Senin, 20 November 2017

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Bandung, Haedar Nashir. Perubahan sosial begitu cepat. Indonesia tengah mengalami wabah gemar mencaci maki. Seolah menjadi orang paling mulia sehingga kita berhak mencaci dan yang tercaci seakan makhluk paling hina sejagat raya.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan, mungkin saja yang tercaci itu mendapat tempat yang mulia sebab begitu banyaknya orang yang mencacinya.

“Ini orang luar biasa.Dia akan diampuni dosanya oleh Allah dan mungkin dia akan memperoleh tempat yang mulia karena didzolimi oleh semua orang,” katanya saat memberikan sambutan mewakili Ketua PWNU Jawa Barat pada gelaran pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (18/11).

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Aspek Penting Garapan IPNU di Mata Wakil Ketua PWNU Jabar

Indonesia merupakan negara hukum sehingga hukum menjadi punggawa. Menurutnya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain secara sepihak tanpa melalui proses persidangan.

“Padahal republik ini mengajarkan bahwa tidak boleh menghukumi seseorang sebelum melalui proses pengadilan,” lanjut Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung tersebut.

Selain itu, cepatnya perkembangan teknologi memudahkan semua orang untuk mengakses segala keinginannya. Secara instan, pelajar saat ini mudah saja bertanya kepada mesin pencari di internet tentang hal apapun.

Haedar Nashir

“Mereka (pelajar) bertanya pada Kiai Google, Ajengan Yahoo, kemudian Ustadz Bing,” katanya.

Ruang-ruang di dunia internet itu harus menjadi segmen garapan IPNU selanjutnya guna memberikan paham Islam ahlussunnah wal jamaah.

Haedar Nashir

Oleh karena itu,ia menyampaikan dua hal penting yang harus IPNU garap sebagai organisasi yang fokus pada dunia pelajar, yakni IPNU harus memberikan ruang pembelajaran bagaimana menghormati hukum sebagai pilar utama  dan bagaimana IPNU harus mengisi ruang-ruang non-mainstream seperti mencuci otak dengan informasi yang viral.

Pada kesempatan tersebut, hadir Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyyah, Anggota Komisi X DPR RI Dony Ahmad Munir, Pengurus PWNU Jawa Barat, dan alumni IPNU se-Jawa Barat serta para perwakilan organisasi kepemudaan dan badan otonom NU yang lain. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Kyai, Pahlawan Haedar Nashir