Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

PMII Miris Situasi Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merasa miris dengan situasi nasional dewasa ini. Terutama perilaku pemimpin negeri ini mulai eksekutif, legislatif hingga yudikatif; masih jauh dari harapan masyarakat.

PMII Miris Situasi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Miris Situasi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Miris Situasi Nasional

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar PMII, Addin Jauharudin hal itu disebabkan banyak pengelola negeri ini yang tidak memiliki kapasitas, integritas, dan bahkan moralitas.

Hal itu, sambung Addin, menyebabkan masyarakat acuh terhadap partai politik, acuh terhadap hukum, “Menyebabkan konflik sosial masyarakat dan rebutan sumber daya alam.”

Hal itu dikatakan Addin pada pidato peringatan Hari Lahir ke-53 PMII bertema "Harmoni untuk Keutuhan NKRI" bertempat di Graha Mahbub Djunaidi Jl. Salemba Tengah No 57 A, Jakarta Pusat, pada Rabu, (17/4).

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Addin kemudian mengimbau supaya PMII dari Sabang sampai Merauke harus merespon situasi masyarakat setempat. Harus bergerak, berkontribusi untuk bangsa Indonesia.

Ia juga mengingatkan supaya organisasi yang didirikan 17 April 1960 tersebut, jangan mengabaikan dunia akademik. Anggota PMII harus bisa menyelesaikan jenjang S1, S2, dan S3. Mengedepankan kembali kekuatan pemikiran. Dan jangan meninggalkan dunia tulis-menulis.

“Kita harus kembali ke kampus,” katanya.

Kemudian, sambung Addin, PMII harus menyumbangkan ide-ide pemikiran untuk mempertahankan keutuhan Republik Indenesia.

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Kajian Haedar Nashir

Senin, 12 Februari 2018

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

Forum Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada awal Agustus 2015 lalu membahas perihal "Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah" atau Aswaja Perspektif NU pada sidang komisi bahtsul masail diniyah maudhu’iyyah. Materi ini dibahas di masjid utama pesantren Tambakberas Jombang yang dipimpin oleh KH Afifuddin Muhajir. Berikut ini rumusannya.

Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyah

Islam sebagai agama samawi terakhir memiliki banyak ciri khas (khashaish) yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, ta’adul, dan tawazun. Ini adalah beberapa ungkapan yang memiliki arti yang sangat berdekatan atau bahkan sama. Oleh karena itu, tiga ungkapan tersebut bisa disatukan menjadi “wasathiyah”. Watak wasathiyah Islam ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an,

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah;143)

Haedar Nashir

Nabi Muhammad SAW sendiri menafsirkan kata ? dalam firman Allah di atas dengan adil, yang berarti fair dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Perubahan fatwa karena perubahan situasi dan kondisi, dan perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang adalah adil.Selain ayat di atas, ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan watak wasathiyah dalam Islam, misalnya firman Allah:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Dalam firman-Nya yang lain,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’: 110)

Sementara dalam hadits dikatakan,

? ? ?

“Sebaik-baik persoalan adalah sikap-sikap moderat.”

Mirip dengan hadits di atas adalah riwayat,

? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah itu berada di antara yang beku dan yang mendidih.”

Wasathiyyah yang sering diterjemahkan dengan moderasi itu memiliki beberapa pengertian sebagai berikut: Pertama, keadilan di antara dua kezhaliman (? ? ?) atau kebenaran di antara dua kebatilan (? ? ?), seperti wasathiyah antara atheisme dan poletheisme. Islam ada di antara atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan poletheisme yang memercayai adanya banyak Tuhan. Artinya, Islam tidak mengambil paham atheisme dan tidak pula paham poletheisme, melainkan paham monotheisme, yakni paham yang memercayai Tuhan Yang Esa. Begitu juga wasathiyyah antara boros dan kikir yang menunjuk pada pengertian tidak boros dan tidak kikir. Artinya, Islam mengajarkan agar seseorang di dalam memberi nafkah tidak kikir dan tidak pula boros, melainkan ada di antara keduanya, yaitu al-karam dan al-jud. Allah berfirman;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Kedua, pemaduan antara dua hal yang berbeda/berlawanan. Misalnya, (a). wasathiyyah antara rohani dan jasmani yang berarti bahwa Islam bukan hanya memerhatikan aspek rohani saja atau jasmani saja, melainkan memerhatikan keduanya. Wasathiyyah antara nushûs dan maqâshid. Itu berarti Islam tak hanya fokus pada nushûs saja atau maqâshid saja, melainkan memadukan antara keduanya. (b). Islam pun merupakan agama yang menyeimbangkan antara `aql dan naql. Bagi Islam, akal dan wahyu merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting yang sifatnya komplementer (saling mendukung antara satu sama lain). Kalau diibaratkan dengan pengadilan, akal berfungsi sebagai syahid (saksi) sementara wahyu sebagai hakim, atau sebaliknya, yakni akal sebagai hakim sementara wahyu sebagai syahid. (c).  Islam menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara individu dan masyarakat,  antara ilmu dan amal, antara ushul dan furu’, antara sarana (wasilah) dan tujuan (ghayah), antara optimis dan pesimis, dan seterusnya.

Ketiga, realistis (wâqi’iyyah). Islam adalah agama yang realistis, tidak selalu idealistis. Islam memunyai cita-cita tinggi dan semangat yang menggelora untuk mengaplikasikan ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan hukumnya, tapi Islam tidak menutup mata dari realitas kehidupan yang–justru–lebih banyak diwarnai hal-hal yang sangat tidak ideal. Untuk itu, Islam turun ke bumi realitas daripada terus menggantung di langit idealitas yang hampa. Ini tidak berarti bahwa Islam menyerah pada pada realitas yang terjadi, melainkan justru memerhatikan realitas sambil tetap berusaha untuk tercapainya idealitas. Contoh wasathiyyah dalam arti waqi’iyyah ini adalah pemberlakuan hukum ‘azîmah dalam kondisi normal dan hukum rukhshah dalam kondisi dharurat atau hajat.

Watak wasathiyyah dalam Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin dalam semua aspek ajarannya, yaitu akidah, syariah, dan akhlaq/tasawwuf serta dalam manhaj. Dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, watak wasathiyyah tersebut antara lain terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:

1. Melandaskan ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber pokok dan juga kepada sumber-sumber sekunder yang mengacu pada Al-Qur’an dan As-sunnah seperti ijma’ dan qiyas.

2. Menjadikan ijtihad sebagai otoritas dan aktifitas khusus bagi orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang tidak mudah untuk dipenuhi. Sedangkan bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad, tidak ada jalan lain kecuali harus bermazhab dengan mengikuti salah satu dari mazhab-mazhab yang diyakini penisbatannya kepada ashabul madzahib. Namun, Nahdlatul Ulama membuka ruang untuk bermadzhab secara manhaji dalam persoalan-persoalan yang tidak mungkin dipecahkan dengan bermadzhab secara qauli.

Pola bermadzhab dalam NU berlaku dalam semua aspek ajaran Islam; aqidah, syariah/fiqh, dan akhlaq/tasawwuf, seperti dalam rincian berikut: (a). Di bidang syariah/fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu dari madzhab empat, yaitu madzhab Imam Abu Hanifah, Madzhab Imam Malik ibn Anas, madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafii dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (b). Di bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan madzhab Imam Abu Manshur al-Maturidi. (c). Di bidang akhlaq/tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan madzhab Imam Abu Hamid al-Ghazali.

3. Berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an di dalam melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar, yaitu dakwah dengan hikmah/kearifan, mau’izhah hasanah, dan mujadalah bil husna.

4. Sebagai salah satu wujud dari watak wasathiyyah dengan pengertian al-waqi’iyyah (realistis), Nahdlatul Ulama menghukumi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan Pancasila sebagai dasarnya sebagai sebuah negara yang sah menurut pandangan Islam dan tetap berusaha secara terus menerus melakukan perbaikan sehingga menjadi negara adil makmur berketuhanan Yang Maha Esa. 

5. Mengakui keutamaan dan keadilan para shahabat Nabi, mencintai dan menghormati mereka serta menolak dengan keras segala bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka apalagi menuduh mereka kafir.

6. Tidak menganggap siapapun setelah Nabi Muhammad saw sebagai pribadi yang ma’shum (terjaga dari kesalahan dan dosa). 

7. Perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin merupakan salah satu dari fitrah kemanusiaan. Karena itu, menghormati perbedaan pendapat dalam masa`il furu`iyyah-ijtihadiyah adalah keharusan. Nahdhatul Ulama tak perlu melakukan klaim kebenaran dalam masalah ijtihadiyyah tersebut.

8. Menghindari hal-hal yang menimbulkan permusuhan seperti tuduhan kafir kepada sesama muslim, ahlul qiblah.

9. Menjaga ukhuwwah imaniyyah-islamiyyah di kalangan kaum muslimin dan ukhuwwah wathaniyyah terhadap para pemeluk agama-agama lain. Dalam konteks NU, menjaga ukhuwwah nahdliyyah adalah niscaya terutama untuk menjaga persatuan dan kekompakan seluruh warga NU.

10. Menjaga keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani dengan mengembangkan tasawwuf `amali, majelis-majelis dzikir, dan sholawat sebagai sarana taqarrub ilallah di samping mendorong umat Islam agar melakukan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara

Banjarnegara, Haedar Nashir. Banser unit Tanggap Bencana menerjunkan 300 personelnya untuk membantu proses evakuasi pada hari kedua korban tanah longsor di dusun Sijemblung kecamatan Karangkobar kabupaten Banjarnegara. Mereka datang dari Pemalang, Purbalingga, dan Banjarnegara sendiri.

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara

Mereka bersama para relawan lainnya menemukan 31 korban. Salah seorang kader GP Ansor Herry Budhie berada di lokasi menambahkan, "Di hari pertama ditemukan 18 korban, dan dihari kedua berhasil mengevakuasi 21 korban. Sedangkan Banser tanggap bencana yang turun di lokasi berasal dari Pemalang, Purbalingga, Banjarnegara serta Kolodete Rescue."

Mereka bergerak sesuai arahan dan instruksi dari Kadatkornas Banser Alfa Isnaeni. "Banser sebagai bagian dari masyarakat harus ikut terjun membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan, apalagi ini darurat bencana yang ada korban materi dan nyawa, bahkan mencapai hitungan ratusan. Inilah bentuk tugas, fungsi, dan empati dari Banser."

Haedar Nashir

Unit  Bagana menerjunkan diterjunkan tim yang sudah dipersiapkan untuk membantu tugas Basarnas, BNPB, dan BPBD setempat. Mereka bertugas mengevakuasi, membantu dapur umum, bahkan melayani trauma healing bagi korban selamat.

Haedar Nashir

"Tim yang kami bentuk bekerja bersama posko bersama yang dibuat oleh PCNU Banjarnegara, berbagai unsur yang terdiri dari banom mulai dari IPNU-IPPNU, Fatayat, Muslimat, PMII, Ansor Banser, bekerja bahu-membahu," lanjutnya.

Kaur Kesra desa setempat Yadi mengatakan, pihak desa sangat terbantu atas kehadiran keluarga besar NU di lokasi bencana. Semua ini sangat membantu warga termasuk penyiapan sarana air bersih dan dapur umum. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Kajian Haedar Nashir

Rabu, 07 Februari 2018

Aktivis NU Papua Terima Bantuan Motor Dakwah

Jakarta, Haedar Nashir. Komunitas PPM ASWAJA dan Sarkub ? menyalurkan sepeda motor kepada aktivis NU yang bertugas membantu dakwah dan pendidikan Islam di Papua untuk mempermudah jangkauan dakwah hingga ke pelosok, Ahad (20/12). Pasalnya dakwah di perkotaan sangat jauh berbeda dengan dakwah yang dilakukan para da’i di daerah Papua.

Fasilitas ini sangat membantu dan memudahkan dakwah agar bisa lebih luas hingga ke daerah-daerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Penyerahan berlangsung di halaman pesantren Ya Bunaya Yoka Waena Papua. Penyerahan sepeda motor juga dihadiri oleh Ustadz Fiqi selaku Pengurus MUI provinsi Papua.

Aktivis NU Papua Terima Bantuan Motor Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis NU Papua Terima Bantuan Motor Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis NU Papua Terima Bantuan Motor Dakwah

Ustadz Fiqi mengapresiasi kiriman bantuan terhadap aktivis NU Papua.

Haedar Nashir

"Papua adalah satu provinsi yang mana pluralismenya luar biasa, sehingga Papua sangat membutuhkan para dai yang mempunyai jiwa pluralisme juga. Dengan adanya aktivis yang dikirim oleh PPM ASWAJA, Sarkub dan LDNU menjadi satu mata air baru yang bisa menjernihkan dan menyirami tanah Papua ini dengan dakwah yang santun sehingga mampu mengayomi segala macam warna yang ada di Papua," ujar Ustad Fiqi.

Haedar Nashir

Selama ini, menurutnya, para aktivis NU di Papua memiliki sarana dan prasarana yang sangat minim meski semangat aktivis NU ? luar biasa dengan berbagai kegiatan di tanah Papua ini. Dengan adanya motor ini semoga dakwah yang sudah dilaksanakan bisa menjangkau daerah yang belum tersentuh.

Abdul Wahab selaku Kordinator Aktifis NU yang dikirim oleh PPM ASWAJA dan Sarkub berharap adanya motor operasional itu dapat membantu dan meringankan beban aktivis NU dalam menjangkau aktivitas dakwah di daerah Papua.

"Semoga Allah SWT memberikan pertolongan-Nya kepada para dai yang sedang mensyiarkan Islam rahmatal lil alamin ala aqidah ahlussunah wal jamaah," ujar Wahab.

Menurut Abdul, motor itu dibeli dari dana sumbangan para donator yang dikirim oleh PPM ASWAJA. Kami ucapkan kepada segenap donatur yang sudah memberikan bantuan melalui PPM ASWAJA dan Sarkub, semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam segala urusannya, dan semoga menjadi amal saleh para donatur yang dapat memberikan berkah dan manfaat kepada umat," pungkas Abdul Wahab.

Sepeda motor diserahkan langsung kepada Ustadz Yustafat yang hadir mewakili aktivis NU Papua. Sahabat yang ? ingin menyisihkan rezekinya untuk membantu dawah Islam, pendidikan anak dan kegiatan sosial ? kemanusian di Papua bisa menyumbangkannya dalam bentuk buku tulis, pensil, kitab Iqro, kitab tuntunan sholat, Juz Amma, Al-Quran, sarung, peci, baju koko, jilbab, dan lain-lain. Sumbangan bisa dikirimkan langsung ke kordinator Sarkub Papua. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Tokoh Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Tegal, Haedar Nashir.



Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Dra Hj Umi Azizah menjamin Muslimat NU mampu memperkuat ketahanan keluarga. Pasalnya, seluruh anggota yang terlibat mampu membentengi diri dan keluargannya dari virus virus negative perkembangan zaman. Bahkan lewat Muslimat NU, mampu mengantarkan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Demikian disampaikan Umi Azizah dalam perbincangan dengan Haedar Nashir di ruang kerjanya kantor Wakil Bupati Tegal, Kamis (8/12).?

Menurutnya, ketahanan keluarga sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap ketahan negara. Bila keluarga rapuh, maka Negara akan ambruk. Peranan itu, tentu saja sangat bergantung kepada seorang Ibu, Wanita yang merupakan tiang Negara.?

Haedar Nashir

Muslimat NU Tegal, lanjutnya, dalam menjaga ketahanan keluarga melalui berbagai bidang program. Seperti bidang pendidikan, social, ekonomi, lingkungan hingga dakwah. ? Dari bidang bidang tersebut, diarahkan untuk menjaga delapan fungsi keluarga sebagai pusat agama, social, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pelestari lingkungan dan fungsi reproduksi. “Dengan memanfaatkan fungsi fungsi tersebut, akan tercipta keluarga yang berkualitas, berdaya guna dengan hiasan anak yang saleh saleha,” ucapnya.?

Tidak dipungkiri, kata Wakil Bupati Tegal ini, perubahan dunia menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang ibu, termasuk organisasi kewanitaan seperti Muslimat NU. Juga lahirnya gerakan radikalisme dan bahaya narkoba, menjadi pekerjaan rumah tersendiri agar anak-anak kita tidak terpengaruh. “Upaya penguatan sebagai benteng dan filter dari berbagai tantangan tersebut, menjadi fardlu ain bagi Muslimat NU,” tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, program yang dijalankan Muslimat pun selalu berpihak pada kepedulian kebutuhan Nahdliyin. Diantaranya, menggelar kursus pra nikah untuk memberi pencerahan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi. Apalagi trend pernikahan dini tidak bisa dibendung. Padahal, pernikahan dini rentan dengan peningkatan Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR), Angka Kematian Anak (AKA), Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI).

Muslimat juga membantu keluarga tak jelas, dengan menggelar sidang terpadu itsbat nikah. Atau menetapkan Akad Nikah yang telah dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam (Hukum Munakahah) akibat poligami misalnya, agar tercatat dalam Register Nikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang berwenang. “Dengan demikian, hak-hak anak akan terpenuhi. Muslimat NU juga membantu percepatan pembuatan akte kelahiran yang ditangani PAC,” ujarnya.

Selain itu, Umi gembira karena Muslimat lebih intensif dalam menyelenggarakan pengajian. Istilah Tegalnya, laka dina gabuk (tiada ada hari kosong) dalam hal pengajian. PC pun menyelenggarakan Pengajian keliling ke 19 PAC. Yang paling menggembirakan se Kabupaten Tegal ada 987 majelis taklim.

Haedar Nashir

Program lain, pelatihan ketrampilan hasil usaha kreatif. Dari kelompok usaha terbentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga mencapai 319 Kube di seluruh ranting se Kabupaten Tegal. “Koperasi Anisa Muslimat, turut membantu pemasaran dan penyertaan modalnya juga,” terang ibu dari 6 anak ini,?

Di bidang social, masih kata Umi, Muslimat NU Tegal menangani Pendidikan Anak Usia Dini, Tercatat ada 97 Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU, 67 Kelompok Bermainn (KB), dan 39 Raudlatul Athfal (RA) serta 548 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).?

Karya Muslimat NU berupa Metode Asyifa telah direkomendasikan oleh Yayasan pendidikan Muslimat NU (YPM NU) pusat, untuk dijadikan bahan pembelajaran resmi di TPQ TPQ seluruh Indonesia. “Metode Asyifa telah digunakan di Tegal sejak Juni 2002 dan tahun 2016 baru direkomendasikan untuk digunakan di berbagai TPQ seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.?

Untuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) telah mendirikan Darul Yatama dengan ratusan anak yatim piatu yang diasuh. Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) juga terus berkembang. Pada musim haji 2016, KBIH YHM NU memberangkatkan 160 jamaah haji. Sedangkan untuk tahun 2017, sudah masuk 137 calhaj yang tergabung ke KBIH YHM NU. Tapi biasanya, akan terus bertambah jumlah calhaj yang tergabung ketika mendekati manasik,” tuturnya.?

Kepada para ibu-ibu muda maupun sepuh, Umi mengajak untuk tidak jemu-jemu berorganisasi di Muslimat ataupun Fatayat. Karena nilai faedahnya lebih besar jika dibandingkan dengan mudlaratnya. “Yang penting tidak melupakan pendidikan anak-anaknya dan selalu menjadi pendamping suami setia,” pungkasnya. (wasdiun).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Humor Islam Haedar Nashir

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Haedar Nashir. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Haedar Nashir

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Haedar Nashir

“Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,” katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Kajian Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir ? ? setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’  ? ? ? ?.

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ?: ? ?. ? ? - ? ? ? ? -. ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ?. … ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Sebab kesunahan ucapan ? ? ? ? ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.

Haedar Nashir

Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.

Haedar Nashir

Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan ? ? ? ? . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.

Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”

***

Dari kisah di atas bisa dipahami bahwa kesunahan tasmi’ saat bangun dari ruku‘ merupakan jawaban atas pujian yang disampaikan oleh Sahabat Abu Bakar RA karena ia masih tetap bisa menjaga keistiqamahan shalat berjama’ah bersama Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Kajian Haedar Nashir

Sabtu, 20 Januari 2018

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F

Pada suatu kesempatan, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, pimpinan majelis shalawat Ahbaabul Musthofa, pernah berpesan kepada para jamaahnya untuk selalu membentengi diri dan keluarga dengan cara memperdalam pemahaman tentang agama Islam. Ia juga mengingatkan agar kita semua mewaspadai 5F yang merupakan propaganda dari para musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam secara perlahan.

F yang pertama adalah Food. Makanan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh setiap manusia, karena di situlah terdapat sumber energi untuk menjalankan berbagai aktivitas. Seiring semakin majunya perkembangan zaman, kini makanan dari berbagai negara bisa kita dapatkan relatif mudah di berbagai tempat di Indonesia. Mulai dari yang dijual di restoran, mall, cafe dan sebagainya. Bahan pembuatan makanan tersebut juga bervariasi, ada yang berasal dari bahan yang halal maupun haram. Kita harus pandai dalam memilih makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Karena setiap daging yang tumbuh di tubuh kita setelah memakan makanan haram akan ditempatkan di dalam neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Habib Syech tentang Mewaspadai 5F

F yang kedua adalah Film. Sudah kita ketahui bersama bahwa bangsa Barat merupakan bangsa yang maju di dunia perfilman. Produktivitas mereka dalam menghasilkan film patut diacungi jempol. Film-film produksi mereka pun selalu laris di pasaran dan menghasilkan omzet yang fantastis. Hal-hal yang perlu kita waspadai adalah unsur pornografi dan kekerasan yang seringkali menghiasi film-film tersebut. Karena hal-hal tersebut dapat memicu kita untuk melakukan tindakan serupa di kemudian hari. Padahal di dalam Islam kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi pornografi dan kekerasan.

F yang ketiga adalah Fashion. Saat ini fashion sudah menjadi gaya hidup terutama bagi kaum hawa. Kebanyakan para wanita selalu mengikuti tren model pakaian terbaru karena ingin tampil menarik di muka umum. Namun seringkali wanita-wanita tersebut tidak memikirkan apakah yang mereka kenakan sudah sesuai syariat Islam atau belum. Pakaian yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat, kini beralih fungsi sebagai pembungkus aurat. Mereka berpakaian namun seolah-olah telanjang, sehingga menimbulkan syahwat bagi laki-laki yang memandangnya. Seharusnya mereka sadar bahwa itu adalah salah satu pemicu utama maraknya tindakan pemerkosaan akhir-akhir ini.

Haedar Nashir

F yang keempat adalah Football. Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari oleh masyarakat di negara manapun. Sepakbola dapat menjadi sarana yang dapat menyatukan semua lapisan masyarakat, tak peduli suku, agama, status sosial dan jenis kelamin. Di dalam sepakbola sudah menjadi kewajaran bahwa ada banyak bintang lapangan hijau yang di idolakan oleh para penggemarnya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita terlalu berlebihan (ghuluw) dalam mengidolakan tokoh tersebut melebihi rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW. Padahal Allah SWT sudah menegaskan bahwa di dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri tauladan yang baik dan harus di teladani oleh setiap umat Islam di manapun mereka berada. F yang kelima adalah Freesex. Bagi bangsa Barat, freesex bukanlah hal yang tabu. Mereka menganggap hal tersebut sebagai sebuah kewajaran. Di dalam Islam, freesex merupakan sebuah dosa besar karena menimbulkan madhorot yang sangat besar. Freesex dapat menghancurkan moral sebuah bangsa dan dapat menjerumuskan seseorang kedalam lembah kenistaan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari pedihnya siksaan dan panas api neraka, serta senantiasa menjaga umat Islam Indonesia dari berbagai marabahaya dan fitnah akhir jaman. Wallahu a’lam bisshowab.

Haedar Nashir

?

Muhammad Dliyauddin

BPH KMNU Regional 2

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Daerah, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Jombang, Haedar Nashir. Asrama Al-Hambra pesantren Darul ‘Ulum Jombang di bawah asuhan Gus Binhad Nurrohmat dan Hj Ma’murotus Sa’diyah yang juga rektor Universitas Darul ‘Ulum Jombang) mengadakan Pelatihan Membaca Kitab Kuning Kilat.

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Ditemui Haedar Nashir, Gus Binhad Nurrohmat menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah agar belajar para santri lebih meningkat.

“Tujuan pelatihan ini adalah memperkenalkan metode pembelajaran tata bahasa Arab yang berbeda agar santri lebih antusias belajar bahasa Arab. Ini penting dilakukan agar santri lebih semangat dan makin mumpuni berbahasa Arab dan bisa mengakses isi kitab-kitab langsung melalui bahasa aslinya,” ujarnya.

Haedar Nashir

Pelatihan yang terus berlanjut selama beberapa sesi  ini dipandu pengasuh pesantren Darul ‘Ulum Karangpandan Pasuruan Gus Haidar Hafidz. Gus Haidar yang juga pengurus Lesbumi Pasuruan menamai metodenya “Ar-Rumuz”.

“Para santri jangan takut membaca kitab. Caranya langsung baca kitab mukhtashar jiddan, kosongan,” ujarnya dalam pelatihan di Pendopo Thoriqoh, Sabtu (22/3) malam.

Haedar Nashir

Menurutnya, kunci membaca kitab itu dua, ketepatan i’rab dan bina’. Santri tak perlu menghafal. Cukup menulis dan membaca secara terus menerus diagram sistematika i’rab dan bina.

Gus Haidar mengatakan, cukup tiga hingga lima pertemuan para santri sudah mahir membaca kitab dasar semacam mukhtashar jiddan. “Pokoknya santri harus berani belajar membaca. Jangan disalahkan. Kita pandu. Biarkan santri mencari sendiri pemahamannya, dan ini membutuhkan kamus semacam Al-Munawwir.”

Di setiap selesai pemahaman metode, para santri diminta menghadiahi fatihah kepada masyayikh. “Agar ada yang mendampingi secara spiritual,” ujar Gus Haidar serius.

Fitrah, seorang santri ketika ditanya kesan pelatihan ini menyampaikan, “Saya senang dengan pelatihan ini. Saya bisa lebih mudah membaca dan mengartikan  kitab. Lebih percaya diri.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Kajian Haedar Nashir

Menjadi Pengajak yang Bijak

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? :? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Pengajak yang Bijak

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Haedar Nashir

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang dua orang bersaudara dari kalangan? Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras: yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

Haedar Nashir

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran? pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa taala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Cerita tersebut mengungkapkan fakta yang menarik dan beberapa pelajaran bagi kita semua. Ahli ibadah yang sering kita asosiasikan sebagai ahli surga ternyata kasus dalam hadits itu justru sebaliknya. Sementara hamba lain yang terlihat sering melakukan dosa justru mendapat kenikmatan surga.

Mengapa bisa demikian? Karena nasib kehidupan akhirat sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Manusia tak memiliki kewenangan sama sekali untuk memvonis orang atau kelompok lain sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, dilaknat atau dirahmati. Tak ada alat ukur apa pun yang sanggup mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti.

Jika diamati, ahli ibadah dalam kisah hadits di atas terjerumus ke jurang neraka lantaran melakukan sejumlah kesalahan. Pertama, ia lancang mengambil hak Allah dengan menghakimi bahwa saudaranya “tak mendapat ampunan Allah dan tidak akan masuk surga”. Mungkin ia berangkat dari niat baik, yakni hasrat memperbaiki perilaku saudaranya yang sering berbuat dosa. Namun ia ceroboh dengan bersikap selayak Tuhan: menuding orang lain salah sembari memastikan balasan negatif yang bakal diterimanya.

Dalam konteks etika dakwah, si ahli ibadah sedang melakukan perbuatan di luar batas wewenangnya sebagai pengajak. Ia tak hanya menjadi dâ‘i (tukang ajak) tapi sekaligus hâkim (tukang vonis).? Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik, dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (An-Nahl [16]: 125)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Al-Kahfi [18]: 29)

?

Ayat ini tak hanya berpesan tentang keharusan seseorang untuk berdakwah secara arif dan santun melainkan menegaskan pula bahwa tugas seseorang hamba kepada hamba lainnya adalah sebatas mengajak atau menyampaikan. Mengajak tak sama dengan mendesak, mengajak juga bukan melarang atau menyuruh. Mengajak adalah meminta orang lain mengikuti kebaikan atau kebenaran yang kita yakini, dengan cara memotivasi, mempersuasi, sembari menunjukkan alasan-alasan yang meyakinkan. Urusan apakah ajakan itu diikuti atau tidak, kita serahkan kepada Allah subhânahu wa ta‘âlâ (tawakal).

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Kesalahan kedua yang dilakukan ahli ibadah dalam kisah tersebut adalah ia terlena terhadap prestasi ibadah yang ia raih. Hal itu dibuktikan dengan kesibukannya untuk mengawasi dan menilai perilaku orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, sikap macam ini dapat membawa seseorang pada salah satu akhlak tercela bernama tajassus, yakni gemar mencari-cari keburukan orang lain. Apalagi, bila orang yang menjadi sasaran belum tentu benar-benar berbuat salah. Seringkali lataran kesalahmahaman dan perkara teknis, sebuah perbuatan secara sekilas pandang tampak salah padahal tidak. Di sinilah pentingnya tabayun (klarifikasi) dalam ajaran Islam.

Tentu saja memperbanyak ibadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi ujub (bangga diri). Ujub merupakan penyakit hati yang cukup kronis. Ia bersembunyi di balik kelebihan-kelebihan diri kemudian pelan-pelan mengotorinya. Bisa saja seseorang selamat dari perbuatan dosa tapi ia kemudian terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam, yakni ujub. Mesti diingat, menghindari perbuatan dosa memang hal yang amat penting, tapi yang lebih penting lagi bagi seseorang yang terbebas dari dosa adalah menghindari sifat bangga diri. Sebuah maqalah bijak berujar, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Watak buruk dari kelanjutan sifat ujub biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Dakwah berasal dari lafadh da‘â-yad‘û yang secara bahasa semakna dengan an-nidâ’ dan ath-thalab. An-nidâ’ berarti memanggil, menyeru, mengajak; sementara ath-thalab dapat diterjemahkan dengan meminta atau mencari. Istilah dakwah bisa didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru kepada iman kepada Allah dan segenap syariat yang dibawa Rasulullah serta nilai-nilai positif lainnya.

Dakwah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi (‘anil) munkar. Umat Islam diperintah untuk menyebarkan pesan kebaikan (ma’ruf) dan tak boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran.? Hanya saja, dalam praktiknya semua dijalankan dalam koridor yang bijaksana, sehingga usaha amar ma’ruf terealisasi dengan baik dan pencegahan kemungkaran pun tak menimbulkan kemungkaran baru lantaran tidak dijalankan dengan cara-cara yang mungkar.

Karena itu, kita mengenal dalam proses dakwah dua hal, yaitu isi dakwah dan cara dakwah. Terkait isi, dakwah memiliki lingkup yang sangat luas, dari persoalan akidah, ibadah hingga akhlak keseharian seperti ajakan untuk tidak menggunjing dan membuang sampah sembarangan. Dakwah memang bukan monopoli tugas seorang dai, siapa pun bisa menjadi pengajak, namun dakwah menekankan pelakunya memiliki bekal ilmu yang cukup tentang hal-hal yang ingin ia serukan. Hal ini penting agar dakwah tak hanya meyakinkan tapi juga tidak sepotong-sepotong.

Yang tak kalah penting adalah cara. Betapa banyak hal-hal positif di dunia ini gagal menular karena disebarluaskan dengan cara-cara yang keliru. Begitu pula dengan dakwah. Dalam hal ini kita bisa berkaca kepada Rasulullah. Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun beliau sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan? Kunci dari kesuksesan revolusi peradaban itu adalah da‘wah bil hikmah, seruan yang digaungkan dengan cara-cara bijaksana. Akhlak Nabi lebih menonjol ketimbang ceramah-ceramahnya. Beliau tak hanya memerintah tapi juga meneladankan. Rasulullah juga pribadi yang egaliter, memahami psikologi orang lain, menghargai proses, membela orang-orang terzalimi, dan tentu saja berperangai ramah dan welas asih.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah,

Khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian bahwa ada rambu-rambu dakwah yang perlu diingat, yakni jangan membenci dan merendahkan orang lain, apalagi mencaci maki dan memojokkannya. Karena jika hal itu kita lakukan maka keluarlah kita dari motivasi dakwah sesungguhnya. Dakwah berangkat dari niat baik, untuk tujuan yang baik, dan semestinya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Itulah makna sejati dakwah. Bila ada pendakwah gemar menjelek-jelekan orang atau golongan lain, mungkin perlu diingatkan lagi tentang bahasa Arab dasar bahwa dawah artinya mengajak bukan mengejek. Sehingga, dakwah mestinya ramah bukan marah, merangkul bukan memukul.

Yang paling mengerikan tentu saja adalah dakwah dikuasai amarah dan hawa nafsu sehingga menimbulkan pemaksaan dan aksi-aksi kekerasan, hanya kerena menganggap orang lain sebagai musyrik, musuh Allah, dan karenanya harus diperangi. Jika sudah sampai pada level ini, pendakwah tak hanya sudah melenceng jauh dari esensi dakwah, tapi juga pantas menjadi sasaran dakwah itu sendiri. Al-Quran sudah sangat benderang menegaskan bahwa tak ada paksaan dalam agama, dan oleh sebab itu menggunakan pendekatan kekerasan sama dengan mencampakkan pesan ayat suci.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " . ? : ? ? ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : " ? ? "

Dari Hudzaifah radliyallâhu ‘anh, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an sampai terlihat kegembiraannya dan menjadi benteng bagi Islam, kemudian ia mencampakkannya dan membuangnya ke belakang punggung, membawa pedang kepada tetangganya dan menuduhnya syirik.” Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi, siapakah yang lebih pantas disifati syirik, yang menuduh atau yang dituduh?” Rasulullah menjawab: “Yang menuduh.” (HR Ibnu Hibban)

Na’ûdzubillâhi mindzâlik. Semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan buruk baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Tekun dalam beribadah kemudian mengajak sesamanya untuk melakukan hal yang serupa merupakan sesuatu yang dipuji dalam agama. Hanya saja, dakwah atau mengajak memiliki batasan-batasan. Setidaknya ada dua tips yang bisa dipegang agar seseorang tak melampaui batasan tugas sebagai seorang pengajak. Pertama, muhâsabah (introspeksi). Meneliti aib orang yang paling bagus adalah dimulai dari diri sendiri. Muhasabah akan mengantarkan kita pada prioritas perbaikan kualitas diri sendiri, yang secara otomatis akan membawa pengaruh pada perbaikan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ashlih nafsaka yashluh lakan nâs. Perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu.”

Kedua, tawâdlu‘ (rendah hati). Sikap ini tidak sulit tapi memang sangat berat. Rendah hati berbeda dari rendah diri. Tawaduk adalah kemenangan jiwa dari keinginan ego yang senantiasa merasa unggul: merasa paling benar, paling pintar, paling saleh, dan seterusnya—yang ujungnya meremehkan orang lain. Tawaduk membuahkan sikap menghargai orang lain, sabar, dan menghormati proses. Dalam perjalanan dakwah, tawaduk terbukti lebih menyedot banyak simpati dan menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah seruan kebaikan. Fakta ini bisa kita lihat secara jelas dalam perjuangan Nabi dan pendakwah generasi terdahulu yang tercatat sejarah hingga kini. Wallâhu a‘lam bish-shwâb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Mahbib Khoiron

*) Teks khutbah ini pernah diikutsertakan pada Sayembara Khutbah Damai yang digelar PeaceGeneration Indonesia, Gerakan Islam Cinta, Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Bandung, Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia (FSUII), Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), Penerbit Salam Books, dan MasterPeace Writing Labs

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Haedar Nashir

Kamis, 18 Januari 2018

Warga NU Hadapi Konflik SDA di Berbagai Daerah

Jakarta, Haedar Nashir. Warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) dihadapkan pada konflik-konflik sumber daya alam di berbagai daerah. Mislanya di Banyuwangi, Rembang, Pati, Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, dan Lampung dan daerah-daerah lain.

“Konflik-konflik ini akan menguras energi NU,” kata Ketua PBNU Imam Azis pada diskusi Membaca Konflik di Indonesia dan Dunia yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama di Hotel Milenium Kebon Sirih, Jakarta Kamis (28/8).

Warga NU Hadapi Konflik SDA di Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Hadapi Konflik SDA di Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Hadapi Konflik SDA di Berbagai Daerah

Menurut Imam Azis, warga NU di Kulonprogo memiliki tanah yang luas dan menghasilkan buah-buahan yang bagus. Tapi karena di dalamnya mengandung pasir besi, mereka harus berhadapan dengan perusahaan tambang Australia yang diberikan izin pemerintah tanpa melibatkan mereka. ?

Di Kebumen, masyarakat nahdliyin di Urutsewu harus berhadapan dengan militer, di Lampung harus berhadapan dengan perusahaan tambang dari Thailand, di Pati dan Rembang berhadapan dengan PT Semen Indonesia.

Haedar Nashir

Imam Aziz menyebut pola-pola yang terjadi di lapangan adalah berhadapannya tiga pihak, yaitu pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat. Pemerintah dalam hal ini sangat mudah memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan tambang.

Haedar Nashir

“Tanpa pemberitahuan, tanpa tahu prosesnya, rakyat tiba-tiba tahu ada alat-alat berat di sekitar mereka. Mau tidak mau masyarakat melakukan perlawanan tanpa tahu juntrungannya,” keluhnya.

Pola kedua, menurut Imam Azis perusahaan? melakukan manipulasi Analisi dampak lingkungan (Amdal). Dalam hal ini Imam Aziz menyebut kongkalikong antara pemerintah daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan perusahaan. Berdasar pengalaman, masyarakat selalu dikalahkan.

“Roadmap pemerintahan yang akan datang, jika hasil tambang dijadikan pemasukan utama negara, otaknya pertumbuhan ekonomi, rakyat akan menjadi tumbal,” tegasnya. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax Haedar Nashir

Sabtu, 13 Januari 2018

Perkuat Aqidah, GP Ansor Dawe Wadahi Alumni Pesantren

Kudus, Haedar Nashir - Bertujuan memperkuat aqidah dan ideologi Ahlussunah wal Jamaah dan Pancasila, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus gandeng alumni pondok pesantren. Program ini merupakan tindak lanjut adanya usulan dari Rijalul Ansor untuk memperkuat benteng ideologi di masyarakat.

Ketua GP Ansor Dawe Mohammad Sahlan menyatakan pentingnya pembuatan wadah bagi para lulusan pondok pesantren. Menurutnya, para lulusan pondok pesantren merupakan aset yang harus diberi lahan dakwah untuk mengamalkan ilmunya.

Perkuat Aqidah, GP Ansor Dawe Wadahi Alumni Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Aqidah, GP Ansor Dawe Wadahi Alumni Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Aqidah, GP Ansor Dawe Wadahi Alumni Pesantren

"Wadah berupa lahan dakwah ini sangat penting bagi alumni pondok supaya mereka tidak digaet dan dimanfaatkan oleh golongan di luar kita yang melenceng dari aqidah Aswaja," katanya di Cendono Dawe, Kudus, Senin (8/5).

Haedar Nashir

Sahlan menambahkan, aktualisasi diri oleh lulusan pondok pesantren itu perlu mendapat arahan dan perhatian sebaik mungkin. Sebab, biasanya lulusan baru belum begitu bisa beradaptasi kembali dengan kampung asalnya. Jika dibiarkan, bisa jadi akan dimanfaatkan oleh golongan radikalis untuk bertindak sewenang-wenang.

Maka dari itu, mereka akan dibina kembali dan didekatkan dengan masyarakat melalui langkah awal membentuk halaqah. Dalam halaqah para generasi fasih agama itu akan diberi pengarahan tentang strategi dakwah dengan tetap berlandaskan pada Aswaja dan cinta tanah air.

"Nanti kita kumpulkan alumni-alumni itu dalam suatu halaqah yang berisi doktrin dan penyadaran pentingnya NU dan Aswaja serta pendekatannya kepada masyarakat," bebernya.

Haedar Nashir

Pembentukan wadah ini sesungguhnya juga didasari dengan semangat untuk menguasai masjid dan mushala sebagai pusat keagamaan masyarakat. Dengan itu diharapkan bisa menjadi benteng kokoh bagi masyarakat agar tidak dimasuki ideologi dan paham yang menyimpang.

"Ini merupakan langkah efektif untuk memperkuat semangat Aswaja dan Ke-NU-an dalam diri masyarakat," tambahnya.

Ketua Rijalul Ansor Kecamatan Dawe Saifuddin menjelaskan, latar belakang dibentuknya wadah ini adalah menjamurnya para jahula (pendakwah yang berpindah dari masjid ke masjid). Tanpa pendampingan dari ahlinya masyarakat awam akan mudah sekali tertipu dengan paham dan penampilan pakaian mereka.

"Fenomena jahula semacam itu harus menjadi fokus kita agar masyarakat tidak bingung dan terjerumus ke dalam ideologi yang melenceng.”

Lulusan pesantren dianggap mempunyai keahlian dalam ibadah, Aswaja, dan lain sebagainya. Saifuddin juga meminta kepada para pengurus ranting untuk mencatat siapa saja lulusan pondok pesantren yang bisa digandeng. (M Farid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Kudus, Haedar Nashir. Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari menghadiri acara festival? teater Pelajar 2015 di Gor Bulutangkis Djarum Kaliputu Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/11). Dalam acara itu, Inayah didaulat menjadi? juri final festival yang diselenggarakan Teater Djarum selama dua hari Sabtu-Ahad (21-22/11).

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Saat ditemui Haedar Nashir, Inayah mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kegiatan teater di lingkungan pelajar. Menurutnya, teater adalah kegiatan bagus yang mengajarkan toleransi, empati, memberikan penghormatan, dan penghargaan kepada orang lain.

?

"Teater sebagai media bagus sekali untuk mengampanyekan toleransi, kita tidak main hakim sendiri dan akan bisa menghargai sesama," ujarnya.

Haedar Nashir

?

Dikatakan, Indonesia sangat membutuhkan generasi masa depan yang memahami akan toleransi. Dengan bermain teater, meraka akan memainkan peran tokoh-tokoh? di luar komunitasnya? yang ketika sampai pada titik puncaknya akan memahami toleransi dengan baik.

Haedar Nashir

?

"Dalam konteks kekinian toleransi menjadi urgen dan harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Salah satu media bagus ya teater. Karena kalau sudah main teater, kita tidak akan mempertanyakan latar belakang,? semua akan kerja sama," tandas putri Gus Dur yang biasa disapa Inayah Wahid ini.

?

Ia menuturkan dirinya sangat merasakan manfaatnya aktif di dunia teater pada waktu masih sekolah Menengah Atas (SMA). Ditegaskan, teater mampu menjadi sarana penyaluran ekspresi dan kreasi bagi pelajar.

?

"Melalui teater, anak-anak punya penyaluran yang positif. Mereka pulang sekolah tidak berbuat aneh-aneh, langsung bermain teater," imbuhnya.

Selain menjadi juri, Inayah Wahid juga menjadi pemateri Workshop teater yang menjadi rangkaian acara Fesetival tersebut. Siang harinya, Inayah dijadwalkan bertemu dengan kader-kader NU dalam acara silaturahim di aula Kantor NU Jalan Pramuka Nomor 20 Kudus.

?

Sementara itu,? final festival teater Pelajar ini, menampilkan 3 kelompok teater tingkat SMP diantaranya, Teater satu atap SMP 3 Kudus, Teater Temperatur SMP 1 Mejobo dan Teater PR Mts NU Nahdlatul Athfal. Sedangkan tingkat SMA, 7 kelompok teater yang lolos di final adalah Teater Stif MANU Ibtidaul Falah Dawe, Teater X-Miffa SMKNU Miftahul Falah Dawe, Teater Patas SMA I Bae, Teater Kahanan SMA 1 Mejobo, Studi One SMA ! Kudus, Teater Ganesha SMA 2 Kudus dan teater Apotek SMK Duta Karya Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, RMI NU, Habib Haedar Nashir

Jumat, 05 Januari 2018

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah?

Meski sudah menjadi diamalkan secara nasional, bahkan oleh banyak jamaah di berbagai negara, banyak orang yang belum tahu asal muasal Istighotsah? Siapa penyusunnya?

Sebagian orang yang mengatakan, bahwa pengarang istighotsah itu adalah Kiai Kholil Bangkalan, ada juga yang mengatakan Kiai Hasyim Aysari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Ahmad Shiddiq, dan lain sebagainya. Padahal mereka sendiri yang mengatakan seperti  itu sebenarnya juga dari "katanya".

Ditinjau dari segi etimologi, kata "Istighotsah" ( إستغاثة  ) adalah bentuk mashdar dari Fiil Madli Istaghotsa ( إستغاث ) yang berarti mohon pertolongan. Adapun bila ditinjau dari segi Terminologi, Istigotsah ialah beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT. Atas beberapa masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi.

Istighotsah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin barupada tahun 1990-an. Di Jawa Timur, ulama yang ikut mempopulerkan istighotsah adalah almarhum KH Imron Hamzah (Rais Syuriyah PWNU Jatim). Namun di kalangan murid Thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, Isighotsah ini sudah lama dikenal dan diamalkan.

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapa Penyusun Bacaan Istioghotsah?

Istighotsah yang banyak diamalkan oleh kaum Nahdliyyin ini disusun oleh al-Allamah KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau ”Al-Istighotsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah" (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya al-Allamah al-Mursyid Dr. K H. Mustain Romli.

KH. Muhammad Romly Tamim lahir pada tahun 1888 H di Bangkalan Madura. Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya KH Tamim Irsyad ke Jombang.

KH Muhammad Romly Tamim, adalah seorang kiai yang sangat alim, sabar, sakhiy, wara, faqih, seorang sufi murni, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pengasuh Pondok Pesantren DarulUlum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Haedar Nashir

Di antara murid-muridnya yang terkenal dan menjadi kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), KH. Imron Hamzah (Sidoarjo). Para murid beliau juga yang mengamalkan dan menyebarkan amalan istighotsah bersama para jamaah masing-masing.

Haedar Nashir

KH. Muhammad Romly Tamim, disamping seorang mursyid dan membimbing banyak murid, juga kreatif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangannya ialah: Al-Istighotsah bi Hadrati Rabbil-Bariyyah, Tsamratul Fikriyah, Risalatul Waqiah, Risalatush Shalawat an-Nariyah. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H. atau tanggal 6 April 1958 M. (Ishomuddin Ma’shum - dosen Univ Darul ’Ulum Jombang / Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Ulama, Kajian Haedar Nashir

Minggu, 31 Desember 2017

Jejak Gus Dur di Pulau Flores

Oleh Didik Fitrianto. Mantan presiden Indonesia yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Flores selain Bung Karno adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sikap Gus Dur yang selalu menyerukan perdamaian dan toleransi mempunyai kesamaan dengan nafas orang Flores yang sangat mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Bagi masyarakat Flores Gus Dur bukanlah sekadar mantan presiden tetapi juga tokoh yang menjadi panutan dan referensi soal kehidupan beragama yang belum tergantikan sampai saat ini, terutama pembelaan beliau terhadap kaum minoritas dan tertindas

Jejak Gus Dur di Pulau Flores (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Gus Dur di Pulau Flores (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Gus Dur di Pulau Flores

Tidak banyak catatan mengenai perjalanan Gus Dur di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tetapi ‘jejak’ Gus Dur tentang konsistensinya akan perdamaian, toleransi, dan pembelaannya terhadap kaum minoritas begitu ‘membekas’ di hati saudara-saudara kita di Pulau Flores. Dalam kunjungan penulis di berbagai pelosok Flores saat mendiskusikan tentang perdamaian dan toleransi antar umat beragama dengan berbagai lapisan masyarakat, nama Gus Dur selalu disebut-sebut. Perbendaraan kata yang selalu muncul saat nama Gus Dur disebut adalah tokoh sederhana, tulus dan pemberani. Ketika penulis bertanya mengapa Gus Dur? Jawab mereka karena Gus Dur adalah tokoh muslim yang selalu membawa kedamaian, sepanjang hidupnya baik melalui perkataan, tindakan, maupun? kebijakannya saat menjadi presiden beliau tidak pernah menyakiti kami.

Pada tahun 2005 Gus Dur pernah mengunjungi kota Maumere, salah satu kota di Flores, di kota yang mempunyai julukan nyiur melambai ini Gus Dur melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, sekolah calon Pastor terkemuka dan disegani di Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Gus Dur bertemu untuk berdialog dengan para calon Pastor yang kelak akan ikut andil merawat kebhinekaan di republik ini, Gus Dur percaya membangun toleransi di Indonesia yang penuh keberagaman salah satunya dengan jalan dialog yang tulus. Gus Dur meyakini toleransi tidak akan terwujud apabila kecurigaan selalu ada diantara umat beragama, untuk itu membangun kepercayaan dan dialog tanpa henti selalu disuarakan Gus Dur dimanapun beliau berada.

Haedar Nashir

Mencari jejak Gus Dur berupa prasasti maupun monumen tidak akan kita temukan di Pulau Flores. Tetapi akan banyak kita temukan “jejak” Gus Dur di hati dan ingatan masyarakat Flores untuk mengenang sosok yang sangat mencintai perdamaian ini. Pribadi? Gus Dur yang sederhana, terbuka dan tanpa basa-basi membuat ketokohan Gus Dur selalu dikenang, dicintai dan dihormati. Toleransi di Pulau Flores harus kita akui sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Gus Dur lahir, tetapi apa yang dilakukan beliau untuk mewujudkan kehidupan beragama yang saling menyanyangi dan melindungi memperkuat keyakinan masyarakat di Pulau Flores bahwa toleransi adalah budaya agung yang mereka miliki yang harus dipertahankan sampai kapan pun.

Haedar Nashir

Tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan di Indonesia menurut Gus Dur bisa terwujud apabila fondasi dalam kehidupan bermasyarakat kokoh. Salah satu fondasi yang menjadi perhatian Gus Dur adalah Pluralisme dan kebhinekaan. Gus Dur menyadari Indonesia dibangun diatas keanekaragaman agama, suku dan bahasa. Untuk itu sepanjang hidupnya beliau mendedikasikan waktunya untuk merawat dan menjaganya demi keutuhan bangsa. Walaupun terkadang apa yang dilakukan Gus Dur tersebut menuai kecaman dan penolakan dari sebagian umat Islam sendiri yang menganggap apa yang dilakukan beliau bertentangan dengan ajaran Islam. “Gitu aja kok repot” kata Gus Dur untuk menanggapi serangan dari orang-orang yang dangkal dalam berpikir. Bagi Gus Dur ada dua acuan untuk mengawal pluralisme dan kebhinekaan, yaitu konstitusi dan subtansi nilai-nilai keislaman luhur. Yaitu Islam yang berorientasi pada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Di Pulau Flores Gus Dur mendapatkan realitas kehidupan masyarakatnya yang menunjukkan nilai-nilai Islami walaupun mayoritas adalah non muslim. “Ra’aitul Islama dunal muslimin, wa ra’aitul muslimin dunal islam” yang artinya, “Nilai-nilai Islami terlihat di tengah masyarakat nonmuslim, sementara umat Islam hidup tanpa nilai-nilai Islam” pernyataan cendikiawan? muslim Muhammad Abduh tersebut menjadi relevan dengan apa yang dirasakan Gus Dur di Pulau Flores.

Mungkin agak berlebihan tetapi pengalaman penulis selama lima tahun berinteraksi dengan masyarakat Flores merasakan hal sama di mana toleransi dan penghormatan akan kebhinekaan menjadi urat nadi masyarakatnya. Gus Dur dan Pulau Flores memiliki ikatan batin yang sangat kuat, di pulau ini Gus Dur menemukan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan dari berbagai keyakinan dan kepercayaan. “Jejak” Gus Dur tentunya akan terus dikenang tidak hanya di tanah Flores tetapi di semua tanah yang selalu menyerukan perdamaian.

* Penulis adalah Gusdurian, bekerja di Wetlands International Indonesia, tinggal di Maumere-Flores, NTT

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Kajian, Hikmah Haedar Nashir

Jumat, 29 Desember 2017

Bumikan Al-Qur’an, Ma’had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma

Jember, Haedar Nashir. Tuntutan layanan Al-Qur’an dari masyarakat yang semakin tinggi, mendorong Ma’had Tahfidz Qur’an Ibnu Katsir Jember meluncurkan program Gerakan Mencintai dan Memuliakan Al-Qur’an (Gemma).

Bumikan Al-Qur’an, Ma’had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumikan Al-Qur’an, Ma’had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumikan Al-Qur’an, Ma’had Ibnu Katsir Luncurkan Gemma

Peresmian peluncuran program tersebut dilakukan oleh penasehat Ma’had yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Imam Suprayogo di aula Soenarjo, kantor Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jl. PB. Sudirman, Jember, Ahad (10/3) lalu.?

Menurut Imam, pelayanan sekaligus pembumian Al-Qur’an saat ini sudah begitu mendesak. Sebab, “Al-Qur’an mempunyai jawaban terhadap segala problematika masyarakat,” ujarnya.

Haedar Nashir

Imam menambahkan, Al-Qur’an merupakan solusi dari pesoalan bangsa. Sebab, di dalam Alquran sudah ada jawaban dari persoalan apapun yang melanda manusia. ? Dikatakan Imam, dirinya pernah ditanya Menteri Agama soal apa yang harus dilakukan Kemenag dengan mahasiswa.

Haedar Nashir

“Saya sampaikan bahwa mahasiswa harus dekat dengan tiga hal; dekat dengan Al-Quran, masjid dan ulama atau cendekiawan,” katanya seraya menegaskan bahwa mahasiswa yang seperti itu akan memantik sukses.

Sementara itu, Direktur ? Ma’had Tahfidz Quran Ibnu Katsir Jember, Abu Hasanuddin menyatakan bahwa peluncuran Gemma dilatarbelakangi oleh keinginan memenuhi kebutuhan layanan Alquran dari masyarakat. Sebab, masyarakat Jember, masih banyak yang tidak tahu baca tulis Alquran, dan mereka menutut pihaknya untuk menyediakan jasa bimbingan membaca Alquran.?

“Sebagaimana kita tahu pesantren ini memfokuskan pada santri yang ingin menghafal Al-Qur’an, dan mereka rata-rata mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember. Nah, yang butuh bimbingan Alquran, bukan hanya santri tapi juga masyarakat. Untuk itulah kita buat Gemma,” tutur Ust. Abu Hasanuddin kepada Haedar Nashir.

Dalam kesempatan itu, sejumlah tokoh hadir, di antaranya adalah Rektor STAIN Jember, Prof. Babun Suharto, Muh. Thamrin (tokoh NU), Asiten II Pemab Jember, Slamet Oerip Santoso, Direktris RS. Bina Sehat, Faida dan ratusan undangan.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kajian Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB

Bogor, Haedar Nashir. Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB menyelenggarakan Aswaja Youth Camp (AYC) untuk para anggota baru di kampus Institut Pertanian Bogor. AYC merupakan salah satu acara inti dari rangkaian Isti’laul Qudrah (IQ) atau pengembangan diri dalam misi pengaderan KMNU IPB.

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Youth Camp untuk Anggota Baru KMNU IPB

Peserta terdiri dari mahasiswa baru IPB angkatan 52 dan mahasiswa IPB angkatan 51 yang belum mengikuti IQ tahun lalu. Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan yang digelar di ruang kuliah Fakultas Kedokteran Hewan, akhir pekan (27/9) itu. Penampilan hadrah KMNU menambah semarak acara tersebut.

Acara antara lain diisi dengan pemilihan ketua angkatan 52 KMNU IPB yang dimoderatori oleh ketua pelaksana yaitu Nurudin Zanki. Melalui musyawarah mufakat, terpilihlah Tajudin (putra) dan Ima (putri) sebagai ketua angkatan baru.

Haedar Nashir

Materi ke-NU-an menutup serangkaian acara Aswaja Youth Camp. M  Zimamul Adli sebagai pengisi materi tersebut memaparkan sejarah NU, makna lambang NU, sejarah KMNU Pusat, dan sejarah KMNU IPB.

“Saya dibesarkan di NU, tidak boleh ingin menjadi apa-apa, tapi harus siap menjadi apapun,” ujar Zimam dalam penyampaian materinya mengutip pesan dari Gus Dur. Acara ditutup dengan do’a dan sholawat dengan memohon keberkahan dalam setiap langkah perjuangan KMNU IPB.

Haedar Nashir

Sebelumnya anak-anak binaan tim pengabdian KMNU IPB menampilkan pentas seni dengan menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” diiringi dengan pembacaan puisi. (Iqbal Muzakki/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Kajian Islam, Kajian Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Brebes, Haedar Nashir

Rais Aam Jamiyah Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) PBNU Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menyerukan agar umat Islam menguatkan lita‘arafu (saling kenal mengenal) untuk menangkal gerakan radikal. Namun tidak hanya kenal mengenal dalam artian secara lahiriah tetapi juga suasana kebatinannya.?

Hal tersebut disampaikan Habib Luthfi pada peringatan Maulud Nabi dan Haul Kiai Anwar bin Kiai Munawar ke-27 di Kelurahan Kaligangsa Kulon, Brebes, Kamis malam (11/2/2016).

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Kuatkan “Litaarafu” untuk Tangkal Radikalisme

Menurut Habib, pelaku teror membabi buta karena tidak mengenal dari mana dia dilahirkan dan ? hidup di daerah mana serta manfaat apa yang bisa dicurahkan untuk kemaslahatan umat. Keinginan kuat untuk menguasai dunia dengan dalih agama menjadikan mereka kalaf dan tidak santun dalam melakukan ‘dakwah’ versi mereka.?

Berbeda jauh dengan misi yang diemban para Walisongo, mereka mampu mengislamkan rakyat tanah Jawa dengan saling kenal mengenal. Mengenal kebudayaan, mengenal tradisi dan kebiasaan orang orang jawa dengan mengakulturasikan pesan-pesan Islam ke dalamnya. Penokohan pewayangan misalnya, mengispirasi tentang jatidiri, sifat kebaikan, jiwa mandiri, ketegasan dan kepiawaian berdiplomasi.

Haedar Nashir

Habib juga mengiritisi jajaran pemangku kebijakan yang masih kurang turun ke bawah. Berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat belum terakomodir dengan baik. Kekuatan fungsi intelegen juga belum dilakukan secara maksimal dalam merangkul rakyat dan memenuhi keinginanya. “Sehingga ana godong obah weruh (ada daun bergerak pun tahu),” ungkap Habib.

Sekda Brebes H Emastoni Ezam yang mewakili Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak kepada masyarakat untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Pengejawatan akhlak Kanjeng Nabi akan membawa perubahan lahir dan batin dalam pembangunan daerah. Di samping itu, diimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dengan berbagai ajakan yang menggiurkan sementara akan menimbulkan masalah di kemudian hari.?

“Seperti yang dilakukan oleh Gafatar, dengan balutan peningkatan ekonomi ternyata menyelipkan ajaran yang menyesatkan umat,” katanya.

Ketua Panitia Letkol Inf Efdal Nazra menjelaskan, pengajian Maulid Nabi digelar sebagai upaya meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Selain itu, untuk menjalin silaturahmi antara ulama, umara dan umat dalam rangka membangun bangsa dan Negara. “Dengan kekuatan yang maksimal antara ulama, umara dan umat, NKRI akan tetap tegak berdiri,” ujar Efdal Nazra yang juga Dandim 0713/Brebes.?

Turut memberikan tausiyah Habib Ali Zaenal Abidin yang juga mantan Walikota Tegal. Selain ribuan pengunjung yang tumpah ruah memenuhi pelataran Masjid Al Munawar juga terlihat ratusan TNI, Polisi dan Banser dengan pakaian kebesaran mereka turut mengunjungi pengajian. (Wasdiun/Fathoni)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Olahraga Haedar Nashir

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Salaman atau saliman dalam budaya Indonesia adalah suatu kegiatan berjabat tangan, biasanya dilakukan ketika seorang anak berpamitan pergi kepada orang tuanya, seorang murid yang bertemu dengan guru dan saudara atau keluarga ketika di jalan, atau ketika seseorang bertemu dengan teman-temannya.  Secara refleks kita akan mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.

Salaman atau saliman sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “selamat”. Erat kaitannya dengan budaya mengucap salam dalam umat muslim. Dalam pelaksanaannya pun tidak selalu mengucap salam, namun lebih menekankan berjabat tangan sebagai rasa hormat. Sekali lagi di Indonesia, kegiatan salaman tidak melulu selalu diidentikkan dengan orang Islam walaupun berasal dari bahsa Arab. Karena makna salaman sudah dipakai oleh masyarakat umum sebagai milik bersama.

Salaman dalam tulisan adalah yang disebut orang Jawa sebagai sungkem. Salaman dan sungkem mempunyai persamaan yaitu kegiatan berjabat tangan, bedanya sungkem mempunyai nilai rasa hormat yang lebih tinggi. Sungkem bukanlah berjabat tangan biasa seperti yang dilakukan antar teman atau seseorang dengan seseorang yang derajatnya setara.

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)
Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Namun sungkem dilakukan kepada seseorang yang lebih tinggi derajatnya seperti orang tua, guru atau ustadz/ustadzah. Caranya pun berbeda, sungkem disertai dengan mencium tangan seseorang yang kita sungkemi. Pada saat hari raya Idul Fitri pasti setiap anggota keluarga melakukan sungkeman, entah itu anak kepada orang tua, cucu kepada kakek nenek atau keponakan kepada paman dan bibi.

Pada zaman penulis masih menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah -setara SD- ), penulis masih ingat dengan jelas setiap akan masuk kelas dan akan keluar kelas (waktu akan pulang) murid-murid antri berbaris rapi untuk sungkeman kepada sang guru. Jika direnungkan, betapa luhurnya budaya ini, penulis tidak yakin kalau dinegara lain diajarkan budaya sungkeman ini sebagai salah satu tata krama di sekolah. Jikalau ada mungkin juga masih tergolong bangsa Asia atau bangsa Timur.

Namun yang penulis sayangkan, semakin kesini budaya sungkeman mulai luntur, atau memang budaya sungkeman hanya diajarkan waktu MI/SD?

Haedar Nashir

Menurut pengalaman penulis, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin langka sekali budaya sungkeman ini. Mulai MTs (Madrasah Tsanawiyah -setara SD-) hingga MA (Madrasah Aliyah -setara SMA-) budaya ini agak jarang, mungkin karena sekolah madrasah, jadi antara murid dan guru yang berbeda jenis kelamin agak menjaga jarak. Namun menurut penulis hal seperti ini bisa disiasati, bisa saja to murid perempuan hanya salaman dengan ibu guru dan begitu juga dengan murid laki-laki hanya salaman dengan bapak guru.

Apalagi ketika menjadi mahasiswa perguruan tinggi di kota besar, budaya sungkeman seperti suatu hal yang tidak penting. Bukan dari segi mahasiswa atau anak didiknya saja yang kurang membudayakan sungkeman, tapi hal yang agak mengecewakan adalah ketika dosen itu sendiri tidak bersedia di sungkemi.

Ada fenomena lucu yang sering penulis temui, sungkeman yang dilakukan mahasiswa kepada dosen biasanya dilakukan berdasarkan alasan tertentu, misalnya saja ketika seorang mahasiswa datang terlambat, untuk menarik hati agar dosen tidak marah mahasiswa sering kali melakukan sungkem agar dosen luluh dan “tidak jadi” memarahi mahasiswa yang datang terlambat tersebut. Mungkin ini salah satu trik yang cerdas, hehe.

Salaman atau sungkeman merupakan budaya Indonesia yang menggambarkan karakter bangsa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama manusia. Tidak hanya itu, salaman dan sungkeman juga salah satu cara untuk memperertat silaturrahim, persaudaraan dan pertemanan diantara manusia.

Haedar Nashir

Semoga tulisan ini memberikan kita pencerahan betapa penting budaya salaman dan sungkeman, walaupun kelihatannya sepele namun penulis yakin manfaat dan hikmah dari budaya ini sangat besar dan bermanfaat.

Ayu Ulfa Dewi, Mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Pesantren, Kajian Haedar Nashir

Selasa, 12 Desember 2017

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Demak, Haedar Nashir - Dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H Rumah Sakit Islam (RSI) NU Demak menggelar tablig akbar dengan tema” RSI NU Demak Bertadarus “di masjid Islamic Center Jogoloyo, Wonosalam, Demak, Sabtu (14/5). Pada pengajian akbar ini RSI NU Demak mengahdirkan hafiz cilik Muhammad Abdul Rasyid asal Pekan Baru Riau.

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanamkan Cinta Al-Qur’an pada Anak, RSINU Tadarus Bersama Hafiz Cilik Nasional

Di tengah acara Direktur RSI NU dr H Abdul Azis mengatakan, kegiatan tadarus bersama anak anak dimaksudkan untuk menginspirasi dan memotivasi masyarakat dan keluarganya dalam kecintaannnya pada Al-Qur’an sejak dini. Menurutnya untuk memotivasi anak-anak RSI NU sengaja mengundang sebagai hafidz Indonesia 2014 RCTI, aksi junior 2015 Indosiar dan memiliki 18 irama imam besar dunia.

“Kami? sengaja mengundang Abdul Rasyid yang biasa dipanggil Syekh Rasyid untuk menginspirasi anak-anak sampai orang tua agar cinta Al-Qur’an, gemar bertadarus dan menghafal Al-Qur’an,” tutur dr Azis.

Haedar Nashir

Di saat yang sama Ketua panitia pelaksana Muslih mengatakan, panitia sementara melibatkan 40 lembaga pendidikan yang berada di sekitar rumah sakit karena keterbatasan waktu dan sebagai uji kesuksesan pelaksanaan kegiatan, kehadiran mereka rata-rata didampingi guru pengampunya dari sekolah masing-masing.

Haedar Nashir

“Sementara kami baru melibatkan sedikit sekolahan karena faktor waktu dan teknis, karena ini baru pertama kali,” kata Muslih.

Selama memimpin tadarus Rasyid sengaja melemparkan pertanyaan dengan cara melanjutkan ayat Al-Qur’an yang dibacanya untuk disempurnakan oleh penjawab mulai dari surat-surat pendek sampai ayat pada surat yang panjang. Usai acara Muhammad Rasyid yang didampingi direksi dan karyawan rumah sakit melanjutkan sembahyang jamaah bersama di Masjid Agung Demak. Usai berjamaah mereka berziarah ke makam Sunan Kali Jaga dan diakhiri kunjungan ke bangsal dengan mendoakan pasien.

Acara yang diikuti seribu lima ratus siswa dan jamaah umum ini dihadiri pula pengurus Yayasan Rumah Sakit Hasyim Asy’ari H Sa’dullah, Direktur dr H Abdul Azis, dan jajaran Direksi RSI NU Demak serta pengurus NU Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Kyai Haedar Nashir