Kamis, 31 Desember 2009

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pendidikan, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Desember 2009

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Bondowoso, Haedar Nashir. Dalam rangka menyemarakkan datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jambesari Darus Sholah menggelar lomba mewarnai lambang NU untuk siswa taman kanak-kanak atau raudlatul athfal (TK/RA) sekecamatan setempat.

Perlombaan tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Jambe Anom, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (27/9).

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Ketua MWCNU Kecamatan Jambesari Darus Sholah Abdul Mufid menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mendidik generasi Islam sejak dini agar mengenal tahun baru Islam yang biasa dikenal dengan kalender hijriah.

"Kegiatan ini juga untuk mengenalkan sejak dini kepada anak-anak kepada NU," tambahnya.

Haedar Nashir

Melalui peringatan hari besar ini, anak-anak diharapkan bisa mengenang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi beberapa ratus tahun silam sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad, yang terjadi pada 10 Muharram.

Selain lomba, MWCNU Jambersari Darus Sholah juga menggelar agenda tahunan santunan anak yatim. Satunan kepada kaum duafa ini dilaksanakan MWCNU setempat tiap 10 Muharram tiba.

"Malam Sabtu nantinya akan di gelar istighotsah dan santunan anak yatim sebanyak 100 anak yatim serta pelantikan pengurus ranting MWCNU dan insyaallah Bapak Bupati Bondowoso hadir," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir

Minggu, 13 Desember 2009

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Oleh Gatot Arifianto

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta. Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas).

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak.

Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad.

Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: "Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah." (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, jihad tersebut terlewatkan hanya karena satu orang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama akibat pernyataan QS Al Maidah 51. Sehingga, calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu "dikeroyok" ramai-ramai, dengan alasan jihad oleh sejumlah umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah, Padang, Sumatera Selatan, Lampung dan beberapa kota lain, Jumat 4 November 2016.

Haedar Nashir

Berapa kilometer meski ditempuh untuk jihad tersebut? Berapa ongkos dihabiskan untuk mencapai Jakarta (demo, red) dari luar daerah? Tentu tidak sedikit, selain untuk transportasi, tentu juga untuk konsumsi selama di perjalanan. Tapi "semangat" barangkali tidak memperhitungkan sisi tersebut. Barangkali yang lain, saudara-saudara kita yang secara undang-undang tidak terlarang untuk menyatakan pendapat memang berekonomi mapan, sehingga biaya tidak menjadi soal. Jika demikian, tentunya hal sangat menggembirakan.?

Di era Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia telantar. Korban perdagangan manusia 5.900 anak, bermasalah dengan hukum 3.600 anak, balita telantar 1,2 juta, lalu 34.000 anak jalanan yang dirawat di pondok pesantren, panti asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA). Semuanya memerlukan perhatian.

Haedar Nashir

Saat ini pemerintah baru mampu memberikan bantuan langsung untuk menunjang pengasuhan anak yatim dan telantar sebesar Rp1 juta per tahun per anak. Jumlah penerima manfaat pada 25 Maret 2016 tercatat sekitar 5.000 anak. Capaian tersebut perlu diapresiasi kendati masih jauh dari data yang ada. Negara dengan beragam permasalahan ini tentunya akan kesulitan menyelesaikan permasalahan tersebut secara tunggal. Gotong royong sebagai budaya bangsa Indonesia salah satu solusi.

Selain itu, Al-Quran menyebut 23 kali mengenai "yatim" dan penggunaan kata-kata tersebut merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS An-Nisa: 36).

QS Al-Baqarah 2:177 juga menyatakan: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim".?

Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut terhadap terhadap pengingkar perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan juga bersabda: "Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (HR Tirmidzi).

Jika jihad bertujuan untuk masuk surga, jutaan jalan jihad, anak anak yatim itu, semestinya tidak terlewatkan oleh seorang Ahok yang sudah meminta maaf. Ada Rp2,5 miliar dalam hitungan untuk keperluan konsumsi sederhana selama sehari di Jakarta, Rp50 ribu kali 50 ribu pendemo. Belum lagi biaya transportasi, baik ngeteng (naik kendaraan umum) oleh ratusan pendemo atau sewa ratusan kendaran untuk mencapai Jakarta demi demontrasi yang mustahil tanpa makian dan meninggalkan sampah.

Barangkali egois dan menunjukkan mayoritas lebih maslahat dan kelihatan jihad ketimbang menghimpun dan menyalurkan dana dikeluarkan hari ini bagi anak-anak yatim: jalan jihad yang ini kali sepi tanpa kegaduhan hanya karena seorang non muslim bernama Ahok. Adakah ia gajah dan kita semut?

Penulis adalah Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir