Sabtu, 07 Februari 2015

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Puasa dan amalan sunah di bulan suci Ramadhan jangan dijadikan ritualitas biasa saja. Tapi hendaknya dijadikan momentum bagi setiap muslim, untuk mengintropeksi dan evaluasi diri dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut Sari Hernawati, mengintropeksi diri tentunya dengan menyadarkan diri sebagai hamba Allah yang telah menempuh kehidupan selama sebelas bulan dengan berbagai aktivitas duniawi. “Namun, apakah aktivitas duniawi itu sudah mengantarkan kita kepada keridhoan Illahi ataukah sekadar memenuhi hawa napsu manusiawi belaka?” kata doktor dari UNNES Semarang ini Rabu (16/6) ketika ditemui Haedar Nashir.

Ramadhan  Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Sarana Intropeksi dan Evaluasi Diri

Secara kodrati, manusia merupakan mahluk yang paling sempurna karena diberi kelebihan akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Konteks nafsu di sini, ibarat komponen dalam mobil adalah gas yang mampu mendorong kita dalam melakukan berbagai macam kegiatan muamalah maupun ubudiyah. Sedangkan akal, ibarat rem yang mengendalikan mobil. “Jika mobil dalam bahaya, maka akal akan mengendalikan napsu kita,” tutur istri dari Ali Ansori Khamaluddin.

Haedar Nashir

Mengevaluasi diri dalam bulan Ramadhan, lanjutnya, berarti memaknai apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan dibulan ramdhan ini hanyalah sekadar melakukan ritual belaka, tanpa mengambil hikmahnya.

Jangan sampai berpuasa, sekadar hanya mengganti jam makan, ditambah shalat tarawih dan witir yang hanya dianggap sebagai gerakan dimulai takbiratul ihram sampai dengan salam. Hal ini sudah diperingatkan dalam hadits Nabi Muhamad saw, “Betapa banyak mereka berpuasa tanpa memperoleh apapun dari ibadah puasanya kecuali sebuah proses menahan lapar dan dahaga.” (HR. Bukhari). ?

Haedar Nashir

Bulan Ramadhan, kata Sari, selayaknya menjadi bulan untuk menggantikan bulan-bulan yang sebelumnya yang sudah kita lewati dengan pahala-pahala yang berlebih. Kita harus sadar, bahwa Allah SWT memberikan umur manusia yang sangat terbatas dalam ukuran Nabi hanya 63 tahun. Lalu berapa tahun kita maksimalkan untuk ibadah kepada Allah dan berbuat kebaikan terhadap sesama manusia.

Sedangkan di alam barzah, kita akan lebih lama berada disana untuk menunggu perhitungan amalan-amalan kita. Maka saatnya kita manfaatkan bulan ramadhan untuk menambah umur kita dalam beribadah, karena pahalanya dilipatgandakan. “Betapa bahagianya, bila seorang pegawai diberi tambahan gaji ketiga belas dan THR serta uang bonus lainya,” terang ibu dari Uzma Syarifatul Muna Salsabila dan AH Minerva Akram Ansori.

Maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan bulan Ramadhan, sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bahwa Rasuwlullah Shalallahul Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah datang bulan ramdhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid).

“Di bulan mulia ini, mari kita bergembira dan memafaatkan bulan ramadhan ini sebagai sarana untuk intropeksi dan mengevaluasi diri dalam meningkatkan amal ibada kita,” pungkasnya. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Makam Haedar Nashir