Sabtu, 01 Agustus 2015

Zawawi Imron: Bendera Partai Jangan Lebih Tinggi dari Merah-Putih

Jombang, Haedar Nashir

D Zawawi Imron, ulama dan budayawan kondang asal Madura mengingatkan pentingnya membangkitkan kembali budaya warga negara Indonesia. Ciri budaya warga negara adalah rasional dan legowo alias berani menerima kekalahan.



Zawawi Imron: Bendera Partai Jangan Lebih Tinggi dari Merah-Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Zawawi Imron: Bendera Partai Jangan Lebih Tinggi dari Merah-Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Zawawi Imron: Bendera Partai Jangan Lebih Tinggi dari Merah-Putih

“Berbeda memang keharusan demokrasi, kelegowoan kita ditantang dan nasionalisme kita juga ditantang,” katanya dalam Dialog dan Taushiyah Perdamaian Warga NU yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang di Gedung Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Jombang, Jawa Timur, Selasa (8/7) kemarin, seperti dilaporkan kontributor Haedar Nashir Yusuf Suharto.

Sikap legowo itu, misalnya ditunjukkan oleh seorang calon Gubernur di Jawa Tengah yang kalah dan meminta pendukungnya untuk tenang. Zawawi berpesan, jangan sampai politik menjadi panglima yang diposisikan lebih tinggi dari pada persatuan bangsa dan simbol bendera merah putih.

Haedar Nashir

“Jangan sampai bendera partai lebih besar dari merah putih, berbeda dianggap musuh,” katanya. “Mari kobarkan merah putih, sebagai tanda cinta tanah air.”

Penyair Si Celurit Emas itu mengigatkan pentingnya mengelola hati. Karena dari hatilah kejelekan dan kebaikan bersumber. Disitirlah hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging yang kalau ia baik, maka baik pula seluruh jasad, ingatlah ia adalah hati.

Haedar Nashir

Diingatkan pula oleh Zawawi, bahwa ajining diri saka lathi yang jika diterjemahkan kurang lebih bermakna: kehormatan itu dilihat dari ucapan.

Dia juga mengingatkan warisan tradisi Jawa Islam yang misalnya tercermin dalam ungkapan Raden Ngabehi Ronggowarsito, Pujangga murid KH, Hasan Besari Pesantren Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Hamengku Buwono

Beja- bejane wong lali, luwih bejo wongkang eling lan waspodo yang artinya sebaik- baik orang yang lupa lebih beruntung dan selamat orang yang ingat dan waspada."

“Waspada itu artinya tidak bertindak berlandas hawa nafsu dan orang yang ingat itu adalah orang yang tidak gila dalam tindakannya,” katanya dalam forum yang dihadiri warga Nahdliyin dan segenap masyarakat Jombang. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya Haedar Nashir