Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Oleh Fathan Subchi



Nahdlatul Ulama (NU) tidak lama akan memasuki satu abad. Tentu, sebagai organisasi sosial keagamaan, NU memang sepatutnya terus berinovasi. Jamiyah yang terkenal corak komunalnya dan identik dengan kaum sarungan ini harus kian akrab dengan isu-isu dan gagasan soal penguatan ekonomi warganya.?

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Ekonomi, dan Politik Kemaslahatan

Dalam menapaki usianya yang kian matang ini--satu rentang waktu yang terbilang cukup matang mestinya dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan--tentu tuntutan warga menjadi satu keharusan yang terus diformulasikan oleh stakeholder, termasuk para pemangku kebijakan di berbagai daerah (eksekutif, legislatif, dll) ?

NU memang sejatinya jelmaan Indonesia itu sendiri. Sebaran warganya yang di berada pelosok-pelosok desa, tradisi kulturnya yang menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat, dan corak kegamannya yang terbuka dan menerima pandangan dari luar yang baik merupakan mozaik bangsa yang perlu dilestarikan oleh siapa pun, termasuk terhadap para penguasa.?

Namun, kendala yang kita hadapi memang sejatinya dari fase ke fase hampir sama, setidaknya ? problem kesejahteraan yang melekat pada kelompok-kelompk warga yang tak punya akses pendidikan, miskin keahlian, dan memang tertinggal secara pemikiran. Perlu ada intervensi semacam tandzimul harakah melalui sebuah kebijakan negara. ?

Haedar Nashir

Sebaran mereka yang mengenyam pendidikan yang baik memang seberuntung daripada mereka yang pada masa-masa lampau telah menjauh dan tak mau bersentuhan dengan dunia ? pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan dan pesantren. Yang tersebar menjadi petani, nelayan, buruh, guru swasta, pegawai kontrak, pekerja informal tentu kian rumit untuk diurai tali dan relasi kesejahteraannya, apalagi tantangan zaman juga kian kompleks.?

Sebagai jamiyah, kontribusi NU dalam berbagai aspek dalam menjejak satu abad memang terlihat sudah amatlah luas. Yang terlihat dan bisa dirasakan secara kultural adalah: pertama, kontribusinya dalam menjaga daya ketahanan sosial masyarakat melalui berbagai sarana persemaian nilai-nilai budaya dan tradisi-tradisi seperti yang menjadi langgam dakwah Wali Songo.?

Kedua, kontribusi secara tarbiyah bisa dilacak menjadi konsistensi NU dalam mengelola pesantren dan madrasah sebagai implementasi pendidikan keagamaan. Nilai-nilai keagaman yang disemai kalangan pesantren dan kiai NU jauh lebih bias diterima masyarakat luas, dan menjadi inspirasi pengetahuan keagamaan dan sumber-sumber kajian akademik di tengah oase padang tandus kerasnya aliran dan paham-paham radikal yang kian mulai berembus. Apalagi, secara jelas dunia sedang menggejala intoleransi. ?

Haedar Nashir

? ? ?

Nahdlatut Tujjar sebagai Gerakan?

Ada tiga pilar utama sebagai pondasi bagi tegaknya organisasi NU yaitu, Nahdlatul Wathan (Gerakan Cinta Tanahair), Tashwirul Afkar (Gerakan Intelektual dan Pemikiran) dan Nahdlatut Tujjar (Gerakan Ekonomi). Ketiga pilar ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan NU dalam membangun bangsa ini. Ketiga pilar tersebut pada mulanya adalah sebuah organisasi yang masing-masing didirikan oleh ulama-ulama dari kalangan NU sendiri. Tahun 1914 berdiri Nahdlatul Wathan sebagai manisfestasi dari kebangkitan berbangsa dan bernegara yang merdeka, bebas dari pengaruh penjajahan.?

Kemudian Tashwirul Afkar pada 1918 sebagai ikon dari pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dan pada tahun yang sama berdiri pula Nahdlatut Tujjar sebagai perwujudan dari pengembangan ekonomi umat. Ketiga menjadi cikal bakal NU dan sekaligus sebagai pondasi fundamental NU.?

Nahdlatut Tujjar adalah narasi sejarah yang dilukis oleh para pendahulu-pendahulu NU. Nahdlatut Tujjar harus bisa dihadirkan kembali, apalagi secara jelas Raisul Akbar, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dengan kata-kata mutiaranya tentang “Pak Tani itulah penolong negeri”.?

Kata-kata mutiara itu diambil dari cuplikan tulisan beliau, “Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat ? negeri didasarkan.” (artikel F. Rahman-NU, Online, 1/1/2017)?

Sesungguhnya banyak hal yang menyebabkan perlunya didirikan organisasi ini. Satu hal yang terpenting adalah keprihatinan ulama terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang terbelakang baik secara mental maupun sosial ekonomi hingga persoalan kebangsaan dan keagamaan. Sebagai bangsa yang berada di bawah kungkungan imperialisme bangsa barat pada saat itu bangsa Indonesia mengalami kondisi yang memperihatinkan. Dan di sinilah Nahdltut Tujjar dihidupkan. Saudagar ulama-santri konsolidasi dan lahirlah organisasi ini sebagai wahana dakwah yang kemudian bisa membesarkan jamiyah untuk lebarkan kekuatan anti-kolonial barat. ? ?

Sebagai embrio gerakan saudagar ulama-santri, Nahdlatut Tujjar bisa letakkan dalam konteks hari ini di mana kita menyadari bahwa warga NU masih jamak yang berada dalam lapis sosial yang tertinggal, mereka masih perlu diintervensi kesejahterannya.?

Mereka menjadi "miskin" secara intelektual dan ekonomi. Dua jalur yang sama-sama perlu diikhtiarkan, yaitu Intelektualisme dan ekonomi. Dua hal pokok kehidupan yang dapat menjadi awal keterbelakangan atau kemajuan suatu bangsa. NU sebagai ormas keagamaan lahir untuk membangkitkan bangsa Indonesia dari tidur lelapnya. ?





Strategi Cluster?

Sejak awal peran Nahdlatut Tujjar dalam memberdayakan ekonomi umat mendapat dukungan dari para pendiri NU yang kebanyakan adalah para pedagang atau sekurang-kurangnya mempunyai unit produksi yang membuat mereka bisa mandiri secara ekonomi.

Diakui atau tidak, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan dan mayoritas dari itu adalah warga Nahdliyin yang berada di pedesaan.?

Dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi menjadi satu hal terpenting. Karena sabda Rasul SAW yang artinya "kefakiran akan mendekatkan pada kekufuran". Ini mencerminkan bahwa dalam ekonomi islam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) akan sangat mempengaruhi keimanan dan keislaman seseorang. Memberdayakan ekonomi umat bisa dimulai dari mana saja. Pergerakannya berbanding lurus dengan konsistensi dan fokus yang menjadi sasaran pasarnya. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, di antaranya dengan model cluster :?

Pertama, pesantren sebagai cluster utama bagi NU. Formulasi gerakannya dititik tekankan pada studi kebutuhan dan kelayakan usaha, serta akses permodalan, kecakapan SDM, dan ketekunan induknya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan. Pesantren sesungguhnya sudah tak asing dengan gerakan ekonomi, produk-produk pesantren seperti Kopontren pada masa lampau termasuk produk yang kita banggakan bersama.

Saat ini, Pesantren bisa lebih agresif memfasilitasi santrinya pada bentuk misalnya pendidikan entrepreneur, pemagangan, dan lain-lain. Dan itu, bisa kami koneksikan dengan para pemangku kebijakan di pemerintahan. Dan PKB sudah merintis itu.?

Kedua, cluster warga berbasis pada Pedesaan. Dalam kontek ini, PCNU dan MWCNU bisa mengenali warganya yang telah menekuni pada bidang-bidang tertentu. Mereka yang menjadi petani, nelayan, pengrajin, peternak, pelaku UKM, bisa didata sehingga betul-betul bisa dijadikan acuan untuk menyalurkan bantuan dan bentuk-bentuk dukungan lainnya, seperti akses pelatihan, permodalan, dan lain lain.?

Ketiga, cluster jenis usaha. Lahirnya UU Desa yang memberikan perhatian penuh pada pembangunan di pedesaan, termasuk adalah soal pemberdayaan masyarakat berbasis Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). MWCNU bisa memetakan dan membuat satu formulasi Bumdes-Bumdes yang bisa dirancang untuk kesejahteraan warganya. Tentu Hal ini bisa ditempuh dengan membuat semacam pilot project, sehingga jenis-jenis usaha yang dikembangkan, tidak berdasar atas tren, tapi memang sudah menjadi penguasaan para ahli. ? ?

? ?

Dalam rangka ikhtiar membangun ekonomi umat yang kuat, dan tak mudah tergoyah oleh pengaruh global, maka landasan yang perlu ditanamkan saat ini bagaimana warga NU sejahtera, dan memiliki aset tak ternilai. Salah satu juga yang patut dirintis ulang- bagaimana dulu juga pernah dirintis oleh guru kita, Gus Dur—yaitu model bank Nusumma—yang menghadirkan sistem pembiayaan usaha mikro kecil yang bias berdampingan beriringan dengan kelompok masyarakat marjinal, seperti nelayan, petani, buruh, guru honorer, pekerja kasar, dan lain-lain.?

Lokomotif ekonomi menjadi tantangan tersendiri ketika stakeholder NU kini sudah merambah di berbagai jalur kekuasaan; eksekutif dan legislative. Kaum mudanya –yang terpelajar—harus bias diintegrasikan ke dalam model pengelolaan ekonomi pembiyaaan mikro tadi.?

Kita sungguh masih memiliki beban sejarah yang belum selesai. Setidaknya ini terekam dalam statuennya NU (AD/ART) Fatsal 3 poin f yaitu: "mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara Agama Islam". Di sini sangat jelas bahwa NU harus memperhatikan sektor-sektor penggerak ekonomi. Orientasi politik yang sangat kuat dari sebagian besar kaum Nahdliyyin harus dibarengi orientasi pengembangan ekonomi umat yang bermuara pada kesejahteraan warga.?

Inilah politik kemaslahatan NU yang perlu dirancang dan diimplementasikan segera, apalagi pasar dan Negara kian terbuka dengan model pendekatan NU yang terbuka. Kita memiliki gambaran bahwa 10-20 tahun ke depan adalah medan dari sebuah pilot projek yang amat strategis, bagaimana mengetengahkan politik ekonomi warga lebih dekat dengan bandul politik kemaslahatan NU.

Ibarat gadis cantik, NU seringkali hanya seksi di perebutan pesta lima tahunan. Mudah-mudahan ini menjadi kesadaran dan beban historis yang segera harus kita urai bersama. ?





Penulis adalah anggota DPR RI FPKB. Ketua IKAPMII DKI Jakarta. ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, AlaNu, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 08 Februari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Nasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Rabu, 07 Februari 2018

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya

Bandung, Haedar Nashir. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung melakukan aksi teatrikal di depan gedung Gymnasium UPI pada Rabu, 18 Desember 2013.

Gerakan tersebut tercetus sebagai solidaritas atas mahasiswa UPI yang sedang mengalami kesulitan biaya di tengah bayaran kuliah yang sangat mahal, terutama mahasiswa baru yang sampai saat ini menyandang status penangguhan. Teatrikal tersebut bersamaan dengan acara wisuda bagi mahasiswa UPI yang telah menyelesaikan proses studinya.

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya

“Gerakan ini merupakan propaganda yang bertujuan untuk memberikan pencerdasan kepada semua orang bahwa di UPI masih banyak mahasiswa yang saat ini kebingungan untuk membayar SPP,” cetus Mujia Rosiadi selaku Kordinator Lapangan aksi tersebut melalui per rilis yang dikirim kepada Haedar Nashir, Kamis (19/12).

Haedar Nashir

Aksi itu dilakukan dengan membagikan tulisan mengenai kondisi mahasiswa yang terancam cuti paksa, penampilan seni, shalat berjamaah, doa bersama dan penyebaran kencelng (celengan) bagi yang ingin memberikan bantuan.

Haedar Nashir

Muhammad Ridwan selaku Ketua PMII Komisariat UPI memaparkan, aksi ini merupakan inisiatif sekaligus bentuk follow up Mapaba, karena yang mempersiapkan gerakan ini adalah anggota PMII yang baru saja menjalani proses kaderisasi pertama tersebut.

Ridwan juga menjalaskan bahwa sebenarnya di UPI terdapat lembaga yang menampung anggaran dana untuk mahasiswa yang tidak mampu, hanya saja karena kemarin UPI dilaporkan terindikasi korupsi sehingga lembaga tersebut sedang dalam proses audit dari Inspektorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Namun yang anehnya, audit tersebut telah berjalan lama dan sampai sekarang belum ada keputusan dari Dikti. Hal itu menjadi alasan bagi UPI untuk tidak mengeluarkan dana bagi mahasiswa yang membutuhkan, padahal dana yang ada mencapai miliyaran.

Ketua angkatan Mapaba ke-7 Komisariat UPI Deden Indra berharap semakin banyak orang yang sadar bahwa pendidikan itu bukan hanya kebutuhan orang kaya tetapi seluruh manusia, yang kaya dan miskin. “Ternyata, di balik kebahagiaan yang diwisuda, masih banyak mahasiswa yang mencari uang untuk biaya kuliah,” ungkapnya.

Gerakan tersebut berakhir dengan pembacaan do’a, dan seluruh peserta aksi kembali ke tempat. (Abdulllah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Hikmah, Pendidikan Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Sumenep, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep, Ubaidillah, melakukan klarifikasi seputar warta di Haedar Nashir (17/11) terkait ditundanya pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto, Sumenep. Menurutnya, kabar bahwa pelantikan tersebut tertunda gara-gara LSM Fajar Nusantara (Fans), tidak benar adanya.

“Yang benar adalah, acara pelantikan tersebut ditunda karena ada sisi teknis yang belum matang dalam kepanitiaan,” terang Ubaidillah kepada Haedar Nashir melalui telepon selulernya, Senin (18/11) siang.

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Ditambahkan Ubaidillah, Anwar Nuris yang menyebar kabar penyebab tertundanya pelantikan di jejaring sosial, bukanlah salah seorang pengurus PAC IPNU Bluto. Karenanya, apa yang disampaikan Anwar Nuris tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Haedar Nashir

“Anwar Nuris ini berada di luar struktur kepengurusan PAC IPNU Bluto,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kepada Haedar Nashir, Ubaidillah menceritakan kronologi tertundanya pelantikan yang sedianya akan dilangsungkan pada Jumat (15/11) lalu itu. Pihaknya menekankan betapa hal itu tidak ada kaitannya dengan LSM Fans.

“LSM Fans ini yang mengelola murni adalah Syaiful Harir. Dia minta bantuan ke teman-teman cabang (PC IPNU Sumenep, red) untuk mengurus acara. persiapan segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada saat itu, Ketua PAC IPNU Bluto Abdul Wahid memberitahukan kepada Ubaidillah melalui telepon, bahwa acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto dilangsungkan ba’da Jumat.

“Dan saya menyampaikan ke rekan-rekan PAC IPNU-IPNNU Bluto bahwa di cabang ada acara. Saya juga sampaikan bahwa apabila acara pelantikan itu memang sudah disepakiti, mohon tidak ditunda. Kami tetap akan hadir,” tambah Ubaidillah.

Tak berlangsung dari pemberitahuan yang pertama itu, Ubaidillah menerima pemberitahuan kedua. Pemberitahuan kedua ini menegaskan acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto ditunda, atas kesepakatan panitia.

“Diberitahukan kembali ke saya, acaranya diundur. Saya jawab tidak apa-apa walau diundur. Ketika saya tanyai alasannya, jawabannya karena ada sisi teknis yang belum matang. Mereka menghendaki acara sangat sukses,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hasil rapat pengurus PAC IPNU-IPNU Bluto, Jumat lalu, di Masjid Baiturrahman Gilang Bluto, pelantikan dan orasi Ke-IPNU-IPPNU-an akan ditunda sampai pada tanggal 22 November 2013 bertempat di Kantor MWC NU Bluto dengan tema “Menelaah Kembali Visi-Misi IPNU-IPPNU”. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Senin, 22 Januari 2018

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Pringsewu, Haedar Nashir. Sebentar lagi musim ibadah haji datang. Para jamaah yang tahun ini berangkat menunaikan rukun Islam kelima itu sudah mempersiapkan diri, baik secara mental maupun fisik. Tidak terkecuali calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang mendapat kesempatan berangkat tahun 2015 ini.

Beberapa dari mereka tampak sudah mulai mempersiapkan diri dan mengundang sanak saudara serta masyarakat sekitar untuk hadir mendoakan keberangkatan mereka pada acara walimatus safar lil hajj (syukuran jelang pemberangkatan haji).

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Menurut informasi dari Bagian Kesmasag Pemda Kabupaten Pringsewu, calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu akan dilepas secara resmi oleh Bupati Pringsewu, Sabtu (5/9) di gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Haedar Nashir

Semakin dekatnya musim haji dan pernak-pernik rukun Islam yang kelima ini diangkat oleh KH. Hambali menjadi materi utama pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan rutin di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (23/8).

Haedar Nashir

Menurut KH Hambali yang juga Ketua MUI Kabupaten Pringsewu, tidak semua orang dapat melaksanakan Ibadah haji ke Baitullah. Ibadah haji merupakan ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu.

"Mampu di sini artinya adalah mampu dalam banyak hal seperti mampu materi, fisik serta mampu dalam hal keilmuan di bidang haji," katanya seraya mengutip ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 97 yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Menurut KH Hambali, mereka yang dapat berangkat haji ke Tanah Suci adalah mereka yang telah menerima anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu ia menyarankan kepada jamaah haji khususnya yang berangkat pada tahun ini untuk dapat memanfaatkan anugerah Allah ini dengan sebaik baiknya.

"Pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbagai macam ibadah seperti umrah, shalat arbain, membaca Quran dan Ibadah-Ibadah lain yang disunahkan," terangnya.

Namun KH Hambali juga mengingatkan kepada para Jamaah untuk tetap menjaga kondisi kesehatan fisik dan mental selama pelaksanaan ibadah haji agar syarat, rukun dan wajib haji dapat dilaksanakan dengan sempurna juga.

Tampak hadir pada kesempatan kegiatan Jihad ini beberapa pengurus NU yang juga akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, seperti Adi Ben Slamet (Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu), Muhammad Faozan (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu) dan Ustadz Sodiqin (Ketua MWCNU Kecamatan Pringsewu). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Internasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Pamekasan, Haedar Nashir. Perjalanan bahtsul masail yang digelar Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Pamekasan berlangsung seru, akhir pekan kemarin (12/5) dan bertempat di pendopo Kecamatan Pegantenan. Pengasuh pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, KH Syaifuddin Syam bertindak sebagai mushahhih.

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Keseruan tersebut tidak terlepas dari semangat peserta. Pasalnya, para pengurus MWC NU dari 13 kecamatan di Pamekasan saling beradu argumen dengan ragam kitab kuning di tangannya. Sekitar 3 jam dihabiskan untuk berdiskusi guna mengupas tuntas 2 masalah, yaitu tentang penggunaan ruang kelas di luar peruntukannya dan khatib Jumat meninggalkan rukun/syarat khutbah.

Sebagaimana dimaklumi, deskripsi masalah yang pertama berangkat dari fakta yang sering terjadi di Madura. Ada suatu yayasan mengelola beberapa unit lembaga, yaitu PAUD, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK yang waktu pelaksanaannya dilaksanakan pagi hari, juga Madrasah Diniyah yang waktu belajarnya sore atau malam hari.

Haedar Nashir

Dari deskripsi masalah tersebut, diajukan 2 pertanyaan. Pertama, bagaimana hukumnya menggunakan ruang kelas yang peruntukan bantuannya untuk MI dipergunakan oleh unit lembaga yang lain yang waktu belajarnya bersamaan? Kedua, bolehkah unit lembaga yang waktu belajarnya tidak bersamaan dengan MI seperti Madrasah Diniyah mempergunakan ruang kelas tersebut, mengingat tidak sesuai peruntukan dan pada saat itu tidak dipakai?

Haedar Nashir

Adapun deskripsi masalah berikutnya juga berangkat dari kenyataan. Pasalnya, khatbah Jumat termasuk salah satu syarat sahnya sembahyang Jumat. Dalam khatbah tersebut ditentukan rukun dan syarat sahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terjadi dalam pelaksanaan sembahyang Jumat seorang khotib meninggalkan salah satu syarat atau rukun khutbah. Mamum tahu, sembahyang lagi di rumahnya dengan niat sembahyang Zuhur.

Ada 2 pertanyaan yang diajukan. Pertama ialah wajibkah mamum mengingatkan khotib tersebut dan bagaimana caranya? Kedua, kalau khotib diingatkan tetap tidak menghiraukan, apa yang harus dilakukan mamum selanjutnya?

Dari penelusuran kitab kuning yang dilakukan peserta bahtsul masail, dicetuskanlah beberapa jawaban atas permasalahan di atas.

Jawaban dari permasalahan yang pertama ialah tidak boleh, kecuali ada qorinah yang dikembalikan kepada urf.

Adapun permasalahan yang kedua dijawab wajib, cuma cara menegur khotib masih mauquf, belum disepakati.

Tetapi dalam sambutannya, ketua NU Pamekasan KH Abd Ghoffar menegaskan bahwa takmir masjid punya wewenang untuk menegur dan meluruskan kesalahan khutbah Jumat dari khotib dimaksud.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Aswaja, Ahlussunnah Haedar Nashir

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara

Jombang, Haedar Nashir. Banyak cara yang bisa dilakukan santri sebagai bentuk bela negara. Salah satunya dengan terus mengembangkan ilmu pengetahuan di lingkungan pondok pesantren. Menurut KH Abdul Ghofar (Gus Ghofar), Sekretaris Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren yang juga salah satu pelopor kemerdekaan juga harus konsisten mempertahankan keutuhan negara.

Disamping itu, katanya, pondok pesantren juga perlu mengembangkan pengetahuan ilmiah dan sains berbasis Al-Quran. Hal itu dirasa penting karena perkembangan zaman akan terus mempersaingkan ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali teknologi. "Karena Al-Quran merupakan sumber pengetahuan dari segala aspek," ujarnya kepada Haedar Nashir saat ditemui di kantornya, Selasa (15/12) lalu.

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara

Ia menjelaskan, dalam mengisi pembangunan nasional, santri harus bisa mandiri secara ekonomi. Karena dengan tidak bergantung kepada negara untuk ekonominya, berarti santri sudah mendukung pembangunan nasional. "Memajukan ekonomi mandiri, harus dilakukan oleh santri. Dan itu termasuk salah satu bentuk bela negara," jelasnya.

Haedar Nashir

Ia pun sudah melakukan berbagai hal untuk mendukung konsep bela negara tersebut. Salah satunya melatih dan mendorong santri berwirausaha. "Ini penting untuk bekal santri ketika akan terjun ke masyarakat. Karena dengan mandiri secara ekonomi santri berarti menunjang kemandirian perekonomian nasional," lanjutnya.

Haedar Nashir

Gus Ghofar juga menerangkan, selain dengan kemandirian ekonomi para santri, pondok pesantren juga mengingatkan untuk tidak lelah mempertahankan negara. Serta terus memupuk rasa nasionalismenya. "Santri yang juga elemen di pondok pesantren harus bisa mengisi pembangunan nasional. Itu merupakan salah satu bentuk bela negara yang perlu dilakukan santri. Disamping itu, mempertahankan NKRI memang harus dilakukan oleh seluruh masyarakat, tidak terkecuali santri."

Baginya, menumbuhkan rasa nasionalisme para santri juga bentuk bela negara. "Yang akan dilakukan Pondok Pesantren Tebuireng segera bekerjasama dengan TNI dalam meningkatkan kedisiplinan tenaga Pembina santri di pondok. Sehingga tidak hanya mengembangkan rasa nasionalisme melalui pengetahuan dan kajian ? di pondok, tapi juga pengetahuan dari militer sebagai pelopor pertahanan nasional," ulasnya.

Ia pun berharap, kalangan pondok pesantren tetap menjadi bagian dalam pelopor mempertahankan negara. "Karena secara tidak langsung itu merupakan bentuk bela negara dari kalangan pondok pesantren," pungkas Gus Ghofar. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

Bagaimana gerak derap langkah kaki Anda ketika melewati anak tangga masjid? Mungkin Anda akan melangkahkan salah satu kaki Anda ke anak tangga pertama. Kemudian disusul langkah kaki selanjutnya dengan posisi menginjak anak tangga kedua.

Hal itu lumrah dan umum dilakukan. Tetapi, berbeda dengan Kiai Turaihan Kudus. Kiai yang terkenal akan sifat ihtiyath, kehati-hatian dalam segala hal ini, sangat memperhatikan sekali langkah kakinya ketika memasuki area masjid. Di mana pun ia berada.

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

"Mbah Kiai Turaihan Kudus itu kalau melewati anak tangga masjid, ketika masuk, maka ia langkahkan kaki kanannya menuju anak tangga yang pertama, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan menyejajarkan kaki kiri di anak tangga yang pertama," tutur KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan di sela sela pengajian kitab bersama para santri.

Ya, betapa kehati-hatian Kiai Turaihan Kudus tercermin dalam penuturan tersebut. Jadi ia tidak serta merta hanya mengawali langkah kakinya menapaki anak tangga dengan kaki kanan di awalnya saja. Melainkan dalam setiap derap kakinya meniti anak tangga itu, selalu dia awali dengan kaki kanan dan kemudian ia akhiri dengan menyejajarkan kaki kirinya di anak tangga yang telah dipijak kaki kanan.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sang kiai begitu sabarnya meniti anak tangga satu per satu dengan kaki kanan sebagai awalan dan ditutup dengan kaki kiri. Begitu seterusnya hingga ia mencapai atas, puncak dari anak tangga tersebut.

Dan lebih hebatnya lagi, kiai asal kudus tersebut tidak hanya melakukan ritual tersebut saat memasuki masjid. Melainkan ia juga mengulangi cara tersebut ketika pulang dengan metode yang berkebalikan. Dalam artian, langkah pertama kaki kiri, kemudian turun ke anak tangga yang sama dengan menutupnya menggunakan kaki kanan. Subhanallah.

Betapa Kiai Turaihan begitu memiliki perhatian yang sangat mendalam. Hingga hal terkecil seperti melangkahkan kaki ke masjid pun, sangat ia perhatikan. Lalu, bagaimana dengan kita, meski kita tahu bahwa hal tersebut sunah. Sudahkah kita mengamalkannya? Wallahu alam. (Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri, Hikmah Haedar Nashir

Rabu, 17 Januari 2018

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU

Probolinggo, Haedar Nashir - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Sumberasih memiliki cara tersendiri untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 tahun 2017. Salah satunya dengan melakukan ziarah ke beberapa makam tokoh NU dan pendahulu GP Ansor yang ada di Kecamatan Sumberasih.

“Selain ziarah ke beberapa makam tokoh NU, kami juga sowan ke beberapa pengasuh pondok pesantren sekaligus pembagian Al-Qur’an,” kata Ketua GP Ansor Kecamatan Sumberasih Abdul Mujib, Sabtu (28/10).

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati HSN, Puluhan Aktivis GP Ansor Sumberasih Ziarahi Makam Tokoh NU

Menurut Mujib, ziarah tokoh NU ini bertujuan untuk mencari berkah kepada pejuang NU dan sebagai pengingat kembali kepada kiai yang telah merebut kemerdekaan RI sekaligus yang memperjuangkan NU khususnya GP Ansor sehingga ada di Kecamatan Sumberasih.

“Mengingat kembali perjuangan pendahulu kita tanpa melupakan jas hijau. Santri harus maju, tidak lagi santri sebagai pelajar yang terbelakang dan sebagai pengingat hikmah perjuangan santri sebagai di antara pahlawan kemerdekaan,” katanya.

Haedar Nashir

Ketua panitia Abdul Jalal mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh 56 pengurus GP Ansor yang ada di Kecamatan Sumberasih. Mereka menziarahi 20 makam tokoh NU.

“Kita tidak lupa kepada pendahulu kita seperti kata Bung Karno adalah jangan lupakan sejarah karena dengan adanya tokoh NU ini GP Ansor aktif sampai saat ini,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Dengan adanya kegiatan ini Abdul Jalal mengharapkan agar ke depan bisa dilakukan secara istiqamah bertepatan dengan momentum peringatan HSN.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa semakin meningkatkan semangat dalam memajukan organisasi dan bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Kiai Musadad: Pelajar NU Harus Dekat dengan Ulama

Demak, Haedar Nashir. Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif mengajak para pelajar NU untuk semangat belajar demi mencapai prestasi. Kapasitas intelektual itu, kata Kiai Musadad, perlu dibarengi dengan ilmu keislaman. Karenanya, mereka juga diharapkan merapat kepada para kiai.

Kiai Musadad: Pelajar NU Harus Dekat dengan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Musadad: Pelajar NU Harus Dekat dengan Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Musadad: Pelajar NU Harus Dekat dengan Ulama

Demikian disampaikan Kiai Musadad Syarif pada pelantikan IPNU-IPPNU Mijen kabupaten Demak di Kantor MWCNU Mijen, desa Bakung, Mijen, Demak, Ahad (22/2) siang.

Menurut Kiai Musadad, banyak perilaku mulia yang perlu diteladani pelajar dari para kiai. Para kiai NU turut aktif terlibat dalam mewujudkan Kemerdekaan RI. Fakta ini diakui banyak sejarawan kendati tidak dicatat sejarah.

Haedar Nashir

“Kami berharap rekan-rekanita IPNU-IPPNU Mijen, selain semangat dan rajin belajar juga harus mendekatkan diri dengan ulama, karena kalian adalah generasi penerus cita-cita ulama agar keutuhan NKRI tetap terjaga,” imbuh Kiai Musadad.

Sementara Ketua IPNU Demak Abdul Halim menyerahkan Surat Pengesahan Kepengurusan kepada rekan Miftakhurrohman sebagai Ketua PAC IPNU Mijen. Halim berharap pelajar NU melalui kepemimpinan baru bergerak maksimal di Mijen.

Haedar Nashir

Ketua IPPNU Demak Istiqomah juga berpesan kepada kepengurusan baru terutama Ketua IPPNU Mijen Kiki agar sabar, ikhlas, serta semangat berjuang. Karena, perjuangan menegakkan Aswaja NU di tengah masyarakat banyak tantangan.

Hadir pada pelantikan selaku DKN CBP PP IPNU Syafiq yang mantan Ketua IPNU Demak, Camat Mijen, serta MWCNU berikut banom-banomnya. (Abdul Latif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Kutupalong, Haedar Nashir - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan perkembangan terkini tentang praktik kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, yang berakibat pada eksodus etnis Rohingya ke Bangladesh.

Menurut PBB, sebagaimana dilansir AP, Kamis (7/9), sekitar 146.000 orang telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh sejak meletusnya kekerasan meletus di sana 25 Agustus.

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Jurubicara PBB Stephane Dujarric, Rabu, mengatakan bahwa Program Pangan Dunia meminta 11,3 juta dollar AS untuk membantu gelombang para pengungsi itu, juga mereka yang tengah tinggah di tenda-tenda pengungsian. PBB sudah menyediakan makanan untuk puluhan ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi.

Haedar Nashir

Eskalasi kekerasan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya belum berakhir menyusul tragedi penyerangan terhadap polisi di wilayah perbatasan dan aparat pemerintah lainnya sejak 25 Agustus. Pemerintah Myanmar menyebut militan Rohingya atau ARSA sebagai teroris Bengali.

Peristiwa Agustus itu memicu serangan balasan dari tentara Myanmar. Atas nama pemburuan para teroris, mereka menembaki warga sipil dan membakar ribuan rumah tinggal warga Rohingya. Situasi ini memperburuk keadaan dan memicu lebih dari seratus ribu warga melarikan diri dari tanah air mereka.

Haedar Nashir

Muslim Rohingya telah melarikan diri sejak serangan pemberontak terhadap polisi perbatasan dan pasukan pemerintah lainnya pada 25 Agustus memicu pembalasan oleh tentara Myanmar. Tentara dan polisi telah dituduh melakukan tembakan tanpa pandang bulu, namun pemerintah mengatakan pasukannya berusaha keras untuk tidak merugikan warga sipil yang tidak bersalah.

Dujarric juga mengatakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang "melanjutkan kontak diplomatiknya terkait dengan situasi di Myanmar." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Ubudiyah, Olahraga Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2018

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Way Kanan, Haedar Nashir. Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda mengingatkan pengurus NU beserta lembaga dan banomnya untuk tetap bersemangat mengurus NU. Kendati bukan organisasi yang berorientasi profit, keberkahan di dunia dan di akhirat akan selalu memayungi kehidupan pengurus NU.

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

“Jangan berpikir uang dalam mengurus NU. Jalankan saja dengan ikhlas,” ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, di Blambangan Umpu, sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung, Jumat (7/11).

Menurut Kiai Huda, pengurus NU mesti yakin akan ganjaran Allah. "Karena itu, saya mengingatkan kader NU di Way Kanan yang meyakini pilihan bergiat aktif di organisasi ini untuk mempercayakan segalanya kepada Allah.”

Haedar Nashir

Menjadi pengurus NU tidak ada gajinya. Mengurus NU itu berjuang, ujar Ketua PCNU Way Kanan periode 2011-2016.

Haedar Nashir

KH Huda mengajak kader dan warga NU di daerah yang berabatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel itu untuk selalu menegakkan panji-panji Aswaja. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Wonosobo, Haedar Nashir. “Mari kita kembali pada Islam yang ramah bukan pemarah, Islam yang merangkul bukan memukul, hentikan ekspresi yang kebablasan, saling mencaci dan memaki di antara anak bangsa,“?

Demikian disampaikan oleh Sekjen PBNU, H.A. Helmy Faishal Zaini dalam pidatonya saat memimpin apel kebangsaan di alun-alun Wonosobo, Ahad (21/5).?

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Ribuan warga Nahdliyin se-Kabupaten Wonosobo mengikuti gelar apel kebangsaan tersebut dengan penuh antusias. Mereka merupakan perwakilan Nahdliyin dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo.

Dalam orasi kebangsaannya ia menegaskan pentingnya sikap cinta tanah air. Kini Indonesia bisa melihat seberapa besar kecintaan rakyat pada negerinya. Indonesia tidak perlu takut terhadap berbagai ancaman musuh negeri karena rakyat selalu mendukung dan setia pada NKRI. Para pendiri bangsa sudah bersepakat termasuk ulama yang menjadi representasi umat Islam di Indonesia.

Haedar Nashir

Kegiatan apel kebangsaan ini berlangsung sejak Pukul 06.00 WIB dengan diawali istighotsah, dan pembacaan Al-Qur’an 30 Juz ? oleh Muslimat-Fatayat NU. Dalam kesempatan itu, dilakukan pula penandatanganan dan pembacaan bersama ikrar kebangsaan Warga Nahdlatul Ulama Kabupaten Wonosobo oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Wonosobo Arifin Shidiq bersama Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Halim. Apel kebangsaan ini dihadiri pula oleh Pengurus PWNU Jawa Tengah, Bupati Wonosobo H Eko Purnomo, Kapolres AKBP M. Ridwan, Dandim 0707 Dwi Hariyanto, Sekda Wonosobo H Eko Sutrisno Wibowo, serta seluruh organisasi sayap NU.

Bersamaan dengan kegiatan tersebut, juga dilaksanakan prosesi pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonosobo periode 2017-2022. Selain Pengurus PCNU, dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), PC Pagar Nusa, MWCNU Wonosobo, MWCNU Kepil, serta beberapa lembaga NU lainnya. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 28 Desember 2017

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah

Banyak dari kita membedakan dosa kecil dan dosa besar. Kita cenderung berani menerjang dosa kecil dengan anggapan bahwa sanksi atau siksa yang akan kita terima masih dalam jangkauan kesanggupan kita menanggungnya. Bisa jadi kita keliru karena kita tidak akan pernah tahu apakah siksa atas dosa kecil itu juga ringan?

Perihal ini, Syekh Ibnu Athaillah mengatakan,

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Dosa Kecil Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Tak ada dosa kecil ketika kau dihadapkan pada keadilan-Nya.”

Haedar Nashir

Syekh Zarruq menyarankan agar kita tidak melihat seberapa kecil dan seberapa besar dosa yang kita lakukan. Yang harus kita perhatikan, menurutnya, adalah keadilan dan kemurahan Allah. Kedunya ini yang menentukan besar-kecilnya dosa yang kita lakukan.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Artinya, “Menurut saya, perhatikanlah keadilan dan kemurahan-Nya, bukan kesalahan dan aibmu baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Sesuai dengan (prinsip) ini, tak boleh cenderung (menganggap kecil atau besar dosa) karena kita tidak tahu akan disambut (dengan kemurahan-Nya) atau dihadapkan (pada keadilan-Nya). Yahya bin Muadz RA mengatakan, ‘Jika kemurahan Allah menyelimuti mereka, maka tak satupun kesalahan mereka tersisa. Tetapi jika keadilan-Nya tegak di hadapan mereka, maka tak satupun kebaikan mereka yang tinggal,’” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 64).

Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili menyebutkan bahwa dosa kecil yang dimaksud tidak selalu pelanggaran menurut syar‘i. Dosa kecil bisa saja berupa kebaikan-kebaikan tingkat terendah, antara lain ibadah yang dilakukan karena mengharap surga atau ibadah yang dilakukan untuk mengharapkan imbalan duniawi baik harta, pangkat, pengaruh, dan lain sebagainya.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, tidak ada yang disebut dosa kecil–baik itu menurut ketentuan syar‘i maupun secara kualifikasi, yaitu ibadah mengharap surga di mana ibadah ini adalah sebuah kebaikan bagi kalangan abrar, tapi kesalahan bagi kalangan muqarrabin karena ibadah harusnya tulus hanya karena Allah–melainkan dosa kecil itu berkualitas besar bila kamu dihadapkan pada keadilan-Nya sebab interogasi saat hisab sesuai sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang diinterogasi di saat hisab, maka ia tersiksa.’ (Dosa kecil itu berkualitas besar) sebab penantian siksa, bukan tujuan menikmati percakapan dengan-Nya, sebab penghinaan melalui siksa, atau sebab pengusiran dan penutupan (hijab) sebagai balasan atas dosa kecil itu sesuai kadarnya bagi para pelaku karena keagungan Allah ta‘ala untuk didurhakai dengan dosa kecil, sebanding, atau dosa yang lebih kecil lagi. Apalagi dosa yang lebih besar dari itu; dan karena kebaikan-Nya di tengah kedurhakaanmu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan I, 2008 M/1429 H, halaman 54).

Dengan kata lain, kita tidak boleh merasa aman atau mengecilkan dosa kecil. Dosa kecil yang tampaknya ringan bisa jadi berkonsekuensi besar. Contohnya antara lain buang air kecil tanpa istinja sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya. Allah SWT juga mengingatkan bahwa selain memiliki kemurahan, Allah juga memiliki keadilan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sungguh, Tuhanmu memiliki ampunan bagi manusia atas kelaliman mereka. sungguh, Tuhamu mahakeras siksa-Nya,” (Surat Ar-Ra’du ayat 6).

Mengingat keadilan-Nya, kita sebaiknya tidak membeda-bedakan dosa kecil dan dosa besar. Kecuali itu, kita juga seyogianya lebih sering bermunajat kepada Allah untuk mengharapkan kemurahan-Nya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 18 Desember 2017

PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses

Jakarta, Haedar Nashir

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) menilai acara Doa Bersama di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad (18/4) meerupakan acara besar pertama yang digelar oleh PBNU pertama kali sejak Muktamar NU ke-32 di Makassar lalu. PP LDNU juga menilai bahwa acara tersebut sukses dan terselenggara dengan baik.



PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LDNU: Doa Bersama di Istiqlal Sukses

Penilaian ini didasarkan pada jumlah kehadiran jamaah yang mencapai puluhan ribu serta kehadiran sejumlah tokoh penting NU seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Rais Am Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thoriqoh Mutabaroh an-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya. Sementara perwakilain pemerintah yang hadir antara lain, Direktur Urais dan Pembinaan Syariah Dr. H. Rohadi Abdul Fatah Kementerian Agama Rohadi Abdul Fatah, Sekretaris Daerah Pemda DKI Muhayat. Dan hadir mewakili pihak keluarga KH Abdurrahman Wahid adalah Zanuba Arifah Chafsoh (puteri almarhum).

Dalam ceramahnya, Habib Luthfi bin Yahya mengajak seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin untuk mencintai Rasulullah SAW dan keluarganya. Termasuk juga mencintai orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW dengan menyokong kegiatan-kegiatan yang mengugah semangat cinta Rasul.

Haedar Nashir

"Rasulullah SAW adalah mahluk Allah yang paling berhak mendapatkan cinta dari mahluk Allah lainnya. bahkan Allah SWT menjanjikan, akan menempatkan seorang Muslim di surga bersanding dengan yang dicintai. Jadi marilah berharap disandingkan di Surga bersama Rasulullah SAW dengan mencintainya dan berharap pada Syafaatnya," ajak habib Luthfi.

Sementara itu, Sekretaris LDNU Ustadz KHoirul Huda Basyir menyatakan, banyaknya para jamaah yang menghadiri Doa bersama dan memenuhi seluruh kawasan Masjid Istiqlal merupakan bukti bahwa NU dan warga Nahdliyin masih merupakan mayoritas Muslim di Jakarta dan sekitarnya.

Haedar Nashir

"Hal ini juga berarti bahwa suara NU dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah beserta amalan-amalan warga Nahdliyin masih merupakan idiologi dominan Islam Indonesia," tandas Khoirul Huda Basyir. (min)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Ahlussunnah, Tokoh Haedar Nashir

Sabtu, 16 Desember 2017

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan, ibu-ibu yang aktif di Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama Muslimat NU adalah guru di madrasatul bait, atau guru bagi anak-anak di keluarga masing-masing.  

“Kalau gurunya baik, maka anak cucunya baik. Kalau gurunya tidak baik, bagaimana anak cucunya?” katanya pada rapat Pleno 6 Rakernas Muslimat NU di Aula Serba Guna 1, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Kamis (29/5). 

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Muslimat NU Guru Madrasah di Rumah

Kiai Said juga mengimbau agar ibu-ibu Muslimat NU tetap istiqomah mengajarkan Islam moderat kepada anak-anaknya. “Kebijakan PBNU, Muslimat NU harus bergandengan tangan dgn Fatayat, IPPNU, kita jaga moderat,” katanya. 

Haedar Nashir

Kiai asal Cirebon menegaskan supaya jangan sampai anak cucu NU menjadi radikal dan sekuler. Kiai Said menyederhanakan istilah itu dengan, sekuler itu kalangan yang menjauhkan agama dari kehidupan masyarakat. Sementara yang radikal ingin hukum agama mengganti hukum negara.  

Haedar Nashir

“Yang radikal ini senang yang formal-formal. Biasanya jenggotnya kesebelasan. Jenggotnya ada sebelas juga dipelihara,” katanya disambut tertawa ibu-ibu.   

Karena NU itu, tambah dia, adalah umatan washatan. Umat yang berperan, penegak, pendorong, penguat kemsayarakatan Indonesia. 

Rakernas dan Mukernas bertema “Khidmah Muslimat NU untuk Indonesia Mandiri” itu dibuka pada Rabu (28/5) dan akan berlangsung sampai Ahad (1/6). (Abdullah Alawi)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Internasional, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 14 Desember 2017

Hari Ini, PPM Aswaja Gelar Silaturahim Nasional

Solo, Haedar Nashir. Komunitas Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja menggelar Forum Silaturahim Nasional (Forsilatnas) admin web dan Aswaja IT developer di Pondok Pesantren API Tempuran Magelang, Jawa Tengah. Acara yang dihelat untuk keempat kalinya ini akan berlangsung selama dua hari, (20-21/2).

Hari Ini, PPM Aswaja Gelar Silaturahim Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, PPM Aswaja Gelar Silaturahim Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, PPM Aswaja Gelar Silaturahim Nasional

Menurut Ketua PPM Aswaja Hari Usmayadi, acara Forsilatnas IV akan diikuti peserta dari berbagai daerah. “Beberapa yang sudah konfirmasi akan hadir, antara lain dari Surabaya, Jakarta, Solo, Semarang, dan lainnya,” terangnya saat dihubungi Haedar Nashir, Kamis (19/2).

Pria yang akrab disapa Cak Usma ini menambahkan, selama dua hari tersebut, para peserta akan saling tukar pikiran dan menyimak laporan perkembangan aktivitas komunitas ini pasca-pertemuan Forsilatnas III.

Haedar Nashir

Kemudian pada hari kedua, para peserta akan mendapatkan materi “Penguatan Inseminasi Berita di Internet” dan Penumbuhan Jaringan untuk Aktivitas Ekonomi” bersama sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya.

Haedar Nashir

“Kita juga akan membagi peserta menjadi tiga kelompok pelatihan, meliputi pelatihan audio dan streaming, pelatihan pengembangan aplikasi android, dan pelatihan jurnalistik online,” papar Usma. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Ahlussunnah Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Jombang, Haedar Nashir. Keberadaan makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek pemakaman pesantren Tebuireng terus menuai manfaat kepada masyarakat khususnya warga kurang mampu di daerah Jombang. Pasalnya, ribuan peziarah yang setiap hari datang ke makam Gus Dur selalu menyisakan infaqnya, yaitu  berupa uang recehan sampai puluhan ribu yang disisihkan ke dalam kotak amal di situ.

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Juta Kotak Amal Makam Gus Dur untuk Dana Kemanusiaan

Kotak amal tersebut sengaja disediakan oleh pesantren, yang dipercayakan kepada Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) untuk mengelolanya. Seperti diketahui LSPT merupakan Unit Pengelola Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Timur. Sehingga pengelolaan dana infaq itu berdasarkan manajemen lembaga zakat, yang penyalurannya melalui program-program sosial kemanusiaan untuk masyarakat kurang mampu di daerah Jombang.

Menurut bendahara LSPT Umi Anis Chaula, kotak amal itu rata-rata setiap bulannya memperoleh dana infaq senilai ratusan juta rupiah. 

Haedar Nashir

“yYa, biasanya yang meningkat signifikan itu pada bulan-bulan tertentu, seperti bulan Juni dan bulan Desember. Karena dua bulan itu adalah masa liburan, peziarah pasti bertambah pada bua bulan itu,” jelas Anis kepada Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Selama tahun 2014 ini, perolehan infaq dari kotak amal peziarah makam presiden keempat RI itu sudah mencapai 1,7 miliar lebih. Dengan perincian mulai bulan Januari perolehannya sebesar Rp127.506.500, Februari Rp158.892.400, Maret Rp75.510.100, April Rp156. 519.100, Mei Rp139.920.500, dan bulan Juni sebesar Rp291.200.000.

Untuk enam bulan selanjutnya perolehannya adalah Rp97.799.600 pada bulan Juli, Agustus sebanyak Rp65.198.900, September Rp148. 770.300, Oktober Rp151.846.000, November Rp162.038.900, dan Rp222.083.00 untuk bulan Desember.

“Untuk bulan Desember ini, sebenarnya penghitungannya belum selesai. Sampai sekarang masih kami hitung. Yang tertulis itu tadi hanya perolehan kotak amal sampai tanggal 20 Desember kemarin,” pungkas Anis. (romza/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Lomba, Aswaja Haedar Nashir

Kamis, 30 November 2017

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kudus, Haedar Nashir

Menjelang Ramadhan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus menggelar pelatihan penguatan tenaga pengolah data lembaga pendidikan keagamaan Sabtu (5/6) di hotel Proliman Kudus.

Acara yang diikuti oleh 30 perwakilan dari pondok Pesantren, 30 perwakilan dari TPQ, dan 50 perwakilan dari madrasah diniyyah (madin) ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tenaga pengolah data di lembaga pendidikan keagamaan.

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kasi Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kudus, HM Khafid, mengatakan, kegiatan ini untuk meningkatkan kemahiran pengolah data di dalam pondok pesantren, TPQ, dan Madin. “Tujuannya adalah untuk validasi pendataan di masing-masing lembaga,” terangnya.

Haedar Nashir

Ia berharap, peserta kegiatan ini akan menjadi pengawal sekaligus ujung tombak dalam pengisian sekaligus pemutakhiran pendataan di pesantren, TPQ dan madrasah diniyah. Selama ini, ia mengaku, salah satu kesulitan pendataan riil di lembaga pendidikan nonformal adalah keengganan dari pihak lembaga bersangkutan untuk didata.

“Dengan ini kita berharap, mereka akan dengan sendirinya melakukan pendataan sendiri, mulai dari melengkapi data-data lembaga, sarana prasarana lembaga, serta yang paling penting, data santri yang belajar di lembaga itu,” kata Khafid.

Haedar Nashir

Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pemutakhiran data pesantren yang dilakukan pihaknya satu tahun terakhir. Sebelum pemutakhiran, ada 155 pondok pesantren di Kudus yang terdaftar. Setelah dilakukan pemutakhiran izin operasional, baru 72 pesantren di Kudus yang melaksanakan pemutakhiran izin operasional. “Bagi pesantren yang? belum melakukan pemutakhiran, diharapkan segera? melaksanakannya. Bagi yang sudah, dimohon untuk segera melengkapi data-data ini kemudian akan kami setorkan ke pusat,” pungkasnya. (Muhammad Kharis/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Aswaja, Ahlussunnah Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Ramadhan, selain identik dengan bulan puasa, mengingatkan Muslim untuk membayar zakat, sekalipun tidak ada ketentuan bahwa zakat harus dibayarkan pada Ramadhan, kecuali zakat fitrah. Lembaga-lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah pada bulan ini meningkatkan kampanyenya tentang membayar salah satu rukun Islam itu. Di antara rukun Islam yang lima, mungkin zakat menjadi kewajiban yang paling tidak populer dan paling rendah pemenuhannya, khususnya zakat mal.

Memang berat untuk menyisihkan sebagian harta yang kita cari dengan susah payah. Apalagi dalam masyarakat yang semakin mengagungkan materialisme. Bukannya berbagi dengan orang lain, pikiran yang ada dalam banyak kepala orang adalah kalau bisa terus menumpuk harta, yang tiada batas kepuasannya. Tak ada batas untuk keserakahan. Rasulullah pernah membuat sebuah ibarat, jika kita memiliki satu gunung emas, kita menginginkan yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat sebagai Wahana Redistribusi Harta Kekayaan

Bukti dari rendahnya pembayaran zakat terlihat dari, hanya segelintir Muslim kaya atau superkaya yang secara rutin mengeluarkan zakat mal-nya dan diketahui oleh publik. Qur’an dan hadits secara khusus menyebut beberapa nama orang kaya yang enggan membayar kewajiban zakat, di antaranya adalah Qarun dan Tsa’labah. Khalifah Abu Bakar Asshiddiq dengan tegas memerangi orang yang tidak mau membayar zakat.

Muslim Indonesia merasa lebih bangga jika bisa melakukan umrah berkali-kali atau bahkan merutinkannya setiap tahun sekali, sekalipun statusnya sebagai ibadah sunnah. Dulu ketika antrean haji belum begitu mengular, hal yang lumrah bagi orang berpunya untuk menunaikannya lebih dari satu kali. Perilaku inilah yang dikritik dengan tajam oleh KH Ali Musthofa Ya’kub, pakar hadits di Indonesia sebagai haji pengabdi setan.

Haedar Nashir

Mengapa begitu? Karena dengan menggunakan uangnya untuk ibadah haji, ia tidak memperuntukkannya pada hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat umum. Ia tetap membiarkan keluarga atau tetangganya miskin, ia tetap membiarkan lingkungan sekitarnya dalam kebodohan, atau ia membiarkan orang lain menderita sakit. Ini menunjukkan kepekaan sosial yang rendah. Jika uang untuk perjalanan haji yang sifatnya tidak wajib atau umrah yang kesekian kalinya digunakan untuk menolong orang lain yang lebih membutuhkan, tentu lebih bermanfaat. Ada banyak sekali hal lainnya yang bisa dilakukan dibanding sekedar ibadah individual yang dampaknya secara sosial minim. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dampak sosial secara langsung yang tinggi dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Haedar Nashir

Perlu upaya lebih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Muslim Indonesia untuk membayar kewajiban zakatnya. Kini sudah ada regulasi yang mengatur, pembayaran zakat bisa mengurangi pajak. Sejumah lembaga zakat yang dikelola secara profesional juga sudah berdiri sehingga tata kelola zakat lebih baik. Pemerintah di tingkat pusat ataupun daerah juga sudah ada badan amil zakat (bazis) yang menerima dan menyalurkan pembayaran ZIS. Di samping kemajuan-kemajuan dalam tata kelola tersebut, capaian pengumpulan ZIS masih sangat jauh dari potensi yang ada. ?

Prinsip-prinsip tata kelola yang baik seperti transparansi dan akuntabilitas bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa ZIS yang mereka bayarkan bisa tersalurkan dengan baik kepada yang berhak. Tanpa hal tersebut, jangan harap lembaga zakat mendapat kepercayaan masyarakat. Struktur masyarakat berubah memaksa lembaga zakat mengandalkan sistem yang lebih baik.

Dalam sistem tradisional, orang kaya menitipkan zakatnya kepada kiai atau ulama yang dipercayainya untuk mendistribusikan ZIS-nya, atau kadang kala bahkan dibagikan sendiri. Pola seperti itu sudah tidak lagi memadai di masa kini dan masa mendatang untuk mengelola ZIS dengan baik karena sifatnya ad hoc, dibentuk kepanitiaan sementara yang bubar setelah berakhirnya Ramadhan. Pola itu sekedar bagi-bagi uang, tidak membuat dana ZIS menjadi dana produktif, tidak bisa membuat mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat). Beberapa tahun lalu, pembagian zakat yang dilakukan secara personal kepada masyarakat luas malah membawa korban nyawa karena adanya desak-desakan saat pembagian zakat.

Penafsiran atas apa yang wajib dizakati juga perlu diperluas. Dalam kitab fikih klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan, tak semua pekerjaan atau penghasilan dikenai zakat. Tetapi dalam konteks redistribusi harta kekayaan, ketika dunia sudah berubah dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa dengan pendapatan yang menggiurkan dibandingkan dengan sektor pertanian, tetapi dalam khazanah fikih klasik belum dikategorikan wajib zakat, maka mereka layak masuk dalam kategori wajib dizakati.

Negara memiliki tugas untuk menciptakan keadilan melalui mekanisme panarikan pajak dari orang kaya yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Ada perdebatan apakah pajak masuk kategori zakat atau bukan, tetapi prinsip distribusi kekayaannya sama. Negara, tidak mampu mengelola seluruh kewajibannya dalam mensejahterakan masyarakat. Sektor filantropi, yang di dalamnya termasuk zakat, merupakan upaya masyarakat untuk membantu sesama, mendukung program yang sudah dijalankan oleh pemerintah.

Jika sistem pembayaran zakat, mulai dari upaya mengingatkan masyarakat untuk membayarnya, termasuk kemungkinan sebuah mekanisme yang bisa ‘memaksa’ orang untuk membayar zakat sampai dengan pendistribusiannya bisa berjalan dengan baik, maka capaian ZIS akan lebih banyak sehingga semakin meningkat jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari harta tersebut. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir