Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

Majalengka, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Potensi ini semestinya dapat dimaksimalkan dalam membangun peradaban di Nusantara. NU jangan jadi silent majority.

NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

Hal ini disampaikan Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, saat diminta pandangannya mengenai peran NU Subang pasca Konfercab VII yang digelar di Pesantren Pagelaran III, Rabu (21/8) lalu.

"NU jangan jadi silent majority (mayoritas yang diam). Kelompok radikal, yang ekstremis itu sebenarnya minoritas tetapi bisa merajelela, NU yang mayoritas? sudah seharusnya berperan aktif, dalam pola dakwah misalnya, dakwah NU itu mengajak dan merangkul, bukan dakwah yang mengejek dan memukul," paparnya

Haedar Nashir

Kiai Maman pun menilai bahwa kelompok ekstrim yang sedikit itu bisa seolah menjadi besar karena mereka mampu memainkan media.

Haedar Nashir

"Mereka mampu membuat aksi yang sekiranya bisa naik menjadi news, jadi seolah mereka mayoritas, padahal mereka sedikit," tegasnya

Untuk tidak menjadi silent majority, tambah Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu mengharapkan agar para pengurus NU berperan aktif dengan cara melakukan 3S, yaitu silaturahmi, silatulfikri dan silatulamal.

"Memperbanyak silaturhmi dengan berbagai pihak, terutama kaum tani dan nelayan, karena saya kira mereka juga warga NU," ujarnya

Selian itu, lanjut Kiai Maman,? silatulfikri juga juga perlu dilakukan, yakni menyamakan visi misi dengan berbagai pihak, terutama para pengurus, kemudian terakhir adalah silatulamal. “Yaitu bagaimana mampu merealisasikan visi misi tersebut supaya tidak hanya dalam tataran wacana saja," tukasnya.

Lebih lanjut, penulis buku Fatwa Dan Canda Gus Dur tersebut memberi masukan agar NU mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal

"Saya melihat NU itu reaksional, seperti masjid direbut baru mulai membenahi masjid, seharusnya kalau membenahi dari dulu tentu tidak akan seperti itu, nah kalau NU terus memperlihatkan sikap yang reaksional saya kira lama-lama orang akan meninggalkan NU, karena orang akan lebih realistis melihatnya" pungkasnya. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen Haedar Nashir

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Banyuwangi, Haedar Nashir - Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tapi harus juga memperhatikan kecerdasan emosional dan spiritual. Hal tersebut menjadi perhatian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Untuk melatih kecerdasan spiritual tersebut, Bupati Anas mengimbau kepada sekolah-sekolah di Banyuwangi untuk bershalawat setiap hari Jumat.

"Saya mohon kepada setiap kepala sekolah untuk melaksanakan shalawatan setiap hari Jumat," pinta Bupati Anas saat memberikan pengarahan kepala sekolah SD Negeri se-Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (18/1).

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Dengan membiasakan membaca shalawat tersebut, ungkap Anas, akan mampu menstimulus spiritualitas pelajar. "Hati akan tenang jika memperbanyak membaca shalawat. Jika hatinya tenang, maka akan juga berpengaruh pada kecerdasan anak didik," ungkapnya.

Menyemarakkan shalawatan di sekolah, lanjut Anas, bisa menumbuhkan kesenian islami. "Nantinya, juga bisa dikombinasikan kesenian hadrah," urai ketua umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 2000-2003 ini.

Haedar Nashir

Sementara itu, di Masjid Pemkab Banyuwangi sendiri, tiap usai sholat Jumat diisi dengan pembacaan shalawatan. Hal ini, menurut Bupati Anas, ditujukan untuk mendoakan Banyuwangi dari berbagai musibah. "Ini untuk mendoakan Banyuwangi agar terhindar dari musibah dan diberikan kemaslahatan," pungkasnya. (Ayunk Notonegoro/Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Pertandingan, AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Jakarta, Haedar Nashir. Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif mengatakan, saat ini generasi muda Indonesia sedang mengalami diskoneksi dengan tokoh-tokoh intelektual dan pergerakan masa lalu. Mereka lebih paham dengan tokoh dari negara lain.

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Yudi bercerita saat mengisi seminar di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah. Pada seminar itu, ia bertanya kepada mahasiswa tentang siapa tokoh idola mereka. "Sayyid Qutb," kata Yudi menirukan jawaban mahasiswa sebuah perguruan tinggi tersebut di Jakarta, Rabu (30/8) malam.

Mendengar jawaban itu, Yudi mengaku kaget karena tidak ada di antara mereka yang mengidolakan tokoh asli Indonesia. "Kita tercerabut dari intelektual sejarah kita sendiri," tegasnya.

Ia lalu mengungkapkan, jatidiri intelektual suatu bangsa akan hancur dan hilang jika generasinya terputus dari para pemikir dan intelektual sebelumnya.?

Haedar Nashir

Lebih jauh, Yudi menerangkan, Indonesia adalah negara terbesar ketiga dalam hal penggunaan media sosial. "Dalam bermedia sosial, (masyarakat) Indonesia (pengguna media sosial) nomor tiga di dunia," ucapnya.

Namun, hal itu tidak diimbangi dengan minat baca atau berliterasi. Menurut Yudi, minat baca masyarakat Indonesia adalah nomor dua dari bawah. "Minat baca (masyarakat Indonesia), nomor dua dari bawah setelah Botzwana," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pertandingan, Nasional Haedar Nashir

Selasa, 06 Februari 2018

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Surabaya, Haedar Nashir. Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid. 

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari, pendiri NU.

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafii mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Haedar Nashir

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafii mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Haedar Nashir

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat. 

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jepara, Jawa Tengah, Hidayatun Nikmah menjadi wisudawan terbaik Universitas Islam NU (Unisnu) Jepara Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan IPK 3.77.

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua IPPNU Jepara, Wisudawan Terbaik Unisnu

Nikmah merampungkan studinya di Unisnu dalam waktu 5 tahun. Istri dari Chusni Maulana, Ketua IPNU Jepara 2011-2013, ini selama menjadi mahasiswa sudah berkhidmah di SD. Dari kecintaan berkhidmah di sekolah dasar ia pun menulis skripsi “Kontribusi Display Kelas Bagi Selera Belajar Siswa untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Islam”.

Usai wisuda, putri pasangan Muhammad dan Musni akan terus meneruskan khidmahnya di SD karena baginya mengajar anak-anak itu menyenangkan.

Ditanya resep menjadi teladan, ia pun menjawab, “Caranya dengan aktif di perkuliahan, organisasi, diskusi, sosialiasi dan terus berjuang untuk menggapai prestasi,” papar perempuan kelahiran Jepara 17 Agustus 1990.

Haedar Nashir

Menurut Nimmah, berorganisasi tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi. Justru dengan aktif di organisasi, katanya, hidup akan lebih dekat dengan kesuksesan dan keberkahan.

Haedar Nashir

Kepada kader NU pemilik motto hidup" isy kariman au mut syahidan" ini berpesan, hidup di dunia hanyalah sekadar mampir ngombe. “Maka abdikan dirimu untuk orang lain. Khoirun nas anfauhum linnas,” harap ketua IPPNU Jepara masa khidmah 2014-2016 tersebut.

Dalam kesempatan wisuda S1 dan S2 Unisnu yang berlangsung di Gedung Wanita Jepara, Kamis (30/4/15) ia memperoleh beasiswa pendidikan dari Unisnu, Bupati dan kursus gratis dari Jenggala Course. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Pertandingan, Ubudiyah Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir, sekali waktu kami mendengar soal qunut nazilah yang dibaca pada saat bencana dialami umat Islam. Pertanyaan saya, bencana seperti apa yang menuntut kita membaca qunut nazilah dan sampai kapan kita harus mengamalkan qunut tersebut? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdus Salam/Jakarta Utara).

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Batas Awal dan Akhir Qunut Nazilah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Musibah sesekali datang menimpa umat Islam. Dalam kondisi demikian, umat Islam harus tetap bersabar sambil mencari solusi atas musibah yang mendera.

Haedar Nashir

Selain itu, kita juga dianjurkan untuk membaca qunut di setiap shalat wajib lima waktu. Qunut ini disebut doa qunut nazilah atau qunut karena musibah.

Haedar Nashir

Lalu bencana kategori apa saja yang membolehkan kita untuk mengamalkan qunut nazilah? Apakah hanya bencana alam saja, tidak untuk bencana kemanusiaan? Ada baiknya kita melihat pandangan Syekh M Nawawi Banten dalam kutipan Nihayatuz Zein berikut ini.

?) ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Qunut nazilah) sunah dibaca pada i’tidal rakaat terakhir (di semua shalat yang diwajibkan) lima waktu sehari (karena sebuah musibah) yang menimpa umat Islam meskipun menimpa hanya seorang Muslim yang punya pengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani, sama saja baik musibah itu berbentuk kekhawatiran atas serangan musuh meskipun mereka adalah umat Islam sendiri, paceklik, kemarau panjang, wabah, maupun pes,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Syirkah Al-Ma’arif, tanpa tahun, halaman 67).

Kutipan ini jelas mengatakan bahwa bencana kemanusiaan juga menjadi sebab pengamalan qunut nazilah bahkan untuk menghindari serangan musuh meskipun musuh itu umat Islam sendiri.

Penyebab doa qunut nazilah ini mencakup bencana alam seperti hujan, paceklik, atau bencana kemanusiaan seperti penyerangan, penawanan, gangguan masalah keamanan, atau tindakan brutal dan sewenang-wenang lainnya sebagaimana keterangan berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Artinya, “Qunut juga disunahkan pada i‘tidal rakaat terakhir di setiap shalat wajib karena sebuah musibah yang menimpa umat Islam secara umum seperti paceklik, khawatir dari serangan musuh, kemarau panjang, hujan mengandung mudharat misalnya terhadap lahan pertanian, atau musibah yang menimpa beberapa orang Muslim yang berpengaruh luas seperti penawanan seorang alim atau seorang tokoh pemberani karena mudharat umat Islam tanpa keduanya; berdasarkan riwayat sahih bahwa Rasulullah SAW membaca qunut sebulan penuh seraya berdoa untuk mengecam pembunuh para sahabatnya di Bi’ri Ma‘unah untuk menolak kesewenang-wenangan para pelaku, bukan untuk memperbaiki korban tewas karena itu tidak mungkin. Diqiyas pula kasus selain kekhawatiran serangan musuh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Adapun pengamalan qunut nazilah hanya terbatas pada shalat wajib lima waktu. Kesunahan qunut nazilah tidak berlaku pada jenis shalat lainnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sembahyang sunah, nazar, dan shalat jenazah tidak termasuk kategori shalat wajib. Karena itu membaca qunut nazilah pada shalat jenazah makruh karena shalat itu harusnya sebentar. Di luar kategori ‘musibah’ adalah qunut yang dibaca bukan karena musibah. Ini jelas makruh,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 2012 M/1433-1434 H, juz I, halaman 183).

Qunut nazilah diamalkan sejauh bencana yang menimpa umat Islam itu masih berlangsung. Kalau bencana itu sudah tidak lagi berlangsung, maka qunut nazilah tidak lagi disunahkan. Hal ini disinggung oleh Sayyid Bakri dalam I‘anatut Thalibin berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak disunahkan sujud sahwi karena meninggalkan qunut nazilah karena qunut nazilah merupakan sunah sementara di dalam ibadah shalat di mana kesunahan qunut itu hilang seiring dengan hilangnya musibah yang menimpa,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, tanpa tahun, Syirkah Isa Al-Babi Al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 198).

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa merupakan senjata ampuh orang-orang beriman. Terlebih lagi Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana doa qunut menjadi salah satu jalan dalam menghadapi sebuah musibah yang sedang mendera umat Islam. Tentu saja qunut nazilah diamalkan sesuai dengan ketentuan syara’ yang diatur dalam kitab fiqih.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Tokoh, PonPes Haedar Nashir

Kamis, 18 Januari 2018

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem

Rembang, Haedar Nashir. Ribuan jamaah dari pelbagai daerah menghadiri acara haul KH Baedlowi bin Abdul Aziz yang Ke-42, Ahad sore (2/9).?

Haul yang digelar di pelataran Pondok Pesantren Al-Wahdah, Sumbergirang, Lasem-Rembang, Jawa Tengah, itu juga dihadiri sejumlah kiai. Diantaranya Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zuber Sarang. Hadir pula Wakil Bupati Rembang, H Abdul Hafidz.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem

Dalam tausiyahnya, KH Maemoen Zuber mengatakan, bahwa KH Baedlowi merupakan penyebar tarekat Syattariyyah.?

Haedar Nashir

"Tarekat ini merupakan salah satu tarekat terpenting dalam proses islamisasi di Indonesia. Dzikir yang diajarkan oleh tarekat ini sangat cocok untuk orang awam," kata Mbah Maemun.

”Mbah Baedlowi, ikut mengembangkan tarekat syattariyyah,” lanjut Mbah Maemoen, yang juga menantu KH Baedlowi.

Haedar Nashir

Pada bagian lain, Mbah Maemoen menjelaskan hubungan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah meninggal ibarat hubungan antara pengikal benang dengan layang-layang. "Dimana, orang hidup itu ibarat pengikal benang, sedangkan orang yang sudah meninggal ibarat layang-layang."

"Layang-layang bisa dinaikkan dengan mengendorkan benang dari pengikal benangnya. Sebaliknya, layang-layang bisa diturunkan atau dijatuhkan dengan menarik benang dari pengikal benangnya," jelasnya.

Orang yang masih hidup di dunia, lanjut Mbah Moen, bisa menaikkan arwah orang yang sudah meninggal. Sebaliknya, orang yang masih hidup juga bisa menurunkan arwah orang yang sudah meninggal.

”Jadi, meski sudah meninggal, masih ada hubungan dengan orang yang masih hidup,” tambahnya. ? ? ? ?

Dalam sejarah, KH Baedlowi memiliki peran yang cukup besar khususnya dalam upaya mempertahankan keutuhan NKRI. Salah satunya, beliau mengusulkan agar Presiden RI saat itu, Ir Soekarno diberikan gelar waliyyul al-amri ad-dharuri bi as-asyukah.?

Usulan KH Baedlowi itu terkait dengan munculnya persoalan politik di tanah air yang mempertanyakan sah tidaknya posisi Ir Soekarno sebagai presiden di Indonesia.

Akhirnya, usulan KH Baedlowi dibawa ke forum muktamar NU pada tahun 1947 di Madiun yang memutuskan bahwa Ir Soekarno adalah Kepala Negara Republik Indonesia sebagai waliyyu al-amri ad-dharuri bi as-syaukah. Artinya, pemegang pemerintahan yang bersifat darurat dengan kekuatan dan kekuasaan.

Selain KH Baedlowi bin Abdul Aziz, sejumlah masyayikh juga ikut dihauli. Antara lain Ny Hj Halimah bin Shiddiq, Ny Hj Hamdanah binti Ahmad Ke-31, KH Cholil bin Abdullah Umar Ke-13, dan Ny Hj Shofiyatun binti Abdubullah Sajjad Ke-13.

Selain itu, ada Ny Hj Roudloh binti Baedlowi, Kiai Abdul Bar bin Baedlowi, Ny Hj Afwah binti Baedlowi, Kiai Abdul Quddus bin Baedlowi, KH Abdul Halim bin Baedlowi Ny Hj Saudah binti Baedlowi, Ny Hj Fahimah binti Baedlowi, dan segenap sesepuh dan keluarga besar Pesantren Al-Wahdah, Lasem-Rembang.

Redaktur : Hamzah Sahal

Pengirim ? : Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Ketua Ikatan Alumni PMII H Arief Mudatsir Mandan masa khidmah 2013-2018, Senin (10/11) pagi, usai menjalani perwatan di RS OMNI Alam Sutera BSD, Serpong, Tangerang Selatan.

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Arief Mudatsir, Politisi Cendekiawan yang Peduli Kader

“Kami sangat kehilangan sosok alumni yang begitu peduli terhadap kader dan organisasi. Sampai wafatnya beliau masih mengurus IKA-PMII sebagai komitmen untuk terus berjuang atas nama organisasi,” kata Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf via surat elektronik, Senin.

Menurutnya, tokoh yang pernah menjabat Direktur Pengurus Pusat Lakpesdam NU ini sosok politisi cendekiawan. Selain produktif menulis, Arief dinilai selalu menjunjung tinggi etika politik di atas kepentingan pribadi.

Haedar Nashir

Penulis buku “Mendung di Atas Senayan” itu menghembuskan nafas terakhir sehari sebelum memperingati hari ulang tahunnya yang ke-58 pada 11 November 2014. Rencananya jenazah baru akan disemayamkan besok, Selasa (11/10), pukul 08.00 WIB di Pemakaman Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Selain aktif memimpin IKA-PMII selama dua periode berturut-turut, Arief juga dikenal sebagai politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia terpilih sebagai Ketua IKA-PMII untuk kedua kalinya dalam Musyawarah Nasional IKA-PMII ke-5 di Jakarta, 2 Juli 2013. (Mahbib Khoiron)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pertandingan, Santri Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Tidur Seharian, Adakah Pahala Puasanya?

Orang bilang, puasa itu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Menahan diri ini sepertinya lebih terasa di saat yang bersangkutan tengah berjaga dibandingkan sambil tidur. Apa betul demikian? Apakah menahan diri sambil tidur itu masih bisa disebut menahan diri?

Kalau dihitung-hitung seperti itu, maka Allah memiliki perhitungan yang lebih luas dengan penuh rahmatnya. Allah tetap memberikan pahala bagi orang puasa sambil tidur. Syekh Romli dalam Nihayatul Muhtaj mengatakan,

Tidur Seharian, Adakah Pahala Puasanya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidur Seharian, Adakah Pahala Puasanya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidur Seharian, Adakah Pahala Puasanya?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Menurut pendapat yang shahih, tidur yang mengabiskan waktu sehari penuh itu tidak masalah secara syara’ karena ia tetap dinilai pihak yang kena khithab syara’. Lagi pula orang tidur itu akan terjaga bila dibangunkan. Karenanya, ia wajib mengqadha’ sembahyang yang luput sebab tidur, bukan luput sebab pingsan.

Haedar Nashir

Menerangkan komentar gurunya, Syekh Ali Syibromalisi mengatakan dalam Hasyiyahnya alan Nihayah,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Redaksi “tetap dinilai pihak yang kena khithab syara’”, maksudnya yang bersangkutan tetap diberikan pahala karena puasanya berdasarkan illat hukum yang sudah tersebut itu.

Namun tetap saja kita tidak boleh menyalahgunakan rahmat Allah yang luas itu, lalu memilih tidur seharian. Masih lebih baik kalau kita menghidupkan siang hari itu dengan baca Al-Quran, mengaji, dzikiran, sedekah, atau aktivitas yang disunahkan lainnya.

Di samping itu, kita juga masih memiliki kewajiban lain selama puasa, yakni menjalani aktivitas keseharian kita sebagaimana biasa. Petani berangkat ke sawah. Pegawai menuju kantor. Pelajar menuju sekolah. Pedagang menuju pasar. Puasa bukan alasan untuk tidur atau menurunkan tensi aktivitas harian. Pasalnya kita hidup bukan sekadar untuk pahala. Itu sudah urusan Allah. Tetapi kita juga memiliki kewajiban-kewajiban di luar puasa.

Namun demikian tidur masih lebih baik daripada terjaga lalu melakukan aktivitas yang benar-benar dapat membatalkan pahala puasa seperti dusta, ghibah, menghasut, menyudutkan orang atau kelompok lain. Atau pilihannya kita mengunci mulut saat berpuasa sambil melakukan kewajiban harian daripada tidur atau menjelek-jelekkan pihak lain. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Pertandingan, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Muslimat NU Suarakan Pentingnya Perlindungan Konsumen

Jakarta, Haedar Nashir - Sedikitnya 100 ibu-ibu anggota Muslimat NU Jakarta Utara menjadi peserta kegiatan bertajuk Penyuluhan Konsumen Cerdas di Kantor MUI Jakarta Utara, Selasa (28/2) lalu.

Acara ini terselengara atas kerja sama Muslimat NU Jakarta Utara dan Kementerian Perdagangan RI. Forum ini menghadirkan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Diah Palupi yang berbicara perihal pentingnya mutu produk terhadap keamanan konsumen dan praktisi perlindungan konsumen Jakarta Aman Sinaga dengan materi peranan badan penyelesaian sengketa konsumen.

Muslimat NU Suarakan Pentingnya Perlindungan Konsumen (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Suarakan Pentingnya Perlindungan Konsumen (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Suarakan Pentingnya Perlindungan Konsumen

Selain itu, Ketua PP Muslimat NU Hj Siti Aniroh SEY juga hadir dan menyajikan materi Perlindungan Konsumen Perspektif Hukum Islam.

Aniroh menegaskan pentingnya Muslimat NU melakukan peningkatan perlindungan kepada konsumen serta mengupayakan tersedianya makanan yang sehat.

Haedar Nashir

“Untuk mewujudkan masyarakat sejahtera dan berkualitas perlu dijiwai ajaran Islam Ahlusunnah wal Jama’ah termasuk dalam penyediaan makanan yang dikonsumsi keluarga,” kata Aniroh.

Sekretaris Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruchyati menyampaikan pada Kamis (3/2), acara tersebut sangat penting untuk menggerakkan peran Muslimat NU DKI Jakarta dalam memberikan pemahaman betapa perlunya perlindungan bagi konsumen.

Haedar Nashir

“Agar anggota Muslimat bisa menyampaikan pengetahuan mengenai pentingnya pengertian serta pemahaman hukum Undang-undang perlindungan konsumen,” ujar Yayah. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Kudus, Haedar Nashir. Sebanyak 21 pelajar setingkat SMA/MA/SMK dari berbagai sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama Kudus, Jawa Tengah, mengikuti lomba reportase pada Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) di aula Gedung Pengurus Cabang NU pada Ahad pagi (8/2).

Secara praktik, sebenarnya lomba ini telah dimulai pada saat acara pembukaan hari Sabtu (7/2) di Gedung Olahraga (GOR) Wergu Wetan milik Pemkab Kudus. Saat itu juga, para peserta telah berburu berita, baik pada upacara pembukaan Porsema sendiri maupun di beberapa titik lokasi pelaksanaan berbagai lomba yang tersebar di beberapa tempat di Kudus itu.

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Porsema Kudus Cetak 21 Calon Jurnalis Muda NU

Peserta diberi waktu untuk menulis hasil liputannya selama 90 menit, sejak pukul 09.00-10.30 WIB. Disediakan selembar kertas folio dan karenanya harus ditulis secara manual. Penilaian meliputi isi berita, narasumber, penggunaan bahasa, hingga ketepatan waktu saat mengumpulkan naskah.

Haedar Nashir

Untuk mengatasi kejenuhan menunggu selama penilaian juri, para peserta berkumpul dan dipersilakan untuk berbagi pengalaman mengenai dunia kepenulisan. Baik menulis berita, penerbitan majalah, hingga karya sastra.

Terdapat di antaranya siswi MA NU Mu’allimat yang baru saja menerbitkan buku antologi cerpen dan puisi bertajuk “Rembulan Masih Tersenyum”. Sementara itu, siswi MA NU Banat mengisahkan pengalamannya selama menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah di tengah kesibukannya santri di pondok pesantren. Hadir juga alumni peserta yang menjuarai lomba reportase pada Porsema tingkat Jawa Tengah tahun lalu untuk memberi motivasi.

Haedar Nashir

Rosidi, salah satu juri mengatakan bahwa lomba ini bukan untuk menang atau kalah. “Salah, jika teman-teman hanya berorientasi di lomba ini hanya untuk menang atau kalah. Karena lebih dari itu, ajang ini merupakan bagian dari proses untuk terus belajar,” paparnya di depan peserta.

Rosidi yang sekarang mengelola salah satu situs berita online itu juga mengarahkan para peserta untuk terus menulis dan mengirimkannya ke media mana saja. Seperti halnya ia mengatakan tak boleh putus asa jika tak memenangkan lomba ini, ia pun melarang para peserta putus asa untuk mengirimkan tulisan ke media, baik cetak maupun digital.

Juara I putri, Nila Sinta Fitriyani mengaku bahwa setelah mengikuti lomba tersebut ia akan terus belajar menulis. “Awalnya saya tak menyangka bisa juara, padahal saingannya dari sekolah-sekolah terkenal di Kudus. Ternyata bisa! Saya senang, dan saya pasti akan terus belajar menulis. Sekarang saya merasa lebih tertarik lagi di dunia tulisan,” kata Sinta yang mengharumkan almamaternya, MA NU Ibtidaul Falah Samirejo kecamatan Dawe, Kudus.

Selain Rosidi, juri lainnya yakni Qomarul Adib, wartawan Haedar Nashir daerah Kudus. Acara diakhiri dengan foto bersama antara peserta, pendamping, dewan juri serta panitia. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Pertandingan, Pendidikan Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Sleman, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nailul Ula Plosokuning Yogyakarta, selain diajarkan kitab kuning, pengajian Al-Qur’an, tapi juga teknologi yang berkembang dewasa ini. Pengenalan teknologi diisi dengan pelatihan Teknologi Informasi (TI).

Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula KH. Aliy Asad mengatakan, di zaman serba "mobile" ini para santri diajak melek teknologi karena disadari atau tidak, Muslim Indonesia (Aswaja) sudah ketinggalan, “Kebanyakan aplikasi islami dibuat mereka (non-Aswaja). Berangkat dari keperihatinan itulah kami mengadakan kegiatan ini," terangnya, Ahad lalu (19/5).

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nailul Ula; Ngaji Kitab Melek Teknologi

Menurutnya, pada zaman dahulu, Walisongo menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah di Jawa (islamisasi Jawa - jawanisasi Islam). Hal itu dilakukan karena masih kental dengan budaya Hindu-Budha.

Haedar Nashir

Walisongo kemudian berhasil mendakwahkan Islam melalui media budaya, “Kalau kita sebagai penerus Walisongo, berarti harus jeli menggunakan "perangkat budaya" yang paling dominan hari ini, yaitu teknologi digital, lebih spesifik lagi gadget,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebagai para pengikut Walisongo, semestinya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi digital sebagai alat untuk berdakwah, sebagai itiba kepada mereka. Selain itu juga untuk mengimbangi dominasi penguasaan teknologi orang non-Muslim yang semakin kuat dengan konten-konten yang tidak bertanggung jawab dan penuh maksiat.

Haedar Nashir

Metode pembelajaran di Nailul Ula tidak sepadat di pesantren pada umumnya, karena memang disesuaikan dengan kegiatan santri yang rata-rata aktivis kampus seperti UGM, AMIKOM, UIN, UII, UNY, dan lain-lain.

Pesantren yang terletak di daerah Ploso Kuning III No:81 Sleman juga menyediakan wadah mendukung minat dan bakat santri, dviantaranya seni rebana, english club, dan juga LPQ Bina Akhlaq.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor    : Ajie Najmuddin, M Khoiruddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pertandingan, Lomba Haedar Nashir

Sabtu, 09 Desember 2017

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya

Sidoarjo, Haedar Nashir. Minum obat kencing manis harus dilakukan secara terus menerus dan dilakukan dalam waktu lama, bahkan seumur hidup. Hal ini, menurut dokter Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr. Atik Yuniani, untuk melindungi kerusakan organ yang permanen karena kencing manis, tentu saja atas petunjuk dari dokter.

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU ini menegaskan, pemberian obat kencing manis dilakukan dengan cara titrasi, artinya dimulai dengan dosis kecil yang dinaikkan secara bertahap. Apabila perlu dikombinasikan dengan beberapa obat lain, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien untuk mencapai kadar gula darah yang diinginkan.

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampai Berapa Lama Obat Kencing Manis Diminum? Ini Penjelasannya

"Seringkali kita mendengar pertanyaan minum obat kencing manis sampai kapan? kalau tidak ada keluhan apakah obat harus terus diminum? kalau minum obat terus menerus apakah tidak merusak ginjal?. Sebelum menjawab beberapa pertanyaan tersebut, perlu kita pahami bahwasanya, pada penderita kencing manis (diabetes mellitus) ? terjadi penumpukan gula darah (glukosa) di dalam pembuluh darah yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah pada pemeriksaan laboratorium," kata dr Atik, Kamis (21/7).

Atik memaparkan, penumpukan gula darah terjadi akibat kegagalan tubuh dalam pemanfaatan glukosa, kurangnya hormon insulin efektif yang lazim terjadi pada penderita kencing manis. Kadar gula yang tinggi inilah yang akan mengganggu banyak organ apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Haedar Nashir

"Pengendalian gula darah dapat dilakukan dengan cara pengaturan diit dan latihan fisik yang sesuai dengan kondisi pasien. Apabila dengan pengaturan diit dan latihan fisik tidak berhasil, maka pada penderita kencing manis harus mulai diberikan obat-obatan kencing manis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, dan pada beberapa pasien dapat diberikan suntikan insulin," paparnya.

Ia menjelaskan, gula darah puasa antara 95-126 mg/dl, dan gula darah setelah makan antara 150-180 mg/dl. Dengan bahasa sederhana, gula darah manusia ada di kisaran antara 100 dan 200. Apabila target gula darah telah tercapai, maka dosis tersebut akan dipertahankan, dan akan terus dievaluasi, dimonitor dan akan dilakukan penyesuaian. Meskipun kadar gula darah sudah dalam batas normal, dan pasien sudah merasa nyaman, tetap dilakukan monitoring serta evaluasi oleh dokter yang merawat secara rutin.

Kadar gula darah yang teregulasi dengan baik, dapat mencegah terjadinya komplikasi lanjut, penyakit kencing manis seperti, gagal ginjal, penyakit jantung koroner, kebutaan akibat gangguan saraf mata, stroke dan lain-lain.

"Biasanya kita baru bertekad untuk berobat dengan rutin ke dokter pada saat komplikasi lanjut itu telah terjadi. Padahal, pada kondisi tersebut regulasi gula darah yang baik pun tidak dapat mengembalikan fungsi organ yang telah terganggu karena kerusakan organ tersebut bersifat permanen atau menetap," jelasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Lapangan Triguna di samping UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipadati kaum muslimin. Spanduk-spanduk bertajuk shalawat dan Majelis Rasulullah bertebaran di sekitar area kampus. Malam itu Tabligh Akbar “UIN Jakarta Bershalawat dan Santunan Anak Yatim” diselenggarakan CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta dan Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN, bekerja sama dengan Majelis Rasulullah SAW.

Menurut Widya Prayoga selaku perwakilan panitia penyelenggara dari CSSMoRA, acara yang berlangsung Jumat (25/03) tersebut merupakan bentuk silaturrahim komunitas penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI kepada mahasiswa UIN Jakarta serta kepada khalayak luas.

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

“Semoga lewat acara UIN Bershalawat ini kita juga bisa menjalin perdamaian dan persaudaraan, serta mengambil hikmah dari Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi nama universitas kita ini,” ujar Widya.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Rektor UIN Jakarta, yang diwakili oleh Kepala Subbagian Administrasi dan Alumni, Rohmatullah. Selain menyampaikan amanat Rektor, Rohmatullah juga mengulas sejarah Syarif Hidayatullah sebagai cikal bakal nama institusi UIN yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan itu.

Haedar Nashir

“Syarif Hidayatullah, yang juga dikenal dengan Sunan Gunung Jati ini merupakan seorang pemimpin yang memiliki peran penting dalam perkembangan daerah Jakarta, yang waktu itu masih bernama Jayakarta. Karena hubungan itulah, Syarif Hidayatullah terpilih menjadi nama universitas ini,” terangnya.

Jamaah tampak khidmat menyimak dan melantunkan Simthud Duror bersama pemimpin majelis. Di panggung hadir Kapolsek Ciputat, Ketua PCNU Tangerang Selatan H Muhammad Tohir, serta pejabat dari Kelurahan Cempaka Putih. Tausiyah dan doa diisi oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Al Habsyi, dan acara ditutup dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada anak yatim oleh Bapak Rohmatullah.

Haedar Nashir

CSSMoRA adalah organisasi berbasis pesantren yang berusaha turut melestarikan budaya Islam di Indonesia, dan berorientasi untuk pengembangan dunia pesantren. Organisasi ini beranggotakan penerima beasiswa santri dari Kemenag RI, dan tersebar di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 30 November 2017

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kudus, Haedar Nashir

Menjelang Ramadhan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus menggelar pelatihan penguatan tenaga pengolah data lembaga pendidikan keagamaan Sabtu (5/6) di hotel Proliman Kudus.

Acara yang diikuti oleh 30 perwakilan dari pondok Pesantren, 30 perwakilan dari TPQ, dan 50 perwakilan dari madrasah diniyyah (madin) ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tenaga pengolah data di lembaga pendidikan keagamaan.

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kasi Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kudus, HM Khafid, mengatakan, kegiatan ini untuk meningkatkan kemahiran pengolah data di dalam pondok pesantren, TPQ, dan Madin. “Tujuannya adalah untuk validasi pendataan di masing-masing lembaga,” terangnya.

Haedar Nashir

Ia berharap, peserta kegiatan ini akan menjadi pengawal sekaligus ujung tombak dalam pengisian sekaligus pemutakhiran pendataan di pesantren, TPQ dan madrasah diniyah. Selama ini, ia mengaku, salah satu kesulitan pendataan riil di lembaga pendidikan nonformal adalah keengganan dari pihak lembaga bersangkutan untuk didata.

“Dengan ini kita berharap, mereka akan dengan sendirinya melakukan pendataan sendiri, mulai dari melengkapi data-data lembaga, sarana prasarana lembaga, serta yang paling penting, data santri yang belajar di lembaga itu,” kata Khafid.

Haedar Nashir

Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pemutakhiran data pesantren yang dilakukan pihaknya satu tahun terakhir. Sebelum pemutakhiran, ada 155 pondok pesantren di Kudus yang terdaftar. Setelah dilakukan pemutakhiran izin operasional, baru 72 pesantren di Kudus yang melaksanakan pemutakhiran izin operasional. “Bagi pesantren yang? belum melakukan pemutakhiran, diharapkan segera? melaksanakannya. Bagi yang sudah, dimohon untuk segera melengkapi data-data ini kemudian akan kami setorkan ke pusat,” pungkasnya. (Muhammad Kharis/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Aswaja, Ahlussunnah Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh

Jakarta, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar mengecam pembakaran Gereja yang dilakukan oleh sekelompok Masyarakat di Aceh pada Hari Selasa (13/10).

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh

Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM & Pemerintahan GP Ansor Makassar, Ardian Arnold mengutuk keras aksi intoleran tersebut.

Menurutnya, tidak ada alasan yang bisa membenarkan aksi tersebut & sangat bertolak-belakang dengan nilai yang terkandung dalam al-Quran & hadits.

Haedar Nashir

Ardian juga meminta kepada Pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas Kasus tersebut agar tidak terjadi insiden susulan yang dapat memperkeruh suasana keberagamaan di Bangsa ini.

Haedar Nashir

Kasus pembakaran rumah ibadah bukan pertama kali terjadi, sebelumnya di Papua Masjid di bakar, Polri harus mengantisipasi hal-hal seperti ini terjadi lagi.

"Saya yakin Jikalau POLRI bekerja maksimal dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Kasus seperti ini dapat diantisipasi", ungkap Ardian dalam rilisnya, Rabu(14/10)

Lanjut, Ardian juga minta Polri menangkap Pelaku Intelektual yang menjadi otak pembakaran gereja, serta memastikan tidak terjadi kejadian yang serupa khususnya di Aceh dan di Indonesia secara umum. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Pertandingan, Kiai Haedar Nashir

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir

Pati, Haedar Nashir. Selain materi pokok kaderisasi, PAC GP Ansor Sokolilo kabupaten Pati memasukkan dalam pelatihan kader dasar (PKD) pembahasan jatuhnya harga padi pascabanjir di Jawa Tengah. GP Ansor Sukolilo menginginkan 150 peserta PKD Ansor untuk terlibat dalam memecahkan masalah konkret di masyarakat.

Di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2), peserta PKD Ansor menilai anjloknya harga padi pascabanjir menambah beban warga yang sedang tertimpa musibah banjir.

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sukolilo Kaji Anjloknya Harga Padi Pascabanjir

Padi warga dihargai dengan harga rendah. Para tengulak kemudian menjual kembali padi warga kepada pengepul dengan harga tinggi. Kenyataan ini mendorong pengurus GP Ansor Sukolilo untuk membahas dalam PKD dan menindaklanjutinya.

Haedar Nashir

“Alhamdulillah, setelah pelatihan ini saya mempunyai wawasan yang banyak. Utamanya tentang perekonomian khusunya bagaimana memasarkan padi saya agar harganya tidak jatuh,” demikian dinyatakan seorang peserta PKD Moh Syamsul Arifin. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Makam, Quote Haedar Nashir

Sabtu, 18 November 2017

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan

Subang, Haedar Nashir. Pembangunan lantai dua gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Subang, hampir rampung. Kendati demikian, pengurus NU dan Nahdliyin sudah bisa menggunakan gedung baru ini untuk pelbagai macam kegiatan organisasi.

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Baru PCNU Subang Siap Difungsikan

"Tinggal sedikit lagi pembangunannya. Mudah-mudahan cepat selesai. Kita pengennya nanti bulan Muharom sudah bisa diresmikan," kata Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah kepada Haedar Nashir usai rapat Reboan di kantor PCNU setempat, Rabu (24/9).

Gedung PCNU Subang ini, Kiai Musyfiq melanjutkan, akan difungsikan untuk rapat dan aneka kegiatan-kegiatan organisasi yang ada di bawah naungan PCNU Subang. "Nanti gedung ini untuk kegiatan-kegiatan lembaga, lajnah, banom, giliran nantinya hari ini yang pakai siapa, besok siapa, jadi setiap hari ada kegiatan terus," terang Kiai Musyfiq.

Haedar Nashir

Ia berharap, fasilitas gedung baru ini dapat menambah semangat dan motivasi bagi para pengurus untuk lebih aktif lagi dalam menjalankan roda organisasi PCNU Subang.

Haedar Nashir

Dari pantauan Haedar Nashir, penyelesaian renovasi gedung ini hanya butuh memasang plafon dan kaca jendela. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Amalan, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 16 November 2017

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas

Solo, Haedar Nashir. Jaringan Gusdurian Indonesia menggelar kegiatan bertajuk “15 Pesan untuk Masa Depan Aksi/2015” yang diadakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, Kamis (15/1).

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Aksi 2015, Gusdurian Libatkan 40 Komunitas

Menurut perwakilan dari Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia, Tata, dalam sebuah acara kongkow bareng para relawan dari Gusdurian mengajukan satu pertanyaan yang sama kepada warga yang lewat di sekitar lokasi kongkow: "Selain kesejahteraan ekonomi, apa hal penting yang harus diperhatikan pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya?"

“Selama ini, banyak target-target pembangunan yang tidak sesuai karena minimnya keterlibatan berbagai pihak terutama pihak rakyat sebagai pihak penerima manfaat. Target pembangunan hanya dibahas dan diimplementasikan oleh kelompok elit selama ini,” paparnya.

Haedar Nashir

Tata menambahkan, kegiatan ini melibatkan 40 lebih komunitas. “Komunitas Gusdurian juga ikut turun untuk aksi serentak di 20 kota. Tapi sebagian juga ada yang turun pada tanggal lain,” terangnya saat dihubungi Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Seperti halnya di Kota Solo yang akan mengadakan Program Aksi 2015 ini pada Ahad (18/1) mendatang. Koordinator Gusdurian Jawa Tengah, Hussein Syifa, menjelaskan Komunitas Gusdurian di Solo akan turun pada acara car free day. “Kemungkinan pengumpulan data juga akan dilanjutkan pada acara khataman di Pesantren Al-Muayyad akhir Januari ini,” ujarnya.

Lebih lanjut ditambahkan Hussein, hasil pendataan tersebut, nantinya akan dikumpulkan ke Seknas Gusdurian, untuk kemudian dikristalkan menjadi 15 pesan yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk mengadakan program advokasi di masing-masing daerah. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

Jombang, Haedar Nashir. Selama 3 hari (2-4/3), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang Jawa Timur menyelenggarakan "Sekolah Menulis". Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan sarjana dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng.

"Kita sadar bahwa kekurangan yang menjadi keprihatinan bersama adalah minimnya kemampuan kader yang bisa mempublikasikan kegiatan yang diselenggrakan pengurus dan kader," kata Nizar Rafi al-Muttaqin kepada Haedar Nashir, Senin (2/3). Padahal dalam pandangan alumnus Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari Jombang ini, ada banyak kegiatan yang dilakukan PMII baik internal organisasi maupun pendampingan di masyarakat, lanjutnya.

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

"Namun karena minimnya para penulis, khususnya mereka yang memiliki kecakapan dalam menulis berita, nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan tidak pernah terpublikasi," kata Ketua 1 PC PMII Jombang yang menangani kaderisasi ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari keprihatinan tersebut, akhirnya menginspirasi para aktivis PMII menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Jurnalistik". Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng. "Hari pertama dilaksanakan di kantor redaksi Majalah Tebuireng, dan selanjutnya di perpustakaan pesantren ini," terangnya.

Haedar Nashir

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi seputar penulisan berita dan feature, cara menulis opini hingga penulisan tokoh. "Ini masih informasi awal, selanjutnya akan dilakukan pendalaman," kata Nizar, sapaan akrabnya.

Diharapkan usai kegiatan ini, maka akan lahir para jurnalis muda yang memiliki kepedulian dengan kegiatan yang diselenggarakan. "Baik yang dilakukan secara rutin di internal PMII maupun di Nahdlatul Ulama," terangnya.

Sejumlah narasumber dihadirkan. Di antaranya Romza M Gawat dari Radar Mojokerto yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. "Mas Romza menyampaikan materi seputar penulisan berita," tandas Nizar. Narasumber lain adalah Ahmad Faozan dari media Tebuireng Grup dengan bahasan seputar penulisan opini dan artikel.

Bagaimana format media yang akan dikelola usai kegiatan ini, Nizar menyampaikan bahwa ada salah seorang tokoh di Jombang yang berkenan untuk membiayai media yang akan dikelola. "Kita menginginkan media yang akan dikelola berbentuk buletin yang dicetak sesuai dana yang telah disanggupi investor," ungkapnya.

Karena itu, demi menjawab tantangan dan kesempatan yang diberikan, PMII akan menjawabnya dengan ketersediaan kader yang memiliki kelebihan dalam tulis menulis ini.

"Memang butuh proses," kata Nizar. Namun kedekatan antara narasumber dengan para peserta pelatihan, maka dapat dipastikan perkembangan kemampuan peserta dapat terpantau dengan baik. "Intensitas komunikasi dan konsultasi adalah juga faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan ini," pungkas Nizar. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Habib, Pertandingan Haedar Nashir