Hal itu disampaikan oleh Sujiwo Tedjo saat ditemui Haedar Nashir di Jakarta. Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Tejo ini, santri dan pesantren merupakan potensi dalam hal toleransi di Indonesia.
| Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online) |
Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren
“Kalau di pesantren atau NU diajarkan bahwa toleransi itu dari dulu sudah tinggi,” katanya seusai mengisi acara pembacaan puisi Gedung Graha Bakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/10) malam.Oleh karena itu, pria yang berprofesi sebagai dalang ini pun menganggap bahwa keberadaan santri sangat dibutuhkan Indonesia.
Haedar Nashir
“Santri sangat dibutuhkan untuk kecenderungan global yang makin mengekstremkan (dalam hal) agama,” jelas pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini.Haedar Nashir
Pria berumur 55 tahun ini menyebut bahwa cara beragama yang dijalankan pesantren itu luwes, dan menebar rahmat.“Beragama dengan tersenyum itu pesantren saja,” katanya.
Acara pembacaan puisi sendiri diselenggarakan Kementerian Agama dalam rangka memperingati hari santri yang ke-2 dengan tema Merawat Keberagaman dan Memantapkan Keberagamaan.
Turut menjadi pembaca puisi pada malam tersebut, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Kamaraudin Amin, Abidah El Kholiqie, Habiburrahman El Shirazy, Sosiawan Leak, KH Husein Muhammad, Jamal D. Ramah, Acpe Zam Zam Noor, Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
Haedar Nashir Kajian Sunnah, Pendidikan Haedar Nashir