Demikian isi pidato Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam pembukaan Dialog Lintas Guru Agama yang diselenggarakan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI di Hotel Kesambi Semarang, Rabu (6/5/2015) malam.
| Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama (Sumber Gambar : Nu Online) |
Melalui Guru, Kemenag Dorong Budaya Damai Pendidikan Agama
Dalam pidato gubernur yang dibacakan Asisten Kesra Budi Wibowo ini juga ditegaskan mengenai pentingnya guru agama diberi amunisi agama yang cinta damai. Selama ini, muatan pendidikan agama hanya bersifat normatif-kognitif dengan menanamkan satu keyakinan bahwa agamanya yang paling benar.Haedar Nashir
“Soal ritual, memang benar bahwa ‘agamaku adalah agamaku’ dan ‘agamu adalah agamamu’. Namun dalam makna luas, agama merupakan ajaran yang menanamkan nilai multikultural dan kebersamaan dengan mengedepankan dialog,” ujar Budi.Dalam laporannya selaku Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Dr HM Hamdar Arraiyyah mengatakan, untuk mengakomodasi terwujudnya budaya damai melalui pendidikan agama, Kementerian Agama mengupayakan budaya dialog lintas guru agama. “Kemenag punya tanggungjawab besar dalam mendorong guru agama untuk memberikan ilmu positif tentang agama berwawasan damai,” tegas Hamdar.
Haedar Nashir
Melengkapi pandangan Kapuslitbang, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof H Abdurrahman Mas’ud MA PhD menegaskan pentingnya harmoni agama. “Sekolah harusnya menjadi agen perdamaian. Namun, dalam kenyataannya belum semua sekolah mampu menjadi agen perdamaian yang tepat,” ujarnya.Menurut Rahman, sapaan akrabnya, masih ditemukan sekolah yang belum bisa menghargai perbedaan, sehingga memicu intoleransi dan ketidakharmonisan. Oleh sebab itu, potensi besar sekolah dalam menjaga perdamaian perlu dikedepankan.
“Satu hal yang harus diperkuat adalah guru agama dibekali dengan cross culture understanding, multiculture of education dan metode-metode pembelajaran agama yang modern. Dengan pola itu, niscaya agama jauh dari konflik,” tandasnya.
Salah seorang peserta dialog, M Rikza Chamami, dalam rilis yang dikirimkan kepada Haedar Nashir mewartakan bahwa dialog lintas guru agama tersebut rencananya digelar mulai Rabu-Jumat, 6-8 Mei 2015. “Acara ini diikuti 150 peserta. Mereka antara lain peneliti, unsur majelis agama, pengawas sekolah, dan guru agama dari enam agama resmi di republik ini,” tulis Rikza. (Musthofa Asrori/Fathoni)
Dari Nu Online: nu.or.id
Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Hadits Haedar Nashir