Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Banyuwangi, Haedar Nashir - Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tapi harus juga memperhatikan kecerdasan emosional dan spiritual. Hal tersebut menjadi perhatian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Untuk melatih kecerdasan spiritual tersebut, Bupati Anas mengimbau kepada sekolah-sekolah di Banyuwangi untuk bershalawat setiap hari Jumat.

"Saya mohon kepada setiap kepala sekolah untuk melaksanakan shalawatan setiap hari Jumat," pinta Bupati Anas saat memberikan pengarahan kepala sekolah SD Negeri se-Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (18/1).

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Anas Ajak Sekolah di Banyuwangi Shalawatan Tiap Jumat

Dengan membiasakan membaca shalawat tersebut, ungkap Anas, akan mampu menstimulus spiritualitas pelajar. "Hati akan tenang jika memperbanyak membaca shalawat. Jika hatinya tenang, maka akan juga berpengaruh pada kecerdasan anak didik," ungkapnya.

Menyemarakkan shalawatan di sekolah, lanjut Anas, bisa menumbuhkan kesenian islami. "Nantinya, juga bisa dikombinasikan kesenian hadrah," urai ketua umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) 2000-2003 ini.

Haedar Nashir

Sementara itu, di Masjid Pemkab Banyuwangi sendiri, tiap usai sholat Jumat diisi dengan pembacaan shalawatan. Hal ini, menurut Bupati Anas, ditujukan untuk mendoakan Banyuwangi dari berbagai musibah. "Ini untuk mendoakan Banyuwangi agar terhindar dari musibah dan diberikan kemaslahatan," pungkasnya. (Ayunk Notonegoro/Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Pertandingan, AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 22 Januari 2018

Kesalehan Sosial Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Keimanan tidak selamanya diukur berdasarkan jumlah ibadah seorang kepada Allah SWT. Meskipun? ada orang yang percaya kepada Tuhan dan dia rajin beribadah, baik ibadah wajib maupun sunah, belum tentu apa yang dilakukannya itu menunjukan kesempurnaan iman. Sebab Islam tidak hanya meminta umatnya percaya kepada Tuhan, kemudian beribadah terus-menerus, tetapi juga meminta kita untuk peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sesungguhnya keimanan berkait kelindan dengan kepekaan sosial. Semakin tinggi derajat keimanan seorang seharusnya tingkat sensitifnya terhadap problem keumatan juga semakin meninggi.

Kesalehan Sosial Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesalehan Sosial Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesalehan Sosial Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Hal ini tercermin dalam diri Nabi Muhammad SAW. Selain tekun beribadah, Beliau juga terlibat aktif dalam menuntaskan problem keumatan yang terjadi di negerinya.

Haedar Nashir

Iman kaum beriman perlu dipertanyakan bila hatinya tidak terpanggil sedikit pun untuk melakukan perubahan sosial. Keimanannya disangsikan jika tidak mau membantu saudara, tetangga, dan masyarakat miskin. Sementara kondisi finansialnya melebihi kebutuhan hariannya dan tidak bakalan jatuh miskin bila disumbangkan separuhnya untuk fakir miskin.

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Fathur Rabbani wal Faydur Rahmani mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Haedar Nashir

Artinya, “Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan harta yang berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sungguh bohong bila kamu mengaku memiliki iman yang sempurna.

Wahai orang kurang akal! Kamu berdampingan dengan tetangga yang fakir dan memunyai sanak-saudara miskin, sedangkan kamu memiliki harta yang sudah layak dizakati, keuntunganmu berlipat ganda setiap hari, dan kamu memiliki kekayaan lebih.

Jika kamu enggan memberi dan menolong mereka, berarti kamu rela dengan kefakiran mereka.”

Nasihat yang disampaikan sulthanul auliya’ ini tentu sangat menusuk batin kita. Sebagai seorang sufi agung, ternyata Syekh Abdul Qadir juga tidak hanya sibuk beribadah, tetapi juga perhatian terhadap masalah sosial. Bahkan, ia mengkritik keras umat Islam yang acuh tidak acuh dengan kondisi masyarakat sekitarnya. Dengan merenungi petuah ini, semoga keimanan kita mampu membuat kita semakin peka dengan problem keumatan. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

Bagaimana gerak derap langkah kaki Anda ketika melewati anak tangga masjid? Mungkin Anda akan melangkahkan salah satu kaki Anda ke anak tangga pertama. Kemudian disusul langkah kaki selanjutnya dengan posisi menginjak anak tangga kedua.

Hal itu lumrah dan umum dilakukan. Tetapi, berbeda dengan Kiai Turaihan Kudus. Kiai yang terkenal akan sifat ihtiyath, kehati-hatian dalam segala hal ini, sangat memperhatikan sekali langkah kakinya ketika memasuki area masjid. Di mana pun ia berada.

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

"Mbah Kiai Turaihan Kudus itu kalau melewati anak tangga masjid, ketika masuk, maka ia langkahkan kaki kanannya menuju anak tangga yang pertama, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan menyejajarkan kaki kiri di anak tangga yang pertama," tutur KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan di sela sela pengajian kitab bersama para santri.

Ya, betapa kehati-hatian Kiai Turaihan Kudus tercermin dalam penuturan tersebut. Jadi ia tidak serta merta hanya mengawali langkah kakinya menapaki anak tangga dengan kaki kanan di awalnya saja. Melainkan dalam setiap derap kakinya meniti anak tangga itu, selalu dia awali dengan kaki kanan dan kemudian ia akhiri dengan menyejajarkan kaki kirinya di anak tangga yang telah dipijak kaki kanan.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sang kiai begitu sabarnya meniti anak tangga satu per satu dengan kaki kanan sebagai awalan dan ditutup dengan kaki kiri. Begitu seterusnya hingga ia mencapai atas, puncak dari anak tangga tersebut.

Dan lebih hebatnya lagi, kiai asal kudus tersebut tidak hanya melakukan ritual tersebut saat memasuki masjid. Melainkan ia juga mengulangi cara tersebut ketika pulang dengan metode yang berkebalikan. Dalam artian, langkah pertama kaki kiri, kemudian turun ke anak tangga yang sama dengan menutupnya menggunakan kaki kanan. Subhanallah.

Betapa Kiai Turaihan begitu memiliki perhatian yang sangat mendalam. Hingga hal terkecil seperti melangkahkan kaki ke masjid pun, sangat ia perhatikan. Lalu, bagaimana dengan kita, meski kita tahu bahwa hal tersebut sunah. Sudahkah kita mengamalkannya? Wallahu alam. (Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri, Hikmah Haedar Nashir

Kamis, 18 Januari 2018

Halaqah Alim Ulama Se-Lampung Usung Tema Keutuhan NKRI

Lampung Tengah, Haedar Nashir - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung menggelar Silaturahim dan Halaqah Alim Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Lampung di kompleks Pesantren Darussa’adah Mojo Agung Seputih Jaya Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (27/7).

Acara ini mengusung tema besar “Ikhtiar dari Lampung untuk Perbaikan Bangsa, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Mewujudkan Indonesia yang berkeadaban”.

Halaqah Alim Ulama Se-Lampung Usung Tema Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah Alim Ulama Se-Lampung Usung Tema Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah Alim Ulama Se-Lampung Usung Tema Keutuhan NKRI

KH Muhsin Abdillah selaku Rais Syuriyah PWNU Lampung dalam sembutannya berharap semua warga Nahdliyin bisa menengahi segala persoalan-persoalan bangsa. Agenda ini, katanya, hadir sebagai respon atas keberadaan kelompok yang anti-Pancasila dan kini dibubarkan Pemerintah.

“Belajar dari Muktamar NU di Situbondo pada 1984 bahwa Pancasila bagi NU sudah final. Oleh karena itu segenap elemen warga NU mari bersama-sama harap mempelajarinya kembali. Jauh lebih penting menyikapi dengan jernih, lahirnya FDS (full day school) telah menimbulkan polemik yang besar di masyarakat oleh karena itu akan dibahas secara lebih mendalam lagi”, imbuh alumni pesantren Darussalamah Brajadewa Way Jepara Lampung Timur ini. ?

Haedar Nashir

Silaturahim dan halaqah ini hadir KH Ahmad Shodiq (Mustasyar PBNU), KH Mustofa Aqil Siradj (Rais Syuriyah PBNU), KH Ahmad Ishomuddin (Rais Syuriyah PBNU), H Umarsyah (Ketua PBNU), KH Muhsin Abdillah (Rais Syuriyah PWNU Lampung), Rais Syuriyah PCNU se-Provinsi Lampung dan ribuan warga nahdliyyin. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Rabu, 17 Januari 2018

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme

Jepara, Haedar Nashir. Kelompok sufistik yang bergerak secara massif di kota dan di desa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Majelis zikir, jamaah Selawat, dan perkumpulan Barzanjian menjauhkan umat Islam dari pemahaman sempit beragama yang berujung pada kekerasan atas nama agama.

“Katakanlah jamaah sufi yang diprakarsai Habib Syekh dan Habib Luthfi. Gerakan keduanya sangat dahsyat. Karena, keduanya mengajarkan antikekerasan kepada warga dengan pendekatan popular,” kata Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang H Noor Ahmad di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Ahad (24/11). 

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Zikir dan Barzanjian Bendung Radikalisme

Di Jakarta, meski budaya hedonis membabi buta, jamaah serupa juga luar biasa. Hal ini jelas bukan lantaran para haba’ib tidak punya pekerjaan. Namun itu merupakan solusi terbesar untuk membendung radikalisme, tegas H Noor Ahmad dalam seminar bersama kiai se-Jepara dengan tajuk “Pesantren Sebagai Benteng Antisipasi Deradikalisme”.

Haedar Nashir

H Noor Ahmad yang juga Ketua Umum Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) melanjutkan, dengan eksistensi kelompok sufi niscaya mata rantai radikalisme terputus. Setidaknya, gerakan-gerakan susupan yang radikal itu tidak akan besar.

Sedangkan Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya mengharapkan forum itu berdampak luar di masyarakat. “Pencerahan yang diberikan pembicara menjadi antisipasi bagi para kiai dan santri.”

Haedar Nashir

Catatan dalam seminar itu harus disebarkan kepada para santri dan masyarakat. Sehingga radikalisme berkurang di masyarakat, pungkas Marzuqi. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

NU Berbasis Masjid Cegah Pengambilalihan Masjid NU

Jakarta, Haedar Nashir. Kegelisahan warga NU akibat banyaknya masjid-masjid yang menjalankan tradisi NU yang direbut oleh kelompok lain bisa diatasi dengan membentuk kepengurusan Kelompok Anak Ranting (KAR) yang berbasis di masjid dan musholla.

Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi menjelaskan pembentukan KAR ini berbasis di masjid dan musholla karena disitulah ummat berkumpul, bukan didasarkan pada struktur pemerintahan seperti RT atau RW.

NU Berbasis Masjid Cegah Pengambilalihan Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Berbasis Masjid Cegah Pengambilalihan Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Berbasis Masjid Cegah Pengambilalihan Masjid NU

“Kalau masjid NU ramai, maka kegelisahan mesjid kita di ambil orang, itu bisa dinetralisir, tidak mungkin kalau di setiap masjid ada aktifitas NU, orang berani menganggu masjid kita disamping kita memperkuat organisasi sampai ke basis,” tandasnya kepada Haedar Nashir beberapa waktu lalu.

Pembentukan KAR di tingkat masjid yang sekaligus berfungsi sebagai kantornya akan menyebabkan para pengurus semakin aktif berada di masjid. Para pengurus yang sebelumnya jarang akan semakin aktif. “Masak menjadi pengurus NU tak mau ke masjid. Mereka akan berfikiran seperti itu,” tuturnya.

Menurut direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pesantren (P3M) ini, sekitar 80 persen masjid yang ada di Indonesia secara kultural masjid menjalankan tradisi NU. “Mereka adalah potensi dari jamaah NU, tinggal menjamiyahhkan, tidak sekedar kultural, ini yang dilakukan oleh Mbah Hasyim. Bagaimana meng-NU-kan secara organisatoris NU kultural yang sudah ada ratusan tahun yang lalu,” imbuhnya.

Pembentukan Kelompok Anak Ranting (KAR) ini sudah diatur oleh Anggaran Rumah Tangga (ART NU) di pasal 14 ayat 4 yang berbunyi “Untuk efektifitas organisasi dan pengembangan anggota, dapat dibentuk Kelompok Anak Ranting (KAR). Setiap KAR sedikitnya terdiri dari (10) sepuluh orang anggota.

Haedar Nashir

Secara organisatoris, pembentukan KAR ini akan semakin meningkatkan efektifitas organisasi. Masdar mengibaratkan NU seperti pohon. mulai dari daunnya atau atau pusatnya yang terlihat dimana-mana sampai dengan akarnya bukan saja akar tunjang, yang dapat dikatakan sebagai MWC atau rantingnya, tetapi akar serabutnya yang dapat disepadankan dengan anak ranting.

Haedar Nashir

“Inilah yang paling menghujam ke bumi. Inilah yang paling menyerap nutrisi. Ini seperti dikatakan dalam al Qur’an “akarnya merasuk dalam bumi, cabangnya menjulang tinggi ke langit dan terus menerus memberikan buah karena menyerap nutrisi dari ummat,” imbuhnya.

?

Kelompok anak ranting kepengurusannya seperti yang lain yang mencakup syuriah dan tanfidziyah. Warga masyarakat bisa ketemu dengan pengurus NU kapan saja terutama habis waktu sholat. “ Jadi bisa diomong, “tadi habis subuh saya ketemu rais syuriah, tadi saya habis berdiskusi dengan ketua tanfidziyah”, sekarang ini kalau mau ketemu dengan rais syuriah kan seperti sepertinya melangit. Kalau ini terjadi, baru dikatakan sebagai organisasi yang betul-betul kuat. Dan ini sekali lagi hanya NU yang bisa melakukan.” katanya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Paris, Haedar Nashir. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin secara global sekarang berada pada tingkat yang sama seperti di tahun 1820-an, OECD mengatakan Kamis, memperingatkan itu adalah salah satu perkembangan yang paling "mengkhawatirkan" selama 200 tahun terakhir.

Dalam laporan utama tentang kesejahteraan dunia selama dua abad terakhir, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat ketidaksetaraan melesat naik setelah globalisasi mengakar pada 1980-an, lapor AFP.

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Para peneliti mempelajari tingkat pendapatan di 25 negara, memetakan kembali mereka dalam waktu ke 1820 dan kemudian mereka disusun seolah-olah dunia adalah satu negara.

Haedar Nashir

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan menurun tajam di pertengahan abad ke-20 -- yang OECD tempatkan ke apa yang disebut "revolusi egaliter", terutama dengan munculnya komunisme di Eropa Timur -- tetapi kemudian melonjak baru-baru ini. 

Pada 2000, tingkat ketimpangan pendapatan global berada di tingkat yang sama seperti di 1820, menurut laporan tersebut.

Haedar Nashir

"Ini sangat mencolok," kata Guido Alfani, dari Bocconi University, yang berpartisipasi dalam survei.

"Peningkatan besar ketimpangan pendapatan pada skala global adalah salah satu paling signifikan -- dan mengkhawatirkan -- fitur dari perkembangan ekonomi dunia dalam 200 tahun terakhir," OECD menyimpulkan dalam laporan 269-halaman yang disampaikan kepada media.

Ekonom Belanda Jan Luiten van Zanden mengatakan laporan itu melukiskan gambaran serupa peringatan keras yang kontroversial buku terlaris tentang ketidaksetaraan pendapatan global oleh ekonom Prancis Thomas Piketty, "Capital in the Twenty-First Century".

"Kami menceritakan kisah-kisah yang sama ... kita berbagi keprihatinan yang sama tentang ketidaksetaraan global," kata van Zanden.

"Piketty membandingkan sebagian besar negara-negara Barat. Metodenya harus dianalisis pada skala global," saran ekonom.

Untuk studi kejadian penting, peneliti mengamati tren dalam faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, ketimpangan, lingkungan dan keamanan pribadi selama 200 tahun terakhir dalam rangka membangun sebuah gambaran kesejahteraan global.

Kesimpulannya: "Kesejahteraan rakyat secara umum berkembang sejak awal abad ke-20 di sebagian besar dunia."

Harapan hidup di seluruh dunia telah melonjak dari kurang dari 30 tahun pada 1880 menjadi hampir 70 tahun pada 2000.

Literasi juga telah meningkat secara dramatis. Kurang dari 20 persen orang bisa membaca pada 1820; sekarang angka itu sekitar 80 persen. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nasional, AlaSantri Haedar Nashir

Sabtu, 06 Januari 2018

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Pati, Haedar Nashir. Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK Remaja) Cah Pati PC IPNU-IPPNU Kabupaten Pati menerima kunjungan kerja dari Komisi C DPRD Kota Pekalongan di sekretariat PIK Remaja yang bertempat di Gedung NU Kabupaten Pati, Selasa (22/1).?

Kunjungan kerja ini memang difokuskan untuk menambah wawasan mengenai program Kependudukan yang bermitra dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati.?

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Selain menuju sekretariat PIK Remaja di Gedung NU Kabupaten Pati, Kunjungan kerja juga dilaksanakan di Bina Keluarga Lansia Kecamatan Gembong Kabupaten Pati.?

Haedar Nashir

PIK Remaja Cah Pati merupakan lembaga di bawah kordinasi PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati, yang telah menorehkan prestasi di tingkat lokal, propinsi dan nasional.?

Haedar Nashir

Pada tahun 2012, PIK Remaja Cah Pati menjadi Juara I Lomba PIK Remaja untuk tahap tegak, dan menjadi salah satu dari 6 besar nominasi Lomba PIK Remaja tahap tegak di tingkat nasional.?

PIK Remaja Cah Pati juga menjadi PIK unggulan di Indonesia dan menjadi delegasi dari propinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Sail Morotai 2012 yang bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Tidak hanya itu, PIK Remaja Cah Pati juga pernah mengikuti kegiatan remaja hingga tingkat internasional, salah satunya yaitu Asian Pasific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights ke-6.?

Koordinator Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Bapak Ismet Inanue, SH, MH. menyatakan bahwa kunjungan kerja ini bertujuan untuk saling bagi antarprogram kependudukan yang bermitra dengan BPPKB Kabupaten Pati.?

Dengan kunjungan ini diharapkan Kota Pekalongan dapat menekan laju pertumbuhan penduduk dan dapat mengembangkan organisasi remaja yang ? ada di Kota Pekalongan.

? Dalam presentasinya, Ketua PIK Remaja Cah Pati Adiningtyas Prima Yulianti memaparkan profil dan kegiatan PIK Remaja Cah Pati, termasuk program Pendewasaan Usia Perkawinan yang juga merupakan program Keluarga Berencana.?

“Kegiatan yang dilaksanakan PIK Remaja Cah Pati tidak sekedar sosialisasi dan kegiatan administratif saja, tetapi kami juga melakukan penelitian dan pendampingan. PIK Remaja Cah Pati mendampingi dua PIK Remaja di tingkat sekolah dan tingkat desa, juga satu PIK Mahasiswa," jelas Prima Yulianti.

"Pendampingan ini bukan tugas yang mudah, karena kami harus meluangkan waktu dan mengkoneksikan PIK Remaja dan PIK Mahasiswa dampingan kami kepada Dinas terkait di daerah asal PIK Remaja dan PIK Mahasiswa tersebut. Kami selalu berkordinasi dengan BPPKB Kabupaten Pati dibantu oleh UPT KB di tingkat Kecamatan dalam mendampingi PIK Remaja dan PIK Mahasiswa. Sehingga tugas kami menjadi ringan,” lanjutnya.

Semenatara itu, salah seorang pengurus NU Pati H Asnawi mengatakan, program pendampingan yang dilakukan oleh PIK Remaja Cah Pati patut diapresiasi, karena jarang sekali organisasi remaja yang mau turun langsung ke komunitas remaja.?

"Permasalahan remaja seperti kehamilan yang tidak diinginkan, narkoba, HIV AIDS merupakan fenomena gunung es yang harus dieselesaikan bersama-sama. Dengan adanya PIK Remaja Cah Pati diharapkan dapat ? mendukung penyelesaian masalah tersebut”, jelas H Asnawi yang ketua RMI Pati.

Redaktur ? ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor ? : Tim IPNU-IPPNU Pati

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat

Yogyakarta, Haedar Nashir. Perhelatan Ajang Kreasi Seni dan Olahraga (Aksioma) serta Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 di Yogyakarta menjadi instrumen penguatan karakter bangsa oleh Kementerian Agama.

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Baca Qiro dengan Mengenakan Pakaian Adat

Hal ini setidaknya terlihat ketika 14 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Yogyakarta melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan mengenakan pakaian adat Jawa dipadu blangkon sebagai penutup kepala pada Senin (7/8) dalam acara pembukaan Aksioma dan KSM di Stadion Mandala Krida Yogyakarta.

Di hadapan sekitar 12.000 hadirin yang memadati tribun stadion, 14 murid MI yang terdiri dari 9 siswa dan 5 siswi secara serasi melantunkan ayat 11 dari Surat Al-Mujadalah dan Surat Ar-Rahman ayat 33.

Suara emas mereka sejurus dengan warna emas pakaian adat yang mereka kenakan. Semua mata dan kamera tertuju kepada mereka. Bagi anak-anak madrasah, menguatkan nilai-nilai keislaman tidak lantas melepaskan identitas budaya bangsa.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggelegar memenuhi sudut-sudut stadion yang dipenuhi oleh para generasi muda berprestasi dari seluruh penjuru tanah air. Mereka berkompetisi selama satu pekan di bidang sains, seni, olahraga, dan karya tulis ilmiah untuk meraih prestasi tertinggi.

Haedar Nashir

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna pada acara pembukaan lalu.

?

Siswa MAN 3 Bantul, DIY ini merupakan salah seorang siswi berprestasi global. Ia meraih juara di ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Haedar Nashir

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa ajang Aksioma dan KSM ini mampu sekaligus menyiapkan bibit-bibit unggul di bidang sains dengan tetap mencintai bangsa dan negaranya.

“Selain berkompetisi, mereka berkumpul dari seluruh Indonesia untuk saling mengenal budaya dari daerah mereka satu sama lain sehingga tumbuh bukan hanya intelektualitasnya saja, tetapi juga integritasnya,” ujar Lukman. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, AlaSantri Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Solo, Haedar Nashir. Setelah beberapa bulan dinanti, majalah Serambi Al-Muayyad kembali terbit. Majalah yang dikelola para santri pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo ini, akan diluncurkan saat peringatan haul KH Umar Abdul Mannan, Jumat (18/7) mendatang.

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)
Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Kepada Haedar Nashir, seorang redaktur Serambi Al-Muayyad Miftahul Abrori menuturkan, edisi keenam ini membahas hubungan antara tiga sesepuh sekaligus pendiri pesantren Al-Muayyad. Mereka ialah KH Abdul Mannan, KH Ahmad Umar dan KH Ahmad Shofawi.

“Salah satu penulis Muhammad Ishom mengangkat tulisan ini agar lebih banyak orang memahami hubungan para sesepuh. Sebab sebelumnya, kami sering ditanya perihal tersebut. Mereka yang bertanya tidak hanya dari kalangan internal pesantren Al-Muayyad, tetapi juga dari kalangan masyarakat luas,” terang Miftah.

Haedar Nashir

Redaksi Serambi Al-Muayyad kali ini, Miftah melanjutkan, menyajikan kisah inspiratif seseorang warga negara Indonesia dalam menjaga keimanannya selama tinggal di Negeri Paman Sam. Redaksi juga mengulas tema terkait Pilpres, Ramadhan, dan Piala Dunia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri, Ubudiyah, Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah

Banyak dari kita membedakan dosa kecil dan dosa besar. Kita cenderung berani menerjang dosa kecil dengan anggapan bahwa sanksi atau siksa yang akan kita terima masih dalam jangkauan kesanggupan kita menanggungnya. Bisa jadi kita keliru karena kita tidak akan pernah tahu apakah siksa atas dosa kecil itu juga ringan?

Perihal ini, Syekh Ibnu Athaillah mengatakan,

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Tak ada dosa kecil ketika kau dihadapkan pada keadilan-Nya.”

Haedar Nashir

Syekh Zarruq menyarankan agar kita tidak melihat seberapa kecil dan seberapa besar dosa yang kita lakukan. Yang harus kita perhatikan, menurutnya, adalah keadilan dan kemurahan Allah. Kedunya ini yang menentukan besar-kecilnya dosa yang kita lakukan.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Artinya, “Menurut saya, perhatikanlah keadilan dan kemurahan-Nya, bukan kesalahan dan aibmu baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Sesuai dengan (prinsip) ini, tak boleh cenderung (menganggap kecil atau besar dosa) karena kita tidak tahu akan disambut (dengan kemurahan-Nya) atau dihadapkan (pada keadilan-Nya). Yahya bin Muadz RA mengatakan, ‘Jika kemurahan Allah menyelimuti mereka, maka tak satupun kesalahan mereka tersisa. Tetapi jika keadilan-Nya tegak di hadapan mereka, maka tak satupun kebaikan mereka yang tinggal,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 64).

Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili menyebutkan bahwa dosa kecil yang dimaksud tidak selalu pelanggaran menurut syar‘i. Dosa kecil bisa saja berupa kebaikan-kebaikan tingkat terendah, antara lain ibadah yang dilakukan karena mengharap surga atau ibadah yang dilakukan untuk mengharapkan imbalan duniawi baik harta, pangkat, pengaruh, dan lain sebagainya.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, tidak ada yang disebut dosa kecil–baik itu menurut ketentuan syar‘i maupun secara kualifikasi, yaitu ibadah mengharap surga di mana ibadah ini adalah sebuah kebaikan bagi kalangan abrar, tapi kesalahan bagi kalangan muqarrabin karena ibadah harusnya tulus hanya karena Allah–melainkan dosa kecil itu berkualitas besar bila kamu dihadapkan pada keadilan-Nya sebab interogasi saat hisab sesuai sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang diinterogasi di saat hisab, maka ia tersiksa.’ (Dosa kecil itu berkualitas besar) sebab penantian siksa, bukan tujuan menikmati percakapan dengan-Nya, sebab penghinaan melalui siksa, atau sebab pengusiran dan penutupan (hijab) sebagai balasan atas dosa kecil itu sesuai kadarnya bagi para pelaku karena keagungan Allah ta‘ala untuk didurhakai dengan dosa kecil, sebanding, atau dosa yang lebih kecil lagi. Apalagi dosa yang lebih besar dari itu; dan karena kebaikan-Nya di tengah kedurhakaanmu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan I, 2008 M/1429 H, halaman 54).

Dengan kata lain, kita tidak boleh merasa aman atau mengecilkan dosa kecil. Dosa kecil yang tampaknya ringan bisa jadi berkonsekuensi besar. Contohnya antara lain buang air kecil tanpa istinja sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya. Allah SWT juga mengingatkan bahwa selain memiliki kemurahan, Allah juga memiliki keadilan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sungguh, Tuhanmu memiliki ampunan bagi manusia atas kelaliman mereka. sungguh, Tuhamu mahakeras siksa-Nya,” (Surat Ar-Ra’du ayat 6).

Mengingat keadilan-Nya, kita sebaiknya tidak membeda-bedakan dosa kecil dan dosa besar. Kecuali itu, kita juga seyogianya lebih sering bermunajat kepada Allah untuk mengharapkan kemurahan-Nya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 25 Desember 2017

Jokowi Sambut Baik Rakernas Muslimat NU di Jakarta

Jakarta, Haedar Nashir. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyambut baik gelaran rapat kerja nasional (rakernas) Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) yang akan diselenggarakan di Jakarta.

“Saya menyambut baik dan mendukung sepenuhnya untuk kegiatan ini,” tegas Jokowi di ruang tamu Pendopo Balai Kota Jakarta, Rabu (19/3) Jl. Medan Merdeka Selatan.

Jokowi Sambut Baik Rakernas Muslimat NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Sambut Baik Rakernas Muslimat NU di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Sambut Baik Rakernas Muslimat NU di Jakarta

Sebelumnya, Ketua Umum PP Muslimat NU menjelaskan tujuannya bertemu dengan Jokowi. “Kita hendak minta izin kepada tuan rumah,” jelas Khofifah Indar Parawansa.

Haedar Nashir

Khofifah beserta rombongan yang berjumlah 9 orang diterima dengan hangat oleh mantan Wali Kota Solo itu di ruangan khusus tamu.

Dengan menyodorkan draft kegiatan rakernas, Khofifah menjelaskan kepada Jokowi bahwa Muslimat NU yang merupakan salah satu badan otonom (Banom) NU akan menggelar Rakernas di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta pada tanggal 28 Maret sampai 1 Juni 2014.

Haedar Nashir

Dia menuturkan bahwa maksud kedatangannya beserta rombongan selain untuk silaturahim juga meminta izin kepada Jokowi selaku tuan rumah. “Alhamdulillah, Pak Jokowi menyambut baik dan merespon positif,” pungkasnya. (Fathoni/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Bandar Lampung, Haedar Nashir

Pengelolaan wakaf dengan baik dan benar dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kemaslahatan umat. Wakaf bisa menjadi sumber ekonomi umat Islam jika dikelola dengan ilmu pengetahuan yang matang dan sesuai dengan kriteria serta syariat Islam.

Demikian disampaikan M Damrah Khair saat memberikan materi "Prospek Peran Ekonomi Wakaf di Indonesia" pada Workshop Manajemen Pengelolaan Wakaf yang dilaksanakan oleh Bidang Penerangan Agama Islam zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Rabu (11/04), di Bandar Lampung.

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Mantan Rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung tersebut memberikan beberapa contoh negara dan perguruan tinggi yang dapat berkembang dengan luar biasa dengan memaksimalisasikan wakaf yang ada. "Mesir dan Universitas Al Azhar Kairo bisa maju karena pengelolaan wakaf yang sangat baik. Universitas Islam Indonesia dan Pesantren Gontor juga baik sekali dalam memanfaatkan wakaf untuk mengembangkan diri," katanya.

Haedar Nashir

Oleh karenanya Damrah menegaskan bahwa kata kunci dalam perwakafan ini adalah pengelolaan, karena permasalahan bukan pada apa yang mau diwakafkan namun kepada siapa yang mau mengelola wakaf. "Sebenarnya banyak orang yang mau berwakaf. Tapi siapa yang mengelola, amanah nggak, kredibel nggak. Itu yang jadi permasalahan," tegasnya.

Jadi, menurutnya sangatlah penting mengubah pola pikir umat serta sinergitas ulama dan umara untuk menjadikan wakaf produktif. Salah satu cara untuk mengubahnya adalah melalui bentuk sosialisasi dan pelatihan pengelolaan ekonomi wakaf yang didukung oleh dana yang memadai, terjadwal, dan terencana.

Haedar Nashir

"Lebih khusus ini adalah salah satu tugas Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengelola wakaf dengan baik. Pembinaan terhadap nadzir (pengelola wakaf) harus intensif dilakukan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kyai, RMI NU Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses

Jakarta, Haedar Nashir

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) menilai acara Doa Bersama di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad (18/4) meerupakan acara besar pertama yang digelar oleh PBNU pertama kali sejak Muktamar NU ke-32 di Makassar lalu. PP LDNU juga menilai bahwa acara tersebut sukses dan terselenggara dengan baik.



PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses

Penilaian ini didasarkan pada jumlah kehadiran jamaah yang mencapai puluhan ribu serta kehadiran sejumlah tokoh penting NU seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Rais Am Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thoriqoh Mutabaroh an-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya. Sementara perwakilain pemerintah yang hadir antara lain, Direktur Urais dan Pembinaan Syariah Dr. H. Rohadi Abdul Fatah Kementerian Agama Rohadi Abdul Fatah, Sekretaris Daerah Pemda DKI Muhayat. Dan hadir mewakili pihak keluarga KH Abdurrahman Wahid adalah Zanuba Arifah Chafsoh (puteri almarhum).

Dalam ceramahnya, Habib Luthfi bin Yahya mengajak seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarganya. Termasuk juga mencintai orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW dengan menyokong kegiatan-kegiatan yang mengugah semangat cinta Rasul.

Haedar Nashir

"Rasulullah SAW adalah mahluk Allah yang paling berhak mendapatkan cinta dari mahluk Allah lainnya. bahkan Allah SWT menjanjikan, akan menempatkan seorang Muslim di surga bersanding dengan yang dicintai. Jadi marilah berharap disandingkan di Surga bersama Rasulullah SAW dengan mencintainya dan berharap pada Syafaatnya," ajak habib Luthfi.

Sementara itu, Sekretaris LDNU Ustadz KHoirul Huda Basyir menyatakan, banyaknya para jamaah yang menghadiri Doa bersama dan memenuhi seluruh kawasan Masjid Istiqlal merupakan bukti bahwa NU dan warga Nahdliyin masih merupakan mayoritas Muslim di Jakarta dan sekitarnya.

Haedar Nashir

"Hal ini juga berarti bahwa suara NU dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah beserta amalan-amalan warga Nahdliyin masih merupakan idiologi dominan Islam Indonesia," tandas Khoirul Huda Basyir. (min)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Ahlussunnah, Tokoh Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua PBNU H Slamet Effendy Yusuf berpendapat organisasi masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah yang telah memberikan kontribusi kongkret kepada masyarakat lebih berhak mendapatkan dukungan daripada partai politik melalui sekolah, pesantren, rumah sakit, rumah yatim dan layanan sosial lainnya.

Sebelumnya Mendagri Cahyo Kumolo mengusulkan dukungan pembiayaan sebesar 1 trilyun rupiah kepada partai politik untuk mengurangi kemungkinan penyalahgunaan kekuasaaan saat para politisi menjabat.

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol

“Jadi kalau parpol menurut idenya mendagri akan diberikan bantuan cukup besar, saya kira dalam waktu yang bersamaan, ormas keagamaan yang langsung membina bangsa, seperti NU dan Muhammadiyah di lingkungan Islam, demikian juga temen-temen dari agama lain, itu juga diberi bantuan langsung dari alokasi APBN,” katanya di gedung PBNU, Selasa (10/3).?

Haedar Nashir

Dengan demikian, pembangunan ini berjalan secara serempak pada sektor-sektor yang dibiayai dan digarap oleh pemerintah maupun sektor yang digarap oleh swasta.?

Haedar Nashir

“NU melalui pesantren dan madrasah, Muhammadiyah melalui sekolahnya, begitu juga Persis, juga ormas Islam yang lain bisa menjangkau kalangan yang selama ini terabaikan dari program pemerintah. Jadi menjadi kekuatan yang menjamah sebagian besar porsi yang seharusnya menjadi porsi pemerintah.”

Ia menjelaskan, ormas seperti NU juga mendapat bantuan dari pemerintah, tetapi ibarat kata, kebutuhannya seribu, tetapi bantuan yang diberikan hanya beberapa sen.?

“Kita membantu aktifitas pendidikan, keagamaan, termasuk aktifitas penyadaran kesadaran kewarganegaraan yang dilakukan oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah luar biasa akibatnya.”

Ia mencontohkan andaikan tidak ada NU dan Muhammadiyah, kemudian ada bahaya internasionalisme Islam, negara tidak akan bisa berbuat banyak. “Ini saatnya negara berterima kasih pada mereka, termasuk memberikan anggaran yang signifikan sebagai bagian anggaran negara untuk pembinaan masyarakat.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah

Jombang, Haedar Nashir - Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menyebut gerakan kelompok ekstrem baik ekstrem kanan atau kiri penting untuk diperhatikan. Kelompok ini berpotensi memicu perpecahan antarsesama, sebab secara umum kelompok ini tak bisa menerima terhadap perbedaan khususnya di tanah air, terutama soal syariah.

Kiai Maruf Amin mengimbau agar para ulama dan kiai hendaknya bisa menjaga generasi bangsa dari kelompok-kelompok tersebut. "Para kiai dan ulama harus menjaga dari pikiran-pikiran yang menyimpang," kata Kiai Ma’ruf saat menghadiri haul ke-38 almaghfurlah KH Bisri Syansuri di halaman Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, Selasa (28/3) malam.

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ma’ruf Amin: Kelompok Ekstrem Banyak Tak Paham Soal Sumber Syariah

Ia menjelaskan, sikap kelompok ekstrem yang cenderung keras terhadap kelompok yang tidak sepaham ini diakibatkan oleh minimnya pemahaman terhadap syariah. Mereka hanya berpegang teguh pada teks sebagai sumber syariah, dan menyampingkan upaya ijtihad para ulama dalam merespon setiap persoalan aktual.

"Kelompok-kelompok itu hanya kedepankan teks-teks saja, jika persoalan tidak ada nashnya maka dianggap bidah. Jika sudah bidah maka mereka menganggap tempatnya di neraka dan dimusuhi," jelasnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dengan mengutip pendapat Imam Haramain, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa syariah kebanyakan diperoleh dari proses ijtihad para ulama atas setiap masalah yang terjadi, dan nash tidak dijelaskan secara detail.

"Imamul Haramain dalam salah satu kitabnya menjelaskan, sebagian besar syariah itu lahir dari ijtihad bukan dari nash yang langsung ditafsirkan secara tekstual," kata Kiai Ma’ruf.

Hal itu menunjukkan bahwa masalah-masalah keumatan terus berkembang hingga saat ini. "Al-Quran hanya 30 juz, sementara kejadian-kejadian itu terus berkembang. Makanya itu semua harus disikapi dengan ijtihad-ijtihad," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 30 November 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, Haedar Nashir - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

Haedar Nashir

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

Haedar Nashir

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kajian Islam Haedar Nashir

Selasa, 28 November 2017

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

Jombang, Haedar Nashir. Ulama sufi Ahlusunnah wal Jamaah, Syaikh Mustafa Masud al-Haqqani, menasihati kaum muda NU untuk instrospeksi diri dan merenungi kondisi serta peran perjuangan jamiyyah Nahdlatul Ulama terhadap bangsa Indonesia.

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

"Semoga NU akan menjadi suatu majelis yang bertumpu pada kesadaran, segala sesuatu karena rahmat Allah, supaya kami dapat merasakan betapa nikmatnya rahmat-Mu itu. Tercapai sudah perjuangan bangsa Indonesia untuk memulihkan kembali kemerdekaannya. Ini berkat rahmat Allah yang Mahakuasa," tuturnya saat memimpin Istighotsah penutupan Musyawarah Kaum Muda NU, Senin (3/8) sore, di halaman Universitas Wahab Chasbullah, Jombang.

Syeikh Mustafa mencontohkan tentang sosok tokoh NU yang juga menteri agama KH Abdul Wahid Hasyim. Kiai Wahid, dahulu pukul 10 pagi masuk kantor dengan melantunkan surat al-Baqarah, kemudian ashar pulang sudah sampai surat an-Nas.

Haedar Nashir

"Berarti (Abdul Wahid Hasyim) satu hari khatam sekali al-Quran. Ini akhlaknya NU. NU kok shalatnya telat, NU kok ngrasani (menggunjing) orang," singgung Mursyid Tarekat Naqshbandi Haqqani itu di hadapan ratusan kamu muda NU yang tergabung dari GP Ansor, Fatayat NU, PMII, IPNU, IPPNU, JNM, PPM Aswaja, HIPSI, dan lain-lain.

Haedar Nashir

Dalam istighotsah tersebut, Syeikh Mustafa Masud membacakan dzikir yang mengandung asmaul husna, shalawat Nabi, pujian kepada para wali, dan dzikir-dzikir lainnnya.

"Alhamdulillah petang ini kita bisa menjalani prosesi istighasah yaitu mengambil kesejukan dari Allah. Setiap orang mempunyai aura. Insyaallah lewat Istighotsah ini aura kalian semakin besar untuk mewarnai Nahdlatul Ulama sampai muktamar yang akan datang," doanya diamini serentak oleh hadirin.

Syeikh Mustafa mengimbau kepada kaum muda NU supaya tidak sembarang menyalahkan situasi dan kondisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang kali ini. "Jangan mencela yang salah, kita tidak bisa menghakimi orang tua. Kita doakan, agar beliau-beliau diberi petunjuk Allah," harapnya.

Musyawarah Kaum Muda NU yang berlangsung 2-3 Agustus 2015 di arena Muktamar Ke-33 NU ini merupakan forum perbincangan, silaturrahim, dan jumpa gagasan kaum muda NU dari berbagai profesi, komunitas, keahlian, konsentrasi keilmuan, serta gerakan di masyarakat. Sementara forum yang dimusyawarahkan mulai dari keislaman Aswaja, persoalan keumatan, hingga perpolitikan. (M. Zidni Nafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 21 November 2017

Jimat-Jimat Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir. Seorang tokoh sekelas Gus Dur memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mereka juga ingin berkontribusi sesuatu dalam perjuangan yang dilakukan oleh cucu KH Hasyim Asy’ari ini.

Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Jimat-Jimat Gus Dur

Bagi kalangan tertentu, mereka seringkali memberi jimat dengan berbagai bentuknya, sebagai upaya untuk membantu melindungi Gus Dur dari santet, sihir dan serangan jahat lainnya. Salah satu pemberiannya adalah sebuah keris yang gagangnya seperti tanduk. Yang memberi mengaku jika jatuh pada orang yang tepat, bisa jadi presiden.

Entah percaya atau tidak terhadap jimat, Gus Dur tidak pernah menolak pemberian tersebut, tetapi diterima sebagai niat baik dari masyarakat. Ketika kantor PBNU dipindah karena gedung lama yang hanya dua lantai dibangun kembali menjadi sembilan lantai, jimat-jimat Gus Dur ikut dirapikan dan terkumpullah sebanyak 2 karung.

Haedar Nashir

H Marsudi Syuhud, sekjen PBNU saat ini, ketika itu yang diminta merapikan dan membawanya ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Lalu barang-barang tersebut ditaruh dibawah tempat tidur.

Haedar Nashir

Suatu ketika, ia menanyakan soal keberadaan jimat-jimat tersebut kepada Yenny dan Aries Junaidi, tetapi mereka tak ada yang tahu karena sudah tidak ada lagi di tempat semula, tetapi ketika ia bertanya kepada pengawal Gus Dur, Pak Latief dan seorang santri yang menemani tidur, mereka seringkali melihat jimat-jimat tersebut bergerak sendiri.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri, Pahlawan Haedar Nashir

Senin, 20 November 2017

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat untuk berhati-hati pada ajaran agama yang didakwahkan secara gelap-gelapan dan eksklusif karena pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Dulu, Islam didakwahkan secara terang-terangan.?

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Hati-hati Dakwah yang Dilakukan secara Gelap-gelapan

“Kita harus mencurigai dan memantau ajaran seperti itu, apalagi ajarannya sampai meresahkan masyarakat karena ada pengikutnya yang lari dan minggat,” katanya, Rabu di Gedung PBNU (27/1).

Kiai Said juga meminta agar aparat keamanan menindak setiap kelompok atau organisasi massa yang berpotensi mengurangi, merusak, dan mengganggu integritas masyarakat.?

Haedar Nashir

“Tapi kalau ormas yang keberadaannya membangun masyarakat, ya, NU, Muhammadiyah. Kalau ada ormas yang aktitasnya menganggu dan merusak, harus ditindak,” imbuhnya.?

Ia menegaskan, setiap kelompok yang mengatasnamakan agama Islam, harus sesuai dengan prinsip Islam, yaitu rukun iman dan rukun Islam.?

“Kita bisa beda dengan Muhammadiyah dan Persis, tetapi dalam prinsip shalat lima waktu, kita tidak beda. Shalat lima waktu wajib, puasa wajib, dan lainnya.”

Haedar Nashir

“Kalau orang Islam tidak shalat, itu dosa, tetapi kalau mengingkari bahwa shalat itu wajib, itu sesat namanya. Orang tidak puasa itu berdosa, tetapi mengingkari bahwa puasa itu tidak wajib, maka sesat,” paparnya.?

Bagaimana jika ada ajaran yang mengembangkan keyakinan seperti itu. Kiai Said menjelaskan, bagi para pengikutnya, mereka adalah korban yang harus di bimbing dan diberi pencerahan supaya normal kembali. Tapi bagi pentolannya, harus ada sanksi hukum. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, AlaSantri, Internasional Haedar Nashir