Selasa, 26 Januari 2010

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

Banjar, Haedar Nashir - Ratusan siswa dan alumni Madrasah Aliyah Al-Azhar Kota Banjar menggelar perpisahan kelas dan Isra Miraj. Pada kesempatan ini mereka merampungkan Al-Quran sebanyak 30 kali khatam sejak pagi sekitar pukul 5.30-9.00 WIB di ruang kelas serta halaman sekolah, Rabu (11/5).

Menurut Ketua Panitia Irfan Saeful Rohman, sebanyak 142 siswa yang telah dinyatakan lulus perlu mendapatkan dorongan motivasi dari guru, orang tua, serta lingkungan menuju jenjang selanjutnya.

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan Kelas, Sekolah Ini Khatamkan 30 Kali Al-Quran

"Usaha kita upayakan para siswa melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Doa pun kita panjatkan melalui khataman ini agar mereka dipermudah jalannya oleh Allah," terangnya kepada Haedar Nashir.

Irfan berharap melalui kegiatan ini siswa senantiasa cinta terhadap agama dan NKRI. Pasalnya, siswa yang telah lulus juga perlu mendapatkan arahan agar tidak terjebak paham yang tidak jelas arahnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Semua alumni selalu kita kumpulkan dalam momentum tertentu. Intinya agar kita tahu perjalanan para alumni sekolah ini," pungkasnya.

Kepala sekolah Al-Azhar Drs KH Muin Abdurrohim menegaskan, siswa yang telah lulus diimbau untuk memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

"Saya berpesan semua alumni MA Al-Azhar senantiasa dekat dengan pesantren, dekat kiai serta wajib menjaga keutuhan NKRI dari segala paham transnasional yang bertentangan dengan Pancasila," tegasnya.

Dari informasi yang dihimpun Haedar Nashir, sebanyak 31 siswa telah diterima di perguruan tinggi yang ada di Indonesia melalui jalur program SNMPTN. (Muhafid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Rabu, 20 Januari 2010

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Haedar Nashir. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Haedar Nashir

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Senin, 11 Januari 2010

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa.

Karenanya, kesempatan beribadah tidak hanya diberikan kepada jama’ah haji. Siapapun mendapat kesempatan beramal meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah

Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Artinya, “Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).

Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan. Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits di atas sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah. Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut. Ibnu Majah memberi judul bab hadis di atas dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”.

Dalam kajian hadits, pemberian judul bab sekaligus menunjukan pemahaman seorang rawi terhadap hadis yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa. Karenanya, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh.”

Kendati disebutkan puasa sepuluh hari dalam hadits di atas, ini bukan berati pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan ‘Idul Adha. Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Yang dimaksud sepuluh hari di sini ialah sembilan hari, terhitung dari tanggal satu Dzulhijjah.”

Berdasarkan pendapat An-Nawawi ini, siapapun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa sembilan hari di awal bulan. Dalam hadits lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul SAW, “Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada sepuluh hari tersebut?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid),” (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala beramal di sepuluh hari Dzulhijjah dan mati syahid. Karena konteks negara kita bukan perperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Kamis, 31 Desember 2009

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pendidikan, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Desember 2009

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Bondowoso, Haedar Nashir. Dalam rangka menyemarakkan datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jambesari Darus Sholah menggelar lomba mewarnai lambang NU untuk siswa taman kanak-kanak atau raudlatul athfal (TK/RA) sekecamatan setempat.

Perlombaan tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Jambe Anom, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (27/9).

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Ketua MWCNU Kecamatan Jambesari Darus Sholah Abdul Mufid menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mendidik generasi Islam sejak dini agar mengenal tahun baru Islam yang biasa dikenal dengan kalender hijriah.

"Kegiatan ini juga untuk mengenalkan sejak dini kepada anak-anak kepada NU," tambahnya.

Haedar Nashir

Melalui peringatan hari besar ini, anak-anak diharapkan bisa mengenang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi beberapa ratus tahun silam sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad, yang terjadi pada 10 Muharram.

Selain lomba, MWCNU Jambersari Darus Sholah juga menggelar agenda tahunan santunan anak yatim. Satunan kepada kaum duafa ini dilaksanakan MWCNU setempat tiap 10 Muharram tiba.

"Malam Sabtu nantinya akan di gelar istighotsah dan santunan anak yatim sebanyak 100 anak yatim serta pelantikan pengurus ranting MWCNU dan insyaallah Bapak Bupati Bondowoso hadir," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir

Minggu, 13 Desember 2009

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Oleh Gatot Arifianto

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta. Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas).

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak.

Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad.

Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: "Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah." (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, jihad tersebut terlewatkan hanya karena satu orang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama akibat pernyataan QS Al Maidah 51. Sehingga, calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu "dikeroyok" ramai-ramai, dengan alasan jihad oleh sejumlah umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah, Padang, Sumatera Selatan, Lampung dan beberapa kota lain, Jumat 4 November 2016.

Haedar Nashir

Berapa kilometer meski ditempuh untuk jihad tersebut? Berapa ongkos dihabiskan untuk mencapai Jakarta (demo, red) dari luar daerah? Tentu tidak sedikit, selain untuk transportasi, tentu juga untuk konsumsi selama di perjalanan. Tapi "semangat" barangkali tidak memperhitungkan sisi tersebut. Barangkali yang lain, saudara-saudara kita yang secara undang-undang tidak terlarang untuk menyatakan pendapat memang berekonomi mapan, sehingga biaya tidak menjadi soal. Jika demikian, tentunya hal sangat menggembirakan.?

Di era Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia telantar. Korban perdagangan manusia 5.900 anak, bermasalah dengan hukum 3.600 anak, balita telantar 1,2 juta, lalu 34.000 anak jalanan yang dirawat di pondok pesantren, panti asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA). Semuanya memerlukan perhatian.

Haedar Nashir

Saat ini pemerintah baru mampu memberikan bantuan langsung untuk menunjang pengasuhan anak yatim dan telantar sebesar Rp1 juta per tahun per anak. Jumlah penerima manfaat pada 25 Maret 2016 tercatat sekitar 5.000 anak. Capaian tersebut perlu diapresiasi kendati masih jauh dari data yang ada. Negara dengan beragam permasalahan ini tentunya akan kesulitan menyelesaikan permasalahan tersebut secara tunggal. Gotong royong sebagai budaya bangsa Indonesia salah satu solusi.

Selain itu, Al-Quran menyebut 23 kali mengenai "yatim" dan penggunaan kata-kata tersebut merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS An-Nisa: 36).

QS Al-Baqarah 2:177 juga menyatakan: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim".?

Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut terhadap terhadap pengingkar perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan juga bersabda: "Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (HR Tirmidzi).

Jika jihad bertujuan untuk masuk surga, jutaan jalan jihad, anak anak yatim itu, semestinya tidak terlewatkan oleh seorang Ahok yang sudah meminta maaf. Ada Rp2,5 miliar dalam hitungan untuk keperluan konsumsi sederhana selama sehari di Jakarta, Rp50 ribu kali 50 ribu pendemo. Belum lagi biaya transportasi, baik ngeteng (naik kendaraan umum) oleh ratusan pendemo atau sewa ratusan kendaran untuk mencapai Jakarta demi demontrasi yang mustahil tanpa makian dan meninggalkan sampah.

Barangkali egois dan menunjukkan mayoritas lebih maslahat dan kelihatan jihad ketimbang menghimpun dan menyalurkan dana dikeluarkan hari ini bagi anak-anak yatim: jalan jihad yang ini kali sepi tanpa kegaduhan hanya karena seorang non muslim bernama Ahok. Adakah ia gajah dan kita semut?

Penulis adalah Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Selasa, 24 November 2009

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan

Serang, Haedar Nashir

Sekitar 150 pelajar dan mahasiswa NU yang menamakan diri “Aliansi Mahasiswa dan Pelajar Peduli Pendidikan” berunjuk rasa di kawasan Kota Serang, Banten, Kamis (2/5) siang. Mereka menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional.

Aksi yang digelar bersamaan dengan hari pendidikan nasional (Hardiknas) ini diikuti peserta gabungan dari Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Serang, serta Pimpinan Komisariat  IPNU dan Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Akbaruddin, salah seorang pemimpin aksi, menilai pendidikan di Tanah Air masih belum sejalan dengan semangat konstitusi. Menurut dia, pemerintah masih gagal dalam hal pengelolaan, khususnya terkait persoalan kurikulum, sistem evaluasi belajar, dan infrastruktur pendidikan.

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan

“Perhatian dari pemerintah terkait permasalahan pendidikan yang melanda negeri ini kurang sekali, padahal pendidikan sangat penting untuk membangun peradaban bangsa,” kata Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah IPNU Banten ini.

Peserta aksi berpendapat bahwa ada kesenjangan antara peraturan dan realitas pendidikan yang ada. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, mereka menuntut pemerintah segera bertindak serius.

Butir tuntutan para pelajar dan mahasiswa NU ini, antara lain, berisi desakan kepada pemerintah agar memaksimalkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); tetap mempertahankan mata pelajaran muatan lokal, IPA, dan IPS; dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar yang berkompeten.

Haedar Nashir

Selain mengkritik soal pemerataan dan infrastruktur pendidikan yang tidak maksimal, peserta aksi juga menuntut penuntasan kasus carut-marutnya ujian nasional (UN) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir