Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat

Jakarta, Haedar Nashir. KH Maruf Amin, Rais Aam PBNU bersama Ketum Muslimat terpilih Hj Khofifah Indar Parawansa mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesi, H Jusuf Kalla menabuh rabana secara bersamaan menutup Kongres XVII Muslimat NU, Sabtu (26/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Jelaskan Pengecualian Suksesi di Tubuh Muslimat

Sebelumnya, KH Maruf Amin mengatakan dalam sambutannya, Muslimat NU itu satu-satunya badan otonom NU tertua. Banom NU yang paling banyak amal sosialnya, mulai dari rumah sakit, pendidikan, ekonomi, dan koperasi yang hingga menyentuh masyarakat bawah.

Setelah itu, satu kekuatan Muslimat yang paling memberikan pengaruh adalah karena pengurus Muslimat kebanyakan istri dari kiai NU. "Bahkan orang tuanya kiai NU," kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf Amin dihadapan Wakil Presiden dan peserta Kongres mengucapkan selamat sukses atas terselenggaranya Kongres XVII Muslimat dan terpilihnya Khofifah.?

Sebagai pimpinan tertinggi di NU, Kiai Maruf mengatakan, aturan PBNU untuk ketua badan otonom maksimal dua periode. Karena ini sudah menjadi keinginan dari seluruh anggota Muslimat se-Indonesia, maka PBNU menghormati pilihan dan keinginan para anggota Muslimat.

Haedar Nashir

Kiai Maruf menjelaskan, di PBNU itu ada dua hukum. Pertama,? hukum asli yang tertera dalam AD/ART NU dan kedua hukum istina atau hukum pengecualian. "Muslimat NU ini badan otonom yang memiliki hukum pengecualian," tegas Kiai Maruf Amin disambut tepuk tangan meriah.

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres.?

Dengan demikian, perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini memegang pucuk pimpinan Muslimat NU selama 4 periode (2000-2021).? (Rof Maulana/Fathoni)



Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri

Sukoharjo, Haedar Nashir. Santri di masa kini tetap perlu memerhatikan life style, serta memilah mana yang merupakan budaya dan agama. Dengan tetap berpegang pada teladan Rasulullah, santri diharap dapat menjaga kepribadian saat berbaur di masyarakat.

Prinsip inilah yang menjadi landasan terselenggaranya kegiatan Self Development Program atau program pengembangan diri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Sabtu-Ahad (11-12/11).

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Windan Belajar Program Pengembangan Diri

Selama dua hari tersebut, para peserta yang berasal dari santri setempat, mengikuti sejumlah materi yang disampaikan oleh pengasuh pondok yang juga Wakil Syuriah PWNU Jateng KH M Dian Nafi’.

Lurah pondok Al-Muayyad Windan Nurul Musthofa menjelaskan kegiatan "Self Development Program" ini setara dengan AMT (Achivement Motivation Training).

“Kita harapkan melalui program ini, dapat semakin melatih kepekaan berfikir optimis dan positif dalam berkehidupan para santri,” terang dia.

Haedar Nashir

Adapun materi yang disajikan seperti  pendidikan pembebasan ala Paulo Freire yang menerapkan aksi plus refleksi dalam metodenya, kemudian tes psikologi dan materi pembelajaran tarsana untuk bekal santri terjun melatih masyarakat belajar membaca Al-Quran.

Haedar Nashir

Di pondok Al-Muayyad Windan sendiri menerapkan pola pembelajaran untuk mengenali diri lebih dalam. Dalam tiga tahun pertama para santri akan menjawab tiga pertanyaan pokok. 

Pertama, menjawab pertanyaan, siapa saya? Kedua, menjawab siapa diri ini bersama orang lain. Kemudian yang ketiga, siapa diri ini untuk orang lain.

Setiap level perlu dijawab oleh santri dalam waktu satu tahun lamanya. Menurut sang pengasuh, Kiai Dian Nafi’, santri harus menemukan siapa jati diri yang sesungguhnya itu.

“Dengan itu pula Al-Muayyad Windan meneruskan tradisi tua pesantren nusantara, yaitu dalil agama diupayakan menubuh ke dalam pengamalan para santri, kemudian dikaitkan dengan pengalaman pendampingan masyarakat agar mereka dapat hidup bermartabat di ruang publik,” tutur Kiai Dian. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Kamis, 15 Februari 2018

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini

Jember, Haedar Nashir - Konsistensi Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia (PMII) Jember, Jawa Timur untuk menolak tambang emas, layak diapresiasi. Setelah sekian lama isu tambang emas mengendap, kini menguap lagi. Karena itu, untuk kesekian kalinya, PMII Cabang Jember turun ke jalan memprotes rencaan penambangan emas di Jember, Jumat (26/8).

Dengan mengusung berbagai spanduk yang berisi kecaman dan imbauan untuk menghentikan rencana penambangan emas itu, puluhan aktivis PMII mendatangi gedung DPRD Jember. Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Jember, NNP. Martini dan sejumlah anggota dewan di halaman gedung DPRD.

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Tambang Emas, PMII Jember Tuntut 4 Hal Ini

Menurut korlap aksi, Abdul Rasyid, apa pun dan bagaimanapun alasannya, Jember tetap wajib menolak tambang emas. "Tambang emas wajib kita tolak karena jauh lebih banyak mudlaratnya daripada manfaatnya," tukasnya dengan berapi-api.

Rasyid menambahkan, pihaknya sangat khawatir Pemda Jember tidak berdaya ketika pemerintah pusat berkenan untuk merekomendasi pertembangan di Jember. Sebab, segala perizinan sudah diambil alih oleh pemerintah provinsi. Namun yang perlu diingat adalah? bahwa yang akan menjadi lokasi penambangan adalah wilayah Jember, sehingga otomatis yang akan menerima dampak penambangan adalah warga Jember.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, Rasyid menuntut beberapa hal. Pertama, Pemerintah Kabupaten Jember harus menyiapkan regulasi antisipatif terhadap otoritas pemerintah pusat dalam perijinan tambang. Kedua, hentikan manuver perizinan yang dilakukan anggota legislatif. Ketiga, hentikan segala bentuk aktivitas penambangan di Jember. Keempat, Kapoles Jember? harus bertanggung jawab terhada penangkapan penamabang ilegal di Silo. "Itu semua tutuan kami. Namun yang juga penting adalah warga Jember wajib melawan rencana penambangan emas tersebut," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jember, NNP. Martini mengaskan, pihaknya tetap menolak rencana penambangan emas di Jember. Menurutnya, suara dewan sama dengan suara para aktivis PMII dan masyarakt Jember secara umum. Yaitu menolak tambang.

Haedar Nashir

Dikatakan Martini, sumber daya alam bukan hanya emas, tapi cukup banyak. Dan jika itu dikelola dengan baik, maka pasti menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. "Kalau soal kekhawatrian adik-adik mahaiswa, itu juga menjadi? kekhawatiran kami. Karena itu, mari kia bersma-sama berjuang menelok emas agar gemanya lebih," urai Martini. (aryudi a razaq/abdullah alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga

Bireun, Haedar Nashir - Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga Kabupaten Bireun menghadirkan Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid untuk mengisi taushiyah peringatan Isra dan Miraj, Senin (2/5) malam. Pihak Dayah sengaja mengagendakan kehadiran dai kondang di Malaysia ini untuk peringatan bertema Memahami Dimensi Ilahiyah dan Insaniyah dalam Peristiwa Isra dan Miraj untuk Menghayati Misi Ilmiah Santri.

Habib Ali Zaenal Abidin merupakan murid pertama Habib Umar Al-Hafiz di Darul Musthafa, Tarim, Yaman. Ia kini aktif mengembangkan dakwahnya di negeri Jiran Malaysia melalui Majelis Darul Murtadha.

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga (Sumber Gambar : Nu Online)
Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga (Sumber Gambar : Nu Online)

Nanti Malam, Habib Ali dari Malaysia Tampil di Dayah MUDI Samalanga

Ia kerap tampil di TV3 Malaysia, TV Al-Hijrah, dan dakwahnya juga dapat dengan mudah diakses melalui youtube melalui akun Cocombee.

Ketua penyelenggara Tgk Muhammad Khairi mengharapkan kehadiran Habib Ali ke Aceh khususnya Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga agar menambah khazanah keilmuan terutama menyangkut strategi dan pengembangan dakwah multimedia.

Haedar Nashir

"Mari kita gali ilmu dari Habib Ali dan kita pelajari manhaj dakwah yang membuatnya begitu sukses di negeri Malaysia," kata Tgk Khairi. (Jalil/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Kader Ansor dan Baanar Aktif Sosialisasikan Bahaya Narkoba ke Masyarakat Sidoarjo

Sidoarjo, Haedar Nashir. Guna mengantisipasi adanya peredaran narkoba di wilayah Krian dan sekitarnya, pengurus ranting GP Ansor Ponokawan bersama Baanar PAC GP Ansor Krian, Sidoarjo mengadakan sosialisasi bahaya penyalagunaan narkoba di balai Desa Ponokawan yang diikuti sekitar 80 peserta, Sabtu (28/1) lalu.

Kader Ansor dan Baanar Aktif Sosialisasikan Bahaya Narkoba ke Masyarakat Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor dan Baanar Aktif Sosialisasikan Bahaya Narkoba ke Masyarakat Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor dan Baanar Aktif Sosialisasikan Bahaya Narkoba ke Masyarakat Sidoarjo

Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Ponokawan, Krian, Sidoarjo, Ahmad Solik menyatakan bahwa melalui acara kali ini, pihaknya sengaja menggandeng Baanar PAC GP Ansor Krian dalam membentengi kader yang ada di ranting dari maraknya bahaya penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba.

Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dan kerjasama dengan organisasi kepemudaan dalam melakukan sosialisasi dan penyuluhan bahaya narkoba yang marak terjadi baik di kalangan pelajar hingga masyarakat umum.

"Kami akan memperkuat sinergi denga okp-okp dan komunitas-komunitas yang ada di ranting untuk selalu mewaspadai bahaya narkoba ini. Kami juga terus melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba ini," kata Ahmad Solik.

Menurut ketua Baanar PAC GP Ansor Krian, Ainur Rofiq menjelaskan bahwa dengan adanya sosialisasi ini, pihaknya akan memberikan pencerahan dengan format diskusi atau dialog tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, sehingga masyarakat bisa mengerti dan minimal bisa membentengi diri dari bahaya narkoba.

Haedar Nashir

"Minimal diri sendiri maupun keluarga terdekat bisa terhindar dari bahaya narkoba. Karena kalau sosialisasi itu terus dilakukan bisa menekan bahkan terhindar dari kegiatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di masyarakat," tegas Rofiq.

Sementara itu menurut Ketua PAC GP Ansor Krian Sidoarjo, M Azwar Annas menegaskan bahwa, pasca diadakannya acara sosialisasi penyalagunahan narkoba ini, pihaknya berharap ke depan Baanar PAC GP Ansor Krian tetap istiqomah melakukan sosialisasi bahaya narkoba.

"Kami berharap kepada Baanar PAC GP Ansor Krian untuk berjuang serta terus melakukan sosialisasi melawan penyalahgunaan narkoba ke ranting-ranting yang lain maupun ke sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Krian," harap Annas. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Baru-baru ini, sebuah stasiun televisi swasta menyatakan permintaan maaf kepada publik karena terdapat kekeliruan pada tulisan ayat Al-Qur’an yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Masih terdapat silang pendapat apakah hal ini merupakan kesalahan teknis dalam penulisan ayat tersebut atau karena kapasitas ustadzah memang lemah dalam menulis huruf Arab. Sejauh ini, keluhan terhadap kapasitas keilmuan penceramah di tv sudah seringkali diungkapkan ke publik, toh tetap saja, penceramah dengan kapasitas ilmu agama minimal masih menghiasi layar kaca. Kita menginginkan stasiun tv menampilkan tokoh sekualitas KH Quraish Shihab atau Gus Mus yang memiliki kemampuan agama sangat dalam dalam bidangnya membawakan ajaran Islam dengan jernih. 

Beragamnya siaran dakwah yang dikemas dengan berbagai bentuk harus diapresiasi. Ini tentu hal yang baik bahwa siaran dakwah menjangkau masyarakat yang lebih luas. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi favorit publik ketika sudah muncul di layar kaca dan kemudian sibuk sekali berceramah dari panggung ke panggung karena memiliki kemampuan retorika yang sangat baik yang menyenangkan jamaah.

Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Kebanyakan seleksi ustadz yang masuk ke TV adalah kemampuan mereka dalam beretorika atau menghibur jamaah. Karena itu, kemudian, muncul dakwahtainment, memposisikan dakwah dengan gaya sebuah entertainment atau hiburan, yaitu unsur hiburannya lebih dominan daripada dakwahnya sendiri. Karena kemampuannya dalam menghibur yang ditonjolkan, maka tak jarang kapasitas keilmuannya menjadi nomor dua. Sudah berulangkali, penceramah di tv harus minta maaf kepada publik karena kesalahan dalam ceramah. Belum lagi penjelasan yang janggal dan berputar-putar atas tema tertentu yang sesungguhnya menunjukkan penguasaan atas khazanah keislaman yang belum memadai.

Kelompok Nahdliyin, dengan puluhan ribu pesantren telah menghasilkan para ahli agama dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Di banyak pesantren, juga ada materi khitabah atau berpidato yang mengajarkan pada santri bagaimana berdiri di depan publik dan menyampaikan ceramah keagamaan, baik dalam khutbah atau dalam ceramah umum. Sudah seharusnya kita mampu melahirkan para dai yang kompeten, bukan hanya di panggung atau majelis, tetapi juga menjangkau pemirsa di lingkungan yang lebih luas. 

Soal kapasitas melucu, jangan ditanya lagi, kalangan pesantren memiliki keahian dalam membuat lelucon. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan guyon-guyon segar di antara para teman sesama santri. Saat di panggung, mereka tahu kapan jamaah sudah mengantuk dan perlu mengeluarkan leluconnya. Toh, bagi mereka, pesan keagamaan tetap menjadi nomor satu. 

Sudah selayaknya jika dai-dai Nahdliyin mampu menjangkau ruang yang lebih besar. Pencapaian mereka saat ini masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada. Sayangnya, ruang-ruang publik yang ada tidak diberikan dengan gratis karena ada banyak orang atau kelompok yang ingin menguasainya. Ada kelompok, yang secara jumlah kecil, tetapi militan dan vokal. Mereka ingin menguasai panggung untuk memperluas jangkauan pengaruhnya. Sementara itu, budaya yang hidup di kalangan santri jika tidak diminta, belum tentu mau. Jika ada yang lebih tua, mempersilakan guru atau orang yang lebih tua terlebih dahulu. Kerendahan hati merupakan bagian dari sikap keagamaan yang telah mendarah daging. 

Haedar Nashir

Dengan adanya pihak-pihak yang secara keilmuan pas-pasan tetapi ingin merebut ruang dakwah ini, tentu sudah selayaknya jika para dai NU mulai memikirkan ulang sikap saat berkontetasi dengan pihak luar. Harus dibedakan mana saat saling mempersilakan di antara sesama dai dalam komunitas yang sama, dengan ideologi yang sama, dan dengan kelompok lain yang akan menggunakan ruang-ruang dakwah untuk memperjuangkan ideologi, yang bisa merupakan bagian dari penyebaran Islam transnasional, dengan segala kamuflasenya.

Selanjutnya, kita juga harus memperluas ruang dakwah seiring dengan adanya media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi dan interaksi. Tak ada pilihan selain ikut menguasai ruang-ruang tersebut atau pada akhirnya area tersebut menjadi ajang persebaran ideologi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamiin sebagaimana yang terjadi saat ini. Semakin lama, masyarakat semakin tergantung pada internet, termasuk ketika mencari materi-materi keagamaan.

Dakwah via internet ini yang tampaknya belum disiapkan di lingkungan pesantren karena sebagian besar pusat pendidikan Islam khas Indonesia ini masih melarang para santri mengakses internet. Para santri perlu diajari bagaimana memproduksi konten-konten produktif dan ramah, juga belajar soal literasi digital. Kini, sudah mulai ada kiai yang menyiarkan pengajiannya melalui kanal Facebook. Ke depan, mereka yang memanfaatkan ruang ini diharapkan semakin bertambah. 

Haedar Nashir

Kita dapat mengisi internet dengan rujukan-rujukan keislaman yang otoritatif dengan berbagai sudut pandang yang mampu membuat masyarakat memahami keragaman pandangan keislaman, dan kemudian memilih salah satu yang menurutnya paling benar, tetapi tidak menyalahkan pandangan lainnya. Kita memiliki pakar dalam bidang fiqih, qur’an dan hadits, tasawuf, dan bidang-bidang kajian keislaman lainnya. Tinggal bagaimana memberi ruang bagi mereka untuk berekpresi. Mereka yang menguasai internet, menguasai masa depan dari pikiran umat Islam Indonesia. (Achmad Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, IMNU, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’

Jombang, Haedar Nashir

Mencermati kondisi mutakhir persatuan bangsa, keluarga besar Pesantren Tebuireng dan civitas akademika Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) menyampaikan rumusan Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Pesan keprihatinan itu dibacakan oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat menutup acara peresmian Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari, Ahad (5/2).

Gus Sholah menilai, bangsa Indonesia adalah adikarya para pendiri bangsa yang amat ideal. Namun, perjalanan 71 tahun belum cukup memadai untuk bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan secara nyata. "Kita masih menghadapi banyak masalah mendasar yang harus diselesaikan," kata salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu.

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah ‘Mitsaqan Ghalidhan’

Bagi kalangan pesantren, Pembukaan UUD 1945 adalah mitsaqan ghalidhan (kesepakatan kokoh) para pendiri bangsa yang menjadi dasar bangunan negara sebagai pengejawantahan dari cita-cita bangsa Indonesia. Di dalamnya tercantum tujuan didirikannya negara dan dasar Negara Pancasila. "Karena itu, Pembukaan UUD 1945 adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa diubah," tegasnya.

Haedar Nashir

Menurut adik kandung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid ini, keindonesiaan dan keislaman yang semula dipertentangkan, telah berhasil dipadukan oleh para pendiri bangsa. "Perpaduan yang merupakan faktor utama persatuan Indonesia dan berpotensi menjadi model bagi dunia ini, harus kita kawal dan rawat bersama. Jangan sampai dilemahkan," tutur Rektor Unhasy itu.

Selama hampir 40 tahun setelah kemerdekaan, pertentangan itu masih ada. Dan, proses perpaduan itu mencapai puncak kematangannya pada 1984, saat NU secara resmi menerima Pancasila.? "Ironisnya, saat ini kita melihat ada gejala yang mempertentangkan lagi," ujarnya.

Haedar Nashir

Diakui oleh Gus Sholah, salah satu hal yang mendasari lahirnya pesan kebangsaan ini adalah timbulnya ontran-ontran (gonjang-ganjing) politik, terutama karena pilkada DKI. "Ada kesan, yang mendukung Ahok bukan Islam. Sedangkan yang tidak mendukung Ahok bukan Indonesia. Itu dua-duanya keliru," tegasnya.

Selain merespons situasi politik, pesan kebangsaan itu juga menyoroti fenomena ketidakadilan sosial dan ekonomi yang ada di tengah masyarakat. Juga jaminan hak dasar yang harus terus dipenuhi oleh negara secara bertahap. "Termasuk jaminan kebebasan beragama, perlu diterapkan secara utuh di dalam masyarakat," tandas mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Keluarga besar Pesantren Tebuireng juga berharap, peran aktif Indonesia yang berdaulat dalam perdamaian dunia sebagai tujuan bernegara perlu ditingkatkan.

?

Untuk mewujudkan semua itu, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi. Antara lain, diredamnya (potensi) konflik dan tumbuhnya rasa saling percaya antar kelompok masyarakat dan penegakan hukum yang menjamin keadilan. Juga, perbaikan akhlak bangsa, khususnya generasi muda dan mencegah merebaknya penyakit sosial.

Perbaikan birokrasi penyelenggara negara supaya efisien, efektif dan tidak korup juga tidak kalah penting. "(Prasyarat terakhir), hadirnya partai politik yang punya idealisme dan dipimpin oleh tokoh negarawan," urai Gus Sholah.

Acara yang berlangsung di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim Tebuireng itu juga dihadiri oleh mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga, wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Kediri, Haedar Nashir

Kesebelasan Quen Al-Falah Ploso Mojo Kediri dan Darut Taibin (DaTa) Tulungagung menyusul An-Nur 2 Malang lolos ke babak semifinal kompetisi Liga Santri Nusantara Region Jatim II di Stadion Brawijaya Kota Kediri.

Sementara kesebelasan Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri batal lolos ke babak semifinal karena kena diskualifikasi. Sebagai gantinya adalah Tim Pesantren Darul Ulum Rejoso Petrongan Jombang yang sempat dikalahkan Darussalam.

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Quen Al-Falah lolos setelah dalam perempat final kemarin sore berhasil mencukur gundul Tim Pesantren Mahir Ar-Riyadh Ringinagung Kepung Kediri dengan skor telak 5-0. Sedangkan Darut Taibin Tulungagung di tempat yang sama menghabisi perlawanan Pospoda Nganjuk dengan skor 3-0.

Haedar Nashir

Pada babak perempat final, Quen Al-Falah bermain lepas. Meski sempat mendapat perlawanan dari pemain Mahir Ar-Riyadh. Gol perdana Quen diciptakan oleh M. Kemeal Zain pada menit ke 30. Hingga sampai babak pertama komposisi masih 1-0 untuk Quen.

Di babak kedua Quen permainannya semakin berkembang ditunjang para pemain Mahir Ar-Riyadh sudah habis setaminanya. Sehingga, Quen bisa bermain lepas dan berhasil menambah 4 gol. Masing-masing melalui A Lutfan di menit ke-55, Sulthan Abdul Kahfi (kapten) di menit ke-64 setelah dapat hadiah penalti dari wasit. Lalu 2 gol dilesatkan oleh striker Quen Ilham A Ghoni di menit ke-65 dan ke-69.

Haedar Nashir

Sementara Darut Taibin memenuhi janjinya bermain agresif sejak awal pertandingan. Namun tidak mudah karena terus mendapat tekanan juga dari tim Pospoda Nganjuk . Baru Darut Taibin bisa mendobrak pertahanan lawan pada menit ke-29 melalui tendangan M. Edi Sofyan . Kemudian disusul Nando Endra S di menit ke-57 dan M Alum Alfin P di menit ke-64.

Di babak semifinal nanti Quen Al-Falah akan bertemu dengan DaTa Tulungagung. Sedangkan An-Nur 2 Turen Malang bertemu dengan kesebelasan Pesantren Darul Ulum Ploso Peterongan Jombang. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Habib, Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Pamekasan, Haedar Nashir. Geliat Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jawa Timur di berbagai kabupaten/kota, menjadi indikasi kuat bahwa kebangkitan ekonomi Indonesia ke depan bakal dipelopori kaum sarungan. Apalagi, omzet BMTNU beserta labanya terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Hal demikian diakui Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Pamekasan, Jhon Yulianto, saat dihubungi Haedar Nashir melalui saluran telepon genggamnya, Senin (16/1).

Jhon mengaku heran hingga kini BMTNU tetap bertahan dan meningkat pesat. Kata Jhon, mungkin itu berkah dari perjuangan para kiai dan warga Nahdliyin yang komitmen menjauhi riba.

"Koperasi di pemerintahan tidak mengalami kemajuan secepat BMTNU. Padahal, sifatnya wajib; cukup motong gaji pegawai," terangnya.

Haedar Nashir

Pihaknya yakin BMTNU akan menjadi satu-satunya koperasi yang terus berjuang dalam kemaslahatan umat. Pihaknya menyambut baik dan akan belajar kepada BMTNU terkait bagaimana koperasi konvensional menjadi berbasis syariah.

"Kita ketahui bahwa Islam anti kemiskinan. Dan NU mampu mengongkretkan spirit itu melalui BMTNU-nya yang tersebar di mana-mana serta menyentuh hingga lapisan terbawah masyarakat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, IMNU, Nasional Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Khartoum, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj beserta rombongan termasuk istri Hj Nurhayati Said Aqil, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Abdul Rashid Tang Abdullah, dan beberapa pengusaha Malaysia melakukan kunjungan kerjasama ke Sudan.

Menurut beberapa sumber, Kang Said Ke Sudan beserta rombongan yang langsung disambut dengan Seni Hadrah JSQ bertujuan untuk menyepakati sejumlah MoU antara Sudan, Malaysia, China dan Indonesia  yang diwakili oleh NU dalam rangka pengembangan sektor ekonomi dari berbagai bidang budidaya dan potensi.

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke Sudan, Kang Said Kembangkan Kerjasama Ekonomi

Acara yang bertajuk Silaturahim dan tatap muka bersama DR KH Said Aqil Siroj ini diselenggarakan di Wisma KBRI untuk Sudan dan Eritrea, atas kerjasama antara Pengurus Cabang Istimewa NU Khartoum Sudan dengan KBRI. 

Haedar Nashir

Hadir dalam acara tersebut WNI, baik mahasiswa dari berbagai aliansi dan partai, tenaga kerja maupun masyarakat umum yang berada di Sudan. 

Dubes RI untuk Sudan Sujatmiko dalam pidato penyambutannya menyampaikan optimisme Islam di Indonesia, sebagai  laju kebangkitan Islam dunia. Melansir beberapa data yang menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Indonesia adalah nilai nilai Islam di masa kejayaan.

Haedar Nashir

Dikatakannya, Islam dituntut mampu head to head membaca titik strategi dan kebutuhan global. Islam yang dinamis, anti radikal, toleran dan Berkemanusiaan. Ini selaras dengan pidato yang disampaikan sebelumnya oleh ketua tanfidziyah PCINU Sudan, Miftahuddin Ahimy.

Sementara itu KH Said Aqil Siroj (Kang Said) dalam pidatonya lebih bertendensi mensinergikan kembali semangat keilmuan, kemanusiaan dan nasionalis di mata Muslimin Indonesia. Juga beberapa catatan sejarah mengenai perkembangan Islam dan Nusantara, khususnya NU. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Tajul Mafachir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pesantren Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi

Sumedang, Haedar Nashir - Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Sumedang membentuk koperasi di Hotel Hanjuang Cimalaka, Sumedang, Sabtu (6/11). Pihak LPNU Sumedang meresmikan kepengurusan koperasi yang dilakukan bersamaan dengan rapat koordinasi pengurus, lembaga, banom, dan seluruh ketua MWCNU se-Kabupaten Sumedang.

Koperasi NU dikelola oleh pengurus LPNU Sumedang yang terdiri atas Ketua LPNU Sumedang Ramli Masdar, Sekretaris Delis Martini, Wakil Sekretaris Syarif Hidayatulloh, dan Bendahara Romlah. Kepengurusan koperasi ini dilantik oleh Ketua PCNU Sumedang KH Sadulloh. Menurut Sa’dulloh, tujuan pembentukan Koperasi NU ini adalah untuk menyejahterakan warga Nahdliyyin khususnya, dan warga Sumedang pada umumnya.

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi

Ia berpesan agar pengurus Koperasi NU yang baru dilantik itu benar-benar menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan memiliki kredibilitas yang tinggi terhadap koperasi NU Sumedang.

Haedar Nashir

Ketua LPNU Sumedang Ai Faridah berharap semua pengurus NU dan nahdliyin berkenan masuk menjadi anggota Koperasi NU ini sehingga tujuan pendirian koperasi ini dapat tercapai sesuai harapan.

Alhamdulillah, anggota yang terdaftar sekarang kurang lebih 150 orang. Yang terdiri dari pengurus, lembaga, banom, dan MWCNU. Kemungkinan akan terus bertambah sehubungan dengan mayoritas warga nahdliyin di Sumedang ini mendominasi,” kata Ramli Masdar.

Nantinya Koperasi NU ini akan ditempatkan di Kantor PCNU Sumedang. Koperasi ini memfasilitasi simpan-pinjam juga berbagai macam sembako, dan kebutuhan-kebutuhan atribut NU lainnya.

Haedar Nashir

Ade Saepudin dari Dinas Koperasi dan UMKM Sumedang memberikan sambutan tentang perkoperasian di Sumedang. Menurut Ade, koperasi adalah badan hukum yang berdasarkan pada asas kekeluargaan yang anggotanya terdiri atas orang perorangan atau badan hukum yang tujuannya untuk menyejahterakan anggotanya.

Umumnya sebuah koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Pesantren, Habib Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Bandung, Haedar Nashir

Selama ini wacana penguatan ulama sering diangkat, tapi sulit untuk diwujudkan. Beberapa hasil refleksi mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena fokus penguatan itu tertuju kepada para kiai atau ulama secara langsung. Sementara mereka memiliki banyak keterbatasan, menyangkut usia, kesibukan, dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Robithah Ma’ad Islamy (PW RMI) Jawa Barat, KH Abdul Chobir, dalam sambutan acara bertajuk Pelatihan Asistensi Kiai NU. Acara yang kelola RMI ini diikuti oleh 26 utusan pesantren dari 26 kabupaten/kota seluruh Jawa Barat.

Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Acara yang telah berlangsungkan dari tanggal 3-5 Desember ini bertempat di? Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, jalan Terusan galunggung No. 09 Bandung. Pelatihan yang rencanya dilakukan beberapa tahap ini dinilai unik, karena di baru pertama kali dilakukan.

Haedar Nashir

“Pelatihan ini ikhtiyar PW RMI Jabar untuk memecahkan problem yang disebut Kiai Chobir dalam sambutan tadi,” ujar Iip D Yahya, ketua panitia yang juga wakil sekretaris PW RMI Jawa Barat itu.

Haedar Nashir

“Pesertanya kebanyakan anak kiai, kerabat dekat atau santri kepercayaan. Saya kaget, ternyata mereka antusias,” tambah Iip D Yahya, penulis biografi KH Ilyas Ruchiyat, Cipasung Tasikmalaya.

Selama tiga hari para peserta diperkenalkan dengan teori jurnalisitik, teknik dasar penulisan biografi, pengenalan peta mutakhir pesantren dan NU di tingkat nasional dan internasional, serta manajemen internal pesantren. Acara ini mendatangkan Abdul Mun’im DZ (PBNU), Muhammad Syafi dan Hamzah Sahal dari Haedar Nashir, Ahmad Dairobi dari pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (yy)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Salaman atau saliman dalam budaya Indonesia adalah suatu kegiatan berjabat tangan, biasanya dilakukan ketika seorang anak berpamitan pergi kepada orang tuanya, seorang murid yang bertemu dengan guru dan saudara atau keluarga ketika di jalan, atau ketika seseorang bertemu dengan teman-temannya.  Secara refleks kita akan mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.

Salaman atau saliman sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “selamat”. Erat kaitannya dengan budaya mengucap salam dalam umat muslim. Dalam pelaksanaannya pun tidak selalu mengucap salam, namun lebih menekankan berjabat tangan sebagai rasa hormat. Sekali lagi di Indonesia, kegiatan salaman tidak melulu selalu diidentikkan dengan orang Islam walaupun berasal dari bahsa Arab. Karena makna salaman sudah dipakai oleh masyarakat umum sebagai milik bersama.

Salaman dalam tulisan adalah yang disebut orang Jawa sebagai sungkem. Salaman dan sungkem mempunyai persamaan yaitu kegiatan berjabat tangan, bedanya sungkem mempunyai nilai rasa hormat yang lebih tinggi. Sungkem bukanlah berjabat tangan biasa seperti yang dilakukan antar teman atau seseorang dengan seseorang yang derajatnya setara.

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)
Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Namun sungkem dilakukan kepada seseorang yang lebih tinggi derajatnya seperti orang tua, guru atau ustadz/ustadzah. Caranya pun berbeda, sungkem disertai dengan mencium tangan seseorang yang kita sungkemi. Pada saat hari raya Idul Fitri pasti setiap anggota keluarga melakukan sungkeman, entah itu anak kepada orang tua, cucu kepada kakek nenek atau keponakan kepada paman dan bibi.

Pada zaman penulis masih menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah -setara SD- ), penulis masih ingat dengan jelas setiap akan masuk kelas dan akan keluar kelas (waktu akan pulang) murid-murid antri berbaris rapi untuk sungkeman kepada sang guru. Jika direnungkan, betapa luhurnya budaya ini, penulis tidak yakin kalau dinegara lain diajarkan budaya sungkeman ini sebagai salah satu tata krama di sekolah. Jikalau ada mungkin juga masih tergolong bangsa Asia atau bangsa Timur.

Namun yang penulis sayangkan, semakin kesini budaya sungkeman mulai luntur, atau memang budaya sungkeman hanya diajarkan waktu MI/SD?

Haedar Nashir

Menurut pengalaman penulis, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin langka sekali budaya sungkeman ini. Mulai MTs (Madrasah Tsanawiyah -setara SD-) hingga MA (Madrasah Aliyah -setara SMA-) budaya ini agak jarang, mungkin karena sekolah madrasah, jadi antara murid dan guru yang berbeda jenis kelamin agak menjaga jarak. Namun menurut penulis hal seperti ini bisa disiasati, bisa saja to murid perempuan hanya salaman dengan ibu guru dan begitu juga dengan murid laki-laki hanya salaman dengan bapak guru.

Apalagi ketika menjadi mahasiswa perguruan tinggi di kota besar, budaya sungkeman seperti suatu hal yang tidak penting. Bukan dari segi mahasiswa atau anak didiknya saja yang kurang membudayakan sungkeman, tapi hal yang agak mengecewakan adalah ketika dosen itu sendiri tidak bersedia di sungkemi.

Ada fenomena lucu yang sering penulis temui, sungkeman yang dilakukan mahasiswa kepada dosen biasanya dilakukan berdasarkan alasan tertentu, misalnya saja ketika seorang mahasiswa datang terlambat, untuk menarik hati agar dosen tidak marah mahasiswa sering kali melakukan sungkem agar dosen luluh dan “tidak jadi” memarahi mahasiswa yang datang terlambat tersebut. Mungkin ini salah satu trik yang cerdas, hehe.

Salaman atau sungkeman merupakan budaya Indonesia yang menggambarkan karakter bangsa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama manusia. Tidak hanya itu, salaman dan sungkeman juga salah satu cara untuk memperertat silaturrahim, persaudaraan dan pertemanan diantara manusia.

Haedar Nashir

Semoga tulisan ini memberikan kita pencerahan betapa penting budaya salaman dan sungkeman, walaupun kelihatannya sepele namun penulis yakin manfaat dan hikmah dari budaya ini sangat besar dan bermanfaat.

Ayu Ulfa Dewi, Mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Pesantren, Kajian Haedar Nashir

Sabtu, 02 Desember 2017

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Haedar Nashir

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Haedar Nashir

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula? ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten? Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas.

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun.

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Solo, Haedar Nashir. Pengurus IPMA Pesantren Al-Muayyad menerbitkan Majalah Serambi Al-Muayyad (MSA) edisi terbaru. Edisi kedelapan yang mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok! tersebut akan dirilis pada Haul KH Umar Abdul Mannan, Selasa (7/7).

“Tema khusus MSA Edisi 08 adalah Ayo Mondok,” terang salah satu redaktur MSA, Miftahul Abrori, Sabtu (4/7) lalu.

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)
Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Menurut Miftah hal tersebut merupakan wujud dukungan para santri Al-Muayyad kepada RMI dalam menggalakkan Gerakan Nasional Ayo Mondok. “Wujud dukungan MSA terkait Ayo Mondok, sesuai dengan yang kami mampu adalah mewartakan melalui tulisan di majalah dengan harapan bisa dibaca masyarakat,” ujar dia.

Haedar Nashir

Pada edisi ini, juga akan menyajikan tulisan “Menafsir Bait-bait Shalawat Wasiat Mbah Umar” yang ditulis Dosen UNU Surakarta, Drs. Muhammad Ishom, yang menafsirkan dan menjelaskan makna yang tersembunyi dari shalawat yang dikarang oleh Mbah Umar.

Haedar Nashir

Miftah menjelaskan, selama kegiatan Haul Mbah Umar, majalah yang memiliki slogan Melanggengkan Tradisi, Melanjutkan Silaturrahim ini akan dipajang pada stand bazar IPMA. “Para pengunjung yang berminat, bisa membeli langsung di sana dengan harga Rp. 15.000,” papar dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 22 November 2017

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menyerahkan uang total Rp180.000.000 kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui NU Care-LAZISNU sebagai bentuk bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya dan pengungsi Gunung Agung, Bali.

Penyerahan bantuan diwakili oleh Sekretaris Jenderal bersama Bendahara Umum PB PMII Muhamad Risal kepada Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda di Lantai 2, Gedung PBNU, Selasa (3/10).

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby, usai menyerahkan bantuan menyatakan, uang yang diserahkan kepada etnis Rohingya melalui NU Care-LAZISNU sebesar Rp125.000.000 dan Rp55.000.000 disalurkan untuk pengungsi Gunung Agung secara langsung.

Utusan PB PMII, Zeni Syargawi (Ketua Bidang Advokasi) dengan didampingi Azwardi Natta menyerahkan bantuan langsung senilai Rp55.000.000 untuk pengungsi Gunung Agung ke Dusun Karang Sidemen, Kabupaten Karang Asem, Bali di hari yang sama.

Sabolah menjelaskan, jumlah itu merupakan hasil penggalangan dana dari 25 cabang PMII se-Indonesia. Selain 25 cabang, masing-masing cabang se-Nusantara, juga melakukan aksi penggalangan dana. Menurutnya, mereka berinisiatif menyerahkan bantuan ke masing-masing PCNU sebagai langkah sinergi. 

Haedar Nashir

Harapannya dengan bantuan kemanusiaan itu, dapat meringankan beban serta kebutuhan etnis Rohingya yang saat ini banyak mengungsi ke Bangladesh. 

Aksi penggalangan dana serentak di seluruh Indonesia itu, tambah Sabolah, merupakan wujud komitmen PMII dalam melawan aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya.

“Ini aksi kemanusiaan kita lakukan di seluruh cabang di Indonesia, kita serahkan ke NU Care supaya segera didistribusikan kepada masyarakat Rohingya yang mengalami aksi kekerasan, aksi ini juga wujud komitmen kami melawan aksi kejahatan manusia dalam bentuk apapun,” tukas Sabolah.

Sementara itu, Ketua Umum PB PMII Agus M. Herlambang mengungkapkan apresiasinya atas kontribusi 25 cabang untuk aksi penggalangan dana. Tak hanya itu, Ia juga sangat bangga kepada seluruh kader di Indonesia yang telah bersusah payah melaksanakan aksi penggalangan di kampus-kampus, perempatan jalan dan di berbagai tempat lainnya. 

Haedar Nashir

Agus berharap, seluruh kader PMII di Indonesia tidak hanya melakukan aksi penggalangan dana, tetapi juga menjadikan gerakan  itu sebagai momentum perlawanan terhadap aksi kekerasan dalam bentuk apapun. 

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada sahabat-sahabat se-Nusantara karena telah melakukan gerakan kemanusiaan. Semoga menjadi momentum dan komitmen seluruh kader untuk melawan aksi kejahatan kemanusiaan,” pungkas Agus.

Syamsul Huda, Ketua NU Care-LAZISNU menerima silaturahmi PB PMII dan berterimakasih atas kerja sama sahabat-sahabat PMII.

“Terimakasih sahabat-sahabat PMII atas kepercayaannya kepada NU Care-LAZISNU. Donasi akan disalurkan langsung oleh teman-teman LPBI NU yang memang fokus atas peristiwa di sana,” ucap Syamsul.

Syamsul juga menuturkan bahwa sinergi antara PMII dan NU Care – LAZISNU harus terus berjalan untuk kemajuan bersama. “Kita sama-sama menata langkah. Bersinergi secara simultan, terencana, dan massif,” tuturnya.

Pengumpulan dana berasal dari cabang-cabang yaitu Lampung Utara, Pinrang, Kota Makasar, Pare-pare, Kabupaten Buol, Lombok Tengah, Palangkaraya, Lumajang, Kabuapten Seram Bagian Timur, Bulungan, Batanghari, Dompu, Manado, Kota Serang, Kabupaten Sumbawa Barat, Sumbawa, Seruyan, Lubuklinggau, Sampit, Kota Sorong, Martapura, Lombok Timur, Kabupaten Takalar, Pamekasan, dan Kabupaten Pati. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

Tiga Tahun, Koperasi GP Ansor Garut Miliki Aset Ratusan Juta Rupiah

Garut, Haedar Nashir - Koperasi Syubbanul Wathan GP Ansor Kabupaten Garut baru berdiri dan beroperasi selama tiga tahun. Pihak koperasi sudah memiliki aset melimpah. Tercatat sebesar Rp.125 juta menjadi aset utama berupa uang yang diperoleh dari keuntungan usaha dan simpan pinjam.

Tak hanya keuntungan uang, sejumlah usaha seperti fotokopi, peternakan, dan simpan pinjam pun terus menunjukkan perkembangan. Sementara anggota koperasi ini berjumlah 67 orang yang terdiri atas pengurus dan anggota GP Ansor dan Banser.

Tiga Tahun, Koperasi GP Ansor Garut Miliki Aset Ratusan Juta Rupiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tahun, Koperasi GP Ansor Garut Miliki Aset Ratusan Juta Rupiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tahun, Koperasi GP Ansor Garut Miliki Aset Ratusan Juta Rupiah

Ketua Koperasi Syubbanul Wathan GP Ansor Garut Heri Hasan Basri mengatakan, aset berupa uang sebesar Rp.125 juta ini sebagai keuntungan selama tiga tahun. Ia berharap keuntungan terus bertambah untuk membentuk usaha lain demi menyejahterakan anggota.

"Kita mulai dari yang kecil. Alhamdulillah sudah menunjukkan peningkatan," kata Heri saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Kantor Koperasi Syubbanul Wathan GP Ansor, Kampung Cimuncang Kelurahan Cimuncang Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut.

Haedar Nashir

Heri menekankan bahwa koperasi ini terbuka untuk umum meski bukan anggota GP Ansor atau Banser.

Haedar Nashir

"Tujuan koperasi dari anggota untuk anggota. Siapa saja boleh menjadi anggota koperasi ini," ujarnya.

Koperasi Syubbanul Wathan GP Ansor Cabang Garut berdiri 30 Juli 2013. Sampai 30 Juli 2016 koperasi sudah memiliki aset sebesar Rp 125 juta. Iuran anggota per bulan Rp.30 ribu. (Nurjani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

Tegal, Haedar Nashir - Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal menolak 5 Hari Belajar yang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini akan mematikan pendidikan Madrasah dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi yang lebih penting adalah pendidikan agama yang di dalamnya terdapat pendidikan akhlak.

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

"Perhitungan saya kalau sekolah 5 hari, anak sekolah pulang sore sekitar pukul 16.00. Lalu pendidikan Madrasah dan TPQ mau dikemanakan?” tegas Ki Enthus dengan nada bertanya saat acara peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.

Haedar Nashir

Mantan Kasatkorcab Banser Tegal itu mengatakan, pendidikan formal memang penting, tetapi akhlak generasi bangsa itu jauh lebih penting.

Haedar Nashir

"Saya siap mendapatkan hukuman apapun kalau sikap ini dianggap salah dan menentang kebijakan itu, karena ini demi masa depan bangsa yang berakhlak," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Ki Enthus yang mengenakan celana batik khas Tegalan dan jaket Banser langsung memerintahkan Kepala Dinas Dikbud, Salu Panggalo untuk menyurati Mendikbud.

"Pak Salu, besok pagi surati (Selasa.red) surati Mendikbud, apapun risikonya saya yang tanda tangan. Saya juga siap dipanggil oleh Menteri, bahkan saya juga siap bahtsul masail tentang itu," pungkasnya.

Acara ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah ulama, anggota Forkompimda Kapolres Tegal, Dandim 0712, Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, para Kepala OPD, para ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Tegal serta ratusan anggota Banser. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, IMNU Haedar Nashir

Sabtu, 28 Oktober 2017

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Solo, Haedar Nashir. Menyambut datangnya bulan Maulud Nabi di tahun 1435 H ini, Pengurus Takmir Masjid Agung Surakarta memeriahkannya dengan menggelar berbagai kegiatan. Menurut Pengurus Masjid Agung Solo, Saiful Hadi, kegiatan sudah dimulai sejak awal pekan lalu (6/1) dan puncaknya akan digelar saat diadakan Grebeg Maulud, Senin (13/1) mendatang.

“Pada malam hari ini, diadakan Pengajian Jamuro (Jamaah Muji Rosul) Surakarta, mengawali kegiatan yang akan berlangsung selama 1 minggu ke depan,” terang Saiful saat memberikan sambutan acara pada pengajian Jamuro, beberapa waktu lalu (6/1).

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Setelah itu, menurutnya akan diadakan berbagai rangkaian kegiatan, yang dalam hal ini juga melibatkan Keraton Surakarta.

Haedar Nashir

“Juga ada acara Festival hadrah, lomba dakwah, muazin, tilawah, hafalan, dan kaligrafi yang diikuti oleh anak-anak usia 10-20 tahun.

Tak hanya itu, di Masjid kebanggaan warga Kota Solo ini, selama bulan Maulud ini, juga diadakan pengajian dan pembacaan kitab maulid Al-Barzanji, yang dilaksakan setiap bakda Isya.(ajie najmuddin/mukafi niam)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Senin, 02 Oktober 2017

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Sejumlah kader PC PMII Bandar Lampung dari pelbagai perguruan tinggi menggelar orasi dan penggalangan 1000 tanda tangan bagi terciptanya demokrasi terhormat di Bandar lampung, Lampung, Rabu (8/1). Mereka mengajak warga Lampung menolak demokrasi transaksional, demokrasi umbar janji, dan demokrasi halal-haram hantam.

Ketua PC PMII Bandar Lampung Hendri Badra mengatakan, setelah merdeka 68 tahun, kematangan demokrasi yang diharapkan masyarakat masih sangat jauh dari harapan rakyat. “Republik ini masih terkungkung dengan kegalauan sistem demokrasi,” kata Hendri, Rabu (8/1).

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Elit politik dan negarawan pada era Orde Lama berasal dari kalangan terdidik dan aktivis. Sementara pada Orde Baru, kata Hendri, elit politik diramaikan kalangan militer. Sedangkan saat ini, pengusaha juga turut andil dalam sistem kenegaraan. Buktinya banyak pengusaha melibatkan diri dalam partai besar selain membuat partai baru.

Haedar Nashir

Berangkat dari sejumlah pertimbangan di atas, PC PMII Bandar Lampung menggelar aksi kali ini. Aksi ini mengambil bentuk orasi berjalan dari Gedung Juang hingga Tugu Adipura.

Haedar Nashir

Hendri berharap aksi ini bisa menciptakan pemilu 2014 dan legislatif bersih supaya pemilihan umum kembali pada khittahnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, PC PMII Bandar Lampung membuka posko pengaduan dugaan kecurangan pemilu di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pesantren Haedar Nashir