Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Jakarta, Haedar Nashir. Adanya wacana diperbolehkannya wanita TNI/Polri untuk menggunakan jilbab disambut gembira oleh Maria Ulfa Anshor, Ketua Umum PP Fatayat NU, karena bisa menjadi inspirasi para santriwati untuk masuk kesana.

“Ini merupakan peluang bagi para santriwati untuk berkarir di militer yang merupakan salah satu faktor penentu pertahanan nasional,” katanya di Gd. PBNU, Selasa (18/12).

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Peran perempuan dalam berbagai sektor ini dinilainya penting sebagai wujud dari partisipasi mereka dalam membangun dan mempertahankan keberlangsungan negara ini. “Mereka bisa berada di sektor pendukung maupun di medan pertempuran,” katanya.

Ditambahkannya bahwa kebebasan untuk menggunakan jilbab ini juga menunjukkan TNI/Polri semakin memahami aspirasi para anggotanya untuk menjalankan ajaran agama dengan baik.

Untuk sementara, peraturan TNI/Polri diizinkan berjilbab berlaku di propinsi Nangroe Aceh Darussalam yang memang menerapkan syariah Islam yang salah satunya menetapkan kewajiban berjilbab bagi perempuan.

Di negara-negara Timur Tengah atau negara yang berazaskan Islam seperti di Irak, Iran, Afganistan dan Pakistan, pasukan wanitanya justru diharuskan memakai jilbab. Bosnia-Herzegovina yang merupakan negara sekuler juga memberikan kebebasan kepada pasukan wanitanya untuk memakai jilbab.

Haedar Nashir

Simbol keagamaan juga diizinkan di negara tetangga Malaysia dan di India. Orang dari etnis Sikh diperbolehkan memakai sorban ikat kepala untuk menjadi tentara/ polisi. (mkf)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Sejarah Haedar Nashir

Selasa, 13 Februari 2018

Semaan

Semaan adalah rradisi membaca dan mendengarkan pembacaan Al-Quran di kalangan masyarakat NU dan pesantren umumnya. Kata ‘semaan’ berasal dari bahasa Arab sami’a-yasma’u, yang artinya mendengar.?

Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “simaan” atau “simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “semaan”. Dalam penggunaanya, kata ini tidak diterapkan secara umum sesuai asal maknanya, tetapi digunakan secara khusus kepada suatu aktivitas tertentu para santri atau masyarakat umum yang membaca dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semaan

Tidak hanya sekadar membaca dan mendengar Al-Qur’an, penggunaan kata semaan saat ini secara ketat disematkan kepada sejumlah orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan cara menghafalnya.

Dalam pengertian ini, semaan dapat dijadikan sebagai metode menghafal Al-Qur’an, yaitu biasanya berkumpul minimal dua orang, atau bisa juga lebih, yang salah satu di antara mereka ada yang membaca Al-Qur’an (tanpa melihat teks ayat), sementara yang lainnya mendengar serta menyimaknya.?

Haedar Nashir

Pendengar sangat bermanfaat dalam metode hafalan ini, sebab ia/mereka bisa melakukan koreksi atau membenarkan jika pelantun Al-Qur’an itu membacanya salah.

Ada pula pengertian bahwa semaan adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an berjama’ah atau bersama-sama, di mana dalam semaan itu juga selain mendengarkan al-Qur’an, yang hadir (sami’in) juga bersama-sama melakukan ibadah sholat wajib secara berjama’ah juga sholat-sholat sunnah yang lain, dari ba’da subuh hingga khatamnya Al-Qur’an.

Haedar Nashir

Dilihat dari akar kesejarahannya, semaan Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari pencetusnya, KH Chamim Djazuli atau yang bisa dikenal Gus Miek. Gus Miek adalah tokoh sentral semaan Al-Qur’an yang pengikutnya ribuan orang. Gus Miek memimpin Majelis Semaan, yang mula-mula didirikan di kampung Burengan Kediri sekitar tahun 1986.?

Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang, tetapi terus berkembang menjadi ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau dari rumah ke rumah, tetapi sudah memasuki wilayah pendopo kabupaten, Kodam bahkan sampai ke Keraton Yogyakarta.?

Gus Miek yang mempunyai “kebiasaan” berkelana ke beberapa daerah, timbullah gagasan semaan Al-Qur’an. Ungkapan Gus Miek yang terkenal, “Saya ingin benar dan tidak terlalu banyak salah, maka saya ambil langkah silang dengan menganjurkan pada para santri untuk berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyonan santai, diiringi hiburan.?

Syukur-syukur jika hiburan itu berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu jika dibarengi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, syukur-syukur bisa dari awal sampai khatam, Allah akan memberikan rahmat dan nikmat-Nya”.

Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah semaan Al-Qur’an adalah hiburan yang baik (hasanah). Selain itu juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah, dan sebagai tabungan di hari akhir. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara

Banjarnegara, Haedar Nashir. Banser unit Tanggap Bencana menerjunkan 300 personelnya untuk membantu proses evakuasi pada hari kedua korban tanah longsor di dusun Sijemblung kecamatan Karangkobar kabupaten Banjarnegara. Mereka datang dari Pemalang, Purbalingga, dan Banjarnegara sendiri.

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

3 Cabang Banser Tagana Evakuasi Korban Longsor di Banjarnegara

Mereka bersama para relawan lainnya menemukan 31 korban. Salah seorang kader GP Ansor Herry Budhie berada di lokasi menambahkan, "Di hari pertama ditemukan 18 korban, dan dihari kedua berhasil mengevakuasi 21 korban. Sedangkan Banser tanggap bencana yang turun di lokasi berasal dari Pemalang, Purbalingga, Banjarnegara serta Kolodete Rescue."

Mereka bergerak sesuai arahan dan instruksi dari Kadatkornas Banser Alfa Isnaeni. "Banser sebagai bagian dari masyarakat harus ikut terjun membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan, apalagi ini darurat bencana yang ada korban materi dan nyawa, bahkan mencapai hitungan ratusan. Inilah bentuk tugas, fungsi, dan empati dari Banser."

Haedar Nashir

Unit  Bagana menerjunkan diterjunkan tim yang sudah dipersiapkan untuk membantu tugas Basarnas, BNPB, dan BPBD setempat. Mereka bertugas mengevakuasi, membantu dapur umum, bahkan melayani trauma healing bagi korban selamat.

Haedar Nashir

"Tim yang kami bentuk bekerja bersama posko bersama yang dibuat oleh PCNU Banjarnegara, berbagai unsur yang terdiri dari banom mulai dari IPNU-IPPNU, Fatayat, Muslimat, PMII, Ansor Banser, bekerja bahu-membahu," lanjutnya.

Kaur Kesra desa setempat Yadi mengatakan, pihak desa sangat terbantu atas kehadiran keluarga besar NU di lokasi bencana. Semua ini sangat membantu warga termasuk penyiapan sarana air bersih dan dapur umum. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Kajian Haedar Nashir

Sabtu, 03 Februari 2018

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) berharap adanya regulasi yang memuat sanksi berat untuk tindak kejahatan dan pelecehan seksual. Tingginya kasus kejahatan seksual, tambah Kang Said, sudah seharusnya menjadi prioritas anggota parlemen di Senayan.

“Satu lagi, tolong selesaikan kasus kekerasan seksual,” kata Kang Said dalam acara peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren yang diselenggarakan Fraksi PKB di Jakarta, Senin (10/10) siang.

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Sanksi Berat untuk Kasus Kejahatan Seksual

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini berharap kepada anggota parlemen memerhatikan masalah darurat yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, masalah kekerasan dan pelecehan seksual sudah demikian mengkhawatirkan.

Sebelumnya Kang Said menyebutkan sejumlah UU yang diharapkan berbicara lebih tegas perihal terorisme, minuman beralkohol, dan LGBT.

Haedar Nashir

“LGBT itu bukan lagi bertentangan dengan syariat Islam, tetapi juga dengan fitrah manusia,” tegas Kang Said.

Haedar Nashir

Tampak pada peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren ini Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua Umum PKB H Muhaimin Iskandar, Ketua Fraksi PKB Hj Ida Fauziah, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU serta anggota DPR dari fraksi PKB. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Sejarah, Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 07 Januari 2018

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Rembang, Haedar Nashir. Pada Ramadhan kali ini, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Peajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menggelar program "Ngaji Bareng" di beberapa Ranting atau desa di kecamatan setempat secara bergilir menjelang buka puasa.

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ranting ke Ranting, IPNU-IPPNU Kaliori Ngaji Ramadhan

Ketua IPNU Kecamatan Kaliori Abdul Rohim, Kamis (3/7), mengatakan, ada delapan Ranting IPNU-IPPNU yang sudah menyatakan kesediaanya sebagai tuan rumah untuk berbuka puasa dan ngaji ini, di antaranya Ranting Desa Kuangsan, Meteseh, Tambak Agung, Karang Sekar, Dresi Wetan, Dresi Kulon, Gunung Sari, dan Dukuh Dresen Desa Tasik Harjo.

"Kegiatan ini merupakan agenda rutinan dari setiap anggota dan pengurus Anak Cabang Kaliori. Dan sekaligus sebagai ajang berbuka puasa bagi para pengurus dan anggota setelah seharian menjalankan ibadah puasa. Hal ini cukup efektif untuk menjaga tali silaturahmi dari para kader pelajar NU di Kaliori," ujarnya.

Haedar Nashir

Rencananya, tambah Abdul Rohim, pihaknya akan mengadakan pengajian kitab seperti tahun-tahun sebelumnya. Yakni, sesudah tadarus, akan diisi ngaji kitab sejenak sambil menunggu adzan Maghrib sebagai tanda berbuka dimulai. Mengenai kitab yang akan dikaji, ia menunggu kesepakatan para pengurus PAC IPNU-IPPNU.

Pihaknya masih berharap menerima saran dari pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kaliori. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, para penguruslah yang biasanya menyampaikan kajian kitab di setiap bulan Ramadhan.

Haedar Nashir

Kegiatan ngaji Ramadhan sembari berbuka puasa bersama dijadwalkan akan dimulai pada hari ke sembilan di bulan Ramadhan. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Senin, 25 Desember 2017

M Ridwan dan Maya Pimpin Pelajar NU Kayong Utara

Kayong Utara, Haedar Nashir. Konferensi cabang IPNU dan IPPNU Kayong Utara provinsi Kalimantan Barat mengamanahkan M Ridwan dan Maya Pramitasari  sebagai pemimpin pelajar baru pelajar NU Kayong Utara, Kamis (27/8). Konferensi berjalan khidmat di gedung PCNU setempat hingga terbentuk kepengurusan IPNU dan IPPNU untuk periode 2015-2017.

M Ridwan dan Maya Pimpin Pelajar NU Kayong Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
M Ridwan dan Maya Pimpin Pelajar NU Kayong Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

M Ridwan dan Maya Pimpin Pelajar NU Kayong Utara

Tampak hadir Ketua PCNU, Rais Syuriyah Kayong Utara, Ketua IPNU Kalimantan Barat Muhammad Amin beserta rombongan dan pelajar NU sekabupaten Kayong Utara.

Ketua PCNU Kayong Utara KH Nazril mengatakan, "Pelajar NU perlu belajar berorganisasi dalam menghadapi tantangan zaman demi terciptanya masyarakat yang berideologi Ahlussunnah Waljamaah dengan mengedepankan kemaslahatan umat, khususnya umat islam dan meneruskan cita-cita para pendahulu kita."

Haedar Nashir

Sementara Amin mengharapkan pelajar NU Kayong Utara mampu menjadi barisan terdepan NU dalam membangun SDM yang andal, berakhlakul karimah, dan berwawasan luas.

Haedar Nashir

“Kader IPNU dan IPPNU juga harus bersinergi dengan tokoh-tokoh dan OKP lain, agar bisa tercipta komunikasi yang baik antarorganisasi kepemudaan,” kata Amin.

Amin menekankan kepada Ridwan untuk menggerakkan kaderisasi. Kerja sama yang baik dengan tokoh NU dan juga PW IPNU yang hadir di acara ini, sangat diharapkan demi memberikan semangat dalam menjalankan roda organisasi ke depannya. (Ahmad Fauzi Muliji/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Sejarah, Jadwal Kajian Haedar Nashir

Rabu, 20 Desember 2017

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Boyolali, Haedar Nashir. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Sabtu (14/6), sejak pukul 05.30 WIB sudah terlihat ramai. Ratusan warga pun mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan Bubak.

Seperti di daerah lain, meski dengan istilah berbeda, Bubak atau kegiatan membersihkan makam dilakukan warga Mlambong untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dengan bergotong-royong mereka membersihkan bersama, lingkungan di kompleks pemakaman dan sekitarnya.

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Bubak, Gotong Royong Berbakti kepada Para Leluhur

Sesepuh warga setempat, Hadi Sutarno, mengatakan tradisi ini sudah ada sejak lama. “Jangan sampai tradisi ini ditinggalkan,” tutunya singkat.

Haedar Nashir

Usai membersihkan makam, dilanjutkan dengan mendoakan para leluhur dan keluarga yang telah meninggal. “Ziarah ke makam para leluhur ini, waktunya bebas, sebelum Ramadhan tiba,” kata Hadi.

Menurutnya, hal ini merupakan sebagai wujud rasa berbakti (birrulwalidain) warga kepada orang tua maupun para leluhur yang telah meninggal dunia. Selain itu, hal ini juga dapat mempererat rasa persaudaraan antarwarga. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Makam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Haedar Nashir

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

Haedar Nashir

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Meme Islam, Sejarah Haedar Nashir

Yuk, Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang bersama NU Surabaya!

Jakarta, Haedar Nashir

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) bekerja sama dengan Koarmatim dan JTV (Jawa Pos TV) mengajak para pengurus OSIS SMA/SMK/MA di Jawa Timur untuk berpartisipasi dalam kegiatan "Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang" pada 15-17 Agustus 2016 di KRI Surabaya 591 Armada RI Kawasan Timur TNI AL, Kota Surabaya.

Dalam kegiatan bertema “Pelajar Berkarakter dan Berbudaya untuk Masa Depan Integrasi Kehidupan Berbangsa” ini, peserta akan diajak untuk belajar dan berbagi mengaji berbagai problem kebangsaan, dari mulai moralitas, narkoba, korupsi, komunisme, hingga terorisme.

Yuk, Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang bersama NU Surabaya! (Sumber Gambar : Nu Online)
Yuk, Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang bersama NU Surabaya! (Sumber Gambar : Nu Online)

Yuk, Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang bersama NU Surabaya!

Rencananya kegiatan ini diikuti 550 peserta yang terdiri dari ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Rohis (Kerohanian Islam) SMA/SMK/MA di kawasan Surabaya, Gresik, Sidoarjo, ditambah sejumlah perwakilan sekolah negeri dan swasta favorit di Jawa Timur.

Haedar Nashir

Kegiatan ini akan dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI dan diberi sambutan oleh Menteri Sosial RI, serta diisi oleh tokoh-tokoh nasional. Rangkaian acara meliputi kelas seminar mengaji berbagai masalah kebangsaan, upacara bendera

perayaan hari ulang tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-71, dan Deklarasi Kebangsaan yang dilakukan peserta saat penutupan acara.

Selain dua menteri ini, sejumlah narasumber yang dijadwalkan turut mengisi antara lain Komjen Budi Waseso (Kepala BNN), Agus Rahardjo (Ketua KPK), Tri Rismaharini MT (Walikota Surabaya), Muhibbin Zuhri (Ketua PCNU Surabaya), Aminuddin Kasdi (Sejarahwan Unesa), Syaifullah Yusuf (Wagub Jawa Timur), dan lain-lain.

Haedar Nashir

Melalui siaran pers, panitia penyelenggara, berharap kegiatan ini dapat memperkuat bina kesatuan bangsa di kalangan pelajar sekolah menengah atas di Jawa Timur dan mencegah berkembangnya ideologi radikalisme di kalangan pelajar.

Kegiatan "Nyantri Kebangsaan di Kapal Perang" ini juga diharapkan mampu membangun sinergisme antara OSIS dan Rohis (Kerohanian Islam) dengan instansi pemerintah terkait dalam membangun karakter dan budaya pelajar.

Pendaftaran bisa dilakukan melalui Google Form di sini. Untuk informasi lebih detail, calon peserta dapat menghubungi +6281938299525 (M. Najih Arromadloni), +628123505023 (Imam Syafi’i), atau +6281298800036 (Kol. Imam Teguh). (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Ulama, Hadits Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ

Jember, Haedar Nashir. Bagi Universitas Islam Jember (UIJ) Jawa Timur, Nahdlatul Ulama bukan sekedar lebel. Namun ? harus menjiwai dan menjadi ? ciri khas di antara ? pergurun tinggi lain. Itulah sebabnya, materi-materi yang terkait dengan Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) merupakan mata kuliah pokok di perguruan tinggi milik NU Jember itu. Bahkan, UIJ mensyaratkan ? sertifikat Aswaja harus dimiliki oleh mahasiswa yang ? mau ikut ? ujian skripsi.

Demikian disampaikan Rektor UIJ, Abdul Hadi saat membuka pelatihan Aswaja di masjid komplek kampus, Sabtu (25/6). Menurut Hadi, mulai tahun ini pihaknya menerapkan kebijakan lulusan UIJ benar-benar paham soal Aswaja. Minimal tahu amalan-amalan yang menjadi tradisi NU. "Bukti bahwa mereka paham Aswaja, ya sertifikat itu. Jadi itu wajib sebelum diwisuda," katanya.

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ (Sumber Gambar : Nu Online)
Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ (Sumber Gambar : Nu Online)

Sertifikat Aswaja sebagai Syarat Kelulusan UIJ

Wakil Sekretaris PCNU Jember itu menambahkan, kebijakan tersebut diambil karena didorog oleh keinginan untuk mengejawantahkan amanah para pendiri UIJ. Mereka, mendirikan UIJ untuk mecetak kader-kader NU yang mumpuni. Sebagai ujung tombak ? di masyarakat, katanya, lulusan UIJ harus dibekali dengan ? pengetahuan yang cukup tentang Aswaja. Apalagi saat ini, begitu banyak ? aliran-aliran baru yang sama sekali tidak sesuai dengan amaliaah Aswaja.?

"Saya berharap agar lulusan UIJ benar-benar kokoh sebagai kader NU. Tidak goyah, walauun dikepung budaya atau aliran lain yang tidak coaok dengan Islam ala Ahlissunnah wal jamaah," jelasnya.

Pelatihan itu sendiri diikuti ? 87 orang. Mereka adalah mahasiswa semester akhir yang sebentar lagi akan menggarap skripsi. Materi pelatihan meliputi wawasan ke-NU-an, praktek memandikan janazah, tahlil, maulid nabi dan sebagainya. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Pendidikan, Amalan Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang

Jakarta, Haedar Nashir. Hari terakhir referendum atau jajak pendapat tentang rancangan konstitusi Mesir akan mulai dibuka pukul 09.00 waktu setempat, Rabu (15/01) ini.

Sampai Selasa (14/01), sedikitnya sembilan orang tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan pendukung mantan Presiden Mohammed Morsi yang menyatakan memboikot referendum ini. Demikian laporan yang dilansir oleh laman BBC Indonesia.

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Referendum di Mesir Tewaskan 9 Orang

Sejauh ini belum diketahui berapa jumlah warga Mesir yang memberikan suaranya. Stasiun TV Al-Hayat TV mengutip Kementerian kehakiman mengatakan suara yang suhad masuk "melebihi 50%" di hari pertama pemungutan suara.

Haedar Nashir

Sekitar 160.000 tentara dan lebih 200.000 anggota kepolisian dikerahkan untuk mengamankan referendum di seluruh Mesir.

Haedar Nashir

Bentrokan terjadi di tiga kota bagian selatan ibukota Kairo, Selasa (14/01).

Kampanye dukungan untuk konstitusi baru membanjiri siaran televisi dan radio milik negara. Namun kampanye yang menolak konstitusi baru sulit ditemukan di jalan-jalan.

Jajak pendapat ini bertujuan untuk mengganti konstitusi lama yang disahkan oleh Morsi, beberapa bulan sebelum dia disingkirkan oleh militer.

Sedangkan konstitusi baru disusun oleh sebuah komite yang berisi 50 orang dan hanya dua diantaranya berasal dari partai Islam.

Ikhwanul Muslimin, partai pendukung mantan Presiden Morsi, yang dinyatakan terlarang karena dianggap sebagai kelompok teror, menyerukan aksi boikot.

Pemerintahan sementara mengklaim bahwa rancangan ini memberikan lebih banyak kebebasan dan hak, serta menjadi kunci menuju stabilitas. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Sejarah, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 03 Desember 2017

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng

Tebuireng, Haedar Nashir . Pesantren Tebuireng mendapat kunjungan dari Konsulat Jendral Tiongkok, Yu Hong, Senin (6/14). Rombongan tamu diterima pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid di kediamannya di kompleks pesantren setempat, Jombang, Jawa Timur.

Kunjungan perdana Yu Hong sebagai Konjen Tiongkok ini diisi dengan diskusi dan perkenalan. Selain beramah-tamah, pertemuan tersebut juga dimaksudkan untuk menjalin kerja sama antara Tebuireng dan China di sektor ekonomi.

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng

Hari Yulianto, Humas DPRD Jatim yang turut menemani Konjen Tiongkok saat itu mengatakan, “Kunjungan ini untuk menjalin kerja sama ekonomi 2015 dihubungkan dengan situasi religi di kabupaten Jombang.”

Haedar Nashir

Beserta staf lain, Gus Sholah, sapaan H Salahuddin Wahid, menyambut positif pertemuan ini. Ia berharap kunjungan itu mampu meningkatkan kerja sama Pesantren Tebuireng dengan berbagai lembaga di China. Selain itu agar terjalin juga kerjasama dalam bidang pendidikan. Sehingga? para santri bisa dikirim belajar ke China.

“Ini merupakan pertemuan awal dan perkenalan. Harapannya akan ada tindak lanjut setelah pertemuan ini. Kerja sama dengan China akan membuka kesempatan para santri untuk menimba ilmu di negeri Bambu tersebut,” ujar Gus Sholah beberapa hari lalu juga kedatangan Dubes Australia dan Jepang di kediamannya.

Haedar Nashir

Di akhir kunjungan ini, masing-masing memberikan cendera mata. Setelah itu Yu Hong menyempatkan diri mendatanggi makam di Pesantren Tebuireng dan beberapa unit sekolah untuk semakin mengenal tentang iklim pendidikan di Tebuireng. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional

Subang, Haedar Nashir - Di antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang ditunjuk PBNU sebagai salah satu proyek percontohan program Kartu Anggota NU (Kartanu) adalah PCNU Subang, Jawa Barat. Dalam pelaksanaannya, PBNU sudah menjalin kerja sama dengan Bank Mandiri.

Mengenai hal ini, PCNU Subang dan Bank Mandiri Cabang Subang melakukan rapat koordinasi untuk mensukseskan program Kartanu dalam Rapat Reboan di Kantor PCNU Rabu (14/9).

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional

"PCNU Subang dan Bank Mandiri siap mensukseskan program Kartanu. Tadi sudah koordinasi dengan pimpinan Bank Mandiri Subang," ungkap Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah seusai rapat.

Haedar Nashir

Bank Mandiri Subang, kata dia, siap memenuhi permintaan PCNU Subang pada gelombang pertama pembuatan Kartanu yang bisa dijadikan Kartu ATM Bank Mandiri. Kartu tersebut tercetak minimal 100 Kartanu sebelum tanggal 22 Oktober nanti karena rencananya pada tanggal tersebut PCNU Subang akan menggelar peringatan Hari Santri Nasional sekaligus peluncuran Kartanu.

"Insya Allah pada peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober nanti, Kartanu akan diluncurkan," tambahnya.

Haedar Nashir

Saat ini, kata dia, pembuatan Kartanu melalui PCNU Subang masih terbatas karena baru menyentuh jajaran Pengurus PCNU, Lembaga dan Banom yang ada di lingkungan PCNU Subang serta MWCNU dan Ranting NU. Jika semua pengurus sudah memiliki Kartanu baru mulai menggarap ke jamaah.

"Supaya pengurus bisa menjelaskan ke masyarakat, seperti ini bentuk Kartanu, karena kalau belum punya Kartanu nanti dikhawatirkan pengurus akan kesulitan menjelaskan," pungkas Pengasuh Pesantren Attawazun ini. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Demak, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Putri Nurul Burhany Mranggen Demak melantik pengurus pondok Pesantren masa khidmah 2014/2015. Pelantikan diikuti seluruh santri dan dewan asatidz. Sebagai kepala terpilih; Aida Qonitatul Muna menggatikan Nur Aeni.

Pengasuh pesantren Nurul Burhany, KH. Helmi Wafa Mahsuni dalam pengarahannya menjelaskan, semua santri baik yang menjadi pengurus maupun yang tidak menjadi pengurus mempunyai dua kewajiban.

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkhidmah Pembeda Pesantren dan Sekolah

Menurut dia, kewjiban pertama adalah belajar atau mengaji dan  kewajiban untuk berkhidmah atau mengabdi, baik khidmah kepada kiai maupun khidmah kepada santri.

Haedar Nashir

Khidmah inilah yang membedakan antara pendidikan di pesantren dan pendidikan di luar pesantren. Disini santri dididik untuk ikhlas mengabdi, walaupun tanpa gaji ataupun imbalan apapun.

KH. Helmi Wafa Mahsuni memprosentase waktu bagi santri sebagai berikut; untuk kalangan pengurus 50% untuk belajar atau mengaji dan 50% untuk berkhidmah, sedangkan untuk kalangan santri, 75% untuk belajar dan 25% untuk berkhidmah.

Haedar Nashir

Selanjutnya pengasuh berharap, dengan dibiasakannya santri khidmah di pondok pesantren, setelah nanti pulang di kampung halaman masing-masing, santri dapat berkhidmah kepada masyarakat.

Khidmah bisa dilakukan melalui berbagai organisasi yang ada di lingkungan masing-masing, baik melalui jama’ah tahlilan, Fatayat NU, IPPNU dan lain sebagainya, “tentunya harus didasari dengan rasa ikhlas,” tegasnya. (Abdus Shomad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Sejarah Haedar Nashir

Sabtu, 02 Desember 2017

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah

Seorang arif biLlah, Syekh Sariy Saqathy (wafat th. 253 H./967 M.) murid sufi besar Ma’ruf Karkhy, pernah berkata: “Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapanku sekali ‘Alhamdulillah’!”

“Lho, bagaimana itu?” tanya seseorang yang mendengarnya.

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Tahun Beristighfar atas Ucapan Alhamdulillah

“Begini. Terjadi kebakaran di Baghdad,” kata Syekh menjelaskan, “lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, Alhamdulillah! Maka ucapan itulah yang kusesali selama 30 tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Tiga puluh tahun Syekh Sariy menyesali ucapan Alhamdulillahnya. Beliau menyesal karena sadar—sekejab setelah melafalkan ungkapan syukurnya itu—bahwa dengan ungkapan syukurnya itu berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebalnya hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama.

Haedar Nashir

Sekejab beliau tersadar: alangkah degilnya orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis. Alangkah musykilnya orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya.

Meski saya, atau mungkin juga anda, bukan wali Allah yang bersih; adalah sangat mudah memahami penyesalan mulia orang suci --paman Bapak para sufi Al-Junaid—itu. Kecuali bila hati kita memang sudah sedemikian membatu oleh kecintaan kita yang berlebihan kepada diri sendiri dan dunia. Na’udzubillah

Haedar Nashir





Cerita ini disampaikan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun Facebook pribadinya pada 24 Mei 2009

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Sejarah Haedar Nashir

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Jepara, Hidayatun Nikmah, menyampaikan bahwa dalam masa kepengurusannya, bersama Ikatan Pelajar NU (IPNU) pihaknya akan menerbitkan media berupa buletin. Hal ini disampaikannya usai pelantikan pada Ahad (14/9), di Pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru IPNU-IPPNU Jepara Bakal Terbitkan Buletin

“Sebenarnya keinginan untuk hal ini sudah ada sejak kepengurusan periode kemarin. Hanya saja, kemarin terkendala karena banyak pengurusnya yang sibuk bekerja. Nah, semoga tahun ini rencana penerbitan buletin bisa terlaksana,” paparnya kepada Haedar Nashir.

Menurut Nikmah yang pada kepengurusan periode kemarin juga masuk sebagai Wakil Sekretaris ini, Jepara telah memiliki kader-kader muda NU yang potensial dibidang dunia jurnalistik. Karena itu, ia semakin optimis programnya akan terwujud.

Haedar Nashir

Sementara itu, Lisnatul Faundiyah, pengurus Divisi Jurnalistik, telah siap dengan agenda tersebut. Ia sendiri meski belum memahami betul dunia jurnalistik, namun mengaku tertarik dengan tulis-menulis. Ia pun mengatakan bahwa rencananya, untuk enam bulan ke depan akan diadakan pelatihan dan bimbingan sampai matang.

Haedar Nashir

“Semester pertama, kami akan mengadakan pelatihan dan bimbingan mengenai dunia jurnalistik. Lalu setelah itu baru penerbitan buletin.Belum ada susunan tim redaksi memang, tapi rencana nanti satu bulan sekali kami bakal menerbitkan buletin,” papar Lisna yang dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPPNU Kecamatan Mlonggo.

Sebenarnya, PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Jepara pada periode sebelumnya sudah pernah memiliki produk buletin. Namun beberapa tahun terakhir, media tersebut vakum. Kini, Nikmah, Lisna, serta rekanan pengurus lainnya percaya, bahwa mereka mampu menghidupkannya kembali.

Pelantikan hari itu di susul dengan sarasehan bertajuk “Meneguhkan Ideologi Aswaja Demi Tetap Tegaknya NKRI”, dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja. Acara pelantikan dan sarasehan diikuti oleh segenap Badan Otonom (Banom) NU, Pejabat Pemerintahan, serta pengurus IPNU-IPPNU di pelbagai tingkatan sekabupaten Jepara. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan Rapat Pleno di Pondok Pesantren Mahasiswa Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah, 6-8 September 2013. Rapat Pleno dihadiri pengurus PBNU lengkap dari jajaran Syuriyah, A’wan dan Tanfidziyah, serta para ketua lembaga, lajnah dan badan otonom.

Dalam AD/ART NU disebutkan, Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Rapat Pleno membicarakan pelaksanaan program kerja.

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal September, PBNU Gelar Rapat Pleno di Wonosobo

Sekretaris Panitia Rapat Pleno PBNU, H Sulthon Fathoni kepada Haedar Nashir Rabu (14/8) mengatakan, Rapat Pleno kali ini akan membahas beberapa hal penting, antara lain penataan organisasi, inventarisasi dan pengembangan aset NU, tata laksana kelembagaan, kaderisasi, dan evaluasi program sebagaimana amanat Muktamar NU di Makassar 2010.

Haedar Nashir

Rapat juga rencananya akan mematangkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi, atau model pemilihan baru Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk disahkan dalam Muktamar mendatang. Atas berbagai pertimbangan, pada Muktamar 2015 nanti direncanakan pemilihan pucuk pimpinan NU tidak akan dilakukan dengan model pemilihan langsung.

Haedar Nashir

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Daerah, AlaNu Haedar Nashir

Selasa, 14 November 2017

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

Jakarta, Haedar Nashir. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta membuat sebuah terobosan kurikulum dengan memasukkan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai mata kuliah di Pascasarjana Program Magister Konsentrasi Islam Nusantara.

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Jadi Mata Kuliah Pascasarjana STAINU Jakarta

“Bukan mata kuliah penunjang atau mata kuliah pilihan, tetapi mata kuliah utama, mata kuliah wajib, di bidang kajian ‘NU, Islam, dan Indonesia’,” kata Wakil Sekretaris Pascasarjana Program Magister STAINU Jakarta Muhammad Idris Mas’udi di Jakarta, Rabu (27/11).

Idris menjelaskan, mata kuliah pemikiran Gus Dur diperlakukan selayaknya mata kuliah lain yang menerapkan sejumlah peraturan akademik, seperti tingkat kehadiran mahasiswa, penugasan, dan ujian. Pembelajaran materi tersebut sudah berlangsung enam kali pertemuan untuk mahasiswa semester awal sejak dibuka program pascasarjana tahun ini.

Haedar Nashir

Untuk semester ini, sambung Idris, mata kuliah pemikiran Gus Dur diikuti 25 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Gelombang kedua akan dimulai Januari untuk mahasiswa reguler dengan jumlah sekitar 60 orang.

Haedar Nashir

“Kami bekerja sama dengan The Wahid Institute yang kebetulan sudah memiliki kelas pemikiran Gus Dur. Pihak The Wahid Institute meyediakan pengajar di setiap perkuliahan,” ujarnya.

Silabus mata kuliah, di antaranya, berisi penelitian atas Gus Dur soal pribumisasi Islam, etika sosial Islam, hubungan Islam dan negara, Islam dan modernisasi, fundamentalisme Islam, pemikiran demokrasi, pemikiran kebudayaan, pemikiran pesantren, dan pemikiran ke-NU-an.?

“Ini sebuah prestasi bagi STAINU Jakarta. Saya kira di Indonesia mata kuliah pemikiran Gus Dur belum ada dan ini satu-satunya,” tutur Syaiful Arif, dosen mata kuliah ini.

Menurut Arif, Gus Dur memiliki kekhasan pemikiran yang dapat dibedakan dengan intelektual lain, khususnya dalam kajian Islam Nusantara. “Beliau menawarkan mekanisme Islamisasi yang mengacu pada gagasan populernya, yakni pribumisasi Islam,” paparnya.

Gus Dur, kata Arif, tak hanya mengabarkan bahwa proses pribumisasi sebagai fakta historis yang dipraktikkan Wali Songo berabad-abad lalu, tapi juga menjadi jalan terbaik saat orang ingin mengonversi Islam kepada budaya-budaya mapan di Nusantara.

"Jadi jika ingin membaca Islam Nusantara maka metodologinya ya pribumisasi Islam," tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Minggu, 12 November 2017

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

Subang, Haedar Nashir - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Subang menggelar Kopi Darat (Kopdar) untuk membahas kaderisasi.

Kegiatan tersebut digelar di Jalan Eyang Tirtapraja Nomor 47, Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (4/3/2017) dan dihadiri oleh sejumlah pengurus PC IPNU yang baru terbentuk pasca Konfercab Desember 2016 yang lalu.

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

"Rencananya Kopdar ini akan kita laksanakan setiap malam Minggu untuk membahas hal-hal strategis berkaitan dengan program kerja IPNU Kabupaten Subang," ujar Ketua PC IPNU Subang, Agung Al-Muttafaqih.

Dikatakan, isu-isu kaderisasi memang menjadi prioritas selama ini. Pria yang akrab disapa Faqih itu menyebut, kaderisasi di IPNU masih akan diutamakan di wilayah Subang bagian utara (Pantura).

Haedar Nashir

"Untuk itulah Kopdar ini juga membahas persiapan teknis pelaksanaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sebagai pintu gerbang kaderisasi IPNU," kata Faqih.

Haedar Nashir

Selain membahas kaderisasi, Kopdar tersebut juga membahas beberapa agenda jangka pendek yang dalam waktu dekat akan segera dilaksanakan.

"Khususnya kita akan melaksanakan roadshow dan silaturahmi ke para kiai sepuh yang ada di Kabupaten Subang," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, AlaSantri, AlaNu Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

Bandung, Haedar Nashir - Pesantren For Peace yang mempunyai misi menyebarkan perdamaian antarumat beragama dan antarormas kembali menggelar kegiatan Pendidikan HAM dan Penyelesaian Konflik di Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Jalan Cipadung, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/8).

Koodinator Pesantren for Peace Idris Hemay mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian karena menurutnya beberapa pesantren masih tidak tanggap terhadap penyelesaian konflik.

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

“Di Pulau Jawa ini dari hasil penelitian yang kami lakukan, bahwa ada beberapa pesantren yang masih cenderung pasif ketika ada konflik terjadi. Nah, dari sini kita mendorong pesantren lebih aktif dalam penyelesaian konflik,” ujar Idris Hemay.

Haedar Nashir

Dia pun mengungkapkan, di Pulau Jawa khususnya konflik yang besar ada di Jawa Barat seperti dalam kasus Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang diserang pihak ormas dan Penghancuran Gereja Pasundan di Bandung.

“Dari konflik yang terjadi tersebut, bagaimana (elemen pesantren) bisa menengahi konflik,? menyelesaikan secara damai,? di samping itu tentu secara umum Pesantren for Peace ini bertujuan untuk membangun Islam yang moderat, damai dan ramah di Indonesia,” jelasnya dalam kegiatan yang berlangsung sehari penuh atas dengan dukungan kerja sama antara Center for the Study Of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Uni Eropa yang sebelumnya diadakan di 5 Wilayah di Pulau Jawa.

Haedar Nashir

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Kiai Tatang Astarudin mengatakan bahwa dirinya sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantrennya tinggal para santri dari berbagai daerah dan berbagai macam karakter.

“Selalu saya katakan kepada istri, dan kepada mahasantri yang lain, ayo kita cari sejuta alasan untuk tetap saling menyayangi. Kalau dia marah boleh jadi dia sedang tidak punya uang, kalau telat mungkin dia sibuk di kampus,” kata Kiai Tatang.

Kiai Tatang pun meyakini bahwa keagungan universalitas Islam tidak akan luntur hanya karena memaklumi dan menyayangi mereka yang berbeda. “Maka mulai dari kita untuk menebar kebahagian, kedamaian dengan cara mencari titik-titik kesamaan,” paparnya.

Kegiatan ini dihadiri dari perwakilan 30 pesantren dan beberapa organisasi dari tingkat kampus sampai daerah. Kegiatan ini terbagi 3 sesi, bulan Agustus, November, dan Februari 2017. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir