini, menurut Bupati Anas, ditujukan untuk mendoakan Banyuwangi dari berbagai musibah. "Ini untuk mendoakan Banyuwangi agar terhindar dari musibah dan diberikan kemaslahatan," pungkasnya. (Ayunk Notonegoro/Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Pertandingan, AlaSantri Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Rabat,Haedar Nashir. Program Mahasiswa Kelas Internasional mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAINU) Jakarta di Universitas Ibnu Tufail Kenitra berakhir. Setelah 11 bulan menimba ilmu di kampus itu, mereka harus kembali ke tanah air.  

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Perpisahan program tersebut digelar di Griya Mahasiswa Kenitra pada Kamis malam 11 Desember 2014. Pada kesempatan itu, hadir Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyub, H. Husnul Amal Mas’ud dan Prabowo Wiratmoko Jati mewakili Dewan Mustasyar PCINU. Hadir pula perwakilan KBRI, anggota PPI Maroko serta beberapa warga Maroko.

Kia Mujib yang juga Ketua Badan Pengawas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Maroko merupakan salah satu pusat keilmuan Islam. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya literatur- keislaman.

Haedar Nashir

Di negara Maroko pula, tambah dia, tempat lahirnya para cendekiawan islam yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. “Di Indonesia ada beberapa kuburan yang tidak diketahui identitas jelasnya. Tetapi di nama-nama, di batu nisannya bertuliskan maghribi yang berarti berasal dari Maroko”.

Ia berpandangan, tidak menutup kemungkinan, corak keislaman Indonesia memang sebagian dibawa oleh ulama Maroko.

Haedar Nashir

Ketua rombongan mahasiswa STAINU Ooz Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dan melancarkan kegiatan tersebut.

Ia mengutip adagium yang sudah masyhur di Maroko “idza kunta fil maghrib fala tastaghrib”. Apabila kamu berada di maghrib (Maroko) maka janganlah kamu terheran-heran (dengan apa yang terjadi di sini). “Seyogyanya kita (kawan-kawan STAINU) agar mengambil segala hal yang baik dari Maroko dan membuang hal-hal yang tidak baik dari sini,” ujarnya.

Sementara Abdul Karim Jariri, ustadz di Maroko, menutup doa perpishan itu. Ia mengaku senang berinteraksi dengan para mahasiswa yang belajar di Maroko. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Minggu, 04 Februari 2018

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Jembrana, Haedar Nashir?

Ekspresi syukur bisa ditunjukan dengan berbagai hal. Umumnya bagi kalangan Nahdliyin menggelar doa bersama dan diakhiri dengan makan bareng. Namun ada juga syukur dengan tindakan yang tak biasa, seperti yang dilakukan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo ini.

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Mereka, sejak tanggal 6 Desember 2016, berjalan kaki dari Denpasar ke Situbondo sebagai ungkapan syukur atas anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada Almaghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin.?

Mereka yang berjumlah 8 orang tersebut, pada Kamis (8/12) memasuki hari ketiga dan telah berada di wilayah kabupaten Jembrana. Sebelumnya mereka ? melewati Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan. Target perjalanan hari ketiga ini memasuki wilayah pelabuhan Gilimanuk untuk selanjutnya menyeberang ke pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.

Syamsudin Boy, inisiator sekaligus koordinator dalam aksi jalan kaki ini mengungkapkan, selama perjalanan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan saat melewati perkampungan Muslim kerap disambut dengan berbagai macam bantuan seperti makanan dan air minum.

Haedar Nashir

“Kami terharu antusiasme masyarakat Muslim Bali meyapa kami, terutama sahabat-sahabt Banser Jembrana yang sempat menjamu kami. Sambutan mereka merupakan tambahan energi di tengah fisik yang mulai letih,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, bahwa aksi ini merupakan aksi tulus datang dari hati sebagai wujud ketakziman santri kepada ulama NU.?

“Sosok Kiai As’ad bagi masyarakat Muslim Bali begitu terasa dekat walaupun sudah lama tiada. Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad merupakan gelar yang sangat pantas disandangnya mengingat sepak terjang beliau mengusir penjajah,” paparnya.

Dengan aksi ini, lanjutnya, juga ingin mensyiarkan tauladan-tauladan ulama NU yang telah banyak berkorban untuk umat, salah satunya adalah Kiai As’ad. Ulama NU ada yang berjuang dengan berjalan kaki menembus hutan belantara ratusan kilometer.

Haedar Nashir

“Kita tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya zaman itu. Aksi jalan kaki ini setidaknya kami ingin menghadirkan kembali perjuangan itu, mengalahkan rasa lelah sebelum sampai pada tujuan di makam Kiai As’ad,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi jalan kaki yang berjarak tempuh sekitar 220 kilometer ini telah mendapat restu langsung dari Pengasuh Ponpes Sukorejo Asembagus Situbondo KHR. Achmad Aaim Ibrahimy. Rencananya, para peserta aksi ini akan disambut di kediaman cucu Kiai As’ad tersebut. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Internasional, Warta Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh

Jakarta, Haedar Nashir. Presiden Joko Widodo mengunegerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat orang anak bangsa yang dinilai berkontribusi besar untuk Indonesia. Masing-masing yaitu TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid tokoh asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati (Keumalahayati) tokoh asal Nanggroe Aceh Darussalam, Sultan Mahmud Riayat Syah tokoh asal Kepulauan Riau, dan Lafran Pane tokoh asal Daerah Istimewa Yogyakarta.?

Upacara penganugerahan tersebut dilakukan di Istana Negara, Kamis (9/11). Penganugerahan ini diputuskan melalui Kepres RI No 115/TK/tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan. Keputusan ini diambil setelah sebelumnya Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan bersidang pada Oktober lalu.

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh

Hadir dalam acara penganugerahan tersebut keluarga ahli waris keempat tokoh, para menteri kabinet kerja, dan para pejabat tinggi negara lainnya.?

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengatakan dengan penganugerahan keempat pahlawan nasional baru tersebut, maka jumlah Pahlawan Nasional Indonesia saat ini berjumlah 173 orang yang terdiri dari 160 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Para pahlawan tersebut berasal dari sipil dan juga TNI/Polri.?

Khofifah menjelaskan Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan pemerintah kepada seorang Warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara yang semasa hidupnya tanpa cela.?

Haedar Nashir

"Mereka yang menyandang gelar pahlawan nasional tidak hanya yang berjasa di medan perang tapi juga di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional," terangnya.?

"Permohonan usul pemberian gelar pahlawan nasional kepada presiden melalui Dewan Gelar. Sebelumnya diadakan verfikasi, penelitian dan pengkajian melalui proses seminar, diskusi, serta sarasehan," katanya.?

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras mengatakan ada syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum akhirnya tokoh tersebut diputuskan memperoleh gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden. Dikatakan, empat tokoh yang memperoleh anugerah tahun ini telah memenuhi seluruh persyaratan.?

Haedar Nashir

Hartono menerangkan, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid lahir di Nusa Tenggara Barat 19 April 1908 dan wafat pada 21 Oktober 1997. Beliau merupakan seorang nasionalis pejuang kemerdekaan, dai, ulama, dan tokoh pendidikan emansipatoris. Ia merupakan pendiri organisasi Islam Nahdatul Wathan. Organisasi ini menjadi organisasi Islam terbesar di Lombok yang memberikan perhatian kepada pendidikan dan agama.

Gelar pahlawan nasional kedua diberikan kepada Laksamana Malahayati yang merupakan tokoh pejuang asal Nanggroe Aceh Darussalam. Malahayati lahir pada tahun 1550 dan wafat pada 1615 dimakamkan di Krueng Raya, Aceh Besar. Malahayati adalah laksamana perempuan pertama dari Aceh. Ia membentuk pasukan "Inong Balee" yang berisi para janda prajurit Aceh yang mahir menembakkan meriam dan menunggang kuda.?

Tahun 1559 Malahayati memimpin armada laut berperang melawan Belanda dan berhasil menewaskan Cornelis De Houtman. Di Tahun 1606, Malahayati bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) berhasil mengalahkan armada laut Portugis. Sebelumnya nama Malahayati telah diabadikan sebagai nama kapal perang jenis perusak kawal berpeluru kendali kelas Fatahillah milik TNI AL dengan nomor lambung 362.?

Sementara itu, lanjut Hartono, gelar ketiga Pahlawan Nasional diberikan kepada Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau. Sultan Mahmud lahir di Sulu Sungai Riau Agustus 1760 silam dan wafat pada 12 Januari 1812. Pada rentang tahun 1782 hingga 1784, Sultan berhasil mengalahkan Belanda yang ingin menanamkan pengaruhnya di Riau dalam Perang Riau I. Kapal Komando Belanda Malakas Walvaren berhasil diledakkan.

Ditahun 1784, Sultan kembali memimpin perang melawan Belanda yang dipimpin Pieter Jacob van Braam di Tanjung Pinang. Sultan Mahmud menolak ajakan Belanda untuk berdamai dan menerapkan startegi gerilya laut untuk mengacaukan perdagangan Belanda di Selat Melaka dan Kepulauan Riau. Tahun 1811 Sultan Mahmud mengirimkan bantuan kapal perang lengkap guna melawan ekspansi Belanda ke Sumatera Timur, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung.?

Adapun, gelar pahlawan nasional keempat diberikan kepada Lafran Pane tokoh asal Yogyakarta. Lafran Pane lahir di Sipirok 12 April 1923 dan wafat di Yogyakarta 24 Januari 1991. Lafran Pane dikenal sebagai tokoh pergerakan pemuda dan memprakarsasi pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam pada tanggal 5 Februari 1947.?

Dalam perjalanannya, HMI secara konsisten menolak gagasan Negara Islam yang digagas oleh Sekar Maridjan Kartosoewiryo pendiri gerakan Darul Islam. Lafran Pane menjadi salah satu tokoh utama penentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Warta Haedar Nashir

Rabu, 24 Januari 2018

Hasyim Muzadi Tokoh Paling Berpengaruh dari Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dianggap memiliki cukup banyak tokoh yang memiliki pengaruh penting di dunia Muslim. Dari 500 tokoh yang disebut dalam buku The 500 Most Influential Muslim 2009, terdapat 15 tokoh Indonesia, dengan KH Hasyim Muzadi sebagai tokoh terpenting yang menduduki urutan ke 18 tokoh dunia atau urutan pertama untuk Indonesia. Tokoh paling berpengaruh adalah Raja Abdullah dan dilanjutkan dengan Ayatullah Khamanei.

Buku yang baru diterbitkan untuk edisi pertama ini diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center (di Jordan) bekerjasama dengan Georgetown’s Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.

Jumat, 19 Januari 2018

IPNU-IPPNU Banjar Gelar Deklarasi Tolak Paham Radikal

Banjar, Haedar Nashir. Ratusan pelajar anggota IPNU-IPPNU Kota Banjar menggelar deklarasi penolakan paham radikal di sela-sela pelantikan kepengurusan baru masa khidmat 2017-2018 di Gedung Dakwah Masjid Agung Langensari Kota Banjar, Selasa (13/06/2017).

Acara deklarasi tersebut, dihadiri PMII Kota Banjar, Ketua Aswaja Center Tasikmalaya, Anggota DPRD Kota Banjar, GP Ansor Banjar, Banser serta undangan lainnya.

IPNU-IPPNU Banjar Gelar Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Banjar Gelar Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Banjar Gelar Deklarasi Tolak Paham Radikal

Dalam kesempatan itu, Azi Muhammad Iqbal, Ketua IPNU Banjar, menegaskan, bahwa penyebaran paham radikal cukup signifikan. Bahkan, mereka memanfaatkan mulai dari anak-anak hingga usia dewasa. Dengan menanamkan pemahaman radikal, tentu tujuannya agar massa pendukungnya semakin banyak.

"Kita sangat khawatir sekali bila paham itu menyusup secara perlahan dan sistematis. Apalagi sarana saat ini seperti internet mudah dijangkau dan digunakan oleh siapapun. Dari itu, kita sebagai benteng Aswaja dari kalangan pelajar berkomitmen untuk mengantisipasinya," tegas Azi.?

Ia melihat, penyebaran ujaran kebencian melalui berbagai media baik internet, selebaran di tempat umum, masuk ke tempat sentral ibadah, masjid, maupun ke lembaga pendidikan menjadi tugas bersama agar warga Nahdliyin terus mewaspadai dan menghentikannya.?

Haedar Nashir

Bila tak demikian, kata Azi, Indonesia yang menjadi negara Muslim terbesar di dunia akan ternodai karena tak lagi ada kedamaian seperti yang sudah melekat kepada bangsa ini.

"Kongkritnya, diskusi dengan para pelajar soal Islam damai serta pemberian materi keaswajaan dalam berbagai kesempatan jangan sampai terlewatkan. Satu lagi, mendekatkan para pelajar dengan para kiai NU juga tidak kalah penting agar kesan jalan sendiri tak ada," pungkasnya.?

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua Aswaja Center Tasikmalaya, Yayan Bunyamin, menegaskan langkah sederhana agar masyarakat bisa terhindar paham radikal. Di antara langkah tersebu, Yayan menganjurkan agar masyarakat mendengarkan dan mendekati para kiai di kampung atau di sekitar lingkungan masing-masing. Sebab, dengan itu akan lebih memudahkan masyarakat memahami secara langsung ilmu keagamaan dari sumberny yang kompeten.

"Saran saya juga kita jangan terjebak jargon yang mengatasnamakan Islam tok, jadi harus jelas asal usulnya. Jika kita terjebak di sana, niscaya benih-benih paham radikal yang disusupkan akan menggoyahkan kita dan berujung tindakan radikal atas nama agama," paparnya kepada Haedar Nashir disela-sela buka bersama dalam kegiatan tersebut.

Terakhir, lanjut Yayan, masyarakat diharapkan tidak mengakses atau menjadikan rujukan website yang kerap menggunakan bahasa kotor, provokatif serta konten yang menimbulkan kebencian antar sesama. Ia menganjurkan untuk sesering mungkin menyaring informasi agar tidak dikonsumsi mentah-mentah.

"Saya juga prihatin banyak yang menggunakan dalil Al-Quran terjemahan untuk dijadikan hujjah dalam berbagai persoalan. Padahal, untuk memahami ayatnya itu perlu kemampuan dari berbagai bidang ilmu," pungkasnya. (Muhafid/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa menjadi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu adalah takdir Tuhan yang tidak bisa diingkari, demikian pula keragaman suku, agama maupun bahasanya.?

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

"Kita bangsa yang satu, tidak boleh kita melawan takdir Tuhan itu. Ini bukanlah persoalan benar atau tidak benar, tetapi ini adalah masalah yang tertanam dalam jiwa kita masing-masing yang di dalam nadi mengalir darah Indonesia," jelas Gus Ishom lewat akun Facebook miliknya, Jumat (28/10).

Kesamaan dalam kebangsaan ini, lanjutnya, mengharuskan kita bertanggungjawab untuk dengan hati-hati merawatnya dan sabar menambal setiap keretakan karena perbedaan dan memerangi setiap apa yang berpotensi memecah belahnya.?

"Pengingkaran terhadap kehadiran bangsa ini adalah perbuatan dosa dan penyimpangan dari akal sehat dan kebenaran ajaran agama," tulisnya.

Haedar Nashir

Sejalan dengan tujuan agama yang ingin menciptakan keharmonisan menurutnya, maka bangsa yang berarti keinginan untuk hidup bersama pun diawali dengan keharmonisan setiap pribadi pemeluknya. Artinya, bangsa ini hanya bisa sehat dan harmonis apabila setiap elemennya berakal sehat, menjadi bangunan yang mengokohkan satu sama lain serta saling terkoneksi dengan baik dan tertib.?

Lebih-lebih agama sendiri lanjutnya, mengajarkan keragaman dan dengan tegas mengharamkan segala bentuk perpecahan. Lebih jauh lagi bahwa diciptakannya perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan atau untuk saling menghinakan, melainkan bertujuan untuk saling melengkapi, memperindah dan membentuk keharmonisan.

"Keragaman agama yang dianut oleh bangsa kita pun tidak terlepas dari kehendak-Nya. Masing-masing penganut agama mengimani kebenaran agama yang dianutnya, sehingga tidak dibenarkan memaksakan kebenaran menurut "versinya" kepada orang lain yang berbeda agamanya. Inilah pangkal kerukunan untuk mewujudkan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ingatnya.

Tujuan bersama dari seluruh anak bangsa yang sangat banyak perbedaannya ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, yaitu kesejahteraan, kebaikan dan keadilan tanpa kecuali yang meliputi segenap bangsa Indonesia.?

Haedar Nashir

Untuk meraih tujuan ini menurutnya, diperlukan kematangan jiwa kebangsaan (nasionalisme) dari kita semua, selain tentu butuh pengelolaan yang super kuat. Karenanya, solidaritas kemanusiaan dan kemauan untuk belajar hidup bersama dengan menjunjung tinggi keadaban harus terus menerus diperjuangkan. Sehingga keragaman pun terus menerus dapat terlindungi. Penyeragaman terhadap apa yang sudah ditakdirkan berbeda adalah perbuatan sia-sia.?

"Kedangkalan dalam memahami maksud agama dalam konteks kehidupan berbangsa, seringkali menjadi penyebab sebagian orang beragama dengan klaim kebenarannya sendiri memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sehingga menimbulkan kegaduhan sosial yang berpotensi mengancam keutuhan hidup harmonis bersama," tandasnya.

Ia mencontohkan sebagian muslim misalnya masih menganggap non muslim atau sebaliknya dari warga negara bangsa ini sebagai musuh yang wajib dibenci, dimusuhi atau halal dialirkan darahnya. Pandangan ini jelas keliru karena merusak keharmonisan dan menghalangi tercapainya tujuan hidup bernegara.?

Menurutnya yang patut menjadi musuh bersama warga negara ini, baik muslim atau non muslim setidaknya ada tiga. Pertama, orang yang dzalim atau siapa saja yang tidak bersikap adil. Seperti ketidakadilan rakyat terhadap pemerintahan dengan keengganan untuk menaatinya atau ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya dengan tindakan yang tidak mengacu kepada kemaslahatan rakyat.?

Kedua, syetan dari jenis manusia maupun jin yang mengobarkan saling benci, permusuhan, berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, dan ketiga, hawa nafsu yang bercokol pada jiwa manusia yang selalu memerintahkan kepada keburukan.?

"Agama apa pun yang kita anut, hendaknya kita tetap bersatu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Hendaklah kita selalu bijak dalam menyelesaikan setiap persolan yang dihadapi oleh bangsa ini," pungkasnya.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, PonPes, Makam Haedar Nashir

Minggu, 03 Desember 2017

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya

Tasimalaya, Haedar Nashir. Pengurus Internet Marketers Nahdlatul Ulama (IMNU) Kota Tasikmalaya bersilaturahim ke kediaman Ketua PCNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya Bukhori  di Pesantren Bustanul Ulum, Sumelap, Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (25/10).

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu berlangsung khidmat dalam suasana penuh keakraban. 

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kehadiran Internet Marketers NU Didukung Ketua PCNU Tasikmalaya

Kiai Didi merespons positif kehadiran IMNU. Ia berpesan melalui IMNU tetap bisa menjaga tali shilaturahim melalui media internet sebagai fasilitas untuk saling berbagi dan berdakwah khususnya menjaga kultural nahdliyah yang menjadi salah satu ruh kekuatan dan keunikan NU.

“Dengan hadirnya IMNU ini bisa mengimbangi arus informasi yang tidak jelas sumbernya seperti hoals, yang justru bisa merusak tali persaudaraan antar umat islam terlebih khusus bagi warga Nahdliyin itu sendiri,” kata Kiai Didi.

Selain silaturahim, melalui internet juga dapat dimanfaatkan menjaga dan memelihara nilai-nilai ajaran Nahdliyyah.

Haedar Nashir

“Sehingga keutuhan umat lebih bisa lebih terjaga dan terpelihara,” tegas Kiai Didi. (Chenk Rahman/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Daerah, Warta Haedar Nashir

Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

Pamekasan, Haedar Nashir. Sekitar 70 kader Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menerangi Kota Pamekasan dengan seratus obor. Tak hanya itu, untuk menyambut tahun baru Hijriyah tersebut, mereka menabuh rebana pada Senin (4/11) malam.

Mahasiswa mahasiswi itu mulai bergerak dari Kantor PC PMII di Jalan Brawijaya. Kemudian beriringan menuju monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan. Mereka mengelilingi monumen itu sembari membuat lingkaran. Di sini, dilakukan orasi kebangsaan secara bergantian. Istighasah juga didengungkan guna mendoakan para pejuang Islam di gugur di Pamekasan.

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

“Arek Lancor ini, merupakan salah satu monument bersejarah. Di sinilah tak sedikit para pejuang Islam mati di medan laga melawan para penjajah,” ungkap Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Didik Ahmad.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, umat Islam selama ini cenderung memaknai hijrah sebatas pada tataran tekstual dan konseptual saja. Hijrah lebih dipahami sebagai fenomena historis yang muaranya pudar seiring perkembangan zaman.

“Kesesuaian dari uraian tersebut bisa dikait-hubungkan pada kebiasaan umat Islam ketika menyambut perubahan kalender Hijriyah yang lebih menitiktekankan pada "sambutan seremonial" daripada "sambutan substansial". Akibatnya, ruh dari fenomena hijrah kian tak terasa dalam kehidupan nyata,” terang Didik.

Haedar Nashir

Bila dicermati, katanya, hijrah memiliki visi reformatoris dalam konteks kehidupan sosio-kultural yang melampaui batas ruang dan waktu. Visi reformatoris tersebut terbukti dengan lahirnya Piagam Madinah yang jadi landasan kehidupan bersama masyarakat yang dipimpin Nabi Muhammad di Madinah. Piagam itu muncul sebagai bagian dari agenda besar fenomena hijrahnya Nabi beserta umatnya.

“Ada banyak mutiara hikmah yang bisa digali dari Piagam Madinah tersebut untuk kemudian dikontekstualisasikan ke dalam berbagai kehidupan di era saat ini. Di antara isi Piagam Madinah yang sangat menarik direnungkan di tengah kehidupan globalisasi ini adalah pertama, pentingnya memelihara kehidupan bersama, gotong royong dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapi,” ungkap Ketua KOPRI Pamekasan, Zahratun.

Mahasiswi akhir Universitas Islam Madura (UIM) melanjutkan, setiap warga berkewajiban untuk menjaga dan mempertahankan teritorial dan keamanan komunitas atau negaranya dari agresi negara lain yang berusaha untuk mencampuri dan atau menguasainya.

Ia melanjutkan, pentingnya sikap keterbukaan merupakan visi reformatoris yang ketiga. Dan yang keempat adalah kebebasan menganut suatu agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

“Visi reformatoris hijrah tadi tentu sangat penting untuk diapresiasi dalam segala zaman. Jauh sebelum negara-negara modern kini mendeklarasikan pentingnya kebebasan beragama, melalui Piagam Madinah, sejatinya Nabi telah menyemaikan satu pesan abadi terbentuknya pilar-pilar kehidupan masyarakat yang berperadaban (civil society),” tukas Zahroh, panggilan akrab Zahratun.

Dalam konteks tersebut, sela Sudarsono, aktivis PMII lainnya, visi reformatoris hijrah itu menjadi sangat penting untuk direnungkan serta dikontekstualisasikan dalam rangka menciptakan masyarakat yang berperadaban. Tentu saja, masyarakat berperadaban itu tercapai manakala visi reformatoris hijrah bisa diterjemahkan ke dalam berbagai sisi kehidupan: social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.

“Dalam arti kata, prinsip-prinsip hijrah tersebut mesti ditarik ke dalam universalitas kehidupan sehingga bisa mewarnai hingga masyarakat berperadaban yang dicitakan sebagai masyarakat ideal menjadi kenyataan,” tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Warta Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Saat khataman buku Khazanah Aswaja bersama Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Jombang di PP Al Muhsinin yang diasuh Habib Muhammad bin Salim Assegaf, Jumat (16/6).

Salah satu penulis buku, Khazanah Aswaja, Ustad Yusuf Suharto cerita pengalamannya bersama KH Soleh Qosim Sidoarjo. Pengurus LTM NU Pusat sekaligus Aswaja Center Jatim.

? ’’Saat mengenalkan kami para pengurus Aswaja Center yang muda-muda, Kiai Soleh Qosim selalu menyebut kami dengan panggilan kiai,” ujar Ust Yusuf pengurus Aswaja Center Jatim ini.

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Alumni Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini pun penasaran dengan hal itu.’’Saya lalu bertanya. Kami ini kan masih muda-muda, kok sudah dipanggil kiai," ujarnya bertanya.

Kiai Soleh Qosim kemudian menjawab enteng. “ Minhum (golongan diluar NU) itu hapal sedikit ayat dan hadist sudah dipanggil ustadz. Di kita itu antrenya jadi kiai kelamaan. Bahkan antrean disebut gus (panggilan kiai muda) untuk dipanggil kiai saja sangat panjang. Sampai-sampai ada gus yang walaupun sudah tua tetap tidak dipanggil kiai,” paparnya.?

Pertimbangan tersebut sangat masuk akal. Makanya Ustad Abbas Lc, ? yang juga pengurus Rijalul Ansor Jombang ketika memandu sesi berikutnya langsung memperkenalkan Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Jombang Gus Latif Malik Lc, sebagai Kiai Latif. ? Juga terhadap Ketua Rijalul Ansor Pusat, Gus Aam, diperkenalkan sebagai Kiai Sholahul Am Notobuwono.

Alasan lain memanggil gus terhadap kiai muda juga sudah sering kita dengar dikalangan Ansor. Seperti yang disampaikan Toni Syaifuddin, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kesamben yang juga salah satu pengurus PC GP Ansor Jombang. Saat memanggil pengurus yang lain, beliau selalu mengawali dengan panggilan Gus.?

Haedar Nashir

“Gus itu adanya hanya di NU. Kalau bukan kita yang mengakrabkan panggilan itu, lalu siapa lagi?,” ujarnya saat ditanya alas an memanggil Gus pada pengurus Ansor.?

Haedar Nashir

"Jadi memanggil Gus untuk kiai muda itu merupakan salah satu cara syiar ke-NU-an,” jelasnya enteng. (Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Kajian, Berita Haedar Nashir

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Probolinggo, Haedar Nashir. Sedikitnya 100 orang pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo mengikuti kegiatan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Probolinggo, Selasa (10/11).

Badan otonom (banom) PCNU Kabupaten Probolinggo ini dipimpin langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo dan BPPKB Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo Hj Endang Astuti mengatakan Muslimat dan Fatayat NU merupakan organisasi kemasyarakatan yang sangat strategis karena memiliki struktur dari cabang hingga ranting.

Haedar Nashir

“Pertemuan yang dilakukan bersifat rutin dan sangat dekat dengan masyarakat. Sehingga bisa menjadi media yang sangat efektif untuk merubah mindset, khususnya orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anaknya,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Menurut Endang, melalui Muslimat NU dan Fatayat NU ini diharapkan orang tua bisa mendapatkan dampaknya. Sebab kebanyakan banyak pernikahan dini di usia muda yang berakhir dengan perceraian karena dilakukan karena kehendak orang tua.

“Minimal pengurus Muslimat dan Fatayat NU menjadi contoh yang paling awal untuk memperhatikan usia yang ideal bagi anggota keluarganya. Harapannya, mereka tidak hanya melakukan syiar agama Islam, tetapi juga merespon isu-isu kekinian tentang permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah,” tegasnya.

Sementara Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurayati menyambut baik upaya dari Pemkab Probolinggo yang mau merangkul Muslimat dan Fatayat NU agar bisa bersama-sama mensosialisasikan PUP kepada masyarakat dalam rangka menurunkan angka pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo.

“Ini merupakan sebuah kepercayaan yang sangat besar. Mudah-mudahan kami mampu menjalankan amanah ini dengan terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menikah pada usia yang ideal,” katanya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Warta Haedar Nashir

Selasa, 07 November 2017

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Rembang, Haedar Nashir. Karnaval batik Lasem yang rencananya digelar Jum‘at mendatang (18/10) turut meramaikan haul para syekh Rembang Jawa Tengah. Batik tulis Lasem akan dipamerkan dalam pesta rakyat.

Batik tulis lasem adalah batik asli asal kota Rembang ? yang menjadi kebanggaan warga kota Lasem. Batik-batik ini akan dipamerkan dengan produk-produk yang dimodifikasi dari barang bekas.

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Karnaval Batik Lasem sengaja digelar sebagai ajang perkenalan masyarakat tentang batik tulis asal Kecamatan Lasem.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Pandu mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SMK Umar Fatah untuk membuat kostum modifikasi yang akan dipamerkan. Perpaduan produk barang bekas dan batik diolah menjadi aksesoris.

Haedar Nashir

Hingga kini, lanjut pandu, sudah ada sekitar 50 kostum batik yang sudah terkumpul dan siap dipamerkan pada 18 Oktober mendatang.

Menurut pandu, adanya ide untuk mengangkat batik tulis Lasem melalui acara haul tahunan yang biasa dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa.

“Batik tulis Lasem yang sudah dimodifikasi dengan suatu bentuk dan barang tidak kalah menarik dengan busana atau pun produk lain merk luar negeri. Menurut pandu harga dari batik tulis Lasem sendiri cukup relatif terjangkau, apalagi masyarakat Lasem masih aktif dalam memproduksi batik tulis,” kata Pandu.

Kali ini, kata Pandu, hasil karya anak SMK akan dipamerkan. Mereka generasi penerus yang akan melanjutkan para perajin batik tulis Lasem pada tahun-tahun berikutnya. Batik tulis Lasem sangat pantas dipakai kalangan muda, dewasa, dan orang tua. Tak heran jika komunitas pecinta seni dan sejarah mempunyai inisiatif untuk memamerkan hasil karya masyarakat Lasem. (Ahmad Asmu’i/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Hikmah Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

Solo, Haedar Nashir. Forum Silaturrahmi Warga Nahdlatul Ulama Surakarta (Fosminsa) belum lama ini mengadakan pelatihan kefasilitatoran. Hal tersebut diungkapkan salah satu penggerak Fosminsa, Tohar Muhlasin, saat ditemui Haedar Nashir, Jumat (27/9) lalu.

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

“Tujuan pelatihannya agar kader NU bisa memfasilitasi sebuah forum, juga dapat menjadi leading di dalamnya,” kata Tohar.

Para peserta yang mendapatkan pelatihan itu yakni para anggota Banom NU, di antaranya IPNU, IPPNU, Fatayat dan PMII. Pascapelatihan mereka diharapkan dapat memegang sendiri sebuah forum.

Haedar Nashir

Di dalam pelatihan tersebut, Tohar yang juga menjadi pemateri memaparkan teknik untuk menjadi seorang fasilitator yang handal. “Seorang fasilitator, dia harus banyak menggali pertanyaan dan mendata dari forum,” terang Tohar yang juga kader PMII Solo.

Haedar Nashir

Selain diberikan teori, para peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung ilmu yang baru didapatkan. Sebagian dari mereka ditunjuk, maju ke depan untuk belajar memfasilitasi forum.

Salah satu peserta, Habibi, menuturkan mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ketua IPNU Solo itu mengatakan untuk menjadi fasilitator handal mesti banyak jam terbang dan sering dilatih. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, AlaSantri, Kiai Haedar Nashir

Jumat, 20 Oktober 2017

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sebagai upaya menciptakan kader yang mapan ekonomi, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam melalui kajian rutin "Obrolan Bareng Ansor (Obor)" menggelar diskusi dan pelatihan wirausaha budidaya Kroto.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Madrasah Diniyah Roudlotul Mubtadiin Desa Brabowan kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (2/10).

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gayam Latih Kader Wirausaha Budidaya Kroto

Arifin, pegiat budidaya kroto di Bojonegoro, saat menjadi pemateri menyampaikan, banyak orang bingung untuk memilih bisnis apa yang relevan untuk dijalankan, karena kebanyakan lemah di pemasaran.

Haedar Nashir

Menurutnya, bisnis kroto bisa menjadi alternatif karena tidak membutuhkan banyak biaya, hanya menyediakan bibit semut rangrang sekira 30 toples dan pembuatan rak untuk beternak. "Bisnis ini cukup prospek, karena mulai dari pembibitan pun sudah ada asosiasi yang menyediakan masyarakat yang membutuhkan," paparnya.

Di sisi lain, akan ada pembinaan pula kepada pelaku yang menjalankan budidaya ini. Sebab ikatan pelaku usaha ini tergolong sangat kuat. "Termasuk pemasaranya sudah siap, berapapun yang dipanen akan ada pembeli yang menampungnya, harganya pun tergolong tinggi karena sekilogram kroto bisa sampai Rp. 300 ribu," lanjut pria alumni kampus IKIP PGRI Bojonegoro itu.

Haedar Nashir

Arifin juga mengajak para kader Ansor untuk meninjau langsung usaha tersebut di sekolah alam miliknya. "Di sana ada ternak kroto, usaha budidaya jamur dan lainya," terangnya.

Sementara itu Koordinator Kajian Obor, Imam Hambali menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini akan rutin dilaksanakan setiap bulan. Karena menurutnya, kader Ansor saat ini sudah saatnya melek ekonomi. "Supaya? tercipta juga mental wirausaha bagi kader pemuda Nahdiyin," ucapnya.

Dalam acara tersebut hadir pula Ketua Cabang GP Ansor Bojonegoro Faizin, perwakilan madrasah diniyah di Kecamatan Gayam, dan sejumlah tamu undangan lainya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Minggu, 15 Oktober 2017

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan

Majelengka, Haedar Nashir. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat Mochamad Iriawan berkunjung ke Pondok Pesantren al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat, Selasa (26/8). Kunjungan dilaksanakan dalam rangka silaturahim sekaligus sosialisasi tentang pentingnya mewaspadai kelompok ekstrem.

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Jawa Barat Sowan ke Pesantren al-Mizan

Mochamad Iriawan diterima Pembina Pondok Pesantren al-Mizan KH Maman Imanulhaq beserta pengurus pesantren lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Iriawan mengingatkan soal bahaya kelompok garis keras pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang belakang menggemparkan masyarakat.

“Kami pihak Polda berhak menindak, jangan sampai ada gerakan ISIS. Kami tidak menerima keberadaan mereka,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Iriawan, meskipun sempat mendeklarasikan diri dan mengibarkan bendera, ISIS hingga kini tidak mendapat dukungan masyarakat luas di Indonesia, termasuk Jawa barat.

“Persenjataan mereka ada, dana mereka punya, tetapi dukungan masyarakat yang mereka belum ada. Jika ada dukungan maka mereka semakin kuat,” kata mantan kapolda NTB ini.

Haedar Nashir

Wakil Bupati Majalengka Karna Sobahi yang juga hadir pada kesempatan tersebut berterima kasih kepada pihak kepolisian setempat. Menurutnya, keamanan di Majalengka, baik pasca pemilihan presiden maupun idul fitri, berlangsung berkat kerja sama masyarakat Majalengka dengan pihak kepolisian Jawa Barat. (Tata Irawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Internasional, Sejarah Haedar Nashir

Selasa, 05 September 2017

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat

Majalengka, Haedar Nashir. Sembilan anggota pramuka SMA Islam Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka berjalan kaki sepanjang 20 km guna menumbuhkan kedisiplinan, karakter, dan jiwa sosial. Dalam gerak jalan sehat ini, mereka sekurangnya melewati kecamatan Jatiwangi, Palasah, dan Rajagaluh.

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Pramuka SMA Islam Al-Mizan Gelar Jalan Sehat

Kepala Sekolah Al-Mizan M Zaenal Muhyidin sempat memberikan pengarahan sebelum keberangkatan mereka, Sabtu (24/5). Ketua Mabigus ini menyampaikan, “Sebagai ? gerakan nasional, Pramuka harus dijiwai sepenuh hati. Karena, Pramuka mengandung nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, dan sosial.”

Kepada Sembilan siswanya, pengasuh pesantren Al-Mizan ini menyatakan dukungannya. “Kegiatan ini sangat positif sekali untuk ? pengembangan karakter dan mental kalian sebagai pelajar.”

Haedar Nashir

Sembilan anggota pramuka ini antara lain Sidik Carsidik, Zaenal Muttakin, Muhammad Alif Patihin, Muhammad Maman Fathurrohman, Muhammad Andriawan, Riyanto Helvianto, Muhammad Ali, dan Oka Mahendra Saputera.

Sepenjang perjalanan, mereka tidak segan-segan membantu warga setempat yang tampak membubtuhkan pertolongan. Menurut Oka, rombongan pramuka ini tidak lupa memberikan salam kepada warga yang dilewati.

Haedar Nashir

“Selama perjalanan yang menempuh 9 jam ini, ketika bertemu dengan petani di sawah dan kebun, kami menyapanya dan sejenak istirahat sambil bercengkrama dengan mereka. Ketika tiba waktu sholat, kami pun berjamaah di masjid bersama masyarakat,” kata Oka.

Sebagai pelepas lelah, mereka menghibur diri dengan nyanyian sholawat yang diiringi peralatan seadanya. Kata Oka, “Ketika sampai di tujuan, kami mengadakan observasi dan riset kecil-kecilan tentang ? daerah yang nantinya akan kami laporkan kepada kepala sekolah.” (Wildan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Senin, 28 Agustus 2017

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Sleman, Haedar Nashir. Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa resmi dibuka, Senin (03/03). Pelatihan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan (3-9/3), di Gedung Youth Centre Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka Majelis Pendekar Pencak Silat PSNU Pagar Nusa, yang diwakili oleh Zainal. Sebelum membuka, Zainal menyampaikan mengapa pelatihan tersebut perlu diadakan.

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Pihaknya mengatakan bahwa salah satu hal utama adalah karena masalah penyeragaman gerakan dasar yang harus sesuai dengan buku panduan. “Sebab selama ini belum ada yang sama antara daerah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Haedar Nashir

Berdasarkan penuturan ketua panitia, M. Roghib, acara pelatihan pelatih nasional ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang merupakan delegasi dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya.

Haedar Nashir

Hadir dalam kesempatan itu beberapa tamu undangan, seperti PCNU Sleman, Polres Sleman, TNI, Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa DIY, Pimpinan Pusat PS NU Pagar Nusa, dan sejumlah undangan lain, termasuk pendiri PSNU Pagar Nusa.

Acara pun tampak meriah dengan penampilan group hadrah PMII Ashram Bangsa dan sejumlah atraksi dari PSNU Pagar Nusa. Keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebelumnya, dikatakan bahwa acara pelatihan pelatih ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Harlah Ke-28 Pagar Nusa, dan telah didahului oleh beberapa kegiatan lain. Seperti bedah buku, silaturrahmi majelis pendekar Pagar Nusa, dan puncak peringatan Harlah yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (Harlah) Pagar Nusa yang jatuh pada tanggal 3 Januari. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

.

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Warta, Nasional Haedar Nashir

Kamis, 10 Agustus 2017

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Yogyakarta, Haedar Nashir. Empat koperasi NU dari Yogyakarta dan Jawa Tengah menyatakan siap menghadapi tantangan pasar bebas masyarakat ASEAN 2015. Pengurus empat koperasi ini melakukan pembenahan internal sambil membangun jejaring dengan dunia bisnis lainnya.

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)
4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Mereka menyatakan kesiapannya pada acara pelatihan peningkatan kapasitas di Gedung PWNU DIY jalan MT Haryono 40-42, Yogyakarta, Kamis (20/11).

Pada pelatihan ini, mereka dilatih dengan sistem layanan berbasis teknologi. Empat koperasi ini juga mendapatkan bantuan masing-masing satu paket gadget sebagai bentuk dukungan sistem dalam pengelolaan yang akuntabel dan profesional.?

Haedar Nashir

"Ini akan kita lakukan bukan hanya di Yogya dan Jateng. Ini kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk seluruh Indonesia. Kita akan keliling. Semua ini untuk kebangkitan ekonomi NU menyambut tantangan ekonomi global," kata Bendahara PWNU Yogyakarat H Fahmi Akbar Idris.

Haedar Nashir

Fahmi menekankan sekali kelancaran arus perekonomian NU. "Jangan sampai ekonomi NU mandek. Kita harus siap menjawab tantangan global. Perbaiki standarnya, kapasitas personalnya, dan laporan keuangan yang akuntabel.”

Ia mendorong peningkatan kapasitas teknologi dalam perekonomian. “Semuanya harus kuat dan terukur. Karena, sistem ekonomi hari ini tak bisa lepas dengan perkembangan teknologi," tandas Fahmi. (Madun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Ahlussunnah, Hadits Haedar Nashir