Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria

Kudus, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati hari pahlawan, 10 November, Komunitas Jelajah Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) kembali melakukan kegiatan sejarah peradaban di Kota Kudus Jawa Tengah, Ahad (9/11). Kali ini, 30 aktivis Jenank mengadakan napak tilas pertempuran Muria di Kudus.

Menurut Koordinator Jenank Danar Ulil H, sejarah kota Kudus  memiliki kisah heroik para pejuang kemerdekaan dalam merebut dan mempertahankan bangsa ini dari penjajah. Sejarah ini terdapat dalam pertempuran di kawasan Muria Kudus.

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria

"Karenanya, napak tilas ini menyusuri beberapa titik lokasi perang mulai dari stasiun Wergu (sekarang Pasar Wergu), tugu identitas dan markas gerilya Desa Besito, Gebog, Kudus," katanya kepada Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Dalam mengakhiri acara bertema "Kudus, Secercah Darah Daulat Merah Putih", mereka berdiskusi sejarah Pertempuran Muria  di Monumen Macan Putih, Glagah Kulon, Dawe bersama sejarawan  Kudus Edy Supratno, dan Mbah Nasir, mantan kamituwo Glagah.

"Dalam diskusi ini keduanya memaparkan sejarah pertempuran kota Kudus. Mbah Nasir ini merupakan saksi hidup bagaimana masyarakat Glagah Kulon nyengkuyung perjuangan para pejuang kemerdekaan." tambah Danar yang juga aktivis MATAN Kudus ini.

Haedar Nashir

Seorang peserta napak tilas M. Khoirul Faizin mengatakan, belajar sejarah dengan mendatangi langsung lokasi ini sangat menyenangkan karena bisa mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan secara kontekstual.

"Selain itu, dengan narasumber yang relevan mampu mendekatkan kita kepada fakta sejarah yang sesungguhnya" ujar mahasiswa Universitas Muria Kudus ini. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 10 Februari 2018

Banom NU Subang Perkuat Organisasi dengan Silaturahim

Subang, Haedar Nashir. Keluarga Besar badan otonom Nahdlatul Ulama (banom NU)Kabupaten Subang memperkuat organisasi dengan menggelar silaturahim. Kegiatan tersebut dikemas dengan buka puasa bersama tersebut dilaksanakan di aula kantor Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Jumat(2/8).

Banom NU Subang Perkuat Organisasi dengan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Subang Perkuat Organisasi dengan Silaturahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Subang Perkuat Organisasi dengan Silaturahim

Banom NU tersebut terdiri dari Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Sarjana NU (ISNU), Fatayat NU, Ikatan Pelajar Putra NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU).

Menurut ketua panitia yang juga sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini sejatinya dijadikan sebagai sarana mempererat kesatuan yang ada di lingkungan para kader muda NU.

Haedar Nashir

“Kegiatan semacam ini dilakukan untuk menjalin dan mempererat hubungan emosional para kader NU yang tersebar di beberapa banom. Karena, dengan kesatuan ini akan memberikan wahana kebersamaan dalam sebuah gerakan menuju perubahan,” jelas Asep.

Sementara Bupati Subang Ojang Sohandi yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kader muda NU tersebut merupakan cerminan gairah menuju perubahan.

Haedar Nashir

“Tentu saya sangat mendukung apa yang menjadi agenda anak-anak muda NU ini. Karena, spirit yang dimiliki oleh anak-anak muda akan melahirkan kreativitas yang membangun,” jelas Ojang.

Ojang berharap agar kedepan banom NU di Kabupaten Subang semakin memberikan warna tersendiri untuk memberikan kontribusi positif ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh banom NU Subang ini, dijadikan sebagai pesan moral untuk kemudian bias dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas khususnya di Kabupaten Subang,” harapnya.

Selain diikuti oleh banom NU, hadir juga dalam kegiatan tersebut beberapa tokoh NU dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Subang. Bertindak sebagai penceramah adalah KH. Samanhudi yang juga sebagai salah seorang dosen di STAI Miftahul Huda Subang.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor: Ade Mahmudin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Sunnah Haedar Nashir

Selasa, 06 Februari 2018

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa berupaya menimba pelajaran dari sejarah perlawana-perlawanan kalangan pesantren terhadap kolonialisme bangsa-bangsa asing mulai Portugis, Spanyol, Belanda, Jepang, dan Inggris.

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Timba Sejarah Perlawanan Pesantren

Upaya itu dilakukan dengan membedah dua buku sekaligus “Kuasa Ramalan” karya Peter Carey dan buku “Lasykar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” karya Zainul Milal Bizawie. Bedah buku berlangsung di aula PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (21/1).

“Pagar Nusa ingin mengambil pelajaran dari kedua buku ini. Dari kedua buku ini Pagar Nusa diingatkan kedua buku ini bahwa pencak silat itu setua nusantara ini,” kata Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizudin Abdurrahman. ?

Haedar Nashir

Kedua buku ini, kata dia, ada benang merah yang menghubungkan perlawanan-perlawanan kaum pesantren untuk mengusir penjajah dari Indonesia.

Haedar Nashir

Pria yang akrab disapa Gus Aiz ini menambahkan, bedah buku ini salah satu rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) Pagar Nusa ke-28. “Pada tanggal 29 Januari akan ada silaturahim nasional. Sebelumnya akan diadakan ta’aruf dengan mempertemukan 50 orang pada majelis pendekar,” katanya.

Pada tanggal 30 Januari, kata dia, akan digelar halaqoh kebangsaan yang membahas posisi Pagar Nusa dalam konteks keamanan dan kestabilan negara, “Karena kita tidak tahu ke depan, keamanan negara itu seperti apa.” katanya.

Kemudian, rangkaian itu akan dipuncaki dengan istighasah dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Raden Cholil As’ad Syamsul Arifin.

Lebih lanjut Gus Aiz mengatkan, Pagar Nusa akan memprogramkan pelatihan pelatih silat mengajarkannya kembali di sekolah dan pesantren. “Sekarang kurang lebih ada 30 pesantren yang meminta Pagar Nusa untuk mengajarkan silat di pesantren masing-masing,” tambahnya.

Menurut dia, ada tiga tipologi dalam ilmu beladiri silat, yaitu sebagai tradisi, seni budaya dan prestasi. “Nah, yang di pesantren dan di sekolah ini yang akan digenjot ilmu silat sebagai prestasi,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Jakarta, Haedar Nashir. Pihak pemerintah RI, negara-negara ASEAN, dan PBB beserta UNHCR-nya harus bekerja keras meyakinkan otoritas Myanmar perihal hak-hak sipil ribuan warga etnis Rohingya. Ketiga pihak ini kalau keadaan menuntut, perlu menjatuhkan sanksi internasional dalam bentuk embargo atau sanksi lainnya terhadap otoritas Myanmar.

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Seruan ini dinyatakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi di Jakarta, Jumat (15/5) sore.

Menurut Kiai Masdar, Pemerintah RI perlu menyiapkan langkah-langkah ke depan untuk memulangkan imigran ini yang sementara ditampung dan menuntut otoritas setempat untuk mengembalikan hak-hak sipil mereka.

Haedar Nashir

Kalau memang etnis Rohingya ini diusir karena keyakinannya, maka PBB mesti menjatuhkan sanksi keras kepada otoritas negara setempat karena telah berbuat kejahatan kemanusiaan. Janganlah karena suku, agama, atau keyakinan mendiskriminasi warga bangsa.

“Tidak boleh mendiskriminasi manusia karena keyakinannya. Ini melanggar hak paling asasi yang diakui oleh seluruh umat manusia,” kata Kiai Masdar.

Haedar Nashir

Kalau otoritas setempat tidak mau memandang etnis Rohingya karena keyakinannya, maka mereka harus melihat warga Rohingya karena kemanusiaannya. Sama juga dengan mereka yang memandangnya sebagai manusia.

“Tanyakan kepada otoritas setempat itu, apakah mereka mau diperlakukan secara sewenang-wenang?” tegas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 02 Februari 2018

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

Satu persatu, hari demi hari, mulai berdatangan para diplomat di KBRI Roma, Italia menghampiri saya. Kedatangan mereka adalah untuk menunaikan kewajiban berzakat, seperti pada Senin (11/6) kemarin.

Semangat para diplomat untuk berzakat patut diapresiasi. Meski jauh di luar negeri, tetapi mereka masih peduli dengan masyarakat di Indonesia dengan menyisihkan sebagian rizki untuk berdekah, dan utamanya adalah kewajibannya untuk berzakat.

?

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

Saya dapat memahami, para diplomat meyakini bahwa dengan zakat yang mereka keluarkan kepada mustahiknya akan membuat rejeki mereka berkah dan bertambah.

Menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim dalam setiap perintah-Nya merupakan kebahagiaan bagi pelakunya. Baik perintah itu kewajiban setiap hari, seperti shalat lima waktu, perintah atau kewajiban mingguan, seperti shalat Jumat, kewajiban bulanan seperti berpuasa pada bulan Ramadhan, juga kewajiban tahunan seperti zakat fitrah.

?

Haedar Nashir

Ada juga kewajiban sekali seumur hidup jika mampu seperti ibadah haji, sebagaimana yang telah tertanam kuat dalam prinsip Islam, rukun Islam yang lima.

Dalam menunaikan kewajiban di dalam hukum-hukum Islam dikenal sebuah istilah yakni taklif. Artinya setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal wajib melaksanakan perintah yang telah ditetapkan dalam agama. Ketika seseorang itu belum mencukupi syarat tiga tersebut, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya.

Haedar Nashir

?

Dengan mengucapkan sepenuh hati dua kalimat syahadat, “Asyhadu An laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah,” maka sudah cukup syarat baginya disebut sebagai Muslim. Ketika seorang muslim laki-laki atau perempuan itu sudah baligh—ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan bermimpi keluar sperma bagi laki-laki—wajib hukumnya untuk melakukan shalat lima waktu dan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

?

Di samping syarat sudah baligh di atas, Muslim itu juga harus berakal sehat. Meskipun muslim sudah baligh tapi akalnya tidak sehat, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan shalat, puasa, dan haji.

Berbeda dengan zakat. Dalam berzakat tidak disyaratkan muslim itu harus berakal dan baligh. Selama seseorang itu muslim, maka wajib membayar zakat. Kalau dia belum baligh atau akalnya tidak sehat tetap wajib membayar zakat. Jangankan yang masih kecil, bayi baru lahir saja pada bulan Ramadhan wajib dibayarkan zakat.

?

Jangankan yang masih hidup, orang yang meninggal pada bulan Ramadhan pun wajib dibayarkan zakat. Siapa yang membayarkannya? Tentunya, orangtuanya atau orang yang menanggung biaya hidupnya. Zakat yang dimaksud di sini adalah zakat fitrah.

Marilah menunaikan zakat. Zakat dapat membuat berkah harta. Zakat dapat menentramkan hati pelakunya. Zakat dapat menyucikan hati dan harta. Zakat dapat menghapuskan dosa-dosa. Amin ya robbal ‘alamin.

Khumaini Rosadi, Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, PonPes, Khutbah Haedar Nashir

Senin, 29 Januari 2018

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Jepara, Haedar Nashir. Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda, Barang siapa puasa Ramadhan secara murni karena berdasarkan iman dan mencari ridha Allah, dalam satu riwayat dijelaskan orang itu bersih dari dosa-disa seperti ketika bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

Pada tanggal 1 syawal berani mengatakan tidak punya dosa? Jika tidak ada yang berani berarti tidak ada yang puasa secara sungguh-sungguh. Puasa paling hanya meninggalkan makan dan minum saja. Padahal Nabi sudah bersabda seperti hadis di atas.

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Demikian disampaikan Ketua Jami’iyyah Ahbabul Musthofa Kudus KH Ahmad Asnawi dalam Roadshow Pengajian dalam rangka 1 Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus di lapangan desa Gemiring, kabupaten Jepara, Kamis (14/7) malam.

Bagi Kiai Asnawi, potongan hadis seperti bayi yang baru lahir di atas menunjukkan tatkala Nabi menyamakan puasanya orang beriman dengan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya berarti alamat orang yang tidak mempunyai dosa mirip dengan bayi yang baru lahir.

Ia menyebutkan ada empat ciri orang yang bersih dari dosa. Pertama, tidak mempunyai rasa benci kepada orang lain. “Kalian pernah atau tidakmenjenguk bayi, terus kalian diludahi bayi karena menghinanya?” tanya Kiai Asnawi disambut tawa ribuan masyarakat yang hadir.

Haedar Nashir

“Makanya dulu Kanjeng Nabi ketika diludahi, dipukul bahkan dilempar kotoran orang tidak sakit hati. “Seandainya kalian dilempar kotoran oleh orang, terus mau kalian apakan?Selama dalam hati masih benci kepada orang lain itu menunjukkan masih mempunyai dosa,” sambungnya.

Kedua, tidak dibenci orang lain. Sebagaimana tidak ada yang benci ketika ada orang menjenguk seorang bayi, tentu pasti pada suka apapun keadaan bayi tersebut. “Lalu pasti ada pertanyaan, Nabi Muhammad kan tidak punya dosa, tapi kok banyak yang membenci?” singgung kiai yang mengajar ilmu Balaghah di MA Qudsiyyah itu.

“Ketika ada orang tidak mempunyai dosa kok dibenci, orang yang membenci pasti rusal akalnya. Makanya ada yang membencibayi, malah ibunya sendiri. Seperti bayi yang lahir di luar nikah dibenci ibunya, lalu kenapa begitu lahir, dibungkus plastik, lalu membuang bayinya ke sungai.Bayi pasti tidak salah,sedangkan ibu tersebut rusak akalnya,” jawabnya.

Haedar Nashir

Ketiga, semakin kuat dan tawakal kepada Allah. Seperti halnya bayi, tidak ada bayi yang ragu besok mau makan apa, atau bayi yang bingung sebab harga susu melonjak mahal. “Ada atau tidak bayi yang bingung karena gas LPG telat? Pasti bapaknya yang bingung, karena mempunyai dosa,” tuturnya kembali disambut gemuruh tawa ribuan hadirin.

Empat, orang yang tidak mempunyai dosa itu tidak ada yang ditakuti selain Allah. Makanya, bayi tidak takut apabila ditidurkan di samping macan, atau didudukkan di atas bom pasti cuma diam dan tertawa.

“Para wali Allah itu cerdas semua, tapi walinya Allah tidak takut apabila disandarkan sama macan,karena mereka tahu kalau Allah tidak memerintahmacat menggigit juga tidak akan menggigit. Yang mereka teakuti apa? Kenapa kita takut, itu karena kita mempunyai dosa,” terangnya.

“Monggo dibenahi, empat alamat tersebutdiraba sendiri-sendiri. Makanya bulan ini disebut syawal yang berarti peningkatan. Sehingga manusia kembali ke naluri kesucian,” ajar Kiai Asnawi. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Fragmen Haedar Nashir

Rabu, 24 Januari 2018

Hasyim Muzadi Tokoh Paling Berpengaruh dari Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dianggap memiliki cukup banyak tokoh yang memiliki pengaruh penting di dunia Muslim. Dari 500 tokoh yang disebut dalam buku The 500 Most Influential Muslim 2009, terdapat 15 tokoh Indonesia, dengan KH Hasyim Muzadi sebagai tokoh terpenting yang menduduki urutan ke 18 tokoh dunia atau urutan pertama untuk Indonesia. Tokoh paling berpengaruh adalah Raja Abdullah dan dilanjutkan dengan Ayatullah Khamanei.

Buku yang baru diterbitkan untuk edisi pertama ini diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center (di Jordan) bekerjasama dengan Georgetown’s Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.

Selasa, 23 Januari 2018

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan

Demak, Haedar Nashir. Organisasi yang baik dan profesional harus bisa menjalankan kaderisasi serta penataan manajemen yang baik. Kaderisasi sendiri harus berjalan di semua tingkatan dan diikuti oleh para pengurusnya.

“Syarat anggota ansor untuk bisa menjadi pengurus harus pernah mengikuti kaderisasi sesuai dengan tingkatannya masing masing,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Nusron Wahid dalam acara dialog dengan kader Ansor se Kabupaten Demak, Ahad (21/7) kemarin.

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan

Disamping kaderisasi, Nusron Wahid menginstruksikan pada pengurus untuk melakukan pendataan ulang anggota dikarenakan nantinya diproyeksikan pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) untuk pengurus dan anggota secara keseluruhan yang berbasis asuransi.

Haedar Nashir

“Tiap anggota harus punya KTA, ini nanti dimulai dari pengurus dulu. KTA yang berbasis asuransi ini milik ansor nantinya dikelola oleh Ansor sendiri,” tegas Nusron.

Haedar Nashir

Sementara itu ketua Ansor Demak H.Abdurrahman Kasdi dalam sambutannya menjelaskan dalam pertemuan dengan ketua umum sengaja mengundang pengurus sampai pada anak cabang yang dibalut dengan forum tanya jawab dan buka bersama karena diharapkan pertemuan dengan Ketum bisa banyak yang didapat oleh anggota.

“Kami sengaja mengundang panjenengan semua sampai anak cabang, karena mumpung bisa ketemu dengan ketum, semoga banyak hal yang bisa kita dapat dari beliau termasuk informasi terkini dari pusat,” harap Durrahman Kasdi

Acara dialog dan buka bersama kemarin, selain dihadiri pengurus cabang, anak cabang, dan satkoryon banser juga dihadiri rektor Universitas Wahid Hasyim H Noor Achmad serta ? banyak alumni pengurus cabang.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Sunnah, Ubudiyah Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga

Bireun, Haedar Nashir - Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga Kabupaten Bireun menghadirkan Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid untuk mengisi taushiyah peringatan Isra dan Miraj, Senin (2/5) malam. Pihak Dayah sengaja mengagendakan kehadiran dai kondang di Malaysia ini untuk peringatan bertema Memahami Dimensi Ilahiyah dan Insaniyah dalam Peristiwa Isra dan Miraj untuk Menghayati Misi Ilmiah Santri.

Habib Ali Zaenal Abidin merupakan murid pertama Habib Umar Al-Hafiz di Darul Musthafa, Tarim, Yaman. Ia kini aktif mengembangkan dakwahnya di negeri Jiran Malaysia melalui Majelis Darul Murtadha.

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga (Sumber Gambar : Nu Online)
Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga (Sumber Gambar : Nu Online)

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga

Ia kerap tampil di TV3 Malaysia, TV Al-Hijrah, dan dakwahnya juga dapat dengan mudah diakses melalui youtube melalui akun Cocombee.

Ketua penyelenggara Tgk Muhammad Khairi mengharapkan kehadiran Habib Ali ke Aceh khususnya Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga agar menambah khazanah keilmuan terutama menyangkut strategi dan pengembangan dakwah multimedia.

Haedar Nashir

"Mari kita gali ilmu dari Habib Ali dan kita pelajari manhaj dakwah yang membuatnya begitu sukses di negeri Malaysia," kata Tgk Khairi. (Jalil/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah

Pekalongan, Haedar Nashir. Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peran ulama dan umara (pemerintah) menjadi sebuah kesatuan penting dalam mewujudkan kehidupan yang ideal. Sudah semestinya, kedua elemen tersebut saling mengisi dalam perumusan berbagai kebijakan yang menyangkut kemaslahatan umat.

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada pembukaan Muktamar XII Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri di Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (15/1).

"Saya senang ketika banyak insiatif dari para ulama untuk ikut berperan aktif. Kita menunggu rekomendasi dari para ulama sehingga dapat kita adopsi menjadi kebijakan yang penting," terang Ganjar.

Menurutnya, peran ulama juga dapat menjadi kontrol bagi kebijakan yang akan diambil maupun yang telah dibuat oleh pemerintah.

Haedar Nashir

"Kalau umara, kita membuat kebijakan ada dasar filosofis sosiologis yang bisa kita terapkan untuk kebaikan umat manusia. Tapi ketika dasar pengambilan itu tidak tepat, mungkin kebijakan keliru. Maka, peran ulama menjadi penting, ketika banyak insiatif yang dimunculkan," papar Ganjar.

Lebih lanjut dijelaskan Ganjar, dalam konteks formal nantinya perlu ada upaya dari pemerintah untuk melibatkan para ulama dalam proses perencanaan pembangunan. Harapannya, para ulama dapat memberikan masukan, serta mengontrol. Hal ini juga sebagai wujud perkawinan peran ulama dan umara menjadi satu untuk membentuk program bersama

Haedar Nashir

Ditambahkan Ganjar, Muktamar dan Halaqah ulama ini juga dapat menjadi momentum bagaimana menyikapi sebuah perubahan zaman, yang diiringi dengan kemajuan teknologi.

"Islam sebagai rahmatan lil alamin tentu banyak nilai formula tuntunan ajaran yang dapat kita ambil," kata dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Anti Hoax, Sunnah Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi

Bandung, Haedar Nashir - Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Dianto Bachriandi menilai bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang sejuk sejak dahulu. Dengan demikian NU memunyai peran penting dan signifikan dalam memelihara stabilitas bangsa dengan upaya melakukan deradikalisasi gerakan-gerakan teroris.

"Terorisme mengacaukan situasi Indonesia, sehingga dominasi asing masuk ke Indonesia. Sebagaimana kasus 1965, situasi sudah kacau, lalu dikacaukan lagi oleh intervensi asing. Sebagaimana juga yang terjadi di Timur Tengah sehingga pihak asing mengambil keuntungan di bidang minyak," ungkap Dianto saat ditemui Haedar Nashir, Selasa (26/1) lalu.

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Komnas HAM Minta NU Cegah Radikalisme Lewat Kekuatan Ekonomi

Dianto melihat seharusnya NU tidak hanya melakukan deradikalisasi melalui pengajaran, tetapi pihaknya melihat ada satu yang harus NU perhatikan adalah kondisi ekonomi masyarakat di daerah-daerah yang menyuburkan sikap-sikap antikemapaman.

"Itu berpotensi dimasuki oleh niat-niatan teroris. Apa itu? Yakni kemiskinan. NU punya kekuatan ekonomi di situ " ujar pria yang juga Ketua TIM Investigasi Penanggulangan Terorisme itu.

Haedar Nashir

NU, menurutnya, bisa lebih banyak bekerja di desa sehingga banyak masyarakat di pedesaan yang tidak mudah terpancing dan diajak di tengah situasi kesulitan ekonomi.

Haedar Nashir

Pemerintah, kata Dianto, seharusnya juga melakukan hal yang sama yakni membantu peningkatan taraf ekonomi masyarakat . "Jadi upaya-upaya paling utama meredam radikalisme adalah memberi makan orang," pintanya. (M Zidni Nafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Sunnah, Lomba Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Yayasan Bhakti Beri Ansor Waykanan Penghargaan Sam Ratulangi

Waykanan, Haedar Nashir?



Sebagai apresiasi atas sejumlah kiprah positif dilakukan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Waykanan, Lampung, Yayasan Bhakti Baradatu akan memberikan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) di daerah itu penghargaan Sam Ratulangi.

Ketua Yayasan Bhakti Baradatu Markus Tri Cahyono, di Blambangan Umpu, Kamis (9/3), menyatakan, kiprah Ansor di Waykanan dipimpin aktivis Gusdurian Gatot Arifianto bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, seperti aktif mendorong diskusi kebangsaan lintas iman.

Yayasan Bhakti Beri Ansor Waykanan Penghargaan Sam Ratulangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Yayasan Bhakti Beri Ansor Waykanan Penghargaan Sam Ratulangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Yayasan Bhakti Beri Ansor Waykanan Penghargaan Sam Ratulangi

"Gerakan semacam itu sebelumnya jarang dilakukan di Way Kanan, sekarang menjadi cukup intens dilakukan Pemuda Ansor, mulai dari Riungan Kebangsaan, Festival Bhineka Tunggal Ika, Jagongan Ramik Ragom hingga Saresehan Kesetiaan Pancasila dengan merangkul Pemuda Khatolik, Pemuda Hindu, organisasi kepemudaan lain, termasuk para pelajar," ujar dia lagi.

Upaya tersebut menurut Markus, merupakan upaya nyata Pemuda Ansor dalam mengawal dan bergerak mengampanyekan keberagaman di daerah bermotto Ramik Ragom (Beragam) ini.

Haedar Nashir

"Pemuda Ansor Waykanan juga aktif mendorong sejumlah gerakan sosial seperti donor darah, filantropi pendidikan Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional yang mendorong anak kurang mampu memasuki Perguruan Tinggi Negeri. Pada intinya, kiprah-kiprah tersebut positif. Dan kami mengapresiasi langkah-langkah Pemuda Ansor," kata dia lagi.

Penghargaan Sam Ratulangi akan diberikan Yayasan Bhakti Baradatu untuk PC GP Ansor Waykanan beserta 10 ribu bibit ikan nila dan emas bersamaan pembukaan kegiatan Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) GP Ansor ke enam di Gedung PCNU, jalan lintas Sumatera, Kampung Tiuhbalak I, Kecamatan Baradatu, Jumat 10 Maret 2017 pukul 13.00 WIB.

Untuk diketahui, Dr Sam Ratulangi merupakan Pahlawan Nasional berkeyakinan Nasrani. Semasa hidupnya, ia selalu bergerak mengedepankan kepentingan masyarakat dan membawa perubahan positif bagi publik.

Pemilik nama lengkap Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi itu terkenal dengan falsafahnya, "si tou timou tumou tou" yang berarti "manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain".

"Kami menilai kiprah Ansor Waykanan sejalan dengan falsafah tersebut," papar Markus. (Syuhud Tsaqafi/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

Ketua PBNU Apresiasi Pendirian Pesantren Lansia di Sidoarjo

Sidoarjo, Haedar Nashir - Rencana pembangunan pondok pesantren lansia yang digagas oleh Lembaga Pendidikan Sosial Jamu Taqwa di Desa Sidokepung Kecamatan Buduran Sidoarjo, Jawa Timur, mendapatkan respon positif dari Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf. Ketua PBNU ini juga menyambut baik akan diluncurkannya pembangunan pesantren tersebut.

"Memang masih sedikit sekali yang mempunyai pesantren lansia. Dengan didirikannya pesantren lansia ini, mendatang para lansia secara kultur itu pas dan terarah. Mereka juga bisa belajar, berkarya dalam usia yang sepuh," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini usai menghadiri acara halal bihalal di Masjid Mustain Romly Desa Sidokepung Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (16/7).

Ketua PBNU Apresiasi Pendirian Pesantren Lansia di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU Apresiasi Pendirian Pesantren Lansia di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU Apresiasi Pendirian Pesantren Lansia di Sidoarjo

Sementara itu menurut Sekretaris LPS Jamu Taqwa, Achmad Syamsudin, pendirian pesantren lansia ini terinspirasi dari pesantren lansia yang berada di Joso Jombang. Di sana para lansia diberikan wawasan dan keilmuan sehingga mereka mendapatkan nikmatnya hidup.

"Kita juga mengajak para lansia untuk tetap mondok agar mereka mendapatkan ketenangan. Kriteria bagi yang ingin mondok usianya sekitar 40 tahun ke atas. Di mana mereka bisa menuntut ilmu dan menambah wawasan sehingga mereka bisa enjoy karena bertemu dengan sesama lansia, atau yang dulunya sering mondok akhirnya bisa mondok lagi. Dan perlu diketahui bahwa yang mondok nantinya tidak dipungut biaya," terang Syamsudin.

Haedar Nashir

Menurutnya, di pesantern lansia LPS Jamu Taqwa ini berbeda dengan panti jompo. Pasalnya, di pesantren tersebut banyak ilmu agama yang diberikan. Seperti menunaikan ibadah shalat, istighotsah, dan keilmuan lainnya. Sehingga orang lansia tidak jauh dari Allah.

Haedar Nashir

"Kita juga memberikan bekal kreatifivitas di bidang yang lain. Yang menjadi amalan kita adalah istighotsah. Karena itu adalah amalan dari guru kita yaitu istighotsah dan dzikir. Supaya hati mereka tenang. Orang sepuh itu pikirannya gundah, gelisah. Maka dari itu kita mendirikan pesantren lansia. Insya Allah kalau bangunan sudah selesai, tahun depan akan kita buka," ujarnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 09 Desember 2017

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pati, Haedar Nashir. Di tengah surutnya banjir yang mengepung kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, GP Ansor Sukolilo menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) guna membekali anggotanya dalam menghadapi tantangan pascabanjir. Sedikitnya 150 kader Ansor-Banser mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan ini dibuka langsung Ketua PC GP Ansor Pati Ahmad Sholhan. Ia mewajibkan seluruh anggotanya untuk terus bergerak dan bahu-membahu membantu korban pascabanjir. Selain materi-materi PKD, peserta pelatihan dibekali dengan materi pemulihan warga pascabanjir.

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

PKD berlangsung di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2). Pelatihan dimaksud untuk menciptakan kader berkualitas.

Haedar Nashir

“Kualitas artinya kader yang mandiri, peduli terhadap sekitar dan lingkungan, loyal terhadap organisasi, dan meneruskan perjuangan ulama yang senantiasa menjaga keutuhan NKRI,” terang Ketua PAC GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Sunnah, Cerita Haedar Nashir

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Pringsewu, Haedar Nashir



Peserta Musyawarah Daerah (Musda) kedua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu sepakat memilih KH Hambali untuk melanjutkan kepemimpinan MUI masa khidmah 2017-2022. Musda tersebut diselenggarakan di aula kantor Bupati Pringsewu, Selasa (8/8).

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Kiai yang terkenal sangat sederhana ini didukung secara mutlak dan mufakat tanpa melakukan voting oleh 16 suara yang berhak memberikan hak pilihnya. Sebanyak 16 suara tersebut berasal dari 1 suara MUI Provinsi Lampung, 2 suara MUI kabupaten, 9 suara MUI kecamatan, dan 4 suara dari perwakilan ormas, pondok pesantren dan perguruan tinggi.

Sesaat setelah terpilih menjadi Ketua MUI kedua kalinya, Kiai Hambali mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanggungjawab yang sangat berat.?

"Ini merupakan tugas yang tidak ringan. Namun saya yakin akan menjadi ringan jika dilakukan dengan bersama-sama oleh seluruh pengurus yang nantinya akan disusun," kata Wakil Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu ini.

Haedar Nashir

Beberapa program kerja MUI masa khidmah 2012-2017 yang selama ini ia pimpin akan dievaluasi secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai hal sehingga akan lebih baik lagi.?

"Nanti kita perdalam lagi Program Kerja kita pada Raker setelah Kepengurusan baru telah terbentuk,” katanya.

Seetelah terpilih, KH Hambali langsung bertemu dengan Bupati Pringsewu H. Sujadi di Kantor Bupati yang kebetulan berdampingan dengan aula tempat diselenggarakannya Musda.?

Pada kesempatan tersebut Bupati menyampaikan selamat atas telah terselenggaranya Musda dan berharap kedepan kepengurusan MUI Pringsewu akan lebih baik lagi.

Haedar Nashir

Bupati berharap juga MUI Pringsewu dapat melakukan terobosan-terobosan baru dalam berkhidmah memberikan kesejukan kepada umat. Sinergitas dan peningkatan kualitas hubungan dengan pemerintah daerah juga diharapkan akan terjain lebih baik lagi.

Hal ini sesuai dengan tema besar Musda kedua ini yaitu yaitu "Peningkatan Kualitas Hubungan Antara Umara, Ulama dan Cendikiawan Muslim dalam Rangka Pembangunan Pringsewu Bersahaja dan Bersenyum Manis". (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

Perihal Penyebutan Nama Allah

Oleh Rusdi Mathari*

Di sebuah grup WhatsApp, seorang kawan telah menegur kawan lainnya karena menulis “4JJI” untuk menyebut “Allah.” Alasan yang menegur, “4JJI” berbeda artinya dengan “Allah.” Dia meminta yang bertanya perbedaannya, agar bertanya pada kawan yang lain lagi yang dianggapnya lebih mengerti dan berkompeten untuk urusan semacam itu.

Diskusi agak memanas, dan saya lalu teringat pertanyaan istri saya untuk perkara yang sama.

Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Penyebutan Nama Allah

Apa yang disebut sebagai “Allah” oleh terutama orang-orang Islam, sebetulnya hanya istilah yang dibuat untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Tapi karena berbagai alasan, banyak orang kemudian percaya bahwa orang-orang Islam menyembah Allah yang berbeda dari Allah orang-orang Kristen dan Yahudi.

Haedar Nashir

Sebuah anggapan yang sebetulnya sama sekali keliru, karena sesungguhnya tidak ada keraguan seorang Muslim adalah menyembah Allah yang juga disembah oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dan Muhammad (shalawat dan salam untuk mereka semua).Bahwa orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam kemudian memiliki konsep yang berbeda tentang Allah, tentu benar adanya.

Haedar Nashir

Orang Islam, seperti halnya orang Yahudi misalnya, menolak kepercayaan Trinitas dan Inkarnasi Ilahi dari ajaran Kristen. Akan tetapi penolakan itu tak lalu, masing-masing penganut dari tiga agama menyembah Tuhan yang berbeda karena Allah hanya satu. Yahudi, Kristen dan Islam adalah kepercayaan yang mendaku sebagai “Agama Ibarahim” (Abrahamic Faith), dan ketiganya diklasifikasikan sebagai “monoteistik.”

Realitasnya, ada sebagian penganut Yahudi dan Nasrani yang kemudian selalu ingin membuat orang percaya, bahwa “Allah” adalah sebutan untuk para “dewa” orang Arab (silakan baca: The Moon-god Allah in the Archeology of the Middle East), dan Islam adalah benar-benar sesuatu yang “lain,” yang berbeda, dan tidak memiliki akar yang sama dengan Yahudi dan Kristen.

Tentu argumen semacam itu menggelikan, sebab dengan menganggap umat Islam menyembah “Allah” yang berbeda (karena mereka mengatakan “Allah”) adalah sama tidak logisnya dengan pendapat yang mengatakan, orang-orang Prancis menyembah Allah yang lain karena mereka menyebut “Dieu.” Orang-orang berbahasa Spanyol juga menyembah Allah yang berbeda karena berseru “Dios.” Atau mereka yang berbahasa Ibrani menyembah Allah yang tidak sama, karena mereka kadang-kadang memanggil Allah dengan sebutan “Yahweh.”

Sebagian yang lain lalu mengatakan, tentang “Allah” adalah bukan sekadar soal logika, dan itu problemnya. Sebab mereka yang mendaku setiap satu bahasa hanya menggunakan kata yang benar untuk menyebut Allah, sama artinya dengan menyangkal universalitas pesan Tuhan kepada umat manusia, untuk segala suku dan bangsa melalui para nabi yang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Dan hanya sedikit orang yang paham, tentang Allah sesungguhnya adalah kata yang sama dalam bahasa Arab yang digunakan orang-orang Kristen dan Yahudi untuk menyebut Allah.

Tengoklah Alkitab (Injil) berbahasa Arab, maka di sana akan tertera kata “Allah” digunakan seperti halnya “Allah” digunakan dalam bahasa Inggris: “Allah” adalah kata dalam bahasa Arab dan sama dengan kata dalam bahasa Inggris “God” dengan huruf “G.” Kata “Allah” itu pun bahkan tidak dapat dibuat jamak.

Lihatlah kata “El” dalam bahasa Aram yang adalah kata untuk Tuhan ketika Yesus berbicara, niscaya lebih mirip pengucapannya dengan kata “Allah” dibandingkan dari kata “God” dalam bahasa Inggris. Itu pula berlaku untuk berbagai macam kata untuk menyebut Tuhan dalam bahasa Ibrani: “El” dan “Elah,” atau “Elohim” (dimuliakan) itu.

Alasan kesamaan itu, karena baik bahasa Aram, Ibrani dan Arab adalah bahasa yang berasal-usul sama yaitu bahasa Semit.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” pada dasarnya sama dengan kata “Ilah” yang artinya Tuhan, dan karena itu makna dari kata “Allah” adalah juga sama dengan makna dari kata “Ilah.”

Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya.Dalam bahasa Arab, kata “Ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat, sementara kata “Allah” adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.

Ucapan seperti “Ya Ilahi” atau “Ya Allah” menunjukkan, tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “Ilah” kecuali yang satu (“Allah”) digunakan hanya untuk makna khusus, dan yang lain (“Ilah”) lebih digunakan untuk yang bersifat umum. Dalam buku “Tauhid dan Syirik,” Syrekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, sebab berasal dari satu akar kata yang sama.

Kalau kemudian ada kekhususan makna dari kata “Allah” seperti yang sejauh ini disebut oleh kaum Muslim, hal itu tak lain karena kebiasaan orang-orang Arab yang selalu menggunakan lafal “Al Ilah.” Penambahan kata “al” pada “Ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab “Majma’ul Bayan Jilid 9,” Al Thabarsi menerangkan, huruf “i” pada “Al Ilah” kemudian menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga “Al ilah” diucapkan sebagai “Allah.”

Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul penyebutan nama “Allah” juga diungkapkan Thabarsi dalam “Majma’ul Bayan Jilid 1”. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (pakar gramatikal tentang asal-usul lafal “Allah”) Thabarsi menjelaskan, perubahan dari “Ilah” menjadi “Allah” disebabkan penisbian atau peluluhan huruf “hamzah” di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah, yang tak bisa dipisahkan.

Maka ketika menyebut “Ya Allah,” pengucapannya bukan “Yallah” melainkan “Ya Allah.” Seandainya tidak ada huruf “hamzah” dalam kata aslinya, menurut Thabarsi, niscaya pengucapan “hamzah” tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.

Tentang “Allah” yang berasal dari kata “Ilah” dengan menghilangkan huruf “hamzah” dan menggantinya dengan kata “al” juga dijelaskan oleh Ar Raghib di buku “Al Mufradat.” Dalam pandangan Ar Raghib, sebutan “Allah” dikhususkan bagi nama Allah sebagai wajibul wujud, atau zat mutlak yang wajib ada.

Bisa dimengerti karena itu, para ahli tauhid memaknai “Allah” dan “Ilah” sebagai makna yang satu, yaitu Tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir, dalam kalimat tauhid “laa ilaha illallah” kata “Ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah) dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar).

Maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah secara hak kecuali Allah.”

Problemnya: banyak penganut agama Samawi, belum mengerti tentang asal-asal istilah dan sebutan “Allah,” sehingga banyak di antara mereka lalu saling mendaku soal Allah. Orang-orang Islam di sini, bahkan menuliskan “Allah” dengan “Alloh.” Alasannya bermacam-macam.

Sebagian menganggap, pengucapan “Allah” dengan “lah” tebal menyulitkan banyak orang mengucapkannya, dan untuk mempermudah dan agar mendekati pengucapan yang seharusnya, maka digantilah tulisan “Allah” dengan “Alloh.” Dan itulah rancunya, karena bahasa Arab, tidak mengenal vokal e dan o, kecuali hanya tiga vokal: fathah (a), kasrah (i) dan dammah (u).

Aneh rasanya, “Allah” kemudian ditulis “Alloh” apalagi diucapkan menjadi “Al-loh,” atau “rahman” ditulis “rohman” dan diucapkan “roh-man,” dan sebagainya, sebab tidak ada dasar bahasanya kecuali hanya dicari-cari. Itu sama dengan menuliskan “Jos” untuk pengganti “George,” atau “Nyu Yok” untuk “New York.” Dampaknya, kemudian berkembang juga penulisan “Awloh,” “Awoh,” dan sebagainya, yang jauh lebih ngawur dan berkesan olok-olok.

Muncul kemudian penulisan “4JJI” yang dipersoalkan dalam satu grup di WhatsApp itu. Mungkin maksudnya untuk memudahkan dan tidak terjebak dengan penulisan “Alloh,” tapi tulisan itu, hanya mendekat-dekatkan atau memirip-miripkan dengan tulisan “Allah” dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha. Dan karena disusun dengan huruf Latin, tulisan “4JJI” semestinya dibaca “empat-je-je-i” bukan “Al-lah.”

Alasan dari sebagian yang lain malah lebih ekstrem. Sengaja “Allah” dituliskan “Alloh”, karena alasan untuk membedakan “Allah” dalam Islam dan “Allah” yang disebut oleh kaum Nasrani. Allah lalu diklaim hanya milik agama tertentu, dan agama lain tak boleh memilikinya.

Itu misalnya pernah terjadi di Malaysia, ketika pemerintah dan ulama di sana melarang penggunaan “Allah” oleh orang Nasrani. Mereka menganggap tak satu manusia pun yang tidak memiliki pandangan keimanan yang sama dengan mereka, layak dan pantas menyebut “Allah.” “Allah” adalah milik mereka, kendati mereka juga tidak paham, siapa Allah dan mengapa harus disebut “Allah.”

Sungguh dengan semua nama dan sebutan “Allah,” manusia sesungguhnya tak bisa mengetahui hakikat Allah, kecuali hanya sedikit orang. Nama-nama, istilah atau apa pun sebutan yang ditujukan untuk menyebut Allah, hanyalah salah satu cara manusia untuk mengenal Allah. Dan di balik semua nama dan istilah itu, Allah adalah Allah, dan hanya Allah yang tahu akan Allah. Bukan manusia.

* Jurnalis. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tinggal di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Kiai, Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 21 Oktober 2017

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Jakarta, Haedar Nashir

Muktamar ke-33 NU yang dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015 bakal menyoroti berbagai persoalan dan mencarikan jawabannya dari sudut pandang agama. Salah satu pokok bahasan yang diangkat adalah tentang pasar bebas (free trade).

Persoalan seputar pasar bebas masuk dalam materi diskusi Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah. Komisi ini bertugas mengaji serangkaian problem dengan jawaban konseptual-tematik, tak sekadar halal-haram. Draf deskripsi masalah dan jawaban tentang hal ini telah rampung disusun melalui diskusi intensif para pakar yang terlibat dalam komisi yang diketuai Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir tersebut.

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Dalam draf itu dijelaskan, Indonesia yang tak bisa menghindar dari sistem perdagangan global dalam waktu dekat menghadapi salah satu mekanisme perdagangan global, yakni pasar bebas. Penjualan produk antar negara tidak lagi dikenakan pajak, bea masuk atau hambatan perdagangan lainnya. Peran pemerintah kurang lebih seperti wasit yang memastikan tidak ada kecurangan, sementara aturan mainnya ditentukan oleh regulasi internasional seperti GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intellectual Property Right), TRIMs (Trade Related Invesment Measures), AoA (Agreement on Agriculture) dan sebagainya.

Dalam konteks lokal Asia Tenggara, Negara-negara yang tergabung didalam ASEAN telah sepakat untuk memberlakukan pasar bebas yang disebut AFTA (Asean Free Trade Area) pada bulan Desember 2015. Beberapa poin kesepakatan AFTA antara lain adalah penghapusan pembatasan komoditas dan penghapusan bea masuk impor komoditas yang berada dalam kategori General Exception (GE). Di luar GE, diberlakukan CEPT- AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area), yakni tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif. Komoditas CEPT-AFTA umumnya adalah komoditas yang terkait dengan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan manusia, binatang, dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya.

Dengan diberlakukannya AFTA, arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil dan modal akan berputar secara bebas di antara negara ASEAN. Mereka yang memiliki daya saing tinggi akan meraup keuntungan besar, sementara yang tidak memiliki daya saing akan menjadi pasar bagi pihak lain. Berdasarkan data, Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia tahun 2014 berada di peringkat 34, sementara Singapura berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Sementara Filipina berada di peringkat 52, Vietnam di peringkat 68, Laos di peringkat 93, Kamboja di peringkat 95, dan Myanmar di peringkat 134.

Haedar Nashir

Dengan posisi ini, dapat dikatakan bahwa posisi Indonesia belum terlalu siap. Namun sekarang bukan waktunya mempertanyakan kesiapan Indonesia, karena AFTA akan dimulai beberapa bulan lagi. Pada aras inilah NU perlu tampil ambil bagian. Sebagai ormas keagamaan terbesar, NU diharapkan mampu memberikan landasasan syar’i agar penanganan pasar bebas (free trade) tetap mengacu kepada fitrah kemanusiaan. Sementera di level praksis, NU diharapkan mampu menyodorkan konsep yang mampu mengayomi warga dari serangan modal yang kian masif. ?

Dengan gambaran ini, tim khusus yang tergabung dalam Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah Muktamar ke-33 NU bersepakat untuk merumuskan tiga pertanyaan, antara lain, (1) bagaimana pandangan Islam tentang pasar bebas?; (2) bagaimana keberpihakan Negara kepada rakyat dan ekonomi nasional?; dan (3) apa yang perlu dilakukan oleh NU sebagai jam’iyyah?

Selain soal pasar bebas, Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah juga akan mengupas lima masalah lainnya, di antaranya metode istinbath hukum (bayani – qiyasi-maqashidi), khashaish ahlus-sunnah wal-jamaah, hutang luar negeri, hukuman mati dalam perspektif HAM, serta asas praduga tak bersalah. (Mahbib)

?

?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Tokoh, Sunnah Haedar Nashir

Kamis, 28 September 2017

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Pamekasan. Haedar Nashir - Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho berkunjung ke kantor PCNU setempat di Jalan R Abdul Aziz, Selasa (22/11). Kehadirannya disambut langsung oleh Ketua PCNU KH Taufiq Hasyim beserta pengurus teras PCNU.

"Kami berkunjung ke PCNU Pamekasan guna menguatkan tali silaturahmi. Alhamdulillah kehadiran kami disambut dengan hangat dan penuh keakraban," terang Kapolres AKBP Nowo.

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Menurutnya, NU merupakan organisasi terbesar di dunia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan dan kebangsaan. Kesetiaannya pada NKRI tidak diragukan lagi.

"Selain bermaksud silaturahmi, kami juga sepakat untuk menjalin kesepakatan atau kerja sama secara kelembagaan," terang AKBP Nowo.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kiai Taufiq Hasyim membenarkan bahwa pertemuan kedua pihak menghasilkan beberapa kesepakatan. Salah satunya, berupa kerja sama tentang penyikapan atas hate speech atau ujaran kebencian.

"Insya Allah, Kamis lusa (24/11) pukul 09:00 WIB kami akan menandatangani kerja sama ini di Mapolres tentang hate speech," tetang Kiai Taufiq. (Khairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Rabu, 16 Agustus 2017

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Brebes, Haedar Nashir - Grup drumben Ansoruna GP Ansor Brebes turut memeriahkan Kirab Budaya pada Hari Jadi Ke-338 Kabupaten Brebes. Penampilan Ansoruna menarik simpati para pengunjung kirab di sepanjang jalan yang mengambil rute dengan awal di gedung dewan, Jalan Jend Sudirman, Jalan Tritura, dan berakhir di alun-alun kabupaten setempat.

“Kami ingin menghibur sekaligus memperkenalkan Ansor di tengah masyarakat,” kata Koordinator drumben Ansoruna Bayu Murohman di sela kegiatan, Selasa (19/1) sore.

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Sepanjang pementasan, grup ini mempersembahkan lagu-lagu nasional dan shalawatan dalam ritme yang indah dan enak didengar. Tak terkecuali dua mayorete lelaki sesekali menghempaskan tongkat ke angkasa kemudian ditangkap kembali.

Haedar Nashir

Kirab dilepas dari Halaman DPRD Brebes oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang ditandai dengan pemberiaan Pataka Brebes dari Ketua DPRD Brebes yang diwakili anggota Hery Fitriyansah.

Di alun-alun sembari menyaksikan kirab, masyrakat dipersilakan makan gratis sesuka hati yang disediakan oleh pedagang alun-alun. “Saya menggratiskan kepada masyarakat, karena malam harinya sudah dibeli oleh Bupati,” terang salah seorang pedagang di alun-alun, Gareng.

Haedar Nashir

Selain drumben, kirab budaya juga menampilkan kereta kencana yang ditumpangi Hj Idza Priyanti bersama suami Kompol H Warsidin. Sementara 30 andong ditumpangi Wakil Bupati Narjo beserta istri Srilegiastuti, para Forkompinda, Kepala SKPD, camat dan pejabat instansi vertikal lainnya.

Tampak batik karnaval yang diperagakan oleh para Sinok Sitong Kabupaten Brebes. Terlihat juga barisan kesenian khas daerah dari 17 kecamatan se-Kabupaten Brebes seperti barongsai, singa barong, rebana, dan lain-lain.

Di sepanjang perjalanan, Hj Idza menaburkan beras kuning kepada masyarakat yang tentu saja ada uang recehan. Anak-anak dengan sigap berebut uang tersebut. Siapa saja yang mendapatkan, ia bisa menggunakannya untuk membeli minuman. Bupati Brebes ini menaburkan permen sehingga menambah suasana meriah.

Di panggung kehormatan, tari Rumangsa sebagai pembuka acara dipentaskan. Tarian ini mencerminkan kegembiraan, keceriaan, dan suka cita remaja putri yang menginjak dewasa. Karenanya dalam tarian tersebut para penari sangat energik dalam setiap gerakannya.

Kegembiraan itu tergambarkan pula dalam tarian Rumangsa dengan gerak lincah dan penuh semangat. Terlihat sekelompok remaja putri menari dengan lincah. Tarian Rumangsa juga menggambarkan keragaman budaya yang dimiliki Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Kajian, Kiai Haedar Nashir

Sabtu, 22 Juli 2017

PW Muslimat NU DKI Gelar Jalan Sehat

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta mengadakan pawai jalan sehat. Jalan sehat diikuti arak-arakan panjang yang dimulai di muka Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad (23/6) pagi. Arak-arakan panjang ibu-ibu Muslimat NU DKI Jakarta berakhir di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

PW Muslimat NU DKI Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Muslimat NU DKI Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Muslimat NU DKI Gelar Jalan Sehat

Sedikitnya 10.000 peserta arak-arakan jalan sehat. Mereka meliputi pengurus dan kader Muslimat NU DKI Jakarta mulai pengurus ranting hingga anak ranting Muslimat NU di Jakarta. Antara Gedung PBNU dan TIM, arak-arakan jalan sehat menyusuri jalan Raden Saleh, Cikini, dan Gondangdia Raya.

Gelar Jalan Sehat dan lomba menari serta mewarnai oleh siswa-siswi pendidikan anak usia dini (PAUD) binaan Muslimat NU diadakan dalam rangka memperingati harlah ke-67 Muslimat NU. 

Haedar Nashir

“Gerakan Jalan Sehat dimaksudkan bahwa Muslimat NU DKI Jakarta tidak hanya memerhatikan persoalan rohani dengan gerakan dakwah, tetapi juga kesehatan jasmani,” tegas Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj. Hizbiyah Rochim saat dihubungi Haedar Nashir, Ahad (23/6) siang.

Haedar Nashir

Peserta jalan sehat mengenakan seragam training dan kaos putih dengan lengan panjang hijau. Sementara bus dan angkutan yang mengantarkan mereka ke Gedung PBNU tengah memadati halaman parkir TIM.

Sementara Panitia Jalan Sehat Muslimat NU DKI Jakarta membagikan hadiah bagi pemenang lomba menari dan mewarnai yang diiukti oleh siswa-siswi pendidikan anak usia dini (PAUD) binaan Muslimat NU.

Dari atas panggung yang membelakangi Planetarium TIM, panitia membagikan doorprize berupa aneka alat elektronik dan sepeda motor.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen, Sunnah Haedar Nashir