Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, tema Islam Nusantara yang damai dan ramah harus gencar diperkenalkan NU ke dunia internasional. Islam Nusantara sangat relevan untuk saat ini ketika dunia Islam, khususnya Timur Tengah dalam keadaan kacau dan tidak dapat dikendalikan.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said, setelah Muktamar NU Ke-33 di Jombang, Jawa Timur, yang mengangkat tema Islam Nusantara, pemimpin-pemimpin Islam mengucapkan selamat.

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah

“Dengan Islam Nusantara kita mendapatkan respon banyak. Habis muktamar, Menteri Wakaf Maghribi (Maroko), Sudan, dari Ankara (Turki), Afghanistan mengucapkan selamat atas suksesnya Islam Nusantara,” katanya saat pembukaan Rakernas Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) di gedung PBNU, Jakarta Rabu (27/1).

Haedar Nashir

Kang Said menambahkan, tema Islam Nusantara menarik karena ulama di Timur Tengah tidak didengar lagi oleh masyarakatnya karena ulama yang ilmu-ilmunya berbobot seperti Syiria, Irak, dan Mesir sedang mengalami krisis dalam negeri.

Ia meminta dengan semangat Islam Nusantara, Lesbumi NU berusaha menyelamatkan negara secara politik, seni, dan kebudayaannya. “Mari kita jaga air, laut, hutan, tambang, jangan sampai kekayaan kita dirampok kapitalis,” katanya pada Rakernas bertema “Berjuang dan berkhidmah untuk Islam Nusantara dan NKRI tersebut.? ?

Haedar Nashir

Kiai yang profesor ini peran Lesbumi sangat penting mengisi kekosongan dakwah bilhkimah yang mengedepankan nilai-nilai universal. “Dakwah dengan seni budaya lebih ampuh daripada pedang,” katanya. ?

Ia mengutip Dzu Nun Almishri yang berpendapat soal musik sebagai suara kebenaran universal bisa mengugah hati manusia menuju Allah. Barangsipa memdengarkannya dengan hak, akan memdapatkan hakikat, tapi kalau dengan syahwat, akan membawa kepada kezindiqan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 20 Februari 2018

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora

Depok, Haedar Nashir. Menpora Imam Nahrawi mengunjungi SMA Islam Dian Didaktika di Cinere-Depok, Rabu (12/10) pagi. Dalam kunjungannya, Menpora didampingi oleh Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Jonni Mardizal, Staf Khusus Bidang Kepemudaan Zainul Munasichin dan Asdep Kepemimpinan dan Kepeloporan Pemuda Ibnu Hasan.

Dalam kunjungannya ke SMA Islam Dian Didaktika, Menpora Imam Nahrawi menyerahkan langsung Surat Keputusan Menpora No. 82 Tahun 2016 tentang Penunjukkan dan Pengangkatan Duta Pemuda Pelajar Kemenpora tahun 2016 kepada Gloria Natapradja Hamel.?

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Nahrawi Angkat Gloria Jadi Duta Pemuda Pelajar Kemenpora

"Penunjukkan Gloria sebagai Duta Pemuda Pelajar Kemenpora adalah karena dia memberikan inspirasi dan pengaruh kepada para pemuda dan pelajar dalam keteladanan dan rasa nasionalisme yang tinggi," ujar Menpora.

"Gloria adalah cermin dari hasil pendidikan sekolah yang baik, inilah karakter pemuda masa depan yang kita harapkan, dengan integritas yang tinggi dia menunjukkan kepada pemuda dan pelajar rasa patriotisme dan nasionalisme yang sejatinya harus dimiliki oleh anak-anak muda bangsa ini, " lanjut Imam.

Menpora mengharapkan dengan penunjukkan Gloria sebagai Duta Pemuda pelajar ini dapat memotivasi anak-anak muda di Indonesia. "Dibalik kegagalan ada hikmah, dan ada sukses yang tertunda, saya berharap Gloria dapat mendorong teman-temannya untuk selalu berfikir positif dan berbuat yang terbaik, " tutup Imam.

Haedar Nashir

Sebelumnya Ketua Yayasan Dian Didaktika Nunuk Murdiati Sulastomo menyampaikan rasa bangga kepada Gloria Natapradja Hamel yang telah dipilih oleh Menpora Imam Nahrawi menjadi Duta Menpora.?

"Hal ini merupakaan kebanggaan bagi sekolah kami, biarpun Gloria tidak ikut dalam pengibaran bendera di Istana Negara Jakarta, tapi dia tetap sabar dan menunjukkan kedewasaan dan kematangannya bahwa hal itu bukanlah akhir dari segalannya," ujar Nunuk. (Hasanudin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Olahraga Haedar Nashir

Minggu, 11 Februari 2018

Foto-Foto Resolusi Jihad Dipamerkan

Surabaya, Haedar Nashir. Foto-foto perjuangan Arek-arek Surabaya dalam "Resolusi Jihad" dipamerkan di Atrium Royal Plaza Kota Surabaya pada 5-11 November 2012.

Ketua Panitia Peringatan Resolusi Jihad GP Ansor Surabaya M. Hasyim Asyari mengatakan foto-foto yang dipamerkan berasal dari museum "Resolusi Jihad" Nahdatul Ulama (NU) di Jl. Bubutan, koleksi keluarga Gus Sholah (KH Sholahudin Wahid) Tebu Ireng Jombang, dan koleksi keluarga alm Hasyim Latif, yang dulu pernah menjadi komandan jihad fisabillah nasional.

Foto-Foto Resolusi Jihad Dipamerkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Foto-Foto Resolusi Jihad Dipamerkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Foto-Foto Resolusi Jihad Dipamerkan

"Tujuan dari pameran ini, adalah untuk meramaikan perayaan Hari Pahlawan di Surabaya dan membuat masyarakat tahu akan adanya keterlibatan warga NU," kata Hasyim saat pembukaan pameran, Senin.

Haedar Nashir

Ketua PC Ansor Surabaya Muhammad Asrori Muslich mengungkapkan, Ansor sebagai badan otonom Nahdatul Ulama (NU) memiliki kewajiban untuk menginformasikan ke masyarakat mengenai "Resolusi Jihad" sebagai spirit perjuangan melawan kolonialisme saat itu.

Haedar Nashir

"Resolusi Jihad NU itu wajib atau fardu ain untuk masuk dalam sejarah kemerdekaan Indonesia," katanya.

Menurut dia, "Resolusi Jihad" NU yang dilahirkan para kiai Jawa-Madura itu wajib diakui sebagai pencetus semangat perlawanan pada masa kemerdekaan.

Pembukaan pameran itu dihadiri putra kandung Pahlawan Nasional dari Surabaya Bung Tomo, Bambang Sulistomo dan keluarga almarhum K.H. Hasyim Latief selaku Komandan Laskar Hizbullah Jombang.

Sekretaris Rais Syuriah PWNU Jatim dr. Mohammad dalam sambutannya meminta agar generasi muda NU wajib menyerukan pencatatan sejarah tentang Resolusi Jihad NU. Selain itu, generasi muda saat ini juga harus berjiwa patriotisme dan nasionalisme.

"Ketika ada tersangka korupsi, hanya sesaat dilupakan, selanjutnya malah bisa mendapat jabatan lagi. Sementara, pahlawan yang melahirkan bangsa ini, justru dilupakan seterusnya. Kita harus selalu mengingat perjuangan itu sehingga kita selalu memiliki semangat kebangsaan yang jelas," ujar Mohammad.

Sementara Bambang Sulistomo mengingatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia harus terus dilestarikan. Menurutnya semangat perjuangan pahlawan itulah yang sudah mulai hilang pada generasi muda. 

"Semoga dengan acara itu, penghargaan kepada para pahlawan mulai tumbuh," kata Bambang.

Redaktur : Mukafi Niam

Sumber   : Antara 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu

Tegal, Haedar Nashir 

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja asuhan ustadz Khoeron menjadikan program santunan yatim dan yatim piatu tiap bulan. Hal itu dilakukan atas inisiasi dari jama’ah pengajian yang digelar setiap ba’da Magrib. 

“Program ini sangat membantu bagi anak-anak yatim terutama untuk santri-santri kami yang yatim dan yatim piatu. Karena ini merupakan kewajiban kita semua maka sudah sepantasnya lah masyarakat bersama-sama dengan kami untuk berpartisipasi,“ jelas Ustadz Khoeron selepas acara santunan, Selasa (7/5) di pesantrennya.

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tahfidzul Qur’an Timbangreja Santuni Yatim Piatu

Lebih lanjut pria penghafal Qur’an itu langsung mengapresiasi masyarakat yang telah membantu hingga acara berjalan dengan aman dan khidmat. Ia juga selalu terbuka kepada semua pihak agar turut berpartisipasi di ladang amal. 

Haedar Nashir

“Acara santuanan ini juga sekalian hataman Qur’an karena setiap bulan kami sendiri khatam dan mayarakat pun menyetujuinya, sehingga tidak ada yang menyesalkan apalagi mengomentari. Mudah-mudahan ada keberkahan bagi kita semuanya, ini sungguh sangat mulia,“ tambahnya. Pesantren yang berlokasi searah dengan obyek wisata Guci itu, menampung santri-santri yang kebanyakan adalah anak-anak yatim, dan di pesantren tersebut, para santri tidak dimintai bentuk sumbangan apapun per bulannya, mereka hanya khusus menghafal, menghafal dan menghafal Al Qur’an. 

Rata-rata anak yang nyantri adalah anak usia sekolah bahkan ada anak yang masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), se-tingkat dengan Sekolah Dasar (SD), tetapi semangat dan perjuangan para santri sangat luar biasa. Dilihat dari fisik pesantren memang masih dalam proses pengembangan dan mungkin juga karena kondisi pesantren tersebut hanya menerima santri secara terbatas.

Menurut penuturan warga sekitar Rokhis (33) pesantren tersebut merupakan pesantren pertama yang berkonsentrasi pada hafalan Qur’an, berdirinya pesantren tersebut juga dipelopori oleh beberapa ulama setempat, seperti KH Mahfudz Basori, Ustadz Hanafi dan Kiai Hambali. 

Haedar Nashir

“Dengan adanya pesantren tersebut maka kami bisa ikut mengaji dengan benar pada ustadz yang mumpuni dibidangnya. Ini sangat membantu masyarakat terutama dalam bidang agama,“ katanya. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 01 Februari 2018

Kiai Mustafa Yaqub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir. KH Ali Mustafa Ya’qub merupakan intelektual muslim di bidang hadits. Sebagai pakar hadits tidak mengherankan bila ia selalu merujukkan pendapatnya dari kisi-kisi kehidupan, perilaku dan tindakan Rasulullah Saw. Sehingga banyak pihak yang menilai jika pemikiran beliau cenderung pakem dan kaku dalam berislam.

Kiai Ali Mustafa Ya’qub adalah alumni pascasarjana King Saud Riyadh Saudi Arabia. Beliau termasuk salah seorang murid ulama terkenal yang juga pakar di bidang hadits asal Saudi, Prof Dr Syeikh MM Azami.

Meskipun keilmuannya sudah tidak diragukan, dan usianya yang relatif tidak muda namun ia tetap merasa haus untuk menambah pundi-pundi pengetahuan, khususnya dalam khazanah keislaman. 

Kiai Mustafa Yaqub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mustafa Yaqub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mustafa Yaqub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur

Pada bulan Ramadhan tahun 2005, KH Mustafa Ya’qub ikut pengajian kitab bersama para santri Pesantren Ciganjur di Masjid Al Munawwaroh, Ciganjur Jakarta Selatan. Saat itu kitab yang dibaca di hadapan KH Abdurramah Wahid (Gus Dur) adalah Bughyah Al-Mustarsidin karya Al-Habib Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur, ulama yang diberi julukan sebagai `Allaamah Hadhramaut, Faqih Hadhramaut, Rais Hadhramaut, Abu Tarim dan beragam gelar kemuliaan dan penghormatan.

Dalam video yang diunggah Mustiko Dwipoyono di youtube dengan judul (lihat: Ngaji Gus Dur, KH Ali Musthafa Yaqub baca Kitab) tampak Beliau duduk di samping Gus Dur. Membaca setiap kalimat dan melengkapinya dengan makna yang terkandung di dalamnya. Usai baca beliau dengan khusuk dan seksama mendengarkan setiap penjelasan dari Gus Dur. 

Haedar Nashir

"Gus Dur itu adalah guru kami. Kami menjadi murid beliau sejak tahun 1971. Kami belajar Bahasa Arab dan mengaji kitab Qatr al-Nada dari beliau," kata Kiai Mustafa Yaqub saat memberi kesan terhadap Gus Dur.

"Itulah hubungan kami dengan Gus Dur yang beliau sebut sebagai adik dalam pemikiran, yaitu pemikiran ilmu hadits, bukan pemikiran yang lain,” lanjutnya. 

Haedar Nashir

KH Ali Mustafa Yaqub, sosok ahli hadits telah kembali ke Haribaan Ilahi pada Kamis (28/4) pagi. Semoga segala amal dan sumbangsih pemikirannya untuk peradaban Islam mendapat balasan dari Allah Swt. (Zunus)     

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Olahraga, Humor Islam Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Ihwal Islamisasi Nusantara

Oleh Muhammad Iqbal



Historiografi tentang Islamisasi Nusantara pada abad ke-14 sampai 16, biasanya dilakukan oleh para ahli arkeologi dan ahli bahasa–yang meneliti pelbagai macam teks ajaran Islam. Masalah utama yang biasanya dibahas adalah kapan Islam pertama kali memperlihatkan dampaknya. Islam di Jawa menyebar melalui Wali Songo, sembilan tokoh sakti Islam yang menyiarkan agama ini menurut tradisi Jawa. Ada banyak dongeng ihwal keajaiban yang mereka perlihatkan. Di antara Wali Songo, ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namun ada juga yang hanya legenda dan diragukan apakah mereka memang ada.

Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Islamisasi Nusantara

Dari dongeng para wali itu selalu muncul kenyataan bahwa agama baru ini, yakni Islam lebih unggul sebagai kekuatan magis daripada agama yang lama (Buddha). Dari naskah agama Islam yang sampai pada kita dari zaman itu terungkap juga bahwa Islam yang menyebar ke Asia Tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Menurut Michael Laffan, hanya Islam dalam bentuk mistik inilah yang dapat menyebar ke Nusantara (baca: Indonesia), karena cocok dengan alam rohani masyarakatnya.

***

Haedar Nashir

Misteri peralihan agama di Nusantara dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh, sebab sampai kini agama Islam, bagaimanapun penghayatannya, adalah yang paling dominan di Indonesia. Selain itu, sejak Islam tersebar di Nusantara, agama memainkan peran politik yang lebih penting daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan peristiwa tunggal ini dengan masalah yang dihadapi oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang lebih tragis lagi Sunan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama untuk menegakkan kekuasaannya.

Haedar Nashir

Dalam setiap pemberontakan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), Perang Diponegoro (1825-1830), gerakan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi bagian dari pergerakan nasional pada abad ke-20. Dalam kasus Perang Aceh (1872-1912) dan Perang Banjar (1859-1906) misalnya, Islam dan para ulamanya juga berperan besar.

Dari uraian di atas tampak peralihan agama jelas memiliki arti politis dan sosiologis yang dalam. Mendiang H.J. Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli perihal Asia Tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama di Nusantara dan di Asia Tenggara daratan terjadi pada zaman yang sama. Menurut saya, hipotesa Benda ini patut mendapat perhatian jauh lebih besar daripada kisah ajaib Wali Songo.

H.J. Benda melihat peralihan agama di Asia Tenggara dari Civa-Buddha, atau Buddha menurut istilah Jawa, ke Islam pada abad ke-14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha Theravada memiliki ciri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, dimana brahmana-nya merupakan golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain, kaum brahman ini melihat ke atas atau ajaran mereka tidak berakar ke bawah, ke rakyat.

Baik Islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang adalah sama di mata Tuhan, apakah ia raja, priyayi, atau rakyat biasa (wong cilik). Para ulama dalam agama Islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan kaum brahman, ulama maupun pongyi mengkritik atau sering menunjukkan sikap lebih kritis terhadap kewenangan raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana, sehingga dapat menjadi counter elite terhadap elite politik, yakni para pejabat kerajaan atau golongan priyayi.

Berlainan dengan priyayi yang tinggal di keraton atau di kota kabupaten, hal yang juga dilakukan oleh kaum brahman dahulu, para ulama dang pongyi lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan rakyat. Seperti telah disebutkan di atas, banyak pemberontakan dipimpin oleh ulama atau pongyi. Pendek kata, menurut H.J. Benda, peralihan agama di Asia Tenggara pada abad ke-14-16 memberi perubahan struktural yang sangat penting, sebagai akibat dari krisis agama sebelumnya maupun krisis dalam hubungan antara raja dan rakyatnya.

Di daratan Asia Tenggara, krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja kini. Di antara monumen peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah, seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah bila dibandingkan dengan monumen sejarah lain, seperti piramida para Firaun di Mesir atau bangunan di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat ini merupakan beban bagi rakyat. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa ihwal keruntuhan Angkorwat. Kemungkinan besar rakyat meninggalkan tempat tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemi.

Tidak ada lagi pusat di Kamboja yang memiliki bangunan semegah Angkorwat pasca Brahmanisme diganti dengan Buddha Theravada. Ankorwat sendiri ditutupi hutan tropis yang lebat selama berabad-abad dan baru “ditemukan” oleh sarjana Prancis pada abad ke-19.

Kalau perubahan agama dari abad ke-14 sampai 16 disebabkan oleh dinamika masyarakat sebagai reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Theravada yang menyebar di Nusantara dan kepulauan Asia Tenggara, melainkan Islam? Dalam hal ihwal ini Semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari kepulauan Asia Tenggara yang menganut Islam, yang tersebar sampai ke Luzon (Filipina Utara) dan di sekitar Manila sebelum Spanyol datang.

Masalah ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol yang kemudian tersebar di Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabannya adalah faktor geografis dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14 sampai 16 perdagangan Islam adalah yang unggul.

Perdagangan itu berpusat di Gujarat, India, yang jatuh di bawah kekuasaan Islam. Perdagangan Islam ini menyebabkan timbulnya kerajaan Maritim di Sumatera Utara, seperti Piddie, Pasai, dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum rajanya masuk Islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan Islam.

Perlindungan militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (Jawa) merupakan faktor dari perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W. Woters menunjukkan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni untuk memperkuat kedudukan dagang dan politiknya. Memang, Malaka di bawah para sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia Tenggara sampai 1512, ketika kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis. Sampai masa itu Malaka adalah pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.

Penyebaran Islam melalui pedagangan itu, bagi Nusantara, mengungkapkan masalah lain di samping masalah kerajaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni konflik antara negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan Belanda, semisal J.C. van Leur dan Bertram Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan pola pertentangan antara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9 sampai 10. Kerajaan-kerajaan pesisir yang Islam seperti Demak, Kudus, Tuban dan Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang sama juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan Agung) pada abad ke-16.

***

Singkat kata, penyebaran agama Islam ke Nusantara harus dilihat tidak saja karena konflik sosial antara kerajaan Brahman dan masyarakat, tetapi juga dari sudut persaingan antara pesisir dan pedalaman-agraris, antara kosmopolitanisme dan isolasionisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarawan mencoba mendedahkan perubahan sosial, politik ataupun ekonomi yang terjadi.

Bagaimana dengan dongeng ihwal Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman peralihan agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan agama ke Islam, ke Katolik, atau ke Protestan. Perubahan itu selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.

Dalam agama Kristen yang tersebar di Eropa, ada banyak cerita tentang kaum penyebar agama, orang suci, misalnya St. Patrick di Irlandia, St. George di Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Belanda, St. Nicolas, atau St. Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu, dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeluarkan dan tidak diakui oleh Gereja Katolik-Roma. Kendati demikian, usaha ini menimbulkan banyak protes dari umat Katolik, hal yang menunjukkan bahwa di Barat pun terdapat kesukaran untuk menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan bila dalam penyebaran agama Islam di Jawa, ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.

Ketika menulis teorinya ihwal peralihan agama di Asia Tenggara, H.J. Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem di Vietnam Selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada 1930-an, dan peran para ulama dalam pemberontakan Cilegon (1882) di Nusantara. Para pemberontak dalam karya H.J. Benda itu gagal melawan negara.

Arkian, di masa kontemporer ini, agama sebagai jawaban masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab kasus revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter modern Iran di bawah Syah Iran. Selama ini, ada kesan bahwa penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala khas Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal, sosialis, bahkan komunis. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bisa juga melalui agama. Dengan kata lain, baik pada zaman kolonial maupun nasional, agama dapat menjadi unsur politis.



Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Kutupalong, Haedar Nashir - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan perkembangan terkini tentang praktik kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, yang berakibat pada eksodus etnis Rohingya ke Bangladesh.

Menurut PBB, sebagaimana dilansir AP, Kamis (7/9), sekitar 146.000 orang telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh sejak meletusnya kekerasan meletus di sana 25 Agustus.

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Jurubicara PBB Stephane Dujarric, Rabu, mengatakan bahwa Program Pangan Dunia meminta 11,3 juta dollar AS untuk membantu gelombang para pengungsi itu, juga mereka yang tengah tinggah di tenda-tenda pengungsian. PBB sudah menyediakan makanan untuk puluhan ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi.

Haedar Nashir

Eskalasi kekerasan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya belum berakhir menyusul tragedi penyerangan terhadap polisi di wilayah perbatasan dan aparat pemerintah lainnya sejak 25 Agustus. Pemerintah Myanmar menyebut militan Rohingya atau ARSA sebagai teroris Bengali.

Peristiwa Agustus itu memicu serangan balasan dari tentara Myanmar. Atas nama pemburuan para teroris, mereka menembaki warga sipil dan membakar ribuan rumah tinggal warga Rohingya. Situasi ini memperburuk keadaan dan memicu lebih dari seratus ribu warga melarikan diri dari tanah air mereka.

Haedar Nashir

Muslim Rohingya telah melarikan diri sejak serangan pemberontak terhadap polisi perbatasan dan pasukan pemerintah lainnya pada 25 Agustus memicu pembalasan oleh tentara Myanmar. Tentara dan polisi telah dituduh melakukan tembakan tanpa pandang bulu, namun pemerintah mengatakan pasukannya berusaha keras untuk tidak merugikan warga sipil yang tidak bersalah.

Dujarric juga mengatakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang "melanjutkan kontak diplomatiknya terkait dengan situasi di Myanmar." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Ubudiyah, Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU

Brebes, Haedar Nashir. Hj Sofiatunnisa, meski bukan seorang guru tetapi keinginannya memajukan dunia pendidikan sangat getol. Terbukti sejak masih duduk di bangku Madrasah, sudah senang mulang ngaji. Dia sangat trenyuh, saat belajar mengaji ketika mendapat kepercayaan dari ustadznya untuk menggladi ? teman-teman sebayanya yang ikut ngaji.

“Saya bangga ketika disuruh Pak Kiai untuk menggladi teman-temanku, saya duduk di tengah-tengah di antara mereka bagai seorang guru,” ungkap Nyai Hajjah Sofiatunnisa ketika memulai perbincangan dengan penulis di rumahnya, kawasan Pondok Pesantren Shofwatussu’ada, kampung Krajan Rt 02 Rw 02 Desa Bumiayu, Kecamatan Bumiayu, Brebes.

Hj Sofiatunnisa  Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU

Sejak duduk dibangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama (NU) Bumiayu, dia sudah tamat Juz Amma. Dari situlah kemudian mendapat kepercayaan dari Pak Kiai di mana dia belajar mengaji untuk membantu, mengajar teman-teman sebayanya. “Sangat seru ngaji jaman dulu, sebab sebelum subuh saja sudah berangkat sambil membawa obor,” kenang wanita kelahiran Bumiayu tahun 1948.

Sangkin senangnya mengaji, Nyai Sof, demikian panggilan akrabnya pernah di-wedeni, berupa Jin yang tinggi besar sedang sembahyang di atas batu pinggir kali. “Saking takutnya, kami lari tunggang langgang,” kenangnya sembari tertawa kecil.?

Haedar Nashir

Nyai Sof hanya menempuh pendidikan di MI NU Bumiayu, selanjutnya ke SD 1 Ta’alamul Huda Bumiayu dan melanjutkan mondok ke Tambak Beras Jombang Jawa Timur selama 4 tahun.?

Dari pesantren, dia satu kamar dengan Shinta Nuriyah yang juga Istri Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur). Sepulang dari Pondok, Nyai Sof langsung menikah dengan sang Suaminya kini, Kiai Said Yaqub (Alm). “Sementara Bu Nur (biasa Nyai Sof menyapa Shinta Nuriyah), melanjutkan ke IAIN Yogyakarta,” terangnya.

Shinta Nuriyah juga melakukan penelitian tentang pendidikan Islam di Bumiayu, sembari menginap di rumahnya selama 2 minggu. Hingga ? sekarang komunikasinya terus lancar, bahkan ketika Buka Puasa Bersama di Pesantren Al Hikmah 2 Benda pada Ramadhan 2015 lalu, Nyai Sof mendampingi Shinta Nuriyah, seakan-akan reuni.?

Ilmu yang didapat dari tambak beras, langsung Nyai Sof curahkan sepenuhnya untuk para santri di Pondok Shofwatussu’ada, yang dia kelola bersama sang suami. “Kami tidak ingin anak-anak pegunungan tidak mengenyam pendidikan, semua harus menimba ilmu, sehingga ahlak dan derajatnya makin meningkat,” tuturnya.

Ibu dari H Mukson, H Kholili, H Lisa Khulasoh, Hj Umi Johara dan Arif Rachman ini selanjutnya mendirikan sekolah umum SMK Al Huda, 100 meter dari pondok dan rumah tinggalnya.?

Haedar Nashir

Sebagai anak pertama dari 11 bersaudara, Sofiyah muda, menjadi tumpuan keluarganya. Maka dia bertanggung jawab penuh dengan segala resiko apapun yang menjadi keputusan di manajemen keluarganya. Termasuk keputusan untuk mengelola pendidikan yang tergabung dalam yayasan. Hingga kini, yayasan yang dikelolanya bergerak dalam dunia pendidikan seperti TK/PAUD Khoerunisa, Madrasah Diniyah Khoerunisa, TPQ Khoerunisa, Majelis Taklim Khoerunisa, SMK Al Huda dan Pondok Pesantren Shofwatussu’ada.?

Yang paling berkembang adalah SMK Al Huda Bumiayu dengan jumlah siswa mencapai 948. Mereka tersebar di jurusan Busana Batik, Teknik Komputer Jaringan dan Teknik Sepeda Motor Honda. Padahal, awal mula SMK ini berdiri hanya mendapat 25 siswa dan pada putus sekolah sehingga tinggal 16 siswa.?

“Saya hanya modal nekad, karena pengin memajukan pendidikan. Saya tidak putus asa dan berkomitmen membayar gaji guru walau dengan uang pribadi, akhirnya guru-guru pun semangat terus dan lambat laun maju seperti sekarang ini,” ucapnya.?

Ketika menjadi Anggota DPRD Brebes dari Fraksi PKB periode 1999-2004, dia tetap getol memperjuangkan dunia pendidikan. Kebetulan juga berada di Komisi E yang membidangi pendidikan, maka perjuangan Nyai Sof tidak pernah pupus, termasuk melakukan advokasi pendirian SMP Negeri 4 Bumiayu. “Saya harus berjuang mati-matian agar SMP 4 Bumiayu bisa berdiri demi keberlanjutan anak-anak Bumiayu menempuh pendidikan dasar 9 tahun,” tekadnya.

Di Muslimat NU, Nyai Sof juga dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pendidikan PC Muslimat NU Kabupaten Brebes. Sebelumnya, menjadi Ketua PAC Fatayat NU Bumiayu hingga 4 periode, selanjutnya dipercaya menjadi Wakil Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Brebes.?

Seiring perjalanan usia, dia menjadi Wakil Ketua PC Muslimat NU. Dia menolak menjadi Ketua Fatayat maupun Muslimat di tingkat Kabupaten dengan alasan keterbatasan waktu dan jarak ke kota Kabupaten yang terlalu jauh. “Jarak tempuh ke kota Kabupaten menjadi persoalan tersendiri bagi warga Bumiayu, termasuk saya,” kata Nenek bercucu 15 ini.?

Dia bangga dengan kondisi masyarakat Bumiayu yang bersemangat luar biasa menempuh pendidikan, terutama pendidikan Islam. Ratusan pondok pesantren berdiri di wilayah Bumiayu dan sekitarnya. Termasuk berdirinya tiga perguruan, mentasbihkan Bumiayu sebagai Kota Santri, Kota Pendidikan Islam. Di sana sini berdiri pondok pesantren dan sekolah, tetapi semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada masalah kecemburuan dalam mengelola pendidikan. “Semua berfastabikhul Khoerot,” pungkasnya. (Sri Defi/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Olahraga Haedar Nashir

Minggu, 31 Desember 2017

Wabup: Jombang Siap Jadi Tempat Rehabilitasi Korban Narkoba

Jombang, Haedar Nashir. Di hadapan sejumlah pejabat, khususnya dari Kementerian Sosial RI, dan BNN Jatim, Wakil Bupati (Wabup) Jombang, Nyai Hj Mundjidah Wahab siap berperan aktif melawan narkoba. Salah satunya dengan dijadikan lokasi dibangunnya tempat rehabilitasi bagi penyakit berbahaya tersebut.

Pernyataan ini disampaikan Nyai Hj Mundjidah Wahab saat memberi sambutan pada acara workshop Peran Tokoh Agama dalam Pencegahan dan Penanggulangan Narkoba di Jombang, Jawa Timur, Rabu (16/11). Kegiatan ini hasil kerjasama antara pemerintah kabupaten setempat dan PC Muslimat NU Jombang yang dilaksanakan di salah satu hotel di kota santri tersebut.

Wabup: Jombang Siap Jadi Tempat Rehabilitasi Korban Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup: Jombang Siap Jadi Tempat Rehabilitasi Korban Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup: Jombang Siap Jadi Tempat Rehabilitasi Korban Narkoba

"Jombang siap menjadi tempat rehabilitasi bagi korban narkoba," katanya di hadapan pejabat dari Kementerian Sosial RI, BNN Jatim, Forum Pimpinan Daerah atau Forpimda Jombang, serta utusan Muslimat NU se-Jombang.

Bagi Mundjidah, hal itu sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian lantaran kian besarnya angka korban pengguna narkoba di Indonesia. "Jombang sendiri yang merupakan 38 dari kabupaten dan kota di Jawa Timur, ternyata menempati peringat keenam tertinggi," kata Ketua PC Muslimat NU Jombang tersebut.

Baginya, hal tersebut memberikan gambaran bahwa para pengguna dan pengedar obat terlarang dan berbahaya tersebut demikian tinggi di kota santri ini.

Haedar Nashir

Di samping kesiapan untuk dibangunnya tempat rehabilitasi, putri pahlawan nasional yakni KH Abdul Wahab Chasbullah ini tiada henti-hentinya melakukan penyuluhan dan sosialiasai akan bahaya narkoba tersebut. "Termasuk dengan telah dibentuknya laskar anti narkoba dari kepengurusan Muslimat NU di Jombang," ungkapnya.

Haedar Nashir

Bahkan dalam melakukan sosialisasi ke sejumlah desa, laskar yang sudah dikukuhkan oleh Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa ini akan dibantu oleh Babinkamtibmas yakni dari unsur TNI, Polri serta perangkat desa.?

Menurut Ibu Mundjidah, kelebihan laskar antinarkoba dari Muslimat NU adalah karena para ibu lebih tahu kondisi keluarga. "Sehingga gerakan ini diharapkan bisa membentuk keluarga yang mampu menjalankan perintah agama dan peraturan negara, termasuk menjauhkan dari pengaruh narkoba," ungkapnya.

Kegiatan yang diikuti sekitar 500 peserta tersebut menghadirkan Waskito Budi Kusumo selaku Direktur Rehablitasi Sosial dan Napza Kemensos RI, serta Kepala Unit Narkoba Rumah Sakit Bhayangkara Jakarta, dr Aisyah Dahlan. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Akhir Pekan Ini, Kiai Hasyim Ceramah Maulud di Pesantren Nurul Yaqin

Padang Pariaman, Haedar Nashir. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dijadwalkan menjadi penceramah utama pada peringatan  Maulud Nabi Muhammad saw, Ahad, (18/1) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kecamatan VIan  Lingkungan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat bertajuk ‘silaturrahmi ideologi dan keilmuan ulama Ahlussunnah Waljamaah di Padang Pariaman’.



Akhir Pekan Ini, Kiai Hasyim Ceramah Maulud di Pesantren Nurul Yaqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, Kiai Hasyim Ceramah Maulud di Pesantren Nurul Yaqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, Kiai Hasyim Ceramah Maulud di Pesantren Nurul Yaqin

Demikian diungkapkan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Idarussalam pada rapat persiapan panitia, Senin, (12/1) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Rapat dihadiri Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Padang Pariaman Abdul Hadi, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Almuhdil Karim Tuanku Bagindo, Kepala Sekretariat Asyraful Anam Tuanku Bagindo Batuah, dan majelis guru.

Menurut Idarussalam, kehadiran mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi ini sudah dipersiapkan secara matang. Untuk itu,  lanjutnya, kehadiran Kiai Hasyim bakal dihadiri ribuan jamaah dan tokoh-tokoh masyarakat. 

Haedar Nashir

"Kita ingin kehadiran KH Hasyim Muzadi ini benar-benar dapat menjadi siraman rohani bagi jamaah yang hadir. Banyak informasi terkini dari perkembangan Islam yang ingin kita dengar dari Kiai Hasyim," kata Idarussalam yang juga Kepala BKD Padang Pariaman ini.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PC Nahdlatul Ulama Padang Pariaman Abdul Hadi menambahkan, kehadiran KH Hasyim Muzadi ke Ponpes Nurul Yaqin ini merupakan kesempatan baik bagi warga Ahlussunnah Waljamaah di Padangpariaman untuk mendengar langsung berbagai persoalan penting paham Ahlussunnah Waljamaah di tanah air dan dunia.

"Untuk itu, kami mengajak masyarakat Ahlussunnah Waljamaah dan umat Islam di Padang Pariaman dapat menghadiri peringatan Maulud Nabi Muhammad saw dan mendengarkan tausyiah dari KH Hasyim Muzadi," kata Abdul Hadi. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 14 Desember 2017

Pencak Silat Dianjurkan Islam

Blitar,Haedar Nashir. Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidayatulloh Dawami mengatakan, olah raga, termasuk pencak silat sangat dianjurkan agama Islam. Karena menurut Islam, jiwa yang sehat terletak pada badan yang kuat.

“Termasuk olah raga pencak silat, bagian dari itu,” katanya saat membuka acara Kejuaraan Pencak Silat Ma’arif Cup I antar-perguruan Pagar Nusa, di Pesantren Darur Roja’ Selokajang, Srengat, Blitar, Jawa Timur, Ahad (23/6) siang tadi.

Pencak Silat Dianjurkan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat Dianjurkan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat Dianjurkan Islam

Kiai Noer menjelaskan, sejarah membuktikan bahwa Islam sangat mengajurkan olah raga dan beladiri. Ia kemudian bercerita, Nabi Muhammad SAW mau menunaikan haji. Rombongan Nabi biasanya diserang kaum kafir Quraisy karena mereka menganggap rombongan Muslim kecil-kecil.

Haedar Nashir

Namun Nabi Muhammad membuat strategi supaya rombongannya berjalan jinjit sambil bejalan tegap. Strategi itu manjur, kaum kafir tidak berani menyerang karena menganggap rombongan kaum Muslimin gagah-gagah.

Haedar Nashir

“Peristiwa itu diperingati hingga saat ini.Ketika umat Islam berhaji, ketika melaksanakan sai atau lari-lari kecil begitu mulai di lampu hijau disunatkan berlari kecil sambil membusungkan dada,’’ ujar Kiai Noer.

Pencak silat, lanjut Kiai Noer, selain berguna untuk beladiri, juga untuk mempertahankan agama bangsa dan negara,’’ tambahnya.

Menurutnya, pencak silat merupakan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Karena itu NU juga turut melestarikan budaya beladiri plus seni ini. Dengan mendirikan PSNU Pagar Nusa.

“Anggota Pagar Nusa memiliki tugas ganda. Selain mengukir prestasi juga sekaligus untuk mempertahankan ajaran Islam Ahlussunah wal-Jamaah ala NU melalui pencak silat,’’ katanya.

Ikut memberikan sambutan pada acara pembukaan tersebut, Wakil Ketua Pengcab IPSI Kabupaten Blitar, H Imam Kusnin Ahmad SH dan Wakil Ketua Ma’arif NU Kabupaten Blitar, Drs H Sumanto.

Kejuaraan silat antar-Pagar Nusa se-Blitar raya tersebut diikuti sekitar 300 peserta. Setelah dibuka KH Noer Hidayatulloh, acara dilanjutkan dengan atraksi jurus pencak silat dari masing-masing utusan.

Sambutan luar bisa datang dari para pengunjung yang memadati area depan masjid pesantren Darur Roja’ dimana kejuaraan perdana Ma’arif Cup digelar. “

“Alhamdulillah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana. Peserta ada sekitar 300 lebih,’’ ungkap Mohammad Makinuddin kepada Haedar Nashir.

Kejuaraan ini selain merebutkan tropi Ketua Ma’arif NU Kabupaten Blitar, juga sekaligus merebutkan tropi Kepala Pendidikan Nasional  Kabupaten Blitar dan tropi  Kepala Kementrian Agama Kabupaten Blitar. Ma’arif  Cup I 2013, lanjut Makin akan berlangsung selama  tiga hari. Mulai tanggal 23 sampai 26 Juni 2013.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Iman Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Olahraga, Meme Islam Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Brebes, Haedar Nashir

Rais Aam Jamiyah Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) PBNU Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menyerukan agar umat Islam menguatkan lita‘arafu (saling kenal mengenal) untuk menangkal gerakan radikal. Namun tidak hanya kenal mengenal dalam artian secara lahiriah tetapi juga suasana kebatinannya.?

Hal tersebut disampaikan Habib Luthfi pada peringatan Maulud Nabi dan Haul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-27 di Kelurahan Kaligangsa Kulon, Brebes, Kamis malam (11/2/2016).

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Menurut Habib, pelaku teror membabi buta karena tidak mengenal dari mana dia dilahirkan dan ? hidup di daerah mana serta manfaat apa yang bisa dicurahkan untuk kemaslahatan umat. Keinginan kuat untuk menguasai dunia dengan dalih agama menjadikan mereka kalaf dan tidak santun dalam melakukan ‘dakwah’ versi mereka.?

Berbeda jauh dengan misi yang diemban para Walisongo, mereka mampu mengislamkan rakyat tanah Jawa dengan saling kenal mengenal. Mengenal kebudayaan, mengenal tradisi dan kebiasaan orang orang jawa dengan mengakulturasikan pesan-pesan Islam ke dalamnya. Penokohan pewayangan misalnya, mengispirasi tentang jatidiri, sifat kebaikan, jiwa mandiri, ketegasan dan kepiawaian berdiplomasi.

Haedar Nashir

Habib juga mengiritisi jajaran pemangku kebijakan yang masih kurang turun ke bawah. Berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat belum terakomodir dengan baik. Kekuatan fungsi intelegen juga belum dilakukan secara maksimal dalam merangkul rakyat dan memenuhi keinginanya. “Sehingga ana godong obah weruh (ada daun bergerak pun tahu),” ungkap Habib.

Sekda Brebes H Emastoni Ezam yang mewakili Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak kepada masyarakat untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Pengejawatan akhlak Kanjeng Nabi akan membawa perubahan lahir dan batin dalam pembangunan daerah. Di samping itu, diimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dengan berbagai ajakan yang menggiurkan sementara akan menimbulkan masalah di kemudian hari.?

“Seperti yang dilakukan oleh Gafatar, dengan balutan peningkatan ekonomi ternyata menyelipkan ajaran yang menyesatkan umat,” katanya.

Ketua Panitia Letkol Inf Efdal Nazra menjelaskan, pengajian Maulid Nabi digelar sebagai upaya meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Selain itu, untuk menjalin silaturahmi antara ulama, umara dan umat dalam rangka membangun bangsa dan Negara. “Dengan kekuatan yang maksimal antara ulama, umara dan umat, NKRI akan tetap tegak berdiri,” ujar Efdal Nazra yang juga Dandim 0713/Brebes.?

Turut memberikan tausiyah Habib Ali Zaenal Abidin yang juga mantan Walikota Tegal. Selain ribuan pengunjung yang tumpah ruah memenuhi pelataran Masjid Al Munawar juga terlihat ratusan TNI, Polisi dan Banser dengan pakaian kebesaran mereka turut mengunjungi pengajian. (Wasdiun/Fathoni)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Olahraga Haedar Nashir

Minggu, 10 Desember 2017

Ini Jasa Besar KH A Wahid Hasyim Pimpin Kemenag

Jakarta, Haedar Nashir - Jasa besar KH Abdul Wahid Hasyim dalam memimpin Kementerian Agama di era kemerdekaan cukup besar. Jasa sekaligus pemikiran brilian putra Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini patut diapresiasi, salah satunya rintisan Perguruan Tinggi Islam Negeri yang belakangan melahirkan IAIN.

Intelektual NU Ahmad Baso mengatakan hal tersebut saat memaparkan draft kaleidoskop Kementerian Agama tahun 2017 di Hotel Ibis Arcadia Jalan KH A Wahid Hasyim Jakarta, Selasa (3/10). Draft yang ia paparkan mulai berdirinya Kemenag pada 1946 hingga 1971.

Ini Jasa Besar KH A Wahid Hasyim Pimpin Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Jasa Besar KH A Wahid Hasyim Pimpin Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Jasa Besar KH A Wahid Hasyim Pimpin Kemenag

“Saya kira, Kiai Wahid lah pemikir utama kementerian ini. Beliau yang merumuskan kebijakan makro Kemenag. Pikiran beliau tentang merintis Perguruan Tinggi Islam, serta memajukan madrasah dan pesantren,” kata Dosen Institut Studi Keislaman An-Nuqayah Guluk-guluk Sumenep ini.

Haedar Nashir

Hal lain yang juga monumental di era Kiai Wahid Hasyim, lanjut Baso, adalah menyiapkan pemberangkatan haji dan pembangunan masjid nasional kebanggaan umat Islam yang dimulai pada 1961.

“Meski peresmiannya pada era Orde Baru, namun ide pembangunan masjid negara yang belakangan dinamai Masjid Istiqlal ini sudah ada sejak zaman Kiai Wahid,” tegasnya.

Haedar Nashir

Dalam paparannya, pria asal Makassar ini mempresentasikan berbagai temuan menarik. Salah satunya penemuan foto-foto kuno yang merekam upaya dan terobosan para kiai yang menjabat Menteri Agama sejak era kemerdekaan.

“Melacak foto-foto ini sulit sekali. Butuh doa dan semangat tinggi,” kata Baso.

Selain foto-foto dan dokumen penting, sejumlah terobosan spektakuler para kiai NU yang pernah menjabat sebagai Menag ia ulas sekilas dengan narasi menarik. Para tokoh tersebut mulai KH Fathurrahman Kafrawi, KH Fakih Usman, KH Masykur, KH Muhammad Ilyas, KH Wahib Wahab, hingga KH Saifuddin Zuhri.

“Beliau-beliau itu para tokoh NU yang menjabat di era Orde Lama. Nah, KH Muhammad Dahlan sebagai kiai NU di awal Orde Baru. Sejarah keterlibatan para kiai dalam penyelenggaraan negara ini penting diungkap,” tandas Baso. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Olahraga Haedar Nashir

Sabtu, 09 Desember 2017

Nonton Film di Gedung Bioskop

Nonton film di gedung bioskop biasa disingkat “Nonton”. Aktivitas ini merupakan kelaziman masyarakat masa kini baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dengan harga terjangkau, pengunjung gedung bioskop bisa menikmati film terbaru sebelum tayang umum di televisi. Kendati demikian, ada juga bioskop kelas kere yang memutar film lama.

Nonton di gedung bioskop, menurut banyak pengunjungnya, lebih asyik daripada nonton film sendirian di televisi atau di laptop. Efek sound sistem yang menggelegar luar biasa ini memberikan pengalaman istimewa bagi mereka yang nonton. Ditambah lagi suasana gelap ruangan saat film diputar. Sementara nonton film di rumah akan mengganggu kenyamanan tetangga bila volume sound sistem dikuatkan seperti lazimnya di gedung bioskop.

Nonton Film di Gedung Bioskop (Sumber Gambar : Nu Online)
Nonton Film di Gedung Bioskop (Sumber Gambar : Nu Online)

Nonton Film di Gedung Bioskop

Lalu bagaimana kedudukan nonton di mata hukum. DR Yusuf Qaradhawi dalam karyanya Al-Halal wal Haram fil Islam menerangkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Tidak perlu ragu bahwa pertunjukkan film dan sejenisnya merupakan sarana penting dari sekian banyak sarana hiburan. Sebagai sarana, kedudukan film bioskop sama seperti sarana lainnya. Artinya, ia bisa jadi digunakan untuk kebaikan. Tetapi ada kalanya film dimanfaatkan untuk keburukan. Secara substansi, pertunjukan bioskop tidak masalah. Kedudukan hukumnya didasarkan pada pesan dan isi film.

Haedar Nashir

Kami, kata Qaradhawi, memandang aktivitas nonton di gedung bioskop halal dan baik-baik saja. Lalu, Qaradhawi menyebutkan sejumlah syarat antara lain agar pengunjung menjauhkan film-film yang menampilkan kefasikan atau menafikan aqidah, syariah, maupun adab Islam.

Begitu juga film-film yang membangkitkan kesenangan-kesenangan duniawi, dosa, atau mendorong orang untuk berbuat kriminal.

Selain itu, aktivitas nonton tidak melalaikan pengunjung gedung bioskop dari kewajiban duniawi seperti aktivitas sekolah atau mencari nafkah, dan kewajiban agama seperti sembahyang lima waktu. Terakhir, kata Qaradhawi, pengunjung gedung bioskop mesti menjauhkan diri dari kerumunan dan desakan-desakan yang membangkitkan syahwat laki-laki dan perempuan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Kajian Islam, Anti Hoax Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Anak Muda Punya Komitmen pada NU

Sumenep, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi melakukan dialog dengan anak-anak muda NU yang aktif di IPNU, IPPNU, PMII dan GP Ansor Kabupaten Sumenep, di beranda hotel Dream Land Sumenep, Madura, Sabtu malam, (26/01).

Kiai Masdar menyambut gembira atas keinginan mereka yang meminta taushiyah khusus terkait cita-cita ke-NU-an.

Anak Muda Punya Komitmen pada NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda Punya Komitmen pada NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda Punya Komitmen pada NU

“Saya bersyukur memiliki anak muda yang memiliki komitmen untuk berbuat yang terbaik untuk NU.”?

Anak-anak muda NU seharusnya tidak hanya bercita-cita sebatas idealisme pribadi, tapi cita-cita dalam pengembangan oganisasi, berbangsa, dan bernegara. “Cita-cita harus dikobarkan untuk keumatan kebangsaan. Islam Rahamtan lil-‘Alamin adalah cita-cita keumatan,” tambahnya.

Haedar Nashir

Api cita-cita itu bisa diasah dengan bergaul secar fisik, maupun virtual. Misalnya dengan membaca koran, buku, menonton televisi. Dengan pergaulan semacama itu, jiwa akan melebur dengan semesta ini.

Lalu, Masdar menekankan, tidak ? ada cita-cita Islam yang bisa dicapai tanpa berjamaah. Berjamaah bukan karena faktor kebetulan seperti bertemunya orang-orang di pasar, tapi terstruktur, terorganisir.

Haedar Nashir

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Olahraga Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) SMK Raudlatul Malikiyah Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo menggelar lomba paduan suara dan lomba puisi, Rabu (11/11).

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Lomba yang digelar sejak pagi hari ini diikuti oleh seluruh siswa SMK Raudlatul Malikiyah. Satu persatu perwakilan setiap kelas menampilkan kelompok paduan suaranya dan membawakan puisi hasil karyanya.

“Lomba ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan bangsa yang telah gugur berjuang melawan penjajah sekaligus meneladani perjuangannya yang tidak pantang menyerah supaya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ketua PK IPPNU SMK Raudlatul Malikiyah Sri Wahyuni.

Haedar Nashir

Menurut Sri Wahyuni, lomba paduan suara dan lomba puisi ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang diberikan oleh generasi muda akan perjuangan yang dilakukan para pahlawannya.

“Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang kami berikan atas pengorbanan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk meraih kemerdekaan dari tangan penjajah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Melalui lomba ini Sri Wahyudi mengharapkan agar dari diri para pelajar ini nantinya tumbuh semangat patriotisme dan nasionalisme untuk bersama-sama mengisi pembangunan.

“Salah satu bentuk nyata dari pelajar dalam mengisi pembangunan adalah belajar demi menggapai cita-cita. Semoga nilai-nilai kepahlawanan ini bisa terus terpatri agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, AlaNu, Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 28 November 2017

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba

Jakarta, Haedar Nashir - Pimpinan Pusat GP Ansor (PP GP Ansor) ke depan menggalang gerakan nasional antinarkoba. Mereka melihat peredaran narkoba sedemikian rupa maraknya di Indonesia. Pihak GP Ansor berupaya sedapat mungkin menanggulangi penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan pemuda.

Gagasan ini disepakati dalam Rapat Kerja (Raker) GP Ansor di The Media Hotel, Jakarta, Sabtu  (23/4). Raker yang dihadiri seluruh pengurus PP GP Ansor, Ketua Wilayah GP Ansor, dan tamu undangan berjalan penuh khidmah.

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba

Agenda Raker berisi pemaparan program kerja setiap bidang masing-masing. Ketua bidang Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup Idy Muzayyad menjelaskan bahwa salah satu program utamanya adalah mencegah penyalahgunaan narkoba.

“Narkoba ini sangat berbahaya dan sudah menjangkiti para generasi muda secara luas. Untuk itu kami ingin Ansor bergerak cepat menanggulangi dan membantu para korban untuk kembali hidup sehat”, ujarnya.

Haedar Nashir

Wasekjen GP Ansor Mohamad Fadlilah mempertegas komitmen Ansor dalam  menghadang narkoba. “Kami berkoordinasi dengan BNN untuk melakukan tes urine para pengurus GP Ansor. Memang sengaja kami tidak menginformasikan kepada para pengurus lainnya sehingga banyak yang kaget. Kami juga akan menularkan ini ke daerah-daerah,” tutur Fadil.

Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qaumas (Gus Tutut) dan Sekjen GP Ansor Adung Abdul Rahman juga terlihat mengikuti tes urine. “Ini menjadi contoh para pengurus Ansor, baik di pusat maupun daerah,” kata Gus Tutut.

Haedar Nashir

Tes urine ini diikuti oleh banyak pengurus lainnnya secara bergiliran.

Idy mempertegas bahwa GP Ansor harus bergerak cepat dan tepat. “Ansor telah membentuk Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) yang akan berperan aktif melakukan pencegahan, pemberantasan, dan pendampingan korban narkoba. Ansor juga akan bekerja sama dengan pihak manapun yang mempunyai misi sama. Intinya Nusantara bebas penyalahgunaan narkoba,” tegas Idy. (Ogie/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Olahraga, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Jakarta, Haedar Nashir. Pemuda merupakan elemen penting yang menentukan berkembangnya sebuah negara. Maka dari itu dibentuklah UU No 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan yang disahkan oleh DPR 15 September 2009.



IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Untuk membantu mensosialisasikan UU ini Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) mengadakan diskusi publik dengan tema “Diseminasi UU Kepemudaan” yang diselenggarakan di gedung PBNU Jakarta, Selasa (23/2).

Hadir dalam diskusi publik ini, ketua PBNU Andi Jamaro Dulung dan Panca Putra, Asisten Deputi Keserasian Kebijakan Pemuda Menegpora.

Haedar Nashir

Acara ini merupakan bagian dari 10 rangkaian acara besar yang diadakan oleh IPNU dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke-58 yang dimulai pada 23 Januari sampai 23 April mendatang.

Haedar Nashir

“IPNU sangat setuju dengan adanya UU ini, maka kami mengadakan sosialisasi yang  juga merupakan bagian dari 10 rangkaian besar acara dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke 58 tepatnya besok tanggal 24 Februari,” kata Fathoni selaku ketua panitia kepada Haedar Nashir.

Keberadaan UU ini penting karena jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori pemuda cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk usia 16-30 berjumlah 62.985.401. Selain itu jumlah ormas pemuda juga cukup besar, yaitu mencapai 279 ribu organisasi.

Sejumlah negara juga telah memiliki UU Kepemudaan ini, seperti di Thailand (Thailand National Youth Promotion and Coordination Act), Philipina (Youth and Nation Building Act), Belanda (Law of Youth Care) dan lainnya.

Pengesahan UU ini telah menimbulkan respon dari berbagai pihak yang berkepentingan, khususnya ormas kepemudaan yang diatur dalam UU ini. Menurut Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi ada beberapa point yang menjadi diskusi dan isu hangat di kalangan pemuda terkait dengan UU ini. Selain mengenai batasan umur, pembentukan komite dan pendanaan isu lain adalah semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini.

“Semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini hendaknya adalah semangat ideal guna membangun pemuda dan bangsa ini,” katanya. (len)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Olahraga Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Kiai Abbas Buntet, selain menjadi salah seorang tokoh sentral NU, juga pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren tersebut, hingga saat ini terus tumbuh dan berkembang. Di sana, bukan saja menggelar kitab kuning, tapi mengobarkan semangat juang.

Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam sistem pendidikan pesantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kitab Kuning hingga Ilmu Kanuragan

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kanacah perjuangan. 

Kiai Abdullah ukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet, ayah Kiai Abdullah sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

Haedar Nashir

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. 

Haedar Nashir

Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon. 

Setelah  meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir tiap hari tentara penjajah Belanda melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus  begerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mhah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu  dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia  pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. 

Tiga tahun pertama, ditunjukkan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini  menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

Dengan demikian, pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf bdi daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. 

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu Syekh Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karyanya masyhur itu. 

Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada  para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante- Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet, warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fiqih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Dengan sikapnya itu, nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seurang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas  menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Duhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. 

Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. 

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya  mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. 

Ketika memasuki masa senjanya, Kiai Abbas lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah. Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucunya. Karena itu, Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya dan memperkaya jiwanya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu  Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. 

Dalam kamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.   

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.  

Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tangguh dan disegani musuh, kekuatan itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid. 

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas, putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak di dareah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tersebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu  di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Di antaranya adalah KH Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. 

Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu, sebelum Kiai Abbas, sebagai Laskar andalannya, datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. 

Atas restu Hadratus Syaikh, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, Kiai Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. 

Sekitar tahun 1900, Kiai Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi ang mengganggu pesantren tebuireng kapok tidak berani mengganggu lagi. 

Tradisi pesantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya. Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946  itu. 

Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit. Kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Jumat pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.  

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Dan karena itu pula, ketika masa ramainya gerakan reformasi, pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. 

Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (Abdul Munim DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 15 November 2017

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser

Tasikmalaya, Haedar Nashir

Bagi Utak Yudin, tak ada kata terlambat untuk menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Meski sudah berusia 77 tahun, pria ini tetap mendaftarkan diri pada penjaringan calon peserta Diklatsar Satuan Khusus Banser 23-IX Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (18/12). Diklatsar atau Pendidikan dan Pelatihan Dasar merupakan jenjang awal tahap kaderisasi yang diperuntukkan bagi anggota baru Banser.

Ketua Pelaksana Diklatsar yang juga Dansatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, Ujang Haedar pun dibuat kelimpungan. Pasalnya, dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT), Gerakan Pemuda (GP) Ansor hasil Kongres XV GP Ansor tahun 2015, batas minimal dan maksimal keanggotaan antara usia 20 sampai 40 tahun.

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Menebus ‘Dosa’, Dua Kakek Ini Antusias Daftar Anggota Banser

"Diterima bagaimana, ditolak juga tak enak. Ya sudah ikut saja. Gak masalah. Kita apresiasi spiritnya dan harus jadi contoh bagi pemuda NU sekarang ini," kata Ujang saat pembukaan pretes dan psikotes calon peserta di Komplek Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah Tamansari Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Perasaan bingung Ujang tak sampai disitu. Beberapa saat kemudian datang lagi pria berkopiah putih berjaketkan Banser. Pria tersebut menyampaikan maksud kedatangannya untuk ikut mendaftar menjadi peserta Diklatsar.

Haedar Nashir

"Usia Bapak berapa ?" Tanya Ujang seraya dijawab pria tersebut bahwa usia dia 59 tahun dengan nama Nano Supriatna.

Sontak saja, Ujang yang didampingi Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf tertawa lepas. Pasalnya baru saja dibuat bingung oleh Utak Yudin, kini datang Nano Supriatna berusia 59 tahun yang sama pula ingin menjadi peserta Diklatsar.

"Ya nggak apa-apa. Kita terima saja. Persoalan PD/PRT memang panduan organisasi. Tapi fakta di lapangan tak memungkinkan kita menolak," saran Ricky.

Setelah menyelesaikan proses pengisian biodata, Utak Yudin yang diketahui kelahiran Tasikmalaya 1 Juli 1939 dan Nano Supriatna juga kelahiran Tasikmalaya pada 15 Juni 1957, dipersilakan ikut tes sebagai calon peserta Diklatsar.

"Ini bagaiamana nantinya kalau lolos. Diklatsarnya saja nanti seminggu," kata Ujang berbisik pada Ricky.

Selepas mengikuti pretes dan psikotes, Utak dan Nano menyampaikan alasan ingin menjadi Banser. Saat masih muda, ia sempat ikut Ansor/Banser namun tak begitu aktif karena terlilit dengan kebutuhan ekonomi keluarga. Setiap ada kegiatan, keduanya kerap mangkir karena harus berladang menanam singkong dan jagung untuk dijual ke pasar.

"Nah kebetulan sekarang ada pengumuman jadi Banser. Maka untuk menebus dosa dahulu, saya dan Nano minta menjadi Banser," ujar Utak diamini Nano.

Utak dan Nano merupakan warga kampung tempat seleksi calon peserta Diklatsar Banser yang tanpa sengaja ketika melihat banyak pemuda berseragam Banser, tergerak untuk ikut menjadi anggota Banser. (Nurjani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Olahraga, Ulama Haedar Nashir