Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis

Abdullah bin Mas’ud termasuk orang dari generasi sahabat yang memiliki kedekatan cukup intim dengan Rasulullah. Ia menjadi khadim (pelayan) yang loyal dan sering mengikuti ke mana Nabi pergi, membawakan keperluan beliau, bahkan dalam kesempatan tertentu ia diizinkan masuk ke kamar pribadi Nabi. Di antara berkah dari hubungan dekat ini, Abdullah bin Mas’ud menyerap banyak ilmu dan keteladanan dari manusia suci itu, yang di kemudian hari melambungkan namanya sebagai sahabat yang sangat mengerti Al-Qur’an.

Contoh dari kedekatan hubungan tersebut adalah kisah Rasulullah yang pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan untuknya ayat-ayat Al-Qur’an. Terang saja Abdullah merasa heran.

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis

“Wahai Rasulullah! Apakah (layak) saya membacakan Al-Qur’an untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” timpal Baginda Nabi.

Haedar Nashir

Abdullah pun mengabulkan permintaan Rasulullah dengan membacakan Surat an-Nisa’ dengan fasih. Namun, Baginda Nabi tiba-tiba memintanya berhenti ketika Abdullah sampai pada ayat:

Haedar Nashir



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS an-Nisa’: 41)

Jleb! Abdullah bin Mas’ud berhenti membaca. Ia menoleh ke wajah Rasulullah dan menyaksikan air mata meleleh dari kedua pelupuk mata utusan Allah itu. Demikian cerita yang bisa kita baca dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits tersebut menunjukkan betapa rendah hatinya Rasulullah, sebagai penerima wahyu mau mendengarkan untaian bacaan dari lisan pelayannya. Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an tak lebih buruk dari orang yang membacanya. Bahkan, karena fokus menghayati isi bacaan, si pendengar bisa lebih meresapi dan menangkap pesan inti Al-Qur’an.

Ayat 41 dari Surat an-Nisa’ itu menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang kelak di akhirat menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Tangisan Rasulullah menjadi penanda akan lembutnya hati beliau yang tak sampai hati umatnya bakal menerima penderitaan—meski akibat ulah mereka sendiri. Di ayat berikutnya diungkapkan bahwa mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya meminta agar ditenggelamkan ke dalam bumi.

Menurut Tafsir al-Baidlâwi, mereka ingin diratakan dengan tanah selayaknya orang mati. Atau diciptakan saja seperti tanah yang tak memiliki tanggung jawab perbuatan. Mungkin maksudnya untuk menghindari siksaan. Padahal, walâ yaktumûnaLlâha hadîtsân (mereka tidak dapat menyembunyikan kejadian apa pun dari Allah). (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Kajian Sunnah, Nasional Haedar Nashir

Rabu, 14 Februari 2018

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Proses Islamisasi di wilayah Jawa, termasuk Sunda, bisa digolongkan ke dalam tiga skema. Pertama, menaklukkan kerajaan non-Islam. Kesultanan Islam Cirebon dan Banten yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer bergerak dari pesisir utara Jawa ke wilayah selatan. Mereka menaklukkan dan menguasai wilayah pedalaman yang masyarakatnya belum beragama Islam.

Demikian dikatakan Aditia Gunawan saat menjadi pembicara diskusi mingguan di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang, Sabtu (18/11). 

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?

Kedua, mengisi jabatan birokrasi lokal dan ritual di kesultanan. Biasanya ulama pendatang yang memainkan peranan ini. Mereka masuk dan menjadi bagian dari kerajaan yang ada.

“Yang ketiga, guru-guru sufi sejak abad ketujuh belas bergerak ke wilayah-wilayah pedalaman Jawa,” kata Aditia.

Menurut Aditia, guru-guru sufi inilah yang bisa menyebarkan Islam hingga ke pedalaman. Mereka cukup diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena menyebarkan Islam dengan berkompromi dengan budaya lokal. Guru-guru sufi tersebut juga memiliki kekuatan-kekuatan adikodrati.

“Mereka juga mengubah pertapaan dan biara-biara Hindu Buddha menjadi sekolah-sekolah Islam,” paparnya.

Haedar Nashir

Dia menjelaskan, masyarakat pedalaman Sunda bukan bukan hanya menjalankan syariat agama Islam saja, mereka juga masih mempraktikkan kearifan lokal seperti mantra-mantra untuk penyembuhan.

“Jampi-jampi itu kan sarana penyembuhan tapi dia ada ajaran Islamnya, ada juga penyesuaian terhadap ajaran sebelumnya, ajaran pra Islam,” terangnya.

Menurut dia, penyebar ajaran Islam itu juga menjadi solusi atas kesehatan masyarakat karena mereka bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat setempat.

Haedar Nashir

Meski demikian, tidak semua masyarakat Sunda menerima dengan lapang dada datangnya Islam. Ada sekelompok masyarakat yang bersikap keras terhadap penyebaran Islam di Tataran Sunda. 

“Misalnya oposisi yang masih merindukan ajaran-ajaran lama. Ada teks yang menyebutkan bahwa Islam itu sebagai prahara,” urainya. 

“Misalnya di teks Carita Parahyangan itu pengarangnya lebih memposisikan diri sebagai yang kecewa terhadap datangnya Islam,” tambahnya.

Sementara itu, Penulis Buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie menerangkan, tidak ada perbedaan yang cukup mencolok antara proses Islamisasi di Sunda dan wilayah Jawa lainnya. Pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh para dai dalam menyebarkan Islam pun hampir sama yaitu akulturasi budaya, nikah dengan masyarakat setempat, dan lainnya.

“Hanya sisi budayanya saja yang berbeda sehingga tampilannya pun berbeda-beda,” tuturnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Pangkalpinang, Haedar Nashir. Sebuah buku baru memperkaya literatur tentang sejarah Islam di Nusantara. Seorang habib muda asal Pulau Bangka, Sayyid Deky Baraqbah (32), menerbitkan hasil penelitiannya selama delapan tahun dalam bentuk buku berjudul “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka”.

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Buku tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Bangka ini memiliki tebal 550 halaman. Sayyid Deky Baraqbah, Rabu (16/7), di kediamannya di Kelurahan A Yani, Pangkalpinang, Bangka Belitung, mengatakan, buku tersebut sejak terbit Februari lalu telah mendapat respon positif baik dari dalam maupun luar negeri.

Buku terbitan Penerbit Ombak, Yogyakarta, ini telah menjangkau negara Belanda, Amerika Serikat dan Australia lebih dari 500 eksemplar.  Ia menilai belum ada buku yang secara mendetail mengisahkan bagaimana perjalanan masuknya Islam di Pulau Bangka.

Haedar Nashir

Menurut Zaky, panggilan akrab sang penulis, referensi yang menceritakan sejarah masuknya Islam di Pulau Bangka selama ini hanya didasarkan pada cuplikan-cuplikan yang tidak rinci dari buku-buku yang pernah terbit sebelumnya. Sedangkan buku “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka” merupakan hasil penelitian langsung. Zaky mengaku terjun langsung meneliti berbagai artefak, manuskrip yang tersebar di Pulau Bangka, Aceh, Cirebon, Palembang, Italia, dan Belanda.  

Haedar Nashir

Dengan menggunakan penelitian atom dari unsur batu nisan dan tembikar yang temukan di areal pemakaman, buku ini menyajikan tesis bahwa pada abad 10 masehi, Islam telah masuk di Pulau Bangka. Menurut penulis buku ini, Islam di pulau tersebut dibawa oleh para mubaligh dari Timur Tengah, dan bukan dari Gujarat, India, sebagaimana mana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini. Dalam buku ini juga dibahas tentang kelompok penentang ziarah kubur (Wahabi) dan peranan tasawuf pada perjalanan Islam di Pulau Bangka.

Rencananya, buku ini akan dibedah pada pertengahan Agustus mendatang di Ruang Serbaguna PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan mengundang beberapa pakar sejarah dan tokoh Islam nasional.

Sebelumnya, buku yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta, Februari 2014 ini, juga telah dibedah di kampus IAIN Raden Fatah Palembang. Lima profesor dan ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan turut serta dalam diskusi yang digelar Juni itu. (Hardy Alqadry/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Hadits, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir

Puncak peringatan Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jumat (23/12) menjadi ladang mencari rezeki bagi puluhan pedagang, tasbih, kaos, makanan cepat saji, minuman dan mainan anak, termasuk pedagang sayuran.

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

“Alhamdulillah laris,” ujar Indra Aldiansyah, di areal kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sembari tersenyum, warga Ciganjur itu mengaku baru pertama kali berdagang sayuran di Haul Gus Dur. “Biasanya berdagang di pasar. Di Haul Ini baru pertama kali berdagang, yang unik biasanya yang dicari,” kata dia menjelaskan alasan memilih tetap berdagang sayuran.

Di antara lalu-lalang jamaah, pedagang makanan, minuman hingga souvenir yang memasarkan dagangan di sebelah perusahaan taxi, Indra memasarkan dagangannya seperti caisim atau sawi hijau, kol, bawang merah, bawang putih, kentang, jagung, kacang panjang, sawi, wortel, tomat, daun bawang, jeruk nipis, ? pepaya, salak dan buah naga.

“Bawangnya Rp25 sekilo, cabai merah panjangnya Rp35 sekilo,” teriak Indra yang malam itu mengenakan celana jeans coklat dan kemeja hijau.

Haedar Nashir

Ia mengaku, bawang yang dijualnya sudah habis satu karung, jumlahnya kira-kira lebih dari 50 kilogram. “Sebagian sayuran dari Pasar Induk, sebagian lagi dari Pasar Kemang, Bogor, Jawa Barat,” katanya.

Sejumlah pejabat negara hadir pada Haul Gus Dur, seperti Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.

Terlihat pula sejumlah seniman seperti Joko Pinurbo, Asep Zamzam Noor, Sujiwo Tedjo dan Zastrouw Al-Ngatawi. Termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna H Alfa Isnaeni, sejumlah pengurus DPP K Sarbumusi NU dan para pemuka lintas agama.

Haedar Nashir

Puncak Haul diisi tausyiah oleh Habib Umar Muthohar dan ditutup doa oleh Habib Jafar Alkaff yang memimpin doa agar Indonesia aman dan ekonomi rakyat menjadi lancar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad

Denpasar, Haedar Nashir. Kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Bali pada tanggal 8-10 Desember 2017 lalu menimbulkan pro kontra bagi masyarakat Bali. Ramai tersebar di media sosial bahwa salah satu elemen yang melakukan penolakan adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. 

Untuk mengklarifikasi keakuratan beberapa media yang memojokan PWNU Bali tersebut,  Haedar Nashir berhasil  menghubungi  Ketua PWNU Bali, H Abdul Aziz  melalui sambungan telepon, Senin (11/12). 

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad (Sumber Gambar : Nu Online)
Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad (Sumber Gambar : Nu Online)

Klarifikasi PWNU Bali soal Penolakan Ustad Abdul Somad

Ia kemudian menceritakan dari awal bagaimana dirinya sebagai Ketua PWNU mem-back up penuh panitia penyelenggara yang keseluruhan adalah Nahdliyin (warga NU).

Haedar Nashir

Menjelang kedatangan UAS, H Aziz menjelaskan situasi mulai tidak kondusif. Ada beberapa isu bahwa akan ada penghadangan di bandara. Kemudian ia bersama pengurus PWNU yang lain berinisiatif untuk mendampingi panitia menjemput langsung ke bandara.  Bersama UAS dan panitia, Pengurus PWNU terus mendampingi hingga ke Hotel Aston, tempat UAS menginap

“Namun setelah satu jam kami berada di hotel, situasi tidak kondusif, sebab ada konsentrasi massa yang menolak kedatangan UAS,” terang H Aziz.

Haedar Nashir

Karena tidak ingin adanya tindakan kekerasan, sebab menurut  H. Aziz, kelompok masyarakat yang pro kedatangan UAS juga akan bergerak ke hotel Aston, ia kemudian  berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk dapat membantu memediasi dengan pihak yang menolak. Akhirnya mediasi pun terjadi di salah satu ruangan di hotel tersebut.

Dalam mediasi awal mengalami jalan buntu, hingga UAS memutuskan akan meninggalkan Bali. Tentunya keputusan ini akan berdampak pada jamaah pengajian yang sudah ribuan dan berpotensi akan bergejolak. 

H Aziz kemudian meyakinkan kepada UAS bahwa jika dirinya membatalkan pengajian, justru yang terjadi adalah gejolak yang lebih besar. Dengan pertimbangan itu, akhirnya UAS kembali menemui pihak yang menolak dan terjadi saling rangkul menemui titik temu. 

Lalu, ketika ditanya sosok yang mengaku Gus Yadi yang ramai diperbincangkan di medsos, H Aziz sama sekali tidak mengenalnya. 

“Yadi itu siapa, dia bukan pengurus NU maupun banom NU. Dia juga bukan warga Nahdliyin, saat berdebat dengan saya pada saat mediasi, dia menggunakan baju PGN (Patriot Garuda Nusantara,)” tegasnya.

Jadi, menurut H. Aziz kalau ada media yang mengatakan PWNU Bali menolak bahkan memprovokasi untuk melakukan penolakan kedatangan UAS di Bali, merupakan pemberitaan yang sesat.

“Bahkan saya bersama pengurus NU yang lain selalu mendampingi UAS selama di Bali, jadi mohon diluruskan kepada masyarakat,” tutupnya. (Abraham Iboy/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Habib Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Setiap hari Jum’at-Ahad atau hari libur tanggal merah, suasana makam wali selalu dipenuhi oleh para peziarah dari penjuru kota di Indonesia. Bahkan bila datang bersamaan, tempat makam wali-wali itu hampir tidak muat menampung peziarah yang berombongan. 

Begitu pula halnya makam Syech Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan Raden Umar Said (Sunan Muria) selalu penuh sesak hingga harus ada yang menunggu di luar area makam. Suasana demikian tampak saat Haedar Nashir berziarah ke makam Sunaan Kudus, Jum’at malam (24/5).

Ketika Haedar Nashir baru masuk, ruangan makam sudah dipenuhi para peziarah. Dilihat dari logat bahasanya , mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Tasik, Pekalongan dan daerah Jawa timuran.

Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Tanpa menggunakan pengeras suara, mereka (peziarah) membaca  tahlilan, ada yang membaca Yasin dan berdo’a bersama dengan nada suara keras. Bagi yang rombongan, tahlilan dilakukan berjamaah dengan dipimpin seorang imam /kyai.

Saat Tahlilan sudah mulai berdzikir, terasa keindahan irama masing-masing rombongan yang  duduknya bersebelahan di ruangan makam Sunan Kudus.  Dzikir yang dilafadzkan intonasi iramanya berbeda-beda yang dibarengi kekhusukan geleng kepala kekanan dan kekiri.

Disatu  rombongan melafadzkan dengan intonasi ditekan dan putus putus seperti "Laa..ilaaha illallah", begitu pula rombongan lainnya bernada datar menggunakan irama seperti nyanyian. Yang jelas, dari beberapa rombongan yang dalam satu ruangan makam itu sangat berbeda-beda.

Haedar Nashir

Mendengar irama dzikir demikian, Haedar Nashir jadi teringat mauidhah hasanah Rois Am jamiyah Thariqoh al Mu’tabarah An nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfiy bin Yahya. Dalam berbagai pengajian, Habib asal pekalongan ini selalu menegaskan suasana makam walisongo merupakan cermin keindahan dari keberagamaan dan perbedaan ummat.

“Meski satu duduk bersebelahan dalam satu ruangangan  dengan  melafadzkan kalimat yang sama (dzikir) namun  iramanya berbeda,  tidak terjadi gesekan dan pergunjingan padahal mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda pula. Inilah pelajaran yang berharga  dari indahnya kehidupan berbangsa dan beragama,”kata Habib Lutfiy suatu ketika dalam acara pengajain umum di Kudus.

Haedar Nashir

Disamping itu, Walisongo ini memang mampu membawa keberkahan  segala aspek kehidupan mulai ekonomi, persaudaran dan kebersamaan. “Walisongo atau ulama yang sudah wafat memberkahi yang orang yang hidup,” tambah Habib singkat.

Dari apa yang disampaikan Habib ini memang benar. Bukan saja keberkahannya dalam berziarah tetapi dari irama dzikir para peziarah di makam sudah terasa keindahannya. Ketika kita di ruangan makam, terasa ada ketenangan dan keindahan meski penuh kebisingan irama dzikir para peziarah. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Ubudiyah Haedar Nashir

Senin, 25 Desember 2017

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

Jombang, Haedar Nashir?



Puluhan mahasiswa dan mahasiswi Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang punya cara tersendiri untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional tiap 2 Mei. Mereka mengunjungi SDN Pojokklitih 3, Dusun Nampu, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Mereka melakukan bakti sosial (baksos) di lingkungan warga sekitar, Sabtu (29/4) lalu.

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

"Sambang Sekolah merupakan salah satu program kami yang setiap peringatan Hardiknas yang diselenggarakan di sekolah-sekolah dalam lingkup Kabupaten Jombang, terutama di pelosok-pelosok. Kini Pojokklitih yang kami kunjungi," jelas Anisa, ketua panitia.

Menurutnya, kegiatan dengan tema Living For Care, Care For Sharing ini sangat mengesankan. Sepanjang perjalanan terasa menantang karena harus melewati 2 bukit dan 1 sungai tanpa jembatan penyemberang, jalan berlumpur serta licin. Perjalanan terasa lama dan penuh tantangan.

"Banyak teman-teman yang terjatuh dikarenakan lumpur yang licin dan juga medan yang terjal," tambahnya.

Ia menambahkan, dipilihnya SDN Pojokklitih 3, berawal dari info di media sosial yang mengangkat keadaan di sana dan karena semangat guru dan murid di sana memang patut diacungi jempol. Lokasi sekolah yang jauh dari keramaian, akses jalan yang sulit serta signal yang susah didapat. Setiap hari para guru harus jalan kaki sekitar 4 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Haedar Nashir

Tim juga membawa bantuan berupa 3 kardus air mineral, 2 kardus tas donasi, 2 karung baju hasil donasi dan konsumsi. Semua bantuan akan diberikan kepada siswa-siswi dan warga sekitar yang membutuhkan bantuan.

Haedar Nashir

"Perjuangan guru di sini sungguh luar biasa, daerahnya sangat plosok, mereka (guru, red) harus jalan kaki 4 km setiap hari. Ini masalah yang harus diangkat sebelum Hardiknas besok," papar mahasiswi jurusan bahasa Inggris ini.

Sementara itu, Purwandi, Kepala SDN Pojok Klitih mengaku senang atas kunjungan dari mahasiswa Unwaha yang bersusah payah melewati bukit dan sungai untuk berkunjung ke sekolahnya. SDN Pojokklitih 3 hanya memiliki 17 murid, tempat yang jauh dan terpencil membuat sekolah ini jarang disoroti oleh pemerintah. Para guru dan siswa-siswi juga kesulitan bila harus berurusan dengan internet, signal bagaikan oase di SDN Pojokklitih 3.

Dikatakan dia, setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan. Meski dalam kondisi yang jauh dari keramaian, namun urusan pendidikan patut diperjuangkan. "Terima kasih atas kunjungannya, ya beginilah kondisi sekolahan kami, sederhana tapi patut untuk dipejuangkan. Semua anak di sini memiliki hak sama mengenai pendidikan walaupun hanya berjumlah 17 siswa. Kalau bukan kita yang bergerak siapa lagi?" bebernya.

Ia menyayangkan di Kabupaten Jombang masih ada sekolah yang susah dijangkau seperti sekolahnya. Semangat Hardiknas seharusnya bisa menjawab ini, tidak hanya diperingati secara rutin tapi tidak ada hasil yang nyata bagi masyarakat kecil. Guru-guru dan murid mengharap ada jembatan yang dapat mempermudah akses ke sekolah.

"Kami kesulitan akses jalan, internet dan signal disini, semoga pemerintah mendengar suara kami," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Hadits, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Minggu, 24 Desember 2017

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

Dalam kitab Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalikhin karya Syeikh Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i (696-768 H), terdapat kisah ujian kesabaran Ibnu Khafif (w. 981 M) dan seekor antelop liar (semacam rusa). Diceritakan:

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Aku memasuki kota Baghdad dengan tujuan menghadiri perkumpulan. Di kepalaku ada kesombongan kesufian, yaitu (berlagak) mempertajam kehendak, menguatkan mujahadah dan menyisihkan segala sesuatu yang selain Allah SWT. 

Aku tidak makan empat puluh hari lamanya, tidak pula bergabung dengan perkumpulan Junaid. Aku keluar dan tidak minum. Ketika aku hendak bersuci, aku melihat seekor antelop liar diatas sumur dan sedang minum. Aku sangat kehausan. 

Haedar Nashir

Ketika aku mendekati sumur, antelop liar itu melarikan diri. Ketika itu airnya telah berada di titik terbawah sumur (tidak dapat diambil lagi), aku berjalan pergi sembari berkata: 

“Wahai Tuanku, milikku disisiMU, telah berpindah ke antelop ini.”

Haedar Nashir

Kemudian aku mendengar seseorang berkata dari arah belakangku: 

“Kami mengujimu dan kau tidak sabar. Kembalilah, dan ambillah air. Sesungguhnya antelop itu datang ke sumur tanpa membawa sampan (untuk menyimpan air) dan tali (untuk menimba). Sedangkan kau datang membawa sampan dan tali.”

Maka aku kembali, ketika itu air sumur sudah melimpah, lalu kupenuhi sampanku. Aku pun minum darinya serta bersuci dengannya sampai Madinah, dan air itu tidak habis. Ketika aku pulang dari haji, aku memasuki perkumpulan (Imam Junaid al-Baghdadi). Ketika aku berhadapan dengannya, Ia berkata: “Andai saja kau bersabar sesaat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.” (Afifuddin Abi al-Sa’adat Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani, Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalihin, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, tt, hlm 102).

Setelah mengalami ujian ketidak-sabaran, Imam Ibnu Khafif menyelam kedalam diri untuk menjernihkan hatinya. Ia, kemudian melakukan riyadloh (kontemplasi ketat) sekaligus bertaubat atas kegagalannya dalam menguatkan kesabarannya. 

Ketika kecongkakan hadir, meski dalam rupa yang mempesona sekalipun seperti penguatan mujahadah, ia akan menjadi celah masuknya bisikan setan. Imam al-Ghazali menyebutnya madakhil al-syaitan (pintu masuk setan), yang terbuka ketika prasangka atau perbuatan buruk dilakukan manusia.

Dari pengalamannya itu, Imam Ibnu Khafif membagi sabar dalam tiga tingkatan. Pertama, mutashabbirun, orang yang berkeinginan bersabar. Kedua, shabirun, orang yang bersabar. Ketiga, shabbarun, orang yang terus menerus bersabar atau kesabarannya tidak memiliki batas. (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, Kairo: Muassasah Darul Sya’b, tt,hlm 326). 

Di saat kejadian itu terjadi, Ibnu Khafif masih sekedar mutashabbirun, kesabarannya sebatas hasrat menggebu yang belum berimbang. Karenanya, Ia mengeluh tidak mendapatkan air untuk diminum dan bersuci. Ia bahkan membuat antelop itu lari ketakutan, meninggalkan sumur karena Ibnu Khafif berjalan mendekatinya, tidak menunggu antelop itu menyelesaikan minumnya.

Untuk sesaat Ibnu Khafif diselimuti rasa takut tidak mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhannya, hingga secara sengaja membuat antelop itu lari ketakutan. Latihan kesabarannya selama ini, 40 hari tidak makan dan lain sebagainya, diruntuhkan seketika oleh hawa nafsunya (egoisme).

Kemudian terdengar suara yang menggugah pikiran Imam Ibnu Khafif, bahwa kesabarannya tidaklah seberapa. Suara itu melucuti kepasrahan dan kesabarannya, membandingkannya dengan antelop liar. “Kau datang membawa sampan dan tali,” artinya ada persiapan untuk memenuhi sampannya dan menjadikannya bekal, tapi “antelop itu datang tanpa membawa sampan dan tali.” Hanya mengambil seperlunya saja, sisanya dipasrahkan pada kehendakNya.

Sentilan penuh makna juga diberikan Imam Abu Sulaiman al-Darani (140-215 H) yang mengatakan:

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?

“Demi Allah, (jika) kita tak bisa sabar atas hal yang kita cintai, bagaimana mungkin kita bisa sabar atas hal yang kita benci?” (Imam Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm 325).

Mencintai adalah kerja keras, bukan perkara mudah. Berkali-kali jatuh dan tertatih-tatih, terbakar api cemburu dan kerinduan yang menyala-nyala. Jika dalam suka-lara dan kerja keras mencintai saja manusia tidak bisa sabar, bagaimana dengan hal yang dibenci. Apakah masih ada ruang untuk kesabaran?

Maka dari itu, kesabaran harus tetap tergenggam. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi ketika kita terus menggenggamnya. Ada banyak kemungkinan di depan kita. Tapi, sekali kita melepaskannya, kemungkinan itu lenyap. Seperti Imam Junaid al-Baghdadi yang membocorkan salah satu kemungkinan dari hasil kesabaran, dengan mengatakan: “Andai saja kau bersabar beberapa saat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.”

Ya, kita memang tidak tahu apakah air itu akan benar-benar keluar dari bawah telapak kaki Imam Ibnu Khafif atau tidak, yang pasti selalu ada hasil dalam bersabar. Namun perlu diperhatikan, janganlah bersabar untuk mendapatkan hasil, itu salah. 

Sebab, penyesalan terbesar Ibnu Khafif bukan karena tidak diperolehnya keuntungan (hasil), tapi jiwanya kembali keruh setelah sekian lama ia berusaha menjernihkannya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapa sabarkah kita? Wallahu a’lam...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’dah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Bersama Kodim, GP Ansor Kutai Timur Kerja Bakti Bersihkan Gereja

Kutai Timur, Haedar Nashir. Ada yang lain di gereja Betel di bilangan Tongkonan Ranu, Sangatta Jumat pagi (25/11). Jamaat gereja bekerja bakti bersama beberapa anggota TNI dan anggota Ormas. Salah satunya Gerakan Pemuda Ansor Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kegiatan kerja bakti yang digagas Kodim 0909/Sangatta tersebut berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 10.00 Wita.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kutai timur Zainul Zarfi turun langsung memimpin anggotanya mengikuti kegiatan tersebut. Zainal mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sangat positif. Disamping menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan tersebut juga semakin memupuk perdamaian di kota Sangatta dengan terlibatnya berbagai elemen masyarakat. Termasuk Ansor yang mewakili pemuda Islam.

Bersama Kodim, GP Ansor Kutai Timur Kerja Bakti Bersihkan Gereja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Kodim, GP Ansor Kutai Timur Kerja Bakti Bersihkan Gereja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Kodim, GP Ansor Kutai Timur Kerja Bakti Bersihkan Gereja

“Dengan kegiatan ini, sekat-sekat antarumat beragama akan hilang. Sehingga saling curiga akan ikut hilang. Dan pada gilirannya tercipta kedamaian” ujarnya melalui siaran pers.

Haedar Nashir

Sementara itu, Sekretaris Gerakan Pemuda ansor kabupaten Kutai Timur Nashirudin? menjelaskan, ada 10 pengurus anggota Ansor yang ikut kegiatan tersebut. Mereka diundang Kodim 0909/Sangatta untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang bertujuan memupuk kedamaian di wilayah sangatta tersebut.

Ke depan ia berharap kegiatan sejenis terus konsisten dilaksanakan. “Kegiatan baik ini tidak boleh berhenti sampai disini saja, melainkan harus terus hidup dan eksis guna menjaga ketentraman daerah,” ucapnya saat diwawancarai.

Haedar Nashir

Sebagai informasi, kegiatan menjaga kebhinekaan dan perdamaian antar semua golongan sedang digalakkan akhir-akhir ini. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi maraknya isu perpecahan anar golongan di Indonesia. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Kajian Sunnah Haedar Nashir

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah

Yogyakarta, Haedar Nashir

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kota Yogyakarta selama dua hari melaksanakan silaturrahim dan ziarah terhitung sejak 5 Maret 2016.

Silaturahim dilakukan ke kediaman senior dan keluarga IPNU Yogyakarta di Kabupaten Kendal dan Semarang, Jawa Tengah. Rombongan yang terdiri para pelajar NU tersebut berangkat pertama kali menuju ke Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah

Di kediaman alumni IPNU-IPPNU yang juga orang tua dari kader PC IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta, Fairuz, itu puluhan pelajar NU tersebut berkenalan dan mendengarkan kisah perjuangan para kader senior saat di IPNU-IPPNU dulu.

Haedar Nashir

"Silaturahim kepada semua pihak sangat penting untuk menjaga hubungan emosional serta memberikan stimulus semangat baru untuk pengurus," ujar Muhammad Saiful Al-Ayyubi, koordinator pengaderan PC IPNU Kota Yogyakarta.

Haedar Nashir

Hari kedua, Ahad (6/3) perjalanan berlanjut silaturrahim kader senior lainnya, lalu berziarah ke makam Sunan Kalijaga dan Raden Patah Demak. Selain bertujuan menambah semangat juga untuk mengingat perjuangan para ulama terdahulu dalam berdakwah. (Ainun Naim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Boyolali, Haedar Nashir. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Sabtu (14/6), sejak pukul 05.30 WIB sudah terlihat ramai. Ratusan warga pun mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan Bubak.

Seperti di daerah lain, meski dengan istilah berbeda, Bubak atau kegiatan membersihkan makam dilakukan warga Mlambong untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan bergotong-royong mereka membersihkan bersama, lingkungan di kompleks pemakaman dan sekitarnya.

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Sesepuh warga setempat, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi ini sudah ada sejak lama. “Jangan sampai tradisi ini ditinggalkan,” tutunya singkat.

Haedar Nashir

Usai membersihkan makam, dilanjutkan dengan mendoakan para leluhur dan keluarga yang telah meninggal. “Ziarah ke makam para leluhur ini, waktunya bebas, sebelum Ramadhan tiba,” kata Hadi.

Menurutnya, hal ini merupakan sebagai wujud rasa berbakti (birrulwalidain) warga kepada orang tua maupun para leluhur yang telah meninggal dunia. Selain itu, hal ini juga dapat mempererat rasa persaudaraan antarwarga. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Makam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Bandung, Haedar Nashir

Selama ini wacana penguatan ulama sering diangkat, tapi sulit untuk diwujudkan. Beberapa hasil refleksi mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena fokus penguatan itu tertuju kepada para kiai atau ulama secara langsung. Sementara mereka memiliki banyak keterbatasan, menyangkut usia, kesibukan, dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Robithah Ma’ad Islamy (PW RMI) Jawa Barat, KH Abdul Chobir, dalam sambutan acara bertajuk Pelatihan Asistensi Kiai NU. Acara yang kelola RMI ini diikuti oleh 26 utusan pesantren dari 26 kabupaten/kota seluruh Jawa Barat.

Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Acara yang telah berlangsungkan dari tanggal 3-5 Desember ini bertempat di? Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, jalan Terusan galunggung No. 09 Bandung. Pelatihan yang rencanya dilakukan beberapa tahap ini dinilai unik, karena di baru pertama kali dilakukan.

Haedar Nashir

“Pelatihan ini ikhtiyar PW RMI Jabar untuk memecahkan problem yang disebut Kiai Chobir dalam sambutan tadi,” ujar Iip D Yahya, ketua panitia yang juga wakil sekretaris PW RMI Jawa Barat itu.

Haedar Nashir

“Pesertanya kebanyakan anak kiai, kerabat dekat atau santri kepercayaan. Saya kaget, ternyata mereka antusias,” tambah Iip D Yahya, penulis biografi KH Ilyas Ruchiyat, Cipasung Tasikmalaya.

Selama tiga hari para peserta diperkenalkan dengan teori jurnalisitik, teknik dasar penulisan biografi, pengenalan peta mutakhir pesantren dan NU di tingkat nasional dan internasional, serta manajemen internal pesantren. Acara ini mendatangkan Abdul Mun’im DZ (PBNU), Muhammad Syafi dan Hamzah Sahal dari Haedar Nashir, Ahmad Dairobi dari pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (yy)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir - Menguatnya radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya menjadi persoalan yang perlu penanganan serius oleh berbagai pihak termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Indonesia sebagai negara yang sangat beragam, baik agama, suku, bahasa, budaya dan lainnya, patut bangga terhadap keberadaan NU yang mempunyai basis pesantren untuk terus menjaga Indonesia dari radikalisme dan intoleransi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Sujiwo Tedjo saat ditemui Haedar Nashir di Jakarta. Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Tejo ini, santri dan pesantren merupakan potensi dalam hal toleransi di Indonesia.

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

“Kalau di pesantren atau NU diajarkan bahwa toleransi itu dari dulu sudah tinggi,” katanya seusai mengisi acara pembacaan puisi Gedung Graha Bakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/10) malam.

Oleh karena itu, pria yang berprofesi sebagai dalang ini pun menganggap bahwa keberadaan santri sangat dibutuhkan Indonesia.

Haedar Nashir

“Santri sangat dibutuhkan untuk kecenderungan global yang makin mengekstremkan (dalam hal) agama,” jelas pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini.

Haedar Nashir

Pria berumur 55 tahun ini menyebut bahwa cara beragama yang dijalankan pesantren itu luwes, dan menebar rahmat.

“Beragama dengan tersenyum itu pesantren saja,” katanya.

Acara pembacaan puisi sendiri diselenggarakan Kementerian Agama dalam rangka memperingati hari santri yang ke-2 dengan tema Merawat Keberagaman dan Memantapkan Keberagamaan.

Turut menjadi pembaca puisi pada malam tersebut, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Kamaraudin Amin, Abidah El Kholiqie, Habiburrahman El Shirazy, Sosiawan Leak, KH Husein Muhammad, Jamal D. Ramah, Acpe Zam Zam Noor, Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Pendidikan Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Jombang, Haedar Nashir. Molornya penutupan Muktamar Ke-33 NU membawa berkah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Selain muktamirin punya waktu lebih lama bersilaturahim, pedagang punya waktu lebih lama berjualan sehingga bisa untung lebih banyak.

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Senin (3/8/2015) malam di media center Muktamar ke-33 NU yang berada di komplek SMA 1 Jombang. Dalam konferensi pers yang dihadiri belasan wartawan dari lokal, nasional dan asing, Gus Ipul tampak ceria dan melemparkan guyonannya.

Menurutnya, jumlah peserta dan panitia Muktamar saja  5.000 orang. Sedangkan pengunjung muktamar selain peserta dan panitia, setiap hari rata-rata berjumlah 10.000 orang. Mereka ini datang bukan karena diundang oleh panitia, melainkan “diundang” oleh NU. Mereka merasa memiliki NU, sehingga tanpa diundang oleh panitia pun mereka pasti datang. Yang penting semuanya bisa menikmati suasana kemeriahan muktamar ini.

Haedar Nashir

"Jika rata-rata setiap orang berbelanja Rp 100.000 dari 15.000 orang tersebut, maka setiap harinya terjadi perputaran uang rata-rata Rp 15 miliar. Jika dipatok Muktamar berlangsung lima hari saja, ya bisa kalikan sendiri berapa jumlahnya. Ini berkah bagi pedagang dan masyarakat Jombang. Kalaupun sempat molor penutupan Muktamar dari jadwal yang sudah ditetapkan, sebenarnya ada juga untung bagi masyarakat," tutur Syaifullah.

"Panitia selain menyelenggarakan rapat-rapat, sidang-sidang agenda muktamar, juga menyediakan arena berbagai kegiatan. Seperti di GOR ada pameran, bazar, pertunjukan musik yang menampilkan Ahmad Dhani, Rhoma Irama, shalawatan dan sebagainya. Sedangkan di sejumlah pondok pesantren juga berlangsung, bazar,  diskusi dan bedah buku dari berbagai tokoh/intelektual NU," tambah Gus Ipul.

Haedar Nashir

Dari pantauan Haedar Nashir, berbagai kelompok/organisasi di lingkungan struktural maupun kultural NU menggelar pula banyak kegiatan. Mulai dari sebelum dibukanya Muktamar Ke-33 NU oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, hingga Senin (3/8/2015) malam. (Armaidi Tanjung/Mahbib)     

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, RMI NU Haedar Nashir

Kamis, 19 Oktober 2017

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Surabaya, Haedar Nashir . Aswaja NU Center Jatim mengadakan dauroh Ahlussunnah Wal Jama’ah yang bertempat di Aula PWNU Jawa Timur. Kegiatan ini ditujukan untuk kader muda Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), khususnya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perkuliahan.

Kegiatan yang digelar akhir pekan kemarin (6/9) ini menarik minat kaum muda NU. Hampir 80 orang mendaftar sebagai peserta dauroh ini. KH Abdurrahman Navis selaku Direktur Aswaja NU Center Jatim menjelaskan, Dauroh Aswaja digelar untuk mematangkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi banyaknya kelompok agama, khususnya lingkungan kampus

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Dalam kegiatan dauroh ini, terdapat empat materi yang diterima oleh para peserta. Sebelum memasuki materi pertama, pihak panitia memberikan pre-test kepada para peserta dauroh. “Pre-tes tini untuk mengukur tingkat keberhasilan dauroh ini sebab nanti di akhir dauroh juga akan diadakan post-test juga,” ujar Ustadz Fauzi, ketua panitia dauroh ini.

Setelah peserta selesai mengerjakan post-test, acara dilanjutkan kembali dengan pemaparan materi oleh beberapa pemateri yang telah disiapkan oleh panitia. Salah satu pemateri, Ustadz Faris Khoirul Anam menyampaikan, ada tujuh penyebab munculnya perbedaan di tengah umat Islam. Pertama adalah primordialisme kesukuan yang merupakan warisan jahiliyah.

Penyebab kedua adalah faktor perebutan kekuasaan. “Sepeninggal Rasulullah terjadi perebutan kekuasaan antara kaum muhajirin dan anshar, namun bisa tereduksi dengan masih banyaknya pembesar di kalangan sahabat,” jelasnya.

Ketiga adalah persinggungan dengan pengikut agama lain. Keempat, penerjemahan materi-materi filsafat. Kelima, kajian terhadap permasalahan-permasalahan yang sulit dipahami oleh akal. Dan selanjutnya adalah metode pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Haedar Nashir

“Ayat-ayat mutasyabihat itu tidak bisa dipahami secara langsung, ada dua pendekatan. Pertama pendekatan atsariyah (literalis), kedua pendekatan nadhariyah (rasionalis),” jelasnya kepada peserta.

Maksud dari pendekatan atsariyah (literalis) adalah mengartikan teks al-Qur’an maupun hadits dengan apa adanya. Sedangkan maksud dari pendekatan nadhariyah (rasionalis) ialah menggunakan pentakwilan dan logika saat mencari arti dari teks yang sedang dilakukan.

Penyebab terakhir adalah Istinbanth al-Ahkam (penetapan hukum). Dari ketujuh penyebab itu, faktor pertama hingga keenam bisa menyebabkan ikhtilaf madzmum (perbedaan tercela/jelek). Sedangkan hanya yang ketujuh saja yang menyebabkan munculnya ikhtilaf mahmud (perbedaan yang baik/terpuji) yang mana sesuai dengan kaidah khilaful aimmah rahmatul ummah (perbedaan para imam adalah rahmat bagi umat).

Haedar Nashir

“Hanya yang ketujuh saja yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutur alumni Al-Ahgaff University itu.

Pemateri lain yang turut mengisi dauroh ini adalah Ustadz Ma’ruf Khozin (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Ainul Yaqin dari MUI, dan Ustadz M Idrus Ramli (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim).

Acara dauroh ini ternyata tidak hanya dihadiri oleh kader aswaja dari sekitar Surabaya, tapi juga dari Kediri, Pasuruan bahkan Pulau Madura. “Tertarik untuk mengikuti karena ingin menambah keilmuan tentang Aswaja,” ujar salah seorang peserta. (Ahmad Hanan/Mahbib)

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Haedar Nashir

Kamis, 29 Juni 2017

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Solo, Haedar Nashir. Salah satu hasil putusan Sidang Komisi Organisasi dalam Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8) menetapkan bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali masuk menjadi Badan Otonom (Banom) NU.

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Terkait hal ini, Ketua Umum PC PMII Kota Surakarta, Ahmad Rodif Hafidz menyatakan siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. 

“Prinsipnya kita siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. Apapun keputusannya,” tegasnya saat dihubungi Haedar Nashir, Rabu (5/8).

Haedar Nashir

Meski begitu, Rodif menyatakan keputusan PMII kembali menjadi Banom NU,  sejatinya bukanlah domain dari NU secara kelembagaan. Sikap dari cabang-cabang PMII hari ini baik yang pro maupun kontra juga tidak serta-merta menjadi keputusan PMII secara kelembagaan.

Haedar Nashir

“NU boleh mengeluarkan putusan tersebut, namun bagaimana sikap PMII harus diputuskan melalui forum tertinggi organisasi, yakni Kongres PMII,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam Kongres PMII nantinya, apa yang menjadi keputusan NU ini ibarat arahan dari orang tua yang perlu dipertimbangkan oleh PMII. Namun jangan sampai ada intervensi dari NU dalam Kongres PMII.

“Kami meyakini bahwa PMII sudah mampu berpikir bagaimana baiknya hubungan PMII dengan NU,” lanjut Rodif.

Memikirkan dan mengurusi NU

Rodif menambahkan, PC PMII Kota Surakarta sependapat dengan pernyataan Ketua Umum PB PMII periode 1977-1981, KH Ahmad Bagja dalam sambutannya di acara Halal bi Halal Keluarga Besar PB IKA PMII dan PB PMII, beberapa waktu lalu.

“Benar apa yang dikatakan KH Ahmad Bagja, justru PMII hari ini dan ke depan harus lebih memikirkan dan mengurusi NU agar lebih baik. Karena ironisnya justru seringkali kader PMII yang sibuk bertengkar di NU,” kata Rodif.

Lebih lanjut, Rodif menegaskan, baik menjadi Banom NU ataupun tidak, PMII Kota Surakarta tetap teguh dalam memperjuangkan dakwah Islam Aswaja di kalangan mahasiswa dan siap membantu mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang siap menghadapi juga menyelasaikan berbagai permasalahan bangsa.

“Selagi telah dipertimbangkan secara matang dan hasilnya baik, kami siap apapun keputusannya baik dari NU maupun PMII,” tutupnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Rabu, 05 April 2017

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh

Jakarta, Haedar Nashir. Konfederasi Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) meminta Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk selalu melibatkan organisasi buruh dalam program-program pembinaan dan pengembangan kapasitas serikat pekerja atau serikat buruh.

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh

"Sarbumusi melihat itu sebagai bagian dari pengembangan resources dan kapasitas pengurus organisasi buruh oleh Kementerian Ketenagakerjaan," ujar Presiden Konfederasi Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (23/8).

Syaiful menegaskan, Sarbumusi dalam melakukan perannya sebagai serikat pekerja atau serikat buruh di Indonesia sangat jelas.

Sarbumusi secara kelembagaan mengalami kemajuan cukup signifikan. Dari saat verifikasi keanggotaan pada 2015 yang mencatat 125.000 anggota, saat ini sudah memiliki 11 DPW tingkat provinsi, 75 DPC tingkat kabupaten/kota dan 213 Basis tingkat perusahaan yang tersebar di 8 Federasi Sarbumusi, dengan total keanggotaan 245.000 orang.

Haedar Nashir

"Angka itu hasil update verifikasi anggota tahun 2017," paparnya.

Sarbumusi saat ini sedang mengembangkan kelembagaan Lembaga Bantuan Hukum Sarbumusi sebagai bentuk penguatan dan pembelaan atas hak-hak buruh.

Haedar Nashir

Sarbumusi menyadari peran serta Lembaga Bantuan Hukum sebagai garda terdepan dalam pembelaan hak-hak buruh dan kasus-kasus hubungan industrial yang mendera buruh seluruh Indonesia.

"Dengan menyadari peran serta tersebut, Sarbumusi pada 24-27 September 2017 akan menyelenggarakan Simposium Nasional Advokasi Perburuhan Sarbumusi yang dirangkai dengan Harlah Sarbumusi ke 62 Tahun yang rencananya akan diselenggarakan di Pasuruan, Jawa Timur," kata Syaiful lagi.

Mantan Ketua Umum PB PMII itu beserta jajaran pengurus Sarbumusi mengaku telah menyampaikan hal itu kepada Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan meminta Menteri Hanif hadir dalam acara Harlah Sarbumusi ke-62 Tahun. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 02 April 2016

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Haedar Nashir. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Haedar Nashir

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Haedar Nashir

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian Sunnah, Pertandingan Haedar Nashir

Minggu, 27 September 2015

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Pati, Haedar Nashir - Pembukaan Diklatsar dilakukan pada Kamis (24/3) siang dengan upacara yang diikuti oleh Banser, panitia, Muspika, GP Ansor se-Kabupaten Pati, dan para kiai. Pendidikan yang diselenggarakan oleh GP Ansor Wedarijaksa Kabupaten Pati ini menggunakan kurikulum standar PP GP Ansor.

Kasatkorcab Banser X-7 Pati Imam Syafii memberikan beberapa instruksi terkait dengan pembinaan yang nanti akan diberikan kepada para peserta diklat. "Ada kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan Banser sekarang," ungkapnya.

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Diklat kali, menurut Syafi’I, berbeda dari diklat sebelumnya karena? calon-calon Banser nantinya akan dididik menjadi pengawal loyal NU yang mampu menjadi benteng dan sekaligus sebagai penggerak organisasi terbesar di dunia.

Haedar Nashir

Peserta tercatat sudah mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. "Kebanyakan memang berasal dari Kecamatan Wedarijaksa tetapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa," kata Ketua Panitia Diklatsar GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi.

"Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat," imbuhnya.

Haedar Nashir

GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari GP Ansor Pati tetapi karena usulan ranting yang meminta untuk segera mengadakan pengkaderan Banser.

"Adanya Banser di tiap ranting akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi di wilayah ranting tersebut," kata salah seorang pemimpin ranting Wedarijaksa. Pergerakan Banser sebagai benteng ulama sekaligus pasukan bela Negara dan ulama telah memberikan ruang gerak positif untuk perkembangan gerakan-gerakan Islam yang ada di ranting. (Hasanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Haedar Nashir

Kamis, 13 Agustus 2015

Dilantik, Pelajar NU Wanasari Siap Buka Komisariat di Sekolah Umum

Brebes, Haedar Nashir?

Pelajar NU di Kecamatan Wanasari yang tergabung dalam PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) masa khidmah 2016-2018 dilantik PC IPNU dan PC IPPNU Brebes di aula kantor Camat Wanasari Ahad 8 Januari.?

Dilantik, Pelajar NU Wanasari Siap Buka Komisariat di Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pelajar NU Wanasari Siap Buka Komisariat di Sekolah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pelajar NU Wanasari Siap Buka Komisariat di Sekolah Umum

Pengurus PAC IPNU dan PAC IPPNU Kecamatan Wanasaro merupakan hasil dari Konferensi Anak Cabang di desa Tegalgandu 26-27 November 2017 silam.

Selepas pelantikan, dilanjutkan dengan Rapat Kerja Anak Cabang untuk menyusun program selama dua tahun. “Mudah-mudahan bisa istikomah dalam mengemban amanah ini. Mohon dukungan dari seluruh pihak agar generasi muda NU tetap berkontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ," terang Ketua Panitia pelantikan, Pujiyono

Sementara Ketua PAC IPNU Kecamatan Wanasari Edi Purwanto menambahkan, bahwa program unggulannya antara lain membentuk komisariat atau pengurus IPNU-IPPNU di sekolah baik di sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif maupun sekolah umum.?

Haedar Nashir

"IPNU -IPPNU harus bisa menjadi tambahan pendidikan di luar sekolah formal guna membentuk pribadi yang baik dan berakhlakul karimah dan tetap mendengungkan dakwah islam Ahlussunah wal -Jamaah Annahdliyah demi Islam yang rahmatal lil alamin," tutup Edi.

Kemudian Camat Wanasari Nuruddin berharap bahwa pergeralan IPNU-IPPNU sebagai organisasi pelajar dibawah Naungan Nahdlatul Ulama selalu berpegang teguh terhadap fatwa dan nasihat para alim ulama karena melalui para alim ulama memiliki watak dan kepribadian yang ditaulandankan oleh Nabi Muhammad SAW.?

"Kontribusi nyata dari IPNU-IPPNU untuk membangun daerah di segmen pelajar agar bisa jadi generasi yang cerdas dan islami," harap Nuruddin

Haedar Nashir

Pengurus IPNU yang dilantik antara lain Ketua Edi Purwanto, Sekretaris M. Abdul Heru, Bendahara Abdul Muis. Sedangkan pengurus IPPNU Ketua Lia Ulfiyanah, Sekretaris Siti Nur Janah dan Bendahara Fitria Nur Baeti.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Wanasari KH. Abdul Rouf, Kapolsek Wanasari, segenap pengurus badan otonom NU di Kecamatan Wanasari, pembina dan alumni IPNU-IPPNU. (Bayu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Ulama, Kajian Sunnah Haedar Nashir