Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Semarang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang mengadakan konferensi cabang (Konfercab), 23-24 Agustus 2014, di Gedung Serbaguna PCNU Kota Semarang, Jawa Tengah. Konfercab ke-36 ini akan diawali dengan seminar nasional.

Siswoyo selaku ketua panitia menyampaikan, tema konfercab yang diangkat kali ini adalah "Meneguhkan Gerakan Ahlussunah wal Jamaah dalam Dunia Kampus". Sementara forum seminar akan menghadirkan dosen Universitas Diponegoro, Hasyim Asyari; Dr. Arja Imroni, Sekretaris PWNU Jateng; dan Kapolrestabes Semarang.

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Forum konfercab juga akan menyinggung berbagai permasalahan baik pada lingkup lokal, nasional, maupun global. PMII didorong untuk menunjukkan partisipasinya dalam penyelesaian persoalan di masyarakat.

Haedar Nashir

“Tidak hanya peran dan fungsi PMII yang harus berjalan dengan baik, pergantian pengurus juga wajib berjalan dengan periodik, tidak mengalami panjangnya masa kepengurusan,” tambah Siswoyo.

Haedar Nashir

Karena itu, konfercab ini juga menjadi ajang pergantian pengurus. Dari banyak perguruan tinggi di Semarang, hanya tujuh Pengurus Komisariat (PK) PMII yang akan menentukan ketua baru cabang mereka.

Ketujuh PK PMII tersebut antara lain PK PMII Sultan Agung (Unissula), PK PMII Galang Sewu (Polines), PK PMII Diponegoro (Undip), PK PMII Al-Ghozali (Unnes), PK PMII IKIP PGRI (Universitas PGRI), dan PK PMII Wahid Hasyim (Unwahas). Perwakilan dari masing-masing komisariat ini nanti yang akan memilih pemimpin baru menggantikan Ahmad Junaidi. (Mukhamad Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, PonPes Haedar Nashir

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Jakarta, Haedar Nashir



Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj memiliki kegiatan yang sangat padat. Acara yang dihadiri pun bervariasi, mulai dari pelantikan pengurus NU dari tingkat cabang hingga wilayah, pengajian, seminar, sampai acara pernikahan.?

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisi Lain Kiai Said yang Jarang Anda Ketahui

Kegiatan tersebut tempatnya tidak hanya acara di dalam kota, tetapi juga di luar kota, tak jarang di desa, bahkan luar negeri. Oleh karena itu, butuh tubuh yang kuat dan semangat yang tinggi untuk menghadiri acara-acara tersebut.

Sekretaris pribadi KH Said Aqil Siroj Muhammad Sofwan menuturkan, Kiai Said memiliki fisik yang luar biasa. “Tubuh Kiai Said kuat. Mobilitasnya tinggi,” kata Sofwan di gedung PBNU, Senin (3/4).?

Dalam satu hari, cerita Sofwan, Kiai Said bisa menghadiri acara di beberapa tempat. Bahkan, sehari ia pernah melakukan lima kali perjalanan pesawat. Saking padat aktivitasnya, lanjut Sofwan, Kiai Said memiliki tiga kamar, yaitu kamar di rumah, di mobil, dan di pesawat. ? ?

Haedar Nashir

“Penerbangan paling padet itu lima kali sehari. (Penerbangan) Surabaya ke Batam, Batam-Medan, ? Medan-Aceh, Aceh-Pidi, dan Aceh-Jakarta. Ini terjadi saat kejadian bencana Pidi (Aceh),” jelasnya.

Menurut Sofwan, Kiai Said tidak menganggap simbol-simbol kearaban sebagai simbol kesalehan. Namun demikian, ia sangat hormat dan bahkan tidak segan-segan untuk mencium tangan seorang habib yang notabennya adalah keturunan Arab.

“Beliau sangat hormat dengan habaib yang berilmu dan berakhlak seperti Habib Luthfi. Beliau juga mencium tangan Habib Luthfi dan bahkan duduk di bawah (sementara Habib Luthfi duduk di kursi),” terangnya.

Haedar Nashir

Sisi lain yang tidak banyak orang tahu tentang Kiai Said, lanjut Sofwan, adalah ia memiliki kekuatan hafalan yang sangat tinggi. Ia bisa hafal meski hanya baru sekali membaca sebuah buku, terutama bidang sejarah.?

“Ingatan beliau sangat luar biasa. Riyadlohnya (latian menghafalnya) ya dari kebiasaan dzikir (yang dilakukan sehari-hari), ” katanya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Pemurnian Aqidah, Warta Haedar Nashir

Selasa, 20 Februari 2018

PMII Jabar: Susno Hilang, Cermin Bobrok Penegak Hukum

Bandung, Haedar Nashir. Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Barat berpandangan, hilangnya Susno Duadji (SD) merupakan cermin bobroknya penegakan hukum di Indonesia.

PMII Jabar: Susno Hilang, Cermin Bobrok Penegak Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jabar: Susno Hilang, Cermin Bobrok Penegak Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jabar: Susno Hilang, Cermin Bobrok Penegak Hukum

Ketua PKC PMII Jabar, Edi Rusyandi mengatakan, pasca-gagalnya eksekusi Susno yang dilakukan kejaksaan di kediamannya, Dago Pakar Bandung, merupakan cermin bobroknya penegakan hukum di negeri ini.

Bagaimana tidak, sambung Edi, eksekusi pelaku tindak korupsi tersebut dalam waktu bersamaan bentrok di antara sesama penegak hukum, yakni tim eksekutor kejaksaan dan Polda Jabar, “Sungguh tragis, dan tidak bisa diterima akal yang waras!” katanya melalui pers rilis yang dikirim ke Haedar Nashir, Senin (29/4).

Haedar Nashir

Pasca-Susno dibawa ke Mapolda, Susno pun raib tidak diketahui rimbanya. Dalam kacamata orang awam sekalipun, hal itu semata-mata bentuk perlindungan Korps Polri terhadap kasus Susno, termasuk Polda Jawa Barat.  

Haedar Nashir

Wibawa negara, kedudukan Polri di mata rakyat semakin merosot sebagai regulator tegaknya hukum. Jangan salahkan rakyat, jika sudah tidak lagi memprcayai penegak hukum, “Karena hukum hanya tajam bagi orang yang tidak memiliki kekuasaan,” tambah Edi.

Edi menjelaskan, gagalnya eksekusi Susno bermula dari kesalahan mendasar putusan Kasasi MA yang multi-tafasir. Putusan itu tidak tegas, rancu, dan sarat kepentingan, “Sehingga wajar pihak Susno, memanfaatkan kelemahan adminstrasi Keptusan MA tersebut,” tutur Edi.

Seperti diketahui, Tim gabungan kejaksaan gagal melakukan eksekusi terhadap mantan Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, di kediamannya, kawasan Dago Pakar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/4) lalu.

Susno, terpidana korupsi ini, sekarang tak diketahui keberadaannya. Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri itu hilang sejak meninggalkan Mapolda Jawa Barat pada Kamis (25/4).

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Sabtu, 10 Februari 2018

"Nglakson Orang Saja Bisa Jadi Amal Saleh"

Pringsewu, Haedar Nashir

Sekretaris Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Adiluwih Pringsewu H Aziz Musyafa mengatakan bahwa hal yang tampak sepele seperti membunyikan klakson kendaraan kepada orang lain saat bertemu termasuk amal saleh.

"Tentu dengan niat menyapa dan memberi salam dengan tidak diniati negatif apalagi pamer," katanya, Ahad (31/1), di depan Jamaah Jihad Pagi (Ngaji Ahad Pagi) yang hadir di Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Nglakson Orang Saja Bisa Jadi Amal Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Nglakson Orang Saja Bisa Jadi Amal Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

"Nglakson Orang Saja Bisa Jadi Amal Saleh"

Menurutnya, amal saleh baik kecil maupun besar kitalah yang akan dibawa sebagai bekal kehidupan abadi setelah berakhirnya kehidupan di dunia. "Semua orang memiliki sesuatu yang dicintai di dunia ini. Namun semua hanya menemani sampai pinggir tanah kubur. Yang akan dibawa dan bisa menghibur serta menjadi lampu kita setelah kehidupan dunia ini adalah amal saleh," tambahnya.

Haedar Nashir

Oleh karena itu, alumni Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur ini mengingatkan agar mengerjakan amalan dunia sebatas kehidupan di dunia. "Kerjakan amal dunia sebatas kita berada di dunia. Kerjakan akhirat sekuat kita dengan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Jangan mengikuti hawa nafsu," jelasnya menerangkan materi pada kitab Ayyuhal Walad karangan Imam Al-Ghazali.

Ia menambahkan bahwa jika kita mengikuti hawa nafsu semata dalam kehidupan, maka bersiap- siaplah untuk mendapatkan penderitaan sekaligus akan membebani kita. "Keinginan adalah sumber penderitaan. Jika kita sedang merasa hawa nafsu sedang merasuki diri kita, segera baca Al-Qur’an Surat An-Najiat 40 dan 41. Mudah-mudahan kita tenang," kata Aziz yang juga Kepala KUA Kecamatan Sungkai Utara Lampung Utara ini.

Haedar Nashir

Hadir pula dalam forum Jihad Pagi tersebut antara lain Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua PHBI Kabupaten Pringsewu H Suyadi, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Provinsi Lampung Ustadz Munawir.

Jihad Pagi merupakan pengajian rutin yang diinisiatori oleh Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi. Pada 22 Februari 2016 mendatang Jihad Pagi akan genap 1 tahun berjalan. Direncanakan akan diadakan kegiatan khusus menyambut 1 tahun Jihad padi sekaligus menyambut rangkaian Hati Lahir NU ke-90. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Selasa, 06 Februari 2018

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Surabaya, Haedar Nashir. Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid. 

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari, pendiri NU.

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafii mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Haedar Nashir

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafii mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Haedar Nashir

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat. 

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Gedung NU Waykanan Diresmikan

Waykanan, Haedar Nashir. Gedung PCNU Waykanan Provinsi Lampung diressmikan oleh Bupati Bustami Zainudin di Kampung Tiuh Balak I Kecamatan Baradatu pada Rabu (8/10).Peresmian disaksikan Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri dan pengurus NU setempat.

Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung NU Waykanan Diresmikan

"Mari bersyukur atas berdirinya gedung ini," kata Bupati Bustami di Waykanan yang berada sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung.

Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri mengapresiasi dan bersyukur atas rampungnya pembangunan gedung dua lantai berukuran 13 m  x 11 m yang didirikan di atas tanah 30 m x 17 m itu.

Haedar Nashir

"Alhamdulillah, kantornya mewah, warnanya seperti PKB. Saya memberanikan menyebut PKB karena setiap bulan ada kontribusi bagi NU," ujar KH Sholeh.

Berdirinya gedung NU yang peletakan batu pertamanya dimulai pada Jumat (7/3) tersebut, menurut Ketua PCNU Waykanan Kiai Nur Huda, merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdliyin.

Haedar Nashir

"Dana pembangunan gedung ini berasal dari Bupati Bustami Zainudin Rp 350 juta, lalu bapak Ir Agusman Effendi Rp 10 juta, lalu Bupati Bustami menambah lagi Rp 6 juta dan Rp 50 juta," kata Ketua PCNU Waykanan itu pula.

PCNU, Kiai Huda menambahkan, diamanati melalui bantuan dan Alhamduillah bisa selesai dibangung berkat bantuan Allah SWT dan Bupati Bustami Zainudin.

Hadir pada kegiatan itu mantan Ketua PCNU Waykanan KH Chumaery, Rais Syuriah PC NU Waykanan KH Abdurahman, Wakil Bupati Raden Nasution Husin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gino Vanollie, Kepala Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Syahrul Syah, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Leaderwan, Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi AB Munir.

Terlihat pula Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Waykanan Yonie Aliestiadi, Ketua Muslimat NU Binti, Ketua Fatayat NU Sri Widarti. Adapun pengamanan dilakukan PC GP Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Jumat, 02 Februari 2018

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia

Cirebon, Haedar Nashir . Masyarakat Indonesia harus pandai-pandai menunjukkan rasa syukur atas berkah kedamaian yang dimiliki negara ini. Tidak banyak negara yang seperti Indonesia, yang selalu mengedepankan musyawarah, tak mudah diadu-domba, serta berperilaku santun.

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mari Syukuri dan Jaga Berkah Kedamaian Indonesia

Demikian disampaikan KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) saat memberikan ceramah keagamaan dalam peringatan 100 hari meninggalnya Buya KH Ja’far Aqil Siroj di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Rabu (16/7).

“Contohnya, kita hari ini bisa dengan tenang berkumpul dan membacakan tahlil serta mendoakan almarhum. Sementara di Gaza,? mereka terus menderita akibat tekanan dan serangan Israel dengan korban yang kebanyakan dari kaum wanita, ibu dan anak-anak,” jelas Kang Said.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, lanjut Kang Said. Di daerah-daerah belahan dunia lainnya umat Islam juga tengah diuji dengan kehadiran fitnah besar. Fitnah yang dimaksud adalah gerakan kekerasan dan tidak berperikemanusiaan dengan mengatasnamakan agama Islam.

“Di Iraq, organisasi Islam ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham, red) memproklamirkan berdirinya negara Iraq-Syiria. Ini merupakan sebuah fitnah besar, karena mereka mendirikan negara Islam tanpa persetujuan dunia Islam sendiri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan tersebut, Kang Said juga menyebut fenomena fitnah terhadap Islam dengan mengaitkan gerakan Boqo Haram di Nigeria. Gerakan tersebut sangat dikecam mengingat sering melakukan penyanderaan terhadap warga sipil dan anak-anak sekolah dengan tebusan uang yang besar.

“Untuk itu, kita sebagai masyarakat pesantren dan warga Nahdliyin harus benar-benar menjaga kedamaian di negeri ini. Salah satunya ialah dengan tetap tenang dan bersikap santun dalam menghadapi pengumuman presiden terpilih 22 Juli mendatang. Yang kalah harus menerimanya dengan bijak,” kata Kang Said.

Selain amanat agar tetap tenang, Kang Said juga memohon doa kepada masyarakat Nahdliyin agar komitmen menjaga kesatuan NKRI tetap diemban oleh rakyat Indonesia. Ia menambahkan, terutama bagi masyarakat pesantren agar tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Rabu, 31 Januari 2018

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Pangkalpinang, Haedar Nashir. Sebuah buku baru memperkaya literatur tentang sejarah Islam di Nusantara. Seorang habib muda asal Pulau Bangka, Sayyid Deky Baraqbah (32), menerbitkan hasil penelitiannya selama delapan tahun dalam bentuk buku berjudul “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka”.

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Buku tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Bangka ini memiliki tebal 550 halaman. Sayyid Deky Baraqbah, Rabu (16/7), di kediamannya di Kelurahan A Yani, Pangkalpinang, Bangka Belitung, mengatakan, buku tersebut sejak terbit Februari lalu telah mendapat respon positif baik dari dalam maupun luar negeri.

Buku terbitan Penerbit Ombak, Yogyakarta, ini telah menjangkau negara Belanda, Amerika Serikat dan Australia lebih dari 500 eksemplar.  Ia menilai belum ada buku yang secara mendetail mengisahkan bagaimana perjalanan masuknya Islam di Pulau Bangka.

Haedar Nashir

Menurut Zaky, panggilan akrab sang penulis, referensi yang menceritakan sejarah masuknya Islam di Pulau Bangka selama ini hanya didasarkan pada cuplikan-cuplikan yang tidak rinci dari buku-buku yang pernah terbit sebelumnya. Sedangkan buku “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka” merupakan hasil penelitian langsung. Zaky mengaku terjun langsung meneliti berbagai artefak, manuskrip yang tersebar di Pulau Bangka, Aceh, Cirebon, Palembang, Italia, dan Belanda.  

Haedar Nashir

Dengan menggunakan penelitian atom dari unsur batu nisan dan tembikar yang temukan di areal pemakaman, buku ini menyajikan tesis bahwa pada abad 10 masehi, Islam telah masuk di Pulau Bangka. Menurut penulis buku ini, Islam di pulau tersebut dibawa oleh para mubaligh dari Timur Tengah, dan bukan dari Gujarat, India, sebagaimana mana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini. Dalam buku ini juga dibahas tentang kelompok penentang ziarah kubur (Wahabi) dan peranan tasawuf pada perjalanan Islam di Pulau Bangka.

Rencananya, buku ini akan dibedah pada pertengahan Agustus mendatang di Ruang Serbaguna PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan mengundang beberapa pakar sejarah dan tokoh Islam nasional.

Sebelumnya, buku yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta, Februari 2014 ini, juga telah dibedah di kampus IAIN Raden Fatah Palembang. Lima profesor dan ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan turut serta dalam diskusi yang digelar Juni itu. (Hardy Alqadry/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Hadits, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Lampung Selatan, Haedar Nashir. Peresmian pesantren tahfidz El-Karimi Syah ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua PWNU Lampung KH RM Soleh Bajuri, Ahad (18/1). Pesantren yang berlokasi di desa Purwodadi Rulung Raya Natar, Lampung Selatan ini dimaksudkan menjadi sarana pembinaan agama bagi masyarakat setempat.

Dalam peresmian ini tampak hadir tokoh-tokoh NU Lampung Selatan, Camat, Lurah, dan masyarakat desa Purwodad.

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Pendiri pesantren Huffadz El-Karimi Syah KH Munirul Ikhwan mengatakan, “Pesantren yang baru saja diresmikan Kiai RM Soleh Bajuri bertujuan menciptakan generasi yang memahami ilmu agama yang mendalam demi kemajuan umat Islam khususnya di Lampung.”

Haedar Nashir

Sementara Kiai RM Soleh Bajuri menyatakan apresiasi terhadap upaya pendirian pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Huffadz El-Karimi Syah. Menurutnya, pendirian pesantren ini menjadi angin segar yang menrupakan bentuk kepedulian NU terhadap kondisi masyarakat.

Sudah tidak diragukan lagi pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini pesantren masih berkontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. (Rudi Santoso/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Selasa, 23 Januari 2018

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi berharap kepada kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) supaya memanfaatkan dengan baik sarana kantor Graha Mahbub Djunaidi yang baru dibangun ini.

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia

“Semoga dari kantor ini terus lahir kader-kader bangsa yang terus mewarnai dan terus menjaga Indonesia selamanya menjadi Indonesia dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-57 PMII di Kantor PB PMII, Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat, Senin (17/4).

Di usia ke-57 ini, PMII juga diminta untuk semakin kokoh dan istiqomah, yaitu selalu membela dan mengawal kebenaran, kejujuran, dan terus menerus memberikan makna yang terbaik bagi kehidupan bangsa ini.?

Terutama, kata dia, PMII harus terus mengawal masyarakat agar bebas dari kemiskinan, korupsi, degradasi moral, dan lain sebagainya.

Haedar Nashir

Menteri kelahiran Bangkalan, Madura ini juga menyampaikan kepada kader PMII supaya mengawal komitmen Ketua Umum (Aminuddin Ma’ruf), yaitu menjaga masjid dan kampus.?

“Kalau masjid nggak dijaga oleh PMII, mungkin masjid akan hilang, tidak hanya caranya, tapi masjidnya pun akan hilang,” ujarnya.

Nampak hadir pada peringatan Harlah ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua DPP PPP Romahurmuzy, Pendiri PMII KH Nuril Huda, Ketua Majelis Pembina Nasional (Mabinas) PMII H Abdul Muhaimin Isandar, Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini dan beberapa jajaran pengurus PBNU. (Husni Sahal/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

Doha, Haedar Nashir  

Ketua PBNU HM Rozy Munir yang kini menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Qatar telah bertemu dengan Putra Mahkota dan Wakil Emir, Syeikh Tamim bin Hamad Al-Tani untuk menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Republik Indonesia DR. Susilo Bambang Yudhoyono di Diwan Emiri (Istana Raja), Doha Qatar Senin (26/11).

Acara resmi tersebut dimulai pada jam 09.00 pagi dengan didahului mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia dan Qatar. Selanjutnya dilakukan inspeksi barisan militer pasukan kerajaan lalu diterima oleh Putra Mahkota.

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

  

Tepat jam 10.20, Rozy Munir diterima oleh Putra Mahkota dan langsung menyerahkan Surat Kepercayaan. Kepada putra mahkota, Rozy Munir menyampaikan salam dari Presiden RI untuk Emir Qatar dan berharap adanya peningkatan kerja sama dan hubungan kedua negara agar lebih baik lagi di masa datang khususnya dalam sektor perdagangan, investasi, pariwisata dan sumber daya manusia. Putra Mahkota sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama ini, termasuk peran aktif dalam membantu menangani masalah negara-negara muslim.

Selain, itu Rozy juga memohon agar Emir Qatar, Syeikh Hamad bin Khalifah al-Tani dapat melakukan kunjungan balasan ke Indonesia karena sudah ada dua presiden RI yang datang ke Qatar, yaitu K. H. Abdurrahman Wahid dan DR. Susilo Bambang Yudhoyono.

Haedar Nashir

Dengan diterimanya surat kepercayaan tersebut, ia sudah secara resmi mewakili Indonesia di Qatar dan dapat dapat menjalankan tugas diplomatik. Karena itu, masyarakat Indonesia dan staff KBRI menggelar syukuran dan pemotongan tumpeng merah putih serta jamuan makan siang dengan menu Indonesia seperti opor, lontong sayur, acar ikan ala Sulawesi, sambal terasi dan ragam masakan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan doa bersama serta pemotongan kue "ucapan selamat bertugas" serta pemberian karangan bunga dari Darma Wanita Persatuan Qatar  untuk Dubes Rozy Munir. (adj)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Internasional, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

Doa Saat Mendengar Petir

Di musim penghujan seperti ini geledek, petir dan halilintar seringkali muncul tak terduga. Seperti datangnya hujan yang tak terkira. Sebagian orang mengatakan bahwa hujan adalah petanda turunnya rahmat. Karena air itu sendiri merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Akan tetapi jikalau volume air diluar kemampuan daya tampung maka tak ayal lagi air hujan berubah menjadi suatu hal yang menghawatirkan.

Kekhawatiran itu tidak hanya karena air hujan, tetapi juga dampak yang setelahnya. Masuk angin, badan meriang, banjir dan lain sebagainya. Akan tetapi kekhawatiran itu masih bersifat praduga adanya. Berbeda dengan kekhawatiran yang timbul akibat datanya geledek ataupun petir yang diawali dengan secercah cahaya menyilaukan. Biasanya orang-orang lantas berkomat-kamit menyebut dan berdoa. Adapun doa yang sesuai dengan kondisi ini adalah:

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma la taqtulna bighadhabika wala tuhlikna bi’adzabika wa ‘afina qabla dzalika.

Doa Saat Mendengar Petir (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Saat Mendengar Petir (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Saat Mendengar Petir

Ya Allah, janganlah kau bunuh diriku dengan kemarahan-Mu, dan janganlah kau rusak diriku dengan siksa-Mu, dan maafkanlah aku sebelum semua itu.

Hal ini tidak berarti petir merupakan tanda murka dari Allah swt. Akan tetapi kita selaku manusia yang dhaif ini sungguhlah tidak ada apa-apanya dihadapan alam dan Allah Yang Maha Kuasa. Jangan sampai Allah swt menutup usia kita lantaran kecelakaan yang disebabkan kekuatan alam yang berupa sambaran petir. Karena yang demikian itu sungguh amat sakit dan pedih. (Pen/Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 03 Januari 2018

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Oleh A Mustofa Bisri



Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang). Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Medinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’—memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan kurban perawan seperti semula—sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminien ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.). Namun manakibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa shahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H.–13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Shahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan. Shahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain. Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabt yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Haedar Nashir

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Haedar Nashir

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawasul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qiraah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe. Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana. Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan. Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra. Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid–rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis. Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424

Tulisan ini merupakan kata pengantar KH A Mustofa Bisri atas buku biografi Almarhum KH A Hamid Pasuruan, dan dipublikasikan di dinding akun facebook miliknya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah, Habib Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

Karanganyar, Haedar Nashir - Dalam menyambut harlah IPNU Ke-63 dan IPPNU Ke-62, para pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Karanganyar mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Upacara khataman itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil sebelum dialog terbuka dengan para pembina di Gedung PCNU Kabupaten Karanganyar, Kamis (2/3).

Ketua IPNU Karanganyar M Ilham Subkhan mengatakan, khatmil Quran ini merupakan sarana agar nilai spiritual dalam berorganisasi para pengurus IPNU-IPPNU bertambah untuk kebesaran IPNU-IPPNU.

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Syukuran Harlah, Pelajar NU Karanganyar Gelar Khataman Al-Quran

"Kegiatan khataman ini? merupakan momentum untuk memberikan tambahan bekal spiritual kepada para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten Karanganyar agar lebih giat lagi dalam membesarkan organisasi pelajar ini," ujarnya.

Ketua IPPNU Karanganyar Muflichah mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT karena organisasi pelajar yang ia pimpin di Karanganyar mengalami perkembangan cukup menggembirakan.

Haedar Nashir

Selain itu, ia juga berharap dengan khatmil Quran oleh pengurus ini yang diselenggarakan dalam peringatan harlah IPNU-IPPNU semakin solid dan merata dalam pengkaderan.

Haedar Nashir

"Bertepatan dengan harlah IPPNU yang jatuh hari ini. Semoga IPNU dan IPPNU di Kabupaten Karanganyar semakin solid, aktif, dan berkembang. Selain itu, pengkaderan semakin merata," harap Muflich.

Pembina IPNU NHT Kholid menegaskan pentingnya menggalakan kaderisasi. Tetapi pendalaman terhadap NU tidak kalah penting. “Kita pun harus menata niat perjuangan di IPNU dan IPPNU, bahwa kita khidmah di NU juga melestarikan Aswaja.”

Pertemuan harlah ini ditutup dengan pemotongan nasi tumpeng. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Rintis Kemandirian Nahdliyin, PWNU DKI Jakarta Hadirkan 267 Toko NU di Setiap Kelurahan

Jakarta, Haedar Nashir - PWNU DKI Jakarta kembali mengadakan pelatihan yang bermanfaat bagi umat khususnya bagi kader-kader muda NU di Jakarta. Acara pelatihan ekonomi syariah dengan tema Bisnismu Bisa Go Publik terlaksana selama dua hari, yaitu 26-27 September 2017 di Puncak, Bogor.

Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah menyampaikan pentingnya peran kader muda NU untuk membangkitkan ekonomi umat lewat usaha dan kerja keras.

Rintis Kemandirian Nahdliyin, PWNU DKI Jakarta Hadirkan 267 Toko NU di Setiap Kelurahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rintis Kemandirian Nahdliyin, PWNU DKI Jakarta Hadirkan 267 Toko NU di Setiap Kelurahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rintis Kemandirian Nahdliyin, PWNU DKI Jakarta Hadirkan 267 Toko NU di Setiap Kelurahan

"Saya menganggap perlu datang ke sini, sebab menurut saya bahwa bagi warga NU saat ini, terutama para pemudanya, bukan lagi belajar mantiq, tapi bagaimana caranya menguatkan ekonomi warga," ujar Saefullah.

Saat ini kami sedang membangun Gedung PWNU DKI Jakarta. “Ada 4 lantai, satu lantai untuk membangun ekonomi, khususnya untuk operasional PWNU, tidak sebar proposal, tidak minta ke mana-mana. Harus kader atau pengurus NU yang menggerakkan ekonomi di Jakarta," ucapnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

NU harus mandiri, Saefullah mengutip apa yang disampaikan oleh Ketum PBNU, Said Aqil Siroj, tidak boleh bertahan untuk membangun NU, tapi yang kita lakukan hanya menyebar proposal, kayak di zaman sebelum kemerdekaan.

PWNU DKI Jakarta juga tidak mengandalkan APBN apalagi APBD. “Jangan mentang-mentang saya Sekda DKI Jakarta, tapi ayo bersama kita membangun NU dengan usaha dan kerja-kerja ekonomi kita.”

Rencananya akan disiapkan sekitar 267 toko NU di tiap-tiap kelurahan di Jakarta. “Usaha dan kerja keras dengan sistem yang baik insya Allah harapan kita ini akan menjadi kenyataan dan menuai sukses. Jujur dan amanah kunci utamanya.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, IMNU Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Oleh: Najib Mubarok

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang tidak biasa. Biasanya, suatu masalah timbul karena kebodohan. Namun, yang terjadi akhir-akhir ini permasalahan terjadi justru karena orang-orang berilmu, lulusan pendidikan tinggi.Timbul perdebatan-perdebatan tak berujung tentang akar masalah. Namun tidak ditemukan solusi dikarenakan masing-masing pihak menganggap dirinya paling benar. 

Atau mungkin yang sebenarnya terjadi bukanlah demikian. Mungkin permasalahan-permasalahan yang timbul semuanya disebabkan karena kebodohan. Namun, tidak satu pun yang menyadari dirinya dalam kebodohan, orang bodoh yang bodoh akan kebodohannya.

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, bangsa arab berada dalam kerusakan moral, ketidakadilan, bahkan penindasan dalam wujud perbudakan dan kepemimpinan yang lalim. Satu masa yang disebut zaman kebodohan, zaman jahiliyah. Disebut zaman kebodohan tidak lain karena kerusakan-kerusakan yang terjadi adalah akibat ketidaktahuan. Di masa penjajahan, bangsa Indonesia sangat mudah diperalat menjadi boneka-boneka kolonial, diadu domba, diperbudak penjajah. Akar permasalahan paling utama adalah kurangnya wawasan, ketidaktahuan, minimnya informasi karena minimnya pendidikan. 

Lalu, zaman pun berubah dan bergerak maju, dari kebodohan menuju keilmuan. Pendidikan sekolah tidak lagi menjadi barang langka, sebaliknya menjadi kwajiban bahkan kebutuhan. Wawasan dan akses informasi yang dahulu amat mahal, sekarang menjadi mudah atau bahkan terlalu mudah untuk didapatkan. Namun, semua seperti fatamorgana. Kemajuan-kemajuan dalam bingkai modernisasi di zaman ini seakan tidak menemukan tujuannya. Kita mengatakan zaman ini maju dalam keilmuan jauh dari kebodohan. Namun kerusakan-kerusakan yang terjadi di zaman kebodohan masih terulang, bahkan boleh jadi lebih rusak lagi. Jika dahulu kerusakan terjadi akibat ketidaktahuan, maka sekarang terjadi justru karena mengetahui dan bersengaja melakukan kerusakan. Mungkin bisa dikatakan, kerusakan yang terjadi dizaman ini dilakukan oleh mereka dengan pengetahuan dan wawasan luas, dilakukan dengan sengaja dan terencana, sangat sulit diperbaiki karena para pelakunya bersembunyi dalam kedok intelektualitas. 

Haedar Nashir

Dalam upaya perbaikan dengan disertai niatan introspeksi oleh setiap diri dari kita, hal pertama yang dapat diupayakan adalah menanyakan kembali pemahaman kita tentang ilmu dan semua variabelnya, menanyakan kembali sudahkah upaya-upaya kita dalam mengamalkan ilmu menemukan tujuannya. Setidaknya terdapat tiga hal yang sangat penting untuk kita renungkan lagi makna dan pemahamannya, cakupan dan tujuannya. Ilmu, ulama sebagai subjek ilmu, dan mu’allim sebagai pengemban amanat ilmu, perlu kita kaji ulang berdasarkan fakta-fakta praktik di lapangan. Dan tentu saja, disertakan pula firman Allah SWT dan sabda rasulullah SAW sebagai dasar pijakan berpikir. 

Ada tiga nash Al-Quran dan Hadits yang saya gunakan dalam tulisan ini. Penggunaan nash Al-Quran dan Hadits tidak saya maksudkan untuk saya tafsirkan, karena saya mengakui tidak memiliki kemampuan cukup untuk menafsirkan. Penggunaan nash Alquran dan Hadits kita gunakan sebagai refleksi atas fakta pemahaman yang terjadi, sebagai parameter sudahkah pemahaman kita terkait ilmu dan variabelnya menemukan tujuan pensyariatannya. Terdapat hal menarik pada nash-nash yang disertakan dalam tulisan ini. Semuanya mengandung ‘adatul qashri “?”  yang memiliki arti “anging pestine” dalam bahasa Jawa. 

Berkenaan dengan ilmu, saya teringat dengan cerita seorang teman saat dia hendak berangkat kuliah dan mendapat nasehat dari ayahnya, “Niatkan kuliahmu untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, lillahi ta’ala.” Cerita berbeda saya dapatkan dari salah satu teman saya yang lain saat berkonsultasi dengan keluarganya terkait rencana pilihan jurusan kuliahnya. “Kalau kamu ambil jurusan itu kamu mau kerja apa nanti?” Tanya sang ayah. Mungkin demikianlah yang saat ini dialami oleh kebanyakan dari kita. Kita mengalami degradasi standar nilai untuk memaknai sesuatu, terutama ilmu. Seakan-akan, ilmu dimaknai hanya dari sudut pandang potensi materialistisnya, peringkat nilai, ijazah, kemudahan kerja, kedudukan sosial dan kemapanan finansial. Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Bukhari yang dapat kita gunakan untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik tentang ilmu.

Haedar Nashir

? ?:? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Artinya: “Imam Bukhari berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama, dan bahwasannya ilmu itu diperoleh hanya dengan belajar.” 

Ilmu dan belajar tidak dapat dipisahkan. Satu-satunya cara agar kita berada di jalan menuntut ilmu adalah dengan belajar, hanya dengan belajar. Belajar memiliki banyak dimensi. Membaca buku atau mendengarkan ceramah hanya bentuk formalnya. Belajar muncul dari kerendahan hati merasa bodoh. Karena merasa bodohlah seseorang mampu meniatkan diri belajar. Karena merasa bodohlah seseorang yang belajar tidak akan mungkin menemukan keangkuhan dalam perjalanan menuntut ilmu. Lalu, siapakah mereka orang-orang di belakang kedok intelektualitas yang dengan angkuhnya mudah memberi label salah dan sesat kepada sesamanya?. 

Ilmu yang hanya bisa didapat dengan belajar mengajarkan kita berorientasi pada usaha dan proses menuntut ilmu, mengajarkan tidak adanya jalan pintas. Peringkat nilai, ijazah, gelar akademik, bahkan kedudukan dan pekerjaan dapat diperoleh dengan jalan pintas. Namun ilmu tidak. 

Ulama sebagai subjek ilmu, pelaku dari suatu cabang ilmu. Dia yang ahli dalam ilmu ekonomi adalah ulama ekonomi. Dia yang ahli dalam ilmu matematika adalah ulama matematika. Dia yang ahli dalam ilmu tambal ban adalah ulama tambal ban. Dia yang ahli memungut sampah, yang dengan baju kumuh dan gerobak sampahnya ahli mengelola sampah, adalah ulama bidang ilmu persampahan. 

Namun sepertinya, pemahaman tentang ulama di lapangan berkata lain. Ulama adalah sebutan bagi mereka yang ahli beretorika, yang memiliki keahlian menuai tepuk tangan dari setiap kalimatnya.

Seseorang disebut ulama hanya dilihat dari gelar dan kepintaran otaknya. Akibatnya, tidak sedikit ulama ilmu keuangan menjadi pelaku korupsi, tidak sedikit ulama ilmu kedokteran menjadikan orang sakit tidak lebih sebagai lahan ekonominya, tidak sedikit ulama -ulama yang menjabat di pemerintahan melupakan rakyatnya. Firman Allah SWT dalam surah Al-Fathir:28, sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Bahwasannya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.”

Sangat menarik bagaimana Allah SWT menghubungkan antara ketakutan kepada-Nya dan ulama. Ulama menjadi manusia khusus dari hamba-hamba-Nya yang mampu merasa takut kepada Allah SWT. Satu-satunya yang mampu merasa takut kepada-Nya adalah ulama, hanya ulama. Ulama yang memiliki akar kata yang sama dengan ilmu, yang berasal dari kata dasar “mengetahui”. Dalam pengertian formal, mengetahui memang hanya terkait dengan hasil tangkapan indera dan otak. Namun dalam pengamalan dan implikasi-implikasinya, seorang berilmu diharuskan memiliki kontrol hati, kontrol laku, dan berujung pada ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah SWT. Lalu, masihkah kita mampu untuk mengatakan kepada mereka dengan kepintaran dan gelarnya, yang menjadi oknum pejabat yang korup, menjadi oknum dokter pegawai bayaran, menjadi oknum pemimpin yang lali, sebagai orang yang berilmu?.

Mu’allim adalah orang yang mengajarkan ilmu, seorang pengajar, seorang guru. Mengajarkan ilmu adalah kwajiban, amanat bagi siapapun sebagai wujud mengamalkan ilmu. Mu’allim adalah sifat yang melekat bagi siapapun, karena setiap orang memiliki kwajiban mengajarkan ilmu sesuai kadar ilmu yang dipunyai. Namun seiring perubahan zaman, makna mu’allim pun bergeser maknanya. Mu’allim yang semula bermakna sifat yang merupakan amanat, berubah menjadi satu profesi menjanjikan, satu profesi yang menjamin kemapanan finansial dan kedudukan sosial. Tentu saja, masih banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pengajar dan tetap berorientasikan pada penyampaian alanat ilmu. Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan mengajar sebagai formalitas dalam rangka kegiatan ekonomi. Hadits riwayat Imam Bukhari berikut ini dapat kita jadikan pembelajaran tentang kearifan seorang yang mengajarkan ilmu.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “Dari Muawiyah berkata: saya mendengar nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama. Dan bahwasannya saya hanyalah pembagi, Allah yang memberi...”

Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana semestinya seseorang mengajar. Hal terpenting untuk diperhatikan oleh seorang pengajar adalah kwajiban dalam menyampaikan amanat ilmu, hanya itu. Bahkan, bukan menjadi tanggung jawab seorang pengajar kepahaman mereka yang diajar. Tanggung jawab utama dari seorang pengajar adalah mengajar semaksimal mungkin. Dan tentu saja tidak semestinya, seorang pengajar menjadikan faktor ekonomi sebagiai orientasinya.

Seakan sudah menjadi suatu keniscayaan, mereka dengan pengetahuan dan kecakapan berfikir yang baik akan menempati kedudukan penting dalam kehidupan, posisi-posisi penting yang menjadi garda depan kehidupan. Tentu sangat disayangkan, jika mereka yang berada di garda depan tidak benar-benar berilmu, tidak benar-benar ulama, dan tidak benar-benar mampu memberi keteladanan ilmu. Mungkin sudah terlambat untuk berharap pada zaman saat ini. Namun, kita masih bisa berharap pada generasi muda, generasi berikutnya yang kita semogakan mampu benar-benar berilmu dengan segala

cakupannya. Semoga kelak negeri ini berjalan maju dipimpin oleh mereka para ulama sejati dengan semua kelengkapan moralnya. Semoga kelak generasi-generasi ulama sejati akan terus berlanjut secara kontinu karena terus diwariskan oleh para mu’allim dari generasi ke generasi.

*

Penulis adalah dosen Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Temanggung

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Sabtu, 09 Desember 2017

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Pringsewu, Haedar Nashir



Peserta Musyawarah Daerah (Musda) kedua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pringsewu sepakat memilih KH Hambali untuk melanjutkan kepemimpinan MUI masa khidmah 2017-2022. Musda tersebut diselenggarakan di aula kantor Bupati Pringsewu, Selasa (8/8).

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Ketua PCNU Pringsewu Kembali Pimpin MUI Pringsewu

Kiai yang terkenal sangat sederhana ini didukung secara mutlak dan mufakat tanpa melakukan voting oleh 16 suara yang berhak memberikan hak pilihnya. Sebanyak 16 suara tersebut berasal dari 1 suara MUI Provinsi Lampung, 2 suara MUI kabupaten, 9 suara MUI kecamatan, dan 4 suara dari perwakilan ormas, pondok pesantren dan perguruan tinggi.

Sesaat setelah terpilih menjadi Ketua MUI kedua kalinya, Kiai Hambali mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tanggungjawab yang sangat berat.?

"Ini merupakan tugas yang tidak ringan. Namun saya yakin akan menjadi ringan jika dilakukan dengan bersama-sama oleh seluruh pengurus yang nantinya akan disusun," kata Wakil Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu ini.

Haedar Nashir

Beberapa program kerja MUI masa khidmah 2012-2017 yang selama ini ia pimpin akan dievaluasi secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai hal sehingga akan lebih baik lagi.?

"Nanti kita perdalam lagi Program Kerja kita pada Raker setelah Kepengurusan baru telah terbentuk,” katanya.

Seetelah terpilih, KH Hambali langsung bertemu dengan Bupati Pringsewu H. Sujadi di Kantor Bupati yang kebetulan berdampingan dengan aula tempat diselenggarakannya Musda.?

Pada kesempatan tersebut Bupati menyampaikan selamat atas telah terselenggaranya Musda dan berharap kedepan kepengurusan MUI Pringsewu akan lebih baik lagi.

Haedar Nashir

Bupati berharap juga MUI Pringsewu dapat melakukan terobosan-terobosan baru dalam berkhidmah memberikan kesejukan kepada umat. Sinergitas dan peningkatan kualitas hubungan dengan pemerintah daerah juga diharapkan akan terjain lebih baik lagi.

Hal ini sesuai dengan tema besar Musda kedua ini yaitu yaitu "Peningkatan Kualitas Hubungan Antara Umara, Ulama dan Cendikiawan Muslim dalam Rangka Pembangunan Pringsewu Bersahaja dan Bersenyum Manis". (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

Brebes, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Brebes kembali menggelar lomba baca puisi religi karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tingkat Kabupaten Brebes. Acara yang berlangsung di aula Gedung NU Brebes pada Minggu (14/11) ini mendapat antusias yang tinggi, terutama dari kalangan pelajar dan pemuda di Kabupaten Brebes.

Lomba baca puisi religi yang diikuti sekitar 50 peserta ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah Brebes dan Badan Narkotika Kabupaten Brebes. Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, SE melalui Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Brebes Drs. Atmo Tan Sidik mengapresiasi ide cerdas dakwah lewat seni ini, terlebih dalam lomba yang diikuti pemuda dan pelajar ini disisipi sosialisasi bahaya narkoba.

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

“Dakwah dengan berkesenian adalah langkah yang cerdas, terlebih tema lomba membangun generasi bangsa yang bebas narkoba sangat tepat dengan kondisi generasi muda saat ini,” kata Atmo.

Haedar Nashir

Menurutnya, kemampuan Wali Songo dalam membumikan ajaran Islam di Indonsia ini patut menjadi renungan kita, tidak hanya mengandalkan logika saja tidak cukup, maka melalui seni lah akhirnya agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Untuk itu, melalui lomba baca puisi religi ini, diharapkan para pemuda generasi penerus bangsa mampu mengaktualisasikan diri dengan baik dan memiliki jiwa seni yang tinggi sehingga terhindar dari bahaya narkoba.

Haedar Nashir

Melalui lomba baca puisi karya Gus Mus ini, peserta diharapkan tidak hanya dapat membacakan puisi karya-karyanya. Juga dapat mengartikulasikan setiap kata yang sehingga didapat nilai filosofi dan ruhiyah yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Cabang IPNU-IPPNU Brebes Zaki Al Aman, SPd mengatakan bahwa dipilihnya puisi kaya Gus Mus adalah selain beliau tokoh NU, juga karyanya mempunyai nilai sastra dan religi yang tinggi dan tentunya sudah dikenal di seluruh Indonesia.

Pengurus BNK Brebes, Lukman Suyanto, SH memberikan sosialisasi bahaya narkoba bagi generasi muda, dan mengingatkan akan bahaya penjajahan dengan narkoba. Menurutnya dalam 30 tahun mendatang bukannya tidak mungkin bangsa Indonesia sudah terjajah oleh kekuatan asing. Untuk itu, narkoba yang dijadikan alat jajahan bangsa lain harus disadari oleh generasi muda.

Turut hadir Pengurus NU Cabang Brebes Imam Badjuri, MPd mewakili Ketua PC NU Brebes.

Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya Rr Adinda Prameswari? dari Brebes menjadi Juara 1, juara 2 Siti Cahaya dari Kota Tegal, juara 3 Amalia Hardiyanti dari Brebes. Selain mendapatkan piala Ketua PC NU Brebes, Ketua BNK dan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, pemenang juga mendapatkan sejumlah uang pembinaan. (Wasdiun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, AlaNu Haedar Nashir

Minggu, 29 Oktober 2017

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya ketika memimpin perang shifin. Padahal sebagai panglima, baju itu sangat dibutuhkannya. Maka alangkah gembirannya Ali beberapa hari kemudian tatkala ada yang memberi tahu bahwa baju itu berada di tangan pedagang beragama Yahudi.

Kepada pedagang itu Ali menegur, ”Baju besi yang kautawarkan itu kepunyaanku. Dan seingatku, tidak pernah kuberikan atau kujual kepada siapa pun.”

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Yahudi itu menjawab, ”Tidak baju besi ini milikku sendiri. Aku tak pernah diberi atau membelinya dari siapapun.”

Saling klaim kepemilikkan terjadi berlarut-larut, hingga mereka sepakat membawa perkara itu ke meja hijau. Yang menjabat kedudukan hakim kala itu adalah sahabat Ali yang setia bernama Syuraikh.

Haedar Nashir

Ali mengadu,”Tuan hakim, aku menuntut orang Yahudi ini karena telah menguasai baju besi milikku tanpa sepengetahuanku.”

Syuraikh menoleh ke arah si pedagang Yahudi da bertanya, ”Betulkah tuduhan Ali tadi bahwa baju besi yang berada di tanganmu itu miliknya?”

Haedar Nashir

”Bukan. Baju besi ini kepunyaanku,” sanggah Yahudi berkeras.

”Bohong dia,” ucap Ali agak marah. ”Baju besi itu milikku. Masak aku seorang panglima tidak mengenali baju besiku sendiri?”

Syuraikh menengahi agar Ali tidak berpanjang-panjang. ”Begini, Saudara Ali bin Abi Thalib. Yang terlihat, baju besi itu kini berada dalam penguasaan Yahudi ini. jadi, kalau engkau mengklaim baju besi itu milikmu, engkau harus mengajukan dua saksi atau bukti-bukti lainnya.

”Ada aku punya saksi.”

”Siapa mereka?”

”Anakku Hasan dan Husain,” jawab Ali.

Syuraikh memotong, ”Maaf. Kesaksian anak kandung berapa pun jumlah mereka, tidak sah menurut hukum yang berlaku. Jadi, kalau tidak ada bukti-bukti lain, tuduhanmu itu batal dan baju besi ini mutlak kepunyaan Yahudi ini.”

Vonis dijatuhkan. Tuduhan sang panglima yang juga kepala negara dibatalkan pengadilan. Sementara Yahudi yang tak seagama dengan hakim itu pun memenangkan perkara.

Ketika Syiraikh ditanya mengapa ia tidak memberi keputusan yang menguntungkan Khalifah yang juga orang dekatnya itu, ia menjawab:

”Maaf. Kita ini penggembala. Dan setiap penggembala akan ditanya tentang tanggung jawab penggembalaannya (kullukum raa’in wa kullukum mas-ulun ’an ra’iyyatih).”

Mahbib Khoiron

Disadur dari Hikmah Keprihatinan (KH Abdurrahman Arroisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Kamis, 19 Oktober 2017

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Surabaya, Haedar Nashir . Aswaja NU Center Jatim mengadakan dauroh Ahlussunnah Wal Jama’ah yang bertempat di Aula PWNU Jawa Timur. Kegiatan ini ditujukan untuk kader muda Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), khususnya yang sedang menempuh pendidikan di jenjang perkuliahan.

Kegiatan yang digelar akhir pekan kemarin (6/9) ini menarik minat kaum muda NU. Hampir 80 orang mendaftar sebagai peserta dauroh ini. KH Abdurrahman Navis selaku Direktur Aswaja NU Center Jatim menjelaskan, Dauroh Aswaja digelar untuk mematangkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi banyaknya kelompok agama, khususnya lingkungan kampus

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Faktor Munculnya Kelompok-kelompok di Islam

Dalam kegiatan dauroh ini, terdapat empat materi yang diterima oleh para peserta. Sebelum memasuki materi pertama, pihak panitia memberikan pre-test kepada para peserta dauroh. “Pre-tes tini untuk mengukur tingkat keberhasilan dauroh ini sebab nanti di akhir dauroh juga akan diadakan post-test juga,” ujar Ustadz Fauzi, ketua panitia dauroh ini.

Setelah peserta selesai mengerjakan post-test, acara dilanjutkan kembali dengan pemaparan materi oleh beberapa pemateri yang telah disiapkan oleh panitia. Salah satu pemateri, Ustadz Faris Khoirul Anam menyampaikan, ada tujuh penyebab munculnya perbedaan di tengah umat Islam. Pertama adalah primordialisme kesukuan yang merupakan warisan jahiliyah.

Penyebab kedua adalah faktor perebutan kekuasaan. “Sepeninggal Rasulullah terjadi perebutan kekuasaan antara kaum muhajirin dan anshar, namun bisa tereduksi dengan masih banyaknya pembesar di kalangan sahabat,” jelasnya.

Ketiga adalah persinggungan dengan pengikut agama lain. Keempat, penerjemahan materi-materi filsafat. Kelima, kajian terhadap permasalahan-permasalahan yang sulit dipahami oleh akal. Dan selanjutnya adalah metode pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Haedar Nashir

“Ayat-ayat mutasyabihat itu tidak bisa dipahami secara langsung, ada dua pendekatan. Pertama pendekatan atsariyah (literalis), kedua pendekatan nadhariyah (rasionalis),” jelasnya kepada peserta.

Maksud dari pendekatan atsariyah (literalis) adalah mengartikan teks al-Qur’an maupun hadits dengan apa adanya. Sedangkan maksud dari pendekatan nadhariyah (rasionalis) ialah menggunakan pentakwilan dan logika saat mencari arti dari teks yang sedang dilakukan.

Penyebab terakhir adalah Istinbanth al-Ahkam (penetapan hukum). Dari ketujuh penyebab itu, faktor pertama hingga keenam bisa menyebabkan ikhtilaf madzmum (perbedaan tercela/jelek). Sedangkan hanya yang ketujuh saja yang menyebabkan munculnya ikhtilaf mahmud (perbedaan yang baik/terpuji) yang mana sesuai dengan kaidah khilaful aimmah rahmatul ummah (perbedaan para imam adalah rahmat bagi umat).

Haedar Nashir

“Hanya yang ketujuh saja yang memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutur alumni Al-Ahgaff University itu.

Pemateri lain yang turut mengisi dauroh ini adalah Ustadz Ma’ruf Khozin (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Ainul Yaqin dari MUI, dan Ustadz M Idrus Ramli (dewan pakar Aswaja NU Center Jatim).

Acara dauroh ini ternyata tidak hanya dihadiri oleh kader aswaja dari sekitar Surabaya, tapi juga dari Kediri, Pasuruan bahkan Pulau Madura. “Tertarik untuk mengikuti karena ingin menambah keilmuan tentang Aswaja,” ujar salah seorang peserta. (Ahmad Hanan/Mahbib)

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Haedar Nashir