Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memohon kesediaan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin memimpin sedikitnya 120 peserta pelatihan da’i dan da‘iyah NU untuk mendoakan korban sipil di Gaza Palestina. Doa bersama untuk Palestina ini sekaligus menutup pelatihan dakwah di Gedung PBNU, Selasa (22/7) sore.

“Kita sedih menyaksikan kebrutalan agresi militer Israel yang menyerang korban sipil di jalur Gaza. Kita mengharapkan warga dunia dalam hal ini PBB, negara-negara Islam, dan liga Arab untuk berpartisipasi dalam perdamaian di Palestina,” kata Khofifah.

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Sebelum memimpin doa, Kiai Ma’ruf yang juga mengisi materi Keaswajaan dan Kepemimpinan Nasional dalam pelatihan yang difasilitasi PP LDNU dan Himpunan Da’i dan Majelis Taklim Muslimat NU ini menekankan peran para da’i NU di tengah tantangan dakwah yang semakin berat.

Haedar Nashir

“Tugas para da’i ialah membuat peta dakwah agar mengetahui medan tantangan dakwah dari segala dimensinya. Karena itu, da’i mesti terus berpikir memetakan strategi dakwah. Tantangan terus berubah,” kata Kiai Ma’ruf.

Haedar Nashir

Kelenturan Aswaja NU memberikan keluasan kepada kita semua untuk tidak berhenti di titik nyaman. Da’i tidak boleh statis, harap Kiai Ma’ruf.

“Mari kita tengadahkan tangan mengharapkan ridho Allah untuk menurunkan bantuannya bagi kemaslahatan warga Gaza,” ujar Kiai Ma’ruf sebelum membacakan doa yang diaminkan peserta pelatihan da’i. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Berita Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Dua Tantangan NU Saat ini

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) Kabupaten Jepara Hindun Anisa mengatakan, sebagai organisasi, NU di era globalisasi ini menghadapi banyak tantangan. Di antaranya tantangan di bidang informasi dan Islam "radikal" dan "liberal".

“Website di internet banyak dikuasai oleh kelompok bukan NU,” katanya pada Sarasehan “Mengapa Harus NU?” yang dilaksanakan PAC IPNU-IPPNU Nalumsari di Kampus 2 SMK Terpadu Hadziqiyah desa Tritis kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara, Ahad (08/3).

Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tantangan NU Saat ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tantangan NU Saat ini

Menurut dia, warga NU yang mengakses kaidah agama di internet akan bersinggungan dengan media-media non-NU sehingga sudah saatnya kiai dan santri melek internet.

Haedar Nashir

Tantangan kedua, lanjut perempuan yang sering disapa Neng Hindun, ini NU berhadapan dengan Islam radikal dan liberal.Paham keagamaan NU yang menganut konsep tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil) dan tasamuh (toleransi) itu yang membuat negara adikuasa tidak suka dengan kebesaran NU di Nusantara.

Haedar Nashir

Pantas saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 RI, tegas Neng Hindun, negara adikuasa itu tidak rela orang NU memimpin bangsa. Negeri penguasa itu, tidak pernah memuji Gus Dur namun terus-menerus menjelek-jelekkan putra KH Wahid Hasyim tersebut hingga lengser.

Segala macam cara dilakukan media Barat tersebut. “Mereka (Barat, red) membangun wacana, waktu itu Gus Dur ialah antek Amerika. Padahal saya meyakini kelompok radikal yang menjelek-jelekkan Gus Dur ini suruhan mereka,” sambungnya.

Ia juga menyebut NU mempunyai peran untuk merebut kemerdekaan. Sehingga? organisasi yang bermakna kebangkitan ulama ini bersiteguh untuk mempertahankan NKRI. Kelompok-kelompok yang hendak mengobok-obok eksistensi NKRI sama dengan berhadapan NU.

Misalnya saja Kongres Umat Islam Indonesia yang dilaksanakan di Yogyakarta belum lama ini merupakan contoh kelompok yang hendak mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan diganti dengan Islam.

Padahal pada Munas Alim Ulama 1983, lanjut istri KH Nuruddin Amin, itu cukup menegaskan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Karena itu, pembicara lain, Mustaqim Umar menyatakan menjadi orang NU harus bangga. “Tidak usah getun menjadi warga NU. Tunjukkan ke-NU-an kita. Kita harus yakin orang NU berkualitas,” terang Sekretaris LPNU Jepara.

Sebab, kata Mustaqim, NU sangat dihormati dunia dikenal sebagai penebar Islam rahmatan lil alamin. Diterimanya organisasi rahmatan lil alamin di mata dunia lantaran menggunakan pendekatan ala Indonesia.

Kegiatan yang diawali sambutan pengasuh Pesantren Hadziqiyah KH Chayatun Abdullah Hadziq. pada kesempatan itu ia mengatakan, jamiyyah NU yang didirikan KH Hasyim Asyari dan kiai-kiai lain merupakan organisasi untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari itu, ormas yang dilahirkan 1926 itu merupakan organisasi untuk menyelamatkan bangsa dan negara.

kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari pelajar dan delegasi Banom NU tersebut merupakan pamungkas rangkaian Harlah IPNU ke-61 dan IPPNU ke-60 dari 02 Februari hingga 08 Maret 2015 yang meliputi Ziarah, Karnaval, Bakti Sosial dan Santunan Yatama. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Ubudiyah, Daerah Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya

Jember, Haedar Nashir. Memungkasi? tahun 2016, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Sumberjambe, Jember, Jawa Timur? menggelar? peringatan Mualid? Nabi Muhammad SAW di Sumberpakem, Sabtu (31/12) .

Selain peringatan Maulid? Nabi, acara tersebut juga dimaksudkan untuk konsolidasi, evaluasi program dan rencana kegiatan tahun 2017.

“Ya, kita akan segera memasuki tahun 2017, maka kita adakan evaluasi kegiatan yang sudah-sudah, dan kita programkan kegiatan yang lebih baik di tahun depan,” ujar Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Emi Kusminarni saat memberikan sambutan.

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya

Wakil Sekretaris PCNU Jember, Ustadz Moch. Eksan yang didapuk bertaushiyah menegaskan, betapa pentingnya doa. Untaian doa yang dipanjatkan, pasti mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Namun disadari atau tidak, sebagian umat Islam dewasa ini justru cenderung meremehkan kekuatan doa. Padahal Islam mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang mukmin.

“Senjata untuk mendapat rahmat Allah dan senjata untuk menolak laknat Allah,” ujarnya.

Doa, katanya, memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Mengapa dahsyat? Karena Allah sendiri yang menyuruh hamba-Nya untuk berdoa dan memastikan akan mengabulkan doa tersebut. Cuma persoalannya, manusia sering meragukan kasih sayang Allah, sehingga tidak yakin doanya dikabulkan. Padahal meragukan kasih sayang Allah, sama artinya dengan berburuk sangka keapda Allah.

Haedar Nashir

“Alllah pasti mengabulkan doa hamba-nya. Kenapa? Sebab, Allah sendiri yang meminta kita berdoa,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ia lalu mengurai faidah pembacaan shalawat. Seraya menyitir sebuah hadits, Ustadz Eksan mengungkapkan bahwa siapapun yang membaca shalawat 100 kali dalam sehari, maka Allah akan penuhi 100 hajatnya. Komposisinya adalah 70 hajat dipenuhi di akhirat, dan 30 permintaan dikabulkan di dunia.

“Oleh karena itu, memasuki tahun baru 2017, kini saatnya umat Islam? kembali meneguhkan keyakinannya akan kekuatan doa. Bahwa doa adalah senjata kemenangan untuk izzu Islam wal muslimin,” pungkasnya. (Aryudi A. razaq/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Humor Islam Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Surabaya, Haedar Nashir. Tiap daerah memiliki kelebihan sumber daya manusia dan alam. Akan tetapi yang belum juga diupayakan secara serius adalah mengoptimalkan potensi yang ada agar benar-benar bermanfaat. 

Usaha serius pemerintah dalam mendampingi para wirausahawan tercermin dengan dikeluarkannya PNPM atau Program Nasional Masyarakat Mandiri. Beberapa daerah  memanfaatkan Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU untuk mendampingi sejumlah pemberdayaan usaha bagi kalangan perempuan. Termasuk yang kini tengah diseriusi PW Lakpesdam NU Jawa Timur di Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang.

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Berdayakan Perempuan Pedesaan

Yeni Lutfiana, Project Officer kegiatan ini menandaskan sudah banyak potensi lokal di daerah ini yang dijadikan sandaran hidup warga. Randuagung memiliki hasil bumi yang cukup melimpah khususnya buah pisang. “Kehadiran kami melakukan pendampingan usaha yang selama ini sudah digeluti masyarakat, khususnya perempuan,” katanya pada Haedar Nashir (5/4).

Haedar Nashir

Untuk usaha pisang yang digeluti masyarakat, Lakpesdam memberikan sejumlah pengetahuan tentang upaya meningkatkan kualitas dan meminimalisir biaya yang tidak perlu. “Kita berikan kepada mereka teknologi tepat guna yang tentunya juga efisien bagi usaha yang tengah digeluti,” tandas alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Untuk usaha kripik pisang misalnya, telah dipernalkan vacuum frying yakni alat yang berfungsi melakukan pengeringan. “Alat ini bisa membuat kripik pisang lebih bisa bertahan lama dengan tanpa mengurangi tekstur dan rasanya,” katanya.

Haedar Nashir

Bahkan dengan alat yang ada, para perempuan perajin usaha kripik pisang mampu menyimpan komoditasnya hingga dua tahun. “Ini sangat berbeda dengan model konvensional yang sudah ada,” kata mahasiswa Pasca Sarjana Unair Surabaya ini.

Tidak semata dalam hal produksi hingga distribusi yang dilakukan Lakpesdam. “Yang lebih penting adalah kesadaran para perempuan dan warga untuk berhimpun dalam komunitas,” terangnya. Karena dengan menjadi paguyuban atau perkumpulan, maka akan kian banyak ide kreatif yang muncul.

“Yang juga menjadi tujuan utama kami adalah mengangkat taraf hidup masyarakat serta kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan,” kata Yeni, panggilan akrabnya. Karena dengan kemadirian ekonomi, maka diharapkan posisi tawar para perempuan kian tinggi. “Dengan demikian mereka tidak mudah dimarginalkan,” pungkasnya. 

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Fragmen, Sholawat Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI

Boyolali, Haedar Nashir. Hidup di tengah perbedaan butuh kesadaran untuk menjaga dan memahami pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab, jika bercerai-berai mengancam iklim keamanan bangsa. Prinsip memegang paham Bhinneka Tunggal Ika harus ditanamkan di tengah masyarakat.

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diharapkan Makin Teguh Jadi Benteng Aswaja dan NKRI

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah Choiruddin Ahmad, di sela pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) anggota Banser di kompleks Masjid Al-Faqih Kanoman, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan lalu (25-27/3).

Pengasuh Pesantren Mifathul Huda itu menambahkan, diharapkan para anggota Banser mampu melanjutkan tugas-tugas NU dalam beragama dan bernegara. “Selain tangguh secara fisik, melalui Diklatsar ini, para kader Banser kita harapkan menjadi anggota yang tangguh secara fisik maupun mental, serta semakin teguh untuk menjadi benteng Aswaja dan NKRI,” ujar Gus Din, sapaan akrab Choiruddin.

Dikatakannya, Diklatsar memberikan pemahaman kepada kader NU dalam menjalankan fungsi organisasi. Mereka mendapat berbagai materi mengenai Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan. Sehingga bisa bersama-sama dalam menjaga keutuhan NKRI. “Tetap semboyan kita NKRI harga mati,” tukasnya.

Haedar Nashir

Selain materi di atas, para peserta juga mendapatkan berbagai materi, yakni ke-NU-an, Ke-Ansor-an, Ke-Banser-an, dan bela negara. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, IMNU, Santri Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Oleh Suwarsa

Ada semacam keanehan ketika Plato menyebutkan - secara detail - peradaban dari Timur. Dia menulis kisah tentang sebuah peradaban yang telah berkembang di belahan bumi bagian Timur. The East of Eden, sorga di Timur. Ekstase dan pencapaian batiniyah seorang Plato ini tentu bersebrangan dengan logika yang dianut oleh para sophis Yunani Kuno waktu itu.

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Filsuf, Hunafa, dan Sufi dalam Menjaga Ajaran Awal

Buah pikiran Plato dengan tingkat transenden yang sangat tinggi ini menjadi sebab alam pikiran Yunani Kuno terbagi menjadi tiga: 1. Mereka para pemuja kebijaksanaan materi, phisik. 2. Mereka yang memadukan dua hal bertentangan, phisik dan nous. 3. Mereka para pemuja mitologi. Kelompok ketiga ini cenderung dianut oleh para penguasa dan agamawan yang dekat dengan kekuasaan.

Haedar Nashir

Pertentangan terjadi, jauh sebelum Plato menyodorkan konsep negara ideal. Gurunya, Socrates merupakan seorang filsuf? yang benar-benar menentang kekuasaan kelompok tirani. Kelompok ini membonceng keyakinan, mengendalikan masyarakat dengan dalil yang dikemas sedemikian bagus oleh kelompok agamawan berjubah. Sokrates memandang pembodohan masyarakat melalui pranata agama ini bertolak-belakang dengan hukum alam yang hakiki sebagai hukum Tuhan sejati. Penentangannya tersebut menjadi akibat, Sokrates dipaksa meminum racun. Kelompok tirani dan kaum agamawan palsu ini tetap ajeg mempertahankan konsep politheismenya, keyakinan dipaksakan agar masyarakat menganutnya.

Kaum filsuf , para pencari kebijaksanaan diawasi ruang gerak-geriknya oleh penguasa dan kaum agamawan. Mereka tampil sebagai minoritas di dalam kehidupan yang telah dipenuhi oleh racun kekuasaan dan hegemoni agama. Keterbatasan tersebut menjadi sebab mereka menjadi kelompok yang sering melakukan pengembaraan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan menyendiri di goa-goa sebagai bentuk penghindaran dari kesemrawutan dalam hidup. Mereka tetap memegang teguh satu ajaran, hukum semesta sejati yang digerakkan oleh Causa Prima, Kholiq. Akan tetapi, ajaran kaum sophis ini kemudian tetap juga diadopsi oleh para penguasa dan tokoh agama pengejar dunia, dalam bentuk kepura-puraan.

Haedar Nashir

Tiga abad kemudian, seorang pemuda Aramia, Yesus (Isa) melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh kaum sophis. Ajaran kebaikan disebarkan tidak melalui lembaga bernama agama. Dia menyelusup dari rumah ke rumah menelurkan kebaikan. Puncaknya, pada saat Khotbah di bukit, Yesus mengabarkan kebaikan tulus dan murni, memisahkan urusan Ketuhanan dengan Kekuasaan. Tokoh agamawan waktu itu menganggap Yesus adalah sebuah ancaman yang bisa meracuni masyarakat dengan ajaran tanpa ritus. Lantas mereka menghasud Yesus sebagai ancaman bagi kekuasaan Herodes.? Ajaran Yesus dikatakan telah menyerang dewa-dewa bangsa Romawi. Kembali, kaum agamawan membonceng kekuasaan untuk melenyapkan Yesus.

Setelah Yesus tiada, ajaran kebaikannya kemudian dimanfaatkan oleh kaum agamawan, nabi palsu (Saul, seorang Yahudi penghasud dan penyiksa ke 12 murid Yesus) dan mendapat sokongan dari penguasa Romawi. Tumbuhlah dengan pesat, ajaran transenden yang dipadukan dengan agama serta ritual Romawi menjelma menjadi agama yang terlembagakan sampai saat ini.

Tanah Haran, sebelum dikenal sebagai Mekah merupakan padang tandus tidak berpenghuni. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke 2 Sebelum Masehi. Sekelompok bangsa Nabatea dari pinggiran Jordan dan Kanaan pindah karena desakan kultural pasca eksodus kaum Yahudi dari Mesir ke Kanaan (daerah kuno yang terdiri dari Lebanon, Palestina, dan sebagian Yordania: pada masa? sekarang) Sebelum kedatangan kaum Yahudi, peradaban bangsa Nabatea telah begitu maju, mereka mahir dalam seni memahat, sastra dan prosa, bentuk tulisan Fenisia ditranslatasikan ke aksara yang sekarang menjadi Aksara Arab. Bangsa Nabatea lah yang memperkenalkan bentuk kubus sebagai dewa kesuburan, Manath, dan Hubal. Seorang Nabatea selalu membawa kubus kecil kemanapun mereka pergi. Di Haran, mereka membangun kubus berukuran besar. Ke sanalah, dari rumah-rumah mereka menghadap saat ritual keagamaan dilakukan.

Kehidupan di Haran semakin berkembang pesat. Kepiawaian bangsa Nabatea melakukan lobi dan kompromi dengan berbagai kabilah yang datang belakangan menghasilkan konsensus, mereka tetap memiliki posisi sebagai penjaga rumah tuhan. Sementara itu, kekuasaan diserahkan kepada kaum Nomaden, selanjutnya disebut Arab Badui. Mereka dinamai bangsa Arab karena kehidupannya tidak pernah lepas dari tapal kuda, bangsa nomaden yang gemar melakukan peperangan. Kabilah lain diberi kesempatan untuk menyimpan berhala yang mereka sembah di dalam bangunan tersebut, kemudian diberi nama rumah tuhan, lebih tepat adalah rumah para tuhan.

Kenapa pembangunan kubus bangsa Nabatea ini disematkan kepada Ibrahim dan Ismail? Secara historis, perjalanan spiritual Ibrohim tidak pernah sampai ke Haran. Jalur perjaanannya dari Babel ke Kanaan. Di Kanaan inilah terjadi interaksi antara bangsa Nabatea dengan Ibrahim. Interaksi intensif ini menjadikan seorang Ibrahim dipandang sebagai penasehat spiritual oleh bangsa Nabatea. Maka sebagai bentuk penghargaan kepada Ibrahim, pembangunan bangunan berbentuk kubus tersebut disematkan kepada Ibrohim, Sang Kekasih Tuhan. Di antara sekian banyak orang Nabatea, beberapa orang tetap mempertahan ajaran Ibrahim, dalam tradisi di Mekah mereka dinamai kelompok hanif atau hunafa. Kelompok ini yang kemudian akan melahirkan seorang messiah baru dari Mekah, Muhammad SAW.





Penulis adalah budayawan Sunda tinggal di Sukabumi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Kiai Haedar Nashir

Senin, 11 Desember 2017

Dakwah yang Beradab

Oleh M. Haromain



Dakwah merupakan satu bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan umat beragama. Dalam ajaran Islam, ia merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada pemeluknya, baik yang sudah menganutnya ataupun belum.

Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah yang Beradab (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah yang Beradab

Syeikh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayah al-Mursyidin, sebagaimana dikutip oleh KH Sahal Mahfudh, menetapkan definisi dakwah sebagai ”Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Sementara dakwah menurut Quraish Shihab adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi ataupun masyarakat.

Dalam merealisasikan kewajiban dakwah ini, para da’i atau muballigh menggunakan banyak media dan metode, misalnya ceramah, diskusi, bimbingan penyuluhan, penerbitan buku, majalah dan lain sebagainya.

Haedar Nashir

Disini perlu ditegaskan bahwa masing masing media dan metode dakwah ini memiliki kelebihan, keistemewaan dan kekurangan, sehingga dibutuhkan kejelian penggunaan media dakwah tertentu sesuai dengan kondisi sasaran dakwah yang dihadapi. Ini dimaksudkan supaya kita tidak fanatik (ta’assub) kepada salah satu media dakwah dan menyepelekan kepada media dakwah lainnya.

Kegiatan dakwah dengan memahami dua definisi dakwah di atas, sepintas lalu tampak begitu mudah dan ringan bahkan nyaris tanpa hambatan. Tetapi kegiatan dakwah dalam tahap implementasi atau praktek di lapangan ternyata tidak sesederhana dan semudah itu.

Barangkali kalau sekadar menyampaikan materi atau pesan dakwah saja banyak yang mampu. Namun untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan dakwah, yang ditandai salah satunya lewat penerimaan secara sadar dari sasaran dakwah terhadap materi atau pesan dakwah yang kita sampaikan, maka di sinilah letak kesulitannya.

Hal itu membuktikan bahwa dalam menyampaikan materi atau pesan dakwah para juru dakwah terkadang tidak cukup hanya menyampaikan materi dakwahnya secara blak-blakan, lurus, dan transparan. Sebab penyampaian dakwah secara transparan (eksplisit) dan apa adanya ini kadang berpotensi besar menyudutkan tradisi, budaya, atau nilai-nilai yang diagungkan oleh masyarakat yang menjadi objek dakwah. Padahal sudah menjadi naluri manusia adalah tidak mau dipersalahkan. Dan orang akan mempertahankan diri secara emosional manakala mereka diserang atau dipojokkan secara psikologis. Bagaimana masyarakat bersedia menerima seruan dakwah jika mubalighnya tidak bisa menghargai mereka?

Haedar Nashir

Ketika seorang da’i dakwahnya tidak mendapat simpati dari masyarakat, janganlah keburu ia menuduh masyarakat tersebut sebagai komunitas masyarakat yang bebal hatinya, tidak mempan oleh nasihat. Justru pertama kali yang harus dikoreksi oleh da’i tersebut adalah cara, sikap, dan strateginya dalam menyampaikan dakwah. Sudah tepat dan benarkah metode yang ia sampaikan?

Oleh karena itu, demi tercapainya keberhasilan dakwah, supaya pesan dakwah dapat diterima dan dipraktekkan oleh objek dakwah diperlukan seni, metode, dan pendekatan yang benar. Dan strategi yang sering menjadi pedoman golongan ahlussunnah wal jama’ah dan merupakan manhaj dakwahnya salafusshaleh ? adalah metode dan cara pendekatan yang sangat bagus dan persuasif, yaitu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan diskusi atau dialog dengan cara yang lebih baik. Metode ini digali dari Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125.

KH Ahmad Shiddiq mengutip dari tafsir Al-Khazin menerangkan lebih detail tiga metode di atas. Mengajak dengan hikmah, artinya memberi keterangan yang mantap, kokoh, dan benar. Atau menggunakan dalil-dalil yang benar yang mengungkapkan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan.

“Mauidzah hasanah” artinya memberi petunjuk yang menggairahkan kepada kebenaran serta menunjukkan bahaya atau akibat perbuatan buruk, yang mengesankan rasa kasih sayangnya perawat bagi pasiennya. Metode dialog atau debat yang lebih baik artinya menggunakan pendekatan yang lemah lembut.

Kenapa penulis artikel ini mengatakan bahwa dakwah dengan ketiga metode diatas adalah metode terbaik dan persuasif? Karena dengan modal metode seperti itu, seperti apapun keadaan sasaran dakwah, sang da’i sedapat mungkin tetap menghargai meraka, memosisikan mereka sebagai manusia yang tidak hanya memiliki akal tetapi juga emosi dan perasaan yang tidak boleh diperlakukan seenaknya layaknya patung. Dan inilah istilah yang penulis sebut sebagai dakwah yang beradab.

Dengan demikian karena objek dakwah merasa dihargai dan diperlakukan selayaknya manusia lainnya, maka penerapan dakwah dengan metode hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah bi ahsan ini punya peluang lebih besar untuk diterima dan mendapat simpati dari masyarakat obyek dakwah.

Berbeda dengan metode dakwah yang disampaikan dengan jalan kekerasan, paksaan dan cara-cara yang bersifat sarkastik lainnya, alih-alih masyarakat akan bersimpati dan menerimanya, justru perlawanan dan permusuhanlah yang akan dikobarkan oleh mereka. Atau seandainya mereka mau menerima, besar dugaan penerimaan mereka itu karena keterpaksaan yang semu sifatnya, bukan penerimaan atas dasar kesadaran diri. Wallahu A’lam

*Penulis adalah alumnus MHM Lirboyo Kediri dan Unsiq Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Kiai, Lomba Haedar Nashir

Jumat, 08 Desember 2017

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sekolah Dasar Integral (SDI) Lukmanul Hakim Bojonegoro mengadakan manasik haji di alun-alun kota minyak, Kamis (3/10). Ketua panitia pelaksana kegiatan, Abdul Wahid mengatakan, kegiatan bertujuan mendidik anak-anak generasi Islam untuk benar-benar melaksanakan ajarannya.

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Didik Generasi Muda Melalui Manasik Haji

Menurut Wahid, manasik ini dilaksanakan SDI Lukmanul Hakim bekerjasama dengan KB Ya Bunaiya I dan II, serta diikuti TK Bhayangkari, PUWAB, Putra Bangsa dan MI Al-Falah Kenongo Tuban.

Para peserta mengenakan baju putih, layaknya orang dewasa yang melaksanakan ibadah haji di Makkah. Serta mereka juga mengitari replika kabah. "Setidaknya ada sekitar 600 lebih peserta yang mengikuti manasik haji," ujarnya.

Haedar Nashir

Selain mendidik generasi muda, tujuan manasik haji ini juga untuk mengenalkan peserta didik, proses haji. Jadi anak-anak tidak diajari teori haji saja, tetapi praktik dan proses pelaksanaan haji dapat diketahui anak-anak.

"Kegiatan ini sudah rutin dilaksanakan, setiap bulan-bulan haji," ujarnya kepada Haedar Nashir, usai acara.

Haedar Nashir

Dijelaskan, sebelum anak-anak melaksanakan masnaik haji dialun-alun, mereka mengikuti gladi bersih di sekolah SDI Lukmanul Hakim Jalan Lisman 18B Bojonegoro.

Termasuk diajari miqot, berada di Masjidil Haram, memutari kabah, shalat sunnah di Hijjir Ismail, berada di sumur zam-zam, sai, tahallul, wukuf di Arofah, Muzdalifah dan melempar jumroh aqobah di Mina. "Seluruh proses haji, dilaksanakan lengkap," pungkasnya. (Muhammad Yazid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

Perihal Penyebutan Nama Allah

Oleh Rusdi Mathari*

Di sebuah grup WhatsApp, seorang kawan telah menegur kawan lainnya karena menulis “4JJI” untuk menyebut “Allah.” Alasan yang menegur, “4JJI” berbeda artinya dengan “Allah.” Dia meminta yang bertanya perbedaannya, agar bertanya pada kawan yang lain lagi yang dianggapnya lebih mengerti dan berkompeten untuk urusan semacam itu.

Diskusi agak memanas, dan saya lalu teringat pertanyaan istri saya untuk perkara yang sama.

Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Penyebutan Nama Allah

Apa yang disebut sebagai “Allah” oleh terutama orang-orang Islam, sebetulnya hanya istilah yang dibuat untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Tapi karena berbagai alasan, banyak orang kemudian percaya bahwa orang-orang Islam menyembah Allah yang berbeda dari Allah orang-orang Kristen dan Yahudi.

Haedar Nashir

Sebuah anggapan yang sebetulnya sama sekali keliru, karena sesungguhnya tidak ada keraguan seorang Muslim adalah menyembah Allah yang juga disembah oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dan Muhammad (shalawat dan salam untuk mereka semua).Bahwa orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam kemudian memiliki konsep yang berbeda tentang Allah, tentu benar adanya.

Haedar Nashir

Orang Islam, seperti halnya orang Yahudi misalnya, menolak kepercayaan Trinitas dan Inkarnasi Ilahi dari ajaran Kristen. Akan tetapi penolakan itu tak lalu, masing-masing penganut dari tiga agama menyembah Tuhan yang berbeda karena Allah hanya satu. Yahudi, Kristen dan Islam adalah kepercayaan yang mendaku sebagai “Agama Ibarahim” (Abrahamic Faith), dan ketiganya diklasifikasikan sebagai “monoteistik.”

Realitasnya, ada sebagian penganut Yahudi dan Nasrani yang kemudian selalu ingin membuat orang percaya, bahwa “Allah” adalah sebutan untuk para “dewa” orang Arab (silakan baca: The Moon-god Allah in the Archeology of the Middle East), dan Islam adalah benar-benar sesuatu yang “lain,” yang berbeda, dan tidak memiliki akar yang sama dengan Yahudi dan Kristen.

Tentu argumen semacam itu menggelikan, sebab dengan menganggap umat Islam menyembah “Allah” yang berbeda (karena mereka mengatakan “Allah”) adalah sama tidak logisnya dengan pendapat yang mengatakan, orang-orang Prancis menyembah Allah yang lain karena mereka menyebut “Dieu.” Orang-orang berbahasa Spanyol juga menyembah Allah yang berbeda karena berseru “Dios.” Atau mereka yang berbahasa Ibrani menyembah Allah yang tidak sama, karena mereka kadang-kadang memanggil Allah dengan sebutan “Yahweh.”

Sebagian yang lain lalu mengatakan, tentang “Allah” adalah bukan sekadar soal logika, dan itu problemnya. Sebab mereka yang mendaku setiap satu bahasa hanya menggunakan kata yang benar untuk menyebut Allah, sama artinya dengan menyangkal universalitas pesan Tuhan kepada umat manusia, untuk segala suku dan bangsa melalui para nabi yang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Dan hanya sedikit orang yang paham, tentang Allah sesungguhnya adalah kata yang sama dalam bahasa Arab yang digunakan orang-orang Kristen dan Yahudi untuk menyebut Allah.

Tengoklah Alkitab (Injil) berbahasa Arab, maka di sana akan tertera kata “Allah” digunakan seperti halnya “Allah” digunakan dalam bahasa Inggris: “Allah” adalah kata dalam bahasa Arab dan sama dengan kata dalam bahasa Inggris “God” dengan huruf “G.” Kata “Allah” itu pun bahkan tidak dapat dibuat jamak.

Lihatlah kata “El” dalam bahasa Aram yang adalah kata untuk Tuhan ketika Yesus berbicara, niscaya lebih mirip pengucapannya dengan kata “Allah” dibandingkan dari kata “God” dalam bahasa Inggris. Itu pula berlaku untuk berbagai macam kata untuk menyebut Tuhan dalam bahasa Ibrani: “El” dan “Elah,” atau “Elohim” (dimuliakan) itu.

Alasan kesamaan itu, karena baik bahasa Aram, Ibrani dan Arab adalah bahasa yang berasal-usul sama yaitu bahasa Semit.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” pada dasarnya sama dengan kata “Ilah” yang artinya Tuhan, dan karena itu makna dari kata “Allah” adalah juga sama dengan makna dari kata “Ilah.”

Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya.Dalam bahasa Arab, kata “Ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat, sementara kata “Allah” adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.

Ucapan seperti “Ya Ilahi” atau “Ya Allah” menunjukkan, tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “Ilah” kecuali yang satu (“Allah”) digunakan hanya untuk makna khusus, dan yang lain (“Ilah”) lebih digunakan untuk yang bersifat umum. Dalam buku “Tauhid dan Syirik,” Syrekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, sebab berasal dari satu akar kata yang sama.

Kalau kemudian ada kekhususan makna dari kata “Allah” seperti yang sejauh ini disebut oleh kaum Muslim, hal itu tak lain karena kebiasaan orang-orang Arab yang selalu menggunakan lafal “Al Ilah.” Penambahan kata “al” pada “Ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab “Majma’ul Bayan Jilid 9,” Al Thabarsi menerangkan, huruf “i” pada “Al Ilah” kemudian menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga “Al ilah” diucapkan sebagai “Allah.”

Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul penyebutan nama “Allah” juga diungkapkan Thabarsi dalam “Majma’ul Bayan Jilid 1”. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (pakar gramatikal tentang asal-usul lafal “Allah”) Thabarsi menjelaskan, perubahan dari “Ilah” menjadi “Allah” disebabkan penisbian atau peluluhan huruf “hamzah” di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah, yang tak bisa dipisahkan.

Maka ketika menyebut “Ya Allah,” pengucapannya bukan “Yallah” melainkan “Ya Allah.” Seandainya tidak ada huruf “hamzah” dalam kata aslinya, menurut Thabarsi, niscaya pengucapan “hamzah” tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.

Tentang “Allah” yang berasal dari kata “Ilah” dengan menghilangkan huruf “hamzah” dan menggantinya dengan kata “al” juga dijelaskan oleh Ar Raghib di buku “Al Mufradat.” Dalam pandangan Ar Raghib, sebutan “Allah” dikhususkan bagi nama Allah sebagai wajibul wujud, atau zat mutlak yang wajib ada.

Bisa dimengerti karena itu, para ahli tauhid memaknai “Allah” dan “Ilah” sebagai makna yang satu, yaitu Tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir, dalam kalimat tauhid “laa ilaha illallah” kata “Ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah) dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar).

Maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah secara hak kecuali Allah.”

Problemnya: banyak penganut agama Samawi, belum mengerti tentang asal-asal istilah dan sebutan “Allah,” sehingga banyak di antara mereka lalu saling mendaku soal Allah. Orang-orang Islam di sini, bahkan menuliskan “Allah” dengan “Alloh.” Alasannya bermacam-macam.

Sebagian menganggap, pengucapan “Allah” dengan “lah” tebal menyulitkan banyak orang mengucapkannya, dan untuk mempermudah dan agar mendekati pengucapan yang seharusnya, maka digantilah tulisan “Allah” dengan “Alloh.” Dan itulah rancunya, karena bahasa Arab, tidak mengenal vokal e dan o, kecuali hanya tiga vokal: fathah (a), kasrah (i) dan dammah (u).

Aneh rasanya, “Allah” kemudian ditulis “Alloh” apalagi diucapkan menjadi “Al-loh,” atau “rahman” ditulis “rohman” dan diucapkan “roh-man,” dan sebagainya, sebab tidak ada dasar bahasanya kecuali hanya dicari-cari. Itu sama dengan menuliskan “Jos” untuk pengganti “George,” atau “Nyu Yok” untuk “New York.” Dampaknya, kemudian berkembang juga penulisan “Awloh,” “Awoh,” dan sebagainya, yang jauh lebih ngawur dan berkesan olok-olok.

Muncul kemudian penulisan “4JJI” yang dipersoalkan dalam satu grup di WhatsApp itu. Mungkin maksudnya untuk memudahkan dan tidak terjebak dengan penulisan “Alloh,” tapi tulisan itu, hanya mendekat-dekatkan atau memirip-miripkan dengan tulisan “Allah” dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha. Dan karena disusun dengan huruf Latin, tulisan “4JJI” semestinya dibaca “empat-je-je-i” bukan “Al-lah.”

Alasan dari sebagian yang lain malah lebih ekstrem. Sengaja “Allah” dituliskan “Alloh”, karena alasan untuk membedakan “Allah” dalam Islam dan “Allah” yang disebut oleh kaum Nasrani. Allah lalu diklaim hanya milik agama tertentu, dan agama lain tak boleh memilikinya.

Itu misalnya pernah terjadi di Malaysia, ketika pemerintah dan ulama di sana melarang penggunaan “Allah” oleh orang Nasrani. Mereka menganggap tak satu manusia pun yang tidak memiliki pandangan keimanan yang sama dengan mereka, layak dan pantas menyebut “Allah.” “Allah” adalah milik mereka, kendati mereka juga tidak paham, siapa Allah dan mengapa harus disebut “Allah.”

Sungguh dengan semua nama dan sebutan “Allah,” manusia sesungguhnya tak bisa mengetahui hakikat Allah, kecuali hanya sedikit orang. Nama-nama, istilah atau apa pun sebutan yang ditujukan untuk menyebut Allah, hanyalah salah satu cara manusia untuk mengenal Allah. Dan di balik semua nama dan istilah itu, Allah adalah Allah, dan hanya Allah yang tahu akan Allah. Bukan manusia.

* Jurnalis. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tinggal di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Kiai, Sunnah Haedar Nashir

Senin, 27 November 2017

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

Nias Selatan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Karateker Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Jumat hingga Ahad (29-31/5). Kegiatan dilaksanakan di Aula Hotel Hernelys, Telukdalam Nias Selatan.

Ketua Karateker PC GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Alez Brianita Wau menjelaskan, PKD menjadi kewajiban bagi Kader Ansor sebelum membentuk kepengurusan PC GP Ansor. Acara bertemakan “Meneguhkan Komitmen Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Bingkai Kebangsaan dan NKRI” ini digelar untuk meningkatkan wawasan, kapasitas dan kreatifitas Kader Ansor.

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

“Apalagi Kader Ansor juga bertugas sebagai kader bangsa yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam keanekaragaman dan memperkuat keutuhan NKRI. Diharapkan dengan PKD para kader bisa mengembangkan pemahaman tradisi Aswaja sebagai pencerminan pengamalan sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lanjut Alez, Kader Ansor juga mengemban amanah menggemakan syiar Islam sebagai perisai bagi dampak negatif globalisasi, mempererat ukhuwah dan sebagai perekat warga Nahdliyin untuk Indonesia.

Haedar Nashir

“Untuk itu, kader perlu dibekali pemahaman Ke-Ansoran dan Ke-NU-an. Tujuannya, menanamkan rasa cita terhadap organisasi sebagai upaya meningkatkan kapasitas, kreatifitas dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Sebelumnya Ansor Nias Selatan dan Nias Barat juga telah mengikuti PKD di Gunungsitoli,” imbuhnya.

Hadir dalam acara, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nias Selatan Wajdin Telaumbanua. Dalam sambutannya, PCNU berharap Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat setelah Tim Karateker melaksanakan tugas melaksanakan PKD dan Konfercab I.

“Ansor adalah salah satu badan otonom NU wadah berkumpulnya pemuda-pemuda NU, dengan adanya Cabang NU di Kabupaten Nias Selatan maka sudah seharusnya PC GP Ansornya ada juga di Nias Selatan. Kita berharap agar Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat,” harapnya.

Acara PKD dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap yang berlangsung selama 3 hari. Armansyah Harahap mengatakan, GP Ansor pusat telah menetapkan tiga grand design untuk pengembangan GP Ansor se-Indonesia, yakni GP Ansor diberi amanah untuk mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

“Dalam materi kepemimpinan, materi Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu merupakan materi inti,” ujar Armansyah saat memberikan arahan dan bimbingan pada Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Barat. (Dedi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pahlawan, Makam Haedar Nashir

Minggu, 19 November 2017

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh

Jakarta, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar mengecam pembakaran Gereja yang dilakukan oleh sekelompok Masyarakat di Aceh pada Hari Selasa (13/10).

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Makassar Kecam Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh

Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM & Pemerintahan GP Ansor Makassar, Ardian Arnold mengutuk keras aksi intoleran tersebut.

Menurutnya, tidak ada alasan yang bisa membenarkan aksi tersebut & sangat bertolak-belakang dengan nilai yang terkandung dalam al-Quran & hadits.

Haedar Nashir

Ardian juga meminta kepada Pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas Kasus tersebut agar tidak terjadi insiden susulan yang dapat memperkeruh suasana keberagamaan di Bangsa ini.

Haedar Nashir

Kasus pembakaran rumah ibadah bukan pertama kali terjadi, sebelumnya di Papua Masjid di bakar, Polri harus mengantisipasi hal-hal seperti ini terjadi lagi.

"Saya yakin Jikalau POLRI bekerja maksimal dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Kasus seperti ini dapat diantisipasi", ungkap Ardian dalam rilisnya, Rabu(14/10)

Lanjut, Ardian juga minta Polri menangkap Pelaku Intelektual yang menjadi otak pembakaran gereja, serta memastikan tidak terjadi kejadian yang serupa khususnya di Aceh dan di Indonesia secara umum. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Pertandingan, Kiai Haedar Nashir

Sabtu, 18 November 2017

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

Damaskus, Haedar Nashir. Pada Senin (25/4) waktu setempat, KBRI Damaskus kembali melakukan repatriasi WNI gelombang ke-274. Sebanyak 41 WNI dipulang ke Indonesia lewat Bandara Internasional Damaskus setelah diselesaikan segala permasalahannya. 

Para WNI yang direpatriasi tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Barat, sisanya berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan NTB. Jumlah repatriasi gelombang 274 ini merupakan yang terbanyak sejak tahun lalu. Repatriasi kali ini didampingi oleh staf KBRI Damaskus, Mohammad Zubair Moehdir.

Berikut daftar nama repatrian:

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengawali Musim Panas, KBRI Damaskus Repatriasi 41 WNI

1. Aisah Bt Oman Arobah, Purwakarta;

2. Anisah Emus Sumardi, Cimahi;

3. Artati Bt Ibrahim Mansirad, Pandeglang;

Haedar Nashir

4. Asmawati Bt, Masiyung Wanto, Sumbawa NTB;

Haedar Nashir

5. Casih Bt Waan Mali, Subang;

6. Dede Rosita Enen, Cianjur;

7. Een Kirman Jai, Purwakarta; 

8. Itoh Masitoh Bt Sari Aleh, Bandung;

9. Juwita Bt Ali Arsad, Bima NTB;

10. Karsinah Binti Kardimah, Karawang;

11. Kartika Bt Jumantre Kasre, Lombok Tengah;

12. Krisnayanti Bt Cardiyah Kasmit, Indramayu; 

13. Kurnia Sari Kali Kajam, Indramayu;

14. Lena Maryana Asep Miftah, Sukabumi; 

15. Lia Bt Dulhawa Sangad, Tangerang Banten;

16. Meli Yulianti Bt Ikib Amat, Bandung;

17. Muhaenah Bt Ramin Sabit, Lampung Selatan;

18. Napisah Binti Saman, Carenang;

19. Nikmatur Rohmah Besuni, Malang;

20. Nunung Kurniawati Misar, Tambelang;

21. Nurhasiah Bt Ahmad Muhammad, Sumbawa;

22. Nurhayati Bt Badru Samsu, Sukabumi; 

23. Patimah Subki Sarhi, Sukabumi;

24. Rahmatia Bt Ibrahim Dede, Sumbawa NTB;

25. Rosita Binti Ramin, Tangerang, Banten;

26. Sari Bt Samid Samin, Tangerang, Banten;

27. Siti Asiyah Bt Muhammad Ali, Sumbawa NTB;

28. Siti Julaeha Bt Yayan Sarhindi, Cianjur;

29. Siti Patimah Bt Irah Suut, Bima Ntb;

30. Siti Rohmi Zuhdi Suyuti, Boyolali, Jateng;

31. Sumiyati Bt Rasma Daim, Indramayu;

32. Suniri Bt Rastal Amar, Cirebon;

33. Supriatin Bt Laksono Satram, Lumajang;

34. Tami Jumanah, Cirebon;

35. Tarwi Bt Cakra Kedung, Indramayu;

36. Tin Tin Bt Tarmedi Pepe, Cianjur;

37. Wenah Bt Rustam Taali, Subang;

38. Yanti Sinah Bt Amsir Ahim, Karawang;

39. Yatin Miyarso, Banjar Negara;

40. Yayah Bt Dudin Uu, Sukabumi;

41. Yuli Laelasari Bt Danu Sukar, Sumedang.

Saat ini shelter KBRI Damaskus masih terdapat sekitar 20 WNI korban perdagangan manusia yang sedang diperjuangkan hak dan kepulangannya. 

Duta Besar RI di Damaskus, Djoko Harjanto, yang turut melepas mereka di Bandara Internasional Damaskus menegaskan bahwa repatriasi TKW ini merupakan program yang telah berlangsung sejak tahun 2011 karena situasi keamanan di Suriah yang masih sangat mengkhawatirkan dan tidak mungkin kontrak kerjanya diperpanjang lagi. Karena kebijakan pemerintah RI untuk menghentikan secara permanen pengiriman tenaga kerja untuk sektor perorangan ke selururh negara di Timur Tengah. (Red-Zunus) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Kiai Haedar Nashir

Jumat, 17 November 2017

Khitan Massal, Bukti GP Ansor Bermanfaat untuk Masyarakat

Jepara, Haedar Nashir



Sebanyak 34 anak mengikuti kegiatan Khitanan Massal yang diselenggarakan PC GP Ansor Jepara yang berlangsung di Klinik Masyithoh, kompleks gedung NU, Jalan Pemuda 51 Jepara, Senin (18/9). 

Khitan Massal, Bukti GP Ansor Bermanfaat untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khitan Massal, Bukti GP Ansor Bermanfaat untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khitan Massal, Bukti GP Ansor Bermanfaat untuk Masyarakat

Kegiatan yang diadakan dalam rangka Pra Konfercab PC GP Ansor Jepara XII itu merupakan hasil kerja sama Polres Jepara, PC Muslimat NU, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kabupaten Jepara. 

Puluhan anak yang mengikuti khitan massal memperoleh sarung, baju koko, peci serta bingkisan dari panitia. Adapun dokter yang mengkhitan langsung dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kabupaten Jepara yang diketuai dr. Triyono dengan didampingi 8 tenaga. 

KH Hayatun Abdullah Hadziq, Ketua PCNU Jepara menyampaikan, GP Ansor tidak hanya organisasi yang diselesai di wacana saja. “Ini bukti bahwa kegiatan khitan seperti ini merupakan kegiatan yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” paparnya. 

Polres Jepara juga turut mengapreasi kegiatan tersebut. “Senang dengan kegiatan seperti ini, jika di kemudian hari ada kegiatan yang sama, kami siap membantu,” urai Putu Krisna, Kasatlantas, mewakili Polres Jepara. 

Haedar Nashir

Kusdiyanto, selaku ketua panitia kegiatan menyebutkan khitan massal bisa menjadi salah satu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Sehingga Konfercab Ansor tidak hanya berkutat pada siapa ketua berikutnya namun juga lebih kepada bagaimana kita merumuskan program-program riil untuk masyarakat,” sebut dia. 

Ketua PC GP Ansor Jepara, M. Kholil berharap Ansor mampu menjadi organisasi kepemudaan yang yang konsen pada isu-isu pemecahan permasalahan di masyarakat. 

“Kegiatan sunat massal yang kami lakukan untuk berbaur dan memberikan sedikit manfaat bagi masyarakat Jepara. Juga menjadi inspirasi masyarakat untuk selalu peduli kepada sesame,” pungkas Kholil. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi) 

 

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Kiai Haedar Nashir

Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya

Jakarta, Haedar Nashir



H Slamet Effendi Yusuf, salah seorang yang menyatakan diri siap menjadi calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rabu (14/10) sore mengunjungi ruang redaksi Haedar Nashir, lantai 5 gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.



Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi NU Online, Slamet Effendy Yusuf Sampaikan Maksud Pencalonannya

Slamet yang ditemui Pemimpin Redaksi Haedar Nashir Abdul Mun’im DZ dan Wakil Pemimpin Redaksi Haedar Nashir Suadi D. Pranoto menyampaikan keinginnya sebagai calon ketua umum PBNU.

Slamet yang juga pentolan Partai Golkar menampik kesan sementara kalangan NU bahwa dirinya ingin melompat dari dunia politik ke dalam kepengurusan PBNU.

Haedar Nashir

Ia menyatakan, dirinya bukan orang baru di lingkungan NU. Ia pernah aktif di IPNU, sempat memimpin GP Ansor, dan pada saat kepemimpinan Gus Dur, Slamet pernah menjabat sebagai salah satu pengurus di PBNU. Ia bahkan masuk dalam tim sembilan penyiapan kembalinya NU ke Khittahpada 1980-an.

Haedar Nashir

“Saya mencalonkan diri ini juga bukan karena tidak punya kerjaan lagi. Yang saya terima sekarang ini sudah cukup. Saya menolak ditawari sebagai duta besar. Saya merasa memimpin NU ini sebuah tantangan. Menurut saya setelah era Gus Dur, NU perlu ada sebuah lompatan,” katanya menunjuk pada dirinya yang menyatakan sanggup melakukan lompata itu.

Dalam kesempatan itu Slamet menyampaikan, Ketua Umum PBNU KH Muzadi berjasa besar dalam memimpin NU terutama dalam membawa NU ke kancah internasional dan mengaktifkan media informasi NU.

Tak lama berselang calon ketua umum PBNU lainnya KH Masdar Farid Mas’udi juga berkunjung ke redaksi Haedar Nashir. Dua calon ini berbincang dan berfoto bersama kru redaksi Haedar Nashir. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Humor Islam, Nahdlatul Haedar Nashir

Senin, 13 November 2017

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan TV9 menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang publikasi pendidikan di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) LP Ma’arif NU Jatim, Waru, Sidoarjo, Senin (16/4).

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Penandatangan dilakukan bersamaan dengan acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW LP Ma’arif NU Jawa Timur. Mengawali kepengurusan baru masa khidmat 2013-2018, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Prof Dr H Abdul Haris berharap pengurus wilayah bisa meningkatkan citra pendidikan di lingkungan NU.

“Mulai sekarang setiap cabang Ma’arif (LP Ma’arif NU, red) bisa mengirim kegiatan unggulan dari berbagai jenjang pendidikan yang akan meningkatkan mutu dan citra sekolah Ma’arif, “ kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu dalam rilis yang diterima Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Di hadapan peserta Rakerwil, Direktur TV9 HA Hakim Jayli mengatakan, pihaknya memiliki visi yang sama dengan PW LP Ma’arif Jatim, yakni memajukan pendidikan NU. “LP Ma’arif NU Jawa Timur adalah lembaga pertama di lingkungan NU yang menjalin kerja sama dengan TV 9,“ katanya.

Haedar Nashir

Dia berharap kerja sama ini dapat saling memberi kontribusi besar bagi kedua belah pihak “LP Ma’arif mempunyai sumber daya yang besar dengan jumlah sekolah atau madarasah yang mencapai hampir 10 ribu sekolah dan TV9 memberikan fasilitas media televisi yang profesional sehingga mampu meningkatkan publikasi yang efektif dan layak jual,” Ujar Hakim. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Kiai, AlaSantri Haedar Nashir

Sabtu, 11 November 2017

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

London, Haedar Nashir. Menteri Muda Luar Negeri AS, Nicholas Burns, Selasa (27/3), mengungkapkan bahwa masih terbuka kemungkinan upaya diplomasi untuk mengatasi ketegangan antara Iran dan komunitas internasional kaitannya dengan program pengayaan uraniumnya.



Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

Kepada harian Financial Times, Burns mengatakan bahwa AS “telah dengan sabar membantu menciptakan koalisi internasional yang besar ini,” mengacu pada keputusan Dewan Keamanan PBB pada Sabtu lalu untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran atas ambisi nuklirnya.

“Saya kira, kita masih punya waktu untuk bekerja,” ungkap Burns kepada harian bisnis tersebut.

Haedar Nashir

Menurutnya, diplomasi akan berhasil jika diimbangi dengan kesabaran dan ketekunan. Karena itu, tambahnya lagi, upaya diplomasi ini masih mungkin untuk dimainkan.

Burns juga mengatakan bahwa saat ini ”Iran secara internasional berada dalam posisi yang tidak menguntungkan,” mengingat lima anggota tetap DK (AS, Inggris, China, Rusia, Perancis) plus Jerman mendesak Iran untuk menghentikan aktivitas uraniumnya yang disinyalir sebagai langkah untuk pembuatan senjata nuklir.

Haedar Nashir

Pihaknya mengatakan bahwa kepemimpinan Iran bukanlah “sebuah rezim yang monolitik,” namun suatu pemerintahan yang didalamnya banyak pihak menginginkan perundingan guna mencari solusi terbaik krisis nuklir Iran. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Khutbah, Humor Islam Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Jakarta, Haedar Nashir. Kementerian Agama RI dan University of Canberra menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dalam realisasi program 5000 Doktor yang tahun ini menjadi tahun kedua program ini berjalan. Penandantanganan dilakukan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dan pihak University of Canberra Australia Frances Shannon di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

Kamaruddin mengungkapkan University of Canberra merupakan salah satu perguruan tinggi di Australia, sedangkan Australia sendiri adalah salah satu negara yang menjadi target untuk mengirim dosen-dosen ke luar negeri. "Seperti sering kami sampaikan di sejumlah kesempatan bahwa program 5000 doktor akan meng-cover 25 persen ke luar negeri di antaranya ke negara di Eropa, Mesir, Arab Saudi, Maroko, Turki, Jepang dan lainnya, dan 75 persen lainnya di universitas dalam negeri. Dan hari ini adalah MoU dengan University of Canberra di negara Australia," ujar Kamaruddin sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)
Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra (Sumber Gambar : Nu Online)

Realisasikan 5000 Doktor, Kemenag Jalin Kerjasama dengan University of Canberra

Menurut Kamaruddin, yang menarik dari MoU ini adalah mereka akan membantu pihaknya mempersiapkan caloh Doktor. "Misalnya, kita mengirim kandiat doktor yang IELTS baru enam, universitas ini menerima, meski standarnya 6.5," ujarnya .

“Mereka (University of Canberra) akan membantu mempersiapkan dan menggembleng lagi bahasa Inggerisnya (calon doktor) tersebut, dan itu sepenuhnya dibiayai oleh pihak universitas. Itu poin atau nilai tambah dari MoU ini,” terang Kamaruddin.

Kamaruddin menambahkan, terdapat beragam program studi yang ditawarkan melalui program 5000 doktor ini, dan tidak semata tentang studi agama, tapi juga studi non agama seperti arsitektur, kedokteran, teknologi informasi dan komunikasi yang bisa dipilih. Diharapkan mereka bisa menyelesaikan studinya sesai target tang ditentukan, 3-4 tahun.?

Haedar Nashir

“Tahun ini kami menyiapkan 250 orang untuk studi di perguruan tinggi luar negeri, dan 750 di perguruan tinggi dalam negeri,” kata Kamaruddin.

Penerima program 5000 Doktor ini adalah mereka yang telah lulus melalui sejumlah tahapan yang dilakukan oleh tim seleksi yang dibentuk Kemenag.? (Red-Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Budaya, Kiai, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

Solo, Haedar Nashir. Forum Silaturrahmi Warga Nahdlatul Ulama Surakarta (Fosminsa) belum lama ini mengadakan pelatihan kefasilitatoran. Hal tersebut diungkapkan salah satu penggerak Fosminsa, Tohar Muhlasin, saat ditemui Haedar Nashir, Jumat (27/9) lalu.

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

“Tujuan pelatihannya agar kader NU bisa memfasilitasi sebuah forum, juga dapat menjadi leading di dalamnya,” kata Tohar.

Para peserta yang mendapatkan pelatihan itu yakni para anggota Banom NU, di antaranya IPNU, IPPNU, Fatayat dan PMII. Pascapelatihan mereka diharapkan dapat memegang sendiri sebuah forum.

Haedar Nashir

Di dalam pelatihan tersebut, Tohar yang juga menjadi pemateri memaparkan teknik untuk menjadi seorang fasilitator yang handal. “Seorang fasilitator, dia harus banyak menggali pertanyaan dan mendata dari forum,” terang Tohar yang juga kader PMII Solo.

Haedar Nashir

Selain diberikan teori, para peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung ilmu yang baru didapatkan. Sebagian dari mereka ditunjuk, maju ke depan untuk belajar memfasilitasi forum.

Salah satu peserta, Habibi, menuturkan mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ketua IPNU Solo itu mengatakan untuk menjadi fasilitator handal mesti banyak jam terbang dan sering dilatih. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, AlaSantri, Kiai Haedar Nashir

Jumat, 27 Oktober 2017

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora

Subang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Subang menuntut pemerintah setempat membentuk Dinas Kepemudaan yang terpisah dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora).

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora

Hal ini disampaikan puluhan massa PMII Subang lewat aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Subang seiring peringatah hari Sumpah Pemuda ke-85, Senin (28/10).

“Kami minta agar Kabupaten Subang mempunyai dinas kepemudaan tersendiri yang sekarang berbaur dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olah Raga. Karena Disbudparpora hari ini tidak becus mengurus kepemudaan,” jelas Ketua PMII Subang Saeful Imron disela-sela unjuk rasa.

Haedar Nashir

Imron mengatakan, peran DPRD yang di dalamnya ada sebuah unit kerja utama yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian, dan kebudayaan itu seharusnya respek dengan kondisi yang ada. “Salah satunya masalah kepemudaan di Kabupaten Subang yang sangat miris kondisinya,” ujarnya.

Sambil meneriakkan yel-yel kecaman terhadap institusi DPRD, PMII menuntut kepada DPRD Subang untuk lebih memperhatikan nasib dan peran pemuda di Kabupaten Subang. “Kami minta agar dilakukan transparansi anggaran untuk OKP, realisasikan UU No 40 tentang kepemudaan dan berdayakan serta buka lapangan pekerjaan untuk para pemuda di Kabupaten Subang,” teriak salah seorang orator PMII, Abdun Nasir.

Haedar Nashir

Plh. Ketua DPRD Subang, Beni Rudiono yang mendatangi para pengunjuk rasa mengatakan apresiasinya kepada PMII Subang yang masih komitmen dalam memperjuangkan cita-cita pemuda di Kabupaten Subang.

“Kami sangat berterima kasih sekali atas kedatangan adik-adik mahasiswa PMII. Tentu ini menjadi cambuk untuk kami agar ke depan peran pemuda benar-benar bisa diperhitungkan untuk kesejahteraan masyarakat. Dan yang menjadi tuntutan itu, pasti akan kami pelajari dulu,” jelas Beny. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Tegal, Kiai Haedar Nashir

Minggu, 15 Oktober 2017

Alissa Wahid Jelaskan Fenomena Fitnah di Sosmed

Jakarta, Haedar Nashir. Belakangan, di media sosial seperti Facebook dan Twitter kerap muncul tuduhan atau fitnah satu orang atau kalangan kepada orang atau golongan yang lain. Tak jarang tuduhan itu mengandung penyesatan menyangkut keimanan seseorang yang belum terbukti kesesatannya.

Alissa Wahid Jelaskan Fenomena Fitnah di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid Jelaskan Fenomena Fitnah di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid Jelaskan Fenomena Fitnah di Sosmed

Menurut Seknas Gusdurian, Alissa Wahid, hal itu menunjukkan gejala banyak hal. Misalnya karena betapa trust (sikap saling percaya) dalam masyarakat kita terkikis habis sehingga mudah saling menuduh dan menghasud sesamanya.

Kedua, kata dia, gejala kesombongan yangg merajalela. “Kesombongan ini muncul dalam bentuk tak cukup ilmu, merasa berilmu, lalu sembarangan mengeluarkan fatwa agama. Ini bahaya,” katanya kepada Haedar Nashir Kamis (17/7).

Haedar Nashir

Ketiga, tambah putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) gejala klaim kebenaran. Menurut Alissa, kalangan tersebut seakan-akan kebenaran hanya milik mereka, sehingga semua yang berbeda boleh dinistakan.

“Semua itu jauh sekali dari semangat prinsip-prinsip ajaran Ahlussunah wal-Jamaah (Aswaja) NU yang biasa menghormati pendapat yang berbeda dilandasi prinsip-prinsip tawasuth, tasamuh tawazzun, dan ta’adul,” tegas lulusan Fakultas Psikologi UGM tahun 1999 ini. (Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kiai Haedar Nashir