Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung

Jakarta, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Nasional melakukan silaturahim ke kantor PBNU di Jakarta, Rabu (16/3). Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat organisasi dan melaporkan perkembangan KMNU.

Delegasi KMNU yang diwakili Hasan Bisri (Presidium Nasional 1), Laila Na’imatul Muthoharoh (Presidium Nasional 3) dan Achmad Mukhlis Hidayat (Departemen Nasional 5) langsung disambut Sekjen PBNU, Ir H Helmy Faishal Zaini beserta Wasekjen H Masduki Baidlawi.

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Akan Gelar Rakernas di Lampung

Dalam pertemuan itu, Helmy menyatakan dukungan dan apresiasi atas peran KMNU yang aktif melakukan kajian Islam ahlus sunnah wal jama’ah dan melestarikan kegiatan kultural NU di kampus. Lebih dari itu, di tengah pesatnya arus teknologi dan informasi seperti sekarang ini KMNU diharapkan mampu memberikan sumbangsih dalam menangkal masuknya penyebaran paham radikal dan dampak negatif teknologi terhadap masyarakat luas, khusus nya melalui media-media sosial yang ada.



Selain itu juga disinggung terkait rencana peningkatan kualitas mahasiswa NU di tingkat kampus dalam bentuk kaderisasi. Helmy menegaskan bahwa PBNU akan turut berperan aktif dalam kapabilitas KMNU. “Kami akan siapkan pemateri ahli yang siap mengisi agenda peningkatan wawasan Aswaja dan ke-NU-an teman-teman KMNU,” tegasnya.

Haedar Nashir



Dalam kesempatan ini juga disampaikan undangan atas kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ke-2 KMNU yang rencananya dilaksanakan awal April mendatang di Lampung. Menanggapi undangan tersebut, Sekjen PBNU menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir disebabkan ada agenda PBNU di Medan. Namun demikian, ia menyatakan akan mengirim delegasi PBNU di acara tersebut. Di akhir perbincangan, Helmy menyatakan bahwa PBNU siap mendukung dan membuka kesempatan KMNU untuk bekerja sama dalam mensukseskan program-program PBNU di waktu yang akan datang. (Laila/el Naomiy/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Rembang, Haedar Nashir. Badan Hisab Rukyah (BHR) Kementerian Agama dan Lajnah Falakiyah? Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Rembang akan mengadakan standarisasi waktu berbuka puasa bulan Ramadhan. Standarisasi itu dilakukan agar terjadi persamaan waktu berbuka di wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangi Masjid-masjid, LFNU Rembang Standarkan Waktu Berbuka

Hal itu dikatakan Ketua Pengurus Cabang LFNU Ali Muhiddin Senin (23/6).

Muhiddin mengatakan, cenderung mengabaikan pencocokan waktu menurut wilayahnya, sehingga mereka sering berbuka terlambat atau bahkan lebih awal.

Haedar Nashir

"Masyarakat kebanyakan tidak peduli dengan kondisi waktu setempat, dan terkadang lebih sering mencocokkan jam yang mereka miliki secara sembarangan, dan terkadang hanya mengira-ngira. Banyak juga masyarakat perkotaan dan pedesaan meggunakan pedoman jam televisi, padahal waktu yang ada di televisi merupakan wilayah Jakarta, ini harus diluruskan," katanya.

Haedar Nashir

Terkait hal ini, LFNU Rembang berencana akan mendatangi setiap masjid yang menjadi pusat di kecamatan, serta masjid yang menjadi pusat organisasi masyarakat (Ormas ) Islam. Tujuannya, membenarkan jam penunjuk waktu pada tempat-tempat vital yang kerap menjadi rujukkan masyarakat tersebut.

"Yang paling utama masjid Agung Kota Rembang. Pasalnya, masjid ini terkadang pengurusnya masih menggukanakan jam televisi. Padahal kita sudah memberikan jadwal shalat dan imsakiyah di masjid ini. Yang kedua masjid dan mushala yang menjadi pusat perhatian masyarakat di sembilan kecamatan, imbuhnya.

Rencananya, kata Muhiddin, media massa, cetak ataupun radio di Rembang juga tak luput dari proses standarisasi waktu ini. Pasalnya, sebagian media di Rembang, terutama radio masih menjadi acuan warga Rembang. (Ahmad Asmui/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Ubudiyah, Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jepara, Jawa Tengah, Hidayatun Nikmah menjadi wisudawan terbaik Universitas Islam NU (Unisnu) Jepara Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan IPK 3.77.

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu

Nikmah merampungkan studinya di Unisnu dalam waktu 5 tahun. Istri dari Chusni Maulana, Ketua IPNU Jepara 2011-2013, ini selama menjadi mahasiswa sudah berkhidmah di SD. Dari kecintaan berkhidmah di sekolah dasar ia pun menulis skripsi “Kontribusi Display Kelas Bagi Selera Belajar Siswa untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Islam”.

Usai wisuda, putri pasangan Muhammad dan Musni akan terus meneruskan khidmahnya di SD karena baginya mengajar anak-anak itu menyenangkan.

Ditanya resep menjadi teladan, ia pun menjawab, “Caranya dengan aktif di perkuliahan, organisasi, diskusi, sosialiasi dan terus berjuang untuk menggapai prestasi,” papar perempuan kelahiran Jepara 17 Agustus 1990.

Haedar Nashir

Menurut Nimmah, berorganisasi tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi. Justru dengan aktif di organisasi, katanya, hidup akan lebih dekat dengan kesuksesan dan keberkahan.

Haedar Nashir

Kepada kader NU pemilik motto hidup" isy kariman au mut syahidan" ini berpesan, hidup di dunia hanyalah sekadar mampir ngombe. “Maka abdikan dirimu untuk orang lain. Khoirun nas anfauhum linnas,” harap ketua IPPNU Jepara masa khidmah 2014-2016 tersebut.

Dalam kesempatan wisuda S1 dan S2 Unisnu yang berlangsung di Gedung Wanita Jepara, Kamis (30/4/15) ia memperoleh beasiswa pendidikan dari Unisnu, Bupati dan kursus gratis dari Jenggala Course. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Pertandingan, Ubudiyah Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Haedar Nashir - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

Haedar Nashir

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Haedar Nashir di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

Haedar Nashir

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Makam Haedar Nashir

Selasa, 23 Januari 2018

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan

Demak, Haedar Nashir. Organisasi yang baik dan profesional harus bisa menjalankan kaderisasi serta penataan manajemen yang baik. Kaderisasi sendiri harus berjalan di semua tingkatan dan diikuti oleh para pengurusnya.

“Syarat anggota ansor untuk bisa menjadi pengurus harus pernah mengikuti kaderisasi sesuai dengan tingkatannya masing masing,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Nusron Wahid dalam acara dialog dengan kader Ansor se Kabupaten Demak, Ahad (21/7) kemarin.

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Harus Berjalan di Semua Tingkatan

Disamping kaderisasi, Nusron Wahid menginstruksikan pada pengurus untuk melakukan pendataan ulang anggota dikarenakan nantinya diproyeksikan pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) untuk pengurus dan anggota secara keseluruhan yang berbasis asuransi.

Haedar Nashir

“Tiap anggota harus punya KTA, ini nanti dimulai dari pengurus dulu. KTA yang berbasis asuransi ini milik ansor nantinya dikelola oleh Ansor sendiri,” tegas Nusron.

Haedar Nashir

Sementara itu ketua Ansor Demak H.Abdurrahman Kasdi dalam sambutannya menjelaskan dalam pertemuan dengan ketua umum sengaja mengundang pengurus sampai pada anak cabang yang dibalut dengan forum tanya jawab dan buka bersama karena diharapkan pertemuan dengan Ketum bisa banyak yang didapat oleh anggota.

“Kami sengaja mengundang panjenengan semua sampai anak cabang, karena mumpung bisa ketemu dengan ketum, semoga banyak hal yang bisa kita dapat dari beliau termasuk informasi terkini dari pusat,” harap Durrahman Kasdi

Acara dialog dan buka bersama kemarin, selain dihadiri pengurus cabang, anak cabang, dan satkoryon banser juga dihadiri rektor Universitas Wahid Hasyim H Noor Achmad serta ? banyak alumni pengurus cabang.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Sunnah, Ubudiyah Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah

Pekalongan, Haedar Nashir. Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peran ulama dan umara (pemerintah) menjadi sebuah kesatuan penting dalam mewujudkan kehidupan yang ideal. Sudah semestinya, kedua elemen tersebut saling mengisi dalam perumusan berbagai kebijakan yang menyangkut kemaslahatan umat.

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekomendasi Ulama Penting untuk Kebijakan Pemerintah

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada pembukaan Muktamar XII Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri di Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (15/1).

"Saya senang ketika banyak insiatif dari para ulama untuk ikut berperan aktif. Kita menunggu rekomendasi dari para ulama sehingga dapat kita adopsi menjadi kebijakan yang penting," terang Ganjar.

Menurutnya, peran ulama juga dapat menjadi kontrol bagi kebijakan yang akan diambil maupun yang telah dibuat oleh pemerintah.

Haedar Nashir

"Kalau umara, kita membuat kebijakan ada dasar filosofis sosiologis yang bisa kita terapkan untuk kebaikan umat manusia. Tapi ketika dasar pengambilan itu tidak tepat, mungkin kebijakan keliru. Maka, peran ulama menjadi penting, ketika banyak insiatif yang dimunculkan," papar Ganjar.

Lebih lanjut dijelaskan Ganjar, dalam konteks formal nantinya perlu ada upaya dari pemerintah untuk melibatkan para ulama dalam proses perencanaan pembangunan. Harapannya, para ulama dapat memberikan masukan, serta mengontrol. Hal ini juga sebagai wujud perkawinan peran ulama dan umara menjadi satu untuk membentuk program bersama

Haedar Nashir

Ditambahkan Ganjar, Muktamar dan Halaqah ulama ini juga dapat menjadi momentum bagaimana menyikapi sebuah perubahan zaman, yang diiringi dengan kemajuan teknologi.

"Islam sebagai rahmatan lil alamin tentu banyak nilai formula tuntunan ajaran yang dapat kita ambil," kata dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Anti Hoax, Sunnah Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Kutupalong, Haedar Nashir - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan perkembangan terkini tentang praktik kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, yang berakibat pada eksodus etnis Rohingya ke Bangladesh.

Menurut PBB, sebagaimana dilansir AP, Kamis (7/9), sekitar 146.000 orang telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh sejak meletusnya kekerasan meletus di sana 25 Agustus.

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Jurubicara PBB Stephane Dujarric, Rabu, mengatakan bahwa Program Pangan Dunia meminta 11,3 juta dollar AS untuk membantu gelombang para pengungsi itu, juga mereka yang tengah tinggah di tenda-tenda pengungsian. PBB sudah menyediakan makanan untuk puluhan ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi.

Haedar Nashir

Eskalasi kekerasan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya belum berakhir menyusul tragedi penyerangan terhadap polisi di wilayah perbatasan dan aparat pemerintah lainnya sejak 25 Agustus. Pemerintah Myanmar menyebut militan Rohingya atau ARSA sebagai teroris Bengali.

Peristiwa Agustus itu memicu serangan balasan dari tentara Myanmar. Atas nama pemburuan para teroris, mereka menembaki warga sipil dan membakar ribuan rumah tinggal warga Rohingya. Situasi ini memperburuk keadaan dan memicu lebih dari seratus ribu warga melarikan diri dari tanah air mereka.

Haedar Nashir

Muslim Rohingya telah melarikan diri sejak serangan pemberontak terhadap polisi perbatasan dan pasukan pemerintah lainnya pada 25 Agustus memicu pembalasan oleh tentara Myanmar. Tentara dan polisi telah dituduh melakukan tembakan tanpa pandang bulu, namun pemerintah mengatakan pasukannya berusaha keras untuk tidak merugikan warga sipil yang tidak bersalah.

Dujarric juga mengatakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang "melanjutkan kontak diplomatiknya terkait dengan situasi di Myanmar." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Ubudiyah, Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

Sebagaimana tercatat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria pada masa pra-Islam yang terjebak dalam sebuah gua. Cerita dimulai ketika hujan turun dan mereka berteduh dalam gua di suatu gunung.

“Bleg!” Tiba-tiba saja sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung ketiga laki-laki tersebut. Mereka tak cukup tenaga untuk menggeser batu raksasa itu. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah berdoa.

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

“Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar,” kata salah seorang dari mereka.

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya.

Haedar Nashir

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku. Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”

Doa tersebut terkabulkan. Allah subhanahu wa Taala membuka celah lubang gua tersebut. Namun, satu pun dari mereka bertiga belum ada yang bisa keluar dari celah tersebut.

Haedar Nashir

Salah seorang dari mereka berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu. Lalu aku bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!”

Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua. Giliran seorang teman lagi yang berdiri lalu memanjatkan doa:

“Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, Berikanlah hakku! Namun aku tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata; Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain! Lalu aku berkata kepada orang tersebut, Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu! Orang tersebut menjawab, Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku! Kemudian aku katakan lagi kepadanya, Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka!

Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Hadits tersebut mengungkap pesan bahwa doa yang disertai tawasul melalui amal saleh memiliki faedah yang nyata. Memprioritaskan berbakti kepada kedua orang tua dibanding yang lain, keberanian untuk keluar dari godaan berat berbuat zina, dan kewajiban memenuhi hak buruh, sebagaimana dipaparkan dalam kisah tersebut adalah contoh dari sekian banyak kebajikan lain yang mampu menjadi “solusi” tatkala kita dalam situasi terdesak. Hanya saja, amal-amal baik apa pun tentu tak berarti apa-apa kecuali tujuan pokoknya hanya untuk mencari ridha Allah. WallĂ¢hu a‘lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Solo, Haedar Nashir. Setelah beberapa bulan dinanti, majalah Serambi Al-Muayyad kembali terbit. Majalah yang dikelola para santri pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo ini, akan diluncurkan saat peringatan haul KH Umar Abdul Mannan, Jumat (18/7) mendatang.

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)
Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Kepada Haedar Nashir, seorang redaktur Serambi Al-Muayyad Miftahul Abrori menuturkan, edisi keenam ini membahas hubungan antara tiga sesepuh sekaligus pendiri pesantren Al-Muayyad. Mereka ialah KH Abdul Mannan, KH Ahmad Umar dan KH Ahmad Shofawi.

“Salah satu penulis Muhammad Ishom mengangkat tulisan ini agar lebih banyak orang memahami hubungan para sesepuh. Sebab sebelumnya, kami sering ditanya perihal tersebut. Mereka yang bertanya tidak hanya dari kalangan internal pesantren Al-Muayyad, tetapi juga dari kalangan masyarakat luas,” terang Miftah.

Haedar Nashir

Redaksi Serambi Al-Muayyad kali ini, Miftah melanjutkan, menyajikan kisah inspiratif seseorang warga negara Indonesia dalam menjaga keimanannya selama tinggal di Negeri Paman Sam. Redaksi juga mengulas tema terkait Pilpres, Ramadhan, dan Piala Dunia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri, Ubudiyah, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Dua Tantangan NU Saat ini

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) Kabupaten Jepara Hindun Anisa mengatakan, sebagai organisasi, NU di era globalisasi ini menghadapi banyak tantangan. Di antaranya tantangan di bidang informasi dan Islam "radikal" dan "liberal".

“Website di internet banyak dikuasai oleh kelompok bukan NU,” katanya pada Sarasehan “Mengapa Harus NU?” yang dilaksanakan PAC IPNU-IPPNU Nalumsari di Kampus 2 SMK Terpadu Hadziqiyah desa Tritis kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Ahad (08/3).

Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tantangan NU Saat ini

Menurut dia, warga NU yang mengakses kaidah agama di internet akan bersinggungan dengan media-media non-NU sehingga sudah saatnya kiai dan santri melek internet.

Haedar Nashir

Tantangan kedua, lanjut perempuan yang sering disapa Neng Hindun, ini NU berhadapan dengan Islam radikal dan liberal.Paham keagamaan NU yang menganut konsep tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil) dan tasamuh (toleransi) itu yang membuat negara adikuasa tidak suka dengan kebesaran NU di Nusantara.

Haedar Nashir

Pantas saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 RI, tegas Neng Hindun, negara adikuasa itu tidak rela orang NU memimpin bangsa. Negeri penguasa itu, tidak pernah memuji Gus Dur namun terus-menerus menjelek-jelekkan putra KH Wahid Hasyim tersebut hingga lengser.

Segala macam cara dilakukan media Barat tersebut. “Mereka (Barat, red) membangun wacana, waktu itu Gus Dur ialah antek Amerika. Padahal saya meyakini kelompok radikal yang menjelek-jelekkan Gus Dur ini suruhan mereka,” sambungnya.

Ia juga menyebut NU mempunyai peran untuk merebut kemerdekaan. Sehingga? organisasi yang bermakna kebangkitan ulama ini bersiteguh untuk mempertahankan NKRI. Kelompok-kelompok yang hendak mengobok-obok eksistensi NKRI sama dengan berhadapan NU.

Misalnya saja Kongres Umat Islam Indonesia yang dilaksanakan di Yogyakarta belum lama ini merupakan contoh kelompok yang hendak mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan diganti dengan Islam.

Padahal pada Munas Alim Ulama 1983, lanjut istri KH Nuruddin Amin, itu cukup menegaskan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Karena itu, pembicara lain, Mustaqim Umar menyatakan menjadi orang NU harus bangga. “Tidak usah getun menjadi warga NU. Tunjukkan ke-NU-an kita. Kita harus yakin orang NU berkualitas,” terang Sekretaris LPNU Jepara.

Sebab, kata Mustaqim, NU sangat dihormati dunia dikenal sebagai penebar Islam rahmatan lil alamin. Diterimanya organisasi rahmatan lil alamin di mata dunia lantaran menggunakan pendekatan ala Indonesia.

Kegiatan yang diawali sambutan pengasuh Pesantren Hadziqiyah KH Chayatun Abdullah Hadziq. pada kesempatan itu ia mengatakan, jamiyyah NU yang didirikan KH Hasyim Asyari dan kiai-kiai lain merupakan organisasi untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari itu, ormas yang dilahirkan 1926 itu merupakan organisasi untuk menyelamatkan bangsa dan negara.

kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari pelajar dan delegasi Banom NU tersebut merupakan pamungkas rangkaian Harlah IPNU ke-61 dan IPPNU ke-60 dari 02 Februari hingga 08 Maret 2015 yang meliputi Ziarah, Karnaval, Bakti Sosial dan Santunan Yatama. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Ubudiyah, Daerah Haedar Nashir

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Setiap hari Jum’at-Ahad atau hari libur tanggal merah, suasana makam wali selalu dipenuhi oleh para peziarah dari penjuru kota di Indonesia. Bahkan bila datang bersamaan, tempat makam wali-wali itu hampir tidak muat menampung peziarah yang berombongan. 

Begitu pula halnya makam Syech Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan Raden Umar Said (Sunan Muria) selalu penuh sesak hingga harus ada yang menunggu di luar area makam. Suasana demikian tampak saat Haedar Nashir berziarah ke makam Sunaan Kudus, Jum’at malam (24/5).

Ketika Haedar Nashir baru masuk, ruangan makam sudah dipenuhi para peziarah. Dilihat dari logat bahasanya , mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Tasik, Pekalongan dan daerah Jawa timuran.

Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Tanpa menggunakan pengeras suara, mereka (peziarah) membaca  tahlilan, ada yang membaca Yasin dan berdo’a bersama dengan nada suara keras. Bagi yang rombongan, tahlilan dilakukan berjamaah dengan dipimpin seorang imam /kyai.

Saat Tahlilan sudah mulai berdzikir, terasa keindahan irama masing-masing rombongan yang  duduknya bersebelahan di ruangan makam Sunan Kudus.  Dzikir yang dilafadzkan intonasi iramanya berbeda-beda yang dibarengi kekhusukan geleng kepala kekanan dan kekiri.

Disatu  rombongan melafadzkan dengan intonasi ditekan dan putus putus seperti "Laa..ilaaha illallah", begitu pula rombongan lainnya bernada datar menggunakan irama seperti nyanyian. Yang jelas, dari beberapa rombongan yang dalam satu ruangan makam itu sangat berbeda-beda.

Haedar Nashir

Mendengar irama dzikir demikian, Haedar Nashir jadi teringat mauidhah hasanah Rois Am jamiyah Thariqoh al Mu’tabarah An nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfiy bin Yahya. Dalam berbagai pengajian, Habib asal pekalongan ini selalu menegaskan suasana makam walisongo merupakan cermin keindahan dari keberagamaan dan perbedaan ummat.

“Meski satu duduk bersebelahan dalam satu ruangangan  dengan  melafadzkan kalimat yang sama (dzikir) namun  iramanya berbeda,  tidak terjadi gesekan dan pergunjingan padahal mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda pula. Inilah pelajaran yang berharga  dari indahnya kehidupan berbangsa dan beragama,”kata Habib Lutfiy suatu ketika dalam acara pengajain umum di Kudus.

Haedar Nashir

Disamping itu, Walisongo ini memang mampu membawa keberkahan  segala aspek kehidupan mulai ekonomi, persaudaran dan kebersamaan. “Walisongo atau ulama yang sudah wafat memberkahi yang orang yang hidup,” tambah Habib singkat.

Dari apa yang disampaikan Habib ini memang benar. Bukan saja keberkahannya dalam berziarah tetapi dari irama dzikir para peziarah di makam sudah terasa keindahannya. Ketika kita di ruangan makam, terasa ada ketenangan dan keindahan meski penuh kebisingan irama dzikir para peziarah. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Ubudiyah Haedar Nashir

Selasa, 26 Desember 2017

PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis

Pariaman, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pariaman bekerjasama dengan Community Based Disaster Risk Management (CBDRMNU) selenggerakan pengobatan gratis di dua titik di Kota Pariaman, masing-masing di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai Kecamatan Pariaman Timur dan Kampung Perak Kecamatan Pariaman Tengah. Pengobatan gratis yang berlangsung Kamis (25/2/2010) mendapat sambutan meriah dari masyarakat di sekitarnya.



PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pariaman dan CBDRMNU Lakukan Pengobatan Gratis

Koordinator Lapangan CBDRMNU Ahmad Ghozi menyebutkan, pengobatan gratis ini diselenggarakan di empat titik. Masing-masing di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Desa Kajai, Kampung Perak, Toboh Palabah Kecamatan Pariaman Selatan dan Mangguang Pariaman Utara. Pengobatan gratis dilaksanakan selama 2 hari. Demikian dilaporkan Kontributor Haedar Nashir Bagindo Armaidi Tanjung di Padang.

Dikatakan Ghozi, pengobatan gratis ini dengan menurunkan tim media dr. Jati Satriyo dan dr. Eva? Rahmatun Nuzul. ”Pengobatan gratis ini merupakan yang ketiga kalinya setelah pasca gempa yang terjadi di Sumatera Barat. Pertama pengobatan gratis dilaksanakan beberapa hari setelah terjadinya gempa di Sumatera Barat. Lamanya kurang lebih 20 hari. Pengobatan kedua, sebulan? pasca gempa yang lamanya juga 20 hari,” kata Ghozi.

Haedar Nashir

Sekretaris PC NU Kota Pariaman M.Nur Tuanku Bagindo yang juga pimpinan Pesantren Nahdlatul Ulum mengatakan, masyarakat sangat antusias menerima layanan pengobatan gratis tersebut. ”Mereka yang berasal dari empat desa, Desa Kajai, Kaluat, Kampung Kandang dan Air Santok sudah antri sejak pagi,” kata M. Nur.

Kita berharap pengobatan gratis ini dapat dilanjutkan di masa mendatang. Sehingga masyarakat yang mengalami sakit dapat terbantu, kata M.Nur menambahkan. (bat)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Rumah Inaq Munah Hancur Diterjang Banjir Bandang

Mataram, Haedar Nashir. Rumah Inaq Munah di Dusun Panggungan, Desa Mandana Raya, Lombok Timur terbuat dari kayu lapis. Rumah sederhana itu pun dibangun dari hasil gotong royong warga satu dusun. 

Sehari-hari Inaq Munah yang usianya telah lebih dari 80 tahun, menjalani aktivitas di rumah kayunya itu. Meskipun sudah berusia lanjut, segala urusan hidupnya ia kerjakan sendiri. Hal itu lantaran Inaq Munah hidup sebatang kara, tanpa ada sanak keluarga. 

Rumah Inaq Munah Hancur Diterjang Banjir Bandang (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Inaq Munah Hancur Diterjang Banjir Bandang (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Inaq Munah Hancur Diterjang Banjir Bandang

Pertengahan November ini, setiap hari selama hampir satu minggu, hujan mengguyur Kabupaten Lombok Timur. Hujan berintensitas tinggi telah menyebabkan dua buah embung di bagian bawah dari Bendungan Pandandure meluap.

Akibatnya banjir bandang tak tercegah terjadi pada Sabtu (18/11). Buruknya drainase dan kerusakan ekosistem sungai juga memperparah banjir bandang hingga menerjang permukiman dan lahan di 15 desa di 4 kecamatan di Kabupaten Lombok Timur terkena dampaknya. Di antara desa yang paling parah adalah Desa Setungkeplingsar, Selebung Ketangge, Ketapang Raya, Ketangge Jeraeng, Batu Putik, Sepit, Senyiur, Mendana Raya, Batu Rampes, dan Bintang Oros.  

Rumah Inaq Munah tak ayal ikut terkena dampaknya. Rumah itu hancur berkeping-keping tergerus air banjir hingga rata dengan tanah. Beruntung ia masih bisa diselamatkan oleh warga.

Hancurnya rumah itu, menyebabkan Inaq Munah tak punya keluarga, juga harus kehilangan tempa berteduh. Untuk sementara ia mengungsi di rumah tetangga desa yang masih bisa dihuni.

Haedar Nashir

Menyadari hal tersebut NU Care-LAZISNU bekerjasama dengan PW LAZISNU NTB dan Panitia Munas Konbes NU 2017, berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk membantu pembangunan kembali rumah bagi Inaq Munah.

Penggalangan dana dilakukan di arena Munas Konbes NU 2017. Bagi masyarakat dan peserta Munas NU yang berminat menyalurkan bantuan dapat menyerahkannya pada saat menjelang penutupan Munas Konbes, Sabtu (25/11).

Pada penutupan Munas Konbes juga diagendakan penyerahan secara simbolis bantuan pembuatan rumah untuk Inaq Munah. (Kendi Setiawan)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Bandung, Haedar Nashir

Pengamat sepak bola M Kusnaeni menilai persaingan antar-kesebelasan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 dari tahun-tahun sebelumnya. Karena, tiap kesebelasan semakin berupaya mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya.

“Persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri,” ungkap pria yang akrab disapa Bung Kus itu di stadion Siliwangi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin sore (23/10).

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat Sepak Bola: Persaingan di LSN 2017 Lebih Ketat

Ia menambahkan, kesenjangan kualitas antartim juga terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tim dari Jawa jauh lebih dominan dari tim luar Jawa.

Haedar Nashir

“Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang melawan tim relatif baru di Liga Santri, sepertinya tim itu kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Persaingan lebih ketat,” jelasnya.

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu itu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

Haedar Nashir

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Sholawat, Syariah Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat TĂ¢ziyah atau shalawat TafrĂ®jiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-TashrĂ®fiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhĂ»l). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Cerita Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Magelang, Haedar Nashir

Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan tidak akan tertarik dengan gagasan pendirian Khilafah Islamiyah. Namun kalangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dipersilakan meneruskan agendanya asal tidak membawa-bawa nama NU. Demikian Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sa’id Aqil Siradj.

Dalam perjalanan sejarahnya, Rasulullah SAW juga tidak pernah mendirikan negara Islam. Justru di tengah masyarakat Madinah yang plural Rasulullah membuat kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Seluruh penduduk yang ada disamakan dalam hukum, aturan serta hak dan kewajibannya, meski mereka berbeda-beda dalam agama, suku dan rasnya.

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Pada masa sepeninggal Rasul, model pemerintahan yang dijalankan juga beda-beda. “Islam tidak memberikan ketentuan yang baku tentang sistem pemerintahan, yang penting pemimpinnya adil, jujur dan melayani masyarakatnya dengan baik, itu sudah cukup,” kata Said Agil menjelang acara haul KH Asrori Ahmad di Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran Magelang pada Rabu (22/8) malam lalu.

Menurut Kang Said (panggilan akrab Said Agil), dalam perjalanan panjang sejarah Islam selanjutnya, malah ditemukan berbagai jenis model pemerintahan, mulai dari khalifah, imarah, sampai kesultanan yang kebanyakan justru terjadi melalui pertumpahan darah sesama kaum muslimin. “Saya kok yakin, mereka itu tidak tahu sejarah Islam,” kata Kang Said menyindir..

Alumnus Universitas Ummul Qura’ Makkah itu memastikan bahwa menurut NU menilai gagasan dari kalangan HTI itu tidak masuk akal tersebut. Namun jika kalangan HTI bersikeras mengumumkan semangat khilafah, NU tidak akan menghalangi, asal tidak memanipulasi dukungan dari NU, apalagi sampai merebut aset-aset NU.

“Kalau sampai mereka merebut aset-aset NU, kita akan pertahankan dengan cara apapun, karena itu memang hak kita,” katanya, “Jika HTI sampai merebut aset-aset NU, maka posisi mereka tidak jauh beda dengan kelompok Mu’awiyah ketika berhadapan dengan pasukan Shahabat Ali bin Abi Thalib.”

Haedar Nashir

Meski sesama muslim, namun Shahabat Ali berani bertempur untuk mempertahankan haknya. “JIka seperti itu maka mereka telah bughat pada kita,” kata Kang Said, menirukan kalimat Ali kala itu menjelang perang. “Tapi itu langkah terakhir, kalau mereka memang memaksa, kita sudah siap,” tegasnya meyakinkan.

Kepada warga NU yang memadati setiap jengkal tanah pondok pesantren asuhan KH Said Asrori (Ketua PCNU Magelang) itu, Kang Said mengungkapkan, sebagian besar gerakan Islam radikal di seluruh dunia, ternyata atas dukungan Amerika Serikat. Negeri besar itulah yang mendanai dan mendidik mereka. Biasanya aliran dana besar itu dilewatkan negara-negara Arab, sehingga terasa seperti dari negara Arab. “Semoga kita tidak terjebak,” tandas Kang Said.(sbh)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Selasa, 31 Oktober 2017

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri!

Jakarta, Haedar Nashir?

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyeru tindakan main hakim sendiri harus dihentikan. LBH PP GP Ansor, di Jakarta, Rabu (9/8) menyikapi tindakan "main hakim sendiri" (eigenrechting/lynching) yang belakangan ini kian kerap menyasar anggota kelompok minoritas maupun individu-individu yang dituduh sebagai pelaku tindak kriminalitas.

Terlebih lagi yang dilakukan dengan cara kekerasan yang teramat keji dan tidak manusiawi. Maka LBH GP Ansor perlu menyampaikan seruan kepada legislatif, eksekutif, yudikatif, dan juga terutama kepada advokat dan paralegal LBH GP Ansor serta seluruh pengurus dan kader GP Ansor dan Banser, sebagai berikut:

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri! (Sumber Gambar : Nu Online)
LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri! (Sumber Gambar : Nu Online)

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri!

?

1. Fenomena tindakan main hakim sendiri di Indonesia tidak dapat dipandang remeh karena frekuensinya terbukti sangat tinggi. Sebagai gambaran, data terakhir Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SPNK) saja menunjukkan jumlah insiden main hakim sendiri di 34 Provinsi sepanjang Maret 2014 s.d. Maret 2015 sebanyak 4.723 insiden, dengan jumlah korban tewas 321 jiwa. Data tersebut ditambah dengan fakta-fakta brutalitas dalam insiden-insiden yang terjadi belakangan ini semestinya cukup untuk menyadarkan kita bersama bahwa tindakan main hakim sendiri ini adalah persoalan serius yang butuh penanganan segera;

Haedar Nashir

2. Tindakan main hakim sendiri hendaknya tidak dilihat semata-mata pelanggaran hukum sebagaimana pada umumnya. Tindakan main hakim sendiri yang kerap terjadi adalah ancaman serius terhadap sistem hukum itu sendiri, karena terus menggerogoti wibawa hukum dan aparat penegak hukum. Oleh karenanya, LBH GP Ansor mendorong lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk segera merespon dengan mengevaluasi dan merevisi norma hukum dan sanksi hukum, baik melalui legislasi maupun penemuan hukum (Rechtsvinding), guna semakin menimbulkan efek jera (detterent effect);

Haedar Nashir

3. Tindakan main hakim sendiri, terlebih yang melampaui batas dan yang tidak berperikemanusiaan, jika terus dibiarkan maka akan semakin merusak keadaban publik serta berpotensi menambah kerawanan sosial di masyarakat dalam bentuk konflik yg berkepanjangan. Oleh karenanya, warga negara yang patuh hukum seyogyanya mengambil peran lebih aktif dalam mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri dan timbulnya bibit-bibit konflik sosial. Dalam rangka itu, LBH PP GP Ansor menyerukan kepada khususnya seluruh Advokat dan Paralegal LBH GP Ansor, juga kepada seluruh pengurus dan kader GP Ansor dan Banser untuk secara pro-aktif menjadi mediator dan rekonsiliator konflik di masyarakat serta berkoordinasi dan bekerjasama dengan Kepolisian Republik Indonesia guna mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri demi mewujudkan keadaban publik;

?

"Demikian seruan ini kami sampaikan," ujar M. Alfarisi Fadjari dari LBH PP GP Ansor. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Pertandingan Haedar Nashir

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Banyuwangi, Haedar Nashir



Setelah beberapa hari lalu jajaran Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program LAZISNU yang bertajuk "Koin Bakti NU". Kini perwakilan pengurus LAZISNU MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan puluhan kaleng bersticker "Koin Bakti NU" atas bantuan IPNU-IPPNU tingkat kecamatan, di beberapa perwakilan pengurus inti MWC NU Kecamatan Banyuwangi, banom, lembaga dan puluhan Alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Senin (17/4).

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Pasalnya sebelum menggerakkan ? keterlibatan pengurus dan banom NU di ranah ranting, perlu jajaran pengurus di tingkat MWC untuk memberikan teladan melakukan ini.?

"Berawal dari pengurus sendiri, setelah itu baru pada ranah akar rumput yaitu pengurus dan anggota di tingkat ranting NU di Kecamatan Banyuwangi," terang Wakil Ketua Tanfidziyah Haikal Kafili.

Haikal menegaskan, program ini patut dilaksanakan sesegera mungkin supaya organisasi ini dapat lebih mandiri pada setiap pelaksanaan rencana kegiatan yang sedang dan akan dilakukan. "Hakikinya program ini dari umat untuk umat. Tak mungkin disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi," tegas Haikal.

Selain itu, berdasarkan pengalaman kendala-kendala tahun lalu, diantaranya adalah kurang istikomahnya pengurus LAZIS untuk turun ke bawah guna menariki kaleng yang telah disebar, sambung Haikal.

Haedar Nashir

"Karenanya butuh kerja sama antar banom khususnya IPNU dan IPPNU di tingkat kecamatan ? dalam hal penarikan. Selain, nanti juga akan dibantu oleh kader-kader alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Ini antisipasi permasalahan kurangnya ke-istikomah-an pengurus untuk turun ke bawah (turba)," tutur Haikal.

Ditambah masih ada permasalahan, katanya, yaitu kurangnya profesionalitas dalam mengelola keuangan yang telah terkumpul. "Karenanya kita tunjuk salah satu pengurus NU yang berprofesi di salah satu bank konvensional untuk membantu mengelolanya. Selain itu, kita juga bisa gabungkan sarjana-sarjana IPNU-IPPNU lulusan manajemen dan akuntansi. Insyaallah dengan ini, semua akan jauh lebih baik," yakinnya.

Begitu juga kita akan anggarkan dana untuk pembuatan laporan keuangan setiap bulan. Di mana laporan tersebut dilaporkan saat malam lailatul ijtima satu bulan sekali, katanya.

"Ini menambahkan akuntabilitas kinerja pengurus kepada setiap anggota. Supaya kita semua terbuka untuk saling percaya," tegasnya.

Haedar Nashir

Nanti ketika dana awal ini sudah terkumpul, terkait penggunaannya ? terbagi dua kategori. Pertama digunakan untuk kepentingan perjalanan program organisasi, jelas Haikal.

"Artinya, ketika lembaga atau banom akan melaksanakan kegiatan akan mendapatkan kucuran dana bantuan dari LAZIS sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZIS. Juga dapat digunakan sebagai bakti sosial, program beasiswa, dan pemberian dana untuk modal usaha bagi warga Nahdliyin yang kurang mampu," tuturnya.

Dan yang kedua, kata Haikal, dibutuhkan untuk kebutuhan administrasi antar lembaga dan banom, besarannya sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZISNU.?

"Karena administrasi tak kalah penting sebagai dokumentasi perjuangan," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Ubudiyah, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 22 Oktober 2017

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj atau yang akrab disapa Kiai Said mengatakan, budaya itu harus menjadi infrastruktur atau pondasi agama.?

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Dakwahkan Aswaja An Nahdliyah dengan Kegiatan Kemah Nasional

"Tanah air dulu yang kokoh, baru agamanya," kata Kiai Said mengawali pembicarannya saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) II dengan tema Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah: Kokohkan Karakter Generasi Bangsa yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Maarif NU di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Sabtu (25/3).

Kiai Said juga meminta kepada Nahdliyin untuk aktif dan menyebarkan Islam damai di dunia maya.

"Kita harus menguasai medsos (untuk mendakwahkan Islam yang damai dan ramah). Kalau tidak pakai medsos, kalah kita," cetusnya.

Terkait dengan agenda Perwimanas, Kiai Said berharap, kegiatan tersebut bisa melahirkan kader-kader muda yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.

Haedar Nashir

"Semoga membawa kemajuan kepada Maarif, " terangnya.?

Sementara itu, Ketua LP Maarif NU KH Z Arifin Junaidi mengatakan, acara perkemahan ini adalah yang kedua.

Haedar Nashir

Lebih jauh, ia menyebutkan, tujuan diadakannya kemah nasional ini ada dua. Pertama, melahirkan kader-kader muda yang memiliki paham Aswaja An Nahdliah.

"Yang kedua, kita ingin menciptakan kader NKRI harga mati," jelasnya.

Terkait kegiatan kemah tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi mengatakan akan mendukungnya.

"Kita tidak hanya mendukung, tetapi mendorong," kata H Imam disambut gelak tawa penonton.

Ia berharap, acara kemah nasional yang diselenggarakan LP Maarif NU itu bisa membawa dampak yang positif.?

Melalui pramuka, ia berharap acara tesebut bisa meng-ahlussunnah-kan masyarakat sekitar.?

"Pramuka bukan hanya untuk pramuka saja, tetapi juga untuk masyarakat," cetusnya.

Rencananya, acara kemah nasional ini akan digelar pada 18 - 20 September 2017 di Magelang dan diikuti enam ribu peserta. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Khutbah, Habib Haedar Nashir

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017

Banyuwangi, Haedar Nashir - Rasa syukur dan terima kasih terucap di bibir M Sholeh Mubarok selepas terpilih sebagai juara pertama pemilihan duta kang santri (kategori laki-laki), saat dimintai keterangan Haedar Nashir Banyuwangi via telpon, Senin (25/9) pagi.

"Alhamdulillah. Saya bersyukur terutama kepada Allah SWT dan kepada segenap panitia, guru, dan dewan juri pemilihan duta kang dan mbak santri tahun 2017. Karena saya menjadi juara pertama pemilihan duta kang santri," kata Sholeh.

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Sholeh Mubarok, Duta Santri Banyuwangi 2017

Santri yang masih menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Darussalam ini mengatakan, dengan menjadi juara tahun ini menjadi sebuah tantangan dan spirit untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Juara kali ini bukan untuk kesombongan, melainkan untuk memacu saya menjadi lebih berprestasi kembali. Menjadi lebih giat untuk belajar di pesantren. Karena di atas langit masih ada langit. Saya siap untuk menjadi yang lebih baik," tutur santri semester tiga, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selain itu, menurut Sholeh, segala bentuk takdir dan kelebihan butuh diimbangi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah.

"Kosong. Jika banyaknya kelebihan dan ilmu yang dimiliki seseorang tanpa dihiasi dengan nilai-nilai akhlaqul karimah. Karena ini saling berkaitan. Tidak dapat dipisahkan. Bukankah akhlaq, perhiasan bagi seseorang yang memiliki ilmu?" tutur santri yang mondok di Pesantren Darussalam, Tegalsari selama empat tahun.

Dalam hal penyampaian manfaat dan keilmuan di masyarakat luas, Sholeh menegaskan butuh wadah organisasi sebagai wasilah.

"Organisasi ideal bagi saya adalah terlibat dalam Nahdlatul Ulama. Karena NU memiliki kelengkapan di setiap lembaga dan badan otonomnya. Juga ditambah organisasi sosial kemasyarakatan ini memiliki basis massa terbesar di Indonesia, bahkan di dunia," jelas santri yang juga aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Terkait dengan hal yang persiapan materi pelajaran yang dibutuhkan untuk pemilihan duta kang dan mbak santri, Sholeh lebih banyak belajar masalah wawasan kebangsaan, sejarah, dan ke-NUan.

"Firasat saya benar. Ternyata banyak teman-teman santri yang berguguran karena minimnya wawasan kebangsaan, sejarah, dan keorganisasian, khususnya terkait ke-NUan. Ini adalah cambuk bagi santri-santri sudah saatnya untuk bangkit dengan keseimbangan ilmu-ilmu yang kontekstual. Bukan hanya unggul dalam keilmuan khas pesantren," tegasnya.

Hadiah yang diberikan oleh panitia akan digunakan untuk hal-hal kebaikan yang dapat meringankan dan membuat tersenyum kedua orang tuanya.

"Uang pembinaan ini akan saya gunakan untuk melunasi biaya administrasi kuliah yang masih kurang. Saya ingin meringankan beban kedua orang tua saya. Pun sudah waktunya untuk melatih hidup mandiri, tanpa bersandar di balik punggung kedua orang tua," kata Sholeh.

"Semoga ini memberikan kemanfaatan dan keberkahan untuk diri saya dan orang tua menjadi lebih baik ke depannya," harap santri yang berusia 20 tahun ini. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Ubudiyah Haedar Nashir