Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Nahdlatut Tujjar Jadi Spirit Kemajuan BMT NU Jatim

Pamekasan, Haedar Nashir

Kemajuan Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMT NU) Jawa Timur (Jatim) yang omzetnya kini Rp127 miliar dari modal awal Rp400 ribu, tidak terlepas dari spirit Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi) yang melekatinya. Spirit tersebut merupakan salah satu dari misi didirikannya NU.

Nahdlatut Tujjar Jadi Spirit Kemajuan BMT NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdlatut Tujjar Jadi Spirit Kemajuan BMT NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdlatut Tujjar Jadi Spirit Kemajuan BMT NU Jatim

Hal tersebut ditegaskan Direktur BMT NU Jawa Timur Mashudi Saat ditemui usai mengisi seminar pengusaha muda yang diselenggarakan Pimpinan Cabang GP Ansor Pamekasan, Ahad (5/3). Menurutnya, NU hadir membawa tiga misi: Nahdlatul Wathan, Tafwirul afkar, dan Nahdlatut Tujjar.

Sayangnya, tambah Mashudi, misi yang terakhir kerap terabaikan. Padahal, ketiganya menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Sehingga, tidak boleh ada yang terabaikan salah satunya.

Haedar Nashir

"Agar negeri ini maju, maka minimal 2 persen dari penduduknya adalah pengusaha. Di Indonesia masih 0,32 persen, jauh dari harapan. GP Ansor harus punya semangat berjuang lewat jalur ekonomi," tegasnya.

Mashudi mengetengahkan dua hal yang ditakuti salah satu khalifah Islam, sayyidina Ali. Yakni, kebodohan dan kemiskinan. Untuk kebodohan, saat ini sudah banyak lembaga pendidikan yang menanganinya.

Haedar Nashir

"Sementara? jalur ekonomi, kerap terabaikan. Ini yang mesti disikapi oleh GP Ansor dengan memanfaatkan jejaring organisasi yang cukup tinggi," tegasnya.

Diterangkan, GP Ansor harus punya usaha riil, sehingga menjadi kekuatan yang dapat diacungi jempol. Bergerak di bidang usaha dengan memaksimalkan jejaring yang dimiliki guna menciptakan pengusaha muda, menjadi kemestian tak terbantahkan.

"Jejaring adalah modal utama dalam memulai usaha. Jejaring Ansor yang tinggi, bisa dibilang sudah 70 persen dalam merengkuh kesuksesan sebuah usaha. Tinggal kreativitas ditajamkan. Untuk modal belakangan, karena jejaring dan kreativitas bisa mendatangkan modal," tegasnya.

Peluang ekonomi harus segera diambil. Untuk menangkap peluang itu, kata Mashudi, kita perlu inovasi dan kreativitas.

"Semua bisa kita lakukan asal kita fokus dan yakin usaha kita bisa maju. Fokus dan keyakinan penting diteguhkan sebelum membangun strateginya," tukas Mashudi. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Tegal, Hikmah Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Dalam urusan sosial-politik, NU mengembangkan prinsip ukhuwah wathoniyah atau solidaritas kebangsaan. Karena itu sejak awal tokoh NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah bekerjasama dengan para tokoh nasionalis penggerak kebangkitan nasional, seperti Dr Sutomo, Muhammad Yamin, termasuk Bung Karno sendiri. Ketika masa kemerdekaan, kelompok nasionalis ada dalam PNI, sementara NU juga menjadi parpol tersendiri, tetapi hubungan keduanya sangat erat. Tahun 1950-an, hubungan ini terjalin semakin intensif.

Kerjasama Nahdliyin dengan kelompok nasionalis zaman pergerakan nasional tahun 1920-an itu kemudian berlanjut pada masa Revolusi Kemerdekaan. Dalam menghadapi masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Penjajahan Jepang itu, kerjasama semakin erat. Sebab? kedua kelompok yang sama-sama non kooperatif dengan Belanda itu justru mendapatkan angin pada masa Jepang. Saat itulah keduanya leluasa bergerak menyiapkan kemerdekaan Indonesia, baik menyiapkan tentara nasional dengan membentuk tentara Pembela tanah Air (PETA) serta Hizbullah dan Sabilillah, yang sebagian besar komandannya adalah dari kaum santri. Kerjasama dua kelompok itu kemudian bisa mempercepat Proklamasi.

Ketika Belanda hendak merebut kembali negeri ini, dua kelompok itu bersatu padu menghadapi penjajah. Kerjasama ini semakin erat ketika di tengah gejolak revolusi itu ada sekelompok orang PSI dan PKI melakukan pemberontakan terhadap RI. Dengan tegas NU mendukung RI Pimpinan Bung Karno dan menyerukan segera melenyapkan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itu. Pada saat bersamaan sekelompok Islam modernis yang puritan dan radikal mendirikan Darul Islam (DI) bahkan kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), sebagai tandingan dari NKRI, maka dengan tegas NU menolak gagasan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang mengaku sebagai amirul mukminin atau pemimpin umat Islam. Untuk menegaskan komitmennya pada NKRI justru NU mengukuhkan Presiden Soekarno sebagai amirul mukminin yang sebenarnya, yakni sebagai waliyul amri (tokoh yang mendapatkan amanah) menjalankan pemerintahan.

Pada awal Orde Baru terjadi penyederhanaan partai politik, NU dikumpulkan dengan kelompok modernis eks Masyumi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pertamanya kerjasama ini berjalan lancar, walaupun NU dengan bermodal 18,6 persen suara,? sementara Masyumi (Parmusi) hanya 7,3 persen, tapi pimpinan PPP? dipegang Parmusi HMS Mintardja, seorang tokoh Masyumi, demi ukhuwah Islamiyah tadi NU menerima keputusan tidak adil itu. Tetapi Pergantian ketua PPP dari Mintardja ke HJ Naro juga dari Parmusi (Masyumi) tidak dilakukan secara demokratis melalui Muktamar, melainkan diserahkan begitu saja. Ini yang membuat NU kecewa terhadap perilaku politik Masyumi itu.

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Langkah selanjutnya Naro sebagai kelompok kecil Masyumi menyingkirkan para elit politik NU dari PPP, para pendiri seperti HM Yusuf Hasyim, Khalik Ali, KH Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi satu per satu disingkirkan. Mereka juga dihapus sebagai daftar calon DPR. Calon DPR didominasi kelompok Masyumi pimpinan Naro. Tentu saja perilaku unsur Masyumi dalam PPP itu merugikan keutuhan Partai, sehingga partai pecah, kelompok NU akhirnya tersingkir. Ini tragedi Masyumi di tahun 1950-an terulang lagi. Masyumi tidak menjalankan organisasi kesepakatan dan sesuai aturan, maka retak dan bubarlah partai. Akhirnya pada tahun 1984 NU secara organisatoris kembali ke Khittah sebagai ormas keagamaan, maka NU secara otomatis keluar dari PPP.

Setelah itu, NU menjalankan peran sosial lebih efektif tanpa partai di bawah kepemimpinan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wahid. Kepemimpinan yang efektif NU menjadikan NU secara? nasional sangat solid. Solidnya NU sebagai organisasi besar ini dengan sendirinya memiliki resonansi politik yang besar, karena itulah dengan sikap tegas dari KH Abdurrahman wahid sejak pertengahan 1980-hingga akhir 1980-an itu dalam membela rakyat kecil dalam menghadapi represi Orde Baru, maka tiba-tiba NU tampil sebagai rival Orde Baru yang paling depan.

Ketika partai kelompok Nasionalis PDI pecah di awal 1990-an, Megawati sebagai keluarga Bung Karno tampil sebagai penyelamat partai nasionalis ini, tetapi kehadiran Megawati merisaukan Orde Baru, maka dibuatlah musuh tandingan dari dalam, antara lain Surjadi yang dipaksa memimpin PDI atas dukungan Orde Baru, sehingga Megawati tersingkir. Saat itulah Gus Dur mulai menjalin aliansi dengan Megawati, sebagai pendatang baru dalam kancah politik nasional. Megawati banyak mengikuti kegiatan Gus Dur sebagai mitra baru dan banyak belajar pada guru bangsa ini, bersama-sama, menggerakkan rakyat bawah dan berjuang menghadapi represi Orde Baru. Akhirnya PDI Megawati yang bernama PDI Perjuangan (PDIP) bisa menyingkirkan rivalnya, sehingga menjadi partai yang kuat dan disegani yang bisa kembali mengonsolidasi pendukung Bung Karno.

Haedar Nashir

Aliansi ini begitu kuat, apalagi saat itu orde baru sedang membangun aliansi dengan kelompok Islam modernis dengan membuat ICMI. Aliansi ini dengan sendirinya semakin memperkuat posisi Orde Baru dalam menghadapi aliansi kelompok Islam-Nasionalis yang dipimpin Gus Dur. Aliansi kedua kelompok itu yang mampu menggetarkan fondasi kekuasaan Orde Baru, karena itu kedua kelompok ini dihancurkan dengan halus atau dengan kekerasan. Maka pada pertengahan 1990-an digelarlah aksi untuk menghancurkan NU dan nasionalis. Untuk menghancurkan NU digelar Operasi Naga Hijau yang membantai para kiai di Jawa yang menelan korban 140 orang Kiai NU. Sementara itu untuk menghancurkan PDI digelar Operasi Naga Merah yang membantai ratusan kader PDI saat mempertahankan kantor mereka di jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996.

Haedar Nashir

Aliansi itu NU-Nasionalis itu berpuncak saat Reformasi sehingga membentuk “Kelompok Ciganjur” kemudian membuat deklarasi yang melibatkan semua elemen bangsa termasuk ikut dalam aliansi nasional itu Sultan Hamengkubuwono, juga Amin Rais yang selama ini aktif di ICMI bersama Soeharto, setelah situasi berubah, maka kini mulai masuk dalam gerakan melawan Soeharto.

Aliansi NU PDI itu pada masa Reformasi berubah format, ketika NU telah membuat partai baru yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), maka secara alami kedua partai berbasis kebangsaan dan kerakyatan itu selalu bersatu padu menyusun agenda perubahan. Duet Gus Dur-Mega semakin erat, karena itu keduanya menjadi tokoh terkemuka di negeri ini. Ketika kehadiran Mega ditolak oleh kelompok Islamis yang menampakkan diri sebagai kelompok tengah yang ingin menggeser Megawati, akhirnya menampilkan Gus Dur sebagai penyelamat untuk tetap menyelamatkan dwitunggal Gus Dur-Mega, di saat kelompok lain bakal mencuri di tikungan.

Mega dicoba digeser dengan Gus Dur tetapi tidak berhasil, karena Mega dijadikan wapres oleh Gus Dur. Tetapi kelompok Islamis itu tidak puas akhirnya mencoba menggeser Gus Dur dengan menggunakan Megawati. Suasana ruwet sehingga menyebabkan Gus Dur jatuh dan secara otomatis Mega dinaikkan menjadi presiden. Namun demikian hubungan NU dan PKB dengan PDIP tidak cukup terganggu, bahkan setelah itu segera pulih, karena kedua belah pihak tahu bahwa pelaku di balik semua perhelatan itu selain sisa-sisa Orde Baru, adalah kelompok pimpinan Amin Rais.

Hingga saat ini, kelihatan NU dan PDIP telah rukun kembali. Kebencian Nahdliyin dan Marhaenis pada umumnya dialamatkan pada Amin Rais sebagai dalang kekacauan ini. Karena itu kedua kelompok ini masih selalu waspada terhadap manuver politik Amin Rais, yang cenderung mengusik aliansi Nahdliyin dan Nasionalis-Marhaenis, yang sama-sama gigih menjaga NKRI dan Pancasila serta kebhinnekaan Indonesia dengan sikap moderat dan toleran. (H Masyhuri Malik)

?

Foto: Rais Aam NU Kiai Wahab Chasbullah berbisik dengan Bung Karno saat menghadiri Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama di Jakarta, 1959. (Doc. PP Lakpesdam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Senin, 29 Januari 2018

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Jam bencet yang ada di serambi Selatan Masjid Tegalsari Surakarta menjadi penanda waktu shalat. Inilah karya ulama tempo doeloe yang hingga kini masih akurat. Bencet atau sundial, salah satu khazanah ilmu falak.

“Jam bencet ini sejak dulu digunakan untuk penentuan jadwal sholat di Masjid Tegal Sari, sampai sekarang,” terang Erma Yohansyah, Imam Masjid Tegalsari.

Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Keakuratan jam ini, pernah dibuktikan oleh pak AR, guru fisika dan pakar ilmu falak di Solo. Ketika itu ia menghitung waktu dzuhur untuk waktu bagian Kota Solo dan sekitarnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, waktu Dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam (dari catatan Prof. Thomas Djamaluddin).

Sedangkan waktu Dhuhur untuk Masjid Tegalsari dan sekitarnya menurut RHI Surakarta pada waktu dihitung saat itu adalah sebagai berikut: Pada 27 Feb 2010 jatuh pada jam 11:53 waktu setempat atau 11:54 waktu setempat.

Haedar Nashir

Koordinat Masjid Tegalsari adalah 7° 34? 13.38? LS, 110° 48? 15.41? BT, 100 m, GMT+07. Pada Sabtu, 27 Feb 2010, solar noon atau matahari tepat di atas kepala bila kita berada di Masjid Tegalsari ini adalah jam 11:49.44 waktu setempat (WIB).

Setelah diadakan pengamatan, tampak bahwa cahaya matahari yang masuk lewat lubang bencet tepat berada di atas garis Utara-Selatan sejati. Itu artinya, waktu Dluhur yang selama ini dipakai sudah benar dan sudah sesuai atau tepat pada waktunya. Waktu Dhuhur tidak mengalami kemajuan atau terlalu cepat.

Jam bencet ini sudah ada bersamaan dengan dibangunnya masjid pada 28 Oktober 1928. Masjid Tegal Sari sendiri merupakan masjid yang dibangun oleh Kiai Shofawi, Prof KHR M Adnan dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah

Lombok Tengah, Haedar Nashir. IPNU-IPPNU bersama BKKBN Propinsi Nusa Tenggara Barat akan menggelar Sosialisasi Generasi Berencana (Genre) dan Pendewasaan usia perkawinan pada hari Jum’at-minggu 17-19 April 2015 di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Lendang Simbe Desa Mertak Tombok Kabupaten Lombok Tegah.

Selain kegiatan sosialisasi, nanti juga akan di gelar di waktu yang sama yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan Diklat Orientasi Kaderisasi dengan tema meningkatkan Kualitas Kader berbasis Ahlussunah Waljamaah.

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Diingatkan Tak Buru-buru Nikah

“Nanti kami akan laksakan Makesta dan Orientasi Kaderisasi yang di rangkaikan dengan Sosialisasi Genre dan Pendewasaan Usia perkwinan,” ujar Imam Subki Ketua Cabang IPNU Lombok Tengah di Lombok Tengah, Senin (13/4).

Haedar Nashir

Adapun tujuan dari kegiatan tersebut menurut Imam sapaan akrabnya agar pelajar NU mengikuti kaderisasi fomal organisasi sebagai gerbang awal dalam mengenal NU lebih baik, mendorong kader-kader pelajar NU agar memiliki nalar sosial yang baik di tengah-tengah masyarkat, dan serta saat Orientasi Kaderisasi para Pengurus IPNU-IPPNU di Lombok Tengah dapat memahami sistem tata kerja Organisasi sesui bidangnaya masing-masing.? ? ?

Haedar Nashir

“Sedangkan tujuan dari Sosialisasi Generasi Berencana (Genre) dan pendewasaan usia Perkwainan menurutnya agar kader-kader IPNU-IPPNU mengetahui usia minimal maupun maksimal terkait perkwainan untuk siap berumah tangga,” tutup alumni Santri Pesantren Al-Mansuriah Bonder Praya Barat Lombok Tengah ini. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Meme Islam Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT

Kupang, Haedar Nashir. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama mengadakan pelatihan kader pegiat penanggulangan HIV dan AIDS di Hotel Kelimutu, Kupang, Selasa (20/5). Selain banom-banom NU, kegiatan ini melibatkan PWNU Nusa Tenggara Timur, Polda setempat, Kesbangpol NTT, KPA, dan LSM yang bergerak dalam penanggulangan AIDS.

Pengurus LKNU Ahmad Iftah Sidik mengatakan, seluruh provinsi di Indonesia sudah masuk dalam kategori penanganan penanggulanganan. Masalah ini sudah menjadi persoalan bersama yang perlu diatasi sedini mungkin.

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Gelar Pelatihan Penanggulangan HIV/AIDS di NTT

“Kegiatan ini menjadi wahana silaturahmi bagi banom NU, mudah-mudahan ini akan mempererat hubungan silaturahmi pengurus NU dan banom NU ke depan,” kata Sidik dalam pelatihan sekaligus sosialisasi bahtsul masail terkait masalah HIV dan AIDS.

Haedar Nashir

Dalam pelatihan selama empat hari mulai Selasa-Sabtu (20-24/5), Ketua PCNU ? Kota Kupang Muhammad Abdurahman mengatakan, penanggulangan AIDS perlu cepat dan tepat sasaran. “Agar masyarakat kita tertolong dari virus yang menghancurkan masa depan generasi muda itu.”

Haedar Nashir

Langkah cepat penanggulangan HIV dan AIDS sangat diperlukan terlebih Indonesia negara yang disebut epidemi virus HIV dan AIDS khususnya di NTT kurang lebih 3-4 persen mengidap virus mematikan itu.

“Di sinilah peran dan tanggung jawab NU untuk memberikan informasi maupun sosialisasi kepada seluruh warga melalui Lembaga Kesehatan NU NTT,” pungkas M Abdurrahman. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Hadits, Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sebanyak 1.433 pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa mengikuti wisuda khataman pertanda berakhirnya masa latihan. Kegiatan setahun sekali ini diadakan di kompleks kantor Pengurus Cabang Nahdlatu Ulama Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (1/12/2013).

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) PSNU Pagar Nusa Bojonegoro M Yasin mengatakan, total jumlah pendekar tersebut berasal dari 17 Kecamatan atau pimpinan anak cabang dari 27 kecamatan yang ada di Bojonegoro. Anak cabang lainnya sudah melaksanakan wisuda di masing-masing kecamatan.

"Proses latihan-latihan dilakukan di tingkat-tingkat dukuh, desa dan kecamatan yang diakhiri proses terakhir, yaitu khataman bagi pendekar yang sudah selesai," terangnya.

Haedar Nashir

Yasin menegaskan, Pagar Nusa merupakan badan otonom NU yang menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah melalui bela diri. pagar Nusa siap menjaga keamanan organisasi NU, masyarakat, dan NKRI.? (M Yazid/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pahlawan, RMI NU Haedar Nashir

Minggu, 31 Desember 2017

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan

Sukoharjo, Haedar Nashir. Sebanyak 150 anggota GP Ansor dan Fatayat NU se-Solo Raya mengikuti sosialisasi empat pilar kebangsaan di Rumah Aspirasi, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (21/4) kemarin. ?

Dalam sosialisasi tersebut Anggota DPR RI, Mohammad Toha mengatakan, nilai-nilai perjuangan dan rasa nasionalisme harus terus dihidupkan terutama bagi generasi muda saat ini. Hal ini sangat penting untuk mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia.

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan

"Sebagai Banom dari organisasi terbesar seperti NU, mempertahankan NKRI adalah harga mati. Para pejuang bangsa ini, sudah mengorbankan harta dan nyawa untuk negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, perjuangan mereka harus dilanjutkan," kata anggota DPR dari Fraksi PKB ini sambil berharap GP Ansor dan Fatayat bisa menjadi pengawal utuhnya NKRI.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa sangat penting memberikan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan. Sehingga masa depan bangsa akan lebih tegak dan kokoh dalam menuju cita-cita proklamasi.

Sementara itu pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, M. Dian Nafi yang menjadi salah satu nara sumber dalam seminar tersebut menjelaskan tentang keadilan sosial. Baginya bangsa Indonesia perlu bersyukur karena keadilan merupakan pondasi yang ditegaskan di dalam dasar negara dan dijabarkan ke dalam peraturan perundang-undangan yang ditetapkan.

"Keadilan sosial merupakan penghargaan negara atas kenyataan kodrati manusia yang dianugrahi daya cipta dan fasilitas kehidupan untuk menjaga harkat dan membangun martabat dirinya," jelasnya.

Haedar Nashir

Kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan tersebut diselenggarakan oleh MPR RI bekerjasama dengan Lembaga Pelatihan Pendidikan Latihan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPLPM) Madani dan Kesbangpolimas Kabupaten Sukoharjo.? (Mashri/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, IMNU, Humor Islam Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Bumikan Al-QurĂ¢€™an, MaĂ¢€™had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma

Jember, Haedar Nashir. Tuntutan layanan Al-Qur’an dari masyarakat yang semakin tinggi, mendorong Ma’had Tahfidz Qur’an Ibnu Katsir Jember meluncurkan program Gerakan Mencintai dan Memuliakan Al-Qur’an (Gemma).

Bumikan Al-QurĂ¢â‚¬â„¢an, MaĂ¢â‚¬â„¢had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumikan Al-QurĂ¢€™an, MaĂ¢€™had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumikan Al-QurĂ¢€™an, MaĂ¢€™had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma

Peresmian peluncuran program tersebut dilakukan oleh penasehat Ma’had yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Imam Suprayogo di aula Soenarjo, kantor Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jl. PB. Sudirman, Jember, Ahad (10/3) lalu.?

Menurut Imam, pelayanan sekaligus pembumian Al-Qur’an saat ini sudah begitu mendesak. Sebab, “Al-Qur’an mempunyai jawaban terhadap segala problematika masyarakat,” ujarnya.

Haedar Nashir

Imam menambahkan, Al-Qur’an merupakan solusi dari pesoalan bangsa. Sebab, di dalam Alquran sudah ada jawaban dari persoalan apapun yang melanda manusia. ? Dikatakan Imam, dirinya pernah ditanya Menteri Agama soal apa yang harus dilakukan Kemenag dengan mahasiswa.

Haedar Nashir

“Saya sampaikan bahwa mahasiswa harus dekat dengan tiga hal; dekat dengan Al-Quran, masjid dan ulama atau cendekiawan,” katanya seraya menegaskan bahwa mahasiswa yang seperti itu akan memantik sukses.

Sementara itu, Direktur ? Ma’had Tahfidz Quran Ibnu Katsir Jember, Abu Hasanuddin menyatakan bahwa peluncuran Gemma dilatarbelakangi oleh keinginan memenuhi kebutuhan layanan Alquran dari masyarakat. Sebab, masyarakat Jember, masih banyak yang tidak tahu baca tulis Alquran, dan mereka menutut pihaknya untuk menyediakan jasa bimbingan membaca Alquran.?

“Sebagaimana kita tahu pesantren ini memfokuskan pada santri yang ingin menghafal Al-Qur’an, dan mereka rata-rata mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember. Nah, yang butuh bimbingan Alquran, bukan hanya santri tapi juga masyarakat. Untuk itulah kita buat Gemma,” tutur Ust. Abu Hasanuddin kepada Haedar Nashir.

Dalam kesempatan itu, sejumlah tokoh hadir, di antaranya adalah Rektor STAIN Jember, Prof. Babun Suharto, Muh. Thamrin (tokoh NU), Asiten II Pemab Jember, Slamet Oerip Santoso, Direktris RS. Bina Sehat, Faida dan ratusan undangan.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kajian Haedar Nashir

Minggu, 24 Desember 2017

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos

Gorontalo, Haedar Nashir



Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan saatnya ada hukuman sosial bagi pelaku pemerkosaan terhadap anak, misalnya dengan mempublikasikan foto pelaku ke khalayak.

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos

"Saya pernah menyampaikan sebelumnya dan hal ini sudah dilakukan di berbagai negara. Foto wajah pelaku harus di-publish, termasuk di media sosial," tukasnya di Gorontalo, Rabu.

Menurut Mensos, hukuman sosial seperti itu akan menjerakan banyak pelaku, sekaligus mencegah terjadinya pemerkosaan terhadap anak-anak di Indonesia.

"Jika pelaku akan melakukan lagi hal yang sama, dia akan berpikir lagi karena bukan hanya dia yang menanggung malu tapi juga seluruh kerabat dan keluarganya. Social punishment ini berat bagi pelaku," ujarnya.

Selain itu, juga bisa dilakukan dengan hukum kebiri. Di beberapa negara, lanjutnya, kebiri dilakukan dengan mengoleskan zat kimia untuk mengurangi hasrat seksual para pelaku tersebut.

Haedar Nashir

Zat kimia tersebut memiliki masa berlaku yang bervariasi 10 hingga 20 tahun, sehingga dianggap efektif untuk menekan jumlah pemerkosaan terhadap anak.

"Ini tidak hanya menjerakan pelaku, tapi kelak mereka selesai menjalani hukuman tidak menjadi residivis," tambahnya.

Ia menyebut sejak Februari 2015, dirinya menyatakan Indonesia sudah darurat kekerasan anak.

Namun, kata dia, saat itu banyak yang memberikan tanggapan bahwa pernyataan dirinya tersebut berlebihan.

Haedar Nashir

"Dibilang ah lebay. Tapi ketika kita menemukan kasus Angelina, kita memperbincangkan kembali masalah ini. Demikian pula saat terjadi kasus Ananda dan Yuyun, dibahas lagi. Jadi sebetulnya kita sedang tidak serius untuk melindungi anak-anak bangsa," tandasnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Pahlawan Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendesak agar kasus penyerangan terhadap pengikut aliran Wahidiyah di Tasikmalaya, Jawa Barat, beberapa waktu lalu diusut tuntas.



Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Gus Dur, kepada pers di Jakarta, Selasa (18/9), bahkan menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mampu melindungi kaum minoritas. Menurutnya, hal itu terbukti dengan masih adanya penyerangan terhadap kelompok ini, yang secara hukum dilindungi Undang-Undang Dasar.

Terkait kasus penyerangan warga Wahidiyah, Gus Dur mendesak Kepala Polri Jenderal Sutanto melakukan penangkapan terhadap sejumlah pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Haedar Nashir

"Saya meminta Kapolri memerintahkan penangkapan Ajengan Asep di Manonjaya, Tasikmalaya," katanya seraya menyebut ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jawa Barat itu tidak dapat mengendalikan anak buahnya yang melakukan perusakan, pembakaran, dan penghancuran gedung di Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Gus Dur juga meminta agar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya KH Saefudin Juhri dan Ketua MUI Kota Tasikmalaya Dudung Akasah ditangkap.

Alasannya, kasus penyerangan terhadap pengikut Wahidiyah terjadi akibat adanya fatwa dari lembaga itu yang menyebut ajaran Wahidiyah menyimpang.

Gus Dur juga mendesak agar dilakukan pemeriksaan terhadap jajaran Polres Tasikmalaya karena dianggap tak mampu memberi perlindungan fisik terhadap kelompok Wahidiyah.

Sambut FPI

Pada kesempatan itu, Gus Dur menyatakan menyambut gembira kesediaan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Riziq untuk membubarkan FPI jika terlibat main hakim sendiri terhadap aliran minoritas Islam.

"Saya menyambut gembira kesediaan Habib Muhammad Riziq. Kelompok minoritas dilindungi UUD, karena itu tidak dapat dibenarkan tindakan main hakim sendiri," katanya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pendidikan, Pahlawan Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Haedar Nashir. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Haedar Nashir usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Haedar Nashir

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Haedar Nashir

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Selasa, 12 Desember 2017

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB

Bogor, Haedar Nashir. Hasan Bisri terpilih menjadi Ketua KMNU IPB dalam Musyawarah Besar (Mubes) yang bertempat di RK. AGB 202A Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Sabtu (28/2) lalu. Mubes yang diketuai oleh Amir Muzakki ini dihadiri oleh segenap civitas KMNU IPB mulai dari anggota, pengurus, alumni, dan pembina.

Agenda yang dilaksanakan tiap tahun di akhir kepengurusan ini terdiri dari sidang pembahasan AD/ART, sidang laporan pertanggungjawaban kepengurusan 2014-2015, pemilihan ketua KMNU, serta pemilihan Dewan Pertimbangan. Sidang ini dipimpin oleh M. Mulya Tarmidzi (presidium sidang I), Isna Nur Arifina (presidium sidang II), dan Irfan Sofyan (presidium sidang III).

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasan Bisri Pimpin KMNU IPB

Dalam sidang AD/ART ditetapkan dan disahkan AD/ART yang diamandemen untuk disesuaikan dengan AD/ART KMNU Nasional yang baru saja terbentuk Januari lalu. 

Haedar Nashir

Mantan Ketua KMNU IPB, Achmad Mujib Dalam sambutannya menyatakan, bahwa ke depannya akan banyak tantangan dan peluang bagi KMNU IPB. "Saya yakin dan percaya ke depannya  KMNU IPB akan semakin baik dengan sumber daya yang potensial serta kepengurusan yang lebih professional," ujar Mujib.

Haedar Nashir

Sebelumnya, dalam musyawarah pemilihan ketua KMNU IPB yang dimoderatori oleh Ikrom Mustofa (mahasiswa berprestasi KMNU IPB), terdapat empat calon ketua yaitu Hamdan Ubaidillah, Hasan Bisri, A. Hijayat Ibnun, serta Hamzah Alfarisi. 

Dua calon yang cukup kuat diperdebatkan untuk menduduki kursi panas ketua KMNU IPB yakni Hasan Bisri dan A. Hijayat Ibnun. Keduanya mempunyai potensi, daya tarik, ciri khas, semangat, dan kapabilitas yang sudah tidak diragukan lagi oleh sebagian besar peserta musyawarah. 

Pada akhirnya, musyawarah sepakat menunjuk Hasan Bisri sebagai ketua KMNU IPB terpilih periode 2015-2016. Hasan dinilai lebih mampu merangkul semua civitas KMNU, mempunyai problem solving yang baik, serta pola pikir yang visioner dalam memetakan potensi yang ada.

Dalam sambutannya Hasan menyatakan, bahwa dia ingin bersama-sama bersinergi dengan semua elemen yang ada di KMNU IPB, melakukan yang terbaik menuju KMNU IPB yang lebih banyak berkarya bagi umat. 

Sidang terakhir memilih dan menetapkan Dewan Pertimbangan KMNU IPB yang terdiri dari 10 pengurus KMNU IPB periode sebelumnya. (Afifah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Anti Hoax, Tokoh Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

Asahan, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Utara (Sumut) Mulia Banurea meminta seluruh pimpinan cabang (PC) dan pimpinan anak cabang (PAC) se-Sumut agar menggiatkan kaderisasi. Sebagai realisasi program PW GP Ansor Sumut, ia mendorong kader organisasi pemuda NU ini ada di setiap desa.

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

"Ansor adalah elemen pemuda yang berada di garda terdepan dalam mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, kader Ansor harus ada di setiap desa guna menjaga keutuhan NKRI," kata Mulia saat menjadi narasumber pada Latihan Kader Dasar (PKD) yang digelar PC GP Ansor Kabupaten Asahan, di Pesantren Darul Hikmah Kisaran, Asahan, Sabtu (31/1).

Mulia menegaskan, untuk bisa berjuang, kader Ansor sebagai kader muda Nahdlatul Ulama (NU) harus mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Karena itu, seluruh kader Ansor harus mengikuti PKD agar mengetahui nilai-nilai dasar perjuangan organisasi ini.

Haedar Nashir

"Kader Ansor harus menjaga komitmen terhadap ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Prinsip Aswaja antara lain bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furuiyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islĂ¢miyyah)," katanya.

Haedar Nashir

Hadir dalam acara itu, Rais Syuriah PCNU Asahan? H Ahmad Fadelah Pane, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap, Sekretaris Parulian Siregar, serta unsur pengurus PW GP Ansor Sumut di antaranya M Uliansyah, Jasmi Assayuti, Dedi Hermanto Sitorus, Ketua Caretaker PC Ansor Asahan Safrizal, dan Ketua Panitia Budi Suherman.

?

Sedangkan Rais Syuriah PC NU Asahan H Ahmad Fadelah Pane mengatakan, mazhab Ansor adalah Imam Syafii yang Aswaja, bukan Imam Samudra yang tidak mengakui NKRI.

Ketua Caretaker PC NU Asahan melaporkan, PKD yang digelar 30 Januari sampai 02 Februari itu dirangkai dengan pembentukan PAC di sejumlah kecamatan di Asahan, dan konferensi cabang (konfercab) GP Ansor Asahan. (Hamdani/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Tokoh Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang

Jakarta, Haedar Nashir. Hari terakhir referendum atau jajak pendapat tentang rancangan konstitusi Mesir akan mulai dibuka pukul 09.00 waktu setempat, Rabu (15/01) ini.

Sampai Selasa (14/01), sedikitnya sembilan orang tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan pendukung mantan Presiden Mohammed Morsi yang menyatakan memboikot referendum ini. Demikian laporan yang dilansir oleh laman BBC Indonesia.

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang

Sejauh ini belum diketahui berapa jumlah warga Mesir yang memberikan suaranya. Stasiun TV Al-Hayat TV mengutip Kementerian kehakiman mengatakan suara yang suhad masuk "melebihi 50%" di hari pertama pemungutan suara.

Haedar Nashir

Sekitar 160.000 tentara dan lebih 200.000 anggota kepolisian dikerahkan untuk mengamankan referendum di seluruh Mesir.

Haedar Nashir

Bentrokan terjadi di tiga kota bagian selatan ibukota Kairo, Selasa (14/01).

Kampanye dukungan untuk konstitusi baru membanjiri siaran televisi dan radio milik negara. Namun kampanye yang menolak konstitusi baru sulit ditemukan di jalan-jalan.

Jajak pendapat ini bertujuan untuk mengganti konstitusi lama yang disahkan oleh Morsi, beberapa bulan sebelum dia disingkirkan oleh militer.

Sedangkan konstitusi baru disusun oleh sebuah komite yang berisi 50 orang dan hanya dua diantaranya berasal dari partai Islam.

Ikhwanul Muslimin, partai pendukung mantan Presiden Morsi, yang dinyatakan terlarang karena dianggap sebagai kelompok teror, menyerukan aksi boikot.

Pemerintahan sementara mengklaim bahwa rancangan ini memberikan lebih banyak kebebasan dan hak, serta menjadi kunci menuju stabilitas. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Sejarah, Pahlawan Haedar Nashir

Senin, 04 Desember 2017

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih

Pati, Haedar Nashir. Bencana kekeringan tahun ini akibat kemarau panjang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dampaknya banyak sumur-sumur dan sumber mata air yang mengering. Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah yang terkena imbas kemarau panjang.

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih

Kekeringan di Kabupaten Pati meluas dari 5 kecamatan menjadi 8 Kecamatan yaitu Winong, Jakenan, Jaken, Batangan, Pucakwangi, Gabus, Tambakromo, Kayen bahkan beberapa desa di Kecamatan Kota juga terkena dampak kekeringan dan membutuhkan Bantuan air bersih.

Untuk merespon keadaan tersebut, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Pati, LPBINU Jawa Tengah serta PP LPBINU bersama GP Ansor Pati mengadakan bakti sosial di 8 Kecamatan yang dilanda kekeringan paling parah pada Kamis (5/11).

Haedar Nashir

Ketua GP Anshor Pati, Imam Rifai mengatakan, untuk memenuhi ke delapan kecamatan tersebut, sekurang-kurangnya harus ada 40 tangki air yang dikirim. Untuk hari ini (Kamis kemarin, red) hanya ada lima belas tangki air yang bisa didistribusikan, dan ini jauh dari kata cukup. Akibatnya warga harus berbagi rata dengan sesame warga. 

“Tahun ini kekeringan sangat parah. bahkan desa yang tidak pernah dilanda kekeringan, tahun ini mengalami kekurangan sumber air bersih,” terangnya.

Haedar Nashir

Rifai mengeluhkan minimnya mobil tangki air yang bisa disewa. Usaha untuk menyewa mobil tangki air dari luar Kabupaten Pati mengalami kendala yang sama, bahwa tangki-tangki itu sudah disewakan. “Kendala kami adalah tentang penyewaan mobil,” katanya.

Direncanakan kegiatan ini akan berlanjut setiap harinya, sampai akhir November. (Faridur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Quote, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 02 Desember 2017

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Dubai, Haedar Nashir



Pangeran Arab Saudi, Turki Saud al-Kabir, telah menjalani eksekusi pada Selasa setelah pengadilan menyatakan ia bersalah menembak hingga mati seorang warga Saudi, kata laporan media resmi.?

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangeran Saudi Dieksekusi karena Pembunuhan

Laporan tidak menyebutkan dengan cara apa eksekusi terhadap Pangeran Turki itu dilakukan. Namun, sebagian besar orang yang dihukum mati di kerajaan Arab Saudi menjalani hukuman dengan cara kepala mereka dipenggal dengan pedang.?

Pangeran Turki sebelumnya telah menyatakan bersalah menembak hingga tewas Adel al-Mohaimeed setelah perkelahian, kata kementerian dalam negeri dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita SPA.?

Para anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang sedang berkuasa jarang terkena eksekusi. Salah satu kasus paling mengemuka di kalangan kerajaan adalah ketika Faisal bin Musaid al Saud, yang membunuh pamannya Raja Faisal, menjalani eksekusi pada 1975.?

Keluarga kerajaan diperkirakan beranggotakan beberapa ribu orang.?

Haedar Nashir

Mereka menerima tunjangan bulanan dan sebagian besar pangeran senior memiliki kekayaan dalam jumlah besar serta kekuasaan politik.?

Namun, hanya sebagian kecil dari keluarga kerajaan yang memiliki jabatan-jabatan penting pada pemerintahan.?

"Pemerintah... bertekad untuk menjaga ketertiban, menstabilkan keamanan serta menjunjung tinggi keadilan dengan menerapkan aturan-aturan yang ditentukan oleh Allah (Tuhan, red)...," kata pernyataan kementerian itu, demikian dilansir Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pahlawan Haedar Nashir

Senin, 27 November 2017

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

Depok, Haedar Nashir. Rektor Universitas Indonesia M Anies mengungkapkan, saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman yang bukan hanya fisik semata. Untuk itu, bela negara saat ini bukanlah dengan mengangkat senjata. 

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)
Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

"Dalam menjaga NKRI melalui bela negara harus melibatkan semua elemen; yaitu ulama, umara, perguruan tinggi,” ujarnya pada Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara, di Pesantren Al-Hikam, Kukusan, Beji, Depok, Senin (24/10).

Bela negara melalui pendidikan terkait dengan ideologi dan cara berpikr. Perguruan tinggi, dikatakan Anies mencetak generasi  yang bertanggungjawab, sehingga bisa  menjadi mitra dalam menyelesaikan dan menjawab tantangan  global. 

"Demi jaga keutuhan,  cara tepat dengan melibatkan dunia pendidikan. Kita sadari bagaimana medsos menjadi ancaman keutuhan bila menyampaikan hal negatif. Tentunya bila ada kesamaan pemahaman tentang ke-Indonesia-an, maka bisa menjadi filter tersendiri," terangnya. 

Haedar Nashir

Menurutnya, salah satu upaya dalam pendidikan adalah dengan menekankan kembali dalam kesamaan pemahaman ke-Indonesia-an. Ia menilai, perwujudannya melalui nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45.

"Perlu dicari metode menanamkan nilai Pancasila sejak dini. Tidak bisa anak sekarang disuruh menghafal Pancasila dan P4. Tentunya, generasi milenium beda dalam penyampaian dan metodenya," paparnya. 

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok KH. Yusron Ash-Shidqi menilai tugas bela negara bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun semua elemen bangsa turut aktif. 

“Antara ulama dan umara memiliki kesamaan dalam maslahat. Terlebih lagi, dalam upaya menjaga keutuhan NKRI,” tutur Kiai Yusron.

Ia menegaskan Al-Hikam adalah rumah aswaja dalam menegakkan dan menjaga NKRI. 

Kegiatan Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara menghadirkan 200 ulama dan cendekiawan.  Gagasan kegiatan tersebut dicetuskan almarhum KH Hasyim Muzadi sebagai upaya menyatukan visi misi ulama umara menjadikan aswaja dan bela negara sebagai sumbangsih pada NKRI. (Aan Humaidi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

Nias Selatan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Karateker Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Jumat hingga Ahad (29-31/5). Kegiatan dilaksanakan di Aula Hotel Hernelys, Telukdalam Nias Selatan.

Ketua Karateker PC GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Alez Brianita Wau menjelaskan, PKD menjadi kewajiban bagi Kader Ansor sebelum membentuk kepengurusan PC GP Ansor. Acara bertemakan “Meneguhkan Komitmen Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Bingkai Kebangsaan dan NKRI” ini digelar untuk meningkatkan wawasan, kapasitas dan kreatifitas Kader Ansor.

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

“Apalagi Kader Ansor juga bertugas sebagai kader bangsa yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam keanekaragaman dan memperkuat keutuhan NKRI. Diharapkan dengan PKD para kader bisa mengembangkan pemahaman tradisi Aswaja sebagai pencerminan pengamalan sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lanjut Alez, Kader Ansor juga mengemban amanah menggemakan syiar Islam sebagai perisai bagi dampak negatif globalisasi, mempererat ukhuwah dan sebagai perekat warga Nahdliyin untuk Indonesia.

Haedar Nashir

“Untuk itu, kader perlu dibekali pemahaman Ke-Ansoran dan Ke-NU-an. Tujuannya, menanamkan rasa cita terhadap organisasi sebagai upaya meningkatkan kapasitas, kreatifitas dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Sebelumnya Ansor Nias Selatan dan Nias Barat juga telah mengikuti PKD di Gunungsitoli,” imbuhnya.

Hadir dalam acara, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nias Selatan Wajdin Telaumbanua. Dalam sambutannya, PCNU berharap Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat setelah Tim Karateker melaksanakan tugas melaksanakan PKD dan Konfercab I.

“Ansor adalah salah satu badan otonom NU wadah berkumpulnya pemuda-pemuda NU, dengan adanya Cabang NU di Kabupaten Nias Selatan maka sudah seharusnya PC GP Ansornya ada juga di Nias Selatan. Kita berharap agar Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat,” harapnya.

Acara PKD dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap yang berlangsung selama 3 hari. Armansyah Harahap mengatakan, GP Ansor pusat telah menetapkan tiga grand design untuk pengembangan GP Ansor se-Indonesia, yakni GP Ansor diberi amanah untuk mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

“Dalam materi kepemimpinan, materi Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu merupakan materi inti,” ujar Armansyah saat memberikan arahan dan bimbingan pada Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Barat. (Dedi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pahlawan, Makam Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Probolinggo, Haedar Nashir. Sedikitnya 100 orang pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo mengikuti kegiatan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Probolinggo, Selasa (10/11).

Badan otonom (banom) PCNU Kabupaten Probolinggo ini dipimpin langsung oleh Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo dan BPPKB Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasikan PUP, Pemkab Probolinggo Rangkul Muslimat NU

Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo Hj Endang Astuti mengatakan Muslimat dan Fatayat NU merupakan organisasi kemasyarakatan yang sangat strategis karena memiliki struktur dari cabang hingga ranting.

Haedar Nashir

“Pertemuan yang dilakukan bersifat rutin dan sangat dekat dengan masyarakat. Sehingga bisa menjadi media yang sangat efektif untuk merubah mindset, khususnya orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan untuk anak-anaknya,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Menurut Endang, melalui Muslimat NU dan Fatayat NU ini diharapkan orang tua bisa mendapatkan dampaknya. Sebab kebanyakan banyak pernikahan dini di usia muda yang berakhir dengan perceraian karena dilakukan karena kehendak orang tua.

“Minimal pengurus Muslimat dan Fatayat NU menjadi contoh yang paling awal untuk memperhatikan usia yang ideal bagi anggota keluarganya. Harapannya, mereka tidak hanya melakukan syiar agama Islam, tetapi juga merespon isu-isu kekinian tentang permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah,” tegasnya.

Sementara Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurayati menyambut baik upaya dari Pemkab Probolinggo yang mau merangkul Muslimat dan Fatayat NU agar bisa bersama-sama mensosialisasikan PUP kepada masyarakat dalam rangka menurunkan angka pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo.

“Ini merupakan sebuah kepercayaan yang sangat besar. Mudah-mudahan kami mampu menjalankan amanah ini dengan terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menikah pada usia yang ideal,” katanya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Warta Haedar Nashir

Selasa, 21 November 2017

Jimat-Jimat Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir. Seorang tokoh sekelas Gus Dur memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mereka juga ingin berkontribusi sesuatu dalam perjuangan yang dilakukan oleh cucu KH Hasyim Asy’ari ini.

Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Jimat-Jimat Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Jimat-Jimat Gus Dur

Bagi kalangan tertentu, mereka seringkali memberi jimat dengan berbagai bentuknya, sebagai upaya untuk membantu melindungi Gus Dur dari santet, sihir dan serangan jahat lainnya. Salah satu pemberiannya adalah sebuah keris yang gagangnya seperti tanduk. Yang memberi mengaku jika jatuh pada orang yang tepat, bisa jadi presiden.

Entah percaya atau tidak terhadap jimat, Gus Dur tidak pernah menolak pemberian tersebut, tetapi diterima sebagai niat baik dari masyarakat. Ketika kantor PBNU dipindah karena gedung lama yang hanya dua lantai dibangun kembali menjadi sembilan lantai, jimat-jimat Gus Dur ikut dirapikan dan terkumpullah sebanyak 2 karung.

Haedar Nashir

H Marsudi Syuhud, sekjen PBNU saat ini, ketika itu yang diminta merapikan dan membawanya ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Lalu barang-barang tersebut ditaruh dibawah tempat tidur.

Haedar Nashir

Suatu ketika, ia menanyakan soal keberadaan jimat-jimat tersebut kepada Yenny dan Aries Junaidi, tetapi mereka tak ada yang tahu karena sudah tidak ada lagi di tempat semula, tetapi ketika ia bertanya kepada pengawal Gus Dur, Pak Latief dan seorang santri yang menemani tidur, mereka seringkali melihat jimat-jimat tersebut bergerak sendiri.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri, Pahlawan Haedar Nashir