Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab

Garut, Haedar Nashir. Pimpinan cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kabupaten Garut menerima kontestan perlombaan Video Tutorial Hijab berdurasi 1-5 menit. Panitia membuka perlombaan tutorial hijab untuk umum. Perlombaan ini diadakan untuk memeriahkan konferensi cabang VIII PCNU Garut pada Jumat-Ahad (30/1-1/2).

Dengan durasi 1-5 menit, peserta dapat menuangkan ide kreatifnya lalu merekam cara memakai hijab dengan model dan gaya yang bebas.

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Garut Buka Sayembara Video Tutorial Hijab

Selain tidak dipungut biaya, perlombaan ini terbuka bagi umum tanpa batasan usia dan tanpa batasan daerah. Selain masyarakat Garut, siapa saja boleh mengikuti perlombaan ini.

Haedar Nashir

Pemenang akan diumumkan pada Kamis (28/1) melalui website IPPNU Garut.

"Oleh karena itu saya mengundang seluruh kader IPPNU se-Indonesia bila ada yang akan mengikuti lomba tutorial hijab ini, karena ini diperuntukan bagi umum," ujar Ketua IPPNU Garut Nendah Nurlaeni.

Haedar Nashir

Peserta yang akan mengikuti lomba ini dapat mengirimkan videonya ke alamat email pcippnu.garut@gmail.com dengan syarat dan ketentuan dapat dilihat di laman facebook fanpage PC IPNU IPPNU GARUT. Lomba ini berhadiah menarik bagi pemenangnya. (Nurul Fatonah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 17 Februari 2018

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis

Abdullah bin Mas’ud termasuk orang dari generasi sahabat yang memiliki kedekatan cukup intim dengan Rasulullah. Ia menjadi khadim (pelayan) yang loyal dan sering mengikuti ke mana Nabi pergi, membawakan keperluan beliau, bahkan dalam kesempatan tertentu ia diizinkan masuk ke kamar pribadi Nabi. Di antara berkah dari hubungan dekat ini, Abdullah bin Mas’ud menyerap banyak ilmu dan keteladanan dari manusia suci itu, yang di kemudian hari melambungkan namanya sebagai sahabat yang sangat mengerti Al-Qur’an.

Contoh dari kedekatan hubungan tersebut adalah kisah Rasulullah yang pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan untuknya ayat-ayat Al-Qur’an. Terang saja Abdullah merasa heran.

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Al-Quran yang Membuat Rasulullah Menangis

“Wahai Rasulullah! Apakah (layak) saya membacakan Al-Qur’an untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” timpal Baginda Nabi.

Haedar Nashir

Abdullah pun mengabulkan permintaan Rasulullah dengan membacakan Surat an-Nisa’ dengan fasih. Namun, Baginda Nabi tiba-tiba memintanya berhenti ketika Abdullah sampai pada ayat:

Haedar Nashir



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS an-Nisa’: 41)

Jleb! Abdullah bin Mas’ud berhenti membaca. Ia menoleh ke wajah Rasulullah dan menyaksikan air mata meleleh dari kedua pelupuk mata utusan Allah itu. Demikian cerita yang bisa kita baca dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits tersebut menunjukkan betapa rendah hatinya Rasulullah, sebagai penerima wahyu mau mendengarkan untaian bacaan dari lisan pelayannya. Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an tak lebih buruk dari orang yang membacanya. Bahkan, karena fokus menghayati isi bacaan, si pendengar bisa lebih meresapi dan menangkap pesan inti Al-Qur’an.

Ayat 41 dari Surat an-Nisa’ itu menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang kelak di akhirat menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Tangisan Rasulullah menjadi penanda akan lembutnya hati beliau yang tak sampai hati umatnya bakal menerima penderitaan—meski akibat ulah mereka sendiri. Di ayat berikutnya diungkapkan bahwa mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya meminta agar ditenggelamkan ke dalam bumi.

Menurut Tafsir al-Baidlâwi, mereka ingin diratakan dengan tanah selayaknya orang mati. Atau diciptakan saja seperti tanah yang tak memiliki tanggung jawab perbuatan. Mungkin maksudnya untuk menghindari siksaan. Padahal, walâ yaktumûnaLlâha hadîtsân (mereka tidak dapat menyembunyikan kejadian apa pun dari Allah). (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Kajian Sunnah, Nasional Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

Degradasi Moral Makin Memprihatinkan di Media Sosial

Pringsewu, Haedar Nashir. Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu KH Hambali menilai jika saat ini para pengguna media sosial sudah mulai menunjukkan gejala degradasi moral. Hal ini ditunjukkan dengan mudahnya mereka menggunakan media tersebut untuk hal-hal negatif.

Salah satunya menurutnya adalah penggunaan media sosial untuk menyebarkan fitnah dan kebencian terhadap satu orang atau golongan tertentu. "Saat ini banyak ditemukan akun palsu yang menyebarkan kebencian serta menuduh orang dengan tanpa dasar," ungkapnya, Rabu (26/10).

Degradasi Moral Makin Memprihatinkan di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Degradasi Moral Makin Memprihatinkan di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Degradasi Moral Makin Memprihatinkan di Media Sosial

Selain itu pengguna media sosial sering tidak mengedepankan akhlaqul karimah dalam berkomunikasi sehingga sering terjadi konflik antar pengguna media tersebut. "Kadang mereka saling hujat menghujat karena merasa prinsipnyalah yang paling benar dengan menyalahkan orang lain," ujarnya saat ditemui dikediamannya.

Seharusnya menurut Kiai Hambali, para pengguna media sosial sebaiknya mengedepankan sopan santun dalam berbicara dan bertindak seperti dalam kehidupan nyata. Karena apa yang kita tulis didunia maya pada hakikatnya adalah apa yang kita ucapkan didunia nyata.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan tersebut Ia mengingatkan bahwa saat ini Polri sudah memantau aktivitas di media sosial khususnya terkait momen yang perhelatan pemilihan kepala daerah diberbagai daerah yang rentan memunculkan konflik. Salah satunya adalah dengan mengerahkan cyber patrol di media sosial.

Cyber patrol tersebut ditempatkan di Polri, Polda dan Polres yang siap bertindak melakukan penelusuran manakala ada berita yang berbau SARA.?

Mengenai hukuman yang dikenakan, Menurut Kiai yang juga Ketua MUI Provinsi Lampung ini para pelaku dapat dikenakan KUHP 310 atau 311 mengenai penghinaan, pencemaran nama baik atau UU ITE pasal 28 atau 45 tentang menyebarkan berita bohong dan menyebarkan konten kebencian. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Jakarta, Haedar Nashir. Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif mengatakan, saat ini generasi muda Indonesia sedang mengalami diskoneksi dengan tokoh-tokoh intelektual dan pergerakan masa lalu. Mereka lebih paham dengan tokoh dari negara lain.

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

UKP-PIP: Anak Muda Kita Tercerabut dari Akar Sejarah

Yudi bercerita saat mengisi seminar di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah. Pada seminar itu, ia bertanya kepada mahasiswa tentang siapa tokoh idola mereka. "Sayyid Qutb," kata Yudi menirukan jawaban mahasiswa sebuah perguruan tinggi tersebut di Jakarta, Rabu (30/8) malam.

Mendengar jawaban itu, Yudi mengaku kaget karena tidak ada di antara mereka yang mengidolakan tokoh asli Indonesia. "Kita tercerabut dari intelektual sejarah kita sendiri," tegasnya.

Ia lalu mengungkapkan, jatidiri intelektual suatu bangsa akan hancur dan hilang jika generasinya terputus dari para pemikir dan intelektual sebelumnya.?

Haedar Nashir

Lebih jauh, Yudi menerangkan, Indonesia adalah negara terbesar ketiga dalam hal penggunaan media sosial. "Dalam bermedia sosial, (masyarakat) Indonesia (pengguna media sosial) nomor tiga di dunia," ucapnya.

Namun, hal itu tidak diimbangi dengan minat baca atau berliterasi. Menurut Yudi, minat baca masyarakat Indonesia adalah nomor dua dari bawah. "Minat baca (masyarakat Indonesia), nomor dua dari bawah setelah Botzwana," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pertandingan, Nasional Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Nasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) berharap adanya regulasi yang memuat sanksi berat untuk tindak kejahatan dan pelecehan seksual. Tingginya kasus kejahatan seksual, tambah Kang Said, sudah seharusnya menjadi prioritas anggota parlemen di Senayan.

“Satu lagi, tolong selesaikan kasus kekerasan seksual,” kata Kang Said dalam acara peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren yang diselenggarakan Fraksi PKB di Jakarta, Senin (10/10) siang.

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini berharap kepada anggota parlemen memerhatikan masalah darurat yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, masalah kekerasan dan pelecehan seksual sudah demikian mengkhawatirkan.

Sebelumnya Kang Said menyebutkan sejumlah UU yang diharapkan berbicara lebih tegas perihal terorisme, minuman beralkohol, dan LGBT.

Haedar Nashir

“LGBT itu bukan lagi bertentangan dengan syariat Islam, tetapi juga dengan fitrah manusia,” tegas Kang Said.

Haedar Nashir

Tampak pada peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren ini Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua Umum PKB H Muhaimin Iskandar, Ketua Fraksi PKB Hj Ida Fauziah, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU serta anggota DPR dari fraksi PKB. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Sejarah, Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Solo, Haedar Nashir. Para santri SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jombang, mengadakan kunjungan kampus ke Fakultas Pertanian dan Kedoketran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Senin (21/4).

Di kampus itu, kedatangan mereka disambut Kaprodi Agribisnis Pertanian UNS, Dr. Mohd Harisudin, MSi. Dalam sambutannya Harisudin menyemangati para santri untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Kepada para santriwati, ia juga memaparkan potensi pesantren dalam bidang pertanian. “Pesantren punya peluang besar karena punya tenaga "gratis" santri yang bisa digunakan pesantren, sekaligus praktek santri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Harisudin yang juga pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Solo menyerukan kalimat sholawat dan dibalas secara spontan oleh para santri, dengan suara kencang dan bersamaan.

“Baru kali ini anak SMA yang berkunjung ke sini, sangat antusias mengucap shalawat,” katanya diikuti senyuman para santri. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Internasional Haedar Nashir

Selasa, 23 Januari 2018

IPNU-IPPNU Rembang Berdialog dengan Plt. Bupati

Kaliori, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Kecamatan Kaliori menghadiri dialog bersama yang digelar di Pendopo kecamatan setempat, Kaliori Rembang Jawa Tengah.

IPNU-IPPNU Rembang Berdialog dengan Plt. Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Berdialog dengan Plt. Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Berdialog dengan Plt. Bupati

Dialog bersama, Kamis (20/11) kemarin menghadirkan Plt. Bupati Rembang H. Abdul Hafidz dalam rangka Sosialisasi Ketentuan Cukai dan Program Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Dalam dialog bersama di Pendopo Kecamatan itu, Plt. Bupati Rembang menerangkan rencana pembangunan yang baik di sektor pertanian dan insfratrukturnya.

Haedar Nashir

Menurut Wakil Ketua IPNU Ancab Kaliori Abdul Rochim ketika dikonfirmasi, bahwa keikutsertaan IPNU IPPNU Ancab Kaliori dalam dialog bersama yang mengadakan kecamatan Kaliori ini bertujuan untuk mendengarkan paparan program pemerintah setempat, sekaligus memberi usulan untuk pembangunan kecamatan Kaliori. (Moh. Lilik Wijanarko Nawawi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Nasional, Budaya Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Paris, Haedar Nashir. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin secara global sekarang berada pada tingkat yang sama seperti di tahun 1820-an, OECD mengatakan Kamis, memperingatkan itu adalah salah satu perkembangan yang paling "mengkhawatirkan" selama 200 tahun terakhir.

Dalam laporan utama tentang kesejahteraan dunia selama dua abad terakhir, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat ketidaksetaraan melesat naik setelah globalisasi mengakar pada 1980-an, lapor AFP.

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesenjangan Global Kaya-Miskin Kembali ke Era 1820-an

Para peneliti mempelajari tingkat pendapatan di 25 negara, memetakan kembali mereka dalam waktu ke 1820 dan kemudian mereka disusun seolah-olah dunia adalah satu negara.

Haedar Nashir

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan menurun tajam di pertengahan abad ke-20 -- yang OECD tempatkan ke apa yang disebut "revolusi egaliter", terutama dengan munculnya komunisme di Eropa Timur -- tetapi kemudian melonjak baru-baru ini. 

Pada 2000, tingkat ketimpangan pendapatan global berada di tingkat yang sama seperti di 1820, menurut laporan tersebut.

Haedar Nashir

"Ini sangat mencolok," kata Guido Alfani, dari Bocconi University, yang berpartisipasi dalam survei.

"Peningkatan besar ketimpangan pendapatan pada skala global adalah salah satu paling signifikan -- dan mengkhawatirkan -- fitur dari perkembangan ekonomi dunia dalam 200 tahun terakhir," OECD menyimpulkan dalam laporan 269-halaman yang disampaikan kepada media.

Ekonom Belanda Jan Luiten van Zanden mengatakan laporan itu melukiskan gambaran serupa peringatan keras yang kontroversial buku terlaris tentang ketidaksetaraan pendapatan global oleh ekonom Prancis Thomas Piketty, "Capital in the Twenty-First Century".

"Kami menceritakan kisah-kisah yang sama ... kita berbagi keprihatinan yang sama tentang ketidaksetaraan global," kata van Zanden.

"Piketty membandingkan sebagian besar negara-negara Barat. Metodenya harus dianalisis pada skala global," saran ekonom.

Untuk studi kejadian penting, peneliti mengamati tren dalam faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, ketimpangan, lingkungan dan keamanan pribadi selama 200 tahun terakhir dalam rangka membangun sebuah gambaran kesejahteraan global.

Kesimpulannya: "Kesejahteraan rakyat secara umum berkembang sejak awal abad ke-20 di sebagian besar dunia."

Harapan hidup di seluruh dunia telah melonjak dari kurang dari 30 tahun pada 1880 menjadi hampir 70 tahun pada 2000.

Literasi juga telah meningkat secara dramatis. Kurang dari 20 persen orang bisa membaca pada 1820; sekarang angka itu sekitar 80 persen. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nasional, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Keterbatasan kuota haji yang membuat panjangnya antrean, berdampak pada kecilnya kesempatan masyarakat untuk menunaikan ibadah haji. Karenanya, banyak orang harus menunggu antrean hingga belasan bahkan 27 tahun. Di tengah kepadatan antrean ini, perlu ada peraturan Dirjen Kemenag RI yang memprioritaskan calon jamaah yang belum berhaji.

Pernyataan ini merupakan hasil kajian para kiai NU pada sidang bahtsul masail pra muktamar NU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu malam hingga Ahad dini hari (28-29/3).

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Menurut KH Aniq Muhammadun dari Pati, pemerintah dalam hal ini Dirjen Haji Kemenag RI berkewajiban mendahulukan kewajiban haji yang bersifat fardhu ain (haji pertama setiap orang) dibanding kewajiban fardhu kifayah (haji tidak wajib seperti haji kedua dan seterusnya).

Haedar Nashir

“Bila terjadi kepadatan antara fardhu kifayah dan fardhu ain, maka fardhu ain yang dimenangkan. Kalau pemerintah tidak mengikuti kaidah ini, kesalahan ada di pemerintah, bukan di pendaftar,” kata Rais Syuriyah PCNU Pati ini.

Sebenarnya, kesalahan terletak pada Dirjen Kemanag RI ketika terjadi keberangkatan kedua atau ketiga orang sudah menunaikan haji wajib. Pasalnya pemerintah memiliki hak untuk mengatur keberangkatan. “Pemerintah kan bisa mendata mana warga yang belum dan warga yang sudah haji,” kata pengasuh pesantren Manbaul Ulum, Pati.

Haedar Nashir

Mestinya Dirjen Haji Kemenag RI memiliki database agar mereka yang sudah pernah melangsungkan ibadah haji dapat ditunda keberangkatannya untuk kedua kali dan seterusnya. “Kasihan juga mereka yang mendaftar saat usia sudah agak lanjut lalu mengantre di belakang mereka yang sudah berangkat?”

“Pemerintah perlu membuat undang-undang ini karena terdapat mashlahah ammah berupa pemberian kesempatan haji bagi orang lain yang belum menunaikan haji wajib,” tandas Kiai Aniq yang usulannya diterima forum bahtsul masail pra muktamar PBNU di Krapyak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, Haedar Nashir. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui Haedar Nashir di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Haedar Nashir

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Pamekasan, Haedar Nashir. Geliat Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jawa Timur di berbagai kabupaten/kota, menjadi indikasi kuat bahwa kebangkitan ekonomi Indonesia ke depan bakal dipelopori kaum sarungan. Apalagi, omzet BMTNU beserta labanya terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Sarungan Jadi Pelopor Kebangkitan Ekonomi Indonesia

Hal demikian diakui Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Pamekasan, Jhon Yulianto, saat dihubungi Haedar Nashir melalui saluran telepon genggamnya, Senin (16/1).

Jhon mengaku heran hingga kini BMTNU tetap bertahan dan meningkat pesat. Kata Jhon, mungkin itu berkah dari perjuangan para kiai dan warga Nahdliyin yang komitmen menjauhi riba.

"Koperasi di pemerintahan tidak mengalami kemajuan secepat BMTNU. Padahal, sifatnya wajib; cukup motong gaji pegawai," terangnya.

Haedar Nashir

Pihaknya yakin BMTNU akan menjadi satu-satunya koperasi yang terus berjuang dalam kemaslahatan umat. Pihaknya menyambut baik dan akan belajar kepada BMTNU terkait bagaimana koperasi konvensional menjadi berbasis syariah.

"Kita ketahui bahwa Islam anti kemiskinan. Dan NU mampu mengongkretkan spirit itu melalui BMTNU-nya yang tersebar di mana-mana serta menyentuh hingga lapisan terbawah masyarakat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, IMNU, Nasional Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 27 Desember 2017

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Pada tahun 1984 M, Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohar dari Semarang sedang mengikuti KKN di Kecamatan Kedungjati, salah satu kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kala itu, Habib Umar mendapat cerita dari masyarakat setempat yang menyatakan bahwa di Brabo, desa yang masih sekecamatan dengan tempat di mana Habib Umar mengikuti kegiatan purna mahasiswa itu, terdapat ulama sepuh yang alim, shalih.

Sebagaimana biasa, Habib Umar ketika mendengar kisah orang seperti demikian, ingin sekali sowan ngalap (mencari) berkah serta doa-doa kiai tersebut. Dan ia pun datang ke kediaman Kiai Syamsuri Dahlan beserta satu teman lain bernama Ir. Budi (kini Staf Wali Kota Semarang).

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Sampai di ndalem Kiai Syamsuri, Habib Umar mendapati piantun sepuh itu sedang duduk siang, santai di atas kursi besar dan lebar, khas mebel kuno dengan memakai baju putih tanpa dikancingkan di bagian dada.

Haedar Nashir

Habib Umar menyapa, mengucap salam “Assalamualaikum...”

Melihat ada tamu datang, Kiai Syamsuri segera tergopoh berdiri, menatap tepat menuju pintu di mana Habib ini berdiri, seraya menyambut dengan kalimat hangat

“Waalaikumussalam... Monggo, monggo... Ndhoro Sayyid. Monggo Ndhoro Sayyid”, silakan masuk, Tuan. Silakan masuk.”

Haedar Nashir

Sejurus kemudian Kiai Syamsuri masuk ke dalam ruangan dalam rumah, berganti baju yang lebih layak untuk hormat tamu.

Parasaan heran dan tanda tanya besar menyelimuti hati Habib Umar yang masih terlalu muda dan belum banyak dikenal khalayak seperti sekarang ini, "Bagaimana bisa, Kiai Syamsuri mengenali saya sebagai keturunan Nabi SAW (sayyid/habib) sedangkan Kiai Syamsuri sendiri belum pernah sekalipun bertemu dengan saya,” gumamnya dalam hati.

Usai bincang-bincang cukup, Habib Umar memberanikan diri bertanya, “Mbah, panjenengan belum pernah bertemu saya, bagaimana panjenengan tahu bahwa saya ini termasuk sayyid.”

Gandane ketawis, Bib (aromanya terlihat jelas, Bib)!” Jawab Kiai Syamsuri dengan singkat, jelas. Jawaban ini membuat hati Habib Umar merinding.

Habib Umar mengibaratkan kisah tersebut dengan cerita Nabi Ya’qub saat berpisah dengan Nabi Yusuf, di mana Nabi Ya’qub mengenali baju yang diberikan kepadanya adalah milik Yusuf hanya melalui ciuman aroma baju yang dibawa saudara Nabi Yusuf ketika sudah mendekati rumah sang ayah. Hal ini mereka dapatkan karena kekuatan cinta di antara mereka.

Cerita ini disampaikan Habib Umar Al Muthohar saat menyampaikan mauidhah hasanah di Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo dan diulang kembali saat pelacak Buku Biografi Jejak Kiai Syamsuri Dahlan sowan ke kediamannya di Semarang. (Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pondok Pesantren, Anti Hoax Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko

Rabat, Haedar Nashir. Sebanyak 15 Mahasiswa Kelas Internasioanal STAINU yang sedang belajar di Universitas Ibn Tofail Kenitra Maroko, Sabtu (9/2) mengadakan kunjungan silaturahim di kediaman Duta Besar RI untuk kerajaan Maroko H Tosari Widjadja di Rabat.

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Silaturahim dengan Dubes RI di Maroko

Kunjungan yang didampingi mahasiswa reguler tersebut selain dalam rangka silaturahmi juga sekaligus membesuk Duta Besar yang belum lama menjalani operasi di RS setempat.

Dalam kunjungannya, Hafidzul Umam selaku kordinator mahasiswa mengharapkan agar Duta Besar senantiasa memberikan arahan dan bimbingan baik secara personal maupun prosedural terhadap mahasiswa STAINU yang berada di Maroko. 

Haedar Nashir

Dalam kesempatan tersebut Duta Besar berpesan agar Mahasiswa STAINU yang berada di Maroko selalu semangat dalam belajar serta mampu menuangkan ide dan pikirannya baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

“Orang dapat terkenal itu ada 2 cara. Pertama dengan menulis dan mampu berbicara dan bisa di terima oleh orang lain,” paparnya.

Haedar Nashir

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Nizar Presto

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nasional Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendesak agar kasus penyerangan terhadap pengikut aliran Wahidiyah di Tasikmalaya, Jawa Barat, beberapa waktu lalu diusut tuntas.



Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Usut Kasus Penyerangan Pengikut Wahidiyah

Gus Dur, kepada pers di Jakarta, Selasa (18/9), bahkan menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mampu melindungi kaum minoritas. Menurutnya, hal itu terbukti dengan masih adanya penyerangan terhadap kelompok ini, yang secara hukum dilindungi Undang-Undang Dasar.

Terkait kasus penyerangan warga Wahidiyah, Gus Dur mendesak Kepala Polri Jenderal Sutanto melakukan penangkapan terhadap sejumlah pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Haedar Nashir

"Saya meminta Kapolri memerintahkan penangkapan Ajengan Asep di Manonjaya, Tasikmalaya," katanya seraya menyebut ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Jawa Barat itu tidak dapat mengendalikan anak buahnya yang melakukan perusakan, pembakaran, dan penghancuran gedung di Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Gus Dur juga meminta agar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya KH Saefudin Juhri dan Ketua MUI Kota Tasikmalaya Dudung Akasah ditangkap.

Alasannya, kasus penyerangan terhadap pengikut Wahidiyah terjadi akibat adanya fatwa dari lembaga itu yang menyebut ajaran Wahidiyah menyimpang.

Gus Dur juga mendesak agar dilakukan pemeriksaan terhadap jajaran Polres Tasikmalaya karena dianggap tak mampu memberi perlindungan fisik terhadap kelompok Wahidiyah.

Sambut FPI

Pada kesempatan itu, Gus Dur menyatakan menyambut gembira kesediaan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Riziq untuk membubarkan FPI jika terlibat main hakim sendiri terhadap aliran minoritas Islam.

"Saya menyambut gembira kesediaan Habib Muhammad Riziq. Kelompok minoritas dilindungi UUD, karena itu tidak dapat dibenarkan tindakan main hakim sendiri," katanya. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pendidikan, Pahlawan Haedar Nashir

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menggelar seminar Waspada Diabetes; Dampak pada Tubuh dan Gigi di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, Jumat (28/4) pagi. Pada pertemuan ini sejumlah narasumber menjelaskan bagaimana dampak diabetes pada kesehatan anggota tubuh lainnya.

Sekretaris LKNU Citra Fitri Agustina (dokter Civi) mengatakan, seminar tersebut selain sebagai ajang silaturahim dalam menyambut bulan Ramadhan mendatang, juga sebagai sarana untuk belajar bersama tentang penyakit diabetes mellitus yang ternyata berdampak pada anggota tubuh, termasuk gigi.

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

“LKNU sebagai bagian dari ormas NU memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan upaya kesehatan, penanganan dan pencegahan penyakit kepada masyarakat luas,” kata dokter Civi.

Ia menambahkan, LKNU bekerja sama dengan berbagai pihak telah dan terus mengampanyekan gerakan kesehatan termasuk penanganan dan pencegahan diabetes mellitus ke beberapa propinsi di Indonesia.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yeny Yuliani dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jakarta Pusat mengatakan, penanganan gigi saat ini menjadi bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau program pembangunan berkelanjutan. Dalam SDGs,  persoalan gigi termasuk penyakit kronis sistemik seperti penyakit lainnya yang harus ditangani secara serius.

Haedar Nashir

“Ada persoalan kesehatan mulut yang kita harus tahu. Apalagi update saat ini kesehatan mulut juga masuk dalam cover BPJS. Jadi dokter juga harus bertambah kompetensinya dalam penangan penyakit sistemik,” kata Yeny.

Deteksi dini, menurut Yeny, harus dilakukan, apakah seseorang memiliki potensi diabetes yang berpengaruh pada kesehatan gigi. Ia menyayangkan tren di masyarakat yang menandakan naiknya jumlah kasus kesehatan gigi.

“Seakan masyarakat merasa nggak apa-apa kalau sakit gigi dan diabetes karena di-cover BPJS. Padahal penanganan diabetes di rumah sakit termasuk menggerogoti rumah sakit dan pemerintah. Bayangkan kalau sekali cuci darah saja menghabiskan biaya dua juta,” tambahnya.

Ia berharap para dokter, karena  menentukan keberlangsungan hidup pasien, dapat banyak berperan sehingga persoalan diabetes dan gigi bisa dikendalikan. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Cerita, PonPes Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Permainan Edukatif Hasilkan Anak Pintar dan Kreatif

Demak, Haedar Nashir



Telah terbukti secara faktual maupun ilmiah, permainan yang mengandung nilai pendidikan (edukatif) terbukti membuat anak menjadi pintar dan kreatif. Karena itu setiap guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) didorong untuk terus meningkatkan kreativitasnya dalam mendidik dan menciptakan Alat Permainan Edukatif (APE).

Salah satu lembaga yang konsen mengabdi pada peningkatan mutu PAUD di Indonesia, Ananda Marga Universal Relief Team (AMURT) Indonesia, kemarin, Sabtu (30/4) mengundang para guru PAUD se-Kabupaten Demak dan Kota Semarang untuk memamerkan APE hasil buatan mereka dalam acara bertajuk Galeri APE.?

Permainan Edukatif Hasilkan Anak Pintar dan Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Permainan Edukatif Hasilkan Anak Pintar dan Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Permainan Edukatif Hasilkan Anak Pintar dan Kreatif

Bertempat di gedung BKPP Kabupaten Demak, sebanyak 212 guru yang hadir mewakili lembaga PAUD dan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI). APE yang mereka bawa dinilai oleh tim AMURT, dan para guru saling mengunjungi galeri pamer APE mereka, saling memberi masukan dan saran perbaikan.?

Meriah sekali suasananya, aneka rupa dan warna ratusan APE yang dipamerkan tak hanya memenuhi ruangan gedung, melainkan hingga di halaman gedung pelatihan tersebut, hingga meluber ke luar tempat yang diberi tenda, sampai di lapangan dan di bawah pepohonan.?

Terlebih APE yang berwujud alat permainan untuk menstimulasi otot dan syaraf motorik kasar anak, ditempatkan di lapangan gedung karena membutuhkan ruang yang cukup luas. Seperti APE berbentuk terowongan yang terbuat dari anyaman bambu, dilengkapi sebuah miniatur sarana publik yaitu terminal dan pasar.?

Haedar Nashir

Ada pula ban-ban motor bekas yang disanggga dengan potongan bambu, digunakan untuk melatih anak merangkak menyusuri lubang ban atau melangkahi ban-ban tersebut dalam jarak tertentu untuk melatih kekuatan kaki dan keseimbangan tubuh. Semua dicat warna-warni dan dihias bendera, ronce, boneka dan aneka pernak-pernik yang menarik minat anak-anak.?

Dipamerkan pula alat permainan engklek versi modern. Jika engklek model tradisional hanya garis-garis kotak atau lingkaran di atas tanah atau lantai keras, engklek versi modern ini berupa lembaran plastik MMT yang dibuat warna-warni yang bisa dipakai di dalam ruangan, bisa dimainkan siang atau malam hari. Di dalam bidang garis-garisnya ada gambar binatang, pepohonan, angka dan huruf, dilengkapi pula dengan dadu besar untuk dilempar di kotak sesuai angka yang keluar dari lemparan dadu.?

Haedar Nashir

Riuh sekali para guru saling berkunjung, melihat-lihat dan mendiskusikan ratusan APE yang dipamerkan tersebut. Para pembuat APE juga tampak sumringah memberi penjelasan atas pertanyaan dari para guru yang mengunjungi stand pamerannya. Tanya jawab tentang bagaimana cara membuatnya, berapa biayanya, dan minta diberi contoh cara memainkannya serta apa manfaat dari permainan itu. Aneka masukan dijadikan bahan merevisi atau membuat APE versi berikutnya yang lebih bagus tentunya.?

Fasilitator AMURT Indonesia Tika Amalia Fitriani (22) menyatakan puas atas suksesnya Galeri APE tersebut. Ia bersama para leader AMURT Indonesia yang memang biasa mendampingi PAUD di beberapa wilayah, menjadikan acara itu untuk memberi penilaian, evaluasi serta sekaligus memotivasi para guru PAUD untuk terus berkarya dan mendidik generasi terbaik Indonesia di masa terbaik mereka, yaitu usia dini.?

"Kami mengajak setiap guru PAUD dan orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak di usia emas mereka. Kami tadi bagikan poster bergambar tentang tahapan perkembangan anak dan berbagai model APE. Terima kasih untuk para guru PAUD yang luar biasa pengabdiannya, tutur gadis lulusan Jurusan PAUD Universitas Negeri Jakarta ini.?

Ia tambahkan, gelar APE ini akan dilanjutkan dengan lomba APE pada 11 Mei mendatang.?

Pemerintah Perlu Diingatkan Tanggungjawabnya

Pelayanan pendidikan anak usia dini adalah tanggung jawab pemerintah. Di setiap Pemerintah Daerah maupun di Pemerintah Pusat, sudah ada unit yang membidangi PAUD. Anggarannya juga besar dan setiap tahun selalu bertambah. Namun layanan dari pemerintah itu belum dirasakan maksimal oleh para pengabdi PAUD. Baik lembaga PAUD maupun guru-guru PAUD, masih sedikit yang terlayani program dari Dinas yang membidangi PAUD. Baik pelatihan, pemberian fasilitas pendidikan, maupun pembangunan sarananya.?

Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kota Semarang Rr Evi Trisnowati, S.Pd menyampaikan aspirasi para guru PAUD tersebut saat menghadiri Pembukaan Galeri APE. Ia mengatakan, program pemerintah selain masih sedikit, juga kualitasnya perlu ditingkatkan. Misal dalam memberi pelatihan, umumnya hanya kegiatan pelatihan di suatu tempat, setelah itu lepas tanpa ada pendampingan.?

Sedangkan yang dikerjakan AMURT Indonesia, dia memberi perbandingan, tidak hanya memberi pelatihan di suatu tempat dalam waktu satu atau dua hari, melainkan terus mendampingi sampai setiap PAUD dampingan betul-betul menerapkan materi pelatihan, lengkap beserta kemampuan para gurunya mendidik murid-murid dengan metode yang telah dilatihkan. Juga evaluasi atas hasilnya dengan mengukur perubahan kemampuan para peserta didiknya. Plus mengukur kreativitasnya dalam kemampuan membuat APE dari barang-barang bekas.?

Pemerintah punya unit yang membidangi PAUD dan memiliki anggaran besar. Perlu didorong agar menjalankan kewajibannya melayani PAUD secara bagus dalam kualitas maupun kuantitasnya, tutur pengabdi PAUD selama 4 tahun ini.?

Sementara itu, Kasi Pendidikan non Formal Dinas Pendidikan Kabupaten Demak Sarwadi, M.Pd saat memberikan sambutan menyampaikan, pemerintah punya semangat dan jiwa yang sama dengan para guru PAUD dalam memberi layanan pendidikan terbaik untuk para putra putri bangsa. Ia katakan, masa depan negara tergantung pada masa depan generasi mudanya. Masa depan generasi mudanya tergantung pada hasil pendidikan di usia dini mereka. Maka satu satunya cara mempersiapkan generasi terbaik bangsa adalah membina PAUD yang sebagus bagusnya.?

Ia juga memberi penghargaan atas segala kebaikan para guru PAUD yang tulus mengabdi, ikhlas mendidik. Benar-benar wujud pahlawan tanpa tanda jasa.?

Ciri guru PAUD itu kreatif. Guru selain PAUD, bahkan dosen, tidak dituntut kreatif setinggi guru PAUD. Dan guru PAUD itu pasti orang-orang yang tulus, ikhlas mengabdikan ilmunya. Salut untuk Ibu-ibu semua, tuturnya kepada hadirin yang semuanya kaum ibu.?

Sarwadi yang humoris dan suka mengajak senyum menutup pidatonya dengan meneriakkan yel-yel semangat khas anak PAUD. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Sholawat, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat



“… Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita



Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, “Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur.” Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

Haedar Nashir

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata “mabrur” berasal dari kata “barra” yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata “birrun, al-birru” yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

Haedar Nashir

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istitha’ah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istitha’ah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. “Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT?” Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab “Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu”. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, “Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?”

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lil’alamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naïf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahu’alam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, “Urgensi Kajian Islam Nusantara” dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Ma’arif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, BandarlampungDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Minggu, 12 November 2017

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Dalam kitab Tarikh al-Tasyri al-Islami karya Syekh Muhammad Khudhari Bek diceritakan dialog antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Auzai:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?! ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Para Imam Mazhab soal Hadits

Sufyan bin Uyainah menceritakan bahwa pada suatu kesempatan Imam Al-Auza’i dan imam Abu Hanifah bertemu di Mekkah. Terjadilah dialog di antara ulama besar fiqih negeri Syam dan ulama besar fiqih negeri Kufah tersebut.

Haedar Nashir

Auzai bertanya: "Kenapa kalian tidak mengangkat tangan kalian ketika melakukan ruku’ dan bangun dari ruku’?”

Haedar Nashir

Abu Hanifah menjawab, “Ya, karena tidak ada Hadits yang shahih dari Rasulullah SAW atas masalah itu.”

“Bagaimana tidak shahih, sedangkan (Ibnu Syihab) Az-Zuhri telah menceritakan kepadaku, dari Salim (bin Abdullah bin Umar) dari bapaknya (Abdullah bin Umar) dari Rasulullah SAW bahwa beliau mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat, saat ruku’, dan saat bangun dari ruku’?” bantah Auza’i.

Abu Hanifah pun merespon, "Telah menceritakan kepada kami Hammad (bin Abi Sulaiman) dari Ibrahim (bin Yazid) dari Alqamah (bin Qais) dan Al-Aswad (bin Yazid) dari (Abdullah) Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat memulai shalat dan tidak melakukannya lagi setelah itu.”

Auza’i mencoba membantah argumentasi Abu Hanifah. “Aku menceritakan kepada anda Hadits dari Az-Zuhri dari Salim dari bapaknya. Sementara Anda menceritakan Hadits dari Hammad dari Ibrahim?”

[Kalau sebelumnya kedua imam besar ini sama-sama membacakan sanad Hadits, sampai di sini Auzai mulai mengajukan penilaian terhadap kualitas rawi]

Abu Hanifah menjawab: "Hammad lebih faqih daripada Az-Zuhri, Ibrahim lebih faqih dari Salim, dan Alqamah tidak lebih rendah dari Ibnu Umar. Kalaupun Ibnu Umar seorang sahabat atau unggul karena menjadi sahabat Nabi, toh Al-Aswad memiliki keutamaan yang besar. Sedangkan Abdullah (bin Mas’ud) sudah jelas, siapa Abdullah itu,” jawab Abu Hanifah.

Mendengar argumentasi Abu Hanifah tersebut, Al-Auza’i pun diam.

Ini artinya masing-masing imam telah menjelaskan argumentasinya, dan mereka kemudian diam dan saling menghormati perbedaan pendapat di antara mereka yang disebabkan perbedaan dalam menerima dan menilai kekuatan sanad suatu Hadits.

Imam Syafii juga senang berdialog. Bahkan beliau tuliskan dialog itu baik dalam kitab al-Umm dan lebih-lebih lagi dalam kitab al-Risalah.

Pada masa beliau terdapat pertentangan mengenai boleh tidaknya menerima Hadits Ahad, yaitu riwayat yang diterima dan disampaikan dari satu orang perawi. Imam Malik di Madinah lebih menerima amal ahli Madinah ketimbang Hadits Ahad dengan alasan penduduk Madinah lebih paham Hadits dan jumlahnya lebih banyak ketimbang riwayat satu orang. Imam Abu Hanifah dalam beberapa kasus malah mengeyampingkan Hadits Ahad jikalau bertentangan dengan qiyas yang beliau gunakan. Maka tampillah Imam Syafii membela status dan kedudukan Hadits Ahad. Upaya beliau inilah yang membuat para ulama menggelari Imam Syafii sebagai Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah Nabi).

Imam Syafii dalam juz dua kitab al-Risalah menuliskan bab khusus tentang Khabar Ahad. Bab ini dimulai dengan dialog sebagai berikut:

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ] ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ?:

?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Seseorang berkata kepadaku, "definisikan untukku teks yg paling sedikit hujjahnya tapi ia memiliki kekuatan mengikat bagi para ulama?"

Imam Syafii menjawab: "Itu adalah Khabar (Hadits) Ahad dari satu orang perawi ke satu perawi lainnya baik yang jalurnya sampai kembali ke Nabi atau terhenti pada selain beliau."

"Kehujjahan Khabar Ahad tidak terjadi melainkan memenuhi persyaratan seperti perawinya tsiqah dalam agamanya, terkenal jujur dalam ucapannya, paham dengan apa yang dia riwayatkan, mengerti dengan perbedaan redaksi atau lafaz. Dia jg bisa mengulangi teks Hadits huruf demi huruf seperti yang dia dengar, karena kalau disampaikan secara makna maka boleh jadi nanti dia tidak akan paham mana yang halal dan haram."

"Dia harus punya hafalan yang bagus baik menyampaikannya dari memori atau catatannya. Dan jika diambil dari catatanya maka itu harus cocok dengan hafalan Hadits yang disampaikan pihak lain. Dia tidak boleh mudallis yang meriwayatkan? dari orang yang dia temui tapi sebetulnya dia tidak mendengar Hadits darinya atau meriwayatkan dari Nabi yang kontradiksi dengan apa yang disampaikan orang yang tsiqah. Juga, semua perawi di atasnya bersambung? sampai ke Rasul atau berhenti pada orang lain. Soalnya masing-masing perawi akan saling menetapkan satu sama lain. Tidak ada yang melewati persyaratan yang aku sampaikan ini [barulah Hadits Ahad itu diterima sebagai hujjah]."

Dari dua kutipan dialog di atas, para Imam Mazhab sangat memahami Hadits Nabi. Jangan mengira mereka mengeluarkan pendapat tanpa dalil Al-Quran dan Hadits sehingga anak zaman sekarang berani-beraninya mengecam para Imam Mazhab dan lantas mengajak kembali kepada Al-Quran dan Hadits seolah-olah para Imam Mazhab itu telah meninggalkan Al-Quran dan Hadits. ?

Ibaratnya para Imam Mazhab itu adalah para petani yang sudah bersusah payah menanam padi, dan para ulama sesudahnya telah mengolahnya menjadi beras, dan kemudian para kiai kita sudah menanak nasi. Kemudian para ustadz mengolah nasi tersebut dan kita tinggal menikmati nasi yang terhidang sesuai pilihan kita baik nasi goreng, nasi uduk, sampai nasi kabuli. Eh, pas baru mau makan, ada yang teriak: "jangan tinggalkan beras, ayo kembalilah kepada beras!"



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Nasional Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Karanganyar, Haedar Nashir

Para pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar menggelar syukuran harlah ke-62 IPNU dan ke-61 IPPNU. Syukuran sederhana dengan doa bersama dan dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng simbolis di kantor PCNU Karanganyar Jl. Gatot Subroto Karanganyar, Ahad (28/2).

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Ketua IPNU Karanganyar Muhammad Ilham Subkhan mengungkapkan peringatan harlah merupakan upaya untuk mengingat perjuangan dan mendoakan para pendiri IPNU-IPPNU.

?

"Kami selenggarakan acara harlah ini dengan sederhana, yang terpenting esensinya tercapai, yaitu mendoakan para pendiri IPNU dan semangat juangnya," ungkap Ilham.

Ia juga berharap semoga harlah ini sebagai momentum kebangkitan pelajar NU di Karanganyar sehingga keberadaanya semakin diperhitungkan.

Haedar Nashir

Selanjutnya Ketua PCNU Karanganyar H Khuzaini Hasan dalam tausiyahnya meminta kepada pelajar NU untuk terus belajar, tapi belajar dengan guru yang jelas sanadnya.

"Putra-putriku yang ada di jajaran pengurus harus terus belajar, tapi belajar kepada guru yang jelas gurunya," jelas Khuzaini.

Haedar Nashir

"Kalau belajar tanpa guru atau guru yang tidak jelas, itu bisa berbahaya dan kita bisa tersesat," tambahnya.

Selain itu, ia berpesan kepada pengurus IPNU-IPPNU untuk berani menyuarakan paham Aswaja an-Nahdiyyah di daerah Karanganyar, karena sebagian dari masyarakat Karanganyar belum mengenal NU. (Ahmad Rosyidi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir