Rabu, 12 Januari 2011

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

Islamabad, Haedar Nashir. Dalam seminar internasional tentang The Role of Islamic Boarding School and Madrasah in Establishing Islamic Environment to a Nation, Jumat (6/5) yang digelar di International Islamic University (IIU) Islamabad, Rektor IIU, Prof Dr Masoom Yasinzai mengatakan, Indonesia memiliki contoh di mana lembaga pendidikan Pesantren (di Pakistan: Madrasah) telah lama mengintegralkan kurikulum pendidikannya antara ilmu-ilmu agama dengan social sciences, selain juga dengan keterampilan hidup bermasyarakat bahkan entrepreneurship.?

“Madrasah yang berkembang di Pakistan masih terlalu tradisional dan hanya terfokus pada pengkajian ilmu-ilmu syariat (baca; agama),” sambung sang Rektor. Lebih lanjut Rektor menjelaskan bahwa selama ini masih banyak umat Islam yang baru memahami Islam sebatas aturan beribadah dan tidak sebagai faktor pendorong kemajuan peradaban, sehingga Madrasah atau sebagian Universitas Islam hanya menekuni bidang ilmu-ilmu terkait ibadah dan tidak menjamah bidang muamalat.?

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

“Padahal kandungan al-Qur’an hanya memuat 10 persen aspek ibadah dan 80 persennya adalah muamalat,” kritik sang Rektor. Kondisi seperti ini merefleksikan potret umat Islam yang cukup tertinggal dari sisi peradaban saat ini karena menurutnya telah terjadi penggerusan pengamalan beragama umat Islam dari konsep ideal Islam yang dikandungnya. ?

Rektor berharap melalui sharing penerapan tentang sistem pendidikan Pesantren atau Madrasah, masyarakat Pakistan dapat menggali lebih banyak dari pengalaman Indonesia. Kalangan akademisi dan Pemerintah Indonesia diharapkan untuk lebih proaktif mempromosikan sistem pendidikan di Pesantren Indonesia kepada masyarakat Pakistan sehingga bisa menginspirasi hadirnya kurikulum yang integratif dan sesuai dengan misi diturunkannya al-Qur’an sebagai kitab yang mendorong kemajuan di segala bidang.

Haedar Nashir

Hal senada juga disampaikan oleh Dubes RI untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, dengan menyetir sejarah awal berdirinya Pesantren Indonesia yang awalnya masih belum dimasukkan ke dalam Sistem Pendidikan Nasional. Dubes RI menyampaikan bahwa seiring dengan perkembangan waktu, Pemerintah Indonesia telah mengakui Pesantren, karena dengan kesadarannya Pesantren telah melakukan evolusi kurikulum dari semata mengajarkan ilmu-ilmu agama juga mengembangkan ilmu-ilmu umum.?

Selain itu menurutnya juga peran yang dimainkan oleh Pondok Pesantren dalam membangun karakter bangsa sangatlah besar. Dubes RI juga menyambut baik tawaran Rektor IIUI untuk lebih mempromosikan sistem Pesantren Indonesia di Pakistan, menggali potensi kerjasama antar Madrasah, selain juga akan terus mengupayakan jalinan kerjasama pendidikan antara Perguruan-Perguruan Tinggi di kedua negara.?

“Peran lembaga pendidikan termasuk pesantren/madrasah dalam memperkuat pilar kesatuan dengan memahami perbedaan sebagai suatu hal yang alamiah diperoleh melalui pendekatan-pendekatan yang inklusif,” tambah Dubes Iwan.?

Lebih jauh pakar pendidikan IIUI, Prof Dr Zafar Iqbal Chaudhary yang didaulat sebagai pembicara, membahas peran Pesantren di Indonesia dalam proses national building. “Pendidikan Pesantren Indonesia adalah model terbaik untuk ditiru karena telah memberikan kontribusi banyak bagi kemajuan negara di segala bidang,” tegasnya. Menurut Zafar, di Pakistan terdapat sekitar 20.000 madrasah/pesantren, namun belum seluruhnya meliliki standar yang memadai seperti yang ada pada Pesantren di Indonesia.?

“Berkembangnya paham Islam moderat dan menghargai local wisdom juga muncul dari pendidikan hasil Pesantren di Indonesia,” tambah Zafar. “Harus diakui bahwa dunia Islam harus banyak menimba pengalaman dari perkembangan positif ini,” kata Za’far menutup paparannya.?

Haedar Nashir

?

Seminar internasional ini berlangsung lancar dihadiri oleh para dosen IIUI, pejabat dan staf KBRI Islamabad, mahasiswa asing baik dari berbagai negara seperti China, Afrika, Negara-negara Arab, Pakistan, Afghanistan, Thailand, Maladewa, Tajikistan dan lain-lain. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo yang belajar di IIUI dengan Fakultas Social Science serta Fakultas Pendidikan Jarak Jauh IIU.?

Menurut Firman dan Ikmal, acara yang digelar dalam rangka peringatan Harlah ke-90 Pondok Modern Gontor ini, mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Salah seorang mahasiswa asal China mengaku kagum dengan perkembangan Islam di Indonesia yang tersebar melalui lembaga pondok Pesantren. Lain lagi dengan Quli Baliy, mahasiswa asal Afrika ? yang terlihat aktif menyimak jalannya seminar mengungkapkan keinginannya untuk melihat langsung sistem pembelajaran di Pesantren Indonesia yang baru saja ia ketahui.?

Para mahasiswa Indonesia yang hadir pun berharap kepada kalangan akademisi maupun pemerintah untuk dapat meneruskan hasil seminar dengan agenda yang lebih nyata semisal pengupayaan saling kunjung, saling sharing atau studi banding antara pimpinan-pimpinan Pesantren/Madrasah dari kedua negara. Mengingat Indonesia dan Pakistan dengan total populasi sebesar 440 juta jiwa dan mayoritasnya adalah muslim, diyakini dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Islam di tengah merebaknya berbagai isu negatif yang dialamatkan kepada umat Islam seperti radikalisme, terorisme dan anti modernitas yaitu diantaranya dengan cara mengaktifkan interaksi ? antar tokoh-tokoh Islam yang berada di Pesantren atau Madrasah. (Muladi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 06 Januari 2011

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

Haedar Nashir

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

Haedar Nashir

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 01 Januari 2011

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

Jember, Haedar Nashir

Wakil Sekretaris PCNU Jember Mochammad Eksan menyambut baik “imbauan” Mendikbud RI Anis Baswedan agar para orang tua sebisa mungkin dapat mengantarkan anaknya pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru mendatang.

Menurutnya, imbauan tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan dan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Saat ini, katanya, muncul kesan seolah-olah pendidikan hanya tugas dan tanggung jawab guru. Sedangkan orang hanya bersifat membantu.

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

“Anggapan? itu keliru. Yang benar adalah orang tua mempunyai tangung jawab atas pendidikan anaknya. Sedangkan sekolah hanya membantu,” ujarnya kepada Haedar Nashir menyikapi Surat Edaran Mendikbud RI tersebut di Jember, Sabtu (16/7).

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Nuris 2 Jember itu menambahkan, orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah akan memberikan kesan yang lain terhadap si anak. Sang anak? merasa diperhatikan, dan? itu akan mempengaruhi psikologinya dalam menjalani proses pendidikan. Kondisi tersebut tentu sangat beda jika sang anak hanya di antarkan oleh pembantu atau saudaranya. “Dari kondisi itu semangat belajar anak bisa? terbangun lebih meningkat,” jelasnya.

Dalam pandangannya, dewasa ini budaya dan dunia pergaulan yang begitu terbuka mempunyai risiko tersendiri bagi perkembangan psikologi dan pembentukan karakter anak. Karenanya, hal tersebut membutuhkan campur tangan? dan pengawasan langsung yang lebih intensif dari orang tua. Sebab jika tidak, bukan mustahil karakter anak akan terbangun jauh dari yang diharapkan. “Jadi saya menangkap semangat dari SE Menteri itu adalah agar orang tua bisa berperan lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya. Tidak sekadar mengantar. Lalu selesai,” turutnya.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Suroto Bawani. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya membiayai pendidikan dan memberikan uang belanja kepada anaknya. Namun yang juga penting adalah memberikan perhatian sekaligus melakukan pengawasan terhadap anaknya.

“Tugas orang tua sangat berat. Bukan hanya dari sisi keuangan, tapi juga bagaimana menjadikan anak itu cakap sekaligus berakhlak mulia. Sebab, anak adalah amanah dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Sejarah, Hadits Haedar Nashir