Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Proses Islamisasi di wilayah Jawa, termasuk Sunda, bisa digolongkan ke dalam tiga skema. Pertama, menaklukkan kerajaan non-Islam. Kesultanan Islam Cirebon dan Banten yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer bergerak dari pesisir utara Jawa ke wilayah selatan. Mereka menaklukkan dan menguasai wilayah pedalaman yang masyarakatnya belum beragama Islam.

Demikian dikatakan Aditia Gunawan saat menjadi pembicara diskusi mingguan di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang, Sabtu (18/11). 

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Kedua, mengisi jabatan birokrasi lokal dan ritual di kesultanan. Biasanya ulama pendatang yang memainkan peranan ini. Mereka masuk dan menjadi bagian dari kerajaan yang ada.

“Yang ketiga, guru-guru sufi sejak abad ketujuh belas bergerak ke wilayah-wilayah pedalaman Jawa,” kata Aditia.

Menurut Aditia, guru-guru sufi inilah yang bisa menyebarkan Islam hingga ke pedalaman. Mereka cukup diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena menyebarkan Islam dengan berkompromi dengan budaya lokal. Guru-guru sufi tersebut juga memiliki kekuatan-kekuatan adikodrati.

“Mereka juga mengubah pertapaan dan biara-biara Hindu Buddha menjadi sekolah-sekolah Islam,” paparnya.

Haedar Nashir

Dia menjelaskan, masyarakat pedalaman Sunda bukan bukan hanya menjalankan syariat agama Islam saja, mereka juga masih mempraktikkan kearifan lokal seperti mantra-mantra untuk penyembuhan.

“Jampi-jampi itu kan sarana penyembuhan tapi dia ada ajaran Islamnya, ada juga penyesuaian terhadap ajaran sebelumnya, ajaran pra Islam,” terangnya.

Menurut dia, penyebar ajaran Islam itu juga menjadi solusi atas kesehatan masyarakat karena mereka bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat setempat.

Haedar Nashir

Meski demikian, tidak semua masyarakat Sunda menerima dengan lapang dada datangnya Islam. Ada sekelompok masyarakat yang bersikap keras terhadap penyebaran Islam di Tataran Sunda. 

“Misalnya oposisi yang masih merindukan ajaran-ajaran lama. Ada teks yang menyebutkan bahwa Islam itu sebagai prahara,” urainya. 

“Misalnya di teks Carita Parahyangan itu pengarangnya lebih memposisikan diri sebagai yang kecewa terhadap datangnya Islam,” tambahnya.

Sementara itu, Penulis Buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie menerangkan, tidak ada perbedaan yang cukup mencolok antara proses Islamisasi di Sunda dan wilayah Jawa lainnya. Pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh para dai dalam menyebarkan Islam pun hampir sama yaitu akulturasi budaya, nikah dengan masyarakat setempat, dan lainnya.

“Hanya sisi budayanya saja yang berbeda sehingga tampilannya pun berbeda-beda,” tuturnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Jakarta, Haedar Nashir. Katib Aam PBNU KH  Malik Madani menilai, peredaran uang suap untuk mendongkrak suara dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) sudah dalam kondisi menyedihkan. Praktik haram ini menjalar hampir di seluruh lapisan masyarakat.

”Di antara mudarat pilkada adalah rusaknya moralitas bangsa, termasuk masyarakat Nahdliyin karena money politic itu. Politik uang dianggap kewajaran. Padahal itu risywah siyasiyah, suap politik,” katanya, Rabu (20/2).

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Masyarakat dinilai telah mulai menganggap politik uang sebagai suatu kelaziman. Mereka cenderung acuh tak acuh terhadap dampak buruk dari sikap tersebut bagi dirinya dan masa depan daerahnya.

Haedar Nashir

Menurut Kiai Malik, politisi yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk usaha pemenangan pilkada sangat potensial berlaku korup ketika memimpin. Pasalnya, hampir tidak mungkin pengeluaran miliaran rupiah semasa kampanye akan dilunasi dengan gaji jabatannya.

”Belum lagi konflik horisontal yang terjadi di antara para pendukung masing-masing calon,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Kiai Malik menegaskan, uang suap untuk maksud dukungan pencalonan, meski diistilahkan dengan sedekah, tetap berstatus haram dan dilaknat menurut ajaran Islam. Umat Islam diimbau hati-hati dengan godaan ini, termasuk dengan upaya adu domba sejumlah pihak yang akan merusak kerukunan antarwarga.

Terkait dengan pilkada, PBNU melalui Musyawarah Nasional Alim Ulama di Cirebon 2012 lalu merekomendasikan penghapusan pemilihan langsung di tingkat daerah dan mengembalikannya ke tangan DPRD. Hal ini didasarkan pada asas preferensi mudarat terkecil di antara keduanya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Syariah, Habib Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Baru-baru ini, sebuah stasiun televisi swasta menyatakan permintaan maaf kepada publik karena terdapat kekeliruan pada tulisan ayat Al-Qur’an yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Masih terdapat silang pendapat apakah hal ini merupakan kesalahan teknis dalam penulisan ayat tersebut atau karena kapasitas ustadzah memang lemah dalam menulis huruf Arab. Sejauh ini, keluhan terhadap kapasitas keilmuan penceramah di tv sudah seringkali diungkapkan ke publik, toh tetap saja, penceramah dengan kapasitas ilmu agama minimal masih menghiasi layar kaca. Kita menginginkan stasiun tv menampilkan tokoh sekualitas KH Quraish Shihab atau Gus Mus yang memiliki kemampuan agama sangat dalam dalam bidangnya membawakan ajaran Islam dengan jernih. 

Beragamnya siaran dakwah yang dikemas dengan berbagai bentuk harus diapresiasi. Ini tentu hal yang baik bahwa siaran dakwah menjangkau masyarakat yang lebih luas. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi favorit publik ketika sudah muncul di layar kaca dan kemudian sibuk sekali berceramah dari panggung ke panggung karena memiliki kemampuan retorika yang sangat baik yang menyenangkan jamaah.

Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Kebanyakan seleksi ustadz yang masuk ke TV adalah kemampuan mereka dalam beretorika atau menghibur jamaah. Karena itu, kemudian, muncul dakwahtainment, memposisikan dakwah dengan gaya sebuah entertainment atau hiburan, yaitu unsur hiburannya lebih dominan daripada dakwahnya sendiri. Karena kemampuannya dalam menghibur yang ditonjolkan, maka tak jarang kapasitas keilmuannya menjadi nomor dua. Sudah berulangkali, penceramah di tv harus minta maaf kepada publik karena kesalahan dalam ceramah. Belum lagi penjelasan yang janggal dan berputar-putar atas tema tertentu yang sesungguhnya menunjukkan penguasaan atas khazanah keislaman yang belum memadai.

Kelompok Nahdliyin, dengan puluhan ribu pesantren telah menghasilkan para ahli agama dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Di banyak pesantren, juga ada materi khitabah atau berpidato yang mengajarkan pada santri bagaimana berdiri di depan publik dan menyampaikan ceramah keagamaan, baik dalam khutbah atau dalam ceramah umum. Sudah seharusnya kita mampu melahirkan para dai yang kompeten, bukan hanya di panggung atau majelis, tetapi juga menjangkau pemirsa di lingkungan yang lebih luas. 

Soal kapasitas melucu, jangan ditanya lagi, kalangan pesantren memiliki keahian dalam membuat lelucon. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan guyon-guyon segar di antara para teman sesama santri. Saat di panggung, mereka tahu kapan jamaah sudah mengantuk dan perlu mengeluarkan leluconnya. Toh, bagi mereka, pesan keagamaan tetap menjadi nomor satu. 

Sudah selayaknya jika dai-dai Nahdliyin mampu menjangkau ruang yang lebih besar. Pencapaian mereka saat ini masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada. Sayangnya, ruang-ruang publik yang ada tidak diberikan dengan gratis karena ada banyak orang atau kelompok yang ingin menguasainya. Ada kelompok, yang secara jumlah kecil, tetapi militan dan vokal. Mereka ingin menguasai panggung untuk memperluas jangkauan pengaruhnya. Sementara itu, budaya yang hidup di kalangan santri jika tidak diminta, belum tentu mau. Jika ada yang lebih tua, mempersilakan guru atau orang yang lebih tua terlebih dahulu. Kerendahan hati merupakan bagian dari sikap keagamaan yang telah mendarah daging. 

Haedar Nashir

Dengan adanya pihak-pihak yang secara keilmuan pas-pasan tetapi ingin merebut ruang dakwah ini, tentu sudah selayaknya jika para dai NU mulai memikirkan ulang sikap saat berkontetasi dengan pihak luar. Harus dibedakan mana saat saling mempersilakan di antara sesama dai dalam komunitas yang sama, dengan ideologi yang sama, dan dengan kelompok lain yang akan menggunakan ruang-ruang dakwah untuk memperjuangkan ideologi, yang bisa merupakan bagian dari penyebaran Islam transnasional, dengan segala kamuflasenya.

Selanjutnya, kita juga harus memperluas ruang dakwah seiring dengan adanya media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi dan interaksi. Tak ada pilihan selain ikut menguasai ruang-ruang tersebut atau pada akhirnya area tersebut menjadi ajang persebaran ideologi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamiin sebagaimana yang terjadi saat ini. Semakin lama, masyarakat semakin tergantung pada internet, termasuk ketika mencari materi-materi keagamaan.

Dakwah via internet ini yang tampaknya belum disiapkan di lingkungan pesantren karena sebagian besar pusat pendidikan Islam khas Indonesia ini masih melarang para santri mengakses internet. Para santri perlu diajari bagaimana memproduksi konten-konten produktif dan ramah, juga belajar soal literasi digital. Kini, sudah mulai ada kiai yang menyiarkan pengajiannya melalui kanal Facebook. Ke depan, mereka yang memanfaatkan ruang ini diharapkan semakin bertambah. 

Haedar Nashir

Kita dapat mengisi internet dengan rujukan-rujukan keislaman yang otoritatif dengan berbagai sudut pandang yang mampu membuat masyarakat memahami keragaman pandangan keislaman, dan kemudian memilih salah satu yang menurutnya paling benar, tetapi tidak menyalahkan pandangan lainnya. Kita memiliki pakar dalam bidang fiqih, qur’an dan hadits, tasawuf, dan bidang-bidang kajian keislaman lainnya. Tinggal bagaimana memberi ruang bagi mereka untuk berekpresi. Mereka yang menguasai internet, menguasai masa depan dari pikiran umat Islam Indonesia. (Achmad Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, IMNU, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad

Denpasar, Haedar Nashir. Kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Bali pada tanggal 8-10 Desember 2017 lalu menimbulkan pro kontra bagi masyarakat Bali. Ramai tersebar di media sosial bahwa salah satu elemen yang melakukan penolakan adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. 

Untuk mengklarifikasi keakuratan beberapa media yang memojokan PWNU Bali tersebut,  Haedar Nashir berhasil  menghubungi  Ketua PWNU Bali, H Abdul Aziz  melalui sambungan telepon, Senin (11/12). 

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad (Sumber Gambar : Nu Online)
Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad (Sumber Gambar : Nu Online)

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad

Ia kemudian menceritakan dari awal bagaimana dirinya sebagai Ketua PWNU mem-back up penuh panitia penyelenggara yang keseluruhan adalah Nahdliyin (warga NU).

Haedar Nashir

Menjelang kedatangan UAS, H Aziz menjelaskan situasi mulai tidak kondusif. Ada beberapa isu bahwa akan ada penghadangan di bandara. Kemudian ia bersama pengurus PWNU yang lain berinisiatif untuk mendampingi panitia menjemput langsung ke bandara.  Bersama UAS dan panitia, Pengurus PWNU terus mendampingi hingga ke Hotel Aston, tempat UAS menginap

“Namun setelah satu jam kami berada di hotel, situasi tidak kondusif, sebab ada konsentrasi massa yang menolak kedatangan UAS,” terang H Aziz.

Haedar Nashir

Karena tidak ingin adanya tindakan kekerasan, sebab menurut  H. Aziz, kelompok masyarakat yang pro kedatangan UAS juga akan bergerak ke hotel Aston, ia kemudian  berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk dapat membantu memediasi dengan pihak yang menolak. Akhirnya mediasi pun terjadi di salah satu ruangan di hotel tersebut.

Dalam mediasi awal mengalami jalan buntu, hingga UAS memutuskan akan meninggalkan Bali. Tentunya keputusan ini akan berdampak pada jamaah pengajian yang sudah ribuan dan berpotensi akan bergejolak. 

H Aziz kemudian meyakinkan kepada UAS bahwa jika dirinya membatalkan pengajian, justru yang terjadi adalah gejolak yang lebih besar. Dengan pertimbangan itu, akhirnya UAS kembali menemui pihak yang menolak dan terjadi saling rangkul menemui titik temu. 

Lalu, ketika ditanya sosok yang mengaku Gus Yadi yang ramai diperbincangkan di medsos, H Aziz sama sekali tidak mengenalnya. 

“Yadi itu siapa, dia bukan pengurus NU maupun banom NU. Dia juga bukan warga Nahdliyin, saat berdebat dengan saya pada saat mediasi, dia menggunakan baju PGN (Patriot Garuda Nusantara,)” tegasnya.

Jadi, menurut H. Aziz kalau ada media yang mengatakan PWNU Bali menolak bahkan memprovokasi untuk melakukan penolakan kedatangan UAS di Bali, merupakan pemberitaan yang sesat.

“Bahkan saya bersama pengurus NU yang lain selalu mendampingi UAS selama di Bali, jadi mohon diluruskan kepada masyarakat,” tutupnya. (Abraham Iboy/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Habib Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Kudus, Haedar Nashir. Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari menghadiri acara festival? teater Pelajar 2015 di Gor Bulutangkis Djarum Kaliputu Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/11). Dalam acara itu, Inayah didaulat menjadi? juri final festival yang diselenggarakan Teater Djarum selama dua hari Sabtu-Ahad (21-22/11).

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Saat ditemui Haedar Nashir, Inayah mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kegiatan teater di lingkungan pelajar. Menurutnya, teater adalah kegiatan bagus yang mengajarkan toleransi, empati, memberikan penghormatan, dan penghargaan kepada orang lain.

?

"Teater sebagai media bagus sekali untuk mengampanyekan toleransi, kita tidak main hakim sendiri dan akan bisa menghargai sesama," ujarnya.

Haedar Nashir

?

Dikatakan, Indonesia sangat membutuhkan generasi masa depan yang memahami akan toleransi. Dengan bermain teater, meraka akan memainkan peran tokoh-tokoh? di luar komunitasnya? yang ketika sampai pada titik puncaknya akan memahami toleransi dengan baik.

Haedar Nashir

?

"Dalam konteks kekinian toleransi menjadi urgen dan harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Salah satu media bagus ya teater. Karena kalau sudah main teater, kita tidak akan mempertanyakan latar belakang,? semua akan kerja sama," tandas putri Gus Dur yang biasa disapa Inayah Wahid ini.

?

Ia menuturkan dirinya sangat merasakan manfaatnya aktif di dunia teater pada waktu masih sekolah Menengah Atas (SMA). Ditegaskan, teater mampu menjadi sarana penyaluran ekspresi dan kreasi bagi pelajar.

?

"Melalui teater, anak-anak punya penyaluran yang positif. Mereka pulang sekolah tidak berbuat aneh-aneh, langsung bermain teater," imbuhnya.

Selain menjadi juri, Inayah Wahid juga menjadi pemateri Workshop teater yang menjadi rangkaian acara Fesetival tersebut. Siang harinya, Inayah dijadwalkan bertemu dengan kader-kader NU dalam acara silaturahim di aula Kantor NU Jalan Pramuka Nomor 20 Kudus.

?

Sementara itu,? final festival teater Pelajar ini, menampilkan 3 kelompok teater tingkat SMP diantaranya, Teater satu atap SMP 3 Kudus, Teater Temperatur SMP 1 Mejobo dan Teater PR Mts NU Nahdlatul Athfal. Sedangkan tingkat SMA, 7 kelompok teater yang lolos di final adalah Teater Stif MANU Ibtidaul Falah Dawe, Teater X-Miffa SMKNU Miftahul Falah Dawe, Teater Patas SMA I Bae, Teater Kahanan SMA 1 Mejobo, Studi One SMA ! Kudus, Teater Ganesha SMA 2 Kudus dan teater Apotek SMK Duta Karya Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, RMI NU, Habib Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Kediri, Haedar Nashir

Kesebelasan Quen Al-Falah Ploso Mojo Kediri dan Darut Taibin (DaTa) Tulungagung menyusul An-Nur 2 Malang lolos ke babak semifinal kompetisi Liga Santri Nusantara Region Jatim II di Stadion Brawijaya Kota Kediri.

Sementara kesebelasan Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri batal lolos ke babak semifinal karena kena diskualifikasi. Sebagai gantinya adalah Tim Pesantren Darul Ulum Rejoso Petrongan Jombang yang sempat dikalahkan Darussalam.

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Quen dan DaTa Juga Lolos ke Semifinal Region Jatim

Quen Al-Falah lolos setelah dalam perempat final kemarin sore berhasil mencukur gundul Tim Pesantren Mahir Ar-Riyadh Ringinagung Kepung Kediri dengan skor telak 5-0. Sedangkan Darut Taibin Tulungagung di tempat yang sama menghabisi perlawanan Pospoda Nganjuk dengan skor 3-0.

Haedar Nashir

Pada babak perempat final, Quen Al-Falah bermain lepas. Meski sempat mendapat perlawanan dari pemain Mahir Ar-Riyadh. Gol perdana Quen diciptakan oleh M. Kemeal Zain pada menit ke 30. Hingga sampai babak pertama komposisi masih 1-0 untuk Quen.

Di babak kedua Quen permainannya semakin berkembang ditunjang para pemain Mahir Ar-Riyadh sudah habis setaminanya. Sehingga, Quen bisa bermain lepas dan berhasil menambah 4 gol. Masing-masing melalui A Lutfan di menit ke-55, Sulthan Abdul Kahfi (kapten) di menit ke-64 setelah dapat hadiah penalti dari wasit. Lalu 2 gol dilesatkan oleh striker Quen Ilham A Ghoni di menit ke-65 dan ke-69.

Haedar Nashir

Sementara Darut Taibin memenuhi janjinya bermain agresif sejak awal pertandingan. Namun tidak mudah karena terus mendapat tekanan juga dari tim Pospoda Nganjuk . Baru Darut Taibin bisa mendobrak pertahanan lawan pada menit ke-29 melalui tendangan M. Edi Sofyan . Kemudian disusul Nando Endra S di menit ke-57 dan M Alum Alfin P di menit ke-64.

Di babak semifinal nanti Quen Al-Falah akan bertemu dengan DaTa Tulungagung. Sedangkan An-Nur 2 Turen Malang bertemu dengan kesebelasan Pesantren Darul Ulum Ploso Peterongan Jombang. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Habib, Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 03 Januari 2018

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Oleh A Mustofa Bisri



Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang). Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Medinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’—memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan kurban perawan seperti semula—sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminien ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.). Namun manakibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa shahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H.–13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Shahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan. Shahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain. Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabt yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Haedar Nashir

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Haedar Nashir

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawasul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qiraah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe. Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana. Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan. Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra. Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid–rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis. Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424

Tulisan ini merupakan kata pengantar KH A Mustofa Bisri atas buku biografi Almarhum KH A Hamid Pasuruan, dan dipublikasikan di dinding akun facebook miliknya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah, Habib Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai

Malang, Haedar Nashir?

Gusdurian Kota Malang menggelar agenda “Safari Ramadhan Damai” ke pesantren-pesantren yang ada di Kota Malang. Safari damai merupakan agenda yang tur keliling pesantren untuk belajar Islam toleran dan berdiskusi dari pemuda lintas agama yang terdiri dari Pemuda Katolik, Buddha, dan Islam sendiri di mana Islam terdiri dari pemuda NU, Pemuda Muhammadiyah, dan juga Pemuda Syi’ah.

Safari Ramadhan Damai dilaksanakan hari Senin tanggal 27 Juni 2016 di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Kota Malang di bawah asuhan Al Mukarrom KH Marzuqi Mustamar yang sekaligus menjabat sebagai wakil rais syuriyah PWNU Jawa Timur.

Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Kota Malang Gelar Safari Damai

Pada safari Ramadhan Damai kali ini, Gusdurian Kota Malang menggandeng pemuda NU lewat PKPT IPNU-IPPNU Universitas Brawijaya dan aktivis dari GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) untuk turut serta dalam agenda tersebut.

“Ini merupakan agenda rutin kami dari Gusdurian Kota Malang yang diadakan setiap tahun untuk terus mengajak pemuda kita saling toleransi antarumat beragama. Terbukti banyak kalangan yang mengapresiasi kegiatan kami. Ada banyak elemen pemuda dari berbagai agama, sekte, maupun ormas dalam Islam yang turut serta,” kata Fauzan selaku ketua Gusdurian Kota Malang.

Haedar Nashir

“Ini merupakan agenda awal kami bersama Gusdurian Kota Malang untuk menyongsong rencana besar bulan Oktober di mana kita akan mengadakan Forum Pemuda Lintas Damai Nasional yang akan di-hosting di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya atas kerja sama dengan LOF (Lembaga Otonom Fakultas) Al Hisaf (Al Hifdus Saqofah) FPIK UB,“ terang Ikbar Al Asyari selaku Sektretaris Umum IPNU Universitas Brawijaya.

Harapan ke depannya, kegiatan-kegiatan bernuansa toleransi umat beragama dapat lebih diterima dan menarik banyak pemuda untuk aktif terlibat sehingga, kegiatan tersebut mampu terdistribusi secara masif dan luas di masyarakat kita untuk lebih mengedepankan toleransi beragama dan tetap menjaga kerukuran beragama. (Irwanto Marhaenis/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Habib, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90

Bogor, Haedar Nashir. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Mahasiswa Bogor (IPB) Isti’laul Qudroh pengembangan diri peningkatan kemampuan di pondok pesantren Mina 90,  Cibeureum, Kabupaten  Bogor, Jawa Barat pada Sabtu malam (30/11).

Kegiatan yang merupakan jenjang pertama memasuki KMNU IPB tersebut diikuti 50 mahasiswa dan mahasiswi. Para santriyin dan santriyat pesantren tersebut juga ikut berbaur pada acara tersebut.

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90 (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90 (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90

Dalam pantauan Haedar Nashir, sebelum acara yang digelar selepas Isya, para peserta dan para santri makan malam bersama di atas daun pisang dengan lauk pauk yang sederhana.

Haedar Nashir

Wakil Ketua KMNU IPB, Ahamad Mujib, mengatakan Isti’lalul Qudroh tahun kelima ini merupakan cara KMNU IPB untuk mengabdi kepada masyarakat, “Setiap pelajaran di kampus dipraktikan di sini (pesantren KMNU 90) mulai dari budi daya tanaman seperti sayuran organik dan pengembangan dan budidaya lele,” katanya.

Pengasuh Pesantren Mina 90 Kiai Misbahudin mengungkapkan senangnya dengan adanya kegiatan ini. “Mudah-mudahan kebersamaan ini berlanjut. Tidak sampai di sani saja,” harapnya.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, kegitan ini merupakan proses menjadi khoirun nas anfa’uhun li nas, atau manusia yang terbaik di antara manusia lain adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. “Marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi manusia bermanfaat,” imbaunya.

Allah, kata dia, memberikan potensi yang bermanfaat dan buruk, tapi yang harus dipupuk adalah potensi yang baik supaya menjadi khoirun nas anfa’uhun li nas. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Habib Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi

Sumedang, Haedar Nashir - Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Sumedang membentuk koperasi di Hotel Hanjuang Cimalaka, Sumedang, Sabtu (6/11). Pihak LPNU Sumedang meresmikan kepengurusan koperasi yang dilakukan bersamaan dengan rapat koordinasi pengurus, lembaga, banom, dan seluruh ketua MWCNU se-Kabupaten Sumedang.

Koperasi NU dikelola oleh pengurus LPNU Sumedang yang terdiri atas Ketua LPNU Sumedang Ramli Masdar, Sekretaris Delis Martini, Wakil Sekretaris Syarif Hidayatulloh, dan Bendahara Romlah. Kepengurusan koperasi ini dilantik oleh Ketua PCNU Sumedang KH Sadulloh. Menurut Sa’dulloh, tujuan pembentukan Koperasi NU ini adalah untuk menyejahterakan warga Nahdliyyin khususnya, dan warga Sumedang pada umumnya.

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sumedang Kini Miliki Koperasi

Ia berpesan agar pengurus Koperasi NU yang baru dilantik itu benar-benar menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan memiliki kredibilitas yang tinggi terhadap koperasi NU Sumedang.

Haedar Nashir

Ketua LPNU Sumedang Ai Faridah berharap semua pengurus NU dan nahdliyin berkenan masuk menjadi anggota Koperasi NU ini sehingga tujuan pendirian koperasi ini dapat tercapai sesuai harapan.

Alhamdulillah, anggota yang terdaftar sekarang kurang lebih 150 orang. Yang terdiri dari pengurus, lembaga, banom, dan MWCNU. Kemungkinan akan terus bertambah sehubungan dengan mayoritas warga nahdliyin di Sumedang ini mendominasi,” kata Ramli Masdar.

Nantinya Koperasi NU ini akan ditempatkan di Kantor PCNU Sumedang. Koperasi ini memfasilitasi simpan-pinjam juga berbagai macam sembako, dan kebutuhan-kebutuhan atribut NU lainnya.

Haedar Nashir

Ade Saepudin dari Dinas Koperasi dan UMKM Sumedang memberikan sambutan tentang perkoperasian di Sumedang. Menurut Ade, koperasi adalah badan hukum yang berdasarkan pada asas kekeluargaan yang anggotanya terdiri atas orang perorangan atau badan hukum yang tujuannya untuk menyejahterakan anggotanya.

Umumnya sebuah koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Pesantren, Habib Haedar Nashir

Selasa, 12 Desember 2017

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

Bondowoso, Haedar Nashir - Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui wakil bupati setempat,H Salwa Arifin, mengucapkan selamat hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama (NU). Ia memuji peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mewujudkan kehiudupan yang harmonis di masyarakat. Menurutnya, kiprah ini tak bisa disepelekan.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan kata sambutan dalam peringatan harlah ke-94 NU yang digelar Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Bondowoso, Kamis (13/4) sore.

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Bondowoso: NU Berjasa Ciptakan Ketenteraman

“Saya harus ucapkan terimakasih kepada NU," ucapnya di alua pendopo kantor Bupati Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Haedar Nashir

Baginya, peran NU terbesar adalah mempu menciptakan ketenteraman baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten.

Haedar Nashir

PCNU Kabupaten Bondowoso memperingati harlah kali ini dengan Taushiyah Khusus Penguatan Kelembagaan. Kegiatan tersebut diikuti jajaran ketua, rais, seketaris, bendahara dari tingkatan Ranting, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), dan lembaga serta badan otonom NU se-kabupaten Bondowoso.

Ketua PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam mengatakan, kegiatan harlah ke-94 PCNU Bondowoso dimulai sejak keikutsertaannya dalam acara Istighotsah Kubro yang dihelat PWNU Jawa Timur di Sidoarjo. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Malang, Haedar Nashir - Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Malang, KH Marzuki Mustamar menyampaikan, calon bayi yang dikandung oleh ibu dari sang ayah tentu akan berbeda kualitasnya dengan orang tuanya. Karena itu jangan sampai para orang tua mengurangi kualitas calon bayi tersebut.

“Agar kualitasnya tidak berkurang, marilah kita menjaga makanan kita dari hal-hal yang syubhat apalagi haram. Bibit yang bagus dengan perawatan yang baik insyaallah akan menjadi baik,” demikian disampaikan KH Marzuki Mustamar dalam satu acara resepsi pernikahan Agus Habibullah dan Ning Aminah di Malang, Ahad (28/2) kemarin.

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Menjaga “Kualitas” Calon Bayi Kita

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu melanjutkan taushiyahnya. Setelah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, para calon orang tua juga harus memilih “bibit” yang baik atau pasangan yang baik agar kebaikan itu bisa menjadi penuh seutuhnya.

Haedar Nashir

Lalu setelah anak terlahir ke dunia, para orang tua harus menyiapkan lingkungan yang baik untuk menjadi tempat berkembangnya akhlak.

Salah satu cara menyiapkan lingkungan yang baik yang disarankan oleh KH Marzuki adalah memondokkan atau memasukkan anak ke pondok pesantren. Di pondok pesantren, anak-anak akan berada di lingkungan yang paling baik.

Haedar Nashir

“Di sana seorang anak akan dididik dengan guru-guru yang ikhlas dan tanpa pamrih. Semuanya juga muslim dan shalih,” demikian KH Marzuki Musytamar. (Abu Husam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

Jakarta, Haedar Nashir. Grand Syekh Al-Azhar melalui delegasinya Prof DR Abdul Mun’im Fuad mengapresiasi gerakan Aswaja yang digelorakan Nahdlatul Ulama. Prinsip-prinsip beragama NU yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW itu, menurutnya, sangat kontekstual dengan kondisi dunia kekinian.

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

“Toleransi nilah yang dibutuhkan orang dunia sekarang ini. Inilah manhajul (jalan hidup) Islam sesungguhnya,” kata Mun’im Fuad menyampaikan salam Grand Syekh Al-Azhar dalam bahasa Arab di Jakarta, Rabu (27/5) siang.

Di hadapan pengurus lengkap harian Syuriyah danTanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad yang memimpin rombongan Al-Azhar Mesir itu menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan tathorruf (ekstrem), irhab (teror), ifroth (berlebihan), tafrith (abai), dan tasyaddud (kekerasan).

Haedar Nashir

Qimatuna (nilai keberagamaan kita) itu terletak pada wasuthuna (kemoderatan kita) itu sendiri. Singkat kata, Al-Azhar sepakat dan mendukung gerakan tawasuth NU yang terus mengglobal,” kata Mun’im Fuad menutup sambutannya.

Sementara Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan jumlah agama resmi, keragaman suku, dan sejumlah paham politik yang berkembang di Indonesia.

Haedar Nashir

“NU sebagai ormas muslim terbesar di Indonesia akan terus mengawal keragaman dalam bingkai asas Pancasila dan persatuan NKRI,” kata Kang Said yang juga menggunakan bahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib, Cerita Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggandeng Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) untuk memberikan pemahaman dan pencegahan paham ektremisme di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek.

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

"Pelajar perlu pemahaman pencegahan paham ISIS (Negara Islam Suriah dan Irak) dan ideologi transnasional lainnya karena para teroris sudah melirik kalangan pelajar untuk dijadikan pengantin. Terutama kalangan Rohis dan LDK sekolah negeri," kata Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam Harisah.

Ia mengatakan? hal itu saat memberikan kata sambutan pada “Workshop dan Komitmen Bersama Pencegahan Paham ISIS di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek antara PP IPNU dengan BNPT” di Jakarta Selatan, Rabu (12/8).

Haedar Nashir

Dalam acara bertema “Pelajar Damai Cinta Indonesia” itu, Anam mengatakan pelajar sebagai generasi penerus bangsa perlu menanamkan dalam dirinya cinta tanah air. Selain itu, lanjutnya, mengetahui sejarah kemerdekaan dan masuknya Islam ke Indonesia tidak kalah penting, agar tidak mudah terpengaruh dengan paham ISIS.

"Jangan lupa penyebaran Islam di Indonesia itu tanpa pertumpahan darah dan tanpa peperangan. Hari ini masak kita mau disuruh perang dengan saudara sesama muslim, untung saja yang jadi nabi bukan orang ISIS pasti kita masih dalam kegelapan," imbuh Anam semangat.

Haedar Nashir

Ia menambahkan agar pelajar bersyukur ada di Indonesia karena ulamanya moderat dan berhasil merumuskan hubungan negara dengan agama melalui ideologi bangsa yakni Pancasila. Sementara, lanjutnya, di Timur Tengah ada ribuan ulama, tiap bulan ratusan kitab diterbitkan, tapi karena tidak punya nasionalisme yang kuat, muncullah gerakan Negara Islam Suriah dan Irak seperti sekarang.

"Mari kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama menjadikan Islam rahmatan lil alamin bukan Islam yang marah, apalagi Islam yang tidak toleran. Jika ada yang mengajak bergabung dengan ISIS tolak dan segera lapor ke pihak berwenang," tegasnya.

Dalam workshop ini hadir sebagai pembicara Deputi I BNPT Agus Surya Bakti, Perwakilan Kemenag Hilmi Muhammadiyah, KPAI Asrorun Niam dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Prof. Dr. Bambang Pranowo.

PP IPNU dengan BNPT rencananya akan melakukan roadshow pencegahan ISIS di 7 wilayah yang masih dianggap subur gerakan radikal seperti Cirebon, Solo, Lamongan, Mataram, Banjarmasin dan Makassar. PP IPNU dalam kesempatan yang sama akan mendeklarasikan gerakan Pelajar Islam Nusantara (Pintar) di 7 wilayah tersebut. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan

Jakarta, Haedar Nashir. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Meskipun begitu, di era serba modern ini, santri juga tak boleh ketinggalan. Hal inilah yang dipesankan oleh Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir.

“Santri zaman sekarang itu harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dan perubahan yang terus maju,” katanya usai acara Santri of The Year 2017 di Galeri Nasional, Jakarta, Ahad (22/10).

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Adaptasi Lingkungan dan Perubahan

Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu juga menyampaikan, bahwa santri juga harus menguasai berbagai bidang.

“Sebagai santri harus makin pinter, harus makin modern ke depan. Sains dan teknologi harus dikuasai,” ujarnya.

M Nasir didapuk untuk memberikan penghargaan kepada KH Abdul A’la atas terpilihnya sebagai Santri Inspiratif bidang pendidikan. Kiai asal Madura itu memperoleh poling terbanyak. Ia merupakan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Aam PBNU yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Maruf Amin mengaku merasa kehilangan dengan meninggalnya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Slamet Effendy Yusuf yang dikenal sebagai sosok organisatoris.

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Slamet Effendy Yusuf Sosok Organisatoris

"Slamet adalah seorang organisatoris dengan pengalamannya di organisasi," kata Kiai Ma’ruf saat dihubungi dari Jakarta, Kamis, (3/12)

Menurut Maruf, Slamet banyak bergerak di berbagai organisasi seperti pernah menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor. Selain itu, masih kata Maruf, Slamet juga menjadi Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI).

Haedar Nashir

Almarhum Slamet Effendy Yusuf sebelumnya juga pernah lama berkecimpung di dunia politik sebagai kader dan pengurus Partai Golkar.

Haedar Nashir

Dia pernah menjabat Ketua MPR-RI periode 1988-1993 dan anggota DPR-RI periode 1992-2009 dari Partai Golkar.

Slamet juga pernah menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar dan sempat pula menjabat Ketua PBNU periode 2010-2015, Ketua MUI pada periode 2009-2014 dan Waketum MUI 2015-2020.

"Jadi pengabdian almarhum begitu besar kepada bangsa dan negara serta agama," kata Kiai Ma’ruf.

Slamet Effendy Yusuf meninggal dunia pada Rabu (2/12) malam sekitar pukul 23.00 WIB di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 67 tahun. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib Haedar Nashir

Selasa, 14 November 2017

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Waykanan, Haedar Nashir. Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung mendapat apresiasi positif dari peserta yang berasal dari tiga kecamatan dan empat sekolah di daerah tersebut sehubungan memberikan wawasan lebih, ujar sejumlah peserta di Blambangan Umpu, Senin (1/6).

"Kegiatan ini membuat pola pikir kami menjadi optimistis. Sanlat BPUN memberikan wawasan plus-plus bagi saya. Saya tidak ragu lagi mengkampanyekan pentingnya kegiatan luar biasa ini bagi adik-adik kelas saya," ujar Diduri Sri Faridah, peserta dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Sanlat BPUN Waykanan dihelat di Pesantren Tahfidzul Quran 18 Mei hingga 1 Juni 2015. 9 hingga 17 Mei, 27 peserta belajar mandiri setelah mendapatkan modul dari penyelenggara. Namun saat karantina mulai berlangsung, sejumlah peserta mengundurkan diri sehingga diikuti 14 peserta.

Haedar Nashir

"Program ini gratis, tanpa dipungut biaya. Tahun depan, kami siap berpartisipasi mencarikan donatur untuk terselenggaranya BPUN di Waykanan sehingga bisa diikuti adik-adik kelas kami," ujar Ayu Sri Ningsih, Siti Husnul Khotimah, Eis Novia, Nindya Fela Roza dan Frastika dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sejumlah peserta mengaku jarang melakukan sholat wajib di rumah masing-masing. Tapi saat mengikuti Sanlat BPUN, setiap peserta harus mengikuti sholat rawatib berikut tahajud dan dhuha, terkecuali bagi perempuan yang sedang berhalangan.

Haedar Nashir

"Ini salah satu nilai lebih Sanlat BPUN. Ibadah kami ditempa, bahkan setiap malam Jumat diwajibkan untuk Yasinan," papar Ayu menambahkan. Selain ibadah, Ayu juga mengaku mendapat lecutan semangat dari sejumlah narasumber yang dihadirkan. Salah satu diantaranya, Sekretaris PAC GP Ansor Baradatu Very Triyono.

Very merupakan mahasiswa STAI Maarif Baradatu, Waykanan. Very yang membiayai kuliahnya sendiri dengan berdagang telur puyuh hingga sabun mandi bercita-cita melanjutkan kuliah hingga strata 2.

"Sahabat Very membuat kami mempunyai semangat untuk tidak takut berwirausaha. Kami semakin optimistis melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi," ujar Diduri Sri Faridah lagi.

Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto menambahkan, kualitas peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015, dari pola pikir dan ibadah insyaallah mengalami kenaikan.

"Ibadah yang diajarkan selama Sanlat BPUN harus dilanjutkan dan dilakukan di rumah. Santri BPUN Waykanan harus menjadi satu lilin yang bisa menerangi seribu lilin. Memberikan ilmu bermanfaat akan terus dicatat sebagai amal ibadah. Santri BPUN Waykanan 2015 harus mempunyai saham untuk masuk surga dengan tidak ragu dan malu berbagi untuk sesama," ujar Gatot.

Sanlat BPUN Waykanan diikuti peserta dari empat sekolah, yakni SMAN 1 Blambangan Umpu, SMAN 2 Blambangan Umpu, SMAN 1 Baradatu dan SMAN 2 Gununglabuhan. Berdasarkan hasil musyawarah peserta, Disisi Saidi Fatah dari SMAN 1 Blambangan Umpu dipilih menjadi Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015, lalu Sekretaris Dicky Afrizal dari SMAN 2 Gununglabuhan dan ? Bendahara Diduri Sri Faridah dari SMAN 1 Blambangan Umpu. Adapun koordinator bidang studi IPA dipercayakan kepada Suryaningsih dan IPS dipercayakan kepada Siti Husnul Khotimah, keduanya dari SMAN 1 Blambangan Umpu.? ? ? ?

Bendahara PC GP Ansor Waykanan Abdullah Candra Kurniawan menyerahkan piagam keapada perwakilan peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015 Ocha Sindy Octa Vintika dari SMAN2 Blambangan Umpu disaksikan Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto dan Pengasuh pesantren Tahfidzul Quran Ustad Ahmad Jasmani. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Bahtsul Masail, Kyai Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

Jombang, Haedar Nashir. Selama 3 hari (2-4/3), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang Jawa Timur menyelenggarakan "Sekolah Menulis". Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan sarjana dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng.

"Kita sadar bahwa kekurangan yang menjadi keprihatinan bersama adalah minimnya kemampuan kader yang bisa mempublikasikan kegiatan yang diselenggrakan pengurus dan kader," kata Nizar Rafi al-Muttaqin kepada Haedar Nashir, Senin (2/3). Padahal dalam pandangan alumnus Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari Jombang ini, ada banyak kegiatan yang dilakukan PMII baik internal organisasi maupun pendampingan di masyarakat, lanjutnya.

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

"Namun karena minimnya para penulis, khususnya mereka yang memiliki kecakapan dalam menulis berita, nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan tidak pernah terpublikasi," kata Ketua 1 PC PMII Jombang yang menangani kaderisasi ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari keprihatinan tersebut, akhirnya menginspirasi para aktivis PMII menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Jurnalistik". Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng. "Hari pertama dilaksanakan di kantor redaksi Majalah Tebuireng, dan selanjutnya di perpustakaan pesantren ini," terangnya.

Haedar Nashir

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi seputar penulisan berita dan feature, cara menulis opini hingga penulisan tokoh. "Ini masih informasi awal, selanjutnya akan dilakukan pendalaman," kata Nizar, sapaan akrabnya.

Diharapkan usai kegiatan ini, maka akan lahir para jurnalis muda yang memiliki kepedulian dengan kegiatan yang diselenggarakan. "Baik yang dilakukan secara rutin di internal PMII maupun di Nahdlatul Ulama," terangnya.

Sejumlah narasumber dihadirkan. Di antaranya Romza M Gawat dari Radar Mojokerto yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. "Mas Romza menyampaikan materi seputar penulisan berita," tandas Nizar. Narasumber lain adalah Ahmad Faozan dari media Tebuireng Grup dengan bahasan seputar penulisan opini dan artikel.

Bagaimana format media yang akan dikelola usai kegiatan ini, Nizar menyampaikan bahwa ada salah seorang tokoh di Jombang yang berkenan untuk membiayai media yang akan dikelola. "Kita menginginkan media yang akan dikelola berbentuk buletin yang dicetak sesuai dana yang telah disanggupi investor," ungkapnya.

Karena itu, demi menjawab tantangan dan kesempatan yang diberikan, PMII akan menjawabnya dengan ketersediaan kader yang memiliki kelebihan dalam tulis menulis ini.

"Memang butuh proses," kata Nizar. Namun kedekatan antara narasumber dengan para peserta pelatihan, maka dapat dipastikan perkembangan kemampuan peserta dapat terpantau dengan baik. "Intensitas komunikasi dan konsultasi adalah juga faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan ini," pungkas Nizar. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Habib, Pertandingan Haedar Nashir

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Terletak di Cap Tanger, daerah terujung wilayah Maroko dan terdekat dengan kota pelabuhan Tarifa Spanyol, Pesantren Salaf Mnar (Mahad Mnar lit Talimil Athiq) kokoh berdiri. Meski di berada tempat terpencil, jumlah santri di pesantren ini tergolong banyak. Namanya cukup populer di kalangan masyarakat Maroko.

Didirikan pada tahun 1993 pesantren ini mendapat tempat khusus bagi para santri-santri Maroko. Dan bahkan beberapa mahasiswa nusantara kerap kali mengunjungi pesantren ini untuk sekedar tabarukan dan bernostalgia dengan suasana pesantren di Tanah Air.

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Secara bangunan fisik, pesantren ini mirip sekali dengan pesantren induk di Pondok Pesantren Ploso atau Lirboyo. Meski terlihat tidak seragam karena diarsiteki oleh para santri sendiri, tetapi pesantren ini nyaman dan suasananya asri. Khas kota santri. Ditambah lagi pemandangan laut biru Atlantik dan hawa sejuk Kota Tanger.

Syeikh al-‘Allamah Muhammad Marsho adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren Mnar ini. Kecuali materi umum, hampir semua mata pelajaran dibimbing langsung olehnya.

Haedar Nashir

Syeikh yang merupakan cicit dari Syeikh Abdus Salam Al Masyisy (Guru dari Syeikh Abul Hasan Assyadzili) ini merupakan salah satu ulama di Kerajaan Maroko yang terkenal hebat di bidang ilmu Alat alias gramatika Arab. Dalam mengajar sehari-hari ia sangat istiqomah dan khidmah terhadap ilmu. Sosok yang tawadlu dan santun, membuat setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Haedar Nashir

Kiai yang merupakan santri senior dari Keluarga Ghumari ini menjadi pengajar primer di pesantrennya sendiri. Beliau duduk bersila di aula pesantren dan mulai mengaji pada pagi buta hingga siang hari non stop. Dan rata-rata beliau hafal diluar kepala materi yang beliau ajarkan. Tak heran jika banyak dari pesantren ini para lulusan-lulusan yang menjadi ulama-ulama yang dalam ilmunya, diantaranya Syaikh Haskuri Tanjawi guru besar Hadits di Tanger, Syeikh Syallaf Awwamy , Syeikh Muhammad Syadzili Sastrawan asal Dukkala dll.

Di antara materi yang diajarkan beliau adalah Alfiyah ibnu Malik dan Jurumiyah dalam ilmu nahwu, Jauhar Maknun karya Abdurrahman Akhdlari dalam ilmu balaghah, Al-Mursyidul Muin karya Ibnu Asyir dan Tuhfah ibnu Ashim Al-Andalusy dalam fiqih Maliki, Risalatu Abi Zaid al Qirawani dalam fiqih, Nukhbatul al-Fikar karya ibnu Hajar dalam musthalah hadits, Nailul Awthar Karya Imam Syaukani dalam Hadits, A-Waraqat karya Imam al-Juwaini dan Jamul Jawami karya Imam Subki dalam ilmu ushul fiqih, Risalah Adudiyah karya Imam Adhuddin dalam ilmu wadh, dan lain- lain.

Sistem kepesantrenan di Maroko dinilai bagus. Beberapa kali kementrian waqaf sebagai pemangku kebijakan muqarrar (materi pelajaran) dalam Pendidikan Islam di Maroko mendapatkan penghargaan dari Negara-negara arab atas kurikulum yang diterapkan di Talimul Athiq (pesantren) di Maroko. Tidak hanya menyusun muqarrar, Kementerian Waqaf juga menyediakan kasur hingga urusan tepung terigu, minyak zaitun, teh dan kopi untuk para santri. Mereka bagikan kepada santri untuk menyamankan perjalanan mereka dalam rangka mencari ilmu. Barangkali berbeda dengan atensi pemerintah Indonesia terhadap Pondok pesantren saat ini. (M.Nurul Alim/Mahbib)

 

Foto: anggota PCINU Maroko bersama pengasuh pesantren dalam rangka mengikuti pengajian pasaran



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib Haedar Nashir

Minggu, 22 Oktober 2017

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kiai Said mengatakan, budaya itu harus menjadi infrastruktur atau pondasi agama.?

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

"Tanah air dulu yang kokoh, baru agamanya," kata Kiai Said mengawali pembicarannya saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) II dengan tema Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah: Kokohkan Karakter Generasi Bangsa yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Maarif NU di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (25/3).

Kiai Said juga meminta kepada Nahdliyin untuk aktif dan menyebarkan Islam damai di dunia maya.

"Kita harus menguasai medsos (untuk mendakwahkan Islam yang damai dan ramah). Kalau tidak pakai medsos, kalah kita," cetusnya.

Terkait dengan agenda Perwimanas, Kiai Said berharap, kegiatan tersebut bisa melahirkan kader-kader muda yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.

Haedar Nashir

"Semoga membawa kemajuan kepada Maarif, " terangnya.?

Sementara itu, Ketua LP Maarif NU KH Z Arifin Junaidi mengatakan, acara perkemahan ini adalah yang kedua.

Haedar Nashir

Lebih jauh, ia menyebutkan, tujuan diadakannya kemah nasional ini ada dua. Pertama, melahirkan kader-kader muda yang memiliki paham Aswaja An Nahdliah.

"Yang kedua, kita ingin menciptakan kader NKRI harga mati," jelasnya.

Terkait kegiatan kemah tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi mengatakan akan mendukungnya.

"Kita tidak hanya mendukung, tetapi mendorong," kata H Imam disambut gelak tawa penonton.

Ia berharap, acara kemah nasional yang diselenggarakan LP Maarif NU itu bisa membawa dampak yang positif.?

Melalui pramuka, ia berharap acara tesebut bisa meng-ahlussunnah-kan masyarakat sekitar.?

"Pramuka bukan hanya untuk pramuka saja, tetapi juga untuk masyarakat," cetusnya.

Rencananya, acara kemah nasional ini akan digelar pada 18 - 20 September 2017 di Magelang dan diikuti enam ribu peserta. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Khutbah, Habib Haedar Nashir