Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Semangat menjaga kerukunan umat beragama telah menjadi wujud kepedulian bagi (Barisan Ansor Serbaguna) Banser untuk menghormati pemeluk agama lain agar bisa merayakannya dengan penuh kedamaian dan ketenangan. “Kita peduli pada pemeluk agama lain yang ingin menjalankan ibadahnya dengan penuh ketenangan,”

Demikian dikatakan Komandan Satuan Koordinator Nasional (Kasatkornas) Banser H Tatang Hidayat kepada wartawan di Kantor GP-Ansor, kemarin. Dia menambahkan setidaknya dengan suasana kondusif, bagi pemeluk yang ingin merayakan Natal, mereka bisa berbahagia dan berbagi kasih dengan keluarganya.

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia

Yang jelas, kata H Tatang, wujud kepedulian Banser semata-mata karena demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik. Bagaimanapun juga kerukunan umat beragama adalah modal dasar terciptanya keutuhan berbangsa dan bernegara.

Lebih jauh kata H Tatang, laporan dan data yang masuk ke Pimpinan Pusat GP Ansor memperkirakan ada sekitar 3015 gereja di seluruh Indonesia yang menjadi perhatian Banser untuk dibantu pengamananya. "Karena itu Banser berkoordinasi dengan aparat kepolisian setemapat, karena aparatlah yang memiliki kewenangan. Banser sifatnya hanya membantu aparat saja," tambahnya.

Ditanya berapa besar jumlah personil banser yang diterjunkan, H Tatang menyatakan jumlah personil Banser yang dikerahkan sekitar 15 ribu orang. Sementara, untuk pengamanan Jakarta saja sekitar 1000 personil dan ditempatkan pada lima wilayah, yakni Jakpus, Jaksel, Jaktim, Jakbar dan Jakut. “Masing-masing dikerahkan 200 orang per wilayah,”katanya.

Haedar Nashir

Pengamanan Natal oleh Banser ini, kata H Tatang, mulai berlangsung 23- 27 Desember 2006. Sedangkan untuk pengamanan Tahun Baru 2007, dimulai 29 Desember 2006- 2 Januari 2007. “Jumlah kekuatan tetap dan tidak bertambah, kecuali memang ada permintaan dari masing-masing daerah,”tegasnya. (eko/gpa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Minggu, 25 Februari 2018

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Kudus, Haedar Nashir. Ratusan santri MA NU TBS Kudus lakukan sholat istisqo’, Selasa (3/11). Ritual ini dilakukan di halaman madrasah tepatnya saat memasuki jam istirahat pertama. Hadir dalam kegiatan ini beberapa kiai sepuh madrasah ini, KH Choiruzyad Turaichan Adjhuri, KH Musthafa Imron, KH Munfaat Lc, KH Abdullah Hafidz dan beberapa dewan guru lainnya.

Pada kesempatan ini, yang menjadi imam sholat istisqo’ adalah KH Hasan Fauzi sedangkan yang menjadi khotib adalah KH Amin Yasin. Sebelum dimulainya prosesi sholat, terlebih dahulu diadakan pengarahan tentang tata cara sholat, khutbah serta penggunaan rida’ yang dilakukan oleh pihak madrasah. Prosesi ini, mulai dari pengarahan hingga berakhirnya sholat dan khutbah memakan waktu sekitar satu jam lamanya dan diakhiri dengan do’a yang intinya adalah memohon untuk diturunkannya hujan.

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Siswa MANU TBS Kudus Lakukan Sholat Istisqo

Dalam khutbah yang disampaikan oleh khotib, ada beberapa pesan yang disampaikan. Beberapa pesan itu adalah siswa diharapkan memperbanyak istighfar serta menjauhi maksiat, karena bisa jadi sebab banyaknya kemaksiatan di bumi maka Allah tidak menurunkan hujan sebagai peringatan kepada manusia.

Haedar Nashir

Menurut Suwantho SPdI, selaku Wakil Kepala (Waka) bagian Humas, kegiatan semacam ini dilangsungkan karena kemarau yang cukup lama. “Atas inisiatif sendiri dan juga untuk melatih siswa agar mengetahui tata cara sholat istisqo,” jelasnya.?

Selepas serangkaian prosesi tersebut, pihak madrasah juga melakukan sedekah berupa dawet yang dibagikan kepada warga MANU TBS Kudus, serta perwakilan dari guru MI, MTS dan MPTs.

Haedar Nashir

Malam hari setelah pelaksanaan sholat minta hujan, tepatnya sekitar jam tujuh hingga jam delapan malam, hujan turun di daerah Kudus, khususnya daerah sekitar MANU TBS Kudus. (Ahmad Hanan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme

Pringsewu, Haedar Nashir - GP Ansor Pringsewu tergugah untuk menjadi penggerak dalam mencegah dan menangkal paham Radikalisme yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Organisasi pemuda NU ini mengambil bentuk pembinaan terhadap pemuda khususnya bagi para kader melalui Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor, Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser, serta Pendidikan Orientasi guna memberikan pemahaman ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Ketua GP Ansor Pringsewu M Sofyan mengatakan, sebagai organisasi kepemudaan yang berbasis keagamaan GP Ansor diharapkan mampu membina dan mengajak para pemuda untuk lebih memahami ajaran Islam dengan sebaik-baiknya dan lebih cinta terhadap tanah air sehingga tak mudah didoktrin dengan Radikalisme.

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Siap Jadi Pelopor Pencegahan Terorisme

"Kami sudah lama melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, karena melalui rasa cinta tanah air inilah para pemuda akan bisa terhindar dari paham Radikalisme yang berujung pada tindakan teror. Bahkan PKD dan Diklatsar ini merupakan kegiatan wajib yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun," tutur Sofyan.

Haedar Nashir

Menurutnya, sebagian orang mungkin masih banyak belum tahu mengenai materi yang diberikan kepada para pemuda ketika mengikuti kegiatan ini. Tak hanya kegiatan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, tetapi lebih dari itu; olah fisik bela diri, bela agama dan bela negara, pemahaman ajaran agama, kepedulian sosial dan toleransi serta kecakapan dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dalam masyarakat.

Semua diberikan sebagai bekal dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.

Haedar Nashir

Saat dikonfirmasi mengenai aksi lain yang akan dilakukan oleh organisasi di bawah kepemimpinannya ini, M Sofyan menegaskan bahwa GP Ansor Pringsewu akan lebih mengutamakan pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif dalam rangka memberikan pemahaman akan bahaya tindakan teror bagi diri sendiri, masyarakat, agama, bangsa dan negara. (Henudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Hadits, Santri Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

KH Usman adalah putra pertama KH Abdurrohman Mranggen Demak, yang pada awalnya dididik langsung oleh orangtuanya sebelum disuruh mondok ke Brumbung Mranggen Demak yang di asuh oleh KH Ibrohim.

Selepas dari Brumbung, ia meneruskan belajar di pondok pesantren Lasem yang diasuh oleh KH Kholil dan KH. Mashum. Sekembalinya dari pesantren Lasem, pada tahun 1926 beliau berusaha mengembangkan pesantren Futuhiyyah dan pada tahun 1927 diserahi tanggung jawab mengelola pesantren di bawah pengawasan KH. Abdurrohman.

Usaha dawah yang dilaksanakan oleh beliau lebih banyak yang berorientasi keluar, dalam arti lebih sering melakukan dakwah keliling. Dawah keliling yang beliau lakukan berbentuk masrokhiyah (seni teater, sandiwara) dengan musik rebana yang dipandu dengan tarian zipin dan pencak silat yang disisipi ceramah agama.

Beliau lebih terkenal sebagai sosok seorang pendekar yang alim, karena pada saat itu wilayah Mranggen lebih dikenal dengan kaum abangan, jadi dawah dengan teater lebih menguntungkan.

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

Pada tahun 1927 ia dibantu oleh adiknya, KH Muslih, berusaha mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Futuhiyyah atas usulan adiknya. Namun madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU untuk merealisasikan progam pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat sendat dan akhirnya hilang. Selanjutnya tahun1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama.

Sekitar tahun 1931, pimpinan diserahakan kepada KH. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu KH. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada KH. Usman dan madrasah diserahkan kepada KH Murodi beserta para guru.

Setelah KH Muslih pulang dari Termas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena ia lebih memusatkan perhatiannya da’wah keliling dan NU cabang Mranggen, sedangkan KH. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.

Haedar Nashir

Disamping itu ia juga membuka pesatren khusus putri yang diberi nama An Nuriyyah, sampai akhir hayat beliau tetap membantu pengajaran di pondok Futuhiyyah meski ia sudah memiliki pesantren sendiri. Beliau wafat pada tahun 1967 dengan menorehkan berbagai kemajuan selama masa kepemimpinan beliau di Futuhiyyah. Kemajuan selama masa kepemimpinan KH Usman diantaranya penataan manajemen pesantren, penataan manajeman madrasah, dan pendidikan seni dan keterampilan.

Selain itu masih banyak kemajuan kemajuan dan peran sertanya dalam pendidikan pesantren atau dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

?

Haedar Nashir

Abdus Shomad, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Berita Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan seputar shalat dua rakaat ketika masuk masjid atau yang dikenal dengan sebutan shalat tahiyyatul masjid. Pertama, apa makna shalat tahiyyatul masjid? Yang kedua, apabila kita masuk masjid kemudian duduk, apakah anjuran melakukan shalat tahiyyatul masjid gugur?

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Ketiga, ketika kita masuk masjid mengingat waktunya begitu sempit kemudian kita langsung melakukan shalat qabliyyah, bolehkah kami menggabungkan niat shalat sunah qabliyyah dengan shalat tahiyyatul masjid. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Majid/Pekalongan)

Jawaban

Haedar Nashir

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami akan menjawab satu demi. Dalam kesempatan ini terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan pertama. Sedang untuk yang kedua dan ketiga akan kami jawab pada kesempatan berikutnya.

Menurut para ulama, hukum shalat tahiyatul masjid adalah sunah mu`akkad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Atsram dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ‘Berikanlah hak masjid. Lantas mereka bertanya, ‘apa yang menjadi hak masjid?’ Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk.’”

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang sangat dianjurkan karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Atsaram yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW (marfu`): ‘Berikanlah hak masjid. lantas mereka pun bertanya, apa yang menjadi hak masjid. Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk,’” (lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 313).

Seseorang yang menjalankan shalat tahiyyatul masjid sudah semestinya berniat mendekatkan diri kapada Allah (taqarrub). Sebab, apa yang dimaksud dengan tahiyyatul masjid pada dasarnya adalah memberikan salam penghormatan kepada Pemilik Masjid (tahiyyatu rabbil masjid) yaitu Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sudah semestinya ketika menjalankan shalat tersebut niat bertaqarrub kepada Allah swt bukan kepada masjid. Sebab, pengertian dari pernyataan; ‘tahiyyatul masjid’ adalah tahiyyatul rabbil masjid (salam kepada Pemilik masjid),” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, juz I, halaman 313).

Berpijak dari sini dapat dipahami bahwa shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilakukan seorang Muslim ketika masuk masjid sebelum duduk. Sebagai bentuk salam penghormatan kepada masjid, di mana salam penghormatan kepada masjid pada hakikatnya adalah salam penghormatan kepada Pemilik masjid, yaitu Allah swt.

Logika sederhana yang digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana orang yang masuk ke dalam istana raja. Maka yang dilakukan adalah memberikan salam atau penghormatan bukan kepada istananya tetapi kepada pemiliknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena ketika orang masuk istana raja, maka ia memberikan salam (penghormatan) kepada raja bukan kepada istananya,” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, juz I, halaman 313).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Syariah, Internasional Haedar Nashir

Minggu, 07 Januari 2018

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memohon kesediaan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin memimpin sedikitnya 120 peserta pelatihan da’i dan da‘iyah NU untuk mendoakan korban sipil di Gaza Palestina. Doa bersama untuk Palestina ini sekaligus menutup pelatihan dakwah di Gedung PBNU, Selasa (22/7) sore.

“Kita sedih menyaksikan kebrutalan agresi militer Israel yang menyerang korban sipil di jalur Gaza. Kita mengharapkan warga dunia dalam hal ini PBB, negara-negara Islam, dan liga Arab untuk berpartisipasi dalam perdamaian di Palestina,” kata Khofifah.

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Sebelum memimpin doa, Kiai Ma’ruf yang juga mengisi materi Keaswajaan dan Kepemimpinan Nasional dalam pelatihan yang difasilitasi PP LDNU dan Himpunan Da’i dan Majelis Taklim Muslimat NU ini menekankan peran para da’i NU di tengah tantangan dakwah yang semakin berat.

Haedar Nashir

“Tugas para da’i ialah membuat peta dakwah agar mengetahui medan tantangan dakwah dari segala dimensinya. Karena itu, da’i mesti terus berpikir memetakan strategi dakwah. Tantangan terus berubah,” kata Kiai Ma’ruf.

Haedar Nashir

Kelenturan Aswaja NU memberikan keluasan kepada kita semua untuk tidak berhenti di titik nyaman. Da’i tidak boleh statis, harap Kiai Ma’ruf.

“Mari kita tengadahkan tangan mengharapkan ridho Allah untuk menurunkan bantuannya bagi kemaslahatan warga Gaza,” ujar Kiai Ma’ruf sebelum membacakan doa yang diaminkan peserta pelatihan da’i. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Berita Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

Jakarta, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggandeng Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) untuk memberikan pemahaman dan pencegahan paham ektremisme di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek.

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

"Pelajar perlu pemahaman pencegahan paham ISIS (Negara Islam Suriah dan Irak) dan ideologi transnasional lainnya karena para teroris sudah melirik kalangan pelajar untuk dijadikan pengantin. Terutama kalangan Rohis dan LDK sekolah negeri," kata Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam Harisah.

Ia mengatakan? hal itu saat memberikan kata sambutan pada “Workshop dan Komitmen Bersama Pencegahan Paham ISIS di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek antara PP IPNU dengan BNPT” di Jakarta Selatan, Rabu (12/8).

Haedar Nashir

Dalam acara bertema “Pelajar Damai Cinta Indonesia” itu, Anam mengatakan pelajar sebagai generasi penerus bangsa perlu menanamkan dalam dirinya cinta tanah air. Selain itu, lanjutnya, mengetahui sejarah kemerdekaan dan masuknya Islam ke Indonesia tidak kalah penting, agar tidak mudah terpengaruh dengan paham ISIS.

"Jangan lupa penyebaran Islam di Indonesia itu tanpa pertumpahan darah dan tanpa peperangan. Hari ini masak kita mau disuruh perang dengan saudara sesama muslim, untung saja yang jadi nabi bukan orang ISIS pasti kita masih dalam kegelapan," imbuh Anam semangat.

Haedar Nashir

Ia menambahkan agar pelajar bersyukur ada di Indonesia karena ulamanya moderat dan berhasil merumuskan hubungan negara dengan agama melalui ideologi bangsa yakni Pancasila. Sementara, lanjutnya, di Timur Tengah ada ribuan ulama, tiap bulan ratusan kitab diterbitkan, tapi karena tidak punya nasionalisme yang kuat, muncullah gerakan Negara Islam Suriah dan Irak seperti sekarang.

"Mari kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama menjadikan Islam rahmatan lil alamin bukan Islam yang marah, apalagi Islam yang tidak toleran. Jika ada yang mengajak bergabung dengan ISIS tolak dan segera lapor ke pihak berwenang," tegasnya.

Dalam workshop ini hadir sebagai pembicara Deputi I BNPT Agus Surya Bakti, Perwakilan Kemenag Hilmi Muhammadiyah, KPAI Asrorun Niam dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Prof. Dr. Bambang Pranowo.

PP IPNU dengan BNPT rencananya akan melakukan roadshow pencegahan ISIS di 7 wilayah yang masih dianggap subur gerakan radikal seperti Cirebon, Solo, Lamongan, Mataram, Banjarmasin dan Makassar. PP IPNU dalam kesempatan yang sama akan mendeklarasikan gerakan Pelajar Islam Nusantara (Pintar) di 7 wilayah tersebut. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Berita, Habib Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Rais Aam PBNU: Pengurus NU Ibarat Sopir

Kuningan, Haedar Nashir



Rais Aam PBNU KH Maruf Amin memberikan tamsil, pengurus NU ibarat sopir, sedangkan pemiliknya adalah para ulama. 

“Para ulama diharapkan membantu pengurus untuk kebesaran NU, bukan hanya isman (besar namanya semata), tapi juga haqiqatan (memang sungguh-sungguh besar),” kata Kiai Maruf pada Halaqah Alim Ulama se-Wilayah 3 Cirebon, Ciamis, dan Banjar di Pondok Pesantren Mursyidul Falah, Selasa (24/10).

Rais Aam PBNU: Pengurus NU Ibarat Sopir (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU: Pengurus NU Ibarat Sopir (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU: Pengurus NU Ibarat Sopir

Tugas utama ulama, menurut Kiai Maruf, selain persoalan agama tafaqquh fiddin, juga tugas masuliyah ummatiyah yaitu penguatan akidah, juga pemberdayaan ekonomi umat.

“NU itu ciri utamanya adalah fikrah, yaitu aswaja an-nahdliyyah. Kenapa harus ditambahkan an-nahdliyyah karena ada yang mengaku aswaja namun menolak akidah Asyariyah dan aswaja itu selain tawassuth (moderat) juga tathawwuriyah (dinamis), namun tetap bermanhaj (manhajiyah). NU bermadzhab qouli dan manhaji. Tidak tekstualis, juga tidak liberal tetapi manhajiyyan menurut madzahibul arbaah," urai Kiai Maruf..

Rais Aam mendorong jamaah dan pengurus NU untuk terus menerus melakukan dinamisasi pemikiran (tathwirul fikrah an-nahdliyyah), dengan mencari solusi atau jalan keluar keagamaan (makharij al-fiqhiyyah), salah satunya dalam mencari solusi kebangsaan (makharij al-wathaniyyah).

Haedar Nashir

“Dengan demikian cara berfikir NU itu solutif atau makharijiyyah (selalu mencari jalan keluar),” katanya.

Haedar Nashir

Selain fikrah, NU juga adalah harakah (gerakan) khususnya dalam rangka perbaikan umat (islahul ummah), salah satunya lewat pemberdayaan ekonomi umat dan perubahan sistem ekonomi nasional.

"Perlu gagasan tentang arus baru ekonomi Indonesia yang lebih mengedapankan penguatan ekonomi umat yang merata dan berkeadilan," tandas Kiai Maruf.(Das/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Senin, 04 Desember 2017

Buku Aswaja Terbitan PWNU Jatim Diminati Anak Muda NU

Jakarata, Haedar Nashir

Buku pedoman ahlusunnah wal jamaah yang diterbitkan oleh PWNU Jawa Timur ternyata cukup diminati oleh kalangan anak muda NU karena pembahasannya cocok dengan pola pikir mereka.

"Anak-anak muda juga banyak yang tertarik, karena buku saku setebal 62 halaman itu memang ditulis secara logis, misalnya, alasan tentang NU menganut empat madzhab," tutur H. Masyhudi Muhtar, sekretaris PWNU Jatim yang sekaligus penulis buku ini, Minggu.

Minggu, 03 Desember 2017

PMII Unusida Galang Dana Untuk Korban Asap

Sidoarjo, Haedar Nashir. Perjuangan sekitar 1,5 tahun pengurus komisariat PMII Lintang Songo Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) membuahkan hasil. Kepengurusan komisariat setempat dilantik oleh PC PMII Sidoarjo. Aksi solidaritas sosial dalam bentuk penggalangan dana untuk bencana asap yang digelar di alun-alun Sidoarjo, mengawali pelantikan, Ahad (25/10) pagi.

PMII Unusida Galang Dana Untuk Korban Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unusida Galang Dana Untuk Korban Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unusida Galang Dana Untuk Korban Asap

"Perjuangan untuk mendeklarasikan komisariat sangat berat, karena syarat mendirikan komisariat PMII harus beranggotakan 25 orang. Semoga komisariat Lintang Songo Unusida semakin berkembang, para kadernya menjadi punggawa-punggawa kampus, menjadi generasi muda yang berdedikasi untuk Islam Aswaja dan bangsa Indonesia," kata Ketua PMII Sidoarjo Gigin Anggi Zuarinsa.

Gigin menjelaskan, sebelum komisariat PMII Lintang Songo Unusida dilantik, deklarasi itu diawali dengan mapaba yang digelar pada tanggal 23-25 Oktober di aula MWCNU Buduran Sidoarjo. Acara tersebut diikuti sedikitnya 31 peserta.

Haedar Nashir

"Selama mapaba, para peserta mendapatkan materi seputar Islam Nusantara (ke-Aaswajaan) oleh Listyono Santoso, nilai dasar pergerakan oleh Nur Sayyid Santoso Kristeva, ke-PMIIan oleh Gigin Anggi Zuarinsa, teknik persidangan oleh Rosya Megawati dan Bahrul Ulum, sejarah negara bangsa Indonesia oleh Yunita Qurrotul Aini serta antropologi oleh Rosya Megawati," jelas Gigin.

Selanjutnya para peserta mengikuti RTK pada siang hari, terakhir deklarasi dan pelantikan komisariat PMII Lintang Songo Unusida dilaksanakan di aula Kantor Dinas Pendidikan Sidoarjo pukul 20.00 WIB. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Saat khataman buku Khazanah Aswaja bersama Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Jombang di PP Al Muhsinin yang diasuh Habib Muhammad bin Salim Assegaf, Jumat (16/6).

Salah satu penulis buku, Khazanah Aswaja, Ustad Yusuf Suharto cerita pengalamannya bersama KH Soleh Qosim Sidoarjo. Pengurus LTM NU Pusat sekaligus Aswaja Center Jatim.

? ’’Saat mengenalkan kami para pengurus Aswaja Center yang muda-muda, Kiai Soleh Qosim selalu menyebut kami dengan panggilan kiai,” ujar Ust Yusuf pengurus Aswaja Center Jatim ini.

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Kita Harus Biasakan Panggil Gus untuk Kiai Muda?

Alumni Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini pun penasaran dengan hal itu.’’Saya lalu bertanya. Kami ini kan masih muda-muda, kok sudah dipanggil kiai," ujarnya bertanya.

Kiai Soleh Qosim kemudian menjawab enteng. “ Minhum (golongan diluar NU) itu hapal sedikit ayat dan hadist sudah dipanggil ustadz. Di kita itu antrenya jadi kiai kelamaan. Bahkan antrean disebut gus (panggilan kiai muda) untuk dipanggil kiai saja sangat panjang. Sampai-sampai ada gus yang walaupun sudah tua tetap tidak dipanggil kiai,” paparnya.?

Pertimbangan tersebut sangat masuk akal. Makanya Ustad Abbas Lc, ? yang juga pengurus Rijalul Ansor Jombang ketika memandu sesi berikutnya langsung memperkenalkan Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Jombang Gus Latif Malik Lc, sebagai Kiai Latif. ? Juga terhadap Ketua Rijalul Ansor Pusat, Gus Aam, diperkenalkan sebagai Kiai Sholahul Am Notobuwono.

Alasan lain memanggil gus terhadap kiai muda juga sudah sering kita dengar dikalangan Ansor. Seperti yang disampaikan Toni Syaifuddin, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kesamben yang juga salah satu pengurus PC GP Ansor Jombang. Saat memanggil pengurus yang lain, beliau selalu mengawali dengan panggilan Gus.?

Haedar Nashir

“Gus itu adanya hanya di NU. Kalau bukan kita yang mengakrabkan panggilan itu, lalu siapa lagi?,” ujarnya saat ditanya alas an memanggil Gus pada pengurus Ansor.?

Haedar Nashir

"Jadi memanggil Gus untuk kiai muda itu merupakan salah satu cara syiar ke-NU-an,” jelasnya enteng. (Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Kajian, Berita Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Para tokoh atau ilmuwan yang berhasil “mengubah dunia” tidak hanya terlahir dari negara-negara Barat, dan bukan hanya berasal dari orang-orang non-Muslim. Beberapa ilmuwan yang berhasil meninggalkan temuan-temuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia juga berasal dari orang-orang Islam. Ketika kita membuka kembali lembaran sejarah tentang kemajuan umat Islam klasik, di sana kita akan menemukan bahwa Kota Baghdad merupakan pusat segala ilmu yang dinahkodai oleh orang-orang Islam, beberapa ilmuwan Muslim muncul dan meninggalkan beberapa karya. Akan tetapi, pada tahun 1258 Bangsa Mongol menyerang Baghdad, memporak-porandakan segala penjuru Kota Baghdad, perpustakaan dibakar, karya-karya ilmuwan Muslim yang dihasilkan bertahun-tahun pun lenyap seketika, sebagian mereka bawa ke negara-negara Eropa untuk dipelajari. Sebelum peristiwa itu, Eropa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemajuan di dunia Islam.

Beberapa ilmuwan Muslim berikut karya-karya sangat penting untuk kita ketahui, selain menambah wawasan, hal ini juga dapat memacu semangat belajar kita, terutama generasi muda. Ada beberapa penulis yang mengarsipkan beberapa hasil temuan para ilmuwan Muslim dalam sebuah buku, yang bisa dibaca dan dipelajari oleh beberapa kalangan, akan tetapi terkadang tidak dapat dipahami oleh anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Lain halnya dengan buku yang satu ini, buku ini memang didesain dan dirancang khusus untuk anak-anak Muslim. Di dalamnya disertakan aneka macam gambar dengan format full color, sehingga menambah gairah si kecil untuk segera membaca.

Buku ini berisi riwayat hidup 25 tokoh ilmuwan Muslim berikut juga penemuannya dalam berbagai bidang, salah satunya adalah Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina, yang dikenal dengan Ibnu Sina dan di Barat disebut Avicenna. Ibnu Sina disebut-sebut sebagai gurunya para dokter lewat karyanya yang berjudul al-Qanun fi ath-Thibb, kitab ini memuat beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan segala ilmu kedokteran, saking mujarabnya kitab ini dijadikan rujukan dan dipelajari oleh semua dokter dunia. Pada awalnya, Ibnu Sina ditugaskan untuk mengobati penyakit yang diderita oleh salah satu pejabat di wilayahnya, sang pejabat itu sudah putus asa sebab tidak ada dokter yang bisa mengobatinya, hingga akhirnya Ibnu Sina diberikan kesempatan untuk mencoba mengobati sang pejabat, dan dengan caranya sendiri, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan penyakit pejabat itu. Dari peristiwa ini, keahlian Ibnu Sina dalam menyembuhkan penyakit menjadi terkenal, hingga suatu ketika beliau dipanggil untuk mengobati Gubernur Bukhara, Nuh bin Mansur yang sedang jatuh sakit, dan Ibnu Sina pun berhasil menyembuhkannya, atas jasanya beliau dilantik sebagai dokter istana dan diperkenankan untuk menggunakan perpustakaan kerajaan yang menyimpan berbagai karya, (halaman 72-74).

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenalkan Ilmuwan Muslim kepada Anak

Tidak menutup kemungkinan, ilmu-ilmu kodekteran yang kita pelajari saat ini—salah satunya—merupakan warisan dari sang Guru Dokter, sehingga dengan hal ini kita akan tahu bahwa mayoritas dokter yang ada di dunia ini—secara tidak langsung—berguru kepada orang Islam. Dan sayang sekali ketika kita dan generasi kita tidak tahu tentang hal yang luar biasa ini.

Selain Ibnu Sina yang terkenal dalam ilmu kedokteran, ada juga ilmuwan Muslim yang berhasil meninggalkan temuan yang sangat bermanfaat bagi seluruh manusia, yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, beliau berhasil menemukan angka “nol”. Sepintas memang terlihat sepele, akan tetapi coba kita bayangkan bagaimana kita bisa membuat angka puluhan, ratusan, ribuan, atau jutaan, tanpa adanya angka nol. Lewat buku pertamanya al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), al-Khawarizmi  memperkenalkan angka nol. Dengan diperkenalkannya angka nol, kesulitan bisa diatasi dan permasalahan pun berhasil dipecahkan, angka nol merupakan sumbangan tersebar dalam dunia “hitung-menghitung” (matematika). Dunia patut berterima kasih pada ilmuwan yang satu ini, karena dengan adanya angka nol, bilangan 217 dan 2017 berhasil dibedakan, (halaman 12-13).

Haedar Nashir

Generasi kita selayaknya tahu bahwa orang Islam itu tidak jumud, statis, dan apalagi bodoh, para ilmuwan yang berhasil mengubah dunia juga terlahir dari Islam, dan sebagian terkumpul dalam buku “Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia” ini, dengan bahasa yang sangat sederhana, padat, dan ringkas, Norwita Ariany menghadirkan buku ini khusus dibaca oleh anak-anak Muslim.

DATA BUKU

Judul : Ilmuwan Muslim Pengubah Dunia

Penulis : Norwita Ariany

Penerbit : Mizan

Haedar Nashir

Cetakan : -

ISBN : 978-602-2421-505-2

Tebal : 116 halaman

Peresensi: Saiful Fawaitm,  mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Berita, Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 18 November 2017

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

Damaskus, Haedar Nashir. Pada Senin (25/4) waktu setempat, KBRI Damaskus kembali melakukan repatriasi WNI gelombang ke-274. Sebanyak 41 WNI dipulang ke Indonesia lewat Bandara Internasional Damaskus setelah diselesaikan segala permasalahannya. 

Para WNI yang direpatriasi tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Barat, sisanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan NTB. Jumlah repatriasi gelombang 274 ini merupakan yang terbanyak sejak tahun lalu. Repatriasi kali ini didampingi oleh staf KBRI Damaskus, Mohammad Zubair Moehdir.

Berikut daftar nama repatrian:

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

1. Aisah Bt Oman Arobah, Purwakarta;

2. Anisah Emus Sumardi, Cimahi;

3. Artati Bt Ibrahim Mansirad, Pandeglang;

Haedar Nashir

4. Asmawati Bt, Masiyung Wanto, Sumbawa NTB;

Haedar Nashir

5. Casih Bt Waan Mali, Subang;

6. Dede Rosita Enen, Cianjur;

7. Een Kirman Jai, Purwakarta; 

8. Itoh Masitoh Bt Sari Aleh, Bandung;

9. Juwita Bt Ali Arsad, Bima NTB;

10. Karsinah Binti Kardimah, Karawang;

11. Kartika Bt Jumantre Kasre, Lombok Tengah;

12. Krisnayanti Bt Cardiyah Kasmit, Indramayu; 

13. Kurnia Sari Kali Kajam, Indramayu;

14. Lena Maryana Asep Miftah, Sukabumi; 

15. Lia Bt Dulhawa Sangad, Tangerang Banten;

16. Meli Yulianti Bt Ikib Amat, Bandung;

17. Muhaenah Bt Ramin Sabit, Lampung Selatan;

18. Napisah Binti Saman, Carenang;

19. Nikmatur Rohmah Besuni, Malang;

20. Nunung Kurniawati Misar, Tambelang;

21. Nurhasiah Bt Ahmad Muhammad, Sumbawa;

22. Nurhayati Bt Badru Samsu, Sukabumi; 

23. Patimah Subki Sarhi, Sukabumi;

24. Rahmatia Bt Ibrahim Dede, Sumbawa NTB;

25. Rosita Binti Ramin, Tangerang, Banten;

26. Sari Bt Samid Samin, Tangerang, Banten;

27. Siti Asiyah Bt Muhammad Ali, Sumbawa NTB;

28. Siti Julaeha Bt Yayan Sarhindi, Cianjur;

29. Siti Patimah Bt Irah Suut, Bima Ntb;

30. Siti Rohmi Zuhdi Suyuti, Boyolali, Jateng;

31. Sumiyati Bt Rasma Daim, Indramayu;

32. Suniri Bt Rastal Amar, Cirebon;

33. Supriatin Bt Laksono Satram, Lumajang;

34. Tami Jumanah, Cirebon;

35. Tarwi Bt Cakra Kedung, Indramayu;

36. Tin Tin Bt Tarmedi Pepe, Cianjur;

37. Wenah Bt Rustam Taali, Subang;

38. Yanti Sinah Bt Amsir Ahim, Karawang;

39. Yatin Miyarso, Banjar Negara;

40. Yayah Bt Dudin Uu, Sukabumi;

41. Yuli Laelasari Bt Danu Sukar, Sumedang.

Saat ini shelter KBRI Damaskus masih terdapat sekitar 20 WNI korban perdagangan manusia yang sedang diperjuangkan hak dan kepulangannya. 

Duta Besar RI di Damaskus, Djoko Harjanto, yang turut melepas mereka di Bandara Internasional Damaskus menegaskan bahwa repatriasi TKW ini merupakan program yang telah berlangsung sejak tahun 2011 karena situasi keamanan di Suriah yang masih sangat mengkhawatirkan dan tidak mungkin kontrak kerjanya diperpanjang lagi. Karena kebijakan pemerintah RI untuk menghentikan secara permanen pengiriman tenaga kerja untuk sektor perorangan ke selururh negara di Timur Tengah. (Red-Zunus) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Kiai Haedar Nashir

Kamis, 16 November 2017

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Oleh M Alim Khoiri

Beberapa waktu yang lalu, Pondok Pesantren Urwatul Wutsqa (PPUW) yang terletak di Jombang, Jawa Timur sempat membuat heboh masyarakat akibat kebijakan kontroversialnya yang menerapkan hukuman cambuk untuk para santrinya yang melanggar peraturan. Seolah belum ‘kapok’, kini PPUW kembali membuat ulah kontroversial dengan menyebar stiker ajakan untuk melaksanakan shalat tiga waktu.

Tak ayal, stiker berukuran kecil tersebut langsung membuat gempar masyarakat. Dalam stiker tersebut tertulis keterangan bahwa shalat 3 waktu disebut shalat jama’. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan di waktu Dzuhur, kemudian Maghrib dan Isya’ dikerjakan di waktu Maghrib. Ketentuan tersebut di dalam fiqih sebetulnya bukanlah hal aneh. Yang menjadikan edaran stiker tersebut sedikit berbeda adalah adanya tambahan keterangan bahwa shalat jama’ bisa dilakukan meski tidak sedang dalama keadaan ‘safar’ (bepergian). Jadi, Pedagang kaki lima, petani atau tukang becak diperbolehkan melaksanakan shalat 3 waktu saja.

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Polemik Shalat Tiga Waktu

Di dalam hukum Islam atau yang lebih dikenal dengan istilah fiqh, shalat jama’ diakui keberadaan dan kebolehannya. Hampir semua fuqaha’ sepakat tentang itu. Namun, terkait dengan ‘illah (alasan) diberbolehkannya terdapat beberapa pandangan.

Haedar Nashir

Abdur Rahman al-Jaziri dalam al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, menyebutkan bahwa shalat jama’ hukumnya jawaz (boleh). Sedangkan sebabnya terdapat khilaf di antara para ulama. Ulama Malikiyah mengatakan bahwa sebab diperbolehkan menjama’ shalat antara lain; bepergian (baik jauh maupun dekat), sakit, hujan atau kondisi jalan yang penuh lumpur dan suasana gelap. Ulama Syafi’iyyah –sebagaimana dikutip Wahbah az-Zuhailiy–berpendapat bahwa illah (alasan dasar) shalat jama’ hanyalah safar (bepergian), hujan dan saat haji di Arafah dan Muzdalifah. Ulama Hanabilah menyebutkan bahwa shalat jama’ diberbolehkan ketika dalam keadaan safar thawil (bepergian jauh), sakit, sedang menyusui, tidak menemukan air atau debu untuk bersuci, tidak mengetahui masuk waktu shalat dan wanita yang sedang istihadlah. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menjama’ shalat kecuali pada saat di Arafah dan Muzdalifah.

Haedar Nashir

Dari berbagai pandangan ulama di atas, sementara dapat disimpulkan bahwa shalat jama’ atau bisa juga disebut “shalat tiga waktu” adalah legal dengan beberapa syarat tertentu. Permasalahan kemudian muncul, bagaimana jika shalat jama’ dilaksanakan dengan tanpa adanya udzur seperti yang telah disebutkan di atas? Saat bekerja, narik becak, sedang sibuk seminar atau kuliah misalnya. Dalam masalah ini, para ulama pun sebetulnya sudah melakukan kajian. Hasilnya, ternyata khilaf.

Polemik boleh-tidaknya jama’ shalat tanpa udzur ini bermula dari sebuah riwayat Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah pernah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar secara jama’ di Madinah padahal beliau tidak sedang ketakutan atau bepergian. Riwayat inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk? memperbolehkan jama’ shalat pada saat ada hajah muthlaq (semua keperluan) tetapi dengan syarat tidak menjadi kebiasaan. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Sirin, Rabi’ah, Ibnu Mundzir dan al-Qaffal.

Sedangkan sebagian ulama lainnya memahami riwayat tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Imam Nawawi misalnya, menyatakan bahwa saat itu boleh jadi Rasulullah sedang dalam keadaan sakit. Ada pula yang memahami bahwa jama’ yang dimaksud dalam riwayat di atas adalah adalah jama’ shuriy, yaitu menunda pelaksanaan shalat sampai pada batas akhir waktu kemudian melanjutkan shalat berikutnya di awal waktu. Sekilas shalat seperti ini mirip shalat jama’ pada umumnya, tetapi sebenarnya masing-masing shalat dikerjakan pada waktunya.

Kesimpulan terakhirnya, bahwa shalat tiga waktu dengan tetap menggunakan 17 raka’at adalah sah dengan beberapa syarat tertentu.? ? ?

*) M Alim Khoiri, Pengajar di STAIN Kediri Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Ulama, Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa, Berita Haedar Nashir

Kamis, 02 November 2017

Pemerintah Sebaiknya Segera Akui Kemerdekaan Kosovo

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyatakan sebaiknya pemerintah Indonesia segera mengakui kemerdekaan Kosovo dari Serbia agar masyarakat muslim di sana bisa hidup damai dan dapat membangun negerinya.

Kosovo diperintah oleh misi PBB sejak pertengahan 1999, ketika bom-bom Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menghalau pasukan Serbia yang setia pada almarhum Presiden Slobodan Milosevic yang melakukan penumpasan brutal terhadap etnik Albania yang mayoritas Muslim di Kosovo.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi juga menyatakan simpatinya atas kemerdekaan Kosovo yang dinilainya dapat mengatasi krisis kemanusiaan yang sudah terjadi selama satu dekade. PBNU juga akan mengundang para ulama Kosovo untuk mengikuti forum ICIS III Juli mendatang.

Pemerintah Sebaiknya Segera Akui Kemerdekaan Kosovo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Sebaiknya Segera Akui Kemerdekaan Kosovo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Sebaiknya Segera Akui Kemerdekaan Kosovo

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (18/2) menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih menunggu pembahasan di Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menentukan sikap atas kemerdekaan Kosovo.

"Kami masih terus memantau situasi yang berkembang, tidak hanya pemerintah pusat di Eropa namun juga sebagai anggota tidak tetap DK PBB," kata Presiden, merujuk pada deklarasi kemerdekaan Kosovo, yang ditanggapi dengan sikap pro dan kontra oleh dunia internasional.

Haedar Nashir

Sementara itu Menlu Hassan Wirajuda pernyataan tidak perlu tergesa-gesa ini jangan diartikan bahwa Pemerintah Indonesia menutup peluang untuk mengakui kemerdekaan Kosovo, karena pemerintah akan melihat Kosovo berdasarkan pengalaman dari lepasnya negara-negara bagian Yugoslavia lain seperti Slovenia, Bosnia, Kroasia, dan Montenegro.

"Kita melihat apakah pernyataan kemerdekaan itu akan menyelesaikan masalah, khususnya mengenai ketegangan atau konflik yang diharapkan tidak terjadi. Sejak awal kita mendorong penyelesaian kasus Kosovo dilakukan secara dialog dan negosiasi. Kita tidak inginkan ada konflik lain," katanya.

Haedar Nashir

Pakar politik dan peneliti dari LIPI, Dr Hermawan Sulistio, di Jakarta, Rabu, menyatakanbahwa Kosovo adalah isu ’ethno nationalism’, bukan agama. Agama dipakai hanya sebagai instrumen perjuangan, bukan tujuan.

Bagi Hermawasan Sulistio, Kosovo sudah ’de facto’. "Cepat atau lambat, kita harus akui," tambahnya. Karena itu, lanjutnya, Indonesia sebaiknya ambil momentum sebelum ’telat’.

"Percayalah, (sikap kita) tidak akan berpengaruh terhadap (keutuhan) NKRI, sejauh kita bisa adil untuk Papua dan provinsi lainnya di Nusantara," kata Hermawan Sulistio meyakinkan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Berita Haedar Nashir

Kamis, 26 Oktober 2017

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat menggelar kegiatan bertemakan “Tarawih Bersama MWC, Ranting dan Warga NU”.

Ahad (12/6) malam, Tarawih bersama ini dilaksanakan di Masjid Darul Falah Desa Rejing Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini disambut dengan sangat antusias oleh warga NU. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jamaah yang hadir di masjid yang kebetulan ditempati acara tersebut tidak seperti biasanya.?

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah mengatakan kegiatan ini diadakan dengan tujuan supaya ada silaturrahim antara pengurus MWCNU Tiris Barat dengan Pengurus Ranting NU dan warga NU, khususnya takmir masjid di setiap ranting yang ditempati.?

“Selain itu, supaya warga NU lebih faham tentang ibadah puasa yang mereka jalani, karena pada kegiatan ini juga diisi dengan ceramah dan dialog interaktif seputar Ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Tarawih,” katanya.?

Kegiatan ini dimulai dari sholat Isyak berjamaah dan dilanjutkan dengan sholat Tarawih yang dipimpin oleh tim Imam dari pengurus MWCNU Tiris Barat yang telah mendapat pelatihan Imam Tarawih.

Haedar Nashir

“Secara tidak langsung kegiatan ini juga memberi pelatihan dan penyeragaman pada warga NU, khususnya para imam Tarawih di setiap Ranting agar tidak terjadi sholat Tarawih yang prosesnya tidak sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Dengan kegiatan ini Imron mengharapkan secara umum agar warga NU merasa dekat dan merasa diurusi oleh pengurus NU ditingkat MWCNU, sehingga akan muncul rasa emosional dan simpati yang tinggi terhadap organisasi NU secara keseluruhan. “Agar warga NU bangga terhadap organisasinya sendiri karena merasa didekati oleh NU secara organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Nusantara Haedar Nashir

Senin, 23 Oktober 2017

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Jakarta, Haedar Nashir. Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 mengenai ketetapan Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 15 dengan langsung ditandatangani dan dibacakan oleh Presiden Joko Widodo harus dijadikan sebagai momentum yang sebaik-baiknya.

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Momentum yang sangat baik ini, membuat PW IPNU DKI Jakarta mendorong agar sejarah perjuangan para ulama dan santri juga bisa dimasukkan dalam mata pelajaran sejarah menjadi sebuah kurikulum pendidikan sekolah.

Ada beberapa alasan, menurut IPNU DKI Jakarta diantaranya sebagai berikut:?

Haedar Nashir

Pertama sejarah mencatat, dalam masa peperangan menegakkan kemerdekaan, ada sebanyak 20 Batalyon dari 64 Batalyon yang dipimpin oleh para kiai pesantren. Inilah peran besar kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan RI yang termotivasi dari fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945 (Haedar Nashir, 15/10).

Haedar Nashir

Kedua, resolusi jihad pada tanggal 22 oktober 1945, juga menjadi pemicu semangat santri dalam mempertahankan kemerdekan dan menginspirasi perlawanan para ulama serta santri melawan NICA pada tanggal 10 November.?

Ketiga, kontribusi santri dalam membentuk dan mempertahankan bangsa ini tidak bisa dilupakan begitu saja, peranan santri terhadap bangsa ini sangat ? lah besar. Meskipun pada akhirnya, setelah kemerdekaan peranan santri terus terlupakan. Apalagi pada masa orde baru, santri sangat dipinggirkan, tidak mendapat perhatian oleh pemerintah dianggap kaum yang marjinal, sangat dipinggirkan oleh pemerintahan orde baru.?

Keempat, setelah masa orde baru berakhir, memasuki masa reformasi Peranan ? para santri masih terus berlanjut dengan mempromosikan moderasi islam di tengah budaya dan etnik yang masif menciptakan perdamaian di negara ini.?

Oleh karena besarnya peranan santri dan ulama terhadap bangsa ini, Pengurus PW IPNU DKI Jakarta mengusulkan kepada Kemendikbud RI agar sejarah perjuangan dan peranan ulama serta santri dimasukan kedalam kurikulum pendidikan pada mata pelajaran sejarah.?

Ketua IPNU DKI Jakarta, Muhammad Said mengatakan, sejarah perjuangan santri dan ulama banyak yang dikaburkan oleh sejarahwan, bahkan tidak masuk dalam buku pelajaran sejarah SD, SMP dan SMA. Seharusnya sejarah perjuangan santri bisa masuk kedalam pelajaran sejarah, agar para pelajar SMP dan SMA bisa mengambil hikmah dari sejarah tersebut.?

"Besar harapan kami, dari PW IPNU DKI Jakarta agar sejarah perjuangan santri dan peristiwa resolusi jihad NU bisa dimasukan ke dalam kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah," ucap Said.?

Sementara itu, Ketua Departemen Kaderisasi IPNU DKI Jakarta, Adam menuturkan, dengan memasukan sejarah perjuangan santri ke dalam kurikulum, maka pelajar-pelajar Indonesia bisa menjadi pelajar yang mempunyai jiwa kepahlawanan tinggi dan kecintaan yang sangat dalam terhadap negara ini.

“Sebagaimana para santri, sehingga menjadi aset negara yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa," ujar Adam. (Kowi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Amalan Haedar Nashir

Sabtu, 21 Oktober 2017

Saran Guru Besar Belanda untuk NU

Jombang, Haedar Nashir. Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) tidak saja memanggil warganya sendiri hingga media massa untuk hadir di Jombang, Jawa Timur, tempat kelahiran Presiden ke - 4 RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Sejumlah akademisi dan pengamat dari luar negeri juga hadir dan membaur dengan warga NU, salah satunya Guru Besar Studi Kurdi Universitas Utrecht, Belanda, Martin van Bruinessen.

Saran Guru Besar Belanda untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Saran Guru Besar Belanda untuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Saran Guru Besar Belanda untuk NU

"NU harus mempunyai strategi jika ingin benar-benar kembali kepada khittah," ujar Martin yang mengaku telah mengamati beberapa kali perhelatan lima tahunan NU atau muktamar berlangsung, di Jombang,, Rabu (5/8).

Dalam praktiknya, di mana pun tempat dan organisasinya, kata Professor Studi Kurdi di Freie Universität (Universitas Bebas) Berlin (1996-1997) itu menambahkan, para peserta yang mengikuti setiap kegiatan berlokasi jauh seringkali berharap mendapat imbalan.

Haedar Nashir

"Sebagai organisasi besar, NU seharusnya bisa mengambil iuran anggotanya secara sistematis dan mengelolanya secara transparan," kata Dosen tamu pascasarjana di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1991-1993) itu pula.

Haedar Nashir

Tetapi sebagai konsekuensi logis atas hal itu, ujar dia pula, NU akan memerlukan badan yang menjalankan transparansi.

Pendiri International Institute of the Study of Islam in Modern World (ISIM) itu mengandaikan, kalau orang dari Sulawesi Utara datang ke Jombang, apa mungkin swadaya atau mungkin harus ditolong oleh sponsor?

Martin yang menjadi konsultan metode penelitian di LIPI pada 1986-1990 itu lalu menambahkan, dana diperoleh NU dari anggotanya atau sponsor bisa dipakai untuk menjamin transportasi sehingga bisa membantu wakil cabang peserta datang ke muktamar.

"Dalam hal ekonomi, pola semacam itu bisa membantu," demikian Martin van Bruinessen, penulis buku "Kitab Kuing: Pesantren dan Tarekat" itu. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 06 Oktober 2017

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Gembong, Haedar Nashir. Pada hari Jum’at sampai Ahad (24-26 Maret 2017) Yayasan Bani Karim, Yayasan Al-Ma’arif Gembong, dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro Gembong Pati mengadakan peringatan Haul ke-33 Mbah Muhammad Karim. Kegiatan Haul Mbah Karim dipusatkan di Ponpes Shofa Azzahro Gembong. Diawali dengan khataman Qur’an bil-ghoib, bin-nadhor, pawai atau karnaval mengelingi Desa Gembong, tahlil umum di makam Mbah Karim, dan santunan anak yatim/piatu.

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong

Puncak dari kegiatan Haul Mbah Karim diisi dengan pengajian akbar oleh KH. Syarofuddin Qoimas dari Rembang Jawa Tengah, hadir pula Bupati Pati H. Haryanto, MM, M.Si, Ketua Tanfidziah PCNU Pati KH. Ali Munfaat, M.Pd, Ketua FKUB Dr. KH. Ahmad Khoiron, M.Pd, KH. Rusdi anggota DPRD Kabupaten Pati, Kapolsek Gembong, Koramil Gembong, Kepala Desa Gembong, dan para kiai, santri, wali santri, alumni, dan masyarakat Kecamatan Gembong sekitarnya.

Mbah Muhammad Karim sendiri adalah seorang kiai yang lahir sekitar tahun 1890an dan meninggal di tahun 1984. Sewaktu masih remaja, Karim muda nyantri di Piji Dawe Kudus yang diasuh oleh KH Shiddiq dan kemudian melanjutkan nyantri di kakeknya Mbah Sahal Mahfudz (mantan Rais Aam PBNU) yang bernama KH. Salam Kajen Margoyoso Pati. Kemudian setelah selesai mondok dan menikah, ia diamanahi untuk memimpin NU di Gembong Kab. Pati, sehingga beliau menjadi Ketua NU pertama di Gembong Kabupaten Pati.

Secara garis besar, terdapat tiga perjuangan inti dari Mbah Karim. Pertama seorang pejuang kemerdekaan, karena kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, rumah beliau menjadi saksi bagaimana para pejuang menjadikan kediaman Mbah Karim sebagai tempat transit dan menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan senjata. Atas hal itulah, akhirnya membuat nama Mbah Karim menjadi salah satu daftar orang yang dicari untuk ditangkap Belanda. Namun, menurut penuturan mantan santri Mbah Karim yang bernama Mbah Abdullah Gembong, bahwa berkali-kali Belanda mencoba menangkap Mbah Karim tetapi selalu gagal. Mbah Abdullah meyakini bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran karomah Mbah Karim yang memang sejak remaja sudah terbiasa tirakat dan puasa. Perjuangan itu pun terus berlanjut sampai pada masa penjajahan Jepang dan pemberontakan PKI 1965.

Haedar Nashir

Kedua, seorang pejuang pendidikan di Kecamatan Gembong Pati, lantaran surau yang dibangun pada tahun 1927 menjadi saksi bagaimana anak-anak dan remaja-remaja di Gembong di waktu itu bisa mendapatkan pendidikan mengaji, pendidikan shalat, sampai pendidikan kanuragan. Bahkan dari surau sederhana itupun akhirnya berkembang di tahun 1971 bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang besar dengan nama Yayasan al-Ma’arif Gembong yang mengelola pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, MI, MTs, MA, SMK dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro yang sudah meluluskan ribuan murid dan santri.

Ketiga, seorang pejuang Islam dan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Gembong. Hidup Mbah Karim hampir seluruhnya dihabiskan untuk berjuang untuk mengembangkan Islam dan Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Gembong Pati. Sampai-sampai pada waktu itu, di zaman sebelum kemerdekaan dan awal-awal kemerdekaan beliau untuk dakwah di desa-desa pelosok di wilayah Gembong harus berangkat sore dan pulangnya menjelang subuh, mengingat ditempuh jalan kaki dengan medan yang berat. Perjuangan itu terus dijaga dan diistiqomahi sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1984.?

Kini, perjuangan Mbah Karim Gembong dilanjutkan oleh putra-putri beliau, menantu dan cucu-cucunya, di antaranya adalah seperti KH. Imam Shofwan putra kedua dari Mbah Karim adalah seorang muballigh, mantan anggota DPRD Fraksi PPP periode 1982-1987 Kabupaten Pati, mantan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pati tahun 2009-2014, dan sekarang adalah Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Putra ketiga, almarhum KH. Muhammad Sudirman mantan Ketua MUI Kecamatan Gembong, putra keempat KH. Nur Kholid mantan Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Margorejo Kab. Pati periode 2010-2015, putra kelima KH. Abdul Qohar Ketua Yayasan al-Ma’arif Gembong periode 2010-sampai sekarang, dan Kiai Sholikhin Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Gembong periode 2014-sampai sekarang. Ditambah lagi Nyai Hj. Fatimatuzzahro menantu beliau merupakan muballighoh ternama di Kabupaten Pati sekaligus Ketua Muslimat NU PAC Gembong dari tahun 1994-sampai sekarang, dan menantu lain Ibu Maria Ulfah adalah Ketua Fatayat PAC Kec. Gembong dari tahun 2006-sampai sekarang. Salah satu cucu dari Mbah Karim yang sudah bergerak di tengah-tengah masyarakat yaitu Faiz Aminuddin, MA Kaprodi PMI IPMAFA dan Sekretaris LTN NU Kabupaten Pati periode 2014-sampai sekarang.

Haedar Nashir

Untuk itulah, dengan diadakan Haul KH. Muhammad Karim yang ke-33 harapannya bisa tetap menghidupkan ajaran-ajaran dari beliau seperti nilai-nilai keikhlasan dan kedermawanan beliau, sekaligus dapat memberikan spirit dan juga inspirasi kepada keluarga, santri, serta masyarakat untuk bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan yang pernah beliau rintis. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Berita Haedar Nashir