Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Nilai Mulia Ulama Terletak pada Kearifannya

Pamekasan, Haedar Nashir. Nilai mulia ulama terletak di kearifannya dalam menyikapi ragam persoalan umat. Tanpa kearifan, seseorang yang dilekati label ulama akan kurang memberi banyak manfaat.

Demikian ditegaskan Pengasuh Pesantren Panempan Pamekasan KH Kholilurrahman saat menjadi penceramah dalam lailatul ijtima Ranting NU Tlagah, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Ahad (12/2) malam.

Nilai Mulia Ulama Terletak pada Kearifannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai Mulia Ulama Terletak pada Kearifannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai Mulia Ulama Terletak pada Kearifannya

Karenanya, Anggota DPR RI tersebut mengimbau kepada ulama dan kiai NU untuk tidak mudah terprovokasi dan memprovokasi isu-isu kebangsaan yang kurang mencerahkan. Langkah yang baik ialah fokus memberdayaan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, mantan Ketua PCNU Pamekasan ini menambahkan, NKRI harga mati untuk NU. Setuap gerakan yang berupaya merongrong NKRI harus dilawan dengan cerdas tanpa terpancing provokasi yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

"Kami berharap agar kegiatan semacam lailatul ijtimadirutinkan untuk menyampaikan ajaran keNUan guma membentengi Aswaja dari benturan orang-orang luar," tegasnya.

Haedar Nashir

Mantan Bupati Pamekasan ini menguraikan, NU mempunyai dasar-dasar yang mesti melekat dalam kehidupan nahdliyin. Yakni, tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan tawassuth (menengah).

Haedar Nashir

"NU harus juga mengusahakan pemberdayaan ekonomi umat. Karena ketika ekonomi sudah berdaya, kita akan makin lapang dalam berjuang," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Syariah, Tokoh Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Jakarta, Haedar Nashir. Katib Aam PBNU KH  Malik Madani menilai, peredaran uang suap untuk mendongkrak suara dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) sudah dalam kondisi menyedihkan. Praktik haram ini menjalar hampir di seluruh lapisan masyarakat.

”Di antara mudarat pilkada adalah rusaknya moralitas bangsa, termasuk masyarakat Nahdliyin karena money politic itu. Politik uang dianggap kewajaran. Padahal itu risywah siyasiyah, suap politik,” katanya, Rabu (20/2).

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Masyarakat dinilai telah mulai menganggap politik uang sebagai suatu kelaziman. Mereka cenderung acuh tak acuh terhadap dampak buruk dari sikap tersebut bagi dirinya dan masa depan daerahnya.

Haedar Nashir

Menurut Kiai Malik, politisi yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk usaha pemenangan pilkada sangat potensial berlaku korup ketika memimpin. Pasalnya, hampir tidak mungkin pengeluaran miliaran rupiah semasa kampanye akan dilunasi dengan gaji jabatannya.

”Belum lagi konflik horisontal yang terjadi di antara para pendukung masing-masing calon,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Kiai Malik menegaskan, uang suap untuk maksud dukungan pencalonan, meski diistilahkan dengan sedekah, tetap berstatus haram dan dilaknat menurut ajaran Islam. Umat Islam diimbau hati-hati dengan godaan ini, termasuk dengan upaya adu domba sejumlah pihak yang akan merusak kerukunan antarwarga.

Terkait dengan pilkada, PBNU melalui Musyawarah Nasional Alim Ulama di Cirebon 2012 lalu merekomendasikan penghapusan pemilihan langsung di tingkat daerah dan mengembalikannya ke tangan DPRD. Hal ini didasarkan pada asas preferensi mudarat terkecil di antara keduanya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Syariah, Habib Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan seputar shalat dua rakaat ketika masuk masjid atau yang dikenal dengan sebutan shalat tahiyyatul masjid. Pertama, apa makna shalat tahiyyatul masjid? Yang kedua, apabila kita masuk masjid kemudian duduk, apakah anjuran melakukan shalat tahiyyatul masjid gugur?

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Salam Penghormatan Kepada Sang Pemilik Masjid (1)

Ketiga, ketika kita masuk masjid mengingat waktunya begitu sempit kemudian kita langsung melakukan shalat qabliyyah, bolehkah kami menggabungkan niat shalat sunah qabliyyah dengan shalat tahiyyatul masjid. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ahmad Majid/Pekalongan)

Jawaban

Haedar Nashir

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami akan menjawab satu demi. Dalam kesempatan ini terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan pertama. Sedang untuk yang kedua dan ketiga akan kami jawab pada kesempatan berikutnya.

Menurut para ulama, hukum shalat tahiyatul masjid adalah sunah mu`akkad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Atsram dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ‘Berikanlah hak masjid. Lantas mereka bertanya, ‘apa yang menjadi hak masjid?’ Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk.’”

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang sangat dianjurkan karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Atsaram yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW (marfu`): ‘Berikanlah hak masjid. lantas mereka pun bertanya, apa yang menjadi hak masjid. Jawab beliau, ‘Shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk,’” (lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 313).

Seseorang yang menjalankan shalat tahiyyatul masjid sudah semestinya berniat mendekatkan diri kapada Allah (taqarrub). Sebab, apa yang dimaksud dengan tahiyyatul masjid pada dasarnya adalah memberikan salam penghormatan kepada Pemilik Masjid (tahiyyatu rabbil masjid) yaitu Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sudah semestinya ketika menjalankan shalat tersebut niat bertaqarrub kepada Allah swt bukan kepada masjid. Sebab, pengertian dari pernyataan; ‘tahiyyatul masjid’ adalah tahiyyatul rabbil masjid (salam kepada Pemilik masjid),” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, Hasyiyatud Dasuqi, juz I, halaman 313).

Berpijak dari sini dapat dipahami bahwa shalat tahiyyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilakukan seorang Muslim ketika masuk masjid sebelum duduk. Sebagai bentuk salam penghormatan kepada masjid, di mana salam penghormatan kepada masjid pada hakikatnya adalah salam penghormatan kepada Pemilik masjid, yaitu Allah swt.

Logika sederhana yang digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana orang yang masuk ke dalam istana raja. Maka yang dilakukan adalah memberikan salam atau penghormatan bukan kepada istananya tetapi kepada pemiliknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena ketika orang masuk istana raja, maka ia memberikan salam (penghormatan) kepada raja bukan kepada istananya,” (Lihat Muhammad ‘Arafah Ad-Dasuqi, juz I, halaman 313).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Syariah, Internasional Haedar Nashir

Minggu, 31 Desember 2017

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Jakarta, Haedar Nashir - Pelajar NU Lamongan merespon segera arahan pengurus Nahdlatul Ulama terkait pemutaran film Kalam-Kalam Langit. Mereka menggelar acara nonton bareng film bermuatan pendidikan itu. Mereka mencoba mengapresiasi produksi film yang mengangkat tradisi pesantren ke layar lebar.

Ketua IPNU Lamongan Muhlisin menjelaskan bahwa film ini sangat mendidik karena mengangkat budaya pendidikan pesantren yang selama ini menjadi cirri khas pendidikan warga NU. Tak hanya itu, film karya sutradara Tarmidzi Abka ini bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai-nilai Islam yang kuat serta nilai-nilai budaya yang ada di wilayah Lombok Barat.

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Film ini menceritakan seorang pemuda yang gigih dalam belajar memahami dan menghafalkan Al-Qur’an hingga mahir dalam qira’atul Qur’an. Hanya sayangnya niat itu ditentang oleh ayahnya yang selalu member peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam-kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren.

Haedar Nashir

Lebih menarik lagi film ini melibatkan KetuaUmum NU KH Said Aqil Siroj.

“Lewat nonton bareng ini kami ingin mengajak seluruh kader dan warga NU khususnya untuk ikut mengapresiasi film ini. Ini karya kader NU. Kalau tidak kita yang mengapresiasi, lalu siapa lagi?” pungkas Muhlisin. (Red Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Kyai, Budaya Haedar Nashir

Minggu, 24 Desember 2017

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan TV9 menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang publikasi pendidikan di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) LP Ma’arif NU Jatim, Waru, Sidoarjo, Senin (16/4).

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Penandatangan dilakukan bersamaan dengan acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW LP Ma’arif NU Jawa Timur. Mengawali kepengurusan baru masa khidmat 2013-2018, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Prof Dr H Abdul Haris berharap pengurus wilayah bisa meningkatkan citra pendidikan di lingkungan NU.

“Mulai sekarang setiap cabang Ma’arif (LP Ma’arif NU, red) bisa mengirim kegiatan unggulan dari berbagai jenjang pendidikan yang akan meningkatkan mutu dan citra sekolah Ma’arif, “ kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu dalam rilis yang diterima Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Di hadapan peserta Rakerwil, Direktur TV9 HA Hakim Jayli mengatakan, pihaknya memiliki visi yang sama dengan PW LP Ma’arif Jatim, yakni memajukan pendidikan NU. “LP Ma’arif NU Jawa Timur adalah lembaga pertama di lingkungan NU yang menjalin kerja sama dengan TV 9,“ katanya.

Haedar Nashir

Dia berharap kerja sama ini dapat saling memberi kontribusi besar bagi kedua belah pihak “LP Ma’arif mempunyai sumber daya yang besar dengan jumlah sekolah atau madarasah yang mencapai hampir 10 ribu sekolah dan TV9 memberikan fasilitas media televisi yang profesional sehingga mampu meningkatkan publikasi yang efektif dan layak jual,” Ujar Hakim. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

AssalamuAlaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail yang dirahmati Allah SWT, pernah suatu ketika kami shalat di salah satu masjid yang imamnya ketika selesai membaca surat pendek beliau langsung rukuk lalu kemudian nanti sang imam sudah pada posisi ruku’ baru melafalkan takbir, sehingga ada sebagian makmum yang kebetulan posisinya berada dibelakang sang imam sudah mengikuti gerakan sang imam walau imam belum melafalkan takbir.

Tentunya dengan demikian shalat kali ini sangat tidak kompak kelihatannya karena ada sebagian makmum yang mengikuti karena melihat gerakan dan ada yang mengikuti karena mendengar lafal takbir.

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

Yang ingin kami tanyakan adalah:

1. Bagaimana hukum melafalkan takbir dalam perpindahan gerakan dalam shalat?

2. Apa hukum memanjangkan atau memendekkan lafal takbir oleh imam dalam shalat?

Haedar Nashir

Demikian pertanyaan kami. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas jawabannya. Walaikumsalam wr. wb. (Zainal)

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Haedar Nashir

Saudaraku Zainal yang dimulyakan oleh Allah, beserta semua saudara Nahdliyyin dimanapun anda berada, pertanyaan seputar melafalkan takbir dan sistem pembacaannya merupakan pertanyaan yang sangat menarik, karena meskipun terkesan sepele, namun itulah fakta ibadah yang kita temui dalam keseharian kita.

Untuk menjawab pertanyaan saudaraku, Zainal, perlu kita bersama pahami terlebih dahulu tentang takbir yang mengiringi perpindahan gerakan shalat, atau yang biasa dikenal dengan takbir intiqâl.

Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam kitab Al-Bujairimi ‘ala al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz II, hal. 220 menyebutkan bahwa hukum takbir intiqal adalah sunnah muakkad:

? ? ? ? ? ? ?

“Bahwa takbir-takbir intiqâl itu telah disepakati oleh para ulama, sehingga kesunnahannya lebih kukuh (muakkad)”

Mengenai penempatan kapan kita melakukan takbir intiqâl, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 153

? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

“Takbir saat perpindahan gerakan:

Telah kita ketahui bahwasanya takbiratul ihram adalah rukun shalat, dimana shalat tidak akan sah tanpanya. Apabila seseorang sudah masuk dalam shalat dan telah melaksanakan takbiratul ihram, disunnahkan bagimu melafalkan takbir setiap kali perpindahan gerak. Kecuali saat bangun dari rukuk, maka yang disunnahkan adalah ucapan: “Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya, Ya Tuhanku, bagi-Mu segala puji”.” 

Pada saat melafalkan takbir tersebut, ada yang disunnahkan dengan dibarengi gerakan mengangkat keduatangan (raf’ul yadain), dan ada yang tidak. Tempat-tempat dimana kita disunnahkan mengangkat kedua tangan, dijelaskan olehSyekh Abdurrahman al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘alâ Madzâhib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), juz I, hal. 224.

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Syafiiyyah berkata, termasuk sunnah hay-ât adalah mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika hendak ruku, ketika berdiri dari ruku, dan ketika berdiri dari tasyahud awal.”

Selanjutnya, mengenai memanjangkan atau memendekkan bacaan takbir, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 131 menjelaskan: 

? ? ? ?: ….. (?) ? ? ? ? ?.

“Syarat sahnya takbiratul ihram ialah: .... membarengkan keseluruhan lafalnya dengan niat sebagaimana telah dituturkan sebelumnya”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa pada saat melakukan takbiratul ihram, kita disyaratkan untuk membarengkan pengucapannya dengan niat, dan tentunya dengan gerakan mengangkat kedua tangan. Untuk takbir intiqâl, disamakan dengan takbiratul ihram. Sehingga panjang ataupun pendeknya pembacaan disesuaikan dengan gerakannya agar berjalan berbarengan.

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Wallahu a’lam bi-shawâb. 

Wassalamu ‘alaikum warahatullahi wabarakatuh.

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB

Bogor, Haedar Nashir. Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB menyelenggarakan Aswaja Youth Camp (AYC) untuk para anggota baru di kampus Institut Pertanian Bogor. AYC merupakan salah satu acara inti dari rangkaian Isti’laul Qudrah (IQ) atau pengembangan diri dalam misi pengaderan KMNU IPB.

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB

Peserta terdiri dari mahasiswa baru IPB angkatan 52 dan mahasiswa IPB angkatan 51 yang belum mengikuti IQ tahun lalu. Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan yang digelar di ruang kuliah Fakultas Kedokteran Hewan, akhir pekan (27/9) itu. Penampilan hadrah KMNU menambah semarak acara tersebut.

Acara antara lain diisi dengan pemilihan ketua angkatan 52 KMNU IPB yang dimoderatori oleh ketua pelaksana yaitu Nurudin Zanki. Melalui musyawarah mufakat, terpilihlah Tajudin (putra) dan Ima (putri) sebagai ketua angkatan baru.

Haedar Nashir

Materi ke-NU-an menutup serangkaian acara Aswaja Youth Camp. M  Zimamul Adli sebagai pengisi materi tersebut memaparkan sejarah NU, makna lambang NU, sejarah KMNU Pusat, dan sejarah KMNU IPB.

“Saya dibesarkan di NU, tidak boleh ingin menjadi apa-apa, tapi harus siap menjadi apapun,” ujar Zimam dalam penyampaian materinya mengutip pesan dari Gus Dur. Acara ditutup dengan do’a dan sholawat dengan memohon keberkahan dalam setiap langkah perjuangan KMNU IPB.

Haedar Nashir

Sebelumnya anak-anak binaan tim pengabdian KMNU IPB menampilkan pentas seni dengan menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” diiringi dengan pembacaan puisi. (Iqbal Muzakki/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Kajian Islam, Kajian Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan

Mojokerto, Haedar Nashir

Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) angkatan ke II tahun akademik 2015-2016 digelar di Hotel New Star Trawas Mojokerto, Jawa Timur, mulai tanggal 15-17 Januari 2016.

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

LDKM Unusida Siapkan Calon Pemimpin Masa Depan

LDKM Unusida bertajuk "Mengokohkan Pemikiran Aswaja Mencetak Pemimpin Masa Depan" itu diikuti sekitar 214 peserta dari semua fakultas.

Menurut Presiden Mahasiswa Unusida Sofyan Pandu, LDKM tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya, LDKM tahun ini semuanya ditangani Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unusida bekerja sama dengan IPNU-IPPNU serta PK PMII Unusida. Sedangkan tahun lalu, pemateri LDKM adalah trainer profesional Star Obi.

Haedar Nashir

"Apa yang sudah panitia dapatkan di LDKM tahun lalu sangat bermanfaat sehingga di tahun ke II tidak perlu mendatangkan trainer profesional lagi," kata Pandu, Sabtu (16/1).

Haedar Nashir

Pandu menjelaskan bahwa pengalaman mengikuti LDKM tahun pertama memberi manfaat di LDKM tahun ini. Karena, panitia yang dulu merupakan peserta, sekarang jadi panitia dan mempu mengonsep acara yang tidak kalah dengan trainer profesional.

BEM Unusida, lanjut dia, menyiapkan materi yang sebagian besar berisi tentang tantangan masa depan pemimpin dan pemecahan masalah.Panitia juga menyiapkan perlengkapan dan peralatan outbond. Seminggu sebelum acara, mereka sudah merancang dan membuat alat-alat untuk kebutuhan acara. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Surabaya, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surabaya menyampaikan keperihatinan mendalam atas tindakan biadab militer Israel dengan membombardir Jalur Gaza yang menewaskan puluhan warga sipil Palestina.

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Israel, PMII Surabaya Ingatkan Pernyataan Soekarno soal Palestina

Sebagai bentuk protes dan keperihatinan, ratusan kader PMII dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, Jumat (11/72014) malam, menggelar aksi damai dengan menjalankan salat ghaib dan membakar bendera Israel di depan Grahadi Surabaya.

"Kami mengutuk keras atas tindakan biadab militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Segera hentikan," ujar Ketua Umum PC PMII Kota Surabaya Ahmad Zairudin, dalam orasinya di hadapan kader PMII.

Haedar Nashir

Zairudin mengatakan, PMII Surabaya juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk ikut terlibat aktif dalam upaya menciptakan perdamaian dunia. Yakni dengan cara terus mendesak PBB untuk mengeluarkan resolusi damai serta menghentikan agresi militer zionis Israel terhadap bangsa Palestina.

Haedar Nashir

"Pemerintah harus menyerukan bahwa Israel adalah penjahat perang dan kemanusian. Jika pemerintah diam, kami yang akan turun ke jalan melakukan perjuangan," seru Zairudin.

Zairudin lalu menyitir pernyataan Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1962, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Selain itu, Zairudin juga meminta kepada semua tokoh masyarakat, terutama para ulama, untuk mendorong kaum muslimin melawan kedzaliman yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

Sejauh ini hingga lima hari agresi militer Israel di Jalur Gaza, sudah lebih 100 warga sipil Palestina meninggal. Mayoritas yang menjadi korban kebiadaban zionis Israel itu adalah para wanita dan anak-anak tak berdosa. Nyawa mereka melayang sia-sia dan ribuan orang terluka. (Abdul Hady JM/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Bandung, Haedar Nashir

Pengamat sepak bola M Kusnaeni menilai persaingan antar-kesebelasan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 dari tahun-tahun sebelumnya. Karena, tiap kesebelasan semakin berupaya mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya.

“Persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri,” ungkap pria yang akrab disapa Bung Kus itu di stadion Siliwangi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin sore (23/10).

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Ia menambahkan, kesenjangan kualitas antartim juga terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tim dari Jawa jauh lebih dominan dari tim luar Jawa.

Haedar Nashir

“Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang melawan tim relatif baru di Liga Santri, sepertinya tim itu kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Persaingan lebih ketat,” jelasnya.

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu itu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

Haedar Nashir

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Sholawat, Syariah Haedar Nashir

Senin, 20 November 2017

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengunjungi korban bencana gempa di Pidie Jaya, Senin, (9/1). Mereka menyerahkan bantuan yang diperuntukkan dalam bentuk pembangunan dua unit balai pengajian, yakni di Himmatul Fata, Dusun Masjid Gampung Teupin Peuraho, Kecamatan Meuredu dan Dayah Madinatuddiniyah Darul Muttaqin GP Menyangcut SP 3 Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.

Bendahara Umum PMII Ahmad Riduan Hasibuan mengatakan, bantuan ini diturunkan dalam rangka merespon musibah gempa Pidie Aceh. Hal ini merupakan bentuk hablum minan nas dan tanggung jawab sosial PMII kepada masyarakat.

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantuan Terkumpul, PB PMII Serahkan Kepada Korban Gempa di Pidie Jaya

"Bantuan yang dikumpulkan lewat berbagai sumbangan PMII se-Indonesia diharapkan bisa menjadi bagian dari dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dan menjadi bagian dari pembentukan karakter kaum muda Islam Indonesia,” kata Riduan.

Ia menambahkan, aktivitas mengaji, beristighotsah, dan belajar ilmu-ilmu keagamaan adalah cara PMII mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Bantuan ini merupakan sumbangan dari PMII se-Indonesia yang turut berpartisipasi dalam penggalang dana di daerah masing-masing. Bantuan dana terkumpul sebesar Rp 250.000.000 ini diserahkan langsung di lapangan. (Fauzan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Daerah, Syariah Haedar Nashir

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam. Ia dapat digunakan untuk agenda kebaikan, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula diarahkan untuk menusuk dan membinasakan nyawa orang. Memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya menusuk pedang ke perut orang. Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah.? ? ?

Maka dari itu, sejak dulu Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Andaikan dulu sudah ada medsos, kemungkinan besar Nabi juga meminta umatnya agar pandai menggunakan medsos. Gunakanlah untuk sesuatu yang bermanfaat dan jangan gunakan untuk pertikaian.

Dulu, sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari pernah bertanya kepada Rasul: Wahai Rasul siapakah muslim terbaik? Rasul menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannnya” (HR: al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Menjaga Kata di Media Sosial

Kedua hadis ini menunjukan betapa pentingnya menjaga lisan bagi Rasulullah. Bahkan standar kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan Iman diukur berdasarkan sejauh mana ia mampu menjaga lisannya. Dalam konteks bermedia sosial, tentu kualitas iman dan islam seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakan media: apakah untuk kebaikan atau keburukan.

? Status di media sosial, tentu seperti halnya kita bertutur kata sehari-hari. Mungkin pengaruh status yang kita ketik lebih besar ketimbang berbicara langsung. Karena pada saat bicara langsung pendengarnya sangat terbatas, sementara di media sosial siapapun dan dari belahan dunia manapun bisa membacanya.

Haedar Nashir

? Terkait pentingnya menjaga lisan, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar mengingatkan:? ?

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hendaklah setiap orang menjaga lisannya pada pembicaraan apapun, kecuali bila dipastikan? ada kemaslahatannya. Namun jika bimbang, antara meninggalkan dan mengucapkannya sama-sama ada maslahahnya, disunnahkan tetap diam (tidak berkata apapun). Sebab terkadang perkataan biasa bisa berimplikasi pada keharaman dan makruh. Bahkan hal seperti ini banyak terjadi.”

? ? ?

Masih dalam kitab al-Azkar, Imam al-Nawawi mengutip pernyataan Imam al-Syafi’i terkait pentingnya menjaga kata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apabila kalian hendak bicara, berpikirlah sebelumnya. Jika ada kemaslahatan pada ucapan tersebut, bicaralah. Andaikan kalian ragu, lebih baik tidak bicara sampai ditemukan kemaslahatannya”

Pikirlah sebelum bicara atau melontarkan kata di medsos. Timbang baik buruknya terlebih dahulu. Terkadang tidak semua pengetahuan dan informasi yang kita miliki mesti dipublikasikan. Adakalanya, informasi bagus tidak perlu disebarluaskan bila akan menganggu dan merusak ketenangan orang lain. Mari kita budayakan bermedia sosial yang sehat dan produktif. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Syariah Haedar Nashir

Rabu, 08 November 2017

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Oleh Muhammadun

Rabu, 24 Mei 2017, KH Maruf Amin mendapatkan gelar profesor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang. Ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek Dikti) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, yang menegaskan bahwa KH Ma‘ruf Amin diangkat sebagai professor dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Syariah di UIN Malang.

Sidang senat terbuka itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menristek Diktri Muhammad Natsir, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan lain sebagainya.

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Para kiai memang tidak lazim mendapatkan gelar professor, karena mereka memang tidak begitu memedulikan urusan teknis akademik. Kiai lebih sibuk dengan melayani umat. Walaupun kiai melakukan proses pengembaraan ilmu begitu panjang, tetapi itu dilakukan tanpa predikat dan ijazah formal. Mereka sibuk mengkhatamkan kitab, kalaupun mendapatkan ijazah itu ijazah sanad ilmu, bukan ijazah sebagaimana lazimnya dalam sekolah. Kalau soal ijazah sanad ilmu, itu menjadi perhatian sangat serius bagi kiai. Karena sanad ilmu yang mereka kaji harus sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Haedar Nashir

KH Ma’ruf Amin termasuk kiai dengan tradisi keilmuan klasik yang sangat mapan. Ia mewarisi etos generasi santri salaf (klasik) yang sibuk dengan mengkaji ilmu Islam yang termaktub dalam kitab kuning. Kajian dalam kitab kuningnya tidak berhenti dalam diskusi dan ngaji, tetapi diaktualisasikan (dan diamalkan) dalam membangun bangsa dan negara. Tak heran kemudian kalau KH Ma’ruf Amin sekarang menduduki posisi tertinggi dalam tradisi keulamaan, Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat. Dalam tradisi NU, kedudukan Rais Aam NU bukan amanah biasa, karena selain kedalaman ilmu pengetahuan, juga mempunyai posisi istimewa dalam spiritual.

Haedar Nashir

Gelar profesor, bagi seorang Rais Aam NU, hanyalah melengkapi kewibawaan semata. Karena posisi Rais Aam NU sama sekali tidak terkait dengan gelar akademik seorang kiai. Kalaupun perguruan tinggi memberikan gelar akademik, itu tugas perguruan tinggi untuk memberikan penghargaan sekaligus belajar dari tradisi keilmuan para Rais Aam NU. Tugas negara, melalui perguruan tingginya, untuk memberikan penghargaan itu, karena para kiai sudah menjalankan Tridarma perguruan tinggi dengan begitu tulus dan terbukti memberikan kontribusi besar dalam menjaga negara.

Gelar akademik yang disandang para kiai banyak didapatkan tanpa jenjang perkuliahan formal, karena kiai belajar dari pesantren ke pesantren. Pada masa orde lama, Bung Karno memberikan apresiasi tinggi kepada para kiai. Para kiai diminta mengajar di berbagai perguruan tinggi, walaupun mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Di antara kiai yang mendapatkan gelar professor adalah KH Anwar Musaddad, KH Saifuddin Zuhri, KH R Moh Adnan, KH Ali Yafi. Gelar professor yang mereka dapatkan dikarenakan keahlian yang sangat mumpuni dan kiprahnya yang besar bagi bangsa dan negara. Masih banyak kiai dengan kapasitas keilmuan yang lebih tinggi, tetapi tidak mau mendapatkan gelar akademik tersebut.

Semasa Orde Baru, para kiai “tersingkir” dari dunia kampus. Karena tidak mempunyai ijazah formal, kiai dikembalikan ke pesantren masing-masing. Banyak kiai dengan kapasitas ilmu yang tinggi, santrinya juga ribuan, tetapi Orde Baru lebih memilih gelar akademik untuk mengajar di kampus. Setinggi apapun ilmu yang dicapai, karena tidak memenuhi syarat formal ijazah, kiai tidak bisa mengajar di kampus. Makanya, semasa Orde Baru tidak ada kiai yang mendapatkan gelar kehormatan dalam akademik. Para kiai akhirnya sibuk mendidik santri di pesantren dan melayani umat. Mahasiswa harus datang ke pesantren kalau mau mendapatkan ilmu para kiai. Masa Orde Baru, ilmunya kiai tidak diserap di kampus.

Kiai dan pesantren di masa Orde Baru menjadi kelompok yang termarginalkan, karena kiai dan pesantrennya tidak mau tunduk dalam politik Orde Baru. Orde Baru memangkas gerak langkah kiai dan pesantren, karena disinyalir sebagai bagian dari kekuasaan Orde Lama. Kiai NU dan pesantrennya memang mengalami masa “mesra” bersama Bung Karno, walaupun tetap kritis terhadap kepemimpinan negara. Banyak sekali contoh kritisnya para kiai dengan kebijakan Bung Karno, seperti pembentukan DPR-GR tanpa pemilu, kebijakan terkait PKI, dan kebijakan politik luar negerinya terkait dunia Islam. Tetapi bagaimanapun sikap kritis itu dilancarkan, para kiai selalu teguh menjaga NKRI dari ancaman apapun.

Pada masa Reformasi, ketika peta politik nasional mengalami pergeseran, posisi kiai dalam dunia akademik mendapatkan tempat baru. Tidak sedikit para kiai yang dikenal tinggi kapasitas keilmuannya kemudian mendapatkan gelar kehormatan doktor dan professor. Di antaranya KH MA Sahal Mahfudh, KH A Mustofa Bisri, KH Ahmad Hasyim Muzadi, KH Sholahuddin Wahid, dan KH Tholhah Hasan. Sedangkan yang mendapatkan gelar professor adalah KH Said Aqil Siroj dan KH Ma’ruf Amin.

Gelar yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya adalah adalah bukti bahwa negara kembali hadir memberikan pengakuannya terhadap khazanah keilmuan yang berkembang di pesantren. Pengakuan negara ini sangat penting, bukan untuk kalangan pesantren, tetapi untuk masa depan negara itu sendiri. Karena pesantren sepanjang sejarah negeri ini terbukti memberikan kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa.

Diakui atau tidak diakui negara, pesantren tetap menyelenggarakan pendidikan yang khas, sesuai dengan karakternya. Kalau negara tidak mengakui, yang rugi negara sendiri, karena telah mengabaikan proses belajar anak bangsa. Pesantren juga memberikan beasiswa tidak sedikit kepada santrinya yang tidak mampu, karena biaya sama sekali tidak menjadi acuan dalam belajar di pesantren. Banyak santri yang mengabdi di pesantren, tanpa bekal biaya sepeserpun, mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama dengan lainnya. Para kiai tidak memedulikan anggaran dan bantuan dari negara, karena para kiai hanya fokus mengajar santri atau umat, tanpa peduli dengan urusan gaji.

Dokter Sutomo, salah satu pengagas Budi Utomo, melihat pesantren sebagai perguruan asli milik Nusantara ini. Dalam hal ini, Dokter Sutomo mengatakan.

“Pada zaman nenek saya, yaitu kira-kira pertengahan abad ke-19, pesantrenlah tempat perguruan kita yang asli. Karena belum terdesak oleh sekolah Gubernemen, pesantren ribuan jumlahnya. Pengaruh perguruan itu terhadap masyarakat kita, peradaban rakyat, tidak dapat diabaikan. Hubungan antara santri-santri dewasa (istilah sekarang mahasiswa dari universitas; di dalam pondok-pondok yang besar juga diajarkan ilmu lahir dan batin, yang di waktu ini jarang didapati di tanah air kita) erat sekali. Umpamanya, di waktu menanam dan menuai padi, di waktu ada kematian, di waktu bulan Puasa, hubungan yang erat itu nyata benar.”

Sutomo bahkan mengusulkan pesantren sebagai model pendidikan untuk Indonesia yang akan dilahirkan, walaupun usulannya ditolak. Sutomo memilih pesantren dengan beberapa alasan, yakni dalam dunia pesantren ada hubungan akrab dan intens antara santri dan kiai; lulusannya ternyata mampu masuk dalam dunia lapangan pekerjaan secara merdeka; kehidupan kiai yang sederhana; dan? model pendidikannya berjalan duapuluh empat jam. Dokter Sutomo mengatakan.

“Pesantren dan pondoknya mempersatukan anak-anak muda kita dari segala lapisan masyarakat. Anak petani, anak saudagar, anak bangsawan berkumpul di dalam pondok itu. Keadaan lahir dan batinnya mendapat bimbingan yang sama dari guru sehingga pemuda-pemuda itu, yang di kemudian hari memegang pekerjaan yang beraneka warna di dalam masyarakat, merasa satu karena ikatan lahir dan batin yang telah diletakkan, ditanam di dalam pondok dan pesantren itu. Sikap hidup bangsa kita di waktu itu, dari lapisan mana pun, tidaklah terpecah belah, terpisah satu sama lain seperti sekarang.”

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin memang patut diapresiasi. Tetapi, kalangan pesantren harus tetap mengalir sebagaimana aslinya. Jangan sampai gelar-gelar akademik yang didapatkan para kiainya justru menjadikan pesantren keluar dari naluri dan keasliannya. Kalau itu terjadi, gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan para kiai lainnya justru merusak masa depan keilmuan di pesantren.

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya juga bukan untuk mematikan daya kritis pesantren. Kalau negara melenceng, para kiai harus kritis terhadap para penyelenggara negara. Justru, para kiai harus berada di atas birokrasi kenegaraan sehingga tetap jernih dalam melihat setiap problem yang terjadi dalam penyelenggaraan negara. Para kiai harus tetap pada khittahnya: melayani umat, menjaga negara, dan teguh mengangkat harkat? dan martabat bangsa.

*) Santri di Masjid Zahrotun Wonocatur Banguntapan BantulDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Ulama, Syariah Haedar Nashir

Kamis, 26 Oktober 2017

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

Jakarta, Haedar Nashir. Dua ratus pendekar Ikatan Pencak Silat (IPS) Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa siap mengamankan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 14-17 September mendatang. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua PP Pagar Nusa Aizzuddin Abdurahman di kantor Pagar Nusa, gedung PBNU, Jakarta, Selasa (11/9).

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

“Kami akan menurunkan 200 pendekar. Mereka adalah pasukan inti yang akan mengamankan Munas dan Konbes,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Ketua Pagar Nusa yang biasa disapa Gus Aiz ini, pasukan inti berasal dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah Jawa Barat, ditambah Ansor dan Banser. 

Haedar Nashir

“Dan bisa dipastikan ada pasukan yang suka rela datang. Jadi, jumlahnya bisa lebih 200,” tambahnya. 

Sebenarnya, sambung Gus Aiz, 200 orang, tidak cukup untuk mengamankan acara sebesar Munas dan Konbes. “Tapi, saya mengharapkan, semoga berjalan lancar,” pungkasnya.  

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Budaya, Syariah Haedar Nashir

Jumat, 13 Oktober 2017

SMK Ma’arif NU Mantup Terapkan Computer Based Test pada Penilaian Akhir Semester

Lamongan, Haedar Nashir

Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil tahun pelajaran 2017/2018 sudah mulai dilaksanakan di SMK Ma’arif NU Mantup Lamongan. Kegiatan penilaian ini dilaksanakan selama 12 hari, mulai Senin 27 November hingga Senin 11 Desember 2017.





SMK Ma’arif NU Mantup Terapkan Computer Based Test pada Penilaian Akhir Semester (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Ma’arif NU Mantup Terapkan Computer Based Test pada Penilaian Akhir Semester (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Ma’arif NU Mantup Terapkan Computer Based Test pada Penilaian Akhir Semester

Sejumlah terobosan dilakukan SMK Ma’arif NU Mantup Lamongan dalam pelaksanaan penilaian semester kali ini, salah satunya adalah dengan digunakannya sistem Computer Based Test (CBT).

“Alhamdulillah tahap pertama yang sudah kita (kami, red) laksanakan untuk kelas XII kemarin berjalan dengan lancar, hari ini Senin (04/12) merupakan tahap kedua untuk kelas XI. Tahap terakhir tanggal 7-11 Desember untuk kelas X,” urai Mutmainah, Ketua Panitia sekaligus Waka Kurikulum.

Haedar Nashir

Ia menambahkan Penilaian Akhir Semester dengan sistem Computer Based Test  ini baru pertama kali ini dilaksanakan di tahun pelajaran 2017/2018 ini.





Haedar Nashir

"Sistem yang dipakai dalam PAS-CBT tersebut sama seperti Ujian Nasional Berbasis Komputer atau UNBK yang kita laksanakan pada UN tahun pelajaran 2016/2017 kemarin,” katanya.

 

Moh. Iwan Setiawan, Koordinator Proktor mengatakan PAS-CBT sebagai suatu inovasi sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital baik dalam proses, metode, dan evaluasi pembelajaran, sekaligus menyiapkan kelas XII agar tidak canggung lagi ketika mengikuti UNBK.

"Alhamdulillah peralatan yang kita miliki sangat mendukung untuk pelaksanaan PAS-CBT, sehingga tidak ada kendala yang berarti sampai saat ini,” ujar Iwan.

SMK Ma’arif NU Mantup memiliki empat kompetensi keahlian, yaitu Akuntansi, Adm. Perkantoran, Teknik Komputer dan Jaringan, dan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor.

Kepala SMK Ma’arif NU Mantup, Masheru mengatakan ada banyak manfaat dari diberlakukannya PAS-CBT. Diharapkan dengan sistem ini akan terwujud model evaluasi yang lebih obyektif, jujur, dan bertanggung jawab.  





"Hal tersebut terjadi karena siswa tidak bisa melakukan kecurangan. Siswa mengerjakan secara mandiri karena soalnya acak dan tidak sama tiap komputer," ucapnya.





Secara administrasi juga tercipta sistem evaluasi yang efektif dan efisien karena tidak lagi menggunakan kertas, dan hasilnya akan segera diketahui setelah ujian selesai.





"Dengan PAS-CBT ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran siswa dan siswi di SMK Ma’arif NU Mantup.” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Sejarah Haedar Nashir

Senin, 18 September 2017

Pelantikan dan Makesta Raya IPNU-IPPNU Kota Cirebon

Cirebon, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) kota Cirebon dilantik di kampus UNU II kota Cirebon, Sabtu (28/11). Usai pelantikan, pengurus baru segera mengadakan Makesta dengan 60 peserta lebih selama dua hari, Sabtu-Ahad (28-29/11). Peserta terdiri atas utusan anak cabang dan komisariat yang ada di sekolah.

Hadir pada pelantikan beberapa tamu undangan di antaranya utusan PW IPNU Jawa Barat, Rais Syuriyah kota Cirebon, PCNU kota Cirebon, Fatayat kota Cirebon, Muslimat kota Cirebon, IPNU-IPNU kabupaten Cirebon, dan para tamu undangan lainnya.

Pelantikan dan Makesta Raya IPNU-IPPNU Kota Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelantikan dan Makesta Raya IPNU-IPPNU Kota Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelantikan dan Makesta Raya IPNU-IPPNU Kota Cirebon

Ketua IPNU kota Cirebon Chanifuddin Fauzan yang biasa disapa Hanif terpilih untuk masa bakti 2015-2017.

Haedar Nashir

“Mudah-mudahan saya bisa mengemban amanat sebagai ketua IPNU pada masa sekarang dengan lebih baik dan lebih bertanggung jawab lagi. Juga mampu membawa nama IPNU dan lebih memperkenalkan IPNU di kalangan pelajar NU yanga ada di kota Cirebon ini,” kata Hanif.

Ketua pelaksana Nunung Nurjannah Jayastri berharap acara pelantikan dan Makesta ini bisa berjalan lancar tanpa halangan apapun. (Nurjanah/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 17 September 2017

Ramadhan di Piala Dunia Jadi Tantangan Pemain Muslim

Kairo, Haedar Nashir. Seiring dengan dibukanya pagelaran Piala Dunia 2014 di Brazil, beberapa kalangan melihat para bintang sepak bola Muslim dalam beberapa tim berbeda yang akan berlaga dalam bulan Ramadhan, yang pertama kali terjadi pada 1986.

Secara kebetulan, Piala Dunia tahun ini yang dimulai pada 12 Juni bersamaan dengan Ramadhan yang akan datang pada 27 Juni, sehingga menjadi dilemma bagi pemain bola Muslim. Bulan suci tersebut akan jatuh pada hari pertama putaran kedua pada 28 Juni.

Ramadhan di Piala Dunia Jadi Tantangan Pemain Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan di Piala Dunia Jadi Tantangan Pemain Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan di Piala Dunia Jadi Tantangan Pemain Muslim

Turnamen tersebut melibatkan partisipasi sejumlah besar pemain Muslim di berbagai tim negara Eropa dan Afrika yang mewakili enam negara mayoritas Muslim.

Haedar Nashir

Para bintang tersebut meliputi skuad Perancis, termasuk pemain Real Madrid Karim Benzema, pemain Liverpol Mamadou Sakho, bek Arsenal Bacary Sagna and pemain Newcastle Moussa Sissoko, semuanya Muslim.

Sementara itu, pemain Manchester City dan Liverpool, dua bersaudara dari Pantai Gading Yaya dan Kolo Toure, mantan striker Arsenal Gervinho dan gelandang Newcastle Cheick Tiote juga Muslim.

Haedar Nashir

Mayoritas kesebelasan Bosnia yang dipimpin oleh pemain Manchester City Edin Dzeko, juga Muslim.

Demikian pla pemain liga Premier Belgia duo Marouane Fellaini dan Moussa Dembele, pemain kunci Swiss Xherdan Shaqiri dan playmaker Arsenal dan timnas Germany Mesut Ozil, semuanya Muslim.

Algeria, Iran, dan Bosnia dan Herzegovina semuanya merupakan negara-negara Muslim yang timnya ikut bertanding dalam Piala Dunia 2014.

Di Rio de Janeiro, puasa hanya akan berlangsung selama 11 jam sehari, dibandingkan dengan 17-18 jam di bagian lain di dunia.

Ujian

Saat banyak pemain memutuskan untuk tidak berpuasa selama Ramadhan, beberapa pemain lainnya seperti Kolo Toure, menyatakan untuk menjalani puasa.

“Anda membutuhkan disiplin. Bagi saya, lima hari pertama merupakan hari yang sulit, tetapi setelah itu, tubuh anda akan menyesuaikan dan anda akan merasa bahagia,” kata Toure dalam sebuah wawancara tahun lalu yang dikutip Daily Mail.

“Anda membersihkan badan anda dan merasa lebih kuat setelah Ramadhan. Saya pikir, ini menakjubkan bagaimana Ramadhan dapat membuat anda sungguh kuat.”

“Saya telah menjalani Ramadhan selama setelah tahun-tahun saya di sepak bola. Sangat penting untuk makan makanan yang tepat karena anda dapat memperoleh tambahan makanan atau kekurangan dalam tubuh anda.”

“Juga penting untuk minum dengan baik. Anda harus sadar apa yang anda lakukan karena tubuh anda kehilangan sesuatu. Dengan bantuan dokter dan orang-orang di klub, kami mencoba untuk itu. Mereka memberi saya sesuatu yang dapat membantu menjadi lebih baik,” katanya. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 01 September 2017

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Dalam kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan satu pertanyaan dari saudara A. Riduwan dari Lampung yang belum sempat kami jawab di bulan Ramadhan lalu, yakni soal wakaf uang.

Pada dasarnya pengertian wakaf adalah menahan harta yang bisa diambil manfaaatnya dengan tetap kekalnya dzat harta itu sendiri dan? mantasharrufkan kemanfaatannya di jalan kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Konsekwensi dari hal ini adalah dzat harta-benda yang diwakafkan tidak boleh ditasharrufkan. Sebab yang ditasharrufkan adalah manfaatnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Kifayah al-Akhyar sebagai berikut;? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1? ?. 256

“Definisi wakaf menurut syara’ adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk mengambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dilarang untuk mentasaharrufkan dzatnya. Sedang mentasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt” (Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, tt, juz, 1, h. 256).

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Persoalannya bagaimana dengan wakaf uang? Dalam kasus ini setidaknya para ulama terbelah menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa bahwa wakaf uang (waqf an-nuqud) secara mutlak tidak diperbolehkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? ?? ?-? ? ? 2? ?. 362

“Adapun wakaf sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dengan melenyapkannya seperti emas, perak, makanan, dan minuman maka tidak boleh menurut mayoritas fuqaha. Yang dimaksud dengan emas dan perak adalah dinar dan dirham dan yang bukan dijadikan perhiasan”. (Syaikh Nizham dan para ulama India, al-Fatawa al-Hindiyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 362)

Haedar Nashir

Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa wakaf uang diperbolehkan. Hal sebagaimana pandangan Ibnu Syihab az-Zuhri yang memperbolehkan wakaf dinar sebagaimana dinukil al-Bukhari.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? 1417?/1997? ?. 20-21)

“Telah dinisbatkan pendapat yang mensahkan wakaf dinar kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dalam riwayat yang telah dinukil Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ia berkata, Ibnu Syihab az-Zuhri berkata mengenai seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah (mewakafkan). Ia pun memberikan uang tersebut kepada budak laki-lakinya yang menjadi pedagang. Maka si budak pun mengelola uang tersebut untuk berdagang dan menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miskin dan kerabat dekatnya. Lantas, apakah lelaki tersebut boleh memakan dari keuntungan seribu dinar tersebut jika ia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miksin? Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, ia tidak boleh memakan keuntungan dari seribu dinar tersebut” (Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Mushthafa al-‘Imadi al-Afandi al-Hanafi, Risalah fi Jawazi Waqf an-Nuqud, Bairut-Dar Ibn Hazm, cet ke-1, 1417 H/1997 M, h. 20-21).

Dengan mengacu kepada pendapat Ibnu Syihab az-Zuhri ini maka cara atau teknik mewakafkan uang adalah dengan menjadikannya sebagai modal usaha. Dan keuntungan yang diperoleh diberikan kepada mauquf ‘alaih atau pihak yang menerima manfaat dari harta wakaf.? ? ?

Haedar Nashir

Dari penjelasan singkat ini dapat dipahami bahwa wakaf uang termasuk bagian dari infak. Sebab, infak —sebagaimana telah dijelaskan— adalah menggunakan atau membelanjakan harta-benda untuk pelbagai kebaikan, seperti untuk pergi haji, umrah, menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dan lain sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah wakaf dengan pelbagai macamnya.

Sedang mengenai perbedaannya dengan zakat dan shadaqah hemat kami sudah sangat jelas sehingga tidak perlu diterangkan. Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat. Mohon maaf atas keterlambatan jawaban yang kami berikan. Dan jika anda punya harta-benda berlebih, segeralah diwakafkan karena itu termasuk shadaqah yang pahalanya selalu mengalir. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Syariah Haedar Nashir

Jumat, 28 Juli 2017

Dapat Akreditasi BAN-PT, UIM Gelar Syukuran

Makassar, Haedar Nashir. Universitas Islam Makassar mengadakan syukuran dengan dzikir bersama atas Akreditasi Institusi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) sebagai perguruan tinggi dengan predikat B. Syukuran berlangsung Sabtu 2 Mei 2015 tersebut dipusatkan di Auditorium Drs. KH. Muhyiddin Zain UIM.

Ribuan hadirin mengikuti lantunan dzikir yang dipimpin Sekretaris PWNU Sulawesi Selatan H. Masykur Yusuf. Sementara sujud syukur dipimpin Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH Muh. Sanusi Baco.

Dapat Akreditasi BAN-PT, UIM Gelar Syukuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Akreditasi BAN-PT, UIM Gelar Syukuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Akreditasi BAN-PT, UIM Gelar Syukuran

Rektor UIM Dr. Majdah M. Zain dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika atas doa dan kerja keras mereka sehingga salah satu universitas kebanggaan warga NU tersebut mendapat pengakuan dari BAN-PT.

Haedar Nashir

Dengan penuh rasa syukur, kata dia, sengaja melaksanakan dzikir bersama atau istighosah ini, sebagai bentuk rasa syukur UIM atas karunia Allah Swt yang telah memberikan kekuatan kepada seluruh komponen.

Ia menambahkan, capaian ini dipersembahkan kepada orang-orang yang telah berjasa dan mewakafkan dirinya, demi kemajuan UIM.

Haedar Nashir

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar Prof. Iskandar Idy mengatakan, bahwa kemajuan UIM tak lepas dari kepemimpinan Majdah selaku Rektor. Tentunya dibantu seluruh komponen UIM.

Iskandar Idy mengimbau kepada seluruh civitas akademika untuk saling bahu membahu membangun UIM dan penuh keikhlasan.

Sementara Anregurutta KH. Sanusi Baco dalam taushiahnya meminta kepada seluruh civitas akademika untuk tetap istiqomah mengurus UIM dengan penuh dedikasi dan keikhlasan.

Juga, sambung dia, seluruh civitas akademika senantiasa memperbesar harapannya dan memperkecil kecemasannya agar dalam mengarungi kehidupan, terkhusus mengabdi pada lembaga pendidikan, diwarnai dengan penuh rasa optimis.

Hadir pada kesempatan itu seluruh Pengurus Syuriyah Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Sulsel, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, Pejabat Struktural UIM, ribuan mahasiswa UIM dan ratusan anak yatim piatu binaan UIM. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Syariah, Berita Haedar Nashir

Senin, 03 Juli 2017

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

Tanah di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fauzain basah oleh sisa-sisa air siraman pohon di atasnya. Endapan airnya memberikan warna tanah lebih kuat dibanding tanah kering yang tidak menerima tetesan air. Demikian suasana hampir setiap sore MI Al-Fauzain di Pondok Pinang Timur kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.Rutinitas ini dilakukan hampir setiap hari oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Ustadz Imran Rosyid. Bendahara MI Al-Fauzain ini dengan telaten merawat sedikitnya tujuh tanaman yang memagari gedung MI Al-Fauzain.

Pengelola MI Al-Fauzain memandang anak-anak warga di kota besar manapun termasuk anak warga di ibu kota membutuhkan pendidikan agama yang cukup. Kecuali itu, pihak pengelola prihatin melihat anak-anak kota yang kalah oleh polusi transportasi dan industri kota besar.

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

“Anak-anak juga perlu oksigen yang cukup untuk perkembangan fisik dan otak mereka,” kata Wakil Kepala MI Al-Fauzain Iis Supriatin.

Madrasah Ibtidaiyah Al-Fauzain yang sejak 1958 mengalami perkembangannya sendiri seiring perubahan kota Jakarta yang begitu cepat. Warga di sekitar madrasah yang semakin berkurang tahun demi tahun karena tergusur pembangunan juga memengaruhi suasana madrasah. Posisi gedung sekolah kini diapit oleh dua gedung pencakar langit yang menjulang di bagian selatan. Sementara di sisi utaranya terdapat masjid dan beberapa rumah warga yang masih bertahan.

Haedar Nashir

Dengan lahan yang terbatas, pihak pengelola memanfaatkannya untuk lahan hijau. Para guru menanam antara lain pohon Melati Jepang, Belimbing, Pepaya, Jambu, Palem, Kamboja Bangkok. Sebagian diperoleh dari membeli. Sebagian lagi didapat dari bantuan relawan di luar madrasah.

Dari semua pohon itu, mereka lebih banyak menanam Mali-mali Pucuk Merah dengan nama latin Leea Rubra. Pucuk Merah ini dominan mengisi lorong sekolah dari mulai gerbang utama hingga gerbang sekolah. Daun tumbuhan perdu ini diyakini dapat menyembuhkan luka. Mereka membeli hampir semua tanaman itu.

Haedar Nashir

“Perawatannya mudah. Cukup dipupuk dan disiram,” ujar Kepala MI Al-Fauzain Ustadz Hasanuddin.

Berbagai upaya dilakukan pihak madrasah untuk menciptakan lingkungan yang sejuk, segar, dan bersih. Dengan menanam dan merawat pohon di lingkungan madrasah, para guru setempat memberikan teladan nyata yang layak dicontoh para murid. Wali murid sendiri bisa “belajar” bagaimana menciptakan lingkungan yang hijau di lingkungan rumah mereka.

“Kita ingin penghijauan. Polusi di Jakarta sudah terlalu parah,” kata Iis yang setiap harinya mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Selain menanam pohon, dewan guru memberlakukan “Jum’at bersih”. Para siswa dan guru mengawali belajar di hari Jum‘at dengan melakukan bersih-bersih. Mereka memungut sampah-sampah yang berserakan di kelas, halaman, dan lingkungan madrasah. Mereka mengumpulkannya ke dalam wadah sampah.

“Bagus untuk membiasakan tertib buang sampah di tempatnya dan bersih-bersih lingkungan,” kata Iis.

Lingkungan yang bersih dan sejuk ini menempatkan para murid dalam posisi nyaman beraktivitas, belajar, bermain, dan berolahraga. Tidak heran kalau murid-murid MI Al-Fauzain ini berhasil merebut juara III sepak bola yang melibatkan antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah sekelurahan Pondok Pinang pada 2014 lalu.

“Kita tidak punya lapangan besar. Sebenarnya lahan di sini tidak memadai untuk olahraga murid. Dengan lahan ala kadarnya, kita belikan mereka gawang sepak bola tiga tahun lalu,” ujar Hasanuddin.

Warga di sekitar madrasah semakin sedikit. Kehadiran gedung pecakar langit mengisoalasi termasuk ruang gerak madrasah. Sekarang sebuah gedung tengah dibangun yang rencananya untuk pemukiman bersusun, apartemen. Suara bising aktivitas proyek menggangu siang dan malam.

Di tengah kelahiran gedung-gedung itu, para guru madrasah ini terus berupaya menciptakan lingkungan bersih dan hijau untuk muridnya. Mereka tidak berhenti merawat pohon untuk asupan paru-paru anak-anak warga kota. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaNu, Syariah Haedar Nashir