Kamis, 06 Agustus 2009

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Jombang, Haedar Nashir. Sekitar dua ribu anak muda Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Kamu (Kaum Muda) NU di halaman Universitas Wahab Chasbullah di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. 

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin mengarepasiasi positif kegiatan tersebut. "Ini positif, kaum muda bisa ikut terlibat dalam Muktamar NU ke-33. Karena itu, pemerintah tentu mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini," papar Menteri Lukman, Ahad (2/8).

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Musyarawarah Kamu NU menurut dia, akan menjadi lebih penting dan bermakna jika memberikan kontribusi, sumbangan bagi kalangan Nahdliyin serta bangsa dan negara.

Haedar Nashir

"Kaum muda merupakan jantung pergerakan, berhimpunnya kaum muda NU ini merupakan potensi luar biasa, anak-anak muda kita ini luar biasa," kata Menteri Lukman yang membuka kegiatan Musyawarah Kamu NU itu pula.

Haedar Nashir

Potensi Kamu NU menurut Menteri Lukman sudah luar biasa dalam berbagai bidamg kehidupan dan tidak seperti dulu-dulu.

"Semoga hasilnya dari Kamu NU bisa menebar kebermanfaatan bagi sessama," demikian Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin pada kegiatan dihadiri KH Maimoen Zubair, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdaltul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Alissa Wahid Koordinator Seknas Gusdurian. 

Musyawarah yang dibuka dengan tepukan rebana oleh Menteri Agama tersebut diikuti kaum muda NU di GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, PMII, KMNU, Gusdurian, dan lain-lain. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Minggu, 02 Agustus 2009

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Jombang, Haedar Nashir - Setelah menerima kunjungan mahasiswa The Kings College, New York, Amerika Serikat, Pesantren Tebuireng kembali menerima kunjungan mahasiswa asing dari Negeri Paman Sam, Sabtu (3/6). Kali ini, sebanyak 11 mahasiswa dari Miami Dade College berkunjung ke pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari.

"Kunjungan mereka difasilitasi oleh International Office Universitas Airlangga Surabaya," kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar.

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Dalam kunjungan singkat ini, kata Gus Ghofar, para mahasiswa tampak sangat antusias dan terlibat dalam dialog yang sangat hangat.

Salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Enrique Sepulvedas, menanyakan bagaimana perlakuan terhadap non-Muslim di Pesantren Tebuireng. "Apakah Anda menerapkan kebijakan pintu terbuka untuk mereka yang berbeda agama?" tanya pria blasteran Spanyol-Prancis ini.

Haedar Nashir

Menjawab pertanyaan ini, Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kerja sama yang bersifat lintas etnis dan agama. Dalam beberapa kesempatan, pesantren yang kini diasuh oleh KH Salahuddin Wahid ini juga melakukan kerja sama kegiatan dengan berbagai pihak.

Haedar Nashir

"Di Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), bahkan ada salah satu pejabat di Unit Penjamin Mutu yang beragama Hindu," imbuh Pembantu Rektor II Unhasy Muhsin Kasmin. Pria yang telah puluhan tahun mengabdi di Pesantren Tebuireng ini menambahkan, ada juga dosen di Fakultas Teknologi Informatika yang beragama Katolik.

Joshua Elias, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, menanyakan pendapat pengurus Pesantren Tebuireng terhadap aspirasi penegakan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan ini, mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Mohammad Asad menjelaskan peran KH Abdul Wachid Hasyim sebagai salah satu perumus Pancasila.

Pria yang sedang menempuh S-3 di Leiden University Belanda itu menuturkan, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari adalah tokoh yang berperan penting dalam memadukan Islam dan nasionalisme melalui doktrin "Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman" dan fatwa Resolusi Jihad.

"Jihad yang dimaksud bukanlah upaya memusuhi Barat atau non-Muslim, tapi melawan penjajah kolonial Belanda. Inilah salah satu pondasi nasionalisme di Indonesia," jelasnya.

Dengan gambaran itu, imbuh Asad, jelas sekali pandangan Pesantren Tebuireng terhadap Islam dan kebangsaan. "Kalau hari ini masih ada orang yang memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara, atau mendesakkan berdirinya khilafah, maka orang itu mengajak mundur 30 tahun ke belakang," tandasnya.

Isu lain yang didiskusikan para mahasiswa Miami Dade College adalah soal kesetaraan perempuan dalam ajaran Islam. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Marie Geraldine Georges, seorang mahasiswi kulit hitam yang menempuh studi di jurusan Antropologi.

"Saya melihat, yang hadir sekarang laki-laki semua. Apa memang perempuan tidak boleh berperan di sini?" tanya Maria dengan nada penasaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Muhsin Kasmin menyatakan bahwa perempuan mendapatkan peluang yang sama, sepanjang mempunyai kemampuan yang dipersyaratkan. "Salah satu sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng bahkan pernah dijabat oleh seorang perempuan selama beberapa periode. Kesempatan serupa juga diberlakukan di Unhasy," ungkapnya.

Asad menambahkan, Nyai Khoiriyah Hasyim, salah satu putri KH Hasyim Asyari, bahkan dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat terkemuka di zamannya. "Beliau juga tercatat pernah menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi Prof Michael Lenaghan itu menyempatkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan. Kotak amal ini dikelola oleh LSPT untuk pelayanan sosial, kesehatan, dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng.

Mendengar cerita itu, Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut memberikan donasi, pria paruh baya ini menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang ini ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi ini diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, Nasional Haedar Nashir