Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Semarang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang mengadakan konferensi cabang (Konfercab), 23-24 Agustus 2014, di Gedung Serbaguna PCNU Kota Semarang, Jawa Tengah. Konfercab ke-36 ini akan diawali dengan seminar nasional.

Siswoyo selaku ketua panitia menyampaikan, tema konfercab yang diangkat kali ini adalah "Meneguhkan Gerakan Ahlussunah wal Jamaah dalam Dunia Kampus". Sementara forum seminar akan menghadirkan dosen Universitas Diponegoro, Hasyim Asyari; Dr. Arja Imroni, Sekretaris PWNU Jateng; dan Kapolrestabes Semarang.

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Forum konfercab juga akan menyinggung berbagai permasalahan baik pada lingkup lokal, nasional, maupun global. PMII didorong untuk menunjukkan partisipasinya dalam penyelesaian persoalan di masyarakat.

Haedar Nashir

“Tidak hanya peran dan fungsi PMII yang harus berjalan dengan baik, pergantian pengurus juga wajib berjalan dengan periodik, tidak mengalami panjangnya masa kepengurusan,” tambah Siswoyo.

Haedar Nashir

Karena itu, konfercab ini juga menjadi ajang pergantian pengurus. Dari banyak perguruan tinggi di Semarang, hanya tujuh Pengurus Komisariat (PK) PMII yang akan menentukan ketua baru cabang mereka.

Ketujuh PK PMII tersebut antara lain PK PMII Sultan Agung (Unissula), PK PMII Galang Sewu (Polines), PK PMII Diponegoro (Undip), PK PMII Al-Ghozali (Unnes), PK PMII IKIP PGRI (Universitas PGRI), dan PK PMII Wahid Hasyim (Unwahas). Perwakilan dari masing-masing komisariat ini nanti yang akan memilih pemimpin baru menggantikan Ahmad Junaidi. (Mukhamad Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, PonPes Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI"

Jakarta, Haedar Nashir. Forum Alumni PMII Universitas Indonesia akan bersilaturrahim ke sejumlah pesantren di pulau Jawa dengan menggelar kegiatan bertajuk "Santri Goes to UI". Program ini dimaksudkan untuk memotivasi para santri agar melanjutkan kuliah di universitas terkemuka di Indonesia ini.

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Inginkan Santri “Goes to UI"

Ketua Umum Forum Alumni (Forluni) PMII UI Alfanny  kepada Haedar Nashir Rabu (9/9) mengatakan, program “Santri Goes to UI” sudah dilaksanakan untuk pertama kali di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur di sela-sela Muktamar NU di Jombang, 3 Agustus 2015 lalu.  

Program "Santri Goes to UI" berikutnya akan diadakan di Pondok Pesantren Nurul Huda Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi pada Sabtu 19 September 2015 pukul 13.00-selesai. Materi yang diberikan dalam sesi seminar antara lain informasi program studi di UI, peluang beasiswa di UI dan sebagainya. Pemateri dalam seminar tersebut adalah alumni PMII UI yang sudah berkiprah di berbagai bidang baik di pemerintahan dan swasta.

Haedar Nashir

"Selain memberikan motivasi kepada para santri untuk jangan takut kuliah di UI, kami juga akan mencari bibit-bibit terbaik dari pesantren-pesantren tersebut untuk menjadi peserta Sanlat Supercamp "Road to UI" pada Juni 2016 mendatang. Di Sanlat Supercamp, kami akan melatih santri dan pelajar agar bisa lulus tes SBMPTN dan SIMAK UI", papar Alfanny.

Haedar Nashir

Dikatakannya, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan khas nusantara yang kontribusinya terhadap perjuangan bangsa tidak diragukan lagi. Alumni pesantren pun bisa melanjutkan pendidikannya di berbagai kampus terkemuka, termasuk Universitas Indonesia.   

Bagi pondok pesantren yang ingin bekerja sama menggelar kegiatan "Santri Goes to UI" dengan Forluni PMII UI dapat menghubungi 085319908829. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Jumat, 02 Februari 2018

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

Satu persatu, hari demi hari, mulai berdatangan para diplomat di KBRI Roma, Italia menghampiri saya. Kedatangan mereka adalah untuk menunaikan kewajiban berzakat, seperti pada Senin (11/6) kemarin.

Semangat para diplomat untuk berzakat patut diapresiasi. Meski jauh di luar negeri, tetapi mereka masih peduli dengan masyarakat di Indonesia dengan menyisihkan sebagian rizki untuk berdekah, dan utamanya adalah kewajibannya untuk berzakat.

?

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Para Diplomat di Italia Saat Berzakat

Saya dapat memahami, para diplomat meyakini bahwa dengan zakat yang mereka keluarkan kepada mustahiknya akan membuat rejeki mereka berkah dan bertambah.

Menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim dalam setiap perintah-Nya merupakan kebahagiaan bagi pelakunya. Baik perintah itu kewajiban setiap hari, seperti shalat lima waktu, perintah atau kewajiban mingguan, seperti shalat Jumat, kewajiban bulanan seperti berpuasa pada bulan Ramadhan, juga kewajiban tahunan seperti zakat fitrah.

?

Haedar Nashir

Ada juga kewajiban sekali seumur hidup jika mampu seperti ibadah haji, sebagaimana yang telah tertanam kuat dalam prinsip Islam, rukun Islam yang lima.

Dalam menunaikan kewajiban di dalam hukum-hukum Islam dikenal sebuah istilah yakni taklif. Artinya setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal wajib melaksanakan perintah yang telah ditetapkan dalam agama. Ketika seseorang itu belum mencukupi syarat tiga tersebut, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya.

Haedar Nashir

?

Dengan mengucapkan sepenuh hati dua kalimat syahadat, “Asyhadu An laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah,” maka sudah cukup syarat baginya disebut sebagai Muslim. Ketika seorang muslim laki-laki atau perempuan itu sudah baligh—ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan bermimpi keluar sperma bagi laki-laki—wajib hukumnya untuk melakukan shalat lima waktu dan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan.

?

Di samping syarat sudah baligh di atas, Muslim itu juga harus berakal sehat. Meskipun muslim sudah baligh tapi akalnya tidak sehat, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan shalat, puasa, dan haji.

Berbeda dengan zakat. Dalam berzakat tidak disyaratkan muslim itu harus berakal dan baligh. Selama seseorang itu muslim, maka wajib membayar zakat. Kalau dia belum baligh atau akalnya tidak sehat tetap wajib membayar zakat. Jangankan yang masih kecil, bayi baru lahir saja pada bulan Ramadhan wajib dibayarkan zakat.

?

Jangankan yang masih hidup, orang yang meninggal pada bulan Ramadhan pun wajib dibayarkan zakat. Siapa yang membayarkannya? Tentunya, orangtuanya atau orang yang menanggung biaya hidupnya. Zakat yang dimaksud di sini adalah zakat fitrah.

Marilah menunaikan zakat. Zakat dapat membuat berkah harta. Zakat dapat menentramkan hati pelakunya. Zakat dapat menyucikan hati dan harta. Zakat dapat menghapuskan dosa-dosa. Amin ya robbal ‘alamin.

Khumaini Rosadi, Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, PonPes, Khutbah Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Para Perempuan Teladan

Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.

Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Firaun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.

Asiyah binti Muzahim adalah isteri Firaun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Firaun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.

Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Perempuan Teladan

Menjadi isteri Firaun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Firaun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Firaun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Firaun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)

Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Quran. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Haedar Nashir

Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)

Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.

Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)

Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, "Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, "Allâhussalam waminhum salam wa alaikassalam wa ilaihi yaudussalam wa ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)

Haedar Nashir

Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116)?

Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)

Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.

Data buku:

Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit

Penulis: Ririn Astutiningrum

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, 2016

Tebal: 274 halaman

ISBN: 978-602-418-035-5

Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Daerah, PonPes Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir, sekali waktu kami mendengar soal qunut nazilah yang dibaca pada saat bencana dialami umat Islam. Pertanyaan saya, bencana seperti apa yang menuntut kita membaca qunut nazilah dan sampai kapan kita harus mengamalkan qunut tersebut? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdus Salam/Jakarta Utara).

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Musibah sesekali datang menimpa umat Islam. Dalam kondisi demikian, umat Islam harus tetap bersabar sambil mencari solusi atas musibah yang mendera.

Haedar Nashir

Selain itu, kita juga dianjurkan untuk membaca qunut di setiap shalat wajib lima waktu. Qunut ini disebut doa qunut nazilah atau qunut karena musibah.

Haedar Nashir

Lalu bencana kategori apa saja yang membolehkan kita untuk mengamalkan qunut nazilah? Apakah hanya bencana alam saja, tidak untuk bencana kemanusiaan? Ada baiknya kita melihat pandangan Syekh M Nawawi Banten dalam kutipan Nihayatuz Zein berikut ini.

?) ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Qunut nazilah) sunah dibaca pada i’tidal rakaat terakhir (di semua shalat yang diwajibkan) lima waktu sehari (karena sebuah musibah) yang menimpa umat Islam meskipun menimpa hanya seorang Muslim yang punya pengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani, sama saja baik musibah itu berbentuk kekhawatiran atas serangan musuh meskipun mereka adalah umat Islam sendiri, paceklik, kemarau panjang, wabah, maupun pes,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Syirkah Al-Ma’arif, tanpa tahun, halaman 67).

Kutipan ini jelas mengatakan bahwa bencana kemanusiaan juga menjadi sebab pengamalan qunut nazilah bahkan untuk menghindari serangan musuh meskipun musuh itu umat Islam sendiri.

Penyebab doa qunut nazilah ini mencakup bencana alam seperti hujan, paceklik, atau bencana kemanusiaan seperti penyerangan, penawanan, gangguan masalah keamanan, atau tindakan brutal dan sewenang-wenang lainnya sebagaimana keterangan berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Artinya, “Qunut juga disunahkan pada i‘tidal rakaat terakhir di setiap shalat wajib karena sebuah musibah yang menimpa umat Islam secara umum seperti paceklik, khawatir dari serangan musuh, kemarau panjang, hujan mengandung mudharat misalnya terhadap lahan pertanian, atau musibah yang menimpa beberapa orang Muslim yang berpengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani karena mudharat umat Islam tanpa keduanya; berdasarkan riwayat sahih bahwa Rasulullah SAW membaca qunut sebulan penuh seraya berdoa untuk mengecam pembunuh para sahabatnya di Bi’ri Ma‘unah untuk menolak kesewenang-wenangan para pelaku, bukan untuk memperbaiki korban tewas karena itu tidak mungkin. Diqiyas pula kasus selain kekhawatiran serangan musuh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Adapun pengamalan qunut nazilah hanya terbatas pada shalat wajib lima waktu. Kesunahan qunut nazilah tidak berlaku pada jenis shalat lainnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sembahyang sunah, nazar, dan shalat jenazah tidak termasuk kategori shalat wajib. Karena itu membaca qunut nazilah pada shalat jenazah makruh karena shalat itu harusnya sebentar. Di luar kategori ‘musibah’ adalah qunut yang dibaca bukan karena musibah. Ini jelas makruh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Qunut nazilah diamalkan sejauh bencana yang menimpa umat Islam itu masih berlangsung. Kalau bencana itu sudah tidak lagi berlangsung, maka qunut nazilah tidak lagi disunahkan. Hal ini disinggung oleh Sayyid Bakri dalam I‘anatut Thalibin berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak disunahkan sujud sahwi karena meninggalkan qunut nazilah karena qunut nazilah merupakan sunah sementara di dalam ibadah shalat di mana kesunahan qunut itu hilang seiring dengan hilangnya musibah yang menimpa,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, tanpa tahun, Syirkah Isa Al-Babi Al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 198).

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa merupakan senjata ampuh orang-orang beriman. Terlebih lagi Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana doa qunut menjadi salah satu jalan dalam menghadapi sebuah musibah yang sedang mendera umat Islam. Tentu saja qunut nazilah diamalkan sesuai dengan ketentuan syara’ yang diatur dalam kitab fiqih.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Tokoh, PonPes Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU

Brebes, Haedar Nashir. Hj Sofiatunnisa, meski bukan seorang guru tetapi keinginannya memajukan dunia pendidikan sangat getol. Terbukti sejak masih duduk di bangku Madrasah, sudah senang mulang ngaji. Dia sangat trenyuh, saat belajar mengaji ketika mendapat kepercayaan dari ustadznya untuk menggladi ? teman-teman sebayanya yang ikut ngaji.

“Saya bangga ketika disuruh Pak Kiai untuk menggladi teman-temanku, saya duduk di tengah-tengah di antara mereka bagai seorang guru,” ungkap Nyai Hajjah Sofiatunnisa ketika memulai perbincangan dengan penulis di rumahnya, kawasan Pondok Pesantren Shofwatussu’ada, kampung Krajan Rt 02 Rw 02 Desa Bumiayu, Kecamatan Bumiayu, Brebes.

Hj Sofiatunnisa  Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hj Sofiatunnisa Menumbuhkan Pendidikan Berbasis NU

Sejak duduk dibangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama (NU) Bumiayu, dia sudah tamat Juz Amma. Dari situlah kemudian mendapat kepercayaan dari Pak Kiai di mana dia belajar mengaji untuk membantu, mengajar teman-teman sebayanya. “Sangat seru ngaji jaman dulu, sebab sebelum subuh saja sudah berangkat sambil membawa obor,” kenang wanita kelahiran Bumiayu tahun 1948.

Sangkin senangnya mengaji, Nyai Sof, demikian panggilan akrabnya pernah di-wedeni, berupa Jin yang tinggi besar sedang sembahyang di atas batu pinggir kali. “Saking takutnya, kami lari tunggang langgang,” kenangnya sembari tertawa kecil.?

Haedar Nashir

Nyai Sof hanya menempuh pendidikan di MI NU Bumiayu, selanjutnya ke SD 1 Ta’alamul Huda Bumiayu dan melanjutkan mondok ke Tambak Beras Jombang Jawa Timur selama 4 tahun.?

Dari pesantren, dia satu kamar dengan Shinta Nuriyah yang juga Istri Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur). Sepulang dari Pondok, Nyai Sof langsung menikah dengan sang Suaminya kini, Kiai Said Yaqub (Alm). “Sementara Bu Nur (biasa Nyai Sof menyapa Shinta Nuriyah), melanjutkan ke IAIN Yogyakarta,” terangnya.

Shinta Nuriyah juga melakukan penelitian tentang pendidikan Islam di Bumiayu, sembari menginap di rumahnya selama 2 minggu. Hingga ? sekarang komunikasinya terus lancar, bahkan ketika Buka Puasa Bersama di Pesantren Al Hikmah 2 Benda pada Ramadhan 2015 lalu, Nyai Sof mendampingi Shinta Nuriyah, seakan-akan reuni.?

Ilmu yang didapat dari tambak beras, langsung Nyai Sof curahkan sepenuhnya untuk para santri di Pondok Shofwatussu’ada, yang dia kelola bersama sang suami. “Kami tidak ingin anak-anak pegunungan tidak mengenyam pendidikan, semua harus menimba ilmu, sehingga ahlak dan derajatnya makin meningkat,” tuturnya.

Ibu dari H Mukson, H Kholili, H Lisa Khulasoh, Hj Umi Johara dan Arif Rachman ini selanjutnya mendirikan sekolah umum SMK Al Huda, 100 meter dari pondok dan rumah tinggalnya.?

Haedar Nashir

Sebagai anak pertama dari 11 bersaudara, Sofiyah muda, menjadi tumpuan keluarganya. Maka dia bertanggung jawab penuh dengan segala resiko apapun yang menjadi keputusan di manajemen keluarganya. Termasuk keputusan untuk mengelola pendidikan yang tergabung dalam yayasan. Hingga kini, yayasan yang dikelolanya bergerak dalam dunia pendidikan seperti TK/PAUD Khoerunisa, Madrasah Diniyah Khoerunisa, TPQ Khoerunisa, Majelis Taklim Khoerunisa, SMK Al Huda dan Pondok Pesantren Shofwatussu’ada.?

Yang paling berkembang adalah SMK Al Huda Bumiayu dengan jumlah siswa mencapai 948. Mereka tersebar di jurusan Busana Batik, Teknik Komputer Jaringan dan Teknik Sepeda Motor Honda. Padahal, awal mula SMK ini berdiri hanya mendapat 25 siswa dan pada putus sekolah sehingga tinggal 16 siswa.?

“Saya hanya modal nekad, karena pengin memajukan pendidikan. Saya tidak putus asa dan berkomitmen membayar gaji guru walau dengan uang pribadi, akhirnya guru-guru pun semangat terus dan lambat laun maju seperti sekarang ini,” ucapnya.?

Ketika menjadi Anggota DPRD Brebes dari Fraksi PKB periode 1999-2004, dia tetap getol memperjuangkan dunia pendidikan. Kebetulan juga berada di Komisi E yang membidangi pendidikan, maka perjuangan Nyai Sof tidak pernah pupus, termasuk melakukan advokasi pendirian SMP Negeri 4 Bumiayu. “Saya harus berjuang mati-matian agar SMP 4 Bumiayu bisa berdiri demi keberlanjutan anak-anak Bumiayu menempuh pendidikan dasar 9 tahun,” tekadnya.

Di Muslimat NU, Nyai Sof juga dipercaya menjadi Ketua Yayasan Pendidikan PC Muslimat NU Kabupaten Brebes. Sebelumnya, menjadi Ketua PAC Fatayat NU Bumiayu hingga 4 periode, selanjutnya dipercaya menjadi Wakil Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Brebes.?

Seiring perjalanan usia, dia menjadi Wakil Ketua PC Muslimat NU. Dia menolak menjadi Ketua Fatayat maupun Muslimat di tingkat Kabupaten dengan alasan keterbatasan waktu dan jarak ke kota Kabupaten yang terlalu jauh. “Jarak tempuh ke kota Kabupaten menjadi persoalan tersendiri bagi warga Bumiayu, termasuk saya,” kata Nenek bercucu 15 ini.?

Dia bangga dengan kondisi masyarakat Bumiayu yang bersemangat luar biasa menempuh pendidikan, terutama pendidikan Islam. Ratusan pondok pesantren berdiri di wilayah Bumiayu dan sekitarnya. Termasuk berdirinya tiga perguruan, mentasbihkan Bumiayu sebagai Kota Santri, Kota Pendidikan Islam. Di sana sini berdiri pondok pesantren dan sekolah, tetapi semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada masalah kecemburuan dalam mengelola pendidikan. “Semua berfastabikhul Khoerot,” pungkasnya. (Sri Defi/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menggelar seminar Waspada Diabetes; Dampak pada Tubuh dan Gigi di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, Jumat (28/4) pagi. Pada pertemuan ini sejumlah narasumber menjelaskan bagaimana dampak diabetes pada kesehatan anggota tubuh lainnya.

Sekretaris LKNU Citra Fitri Agustina (dokter Civi) mengatakan, seminar tersebut selain sebagai ajang silaturahim dalam menyambut bulan Ramadhan mendatang, juga sebagai sarana untuk belajar bersama tentang penyakit diabetes mellitus yang ternyata berdampak pada anggota tubuh, termasuk gigi.

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

“LKNU sebagai bagian dari ormas NU memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan upaya kesehatan, penanganan dan pencegahan penyakit kepada masyarakat luas,” kata dokter Civi.

Ia menambahkan, LKNU bekerja sama dengan berbagai pihak telah dan terus mengampanyekan gerakan kesehatan termasuk penanganan dan pencegahan diabetes mellitus ke beberapa propinsi di Indonesia.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yeny Yuliani dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jakarta Pusat mengatakan, penanganan gigi saat ini menjadi bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau program pembangunan berkelanjutan. Dalam SDGs,  persoalan gigi termasuk penyakit kronis sistemik seperti penyakit lainnya yang harus ditangani secara serius.

Haedar Nashir

“Ada persoalan kesehatan mulut yang kita harus tahu. Apalagi update saat ini kesehatan mulut juga masuk dalam cover BPJS. Jadi dokter juga harus bertambah kompetensinya dalam penangan penyakit sistemik,” kata Yeny.

Deteksi dini, menurut Yeny, harus dilakukan, apakah seseorang memiliki potensi diabetes yang berpengaruh pada kesehatan gigi. Ia menyayangkan tren di masyarakat yang menandakan naiknya jumlah kasus kesehatan gigi.

“Seakan masyarakat merasa nggak apa-apa kalau sakit gigi dan diabetes karena di-cover BPJS. Padahal penanganan diabetes di rumah sakit termasuk menggerogoti rumah sakit dan pemerintah. Bayangkan kalau sekali cuci darah saja menghabiskan biaya dua juta,” tambahnya.

Ia berharap para dokter, karena  menentukan keberlangsungan hidup pasien, dapat banyak berperan sehingga persoalan diabetes dan gigi bisa dikendalikan. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Cerita, PonPes Haedar Nashir

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada Haedar Nashir, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

Haedar Nashir

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Haedar Nashir

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Quote, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Minggu, 17 Desember 2017

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain

Sumedang, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Padjadjaran mengisi waktu menjelang buka puasa Ramadhan kali ini dengan mengaji kitab Uqudul Lujjain fi Bayani Huquqiz Zaujain. Kitab Syekh Muhammad bin Umar an-Nawawi ini membahas tentang etika dalam berumah tangga.

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain

Ngabuburit yang dikemas dengan ngaji pasaran ala santri ini diselengarakan setiap hari dari 1-15 Ramadhan 1437 H, pukul 16.00 hingga waktu Maghrib tiba, di Madrasah Al-Fitrah, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pengajian ini diasuh oleh Ustadz Erwin, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Cileles, Jatinangor.

Ngaji pasaran pada bulan Ramadhan merupakan salah satu cara KMNU untuk menjaga tradisi NU yang semakin dilupakan oleh kalangan pemuda setelah menjadi mahasiswa. “Kegiatan ini terbuka untuk umum bagi seluruh mahasiswa, mahasiswi, maupun masyarakat yang ingin ikut ngaji,” tutur Abdurrahman, Ketua KMNU Padjadjaran.

Haedar Nashir

Ia berharap kegiatan ini menambah ilmu peserta pengajian sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat berumah tangga demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Haedar Nashir

Selain mengaji, peserta ngaji kitab ini juga bisa menikmati takjil gratis saat berbuka puasa tiba dalam nuansa kekeluargaan. Sehingga rasa kebersamaan dan kekeluargaan sangat terasa.

“Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini yang sangat bermanfaat, selain itu penyampaian Ustadz Erwin yang sudah ahli dalam bidangnya dan selalu menghibur para santri dengan gaya canda tawanya sehingga membuat para santri tidak jenuh dan bosan,” kata Ari Agustian, peserta ngaji kitab Uqudul Lujain. (Muhtar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Probolinggo, Haedar Nashir - Sebagai bentuk gerakan kemanusiaan untuk menyikapi krisis umat muslim Rohingya di Myanmar, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengajak seluruh warga NU untuk melakukan shalat ghaib dan tahlil bagi warga Rohingya yang meninggal dunia.

Ajakan ini disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah kepada sejumlah awak media saat berada di Masjid bin Aminuddin Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan, Jum’at (8/9).

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong itu, kasus di Rakhine State, Myanmar yang menimpa kaum Muslim itu tidak murni masalah agama, melainkan konflik politik.

“Oleh karena itu saya meminta kepada seluruh umat Islam yang ada di Jawa Timur untuk melakukan gerakan kemanusiaan. Warga NU harus menjadi motor penggerak harmoni di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kiai Mutawakkil mengimbau semua elemen masyarakat di Jawa Timur khususnya warga NU agar tidak diam diri. “NU harus mengambil langkah dan mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap saudara kita di Rohingya dengan cara sosial,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan bahwa krisis Rohingya merupakan proses kemerdekaan di Myanmar di mana sepanjang catatan sejarah, krisis ini adalah perang saudara terpanjang dari tahun 1948 hingga sekarang.

“Para pemberontak ini ada beberapa kepentingan, ada yang berbasis politik, berbasis suku dan berbasis senjata tahun 1980 sudah hilang. Di situlah yang menjadi salah satu kejadian yang anarkis saat ini,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Meme Islam, PonPes Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa menjadi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu adalah takdir Tuhan yang tidak bisa diingkari, demikian pula keragaman suku, agama maupun bahasanya.?

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuan Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

"Kita bangsa yang satu, tidak boleh kita melawan takdir Tuhan itu. Ini bukanlah persoalan benar atau tidak benar, tetapi ini adalah masalah yang tertanam dalam jiwa kita masing-masing yang di dalam nadi mengalir darah Indonesia," jelas Gus Ishom lewat akun Facebook miliknya, Jumat (28/10).

Kesamaan dalam kebangsaan ini, lanjutnya, mengharuskan kita bertanggungjawab untuk dengan hati-hati merawatnya dan sabar menambal setiap keretakan karena perbedaan dan memerangi setiap apa yang berpotensi memecah belahnya.?

"Pengingkaran terhadap kehadiran bangsa ini adalah perbuatan dosa dan penyimpangan dari akal sehat dan kebenaran ajaran agama," tulisnya.

Haedar Nashir

Sejalan dengan tujuan agama yang ingin menciptakan keharmonisan menurutnya, maka bangsa yang berarti keinginan untuk hidup bersama pun diawali dengan keharmonisan setiap pribadi pemeluknya. Artinya, bangsa ini hanya bisa sehat dan harmonis apabila setiap elemennya berakal sehat, menjadi bangunan yang mengokohkan satu sama lain serta saling terkoneksi dengan baik dan tertib.?

Lebih-lebih agama sendiri lanjutnya, mengajarkan keragaman dan dengan tegas mengharamkan segala bentuk perpecahan. Lebih jauh lagi bahwa diciptakannya perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan atau untuk saling menghinakan, melainkan bertujuan untuk saling melengkapi, memperindah dan membentuk keharmonisan.

"Keragaman agama yang dianut oleh bangsa kita pun tidak terlepas dari kehendak-Nya. Masing-masing penganut agama mengimani kebenaran agama yang dianutnya, sehingga tidak dibenarkan memaksakan kebenaran menurut "versinya" kepada orang lain yang berbeda agamanya. Inilah pangkal kerukunan untuk mewujudkan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ingatnya.

Tujuan bersama dari seluruh anak bangsa yang sangat banyak perbedaannya ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umum, yaitu kesejahteraan, kebaikan dan keadilan tanpa kecuali yang meliputi segenap bangsa Indonesia.?

Haedar Nashir

Untuk meraih tujuan ini menurutnya, diperlukan kematangan jiwa kebangsaan (nasionalisme) dari kita semua, selain tentu butuh pengelolaan yang super kuat. Karenanya, solidaritas kemanusiaan dan kemauan untuk belajar hidup bersama dengan menjunjung tinggi keadaban harus terus menerus diperjuangkan. Sehingga keragaman pun terus menerus dapat terlindungi. Penyeragaman terhadap apa yang sudah ditakdirkan berbeda adalah perbuatan sia-sia.?

"Kedangkalan dalam memahami maksud agama dalam konteks kehidupan berbangsa, seringkali menjadi penyebab sebagian orang beragama dengan klaim kebenarannya sendiri memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sehingga menimbulkan kegaduhan sosial yang berpotensi mengancam keutuhan hidup harmonis bersama," tandasnya.

Ia mencontohkan sebagian muslim misalnya masih menganggap non muslim atau sebaliknya dari warga negara bangsa ini sebagai musuh yang wajib dibenci, dimusuhi atau halal dialirkan darahnya. Pandangan ini jelas keliru karena merusak keharmonisan dan menghalangi tercapainya tujuan hidup bernegara.?

Menurutnya yang patut menjadi musuh bersama warga negara ini, baik muslim atau non muslim setidaknya ada tiga. Pertama, orang yang dzalim atau siapa saja yang tidak bersikap adil. Seperti ketidakadilan rakyat terhadap pemerintahan dengan keengganan untuk menaatinya atau ketidakadilan pemerintah terhadap rakyatnya dengan tindakan yang tidak mengacu kepada kemaslahatan rakyat.?

Kedua, syetan dari jenis manusia maupun jin yang mengobarkan saling benci, permusuhan, berbuat kerusakan dan pertumpahan darah, dan ketiga, hawa nafsu yang bercokol pada jiwa manusia yang selalu memerintahkan kepada keburukan.?

"Agama apa pun yang kita anut, hendaknya kita tetap bersatu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan dan keberadaban. Hendaklah kita selalu bijak dalam menyelesaikan setiap persolan yang dihadapi oleh bangsa ini," pungkasnya.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, PonPes, Makam Haedar Nashir

Rabu, 15 November 2017

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Jakarta, Haedar Nashir. Penerapan kebijakan lima hari sekolah (five day school) di sejumlah kabupaten dan kota berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 bukan isapan jempol. Hal ini disoroti di tengah Perpres yang sedang digodok Istana untuk menggantikan Permendikbud tersebut namun tetap diterapkan di sekolah.

Berdasarkan penelusuran Haedar Nashir, hal itu terlihat ketika Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blitar, Jawa Timur mengedarkan surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah kepada orang tua/wali murid.

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah tersebut mendasarkan diri pada Surat Keputusan Walikota Blitar No. 188/217/HK/410.010.2/2017 tanggal 22 Mei 2017 tentang Pelaksanaan Pendidikan Lima Hari di Kota Blitar dan Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tanggal 12 Juni 2017 tentang Hari Sekolah.

Dalam surat tertanggal 15 Juli 2017 yang ditandatangani Kepala SMPN 1 Blitar, Kateman tersebut dijelaskan bahwa lima hari sekolah mulai berlaku di SMPN 1 Blitar pada tahun pelajaran 2017/2018 dengan jam masuk sekolah pukul 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB sebagai standar pelayanan minimal.

Haedar Nashir

Praktik yang terjadi di lapangan tersebut mendapat sorotan tajam jika mengingat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam video wawancara yang didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy.?

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menerapkan lima hari sekolah. Namun kenyataanya Pemerintah Kota Blitar dan Dinas Pendidikannya mengeluarkan surat keputusan dan surat edaran pemberitahuan pelaksanaan lima hari sekolah.

“Perlu saya sampaikan, perlu saya tegaskan lagi bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah. Jadi tidak ada keharusan full day school, supaya diketahui. Dan yang selama ini enam hari silakan lanjutkan tidak perlu berubah sampai lima hari. Dan untuk yang lima hari kalau itu diinginkan oleh semua pihak ya silakan diteruskan. (Maksudnya) kalau diinginkan masyarakat, diinginkan oleh ulama, silakan. Jadi Perpres sedang kami godok dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nanti selesai akan kita umumkan,” ujar Jokowi dalam video berdurasi 48 detik tersebut.

Terkait dengan jam masuk sekolah yang jelas disebutkan dalam surat pemberitahuan lima hari sekolah SMPN 1 Blitar yaitu mulai pukul 07.00-15.00 WIB juga perlu mendapat perhatian ketika Mendikbud Muhadjir Effendy justru menjelaskan dalam pernyataan klarifikasinya bahwa untuk SMP selesai pukul 13.20 WIB ketika lima hari sekolah diterapkan.

“Kemendikbud sudah membuat model jadwal lima hari sekolah. Perhari hanya menambah sekitar 1 jam 20 menit dibanding 6 hari sekolah. Berarti untuk SD sudah selesai jam 12.10 sedang untuk SMP sekitar jam 13.20. Jadi dalam kaitannya dengan Madrasah Diniyah (Madin) siswa tetap bisa belajar di Madin sebagaimana biasa,” kata Muhadjir dalam klarifikasi tertulisnya.

Haedar Nashir

Soal penerapan lima hari sekolah di beberapa daerah tersebut diamini oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini. Dia mengungkap sejumlah data yang masuk ke PBNU mengenai sejumlah daerah yang menerapkan lima hari sekolah yang tadinya enam hari sekolah dengan mendasarkan diri pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

“Kami sudah menerima laporan contoh di salah satu sekolah itu yang tadinya sudah enam hari tiba-tiba dari dinas kirim surat soal ketentuan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu tentang pelaksanaan sekolah lima hari dan sekolah itu mengubah kebiasaannya,” ujar Helmy Faishal, Senin (14/8) saat dikonfirmasi Haedar Nashir.

Ditanya soal data jumlah kabupaten dan kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah, Helmy mengungkap bahwa berdasarkan data yang masuk ke dirinya, di Jawa Tengah ada sekitar 15 kabupaten/kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah.

“Ada laporan yang masuk ke saya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah menerapkan lima hari sekolah sejak Permendikbud Nomor 23 tahun 2017, kemudian datang surat kawat dari dinas ke sekolah-sekolah untuk menerapkan,” jelas Helmy. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Doa Haedar Nashir

Sabtu, 11 November 2017

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku!”

Wasiat di atas merupakan wasiat yang cukup populer di kalangan warga NU, wasiat tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada para penerus perjuangan NU agar selalu serius dan yakin dalam menjalankan roda kekhidmatan tanpa merasa takut akan ancaman kelaparan. Wasiat tersebut disampaikan oleh KH Ridlwan Abdullah, salah satu tokoh pendiri NU yang juga merupakan tokoh pelukis lambang NU.

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kiai Pelukis Lambang NU

KH Ridlwan Abdullah merupakan anak sulung dari pasangan Abdullah dan Marfuah yang terlahir dari kalangan keluarga yang kuat beragama. Beliau dilahirkan pada tanggal 7 Januari 1885 M, di kampung Carikan 1, kelurahan Alun-Alun Contong, yang sekarang masuk bagian wilayah kecamatan Bubutan di kota Surabaya. (Hlm. 16)

Kecakapan melukis Kiai Ridlwan sudah tampak ketika beliau duduk pada Pendidikan Dasar di Sekolah Belanda (Hollandsch Inlandsche School), hal ini terbukti ketika pada waktu pelajaran menggambar di sekolah, sang guru dari Belanda yang sedang mengajar, menyuruh Ridlwan untuk menggambar gurunya tersebut, tetapi Ridlwan justru menggambar tubuhnya saja, sedangkan wajahnya tergambar ratu Belanda yang bernama Wilhelmina. Sang guru langsung merasa tertarik atas kelebihan yang dimiliki Ridlwan tersebut sehingga pada masa kerjanya sebagai guru habis, ia datang menemui orang tua Ridlwan bermaksud untuk mengadopsinya sekaligus dibawa ke Belanda, tetapi ayahnya tidak mengijinkannya sebab ada kekhawatiran dari pribadinya dan menginginkan agar anaknya melanjutkan pendidikan di pesantren (Hlm. 18)

Haedar Nashir

Dalam riwayat pendidikan keagamaan, pertama Kiai Ridlwan menimba ilmu di pesantren Buntet Cirebon, lalu melanjutkan ke pesantren Kademangan Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil Bangkalan dan pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, lalu Kiai Ridlwan melanjutkan belajar ke Makkah lalu kembali ke Surabaya sehingga tercatat bahwa beliau menggali ilmu agama selama  11 tahun (Hlm. 19).

Dalam bidang pengabdian dan pengalaman organisasi, Kiai Ridlwan ikut andil menjadi bagian “Barisan golongan Muda Bumi Poetera” yang mengupayakan kesadaran berbangsa melalui jalur pendidikan. Kiai Ridlwan ingin mendidik para pemuda, agar semangat mereka bangkit dan sadar untuk menggelorakan kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme). Akhirnya, buah kesadaran nasionalisme tersebut menjelma menjadi perguruan “Nahdlatul Wathan”  (Kebangkitan Tanah Air) yang berdiri tahun 1941. Selain itu, beliau juga aktif di “Taswirul Afkar” pada tahun 1918, sebuah lembaga perumusan konsepsi atau pemikiran berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Selain itu, Kiai Ridlwan bersama Kiai Wahab dan juga Kiai Kahar, memprakarsai berdirinya perhimpunan “Tamirul Masajid”, sebuah perhimpunan yang bertujuan memelihara tempat peribadatan, Masjid, barang wakaf dan sebagainya. Salah satu wujud kerja perhimpunan ini adalah berdirinya Masjid Jami’ Kemayoran yang hingga sekarang berada di jalan Indrapura 2 Surabaya. Bahkan karya monumental arsitektur bangunan kubah Masjid Kemayoran merupakan fakta sejarah dari hasil ciptaan Kiai Ridlwan. (Hlm. 22-24)

Haedar Nashir

Dalam pengabdiannya terhadap NU, jasanya sangatlah besar. Sebelum NU lahir, beliau sudah aktif di beberapa organisasi yang merupakan embrio bagi berdirinya NU. Bahkan rumah beliau di Bubutan VI no 26 Surabaya ditempati untuk penandatanganan berdirinya organisasi NU, sedangkan rumah milik mertuanya yang juga di jalan Bubutan Surabaya diserahkan sebagai sekretariat dan ruang pertemuan para pengurus NU, dulu menjadi kantor PBNU dan sekarang menjadi kantor PCNU Kota Surabaya.

Selain itu, jasa yang diberikan Kiai Ridlwan bagi NU adalah lambang yang mencerminkan sifat ulama dan bila dilihat tidak bosan, yang mana pada Muktamar NU I, NU belum mempunyai lambang sebagai simbol organisasi. Kiai Ridlwan dipercaya oleh KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu menjabat sebagai Rais Akbar  untuk melukisnya. Lambang tersebut, beliau lukis atas hasil istikharah beliau dan dapat ditampilkan pada Muktamar NU II pada tanggal 9 Oktober 1927 M/12 Rabiuts Tsani 1346 H, bertempat di Hotel Muslimin Peneleh Surabaya (Sekarang menjadi Hotel Bali) yang membuat decak kagum bagi yang melihatnya, (Hlm. 56)

Ditinjau dari sudut sumber sejarah, buku tersebut memadukan antara sumber primer dengan sumber sekunder, Sumber primer penulis dapat dari tempat-tempat atau dokumen bersejarah yang hingga kini masih eksis keberadaannya, seperti bangunan tempat penandatanganan NU, Surat ijin anggota Konstituante RI milik Kiai Ridlwan, dan sebagainya dan sumber sekunder penulis dapat dari kepustakan-kepustakaan yang ada.

Buku karya Abdul Holil ini merupakan skripsi yang ditulisnya dan sebagai bukti kecintaannya kepada NU. Buku ini wajib dibaca bagi seluruh kader NU dari berbagai kalangan yang ada, sebab isinya menggambarkan secara utuh sosok dan figur seorang Kiai Ridlwan Abdullah agar para penerus NU selalu mencontoh para pendirinya serta sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat di NU.

Data Buku 

Judul : Kiai Ridlwan Abdullah; Peran dan Teladan Pelukis Lambang NU

Penulis : Abdul Holil

Penerbit : Pustaka Idea

Terbitan : I, 2015

Tebal : xvii + 88 hlm

ISBN : 978-602-72011-6-12

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Minggu, 05 November 2017

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Saya hidup di lingkungan yang mayoritas non-Muslim. Belum lama ini salah satu tetangga saya yang non-Muslim mengalami musibah. Hubungan kami sebagai tetangga sangat baik meski berbeda keyakinan.

Yang ingin saya tanyakan adalah apa hukumnya memberi sedekah kepada yang non-Muslim yang sedang mengalami musibah, di mana tentunya dalam hal ini ia membutuhkannya? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta).

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Haedar Nashir

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Musibah memang tidak pandang bulu, siapa saja bisa terkena musibah. Ketika di antara kita ada yang tertimpa musibah, maka sudah sepatutnya kita memberikan bantuan, baik moral maupun material.

Haedar Nashir

Jika kita memberikan sesuatu atau bersedekah kepada saudara kita sesama Muslim, tentu tidak ada masalah. Namun pemberian atau sedekah kepada saudara kita yang non-Muslim acapkali menimbulkan kecurigaan dari kalangan tertentu.

Para ulama telah sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat (al-aqarib) itu lebih ditekankan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Umat Islam sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat lebih utama dibanding dengan orang lain,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VI, halaman 235).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian muncul ketika sedekah diberikan kepada orang non-Muslim. Mengenai status hukum pemberian atau sedekah kepada non-Muslim ternyata tidak luput dijelaskan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab tersebut.

Dalam kitab tersebut, beliau menyatakan bahwa sebaiknya atau disunahkan sedekah itu diberikan kepada orang-orang saleh, orang-orang baik, orang-orang yang mampu menjaga kehormatannya, dan yang membutuhkankan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Disunahkan sedekah dikhususkan diberikan kepada orang yang saleh, yang baik, yang bermartabat, dan orang membutuhkan” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lantas pertanyaan bagaimana jika sedekah diberikan kepada non-Muslim, apakah diperbolehkan? Dalam hal ini, Muhyiddin Syarf An-Nawawi menyatakan bahwa jika sedekah itu diberikan kepada non-Muslim seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh. Insya Allah ada pahalanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang memberikan sedekah kepada orang fasik atau kafir seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh, dan dalam hal ini ada pahalanya,” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lebih lanjut Muhyiddin Syarf An-Nawawi mengutip pernyataan Yahya Al-Imrani— penulis kitab Al-Bayan—yang menyatakan bahwa menurut Ash-Shamiri, sedekah tersebut boleh juga diberikan kepada non-Muslim harbi. Dalil yang diajukan adalah firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 8: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan’. Tawanan dalam konteks ini adalah non-Muslim harbi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Penulis kitab Al-Bayan mengatakan bahwa menurut Ash-Shamiri boleh juga sedekah diberikan kepada kafir harbi. Sedangkan dalil yang dijauhkan Ash-Shamiri untuk mendukung pendapatnya adalah firman Allah SWT: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,’ (Surat Al-Insan [76]: 8). Sebagaimana diketahui bahwa tawanan adalah orang kafir harbi,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Juz VI, halaman 237).

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka jawabannya adalah boleh memberikan sedekah kepada tetangga non-Muslim yang sedang tertimpa musibah.

Ulurkan bantuan kepada siapa saja yang memang membutuhkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, PonPes Haedar Nashir

Senin, 25 September 2017

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

Surakarta, Haedar Nashir - Kota Surakarta dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Pelajar XXXII se-Jawa Tengah. Acara yang diikuti pelajar setingkat SD, SMP dan SMA ini rencananya bakal dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Balaikota Surakarta, Rabu (15/11) malam.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Solo, Said mengatakan pihaknya siap untuk menyediakan fasilitas yang baik untuk para peserta selama penyelenggaraan MTQ, Rabu-Sabtu (15- 18/11).

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

"Setelah 30 tahun mengantre akhirnya kegiatan ini berlangsung di Solo. Pemkot Solo sangat berkomitmen untuk mensukseskan acara tersebut," tutur Said.

Haedar Nashir

Terdapat tiga cabang yang akan diperlombakan sesuai tingkat pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, serta tingkat SMA, SMK dan MA.

Haedar Nashir

Di antara cabang tersebut yakni tartil Al-Quran, tilawah Al-Quran dan Hifz Al-Quran. Khusus untuk cabang Hifz Al-Quran golongan 1 juz dan tilawah hanya diikuti pelajar jenjang SMP/MTs. Sedang untuk golongan 5 juz dan tilawah diperuntukan untuk pelajar jenjang SMA, SMK dan MA.

Sementara itu, dari pihak tuan rumah Kafilah Solo pun menargetkan untuk memperoleh medali di beberapa cabang.

“Kami realistis saja, pantura itu memang bagus-bagus. Tapi kita siapkan," terang Ketua kafilah Solo yang juga Kepala Seksi Bimas Kemenag Kota Solo Muhammad Nashiruddin.

MTQ Pelajar ke-32 memperebutkan trofi bergilir yang tahun lalu diraih oleh Kabupaten Wonosobo. Pemkot Solo telah menyiapkan bonus berupa uang pembinaan sebesar Rp 1,25 juta untuk masing-masing juara di tiap kategori. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pemurnian Aqidah, PonPes Haedar Nashir

Kamis, 17 Agustus 2017

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

Kupang, Haedar Nashir. Pengurus GP Ansor NTT menginstruksikan anggotanya untuk berperan aktif membantu Polda NTT dalam gerakan pemberantasan narkoba. Para anggota Ansor NTT setidaknya melaporkan indikasi peredaran narkoba dengan jenis apapun ke pihak kepolisian.

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, generasi muda NTT harus mendukung gerak langkah satuan Narkoba Polda NTT dalam memberantas narkoba di NTT. 

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

"PW Ansor NTT mendukung penuh upaya kepolisian dalam upaya pengentasan Narkoba jenis apapun yang masuk NTT," katanya.

Haedar Nashir

Jangan sampai generasi muda NTT terpengaruh peredaran narkoba yang semakin luas. Ia juga berharap kepada masyarakat, selalu respon dengan informasi peredaran narkoba dan jika ditemukan atau mengetahui segera memberikan informasi kepada polisi, ungkapnya.

Sebelumnya Polda Nusa Tenggara Timur melalui Direktorat Narkoba melakukan gelar perkara Kasus Narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkotika) di Mapolda NTT.

Haedar Nashir

Dua orang tersangka pengedar narkoba Hairil alias Herry warga saleko desa Parangina kecamatan Sape kabupaten Bima NTB dan Abdul Haris alias Rijes warga dusun Sumpi desa Rosabou kecamatan Sape kabupaten Bima NTB, ditangkap saat melakukan pengedaran narkoba jenis ganja ke NTT melalui penyeberangan laut dari Bima menuju Labuan Bajo.

Polisi berhasil menyita 6,7 Gram dari tangan Haris sedangkan 318,2 gram ganja kering siap edar di NTT. Keduanya kerap mengirim pasokan ganja siap edar ke NTT, kata Direktur Direktorat Narkoba Polda NTT Kombes Pol Kumbul KS di Mapolda NTT, Senin (27/1).

Mereka ditangkap oleh satuan direktorat narkoba pada Kamis (22/1) di kantin Kapal KM Cakalang II pelabuhan Kapal Fery Labuan Bajo kecamatan Komodo kabupaten Manggarai Barat. Keduannya dikenakan pasal 114 ayat 1 dan atau pasal (1) undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoba. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, PonPes, Daerah Haedar Nashir

Kamis, 29 Juni 2017

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, Haedar Nashir. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

Haedar Nashir

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Haedar Nashir

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, PonPes Haedar Nashir

Rabu, 31 Mei 2017

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusivitas pascapencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari Tempat Pemungutan Suara di samping kediamannya di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pascapencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," nasihat kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqofah Ciganjur ini.

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusivitas ini, bagi Kiai Said Aqil, merupakan kemajuan luar biasa. "Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia mengeluarkan seruan agar warga bersikap bijak terhadap pilkada ini, termasuk dalam hal perbedaan pilihan politik. Menurutnya, perbedaan aspirasi harus disikapi secara wajar dan dianggap sebagai proses pendidikan politik warga.?

Haedar Nashir

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, PonPes Haedar Nashir

Senin, 09 Januari 2017

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Surabaya, Haedar Nashir. Menjadi pegiat organisasi di Nahdlatul Ulama hendaknya diniati untuk berkhidmat demi meninggikan panji dan kalimat Allah SWT, bukan untuk memperoleh kedudukan apalagi keuntungan materi. Hal inilah yang membedakan dengan para aktivis di organisasi lain.

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

"Saat aktif di NU, jangan sekali-kali memiliki motivasi merebut jabatan, apalagi untuk mendapatkan keuntungan materi," kata Nyai Hj Nur Zainab Nur, Ahad (24/7). Pesan ini disampaikannya saat acara halal bi halal dan silaturrahim Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Puteri Pelajar Nahdlatul Ulama lintas generasi di aula PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah ? Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jatim yang tetap semangat meskipun hadir dengan menggunakan kursi roda tersebut mengingatkan para aktifis kekinian untuk bisa belajar ketulusan kepada para pendahulu. "Untuk dapat melakukan konsolidasi, dulu kami harus rela numpang truk karena kendaraan memang terbatas dan tidak memiliki ongkos yang cukup," terangnya.

Demikian pula untuk memantau perkembangan organisasi, undangan rapat sering dititipkan lewat secarik kertas untuk dapat memastikan akan melaksanakan koordinasi di waktu dan tempat yang ? telah ditentukan. "Kami sangat menghargai kesempatan bertemu," kenangnya.

Haedar Nashir

Meskipun sebagai pelajar perempuan, para pegiat IPPNU kala itu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh kalangan Ikatan Pelajar NU atau IPNU. "Saat akan ada rapat bersama IPNU, kami melakukan rapat sebelumnya untuk membahas sejumlah persoalan sekaligus membagi siapa yang akan menjadi juru bicara," katanya disambut aplaus hadirin.

Nyai Hj Nur Zainab Nur kemudian menceritakan bagaimana para pelajar perempuan NU kala itu harus mendatangi para pengusaha dan kantor pemerintah untuk mendapatkan dana ketika hendak menyelenggarakan kegiatan. "Satu demi satu kami datangi," kata perempuan yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.

Haedar Nashir

Di akhir paparannya, kembali mantan Ketua PW Muslimat NU Jatim ini mengingatkan para aktifis IPNU dan IPPNU era kekinian untuk menjaga ketulusan niat dan juga kekompakan. "Jaga terus niat kalian dan tetap kompak," pungkasnya.

Sejumlah ketua dan aktifis PW IPNU dan IPPNU Jatim dari berbagai angkatan hadir pada kegiatan tersebut. Bahkan mantan Ketua Umum PP IPNU, H Abdullah Azwar Anas turut hadir dan memberikan sambutan. Bupati Banyuwangi dua periode tersebut juga mengundang seluruh hadirin untuk bergabung pada acara halal bihalal yang diselenggarakan Majelis Alumni IPNU tingkat nasional, 28 Juli mendatang. Kegiatan akan dilaksanakan di Banyuwangi sekaligus mengenalkan sejumlah destinasi wisata kebanggaan kota paling timur di Jatim tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Selasa, 27 September 2016

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan

Jakarta, Haedar Nashir - Tahun ini, Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Jepara melakukan turun ke bawah (turba) dari kecamatan ke kecamatan. Turba yang bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Jepara Turba dilakukan untuk pembinaan dan sekaligus penyerahan izin operasional pondok pesantren, madrasah diniyah, dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) se-Kabupaten Jepara.

Demikian informasi yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Jepara, sekaligus Kepala KUA Kecamatan Keling H Hisyam Zamroni kepada Haedar Nashir, Senin (13/3).

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba LP Maarif Jepara Berikan Izin Operasional Lembaga Pendidikan

Hisyam menambahkan salah satu daerah yang menerima pembinaan dan penyerahan izin operasional adalah di wilayah paling pojok utara kaki Gunung Muria yakni Kecamatan Keling. Pelaksanaan pembinaan dan penyerahan izin operasional di Kecamatan Keling berlangsung Senin, (13/3) pagi di Pendopo Kecamatan Keling.

Haedar Nashir

“Kecamatan Keling menjadi kecamatan ke-14 dari 16 kecamatan di Kabupaten Jepara. Terdapat 2 buah pondok pesantren, 83 TPQ, dan 43 madrasah diniyah di Kecamatan Keling yang menerima pembinaan dan izin operasional,” rinci Hisyam.

Ia menegaskan, pondok pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ adalah pondasi mendasar dalam pembinaan akhlakul karimah dan keimanan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Haedar Nashir

“Dengan terpenuhinya izin operasional, kepastian hukum tentang pengelolaan dan proses belajar mengajar menjadi legal, nyaman, dan tenang,” katanya.

Hisyam juga menambahkan, pada kesempatan tersebut Ketua LP Maarif NU Jepara,? H Fathul Huda menyampaikan bahwa pondok pesantren, madin, dan TPQ adalah tempat pemberdayaan keilmuan Islam dari tingkat awal sehingga membutuhkan perhatian serius. Diharapkan pembinaan dan izin operasional akan menguatkan pemahaman ajaran aswaja mereka.

Sementara Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, H Muslih Ahmad menyatakan pentingnya membentuk sinergitas dalam proses pemberdayaan pondok pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ.

“Agar pelayanannya menjadi mudah dan terkontrol tanpa ada hambatan yang berarti dari masyarakat dan pemerintah, khususnya Kanmenag,” ujar Muslih.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Ketua RMI Jepara Kiai Rosyif Arwani; Kepala Kanmenag Jepara H Muhdi Zamru; Kapolsek, Danramil, Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Keling. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, PonPes, Kyai Haedar Nashir