Selasa, 29 Juni 2010

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Salatiga, Haedar Nashir

Pengurus Pesantren Sunan Giri bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah mengadakan halaqah pesantren dan wawasan kebangsaan serta workshop sistem manajemen pesantren (Simapes), Ahad (24/1/2016). Halaqah ini menghadirkan pembicara Kapolres Salatiga dan Komandan Kodim 0174 Salatiga keduanya berbicara mengenai penguatan pesantren dalam bingkai etika kehidupan bernegara dan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Hadir perwakilan dari Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi. Dia menyatakan bahwa RMI memfasilitasi dan meningkatkan ikhtiar pesantren melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan workshop.?

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Hal ini sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V tentang Perangngkat Organisasi Pasal 17 ayat C 2015 menjelaskan bahwa RMI bertugas melaksanakan kebijakan NU dalam pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Pesantren ikut bersama membangun bangsa dan negara pada porsi masing-masing untuk mengantarkan akhlak santri dan meneladani sifat-sifat Nabi SAW.

"Dengan berbagai kegiatan tersebut, mutakhorrijin (alumni pesantren) diharapakan bisa berkiprah di masyarakat sebagaimana yang sudah disampaikan pendahulu kita," ungkap Gus Fad sapaan akrabnya.?

Haedar Nashir

Di samping itu, Gerakan Ayo Mondok tahun lalu perlu adanya tindak lanjut dari pengurus wilayah agar pesantren menjadi pilihan utama. Dengan demikian pesantren harus menyiapkan semuanya. Pesantren harus tahu tentang manajemen atau pengelolan yang baik.?

Terdapat dua langkah yang ditempuh pengurus RMINU Jateng. Pertama, memberikan pelatihan Simapes kepada pesantren. Kedua, menyelenggarakan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK). Ke depan pesantren harus menjadi percontohan dalam hal kebersihan. Semua itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak termasuk pesantren itu sendiri.

Pesantren memiliki dua tantangan besar yang menghadang ke depan. Pertama, dalam hal kebangsaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang didalamnya terdapat pesantren harus berani menaruh nyawa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Rakyat Indonesia. Kedua, pesantren itu sendiri harus tetap eksis sebagai lembaga kaderisasi ulama bukan malah menjadi tempat untuk mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Tantangan yang lain adalah pengembangan kemandirian ekonomi dan manajemen pesantren.?

Haedar Nashir

"Kami melibatkan pihak internal dan eksternal pesantren dalam workshop SIMAPES ini",” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Mukhtasit.?

Mukhtasit juga menegaskan, pesantren ke depan perlahan-lahan harus mampu mengimbangi perkembangan zaman dengan menata manajemen agar menjadi lebih baik. Acara ini dihadiri 50 santriwan-santriwati dari 15 pesantren di lingkungan Salatiga. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Sejarah Haedar Nashir

Sabtu, 26 Juni 2010

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB

Bogor, Haedar Nashir. Ribuan mahasiswa dan warga Bogor memadati gedung Graha Widya Wisuda (GWW), Institut Pertanian Bogor (IPB), yang berlokasi di kampus Darmaga dalam kegiatan bertema “Gebyar Shalawat Cinta Rasul Untuk Melestarikan Tradisi Rebana dan Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah”  Ahad malam (23/12) lalu.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB dan didukung penuh oleh pihak Direktorat Kemahasiswaan IPB, serta melibatkan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara sebagai media partner.

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB

Selain diisi dengan pembacaan maulid Nabi, tahlil dan simtud duror yang dipimpin oleh Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas dari Keramat Empang, kegiatan yang melibatkan kalangan habaib dan alim ulama se-Bogor tersebut juga dirangkai dengan Festival Rebana se-Bogor Raya, yang dihelat pada Ahad siang, dengan menyertakan 15 tim. 

Haedar Nashir

“Sungguh di luar dugaan, IPB menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Ini kegiatan Maulid Nabi pertama yang saya ikuti di IPB. Semoga ke depan kegiatan seperti ini dapat terus dilangsungkan di IPB,” ujar Habib Hasan.

Haedar Nashir

Pembina KMNU IPB Dr Ifan Haryanto dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk melestarikan dan menyebarkan ajaran serta kesenian tradisional Islam di tengah masyarakat. Islam sangat mengakar kuat di Indonesia karena faktor budaya, yang telah mendarah daging dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke genderasi berikutnya selama delapan abad.

“Tanpa adanya pendekatan kesenian dan kebudayaan, Islam tidak akan mengakar kuat di Indonesia. Sejak awal kehadirannya, Islam dapat beradaptasi sekaligus mampu hidup berdampingan dengan budaya-budaya lokal nusantara,” kata Ifan Haryanto.

Di sisi lain, Ifan Haryanto yang juga pengurus ISNU pusat ini mengatakan, perlu pendekatan baru dalam mengemas pesan-pesan dakwah, termasuk menyiarkan kesenian tradisional Islam. Bila pada puluhan tahun silam, dakwah hanya didominasi ustadz-ustadz tamatan pesantren dengan pendekatan sangat sederhana, namun saat ini perlu didomodifikasi. Pasalnya selain harus menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat perkotaan, dakwah juga harus bisa memanfaatkan berbagai teknologi informasi yang ada.

“Hal inilah mengapa kegiatan Festival Rebana dan Maulid Nabi SAW di IPB  sangat penting, karena masyarakat kampus memegang peran sangat besar dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat,” ungkap dia.

Direktur Kemahasiswaan IPB Dr. Rimbawan mengatakan, kegiatan tersebut sebagai syiar Islam yang perlu didukung penuh. “Kegiatan ini tidak hanya sekedar lomba atauu kreativitas mahasiswa, namun juga wujud syiar dan kepedulian terhadap pelestarian seni tradisional Islam,” terangnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih dan selamat kepada panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara ini. “IPB sangat mendukung minat dan bakat mahasiswanya. Alangkah senangnya, apabila minat dan bakat dibidang seni yang membawa kehalusan budi dapat meningkatkan daya ingat untuk selalu mensyukuri nikmat” tegas Rimawan.

Ketua KMNU IPB M Aldy K Khuluq menambahkan, festival dibuka secara simbolik oleh  Nunung Munawaroh, SAg selaku pembina KMNU IPB. Imengatakan bahwa geliat NU di IPB mulai terasa dari 5-6 tahun yang lalu, berkat Ahmad Fahir dan kawan-kawan yang rindu akan tradisi, KMNU mulai bercokol di IPB sampai saat ini. “Dulu, lebih dari 200 mahasiswa IPB tergabung dalam KMNU IPB”, tambahnya. 

Alhamdulillah, berkat KMNU, shalawat bisa bergema di kampus IPB,” kata Aldy K Khuluq.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Rebana Choirul Anam mengatakan, Festival Rebana dimenangkanoleh tim An-Nur sebagai juara 1. Trofi, sertifikat dan hadiah berupa uang senilai Rp. 2.000.000,00 diserahkan oleh perwakilan dari Robithoh Al-Alawiyah Indonesia. Juara 2 diraih oleh tim Nurul Iman. Trofi, sertifikat serta hadiah berupa uang senilai Rp. 1.500.000,00 diserahkan oleh Direktur Kemahasiswaan IPB. 

Sedangkan juara 3 diraih oleh Al-Khidmah IPB. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 1.000.000,00 diserahkan oleh pembina KMNU yaitu Dr. Ir. Aji Hermawan, MM. Juara favorit diraih oleh tim En-Ha. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 750.000,00 diserahkan oleh ketua KMNU yakni Aldy Khusnul Khuluq. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Fahir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Kamis, 24 Juni 2010

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar

Jombang, Haedar Nashir. Ratusan santri dan mahasiswa di Jombang mengaku tertarik untuk menjajaki dan mengembangkan gagasan industri kreatif. Antusiasme itu tampak dalam dialog bersama Ketua Pokja Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Irfan Wahid, yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (19/3) sore.

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar

?

Ahmad Dika Maulana (17), misalnya, menceritakan pengalaman mengembangkan komunitas fotografer santri di lingkungan Pesantren Tebuireng. "Saya dan teman-teman juga bekerja sama dengan santri dari pesantren lain di Jombang," ujarnya.

?

Kepada Irfan Wahid, siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Syafiiyah (MASS) Tebuireng itu meminta saran dan masukan untuk pengembangan komunitas fotografer yang dipimpinnya. Dia berharap, komunitas tersebut dapat berkembang lebih lanjut menjadi fotografer profesional.

Haedar Nashir

?

Lain lagi dengan Azmil (21), mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Tebuireng itu berniat mengembangkan usaha yang dibutuhkan mahasiswa. Tapi, ia bingung harus membuka usaha apa. "Kira-kira usaha apa yang pas untuk mahasiswa?" Tanya dia.

?

Pertanyaan lain dilontarkan oleh Zulfia Ulfa (19). Dia punya ide mengembangkan usaha kuliner pisang cokelat. Tapi, dia bingung produk tersebut harus diberi nama apa.?

Haedar Nashir

?

"Saya ingin produk saya nanti menembus pasar ekspor. Tapi takut nama yang saya pilih nanti sulit diucapkan konsumen di luar negeri," ungkapnya dengan percaya diri.

?

Gus Ipang, sapaan akrab Irfan Wahid, kemudian membagikan tips berwirausaha kepada para santri. "Kuncinya, niat bisa dan pilih sesuatu yang berbeda, yang unik dan membuat orang memilih produk kita," katanya. Yang juga tidak kalah penting adalah membuka wawasan serta harus tekun dan jangan menyerah, lanjut pria yang dikenal luas sebagai konsultan branding ini.

?

Pada kesempatan tersebut, Gus Ipang juga mengkritik kaum muda yang senang mencari jalan pintas dan cenderung malas belajar. "Banyak orang menyerah sebelum melalukan. Ciri khas anak sekarang, mau enaknya doang. Maunya, sedikit-sedikit minta shortcut (menu pintas)," kritiknya.

Di era teknologi informasi, pemanfaatan aplikasi online untuk memasarkan sebuah produk, tidak bisa dihindarkan. Dengan sentuhan kreativitas, produk yang sama bisa berbeda nilai jualnya. "Dengan bantuan aplikasi, produk kuliner, jasa laundry, hingga jasa mengajar privat pun dapat lebih menarik pelanggan," saran putra sulung KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) ini.

?

Irfan juga mengapresiasi komunitas fotografer santri yang sudah menjalin kerja sama dengan komunitas lain. "Semakin besar komunitas, akan membuat Anda lebih dikenal dan tahu potensi diri," sarannya.





Peluang terbuka lebar

Anggota KEIN ini menuturkan, pihaknya ingin mendorong kalangan santri agar menjadi wirausahawan dan memasuki sektor industri kreatif. Pasalnya, sektor ini semakin banyak menyerap tenaga kerja dan menjadi tren perekonomian global.

?

"Dari tiga subsektor saja (kuliner, fashion, dan kriya), industri kreatif telah mampu menyerap 14,9 juta tenaga kerja pada 2015. Angka ini terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

?

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Irfan mengatakan, pertumbuhan industri kreatif masih sangat menjanjikan. Di bidang animasi, misalnya, saat ini baru terpenuhi sekitar seratus animator. Padahal, kebutuhannya lebih dari 1.000 animator per tahun. "Pada 2015, nilai ekspor kuliner, fashion dan kriya mencapai 19,3 juta dolar," ungkapnya.

?

"Keinginan Presiden Jokowi agar pesantren dapat menjadi penopang ekonomi nasional begitu tinggi. Sebagai Ketua Pokja Industri Kreatif, saya mencoba mendorong hal itu melalui sektor industri kreatif dan wirausaha santri," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir