Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik

Makassar, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Sulawesi Selatan mengadakan diskusi publik dengan tema ‘Pencegahan Dini Radikal-Terorisme Dikalangan Pelajar’ dalam rangka Pra Konferensi Wilayah (Konferwil) IPNU XIII dan IPPNU XII di Aula Tribun Timur, Jalan Cendrawasih Makassar.

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik

Kegiatan tersebut menghadirkan pembicara Dr Ir H A Majdah M Zain Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr HM Arfin Hamid Ketua ? Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulsel, Dr KH Afifiddin Harisah (Pimpinan Umum Pondok Pesantren Annahdlah Makassar).

Menurut Majdah, Potensi penularan gerakan radikalisme-terorisme di kalangan pelajar cukup tinggi di Indonesia, sehingga butuh perhatian yang cukup tinggi dari organisasi pelajar.?

Haedar Nashir

Sementara KH Afifuddin melihat, maraknya gerakan radikalisme di kalangan pelajar karena kondisi sosial yang tidak merata serta jauh dari keadilan, hal ini bisa memicu frustasi sosial sehingga pilihan untuk bergabung dengan gerakan radikal-teroris bisa menjadi opsi bagi pelajar.?

Ketua FKPT Sulsel Arfin Hamid berpendapat bahwa NKRI ‘Harga Mati’ sehingga gerakan radikal-teroris tidak bisa dibiarkan hidup di bumi Indonesia.?

Haedar Nashir

Tampak hadir Ketua IPNU Sulsel Ramli, Ketua IPPNU Sulsel Mirnawati, Ketua IPNU Makassar Muh Nur, Ketua IPPNU Makassar Azizah Dahlan, serta beberapa pengurus IPNU-IPPNU Sulsel dan perwakilan kampus yang ada di Makassar. (Muhammad Nur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, RMI NU, Doa Haedar Nashir

Jumat, 02 Maret 2018

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tangerang, Haedar Nashir. Menjelang dilaksanakannya Konfercab IV Nahdlatul Ulama Kota Tangerang 20 Mei 2015. Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Kecamatan Jatiuwung menggelar Diklatsar Banser yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah. Pelatihan yang diadakan selama 3 hari (15-17 Mei) diikuti oleh 30 peserta.

Tentunya kegiatan ini sebagai bentuk regenerasi Banser di Kota Tangerang. Selama 3 hari mereka dibekali pengetahuan baik itu mengenai keorganisasian, ke-NU-an sampai materi-materi kemiliteran. 

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

“Sudah pasti ketika mereka berhasil dan lulus mengikuti kegiatan Diklatsar, mereka siap diterjunkan untuk pengamanan Konfercab IV NU Kota Tangerang sebagai tugas pertama mereka,” ujar Hartono ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatiuwung.

Haedar Nashir

Hadir memberikan motivasi H. Ahmad Imron (Ketua PW Ansor Banten). Dalam kesempatan itu Imron menyampaikan mengenai sejarah Ansor dalam menghantarkan kemerdekaan Indonesia dan berharap kader-kader baru Banser ini menjadi kader yang rahmatan lil ‘alamin, yang siap siaga menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk makar yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan Pancasila dan UUD 1945. (atho al farhan/mukafi niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 23 Februari 2018

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas

Jember, Haedar Nashir. Kebakaran yang diakibatkan oleh bocornya gas berbahaya seperti LPG, tak perlu terlalu dirisaukan. Pasalnya, saat ini telah ditemukan alat pendeteksi kebocoran gas sehingga ledakan maupun kebakaran yang diakibatkannya bisa dihindari.

Adalah Muhammad Wiliam Mursyida, Fani Rosiful dan Alvin Widiardi yang berhasil menemukan alat canggih tersebut, dan diberi nama “D’tron Fire Flow Alarm”. Temuan ketiga siswa MA Unggulan Nuris, Antirogo, Jember, Jawa Timur itu? berhasil meraih juara harapan pertama? dalam lomba Instrumentation And Control Competition (ICONIC) 2016 di ITB Bandung, belum lama ini.

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Nuris Ciptakan Alat Pendeteksi Kebocoran Gas

Dalam lomba berskala nasional tersebut, MA Unggulan Nuris menjadi satu-satunya perwakilan pesantren yang mampu bersaing dengan ratusan delegasi sekolah umum di tanah air.

Menurut Wiliam, alat tersebut dilengkapi dengan sensor yang berfungsi menyensor gas berbahaya dalam ruangan. Juga ada alarm untuk mengirim tanda bahaya ketika sensor menemukan gas yang bocor.

Tidak hanya itu, ketika alat tersebut menemukan gas berbahaya, maka? secara otomatis gas tersebut dikumpulkan dalam satu titik, lalu mendorongaya keluar ruangan sehingga kepadatan gas dalam ruangan berkurang. “Ketika gas? liar dalam ruangan bisa dibuang keluar, maka tak akan terjadi kebakaran,” ucapnya kepada Haedar Nashir di kompleks Pesantren Nuris, Senin (26/9).

Haedar Nashir

Rekan Wiliam, Fani Rosiful mengaku penemuan alat tersebut terilhami oleh banyaknya kejadian ledakan atau kebakaran akibat bocornya gas yang tersambung ke kompor. Penggunaan kompor gas, katanya, selain irit juga minim polusi. Namun kenyataannya, ada bahaya lain yang mengancam, yaitu ledakan. “Maka kami berpikir, dan akhirnya terciptalah alat itu,” tukas pemuda asal Wuluhan itu.

Haedar Nashir

Nama D’tron adalah kepanjangan dari the electronic. Pembuatan alat tersebut memakan waktu sekitar satu bulan dengan menghabiskan dana kurang dari Rp 1 juta. Sedangkan sebagian besar komponen D’tron Fire Flow Alarm diambil dari peralatan bekas elektronik yang tersimpan di laboratorium Nuris.

“Kami berharap agar pemerintah dapat mematenkan prototype alat ini, dan bisa diproduksi secara massal untuk kepentingan kenyamanan dan keamanan penggunaan kompor gas,” harapnya.

Wiliam, Fani dan Alvin adalah kelas XII MA Unggulan Nuris. Ketiganya tergabung? dalam satu tim, yang setiap sore berkumpul melakukan eksperimen dan mencoba melakukan inovasi ilmiah.

“Mereka juga dijamin lancar membaca kitab kuning. Khusus Wiliam, dia TOEFL-nya hampir 500,” terang Gus Robith Qashidi, Pengasuh Pondok Pesantren Nuris. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, RMI NU Haedar Nashir

Sabtu, 17 Februari 2018

Cara Merawat Kumis, Jenggot dan Bulu

Bulu adalah rambut pendek dan lembut yang tumbuh pada tubuh manusia selain di kepala, jika rambut itu tumbuh di atas kepala disembut dengan rambut. Demikianlah batasan yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kebetulan sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam wacana fiqih, yaitu bulu ketiak, bulu kemaluan, dan kumis.

Dalam haditsnya Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: « ? ? ?:  ? ? ? ? ? ? ? ? ? »

Lima perkara merupakan fitrah (sesuci) yaitu, memotong bulu kemaluan, berkhitan,  memotong kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku”

Cara Merawat Kumis, Jenggot dan Bulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Merawat Kumis, Jenggot dan Bulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Merawat Kumis, Jenggot dan Bulu

Dari hadits ini para ahli fiqih memberikan hukum sunnah kepada kegiatan yang memiliki orientasi kebersihan dan kerapian, yaitu memotong bulu yang tumbuh di sekitar daerah kemaluan dan mencabut bulu yang tumbuh di ketiak lengan tangan.

Bahkan khusus untuk kumis Rasulullah saw pernah menghimbau untuk memotongnya dengan tegas disabdakan   ? ? ? ? ? ? ? Barang siapa yang tidak memotong kumisnya, bukanlah golongan kami. Demikian bunyi hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam.

Demikian fiqih sangat mementingkan perihal berbagai macam bulu yang tumbuh di dalam tubuh, karena berbagai bulu tersebut seringkali menyebabkan ketidak nyamanan, kejengkelan dan juga kegelisahan yang dapat mengganggu pribadi maupun orang lain.

Haedar Nashir

Selain itu permasalahan bulu ini juga menyangkut kerapian penampilan. Sesungguhnya Islam sangat menghargai penampilan yang rapi. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw dalam hadits tentang pemotongan kumis.

Demikianlah hal ini harusnya menjadi pertimbangan utama bagi mereka yang memanjangkan jenggot, walaupun Rasulullah saw sendiri pernah bersabda:

? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya “bedakanlah dirimu dari kaum musyrikin, lebatkanlah jenggot dan panjangkanlah kumis”

Sesungguhnya hadits ini menganjurkan orang muslim untuk melebatkan jenggot dan memanjangkan kumis sebagai pembeda dari orang musyrik. Akan tetapi standar lebat dan panjang jangan sampai mengorbankan kerapian. Sebagaimana anjuran Rasulullah dalam hadits di atas. Karena jika jenggot itu lebat tak tertaur dan kumis itu panjang tak tertata itulah teori asal beda tanpa tahu alasan dan maknanya, na’udzubillah mindzalik. (Ulil H)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 16 Februari 2018

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Jakarta, Haedar Nashir. Adanya wacana diperbolehkannya wanita TNI/Polri untuk menggunakan jilbab disambut gembira oleh Maria Ulfa Anshor, Ketua Umum PP Fatayat NU, karena bisa menjadi inspirasi para santriwati untuk masuk kesana.

“Ini merupakan peluang bagi para santriwati untuk berkarir di militer yang merupakan salah satu faktor penentu pertahanan nasional,” katanya di Gd. PBNU, Selasa (18/12).

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebebasan Berjilbab Jadi Inspirasi Santriwati Masuk TNI/Polri

Peran perempuan dalam berbagai sektor ini dinilainya penting sebagai wujud dari partisipasi mereka dalam membangun dan mempertahankan keberlangsungan negara ini. “Mereka bisa berada di sektor pendukung maupun di medan pertempuran,” katanya.

Ditambahkannya bahwa kebebasan untuk menggunakan jilbab ini juga menunjukkan TNI/Polri semakin memahami aspirasi para anggotanya untuk menjalankan ajaran agama dengan baik.

Untuk sementara, peraturan TNI/Polri diizinkan berjilbab berlaku di propinsi Nangroe Aceh Darussalam yang memang menerapkan syariah Islam yang salah satunya menetapkan kewajiban berjilbab bagi perempuan.

Di negara-negara Timur Tengah atau negara yang berazaskan Islam seperti di Irak, Iran, Afganistan dan Pakistan, pasukan wanitanya justru diharuskan memakai jilbab. Bosnia-Herzegovina yang merupakan negara sekuler juga memberikan kebebasan kepada pasukan wanitanya untuk memakai jilbab.

Haedar Nashir

Simbol keagamaan juga diizinkan di negara tetangga Malaysia dan di India. Orang dari etnis Sikh diperbolehkan memakai sorban ikat kepala untuk menjadi tentara/ polisi. (mkf)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Sejarah Haedar Nashir

Selasa, 13 Februari 2018

Semaan

Semaan adalah rradisi membaca dan mendengarkan pembacaan Al-Quran di kalangan masyarakat NU dan pesantren umumnya. Kata ‘semaan’ berasal dari bahasa Arab sami’a-yasma’u, yang artinya mendengar.?

Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “simaan” atau “simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “semaan”. Dalam penggunaanya, kata ini tidak diterapkan secara umum sesuai asal maknanya, tetapi digunakan secara khusus kepada suatu aktivitas tertentu para santri atau masyarakat umum yang membaca dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semaan

Tidak hanya sekadar membaca dan mendengar Al-Qur’an, penggunaan kata semaan saat ini secara ketat disematkan kepada sejumlah orang yang membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan cara menghafalnya.

Dalam pengertian ini, semaan dapat dijadikan sebagai metode menghafal Al-Qur’an, yaitu biasanya berkumpul minimal dua orang, atau bisa juga lebih, yang salah satu di antara mereka ada yang membaca Al-Qur’an (tanpa melihat teks ayat), sementara yang lainnya mendengar serta menyimaknya.?

Haedar Nashir

Pendengar sangat bermanfaat dalam metode hafalan ini, sebab ia/mereka bisa melakukan koreksi atau membenarkan jika pelantun Al-Qur’an itu membacanya salah.

Ada pula pengertian bahwa semaan adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al-Qur’an berjama’ah atau bersama-sama, di mana dalam semaan itu juga selain mendengarkan al-Qur’an, yang hadir (sami’in) juga bersama-sama melakukan ibadah sholat wajib secara berjama’ah juga sholat-sholat sunnah yang lain, dari ba’da subuh hingga khatamnya Al-Qur’an.

Haedar Nashir

Dilihat dari akar kesejarahannya, semaan Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari pencetusnya, KH Chamim Djazuli atau yang bisa dikenal Gus Miek. Gus Miek adalah tokoh sentral semaan Al-Qur’an yang pengikutnya ribuan orang. Gus Miek memimpin Majelis Semaan, yang mula-mula didirikan di kampung Burengan Kediri sekitar tahun 1986.?

Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang, tetapi terus berkembang menjadi ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau dari rumah ke rumah, tetapi sudah memasuki wilayah pendopo kabupaten, Kodam bahkan sampai ke Keraton Yogyakarta.?

Gus Miek yang mempunyai “kebiasaan” berkelana ke beberapa daerah, timbullah gagasan semaan Al-Qur’an. Ungkapan Gus Miek yang terkenal, “Saya ingin benar dan tidak terlalu banyak salah, maka saya ambil langkah silang dengan menganjurkan pada para santri untuk berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyonan santai, diiringi hiburan.?

Syukur-syukur jika hiburan itu berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu jika dibarengi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, syukur-syukur bisa dari awal sampai khatam, Allah akan memberikan rahmat dan nikmat-Nya”.

Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah semaan Al-Qur’an adalah hiburan yang baik (hasanah). Selain itu juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah, dan sebagai tabungan di hari akhir. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, RMI NU Haedar Nashir

Minggu, 21 Januari 2018

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji

Boyolali, Haedar Nashir. Untuk menghindari keruwetan ganti pakaian saat tiba di Arab Saudi, sebagian dari calon haji (calhaj) yang berangkat dari Embarkasi Solo, Jawa Tengah, mengenakan pakaian ihram sejak dari Asrama Haji Donohudan atau sesaat sebelum mereka terbang ke Tanah Suci.

Hal tersebut diinstrusikan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo 2013. Menurut Kasubbag Humas PPIH, Badrus Salam, pihaknya menyarankan agar mengenakan pakaian ihram di asrama haji, jika calhaj mengambil miqat umrah wajib saat berada di pesawat terbang.

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi Kerepotan, Calhaj Kenakan Pakaian Ihram di Asrama Haji

“Kami menyarankan hal tersebut karena ganti pakaian di dalam pesawat itu tidak mudah,” ucapnya, Senin (30/9).

Haedar Nashir

Selain itu, jamaah yang mengambil miqat di Jeddah akan mengalami kerepotan jika mereka berganti pakaian ihram setelah tiba di Jeddah. Pasalnya, kebijakan baru untuk pemeriksaan hanya dilakukan selama dua jam, berbeda dengan tahun sebelumnya yakni empat jam.

“Karena waktu pemeriksaannya singkat, jamaah yang akan berganti pakaian ihram bisa kerepotan mencari tempat ganti pakaian,” terangnya.

Haedar Nashir

Namun, beberapa kendala mungkin akan dialami calhaj manakala memakai pakaian ihram sejak dari tanah air. Di antaranya kemungkinan tidak kuat untuk menahan hawa dingin di dalam pesawat terbang. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

Doha, Haedar Nashir  

Ketua PBNU HM Rozy Munir yang kini menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Qatar telah bertemu dengan Putra Mahkota dan Wakil Emir, Syeikh Tamim bin Hamad Al-Tani untuk menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Republik Indonesia DR. Susilo Bambang Yudhoyono di Diwan Emiri (Istana Raja), Doha Qatar Senin (26/11).

Acara resmi tersebut dimulai pada jam 09.00 pagi dengan didahului mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia dan Qatar. Selanjutnya dilakukan inspeksi barisan militer pasukan kerajaan lalu diterima oleh Putra Mahkota.

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

HM Rozy Munir Undang Emir Qatar ke Indonesia

  

Tepat jam 10.20, Rozy Munir diterima oleh Putra Mahkota dan langsung menyerahkan Surat Kepercayaan. Kepada putra mahkota, Rozy Munir menyampaikan salam dari Presiden RI untuk Emir Qatar dan berharap adanya peningkatan kerja sama dan hubungan kedua negara agar lebih baik lagi di masa datang khususnya dalam sektor perdagangan, investasi, pariwisata dan sumber daya manusia. Putra Mahkota sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama ini, termasuk peran aktif dalam membantu menangani masalah negara-negara muslim.

Selain, itu Rozy juga memohon agar Emir Qatar, Syeikh Hamad bin Khalifah al-Tani dapat melakukan kunjungan balasan ke Indonesia karena sudah ada dua presiden RI yang datang ke Qatar, yaitu K. H. Abdurrahman Wahid dan DR. Susilo Bambang Yudhoyono.

Haedar Nashir

Dengan diterimanya surat kepercayaan tersebut, ia sudah secara resmi mewakili Indonesia di Qatar dan dapat dapat menjalankan tugas diplomatik. Karena itu, masyarakat Indonesia dan staff KBRI menggelar syukuran dan pemotongan tumpeng merah putih serta jamuan makan siang dengan menu Indonesia seperti opor, lontong sayur, acar ikan ala Sulawesi, sambal terasi dan ragam masakan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan doa bersama serta pemotongan kue "ucapan selamat bertugas" serta pemberian karangan bunga dari Darma Wanita Persatuan Qatar  untuk Dubes Rozy Munir. (adj)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Internasional, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

Kita bagaimanapun berutang budi pada orang yang meminjamkan uang. Karenanya kita dianjurkan untuk mendoakan orang yang meminjamkan uang sebagai bentuk balas budi kepadanya di samping ucapan terima kasih.

Berikut ini adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika kita membayar utang.

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

BĂ¢rakallĂ¢hu laka fĂ® ahlika wa mĂ¢lika, wa jazĂ¢ka khairan

Haedar Nashir

Artinya, “Semoga Allah menurunkan keberkahan bagimu terutama untuk keluarga dan hartamu. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan-Nya.”

Doa ini merupakan bentuk terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Doa ini disebutkan Imam Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, RMI NU Haedar Nashir

Senin, 08 Januari 2018

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Kudus, Haedar Nashir. Putri bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari menghadiri acara festival? teater Pelajar 2015 di Gor Bulutangkis Djarum Kaliputu Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (21/11). Dalam acara itu, Inayah didaulat menjadi? juri final festival yang diselenggarakan Teater Djarum selama dua hari Sabtu-Ahad (21-22/11).

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Inayah Wahid: Teater Ajarkan Toleransi dengan Sesama

Saat ditemui Haedar Nashir, Inayah mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kegiatan teater di lingkungan pelajar. Menurutnya, teater adalah kegiatan bagus yang mengajarkan toleransi, empati, memberikan penghormatan, dan penghargaan kepada orang lain.

?

"Teater sebagai media bagus sekali untuk mengampanyekan toleransi, kita tidak main hakim sendiri dan akan bisa menghargai sesama," ujarnya.

Haedar Nashir

?

Dikatakan, Indonesia sangat membutuhkan generasi masa depan yang memahami akan toleransi. Dengan bermain teater, meraka akan memainkan peran tokoh-tokoh? di luar komunitasnya? yang ketika sampai pada titik puncaknya akan memahami toleransi dengan baik.

Haedar Nashir

?

"Dalam konteks kekinian toleransi menjadi urgen dan harus dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Salah satu media bagus ya teater. Karena kalau sudah main teater, kita tidak akan mempertanyakan latar belakang,? semua akan kerja sama," tandas putri Gus Dur yang biasa disapa Inayah Wahid ini.

?

Ia menuturkan dirinya sangat merasakan manfaatnya aktif di dunia teater pada waktu masih sekolah Menengah Atas (SMA). Ditegaskan, teater mampu menjadi sarana penyaluran ekspresi dan kreasi bagi pelajar.

?

"Melalui teater, anak-anak punya penyaluran yang positif. Mereka pulang sekolah tidak berbuat aneh-aneh, langsung bermain teater," imbuhnya.

Selain menjadi juri, Inayah Wahid juga menjadi pemateri Workshop teater yang menjadi rangkaian acara Fesetival tersebut. Siang harinya, Inayah dijadwalkan bertemu dengan kader-kader NU dalam acara silaturahim di aula Kantor NU Jalan Pramuka Nomor 20 Kudus.

?

Sementara itu,? final festival teater Pelajar ini, menampilkan 3 kelompok teater tingkat SMP diantaranya, Teater satu atap SMP 3 Kudus, Teater Temperatur SMP 1 Mejobo dan Teater PR Mts NU Nahdlatul Athfal. Sedangkan tingkat SMA, 7 kelompok teater yang lolos di final adalah Teater Stif MANU Ibtidaul Falah Dawe, Teater X-Miffa SMKNU Miftahul Falah Dawe, Teater Patas SMA I Bae, Teater Kahanan SMA 1 Mejobo, Studi One SMA ! Kudus, Teater Ganesha SMA 2 Kudus dan teater Apotek SMK Duta Karya Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, RMI NU, Habib Haedar Nashir

Kamis, 04 Januari 2018

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Bojonegoro, Haedar Nashir. Sebanyak 1.433 pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa mengikuti wisuda khataman pertanda berakhirnya masa latihan. Kegiatan setahun sekali ini diadakan di kompleks kantor Pengurus Cabang Nahdlatu Ulama Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (1/12/2013).

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Bojonegoro Wisuda 1.433 Pendekar

Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) PSNU Pagar Nusa Bojonegoro M Yasin mengatakan, total jumlah pendekar tersebut berasal dari 17 Kecamatan atau pimpinan anak cabang dari 27 kecamatan yang ada di Bojonegoro. Anak cabang lainnya sudah melaksanakan wisuda di masing-masing kecamatan.

"Proses latihan-latihan dilakukan di tingkat-tingkat dukuh, desa dan kecamatan yang diakhiri proses terakhir, yaitu khataman bagi pendekar yang sudah selesai," terangnya.

Haedar Nashir

Yasin menegaskan, Pagar Nusa merupakan badan otonom NU yang menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah melalui bela diri. pagar Nusa siap menjaga keamanan organisasi NU, masyarakat, dan NKRI.? (M Yazid/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pahlawan, RMI NU Haedar Nashir

Rabu, 03 Januari 2018

Cirebon Kahilangan Ulama Kharismatik, KH Amin Siroj

Jakarta, Haedar Nashir?



Dua hari sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Cicalengka, Kabupaten Bandung KH Ahmad Syahid wafat. Lalu pada Senin (7/8) warga NU kembali kehilangan ulamanya, KH Amin Siroj wafat pukul 04.45 WIB di Rumah Sakit Gunung Jati, Cirebon. Ia dimakamkan sekitar 14.00 siang ini. ? ?

Cirebon Kahilangan Ulama Kharismatik, KH Amin Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Cirebon Kahilangan Ulama Kharismatik, KH Amin Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Cirebon Kahilangan Ulama Kharismatik, KH Amin Siroj

KH kelahiran Cirebon pada tahun 1938 itu merupakan sesepuh Pondok Pesantren Gedongan. Hingga wafatnya, paman Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj itu merupakan salah seorang Mustasyar PWNU Jawa Barat, dan ayah dari Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani Amin.?

KH Amin Siroj adalah cucu pendiri Pondok Pesantren Gedongan KH Muhammad Said. Masa mudanya ia pernah nyantri di Pondok Pesantren Sarang yang waktu itu diasuh KH Zubair, ayahanda KH Mimoen Zubair. Di pesantren itu, ia seangkatan dengan KH M.A. Sahal Mahfudh dan KH Syaerozie.?

Menurut Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Cirebon, Abdul Muiz Syaerozie Kehilangan Kiai Amin meninggalkan duka mendalam bagi warga Cirebon, terutama kalangan pesantren.?

“Beliau merupakan salah satu tokoh kharismatik Cirebon yang dengan istiqomah meneruskan pendidikan pesantren yang didirikan oleh kakeknya. Warga Cirebon, khusunya warga pesantren dan Nahdliyin, merasa kehilangan,” katanya kepada Haedar Nashir. (Abdullah Alawi) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir RMI NU, Daerah Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Brebes, Haedar Nashir. Kaum Nahdliyin (warga NU) Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong Brebes, akhirnya bisa membangun gedung Nahdlatul Ulama (NU) ranting setempat dengan gotong royong beras sebanyak 2 kilogram per kepala keluarga. Dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung serba guna ? bisa berdiri kokoh.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Ranting (PR) NU ranting Kalijurang Kasbono melalui Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Kalijurang Mohamad Ali, sebelum acara Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah), di desa setempat, Selasa (14/6).

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Ali memaparkan, bangunan gedung serba guna NU dibangun diatas tanah seluas 986 meter persegi. Sedangkan luas bangunan 20 X 14 meter. “Hingga saat ini sudah menelan dana sekitar Rp 700 juta,” paparnya.

Tanah bangunan, sebagian dari wakaf H Tarhudin dan selebihnya pembelian seharga Rp 60 juta. “Alhamdulillah, dana pembangunan dan pembelian tanah hasil umpul-umpul kaum Nahdliyin yang masing-masing Kepala Keluarga menyumbang 2 Kilogram perbulan kurang dari setahun,” terangnya.

Haedar Nashir

Selain beras, adapula yang menyumbang material dan tenaga kerja. “Tukang aslinya yang dibayar tetap ada, tetapi puluhan Nahdliyin setiap hari sukarela kerja bakti,” ungkap Ali.

Gedung dibangun sejak Agustus 2015 dan selesai Februari 2016. “Bangunan belum seratus persen, tinggal pengkeramikan dan finishing lainnya,” kata Ali.

Meski belum diresmikan secara seremonial, tetapi gedung tersebut sudah laris digunakan antara lain untuk kegiatan NU dan badan otonomnya, Bulutangkis, bahkan resepsi pernikahan.?

Ke depan, gedung serba guna yang sekaligus sebagai kantor sekretariat PR NU Kalijurang tersebut, akan terus ditambah sarana dan prasarana lainnya. “Dari hasil kerja ikhlas dan nyata ini, ke depan kami akan mengembangkan Lembaga Zakat dan Infak NU (Lazisnu) ranting Kalijurang, sehingga main kokoh dalam pemberdayaan dana umat,” ujar Ali.

Haedar Nashir

Gedung dengan ornament sederhana namun tampak gagah ini merupakan satu-satunya gedung NU yang dimiliki Pengurus Ranting di Kabupaten Brebes. “Barangkali ini satu-satunya gedung yang dimiliki oleh Pengurus Ranting di Desa se-Kabupaten Brebes,” pungnya. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Oleh Muhammad Sahlan



Sebelum lebih jauh membahas radikalisasi tentunya penting diterangkan istilah radikalisasi secara singkat terlebih dahulu. Menurut Afif Muhammad, radikal berasal dari kata radic yang berarti akar, dan radikal sendiri adalah sesuatu yang mendasar atau hingga sampai ke akar-akarnya. Penyusunan predikat “radikal” dapat dikenakan pada pemikiran, yang kemudian ada istilah “pemikiran radikal”, dapat juga pada gerakan, yang kemudian disebut “gerakan radikal”. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai (a) fundamental, mendasar, primer, esensial, kardinal, vital, drastis; (b) ekstrim, fanatik, keras, militan, revolusioner; (c) liberal, maju, progresif, reformis, terbuka; (d) (kaum, orang) ekstrimis, reaksioner, revolusioner. Dengan demikian radikalisme dapat diartikan sebagai sebuah paham atau aliran keras yang ingin melakukan sebuah perubahan sosial atau politik dengan cara cepat, drastis, keras, dan ekstrem.

Dalam konteks radikalisme Islam, adalah upaya orang atau sekelompok orang Islam tertentu yang ingin menerapkan ideologi (syariat Islam) dengan cara cepat, keras, dan ekstrem tanpa melihat atau menerima ide-ide lain dengan berdalih agama. Hal ini bisa menjadi bencana besar bagi ketentraman manusia, jika ditilik kembali tentang definisi kebenaran menurut kelompok radikal. Pemahaman kebenaran dalam agama adalah berasal dari Tuhan. Sedangkan firman Tuhan ada dalam kitab suci. Kemudian, apabila kitab suci mempunyai beberapa tafsir yang berbeda, maka bagi radikalisme agama, paham kelompoknya-lah yang dianggap paling benar. Dengan demikian, jikalau terdapat beberapa kelompok orang ? yang berpaham agama secara radikal, kemungkinan berikutnya adalah terjadi sebuah clash atau benturan fisik yang mengakibatkan kekerasan dan perang saudara. Hal ini akan mengakibatkan zaman jahiliah terulang kembali oleh peperangan dan pembunuhan.

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Dari pemaparan fakta-fakta radikalisme di Indonesia saat ini menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia telah mengalami ancaman besar dari sisi pemuda, yang digadang-gadang sebagai “tulang punggung bangsa”. Merebaknya fenomena radikalisasi Islam di kalangan pemuda terutama terjadi di kampus-kampus besar merupakan sebuah kecolongan besar bagi masa depan bangsa, di mana mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika hal ini terus terjadi kemungkinan besar Pancasila sebagai Philosophische Grondslag atau dasar negara akan segera tergantikan oleh syariat Islam atau khilafah melalui pemimpin-pemimpin yang berpaham fundamental. Dan kemungkinan buruk selanjutnya sesuai premis awal tentang radikalisme, Indonesia akan mengalami beberapa peperangan, benturan fisik, dan pembunuhan antaragama yang ada. Hal ini bisa terjadi karena kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, banyak agama juga aliranya.

Pentingnya Semangat Pancasila sebagai Kontinuitas Pembangunan Bangsa

Seorang ahli sosial Indonesia, Ignas Kleden menyatakan bahwa kebudayaan adalah dialektika antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi, antara tradisi dan reformasi, yang dengan kata lain kedua hal tersebut akan selalu diperlukan. Misalkan jika tanpa tradisi atau integrasi, suatu kebudayaan akan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa suatu reformasi atau disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan berkembang dalam merespon jaman dan paksaan perubahan sosial.?

Haedar Nashir

Sebuah negara tidak akan menjadi lebih baik, lebih matang, dan lebih kuat dalam hal kebudayaan apabila setiap hasil kebudayaan yang ada atau kebudayaan masa lalu selalu diganti dengan sebuah kebudayaan baru dengan terus menerus. Kondisi ini telah dan masih terjadi di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Kleden, mengapa sejarah kebudayaan Indonesia modern pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Penyebabnya adalah setiap generasi selalu berusaha membangun sebuah tradisi baru dari nol (awal) dan bukan melakukan dilektika terhadap tradisi sebelumnya. Sikap (1) penolakan terhadap tradisi kebudayaan yang ada atau masa lalu atas dasar semangat modern dapat dilihat dari beberapa kasus misalnya, sering dikutipkanya pemikiran tokoh ekonom Barat daripada Hatta, sering dikutipnya pemikiran nasionalisme ahli Barat daripada Soekarno, sering dikutipnya pemikiran Islam transnasional daripada kiai-kiai yang ada di Indonesia, sering dikutipnya pemikiran kebudayaan Barat daripada (misalnya) pemikiran Ignas Kleden ini, dan masih banyak kasus-kasus penolakan tradisi lainya.

Sikap (2) konservatif alias selalu mempertahankan tradisi kebudayaan masa lalu, dapat dilihat dalam masyarakat yang tidak mau menerima semangat modern: materialis, rasional, dan individual yang memang perlu diserap di era saat ini. Konservatif terhadap tradisi akan berakibat juga dalam tersingkirnya masyarakat tertentu dari pertarungan global. Yang menjadi sebuah catatan dan poin penting adalah sikap masyarakat Indonesia seharusnya bisa berada dalam posisi moderat, dengan melanjutkan tradisi yang sudah ada, melakukan kritik terhadapnya, juga berinovasi.

Ditarik dalam konteks tema ini, Pancasila adalah sebuah hasil pemikiran tokoh pendiri Indonesia dalam merumuskan dasar negara dan pandangan hidup yang juga bisa disebut hasil kebudayaan bangsa Indonesia. Lebih dari itu Pancasila diciptakan sebagai dasar negara yang dimaksud sebagai fondasi negara yang kuat (ideologi), agar rumah kebangsaan yang bernama negara Indonesia dapat kokoh dan abadi, serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kemudian dalam membangun negara dan peradaban tanpa didasari dengan semangat transendental (ketuhanan) dan prinsip-prinsip ruhiah yang kuat adalah ibarat membangun bangunan istana yang rapuh. Sehingga Pancasila merupakan sesuatu yang jelas pokok dan sakral, tidak bisa diubah dalam kondisi apapun. Oleh sebab itu upaya mengganti sebuah dasar negara dengan dasar yang lain sama saja menghancurkan negara Indonesia.

Dari sisi sejarah, pembentukan Pancasila melalui perdebatan cukup menegangkan. Perumusan Pancasila mengalami beberapa ketegangan antara tokoh dari umat muslim dan non-Muslim ? dalam menetapkan sila pertama Piagam Jakarta (cikal bakal Pancasila), ? yakni “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Akhirnya dengan usaha keras persuasi Soekarno terhadap perwakilan tokoh Islam di detik-detik awal kemerdekaan Indonesia, tujuh kata di belakang ketuhanan dihapus demi persatuan dan kesatuan mengingat Indonesia baru merdeka. Usaha ini juga jelas menggarisbawahi bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari warga Muslim—meskipun Islam adalah mayoritas—bahwa ada penganut agama-agama lain yang hidup di Indonesia. Mereka semua sebagai warga negara harus memiliki hak yang sama. Upaya untuk mengganti Pancasila dengan Khilafah misalnya, adalah upaya untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain atau kelompok lain dalam negara baru yang dicita-citakan oleh kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Kembali lagi pada gagasan yang diangkat oleh Kleden tentang kontinuitas tradisi, dengan melakukan kritik terhadap tradisi yang sudah ada, kemudian melakukan reformasi tradisi agar lebih baru dan maju merupakan sebuah upaya positif dalam urun pembangunan. Konsep ini memiliki kesamaan dengan usul fiqih yang menjadi doktrin organisasi kegamaan Islam Nahdlatuh Ulama (NU), al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah yang artinya memelihara yang lama yang baik dan mengadopsi yang baru dan baik. Konsep “menjaga yang baik” di sini bisa disamakan dengan tetap bertradisi dengan mengkritik tradisi yang tidak kontekstual tentunya bentuk atau kemasanya saja, dan “mengambil yang lebih baik” di sini bisa disamakan dengan melakukan upaya perubahan mencari dan menemukan inovasi baru agar tetap eksis dalam perubahan zaman.

Pemahaman seperti Kleden dan NU tentang kebudayaan di atas dapat menjadi semangat positif dalam melanjutkan tradisi yang sudah ada (Pancasila). Mestinya dengan melakukan kritik dan tafsir ulang untuk disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Bentuk konkrit sikap ini, misalnya adalah melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah digagas, semisal Ekonomi Kerakyatan oleh Hatta, Dawam Raharjo, Mobyarto, dsb; Kebudayaan oleh STA, Kleden, Pram, Rendra, Ronggowarsito (Jawa) dsb; Pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, Dr Soetomo, dsb; Filsafat oleh Suryomentaram (Jawa) dsb; Islam oleh Hasyim Asyari, A. Dahlan, Mustofa Bisri, dsb; dan bidang-bidang sosial lainya di mana sesuai dengan konteks sosial budaya Indonesia itu sendiri.

Oleh sebab itu, semangat Pancasila menjadi penting sebagai usaha warga negara dalam memajukan bangsa dan menolak gerakan radikalisme agama. Gerakan radikalisme dalam beberapa kasus juga ingin menyuarakan permasalahan sosial bangsa yang sudah sangat pelik. Lalu, mereka memberi solusi dengan ikut bergabung dalam gerakanya. Dan puncaknya adalah penerapan khilafah atau syariat Islam di dalam negara sebagai solusi atas tidak becusnya sistem demokrasi dan ideologi Pancasila. Namun, apakah sistem baru yang ditawarkan sudah teruji atau diterapkan dengan hasil sebuah kemakmuran bangsa? Tentunya, biaya “peperangan antar suku, agama, aliran” belum juga kegagalan yang diakibatkan, kepentingan global yang mendompleng dibaliknya, lebih baik dialihkan pada usaha kongkrit dalam mengembangkan tradisi yang sudah ada. Terakhir, sebagai negara yang sudah berusia 72 tahun, Indonesia haruslah sudah mandiri di segala bidang. Untuk itu, berusaha berdikari dengan Pancasila adalah suatu keharusan.

“Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri musti merumuskan keadaan” (Rendra, Sajak Sebatang Lisong).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 22 Desember 2017

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Bandar Lampung, Haedar Nashir

Pengelolaan wakaf dengan baik dan benar dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kemaslahatan umat. Wakaf bisa menjadi sumber ekonomi umat Islam jika dikelola dengan ilmu pengetahuan yang matang dan sesuai dengan kriteria serta syariat Islam.

Demikian disampaikan M Damrah Khair saat memberikan materi "Prospek Peran Ekonomi Wakaf di Indonesia" pada Workshop Manajemen Pengelolaan Wakaf yang dilaksanakan oleh Bidang Penerangan Agama Islam zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Rabu (11/04), di Bandar Lampung.

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Dikelola dengan Benar, Wakaf Hasilkan Manfaat Luar Biasa

Mantan Rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung tersebut memberikan beberapa contoh negara dan perguruan tinggi yang dapat berkembang dengan luar biasa dengan memaksimalisasikan wakaf yang ada. "Mesir dan Universitas Al Azhar Kairo bisa maju karena pengelolaan wakaf yang sangat baik. Universitas Islam Indonesia dan Pesantren Gontor juga baik sekali dalam memanfaatkan wakaf untuk mengembangkan diri," katanya.

Haedar Nashir

Oleh karenanya Damrah menegaskan bahwa kata kunci dalam perwakafan ini adalah pengelolaan, karena permasalahan bukan pada apa yang mau diwakafkan namun kepada siapa yang mau mengelola wakaf. "Sebenarnya banyak orang yang mau berwakaf. Tapi siapa yang mengelola, amanah nggak, kredibel nggak. Itu yang jadi permasalahan," tegasnya.

Jadi, menurutnya sangatlah penting mengubah pola pikir umat serta sinergitas ulama dan umara untuk menjadikan wakaf produktif. Salah satu cara untuk mengubahnya adalah melalui bentuk sosialisasi dan pelatihan pengelolaan ekonomi wakaf yang didukung oleh dana yang memadai, terjadwal, dan terencana.

Haedar Nashir

"Lebih khusus ini adalah salah satu tugas Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengelola wakaf dengan baik. Pembinaan terhadap nadzir (pengelola wakaf) harus intensif dilakukan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kyai, RMI NU Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah

Yogyakarta, Haedar Nashir

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kota Yogyakarta selama dua hari melaksanakan silaturrahim dan ziarah terhitung sejak 5 Maret 2016.

Silaturahim dilakukan ke kediaman senior dan keluarga IPNU Yogyakarta di Kabupaten Kendal dan Semarang, Jawa Tengah. Rombongan yang terdiri para pelajar NU tersebut berangkat pertama kali menuju ke Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jogja Jaga Tradisi Silaturahim dan Ziarah

Di kediaman alumni IPNU-IPPNU yang juga orang tua dari kader PC IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta, Fairuz, itu puluhan pelajar NU tersebut berkenalan dan mendengarkan kisah perjuangan para kader senior saat di IPNU-IPPNU dulu.

Haedar Nashir

"Silaturahim kepada semua pihak sangat penting untuk menjaga hubungan emosional serta memberikan stimulus semangat baru untuk pengurus," ujar Muhammad Saiful Al-Ayyubi, koordinator pengaderan PC IPNU Kota Yogyakarta.

Haedar Nashir

Hari kedua, Ahad (6/3) perjalanan berlanjut silaturrahim kader senior lainnya, lalu berziarah ke makam Sunan Kalijaga dan Raden Patah Demak. Selain bertujuan menambah semangat juga untuk mengingat perjuangan para ulama terdahulu dalam berdakwah. (Ainun Naim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Selasa, 19 Desember 2017

Suwaidan, Tokoh Kuwait Kunjungi PBNU Bicarakan Demokrasi dan Dunia Islam

Jakarta, Haedar Nashir. Dr Tareq Suwaidan, ahli manajemen strategis, trainer motivasi yang juga sering tampil di TV dalam berbagai show mengunjungi PBNU, Selasa (10/11). Ia diterima oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Keduanya terlibat dalam diskusi seru soal demokrasi dan dunia Islam.

Suwaidan, Tokoh Kuwait Kunjungi PBNU Bicarakan Demokrasi dan Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Suwaidan, Tokoh Kuwait Kunjungi PBNU Bicarakan Demokrasi dan Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Suwaidan, Tokoh Kuwait Kunjungi PBNU Bicarakan Demokrasi dan Dunia Islam

Pertanyaan mendasar yang dibahas adalah, apakah sistem terbaik dalam sebuah negara. Kiai Said menuturkan demokrasi merupakan sistem yang baik tetapi demokrasi seperti apa. Menurut Kiai Said demokrasi liberal yang tanpa batas tidak bagus bagi Indonesia. Yang cocok diterapkan di Indonesia adalah demokrasi yang berakhlak karena sesungguhnya kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain.?

Suwaidan dalam hal ini membandingkan kondisi Timur Tengah dan Indonesia. Menurutnya, demokrasi di Indonesia sudah cukup bagus, jangan sampai keluar dari situ. Indonesia harus mampu menjaga dari pemaksaan kehendak kelompok tertentu yang ingin menerapkan ideologinya. Jika demokrasi di Indonesia bisa berjalan semakin baik, hal ini bisa menjadi contoh bagi dunia Muslim lainnya.

Haedar Nashir

Mereka berdua membahas kondisi Timur Tengah yang sampai saat ini kondisinya masih belum stabil. Bahkan untuk bisa menjalankan demokrasi yang baik, perlu proses belajar yang panjang. Amerika saja membutuhkan ratusan tahun agar demokrasinya mapan, itupun di sana-sini masih terjadi kekurangan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir RMI NU, Budaya, Jadwal Kajian Haedar Nashir

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90

Bogor, Haedar Nashir. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Mahasiswa Bogor (IPB) Isti’laul Qudroh pengembangan diri peningkatan kemampuan di pondok pesantren Mina 90,  Cibeureum, Kabupaten  Bogor, Jawa Barat pada Sabtu malam (30/11).

Kegiatan yang merupakan jenjang pertama memasuki KMNU IPB tersebut diikuti 50 mahasiswa dan mahasiswi. Para santriyin dan santriyat pesantren tersebut juga ikut berbaur pada acara tersebut.

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90 (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90 (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU IPB Gelar Istilaul Qudroh di Pesantren Mina 90

Dalam pantauan Haedar Nashir, sebelum acara yang digelar selepas Isya, para peserta dan para santri makan malam bersama di atas daun pisang dengan lauk pauk yang sederhana.

Haedar Nashir

Wakil Ketua KMNU IPB, Ahamad Mujib, mengatakan Isti’lalul Qudroh tahun kelima ini merupakan cara KMNU IPB untuk mengabdi kepada masyarakat, “Setiap pelajaran di kampus dipraktikan di sini (pesantren KMNU 90) mulai dari budi daya tanaman seperti sayuran organik dan pengembangan dan budidaya lele,” katanya.

Pengasuh Pesantren Mina 90 Kiai Misbahudin mengungkapkan senangnya dengan adanya kegiatan ini. “Mudah-mudahan kebersamaan ini berlanjut. Tidak sampai di sani saja,” harapnya.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, kegitan ini merupakan proses menjadi khoirun nas anfa’uhun li nas, atau manusia yang terbaik di antara manusia lain adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. “Marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi manusia bermanfaat,” imbaunya.

Allah, kata dia, memberikan potensi yang bermanfaat dan buruk, tapi yang harus dipupuk adalah potensi yang baik supaya menjadi khoirun nas anfa’uhun li nas. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Habib Haedar Nashir

Rabu, 06 Desember 2017

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Ustad yang terhormat, saya pernah mendengar ada orang yang pernah menikah dengan jin. Bahkan ada juga dalam sinetron yang saya lihat di salah satu televisi swasta, terlepas apakah itu cerita fiktif atau bukan yang jelas ada cerita pernikahan dengan jin meskipun tidak dijelaskan bagaimana proses akadnya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum menikah dengan jin. Dan atas jawabannya, kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Yunus/Jakarta)

***

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mengenai pernikahan manusia dengan jin sebenarnya bukan soal baru. Kami juga pernah mendengar cerita pernikahan manusia dan jin, yang notabenenya adalah dua makhluk yang berlainan alam dan berbeda materi penciptaannya. Namun kami belum pernah menyaksikan bagaimana pernikahan manusia dengan jin bisa berlangsung. Hanya saja dalam benak kami, jin merubah dirinya menjadi wujud manusia seperti kita.

Para ulama juga sebenarnya juga jauh-jauh hari sudah membincang tentang pernikahan manusia dengan jin, bahkan sampai ada yang mempuyai anak dari hasil pernikahan tersebut. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan tersebut. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

“Bahwa merasukinya jin pada manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu, atau jatuh cinta sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Dan terkadang antara manusia dengan jin terjadi pernikahan sampai melahirkan anak. Hal ini banyak terjadi dan sudah diketahui secara umum. Sungguh, para ulama telah menyebutkan hal tersebut dan membicarakannya. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan (manusia) dengan jin” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatwa, Mesir-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005 M, juz, 19, h. 39)      

Di antara barisan para pakar hukum Islam yang memakruhkan pernikahan manusia dengan jin adalah imam Malik pendiri madzhab maliki.  Alasannya adalah adanya kekhawatiran nanti kalau ada perempuan hamil akibat melakukan zina bisa saja mengaku bahwa ia dihamili jin.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Dan terdapat riwayat dari imam Malik ra bahwa beliau membolehkan pernikahan manusia dengan jin, akan tetapi beliau memakruhkannya karena (khawatir) perempuan-perempuan yang hamil sebab zina mengaku-aku bahwa kehamilannya itu dari jin” (Lihat Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 50)

Haedar Nashir

Di kalangan madzhab syafii sendiri juga terjadi perselisihan pendapat. Ada yang memperbolehkan, dan ada yang tidak. Di antara pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan manusia dengan jin adalah al-Bariji dan Ibnu Yunus. Alasan yang dikemukakan adalah adanya perbedaan jenis antara bangsa manusia dan jin. Ini artinya manusia hanya boleh menikah dengan manusia. Hal ini didasarkan atas firman Allah swt berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri” (Q.S. An-Nahl [16]: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?. “Ibnu Yunus berpendapat bahwa di antara yang menjadi penghalang pernikahan adalah perbedaan jenis. Karenanya maka tidak boleh bangsa manusia menikah dengan bangsa jin. Dan pendapat inilah yang difatwakan al-Bariji karena didasarkan kepada firman Allah swt, ‘Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri’ (Q.S. An-Nahl [16]: 72]” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 3, h. 162)

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam soal pernikahan manusia dengan jin ternyata terjadi perbedaan di antara para ulama. Dan kami lebih memilih pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan tersebut.

Pertimbangan kami memilih pendapat yang tidak memperbolehkan di samping alasan yang dikemukakan oleh ulama di atas adalah, ketiadaan aturan teknis yang memadai yang menjelaskan mengenai pernikahan manusia dengan jin.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Anti Hoax, RMI NU Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua PBNU H Slamet Effendy Yusuf berpendapat organisasi masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah yang telah memberikan kontribusi kongkret kepada masyarakat lebih berhak mendapatkan dukungan daripada partai politik melalui sekolah, pesantren, rumah sakit, rumah yatim dan layanan sosial lainnya.

Sebelumnya Mendagri Cahyo Kumolo mengusulkan dukungan pembiayaan sebesar 1 trilyun rupiah kepada partai politik untuk mengurangi kemungkinan penyalahgunaan kekuasaaan saat para politisi menjabat.

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Anggap Ormas Lebih Berhak Dukungan Pemerintah daripada Parpol

“Jadi kalau parpol menurut idenya mendagri akan diberikan bantuan cukup besar, saya kira dalam waktu yang bersamaan, ormas keagamaan yang langsung membina bangsa, seperti NU dan Muhammadiyah di lingkungan Islam, demikian juga temen-temen dari agama lain, itu juga diberi bantuan langsung dari alokasi APBN,” katanya di gedung PBNU, Selasa (10/3).?

Haedar Nashir

Dengan demikian, pembangunan ini berjalan secara serempak pada sektor-sektor yang dibiayai dan digarap oleh pemerintah maupun sektor yang digarap oleh swasta.?

Haedar Nashir

“NU melalui pesantren dan madrasah, Muhammadiyah melalui sekolahnya, begitu juga Persis, juga ormas Islam yang lain bisa menjangkau kalangan yang selama ini terabaikan dari program pemerintah. Jadi menjadi kekuatan yang menjamah sebagian besar porsi yang seharusnya menjadi porsi pemerintah.”

Ia menjelaskan, ormas seperti NU juga mendapat bantuan dari pemerintah, tetapi ibarat kata, kebutuhannya seribu, tetapi bantuan yang diberikan hanya beberapa sen.?

“Kita membantu aktifitas pendidikan, keagamaan, termasuk aktifitas penyadaran kesadaran kewarganegaraan yang dilakukan oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah luar biasa akibatnya.”

Ia mencontohkan andaikan tidak ada NU dan Muhammadiyah, kemudian ada bahaya internasionalisme Islam, negara tidak akan bisa berbuat banyak. “Ini saatnya negara berterima kasih pada mereka, termasuk memberikan anggaran yang signifikan sebagai bagian anggaran negara untuk pembinaan masyarakat.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, RMI NU Haedar Nashir