Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

Pekalongan, Haedar Nashir. Habib Luthfi bin Yahya menyarankan, uang yang masuk ke masjid jangan diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yang lain. 

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

"Sebaiknya uang masjid diatasnamakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid," jelas Habib Luthfi di majelis Jumat Kliwon yang berlangsung di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (5/1).

Dikatakan Habib Luthfi, melalui dana sosial yang terkumpul di masjid tersebut, dapat dibuat untuk mendirikan supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dengan singkong atau padi. 

"Hasil dari usaha itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jamaah masjid yang tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain," ujarnya.

Haedar Nashir

Habib Luthfi kurang setuju jika dana masjid menumpuk karena diatasnamakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada missionaris masuk dengan membawa mie instan, beras dan lain-lain, baru geger.

Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.

Selanjutnya Habib Luthfi mempersilahkan dana yang masuk ke masjid atau musholla dimanfaatkan untuk mendirikan lembaga keuangan mikro tanpa riba. 

"Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yang sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yang akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali," tandasnya.

menurut Habib Luthfi, biaya yang akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yang kekurangan, dengan tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja, jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan. (Abdul Muiz/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

Ini Miqat dalam Haji dan Umrah

Miqat merupakan bentuk isim zaman makan dari "auqata-yuqitu" yang memiliki arti menetapkan waktu. Miqat secara istilah dalam ibadah haji adalah tempat-waktu yang ditentukan untuk mulai mengerjakan ibadah haji.

Miqat terbagi atas dua, yakni miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani adalah batasan waktu yang digunakan untuk haji dan umrah. Sementara miqat zamani bagi orang yang berhaji adalah Syawwal, Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Ini Miqat dalam Haji dan Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Miqat dalam Haji dan Umrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Miqat dalam Haji dan Umrah

Jika seorang yang ingin berhaji tetapi ihramnya tidak dilakukan pada bulan-bulan tersebut, maka ibadahnya hanya bisa disebut umrah, bukan haji.

Haedar Nashir

Sedangkan miqat makani adalah tempat yang digunakan untuk pertama kali berihram.

Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan terkait miqat makani bagi siapa saja yang hendak melaksanakan haji atau umrah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan An-Nasa’i.

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA sesungguhnya Rasulullah SAW telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzulhulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Nejd di Qarn, penduduk Yaman di Yalamlam, begitu juga termasuk orang-orang yang ingin berhaji dan umrah yang berasal dari tempat lain tetapi melewati daerah-daerah tersebut (maka miqatnya sama dengan daerah yang dilewati).”

Dari hadits di atas kita dapat menyimpulkan bahwa tidak semua jamaah haji memiliki miqat yang sama. Syihabuddin bin Naqib As-Syafii dalam Umdatus Salik wa Iddatun Nasik menjelaskan beberapa ketentuan-ketentuan miqat.

Miqat bagi penduduk Madinah terletak di Dzulhulaifah. Sedangkan miqat bagi penduduk Syam (Palestina, Syiria, Yordan), Mesir serta Maroko adalah di Juhfah. Sementara miqat penduduk Yaman adalah Yalamlam sedangkan penduduk Nejd berada di Qarn.

Bagi penduduk Iraq dan Khurasan, miqatnya berada di Dzatu Irq, akan tetapi yang paling utama adalah di Aqiq. Bagi jamaah haji sedang berjalan menuju Mekah maka miqat hajinya berada di Mekah sedangkan miqat umrahnya adalah adnal hilli (daerah yang lebih dekat dengan Mekah), yaitu  Ji’ranah, Tan’im atau Hudaibiyah.

Bagi calon muhrim yang tempat tinggalnya di luar Mekah tetapi lebih dekat ke Mekah dari miqat yang telah disebutkan, maka miqatnya adalah tempatnya tersebut. Tetapi jika tempatnya lebih jauh dari pada miqat, maka yang lebih utama berihram di miqat.

Bagi penduduk Indonesia (sesuai buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag), miqatnya disesuaikan dengan gelombang. Bagi jamaah gelombang pertama, miqatnya dimulai dari Dzulhulaifah (Bir Ali).

Sedangkan bagi jamaah gelombang kedua, miqatnya ketika berada di atas pesawat udara pada garis sejajar dengan Qarnul Manazil atau di Airport King Abdul Azis Jeddah (sesuai dengan Keputusan Komisi Fatwa MUI, tanggal 28 Maret 1980 dan dikukuhkan kembali pada tanggal 19 September 1981 tentang Miqat Haji dan Umrah) atau Asrama Haji Embarkasi di Tanah Air.

Bagi jamaah yang melanggar miqat, yakni ihram melewati batas miqat dan ia tetap ingin berhaji, maka ia diwajibkan membayar dam. Tetapi jika ia kembali ke miqat kemudian berihram sebelum memakainya untuk ibadah, maka gugurlah kewajibannya membayar dam.

Hal ini juga disebutkan oleh Syihabuddin bin Naqib As-Syafii dalam Umdatus Salik wa Iddatun Nasik.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Barangsiapa yang melanggar miqat dan dia ingin berhaji kemudian berihram di selain miqat, maka dia diwajibkan membayar dam (sembelihan). Jika ia kembali lagi ke miqat dengan berihram sebelum terlanjur melakukan ibadah, maka gugurlah (kewajiban membayar) dam.” Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Sholawat, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 12 Januari 2018

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Puasa Ramadhan berakhir dengan masuknya 1 Syawal yang merupakan peringatan Idul Fitri, hari raya yang diperingati sangat meriah di Indonesia. Seluruh konsentrasi publik terfokus pada acara tersebut. Baju baru harus dibeli, rumah perlu ditata ulang atau dirapikan untuk menyambut tamu. Berbagai macam hidangan juga harus disiapkan. Tentu itu semua ada ongkosnya, beruntung ada tunjangan hari raya (THR) bagi karyawan. Pemerintah dengan segala daya upayanya berusaha agar perayaan tersebut berjalan dengan lancar, tanpa kurang satu apapun karena jika gagal akan menghadapi kritik pedas dari publik. Begitulah perhatian dari masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.?

Kini Lebaran yang jatuh pada 6 Juni 2016 telah berlalu. Yang mudik ke kampung halamannya sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Ada kebahagiaan bisa bertemu orang tua dan sanak famili, tapi rasa capek karena perjalanan jauh tampaknya belum juga hilang, ongkos yang melebihi anggaran juga menjadi perhatian, badan yang melar karena kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak juga menjadi ingatan, dan masih ada sejumlah persoalan lain yang belum terselesaikan. Belum sempat istirahat kembali, kini kita harus mempersiapkan diri untuk kembali menjalani rutinitas sebagaimana biasanya untuk sebelas bulan ke depan.?

Dalam prinsip manajemen waktu, rehat dari sebuah aktfitas sangat penting sebagai sarana untuk melakukan evaluasi. Rutinitas yang terus-menerus menyebabkan kita bisa kehilangan perspektif yang lebih besar sehingga kita rentan terjebak semakin dalam pada persoalan yang sama. Karena terjebak rutinitas, kita tidak menyadari bahwa dunia luar sudah berubah atau kita baru tersadar bahwa kita ternyata telah menghabiskan banyak waktu untuk aktifitas tersebut dengan tingkat produktifitas yang rendah, sementara usia sudah semakin menua, padahal setiap harinya sudah disibukkan dengan berbagai tenggat yang tak ada habisnya.

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Dari perspektif itu, Lebaran merupakan rehat nasional karena hampir semua orang keluar dari rutinitas yang tiada habisnya tersebut. Lebaran menjadi sarana untuk refleksi, sebagaimana peringatan tahun baru, Masehi atau Hijriah, 17 Agustus, dan lainnya.

Toh, dengan sedemikian banyak momen untuk berefleksi, kita tetap saja tidak banyak berubah. Berefleksi bahkan juga sudah menjadi sebuah rutinitas tersendiri. Resolusi yang kita bikin segera saja terlupakan seminggu atau dua minggu kemudian. Kita, sebagai sebuah bangsa memang melakukan perbaikan, tapi kecepatan perbaikan tersebut tidak terjadi sebagaimana bangsa lain berubah. Berbagai indeks dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional setiap tahunnya menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi medioker. Kita memang bukan yang terburuk, tetapi kita juga belum mampu menunjukkan prestasi gemilang di hadapan bangsa lain. Jika dilihat dari potensi yang kita miliki, seperti melimpahnya sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis yang strategis, dan banyak faktor pendukung lainnya, seharusnya kita bisa mencapai prestasi jauh lebih baik daripada yang kita capai saat ini. Kita memang pandai dalam membuat rencana, tetapi lemah dalam implementasi dan evaluasi. ?

Haedar Nashir

Agama mengajarkan, jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk golongan yang merugi, bahkan jika hari ini kita lebih dari kemarin, maka kita termasuk golongan yang celaka. Kebutuhan ? untuk berinovasi dan melakukan perbaikan-perbaikan dengan sungguh-sungguh semakin mendesak karena bangsa lain juga melakukan yang sama. Kalau tidak, kita akan menjadi pencundang. Dengan menyadari adanya keterdesakan bahwa orang lain, bangsa lain atau umat dari agama lain sudah bertindak lebih baik, hal ini akan memacu kita untuk bertindak lebih baik pula. Semoga pencapaian untuk setahun ke depan, kita jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Nahdlatul Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 02 Januari 2018

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, Haedar Nashir. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui Haedar Nashir di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Haedar Nashir

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul, Nasional Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi

Jepara, Haedar Nashir. Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan menggelar Pemilihan Umum ketua IPNU-IPPNU dan OSIS. Pemilu yang menjadi sarana pembelajaran berdemokrasi? ini diikuti seluruh elemen madrasah yang terdiri dari guru, karyawan dan siswa.

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi

Muhammad Arif Budiman, ketua kegiatan mengatakan sebelum pemilihan telah diadakan beberapa rangkaian kegiatan diantaranya adalah debat kandidat dan mimbar bebas.

“Sebelumnya panitia telah menggelar debat kandidat dan mimbar bebas sebagai sosialisasi visi dan misi kepada seluruh elemen MA Walisongo,” bebernya kepada Haedar Nashir, Senin (15/10).

Haedar Nashir

Budiman memaparkan, pemilihan umum ketua IPNU-IPPNU dan OSIS diikuti masing-masing 4 kandidat. Kandidat ketua IPNU yaitu M Habibullah (X A), Fakhurrois Hidayat (X B), Ahmad Auliya Asror (XI IPA) dan M Syihabuddin (XI IPS). Sedangkan IPPNU adalah Maftuhatun Nurul Millah (X A), Maisa Laili Safitri (X B), Nur Isti Uswatun Khasanah (XI IPA) dan Dini Indra Sari (XI IPS).

Untuk OSIS yaitu Mafaza Nur Aliyah (X A), Ahmad Slamet (XI IPS), Ni’matul Munafi’ah (X B) dan Nor Syarifudin (XI IPA).?

Haedar Nashir

“Dari nama-nama yang diajukan untuk menjadi calon ketua IPNU-IPPNU dan OSIS telah kami lakukan seleksi, baik secara administratif maupun wawancara sehingga hasilnya masing-masing organisasi diikuti oleh 4 kandidat terbaik untuk merebutkan satu kursi,” paparnya.

Pendidikan Kewargaan

Waka kesiswaan Muhlisin mengungkapkan, kegiatan bertujuan memberikan civic education (pendidikan kewargaan) kepada pemilih pemula. “Kegiatan ini untuk mempersiapkan pemilih pemula menghadapi pemilihan umum pada tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Muhlisin pemilihan juga berguna untuk mencetak pemilih yang aktif. “Pada pemilihan ini, seluruh siswa kami wajibkan untuk memilih agar pada pemilu-pemilu kedepan siswa akan aktif untuk mengikuti pesta demokrasi sehingga angka golput di negara ini bisa menurun,” imbuhnya.

Hal senada dilontarkan Rohmadi, kepala madrasah. Menurutnya siswa harus dibekali pendidikan kewargaan sejak di bangku sekolah. “Pendidikan Kewarganegaraan yang didapatkan di kelas harus diaplikasikan. Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU dan OSIS ini merupakan salah satu aplikasinya,” lontarnya.

Ia berharap kepada seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan dengan baik. “Siswa-siswi harus mengikuti pemilihan umum dari awal hingga akhir dengan baik sehingga pendidikan kewargaan akan tertanam benar pada diri peserta didik,” harapnya.

Salah satu pemilih, Siti Romdlo Zairotul Ula antusias mengikuti kegiatan tersebut. “Saya antusias mengikuti pemilihan umum ini, karena baru pertama kalinya di gelar secara langsung,” akunya.

Dari 202 pemilih, IPNU yaitu M Habibullah (48), Fakhurrois Hidayat (14), Ahmad Auliya Asror (94) dan M Syihabuddin (43) dan 3 suara batal. Untuk IPPNU yaitu Maftuhatun Nurul Millah (29), Maisa Laili Safitri (21), Nur Isti Uswatun Khasanah (62) dan Dini Indra Sari (86) dan batal 4 suara.?

Sedangkan OSIS hasilnya Mafaza Nur Aliyah (45), Ahmad Slamet (101), Ni’matul Munafi’ah (4), Nor Syarifudin (49) dan 3 dianggap batal.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Nahdlatul, Doa Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Kearifan Ulama Kunci Kemajuan Bangsa

Demak, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan berkiprah dalam menegakkan dan mendirikan bangsa Indonesia. Organisasi para kiai tersebut tak habis dibicarakan orang, mulai dari kronologi, apresiasi, peran sampai visi kejuangannya.

Dalam sejarahnya, NU berkiprah tak hanya lingkup Indonesia saja, melainkan di dunia internasional, sesuai dengan tujuan pendirian NU itu sendiri.

Kearifan Ulama Kunci Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kearifan Ulama Kunci Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kearifan Ulama Kunci Kemajuan Bangsa

Mustasyar NU Demak KH M Nurul Huda mengutip pendapat peneliti asal Timur Tengah Dr.Abdul Azis At Turisi yang mengatakan Indonesia mendatang akan menjadi pemimpin dunia karena keragaman dan kearifan para ulama Nahdlatul Ulama.

Haedar Nashir

“Beberapa puluh tahun yang lalu Dr.Abdul Azis sudah mengatakan Indonesia bakal menjadi pemimpin dunia terutama pemimpin bagi negara negara muslim, kok tidak Arab Saudi atau negara yang lain, itu alasannya apa….? Alasannya karena NU nya?” tutur kiai Pengasuh Pesantren At Taslim Demak tersebut.

Haedar Nashir

Ia menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara pada acara Refleksi Harlah NU ke 91 dan peringatan 100 hari wafatnya KH MA Sahal Mahfud di Aula Depan Pesantren Attaslim Krajaan Bintor Demak, Jumat (9/5) yang diselenggarakan MWC NU Demak.

Lebih lanjut KH Nurul Huda memaparkan, kearifan dan kealiman para ulama NU merupakan kunci utama yang diwariskan dari leluhurnya, yaitu Wali Songo. Para wali menyebarkan faham Aswaja di tengah tengah masyarakat melalui pesantren. Di antara ulama rujukan para pejuang NU dari segi ajaran yakni KH Mahfudz Atturmusi, KH Masum Lasem dan KH Hasyim Asy’ari.

“KH Mahfudz, Mbah Maksum serta Mbah Hasyim telah memberi pencerahan pada para alim yang telah menyebarkan Aswaja ke seluruh pelosok tanah air yang dulu sulit digoyahkan oleh para penjajah” imbuh cucu Mbah Maksum ini.

Sementara Rais Syuriyah NU Demak KH Alawy Mas’udi mengatakan, para ulama NU dalam memimpin umat menempatkan pesantren sebagai kawah condrodimuko ideologi agama. Pada saat yang sama para ulama menempatkan kebangsaan sebagai bagaian terpenting. Pandangan ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan lagi agar bangsa Indonesia tidak goyah pengaruh global.

“Diakui atau tidak namanya pesantren sebelum, dan saat penjajahan sampai saat ini merupakan benteng utama bangsa Indonesia. Ini bahkan diakui dunia luar kalau ingin menghancurkan Indonesia, maka hancurkan NU yang berbasis pesantren,” tegas KH Alawy.

Harlah NU yang diisi acara refleksi dengan tema “Meneguhkan Kembali Visi Perjuangan NU” tersebut diikuti pengurus MWC, Ranting NU se-Kecamatan Demak Kota, serta santri, Direktur RSI NU Demak dan masyarakat sekitar. (A.Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

Pamekasan, Haedar Nashir. Sekitar 70 kader Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menerangi Kota Pamekasan dengan seratus obor. Tak hanya itu, untuk menyambut tahun baru Hijriyah tersebut, mereka menabuh rebana pada Senin (4/11) malam.

Mahasiswa mahasiswi itu mulai bergerak dari Kantor PC PMII di Jalan Brawijaya. Kemudian beriringan menuju monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan. Mereka mengelilingi monumen itu sembari membuat lingkaran. Di sini, dilakukan orasi kebangsaan secara bergantian. Istighasah juga didengungkan guna mendoakan para pejuang Islam di gugur di Pamekasan.

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

“Arek Lancor ini, merupakan salah satu monument bersejarah. Di sinilah tak sedikit para pejuang Islam mati di medan laga melawan para penjajah,” ungkap Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Didik Ahmad.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, umat Islam selama ini cenderung memaknai hijrah sebatas pada tataran tekstual dan konseptual saja. Hijrah lebih dipahami sebagai fenomena historis yang muaranya pudar seiring perkembangan zaman.

“Kesesuaian dari uraian tersebut bisa dikait-hubungkan pada kebiasaan umat Islam ketika menyambut perubahan kalender Hijriyah yang lebih menitiktekankan pada "sambutan seremonial" daripada "sambutan substansial". Akibatnya, ruh dari fenomena hijrah kian tak terasa dalam kehidupan nyata,” terang Didik.

Haedar Nashir

Bila dicermati, katanya, hijrah memiliki visi reformatoris dalam konteks kehidupan sosio-kultural yang melampaui batas ruang dan waktu. Visi reformatoris tersebut terbukti dengan lahirnya Piagam Madinah yang jadi landasan kehidupan bersama masyarakat yang dipimpin Nabi Muhammad di Madinah. Piagam itu muncul sebagai bagian dari agenda besar fenomena hijrahnya Nabi beserta umatnya.

“Ada banyak mutiara hikmah yang bisa digali dari Piagam Madinah tersebut untuk kemudian dikontekstualisasikan ke dalam berbagai kehidupan di era saat ini. Di antara isi Piagam Madinah yang sangat menarik direnungkan di tengah kehidupan globalisasi ini adalah pertama, pentingnya memelihara kehidupan bersama, gotong royong dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapi,” ungkap Ketua KOPRI Pamekasan, Zahratun.

Mahasiswi akhir Universitas Islam Madura (UIM) melanjutkan, setiap warga berkewajiban untuk menjaga dan mempertahankan teritorial dan keamanan komunitas atau negaranya dari agresi negara lain yang berusaha untuk mencampuri dan atau menguasainya.

Ia melanjutkan, pentingnya sikap keterbukaan merupakan visi reformatoris yang ketiga. Dan yang keempat adalah kebebasan menganut suatu agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

“Visi reformatoris hijrah tadi tentu sangat penting untuk diapresiasi dalam segala zaman. Jauh sebelum negara-negara modern kini mendeklarasikan pentingnya kebebasan beragama, melalui Piagam Madinah, sejatinya Nabi telah menyemaikan satu pesan abadi terbentuknya pilar-pilar kehidupan masyarakat yang berperadaban (civil society),” tukas Zahroh, panggilan akrab Zahratun.

Dalam konteks tersebut, sela Sudarsono, aktivis PMII lainnya, visi reformatoris hijrah itu menjadi sangat penting untuk direnungkan serta dikontekstualisasikan dalam rangka menciptakan masyarakat yang berperadaban. Tentu saja, masyarakat berperadaban itu tercapai manakala visi reformatoris hijrah bisa diterjemahkan ke dalam berbagai sisi kehidupan: social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.

“Dalam arti kata, prinsip-prinsip hijrah tersebut mesti ditarik ke dalam universalitas kehidupan sehingga bisa mewarnai hingga masyarakat berperadaban yang dicitakan sebagai masyarakat ideal menjadi kenyataan,” tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Warta Haedar Nashir

Senin, 27 November 2017

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Pringsewu, Haedar Nashir. Saat mengisi Kegiatan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (14/5), Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani mengajak umat Islam memaksimalkan masjid khususnya di lingkungan NU untuk pengembangan dakwah dan amaliyah ibadah.

"Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting," tegasnya di hadapan jamaah dan Pengurus NU di Kabupaten Pringsewu yang memenuhi Aula gedung tersebut.

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Maksimalisasi Masjid sebagai tempat dakwah dan ibadah lanjut Kiai yang sebelumnya merupakan Ketua Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) ini dapat ditempuh dengan berbagai langkah nyata. Lebih lanjut Ia memaparkan tujuh Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid.

Strategi tersebut terangkum dalam doa yang sering diucapkan setiap waktu yaitu "Allahumma Inna Nasaluka Salamatan Fiddin, Waafiyatan Fil Jasad, Wazidatan Fil Ilmi, Wa Barakatan Fi Rizq, wa Taubatan Qablal Maut, Warahmatan Indal Maut, wa Maghfiratan Badal Maut.

Pertama, salamatan fiddin yaitu memaksimalkan masjid sebagai tempat gerakan, pemeliharaan aqidah ummat Islam  ahlus sunnah wal jamaah (aqidah, syariah, akhlak) sesuai dengan sunah Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama Salafussalihin.

Haedar Nashir

Hal ini dapat ditempuh dengan langkah nyata seperti Menegakkan shalat berjamaah dan mendata jamaah, Pengajian Al-Qur`an dan Aqidah Aswaja, Sertifikasi Masjid dan pendataan Masjid-Masjid NU.

Haedar Nashir

Kedua adalah Waafiyatan Fil Jasad yaitu memaksimalkan Masjid sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan ummat. Dalam hal ini takmir Masjid dapat menjalin kerjasama Lembaga Kesehatan dalam melayani kesehatan jamaah masjid, penyuluhan kesehatan dan penyuluhan  pola hidup sehat dan menyelenggarakan Gerakan kebersihan masjid serta lingkungan sekitar masjid. Selain itu perlu menghidupkan majlis dzikir, baik jamaah yasin, istighosah, sholawat dan sejenisnya.

Ketiga adalah Waziyadatan fil Ilmi yaitu menjadikan Masjid sebagai tempat gerakan peningkatan Sumber Daya Manusia Jamaah Masjid dan putra-putrinya di bidang keilmuan dan keterampilan. Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah seperti menyelenggarakan bimbingan belajar putra-putri jamaah masjid berbagai bidang keilmuan dan keterampilan sekaligus kaderisasi Remaja Masjid seperti : bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pelatihan MC, dan lain-lain.

Keempat adalah Wabarakatan Fi Rizq yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi ummat. Membuat LAZ, UPZ masjid, GISMAS (Gerakan Infaq Shadaqah memakmurkan Masjid), Membangun Kewirausahaan, Warmas (warung masjid) merupakan salah satu usaha real yang bisa ditempuh.

Kelima adalah Wataubatan Qablal Maut yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat Islam dan dakwah untuk non-muslim sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. 

Hal ini dapat ditempuh dengan Pelatihan dakwah, Penyebarluasan materi Islam melalui berbagai media, Menyediakan pengajian (massal atau privat) untuk orang-orang yang ingin mempelajari dan memperdalam Islam tetapi terkendala waktu dan kesibukan lainnya serta Menyusun materi dan metodologi dakwah sesuai dengan perkembangan.

Keenam adalah Warahmatan Indal Maut yaitu maksimalisasi Masjid Sebagai pusat gerakan kepedulian sosial seperti Menjenguk jamaah yang sakit, Mengantar jamaah sakit ke rumah sakit, Menolong orang-orang yang terkena bencana, Pelatihan pemulasaraan jenazah dan lain lain.

Dan yang terakhir adalah Wa Maghfiratan Badal Maut yaitu Masjid sebagai tempat berdoa untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat dengan bentuk kegiatan seperti Talqin Mayyit, mengadakan tahlilan dan yasinan, Ratiban, dibaan, barzanjian, Istighatsah serta Lailatul Ijtima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Hadits, Pendidikan Haedar Nashir

Minggu, 26 November 2017

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Jakarta, Haedar Nashir. Salah satu isu kesehatan yang disorot dalam Kongres XIV Fatayat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kamis hingga Senin (1-6/7), adalah soal rokok di kalangan anak.



Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 60 juta orang. Menurut data Kementerian Kesehatan, hampir 2 juta dari para perokok itu adalah anak Indonesia yang berusia 7-18 tahun dan merokok rata-rata dua batang setiap hari.

Berdasarkan fakta itu, Fatayat mendorong pemerintah mengambil kabijakan yang tegas untuk mengurangi perokok dengan membatasi iklan rokok dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok, terutama bagi anak-anak dan perempuan.

Haedar Nashir

Demikian disampaikan Ketua Panitia Muzaenah Zein dalam konferensi pers mengenai hasil Kongres XIV Fatayat di kantor PBNU, Jakarta, Senin (5/7) kemarin.

Secara khusus, Kongres Fatayat NU juga prihatin dengan maraknya kekerasan  terhadap anak dalam bentuk penculikan dan pemerkosaan di Indonesia yang kian hari kian massif. Padahal, anak sebagai investasi masa depan harus mendapatkan perlindungan dari negara.

Haedar Nashir

”Sebagaimana kita ketahui, kekerasan terhadap anak terus meningkat. Angka kekerasan terhadap anak meneapai 1.998 kasus pad a tahun 2009. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, sudah saatnya pemerintah meningkatkan penegakan hukum untuk melindungi generasi bangsa tersebut,” kata Muzaenah.

Menurutnya, Undang-Undang Perlindungan Anak sesunguhnya sudah cukup tegas memberikan sanksi terhadap pelaku kekerasan, namun di tingkat lapangan, penegakan hukum masih cukup lemah.

”Kongres Fatayat NU mendesak kepada aparat kepolisian untuk melakukan tindakan tegas, baik mengusut kasus-kasus penculikan maupaun melakukan upaya-upaya pencegahan,” tambahnya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Lomba, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 24 November 2017

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Jakarta, Haedar Nashir. Pemuda merupakan elemen penting yang menentukan berkembangnya sebuah negara. Maka dari itu dibentuklah UU No 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan yang disahkan oleh DPR 15 September 2009.



IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Lakukan Sosialisasi UU Kepemudaan

Untuk membantu mensosialisasikan UU ini Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) mengadakan diskusi publik dengan tema “Diseminasi UU Kepemudaan” yang diselenggarakan di gedung PBNU Jakarta, Selasa (23/2).

Hadir dalam diskusi publik ini, ketua PBNU Andi Jamaro Dulung dan Panca Putra, Asisten Deputi Keserasian Kebijakan Pemuda Menegpora.

Haedar Nashir

Acara ini merupakan bagian dari 10 rangkaian acara besar yang diadakan oleh IPNU dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke-58 yang dimulai pada 23 Januari sampai 23 April mendatang.

Haedar Nashir

“IPNU sangat setuju dengan adanya UU ini, maka kami mengadakan sosialisasi yang  juga merupakan bagian dari 10 rangkaian besar acara dalam rangka menyambut hari lahir PP IPNU ke 58 tepatnya besok tanggal 24 Februari,” kata Fathoni selaku ketua panitia kepada Haedar Nashir.

Keberadaan UU ini penting karena jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori pemuda cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk usia 16-30 berjumlah 62.985.401. Selain itu jumlah ormas pemuda juga cukup besar, yaitu mencapai 279 ribu organisasi.

Sejumlah negara juga telah memiliki UU Kepemudaan ini, seperti di Thailand (Thailand National Youth Promotion and Coordination Act), Philipina (Youth and Nation Building Act), Belanda (Law of Youth Care) dan lainnya.

Pengesahan UU ini telah menimbulkan respon dari berbagai pihak yang berkepentingan, khususnya ormas kepemudaan yang diatur dalam UU ini. Menurut Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi ada beberapa point yang menjadi diskusi dan isu hangat di kalangan pemuda terkait dengan UU ini. Selain mengenai batasan umur, pembentukan komite dan pendanaan isu lain adalah semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini.

“Semangat dan kontekstualisasi yang melandasi UU ini hendaknya adalah semangat ideal guna membangun pemuda dan bangsa ini,” katanya. (len)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 22 November 2017

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menyerahkan uang total Rp180.000.000 kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui NU Care-LAZISNU sebagai bentuk bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya dan pengungsi Gunung Agung, Bali.

Penyerahan bantuan diwakili oleh Sekretaris Jenderal bersama Bendahara Umum PB PMII Muhamad Risal kepada Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda di Lantai 2, Gedung PBNU, Selasa (3/10).

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Beri Bantuan Rp180 Juta untuk Rohingya dan Pengungsi Gunung Agung

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby, usai menyerahkan bantuan menyatakan, uang yang diserahkan kepada etnis Rohingya melalui NU Care-LAZISNU sebesar Rp125.000.000 dan Rp55.000.000 disalurkan untuk pengungsi Gunung Agung secara langsung.

Utusan PB PMII, Zeni Syargawi (Ketua Bidang Advokasi) dengan didampingi Azwardi Natta menyerahkan bantuan langsung senilai Rp55.000.000 untuk pengungsi Gunung Agung ke Dusun Karang Sidemen, Kabupaten Karang Asem, Bali di hari yang sama.

Sabolah menjelaskan, jumlah itu merupakan hasil penggalangan dana dari 25 cabang PMII se-Indonesia. Selain 25 cabang, masing-masing cabang se-Nusantara, juga melakukan aksi penggalangan dana. Menurutnya, mereka berinisiatif menyerahkan bantuan ke masing-masing PCNU sebagai langkah sinergi. 

Haedar Nashir

Harapannya dengan bantuan kemanusiaan itu, dapat meringankan beban serta kebutuhan etnis Rohingya yang saat ini banyak mengungsi ke Bangladesh. 

Aksi penggalangan dana serentak di seluruh Indonesia itu, tambah Sabolah, merupakan wujud komitmen PMII dalam melawan aksi kekerasan terhadap etnis Rohingya.

“Ini aksi kemanusiaan kita lakukan di seluruh cabang di Indonesia, kita serahkan ke NU Care supaya segera didistribusikan kepada masyarakat Rohingya yang mengalami aksi kekerasan, aksi ini juga wujud komitmen kami melawan aksi kejahatan manusia dalam bentuk apapun,” tukas Sabolah.

Sementara itu, Ketua Umum PB PMII Agus M. Herlambang mengungkapkan apresiasinya atas kontribusi 25 cabang untuk aksi penggalangan dana. Tak hanya itu, Ia juga sangat bangga kepada seluruh kader di Indonesia yang telah bersusah payah melaksanakan aksi penggalangan di kampus-kampus, perempatan jalan dan di berbagai tempat lainnya. 

Haedar Nashir

Agus berharap, seluruh kader PMII di Indonesia tidak hanya melakukan aksi penggalangan dana, tetapi juga menjadikan gerakan  itu sebagai momentum perlawanan terhadap aksi kekerasan dalam bentuk apapun. 

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada sahabat-sahabat se-Nusantara karena telah melakukan gerakan kemanusiaan. Semoga menjadi momentum dan komitmen seluruh kader untuk melawan aksi kejahatan kemanusiaan,” pungkas Agus.

Syamsul Huda, Ketua NU Care-LAZISNU menerima silaturahmi PB PMII dan berterimakasih atas kerja sama sahabat-sahabat PMII.

“Terimakasih sahabat-sahabat PMII atas kepercayaannya kepada NU Care-LAZISNU. Donasi akan disalurkan langsung oleh teman-teman LPBI NU yang memang fokus atas peristiwa di sana,” ucap Syamsul.

Syamsul juga menuturkan bahwa sinergi antara PMII dan NU Care – LAZISNU harus terus berjalan untuk kemajuan bersama. “Kita sama-sama menata langkah. Bersinergi secara simultan, terencana, dan massif,” tuturnya.

Pengumpulan dana berasal dari cabang-cabang yaitu Lampung Utara, Pinrang, Kota Makasar, Pare-pare, Kabupaten Buol, Lombok Tengah, Palangkaraya, Lumajang, Kabuapten Seram Bagian Timur, Bulungan, Batanghari, Dompu, Manado, Kota Serang, Kabupaten Sumbawa Barat, Sumbawa, Seruyan, Lubuklinggau, Sampit, Kota Sorong, Martapura, Lombok Timur, Kabupaten Takalar, Pamekasan, dan Kabupaten Pati. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi

Jakarta, Haedar Nashir. Rais Syuriyah KH Masdar Farid Mas‘udi mengungkap, ada makna mendalam dalam surat al-Quraisy, terutama dua penggal ayat terakhir. Di situ masyarakat Quraisy diperintahkan untuk menyembah Tuhan Pemilik Ka‘bah (Allah), kemudian diikuti dengan dua sifat yang menjadi ayat berikutnya.

Pertama, “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”; dan kedua, “Yang mengamankan mereka dari ketakutan.” Menurut Kiai Masdar, hal ini menunjukkan betapa memenuhi kebutuhan ekonomi dan memberi jaminan rasa aman menjadi hal utama.

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Dua Hal yang Membuat Organisasi Dijunjung Tinggi

“Karena dua alasan itulah (dalam ayat itu) Allah disembah,” katanya pada forum peluncuran buku berjudul "Ansor dan Tantangan Kebangsaan: Sebuah Refleksi Demografi Politik Dari Social Capital? Menuju Human Capital" karya Wasekjen Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat? Gerakan Pemuda Ansor? Rizqon Halal Syah, Kamis (29/10) siang, di hall room hotel Acacia, Jakarta.

Haedar Nashir

Di hadapan para kader GP Ansor, Kiai Masdar menegaskan bahwa ayat tersebut juga menjadi inspirasi bahwa organisasi ketika mempunyai perhatian pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan sikap mengayomi akan dihormati dan dijunjung tinggi.

Haedar Nashir

Dalam pandangannya, dua tugas tersebut juga menjadi jawaban bagi munculnya bonus demografi di Indonesia ke depan. Bonus demografi, katanya, harus diiringi dengan peningkatan kualitas.

Kiai asal Purwokerto ini mengatakan, Indonesia terdiri dari agama yang sangat beragam. Bahkan agama-agama yang tidak ada di belahan dunia lain, ada di Indonesia. Dalam pluralitas semacam ini dibutuhkan organisasi seperti GP Ansor yang mampu memberi jaminan rasa aman bagi masyarakat luas. Apalagi, jumlah kelompok intoleran semakin lama kian bertambah di Tanah Air.

Hadir pula dalam kesempatan itu Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf, Prof Dr Ahmad Mubarok? dari Mubarok Center, Prof. Dr Prijono Tjiptoherijanto (guru besar ekonomi UI), Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, mantan kepala umum staf TNI Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo, para akademisi, dan ratusan kader Ansor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Nahdlatul, AlaNu Haedar Nashir

Jumat, 17 November 2017

Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya

Jakarta, Haedar Nashir



H Slamet Effendi Yusuf, salah seorang yang menyatakan diri siap menjadi calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rabu (14/10) sore mengunjungi ruang redaksi Haedar Nashir, lantai 5 gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.



Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya

Slamet yang ditemui Pemimpin Redaksi Haedar Nashir Abdul Mun’im DZ dan Wakil Pemimpin Redaksi Haedar Nashir Suadi D. Pranoto menyampaikan keinginnya sebagai calon ketua umum PBNU.

Slamet yang juga pentolan Partai Golkar menampik kesan sementara kalangan NU bahwa dirinya ingin melompat dari dunia politik ke dalam kepengurusan PBNU.

Haedar Nashir

Ia menyatakan, dirinya bukan orang baru di lingkungan NU. Ia pernah aktif di IPNU, sempat memimpin GP Ansor, dan pada saat kepemimpinan Gus Dur, Slamet pernah menjabat sebagai salah satu pengurus di PBNU. Ia bahkan masuk dalam tim sembilan penyiapan kembalinya NU ke Khittahpada 1980-an.

Haedar Nashir

“Saya mencalonkan diri ini juga bukan karena tidak punya kerjaan lagi. Yang saya terima sekarang ini sudah cukup. Saya menolak ditawari sebagai duta besar. Saya merasa memimpin NU ini sebuah tantangan. Menurut saya setelah era Gus Dur, NU perlu ada sebuah lompatan,” katanya menunjuk pada dirinya yang menyatakan sanggup melakukan lompata itu.

Dalam kesempatan itu Slamet menyampaikan, Ketua Umum PBNU KH Muzadi berjasa besar dalam memimpin NU terutama dalam membawa NU ke kancah internasional dan mengaktifkan media informasi NU.

Tak lama berselang calon ketua umum PBNU lainnya KH Masdar Farid Mas’udi juga berkunjung ke redaksi Haedar Nashir. Dua calon ini berbincang dan berfoto bersama kru redaksi Haedar Nashir. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Humor Islam, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab

Rembang, Haedar Nashir - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan keinginannya Lasem menjadi salah satu tempat destinasi wisata di Jawa Tengah. Menurutnya, desain kawasan Lasem, berikut semua unsur di dalamnya seperti pesantren, pecinan, Arab harus ditata dengan baik, sehingga maupun pengunjung bisa nyaman.

"Kepada Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang akan dilantik, segera undang pakar untuk mendesain ini, bagaimana penataan kawasan Lasem,” tuturnya saat menghadiri acara perayaan Imlek 2567 di Klenteng Poo An Bio Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang, Ahad (7/2) malam.

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ganjar Ingin Desain Lasem dengan Ciri Pesantren, Pecinan dan Arab

Ganjar menambahkan, kunci pertama terwujudnya suasana nyaman adalah kebersihan. Dan kepada masyarakat Lasem, Gubernur mengajak minimal seminggu sekali bisa bergotong royong untuk membersihkan lingkungan.

Selanjutnya seluruh produk unggulan harus dioptimalkan untuk mendukung suksesi destinasi pariwisata. Pemerintah akan mendukung untuk infrastruktur dan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Haedar Nashir

"Berbagai potensi wisata mulai kuliner, kerajinan seperti batik dan sejarahnya harus dioptimalkan," jelasnya.

Haedar Nashir

Bahkan mantan anggota DPR RI itu meminta jika bersih-bersih Lasem bisa terlaksana tidak lupa untuk memotret dan membaginya di Twitter dengan menyebut akun twiter Ganjar Pranowo. Tujuannya agar dunia tahu bahwa ada gerakan masyarakat untuk mewujudkan Lasem sebagai kota bersejarah.

Dalam perayaan Imlek di Lasem, berbagai pertunjukan dihadirkan untuk menghibur masyarakat. Mulai dari pertunjukkan Barongsai, pertunjukan lintas etnik itu menghadirkan cerita kepahlawanan seorang pribumi bernama Raden Panji Margono dan dua orang etnik tionghoa bernama Oei Ing Kiat dan Tan Kee Wie saat melawan VOC pada tahun 1740-an hingga pesta kembang api.

Acara ini semakin lengkap setelah tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, para pejabat kabupaten Rembang juga berkesempatan hadir. Pj Bupati Rembang Suko Mardiono, Kapolres Rembang AKBP Winarto, Dandim Kodim 0720 Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady, anggota DPR RI Imam Soeroso dan Bupati terpilih Abdul Hafidz dan Wakil Bupati terpilih Bayu Andriyanto juga terlihat hadir secara pribadi. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 31 Oktober 2017

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat bersabar agar densus bisa membuktikan bahwa Siyono memang benar-benar teroris.?

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

“Terorisme adalah musuh negara, siapapun orangnya. Densus 88 perangkat negara. NU, Muhammadaiyah merupakan kekuatas sipil yang di luar wilayah negara. Oleh karena itu, dalam kasus Siyono, berikan kesempatan kepada Densus. Buktikan itu teroris. Kalau itu terbukti, maka NU berada di belakang negara,” katanya di gedung PBNU, Kamis.?

Kiai Said mengakui, idealnya siapapun yang melanggar hukum, ditangkap hidup-hidup dan kemudian diadili. Maka yang memutuskan kemudian adalah pengadilan.?

“Tapi kadang sering terjadi dalam keadaan darurat, Densus sendiri juga manusia biasa, maka terjadi seperti ini,” paparnya.?

Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3) yang merupakan pengembangan dari tersangka T alias W.

Haedar Nashir

Ketika diminta menunjukkan senjata api yang sudah diserahkan kepada orang lain, ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah dan orang yang dimaksud.?

Haedar Nashir

Akhirnya, setelah pencarian gagal, mereka balik lagi dan di dalam mobil, terjadi perkelahian. Siyono akhirnya dapat dikendalikan disertai dengan kelelahan dan lemas.?

"Ternyata nyawa tersangka tidak dapat ditolong dan meninggal dunia di rumah sakit. Selanjutnya jenazah dibawa ke Rs Polri Kramatjati, Jakarta," ucap Agus seperti dikutip dari detik.com. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 22 Oktober 2017

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa

Oleh? Ahmad Riyadi

Kabar buruk menggumpal di langit kampus ketika segerombolan mahasiswa secara terang-terangan menolak nilai-nilai pluralitas, demokrasi, serta tak luput dari bidikan mereka untuk mendirikan negara khilafah. Entah dari mana pikiran sempit itu muncul, yang jelas, fanatisme agama—baik dalam lingkup kecil seperti kampus atau masyarakat secara luas—merupakan tantangan besar bagi kita dalam berbangsa dan bernegara.

Siapa pula dapat mengira, bahwa kampus yang oleh Plato dikatakan sebagai propopuli discimus (kita belajar untuk rakyat) ternyata menjadi tanah lapang bibit-bibit fanatisme tumbuh. Bahwa kampus yang konon mempunyai fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, pengabdian—jauh dari harapan ideal dan kenyataan.?

Tetapi berbicara fanatisme seperti kasus di atas, tidak cukup menyandarkan segala macam persoalan dan solusi kepada pihak yang secara struktural terikat dengan kampus. Kampus tidak berdiri sendiri; ada masyarakat, keluarga, ormas dan keagamaan sampai organisasi kemahasiswaan ekstra yang turut serta berada di dalam lingkaran itu dengan kapasitas kepentingan yang beragam.

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Intelektual dan Arogansi Gerakan Mahasiswa

Lantas bagaimana peran pihak-pihak tersebut bertanggung jawab menjaga keutuhan Indonesia dari bahaya fanatisme agama, dalam lingkup paling kecil sekalipun seperti kampus?

Intelektual anti-Intelektualitas

Ada dua pengertian tentang kaum intelektual. Pertama adalah pengertian Bendaian tentang kaum intelektual yang harus menjaga jarak dengan kekuasaan. Kedua yaitu, kaum intelektual harus melakukan keberpihakan terhadap kelompok tertentu sebagaimana termaktub dalam pengertian Gramscian.?

Haedar Nashir

Tetapi, diartikan bagaimanapun kaum intelektual, publik mengamini bahwa kaum intelektual harus berpihak pada kejujuran dan kebenaran di tengah perubahan dan tantangan sosial. Kiranya itu yang di lakukan Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Mbah Hasyim, Mahbub Djunaidi sampai Cak Nur dan Gus Dur sebagai kaum intelektual. Mereka adalah kaum intelektulal yang mendedikasikan ide, gagasan, bahkan hidupnya kepada kelompok-kelompok minoritas yang mengalami ketertindasan oleh kekuasaan, menjunjung keadilan dan nilai-nilai universalitas kemanusian.?

Di tengah ancaman fanatisme agama yang dewasa ini muncul; penolakan terhadap nilai-nilai universalitas kemanusiaan jelas menunjukkan semakin menggejalanya tindakan intoleransi yang mememecah belah bangsa. Kaum intelektual (baca: kader) organisasi kemahasiswaan, harus menunjukkan keberpihakannya; menjaga kesatuan Indonesia dari bahaya fanatisme agama untuk menjaga keutuhan bangsa dan kebhinekaan.

Kendati persoalan itu sudah tampak di kelopak mata beserta bahayanya, tak banyak perhatian yang diberikan oleh organisasi kemahasiswaan. Meminjam bahasa Martin Suryajaya (2016), mereka kaum intelektual yang penerapan fungsinya mengarah kepada kemubaziran sosial. Suatu keadaan yang mencemaskan ini ditandai dengan arogansi mahasiswa untuk melakukan gerakan-gerakan non-politis dan non-profit secara ekonomi, tapi dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat.?

Berbasis realitas

Haedar Nashir

Fanatisme muncul akibat pengklaiman ? kepercayaan paling baik kelompok tertentu ketimbang kelompok lainnya sebagaimana tertera dalam buku Kala Agama Jadi Bencana (Charles Kimball, 2013). Budi Gunawan dalam artikelnya berjudul Horor Fanatisme, mengatakan bahwa gagasan besar yang tertindas dalam kultur modern adalah Tuhan. Ia menilai, dalam kultur modern fanatisme agama kian tak terbendung, bahkan dengan wajah teror dan pembunuhan. Parahnya, mereka yang melakukan adalah yang mengaku lebih dekat dengan Tuhan (Koloni Keadilan, 2006).

Dalam masyarakat kita sekarang ini, apa yang dikatakan Kimball maupun Budi Gunawan nyatanya menemukan relevansinya. Kaum agamawan nyaris lupa menghadirkan agama yang manusiawi. Pluralitas masyarakat dari aspek budaya, agama, dan ideologi diindahkan karena klaim berlebihan terhadap kebenaran kelompoknya sendiri. Dampaknya, memandang kelompok lain yang berbeda, adalah "najis" sehingga harus dimusnahkan.?

Gerakan anti universalitas kemanusiaan perlu mendapatkan perhatian dari gerakan mahasiswa. Perlawanan gerakan terhadap pemakzulan nilai-nilai universalitas sangat memungkinkan jika gerakan mahasiswa kembali ke tengah-tengah kesulitan dan problem masyarakat. Mereka hadir dengan seperangkat dan kadar intelektual untuk mewacanakan agama dan Tuhan dengan spirit humanis.

Karena bagaimanapun, keutuhan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran agama, baik secara nilai maupun gerakan. Jangan sampai, fakta ini dinodai dengan munculnya gerakan-gerakan fanatisme yang justru membawa agama pada keburukan. Dan itulah tugas gerakan mahasiswa hari ini, mewacanakan agama yang humanis sebagai counter gerakan fanatisme agama.?

Penulis adalah? Anggota Biro Penelitian dan Pengembangan Cabang PMII DIY, dan Peneliti Sosial di Laboratorium Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Humor Islam, Kyai Haedar Nashir

Sabtu, 21 Oktober 2017

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Buku ini merupakan hasil tesis penulis yang kemudian digubah menjadi buku populer sehingga setiap pembaca mampu mencerna dengan renyah. Selain itu, penulis buku ini menjadi aktifis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dimana Gus Dur menjadi bagian dari pendiri lembaga ini. Lembaga yang lahir pada 12 Juli 2000 ini berusaha menyebarkan tradisi dialog dalam pengembangan kehidupan keberagamaan yang humanis dan pluralis di tanah air. Selain itu, misi ICRP ingin mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, berkeadilan, setara, persaudaraan dalam pluralisme agama dan kepercayaan, dan penghormatan kepada martabat manusia.

Pendidikan menjadi jembatan penting menuju hal yang ingin kita capai. Dengan perdamaian yang berorientasi pada pengurangan konflik dan mencegah terjadinya kekerasan. Maka, kita tak bisa lepas dari kurikulum pendidikan mencakup subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno-kultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan pemahaman atas kemajemukan (pluralitas), kemanusia universal dan subjek-subjek lain yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Abdurrahman Ad-Dakhil sebagai santri genuine mengawali pendidikan dasarnya di pesantren. Berbagai literaratur baik Islam hingga Barat menjadi konsumsinya sejak usia muda. Dengan bacaan yang kuat inilah Gus Dur mampu mengaktualisasikan keilmuan menjadi tindakan kongkret. Sepanjang perjalanan hidupnya, Gus Dur kemudian dikenal sebagai pembela kaum minoritas, penggerak demokrasi, mendorong terwujudnya kehidupan nirkekerasan. (hal. 138)

Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Perdamaian pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Perdamaian pada Gus Dur

Tak hanya berhenti pada tataran konsep belaka banyak gerakan yang telah dikerjakan beliau, mulai pembelaan terhadap Jemaah Ahmadiyah, kelompok yang dituduh komunis, kasus tabloid Monitor, peristiwa Banyuwangi dan pembunuhan di Jawa Timur tahun 1998, persoalan etnis Tionghoa dan teorisme (hal 193-206) Pembelaan dan gerakan ini tak lepas dari orientasi kemanusiaan, kebersamaan, kesejahteraan, nilai proporsionalitas, pengakuan terhadap pluralitas dan heterogenitas dan antihegemoni dan antidominasi.

Gus Dur memahami bahwa pendidikan Islam tak bisa diejawantahkan dengan baik tanpa menggunakan strategi yang baik. Strategi politik menjadi jalan pertama yang ditempuh. Kedua, strategi kultural; yang menekankan pada basis pesantren sebagai lembaga, satuan, sistem, dan struktur pendidikan yang bisa menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Ketiga, strategi sosio-kultural dengan cara mengembangkan cara berfikir masyarakat dengan mempertahankan nilai-nilai keislaman.

Dalam karangan langsung Gus Dur "Islamku, Islam Anda dan Islam Kita" (2005) secara panjang lebar menerangkan tentang Islam perdamaian dan permasalahan internasional. Walaupun Gus Dur memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan dengan kuat beliau mampu memberikan analisis yang kuat mengenai peta perpolitikan dunia internasional. Memberikan pandangan dan alternatif untuk perang Irak, memberikan jalan kerjasama antara Indonesia-Muangthai, memberikan pendapat di forum internasional dan kontribusi lain untuk perdamaian.

Haedar Nashir

Perdamaian menurut Gus Dur bisa diciptakan dan dihapuskan dengan jalan penanganan secara tuntas persoalan utama berupa kesalah pahaman dasar antara ideologi negara dan aspirasi keagamaan. Bila hal pokok ini mampu terselesaikan niscaya para pemegang kekuasaan bisa mengejawantahkan dalam bentuk paket kebijakan prinsipil. Harapan inilah yang disampaikan dalam "Islam Kosmopolitan" (2007) sehingga pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah memahami hal prinsip yang perlu dipegangi dalam menjalankan sebuah kebijakan.

Melihat perdamaian tak bisa dilepaskan dari latar belakang presiden keempat ini beragama Islam. Islam berakar kata dari salam yang berarti perdamaian. Maka Islam adalah perdamaian itu sendiri. Dengan kesadaran penuh Gus Dur mampu mengejawantahkan makna Islam menjadi perdamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin lebih detil menyimak kehidupan cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini dari kecil sudah mengenal pluralitas bahkan, Gus Dur mengakui bahwa leluhurnya juga memiliki latar belakang yang beragam.

Dengan kesantrian yang mendarah daging dan referensi keilmuan kitab kuning menjadi pijakan dalam menentukan arah pembicaaan Gus Dur. Permasalahan yang menimpanya mampu diurai dan dicarikan solusi dengan berbagai macam variannya. Kemudian diaktualisasikan dalam implementasikan dalam gerakan sosial, politik dan kemasyarakatan.

Dalam menulis Gus Dur walaupun tak menggunakan footnote sebagaimana kajian ilmiah. Tulisannya menunjukkan kelas seorang yang berpengetahuan luas, banyak tokoh Islam atau non-muslim yang menjadi pijakannya dalam berargumentasi. Hal ini juga dikuatkan bahwa Gus Dur memiliki sederet gelar honouris causa dalam bidang bidang Filsafat Hukum, Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora, kemanusiaan dari berbagai universitas dunia.

Putra menteri agama pertama ini layak menjadi guru bangsa yang baik. Bila kita melihat Gus Dur secara utuh kita bisa mengambil pelajaran yang bisa kita kloning bagi masa-masa kita. Setidaknya terdapat tiga karakter kuat yang tak lepas dari Gus Dur. Pertama, gerakan sosial. Kedua, nilai-nilai luhur yang bisa menerobos apapun sebab nilai ini telah menjadi norma. Ketiga, Gus Dur sebagai seorang aktivis; dia memiliki target dan tujuan yang harus tercapai dalam tiap langkah dan geraknya.

Haedar Nashir

Guru bangsa yang meninggal 30 Desember 2009 selalu memberikan kejutan dalam tingkah lakunya. Berbagai golongan membuat acara doa bersama untuk mengenang jasa dan pemikirannya. Begitu pula buku ini memberikan tambahan kekayaan referensi mengenai perdamaian. Perdamaian itu sendiri bukan sekadar menumpuk sebagai ilmu di universitas namun, menjadi ilmu aplikasi yang terus berkembang dan dikembangkan untuk meminimalkan konflik yang ada Indonesia. Semoga.





Info Buku

Judul : Peace Education dan Pendidikan Perdamaian Gus Dur

Penulis : Ahmad Nurcholish

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2015

Tebal : 236 halaman dan xxviii





Peresensi

Mukhamad Zulfa

Pegiat Diskusi Rabu Sore IDEASTUDIES Semarang aktif di jaringan pesantren Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tegal, Habib Haedar Nashir

Selasa, 17 Oktober 2017

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menggelar Workshop Finalisasi Penyusunan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (12/10).

Dalam sambutannya, penanggung jawab acara Wakil Sekretaris Jenderal Sultonul Huda mengatakan, kegiatan workshop ini merupakan bagian kerja sama PBNU dengan Kemenko PMK.

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siapkan Modul Gerakan Revolusi Mental Bagi Pemimpin Agama

Ia mengatakan, buku modul yang ada merupakan berbeda dengan buku modul pada umumnya karena banyak menggunakan perspektif keislaman.

“Kita semua paham, ketika kita bicara revolusi mental berarti kita bicara karakter bangsa, otomatis. Karena kita orang timur, keberadaan agama itu sangat substansial untuk memberikan pengaruh kepada pendidikan karakter yang ada di kita ini,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmansyah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan revolusi mental yang harus disosialiskan ke semua kalangan.

Haedar Nashir

 “Salah satu bentuk kegiatannya ini adalah mensosialisasikan gerakan revolusi mental khususnya untuk di lingkungan keagamaan,” kata Aris.

Ia mengatakan, Kemenko PMK akan melakukan sosialisasi ke semua kalangan khususnya dengan PBNU. Terkait kerja sama dengan PBNU, ia mengaku senang bisa bekerja sama, karena kegiatan revolusi mental ini bisa diharapkan lebih menasional lagi mengingat jumlah warga NU yang banyak.

“Jadi ke seluruh kalangan, khususnya di PBNU dengan warganya, jamaahnya di PBNU,” katanya.

Haedar Nashir

Tampak hadir pada acara tersebut, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman dan Wakil Sekjen H Masduki Baedlowi. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

Kamis, 05 Oktober 2017

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Jakarta, Haedar Nashir. Aksi terorisme di Indonesia dengan jumlah korban meninggal sangat besar marak terjadi pada awal 2000-an, salah satu yang menjadi sasaran adalah kedutaan Australia di kawasan Kuningan Jakarta.

Pagi itu, pada hari terjadinya pengeboman, aktifitas Jakarta berjalan sebagaimana biasanya, panas, macet dan kesibukan jutaan manusia di dalamnya. Tak ada yang menduga ada peristiwa mengerikan bakal segera terjadi. 

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Gus Dur berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta, sedang menunggu boarding menuju Yogyakarta bersama Imam Mudakkir, salah seorang teman lamanya. Asyiklah mereka berdua mengobrol di ruang tunggu. Ditengah-tengah obrolan itu, Gus Dur tiba-tiba terdiam, lalu berujar.

Haedar Nashir

“Kang, kayaknya ini mau ada peristiwa luar biasa”

“Apa itu Gus,” kata Imam dengan mimik penasaran.

“Ya, ngak tahu, namanya juga isyaroh,”

Haedar Nashir

“Apa ya?” lanjut Imam penuh tanya.

“Kita tunggu saja,” kata Gus Dur menutup pembicaraan tentang hal itu dan melanjutkan obrolan sebelumnya yang disela.

Lalu, terbanglah mereka berdua menuju kota budaya ini. Sesuai dengan aturan penerbangan, seluruh alat komunikasi berupa HP harus dimatikan selama penerbangan. Pertanyaan tentang kejadian besar hanya disimpan dalam hati.

Akhirnya setelah melewati perjalanan selama sekitar 1 jam, sampailah mereka di Yogyakarta dengan selamat.

Begitu turun dari pesawat, mereka segera menyalahan HP. Manusia zaman modern tampaknya sudah tak bisa lepas dari HP sehingga dalam keadaan apapun, berusaha terhubung dengan yang lain.

Benar saja, baru saja dihidupkan, HP Imam berdering, dilihat nomor penelepon ternyata dari istrinya di Jakarta. Segera saja dijawabnya panggilan tersebut. Ia mendengar suara istrinya dengan nada panik dari saluran seberang.

“Pak, ini kedutaan Australia baru saja di bom. Kaca-kaca rumah kita di lantari 2 pada pecah semua,”

“Bagaimana, apa semua yang ada di rumah selamat?” ujar Imam terkejut. Rumahnya memang berada di lokasi tak jauh di belakang kedutaan Australia.

“Alhamdulillah, yang di rumah tidak ada yang terluka, tapi ngak tahu yang di lokasi kejadian,”

Imam pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Gus Dur. Ia disarankan untuk segera pulang.

“Sudah, kamu pulang saja, dengan penerbangan tercepat, urus keluarga di rumah. Saya biar melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana semula,“ kata Gus Dur.

“Ya, makasih Gus“

Akhirnya mereka berpisah, Gus Dur pergi bersama penjemput yang sudah menunggu sedangkan Imam menuju counter penjualan tiket menuju Jakarta.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaSantri, Nahdlatul Haedar Nashir

Kamis, 07 September 2017

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC

Jember, Haedar Nashir

Mempertahankan prestasi lebih berat daripada meraihnya. Kalimat bijak ini setidaknya dialami oleh Nuris United FC saat bentrok dengan Al-Mubarok FC dalam laga semifinal Liga Santri Nasional (LSN) Region V Jawa Timur di lapangan Pondok Pesantren Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi, Ahad (4/9).

Baca: Juara Liga Santri Nusantara 2015 Berjaya di Malaysia

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Juara Bertahan Tumbang di Tangan Al-Mubarok FC



Dalam pertandingan yang disaksikan lebih dari 1000 santri itu, Nuris United FC akhirnya harus mengubur impiannya untuk mengangkat tropi yang kedua kalinya setelah dibekap Al-Mubarok FC melalui drama adu tendangan penalti dengan skor 4-3.

Haedar Nashir

Pertandingan di babak pertama berlangsung sengit. Al-Mubarok FC yang sebelumnya tampil biasa-biasa saja, tenyata di luar dugaan mampu mengimbangi permainan cepat Nuris United FC. Bahkan pemain belakang Nuris United FC nyaris membikin gol bunuh diri. Permainan pun menjurus kasar. Dua kartu kuning dikeluarkan wasit untuk pemain Al-Mubarok FC, dan satu kartu kuning diberikan kepada pemain Nuris United FC. Babak pertama berkesudahan dengan skor kacamata (0-0).

Memasuki babak kedua, tensi permainan menjurus kasar terus meningkat. Wasit terpaksa mencabut kartu merah untuk pemain Al-Mubarok FC karena dia sudah dua kali kena kartu kuning. Sejak saat itu, Nuris United kian leluasa mengobrak-abrik pertahanan lawan. Kendati Nuris United FC unggul dalam ball position, namun gol tak juga tercipta. Serangan demi serangan yang dibangun Nuris United FC selalu bisa dimentahkan oleh lini belakang Al-Mubarok FC. Alih-alih cetak gol, dua kartu kuning malah dilayangkan untuk pemain Nuris United FC. Babak kedua berakhir dengan kedudukan tetap 0-0.

Haedar Nashir

Pertandingan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti setelah perpanjangan waktu 7 x 2 menit, skor tetap sama kuat, 0-0.

Dalam adu tendangan penalti ini, Nuris United FC akhirnya terjungkal. Dua penendang Nuris United FC gagal menyarangkan bola. Tendangan Ibnu berhasil diblok oleh Sofyan, penjaga gawang Al-Mubarok FC. Sedangkan tendangan Rizky melenceng ke samping kanan gawang. Richard Rahmad termasuk yang sukses mengeksekusi penalti. Dengan demikian, play maker Nuris United FC yang menjadi muallaf sejak dua tahun lalu itu, sampai saat ini sudah mengoleksi 5 gol.

Sementara di kubu Al-Mubarok FC, hanya Hadi Wijaya yang gagal mencetak gol karena tendagannya berhasil diblok oleh penjaga gawang Nuris United FC.

Di laga sebelumnya, tuan rumah Darunnajah FC memastikan diri maju ke babak final setelah menggulung Al-Qodiriyah dengan angka 6-1. Di babak pertama, Darunnajah FC sudah unggul 2-0. Empat gol tambahan dicetak di babak kedua. Sedangkan Al-Qodiriyah berhasil memperkecil kekalahan dengan mencetak 1 gol

“Kualitas permainan semakin merata. Buktinya, di luar dugaan Al-Mubarok bisa mengalahkan juara bertahan, Nuris United FC,” tukas Wakil RMI Cabang Jember, Khoirus Sholihin kepada Haedar Nashir melalui sambungan telepon seluler. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Nahdlatul, AlaNu Haedar Nashir