Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab

Garut, Haedar Nashir. Pimpinan cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kabupaten Garut menerima kontestan perlombaan Video Tutorial Hijab berdurasi 1-5 menit. Panitia membuka perlombaan tutorial hijab untuk umum. Perlombaan ini diadakan untuk memeriahkan konferensi cabang VIII PCNU Garut pada Jumat-Ahad (30/1-1/2).

Dengan durasi 1-5 menit, peserta dapat menuangkan ide kreatifnya lalu merekam cara memakai hijab dengan model dan gaya yang bebas.

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab

Selain tidak dipungut biaya, perlombaan ini terbuka bagi umum tanpa batasan usia dan tanpa batasan daerah. Selain masyarakat Garut, siapa saja boleh mengikuti perlombaan ini.

Haedar Nashir

Pemenang akan diumumkan pada Kamis (28/1) melalui website IPPNU Garut.

"Oleh karena itu saya mengundang seluruh kader IPPNU se-Indonesia bila ada yang akan mengikuti lomba tutorial hijab ini, karena ini diperuntukan bagi umum," ujar Ketua IPPNU Garut Nendah Nurlaeni.

Haedar Nashir

Peserta yang akan mengikuti lomba ini dapat mengirimkan videonya ke alamat email pcippnu.garut@gmail.com dengan syarat dan ketentuan dapat dilihat di laman facebook fanpage PC IPNU IPPNU GARUT. Lomba ini berhadiah menarik bagi pemenangnya. (Nurul Fatonah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Fragmen Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

Majalengka, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Potensi ini semestinya dapat dimaksimalkan dalam membangun peradaban di Nusantara. NU jangan jadi silent majority.

NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

Hal ini disampaikan Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, saat diminta pandangannya mengenai peran NU Subang pasca Konfercab VII yang digelar di Pesantren Pagelaran III, Rabu (21/8) lalu.

"NU jangan jadi silent majority (mayoritas yang diam). Kelompok radikal, yang ekstremis itu sebenarnya minoritas tetapi bisa merajelela, NU yang mayoritas? sudah seharusnya berperan aktif, dalam pola dakwah misalnya, dakwah NU itu mengajak dan merangkul, bukan dakwah yang mengejek dan memukul," paparnya

Haedar Nashir

Kiai Maman pun menilai bahwa kelompok ekstrim yang sedikit itu bisa seolah menjadi besar karena mereka mampu memainkan media.

Haedar Nashir

"Mereka mampu membuat aksi yang sekiranya bisa naik menjadi news, jadi seolah mereka mayoritas, padahal mereka sedikit," tegasnya

Untuk tidak menjadi silent majority, tambah Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu mengharapkan agar para pengurus NU berperan aktif dengan cara melakukan 3S, yaitu silaturahmi, silatulfikri dan silatulamal.

"Memperbanyak silaturhmi dengan berbagai pihak, terutama kaum tani dan nelayan, karena saya kira mereka juga warga NU," ujarnya

Selian itu, lanjut Kiai Maman,? silatulfikri juga juga perlu dilakukan, yakni menyamakan visi misi dengan berbagai pihak, terutama para pengurus, kemudian terakhir adalah silatulamal. “Yaitu bagaimana mampu merealisasikan visi misi tersebut supaya tidak hanya dalam tataran wacana saja," tukasnya.

Lebih lanjut, penulis buku Fatwa Dan Canda Gus Dur tersebut memberi masukan agar NU mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal

"Saya melihat NU itu reaksional, seperti masjid direbut baru mulai membenahi masjid, seharusnya kalau membenahi dari dulu tentu tidak akan seperti itu, nah kalau NU terus memperlihatkan sikap yang reaksional saya kira lama-lama orang akan meninggalkan NU, karena orang akan lebih realistis melihatnya" pungkasnya. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah

Makkah, Haedar Nashir. Perlahan namun pasti, akhirnya jamaah haji dari seluruh negara melaksanakan wukuf di Arafah hari ini. Sebelum prosesi berdiam di padang Arafah tersebut, jamaah menerima bekal terkait peristiwa dan makna wukuf. Suasana pun berubah menjadi haru.

"Kami menerima materi khotbah wukuf dari KH Farmadi Hasyim," kata Ana Farhasy, Rabu (23/9) usai shalat Dhuhur waktu setempat. Salah satu jamaah dari Kelompok Penerbangan atau Kloter 25 embarkasi Surabaya ini semakin mantap dengan keterangan dari penceramah sebelum kegiatan wukuf dilaksanakan.

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Wukuf untuk Tambah Spirit di Arafah

"Ada dua peristiwa agung pada bulan Dzulhijjah yang patut kita catat dengan tinta emas," katanya menirukan materi sang ustadz. Peristiwa tersebut adalah haji dan kurban. Keduanya terkait dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, lanjutnya.

Haedar Nashir

Peristiwa haji berawal dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk membuat Ka’bah. "Perintah ini langsung dilaksanakan, dengan diawali dialog singkat antara Allah dan Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 126 hingga 127," katanya di maktab 28 Padang Arafah.

Inti dari surat tersebut adalah hendaknya Allah SWT menjadikan Makkah sebagai kawasan yang aman serta mendapatkan rizqi berlimpah serta halal. Dan Allah mengabulkan permintaan tersebut dengan satu syarat.

Haedar Nashir

Syarat dimaksud adalah hendaknya setelah Ka’bah dibangun, Nabi Ibrahim memberikan laporan pertanggungjawaban sebagaimana disebutkan dalam ayat yang ke 127. "Saat itu Nabi Ibrahim naik ke Jabal Qubais, lalu memanggil anak cucunya untuk datang ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji," ungkapnya.

Dari panggilan tersebut, Nabi Ibrahim menjamin bahwa siapa saja yang melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan pahala surga dan diselamatkan dari neraka. "Sehingga kehadiran jamaah haji saat ini sebagai bentuk jawaban atas panggilan dari Nabiyullah Ibrahim saat itu," ungkapnya.

Sedangkan soal kurban, KH Farmadi Hasyim menceritakan salah satu permohonan Ismail kepada ayahnya Nabi Ibrahim sesaat sebelum disembelih. "Apabila ayahanda pulang dan bertemu ibunda, sampaikan salam hormat kepada beliau bahwasanya saya menghadap Allah lebih dulu dan semoga kelak bisa dipertemukan di surga," terangnya.

Demikian pula sebelum disembelih sebagai kurban, Ismail memohon kepada ayahnya untuk menyingsingkan lengan baju. "Itu agar darah yang keluar tidak mengotori baju sang ayah," katanya. Karena Ismail khawatir kalau ibunda tahu percikan darah yang mengenai baju sang ayah, akan mengurangi keikhlasan, lanjutnya.

Materi khotbah ini diberikan sebagai tambahan spirit bagi para jamaah yang akan melangsungkan wukuf di Arafah. Usai wukuf, jamaah akan melanjutnya prosesi haji dengan mabit, melempar jumrah, serta thawaf ifadhah.

Dilaporkan Ustadzah Ana, sapaan akrabnya, suasana di pemondokan sangat kondusif. Meskipun diberitakan ada sebagian tenda jamaah dari Indonesia yang roboh akibat angin kencang, tidak mengurangi semangat dalam melaksanakan seluruh ritual haji.

Namun demikian, diharapkan jamaah tetap menjaga kesehatan dan kebugaran dengan mengonsumsi buah dan vitamin. "Ini agar kondisi tubuh tetap vit karena ibadah berikutnya adalah mengandalkan ketahanan tubuh," terangnya.

Dan yang tidak kalah penting dan selalu ditunggu adalah doa dari keluarga dan umat Islam di tanah air. "Kami yakin, doa dari keluarga dan kerabat serta kaum muslimin akan sangat membantu kelancaran ibadah kami di tanah suci," pungkasnya.(Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Fragmen Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Para Perempuan Teladan

Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.

Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Firaun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.

Asiyah binti Muzahim adalah isteri Firaun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Firaun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.

Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Perempuan Teladan

Menjadi isteri Firaun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Firaun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Firaun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Firaun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)

Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Quran. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Haedar Nashir

Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)

Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.

Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)

Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, "Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, "Allâhussalam waminhum salam wa alaikassalam wa ilaihi yaudussalam wa ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)

Haedar Nashir

Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116)?

Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)

Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.

Data buku:

Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit

Penulis: Ririn Astutiningrum

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, 2016

Tebal: 274 halaman

ISBN: 978-602-418-035-5

Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Daerah, PonPes Haedar Nashir

Senin, 29 Januari 2018

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Jepara, Haedar Nashir. Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda, Barang siapa puasa Ramadhan secara murni karena berdasarkan iman dan mencari ridha Allah, dalam satu riwayat dijelaskan orang itu bersih dari dosa-disa seperti ketika bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

Pada tanggal 1 syawal berani mengatakan tidak punya dosa? Jika tidak ada yang berani berarti tidak ada yang puasa secara sungguh-sungguh. Puasa paling hanya meninggalkan makan dan minum saja. Padahal Nabi sudah bersabda seperti hadis di atas.

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Demikian disampaikan Ketua Jami’iyyah Ahbabul Musthofa Kudus KH Ahmad Asnawi dalam Roadshow Pengajian dalam rangka 1 Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus di lapangan desa Gemiring, kabupaten Jepara, Kamis (14/7) malam.

Bagi Kiai Asnawi, potongan hadis seperti bayi yang baru lahir di atas menunjukkan tatkala Nabi menyamakan puasanya orang beriman dengan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya berarti alamat orang yang tidak mempunyai dosa mirip dengan bayi yang baru lahir.

Ia menyebutkan ada empat ciri orang yang bersih dari dosa. Pertama, tidak mempunyai rasa benci kepada orang lain. “Kalian pernah atau tidakmenjenguk bayi, terus kalian diludahi bayi karena menghinanya?” tanya Kiai Asnawi disambut tawa ribuan masyarakat yang hadir.

Haedar Nashir

“Makanya dulu Kanjeng Nabi ketika diludahi, dipukul bahkan dilempar kotoran orang tidak sakit hati. “Seandainya kalian dilempar kotoran oleh orang, terus mau kalian apakan?Selama dalam hati masih benci kepada orang lain itu menunjukkan masih mempunyai dosa,” sambungnya.

Kedua, tidak dibenci orang lain. Sebagaimana tidak ada yang benci ketika ada orang menjenguk seorang bayi, tentu pasti pada suka apapun keadaan bayi tersebut. “Lalu pasti ada pertanyaan, Nabi Muhammad kan tidak punya dosa, tapi kok banyak yang membenci?” singgung kiai yang mengajar ilmu Balaghah di MA Qudsiyyah itu.

“Ketika ada orang tidak mempunyai dosa kok dibenci, orang yang membenci pasti rusal akalnya. Makanya ada yang membencibayi, malah ibunya sendiri. Seperti bayi yang lahir di luar nikah dibenci ibunya, lalu kenapa begitu lahir, dibungkus plastik, lalu membuang bayinya ke sungai.Bayi pasti tidak salah,sedangkan ibu tersebut rusak akalnya,” jawabnya.

Haedar Nashir

Ketiga, semakin kuat dan tawakal kepada Allah. Seperti halnya bayi, tidak ada bayi yang ragu besok mau makan apa, atau bayi yang bingung sebab harga susu melonjak mahal. “Ada atau tidak bayi yang bingung karena gas LPG telat? Pasti bapaknya yang bingung, karena mempunyai dosa,” tuturnya kembali disambut gemuruh tawa ribuan hadirin.

Empat, orang yang tidak mempunyai dosa itu tidak ada yang ditakuti selain Allah. Makanya, bayi tidak takut apabila ditidurkan di samping macan, atau didudukkan di atas bom pasti cuma diam dan tertawa.

“Para wali Allah itu cerdas semua, tapi walinya Allah tidak takut apabila disandarkan sama macan,karena mereka tahu kalau Allah tidak memerintahmacat menggigit juga tidak akan menggigit. Yang mereka teakuti apa? Kenapa kita takut, itu karena kita mempunyai dosa,” terangnya.

“Monggo dibenahi, empat alamat tersebutdiraba sendiri-sendiri. Makanya bulan ini disebut syawal yang berarti peningkatan. Sehingga manusia kembali ke naluri kesucian,” ajar Kiai Asnawi. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Fragmen Haedar Nashir

Senin, 22 Januari 2018

Kasus ISIS, Bahan Introspeksi NU dan Muhammadiyah

Jombang, Haedar Nashir. Munculnya ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria yang mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan hendaknya menjadi bahan koreksi dan introspeksi organisasi-organisasi sosial keagamaan tentang kiprah mereka dalam membina umat di lingkungan masing-masing.

Kasus ISIS, Bahan Introspeksi NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus ISIS, Bahan Introspeksi NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus ISIS, Bahan Introspeksi NU dan Muhammadiyah

KH Zahrul Azhar Asumta menyampaikan pandangan itu dalam kegiatan “Muhasabah dan Konferensi Pers Tokoh Lintas Agama, Mahasiswa dan Seluruh Elemen Masyarakat Jombang” terhadap ISIS di Indonesia. Acara ini dilangsungkan di Kampus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang Jawa Timur Senin (11/8).

“Kita harus muhasabah atau mengoreksi kegiatan-kegiatan kita, yakni  jam’iyah Islam mainstream di Indonesia seperti NU dan Muhamadiyah apakah sudah menyentuh dan menjawab dari permasalahan keumatan di Indonesia,” kata salah seorang pimpinan di Unipdu ini.

Haedar Nashir

Karena, jika kegiatan kita sudah memenuhi kebutuhan ruhani masyarakat dan memberikan manfaat yang memadai, maka paham apapun yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan ajaran agama pasti akan susah masuk di Indonesia, lanjutnya.

Dalam pandangan pria yang akrab disapa Gus Hans ini, ISIS jelas telah melakukan kerusakan secara fisik terhadap semua yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun sama-sama mengusung khilafah dan anti terhadap Pancasila akan tetapi kelompok lain seperti HTI atau yang sejenisnya gerakannya masih dalam wacana dan penyampaian gagasan serta melalui dialog yang gigih kepada pihak lain.

Haedar Nashir

“Harusnya kita iri dengan militansi dan ketangguhan sebagian kelompok tersebut dan tidak menggunakan kekerasan dalam meyakinkan kelompok lain,” terangnya.

Melarang Kelompok Anti Pancasila

Terlepas dari itu semua, salah seorang jajaran pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini juga menandaskan bahwa keberadaan ISIS yang sudah sangat terang-terangan melakukan kekerasan, maka hal itu harus ditolak.

“Pada saat yang sama, kita mendesak amir atau pemerintah untuk bersikap tegas terhadap keberadaan embrio ISIS di Indonesia,” katanya disambut aplaus hadirin. Baginya, untuk ormas makar yang tidak berideologi Pancasila mestinya sudah dilarang untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia karena telah melakukan tindakan subversif, lanjutnya.

Pendeta Eddy Kusmayadi, Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSG) Jombang menyatakan, ideologi ISIS sangat bertentangan dengan Pancasila. Sehingga, kata Edy, keberadannya masuk ke Indonesia sudah selayaknya ditolak. "Jika ada ormas yang tidak mau mengakui Pancasila, maka harus kita tolak," tuturnya.

Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar berpendapat serupa. Namun demikian, hingga saat ini ia belum mencium masuknya ISIS di Jombang. Untuk tindakan lebih konkret, kata Kiai Isrofil, pihaknya masih menunggu komando dari PBNU. Dia juga menegaskan bahwa NU menolak keras ormas yang bersimpang jalan dengan Aswaja dan Pancasila.

"Untuk tindakan konkret, kami masih menunggu komanda dari PBNU. Yang pasti, kami menolak ormas yang tidak mengakui Pancasila, seperti yang diusung ISIS. Karena bagi kami NKRI adalah harga mati," tegasnya.

Usai para pemuka agama memberikan pandangan, kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Kiai Isrofil Amar. Dan sejumlah poster yang menolak keberadaan ISIS, secara bersama-sama dibakar di halaman kampus Unipdu. Para peserta juga menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai komitmen terhadap keberadaan NKRI.

Selain PCNU dan BKSG, dalam forum tersebut dihadir sejumlah ormas lain. Diantaranya, GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), INTI (Indonesia Tionghoa), serta JGD (Jaringan Gusdurian) Jatim. "Kami yakin, gerakan ISIS sudah masuk ke Jombang. Pintu masuknya, lewat kecamatan yang selama ini menjadi basis JAT (Jamaah Ansharut Tauhid)," tandas Koordinator JGD Jatim, Aan Anshori. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Kajian Islam Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

Jakarta, Haedar Nashir. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) berpandangan, kemajuan ilmu pengetahuan di bidang astronomi dan ilmu hisab diperoleh dari hasil kegiatan rukyat atau observasi benda-benda langit. Rukyat yang berkelanjutan terus mengawal proses peningkatan temuan mutakhir hingga nyaris sempurna. Untuk seterusnya, selain sebagai muasal, rukyat sekaligus menjadi sarana koreksi bagi metode hisab.

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

Menurut Pengurus Pusat LFNU KH A Ghazalie Masroeri, dalam penentuan awal bulan Qomariyah metode hisab digunakan NU sebagai pendukung. Posisi ini dilakukan untuk menghasilkan rukyat yang berkualitas. Ilmu hisab akan kian maju dan akurat ketika penyokong utamanya adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal atau rukyat.

“Rukyat dan hisab laksana dua sisi keping mata uang.  Dan temuan-temuan yang diperoleh melalui rukyat itu menjadi sarana koreksi terhadap hitungan hisab,” tuturnya.

Haedar Nashir

Keputusan LFNU dalam banyak hal telah melibatkan metode hisab baik tentang ketentuan kalender Qamariyah maupun jadwal shalat. Bahkan, selain berjibaku dengan penghitungan rumit itu, LFNU menfungsikan sejumlah perangkat canggih untuk menyempurnakan tingkat akurasi kesimpulan yang diambil.

Haedar Nashir

Seperti diketahui, LFNU telah merancang, merakit, dan memproduksi sebuah instalasi observatorium keliling (al-marshadu al-falaki al-jauli) atau dikenal dengan sebutan NUMO (NU Mobile Observatory, sekaligus singkatan dari Nusantara Mobile Observatory).

NUMO dilengkapi alat-alat tradisional dan modern, dapat berpindah tempat, serta berfungsi untuk ruyat awal bulan, rukyat bulan tua, observasi manzilah bulan, dan observasi benda-benda langit lainnya, seperti matahari, merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, gugus bintang, bright nebula, dan meteor.

Redaktur    : Mukafi NIam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Tegal Haedar Nashir

Rabu, 17 Januari 2018

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU

Probolinggo, Haedar Nashir - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sumberasih memiliki cara tersendiri untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 tahun 2017. Salah satunya dengan melakukan ziarah ke beberapa makam tokoh NU dan pendahulu GP Ansor yang ada di Kecamatan Sumberasih.

“Selain ziarah ke beberapa makam tokoh NU, kami juga sowan ke beberapa pengasuh pondok pesantren sekaligus pembagian Al-Qur’an,” kata Ketua GP Ansor Kecamatan Sumberasih Abdul Mujib, Sabtu (28/10).

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU

Menurut Mujib, ziarah tokoh NU ini bertujuan untuk mencari berkah kepada pejuang NU dan sebagai pengingat kembali kepada kiai yang telah merebut kemerdekaan RI sekaligus yang memperjuangkan NU khususnya GP Ansor sehingga ada di Kecamatan Sumberasih.

“Mengingat kembali perjuangan pendahulu kita tanpa melupakan jas hijau. Santri harus maju, tidak lagi santri sebagai pelajar yang terbelakang dan sebagai pengingat hikmah perjuangan santri sebagai di antara pahlawan kemerdekaan,” katanya.

Haedar Nashir

Ketua panitia Abdul Jalal mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh 56 pengurus GP Ansor yang ada di Kecamatan Sumberasih. Mereka menziarahi 20 makam tokoh NU.

“Kita tidak lupa kepada pendahulu kita seperti kata Bung Karno adalah jangan lupakan sejarah karena dengan adanya tokoh NU ini GP Ansor aktif sampai saat ini,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Dengan adanya kegiatan ini Abdul Jalal mengharapkan agar ke depan bisa dilakukan secara istiqamah bertepatan dengan momentum peringatan HSN.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa semakin meningkatkan semangat dalam memajukan organisasi dan bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT

Kupang, Haedar Nashir. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama mengadakan pelatihan kader pegiat penanggulangan HIV dan AIDS di Hotel Kelimutu, Kupang, Selasa (20/5). Selain banom-banom NU, kegiatan ini melibatkan PWNU Nusa Tenggara Timur, Polda setempat, Kesbangpol NTT, KPA, dan LSM yang bergerak dalam penanggulangan AIDS.

Pengurus LKNU Ahmad Iftah Sidik mengatakan, seluruh provinsi di Indonesia sudah masuk dalam kategori penanganan penanggulanganan. Masalah ini sudah menjadi persoalan bersama yang perlu diatasi sedini mungkin.

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT

“Kegiatan ini menjadi wahana silaturahmi bagi banom NU, mudah-mudahan ini akan mempererat hubungan silaturahmi pengurus NU dan banom NU ke depan,” kata Sidik dalam pelatihan sekaligus sosialisasi bahtsul masail terkait masalah HIV dan AIDS.

Haedar Nashir

Dalam pelatihan selama empat hari mulai Selasa-Sabtu (20-24/5), Ketua PCNU ? Kota Kupang Muhammad Abdurahman mengatakan, penanggulangan AIDS perlu cepat dan tepat sasaran. “Agar masyarakat kita tertolong dari virus yang menghancurkan masa depan generasi muda itu.”

Haedar Nashir

Langkah cepat penanggulangan HIV dan AIDS sangat diperlukan terlebih Indonesia negara yang disebut epidemi virus HIV dan AIDS khususnya di NTT kurang lebih 3-4 persen mengidap virus mematikan itu.

“Di sinilah peran dan tanggung jawab NU untuk memberikan informasi maupun sosialisasi kepada seluruh warga melalui Lembaga Kesehatan NU NTT,” pungkas M Abdurrahman. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Hadits, Fragmen Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror

Surabaya, Haedar Nashir

Mengapa gerakan teror mudah tersebar? Setidaknya ada 4 sebab yang paling dominan. KH Agus Ali Masyhuri mengurai hal tersebut saat menerima kunjungan Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Surabaya, Kamis (28/1).

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Terima Kunjungan Konjen AS, Gus Ali Jelaskan 4 Faktor Dominan Teror

"Penyebab utama bagi sumber dan berkembangnya pelaku teror di manapun adalah pertama adalah faktor kemiskinan. Sedangkan penyebab selanjutnya adalah kebodohan,” kata Gus Ali sapaan akrab KH Agus Ali Masyhuri.

Hal lain yang juga tidak kalah penting memberikan sumbangsih bagi kemunculan pelaku teror adalah karena mereka belajar agama tidak utuh. "Biasanya mereka belajar agama hanya sepenggal dan dari sumber yang tidak jelas dan berguru agama kepada pihak yang tidak jelas silsilah keilmuannya," ungkap Wakil Rais PWNU Jatim ini.

"Karena itu saya menjamin para santri yang belajar agama di pesantren tidak akan pernah melakukan tindakan teror," kata pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Tulangan Sidoarjo ? ini. Gus Ali juga memastikan bahwa sejumlah pesantren memberikan pencerahan kepada para santri dengan pendekatan yang arif dalam menyikapi berbagai hal.

Penjelasan ini disampaikan untuk menjawab pertanyaan dari staf Konjen AS terkait banyaknya anak muda yang terlibat gerakan teror termasuk ISIS, juga Gafatar atau Gerakan Fajar Nusantara. ? ?

Haedar Nashir

Namun demikian, perkembangan teknologi informasi termasuk media sosial bagi Gus Ali juga merupakan tantangan yang harus dijawab kalangan pesantren. "Saya sendiri memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin meminta penjelasan terkait masalah agama lewat twitter," katanya sembari menyebutkan alamat akun @gusali_bsh.

Haedar Nashir

KH Anwar Iskandar yang juga hadir menimpali bahwa untuk menghadapi kelompok seperti ini tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan keamanan dan kekerasan. "Perlu peran civil society, termasuk di dalamnya adalah NU untuk diajak urun rembuk," kata Wakil Rais PWNU Jatim tersebut.

Konjen AS di Surabaya, Heather Variava berkunjung ke kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya, Kamis (28/1) siang. Mereka diterima KH Anwar Iskandar dan KH Agus Ali Masyhuri, H Shonhaji Sholeh dan H Ali Masud, KH Abdurrahman Navis (wakil ketua), Akh Muzakki (sekretaris), serta Riadi Ngasiran dari Majalah Aula. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme

Probolinggo, Haedar Nashir. Gerakan Islam transnasional samasekali tidak mempunyai semangat nasionalisme. Ideologi mereka tidak lagi bertumpu pada nation state, melainkan international state, yang didominasi oleh corak pemikiran skriptualis, fundamentalis dan radikal.

Demikian disampaikan KH Imam Ghazali Said dalam sarasehan dengan tema “Kelompok Transnasional: Antara Idealitas dan Realitas” di aula PCNU Kraksaan, Probolinggo, Ahad (12/5). Kegiatan dilaksanakan dalam rangkaian peringatan hari lahir (Harlah) ke-90 NU.

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Islam Transnasional Tak Punya Semangat Nasionalisme

Kiai yang banyak mengamati gerakan Islam transnasional di Indonesia itu memaparkan, gerakan transnasional yang secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern akan lebih mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat.

Haedar Nashir

“Realitas di lapangan mengatakan, gerakan ini banyak menggerogoti gerakan Islam lokal. Basis Muhammadiyah di perkotaan sekarang ini sedang digerogoti oleh jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Jama’ah Tabligh dan Hizbut Tahrir menggerogoti beberapa konstituen penting NU di perkotaan. Gerakan salafi dan syi’ah berusaha mengambil jama’ah NU puritan dengan pendekatan pesantren,” ungkapnya.

Haedar Nashir

“Apabila melihat kecenderungannya, gerakan transnasional berpotensi untuk terus membesar,” ujar Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo itu? sembari mengingatkan kepada warga Nahdliyin untuk selalu berhati-hati.

Sarasehan itu dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah KH Amin Fathullah, Ketua Tanfidziyah KH Nasrullah Ahmad Sudja’i dan para pengurus lembaga, badan otonom, pengurus MWCNU dan ranting serta utusan dari beberapa perguruan tinggi dan pondok pesantren se-Kabupaten Probolinggo.

H. Supanut, ketua panitia menyampaikan dalam sambutannya bahwa seluruh kegiatan dalam memperingati Harlah NU ini mencakup semua lembaga di bawah naungan PCNU Kraksaan, termasuk kegiatan sarasehan kali ini.

Total keseluruhan kegiatan yang memeriahkan harlah ini sebanyak 14 kegiatan. “Alhamdulillah, semua kegiatan mendapat tanggapan dan sambutan yang positif dari warga nahdliyin pada khususnya,” pungkasnya.

?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hasan Baharun?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Fragmen Haedar Nashir

Selasa, 26 Desember 2017

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Malang, Haedar Nashir. Wajah Islam Indonesia sejatinya bukan mengajarkan kebencian. Namun, wajah Islam di negeri ini, awalnya disebarkan dengan keramahan terhadap budaya dan tradisi. Penyebaran Islam di kawasan Nusantara, terutama oleh Wali Songo, menggunakan tradisi, musik dan kebudayaan.

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Bukan Wajah Kebencian

Hal itu ditegaskan dalam Seminar Internasional Islam and Peace di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Jawa Timur, Kamis (16/2). Seminar ini, dihadiri oleh Prof Anne Rasmussen (Professor of Ethnomusicology, The College of William and Mary Virginia-USA), Assoc Prof Yahya Don (Dean of School of Education and Modern Language, Universiti Utara Malaysia), dan Hasan Abadi (Rektor UNIRA Malang).

Prof Anne Rasmussen, mengungkapkan pentingnya toleransi dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Prof Anne merupakan pakar musik dan budaya Islam, yang lama meneliti tentang fenomena musik di Timur Tengah dan Indonesia. "Musik dapat menjadi instrumen untuk mengajarkan dan menyebarkan perdamaian," terang Anne.

Ia menjelaskan tentang toleransi yang menjadi karakter bangsa Indonesia. "Pada tahun 1999, ada Musabaqah Tilawatil Quran di Jakarta. Pada posternya, ada gambar lelaki dan perempuan yang ditampilkan beriringan. Ini penting, menggambarkan cara pandang yang luar biasa, sesuatu yang tidak akan terjadi di Arab Saudi, Pakistan atau Bangladesh," jelas Prof Anne.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yahya Don menjelaskan pentingnya perubahan masyarakat yang harus menjadi platform. "Perubahan masyarakat itu penting. Namun, yang harus jelas, ke arah mana perubahan masyarakat tersebut? Jelaslah ke arah perdamaian Islam," ungkapnya.

Perubahan ke arah perdamaian inilah, yang menjadi cara berpikir penting dalam membangun toleransi di tengah masyarakat. Dalam narasinya, Yahya Don menjelaskan tentang pentingnya menggunakan bahasa dalam pendidikan. Ia mengisahkan tentang hambatan budaya dari guru-guru yang menganggap etnis lain dengan tanpa pemahaman komprehensif, yang memicu kebencian.?

"Kita harus mengajar dengan perdamaian, bukan dengan bahasa kebencian. Inilah nilai penting yang perlu disampaikan dari pendidik muslim," terangnya.

Haedar Nashir

Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi mengungkapkan tentang pentingnya memahami nilai-nilai agama dengan beragam tafsir. "Yang paling penting adalah menggunakan pesan-pesan dalam agama. Apa yang dilakukan Gus Dur sangat tepat, dengan gagasan pribumisasi Islam. Jadi, dengan akar budaya bukan skripturalis," jelasnya.?

Dengan demikian, pesan perdamaian dalam Islam tersampaikan dengan media budaya. Di akhir seminar, dilanjutkan perumusan kerja sama UNIRA dengan Universitas Utara Malaysia dalam bidang riset Peace Education dan kerja sama penguatan pendidikan. (Abdillah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Sholawat, Lomba Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Surabaya, Haedar Nashir. Tiap daerah memiliki kelebihan sumber daya manusia dan alam. Akan tetapi yang belum juga diupayakan secara serius adalah mengoptimalkan potensi yang ada agar benar-benar bermanfaat. 

Usaha serius pemerintah dalam mendampingi para wirausahawan tercermin dengan dikeluarkannya PNPM atau Program Nasional Masyarakat Mandiri. Beberapa daerah  memanfaatkan Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU untuk mendampingi sejumlah pemberdayaan usaha bagi kalangan perempuan. Termasuk yang kini tengah diseriusi PW Lakpesdam NU Jawa Timur di Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Yeni Lutfiana, Project Officer kegiatan ini menandaskan sudah banyak potensi lokal di daerah ini yang dijadikan sandaran hidup warga. Randuagung memiliki hasil bumi yang cukup melimpah khususnya buah pisang. “Kehadiran kami melakukan pendampingan usaha yang selama ini sudah digeluti masyarakat, khususnya perempuan,” katanya pada Haedar Nashir (5/4).

Haedar Nashir

Untuk usaha pisang yang digeluti masyarakat, Lakpesdam memberikan sejumlah pengetahuan tentang upaya meningkatkan kualitas dan meminimalisir biaya yang tidak perlu. “Kita berikan kepada mereka teknologi tepat guna yang tentunya juga efisien bagi usaha yang tengah digeluti,” tandas alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk usaha kripik pisang misalnya, telah dipernalkan vacuum frying yakni alat yang berfungsi melakukan pengeringan. “Alat ini bisa membuat kripik pisang lebih bisa bertahan lama dengan tanpa mengurangi tekstur dan rasanya,” katanya.

Haedar Nashir

Bahkan dengan alat yang ada, para perempuan perajin usaha kripik pisang mampu menyimpan komoditasnya hingga dua tahun. “Ini sangat berbeda dengan model konvensional yang sudah ada,” kata mahasiswa Pasca Sarjana Unair Surabaya ini.

Tidak semata dalam hal produksi hingga distribusi yang dilakukan Lakpesdam. “Yang lebih penting adalah kesadaran para perempuan dan warga untuk berhimpun dalam komunitas,” terangnya. Karena dengan menjadi paguyuban atau perkumpulan, maka akan kian banyak ide kreatif yang muncul.

“Yang juga menjadi tujuan utama kami adalah mengangkat taraf hidup masyarakat serta kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan,” kata Yeni, panggilan akrabnya. Karena dengan kemadirian ekonomi, maka diharapkan posisi tawar para perempuan kian tinggi. “Dengan demikian mereka tidak mudah dimarginalkan,” pungkasnya. 

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur

Jayapura, Haedar Nashir

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima penganugerahan penghargaan masyarakat adat Papua yang diserahkan Ketua Dewan Adat Papua, Tom Beanal, di Gedung Olahraga (GOR) Cendrawasih Jayapura, Selasa (14/11) kemarin.

Penyerahan penghargaan berupa plakat yang diawali dengan tari-tarian khas Papua itu disaksikan Wakil Ketua DPRP, Komarudin Watubun, dan Ketua Majelis Rakyat Papua, Agus Alua, dihadiri sekitar 250 warga masyarakat.

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Adat Papua Serahkan Penghargaan Kepada Gus Dur

Seusai menerima penghargaan tersebut, Gus Dur menyatakan, sangat berterima kasih kepada kaum adat dan masyarakat di Papua yang telah memberikan penghargaan ini. “Saya tahu ini nilainya sangat tinggi dan ini juga pernah saya terima dari masyarakat Timika yang datang ke Jakarta dan memberikan keladi bakar sebagai penghargaan. Mudah-mudahan dengan demikian mempererat hubungan saya dengan teman-teman di Papua,” kata Gus Dur.

Ketika ditanya rencananya mewujudkan Theys Eluay menjadi pahlawan nasional, Gus Dur mengatakan dia telah membicarakan rencana tersebut dengan Tom Beanal yang (Ketua Dewan Adat Papua/DAP) selanjutnya diharapkan dapat menyurati DPR Papua untuk kemudian diusulkan ke pemerintah pusat.

“Saya juga, sekembalinya nanti ke Jakarta akan menyurati DPRP Papua, sehingga dapat diproses dan diusulkan,” jelas Gus Dur seraya menambahkan dirinya akan terus memperjuangkan hingga rencana tersebut dapat terwujud.

Sebelumnya, dalam sambutannya, Gus Dur mengatakan, alm. Theys Eluay sudah seharusnya mendapat penghargaan tersebut karena beliau mengorbankan hidupnya untuk rakyat semua, walaupun apa yang diperjuangkan itu salah diartikan oleh beberapa orang.

Haedar Nashir

Namun rakyat Papua mencatat apa yang sangat penting, sehingga dirinya belum puas bila Theys belum menjadi `pahlawan nasional`, tegas Gus Dur. (ant/rif)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Probolinggo, Haedar Nashir - Sebagai bentuk gerakan kemanusiaan untuk menyikapi krisis umat muslim Rohingya di Myanmar, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengajak seluruh warga NU untuk melakukan shalat ghaib dan tahlil bagi warga Rohingya yang meninggal dunia.

Ajakan ini disampaikan oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah kepada sejumlah awak media saat berada di Masjid bin Aminuddin Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan, Jum’at (8/9).

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Keluarkan Imbauan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Muslim Rohingya

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong itu, kasus di Rakhine State, Myanmar yang menimpa kaum Muslim itu tidak murni masalah agama, melainkan konflik politik.

“Oleh karena itu saya meminta kepada seluruh umat Islam yang ada di Jawa Timur untuk melakukan gerakan kemanusiaan. Warga NU harus menjadi motor penggerak harmoni di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kiai Mutawakkil mengimbau semua elemen masyarakat di Jawa Timur khususnya warga NU agar tidak diam diri. “NU harus mengambil langkah dan mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap saudara kita di Rohingya dengan cara sosial,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan bahwa krisis Rohingya merupakan proses kemerdekaan di Myanmar di mana sepanjang catatan sejarah, krisis ini adalah perang saudara terpanjang dari tahun 1948 hingga sekarang.

“Para pemberontak ini ada beberapa kepentingan, ada yang berbasis politik, berbasis suku dan berbasis senjata tahun 1980 sudah hilang. Di situlah yang menjadi salah satu kejadian yang anarkis saat ini,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Meme Islam, PonPes Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa

Probolinggo, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan Taufiq menyampaikan bahwa menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) harus memiliki jiwa korsa. Yakni, semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan terhadap suatu korps senasib dan sepenanggungan.

Hal tersebut disampaikan Taufiq dalam Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang digelar PC GP Ansor Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo di lereng Gunung Argopuro Desa Segaran Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (25-26/2) sore.

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa

“Saya meminta agar dalam setiap anggota Banser tertanam jiwa korsa dengan penuh tanggung jawab disertai dengan dedikasi untuk sesuatu hal yang mulia. Tentunya juga demi kegiatan yang bersifat kebajikan dan kebaikan serta tolong menolong dengan mengedepankan rasa kebersamaan,” katanya.

Diklatsar Banser sendiri diikuti oleh 340 orang peserta. Selama kegiatan mereka mendapatkan beragam materi dari beberapa narasumber yang dihadirkan oleh PC GP Ansor Kota Kraksaan. “Dengan kegiatan ini, tentunya Banser akan mendapatkan amunisi baru yang siap membesarkan NU dan menjadi benteng ulama NU,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ratusan anggota Banser ini terlihat semangat mengikuti rangkaian Diklatsar Banser. Meskipun hujan disertai dengan angin kencang, tetapi mereka tetap antusias mengikuti tahapan demi tahapan. “Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini mendapatkan rido Allah dan barokahnya para ulama NU,” kata salah satu peserta. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, News, Fragmen Haedar Nashir

Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) menilai Indonesia merupakan negara yang paling liberal dibanding negara lain dalam hal perdagangan beras.



Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Ketua LP2NU Rachmat Pambudy di Jakarta, Kamis (8/3) menyatakan, hal itu terlihat dari tidak adanya tarif bea masuk impor beras yang diterapkan pemerintah untuk melindungi petani dalam negeri. "Di negara-negara lain pemerintahnya menerapkan tarif impor beras rata-rata diatas 50 persen sedangkan di Indonesia justru tanpa ada bea masuk," katanya.

Rahmat yang juga Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengungkapkan, Thailand yang merupakan negara produsen sekaligus eksportir beras terbesar di Asean menerapkan bea masuk impor diatas 50 persen begitu juga dengan India.

Haedar Nashir

Bahkan, tambahnya, di Jepang tarif bea masuk impor beras ditetapkan sebesar 300 persen sementara Indonesia yang petani padinya sangat besar tarif impor beras kurang dari 25 persen.

Haedar Nashir

Menurut dia, tanpa adanya proteksi maupun subsidi dari pemerintah maka petani Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan petani negara lain yang mendapatkan perlindungan serta dukungan insentif dari pemerintahnya.

Rachmat menyatakan, pada tahun 1970-an Indonesia mengimpor beras sebanyak 700 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri namun 15 tahun kemudian berbalik menjadi eksportir beras karena tercapainya program swasembada beras pada 1984.

Namun kondisi tersebut tak berlangsung lama, karena harga beras dunia menurun maka komoditas pangan tersebut banyak yang masuk ke dalam negeri dengan harga dumping sehingga Indonesia kembali menjadi importir beras.

Bahkan, menurut anggota Dewan Pakar Dewan Beras Nasional (DBN) itu, pada tahun 2000 impor beras Indonesia pernah mencapai tingkat yang tertinggi selama ini yakni mencapai 7 juta ton.

Jika impor 1 juta ton setara 200 ribu hektar (ha) lahan, tambahnya, sedangkan satu ha lahan pertanian menyerap rata-rata lima orang tenaga kerja maka 1 juta orang kehilangan pekerjaan. (mad/nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Aswaja, Fragmen Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

Subang, Haedar Nashir

Usai melaksanakan pengajian bahtsul masail di kantor MWCNU Dawuan, Subang, Jawa Barat yang digelar tiap Sabtu, Ketua MWCNU setempat, Ajengan Toto Ubaidillah Haz mengutip sebuah keterangan yang menyatakan bahwa di liang kubur jasad seorang hafidh (penghafal) Al-Quran akan tetap utuh.

Mengenai hal ini, pria yang akrab disapa Kang Toto itu mengisahkan pertemuannya dengan Bu Supaedah. Ia adalah anak seorang hafidh Al-Quran yang saat ini berprofesi menjadi bidan di sebuah klinik. Pertemuan itu terjadi beberapa waktu lalu saat Kang Toto mengantar anaknya berobat. Dalam pertemuan itu keduanya berdialog cukup serius.

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)
32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh? (Sumber Gambar : Nu Online)

32 Tahun Dikubur, Jasad Si Penghafal Al-Qur’an Utuh?

"Pak Ustadz, kira-kira kemana kalau mau mesantrenin anak ya?" tanya bidan Supaedah

Haedar Nashir

Pria yang akrab disapa Kang Toto itu menjawabnya dengan pertanyaan, "Memangnya ibu maunya di pesantren daerah mana?"

Haedar Nashir

Bidan Supaedah menjawab bahwa ia asli Cirebon dan menginginkan anak-anaknya bisa masuk pesantren yang ada di daerah Cirebon supaya bisa dekat dengan keluarga besarnya. Selain itu, ia pun menegaskan bahwa pesantren yang diinginkannya adalah pesantren tahfidh Al-Quran.

"Kalau pesantren Al-Quran ada di Kaliwadas Cirebon, Pesantrennya Uwa saya almarhum KH Nashir, nama pesantrennya An-Nashr. Ada juga di Ambit, Kecamatan Waled pesantrenya KH Abdul Basith, pesantren itu dikelola anak-anak dari Pesantren Rawamerta, Karawang," jawab Kang Toto yang saat ini menjabat Ketua Lembaga Dakwah NU Subang.

Namun benak Kang Toto sedikit termenung, karena biasanya para orang tua menginginkan anaknya mengikuti dan melanjutkan jejak orang tuanya, tapi bu bidan yang satu ini malah menginginkan anaknya masuk ke pesantren Al-Quran, bukan ke sekolah kesehatan.

"Kenapa ibu mau masukin anak ke pesantren? Enggak dimasukin ke kedokteran atau yang sesuai dengan profesi ibu?"

Bidan Supaedah kemudian menjawabnya dengan sebuah kisah nyata yang dialami keluarganya. Suatu hari, dengan alasan tertentu makam ayah Bidan Supaedah yang telah wafat 32 tahun yang lalu hendak dipindahkan, proses pemindahannya disaksikan oleh seluruh keluarga. Saat makam dibongkar, semua orang terkejut menyaksikan jasad penghuni makam itu masih utuh sempurna dan tidak hancur.

"Anak-anak saya bertanya, Mah, kenapa jasad kakek tidak hancur? Kok masih utuh? Kan kakek sudah meninggal puluhan tahun yang lalu?" ungkap Supaedah menirukan pertanyaan anak-anaknya.

Dengan berlinang air mata, Supaedah kemudian menjawabnya dengan sejarah sosok sang kakek yang belum diketahui oleh cucu-cucunya itu.

"Jasad kakek kalian tidak hancur dan masih utuh karena kakek kalian semasa hidupnya adalah seorang hafidh Al-Quran, kakek kalian kiai pengamal Al-Quran, Nak..."

Sejak saat itu, anak-anak Bidan Supaedah ingin menjadi penghafal Al-Quran dan minta dimasukan ke pesantren supaya bisa seperti kakeknya di kemudian hari. "Menurut informasi, sekarang anak-anaknya bu bidan itu sudah masuk pesantren Al-Quran"pungkas Kang Toto kepada Haedar Nashir, Sabtu (30/7). (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Kamis, 02 November 2017

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Jakarta, Haedar Nashir

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari Banten. Salah seorang Mustasyar PBNU, KH Syatibi Syarwani meninggal dunia, Jumat (15/9), sekitar pukul 12.00 WIB. Rumah duka beralamat di Kampung Langana, Desa Sukaharja, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Informasi tersebut disampaikan staf Syuriyah PBNU Mahbub Ma’afi. Kabar duka yang menyebar ke berbagai media sosial ini pun mengundang ungkapan belasungkawa dan doa warga NU.

Kiai Syatibi termasuk di antara nama-nama yang pernah direkomendasikan masuk dalam daftar anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 2015 lalu. Ulama kharismatik ini aktif di NU sejak muda.

Haedar Nashir

Atas kiprah dan jasanya, ia disebut-sebut sebagai salah satu “paku bumi” atau penyangga NU Banten. Meski usia melebihi 80 tahun, Kiai syatibi hampir tak pernah absen di acara-acara penting yang diadakan NU.

Kiai Syatibi mengemban amanah sebagai mustasyar PBNU hasil Muktamar Ke-33 NU untuk periode 2015-2020. Namun, perjalanan tugas mesti terhenti di tengah jalan karena pulang ke rahmatullah. Lahul fatihah. (Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Fragmen, Khutbah Haedar Nashir

Kamis, 26 Oktober 2017

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus

Bandar Lampung, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) adalah salah satu model organisasi dakwah gaya baru yang memfokuskan pergerakan dakwah Ahlussunnah Sunnah wal-Jamaah di kampus-kampus umum.? Setelah dideklarasikan secara nasional pada Januari 2014 lalu, banyak mahasiswa NU di perguruan tinggi tertarik bergabung dengan KMNU, contohnya mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

“KMNU merupakan wadah yang sangat relevan menyatukan para anggota Nahdliyin yang selama ini belum memiliki wadah,” ujar seorang penggagas KMNU Polinela, Muhammad Ajid, di Bandar Lampung, Jumat (18/11).

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus

Dia berharap kehadiran KMNU di Polinela bisa memberikan warna dan nuansa baru dalam dunia perdakwahan kampus.

Ajid melanjutkan, di kampus-kampus umum dakwah dan kajian kampus dikuasai golongan lain, aktivitas muda NU hampir tidak diberi celah sedikit pun.

Haedar Nashir

“Sudah sangat jarang sekali saya melihat amaliyah dirasakan ketika di pesantren dan kampung,” paprnya.

Oleh karena itu, tambah ajid, keberadaan KMNU Polinela menjadi sangat penting. “KMNU Polinela bisa dijadikan rumah baru bagi aktivitas muda NU serta menjadi pelopor dakwah Islam ramah di kampus ini,” katanya.

Untuk diketahui, program pendidikan di Politeknik Negeri Lampung dikelompokkan dalam lima jurusan yaitu: Budidaya Tanaman Pangan, Budidaya Tanaman Perkebunan, Teknologi Pertanian, Peternakan serta Ekonomi dan Bisnis.

“Semoga dengan adanya KMNU para kader bisa belajar organisasi di rumah sendiri, serta menghijaukan kampus hijau Polinela,“ demikian Muhammad Ajid. ?(Ahmad Saroji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, Internasional, Meme Islam Haedar Nashir