Jumat, 10 November 2017

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Terletak di Cap Tanger, daerah terujung wilayah Maroko dan terdekat dengan kota pelabuhan Tarifa Spanyol, Pesantren Salaf Mnar (Mahad Mnar lit Talimil Athiq) kokoh berdiri. Meski di berada tempat terpencil, jumlah santri di pesantren ini tergolong banyak. Namanya cukup populer di kalangan masyarakat Maroko.

Didirikan pada tahun 1993 pesantren ini mendapat tempat khusus bagi para santri-santri Maroko. Dan bahkan beberapa mahasiswa nusantara kerap kali mengunjungi pesantren ini untuk sekedar tabarukan dan bernostalgia dengan suasana pesantren di Tanah Air.

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahad Mnar, Pesantren Maroko Rasa Ploso

Secara bangunan fisik, pesantren ini mirip sekali dengan pesantren induk di Pondok Pesantren Ploso atau Lirboyo. Meski terlihat tidak seragam karena diarsiteki oleh para santri sendiri, tetapi pesantren ini nyaman dan suasananya asri. Khas kota santri. Ditambah lagi pemandangan laut biru Atlantik dan hawa sejuk Kota Tanger.

Syeikh al-‘Allamah Muhammad Marsho adalah pengasuh sekaligus pendiri pesantren Mnar ini. Kecuali materi umum, hampir semua mata pelajaran dibimbing langsung olehnya.

Haedar Nashir

Syeikh yang merupakan cicit dari Syeikh Abdus Salam Al Masyisy (Guru dari Syeikh Abul Hasan Assyadzili) ini merupakan salah satu ulama di Kerajaan Maroko yang terkenal hebat di bidang ilmu Alat alias gramatika Arab. Dalam mengajar sehari-hari ia sangat istiqomah dan khidmah terhadap ilmu. Sosok yang tawadlu dan santun, membuat setiap orang yang bertemu dengannya merasa nyaman.

Haedar Nashir

Kiai yang merupakan santri senior dari Keluarga Ghumari ini menjadi pengajar primer di pesantrennya sendiri. Beliau duduk bersila di aula pesantren dan mulai mengaji pada pagi buta hingga siang hari non stop. Dan rata-rata beliau hafal diluar kepala materi yang beliau ajarkan. Tak heran jika banyak dari pesantren ini para lulusan-lulusan yang menjadi ulama-ulama yang dalam ilmunya, diantaranya Syaikh Haskuri Tanjawi guru besar Hadits di Tanger, Syeikh Syallaf Awwamy , Syeikh Muhammad Syadzili Sastrawan asal Dukkala dll.

Di antara materi yang diajarkan beliau adalah Alfiyah ibnu Malik dan Jurumiyah dalam ilmu nahwu, Jauhar Maknun karya Abdurrahman Akhdlari dalam ilmu balaghah, Al-Mursyidul Muin karya Ibnu Asyir dan Tuhfah ibnu Ashim Al-Andalusy dalam fiqih Maliki, Risalatu Abi Zaid al Qirawani dalam fiqih, Nukhbatul al-Fikar karya ibnu Hajar dalam musthalah hadits, Nailul Awthar Karya Imam Syaukani dalam Hadits, A-Waraqat karya Imam al-Juwaini dan Jamul Jawami karya Imam Subki dalam ilmu ushul fiqih, Risalah Adudiyah karya Imam Adhuddin dalam ilmu wadh, dan lain- lain.

Sistem kepesantrenan di Maroko dinilai bagus. Beberapa kali kementrian waqaf sebagai pemangku kebijakan muqarrar (materi pelajaran) dalam Pendidikan Islam di Maroko mendapatkan penghargaan dari Negara-negara arab atas kurikulum yang diterapkan di Talimul Athiq (pesantren) di Maroko. Tidak hanya menyusun muqarrar, Kementerian Waqaf juga menyediakan kasur hingga urusan tepung terigu, minyak zaitun, teh dan kopi untuk para santri. Mereka bagikan kepada santri untuk menyamankan perjalanan mereka dalam rangka mencari ilmu. Barangkali berbeda dengan atensi pemerintah Indonesia terhadap Pondok pesantren saat ini. (M.Nurul Alim/Mahbib)

 

Foto: anggota PCINU Maroko bersama pengasuh pesantren dalam rangka mengikuti pengajian pasaran



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Habib Haedar Nashir