Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan

Jombang, Haedar Nashir. Musibah tanah longsor serta banjir bandang yang melanda wilayah Pacitan, Jawa Timur, mengundang simpati sejumlah kalangan. Di bawah koordinasi PC Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang, belasan juta rupiah dana bisa terhimpun. Demikian pula bantuan berupa barang yang sangat dibutuhkan para korban.

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jombang Salurkan Uang dan Barang ke Korban Bencana di Pacitan

"Total uang tunai yang kami terima hingga siang ini sebanyak Rp.15.124.200," kata Akhmad Zainuddin, Senin, Ketua PC LAZISNU Jombang, Senin (4/12). Ia mengatakan, dana diperoleh dari sejumlah orang maupun lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi.

Dalam aksi social ini, LAZISNU dibantu Unit Pengelola Zakat Infak Sedekah (UPZIS) dan Jaringan Pengelola Zakat Infak Sedekah (JPZIS) di sejumlah kecamatan dan desa. "Setelah terhimpun, kemudian dijadikan satu di posko PC LAZISNU Jombang," kata Gok Din, sapaan akrabnya.

Sejumlah barang yang juga telah siap dikirim ke lokasi bencana berupa beras, pembalut, pakaian layak, dan mukena. "Juga ada yang menyumbang mi siap saji, serta susu kemasan," ungkapnya.  

Haedar Nashir

"Insya Allah Kamis (7/12, red) bantuan kami antar ke lokasi bencana di Pacitan," katanya.

Sembari menunggu waktu pengiriman barang, posko bencana untuk Pacitan masih terbuka kepada siapa saja yang akan memberikan sumbangan. "Ini demi meringankan beban keluarga dan saudara kita di sana," ungkap Gok Din. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Amalan, Cerita Haedar Nashir

Minggu, 18 Februari 2018

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir, saya ingin bertanya. Ayah saya berusia 65 tahun dan memiliki beberapa anak. Sebagian anaknya sudah menikah. Selama ini ayah dan ibu saya hidup cukup dari usaha pensiunan. Tetapi ayah saya kadang masih mengharapkan bantuan finansial dari anak-anaknya sebagai bentuk balas budi kepada orang tua. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Aisyah/Bogor).

Jawaban

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Waktu dan Besaran Nafkah Anak kepada Orang Tua

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Allah memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua. Perintah ini disebutkan langsung antara lain di dalam Surat Luqman ayat 14-15.

Haedar Nashir

Dalam Surat Luqman ayat 14-15, Allah meminta manusia untuk berbakti kepada orang tua dalam segala hal. Manusia diperintahkan untuk membantu kedua orang tua baik selagi hidup maupun ketika keduanya sudah wafat.

Haedar Nashir

Adapun kebaktian anak terhadap orang tua dalam bentuk nafkah berupa makanan pokok adalah wajib selagi anak itu mampu membantu orang tuanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kedua orang tua wajib dinafkahi oleh anaknya dengan syarat antara lain kelapangan rezeki anak yang bersangkutan. Batasan kelapangan rezeki adalah mereka yang memiliki kelebihan harta setelah menutupi kebutuhan makanan pokok dirinya dan anak-istrinya sehari-semalam itu di mana kelebihan itu dapat diberikan kepada kedua orang tuanya. Jika anak itu tidak memiliki kelebihan harta, maka ia tidak berkewajiban apapun atas nafkah kedua orang tuanya lantaran kesempitan rezeki yang bersangkutan,” (Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2001 M/1422 H, halaman 577).

Meski demikian, tidak setiap orang tua memerlukan bantuan nafkah dari anaknya. Orang tua yang berhak menerima bantuan nafkah dari anak adalah mereka yang memenuhi dua syarat mustahik nafkah.

? ? ? ?) ? ? (?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Adapun orang tua wajib dinafkahi) oleh keturunannya (dengan dua syarat) atau salah satunya, yaitu ([pertama] kefakiran dan penyakit kronis) tertimpa musibah atau bencana [yang mencegahnya berusaha-pen], ([kedua] kefakiran dan kegilaan) karena riil hajat mereka ketika itu. Dari sini anak-keturunannya tidak wajib menafkahi orang tua yang fakir dan sehat; atau fakir dan waras meskipun mereka memiliki usaha/pekerjaan karena kemampuan berusaha/bekerja setara dengan potensi memiliki harta. Jika mereka tidak memiliki usaha, anak-keturunan mereka wajib menafkahinya, menurut pendapat lebih zhahir di Raudhah dan tambahan di Minhaj. Anak-keturunan diperintahkan bergaul dengan orang tuanya secara baik. Bukan termasuk kategori pergaulan baik kalau anak-keturunan membiarkan orang tua yang sudah renta/kakek-neneknya berusaha/bekerja,” (Lihat Muhammad bin Ahmad As-Syarbini, Al-Iqna’ pada Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1996 M/1417 H, juz IV, halaman 439-440).

Secara rinci kedua orang tua yang berhak menerima nafkah anaknya adalah mereka yang tidak kaya, tidak sehat, dan tidak waras.

? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “[Adapun orang tua wajib dinafkahi keturunannya dengan dua syarat atau salah satunya, yaitu (pertama kefakiran dan penyakit kronis) penderita penyakit kronis yang kaya atau orang fakir yang sehat-gagah tidak wajib dinafkahi, (atau kedua kefakiran dan kegilaan), orang gila yang kaya atau orang fakir yang waras tidak wajib dinafkahi,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, Situbondo, Al-Maktabah Al-As‘adiyah, cetakan pertama, 2014 M/1434 H, halaman 169).

Tetapi bagaimanapun, manusia tetap diharuskan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya sesuai dengan kondisi keuangannya, tidak perlu memaksakan diri secara rutin dengan besaran tertentu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Nafkah untuk kerabat (baik usul yaitu ayah-ibu dan kakek-nenek ke atas maupun furu’ yaitu anak-cucu ke bawah) tidak ditentukan batasannya, tetapi sewajarnya. Nafkah untuk kerabat itu berbeda ukurannya sesuai dengan usia dewasa atau di bawah dewasa, kezuhudan atau kekurangzuhudannya... Kalau seseorang tidak menafkahi kerabatnya hingga beberapa waktu baik karena kelalaian atau bukan, maka tidak dihitung utang karena nafkah kerabat disyariatkan untuk membantu saja sifatnya, berbeda dari nafkah istri karena nafkah istri merupakan semacam imbalan. Wallahu a‘lam,” (Lihat Taqiyudin Abu Bakar Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, Beirut, Darul Fikr, 1994 M/1414 H, juz II, halaman 115).

Melihat kondisi kecukupan kedua orang tua seperti deskripsi pada pertanyaan di atas, dapat disimpulkan bahwa anak-anaknya tidak wajib menafkahi kedua orang tuanya. Tetapi tentu saja anak dianjurkan untuk memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik dan sedikit-sedikit membantu keperluan kedua orang tuanya sesuai dengan kelonggaran kondisi keuangan anaknya.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, AlaNu, Humor Islam Haedar Nashir

Selasa, 13 Februari 2018

Expo dan Edukasi Keuangan Ramaikan Haul Buntet 2017

Cirebon, Haedar Nashir



Dalam rangka meramaikan haul almarhumin sesepuh dan warga Pondok Buntet Pesantren 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menggelar expo dan gerakan edukasi dan inklusi keuangan, Selasa-Kamis (11-13/4). Penyelenggaraan kegiatan tersebut didasarkan atas maraknya investasi ilegal di Cirebon Jawa Barat.

Expo dan Edukasi Keuangan Ramaikan Haul Buntet 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Expo dan Edukasi Keuangan Ramaikan Haul Buntet 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Expo dan Edukasi Keuangan Ramaikan Haul Buntet 2017

Kepala Kantor OJK Cirebon Muhamad Lutfi mengatakan, pondok pesantren memiliki potensi, baik santri maupun masyarakatnya. Hal tersebut membuat pondok pesantren sangat penting untuk diberikan pemahaman tentang inklusi keuangan.

“Target index inklusi keuangan tahun 2019 mencapai 75 pesen. Salah satunya adalah potensinya ada di pesantren,” ujar Lutfi saat membuka Expo Edukasi dan Inklusi Keuangan di Pondok Pesantren Buntet, Selasa (11/4/2017).

Pada expo yang berlangsung tiga hari itu, OJK mengajak 19 lembaga keuangan meliputi perbankan, industri keuangan nonbank, dan pasar modal. Santri dan masyarakat bisa bertanya langsung ke masing-masing stand yang ada, terkait produk yang ditawarkan. Lutfi juga menegaskan, lembaga yang dihadirkan kali ini adalah lembaga yang legal.

Haedar Nashir

“Inklusi yang diharapkan di sini adalah, santri dan masyarakat memahami produk yang akan dipilihnya, baik itu pelayanannya, legalitasnya dan keamanannya,” kata Lutfi.

Ilham, salah satu santri, mengaku senang dengan adanya pameran dan edukasi keuangan ini. Menurutnya, dirinya mejadi faham model produk-produk jasa keuangan dan investasi. Selain itu, ia juga bisa mengetahui dan membedakan produk investasi illegal dan legal.

Haedar Nashir

“Cukup bagus, karena selain ada sosialisasinya. Kita juga bisa langsung bertanya tentang produk-produk jasa keuangan di stand-stand yang ada,” kata Ilham.

Selain expo, haul Pondok Pesantren Buntet juga diramaikan dengan beberapa kegiatan lainnya, seperti lomba muhafadzah dan membaca puisi, bahtsul masail diniyah, khitanan massal, pagelaran kesenian rakyat, semaan Al-Quran, tahlil umum di makbaroh Buntet Pesantren, dan pengajian umum yang akan diisi oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan KH Ridwan Sururi Purwokerto. (M Syakir Niamillah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Kajian Islam Haedar Nashir

Jumat, 02 Februari 2018

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Banyuwangi, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melatih puluhan kader-kadernya menulis. Semangat belajar secara serius diperlihatkan oleh peserta. 

Yusri Nurdian Muslim, misalnya, tetap memaksakan diri untuk menulis dengan modal telepon pintar miliknya. Dalam momen latihan ini, ia menuliskan  masalah pendidikan, khususnya rotasi sistem berjalannya pendidikan yang ada di daerah.

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Kesulitan dalam menuliskan paragraf awal tak bisa dihindarkan oleh pemuda asal Kecamatan Blimbingsari ini. Namun, ia tak sungkan menanyakan kepada teman-teman yang ada di samping kanan-kirinya, tentang kebingungan apa yang harus dituliskan, bagaimana menentukan angle cerita, dan berbagai hal teknis tulis-menulis lainnya.

"Karena ini kan masih pertama kali ikut pelatihan menulis. Banyak teman-teman saya yang sudah mahir. Tapi saya akan terus coba. Wajar jika banyak tanya sana-sini. Maklumlah," tuturnya, saat dimintai keterangan di tengah-tengah acara pelatihan bertajuk IPNU Ngaji Jurnalistik Bareng Kumparan, di Aula Lantai Dua kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (22/08/2017) pagi.

Didampingi para pemateri yang hadir, Yusri tak segan-segan menunjukkan hasil tulisannya kepada teman dan narasumber. Meski hasil hanya beberapa paragraf saja, Editor Kumparan Rina Nurjanah memberikan apresiasi atas tekadnya belajar menulis.

Haedar Nashir

"Meski ide pokok antarparagraf kurang sinkron dan banyak typo. Tapi tak mengapalah. Karena masih proses tahap awal ia belajar. Saya sangat mengapresiasi sekali tekadnya belajar menulis," ungkap Rina.

Hal yang tidak disangka Yusri memiliki harapan dan cita-cita yang terlampau tinggi, bagi kalangan penulis tingkat awal. "Saya juga memiliki cita-cita ingin jadi penulis buku best seller yang setara dengan Andrea Hirata," tutup Yusri.

Di acara ini mereka juga diajak untuk membuat akun baru di Media Kumparan. Para peserta dipersilahkan untuk membuat tulisan apapun di sana. "Karena misi kami adalah memberikan edukasi kepenulisan dan sekaligus memberikan motivasi penulis baru tetap menulis dalam wadah Media Kumparan," jelas Rina. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Cerita, Anti Hoax Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Lampung Selatan, Haedar Nashir. Peresmian pesantren tahfidz El-Karimi Syah ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua PWNU Lampung KH RM Soleh Bajuri, Ahad (18/1). Pesantren yang berlokasi di desa Purwodadi Rulung Raya Natar, Lampung Selatan ini dimaksudkan menjadi sarana pembinaan agama bagi masyarakat setempat.

Dalam peresmian ini tampak hadir tokoh-tokoh NU Lampung Selatan, Camat, Lurah, dan masyarakat desa Purwodad.

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Pendiri pesantren Huffadz El-Karimi Syah KH Munirul Ikhwan mengatakan, “Pesantren yang baru saja diresmikan Kiai RM Soleh Bajuri bertujuan menciptakan generasi yang memahami ilmu agama yang mendalam demi kemajuan umat Islam khususnya di Lampung.”

Haedar Nashir

Sementara Kiai RM Soleh Bajuri menyatakan apresiasi terhadap upaya pendirian pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Huffadz El-Karimi Syah. Menurutnya, pendirian pesantren ini menjadi angin segar yang menrupakan bentuk kepedulian NU terhadap kondisi masyarakat.

Sudah tidak diragukan lagi pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini pesantren masih berkontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. (Rudi Santoso/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Jumat, 19 Januari 2018

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Pak Ustadz Haedar Nashir yang baik hati. Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika pertanyaan yang saya ajukan terkesan tidak bermutu. Di kampung saya shalat Id biasanya dilaksanakan pada jam tujuh pagi atau kadang lebih. Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya kapan mulai masuk waktu shalat Id dan kapan berakhirnya? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Ridlo/Belik-Pemalang)

Jawaban

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id (Sumber Gambar : Nu Online)
Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id (Sumber Gambar : Nu Online)

Batas Awal dan Akhir Pelaksanaan Shalat Id

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id pertama kali disyariatkan pada tahun satu Hijriyah. Pandangan ini didasarkan pada hadits riwayat Anas RA. Riwayat ini menyebutkan bahwa penduduk Madinah memilik dua hari yang digunakan oleh mereka sebagai waktu untuk bersenang-senang.

Haedar Nashir

Tradisi ini sudah mengakar kuat pada masa jahiliyah. Mengetahui hal itu Rasulullah saw kemudian bersabda, “Sungguh, Allah telah mengganti bagi kalian yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu mengganti dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Shalat Id disyariatkan pada tahun pertama Hijriyah. Dalilnya adalah riwayat dari Anas RA yang menyatakan, ‘Rasulullah SAW datang ke Madinah, dan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari yang dimanfaatkan untuk bersenang-senang. Rasul pun bertanya, ‘dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dulu kami di masa jahiliyah bermain-main dalam dua hari itu.’ Lantas Beliau SAW bersabda, ‘Sungguh, Allah telah mengganti bagi kalian yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha,’” (Lihat Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, cetakan ke-12, Damaskus, Darul Fikr, juz II, halaman 513).

Sedangkan mengenai soal awal waktunya, para ulama dari kalangan madzhab Syafi’i ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati di antara mereka adalah tentang akhir waktu shalat Id, yaitu ketika matahari tergelincir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ulama dari kalangan madzhab Syafi’i sepakat bahwa waktu akhir pelaksanaan shalat id adalah ketika tergelincirnya matahari,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VII, halaman 7).

Adapun yang diperselisihkan adalah mengenai awal waktu shalat Id. Setidaknya ada dua pendapat sebagaimana didokumentasikan Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab.

Pendapat pertama menyatakan bahwa awal waktu shalat Id adalah dimulai dari terbitnya matahari. Namun yang lebih utama shalat Id ditangguhkan dulu sampai matahari naik seukuran satu tombak. Pandagan ini menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi adalah yang paling sahih.

? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Mengenai waktu awal pelaksanaan shalat Id terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih, dan ditegaskan pengarang kitab Al-Muhadzdzab (Abu Ishaq Asy-Syirazi), penulis kitab Asy-Syamil, Ar-Ruyani dan ulama yang lain adalah bahwa awal waktu pelaksanaan shalat Id mulai dari terbitnya matahari. Yang paling utama adalah menangguhkan shalat Id sampai naiknya matahari seukuran satu tombak,” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz, VII, halaman 7).

Pendapat kedua menyatakan bahwa awal waktu shalat Id adalah ketika matahari naik. Ini adalah pandangan yang ditegaskan oleh Al-Bandaniji dan Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab At-Tanbih. Menurut An-Nawawi, pendapat ini zhahirnya adalah ucapan Ash-Shaidalani, Al-Baghawi, dan ulama lainnya.

(?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat kedua menyatakan bahwa masuknya waktu shalat Id adalah ketika naiknya matahari. Pendapat ini ditegaskan oleh Al-Bandaniji dan Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab At-Tanbih. Pendapat ini zhahirnya adalah ucapan Ash-Shaidalani, Al-Baghawi dan selain keduanya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VII, halaman 7).

Berangkat dari penjelasan singkat di atas, dalam soal waktu awal terjadi perbedaan di antara para ulama terutama di kalangan madzhab Syafi’i sendiri. Pendapat yang dianggap paling sahih adalah yang menyatakan bahwa awal waktu shalat Id dimulai ketika terbitnya matahari. Sedang mengenai akhir waktunya mereka sepakat, yaitu ketika tergelincirnya matahari.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Selasa, 16 Januari 2018

Iran Tunjukkan Komitmen Dalam Perjanjian Nuklir

Washington, Haedar Nashir. Iran harus memusnahkan 15.000 unit mesin pengaya uranium sebagai bagian dari butir kesepakatan dengan Barat, demikian laporan Institute for Science and International Security (ISIS) di Washington.

Selain itu, Iran juga harus menutup sebuah fasilitas pengayaan uranium bawah tanah, mengubah reaktor air berat, dan setuju untuk menjalani proses pengawasan selama 20 tahun, tambah ISIS. Temuan itu diserahkan secara eksklusif kepada Wall Street Journal.

Iran Tunjukkan Komitmen Dalam Perjanjian Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Tunjukkan Komitmen Dalam Perjanjian Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Tunjukkan Komitmen Dalam Perjanjian Nuklir

Dua inspektur Badan Tenaga Atom Internasional memeriksa proses pengayaan uranium di Iran tengah pada 20 Januari 2014.

Haedar Nashir

Keputusan datang setelah Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memastikan pada Senin bahwa Teheran telah mulai mengurangi aktivitas nuklir utama sebagai langkah awal penerapan kesepakatan November antara Iran dan enam kekuatan dunia. Pada saat yang sama, Uni Eropa dan AS sepakat melonggarkan sejumlah sanksi ekonomi Iran.

Haedar Nashir

Menurut IEAE, Iran telah menurunkan aktivitas di reaktor plutonium air berat Arak dan mulai memindahkan cadangan uranium dengan tingkat kemurnian 20% yang mendekati level senjata. IAEA pun setuju untuk meningkatkan pengawasan terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk di antaranya kunjungan harian ke sejumlah fasilitas di kota Natanz dan Qom.

“Ini hari penting dalam upaya menjamin bahwa Iran memiliki program nuklir yang [ditujukan bagi jalan] damai,” ujar kepala kebijakan asing Uni Eropa, Catherine Ashton.

Pengumuman Iran itu memulai masa enam bulan negosiasi internasional demi mencapai kesepakatan permanen. Para pejabat Amerika dan Iran mengatakan pembicaraan resmi akan dimulai dalam dua pekan mendatang di Jenewa.

Menurut ISIS, langkah-langkah yang diumumkan pada Senin masih jauh dari yang akan disyaratkan dalam kesepakatan final.

Rekomendasi institut tersebut tidak dipandang keras. Laporan menyambut bahwa Iran akan mempertahankan sejumlah kemampuan untuk menghasilkan bahan bakar nuklir sebagai bagian kesepakatan akhir melalui pengayaan uranium dalam jumlah kecil bagi kepentingan sipil.

Sebaliknya, koalisi anggota legislatif AS berupaya meloloskan aturan yang mensyaratkan pelucutan total kemampuan Teheran dalam memperkaya uranium sebagai bagian dari kesepakatan akhir.

David Albright, kepala ISIS, adalah mantan inspektur senjata PBB yang menjadi penasihat kendali senjata pemerintah. Menurutnya, kajian tersebut dikembangkan oleh riset independen dan melalui pembicaraan mendalam dengan para pejabat pemerintahan Obama dalam beberapa bulan terakhir mengenai masalah Iran.

Para petinggi Departemen Luar Negeri menolak berkomentar atas kesimpulan laporan ISIS. Namun, para pejabat senior AS dalam beberapa pekan terakhir mengatakan bahwa pengurangan aktivitas Arak dan penurunan cakupan kemampuan pengayaan uranium Iran menjadi hal penting demi mencapai kesepakatan akhir.

Laporan ISIS berfokus pada upaya menggagalkan kemampuan Iran untuk menghasilkan bahan bakar senjata melalui dua cara yang tengah dikembangkan Teheran: pengayaan uranium, dan produksi plutonium. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Cerita, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 14 Januari 2018

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dua tahun sebelum muktamar NU ke-33, jurnal Tashwirul Afkar mewawancarai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Tanggal 25 Januari 2014, di tengah menjalankan tugas sebagai Rais Aam untuk ketiga kalinya, Kiai Sahal wafat.

Namun, isi wawancara yang dilakukan Ahmad Fawaid Sjadzili dan Hamzah Sahal dinilai amat relevan untuk diterbitkan lagi. Dalam wawancara ini, Allahu yarham Kiai Sahal seperti berwasiat tentang anakmuda, Nahdlatul Ulama, Aswaja, tak ketinggalan Indonesia.

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dengan beberapa pemotongan, Haedar Nashir menerbitkan kembali wawancara ini, di tengah peringatan 40 hari wafatnya, yang banyak diselenggarakan masyarakat di banyak tempat.

Haedar Nashir

Kiai Sahal, Anda masyhur dengan konsep fiqih sosial. Apa yang melatarbelakangi gagasan tentang fiqih sosial?

Saya melihat ulama itu kalau sudah bahtsul masail, dan membahas fiqih itu terlalu sakral. Saya tidak tahan dengan sikap-sikap seperti itu. Karena fiqih itu adalah hasil dari pemikiran manusia, berdasarkan ijtihad yang dilakukan manusia, bukan dogmatis. Jadi tidak sakral. Untuk menghilangkan itu, saya menggunakan istilah fiqih sosial, bagaimana fiqih itu menjadi hal yang memasyarakat, bukan hal yang sakral.

Haedar Nashir

Kongkretnya bagaimana?

Kongkretnya karena kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kode etik. Sekarang saja saya tidak bisa lepas dari kode etik. Saya harus melayani Anda sebagai tamu dengan ramah; Anda bertanya dan saya menjawab pertanyaan Anda. Fiqih itu luas. Anda jauh lebih muda dari saya, tapi saya suguhi minuman sebagai penghormatan. Jadi meskipun Anda masih muda, saya tidak pantang untuk melayani Anda, karena Anda tamu. Apalagi ada maksud baik, yaitu mau wawancara. Ini fiqih.

Apa yang paling prinsif dari fiqih sosial?

Fiqih sosial itu begini, masalah-masalah sosial yang ada kaitannya dengan hukum. Dan saya pikir semua masalah sehari-hari ini ada kaitannya dengan hukun dan juga fiqih.

Bagaimana agar fiqih tetap relevan?

Fiqih itu kan hidup dengan ijtihad. Ijtihad itu disesuaikan dengan kebutuhan. Ijtihad itu kan berusaha untuk mencapai kebutuhan.

Ijtihad jadi kata kunci dalam fiqih?

Ya. Ijtihad jadi kata kunci.

Bagaimana dengan anggapan pintu ijtihad telah tertutup?

Ijtihad bermacam-macam, ada ijtihad mutlaq dan ijtihad muqayyad, ijtihad yang bebas dan terbatas. Ijtihad itu ada yang ijtihad madzhab dan ijtihad qaul. Ijtihad itu tidak punya pintu, sehingga tidak ada istilah tertutup atau terbuka. Tidak mampu melakukan ijtihad, saya kira iya. Tapi jangan disamakan antara tidak mampu ijtihad dengan ijtihad ditutup.

Persoalannya, siapa yang memapu menjadi Imam Syafi’i sekarang? Apakah ada yang berani mengaku seperti Imam Syafi’i? kan imam mujtahid mutlaq seperti imam yang empat?

Sekarang bagaimana? Ada yang tahu hadits dan Al-Qur’an cuma sepotong-potong; ada yang hafal tapi tidak mengerti; ada juga yang mengerti tapi tidak hafal. Kekuarang selalu banyak. Berbedaan dengan ulama terdahulu yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai tafsir. Kemampuan saya dibanding ayah saya sangat jauh. Bahkan bisa dikatakan, saya tidak mampu menandingi ayah sama sekali. Ayah saya hafal Al-Qur’an, menguasai kitab dan pengetahuan kemasyarakatan. Tapi saya tidak mampu seperti itu.

Kiai, bagaimana perkembangan kajian keislaman saat ini?

Masih relatif bisa diharapkan, meskipun berkurang. Masih banyak pesantren yang memiliki prinsip mengajarkan dirosat islamiyah (kajian keislaman), terutama di bidang fiqih.

Keputusan bahtsul masail di Muktamar Boyolali dan Munas Surabaya dinilai tidak progresif dibandingkan dengan Munas Lampung. Bagaiamana menurut Kiai?

Tidak progresif?

Misalnya hermeunetika diharamkan di Muktamar Boyolali?

Kalau orang memutuskan haram itu karena situasi. Jangan dianggap menurun dong. Boleh dong kalau ada pertanyaan ‘kok dihalalkan terus?’ Harus obyektiflah. Orang yang berbicara begitu belum tentu tahu fiqih. Jadi harus melihatnya secara obyektif.

Berbicara tentang pesantren sebagai lumbung kader NU. Bagaimana situasi pesantren saat ini?

Keadaan pesantren sekarang lain dengan pesantren yang dulu. Kalau pesantren yang dulu itu terkonsentrasi. Para santri dan para kiai pengasuh pesantren terkonsentrasi pada ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga melahirkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang susah dipisahkan dan susah dibuang begitu rupa. Tradisi itu melekat, inhern pada kehidupan sehari-hari mereka. Itu yang pertama.

Yang kedua, pada sistem pesantren itu sendiri. Sistem pesantren itu dulu lebih memfokuskan kepemimpinan pada pengasuh. Tapi itu dulu. Sekarang pesantren beda, karena terpengaruh dengan sistem demokrasi. Jadi sistem demokrasi itu masuk di pesantren telah mengubah sistem pesantren, sehingga kepemimpinan pengasuh itu tidak terjadi lagi. Mending kalau pengasuhnya kebetulan peduli dengan perkembangan ini, sehingga kiai itu bisa memberikan arahan-arahan. Kalau tidak, susah juga.

Bagaimana pengalaman Kiai di Kajen?

Kalau saya, saya ikuti. Santri saya beri kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi dengan arahan. Tidak lalu bebas mutlak. Dan arahan saya tidak monolog. Saya selalu memberi arahan melalui dialog. Karena mereka sadar bahwa tidak mungkin santri itu hidup sendiri dengan kemandirian penuh, masih ada ketergantungan pada pengasuhnya. Mereka sendiri yang mempunyai kesadaran seperti itu, bukan karena saya yang memengaruhi.

Apa faktor yang mengubah kondisi pesantren saat ini?

Faktor pemahaman demokrasi yang kurang begitu tepat. Orang gampang bicara demokratisasi. Semetara di mana menempatkan demokrasi itu tidak dipikirkan. Dan tentu tidak semua hal secara general harus disikapi dengan demokrasi. Ada aspek-aspek yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi.

Misalnya?

Aspek dogmatis misalnya. Itu tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Banyak h al lain yang berkaitan dengan pesantren yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Bayangkan kalau aspek dogmatis diselesaikan dengan demokrasi.

Tentang politik praktis, Kiai. Apa tanggapan Anda tentang perbedaan politik praktis di NU dan pesantren?

Itu bukan perbedaan politik. Bagi saya, perbedaan sikap yang ada pengaruhnya. Sipa para pengurus pesantren yang belum bisa melepas politik akan berbeda ketika memimpin NU, karena akan selalu mempolitisir NU. Apabila pengurus NU-nya telah melepaskan politik praktis, tidak aka nada upaya mempolitisir NU. Salah satu contohnya adalah Pilkada.

Apa yang musti dilakukan pesantren?

Ya tergantung pengasuhnya. Kalau pengasuhnya cuek, ya sudah lepas semua. Tapi kalau pengasuhnya masih punya pengaruh dan punya idealisme, masih memberikan arahan-arahan pada santrinya, itu bisa terselamatkan. Jadi itu tergantung pada pengasuhnya. Sekarang banyak pengasuh-pengasuh muda yang sikapnya tidak lagi sesuai dengan motivasi munculnya pesantren waktu didirikan.

Nilai apa yang harus dipertahankan agar pesantren tetap pada relnya?

Ya Ahlussunnah wal Jama’ah. Apalagi?

Kenapa Ahlussunnah wal Jama’ah?

Ahlussunnah wal Jama’ah ini nilai yang bisa dinegosiasikan. Bagaimana juga kebiasaan-kebiasaan masyarakat dipertahankan. Cuma terkadang masyarakat terlalu formalistik, dan ini tidak diterima, menggunakan dalil ini dan dalil itu. Pendekatan-pendekatan budaya, lewat kultur dan tidak formalistik, itu harus dipertahankan.

Selain menjadi Rais Aam PBNU, Kiai juga menjadi Ketua Umum MUI. Apakah ada masalah?

Tidak ada.

Tidak ada konflik kepentingan?

Tidak ada. Yang penting ada komunikasi. Sikap-sikap NU terhadap MUI misalnya bisa saya netralisir di NU. Di MUI juga ada persoalan dengan NU, saya juga memberikan penjelasan di MUI. Dan sampai sekarang NU tidak pernah menanyakan bagaimana situasi di MUI. Saya selama menjadi ketua MUI, oleh siapapun di NU tidak menanyakan bagaimana situasi saya menjadi ketua.

Terkait dengan NU. Kita bisa bercerita bagaimana pengalamannya memangku Rais Aam PBNU sejak Muktamar Lirboyo tahun 1999?

Sejak saya memangku Rais Aam, kami sebenarnya ingin mengkongkretkan NU ke khittah 26, yang sampai saat ini sebenarnya masih tarik ulur dengan pengurus yang memiliki kepentingan politik. Itu yang saya rasakan suka dukanya memimpin NU. Di samping itu, bukan pekerjaan yang mudah menghilangkan atau menghapus syahwat politik yang demikian besar, baik di kalangan masyarakat NU sendiri maupun pengurus NU sendiri untuk kembali kepada NU sebagai jam’iyah maupun NU sebagai jama’ah yang memfokuskan diri kepada persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, tidak lagi berusan dengan partai politik atau politik praktis.

Nah, untuk mencapai itu semua saya mendapatkan banyak kendala. Pertama,susahnya menghilangkan syahwat politik dari kalangan masyarakat NU sendiri. Kedua, generasi pengurus baru yang akan membawa NU kembali ke khittah 26 juga belum siap sepenuhnya. Ketiga, lingkungan masyarakat di Indonesia ini diliputi oleh gejolak politik yang tidak stabil, yang itu juga mendorong warga NU untuk tidak saja meninggalkan respon politis. Itu yang saya rasakan selama ini.

Kenapa jama’ah dan jam’iyah NU gagap, padahal khittah 26 sudah berjalan 24 tahun?

Karena begitu kuatnya atmosifir politik praktis di NU. Lebih-lebih NU punya sejarah gemilang sebagai partai politik, Partai NU pernah menjadi partai terbesar ketiga. Sehingga wajar bila warga NU begitu kuat syahwat politiknya, dan susah meninggalkan sama sekali urusan politik praktis, kecuali orang NU yang memiliki idealisme. Sementara warga NU tidak semuanya memiliki idealisme, bahkan seringkali apa yang dilakukan merupakan respon sesaat.

Apa solusi terhadap kenyataan tersebut, Kiai?

Harus ada regenerasi. Regenerasi atau kaderisasi membutuhkan proses yang sangat panjang. Sayangnya generasi yang sudah siap juga terkontaminasi oleh politik praktis yang tidak jelas arahnya.

Bagaimana upaya menuju regenerasi?

Itu tak bisa saya sendiri dong. Karena apa? Cabang punya kepentingan. Itu karena hak pilih seorang pimpinan itu adalah muktamar kalau di tingkat Pengurus Besar. Atau Konferwil di tingkan Pengurus Wilayah, dan Konfercab di tingkangkat Pengurus Cabang. Jadi sebenarnya yang punya otoritas adalah Pengurus Cabang. Ini tidak mudah karena, perlu pemikiran komperhensif dan waktu yang panjang. Kembali lagi bahwa sementara ini pimpinan-pimpinan cabang itu juga tidak idealis, banyak yang pragmatis dalam memimpin NU. Sudahlah, kalaupun ada konferensi reformasi, kalau di sana-sini rebutan, apa idealnya ia menjadi pemimpin NU.

Apa upaya strategis untuk mengembalikan idelisme pengurus-pengurus NU dari tingkatan yang paling bawah hingga Pengurus Besar?

Saya kembali lagi pada masalah kaderisasi, regenerasi. Katakanlah pengurus lama itu anggap sudah selesai. Saya tidak sanggup untuk membalikkan pikiran kader-kader lama. Sudah berkali-kali saya upayakan sejak menjadi Rais Aam. Saya mendatangi seluruh orang Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tidak ada yang ketinggalan, mulai dari Banten hingga Banyuwangi tidak ketinggalan. Di luar Jawa saya datangi seluruh provinsi untuk memasarkan khittah NU. Tidak dengan ceramah monolog, tapi dialog. Saya tidak mau ceramah monolog, karena orang mungkin mantuk-mantuk tapi tidak mengerti. Saya ingin mengetahui komentar mereka. Nah, itu loh suara mereka di luar sana.

Selama Kiai menjadi Rais Aam, apa yang bisa diceritakan kepada generasi muda?

Sebenarnya banyak pengalaman saya. Saya merasakan demikian besar dan luasnya pola hidup dan pola pikir warga NU. Tampaknya waktu itu pola pikirnya satu, tapi setelah menjadi Rais Aam saya baru tahu ternyata beragam. Bahkan mungkin bisa diistilahkan ada polarisasi, tapi saya tidak mengatakan seperti itu.

Polarisasi?

Ada dua pengertian polarisasi. Polarisasi memperkaya dan bisa polarisasi ekstrim. Nah, saya khawatir dengan polarisasi ekstrim.

Di NU yang mana, Kiai?

Tidak ekstrim. Tapi tidak bisa dikatakan memperkaya. Saya tidak mengada-ngada. Saya ngomong yang riil. Kalau saya nggak mampu saya bilang nggak mampu, sebab ini bukan pekerjaan yang mudah.

Situasi seperti apa yang dialami selama menjadi Rais Aam, yang bisa dibagi-bagi dan kemudian bisa diteruskan oleh kader kita?

Bagi saya, sepanjang kita masih berpegang teguh kepada ajaran Aswaja. Itu saja. Kalau ini sudah tidak dipertahankan, itu sudah fatal. Itu yang saya anggap prinsip selama menjadi Rais Aam.

Bagaimana mengamalkan Aswaja?

Tentu melalui perbagai macam pendekatan, pendekatan dialog, pendekatan pendidikan, pendekatan perilaku dan sikap.

Banyak orang menilai NU di zaman reformasi ini seperti toserba?

Tergantung dari mana melihat. Apanya yang serba ada? Kalau melihat dari generasinya memang sudah campur baur tidak karuan.

Dari pemikiran akidah dan politiknya misalnya?

Pemikiran juga seperti itu. Kembali pada persoalan proses demokratisasi pemikiran tadi, itu sudah terkontaminasi.

Demokrasi itu menghambat ya?

Bukan menghambat sepanjang kita masih mampu. Kan bisa diarahkan.

Kiai, minta nasehat untuk generasi muda.

Ya itu tadi, ke depan pasti ada perubahan. Dan sudah pasti regenerasi dilakukan. Jadi, tolonglah generasi-generasi muda NU merspon betul perkembangan NU secara internal. Demikian juga perkembangan masyarakat secara eksternal dikaitkan dengan perkembangan NU ke depan. Hal-hal semacam ini harus didiskusikan di internal anak muda sajalah. Saya lebih senang anakmuda karena masa depan itu bukan milik saya. Ke depan Anda-anda yang akan berperan.

Diskusi-diskusi anak-anak muda NU sering dinilai rombongan liar, Kiai?

Sepanjang untuk perkembangan NU menurut saya bukan rombongan liar.

Apapun diskusinya?

Sepanjang kepentingan NU dan betul-betul untuk perkembangan NU. Jangan membahas NU yang sekarang. Yang penting bagaimana NU di masa mendatang. Terkadang orang-orang juga kelewatan. Mereka menyoroti pimpinan yang sekarang, siapa yang tidak tersinggung. Belum tahu permasalahan NU sudah menyoroti pimpinan NU. Akui saja itu, masih ada yang begitu. Sepanjang diskusi itu untuk kepentingan NU ke depan, ini memang milik mereka kok. Ke depan, perjalanan sejarah milik Anda. Begitu menurut saya.

Yang membedakan NU sepuluh tahun terakhir ini dibandingkan sebelumnya apa?

Tidak ada. Saya jujur saja. Apa yang harus saya banggakan? Tidak ada.

Perkembangan yang perlu dilanjutkan generasi muda?

Tidak ada, ya masih standar-standar saja. Saya akui saja, saya tidak neko-neko kok. Meskipun orang luar NU melihat perkembangan dibandangkan dengan zaman dulu, itu komentar pribadi saja.

Apa yang harus dilakukan agar NU konsisten dalam berjuang?

Ya, Aswaja. Konsep aswaja itu merakyat.

Soalnya terlalu banyak kelompok lain yang mengaku Aswaja?

Ya Aswaja kita, Aswaja NU. Biar dia mengaku Aswaja, silakan saja. Memang Aswaja itu bukan hanyak klaim NU. Ya kalau terpaksa, katakan saja Aswaja ala NU. Aswaja ala NU itu merupakan ajaran yang diwarisi dan sudah diasah terus menerus di pesantren. Jadi kelompok-kelompok yang anti NKRI dan semacamnya itu harus dilawan dengan itu. Mereka juga tidak berani dialog kok. Dialog itu jalur mentok. Kenyataannya, dialog bukan membuat mereka untuk sadar. Berkali-kali dilakukan dialog, tapi masih kembali lagi. Itu namanya orang ngotot. Orang seperti itu kalau dilayani terus bisa membuang-buang waktu. Saya malas melayani seperti itu.

NU salah satu elemen besar di Indonesia. Apa yang seharusnya NU berikan dalam konteks negara saat ini?

Konsep mempertahankan NKRI (secara Islam, red.) itu NU yang punya, yang lain belum. Dan NU sudah berjuang untuk itu, dan konsisten mempertahankannya sampai sekarang. Jadi perjuangan NU jangan dianggap remeh. NU merasa ikut berupaya, merasa ikut bersungguh-sungguh. Kiai sepuh-sepuh itu dulu bergerilya memperjuangkan kemerdekaan. Saya saja ikut bergerilya. Jadi seusia saya dulu ikut bergerilya. Bapak saya ditahan oleh Belanda sampai meninggal di penjara Ambarawa Semrang garagara memperjuangkan hak kemerdekaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Cerita, AlaNu Haedar Nashir

Jumat, 12 Januari 2018

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Puasa Ramadhan berakhir dengan masuknya 1 Syawal yang merupakan peringatan Idul Fitri, hari raya yang diperingati sangat meriah di Indonesia. Seluruh konsentrasi publik terfokus pada acara tersebut. Baju baru harus dibeli, rumah perlu ditata ulang atau dirapikan untuk menyambut tamu. Berbagai macam hidangan juga harus disiapkan. Tentu itu semua ada ongkosnya, beruntung ada tunjangan hari raya (THR) bagi karyawan. Pemerintah dengan segala daya upayanya berusaha agar perayaan tersebut berjalan dengan lancar, tanpa kurang satu apapun karena jika gagal akan menghadapi kritik pedas dari publik. Begitulah perhatian dari masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.?

Kini Lebaran yang jatuh pada 6 Juni 2016 telah berlalu. Yang mudik ke kampung halamannya sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Ada kebahagiaan bisa bertemu orang tua dan sanak famili, tapi rasa capek karena perjalanan jauh tampaknya belum juga hilang, ongkos yang melebihi anggaran juga menjadi perhatian, badan yang melar karena kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak juga menjadi ingatan, dan masih ada sejumlah persoalan lain yang belum terselesaikan. Belum sempat istirahat kembali, kini kita harus mempersiapkan diri untuk kembali menjalani rutinitas sebagaimana biasanya untuk sebelas bulan ke depan.?

Dalam prinsip manajemen waktu, rehat dari sebuah aktfitas sangat penting sebagai sarana untuk melakukan evaluasi. Rutinitas yang terus-menerus menyebabkan kita bisa kehilangan perspektif yang lebih besar sehingga kita rentan terjebak semakin dalam pada persoalan yang sama. Karena terjebak rutinitas, kita tidak menyadari bahwa dunia luar sudah berubah atau kita baru tersadar bahwa kita ternyata telah menghabiskan banyak waktu untuk aktifitas tersebut dengan tingkat produktifitas yang rendah, sementara usia sudah semakin menua, padahal setiap harinya sudah disibukkan dengan berbagai tenggat yang tak ada habisnya.

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Dari perspektif itu, Lebaran merupakan rehat nasional karena hampir semua orang keluar dari rutinitas yang tiada habisnya tersebut. Lebaran menjadi sarana untuk refleksi, sebagaimana peringatan tahun baru, Masehi atau Hijriah, 17 Agustus, dan lainnya.

Toh, dengan sedemikian banyak momen untuk berefleksi, kita tetap saja tidak banyak berubah. Berefleksi bahkan juga sudah menjadi sebuah rutinitas tersendiri. Resolusi yang kita bikin segera saja terlupakan seminggu atau dua minggu kemudian. Kita, sebagai sebuah bangsa memang melakukan perbaikan, tapi kecepatan perbaikan tersebut tidak terjadi sebagaimana bangsa lain berubah. Berbagai indeks dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional setiap tahunnya menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi medioker. Kita memang bukan yang terburuk, tetapi kita juga belum mampu menunjukkan prestasi gemilang di hadapan bangsa lain. Jika dilihat dari potensi yang kita miliki, seperti melimpahnya sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis yang strategis, dan banyak faktor pendukung lainnya, seharusnya kita bisa mencapai prestasi jauh lebih baik daripada yang kita capai saat ini. Kita memang pandai dalam membuat rencana, tetapi lemah dalam implementasi dan evaluasi. ?

Haedar Nashir

Agama mengajarkan, jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk golongan yang merugi, bahkan jika hari ini kita lebih dari kemarin, maka kita termasuk golongan yang celaka. Kebutuhan ? untuk berinovasi dan melakukan perbaikan-perbaikan dengan sungguh-sungguh semakin mendesak karena bangsa lain juga melakukan yang sama. Kalau tidak, kita akan menjadi pencundang. Dengan menyadari adanya keterdesakan bahwa orang lain, bangsa lain atau umat dari agama lain sudah bertindak lebih baik, hal ini akan memacu kita untuk bertindak lebih baik pula. Semoga pencapaian untuk setahun ke depan, kita jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Nahdlatul Haedar Nashir

Haedar Nashir

Rabu, 03 Januari 2018

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Oleh A Mustofa Bisri



Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang). Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Medinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’—memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan kurban perawan seperti semula—sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminien ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.). Namun manakibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hamid Bukan ‘Wali Tiban’

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa shahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H.–13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Shahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan. Shahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain. Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabt yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Haedar Nashir

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Haedar Nashir

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawasul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qiraah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe. Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana. Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan. Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra. Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid–rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis. Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424

Tulisan ini merupakan kata pengantar KH A Mustofa Bisri atas buku biografi Almarhum KH A Hamid Pasuruan, dan dipublikasikan di dinding akun facebook miliknya.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah, Habib Haedar Nashir

Rabu, 27 Desember 2017

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

Jember, Haedar Nashir. Terjadinya beberapa kasus sengketa kepemilikan masjid membuat miris banyak pihak. Sebagai tempat ibadah yang nota bene milik umat, masjid sebenarnya tidak perlu disengketakan, tapi kenyataannya tidak sedikit masjid yang menjadi rebutan warga atau antar oknum takmir.?

Itulah yang mendorong Lembaga Takmir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Jawa Timur menggelar Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid.?

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

“Sertifikasi tanah wakaf masjid itu salah satu tujuannya untuk menghindari masjid dari kemungkinan timbulnya sengketa,” tukas Ketua LTMNU Jawa Timur H Ali Mas’ud Kholqillah di kepada Haedar Nashir sela-sela Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid di aula STAIN Jember, Sabtu (16/2). ?

Haedar Nashir

Ali Mas’ud menambahkan, pihaknya mendorong adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan tertib administrasi, khususnya terkait dengan sertifikasi tanah masjid. Sebab, kejelasan status tanah masjid juga ? akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi jamaah.?

Haedar Nashir

Di samping itu, juga supaya jelas siapa pemilik masjid itu. “Sebab, seperti kita ketahui, karena ketidakpahaman pengurus masjid, tidak sedikit masjid NU beralih tangan kepada pihak lain, yang tidak sepaham dengan NU,” ulasnya sambil menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mendata jumlah masjid di Jawa Timur.

Di tempat yang sama, Ketua LTMNU Cabang Jember, H Muhammad Hasin menyatakan pihaknya siap memfasilitasi masyarakat yang ingin membuat sertifikat tanah masjid.?

“Kami siap mengkomunikasikan dengan notaris atau BPN untuk pembuatan sertifikat itu,” tukasnya.?

Pensiunan guru agama tersebut menambahkan, saat ini pihaknya tengah mendata jumlah masjid di Kabupaten Jember, yang diperkirakan mencapai 2500 buah. Dari pendataan itu, akan diketahui berapa jumlah masjid yang belum bersertifikat. ?

“Kalau belum disertifikat, kita dorong, tapi juga terserah mereka,” urainya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Bahtsul Masail, Halaqoh Haedar Nashir

Kamis, 21 Desember 2017

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menggelar seminar Waspada Diabetes; Dampak pada Tubuh dan Gigi di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, Jumat (28/4) pagi. Pada pertemuan ini sejumlah narasumber menjelaskan bagaimana dampak diabetes pada kesehatan anggota tubuh lainnya.

Sekretaris LKNU Citra Fitri Agustina (dokter Civi) mengatakan, seminar tersebut selain sebagai ajang silaturahim dalam menyambut bulan Ramadhan mendatang, juga sebagai sarana untuk belajar bersama tentang penyakit diabetes mellitus yang ternyata berdampak pada anggota tubuh, termasuk gigi.

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Diabetes pada Kesehatan Gigi

“LKNU sebagai bagian dari ormas NU memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan upaya kesehatan, penanganan dan pencegahan penyakit kepada masyarakat luas,” kata dokter Civi.

Ia menambahkan, LKNU bekerja sama dengan berbagai pihak telah dan terus mengampanyekan gerakan kesehatan termasuk penanganan dan pencegahan diabetes mellitus ke beberapa propinsi di Indonesia.

Haedar Nashir

Sementara itu, Yeny Yuliani dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jakarta Pusat mengatakan, penanganan gigi saat ini menjadi bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau program pembangunan berkelanjutan. Dalam SDGs,  persoalan gigi termasuk penyakit kronis sistemik seperti penyakit lainnya yang harus ditangani secara serius.

Haedar Nashir

“Ada persoalan kesehatan mulut yang kita harus tahu. Apalagi update saat ini kesehatan mulut juga masuk dalam cover BPJS. Jadi dokter juga harus bertambah kompetensinya dalam penangan penyakit sistemik,” kata Yeny.

Deteksi dini, menurut Yeny, harus dilakukan, apakah seseorang memiliki potensi diabetes yang berpengaruh pada kesehatan gigi. Ia menyayangkan tren di masyarakat yang menandakan naiknya jumlah kasus kesehatan gigi.

“Seakan masyarakat merasa nggak apa-apa kalau sakit gigi dan diabetes karena di-cover BPJS. Padahal penanganan diabetes di rumah sakit termasuk menggerogoti rumah sakit dan pemerintah. Bayangkan kalau sekali cuci darah saja menghabiskan biaya dua juta,” tambahnya.

Ia berharap para dokter, karena  menentukan keberlangsungan hidup pasien, dapat banyak berperan sehingga persoalan diabetes dan gigi bisa dikendalikan. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Cerita, PonPes Haedar Nashir

Sabtu, 09 Desember 2017

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pati, Haedar Nashir. Di tengah surutnya banjir yang mengepung kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, GP Ansor Sukolilo menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) guna membekali anggotanya dalam menghadapi tantangan pascabanjir. Sedikitnya 150 kader Ansor-Banser mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan ini dibuka langsung Ketua PC GP Ansor Pati Ahmad Sholhan. Ia mewajibkan seluruh anggotanya untuk terus bergerak dan bahu-membahu membantu korban pascabanjir. Selain materi-materi PKD, peserta pelatihan dibekali dengan materi pemulihan warga pascabanjir.

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

PKD berlangsung di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2). Pelatihan dimaksud untuk menciptakan kader berkualitas.

Haedar Nashir

“Kualitas artinya kader yang mandiri, peduli terhadap sekitar dan lingkungan, loyal terhadap organisasi, dan meneruskan perjuangan ulama yang senantiasa menjaga keutuhan NKRI,” terang Ketua PAC GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Sunnah, Cerita Haedar Nashir

Kamis, 07 Desember 2017

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

Jakarta, Haedar Nashir. Grand Syekh Al-Azhar melalui delegasinya Prof DR Abdul Mun’im Fuad mengapresiasi gerakan Aswaja yang digelorakan Nahdlatul Ulama. Prinsip-prinsip beragama NU yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW itu, menurutnya, sangat kontekstual dengan kondisi dunia kekinian.

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar: Gerakan Aswaja NU Dibutuhkan Umat Islam Dunia

“Toleransi nilah yang dibutuhkan orang dunia sekarang ini. Inilah manhajul (jalan hidup) Islam sesungguhnya,” kata Mun’im Fuad menyampaikan salam Grand Syekh Al-Azhar dalam bahasa Arab di Jakarta, Rabu (27/5) siang.

Di hadapan pengurus lengkap harian Syuriyah danTanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad yang memimpin rombongan Al-Azhar Mesir itu menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan tathorruf (ekstrem), irhab (teror), ifroth (berlebihan), tafrith (abai), dan tasyaddud (kekerasan).

Haedar Nashir

Qimatuna (nilai keberagamaan kita) itu terletak pada wasuthuna (kemoderatan kita) itu sendiri. Singkat kata, Al-Azhar sepakat dan mendukung gerakan tawasuth NU yang terus mengglobal,” kata Mun’im Fuad menutup sambutannya.

Sementara Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebutkan jumlah agama resmi, keragaman suku, dan sejumlah paham politik yang berkembang di Indonesia.

Haedar Nashir

“NU sebagai ormas muslim terbesar di Indonesia akan terus mengawal keragaman dalam bingkai asas Pancasila dan persatuan NKRI,” kata Kang Said yang juga menggunakan bahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib, Cerita Haedar Nashir

Selasa, 05 Desember 2017

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik

Jembrana, Haedar Nashir - Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Jembrana, Bali, mendirikan 10 Posko Mudik yang tersebar di sepanjang jalur utama Denpasar-Gilimanuk. Posko yang didirikan secara mandiri ini sudah melalui proses koordinasi dengan pihak Polres Jembrana guna membantu kelancaran dan keamanan para pemudik yang akan menyeberang ke Pulau Jawa.

Posko utama berada di Kelurahan Gilimanuk, sebagai pintu keluar dan menjadi pusat bertumpuknya kendaraan. Sementara titik posko yang lainnya berada di Desa Pekutatan, Pulukan, Medewi, Yeh Sumbul, Poh Santen, Baluk, Kaliakah, Candikusuma dan Melaya.

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik

Wakil Komandan Satkorcab Banser Jembrana, Ipan menjelaskan penjagaan di masing masing posko ini dilakukan secara bergantian dan secara sukarela. Hal ini dilakukan semata mata untuk memudahkan para pemudik manakala terjadi gangguan dalam perjalanan.

Haedar Nashir

"Biasa dalam perjalanan banyak kemungkinan yang terjadi, sehingga kami siaga 24 jam siap membantu para pemudik apabila ada masalah dalam perjalanannya," ungkapnya, Rabu (21/6).

Ipan menambahkan, Posko Banser juga dapat digunakan para pemudik sebagai tempat istirahat. "Jadi kalau ngantuk atau kelelahan, posko kami bisa dijadikan tempat istirahat," jelasnya.

Ia juga mengingatkan para pemudik untuk berhati hati dalam berkendara. Karena jalur Denpasar-Gilimanuk ini akan semakin padat menjelang hari H lebaran.

Haedar Nashir

"Mohon patuhi rambu lalu lintas, karena dalam seminggu terakhir di jalur ini sudah dua kali terjadi kecelakaan maut, jadi mohon berhati hati," tegasnya. (Abraham Iboy/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Budaya Haedar Nashir

Senin, 04 Desember 2017

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih

Pati, Haedar Nashir. Bencana kekeringan tahun ini akibat kemarau panjang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dampaknya banyak sumur-sumur dan sumber mata air yang mengering. Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah yang terkena imbas kemarau panjang.

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekeringan Meluas, LPBINU dan Ansor Pati Salurkan Air Bersih

Kekeringan di Kabupaten Pati meluas dari 5 kecamatan menjadi 8 Kecamatan yaitu Winong, Jakenan, Jaken, Batangan, Pucakwangi, Gabus, Tambakromo, Kayen bahkan beberapa desa di Kecamatan Kota juga terkena dampak kekeringan dan membutuhkan Bantuan air bersih.

Untuk merespon keadaan tersebut, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Pati, LPBINU Jawa Tengah serta PP LPBINU bersama GP Ansor Pati mengadakan bakti sosial di 8 Kecamatan yang dilanda kekeringan paling parah pada Kamis (5/11).

Haedar Nashir

Ketua GP Anshor Pati, Imam Rifai mengatakan, untuk memenuhi ke delapan kecamatan tersebut, sekurang-kurangnya harus ada 40 tangki air yang dikirim. Untuk hari ini (Kamis kemarin, red) hanya ada lima belas tangki air yang bisa didistribusikan, dan ini jauh dari kata cukup. Akibatnya warga harus berbagi rata dengan sesame warga. 

“Tahun ini kekeringan sangat parah. bahkan desa yang tidak pernah dilanda kekeringan, tahun ini mengalami kekurangan sumber air bersih,” terangnya.

Haedar Nashir

Rifai mengeluhkan minimnya mobil tangki air yang bisa disewa. Usaha untuk menyewa mobil tangki air dari luar Kabupaten Pati mengalami kendala yang sama, bahwa tangki-tangki itu sudah disewakan. “Kendala kami adalah tentang penyewaan mobil,” katanya.

Direncanakan kegiatan ini akan berlanjut setiap harinya, sampai akhir November. (Faridur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Quote, Pahlawan Haedar Nashir

Jumat, 01 Desember 2017

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Tehran, Haedar Nashir. Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengungkapkan bahwa era senjata nuklir saat ini sudah berakhir karena sudah tidak lagi bisa membawa perubahan dan mengatasi berbagai krisis.



Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Pernyataan itu dikemukakan Mottaki dalam sebuah pertemuan dengan Ketua Standing Committe Masalah Luar Negeri Norwegia Olan Akselsen di Tehran, Selasa (26/6).

"Program nuklir Iran adalah untuk tujuan damai," terang Mottaki dalam pembicaraannya dengan Akselsen.

Haedar Nashir

Mottaki mengatakan, kerjasama antara pemerintah Iran dan Norwegia adalah untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Haedar Nashir

"Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Iran selalu mengutamakan dialog dan tidak mempunyai catatan sebagai bangsa yang arogan dan melakukan agresi terhadap negara-negara lain," kata Mottaki.

Menlu itu juga mengatakan bahwa setidaknya 130 rencana penanganan krisis di Palestina telah mengalami kegagalan selama 60 tahun terakhir ini karena kurangnya perhatian terhadap akar-akar masalah penyebab krisis.

Mottaki menunjuk adanya upaya-upaya yang sengaja dibuat yang menyebabkan perpecahan di Lebanon dan mengatakan bahwa "sebuah pengertian di antara kelompok-kelompok di Lebanon akan menjadi satu-satunya solusi atas krisis di negara tersebut."

Dia mengingatkan bahwa tindakan-tindakan teroris saat ini dapat menjadi bagian dari sebuah konspirasi besar yang digunakan untuk menebarkan ketidakamanan di kawasan.

Mottaki mendesak Eropa segera memainkan peranan yang lebih aktif di Lebanon. Demikian sumber Irna melaporkan.

Sementara itu, Akselsen menekankan pentingnya meningkatkan saling pengertian mengenai Islam dan Barat, dan mengatakan upaya ini adalah salah satu agenda dari kepentingan kedua negara.

Anggota parlemen Norwegia itu meminta Iran untuk mempengaruhi kelompok-kelompok Lebanon guna mengatasi krisis di negara tersebut. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Khutbah, RMI NU Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

“Festival Lintas Budaya,” Tampilkan Karya Anak Negeri

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dengan suku-sukunya memiliki khasanah budaya yang luar biasa dan masing-masing memiliki keunggulan. Islam juga diterima dengan mudah melalui akulturasi kebudayaan, seperti yang dilakukan oleh wali songo.

Pengembangan dakwah melalui kebudayaan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai Islam yang menghargai tradisi. Dalam upaya inilah pada Bulan Harlah ke 82 NU, akan digelar Festival Lintas Budaya.

Jumat, 24 November 2017

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Jember, Haedar Nashir. Jangan pernah berharap untuk menjadi pemenang bila hidup ini tak pernah dipertaruhkan. Kemenangan hanya milik orang yang bertarung (berjuang). Kalimat bijak tersebut muncul dari pidato Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan saat memberikan pengarahan dalam acara pembukaan Porseni ke-XIV PAC IPNU-IPPNU Wuluhan, Ahad (18/12).

Menurut Eksan, berjuang adalah sebuah keniscayaan. Kemenangan sejatinya adalah anugerah dari Allah yang diberikan bersamaan dengan usaha yang dilakukan manusia sebagai tebusan terhadap jerih payah dan perjuangannya. “Karena itu jangan pernah menyerah untuk menjadi yang terbaik, termasuk dalam event Porseni ini ,” ucapnya.

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Sukses, Jangan Pernah Menyerah

Penulis buku “Kiai Muchit, Kiai Kelana” itu menambahkan, bahwa hidup ini esensinya adalah kompetisi tanpa akhir. Selama nyawa masih dikandung badan, selama? itu pula manusia harus berkompetisi untuk menjaga eksistensinya. Untuk meraih hidup yang mapan, bahkan untuk sekadar mempertahankan hidup saja, dibutuhkan usaha yang tidak ringan.

“Karena itu, bila kita ingin sukses, jangan pernah berhenti berjuang. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Justru kegagalan adalah 50 persen kesuskesan. Dengan kata lain kegagalan adalah sukses yang tertunda,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut, Eksan sedikit bernostalgia saat-saat? dirinya menjadi aktifis IPNU Jember sekian tahun yang lalu. Ia bercerita soal keikut-sertaan dirinya dalam Porseni IPNU-IPPNU tahun? 1994 di Yayaan Pendidikan? Ma’arif Wahid Hasyim, Balung. Ketika itu, Eksan berhasil meraih juara 2 dalam lomba pidato.

Haedar Nashir

“Saya waktu itu utusan Ancab IPNU Silo, dan alhamdulillah berhasil. Sampai sekarang piala lomba itu masih ada dan terawat di rumah saya,” ungkap politisi Partai Nasdem tersebut.

Semua kegiatan Porseni tersebut dihelat? di Yayasan Pondok Pesantren Bintang Sembilan (Yaspibis) Jl. Pahlawan 127, Desa Dukuhdempok, Wuluhan, dan akan berlangsung hingga empat hari ke depan.? (aryudi a. razaq/abdullah alawi) ?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Kamis, 23 November 2017

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Cerita Haedar Nashir