Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Jembrana, Haedar Nashir?

Ekspresi syukur bisa ditunjukan dengan berbagai hal. Umumnya bagi kalangan Nahdliyin menggelar doa bersama dan diakhiri dengan makan bareng. Namun ada juga syukur dengan tindakan yang tak biasa, seperti yang dilakukan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo ini.

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Kiai As’ad Jalan Kaki Denpasar-Situbondo

Mereka, sejak tanggal 6 Desember 2016, berjalan kaki dari Denpasar ke Situbondo sebagai ungkapan syukur atas anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada Almaghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin.?

Mereka yang berjumlah 8 orang tersebut, pada Kamis (8/12) memasuki hari ketiga dan telah berada di wilayah kabupaten Jembrana. Sebelumnya mereka ? melewati Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan. Target perjalanan hari ketiga ini memasuki wilayah pelabuhan Gilimanuk untuk selanjutnya menyeberang ke pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.

Syamsudin Boy, inisiator sekaligus koordinator dalam aksi jalan kaki ini mengungkapkan, selama perjalanan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan saat melewati perkampungan Muslim kerap disambut dengan berbagai macam bantuan seperti makanan dan air minum.

Haedar Nashir

“Kami terharu antusiasme masyarakat Muslim Bali meyapa kami, terutama sahabat-sahabt Banser Jembrana yang sempat menjamu kami. Sambutan mereka merupakan tambahan energi di tengah fisik yang mulai letih,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, bahwa aksi ini merupakan aksi tulus datang dari hati sebagai wujud ketakziman santri kepada ulama NU.?

“Sosok Kiai As’ad bagi masyarakat Muslim Bali begitu terasa dekat walaupun sudah lama tiada. Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad merupakan gelar yang sangat pantas disandangnya mengingat sepak terjang beliau mengusir penjajah,” paparnya.

Dengan aksi ini, lanjutnya, juga ingin mensyiarkan tauladan-tauladan ulama NU yang telah banyak berkorban untuk umat, salah satunya adalah Kiai As’ad. Ulama NU ada yang berjuang dengan berjalan kaki menembus hutan belantara ratusan kilometer.

Haedar Nashir

“Kita tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya zaman itu. Aksi jalan kaki ini setidaknya kami ingin menghadirkan kembali perjuangan itu, mengalahkan rasa lelah sebelum sampai pada tujuan di makam Kiai As’ad,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi jalan kaki yang berjarak tempuh sekitar 220 kilometer ini telah mendapat restu langsung dari Pengasuh Ponpes Sukorejo Asembagus Situbondo KHR. Achmad Aaim Ibrahimy. Rencananya, para peserta aksi ini akan disambut di kediaman cucu Kiai As’ad tersebut. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Internasional, Warta Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Solo, Haedar Nashir. Para santri SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jombang, mengadakan kunjungan kampus ke Fakultas Pertanian dan Kedoketran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Senin (21/4).

Di kampus itu, kedatangan mereka disambut Kaprodi Agribisnis Pertanian UNS, Dr. Mohd Harisudin, MSi. Dalam sambutannya Harisudin menyemangati para santri untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Kepada para santriwati, ia juga memaparkan potensi pesantren dalam bidang pertanian. “Pesantren punya peluang besar karena punya tenaga "gratis" santri yang bisa digunakan pesantren, sekaligus praktek santri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Harisudin yang juga pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Solo menyerukan kalimat sholawat dan dibalas secara spontan oleh para santri, dengan suara kencang dan bersamaan.

“Baru kali ini anak SMA yang berkunjung ke sini, sangat antusias mengucap shalawat,” katanya diikuti senyuman para santri. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Internasional Haedar Nashir

Senin, 22 Januari 2018

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Pringsewu, Haedar Nashir. Sebentar lagi musim ibadah haji datang. Para jamaah yang tahun ini berangkat menunaikan rukun Islam kelima itu sudah mempersiapkan diri, baik secara mental maupun fisik. Tidak terkecuali calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang mendapat kesempatan berangkat tahun 2015 ini.

Beberapa dari mereka tampak sudah mulai mempersiapkan diri dan mengundang sanak saudara serta masyarakat sekitar untuk hadir mendoakan keberangkatan mereka pada acara walimatus safar lil hajj (syukuran jelang pemberangkatan haji).

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Menurut informasi dari Bagian Kesmasag Pemda Kabupaten Pringsewu, calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu akan dilepas secara resmi oleh Bupati Pringsewu, Sabtu (5/9) di gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Haedar Nashir

Semakin dekatnya musim haji dan pernak-pernik rukun Islam yang kelima ini diangkat oleh KH. Hambali menjadi materi utama pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan rutin di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (23/8).

Haedar Nashir

Menurut KH Hambali yang juga Ketua MUI Kabupaten Pringsewu, tidak semua orang dapat melaksanakan Ibadah haji ke Baitullah. Ibadah haji merupakan ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu.

"Mampu di sini artinya adalah mampu dalam banyak hal seperti mampu materi, fisik serta mampu dalam hal keilmuan di bidang haji," katanya seraya mengutip ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 97 yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Menurut KH Hambali, mereka yang dapat berangkat haji ke Tanah Suci adalah mereka yang telah menerima anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu ia menyarankan kepada jamaah haji khususnya yang berangkat pada tahun ini untuk dapat memanfaatkan anugerah Allah ini dengan sebaik baiknya.

"Pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbagai macam ibadah seperti umrah, shalat arbain, membaca Quran dan Ibadah-Ibadah lain yang disunahkan," terangnya.

Namun KH Hambali juga mengingatkan kepada para Jamaah untuk tetap menjaga kondisi kesehatan fisik dan mental selama pelaksanaan ibadah haji agar syarat, rukun dan wajib haji dapat dilaksanakan dengan sempurna juga.

Tampak hadir pada kesempatan kegiatan Jihad ini beberapa pengurus NU yang juga akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, seperti Adi Ben Slamet (Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu), Muhammad Faozan (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu) dan Ustadz Sodiqin (Ketua MWCNU Kecamatan Pringsewu). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Internasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan seputar shalat dua rakaat ketika masuk masjid atau yang dikenal dengan sebutan shalat tahiyyatul masjid. Pertama, apa makna shalat tahiyyatul masjid? Yang kedua, apabila kita masuk masjid kemudian duduk, apakah anjuran melakukan shalat tahiyyatul masjid gugur?

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Ketiga, ketika kita masuk masjid mengingat waktunya begitu sempit kemudian kita langsung melakukan shalat qabliyyah, bolehkah kami menggabungkan niat shalat sunah qabliyyah dengan shalat tahiyyatul masjid. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Majid/Pekalongan)

Jawaban

Haedar Nashir

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami akan menjawab satu demi. Dalam kesempatan ini terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan pertama. Sedang untuk yang kedua dan ketiga akan kami jawab pada kesempatan berikutnya.

Menurut para ulama, hukum shalat tahiyatul masjid adalah sunah mu`akkad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Atsram dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ‘Berikanlah hak masjid. Lantas mereka bertanya, ‘apa yang menjadi hak masjid?’ Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk.’”

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang sangat dianjurkan karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Atsaram yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW (marfu`): ‘Berikanlah hak masjid. lantas mereka pun bertanya, apa yang menjadi hak masjid. Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk,’” (lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 313).

Seseorang yang menjalankan shalat tahiyyatul masjid sudah semestinya berniat mendekatkan diri kapada Allah (taqarrub). Sebab, apa yang dimaksud dengan tahiyyatul masjid pada dasarnya adalah memberikan salam penghormatan kepada Pemilik Masjid (tahiyyatu rabbil masjid) yaitu Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sudah semestinya ketika menjalankan shalat tersebut niat bertaqarrub kepada Allah swt bukan kepada masjid. Sebab, pengertian dari pernyataan; ‘tahiyyatul masjid’ adalah tahiyyatul rabbil masjid (salam kepada Pemilik masjid),” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, juz I, halaman 313).

Berpijak dari sini dapat dipahami bahwa shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilakukan seorang Muslim ketika masuk masjid sebelum duduk. Sebagai bentuk salam penghormatan kepada masjid, di mana salam penghormatan kepada masjid pada hakikatnya adalah salam penghormatan kepada Pemilik masjid, yaitu Allah swt.

Logika sederhana yang digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana orang yang masuk ke dalam istana raja. Maka yang dilakukan adalah memberikan salam atau penghormatan bukan kepada istananya tetapi kepada pemiliknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena ketika orang masuk istana raja, maka ia memberikan salam (penghormatan) kepada raja bukan kepada istananya,” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, juz I, halaman 313).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Syariah, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

Doha, Haedar Nashir  

Ketua PBNU HM Rozy Munir yang kini menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Qatar telah bertemu dengan Putra Mahkota dan Wakil Emir, Syeikh Tamim bin Hamad Al-Tani untuk menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Republik Indonesia DR. Susilo Bambang Yudhoyono di Diwan Emiri (Istana Raja), Doha Qatar Senin (26/11).

Acara resmi tersebut dimulai pada jam 09.00 pagi dengan didahului mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia dan Qatar. Selanjutnya dilakukan inspeksi barisan militer pasukan kerajaan lalu diterima oleh Putra Mahkota.

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

  

Tepat jam 10.20, Rozy Munir diterima oleh Putra Mahkota dan langsung menyerahkan Surat Kepercayaan. Kepada putra mahkota, Rozy Munir menyampaikan salam dari Presiden RI untuk Emir Qatar dan berharap adanya peningkatan kerja sama dan hubungan kedua negara agar lebih baik lagi di masa datang khususnya dalam sektor perdagangan, investasi, pariwisata dan sumber daya manusia. Putra Mahkota sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama ini, termasuk peran aktif dalam membantu menangani masalah negara-negara muslim.

Selain, itu Rozy juga memohon agar Emir Qatar, Syeikh Hamad bin Khalifah al-Tani dapat melakukan kunjungan balasan ke Indonesia karena sudah ada dua presiden RI yang datang ke Qatar, yaitu K. H. Abdurrahman Wahid dan DR. Susilo Bambang Yudhoyono.

Haedar Nashir

Dengan diterimanya surat kepercayaan tersebut, ia sudah secara resmi mewakili Indonesia di Qatar dan dapat dapat menjalankan tugas diplomatik. Karena itu, masyarakat Indonesia dan staff KBRI menggelar syukuran dan pemotongan tumpeng merah putih serta jamuan makan siang dengan menu Indonesia seperti opor, lontong sayur, acar ikan ala Sulawesi, sambal terasi dan ragam masakan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan doa bersama serta pemotongan kue "ucapan selamat bertugas" serta pemberian karangan bunga dari Darma Wanita Persatuan Qatar  untuk Dubes Rozy Munir. (adj)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Internasional, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Paris, Haedar Nashir. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin secara global sekarang berada pada tingkat yang sama seperti di tahun 1820-an, OECD mengatakan Kamis, memperingatkan itu adalah salah satu perkembangan yang paling "mengkhawatirkan" selama 200 tahun terakhir.

Dalam laporan utama tentang kesejahteraan dunia selama dua abad terakhir, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat ketidaksetaraan melesat naik setelah globalisasi mengakar pada 1980-an, lapor AFP.

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Para peneliti mempelajari tingkat pendapatan di 25 negara, memetakan kembali mereka dalam waktu ke 1820 dan kemudian mereka disusun seolah-olah dunia adalah satu negara.

Haedar Nashir

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan menurun tajam di pertengahan abad ke-20 -- yang OECD tempatkan ke apa yang disebut "revolusi egaliter", terutama dengan munculnya komunisme di Eropa Timur -- tetapi kemudian melonjak baru-baru ini. 

Pada 2000, tingkat ketimpangan pendapatan global berada di tingkat yang sama seperti di 1820, menurut laporan tersebut.

Haedar Nashir

"Ini sangat mencolok," kata Guido Alfani, dari Bocconi University, yang berpartisipasi dalam survei.

"Peningkatan besar ketimpangan pendapatan pada skala global adalah salah satu paling signifikan -- dan mengkhawatirkan -- fitur dari perkembangan ekonomi dunia dalam 200 tahun terakhir," OECD menyimpulkan dalam laporan 269-halaman yang disampaikan kepada media.

Ekonom Belanda Jan Luiten van Zanden mengatakan laporan itu melukiskan gambaran serupa peringatan keras yang kontroversial buku terlaris tentang ketidaksetaraan pendapatan global oleh ekonom Prancis Thomas Piketty, "Capital in the Twenty-First Century".

"Kami menceritakan kisah-kisah yang sama ... kita berbagi keprihatinan yang sama tentang ketidaksetaraan global," kata van Zanden.

"Piketty membandingkan sebagian besar negara-negara Barat. Metodenya harus dianalisis pada skala global," saran ekonom.

Untuk studi kejadian penting, peneliti mengamati tren dalam faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, ketimpangan, lingkungan dan keamanan pribadi selama 200 tahun terakhir dalam rangka membangun sebuah gambaran kesejahteraan global.

Kesimpulannya: "Kesejahteraan rakyat secara umum berkembang sejak awal abad ke-20 di sebagian besar dunia."

Harapan hidup di seluruh dunia telah melonjak dari kurang dari 30 tahun pada 1880 menjadi hampir 70 tahun pada 2000.

Literasi juga telah meningkat secara dramatis. Kurang dari 20 persen orang bisa membaca pada 1820; sekarang angka itu sekitar 80 persen. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nasional, AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat

Shalat—sebagaimana dituturkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW—adalah tiang agama. Orang yang baik shalatnya akan baik pula agamanya. Orang yang sebaliknya maka akan berlaku sebaliknya pula.

Shalat juga merupakan sarana paling utama bagi seorang hamba dalam berkomunikasi dengan Allah SWT. Kapan pun dan di mana pun seseorang diperbolehkan melakukan shalat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Waktu yang Diharamkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Waktu yang Diharamkan Shalat

(Baca juga: Waktu-waktu yang Makruh untuk Shalat)

Namun demikian di dalam fiqih Islam ditentukan adanya beberapa waktu di mana seseorang tidak diperbolehkan melakukan shalat di dalamnya. Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safînatun Najâ menyebutkan adalah 5 (lima) waktu yang diharamkan untuk shalat. Sedangkan Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ menjelaskan kelima waktu tersebut sebagai berikut:

Pertama, ketika terbitnya matahari. 

Haedar Nashir

Waktu haram shalat yang pertama ini dimulai sejak mulai terbitnya matahari sampai dengan meninggi sekira ukuran satu tombak. Dalam rentang waktu tersebut tidak diperbolehkan melakukan shalat. Namun bila posisi tinggi matahari sudah mencapai satu tombak maka sah melakukan shalat secara mutlak.

Kedua, ketika waktu istiwa sampai dengan tergelincirnya matahari selain pada hari Jum’at.

Haedar Nashir

Waktu istiwa adalah waktu di mana posisi matahari tepat di atas kepala. Pada saat matahari berada pada posisi ini diharamkan melakukan shalat. Perlu diketahui bahwa waktu istiwa’ sangat sebentar sekali sampai-sampai hampir saja tidak bisa dirasakan sampai matahari tergelincir. 

Keharaman melakukan shalat di waktu ini tidak berlaku untuk hari Jum’at. Artinya shalat yang dilakukan pada hari Jum’at dan bertepatan dengan waktu istiwa’ diperbolehkan dan sah shalatnya.

Ketiga, ketika matahari berwarna kekuning-kuningan sampai dengan tenggelam.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Ada tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kita shalat dan mengubur jenezah di dalamnya: ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika unta berdiri di tengah hari yang sangat panas sekali (waktu tengah hari) sampai matahri condong, dan ketika matahari condong menuju terbenam hingga terbenam.”

Keempat, setelah melakukan shalat subuh sampai dengan terbitnya matahari.

Keharaman shalat pada waktu ini berlaku bagi orang yang melakukan shalat subuh secara adâan atau pada waktunya. 

Gambaran contoh kasusnya sebagai berikut, anggaplah waktu shalat subuh dimulai dari jam 4 pagi dan pada jam 5 matahari telah terbit yang juga berarti habisnya waktu subuh. Ketika seseorang melakukan shalat subuh pada jam 4.15 menit umpamanya, atau pada jam berapapun ia melakukannya, maka setelah selesai shalat subuh ia tidak diperbolehkan lagi melakukan shalat sunah sampai dengan terbitnya matahari dan bahkan sampai matahari meninggi kira-kira satu tombak. Karena saat terbitnya matahari sampai dengan meninggi satu tombak juga merupakan waktu yang dilarang untuk melakukan shalat sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebaliknya, dalam rentang waktu jam 4 sampai jam 5 pagi selagi ia belum melakukan shalat subuh maka ia diperbolehkan melakukan shalat apapun. 

Adapun orang yang melakukan shalat subuh secara qadlâan pada waktu shalat subuh maka ia diperbolehkan melakukan shalat lain setelahnya. Sebagai contoh kasus, seumpama seseorang pada hari kemarin karena suatu alasan belum melakukan shalat subuh lalu mengqadlanya pada waktu subuh hari ini. Setelah ia melakukan shalat subuh qadla tersebut ia tidak dilarang melakukan shalat lainnya.

Kelima, setelah melakukan shalat ashar sampai dengan tenggelamnya matahari.

Sebagaimana diharamkan melakukan shalat setelah shalat subuh di atas juga diharamkan melakukan shalat bagi orang yang telah melakukan shalat ashar secara adâan atau pada waktunya. 

Sebagaimana contoh kasus di atas, juga bagi orang yang pada waktu shalat ashar melakukan shalat ashar qadla sebagai pengganti shalat ashar yang belum dilakukan pada hari sebelumnya, maka ia diperbolehkan melakukan shalat lainnya.

Keharaman melakukan shalat setelah melakukan shalat ashar ini terus berlaku sampai dengan tenggelamnya matahari.

Rasulullah SAW bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Tak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari meninggi dan tak ada shalat setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Imam Bukhari).

Pertanyaan berikutnya adalah shalat apa yang haram dilakukan pada kelima waktu tersebut? Apakah apapun shalatnya tidak boleh dilakukan pada kelima waktu haram tersebut?

Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitabnya tersebut menuturkan bahwa shalat yang diharamkan dilakukan pada kelima waktu itu adalah shalat sunah yang tidak memiliki sebab yang mendahului dan tidak memiliki sebab yang membarengi. Sebagai contoh adalah shalat tahiyatul masjid. Ini adalah shalat sunah yang dilakukan karena adanya sebab yang mendahului shalatnya, yakni masuknya seseorang ke dalam masjid. Kapanpun seseorang masuk masjid ia disunahkan melakukan shalat tahiyatul masjid meskipun pada salah satu dari lima waktu yang terlarang untuk shalat.

Sedangkan contoh shalat sunah yang memiliki sebab yang membarengi adalah shalat gerhana bulan dan matahari. Shalat sunah ini mesti dilakukan berbarengan dengan waktunya bulan dan matahari mengalami gerhana, tidak bisa dilakukan sebelum atau sesudah gerhananya usai. Maka semisal terjadi gerhana pada waktu yang diharamkan untuk shalat maka tidak haram hukumnya melakukan shalat sunah gerhana pada waktu tersebut.

Dengan kata lain shalat yang dilarang dilakukan pada lima waktu tersebut adalah shalat sunah mutlak atau shalat sunah yang memiliki sebab yang terjadi setelah shalatnya dilakukan. 

Shalat sunah mutlak adalah shalat sunah yang tidak terikat dengan apapun. Ia dilakukan begitu saja tanpa adanya sebab tertentu. Sebagai contoh, ketika Anda memiliki waktu luang dan ingin mengisinya dengan ibadah kepada Allah maka Anda bisa melakukan shalat dua rokaat atau lebih. Shalat seperti ini disebut shalat sunah mutlak. Kapanpun dan di manapun Anda bisa melakukannya, hanya saja dilarang dilakukan pada kelima waktu tersebut di atas.

Adapun shalat sunah yang memiliki sebab yang terjadi setelah dilakukannya shalat sebagai contohnya adalah shalat sunah safar, yakni shalat sunah yang dilakukan ketika seseorang hendak melakukan satu perjalanan. Sebab dilakukannya shalat sunah ini adalah adanya perjalanan yang akan dilakukan. Karena perjalanannya—sebagai sebab—baru akan dilakukan setelah dilakukannya shalat maka shalat sunah safar tidak diperbolehkan dilakukan pada kelima waktu yang dilarang.

Perlu diketahui juga bahwa keharaman melakukan shalat di lima waktu tersebut tidak berlaku di tanah suci Makah. Artinya, di tanah suci Makah seseorang diperbolehkan melakukan shalat apapun di waktu kapanpun yang ia mau, termasuk di salah satu dari lima waktu yang diharamkan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Jangan kalian larang seseorang berthawaf dan shalat di rumah ini (ka’bah) kapanpun ia mau baik siang malam maupun siang.” (HR. An-Nasai)

Adapun di Madinah berlaku hukum sebagaimana umumnya tempat, tidak seperti di Kota Makkah. (Yazid Muttaqin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Tips Hindarkan Muntah pada Bayi

Sidoarjo, Haedar Nashir. Muntah atau gumoh pada bayi dan anak berusia kurang dari setahun yang secara umum nampak sehat sering memicu kekhawatiran orang tua. Hal ini menjadi salah satu pertanyaan dan penyebab tersering orang tua datang ke dokter.

Tips Hindarkan Muntah pada Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tips Hindarkan Muntah pada Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tips Hindarkan Muntah pada Bayi

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo dr Muji Retnaning Rini menjelaskan, ada beberapa tips untuk meminimalisir muntah dan gumoh pada bayi. Diantaranya, saat memberikan ASI kepada bayi, hindari berbaring. Jaga agar bayi tetap dalam posisi tegak sekitar 30 menit setelah menyusu.

"Bayi diletakkan di kursi akan meningkatkan tekanan pada perut. Hindari merangsang aktivitas yang berlebihan setelah bayi menyusu,” katanya kepada Haedar Nashir Ahad (22/11).

Haedar Nashir

Ia menambahkan, melakukan kontrol jumlah ASI atau susu yang diberikan. Misal dengan memberikan ASI/susu dengan jumlah sedikit tapi sering. Sendawakan bayi segera setelah menyusu. Bahkan bayi terkadang masih membutuhkan bersendawa di antara 2 waktu menyusu.

Selain itu, lanjut dr Rini, sebelum memberikan ASI kepada bayi, cek lubang dot yang akan digunakan. Jika lubang terlalu kecil akan meningkatkan udara yang masuk. Jika terlalu besar, susu akan mengalir dengan cepat dan bisa memungkinkan bayi gumoh.

Haedar Nashir

Hindari saat memberikan ASI ketika bayi sangat lapar, karena bayi akan tergesa-gesa saat minum sehingga akan menimbulkan udara masuk. Jika menyusui, posisi bayi dimiringkan. Kepalanya lebih tinggi dari kaki sehingga membentuk sudut 45 derajat. Jadi cairan yang masuk bisa turun ke bawah.

"Jangan mengangkat bayi saat gumoh atau muntah. Segera mengangkat bayi saat gumoh adalah berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru dan akhirnya malah mengganggu paru. Bisa terjadi radang paru dan sebaiknya miringkan atau tengkurapkan bayi. Biarkan saja ia muntah sampai tuntas jangan ditahan," tegas dokter spesialis anak di rumah sakit NU ini.

Jika bayi mengeluarkan gumoh dari hidungnya, biarkan saja. Hal ini justru lebih baik daripada cairan kembali dihirup dan masuk ke dalam paru-paru karena bisa menyebabkan radang atau infeksi. Muntah pada bayi bukan Cuma keluar dari mulut, akan tetapi juga bisa dari hidung.

Hal itu terjadi karena mulut, hidung dan tenggorokan punya saluran yang berhubungan. Pada saat muntah, ada sebagian yang keluar dari mulut dan sebagian dari hidung. Mungkin karena muntahnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.

Bila si bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru. Ini disebut aspirasi dan berbahaya. Lebih bahaya lagi jika si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Untuk mencegah kemungkinan tersedak, agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya.

"Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau didirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya," saran dr Rini.

Lebih lanjut dr Rini menyatakan, untuk mengetahui bahwa muntah atau gumoh berlebihan pada bayi yang mengarah pada hal patologis itu sangat penting. Namun, tidak perlu khawatir jika berat badan bertambah (dalam rentang normal), bayi tampak senang, pertumbuhan dan perkembangan bayi normal.

Begitu pun sebaliknya, yang perlu dikhawatiri jika penurunan berat badan atau tidak ada kenaikan berat badan, infeksi dada berulang, muntah disertai darah, bayi dehidrasi, gangguan pernafasan misalnya henti nafas, biru atau nafas pendek.

"Tanda awal adanya masalah dengan pemberian ASI/susu pada bayi antara lain, bayi tidak tenang, selalu rewel, gelisah sepanjang waktu, bayi tidak ingin menyusu (tidak nafsu), bayi selalu menangis saat atau setelah menyusu, bayi muntah atau gumoh secara berlebihan yang berulang dan sering," terangnya.

dr Rini menegaskan bahwa penggunaan anti muntah pada bayi dan anak tanpa mengetahui penyebab yang jelas tidak dianjurkan. Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab spesifik muntah yang dapat diidentifikasi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Komnas Haji Desak Penghapusan Ibadah Haji Khusus

Jakarta, Haedar Nashir. Komnas Haji menilai Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus menegaskan jurang lebar antara si kaya dan si miskin. Dengan menyetor dana sebesar Rp.80-100 juta, calon jamaah haji khusus memangkas waktu antrean dari 10-20 tahun menjadi 3 tahun waktu tunggu. Kemenag RI karenanya harus menghentikan praktik diskriminasi ini.

Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj menyebutkan data 2013 PIHK menghabiskan kuota sebesar 13 ribu jamaah haji 2013. “Kuota haji khusus itu sangat tidak adil karena terlalu besar dan tidak jelas dasar pertimbangannya,” ujar Mustolih kepada Haedar Nashir, Ahad (6/9) siang.

Komnas Haji Desak Penghapusan Ibadah Haji Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Komnas Haji Desak Penghapusan Ibadah Haji Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Komnas Haji Desak Penghapusan Ibadah Haji Khusus

Sementara calon jamaah haji reguler hanya memegang uang pas-pasan. Mereka menyetorkan uang sebesar Rp. 30 juta dengan waktu tunggu 10-20 tahun. Mostolih menyayangkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji Kemenag RI yang ditentukan atas dasar tebal-tipisnya kocek jamaah.

Haedar Nashir

“Lalu apa bedanya ibadah perjalanan menuju rumah Allah dengan perjalanan wisata biasa pada umumnya?” Mustolih menegaskan.

Kementerian Agama RI, Mustolih manambahkan, lebih baik menghapus kuota kelas premium ini sehingga kedudukan jamaah sejajar dalam hal pelayanan dan waktu tunggu. Pihak Kemenag RI juga harus meningkatkan layanan yang prima bagi jamaah.

Haedar Nashir

“Kaya dan miskin harus sama-sama antre, tidak boleh dibedakan,” tandas Mustolih. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Sabtu, 16 Desember 2017

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan, ibu-ibu yang aktif di Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama Muslimat NU adalah guru di madrasatul bait, atau guru bagi anak-anak di keluarga masing-masing.  

“Kalau gurunya baik, maka anak cucunya baik. Kalau gurunya tidak baik, bagaimana anak cucunya?” katanya pada rapat Pleno 6 Rakernas Muslimat NU di Aula Serba Guna 1, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Kamis (29/5). 

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah

Kiai Said juga mengimbau agar ibu-ibu Muslimat NU tetap istiqomah mengajarkan Islam moderat kepada anak-anaknya. “Kebijakan PBNU, Muslimat NU harus bergandengan tangan dgn Fatayat, IPPNU, kita jaga moderat,” katanya. 

Haedar Nashir

Kiai asal Cirebon menegaskan supaya jangan sampai anak cucu NU menjadi radikal dan sekuler. Kiai Said menyederhanakan istilah itu dengan, sekuler itu kalangan yang menjauhkan agama dari kehidupan masyarakat. Sementara yang radikal ingin hukum agama mengganti hukum negara.  

Haedar Nashir

“Yang radikal ini senang yang formal-formal. Biasanya jenggotnya kesebelasan. Jenggotnya ada sebelas juga dipelihara,” katanya disambut tertawa ibu-ibu.   

Karena NU itu, tambah dia, adalah umatan washatan. Umat yang berperan, penegak, pendorong, penguat kemsayarakatan Indonesia. 

Rakernas dan Mukernas bertema “Khidmah Muslimat NU untuk Indonesia Mandiri” itu dibuka pada Rabu (28/5) dan akan berlangsung sampai Ahad (1/6). (Abdullah Alawi)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Internasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Jumat, 15 Desember 2017

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Lebak, Haedar Nashir. Para kiai di wilayah Lebak, Banten, menyelanggarakan Halaqah Alim Ulama Nusantara bertema “Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi” di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Jalan Sampay-Cileles Km. 05 Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Halaqah yang diselenggarakan atas kerja sama Kemitraan (Partnership), Gusdurian dan Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini menjadi kelanjutan dari kegiatan yang sama di Yogyakarta akhir Juli 2015.

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Rais Syuriah PCNU Lebak KH. Muhammad Mas’ud yang hadir dalam kesempatan itu menyatakan, para kiai perlu berjihad melawan korupsi yang sudah kian mentradisi dalam masyarakat Indonesia.

Haedar Nashir

“Jika melihat kemungkaran seperti korupsi, maka ubahlah dengan tangan atau kekuasaan kita. Kita tidak boleh membiarkannya,” jelas pendiri Pondok Pesantren al-Hidayah Lebak ini, Rabu (2/9).

Terkait wacana hukum mati bagi koruptor, Kiai Mas’ud menyatakan, membunuh satu orang untuk melindungi ribuan orang lain bisa dimaklumi dan bahkan dibenarkan. “Lebih manusiawi mana membunuh satu orang atau membiarkan korupsi yang mengancam kelangsungan hidup orang banyak?” ujarnya.

Haedar Nashir

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua MUI Kabupaten Lebak menyatakan bahwa korupsi tidak akan terjadi di pesantren. “Apanya yang mau dikorupsi?” tanyanya. “Namun demikian, para kiai harus hati-hati jika menerima uang yang tidak jelas asal-muasalnya,” imbuhnya. ? ? ?

Usai sambutan para kiai, halaqah dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ahmad Suaedy dari Gurdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Dr. KH. Amas Tajuddin dari kalangan kiai pesantren dan Nurul H. Maarif sebagai perwakilan peserta halaqah di Jogjakarta.

Pada intinya, semua peserta sepakat untuk turut andil bersama pemerintah memberantas korupsi. Karena itu, di akhir kegiatan diadakan deklarasi yang disebut sebagai Deklarasi Lebak Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi, yang naskahnya dibacakan oleh KH. Asep Saefullah, M.Pd., Pengasuh Ponpes La Tahzan sekaligus Ketua ISNU Kabupaten Lebak.? ?

Secara umum, kegiatan ini sendiri bertujuan untuk; 1)? melindungi dan menjauhkan rakyat dan para pemimpin agama di masyarakat dari keterlibatan di dalam jaringan korupsi; 2) Memberi pemahaman kepada para pemimpin agama dan masyarakat tentang ancaman dan kerugian akibat korupsi terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia; 3) Mendorong para ulama dan lingkungan pesantren untuk ikut mendukung dan mencegah terjadi korupsi di semua level dalam berbagai bentuk korupsi; 4) Memberi perlindungan kepada para pelaku gerakan antikorupsi dari serangan jaringan koruptor di berbagai daerah.

Pada kegiatan yang diselenggarakan setengah hari ini, tampak hadir Ketua MUI Kabupaten Lebak yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH Achmad Syatibi Hambali, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Lebak KH Muhammad Mas’ud, intelektual NU KH Amas Tajuddin, Ahmad Suaedy dari Gusdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lebak Ade Budjaerimi, Ketua PC Fatayat Kabupaten Lebak Siti Nurasiah, Ketua ISNU Lebak KH. Asep Saefullah, dan lainnya. (Nurul Huda Maarif/Mahbib)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Lomba, Internasional Haedar Nashir

Senin, 04 Desember 2017

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukoharjo,, Jawa Tengah, melantik pengurus inti lembaga, lajnah dan badan otonom di Lingkungan NU Sukoharjo. Acara digelar sekaligus untuk dengaan harlah NU ke-85 dan haul KH. Abdurrahman wahid, di gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Sukoharjo, akhir pekan lalu.



PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

Ketua PC NU Sukoharjo, H. Muhammad Nagib Sutarno dalam sambutannya menjelaskan, amanat konfrensi cabang (Konfercab) dan  Musyawarah Kerja (Musker) PC NU Sukoharjo tahun 2010, seluruh lembaga, lajnah dan banom di lingkungan NU Sukoharjo segera melakukan reorganisasi.

”Pengurus inti lembaga, lajnah dan Banom nantinya segera melakukan musyawarah dan koordinasi, untuk melengkapi kepengurusan dan menyusun program kerja. Keberhasilan PCNU ada juga di pundak lembaga dan banomnya. Maka kita harus aktif bekerja. Komunikasinya diperbaikin, jaringanya diperluas,” ujar Sutarno.

Haedar Nashir

Lembaga, Lajnah dan Banom yang dilantik itu antara lain LDNU, Maarif NU, RMI, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam, LPBHNU, Lesbumi, LWNU, LAZIZNU, LTMI, LPKNU, LFNU, PERGUNU, dan Jamiatul Qurro wal Hufadz.

Haedar Nashir

Sementara itu, Bupati Sukoharjo  H. Wardoyo Widjaya mendrong agar NU menguatkan nilai-nilai kemoderatatan sampai warga.  Dalam kesempatan itu, dia menyatakan siap bantu NU Sukoharjo, baik secara materi maupun moral.

Kelompok musik hadrah dari MWC NU Kartasura, ikut memeriahkan acara ini. Selain tampil dipanggung, mereka juga mengiringi kehadiran penceramah KH Mahyan dari Purwodadi, Jawa Tengah. Ribuan warga Nahdliyin Sukoharjo tumplek blek mendengarkan siraman rohani dari Kiyai nyentrik itu. Sekitar puluk 23.30, acara baru selesai. (ccp)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Minggu, 03 Desember 2017

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Demak, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Putri Nurul Burhany Mranggen Demak melantik pengurus pondok Pesantren masa khidmah 2014/2015. Pelantikan diikuti seluruh santri dan dewan asatidz. Sebagai kepala terpilih; Aida Qonitatul Muna menggatikan Nur Aeni.

Pengasuh pesantren Nurul Burhany, KH. Helmi Wafa Mahsuni dalam pengarahannya menjelaskan, semua santri baik yang menjadi pengurus maupun yang tidak menjadi pengurus mempunyai dua kewajiban.

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Menurut dia, kewjiban pertama adalah belajar atau mengaji dan  kewajiban untuk berkhidmah atau mengabdi, baik khidmah kepada kiai maupun khidmah kepada santri.

Haedar Nashir

Khidmah inilah yang membedakan antara pendidikan di pesantren dan pendidikan di luar pesantren. Disini santri dididik untuk ikhlas mengabdi, walaupun tanpa gaji ataupun imbalan apapun.

KH. Helmi Wafa Mahsuni memprosentase waktu bagi santri sebagai berikut; untuk kalangan pengurus 50% untuk belajar atau mengaji dan 50% untuk berkhidmah, sedangkan untuk kalangan santri, 75% untuk belajar dan 25% untuk berkhidmah.

Haedar Nashir

Selanjutnya pengasuh berharap, dengan dibiasakannya santri khidmah di pondok pesantren, setelah nanti pulang di kampung halaman masing-masing, santri dapat berkhidmah kepada masyarakat.

Khidmah bisa dilakukan melalui berbagai organisasi yang ada di lingkungan masing-masing, baik melalui jama’ah tahlilan, Fatayat NU, IPPNU dan lain sebagainya, “tentunya harus didasari dengan rasa ikhlas,” tegasnya. (Abdus Shomad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Sejarah Haedar Nashir

Sabtu, 02 Desember 2017

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Jakarta, Haedar Nashir. Para tokoh, baik dari lingkungan NU maupun non-NU, silih berganti mengunjungi rumah duka keluarga H Slamet Effendy Yusuf di perumahan Citra Grand Cibubur, Kamis (3/12).

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Tokoh Berikan Penghormatan Terakhir Kepada Slamet Effendy

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tiba dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memberi penghormatan kepada mendiang Slamet Effendy. Mereka bersalaman dan menyapa satu sama lain.

Kiai Said dan jajaran pengurus PBNU lainnya juga memberikan penghormatan dan menyampaikan  pesan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju Pesantren Tahfidzul Qur’an di Purwakarta Purwakarta, pesantren yang diasuhnya. 

Haedar Nashir

Sejumlah menteri juga hadir seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursidan Baldan, dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian. 

Hadir pula Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Fuad Bawazier, dan lainnya. 

Haedar Nashir

Dalam pesan di watsapp, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12 siang, tetapi dimajukan menjadi sekitar 11.30 mengingat permintaan keluarga di Purwokerta agar pemberangkatan jenazah dipercepat sebagaimana dikatakan oleh Isfah Abidah Aziz, wakil sekjen PBNU yang merupakan mantan staffnya di DPR RI. Akibatnya, beberapa pelayat tidak sempat bertemu dengan jenazah, apalagi jalan Alternatif Cibubur yang padat merayap.

Sebelum pulang, Hidayat Nur Wahid sempat menanyakan soal pelaksanaan tahlil. Ketika dijelaskan bahwa tahlil akan diselenggarakan selama tujuh hari di masjid An Nahdlah PBNU, ia berjanji untuk menyempatkan diri untuk hadir.(Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Sholawat, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari

Makassar, Haedar Nashir. Puluhan Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dipimpin Kasatkornas H Alfa Isnaeni ziarah ke makam pahlawan Indonesia sekaligus Afrika Selatan (Afsel), Syekh Yusuf Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama sufi asal Sulawesi Selatan yang menyebarkan agama Islam di Afrika, Rabu (29/3).

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)
Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari

"Menjadi keharusan bagi kami untuk mendoakan dan meneladani sosok pahlawan dan ulama Nusantara yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kultural, bukan gaya sok dan paling benar," ujar Alfa Isnaeni.

Setelah diasingkan pemerintah kompeni, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani yang lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 berupaya membawa misi Islam di Afrika Selatan. Pengajar Tarekat Khalwatiyah itu wafat di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699.

Atas jasanya menyebarkan Islam tanpa membedakan warna kulit, Syekh Yusuf tidak saja dikenang masyarakat Afsel dengan pemberian gelar As-salam. Pemerintah Afsel secara resmi juga menetapkan Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional pada 23 September 2005. Adapun di Indonesia, keputusan penetapan Pahlawan Nasional bagi Syekh Yusuf pada 9 November 1996.

Haedar Nashir

Makam terakhir Syekh Yusuf yang diberi gelar masyarakat seempay Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan guru penyelamat kita dari Gowa) itu berada di perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, terletak di kompleks berada di tepi jalan raya.

Sekitar 15 menit, puluhan anggota Banser yang berasal dari 19 provinsi di Indonesia, berhimpun di areal makam dengan bagian atap berbentuk kubah untuk mendoakan Syekh Yusuf. (Gatot Arifanto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Islamabad, Haedar Nashir. Bertepatan dengan hari Asyura atau 10? Muharam, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) bekerja sama dengan Bagian Bahtsu-Masail (BM) Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Pakistan menyelenggarakan diskusi reguler di Islamabad, Pakistan.

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Menurut Koordinator diskusi, Ikmal Thoha, kegiatan yang digelar 4 November ini mengusung tema "Syiah dalam Lingkup Sejarah dan Eksistensinya di Tanah Air".? Saat ini, katanya, Syi’ah memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan di Pakistan.

“Diskusi berjalan menarik dan tentunya memberi memberikan antusias yang besar kepada rekan-rekan PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan dan juga dalam rangka meramaikan suasana di bulan Muharram dan mengisi kekosongan pada hari libur,” ujar? mahasiswa IIUI Pakistan asal Tuban ini.

Haedar Nashir

Hadir sebagai Narasumber dua mahasiswa Indonesia Program Magister di Pakistan, Eris Rismatullah, S.Phil.I? dan Syamsul Hadi, S.Th.I. Dalam pemaparannya Eris Rismatullah mengatakan bahwa Syi’ah awalnya adalah salah satu kelompok politik di dunia Islam.

“Sejarah aliran Syi’ah masuk ke Tanah Air adalah bersamaan dengan masuknya Islam ke Tanah Air. Bahkan, menurut Jalaluddin Rahmat, tokoh Syi’ah Indonesia, Syi’ah lebih dulu yang datang ke Tanah Air dari pada Islam Sunni,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, masuknya aliran Syi’ah ke Indonesia merupakan misi visualisasi dari cita-cita dan tujuan dari Revolusi Iran. Tujuan utamanya, menerapkan ajaran atau aliran Syi’ah secara komprehensif melalui kekuasan politik.

Sementara? narasumber kedua, Syamsul Hadi mencoba menyambung dengan menjelaskan sepak terjang aliran Syi’ah secara lebih rinci. Menurutnya, Syi’ah mulai masuk ke Indonesia secara sembunyi-sembunyi dalam artian hanya sebatas keyakinan masing-masing dalam keluarga dan tidak terang-terangan untuk berdakwah.

“Pada periode kedua, tepatnya pasca Revolusi Iran, penyebaran Syi’ah sudah mulai terang-terangan dengan adanya pondok-pondok pesantren Syi’ah yang telah bermunculan di Tanah Air, karena Syi’ah mulai berdakwah dari dunia pendidikan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCI-NU Pakistan Ahmad Badruddin mengatakan, perbedaan dalam agama memang tidak bisa dihindarkan, dan perbedaan pemikiran dalam ragam itu pasti ada. Menurutnya, hal itu merupakan cermin dinamika intelektualitas, dinamika rasionalitas dalam Islam.

Ia juga menegaskan, bahwa diskusi ini tidak mengarah pada tuduhan sesat pada siapapun, melainkan kajian ilmiah perihal sejarah dan ideologi sebuah kelompok. “Kita harus selalu berhati-hati untuk masalah takfir dan tahkim kepada sesuatu,” tuturnya. (Muhammad Taufiq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Internasional, Humor Islam Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum

Bogor, Haedar Nashir

Pembahasan terkait tema jihad tampak belum menunjukkan tanda akan segera berakhir, terutama dengan berkembangnya wacana yang menyebut bahwa jihad sama dengan aksi-aksi kekerasan. Bedanya, jihad adalah kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Beberapa pengamat dan peneliti dunia bahkan menyebut bahwa konsepsi jihad adalah anti-thesis untuk perdamaian.

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang ‘Jihad’ yang Jahat: Catatan Asia Interfaith Forum

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Direktur International Center for Islam dan Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim saat berbicara di Asia Interfaith Forum yang digelar oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) di Bogor, siang ini, Selasa (17/10).

Bahkan belakangan, konsepsi jihad disebutnya sudah identik dengan kekerasan. Hal ini diperparah dengan fakta adanya kelompok-kelompok teroris semacam Al Qaedah dan ISIS yang mengklaim diri sebagai pelaksana ajaran Islam. Artinya, kelompok-kelompok ini mengklaim semua kekerasan yang mereka lakukan sebagai bentuk pelaksanaan perintah jihad.

Bagi Syafiq, anggapan seperti ini tentu tidak bisa diterima, meski ia juga mengakui bahwa pandangan semacam ini sudah menyebar dan dipercayai oleh banyak kalangan. “Pertanyaannya adalah, apakah mereka melakukan mis-interpreatasi terhadap makna jihad, atau terhadap konteks jihad? Saya cenderung melihatnya sebagai kesalahan dalam memahami konteks jihad,” ungkapnya. 

Ia menjelaskan, secara teks, kata jihad dapat ditemukan di banyak tempat baik di dalam Al-Qur’an maupun hadist, namun pemaknaan terhadap konteks ini tidak selalu sama. Pandangan yang umum terjadi adalah penyamaan konsep jihad dengan peperangan (qital), sehingga jihad cenderung dipahami secara sempit hanya sebagai anjuran atau perintah untuk melakukan perang. Pandangan seperti di atas didukung oleh banyak ulama klasik seperti Imam Malik dalam karyanya Mudawanah, Imam Syafi’I dalam Al Umm, Ibn Qudamah dalam Al Mughni, dan seterusnya.  

Haedar Nashir

Namun demikian, Syafiq menjelaskan bahwa konsep jihad tidak hanya terbatas pada pemaknaan di sisi tekstualnya saja, melainkan juga perlu pemaknaan yang seimbang di sisi konteksnya. Argumen dasarnya adalah, perubahan pada konteks seharusnya berimbas pada perubahan makna teksnya. “Berdasarkan pada situasi kita sekarang, konsep jihad perlu memiliki interpretasi yang baru,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ia pun menyebut bahwa tantangan yang dihadapi oleh umat Islam sekarang sudah berubah. Di zaman awal, jihad bisa saja menjadi pilar utama dalam beragama, tetapi di masa sekarang, pilar utama bukan lagi sebatas jihad.

Syafiq menyebut tiga hal yang menjadi poin penting, yakni jihad, ijtihad dan mujahadah. Di masa-masa awal penyebaran agama Islam, konsepsi jihad menempati posisi utama, tetapi di masa sekarang sudah tidak lagi. Konsepsi utama yang harus dipegang oleh umat Islam bukan lagi jihad, melainkan ijtihad.

“Pemaknaan jihad sebagaimana terjadi di periode klasik Islam tidak akan bisa merespon kebutuhan masyarakat zaman sekarang… prinsip relevan untuk kehidupan kita saat ini bukan lagi tuntutan untuk melakukan peperangan, melainkan kebutuhan untuk menciptakan keadilan sosial dan kemakmuran bersama,” lanjutnya.  

Sebagai penegas, ia menyatakan, “Jihad bukanlah memerangi orang, tetapi memerangi kemiskinan dan kurangnya pendidikan.”

Khoirul Anam, Senior Officer Media dan Kampanye Wahid Foundation

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Senin, 20 November 2017

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat untuk berhati-hati pada ajaran agama yang didakwahkan secara gelap-gelapan dan eksklusif karena pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Dulu, Islam didakwahkan secara terang-terangan.?

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan

“Kita harus mencurigai dan memantau ajaran seperti itu, apalagi ajarannya sampai meresahkan masyarakat karena ada pengikutnya yang lari dan minggat,” katanya, Rabu di Gedung PBNU (27/1).

Kiai Said juga meminta agar aparat keamanan menindak setiap kelompok atau organisasi massa yang berpotensi mengurangi, merusak, dan mengganggu integritas masyarakat.?

Haedar Nashir

“Tapi kalau ormas yang keberadaannya membangun masyarakat, ya, NU, Muhammadiyah. Kalau ada ormas yang aktitasnya menganggu dan merusak, harus ditindak,” imbuhnya.?

Ia menegaskan, setiap kelompok yang mengatasnamakan agama Islam, harus sesuai dengan prinsip Islam, yaitu rukun iman dan rukun Islam.?

“Kita bisa beda dengan Muhammadiyah dan Persis, tetapi dalam prinsip shalat lima waktu, kita tidak beda. Shalat lima waktu wajib, puasa wajib, dan lainnya.”

Haedar Nashir

“Kalau orang Islam tidak shalat, itu dosa, tetapi kalau mengingkari bahwa shalat itu wajib, itu sesat namanya. Orang tidak puasa itu berdosa, tetapi mengingkari bahwa puasa itu tidak wajib, maka sesat,” paparnya.?

Bagaimana jika ada ajaran yang mengembangkan keyakinan seperti itu. Kiai Said menjelaskan, bagi para pengikutnya, mereka adalah korban yang harus di bimbing dan diberi pencerahan supaya normal kembali. Tapi bagi pentolannya, harus ada sanksi hukum. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, AlaSantri, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 17 November 2017

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

Jombang, Haedar Nashir. Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang kembali akan melaksanakan pengabdian atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Thailand. Sebanyak lima mahasiswa UNHASY akan berbagi ilmu dengan para santri yang ada di negara gajah putih tersebut.

Sebagaimana KKN Internasional gelombang pertama, pada gelombang kedua ini tim seleksi UNHASY juga melakukan serangkaian test untuk menentukan mahasiswa yang akan diterjunkan langsung ke dunia pendidikan di Thailand.?

“Kami ingin menerjunkan mahasiswa UNHASY yang terbaik, sehingga bisa mengabdikan diri dan memberikan kontribusinya di Thailand. Karena membawa nama baik UNHASY juga,” ungkap Kepala ? Biro Administrasi Akademis Kemahasiswaaan UNHASY, Muhammad, Rabu (13/4).

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Mahasiswa UNHASY Akan Mengabdi di Thailand

Tim penguji terdiri dari Ahmad Faruq (Kepala LPPM UNHASY), Elisa Nurul Laili (Kepala Lembaga Bahasa UNHASY) dan Rusli Ilham Fadli (Dosen PBSI UNHASY). Selain itu, dua mahasiswa yang pernah mengikuti KKN Internasional Thailand gelombang pertama, Nuriyah Laili (Fakultas Tarbiyah) dan Hurun ‘Aiin KA (Fakultas Dakwah) juga turut menjadi tim penyeleksi.

Ada 11 mahasiswa yang mengikuti seleksi pada Selasa (12/4) kemarin. Seleksi wawancara meliputi motivasi diri, pengetahuan agama, kemampuan berbahasa Inggris, dan kemampuan mengajar (peer teaching).

Haedar Nashir

Dari 11 mahasiswa yang lulus mengikuti seleksi KKN Internasional di Thailand adalah Alif Zakiyatul Fikriyah (Fak. Ilmu Pendidikan), Ani L. Arias Sholehah (Fak. Tarbiyah), Fina Fastaqima (Fak. Ilmu Pendidikan), Ririn Cahyani dan Siti Fatimatuz Zahro (Fak. Tarbiyah)

Kelima mahasiswa ini akan menjalani KKN Internasional selama 5 bulan. Program KKN tersebut merupakan hasil kerjasama UNHASY dengan Abroad Alumni Association of Sourthern Border Provinces, yaitu sebuah persatuan alumni luar negeri di Thailand Selatan yang fokus kegiatannya dalam hal pendidikan dan dakwah. (Machtumah Malayati/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Senin, 13 November 2017

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Sukoharjo, Haedar Nashir - Maraknya berita bohong yang bersebaran di berbagai media sosial, membuat Nahdliyin perlu waspada. Kabar tidak benar tersebut, apabila tidak disikapi dengan sikap hati-hati dapat menimbulkan perpecahan dan fitnah.

“Hati-hati denagn medsos, berita hoax yang mengarah ke fitnah seliweran. NU difitnah dan dibentur-benturkan. Untuk itu, mari kita rekatkan barisan, sesama NU jangan mudah salah paham,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Inshof Plesungan KH Abdullah Saad, pada acara pelantikan Pengurus Ranting Jetis, Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Senin (20/2) malam.

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekatkan Barisan, Sesama Nahdliyin Jangan Salah Paham

Untuk itu, pengurus JATMAN Idarah Aliyah itu mengimbau, Nahdliyin di daerah agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. “Jagalah persatun dan kesatuan, agar negara aman tentram, serta tetap mengikuti komando dari PBNU,” kata dia.

Haedar Nashir

Ditambahkan Gus Dullah, para pengurus NU juga perlu untuk member pemahaman kepada masyarakat serta anggota, tentang paham Aswaja, sebagaimana yang telah diperjuangkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama NU lainnya.

Dalam acara itu, prosesi pelantikan Pengurus Ranting NU Jetis berjalan dengan penuh khdimat. Amanah Rais Syuriyah diemban Kiai Sulaiman, sedangkan Ketua Tanfidziyah dipegang Giman.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Haedar Nashir