Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2018

PBNU: Situs Tanpa Sebut Pancasila, Radikal

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj sepakat atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) agar Kemenkominfo memblokir 19 situs Islam radikal. Menurut Kang Said, negara berhak menghentikan media bermuatan ajaran-ajaran yang berlawanan dengan dasar negara.

“Asal tidak menyebutkan Pancasila dengan bangga, itu sudah radikal,” kata Kang Said saat membicarakan kriteria pemblokiran situs-situs radikal pada diskusi bertajuk ‘Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal’ di Jakarta, Jumat (10/4) siang.

PBNU: Situs Tanpa Sebut Pancasila, Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Situs Tanpa Sebut Pancasila, Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Situs Tanpa Sebut Pancasila, Radikal

Sementara Staf Menkominfo Prof Henri Subiyanto menyatakan cemas atas konten-konten provokatif yang disebarkan oleh situs Islam radikal.

Haedar Nashir

“Di Kemenkominfo sendiri tidak banyak orang ahli perihal hukum dan ahli agama. Pihak Kemenkominfo akan bergerak menstop itu semua sesuai dengan dasar hukum yang jelas dan konsultasi dengan para ahli agama,” kata Henri yang kini mengajar di Universitas Airlangga.

Pihak Kemenkominfo sendiri melihat potensi dan eskalasi muatan internet yang bersifat negatif. Menindaklanjuti itu, pihak Kemenkominfo sejak Januari 2015 merencanakan pembentukan Forum Penanganan Situs Internet yang di dalamnya terdapat panel-panel penilai.

Haedar Nashir

“Saya harapkan publik terlibat memberikan masukan-masukan kepada tim panel. Dengan putusan tim ini, Pihak Kemenkominfo bergerak lebih leluasa,” kata Henri.

Pada kesempatan ini Kepala BNPT Komjen Saud Usman Nasution menyebutkan kriteria radikalisme yang diajukan kepada Kemenkominfo. Kriteria radikal bagi BNPT meliputi ajakan pada teror, ajakan bergabung dengan ISIS, ajakan permusuhan, ajakan bernuansa SARA.

“Semua ini kita lakukan mengingat banyaknya laporan dari masyarakat dan mahasiswa. Bahkan ada wali murid yang melapor bahwa anaknya sudah tidak pulang dua bulan. Setelah dikontak, background teleponnya memperdengarkan suara-suara letusan senjata,” kata Saud yang prihatin atas gerakan terorisme yang ditimbulkan oleh media internet.

“Kalau pengelola situs itu berafiliasi kepada kelompok-kelompok teroris seperti Ba’asyir, Abu Jandal, dan seterusnya, saya pikir negara tidak perlu ragu untuk menutupnya,” tegas Pemred Haedar Nashir Syafi’ Ali’el Ha yang juga duduk sebagai narasumber pada diskusi yang diselenggarakan oleh LTN PBNU, Haedar Nashir, Radio NU, BNPT. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Jumat, 02 Maret 2018

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tangerang, Haedar Nashir. Menjelang dilaksanakannya Konfercab IV Nahdlatul Ulama Kota Tangerang 20 Mei 2015. Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Kecamatan Jatiuwung menggelar Diklatsar Banser yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah. Pelatihan yang diadakan selama 3 hari (15-17 Mei) diikuti oleh 30 peserta.

Tentunya kegiatan ini sebagai bentuk regenerasi Banser di Kota Tangerang. Selama 3 hari mereka dibekali pengetahuan baik itu mengenai keorganisasian, ke-NU-an sampai materi-materi kemiliteran. 

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

“Sudah pasti ketika mereka berhasil dan lulus mengikuti kegiatan Diklatsar, mereka siap diterjunkan untuk pengamanan Konfercab IV NU Kota Tangerang sebagai tugas pertama mereka,” ujar Hartono ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatiuwung.

Haedar Nashir

Hadir memberikan motivasi H. Ahmad Imron (Ketua PW Ansor Banten). Dalam kesempatan itu Imron menyampaikan mengenai sejarah Ansor dalam menghantarkan kemerdekaan Indonesia dan berharap kader-kader baru Banser ini menjadi kader yang rahmatan lil ‘alamin, yang siap siaga menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk makar yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan Pancasila dan UUD 1945. (atho al farhan/mukafi niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Rabu, 24 Januari 2018

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Saat ini dunia maya khususnya Media Sosial menjadi medan pertarungan baru di era digital dengan konten-konten yang diproduksi untuk mempengaruhi siapa pun yang masuk di dalamnya. Berbagai informasi silih berganti tiada henti memenuhi dunia maya dan dengan tingkat keshahihan yang patut untuk diteliti lagi.

Hal ini dikatakan praktisi media yang juga Direktur Haedar Nashir Savic Ali di depan peserta Forum Dialog Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI bekerja sama dengan MUI Provinsi Lampung di Hotel Novotel Bandar Lampung, Sabtu (14/10).

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Ia mengingatkan bahwa saat ini sebuah tulisan dalam media sosial yang tidak jelas sumber dan penulisnya layak dan patut untuk tidak dipercaya. "Saat ini sebuah tulisan seperti hadits. Kalau sanad dan rowinya tidak jelas walaupun matannya bagus layak untuk tidak dipercaya," katanya.

Savic juga menambahkan bahwa konten-konten yang beredar di Media Sosial dari hari ke hari semakin beragam. "Jempol kita lebih cepat dari kepala kita dan saat ini yang dibaca di media online cenderung lebih gampang dipercayai," katanya.

Melihat manfaat media sosial untuk mempengaruhi masyarakat khususnya terkait pemahaman keagamaan, Savic menilai bahwa saat ini media sosial banyak didominasi oleh dai yang memahami ilmu agama secara tekstual.

Haedar Nashir

"Banyak Dai di dunia maya tekstualis. Tidak melihat dan merasakan kondisi sosiologis dan kultur masyarakat di Indonesia," katanya seraya mengingatkan jika kondisi ini dibiarkan maka dapat mengakibatkan perwajahan Indonesia berubah di masa depan.

Sehingga Ia mengajak kepada para kiai dan tokoh agama yang memiliki fikrah wasathiyah (moderat) untuk ikut mengisi dunia maya dengan konten-konten memyejukkan dalam bentuk tulisan, audio maupun video.

"Mari isi konten dunia maya dengan hal positif yang menerima keragaman di Indonesia. Kalau kita tidak aktif bisa jadi generasi kita akan dibentuk oleh orang yang tidak bertanggung jawab," ajaknya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa langkah dalam mengisi konten di antaranya menyiapkan konten yang akan dipublikasikan, menentukan platform yang akan digunakan sebagai media publikasi dan mengorganisir konten sehingga dapat maksimal diakses oleh warganet. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

Yang Terbaik Ada di Tengah

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Judul diatas diilhami oleh sabda Nabi Muhammad SAW: “ Sebaik-baik persoalan adalah yang berada ditengah “ (khairul-umûri ausâthuha). Ia juga mencerminkan Pandangan agama Budha tentang “jalan tengah” yang dicari dan diwujudkan oleh penganut agama tersebut. Walaupun demikian, judul itu dimaksudkan untuk mengupas sebuah buku karya, tokoh Syi’ah terkemuka Dr. Musa Al Asy’ari, “Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan” –dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Darul Ulum Jombang, beberapa waktu lalu, katakanlah sebagai sebuah resensi, yang juga menunjukan kecenderungan umum mengambil “jalan tengah” yang dimiliki bangsa kita, dan mempengaruhi kehidupan di negeri ini.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, sikap mencari jalan tengah ini, akhirnya berujung pada sikap mencari jalan sendiri di tengah-tengah tawaran penyelesaian berbagai persoalan yang masuk ke kawasan ini. Namun, sebelum menyimpulkan hal itu, terlebih dahulu penulis ingin melihat buku itu dari kacamata sejarah yang menjadi jalan hidup banyak peradaban dunia. Kalau kita tidak pahami masalah tersebut dari sudut ini, kita akan mudah menggangap “jalan tengah” sebagai sesuatu yang khas dari bangsa kita, padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian.

Yang Terbaik Ada di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Terbaik Ada di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Terbaik Ada di Tengah

Bahwa bangsa kita cenderung untuk mencari sesuatu yang independen dari bangsa-bangsa lain, merupakan sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Mr. Muhammad Yamin, umpamanya menggangap kerajaan Majapahit memiliki angkatan laut yang kuat dan menguasai kawasan antara pulau Madagaskar di lautan Hindia/Samudra Indonesia di Barat dan pulau Tahiti di tengah-tengah lautan Pasifik, dengan benderanya yang terkenal Merah Putih. Padahal, angkatan laut kerajaan tersebut hanyalah fatsal (pengikut) belaka dari Angkatan Laut Tiongkok yang menguasai kawasan perairan tersebut selama berabad-abad. Kita tentu tidak senang dengan klaim tersebut karena mengartikan kita lemah, tetapi kenyataan sejarah berbunyi lain, Australia yang menjadi dominion Inggris, secara hukum dan tata negara, memiliki indenpendensi sendiri terlepas dari negara induk.

Haedar Nashir

***

Penulis melihat, bahwa sejarah dunia penuh dengan penyimpangan-penyimpangan seperti itu. Umpamanya saja, seperti di tunjukan oleh Oswald Spengler dalam “Die Untergang des Abendlandes"(The Decline Of The West). Buku yang menggambarkan kejayaan peradaban Barat dalam abad ke 20 ini ternyata mulai mengalami keruntuhan (untergang). Filosof Spanyol kenamaan, Ortega Y Gasset, justru menunjuk kepada tantangan dari massa rakyat kebanyakan dalam peradaban modern terhadap karya-karya dan produk kaum elite, seperti tertuang dalam bukunya yang sangat terkenal “Rebellion of the Masses” (Pemberontakan Rakyat Kebanyakan).

Haedar Nashir

Kemudian itu semua, disederhanakan oleh Arnold Jacob Toynbee dalam karya momentumnya yang terdiri dari 2 jilid, “A Study of History”. Toynbee mengemukakan sebuah mekanisme sejarah dalam peradaban manusia, yaitu tantangan (challenges) dan jawaban (responses). Kalau tantangan terlalu berat, seperti tantangan alam di kawasan Kutub Utara, seperti yang dialami bangsa Eskimo, maka manusia tidak dapat memberikan jawaban memadai, jadi hanya mampu bertahan hidup saja. Sebaliknya, kalau tantangan harus dapat diatasi dengan kreatifitas, seperti tantangan banjir sungai yang merusak untuk beberapa bulan dan kemudian membawa kemakmuran melalui kesuburan tanah untuk masa selanjutnya, akan melahirkan peradaban tepi sungai yang sangat besar, seperti di tepian Nil, Tigris, Eupharat, Gangga, Huang Ho, Yang Tse Kiang, Musi dan Brantas. Lahirnya Pusat-pusat peradaban dunia ditepian sungai-sungai itu, merupakan bukti kesejahteraan yang tidak terbantah.

Jan Romein, seorang sejarawan Belanda, menulis bukunya “Aera Eropa” ia menggambarkan adanya PKU I (Pola Kemanusiaan Umum pertama, Eerste Algemeene menselijk Patron). PKU I itu, menurut karya Romein tersebut memperlihatkan diri dalam tradisionalisme yang dianut oleh peradaban dunia dan kerajaan-kerajaan besar waktu itu, berupa masyarakat agraris, birokrasi kuat dibawah kekuasaan raja yang moralitas yang sama di mana-mana. Dalam abad ke-6 sebelum masehi, terjadi krisis moral besar-besaran yang ditandai dengan munculnya nama-nama Lao Tze dan Konghucu, Budha Gautama, Zarathustra di Persia dan Akhnaton di Mesir. Mereka para moralis hebat ini mengembalikan dunia kepada tradisionalismenya, karena memperkuat “keseimbangan”.

Sebaliknya, para filsuf Yunani Kuno, membuat penimpangan pertama terhadap PKU kesatu itu, dengan mengemukakan rasionalitas sebagai ukuran perbuatan manusia yang terbaik. Penyimpangan-penyimpangan PKU I ini di ikuti oleh penyimpangan-penyimpangan lain oleh Eropa seperti kedaulatan hukum Romawi (Lex Romanum) pengorganisasian kinerja, Renaissance (Abad kebangkitan), Abad pencerahan (Aufklarung), Abad Industri dan Abad Ideologi. Dengan adanya penyimpangan itu, Eropa memaksa dunia untuk menemukan PKU II (Tweede Algemeene menselijk Patron), yang belum kita kenal bentuk finalnya.

***

Nah, kita menolak Theokrasi (negara agama) dan Sekularisme, dengan mengajukan alternatif ketiga berupa Pancasila. Kompromi politik yang dikembangkan kemudian (dan sampai sekarang belum juga berhasil) sebagai ideologi bangsa, menolak dominasi Agama maupun kekuasaan Anti Agama dalam kehidupan bernegara kita. Karena sekularisme di pandang sebagai penolakan kepada agama -dan bukannya sebagai pemisahan agama dari negara-, maka kita merasakan perlunya mempercayai Pancasila yang menggabungkan Sila pertama (Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa), dan sila-sila lain yang oleh banyak penulis dianggap sebagai penolakan atas agama.

Buku yang ditinjau penulis ini, sebenarnya adalah upaya dari jenis yang berupaya menyatukan “kebenaran Agama” dan illmu pengetahuan sekuler (dirumuskan sebagai kemerdekaan berpikir oleh pengarangnya). Jelas yang dimaksudkan adalah sebuah sintensa baru yang terbaik bagi kita dari dua hal yang saling bertentangan. Apakah ini merupakan sesuatu yang berharga, ataukah hanya berujung kepada sebuah masyarakat (dan negara) “ yang bukan-bukan”. Sederhana saja masalahnya, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 09 Oktober 2002.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Jumat, 12 Januari 2018

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa memotret banyak perkembangan dunia persilatan NU di daerah-daerah terutama di lingkungan pendidikan NU. Pengurus Pagar Nusa melihat banyak sekolah dan madrasah di lingkungan LP Maarif NU menjadikan pencak silat NU Pagar Nusa sebagai kegiatan ekstrakulikuler para siswa baik putra maupun putri.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PP Pencak Silat NU Pagar Nusa H Nabil Haroen di hadapan ratusan pendekar pada pembukaan Kerjurnas II dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ahad (21/8) sore.

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

“Ada begitu banyak perkembangan menggembirakan di daerah-daerah. Minat orang-orang, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk menitipkan putra-putrinya pada gemblengan Pagar Nusa kian meningkat,” kata H Nabil pada upacara pembukaan Kejurnas II Pagar Nusa.

Menurut Nabil, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan LP Maarif NU dan sekolah-madrasah yang dikelola warga NU banyak yang mulai peduli untuk merintis dan mengembangkan pencak silat di lembaga mereka.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sejak diresmikan menjadi salah satu Badan Otonom NU tahun 2004 pada Muktamar Ke-31 NU di Boyolali, Pagar Nusa terus melakukan pembenahan. Pengurus Pagar Nusa hingga kini terus mengonsolidasi diri, terus menempa diri agar bisa menjadi organisasi pendekar pencak silat yang mumpuni.

“Semua itu membuat permintaan akan pelatih pencak silat juga meningkat.”

Ia berharap Kejuaraan Nasional Kedua dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa kali ini berlangsung lancar.

“Saya sampaikan selamat kepada pendekar sekalian yang telah menyedekahkan waktu untuk bisa menjalin tali kaasih di antara kita dalam perhelatan ini. Ahlan wa Sahlan. Selamat bertanding. Selamat beratraksi dalam festival,” tandas Nabil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Nusantara Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial

Jakarta, Haedar Nashir - Komunitas Rumah Jamur bersama Tim Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampang mengadakan sejumlah kegiatan dalam rangka pemulihan mental anak-anak korban konflik di Desa Bluran dan Desa Karang Gayam, Sampang. Mereka mengajak anak-anak di desa setempat menonton film motivasi, outbound, dan kegiatan psikososial lainnya.

Menurut Koordinator Tim Lakpesdam NU Sampang Mohammad Karim, semua anak-anak baik yang orang tuanya Sunni maupun Syiah merupakan korban dari konflik orang dewasa. Anak-anak semestinya tidak dilibatkan dalam konflik karena mereka tidak mengerti apa yang terjadi.

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial

Anak-anak perlu dihibur untuk menghapus trauma dari kekerasan yang mereka saksikan saat kejadian.

"Anak-anak tidak boleh dilabeli Sunni atau Syiah. Mereka adalah anak-anak yang semestinya bisa tumbuh dalam suasana yang nyaman tanpa kekerasan," ujar Karim saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu (23/1) pagi.

Haedar Nashir

Ketua Rumah Jamur Siti Fatimah menambahkan, metode pemulihan trauma dalam bentuk pemutaran film motivasi dikmaksudkan untuk membangkitkan semangat hidup mereka serta memberikan permainan yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi, dan? penguatan agar mereka tidak larut dalam kesedihan serta kebencian kepada sesama.

"Kami ajak anak-anak bermain sambil belajar melalui pemutaran film motivasi untuk anak, permainan tradisional dan sharing bersama sehingga sedikit banyak bisa mengobati trauma yang mereka miliki akibat konflik yang pernah terjadi," ujar Peraih Medali Emas Olimpiade Astronomi Tingkat Internasional ini.

Haedar Nashir

Rumah Jamur bersama Lakpesdam NU Sampang sengaja menurunkan tim di dusun eks lokasi konflik tersebut sebagai bentuk kepedulian untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak.

"Apapun yang terjadi, kami ingin memastikan anak-anak korban konflik ini tetap terjaga kebahagiaannya sehingga bisa lebih terjamin masa depannya," imbuhnya.

Kegiatan yang berlangsung selama 6 jam sejak pagi hingga siang ini diikuti kurang lebih sebanyak 110 anak. Di akhir sesi kegiatan, Tim Rumah Jamur juga menggelar diskusi dengan sejumlah tokoh, pemuda, dan guru untuk merumuskan tindak lanjut kegiatan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Rabu, 03 Januari 2018

Ansor Tak Boleh Lupakan Jasa Para Sesepuh

Kencong, Haedar Nashir - Masa kini adalah rangkaian yang tak terpisahkan dari sejarah masa lalu. Karena itu, jangan pernah melupakan orang yang telah berjasa di masa lalu. Demikian juga Gerakan Pemuda Ansor. Tanpa jasa para kiai dan pendiri Ansor di masa lalu, Ansor sekarang hanyalah nama tanpa arti.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kencong, Kabupten Jember, Jawa Timur, Muhammad Yasin Yusuf Ghazali saat memberi pengarahan dalam acara Rapat Kerja II Rijalul Ansor-GP Ansor Kencong di Balai Desa Padomasan, Kec. Jombang, Jember, Senin malam (27/6).

Ansor Tak Boleh Lupakan Jasa Para Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tak Boleh Lupakan Jasa Para Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tak Boleh Lupakan Jasa Para Sesepuh

Menurut Yasin, para kiai dan sesepuh Ansor telah mengalami pahit getirnya ber-Ansor dalam memperjuangkan kebenaran dan menebar Islam ala Ahlissunnah wal Jama’ah. Di zaman orde baru, menjadi anggota Ansor bukan hal yang mudah. Mereka mengalami tekanan, ancaman, dikucilkan dan sebagainya. “Karena itu, jangan lupakan mereka. Jangan sekali-kali putus silaturahim dengan mereka. Kita sekarang tinggal enaknya,” jelasnya.

Pria berkaca mata ini mengingatkan pentingnya menyambung tali silaturahim dengan para sesepuh NU dan Ansor selain sebagai suatu keharusan dalam Islam, juga untuk “merangkul” anak cucu mereka agar bisa mengikuti pendahulunya; membesarkan Ansor. Dengan demikian, regenerasi Ansor akan terus mengalir. Karena itu, Yasin mengajak para pengurus Ansor tak segan-segan untuk sowan kepada sesepuh Ansor-NU.

Haedar Nashir

“Itu sebagai penghargaan kepada mereka. Juga sekaligus mengajak anaknya agar masuk Ansor. Jadi kita mang-Ansor-kan yang belum Ansor, memantapkan yang sudah Ansor. Dan terakhir meng-NU-kan yang belum NU,” paparnya.

Haedar Nashir

Raker itu sendiri dihadiri oleh lebih 100 pengurus Anso dari semua tingkatan di 6 Pimpinan Anak Cabang (PAC). Raker yang dibarengi dengan pembagian parcel tersebut setidaknya merekomendasikan 18 program yang harus dilaksanakan dalam satu tahun kedepan. Diantaranya adalah reformasi ranting dan PAC, apel Banser, gerak jalan dan karnaval, pembuatan KTA Ansor dan Banser, peresmian Koperasi dan arisan Ansor. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Tanggulangi Narkoba, Muslimat NU Pekalongan Dirikan Rumah Pintar Adiksi

Pekalongan, Haedar Nashir. Kementrian Sosial memberikan apresiasi terhadap kegiatan Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Pekalongan. Hal ini karena Muslimat NU Pekalongan dinilai peduli melakukan gerakan terhadap pencegahan penanggulangan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif (NAPZA) salah satunya dengan mendirikan Rumah Pintar Adiksi.?

Tanggulangi Narkoba, Muslimat NU Pekalongan Dirikan Rumah Pintar Adiksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggulangi Narkoba, Muslimat NU Pekalongan Dirikan Rumah Pintar Adiksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggulangi Narkoba, Muslimat NU Pekalongan Dirikan Rumah Pintar Adiksi

Rumah Pintar Adiksi yang didirikan Muslimat NU Pekalongan menempati eks Gedung PCNU Jalan Dr Sutomo Kota Pekalongan yang dalam pelaksanaanya rumah pintar terebut akan menjadi pusat rehabilitasi berbasis agama, juga menjadi pilot projek di Kementrian Sosial RI.

Direktorat Jendral Rahabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Waskito Budi Kusumo mengatakan, Kemensos sangat mengapresiasi terhadap Muslimat NU Kota Pekalongan ini, karena gagasanya untuk mendirikan rumah rehabilitasi narkoba.?

“Rumah Pintar Adiksi di Pekalongan ini dalam waktu dekat akan segera dilakukan bimtek, diharapkan agar langkah yang dilakukan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, jangan sampai ada salah langkah dan lain sebagainya,” tandasnya, saat peresmian Rumah Pintar Sahabat Adiksi dan Kampung Pelopor Indonesia Tanpa Narkoba, Muslimat NU Kota Pekalongan, Sabtu (17/6)

Haedar Nashir

Dikatakannya, peran dan kiprah Muslimat NU begitu sangat strategis dalam membina keluarga, kedekatannya terhadap anak-anak dalam setiap hari menjadi penentu dalam pencegahan dan penyalahgunaan terhadap narkoba.?

“ Kemensos RI, sangat menginginkan di daerah lain pun seperti di Pekalongan ini, karena narkoba di seluruh Indonesia telah menjarah kehidupan banyak kalangan,”tandasnya.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Pekalongan Hj Nur Khikmah kepada Haedar Nashir menjelaskan bahwa pendirian Rumah Pintar Adiksi tersebut tidak lepas dari dorongan oleh Pimpinan Pusat Muslimat NU, yang dilatarbelakangi dengan dibentuknya Laskar Anti Narkoba.?

"Awalnya ide untuk membuat Rumah Pintar Adiksi ini muncul sepulang dari bimtek, yang diadakan oleh pimpinan pusat di Bekasi Jawa Barat. Sepulangnya langsung kita sikapi dengan melakukan audiensi pemerintah daerah, yang saat itu wakil walikota mendukung sepenuhnya," ungkapnya.

lebih Lanjut ? Nur Khikmah mengatakan, para ibu-ibu muslimat sangat khawatir melihat fakta di lapangan. Banyak di desa-desa yang sudah menjadi korban dan bahkan ada yang menjadi bandar, padahal anak-anak tersebut dari segi pengetahuan agama dan pendidikan lumayan cukup.?

Haedar Nashir

“Sebagai gerakan awal di setiap pengajian rutin hari jumat di masing-masing kelurahan se Kota Pekalongan, selalu disampaikan tentang bahaya narkoba dan juga dilakukan seminar di kalangan pengurus,”imbuhnya.

Nur Khikmah menambahkan, kerja keras yang dilakukan Muslimat NU sekarang mendapat titik terang, sebab gagasan untuk mendirikan rumah pintar adiksi akhirnya terwujud, setelah berkerjasama dengan Institusi Penerima Wajib Lapor ( IPWL) Al Malaa. Bahkan rumah rehabilitasi berbasis psikologi dan agama diresmikan Langsung oleh Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial Kemesnsos RI, sekaligus sebagai pilot project.

Dalam pelaksanaan Rumah Pintar Adiktif yang dikelola Muslimat NU nantinya akan mendapat banyak dukungan, baik dari instansi terkait, dan juga dari internal di Nahdlatul ulama, seperti GP Ansor, Fatayat NU, IPNU IPPNU dan lembaga di lingkungan NU yang salama ini juga telah melakukan kegiatan preventif melalui penyuluhan tentang bahaya narkoba. ( Nafi / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Rabu, 27 Desember 2017

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja

Demak, Haedar Nashir. Dalam rangka membangun semangat segenap pengurus baru PC IPNU-IPPNU Demak masa khidmah 2015-2017 yang baru saja dilantik, mereka menggelar orientasi peningkatan kinerja (upgrading), Ahad (5/4) Siang.?

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Demak Gelar Orientasi Peningkatan Kinerja

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung NU Demak lantai 3, Jl Sultan Fatah No Demak. Acara diikuti oleh segenap Pengurus IPNU-IPPNU Demak yang berjumlah 100 orang, terdiri dari 50 IPNU dan 50 IPPNU. Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Membangun Sinergi, Perkuat Organisasi, dan Kaderisasi’.

Kegiatan ini menghadirkan Ketua GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasdi, Lc, MSi yang juga direktur Pasca Sarjana STAIN Kudus serta Ahmad Syafiq selaku mantan Ketua PC IPNU masa khidmat 2010-2012 yang juga DKN CBP PP IPNU masa khidmat 2012-2015 guna menjadi pemateri. Acara dipandu oleh Dzawits Tsiqoh selaku Wakil Ketua Bidang organisasi dan Kaderisasi PC IPPNU Demak.

Haedar Nashir

“Rekan-rekanita, kalian telah resmi dilantik dan sah secara organisasi untuk menjalankan segenap tugas dan fungsi organisasi, namun kiranya agar dalam penyusunan program kerja nantinya dapat terarah, maka kita perlu meng-upgrade semangat dan pemikiran, ibarat perangkat elektronik aplikasi harus di upgrade agar tidak out of date,” ungkap Dzawits memulai acara.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Demak, Abdul Halim menuturkan, melalui kegiatan serta pengarahan ? ini, yang melibatkan alumni IPNU-IPPNU serta tokoh dari banom NU lain pihaknya optimis kepengurusan ini bisa bekerja secara totalitas dan optimal dengan melaksanakan beberapa program yang nanti akan dirumuskan pada rapat kerja.

Haedar Nashir

“Kami sangat berharap agar semua pihak mendukung perjuangan kami ini," ujar Abdul Halim.

Senada dengan Abdul Halim, Ketua PC IPPNU Demak, Istiqomah menegaskan agar amanat dijalankan sesuai dengan tugas masing-masing. “Serta tiap pengurus harus memahami apa yang harus dilakukan merujuk berbagai tantangan kedepannya,” tegasnya.

Selain dari dataran PC IPNU-IPPNU Demak, agenda tersebut juga dihadiri perwakilan kader dari tingkat ranting, komisariat, dan anak cabang agar program yang hendak disusun dalam rakercab benar-benar tepat sasaran sesuai kebutuhan kader di grass root. (Rifqi Jamil/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Brebes, Haedar Nashir. Kaum Nahdliyin (warga NU) Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong Brebes, akhirnya bisa membangun gedung Nahdlatul Ulama (NU) ranting setempat dengan gotong royong beras sebanyak 2 kilogram per kepala keluarga. Dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung serba guna ? bisa berdiri kokoh.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Ranting (PR) NU ranting Kalijurang Kasbono melalui Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Kalijurang Mohamad Ali, sebelum acara Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah), di desa setempat, Selasa (14/6).

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Ali memaparkan, bangunan gedung serba guna NU dibangun diatas tanah seluas 986 meter persegi. Sedangkan luas bangunan 20 X 14 meter. “Hingga saat ini sudah menelan dana sekitar Rp 700 juta,” paparnya.

Tanah bangunan, sebagian dari wakaf H Tarhudin dan selebihnya pembelian seharga Rp 60 juta. “Alhamdulillah, dana pembangunan dan pembelian tanah hasil umpul-umpul kaum Nahdliyin yang masing-masing Kepala Keluarga menyumbang 2 Kilogram perbulan kurang dari setahun,” terangnya.

Haedar Nashir

Selain beras, adapula yang menyumbang material dan tenaga kerja. “Tukang aslinya yang dibayar tetap ada, tetapi puluhan Nahdliyin setiap hari sukarela kerja bakti,” ungkap Ali.

Gedung dibangun sejak Agustus 2015 dan selesai Februari 2016. “Bangunan belum seratus persen, tinggal pengkeramikan dan finishing lainnya,” kata Ali.

Meski belum diresmikan secara seremonial, tetapi gedung tersebut sudah laris digunakan antara lain untuk kegiatan NU dan badan otonomnya, Bulutangkis, bahkan resepsi pernikahan.?

Ke depan, gedung serba guna yang sekaligus sebagai kantor sekretariat PR NU Kalijurang tersebut, akan terus ditambah sarana dan prasarana lainnya. “Dari hasil kerja ikhlas dan nyata ini, ke depan kami akan mengembangkan Lembaga Zakat dan Infak NU (Lazisnu) ranting Kalijurang, sehingga main kokoh dalam pemberdayaan dana umat,” ujar Ali.

Haedar Nashir

Gedung dengan ornament sederhana namun tampak gagah ini merupakan satu-satunya gedung NU yang dimiliki Pengurus Ranting di Kabupaten Brebes. “Barangkali ini satu-satunya gedung yang dimiliki oleh Pengurus Ranting di Desa se-Kabupaten Brebes,” pungnya. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Minggu, 17 Desember 2017

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

Kendal, Haedar Nashir. Sesepuh majlis dzikir Al-Khidmah Jawa Tengah KH Munir Abdullah mengatakan, warga nahdliyin harus menguatkan kembali aqidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Pasalnya, sekarang banyak bermunculan kelompok agama Islam yang mudah mengkafirkan kelompok agama lain.

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

“Jika ada yang mudah mengkafir-kafirkan orang lain, itu bukan aqidah ahlussunah wal jamaah. Aqidah kita aqidah yang ramah, bukan aqidah yang gampang mengkafirkan ” tegas  pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Grobogan, Jawa Tengah tersebut. 

Hal itu disampaikan dalam tausiahnya pada acara Istigotsah Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihelat Pengurus Cabang Muslimat NU Kendal bersama dengan Majlis Dzikir Al-Khidmah, bertempat di aula Pondok Modern Selamat, Kendal, Kamis (24/1) pagi.

Haedar Nashir

Di hadapan ribuan anggota Muslimat NU Kabupaten Kendal, kiai yang akrab disapa Gus Munir itu menegaskan bahwa Istigotsah berjamaah merupakan salah satu media untuk menguatkan aqidah ala ahlussunah wal jamaah. Sebab, lanjutnya, dengan Istigotsah berjamaah, umat berkumpul mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Illahi.

Pada Istigotsah akbar tersebut, beberapa kiai dan ulama hadir pula untuk turut khidmat membacakan Istigotsah bersama, di antaranya rais syuriyah PCNU Kendal KH Izzudin Abdussalam, KH Nur Rois, KH Zamakhsary, dan ketua Al-Khidmah Jawa Tengah H Joko Suyono.

Haedar Nashir

Dengan mengenakan pakaian serba putih, para jamaah Istigotsah yang berjumlah ribuan orang terlihat memadati aula Pondok Modern Selamat, bahkan ratusan jamaah yang tidak mendapat tempat di dalam aula, tampak duduk di halaman beralaskan koran dan tikar. Mereka terlihat khusyu’ dan khidmat, baik ketika pembacaan Istigotsah maupun ketika mendengarkan tausiah.

ketua PC Muslimat NU Kendal Khadijah Muslih mengatakan, digelarnya Istigotsah akbar tersebut diharapkan dapat mempererat silaturahmi dan memperkuat ajaran ahlussunah wal jamaah melalui tausiah yang disampaikan para kiai.

“Istigotsah ini menjadi ajang berkumpulnya ibu-ibu Muslimat. Selain dapat mempererat hubungan internal antar pengurus PC, PAC, dan Ranting Muslimat se kabupaten Kendal, semoga warga NU semakin kuat dalam melaksanakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin,” tuturnya.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Makam Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Jakarta, Haedar Nashir. Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) terus mendalami kemungkinan adanya pelanggaran aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kasus Kebakaran Pabrik Kembang Api, PT Panca Buana Cahaya Sukses di Kosambi, Tangerang. Kemnaker telah menerjunkan tim pengawas ketenagakerjaan  ke lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk mendalami kasus tersebut.

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Menaker Usut Kecelakaan Kerja di Gudang Kembang Ap

Dalam pelaksanaannya, tim fokus mendalami kemungkinan pelanggaran pada aspek ketenagakerjaan. Diantaranya kepatuhan perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3). 

“Apakah perusahaan tersebut sudah menerapkan norma keselamatan kerja dengan baik dan benar. Norma keselamatan kerja tersebut adalah meliputi aspek-aspek ketenagakerjaam terutama ya, keselamatan bagi para pekerja,” kata Dirjen Pembinaan  Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Kemnaker  Sugeng Priyanto di Kantor Kemnaker, Jakarta, Jumat (27/10).

Haedar Nashir

 

Sugemg menjelaskan, aspek K3 yang diselidiki berkaitan dengan sarana dan prasarana K3  di lingkungan kerja. Seperti penyediaan alat pelindung pekerja, pintu evakuasi, dan sebagainya.

“Ini yang merupakan kewajiban kerja perusahaan, untuk menyiapkan sarana dan prasarana kerja yang aman, yang terkait dengan keselamatan pekerja,” jelasnya.

Selain itu, tim Kemnaker tersebut juga akan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak pekerja, seperti jaminan sosial dan upah.

Haedar Nashir

“Kami akan melihat satu persatu tenaga kerja yang bekerja di perusahaan tersebut. Terutama yang menjadi korban untuk memperoleh hak-haknya,” Sugeng menguraikan.

Sugeng juga mengucapkan bela sungkawa yang mendalam bagi korban dan keluarganya. Hal ini menurutnya harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, pekerja, dan masyarakat umum. Hal itu untuk meningkatkan awareness terhadap pentingnya K3.

“Kami, sekali lagi ingin menyampaikan ungkapan bela sungkwa dan duka cita yang sedalam-dalamnya atas terjadinya kecelakaan kerja ini yang menimbulkan korban baik luka-luka maupun meninggal dunia,” ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas”

Probolinggo, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid dilatih memiliki nilai sportivitas tinggi. Upaya itu dilakukan melalui lomba “Tarung Bebas” yang dilaksanakan di halaman pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Selasa (14/5).

Pertandingan yang disaksikan ribuan santri putra tersebut merupakan kegiatan tahunan. Perguruan Bela Diri Nurul Jadid (PBDJ) yang berada di bawah naungan Pagar Nusa di Kabupaten Probolinggo sebagai penyelenggara.

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)
Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas”

Menurut Ketua PBDNJ, Ubaidillah, Tarung Bebas tersebut dilakukan dalam rangka mengolahragakan dan menumbukan semangat sportivitas santri dalam mengikuti berbagai ajang kompetesi.

Haedar Nashir

“Santri di pondok ini bukan hanya diajarkan mengaji, melainkan diajak berolah raga juga, karena bagaimanapun, kalau badan tidak sehat, santri tidak akan mungkin mengaji,” katanya.

Haedar Nashir

Di samping itu, tambah Ubaidillah, pertandingan ini merupakan ajang seleksi para pendekar muda berbakat, sehingga potensi dan keahlian mereka dapat diketahui, guna diikutkan pada festival lomba setingkat lebih tinggi. Bahkan ada yang masuk seleksi tingkat nasional.

Ada tiga kategori yang diperlombakan, yaitu kategori pra-remaja, remaja, dan dewasa. Pertandingan tersebut memeprlombakan 98 kategori, yang mana nantinya akan dipilih jura 1 dan 2.

Lebih jauh, Ubaidillah mengatakan, di Nurul Jadid ada perkumpulan pencak silat yang terdiri dari Harimau Terbang, Tapak Sakti, dan Cimande. Kemudian semua perguruan tersebut dimasukkan dalam satu wadah, yaitu PBDNJ, “Tentunya PBDNJ ini berada di bawah komando Pagar Nusa Kabupaten Probolinggo, mengingat pengasuh kita adalah tokoh NU,” katanya.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Nusantara Haedar Nashir

Kamis, 26 Oktober 2017

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat menggelar kegiatan bertemakan “Tarawih Bersama MWC, Ranting dan Warga NU”.

Ahad (12/6) malam, Tarawih bersama ini dilaksanakan di Masjid Darul Falah Desa Rejing Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini disambut dengan sangat antusias oleh warga NU. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jamaah yang hadir di masjid yang kebetulan ditempati acara tersebut tidak seperti biasanya.?

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah mengatakan kegiatan ini diadakan dengan tujuan supaya ada silaturrahim antara pengurus MWCNU Tiris Barat dengan Pengurus Ranting NU dan warga NU, khususnya takmir masjid di setiap ranting yang ditempati.?

“Selain itu, supaya warga NU lebih faham tentang ibadah puasa yang mereka jalani, karena pada kegiatan ini juga diisi dengan ceramah dan dialog interaktif seputar Ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Tarawih,” katanya.?

Kegiatan ini dimulai dari sholat Isyak berjamaah dan dilanjutkan dengan sholat Tarawih yang dipimpin oleh tim Imam dari pengurus MWCNU Tiris Barat yang telah mendapat pelatihan Imam Tarawih.

Haedar Nashir

“Secara tidak langsung kegiatan ini juga memberi pelatihan dan penyeragaman pada warga NU, khususnya para imam Tarawih di setiap Ranting agar tidak terjadi sholat Tarawih yang prosesnya tidak sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Dengan kegiatan ini Imron mengharapkan secara umum agar warga NU merasa dekat dan merasa diurusi oleh pengurus NU ditingkat MWCNU, sehingga akan muncul rasa emosional dan simpati yang tinggi terhadap organisasi NU secara keseluruhan. “Agar warga NU bangga terhadap organisasinya sendiri karena merasa didekati oleh NU secara organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Nusantara Haedar Nashir

Jumat, 19 Mei 2017

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Haedar Nashir

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Haedar Nashir

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Daerah, Nusantara Haedar Nashir

Jumat, 21 April 2017

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Haedar Nashir. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Haedar Nashir

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Haedar Nashir

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Olahraga, Internasional Haedar Nashir

Minggu, 05 Februari 2017

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah

Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Haedar Nashir

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

Haedar Nashir

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya. ?

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh? belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 11 November 2016

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Indragiri Hulu, Haedar Nashir?

Liga Santri Nusantara Region V Provinsi Riau secara resmi dibuka Bupati Indragiri Hulu H. Yopi Arianto di Stadion Nara Singa Rengat 27 Agustus lalu. Acara ini dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.30 dihadiri oleh sekira 10.000 orang. Kick off dimeriahkan drumb band dari pesantren setempat yang diikuti oleh defile dari kafilah-kafilah perwakilan 16 pesantren se-Provinsi Riau yang mengikuti Liga Santri.?

Di antara pesantren-pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Pondok Pesantren Syamsyudildin, Pondok Pesantren Nurul Huda, Pondok Pesantren Darul Huda, Pondok Pesantren Al Majdiyah, Pondok Pesantren Khairul Ummah, Pondok Pesantren Al Ihsan, Pondok Pesantren Al Munawwarah, Pondok Pesantren Al Hidayah, Pondok Pesantren Darun Nahda, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Pondok Pesantren Jabal Nur, Pondok Pesantren Al Kautsar, Pondok Pesantren Tebuireng 4, Pondok Pesantren Baqiyyatussyadiyyah, dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah.

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)
PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Dalam sambutannya, Ketua PSSI Asprov Riau menyebut bahwa pembukaan LSN Region V Riau-Kepri ini meriah sekali dan sudah setara perhelatan SEA Games. "Bayangkan, Indragiri Hilir ini jauh dari ibukota provinsi, tetapi lihatlah ia berani menyelenggarakan event sepakbola di malam hari. Kalau bukan infrastruktur memadai, ini tidak akan terjadi. Inilah istimewanya Liga Santri," ujar Chaidir Ketua Pengprov PSSI Riau.

Sementara itu, Bupati Indragiri Hulu dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kemenpora dan PBNU atas terselenggaranya Liga Santri. "Pembibitan sepakbola kita harus dimulai sejak dini. Liga Santri ini membantu PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola di Usia-16. Ini sangat strategis mengingat belum ada kompetisi yang masif dan teratruktur di usia ini," tutur Yopi.

Labih lanjut Yopi mengungkapkan kebanggaannya pada NU. "Sebagai kepala daerah saya sangat bangga kepada NU. Bukan saja karena saya seorang Nahdliyin, tetapi karena sejarah berdirinya negara ini tidak bisa dipisahkan dari keringat, darah dan airmata para kiai, santri dan pesantren yang merupakan basis gerakan dari jam’iyah Nahdlatul Ulama," kata Yopi berapi-api.

Haedar Nashir

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah Kadispora Provinsi Riau Doni Aprialdi, perwakilan Kapolda Riau, Kapolres Inhu, Forkompuda Provinsi Riau, Jajaran PWNU Provinsi Riau, Jajaran PCNU Inhu dan pengurus MWC NU se-Kabuoten Inhu. Selain itu perhelatan ini juga diikuti oleh seluruh pesantren dan madrasah di Inhu.

Sementara itu dari Panitia Nasional LSN diwakili oleh jajaran direksi, antara lain Cornelius Ariyanto Wibisono, Ade Abdul Aziz, dan Irham Saifuddin. Acara tersebut langsung dikoordinasikan oleh Koordinator Region V Riau-Kepri Ribhan Dwi Jayana. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir IMNU, Nusantara Haedar Nashir

Senin, 14 Maret 2016

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

Pamekasan, Haedar Nashir. Ratusan bendera Nahdlatul Ulama (NU) masuk ke pelosok-pelosok desa. Rumah-rumah penduduk yang tergolong fakir miskin menatap bendera tersebut dengan wajah berbinar.

Mereka mendapatkan santunan dari ratusan siswa-siswi SMP Ma’arif 1 Pamekasan yang menyalurkan zakatnya didampingi dewan guru, Senin (19/6). Sedikitnya terdapat 150 zakat fitrah diberikan kepada kaum fakir miskin di dua desa, yaitu Terrak dan Mangar, Tlanakan.

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial para siswa terhadap fakir miskin," ungkap Moh. Fadoli selaku Pembina OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan.

Melalui kegiatan blusukan membagikan zakat fitrahnya, pihak sekolah mendambakan siswa-siswinya menjadi pribadi yang dermawan. Sebab, Nabi Muhammad SAW mengajarkan tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

Haedar Nashir

Moh. Rosi, ketua OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan menegaskan, ratusan zakat tersebut tidak serta merta langsung disalurkan. Melainkan, para siswa-siswi SMP Maarif 1 Pamekasan terlebih dahulu menjalani ritual keagamaan yang bernafaskan sunnah Nabi Muhammad SAW.?

"Kami mengawalinya dengan shalat dhuha dan tadarus Al-Quran. Semoga kita mendapatkan ridla Allah melalui berkah Ramadan dan pembersihan harta lewat zakat fitrah," ujar Rosi.

Usai shalat Dluha dan tadarus, siswa-siswi dibagi 8 kelompok. Selanjutnya, mereka menyebar sesuai lokasi sasaran pendistribusian. Dewan guru tampak berbinar mendampingi mereka. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Syariah, RMI NU, Nusantara Haedar Nashir

Senin, 07 Desember 2015

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Bogor, Haedar Nashir. Pernikahan tanpa melalui Kantor Urusan Agama (KUA) masih menjadi problem di tengah masyarakat. Problem ini menjadikan mereka tidak terdaftar sehingga belum memiliki surat-surat nikah.

Permasalahan ini ditangkap oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Program Studi Ahwalus Syakhsiyah untuk memfasilitasi Sidang Itsbat Nikah, Jumat (8/9) dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Cisuuk, Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Dosen Pendamping KKN Unusia Hayaturrahman mengungkapkan, proses fasilitasi ini untuk kedua kalinya setelah KKN tahun 2016 lalu juga mengadakan sidang itsbat nikah di Kampung Pulo, Cibeuteung Udik yang diikuti oleh 25 pasangan nikah.

“Di Kampung Cisuuk ini diikuti oleh 45 pasangan nikah. Ini bagian dari praktik Tri Darma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat,” jelas Hayaturrahman saat dikonfirmasi Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, proses advokasi ini mempunyai peran penting untuk kelangsungan masa depan warga terutama anak-anaknya. Mereka tidak mungkin bisa mengurus identitas kependudukan dan akte kelahiran anak jika belum mempunyai surat-surat nikah.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeuteung Udik, Bambang Indra Gunawan mengungkpkan, sangat berterima kasih kepada pihak mahasiswa dan kampus Unusia yang telah mengfasilitasi program yang sangat dibutuhkan masyarakat ini. 

“Karena dengan itsbat nikah ini program pemerintah bisa sangat terbantu dalam mendukung program tertib administrasi dan berimplikasi pada peningkatan pelayanan pemerintah kepada keluarga yang bersangkutan,” ucap Bambang.

Sidang itsbat nikah ini dipimpin langsung oleh Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Bogor dibantu beberapa anggotanya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Warta, Sholawat, Nusantara Haedar Nashir