Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Yogyakarta, Haedar Nashir. Ba’da Ashar, Jum’at 14 Juni 2013, lantunan ayat-ayat suci sudah mulai menggema di area Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta yang menandai dimulainya rangkaian acara haul ke-54 Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir dan Khataman Quran ke-12 Madrasah Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Acara dibuka dengan sema’an Al-Qur’an di dua lokasi, yakni serambi masjid pondok dan aula Madrasah Huffadh pada Jum’at sore (14/6) oleh pengasuh, KH R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Sema’an ini diisi oleh para huffadh alumni Madrasah Huffadh yang datang dari berbagai daerah, dan rencananya akan dikhatamkan sehari setelahnya, Sabtu (15/6), di pemakaman Dongkelan.

Keesokan harinya, Sabtu pagi (15/6), rencananya akan digelar Sarasehan dan Temu Alumni Madrasah Huffadh PP Al-Munawwir Krapyak dengan tema: “Syi’ar Al-Quran; Antara Harapan dan Tantangan.” Ba’da Ashar, acara dilanjutkan dengan ziarah menuju pemakaman keluarga besar Bani Munawwir di Dongkelan bersama segenap santri, diisi dengan khatmul Quran, tahlil dan doa bersama sebagai tanda birrul walidain.

Haedar Nashir

Malam harinya, ba’da isya, akan digelar wisuda 29 penghapal Al-Quran 30 juz bilghaib (terdiri dari 22 putra dan 7 putri) serta 50 wisudawan juz ‘Amma (putra). Selanjutnya disusul dengan Majlis Haul Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir bersama KH Fathurrohman Thohir dari Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol Semarang sebagai pembicara.

Redaktur    : Mukafi Niam

Haedar Nashir

Kontributor: Zia Ul Haq

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pondok Pesantren, Kajian Islam Haedar Nashir

Minggu, 04 Maret 2018

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Jombang, Haedar Nashir. Arziqi Mahlil dan Munzir, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh berhasil meraih Juara II dalam festival film pendek dokumenter Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur.

Pengumuman juara festival film ini dipublikasikan melalui situs resmi NU (nu.or.id), Sabtu (1 agustus 2015), disebutkan, juara pertama diraih M. Iskandar Tri Gunawan dengan judul Bulan Sabit di Kampung Naga karya dan berhak menerima hadiah 20 juta, film ini mengungkap Islam pembawa misi rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin. Untuk juara kedua dengan hadiah 15 juta dimenangkan oleh Arziqi Mahlil & Munzir dengan judul Dalae (dalail khairat), film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan yang tumbuh dan berkembang Dalail di Aceh, sebaliknya dengan pemuda kota, sementara juara ke tiga Vedy Santoso dengan judul Al Ghoriib, ini mengisahkan seorang mualaf dari Jerman yang mondok di pesantren.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Arziqi Mahlil mengungkapkan, keikutsertaannya bersama Munzir pada festival film pendek dokumenter NU ini bersama yayasan Aceh Documentary, dari Aceh ada sekitar lima film yang ikut pada festival itu, dan semuanya masuk nominasi 15 karya terbaik film pendek Muktamar NU ke-33 tahun 2015.

Haedar Nashir

"Kami memilih tema tentang Dalae, ini menurut kami sangat penting, karena merupakan salah satu budaya di Aceh yang sangat kental dengan masyarakat, selama ini kami melihat budaya meudalae di Aceh sudah pudar, sudah jarang sekali, padahal budaya ini dapat mempersatukan masyarakat dan salah satu media dakwah," ujar Arziqi.

Ditambahkan, pembuatan film ini dilakukan di gampong Lamhui Kuta Cot Gli Aceh Besar dan diproduksi oleh Yayasan Aceh Documentary (ADC), ini dibawah bimbingan Adoc dalam ajang ADC pada tahun 2014.  

Haedar Nashir

"Kita berharap, dengan lahirnya karya film ini dapat menginspirasi para pemuda di Aceh untuk terus menggalakkan dalae di malam hari, selain sebagai nilai ibadah, ini juga dapat dijadikan sebagai ajang silaturrahmi dan pemersatu masyarakat di gampong-gampong," ujar Mahasiswa semester VIII jurusan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Hamzah Sahal, koordinator tim kreatif Muktamar ke-33 NU mengatakan, panitia menerima 69 karya film yang didaftarkan oleh peserta dari seluruh Indonesia, ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi, Jawa Tengah, Tawa Timur, DI Jogjakarta dan Aceh paling banyak mengirimkan karya.

"Dewan juri memilih tiga film di atas sebagai juara karena cukup menarik secara ide, cukup matang dalam eksekusi gagasan, cukup dalam teknis penyajian," kata Sahal. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Warta, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 23 Februari 2018

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16

Khartoum, Haedar Nashir



Konferensi Cabang (Konfercab) Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan telah terlaksana pada hari Sabtu tanggal 15 April 2017 di auditorium Ittihad ‘Am Lil Mar’ah Khartoum, Sudan. Acara dimulai pukul 8 pagi dengan penampilan tim rebana PCINU Sudan Jamiyyah Syifaul Qulub (JSQ).

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Selenggarakan Konfercab Ke-16

Setelah acara seremonial selesai, dilanjutkan dengan sidang pleno konfercab yang diikuti oleh seluruh anggota PCINU Sudan yang berjumlah 127 orang. Mereka merupakan peserta penuh, ditambah dua peserta peninjau, yaitu Rasikin dan Yusri (Staf KBRI Khartoum). Sidang pleno dipimpin oleh ketua sidang Budi Sutardi (Steering Committee), wakil sidang Muthiullah, sekretaris sidang Faridhatun Nisa’ dengan pembahasan tata tertib sidang pleno, laporan pertanggungjawaban kepengurusan PCINU Sudan 2016-2017 dan pemilihan rais syuriyah dan ketua tanfidziyah PCINU Sudan masa khidmah 2017-2018.

Pemilihan rais syuriyah dilaksanakan dengan sistem Ahlul Hali wal Aqdi (AHWA) yang menetapkan Ribut Nur Huda sebagai Rais Syuriyah 2017. Pemilihan ketua tanfidziyah dilaksanakan dengan pemilihan secara langsung dan terpilihlah Muhammad Luqman Hambali.?

Hadir dalam acara seremonial Burhanuddin Badruzzaman (Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan & Eritrea), Muhammad Afifullah RIfa’i (Staf KBRI Khartoum & Mustasyar PCINU Sudan), Rasikin (Staf KBRI Khartoum), Yusri (Staf KBRI Khartoum), Syekh Abdullah Makki (Direktur Utama Organisasi Perlindungan Pelajar Asing Wafidin & Mustasyar PCINU Sudan), Muhammad Sulaiman Muhammad Ali (Direktur Utama Dewan Dakwah Kementerian Agama Sudan & Mustasyar PCINU Sudan), Thoriq Muhammad Nur (Dewan Hubungan Internasional Kementerian Penddikan Sudan & Mustasyar PCINU Sudan), Sayyidah Hasanat Awad Sati (Mustasyaroh PCI Muslimat NU Sudan), Syekh Idris bin Hasasn bin Muhammad Abu Qurun (Kholifah Thoriqoh Qodiriyah), Syek Sa’ad Thayyib Abu Qurun (CEO Lizatien Co. Sudan), Syekh Muhadis Azhari Muhammad Said Syathut An Najar (Ketua Umum Hizb Barakah, pemikir dan penulis buku).

Dalam sambutannya, Dr. Sulaiman sangat mendukung dengan ditambahnya mahasiswa dari Indonesia ke Sudan. Ia juga berusaha untuk mempermudah semua hal yang berhubungan dengan pendaftaran administrasi mereka. ? Selain itu, dr Thoriq Muhammad juga menambahkan bahwasanya ia sangat senang dengan para mahasiswa Indonesia karena mereka terkenal dengan akhlak baiknya. (Ayik/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kamis, 22 Februari 2018

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah

Pringsewu, Haedar Nashir. Kabar gembira bagi warga Pringsewu baik perorangan maupun lembaga dan instansi bahwasanya Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu sudah bisa dipakai untuk berbagai macam kegiatan umum seperti seminar, pertemuan, resepsi dan lain sebagainya.?

Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Fathurrahman di Gedung NU, Rabu 18/03/15.

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah

Menurutnya sampai dengan saat ini sudah banyak instansi dan lembaga yang sudah mulai mengadakan kegiatan di Gedung NU yang terletak di Jl. Lintas Barat Kecamatan Pagelaran ini.?

Haedar Nashir

"Dua ? Minggu di bulan Maret ini saja sudah ada 4 kegiatan yang dilaksanakan di Gedung NU seperti Kegiatan HIMPAUDI Kabupaten Pringsewu, ? Musrenbang Kabupaten Pringsewu, ? Kegiatan PMII dan 2 hari ini MTQ KORPRI Kabupaten Pringsewu," jelasnya.

Fathurrahman menambahkan bahwa untuk menyikapi semakin tingginya minat masyarakat untuk menggunakan gedung, kepengurusan PCNU melalui Badan Pengembangan dan Pengelolaan Gedung NU sudah menambah beberapa fasilitas. Diantaranya pengadaan sound system, penambahan perlengkapan kursi dan meja, ? pemasangan LCD proyektor, penambahan dan renovasi toilet, serta pengadaan beberapa peralatan untuk memperlancar dan mendukung kegiatan.

Haedar Nashir

Penambahan fasilitas di gedung yang berlantai 3 ini juga ditujukan untuk memperlancar kegiatan kegiatan intern NU dan badan otonom serta lembaga lembaga NU yang juga berkantor di gedung tersebut. Menurutnya kantor Banom seperti Muslimat, ? Ansor, IPNU dan IPPNU berada di lantai 2 dan 3 yang sekarang sudah aktif digunakan.

"Sesuai dengan peraturan penggunaan, kami mempersilahkan kepada masyarakat untuk memanfaatkan gedung NU untuk kegiatan kegiatan positif dan tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat khususnya warga sekitar," jelasnya. Fathurrahman juga menjelaskan bahwa gedung NU tidak diperkenankan digunakan bagi kegiatan kegiatan partai politik. Menurutnya, hal ini untuk menjaga netralitas NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang tidak berpolitik praktis. (m faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 09 Februari 2018

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid

Jakarta, Haedar Nashir?



Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maman Imanulhaq Faqih mengungkapkan duka sedalam-dalamnya atas wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Ahmad Syahid.?

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

LD PBNU Berduka Atas Wafatnya Ulama Al-Qur’an, KH Ahmad Syahid

“Saya atas nama Ketua Lembaga Dakwah PBNU mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya. Semoga beliau mendapatkan tempat selayak-layaknya di sisi Allah SWT,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Ahad (6/8).?

Kiai Maman bersaksi bahwa KH Ahamd Syahid adalah seorang qari sesungguhnya. KH Ahamd Syahid bukan ulama yang mengumbar ayat-ayat Al-Qur’an untuk diperjualbelikan, tapi untuk diamalkan dan dihayati untuk menjadi ruh kehidupan.?

“Sekali lagi Lembaga Dakwah PBNU betul-betul berduka cita. Semoga keluarga beliau dan kita semua bisa meneruskan perjuangan KH Ahmad Syahid,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Baitul Arqom Ciparay itu. ?

Kiai Maman mengenang, bahwa dia pernah diajak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersilaturahim ke Al-Falah.?

Haedar Nashir

Waktu itu, Gus Dur mengatakan, kalau ingin melihat orang yang ikhlas dalam mempelajari Al-Qur’an, dialah KH Ahmad Syahid. Dia adalah qori kehidupan.

Haedar Nashir





Seabagaimana diketahui, KH Ahmad Syahid meninggal dunia di Rumah Sakit AMC Bandung, Sabtu (5/7) bakda maghrib.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Nasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Lumajang, Haedar Nashir

Untuk menggali dan mengembangkan potensi pesantren, khususnya dalam mengelola media, sejumlah santri menyelenggarakan Safari Jurnalistik. Kegiatan yang telah dilaksanakan di salah satu pesantren di Lumajang tersebut akan terus diselenggarakan di empat kota lain di Jawa Timur.

"Untuk tahap pertama, Safari Jurnalistik diselenggarakan di Pondok Pesantren Darun Najah Petahunan Lumajang," kata Abdul Hady JM, Senin (1/2). Pengasuh sekaligus narasumber utama Safari Jurnalistik ini mengemukakan bahwa acara serupa akan diselenggarakan di Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Lamongan.

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Wartawan Majalah Gatra ini mengemukakan bahwa potensi pesantren sangat besar. Baik dari sisi sumber daya manusia, maupun muatan yang ada di dalamnya. Akan tetapi, yang cukup disayangkan, tidak banyak kalangan yang mengetahui secara detail potensi tersebut.

Upaya untuk semakin mengoptimalkan potensi pesantren tersebut antara lain dengan membekali dan mengasah keterampilan mengelola media. "Baik cetak maupun online, bahkan audio visual," kata lajang asal Sumenep ini.

Dan selama dua hari yakni Ahad (31/1/2016) hingga hari ini, sekitar seratus peserta mengikuti kegiatan safari jurnalitik tersebut. "Para peserta adalah utusan dari sejumlah pesantren dan madrasah di Lumajang. Diharapkan, usai mengikuti kegiatan, mereka dapat mengelola media di masing-masing lembaga secara mandiri,” kata Ilyasin Yusuf sekretaris panitia ini.

Haedar Nashir

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teknik penulisan berita, wawancara, resensi dan opini, serta menajemen redaksional. "Sedangkan untuk melihat lebih dekat kemampuan peserta dalam menyerap materi, dilakukan praktik pada hari kedua," kata Ustadz Sisin, sapaan akrabnya.

Safari Jurnalistik merupakan kegiatan pengenalan sekaligus pendampingan ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Acara didukung penuh oleh Santri Media yang merupakan personil dari website santrinews.com. Para narasumber yang dihadirkan antara lain Abdul Hady JM, Imam Hambali, Set Wahedi, serta Achmad Jazuli Ghufron. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Sumenep, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep, Ubaidillah, melakukan klarifikasi seputar warta di Haedar Nashir (17/11) terkait ditundanya pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto, Sumenep. Menurutnya, kabar bahwa pelantikan tersebut tertunda gara-gara LSM Fajar Nusantara (Fans), tidak benar adanya.

“Yang benar adalah, acara pelantikan tersebut ditunda karena ada sisi teknis yang belum matang dalam kepanitiaan,” terang Ubaidillah kepada Haedar Nashir melalui telepon selulernya, Senin (18/11) siang.

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Ditambahkan Ubaidillah, Anwar Nuris yang menyebar kabar penyebab tertundanya pelantikan di jejaring sosial, bukanlah salah seorang pengurus PAC IPNU Bluto. Karenanya, apa yang disampaikan Anwar Nuris tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Haedar Nashir

“Anwar Nuris ini berada di luar struktur kepengurusan PAC IPNU Bluto,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kepada Haedar Nashir, Ubaidillah menceritakan kronologi tertundanya pelantikan yang sedianya akan dilangsungkan pada Jumat (15/11) lalu itu. Pihaknya menekankan betapa hal itu tidak ada kaitannya dengan LSM Fans.

“LSM Fans ini yang mengelola murni adalah Syaiful Harir. Dia minta bantuan ke teman-teman cabang (PC IPNU Sumenep, red) untuk mengurus acara. persiapan segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada saat itu, Ketua PAC IPNU Bluto Abdul Wahid memberitahukan kepada Ubaidillah melalui telepon, bahwa acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto dilangsungkan ba’da Jumat.

“Dan saya menyampaikan ke rekan-rekan PAC IPNU-IPNNU Bluto bahwa di cabang ada acara. Saya juga sampaikan bahwa apabila acara pelantikan itu memang sudah disepakiti, mohon tidak ditunda. Kami tetap akan hadir,” tambah Ubaidillah.

Tak berlangsung dari pemberitahuan yang pertama itu, Ubaidillah menerima pemberitahuan kedua. Pemberitahuan kedua ini menegaskan acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto ditunda, atas kesepakatan panitia.

“Diberitahukan kembali ke saya, acaranya diundur. Saya jawab tidak apa-apa walau diundur. Ketika saya tanyai alasannya, jawabannya karena ada sisi teknis yang belum matang. Mereka menghendaki acara sangat sukses,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hasil rapat pengurus PAC IPNU-IPNU Bluto, Jumat lalu, di Masjid Baiturrahman Gilang Bluto, pelantikan dan orasi Ke-IPNU-IPPNU-an akan ditunda sampai pada tanggal 22 November 2013 bertempat di Kantor MWC NU Bluto dengan tema “Menelaah Kembali Visi-Misi IPNU-IPPNU”. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji

Boyolali, Haedar Nashir. Untuk menghindari keruwetan ganti pakaian saat tiba di Arab Saudi, sebagian dari calon haji (calhaj) yang berangkat dari Embarkasi Solo, Jawa Tengah, mengenakan pakaian ihram sejak dari Asrama Haji Donohudan atau sesaat sebelum mereka terbang ke Tanah Suci.

Hal tersebut diinstrusikan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo 2013. Menurut Kasubbag Humas PPIH, Badrus Salam, pihaknya menyarankan agar mengenakan pakaian ihram di asrama haji, jika calhaj mengambil miqat umrah wajib saat berada di pesawat terbang.

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji

“Kami menyarankan hal tersebut karena ganti pakaian di dalam pesawat itu tidak mudah,” ucapnya, Senin (30/9).

Haedar Nashir

Selain itu, jamaah yang mengambil miqat di Jeddah akan mengalami kerepotan jika mereka berganti pakaian ihram setelah tiba di Jeddah. Pasalnya, kebijakan baru untuk pemeriksaan hanya dilakukan selama dua jam, berbeda dengan tahun sebelumnya yakni empat jam.

“Karena waktu pemeriksaannya singkat, jamaah yang akan berganti pakaian ihram bisa kerepotan mencari tempat ganti pakaian,” terangnya.

Haedar Nashir

Namun, beberapa kendala mungkin akan dialami calhaj manakala memakai pakaian ihram sejak dari tanah air. Di antaranya kemungkinan tidak kuat untuk menahan hawa dingin di dalam pesawat terbang. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, RMI NU Haedar Nashir

Rabu, 27 Desember 2017

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Pada tahun 1984 M, Habib Umar bin Ahmad Al-Muthohar dari Semarang sedang mengikuti KKN di Kecamatan Kedungjati, salah satu kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kala itu, Habib Umar mendapat cerita dari masyarakat setempat yang menyatakan bahwa di Brabo, desa yang masih sekecamatan dengan tempat di mana Habib Umar mengikuti kegiatan purna mahasiswa itu, terdapat ulama sepuh yang alim, shalih.

Sebagaimana biasa, Habib Umar ketika mendengar kisah orang seperti demikian, ingin sekali sowan ngalap (mencari) berkah serta doa-doa kiai tersebut. Dan ia pun datang ke kediaman Kiai Syamsuri Dahlan beserta satu teman lain bernama Ir. Budi (kini Staf Wali Kota Semarang).

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketajaman Hati Kiai Syamsuri Dahlan

Sampai di ndalem Kiai Syamsuri, Habib Umar mendapati piantun sepuh itu sedang duduk siang, santai di atas kursi besar dan lebar, khas mebel kuno dengan memakai baju putih tanpa dikancingkan di bagian dada.

Haedar Nashir

Habib Umar menyapa, mengucap salam “Assalamualaikum...”

Melihat ada tamu datang, Kiai Syamsuri segera tergopoh berdiri, menatap tepat menuju pintu di mana Habib ini berdiri, seraya menyambut dengan kalimat hangat

“Waalaikumussalam... Monggo, monggo... Ndhoro Sayyid. Monggo Ndhoro Sayyid”, silakan masuk, Tuan. Silakan masuk.”

Haedar Nashir

Sejurus kemudian Kiai Syamsuri masuk ke dalam ruangan dalam rumah, berganti baju yang lebih layak untuk hormat tamu.

Parasaan heran dan tanda tanya besar menyelimuti hati Habib Umar yang masih terlalu muda dan belum banyak dikenal khalayak seperti sekarang ini, "Bagaimana bisa, Kiai Syamsuri mengenali saya sebagai keturunan Nabi SAW (sayyid/habib) sedangkan Kiai Syamsuri sendiri belum pernah sekalipun bertemu dengan saya,” gumamnya dalam hati.

Usai bincang-bincang cukup, Habib Umar memberanikan diri bertanya, “Mbah, panjenengan belum pernah bertemu saya, bagaimana panjenengan tahu bahwa saya ini termasuk sayyid.”

Gandane ketawis, Bib (aromanya terlihat jelas, Bib)!” Jawab Kiai Syamsuri dengan singkat, jelas. Jawaban ini membuat hati Habib Umar merinding.

Habib Umar mengibaratkan kisah tersebut dengan cerita Nabi Ya’qub saat berpisah dengan Nabi Yusuf, di mana Nabi Ya’qub mengenali baju yang diberikan kepadanya adalah milik Yusuf hanya melalui ciuman aroma baju yang dibawa saudara Nabi Yusuf ketika sudah mendekati rumah sang ayah. Hal ini mereka dapatkan karena kekuatan cinta di antara mereka.

Cerita ini disampaikan Habib Umar Al Muthohar saat menyampaikan mauidhah hasanah di Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo dan diulang kembali saat pelacak Buku Biografi Jejak Kiai Syamsuri Dahlan sowan ke kediamannya di Semarang. (Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Pondok Pesantren, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 24 Desember 2017

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

Dalam kitab Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalikhin karya Syeikh Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i (696-768 H), terdapat kisah ujian kesabaran Ibnu Khafif (w. 981 M) dan seekor antelop liar (semacam rusa). Diceritakan:

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Aku memasuki kota Baghdad dengan tujuan menghadiri perkumpulan. Di kepalaku ada kesombongan kesufian, yaitu (berlagak) mempertajam kehendak, menguatkan mujahadah dan menyisihkan segala sesuatu yang selain Allah SWT. 

Aku tidak makan empat puluh hari lamanya, tidak pula bergabung dengan perkumpulan Junaid. Aku keluar dan tidak minum. Ketika aku hendak bersuci, aku melihat seekor antelop liar diatas sumur dan sedang minum. Aku sangat kehausan. 

Haedar Nashir

Ketika aku mendekati sumur, antelop liar itu melarikan diri. Ketika itu airnya telah berada di titik terbawah sumur (tidak dapat diambil lagi), aku berjalan pergi sembari berkata: 

“Wahai Tuanku, milikku disisiMU, telah berpindah ke antelop ini.”

Haedar Nashir

Kemudian aku mendengar seseorang berkata dari arah belakangku: 

“Kami mengujimu dan kau tidak sabar. Kembalilah, dan ambillah air. Sesungguhnya antelop itu datang ke sumur tanpa membawa sampan (untuk menyimpan air) dan tali (untuk menimba). Sedangkan kau datang membawa sampan dan tali.”

Maka aku kembali, ketika itu air sumur sudah melimpah, lalu kupenuhi sampanku. Aku pun minum darinya serta bersuci dengannya sampai Madinah, dan air itu tidak habis. Ketika aku pulang dari haji, aku memasuki perkumpulan (Imam Junaid al-Baghdadi). Ketika aku berhadapan dengannya, Ia berkata: “Andai saja kau bersabar sesaat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.” (Afifuddin Abi al-Sa’adat Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani, Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalihin, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, tt, hlm 102).

Setelah mengalami ujian ketidak-sabaran, Imam Ibnu Khafif menyelam kedalam diri untuk menjernihkan hatinya. Ia, kemudian melakukan riyadloh (kontemplasi ketat) sekaligus bertaubat atas kegagalannya dalam menguatkan kesabarannya. 

Ketika kecongkakan hadir, meski dalam rupa yang mempesona sekalipun seperti penguatan mujahadah, ia akan menjadi celah masuknya bisikan setan. Imam al-Ghazali menyebutnya madakhil al-syaitan (pintu masuk setan), yang terbuka ketika prasangka atau perbuatan buruk dilakukan manusia.

Dari pengalamannya itu, Imam Ibnu Khafif membagi sabar dalam tiga tingkatan. Pertama, mutashabbirun, orang yang berkeinginan bersabar. Kedua, shabirun, orang yang bersabar. Ketiga, shabbarun, orang yang terus menerus bersabar atau kesabarannya tidak memiliki batas. (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, Kairo: Muassasah Darul Sya’b, tt,hlm 326). 

Di saat kejadian itu terjadi, Ibnu Khafif masih sekedar mutashabbirun, kesabarannya sebatas hasrat menggebu yang belum berimbang. Karenanya, Ia mengeluh tidak mendapatkan air untuk diminum dan bersuci. Ia bahkan membuat antelop itu lari ketakutan, meninggalkan sumur karena Ibnu Khafif berjalan mendekatinya, tidak menunggu antelop itu menyelesaikan minumnya.

Untuk sesaat Ibnu Khafif diselimuti rasa takut tidak mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhannya, hingga secara sengaja membuat antelop itu lari ketakutan. Latihan kesabarannya selama ini, 40 hari tidak makan dan lain sebagainya, diruntuhkan seketika oleh hawa nafsunya (egoisme).

Kemudian terdengar suara yang menggugah pikiran Imam Ibnu Khafif, bahwa kesabarannya tidaklah seberapa. Suara itu melucuti kepasrahan dan kesabarannya, membandingkannya dengan antelop liar. “Kau datang membawa sampan dan tali,” artinya ada persiapan untuk memenuhi sampannya dan menjadikannya bekal, tapi “antelop itu datang tanpa membawa sampan dan tali.” Hanya mengambil seperlunya saja, sisanya dipasrahkan pada kehendakNya.

Sentilan penuh makna juga diberikan Imam Abu Sulaiman al-Darani (140-215 H) yang mengatakan:

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?

“Demi Allah, (jika) kita tak bisa sabar atas hal yang kita cintai, bagaimana mungkin kita bisa sabar atas hal yang kita benci?” (Imam Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm 325).

Mencintai adalah kerja keras, bukan perkara mudah. Berkali-kali jatuh dan tertatih-tatih, terbakar api cemburu dan kerinduan yang menyala-nyala. Jika dalam suka-lara dan kerja keras mencintai saja manusia tidak bisa sabar, bagaimana dengan hal yang dibenci. Apakah masih ada ruang untuk kesabaran?

Maka dari itu, kesabaran harus tetap tergenggam. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi ketika kita terus menggenggamnya. Ada banyak kemungkinan di depan kita. Tapi, sekali kita melepaskannya, kemungkinan itu lenyap. Seperti Imam Junaid al-Baghdadi yang membocorkan salah satu kemungkinan dari hasil kesabaran, dengan mengatakan: “Andai saja kau bersabar beberapa saat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.”

Ya, kita memang tidak tahu apakah air itu akan benar-benar keluar dari bawah telapak kaki Imam Ibnu Khafif atau tidak, yang pasti selalu ada hasil dalam bersabar. Namun perlu diperhatikan, janganlah bersabar untuk mendapatkan hasil, itu salah. 

Sebab, penyesalan terbesar Ibnu Khafif bukan karena tidak diperolehnya keuntungan (hasil), tapi jiwanya kembali keruh setelah sekian lama ia berusaha menjernihkannya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapa sabarkah kita? Wallahu a’lam...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’dah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada Haedar Nashir, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

Haedar Nashir

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Haedar Nashir

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Quote, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 13 Desember 2017

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Bandung, Haedar Nashir

Selama ini wacana penguatan ulama sering diangkat, tapi sulit untuk diwujudkan. Beberapa hasil refleksi mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena fokus penguatan itu tertuju kepada para kiai atau ulama secara langsung. Sementara mereka memiliki banyak keterbatasan, menyangkut usia, kesibukan, dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Robithah Ma’ad Islamy (PW RMI) Jawa Barat, KH Abdul Chobir, dalam sambutan acara bertajuk Pelatihan Asistensi Kiai NU. Acara yang kelola RMI ini diikuti oleh 26 utusan pesantren dari 26 kabupaten/kota seluruh Jawa Barat.

Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Asistensi Kiai NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Asistensi Kiai NU

Acara yang telah berlangsungkan dari tanggal 3-5 Desember ini bertempat di? Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, jalan Terusan galunggung No. 09 Bandung. Pelatihan yang rencanya dilakukan beberapa tahap ini dinilai unik, karena di baru pertama kali dilakukan.

Haedar Nashir

“Pelatihan ini ikhtiyar PW RMI Jabar untuk memecahkan problem yang disebut Kiai Chobir dalam sambutan tadi,” ujar Iip D Yahya, ketua panitia yang juga wakil sekretaris PW RMI Jawa Barat itu.

Haedar Nashir

“Pesertanya kebanyakan anak kiai, kerabat dekat atau santri kepercayaan. Saya kaget, ternyata mereka antusias,” tambah Iip D Yahya, penulis biografi KH Ilyas Ruchiyat, Cipasung Tasikmalaya.

Selama tiga hari para peserta diperkenalkan dengan teori jurnalisitik, teknik dasar penulisan biografi, pengenalan peta mutakhir pesantren dan NU di tingkat nasional dan internasional, serta manajemen internal pesantren. Acara ini mendatangkan Abdul Mun’im DZ (PBNU), Muhammad Syafi dan Hamzah Sahal dari Haedar Nashir, Ahmad Dairobi dari pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. (yy)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Pesantren Haedar Nashir

Minggu, 03 Desember 2017

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional

Subang, Haedar Nashir - Di antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang ditunjuk PBNU sebagai salah satu proyek percontohan program Kartu Anggota NU (Kartanu) adalah PCNU Subang, Jawa Barat. Dalam pelaksanaannya, PBNU sudah menjalin kerja sama dengan Bank Mandiri.

Mengenai hal ini, PCNU Subang dan Bank Mandiri Cabang Subang melakukan rapat koordinasi untuk mensukseskan program Kartanu dalam Rapat Reboan di Kantor PCNU Rabu (14/9).

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Luncurkan Kartanu Pada Peringatan Hari Santri Nasional

"PCNU Subang dan Bank Mandiri siap mensukseskan program Kartanu. Tadi sudah koordinasi dengan pimpinan Bank Mandiri Subang," ungkap Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah seusai rapat.

Haedar Nashir

Bank Mandiri Subang, kata dia, siap memenuhi permintaan PCNU Subang pada gelombang pertama pembuatan Kartanu yang bisa dijadikan Kartu ATM Bank Mandiri. Kartu tersebut tercetak minimal 100 Kartanu sebelum tanggal 22 Oktober nanti karena rencananya pada tanggal tersebut PCNU Subang akan menggelar peringatan Hari Santri Nasional sekaligus peluncuran Kartanu.

"Insya Allah pada peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober nanti, Kartanu akan diluncurkan," tambahnya.

Haedar Nashir

Saat ini, kata dia, pembuatan Kartanu melalui PCNU Subang masih terbatas karena baru menyentuh jajaran Pengurus PCNU, Lembaga dan Banom yang ada di lingkungan PCNU Subang serta MWCNU dan Ranting NU. Jika semua pengurus sudah memiliki Kartanu baru mulai menggarap ke jamaah.

"Supaya pengurus bisa menjelaskan ke masyarakat, seperti ini bentuk Kartanu, karena kalau belum punya Kartanu nanti dikhawatirkan pengurus akan kesulitan menjelaskan," pungkas Pengasuh Pesantren Attawazun ini. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 28 November 2017

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Gresik, Haedar Nashir. Kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar? se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan digelar di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kec. Dukun, kab. Gresik, mulai Rabu (19/6) hari ini. Kejuaraan digelar dalam dalam rangka peringatan haul ke-50 pendiri pesantren, KH Ma’shum Shufyan.

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Sekitar 350 pendekar yang merupakan utusan Ranting/Rayon Pagar Nusa se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan memerebutkan “KH. Ma’shum Sufyan Cup 2013” untuk beberapa kategori dan kelas.?

Ada tiga kategori yang bertanding yakni usia dini (7-12 tahun), pra remaja (12-14 tahun), dan remaja (14-17 yahun). Masing-masing kategori terdiri dari beberapa kelas yang didasarkan pertimbangan berat badan.

Haedar Nashir

Dalam Rilis kegiatan yang diterima Haedar Nashir, setiap Ranting/Rayon hanya mengikutsertakan 1 peserta dari tiap-tiap kategori yang dipertandingkan.

Sementara itu, pakaian pesilat dan pendampingnya adalah seragam resmi Pagar Nusa (hitam-hitam). Sebelum bertanding, setiap pesilat tanding harus sudah menggunakan cap protector. Pesilat putri harus memakai pembalut dan aksesoris yang membahayakan pertandingan dilepas.?

Haedar Nashir

Peraturan pertandingan yang digunakan dalam kejuaraan kali ini adalah Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antara Bangsa hasil Keputusan Munas IPSI tahun 2012. Sementara sistem pertandingan yang digunakan adalah sistem gugur tunggal.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Minggu, 10 September 2017

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

Wonosobo, Haedar Nashir

Sejumlah pemuda yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Jawa Tengah, Ahad (19/6), menggelar acara buka puasa dan tarawih bersama jamaah Ahmadiyah di Masjid Al-Mubarok Dusun Sumber, Desa Lumajang, Kecamatan Watumalang yang merupakan basis terbesar jamaah Ahmadiyah di Kabupaten Wonosobo.

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Buka Puasa dan Tarawih bersama Jamaah Ahmadiyah

Ketua Pengurus Takmir Masjid Al-Mubarok Satoto, yang mewakili jamaah Ahmadiyah memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kader IPNU-IPPNU Watumalang tersebut. Ia mengaku bangga bahwa kader IPNU-IPPNU mau menjaga silaturahim dengan umat Islam lain meskipun mempunyai perbedaan secara ideologis. Selain itu, ia juga memuji Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang memegang erat nilai-nilai toleransi.

"Dalam keadaan bangsa Indonesia yang sedang dilanda krisis moral ini, kami merasa bangga memiliki Nahdlatul Ulama yang merupakan ormas Islam yang sangat toleran terhadap kelompok lain, bukan hanya dalam internal Islam saja. Akan tetapi kepada umat agama lain," tambahnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, M. Sairin, senior IPNU Watumalang, mengungkapkan bahwa acara tersebut merupakan upaya untuk menjaga tali silaturahim dan kesatuan serta persatuan umat Islam yang akhir-akhir ini banyak diwarnai dengan perpecahan.

"Dengan acara ini kami berharap kerukunan antarumat Islam selalu terjaga, perbedaan bukanlah alasan untuk saling berpecah-belah. Saling menghargai perbedaan adalah hal yang sangat penting untuk selalu dilakukan," tuturnya.

Haedar Nashir

Bukan hanya itu, dalam acara tersebut IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalang memberikan sejumlah Al-Quran kepada Masjid Al-Mubarok sebagai kenang-kenangan yang diharapkan dapat dipergunakan untuk kemanfaatan jamaah Ahmadiyah di sana. Acara tersebut ditutup dengan taushiyah yang disampaikan Ketua Tanfidziyah MWCNU Watumalang Kiai Mansyur. Ia menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah dan hikmah di balik bulan Ramadhan.

Acara buka dan tarawih bersama tersebut merupakan rangkaian kegiatan Ramadhan yang secara rutin dilakukan oleh IPNU-IPPNU Kecamatan Watumalamg yang selanjutnya akan disusul dengan kegiatan serupa serta santunan anak yatim di daerah Watumalang pada Sabtu (25/6), sebagai acara puncak dari rangkaian kegiatan tersebut. (Bujang Fajar Al-fatih/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren, Berita Haedar Nashir

Rabu, 30 Agustus 2017

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Haedar Nashir

Selasa, 21 April 2015

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Probolinggo, Haedar Nashir - Bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi masyarakat yang berjualan makanan-minuman (mamin). Sudah menjadi fenomena selama bulan Ramadhan, masyarakat senantiasa menyerbu para pedagang mamin takjil mulai habis Ashar hingga menjelang adzan Maghrib tiba.

Saat Ramadhan, pedagang takjil berjualan dengan berkelompok dan sendirian.? Apapun bentuknya, menjelang bedug Maghrib, dagangan mereka laris diburu pembeli. Ramainya transaksi jual-beli mamin takjil itu terlihat di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo.

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Pedagang Takjil Laris Manis

Pemandangan di bagian timur Alun-alun Kota Kraksaan kembali ramai dengan pedagang takjil seperti tahun sebelumnya. Puluhan stand takjil yang didirikan, mulai Sabtu (27/6) lalu itu seluruhnya terisi. Banyaknya pedagang yang berjualan masih kalah banyak dibandingkan dengan konsumen yang berbelanja.

Haedar Nashir

Ratusan pedagang musiman ini dikelola oleh persatuan PKL “Semarak” Kraksaan. Hanya dengan menyetor iuran sebesar Rp 75.000 mereka berhak menempati lapak yang sudah disediakan dengan fasilitas tenda sebagai pengaman saat hujan.

Lia, salah satu penjual kuliner musiman ini mengungkapkan, seperti tahun sebelumnya biasanya 10 hari pertama dan 10 hari terakhir adalah paling ramai dikunjungi pembeli. “Ayam krispi saya sehari bisa laku 5-6 kilogram, bahkan sebelum Maghrib sudah habis, kalau pas ramai pembeli,” katanya, Jum’at (2/6) sore.

Sementara Dita, seorang pengunjung mengaku lebih leluasa dan nyaman untuk berbelanja tahun ini karena lokasi penataannya lebih teratur dan rapi. “Kalau dulu penataannya semrawut dan harus berdesak-berdesakan kalau mau belanja,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Sedangkan Muhammad Anshori, salah satu pengurus persatuan PKL “Semarak” menyampaikan bahwa kehadiran para pedagang musiman ini tidak berdampak negatif pada penghasilan para PKL di Alun-alun Kota Kraksaan, bahkan sebaliknya dengan ramainya? pengunjung juga membawa berkah tersendiri bagi mereka.

“Mereka buka usahanya hanya sore hari, sedangkan kita para PKL bisa sampai waktu sahur jadi walaupun sama-sama jualan kuliner tidak berpengaruh kepada pendapatan kami,” ujarnya.

Untuk tahun ini jelas Muhammad Anshori, pihaknya mengatur ulang lokasi para pedagang takjil ini sehingga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kami atur memanjang supaya tidak menimbulkan macet dan pelanggan dari PKL ‘Semarak’ masih bisa masuk dan belanja seperti biasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pondok Pesantren, Ulama Haedar Nashir

Selasa, 24 Februari 2015

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Gunung Kidul, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul menggelar lomba tilawatul Qur’an, Ahad (3/1). Perlombaan ini melibatkan 326 santri TPA dan TPQ sekecamatan setempat di Kompleks SMP Pembangunan Semin.

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Sebanyak 12 macam lomba difasilitasi pelajar NU Semin. Masing-masing perlombaan, peserta memperebutkan trofi juara 1-3 dan juara umum.

Ketua Panitia MTQ Alan Nursaid mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur yang sudah membantu terlaksananya kegiatan MTQ baik itu bantuan moral maupun bantuan material. Ia juga berterima kasih kepada rekan dan reknita panita yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menyukseskan acara MTQ sekecamatan Semin.

Haedar Nashir

“Musabaqoh ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh IPNU dan IPPNU Semin yang kebetulan pada tahun ini bebarengan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Ketua IPNU Semin Azis Yulianto.

Haedar Nashir

Rais Syuriyah MWCNU Semin KH Mustajib Muhyi mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia berharap IPNU dan IPPNU Semin kelak menjadi generasi yang akan meneruskan estafet organisasi dan perjuangan MWCNU Semin. (Khairul Rasyid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Pahlawan Haedar Nashir

Selasa, 18 Maret 2014

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan

Bojonegoro, Haedar Nashir

Peternakan merupakan hal yang strategis untuk meningkatkan perekonomian, namun hal itu harus dilakukan dengan benar. Setidaknya hal itu yang muncul dalam forum Obrolan Bareng Ansor atau Obor yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gayam Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (4/8/2017).

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Muhammad Jai yang juga sebagai ahli peternakan dan Direktur Yayasan Bimantari.

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Gayam Didorong Kembangkan Bisnis Peternakan

Dia menyampaikan bahwa memahamkan pemuda tentang peternakan adalah persoalan mengubah pola pikir yang tidak bisa dilakukan begitu saja. karena stigma di masyarakat masih menganggap sektor peternakan tidak menjanjikan hasil yang besar.

Haedar Nashir

"Banyak dari masyarakat kita yang belum memahami cara beternak yang efektif sehingga seringkali gagal dalam beternak, sampai mereka berkesimpulan beternak tidak prospektif," ungkapnya dalam dialog yang digelar di Mushala Maslakul Huda, Beged, itu.

Padahal, ia melanjutkan, beternak harus dipahami di semua lini prosesnya, termasuk dalam memahami nutrisi pakan dan efektivitas pembiayaanya.

Haedar Nashir

"Kalau kita paham caranya, memberi pakan ternak itu cukup kita mencari rumput sekali dan dibuat menjadi pakan yang bisa digunakan selama sebulan lebih, dengan melalui cara dan strategi yang tepat," tambahnya.

Ia berharap, kader Ansor Gayam menjadi bagian dari elemen yang mengubah pemahaman masyarakat soal peternakan. "Forum seperti ini sangat luar biasa untuk mengembangkan pengetahuan kita secara benar," pungkasnya.

Sementara itu, koordinator kegiatan Obor, Mustofa Amin menyampaikan, kegiatan ini akan menjadi wadah penambahan wawasan kader, supaya dapat diaplikasikan ilmunya secara nyata.

"Semoga ke depan lebih banyak yang menerima manfaat atas wawasan seperti ini," ungkap pria yang juga guru di salah satu madrasah aliyah di Bojonegoro ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pondok Pesantren, Quote Haedar Nashir