Minggu, 25 Desember 2011

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Tangsel, Haedar Nashir - Kitab-kitab ulama Nusantara yang berbahasa Jawi, Sunda, ataupun Jawa kurang begitu mendapatkan tempat dan tidak banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia. Padahal, kitab-kitab seperti Majmuk karangan Syekh Soleh Darat dan Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustafa adalah dua di antara karya penting ulama Nusantara yang ditulis menggunakan aksara Pegon.

Hal itu disampaikan Syafiq Hasyim saat menjadi narasumber dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara karya A Ginanjar Sya’ban di Aula Madya UIN Jakarta Ciputat Tangerang Selatan, Rabu (24/5).

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Syafiq yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyesalkan hal tersebut bisa terjadi di Indonesia. Padahal, di Thailand Selatan karya-karya ulama Nusantara yang beraksara Jawi diajarkan dan dikaji di pondok-pondok. Bahkan, di dunia akademisi Indonesia, karya-karya beraksara Jawi tersebut kurang begitu mendapatkan perhatian.

“Di Thailand Selatan, kitab-kitab yang beraksara Jawi masih dibaca di pesantren-pesantren,” jelas Syafiq.

Haedar Nashir

“Ini mengorbankan mahakarya kita sendiri,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Jika di Indonesia, imbuh Syafiq, biasanya yang membaca karya-karya tersebut adalah kiai-kiai yang ada di desa dan para orientalis. “Kiai-kiai di desa membacanya untuk orang-orang awam. Dan orientalis sebagai bahan penelitian,” urainya.

Dosen yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCINU Jerman itu menduga, alasan kitab beraksara Jawi tidak diajarkan di pesantren-pesantren adalah agar santri bisa mempraktikkan ilmu-ilmu alat yang dipelajarinya seperti nahwu, sharaf, dan lainnya.

“Mungkin alasannya agar santri bisa membaca kitab kuning gundul dengan mempraktikkan ilmu nahwu, sharaf,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Jakarta, Haedar Nashir. Pemimpin Agung Iran yang disebut wilayatul fakih yang memiliki otoritas tertinggi agama dan politik di Iran dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdi.?

Pemimpin Agung ini memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada presiden karena berhak menunjuk kepala militer, pemerintah sipil dan yudikatif. Sebelumnya yang berhak menduduki jabatan wali fakih hanya marja-e taqlid, peringkat tertinggi ulama dan otoritas pada hukum agama dalam ushul Islam Syiah. Pada 1989 konstitusi merubah ketentuan tersebut dan hanya mensyaratkan "cendekiawan" Islam.

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Hafidz Alkaf dari Islamic Cultural Center (ICC), pusat kebudayaan Iran di Jakarta yang ditemui Haedar Nashir menjelaskan kalau berbicara syiah sebagai mazhab, tidak ada mekanisme memilih pemimpin. Ulama muncul karena kealimannya dan kemudian diterima oleh ulama yang lain yang kemudian diterima publik secara luas.

Haedar Nashir

Tetapi jika merujuk pada Iran sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh seorang ulama dengan gelar wali fakih, mekanismenya ada dua. Pertama diterima masyarakat tanpa melalui prosedural. Masyarakat mendukung, para ulama mendukung, tiba-tiba muncul sebagai ulama nomor satu. Memang tidak sembarangan karena ia ulama besar seperti Imam Khomeini.?

Haedar Nashir

Mekanisme kedua adalah ahlul halli wal aqdi sebagaimana yang berlaku saat ini dalam pemilihan Ayatullah Ali Khamenei. Pemimpin Agung tersebut dipilih oleh Majles-e Khobregan atau Dewan Ahli yang terdiri dari sekitar 70-80 ulama kaliber mujtahid yang terdiri dari golongan sunni maupun syiah.?

“Dan setelah dipilih tidak ada masa jabatan tertentu. Selagi orang ini layak, maka terus pemimpin. Setiap tiga bulan sekali, mereka mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja wali fakih, apakah masih layak apa tidak,” katanya.

Selama dua puluh lima tahun kepemimpinan Ali Khamenei, sidang selalu menghasilkan keputusan ia masih layak memimpin. Dari fisiknya, kesehatannya, ataupun dari sisi bahwa dia berada di jalan yang benar, tidak keluar dari jalur revolusi Islam. Sampai saat ini ia masih tetap zuhud dan wara’.?

“Ketika syarat-syarat itu sudah tidak ada, maka dipilih orang baru,” tandasnya.?

Lalu bagaimana mekanisme pemilihan Dewan Ahli? Hafidz Alkaf menjelaskan mereka dipilih melalui mekanisme pemilu yang dibagi per daerah pemilihan (dapil). Ulama-ulama dalam satu dapil yang memenuhi syarat diizinkan mencalonkan diri, lalu masyarakat nantinya akan memilih. Mereka yang terpilih akan menduduki jabatannya selama delapan tahun.?

Ia menjelaskan, mekanisme pertama seperti kemunculan Ayatullah Khomeini baik karena muncul dari akar rumput sehingga dukungan ke atas lebih kuat.?

“Cuma, masalahnya dari akar rumput kadang kita tidak tahu ada permainan apa tidak, lebih banyak menyita waktu dan dana. Juga cenderung rawan konflik,” tandasnya.?

Sementara itu kalau melalui mekanisme ahlul halli, kemungkinan terjadinya konflik bisa ditekan, dana bisa di tekan, energi bisa ditekan karena yang terkuras pikirannya hanya orang-orang tertentu saja.?

“Dampak buruknya, apakah orang-orang ahlul halli ini bisa dipertanggungjawabkan apa tidak. Kedua, sangat mungkin terjadi politik uang, karena orang yang berkepentingan, dia hanya perlu bernegosiasi dengan orang yang terbatas. Kalau akar rumput kan sulit.”

Ia menambahkan kemungkinan buruk lainnya, pilihan ahlul halli ternyata tidak disetujui akar rumput ada potensi terjadinya penentangan dari akar rumput terbuka.?

“Dua-duanya ada sisi baik dan buruknya,” katanya.?

Sementara itu, kalau berbicara organisasi keagamaan dalam lingkungan syiah, banyak organisasi seperti NU, misalnya ada Jamiatul Mudarisin yang terdiri dari para guru-guru pesantren. Mereka punya persatuan kerena anggotanya para ulama, akhirnya punya kekuatan di kalangan masyarakat sehingga pandangan politik mereka juga dipertimbangkan.?

“Masyarakat Iran kan relatif religius sehingga apa yang dikatakan ulama diikuti, apalagi ini bukan satu ulama. Satu kelompok besar ulama.”

Mekanisme kepemimpinan mereka dipilih oleh para anggota sendiri. “Mirip dengan yang dilakukan oleh NU sekarang, dari perwakilan wilayah dan cabang datang untuk memilih orang yang dianggap layak memilih pemimpin,” imbuhnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Jumat, 16 Desember 2011

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

“Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum,” kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Agenda-agenda tersebut antara lain “Gerakan Pesantren Hijau” dan “Pengobatan Gratis” yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Haedar Nashir

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk “Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme”. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Budaya Haedar Nashir