Rabu, 13 September 2017

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah

Pringsewu, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Al Muawanah Fajaresuk, Pringsewu KH Tamrin Mahera pada Ngaji Ahad (Jihad) pagi (30/8) mengupas kandungan makna yang termaktub dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 30. Yaitu dialog antara malaikat dengan Allah SWT tentang manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Protes Malaikat Ketika Manusia Didaulat sebagai Khalifah

Kiai Tamrin menerangkan bahwa pada mulanya para malaikat tidak setuju jika manusia didaulat sebagai khalifah di bumi karena akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

Hal ini berbeda jauh dengan para malaikat yang senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Allah SWT. Protes malaikat ini dijawab dengan firmanNya, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Haedar Nashir

Mendengar hal itu, para malaikat pun merasa bersalah dan kemudian mengelilingi Arsy sebanyak tujuh kali sebagai upaya untuk menebus kesalahannya sembari mengucapkan tasbih mengagungkan Allah SWT.

dari penjelasan itu, menurut Kiai Tamrin, manusia seharusnya mencontoh para malaikat yang ketika berbuat kesalahan segera menebus kesalahannya dengan berbuat sesuatu. "Semakin takut kepada Allah semakin bagus. Ketakutan harus ditunjukkan dengan perilaku, tidak berdiam diri saja," ujarnya.

Haedar Nashir

Sikap seperti ini harus dilakukan siapapun dan dimanapun. "Mari Beristighfar sebagai upaya untuk menunjukkan rasa bersalah kita sekaligus mengharap apa yang sudah kita lakukan akan diampuni oleh Allah," ajaknya.

Nampak hadir pada Kegiatan Jihad Pagi tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi yang menjadi moderator, Wakil Ketua PWNU Lampung H. Heri Iswahyudi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua PHBI Kabupaten Pringsewu H. Suyadi dan Ketua LBM NU Provinsi Lampung Ustadz Munawir. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Kajian Haedar Nashir