Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Gus Mus Dituduh Liberal?

Kendal, Haedar Nashir. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dituding sejumlah pihak beraliran liberal. Berkaitan dengan itu, warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kendal, Jawa Tengah, meminta pihak yang menuding Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 sebagai sosok liberal menggunakan nalarnya dengan baik.

"Yang bilang Syaikhona Gus Mus itu liberal sebaiknya mikir! Lihat dari dekat dengan hati dan akal sebelum mengatakan beliau liberal," ujar Shuniyya Ruhama Habiballah, warga NU di Kendal, Selasa (11/8).

Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Dituduh Liberal?

KH Ahmad Mustofa Bisri hingga hari ini akrab dipanggil Gus Mus. Sapaan “gus” lazimnya diperuntukkan bagi putra kiai dan umumnya berusia muda. "Padahal beliau itu kiai sepuh disegani banyak orang, ilmunya seperti lautan tak bertepi. Sementara orang baru belajar agama Islam, baru tahu satu dua ayat dijerumuskan teman-temannya dengan sebutan ustadz. Liberal siapa?" kata dia.

Haedar Nashir

Menurutnya, Gus Mus yang dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944 selalu sumringah, bersikap melayani, tidak seperti ndoro yang selalu minta dilayani.

"Tidak peduli yang sowan itu pejabat atau penjahat, semua diterima dengan tangan terbuka. Tidak pernah menghakimi orang lain. Sementara yang baru saja belajar agama sudah berani menggantikan tugas Malaikat Rokib dan Malaikat Atid, bahkan tidak segan-segan mengambil alih tugas Malaikat Ridwan dan Malaikat Malik. Liberal siapa?" ujar Shuniyya lagi.

Haedar Nashir

Menurutnya, jika disowani, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang tersebut dengan senang hati diajak foto bersama karena ingin menyenangkan hati semua orang.

"Tidak ada sedikitpun umpatan dan cacian yang akan kita dengar dari lisan beliau yang mulia. Bandingkan saja dengan sebarisan orang yang mengharamkan foto narsis, mencaci, memaki, bahkan tidak segan-segan meneraka-nerakan orang lain. Di saat yang sama, fotonya dengan berbagai gaya dan pose bertebaran di mana-mana. Liberal siapa?" tuturnya lagi.

Pada Muktamar NU 33 di Jombang 2015, Gus Mus bahkan bersedia mencium kaki para peserta supaya tetap tenang.

"Kiai sepuh panutan umat kok mau-maunya menyatakan hal semacam itu. Sementara yang di sana, jangankan mencium tangan kiai, sowan saja entah mau entah tidak. Liberal siapa? Lihat saja, saat beliau begitu saja menolak jabatan tertinggi dari ormas Islam terbesar di dunia, padahal sudah pernah menjadi pejabat sementara saat Syaikhona Mbah Sahal Mahfudh Pati berpulang ke rofiqul a’la sebelum selesai tugasnya, dan didukung penuh oleh kiai sepuh yang lebih senior, beliau hanya tertunduk, menangis, merasa tidak pantas. Lha yang di sana itu, malah mengangkat dirinya sebagai pemimpin ini itu, imam ini itu, setidaknya dijerumuskan teman-temannya sendiri dalam jabatan itu, petentang-petenteng padahal ada yang jauh lebih pantas atas sebutan dan jabatan itu. Liberal siapa?" katanya lagi.

KH Ahmad Mustofa Bisri pada Senin (10/8) kemarin berulang tahun yang ke-71. Ucapan selamat dan doa datang dari berbagai kalangan. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Rabu, 14 Februari 2018

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Banyuwangi, Haedar Nashir - Sebelum membuat kebijakan atau kegiatan, para kader NU harus menyiapkan konsep yang jelas. Mulai dari latar belakang masalah, segmentasi, waktu dan tempat, sampai apa kegiatan lanjutan setelah kegiatan itu dilakukan.

Demikian dikatakan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU (IPNU) Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami saat memberikan materi "Advokasi Kebijakan Publik" pada Latihan Kader Utama (Lakut) yang digelar Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Banyuwangi, 16-19 Februari 2016, di Pondok Pesantren Baitussalam, Tampo, Cluring, Banyuwangi, Jatim.

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Diimbau Siapkan Kader Penggerak di Desa-desa

Menurutnya, masih banyak para kader IPNU melakukan beberapa kegiatan yang belum terkonsep dengan jelas dan rapi. "Sehingga hasilnya jelas, kegiatan yang telah dilakukan tidak memiliki manfaat yang signifikan," tegas Haikal.

Sumber daya manusia di setiap kader yang dimiliki juga masih banyak yang kurang kompeten dan profesional. "Betapa fatalnya jika selama ini hanya menjaring dan membentuk kader di setiap desa, akan tetapi tidak sebanding lurus dengan pelatihan pengembangan sumberdaya kader di masing-masing desa," imbuh Haikal.

Haedar Nashir

"Untuk itu, saya pribadi selaku pimpinan wilayah kedepan bertekad untuk mengumpulkan seluruh pimpinan cabang yang ada di Jatim, untuk kita didik melakukan inovasi-inovasi gerakan terbaru. Di antaranya, akan ada program ngaji Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)," tutur Haikal.

Haedar Nashir

Pelatihan Lakut ini adalah upaya positif yang terus didorong. "Dengan ini potensi SDM kader-kader yang kita miliki lebih baik. Juga akan menjadi muharrik (penggerak) di setiap desa. Ini investasi gerakan grass root (akar rumput)," tuturnya.

Pelatihan ini diikuti oleh puluhan perwakilan pengurus PC IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Selama empat hari mereka dididik dengan 15 materi lanjutan selepas latihan kader muda (Lakmud). (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Makam Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Haedar Nashir - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

Haedar Nashir

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Haedar Nashir di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

Haedar Nashir

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Makam Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Jombang, Haedar Nashir. Asrama Al-Hambra pesantren Darul ‘Ulum Jombang di bawah asuhan Gus Binhad Nurrohmat dan Hj Ma’murotus Sa’diyah yang juga rektor Universitas Darul ‘Ulum Jombang) mengadakan Pelatihan Membaca Kitab Kuning Kilat.

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Ditemui Haedar Nashir, Gus Binhad Nurrohmat menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah agar belajar para santri lebih meningkat.

“Tujuan pelatihan ini adalah memperkenalkan metode pembelajaran tata bahasa Arab yang berbeda agar santri lebih antusias belajar bahasa Arab. Ini penting dilakukan agar santri lebih semangat dan makin mumpuni berbahasa Arab dan bisa mengakses isi kitab-kitab langsung melalui bahasa aslinya,” ujarnya.

Haedar Nashir

Pelatihan yang terus berlanjut selama beberapa sesi  ini dipandu pengasuh pesantren Darul ‘Ulum Karangpandan Pasuruan Gus Haidar Hafidz. Gus Haidar yang juga pengurus Lesbumi Pasuruan menamai metodenya “Ar-Rumuz”.

“Para santri jangan takut membaca kitab. Caranya langsung baca kitab mukhtashar jiddan, kosongan,” ujarnya dalam pelatihan di Pendopo Thoriqoh, Sabtu (22/3) malam.

Haedar Nashir

Menurutnya, kunci membaca kitab itu dua, ketepatan i’rab dan bina’. Santri tak perlu menghafal. Cukup menulis dan membaca secara terus menerus diagram sistematika i’rab dan bina.

Gus Haidar mengatakan, cukup tiga hingga lima pertemuan para santri sudah mahir membaca kitab dasar semacam mukhtashar jiddan. “Pokoknya santri harus berani belajar membaca. Jangan disalahkan. Kita pandu. Biarkan santri mencari sendiri pemahamannya, dan ini membutuhkan kamus semacam Al-Munawwir.”

Di setiap selesai pemahaman metode, para santri diminta menghadiahi fatihah kepada masyayikh. “Agar ada yang mendampingi secara spiritual,” ujar Gus Haidar serius.

Fitrah, seorang santri ketika ditanya kesan pelatihan ini menyampaikan, “Saya senang dengan pelatihan ini. Saya bisa lebih mudah membaca dan mengartikan  kitab. Lebih percaya diri.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Kajian Haedar Nashir

Senin, 15 Januari 2018

GP Ansor Kalbar Adakan Ngaji Kebangsaan

Pontianak, Haedar Nashir?



Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Kalimantan Barat melaksanakan Ngaji Kebangsaan bertema "Menjaga Tradisi, Mengawal Konstitusi Untuk Keutuhan NKRI" di aula Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Rabu (21/12).

Kegiatan tersebut mendatangkan 2 narasumber, di antaranya adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Pertahanan Provinsi Kalbar Marsekal Pertama TNI Rakhman Haryadi dan pakar ushul fiqh Mahad Aly Situbondo dan Pengarang Kitab Fathul Mujib Al-Qorib KH Afifudin Muhajir.?

GP Ansor Kalbar Adakan Ngaji Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kalbar Adakan Ngaji Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kalbar Adakan Ngaji Kebangsaan

Ketua PW GP Ansor Kalimantan Barat Nurdin melalui siaran pers yang diterima Haedar Nashir Kamis (22/12) menyampaikan menjaga tradisi adalah mengamalkan nilai-nilai Aswaja dalam diri maupun dalam berbangsa.

“Dan dalam mengawal konstitusi sebuah kenegaraan mampu menjaga keutuhan NKRI dari segala ancaman, serta menanamkan pemahaman 4 pilar sebagai bentuk menjaga keberagaman yang ada di Indonesia," imbuhnya.

Haedar Nashir

Kiai Afifudin menyampaikan menjaga tradisi sangat tepat di dalam diri GP Ansor yang merupakan banom Nahdlatul Ulama.

Sementara Rahman Haryadi menjelaskan, bangsa Indonesia, peran serta sebagai warga negara sangat penting dalam membangun pengetahuan.

Haedar Nashir

"Karakter Bangsa adalah doktrin untuk menumbuhkan sikap yang diinginkan sesuai dengan nilai-nilai amalan Pancasila agar bisa memberi contoh yang baik serta peran serta dalam mengawal negara Indonesia," tambahnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Ulama Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Boyolali, Haedar Nashir. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Sabtu (14/6), sejak pukul 05.30 WIB sudah terlihat ramai. Ratusan warga pun mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan Bubak.

Seperti di daerah lain, meski dengan istilah berbeda, Bubak atau kegiatan membersihkan makam dilakukan warga Mlambong untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan bergotong-royong mereka membersihkan bersama, lingkungan di kompleks pemakaman dan sekitarnya.

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Sesepuh warga setempat, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi ini sudah ada sejak lama. “Jangan sampai tradisi ini ditinggalkan,” tutunya singkat.

Haedar Nashir

Usai membersihkan makam, dilanjutkan dengan mendoakan para leluhur dan keluarga yang telah meninggal. “Ziarah ke makam para leluhur ini, waktunya bebas, sebelum Ramadhan tiba,” kata Hadi.

Menurutnya, hal ini merupakan sebagai wujud rasa berbakti (birrulwalidain) warga kepada orang tua maupun para leluhur yang telah meninggal dunia. Selain itu, hal ini juga dapat mempererat rasa persaudaraan antarwarga. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Makam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Minggu, 17 Desember 2017

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

Kendal, Haedar Nashir. Sesepuh majlis dzikir Al-Khidmah Jawa Tengah KH Munir Abdullah mengatakan, warga nahdliyin harus menguatkan kembali aqidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Pasalnya, sekarang banyak bermunculan kelompok agama Islam yang mudah mengkafirkan kelompok agama lain.

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

“Jika ada yang mudah mengkafir-kafirkan orang lain, itu bukan aqidah ahlussunah wal jamaah. Aqidah kita aqidah yang ramah, bukan aqidah yang gampang mengkafirkan ” tegas  pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Grobogan, Jawa Tengah tersebut. 

Hal itu disampaikan dalam tausiahnya pada acara Istigotsah Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihelat Pengurus Cabang Muslimat NU Kendal bersama dengan Majlis Dzikir Al-Khidmah, bertempat di aula Pondok Modern Selamat, Kendal, Kamis (24/1) pagi.

Haedar Nashir

Di hadapan ribuan anggota Muslimat NU Kabupaten Kendal, kiai yang akrab disapa Gus Munir itu menegaskan bahwa Istigotsah berjamaah merupakan salah satu media untuk menguatkan aqidah ala ahlussunah wal jamaah. Sebab, lanjutnya, dengan Istigotsah berjamaah, umat berkumpul mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Illahi.

Pada Istigotsah akbar tersebut, beberapa kiai dan ulama hadir pula untuk turut khidmat membacakan Istigotsah bersama, di antaranya rais syuriyah PCNU Kendal KH Izzudin Abdussalam, KH Nur Rois, KH Zamakhsary, dan ketua Al-Khidmah Jawa Tengah H Joko Suyono.

Haedar Nashir

Dengan mengenakan pakaian serba putih, para jamaah Istigotsah yang berjumlah ribuan orang terlihat memadati aula Pondok Modern Selamat, bahkan ratusan jamaah yang tidak mendapat tempat di dalam aula, tampak duduk di halaman beralaskan koran dan tikar. Mereka terlihat khusyu’ dan khidmat, baik ketika pembacaan Istigotsah maupun ketika mendengarkan tausiah.

ketua PC Muslimat NU Kendal Khadijah Muslih mengatakan, digelarnya Istigotsah akbar tersebut diharapkan dapat mempererat silaturahmi dan memperkuat ajaran ahlussunah wal jamaah melalui tausiah yang disampaikan para kiai.

“Istigotsah ini menjadi ajang berkumpulnya ibu-ibu Muslimat. Selain dapat mempererat hubungan internal antar pengurus PC, PAC, dan Ranting Muslimat se kabupaten Kendal, semoga warga NU semakin kuat dalam melaksanakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin,” tuturnya.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Makam Haedar Nashir

Sabtu, 16 Desember 2017

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin

Makasar, Haedar Nashir?



Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kota ?Makassar dikukuhkan di Aula Kantor Departemen Agama Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Ahad (25/12).?

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin

Pada pelantikan tersebut, ?Rais Syuriah PCNU Kota Makassar AGH. Baharuddin HS mengatakan, ?hadirnya IPNU-IPPNU sebagai pelanjut perjuangan yang diharapkan, untuk menjadi benteng Ahlussunna wal-Jamaah dan menjaga keutuhan NKRI ini.?

Semua kader IPNU dan IPPNU Kota Makassar harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan. "Kalian harus betul-betul fokus belajar dan belajar agar dapat menjadi pemimpin di masa yang akan datang," katanya.

Haedar Nashir

Dia melanjutkan, ?Pemerintah Kota Makassar mengharapkan IPNU-IPPNU dapat bersinergi untuk merealisasikan program-program kepemudaan.?

PC IPNU dan IPPNU Kota Makassar dapat melakukan pembinaan secara berkelanjutan, dengan meningkatkan kualitas kader ditambah memiliki jiwa sosial yang tinggi. "Karena pemuda adalah calon pemimpin masa yang akan datang," pungkasnya.?

?Sementara Ketua PC IPNU Kota Makassar Aswad mengatakan, IPNU-IPPNU adalah organisasi kader yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyiapkan generasi muda NU dimasa yang akan datang?.

Aswad menambahkan, untuk melihat NU diperkirakan 10 sampai 20 tahun ke depan akan tercermin dan terpatri di wajah kader-kader IPNU-IPPNU.?

Haedar Nashir

Oleh karena itu, tentu sangat membutuhkan perhatian banyak pihak, terkhusus bagi orang kita di NU. "Kaderisasi harus terus dilanjutkan, untuk mempersiapkan NU di masa mendatang," tambahnya.?

Pelantikan dihadiri Mantan Wasekjen PP IPPNU Rizal Syarifuddin, Ketua PW IPNU Sulsel Andy Muhammad Idris, Ketua GP Ansor Makassar Agus Salim Said, Sekretaris KNPI Makassar Irwan Ade, dan beberapa tokoh NU dan kader IPNU-IPPNU Makassar. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Tarim, Haedar Nashir. Habib Umar bin Hafidz menegaskan, sikap moderat (wasathiyah) adalah karakter inti ajaran Islam yang merepresentasikan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hal ini ia sampaikan dalam acara bedah buku karyanya, al-Wasathiyyah fil Islam (Moderat dalam Perspektif Islam).

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Diskusi bedah buku diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman cabang Hadhramaut di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universtitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhramaut, Yaman, Jumat (27/12).

Habib Umar mengutip surat al-Baqarah (143), “Dan demikianlah Kami (Tuhan) jadikan kalian umat yang ‘wasath’ (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”

Haedar Nashir

Dalam ayat tersebut umat Islam dipuji Tuhan sebagai golongan yang ‘wasath’ karena mereka tak terjerembab dalam dua titik ekstrem. Yang pertama, ekstremitas umat Kristen yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak keras dimensi jasad dalam kehidupan manusia serta pengkultusan terhadap utusan.

Yang kedua adalah ekstremitas umat Yahudi yang melakukan distorsi atas Kitab Suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi. Habib Umar mengajak setiap Muslim untuk tidak berlaku tatharruf (ekstrem) dalam menjalankan ajaran agama.

Haedar Nashir

“Ekstrimisme yang terjadi akhir-akhir ini terjadi karena konsep wasathiyah mulai terkikis,” terang pengasuh perguruan Darul Mushtafa ini di hadapan 500 pelajar.

Karenanya, tutur Habib Umar, sikap moderat harus menjelma di setiap dimensi kehidupan seorang muslim, baik dalam ranah akidah, pemikiran, etika, maupun  interaksi dengan orang lain.

Habib Umar menyebut Wali Songo sebagai contoh ideal yang berhasil menerapkan prinsip moderat dalam kegiatan dakwah menyebarkan Islam di Nusantara. “Dengan sikap moderat yang ditunjukkan Walisongo, Islam dapat diterima dengan baik di Indonesia,” ujar Habib Umar.

Boleh Ucapkan Selamat Natal

Dalam kesempatan itu, Habib Umar bin Hafidz juga menerima pertanyaan dari peserta diskusi soal hukum mengucapkan selamat (tahni’ah) Natal kepada umat Kristiani. Ia menjawab bahwa ucapan tersebut boleh selama tak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam, seperti klaim Isa anak Tuhan dan keikutsertaan dalam kemaksiatan.

Kebolehan ini, tutur Habib Umar, karena memuliakan para utusan Allah, termasuk Nabi Isa, adalah di antara hal yang pasti diakui dalam Islam (min dharuriyyati hadza ad-din).

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff Dr Muhammad Abdul Qadir al-Aydrus mengatakan, di tengah radikalisme yang marak dalam kehidupan beragama, makna moderasi perlu diulas kembali.

“Setiap orang mengaku dirinya menempuh jalan yang moderat, sehingga pengertian dari terma wasathiyah sendiri harus diperjelas,” ujar dosen jebolan Universitas Badhdad tersebut saat memberi sambutan.

Usai bedah buku, acara Departemen Pendidikan dan Dakwah PPI Hadhramaut ini juga meluncurkan buku berjudul “Janganlah Berbantah-bantahan yang Menyebabkan Kamu Menjadi Gentar dan Hilang Kekuatanmu”, sebuah terjemah atas karya Habib Umar berjudul “Wa La Tanaza’u Fatafsyalu wa Tadzhaba Riihukum”. (Abdul Muhith/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa menjadi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu adalah takdir Tuhan yang tidak bisa diingkari, demikian pula keragaman suku, agama maupun bahasanya.?

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

"Kita bangsa yang satu, tidak boleh kita melawan takdir Tuhan itu. Ini bukanlah persoalan benar atau tidak benar, tetapi ini adalah masalah yang tertanam dalam jiwa kita masing-masing yang di dalam nadi mengalir darah Indonesia," jelas Gus Ishom lewat akun Facebook miliknya, Jumat (28/10).

Kesamaan dalam kebangsaan ini, lanjutnya, mengharuskan kita bertanggungjawab untuk dengan hati-hati merawatnya dan sabar menambal setiap keretakan karena perbedaan dan memerangi setiap apa yang berpotensi memecah belahnya.?

"Pengingkaran terhadap kehadiran bangsa ini adalah perbuatan dosa dan penyimpangan dari akal sehat dan kebenaran ajaran agama," tulisnya.

Haedar Nashir

Sejalan dengan tujuan agama yang ingin menciptakan keharmonisan menurutnya, maka bangsa yang berarti keinginan untuk hidup bersama pun diawali dengan keharmonisan setiap pribadi pemeluknya. Artinya, bangsa ini hanya bisa sehat dan harmonis apabila setiap elemennya berakal sehat, menjadi bangunan yang mengokohkan satu sama lain serta saling terkoneksi dengan baik dan tertib.?

Lebih-lebih agama sendiri lanjutnya, mengajarkan keragaman dan dengan tegas mengharamkan segala bentuk perpecahan. Lebih jauh lagi bahwa diciptakannya perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan atau untuk saling menghinakan, melainkan bertujuan untuk saling melengkapi, memperindah dan membentuk keharmonisan.

"Keragaman agama yang dianut oleh bangsa kita pun tidak terlepas dari kehendak-Nya. Masing-masing penganut agama mengimani kebenaran agama yang dianutnya, sehingga tidak dibenarkan memaksakan kebenaran menurut "versinya" kepada orang lain yang berbeda agamanya. Inilah pangkal kerukunan untuk mewujudkan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ingatnya.

Tujuan bersama dari seluruh anak bangsa yang sangat banyak perbedaannya ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, yaitu kesejahteraan, kebaikan dan keadilan tanpa kecuali yang meliputi segenap bangsa Indonesia.?

Haedar Nashir

Untuk meraih tujuan ini menurutnya, diperlukan kematangan jiwa kebangsaan (nasionalisme) dari kita semua, selain tentu butuh pengelolaan yang super kuat. Karenanya, solidaritas kemanusiaan dan kemauan untuk belajar hidup bersama dengan menjunjung tinggi keadaban harus terus menerus diperjuangkan. Sehingga keragaman pun terus menerus dapat terlindungi. Penyeragaman terhadap apa yang sudah ditakdirkan berbeda adalah perbuatan sia-sia.?

"Kedangkalan dalam memahami maksud agama dalam konteks kehidupan berbangsa, seringkali menjadi penyebab sebagian orang beragama dengan klaim kebenarannya sendiri memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sehingga menimbulkan kegaduhan sosial yang berpotensi mengancam keutuhan hidup harmonis bersama," tandasnya.

Ia mencontohkan sebagian muslim misalnya masih menganggap non muslim atau sebaliknya dari warga negara bangsa ini sebagai musuh yang wajib dibenci, dimusuhi atau halal dialirkan darahnya. Pandangan ini jelas keliru karena merusak keharmonisan dan menghalangi tercapainya tujuan hidup bernegara.?

Menurutnya yang patut menjadi musuh bersama warga negara ini, baik muslim atau non muslim setidaknya ada tiga. Pertama, orang yang dzalim atau siapa saja yang tidak bersikap adil. Seperti ketidakadilan rakyat terhadap pemerintahan dengan keengganan untuk menaatinya atau ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya dengan tindakan yang tidak mengacu kepada kemaslahatan rakyat.?

Kedua, syetan dari jenis manusia maupun jin yang mengobarkan saling benci, permusuhan, berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, dan ketiga, hawa nafsu yang bercokol pada jiwa manusia yang selalu memerintahkan kepada keburukan.?

"Agama apa pun yang kita anut, hendaknya kita tetap bersatu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Hendaklah kita selalu bijak dalam menyelesaikan setiap persolan yang dihadapi oleh bangsa ini," pungkasnya.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, PonPes, Makam Haedar Nashir

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

Jakarta, Haedar Nashir. Grand Syekh Al-Azhar melalui delegasinya Prof DR Abdul Mun’im Fuad mengapresiasi gerakan Aswaja yang digelorakan Nahdlatul Ulama. Prinsip-prinsip beragama NU yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW itu, menurutnya, sangat kontekstual dengan kondisi dunia kekinian.

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

“Toleransi nilah yang dibutuhkan orang dunia sekarang ini. Inilah manhajul (jalan hidup) Islam sesungguhnya,” kata Mun’im Fuad menyampaikan salam Grand Syekh Al-Azhar dalam bahasa Arab di Jakarta, Rabu (27/5) siang.

Di hadapan pengurus lengkap harian Syuriyah danTanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad yang memimpin rombongan Al-Azhar Mesir itu menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan tathorruf (ekstrem), irhab (teror), ifroth (berlebihan), tafrith (abai), dan tasyaddud (kekerasan).

Haedar Nashir

Qimatuna (nilai keberagamaan kita) itu terletak pada wasuthuna (kemoderatan kita) itu sendiri. Singkat kata, Al-Azhar sepakat dan mendukung gerakan tawasuth NU yang terus mengglobal,” kata Mun’im Fuad menutup sambutannya.

Sementara Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan jumlah agama resmi, keragaman suku, dan sejumlah paham politik yang berkembang di Indonesia.

Haedar Nashir

“NU sebagai ormas muslim terbesar di Indonesia akan terus mengawal keragaman dalam bingkai asas Pancasila dan persatuan NKRI,” kata Kang Said yang juga menggunakan bahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib, Cerita Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah

Jombang, Haedar Nashir - Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyebut gerakan kelompok ekstrem baik ekstrem kanan atau kiri penting untuk diperhatikan. Kelompok ini berpotensi memicu perpecahan antarsesama, sebab secara umum kelompok ini tak bisa menerima terhadap perbedaan khususnya di tanah air, terutama soal syariah.

Kiai Maruf Amin mengimbau agar para ulama dan kiai hendaknya bisa menjaga generasi bangsa dari kelompok-kelompok tersebut. "Para kiai dan ulama harus menjaga dari pikiran-pikiran yang menyimpang," kata Kiai Ma’ruf saat menghadiri haul ke-38 almaghfurlah KH Bisri Syansuri di halaman Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, Selasa (28/3) malam.

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah

Ia menjelaskan, sikap kelompok ekstrem yang cenderung keras terhadap kelompok yang tidak sepaham ini diakibatkan oleh minimnya pemahaman terhadap syariah. Mereka hanya berpegang teguh pada teks sebagai sumber syariah, dan menyampingkan upaya ijtihad para ulama dalam merespon setiap persoalan aktual.

"Kelompok-kelompok itu hanya kedepankan teks-teks saja, jika persoalan tidak ada nashnya maka dianggap bidah. Jika sudah bidah maka mereka menganggap tempatnya di neraka dan dimusuhi," jelasnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dengan mengutip pendapat Imam Haramain, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa syariah kebanyakan diperoleh dari proses ijtihad para ulama atas setiap masalah yang terjadi, dan nash tidak dijelaskan secara detail.

"Imamul Haramain dalam salah satu kitabnya menjelaskan, sebagian besar syariah itu lahir dari ijtihad bukan dari nash yang langsung ditafsirkan secara tekstual," kata Kiai Ma’ruf.

Hal itu menunjukkan bahwa masalah-masalah keumatan terus berkembang hingga saat ini. "Al-Quran hanya 30 juz, sementara kejadian-kejadian itu terus berkembang. Makanya itu semua harus disikapi dengan ijtihad-ijtihad," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Senin, 27 November 2017

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

Nias Selatan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Karateker Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Jumat hingga Ahad (29-31/5). Kegiatan dilaksanakan di Aula Hotel Hernelys, Telukdalam Nias Selatan.

Ketua Karateker PC GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Alez Brianita Wau menjelaskan, PKD menjadi kewajiban bagi Kader Ansor sebelum membentuk kepengurusan PC GP Ansor. Acara bertemakan “Meneguhkan Komitmen Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Bingkai Kebangsaan dan NKRI” ini digelar untuk meningkatkan wawasan, kapasitas dan kreatifitas Kader Ansor.

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

“Apalagi Kader Ansor juga bertugas sebagai kader bangsa yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam keanekaragaman dan memperkuat keutuhan NKRI. Diharapkan dengan PKD para kader bisa mengembangkan pemahaman tradisi Aswaja sebagai pencerminan pengamalan sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lanjut Alez, Kader Ansor juga mengemban amanah menggemakan syiar Islam sebagai perisai bagi dampak negatif globalisasi, mempererat ukhuwah dan sebagai perekat warga Nahdliyin untuk Indonesia.

Haedar Nashir

“Untuk itu, kader perlu dibekali pemahaman Ke-Ansoran dan Ke-NU-an. Tujuannya, menanamkan rasa cita terhadap organisasi sebagai upaya meningkatkan kapasitas, kreatifitas dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Sebelumnya Ansor Nias Selatan dan Nias Barat juga telah mengikuti PKD di Gunungsitoli,” imbuhnya.

Hadir dalam acara, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nias Selatan Wajdin Telaumbanua. Dalam sambutannya, PCNU berharap Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat setelah Tim Karateker melaksanakan tugas melaksanakan PKD dan Konfercab I.

“Ansor adalah salah satu badan otonom NU wadah berkumpulnya pemuda-pemuda NU, dengan adanya Cabang NU di Kabupaten Nias Selatan maka sudah seharusnya PC GP Ansornya ada juga di Nias Selatan. Kita berharap agar Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat,” harapnya.

Acara PKD dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap yang berlangsung selama 3 hari. Armansyah Harahap mengatakan, GP Ansor pusat telah menetapkan tiga grand design untuk pengembangan GP Ansor se-Indonesia, yakni GP Ansor diberi amanah untuk mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

“Dalam materi kepemimpinan, materi Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu merupakan materi inti,” ujar Armansyah saat memberikan arahan dan bimbingan pada Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Barat. (Dedi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pahlawan, Makam Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir

Pati, Haedar Nashir. Selain materi pokok kaderisasi, PAC GP Ansor Sokolilo kabupaten Pati memasukkan dalam pelatihan kader dasar (PKD) pembahasan jatuhnya harga padi pascabanjir di Jawa Tengah. GP Ansor Sukolilo menginginkan 150 peserta PKD Ansor untuk terlibat dalam memecahkan masalah konkret di masyarakat.

Di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2), peserta PKD Ansor menilai anjloknya harga padi pascabanjir menambah beban warga yang sedang tertimpa musibah banjir.

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir

Padi warga dihargai dengan harga rendah. Para tengulak kemudian menjual kembali padi warga kepada pengepul dengan harga tinggi. Kenyataan ini mendorong pengurus GP Ansor Sukolilo untuk membahas dalam PKD dan menindaklanjutinya.

Haedar Nashir

“Alhamdulillah, setelah pelatihan ini saya mempunyai wawasan yang banyak. Utamanya tentang perekonomian khusunya bagaimana memasarkan padi saya agar harganya tidak jatuh,” demikian dinyatakan seorang peserta PKD Moh Syamsul Arifin. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Makam, Quote Haedar Nashir

Sabtu, 11 November 2017

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Ada seabrek buku yang membahas tentang urgensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Umumnya buku-buku tersebut berupaya meyakinkan para pembaca bahwa terdapat hubungan saling mengikat antara kesalahen ritual dan sosial. Dipaparkanlah dalil-dalil dari teks suci, keteladanan para Rasul, hingga prospek kemanfaatan yang bakal diambil dari perilaku gemar berbagi itu. Jumlah buku semacam ini tampaknya kian banyak dan mungkin sedikit saja yang mengulas soal panduan praktis gerakan filantropi dan contoh hasil yang bisa menjadi inspirasi.

Buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi adalah di antara yang sedikit itu. Buku yang disusun oleh sebuah tim NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) ini menekankan tentang bagaimana kesadaran filantropi dibangkitkan, dikelola, lalu dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat kampung. Para penerima manfaat bukanlah orang asing. Mereka adalah para penderma itu sendiri yang tiap hari menyedekahkan limaratus rupiah atau 2,5 persen dari penghasilan mereka.

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Hasil yang kini terlihat luar biasa. Poliklinik ZIS seluas seribu meter persegi berdiri megah dari kantong umat sendiri. Begitu pula penyediaan ambulans jenazah dan orang sakit. Layanan kesehatan disediakan secara cuma-cuma, termasuk untuk para ibu yang menjalani proses persalinan. Di luar sektor kesehatan, manfaat yang terasa juga tampak di segi infrastruktur. Dana sedekah tersebut telah membuahkan ratusan lampu dan menerangi hampir seluruh sudut jalanan desa yang sebelumnya gelap gulita.

Haedar Nashir

Belum lagi soal bantuan-bantuan sosial dan berbagai pembiayaan rutin untuk sejumlah fasilitas publik. Santunan diberikan kepada mereka yang benar-benar miskin, tak terkecuali para janda jompo. Sementara sejumlah ongkos rutin yang juga ditanggung meliputi listrik masjid, serta insentif untuk beberapa imam, marbot, dan guru ngaji. Semua dilakukan sepengetahuan dan atas persetujuan masyarakat setempat.

Di balik hasil yang gemilang tentu ada proses dan perjuangan. Demikian pula kemandirian masyarakat di desa-desa Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat itu. Kisah penggalangan partisipasi dana publik melalui zakat, infak, dan sedekah ini bermula dari uang Rp500 setiap kepala keluarga (KK) setiap RT setiap hari.

Angka 500 rupiah tak muncul sembarangan. Jumlah tersebut berasal dari hitung-hitungan rasional 2,5 persen rata-rata pendapatan harian penduduk Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Mereka yang mayoritas adalah buruh tani lepas berpenghasilan Rp20.000 per hari. “Kira-kira kalau diambil 500 rupiah per hari, apakah mengurangi jumlah nasi yang disuapkan ke keluarga? Apakah memberatkan?” Begitu tanya KHR Abdul Basith, inisiator gerakan sedekah ini, saat sosialisasi di sebuah majelis taklim. Jamaah menjawab, “Tidaaaak.” “Kalau begitu apakah berani diambil 500 rupiah per hari demi berbagi dan membangun desa?” Semua menyatakan berani.

Haedar Nashir

Dari situlah kesadaran berderma dipupuk. Buya Basith, panggilan akrab ketua PCNU Sukabumi itu, sejatinya hendak mendidik masyarakat untuk belajar zakat sebelum nishab (batas minimum jumlah harta wajib zakat). Lima ratus rupiah memang sangat sedikit, namun saat itu dilakukan terus menerus, jumlahnya menjadi banyak. Karena sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah gunung yang besar itu terdiri dari kumpulan batu, tanah, dan krikil yang kecil?

Analogi tersebut menunjukkan kebenarannya. Uang recehan itu ditaruh di dalam toples setiap hari, untuk kemudian dipunguti tiap pekan oleh petugas khusus. Dari toples ke toples recehan selama setahun itulah terhimpun total dana yang cukup fantastis untuk ukuran masyarakat setempat. Sebagai contoh, untuk tahun 2016 lalu saja, Desa Nanggerang yang menjadi proyek percontohan desa-desa lainnya memperoleh pemasukkan sebesar 336 juta rupiah.

Kunci sukses dari jerih payah ini tak lepas dari kejelian para tokoh dan aktivis NU dalam melihat potensi kearifan lokal di sana. Di kalangan urang Sunda Sukabumi telah berkembang lama tradisi beas perelek. Beas atau beras yang dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah. Tradisi yang dilakukan mengantisipasi ancaman kekurangan stok pangan ini menjadi modal sosial bagi kebangkitan gerakan ZIS. Tradisi tak dihilangkan. Hanya saja kini meningkat intensitasnya dengan gerakan Rp500 saban hari, dan pemaknaan terhadapnya sebagai bagian dari kegiatan ibadah semakin tinggi.

Selain sinergi dengan pemerintah setempat, keberhasilan gerakan filantropi ini juga sangat dipengaruhi oleh manajemen pengelolaan yang tertata. Dewan pengurus dibentuk dengan melibatkan pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat. Distribusi tugas, perencanaan, dan laporan-laporan dijalankan. Semuanya digerakkan secara profesional tanpa mengurangi semangat kerelawanan dan gotong royong para pengurus yang mengemban amanah. Juru sosialisasi dan pengurus ZIS juga dituntut memberikan keteladanan sebelum mengajarkan. Dengan demikian, sistem terbangun mapan, semangat berderma kian berkembang, dan target pun mudah diraih.

Pelajaran utama gerakan yang dipaparkan dalam buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi bukan terletak pada jumlah uang yang terkumpul. Melainkan, seberapa besar kesuksesan membangun kesadaran untuk berbagi pada masyarakat itu dicapai. Karena yang paling inti dari sebuah gerakan filantropi adalah tumbuhnya empati, gotong royong, dan kepedulian antarsesama. Kasus di Sukabumi ini juga mengajarkan kita bahwa “hal kecil” yang dijalankan secara kontinu (istiqamah) dan berjamaah akan menjelma sebagai hal yang berdampak besar.

Sayangnya, buku ini belum menyuguhkan data secara rinci seputar kelemahan atau kendala yang dialami para aktivis yang menjalankan gerakan ZIS itu. Padahal, sebagai buku inspiratif, paparan detail tentang berbagai tantangan di lapangan akan menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang hendak melakukan hal serupa. Terlepas dari itu, buku NU Care-LAZISNU ini layak menjadi referensi bagi yang ingin mengetahui gairah berfilantropi yang sukses dan mengakar karena berangkat dari partisipasi masyarakat bawah (bottom up).

Data Buku:

Judul buku : Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi

Penulis? ? ? ? ? : Syamsul Huda, Nur Rohman, Amin Sudarsono

Penerbit? ? ? ? : NU Care-LAZISNU, Cetakan I, 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? : 180 halaman

Peresensi? : Mahbib Khoiron, penikmat buku; tinggal di Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Humor Islam, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Universitas Sunan Giri Surabaya Luncurkan Klinik Kewirausahaan

Surabaya, Haedar Nashir. Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya merespon gerakan pemerintah daerah dalam mengembangkan kewirausahaan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Sebagai tindak lanjut hal itu, Unsuri meluncurkan Klinik Kewirausahaan, Jum’at (3/7) Di Gedung Teknik Unsuri.

Universitas Sunan Giri Surabaya Luncurkan Klinik Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Sunan Giri Surabaya Luncurkan Klinik Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Sunan Giri Surabaya Luncurkan Klinik Kewirausahaan

Klinik dikelola oleh para dosen dan dibantu oleh mahasiswa. "Jangan khawatir mahasiswa Unsuri nganggur. Karena sekarang Unsuri menyediakan klinik kewirausahaan. Semoga klinik ini bisa bermanfaat untuk Unsuri baik Direktorat, mahasiswa dan fakultas," jelas Munir Su’udi, Ketua Klinik Kewirausahaan.

Grand Lanching klinik kewirausahaan disambut baik oleh Prof Dr H Soenarjo, MPd, Rektor Unsuri. Rektor menyampaikan sambutannya sebelum meresmikan klinik. “Semoga dengan adanya klinik ini, para mahasiswa bisa termotivasi untuk mengembangkan kewirausahaan. Klinik berarti tempat berobat atau tempat konsultasi, maka nama klinik sangat pas untuk meningkatkan kewirausahaan mahasiswa," jelas Prof Soenarjo.

Haedar Nashir

Rektor, juga menyampaikan kebangaannya kepada semua dosen dan mahasiswa. Berkat mahasiswa Unsuri berada di lima besar Kopertis Jatim dibidang administrasi. "Ini berkat mahasiswa yang rajin membayar," jelasnya disambut tepuk tangan para mahasiswa yang hadir.  

Hasyim Asyari, selaku Presiden BEM Unsuri menyambut baik klinik kewirausahaan itu, "Saya, berharap klinik kewirausahaan ini bisa mengangkat nama Unsuri dan bisa memotivasi mahasiswa untuk berwirausaha," harapnya. (Rofii Boenawi/Fathoni)

Haedar Nashir

 

Keterangan Foto, dari kiri: Munir Suudi, Ketua Klinik Kewirausahaan, Rektor Unsuri, dan Prof Mahmud Mannan (Direktur Pascasarjana Unsuri).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Makam Haedar Nashir

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Terletak di Cap Tanger, daerah terujung wilayah Maroko dan terdekat dengan kota pelabuhan Tarifa Spanyol, Pesantren Salaf Mnar (Mahad Mnar lit Talimil Athiq) kokoh berdiri. Meski di berada tempat terpencil, jumlah santri di pesantren ini tergolong banyak. Namanya cukup populer di kalangan masyarakat Maroko.

Didirikan pada tahun 1993 pesantren ini mendapat tempat khusus bagi para santri-santri Maroko. Dan bahkan beberapa mahasiswa nusantara kerap kali mengunjungi pesantren ini untuk sekedar tabarukan dan bernostalgia dengan suasana pesantren di Tanah Air.

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Secara bangunan fisik, pesantren ini mirip sekali dengan pesantren induk di Pondok Pesantren Ploso atau Lirboyo. Meski terlihat tidak seragam karena diarsiteki oleh para santri sendiri, tetapi pesantren ini nyaman dan suasananya asri. Khas kota santri. Ditambah lagi pemandangan laut biru Atlantik dan hawa sejuk Kota Tanger.

Syeikh al-‘Allamah Muhammad Marsho adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren Mnar ini. Kecuali materi umum, hampir semua mata pelajaran dibimbing langsung olehnya.

Haedar Nashir

Syeikh yang merupakan cicit dari Syeikh Abdus Salam Al Masyisy (Guru dari Syeikh Abul Hasan Assyadzili) ini merupakan salah satu ulama di Kerajaan Maroko yang terkenal hebat di bidang ilmu Alat alias gramatika Arab. Dalam mengajar sehari-hari ia sangat istiqomah dan khidmah terhadap ilmu. Sosok yang tawadlu dan santun, membuat setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Haedar Nashir

Kiai yang merupakan santri senior dari Keluarga Ghumari ini menjadi pengajar primer di pesantrennya sendiri. Beliau duduk bersila di aula pesantren dan mulai mengaji pada pagi buta hingga siang hari non stop. Dan rata-rata beliau hafal diluar kepala materi yang beliau ajarkan. Tak heran jika banyak dari pesantren ini para lulusan-lulusan yang menjadi ulama-ulama yang dalam ilmunya, diantaranya Syaikh Haskuri Tanjawi guru besar Hadits di Tanger, Syeikh Syallaf Awwamy , Syeikh Muhammad Syadzili Sastrawan asal Dukkala dll.

Di antara materi yang diajarkan beliau adalah Alfiyah ibnu Malik dan Jurumiyah dalam ilmu nahwu, Jauhar Maknun karya Abdurrahman Akhdlari dalam ilmu balaghah, Al-Mursyidul Muin karya Ibnu Asyir dan Tuhfah ibnu Ashim Al-Andalusy dalam fiqih Maliki, Risalatu Abi Zaid al Qirawani dalam fiqih, Nukhbatul al-Fikar karya ibnu Hajar dalam musthalah hadits, Nailul Awthar Karya Imam Syaukani dalam Hadits, A-Waraqat karya Imam al-Juwaini dan Jamul Jawami karya Imam Subki dalam ilmu ushul fiqih, Risalah Adudiyah karya Imam Adhuddin dalam ilmu wadh, dan lain- lain.

Sistem kepesantrenan di Maroko dinilai bagus. Beberapa kali kementrian waqaf sebagai pemangku kebijakan muqarrar (materi pelajaran) dalam Pendidikan Islam di Maroko mendapatkan penghargaan dari Negara-negara arab atas kurikulum yang diterapkan di Talimul Athiq (pesantren) di Maroko. Tidak hanya menyusun muqarrar, Kementerian Waqaf juga menyediakan kasur hingga urusan tepung terigu, minyak zaitun, teh dan kopi untuk para santri. Mereka bagikan kepada santri untuk menyamankan perjalanan mereka dalam rangka mencari ilmu. Barangkali berbeda dengan atensi pemerintah Indonesia terhadap Pondok pesantren saat ini. (M.Nurul Alim/Mahbib)

 

Foto: anggota PCINU Maroko bersama pengasuh pesantren dalam rangka mengikuti pengajian pasaran



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib Haedar Nashir

Jumat, 03 November 2017

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Bogor, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Bogor mengelar acara santunan kepada anak yatim di Pesantren Sunanul Huda, Kecamatan Lewiliang, Bogor, Jawa Barat, Ahad (5/7). Kegiatan sosial ini merupakan agenda rutin Muslimat NU Bogor.

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

“Kegiatan ini kami lakukan rutin hampir setiap bulan di kediaman ayah kami dan kami merasa senang bisa berbagi dengan sesama. Kami mengundang hampir 400 anak yatim di setiap kegiatan,” kata Ketua PC Muslimat NU Bogor Nita Sari.

Nita berharap kegiatan ini bisa juga dilaksanakan oleh setiap Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU yang ada di Kabupaten Bogor. Pihaknya mengajak kepada masyarakat Muslim di bulan yang penuh rahmat ini untuk selalu ingat dengan mereka yang kurang beruntung.

Haedar Nashir

Program yang digagas H Sasmita, ayah kandung Nita Sari, ini dinilai cukup meringankan beban mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kegiatan digelar di kediaman H Sasmita di Pesantren Sunanul Huda.

Haedar Nashir

Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Bogor Lukmanul Hakim yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, selaku pengusaha ia mendorong agar kegiatan mencintai anak yatim ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan dan bersifat ceremonial belaka. Tetapi, lebih mengarah kepada jangka panjang misalnya melalui beasiswa atau yang lainya.

Selain ketua HPN Bogor, hadir pula Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nu (IPNU), tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah setempat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Makam, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 31 Oktober 2017

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat bersabar agar densus bisa membuktikan bahwa Siyono memang benar-benar teroris.?

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

“Terorisme adalah musuh negara, siapapun orangnya. Densus 88 perangkat negara. NU, Muhammadaiyah merupakan kekuatas sipil yang di luar wilayah negara. Oleh karena itu, dalam kasus Siyono, berikan kesempatan kepada Densus. Buktikan itu teroris. Kalau itu terbukti, maka NU berada di belakang negara,” katanya di gedung PBNU, Kamis.?

Kiai Said mengakui, idealnya siapapun yang melanggar hukum, ditangkap hidup-hidup dan kemudian diadili. Maka yang memutuskan kemudian adalah pengadilan.?

“Tapi kadang sering terjadi dalam keadaan darurat, Densus sendiri juga manusia biasa, maka terjadi seperti ini,” paparnya.?

Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3) yang merupakan pengembangan dari tersangka T alias W.

Haedar Nashir

Ketika diminta menunjukkan senjata api yang sudah diserahkan kepada orang lain, ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah dan orang yang dimaksud.?

Haedar Nashir

Akhirnya, setelah pencarian gagal, mereka balik lagi dan di dalam mobil, terjadi perkelahian. Siyono akhirnya dapat dikendalikan disertai dengan kelelahan dan lemas.?

"Ternyata nyawa tersangka tidak dapat ditolong dan meninggal dunia di rumah sakit. Selanjutnya jenazah dibawa ke Rs Polri Kramatjati, Jakarta," ucap Agus seperti dikutip dari detik.com. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 25 Oktober 2017

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Solo, Haedar Nashir. Perpustakaan Masjid Agung Solo menyimpan sejumlah kitab. Kitab-kitab itu ada yang dibuat pada tahun 1800-an sampai tahun 1960-an. Beberapa kitab, ditulis tangan langsung para ulama dan kiai pendiri masjid tersebut.

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basyid mengatakan, ada sejumlah kitab yang pada umumnya bertuliskan Arab tanpa harokat (arab gundul), antara lain berupa kitab Ihya Ulumuddin, kumpulan hadis-hadis nabi, dan Al-Quran kuno.

Di masjid itu, terdapat Mushaf Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin. FamÄ« Bisyauqin yang berarti “mulutku dalam kerinduan” ini merupakan koleksi perpustakaan wakaf Sri Susuhunan Paku Buwono X pada tahun 1857. Mushaf ini berasal dari Sayyid Ibrahim Abdullah al-Jufri. Adapun tahun pembuatan dan penulisnya tidak diketahui secara pasti.

Haedar Nashir

Mushaf Al-Qur’an kuno FamÄ« Bisyauqin ini terdiri dari tujuh jilid. Penentuan masing-masing jilid mengikuti tujuh manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) dalam membaca Al-Qur’an. Dalam tradisi membaca Al-Qur’an, metode tujuh manzil sangat populer, yaitu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Dimulai pada hari Jum’at dan khatam pada hari Kamis.

Haedar Nashir

Dari tujuh jilid, saat ini yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Surakarta hanya lima jilid, sementara dua jilid yang lain tidak ditemukan, yaitu jilid 3 dan 7. Iluminasi yang terdapat dalam mushaf ini hanya terdapat pada halaman Surah al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah. Motifnya adalah bunga, dengan dominasi warna merah, biru, hijau, dan emas, dengan bingkai garis hitam.

Al-Qur’an ini dijilid dengan kulit. Ukurannya, panjang 31,8 cm. dan lebar 19,6 cm. Area tulisan, panjang 19,6 cm. dan lebar 11,7 cm. Ketebalan setiap jilid rata-rata 2,5 cm. Satu halaman mushaf berisi 13 baris tulisan, kecuali pada awal setiap jilid yang hanya berisi sembilan baris, dan pada halaman akhir dengan menyesuaikan pada sisa ayat yang tersisa. Al-Qur’an ini ditulis dengan menggunakan tinta Cina.

Sistem penulisan pada mushaf ini menggunakan rasm imla’i, yaitu sistem penulisan huruf Arab dengan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab, kecuali pada lafal-lafal tertentu yang masih tetap merujuk pada sistem rasm usmani. Penomoran ayat ditandai dengan tanda bulat berwarna merah dengan titik di tengah tanpa disertai nomor urut ayat.

Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin ini memuat tiga macam qiraat, yaitu qiraat riwayat Imam Qalun dari Imam Nafi’, qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan qiraat riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Asim. Tulisan ayat utama dalam Al-Qur’an ini berdasarkan riwayat Qalun dari Imam Nafi’. Sementara untuk kedua qiraat lainnya, ditulis dipinggir halaman dengan tinta merah untuk qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan tinta hijau untuk qiraat Imam Hafs dari Imam ‘Asim.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Pendidikan, Hikmah Haedar Nashir