Selasa, 27 September 2005

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan

Jakarta, Haedar Nashir. Salah satu agenda dari global peace festival yang sudah berjalan adalah power of rupiah, sebuah kampanye untuk menumbuhkembangkan semangat memberi, ikhlas menolong sesama dan kepedulian dalam diri anak-anak dan kaum muda Indonesia.

Dalam program ini, panitia menyediakan sebuah kotak yang setiap harinya diharapkan dapat diisi oleh sebuah koin yang nantinya akan menjadi tiket masuk pada puncak acara global peace festival di gelora Bung Karno, Ahad 17 Oktober mendatang.

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Power of Rupiah, Berdayakan Anak untuk Bantu Kemiskinan

Ketua Panitia Global Peace Festival Slamet Effendy Yusuf menargetkan mampu mengumpulkna sekitar 50 ribu pelajar dan mahasiswa dalam pengumpulan koin power of rupiah ini.

Haedar Nashir

“Power of Rupiah tidak bermaksud mengumpulkan uang milyaran rupiah, tetapi lebih kepada memberdayakan jutaan anak,” katanya.

Ditambahkannya, program Power of Rupiah mempromosikan budaya melayani dan makna hidup ini berarti untuk orang lain, khususnya membantu menolong anak Indonesia yang kurang beruntung.

Haedar Nashir

“Power of Rupiah” menyatukan upaya bersama secara berkelanjutan melalui sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruang tinggi.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat 32 juta anak Indonesia hdiup dalam keluarga sangat miskin, 13 juta diantaranya menderita kekurangan gizi serta lebih dari 300 ribu merupakan anak jalanan.

“Banyak sekali orang yang tidak mampu menaikkan kelas sosial mereka dari lower class ke kelas yang lebih atas karena mereka tidak mampu mendidik anaknya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Minggu, 11 September 2005

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Sirajd menyampaikan dua hal yang penting dalam sambutannya pada puncak acara hari lahir (Harlah) ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang berlangsung di Masjid An-Nahdlah PBNU, Sabtu (11/3).

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Paparkan 2 Hal Penting di Puncak Harlah IPPNU

Ia berpesan agar IPPNU terus mengawal, mengembangkan dan menjaga islam Ahlussunnah wal Jamaah, seperti prinsip moderat dan toleran, dan cita-citanya memperkuat persaudaraan sesama umat islam, persaudaraan sebangsa setanah air dan persaudaran persamaan sesama umat manusia.

Menurut Tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia versi The Muslim 500 itu menyampaikan, yang pertama, IPPNU tidak boleh ragu dengan prinsip moderat dan toleran.

“Jika ini di perjuangkan untuk komitmen dan istiqomah, merupakan modal yang sangat besar bagi pergerakan IPPNU, jangan pernah bergeser dari prinsip moderat dan toleran dan dari cita-cita ukhuwah Islamiyah, wathoniyah dan insaniyah,” ujar Kiai Said.

Haedar Nashir

Kedua, amal prinsip santri, menurut Kang Said sapaan akrab KH Said Aqil Siroj mengutarakan, santri itu tidak harus alumni pesantren, alumni SD, SMP, SMA juga santri asalkan hormat pada kiai, meskipun tidak pernah pesantren, walaupun belajarnya tidak pernah di pesantren asalkan hormat kepada kiai, samian wathoatan, itu jiwa santri namanya.

“Nah mengapa kita harus hormat kepada para kiai dan ulama NU? Karena kita yakin Ashabul haq yang memegang otoritas kebenaran dalam agama adalah para Ulama, selain itu kita ragu, benar apa tidak cara pemahaman agamanya, cara beragamanya, cara berpikirnya, orientasi agamanya benar apa tidak,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Oleh karena itu, imbuhnya, hormat dan taatlah pada para kiyai, ulama pesantren, dan ulama NU yang kita yakini mereka Ashabul haq, Ashabus sirotil haq, Ashabu kalimatil haq, Ashabu syauthil haq, Ashabut thoriqotil haq yang ucapannya benar, sikapnya benar dan cara berpikirnya benar, pemilik kebenaran dalam memahami agama.

Terakhir ia berpesan kepada seluruh kader IPPNU untuk selalu menghormati kiai sampai kapanpun, hingga yaumil qiyamah, yang sanadnya benar dan jelas, seperti KH Hasyim Asy’ari yang sanadnya jelas hingga Imam Syafi’i, Imam Syafi’i Abu Abdillah-Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i bin Musayyaf bin Ubeid bin Abu Yazid bin Abu Muthollib hingga Rasulullah SAW. (Anty/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Kamis, 06 Januari 2005

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Jember, Haedar Nashir



Mesristek Dikti RI, Muhammad Nasir memompa semangat para santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember agar terus belajar dengan rajin. 

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesa-pesan Mesristek Dikti untuk Para Santri

Sebab, dengan belajar yang rajin, kelak akan menjadi orang yang bermanfaat. Bermanfaat yang sebesar-besarnya untuk umat dan kemanusiaan adalah capaian yang paling mulia dan besar. 

"Jadi, intinya adalah bermanfaat dalam posisi apa pun dan di tempat mana pun," ucapnya di hadapan ribuan santri di Masjid Baitunnur, Kompleks Nuris, Rabu (27/9) malam.

Menurut Nasir, soal pekerjaan adalah soal nomor sekian. Namun yang pasti, belajar yang rajin adalah suatu keharusan, bukan hanya karena menginginkan satu pekerjaan, tapi juga karena belajar adalah kewajiban bagi umat Islam. 

Haedar Nashir

"Saya dulu tak pernah membayangkan akan jadi menteri, tapi karena saya belajar, akhirnya saya ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk jadi menteri," ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur bisa berada di tengah-tengah santri. Dikatakannya bahwa dunia santri bagi diirinya tak asing lagi. Bahkan pertemuannya dengan santri Nuris tersebut, diakuinya telah mengingatkan memorinya sekitar 40 tahun yang lalu saat dirinya menimba ilmu di sebuah pesantren. 

"Saya dulu juga santri seperti kalian," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga mengetes ingatan para santri tentang bait-bait kitab Alfiyah. Ia lalu bertanya bunyi awal dan akhir bait kitab Alfiyah. Namun semua santri pada terdiam. Hingga Nasirlah yang yang melafalkan beberapa bait di awal kitab Alfiyah. 

Haedar Nashir

"Waktu saya nyantri, saya disuruh menghafalkan kitab Imrithy dan Alfiyah," jelasnya. (aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Tokoh, Daerah Haedar Nashir