Jumat, 21 Maret 2008

LPBI NU Buka Dua Cabang Bank Sampah Nusantara

Sumedang, Haedar Nashir - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU kembali membuka dua cabang Bank Sampah Nusantara (BSN). Keduanya berdiri di lokasi berbeda, satu di Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Tanjungkerta, dan satu di kantor sekretariat PCNU Sumedang Jalan Kutamaya Nomor 25 Kompleks Islamic Center Sumedang.

Sebelum pembukaan dua cabang baru di Sumedang tim BSN LPBI NU yang diwakili oleh Manajer Marketing Ai Rosita menyampaikan sosialisasi materi pengelolaan BSN mulai dari manajemen operasional, manajemen produksi, dan manajemen pemasaran, dan Pengelolaan Sampah Plastik dengan Metode Ecobricks.

LPBI NU Buka Dua Cabang Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Buka Dua Cabang Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Buka Dua Cabang Bank Sampah Nusantara

Sementara Manajer Produksi LPBI NU Yusuf Dullahi menyampaikan materi dan praktik pembuatan produk daur ulang barang bekas untuk dijadikan kerajinan tangan yang unik dan bernilai. Koordinator Divisi Organik M Lukman juga mempresentasikan materi dan praktik pembuatan kompos.

Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dullah menyampaikan bahwa sejak bencana di Sumedang dan dengan kehadiran pengurus pusat LPBI NU kerja sama yang baik dimulai.

Haedar Nashir

“Sampah organik bisa dikelola dengan membuat kolam ikan dan sampah nonorgnanik kita bisa peroleh idenya dengan pelatihan seperti penyelesaian botol-botol plastik. Jika sampah itu dikelola dengan baik, akan bernilai untuk masyarakat. Semoga ini awal untuk menyelasaikan masalah sampah di Sumedang,” kata Sa’dullah.

Haedar Nashir

Peluncuran dua cabang BSN LPBI NU di Sumedang ini berlangsung pada Selasa-Rabu (16-17/5). Tampak hadir guru-guru LP Maarif NU se-Kabupaten Sumedang, dan pengurus lembaga dan banom? NU, serta seluruh siswa dan santri.

BSN LPBI NU yang dirintis sejak Maret 2016 tahun lalu sudah membuka 20 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Direktur BSN LPBINU Fitria Ariyani berharap pada tahun 2017 ini terbentuk 40 cabang di seluruh Indonesia. Hal itu Itu akan diwujudkan dengan? keliling ke berbagai daerah khususnya Jawa Timur. Sudah? ada lima pesantren yang sudah didata dan bersedia.

Hingga saat ini BSN LPBI NU terus menyosialisasikan pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. (Anty Husnawati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Kajian Islam, News Haedar Nashir

Kamis, 13 Maret 2008

Gus Mus: Tetaplah Menjadi Orang Desa

Jepara, Haedar Nashir. Pejabat Rais Am PBNU KH A Mustofa Bisri mengajak masyarakat untuk tetap menjadi orang pedesaan. Menurutnya, orang desa memiliki sikap menjaga nilai-nilai kesetiakawanan dan kesederhanaan.

"Ajaran Rasulullah itu kebanyakan yang melaksanakan orang desa. Contoh kecil, memuliakan tamu, itu orang desa. Sementara orang kota tidak sempat," katanya dalam kuliah umum tahun akademik 2014/2015 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) di Gedung Haji Tahunan Jepara, Rabu (29/10).

Gus Mus: Tetaplah Menjadi Orang Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Tetaplah Menjadi Orang Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Tetaplah Menjadi Orang Desa

Kiai yang biasa disapa Gus Mus ini mengatakan, untuk menyongsong generasi Indonesia emas kita harus tetap mengidolakan pedesaan dan mengenyampingkan perkotaan. "Sekarang ini ada serbuan orang kota men-desa-kan, kok malah kita menjadi kota. Hanya orang desa yang mempunyai kesetiakawanan dan kesederhanan," tandas pengasuh pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang ini.

Haedar Nashir

Gus Mus mencontohkan, jati diri Nahdlatul Ulama adalah organisasi desa yang sering diolok-olok sebagai Islam tradisionalis. Meskipun banyak tokoh NU yang menjadi DPR, pemikir di kota ataupun pimpinan ormas, namun jati diri sebagai orang desa tidak pernah hilang.

"Karenanya, kami berharap Unisnu betul-betul mampu mencetak kader-kader NU yang sadar desa dan membangun desa di kota," tandasnya.

Haedar Nashir

Di depan ratusan civitas akademika Unisnu ini, Gus Mus juga mengajak selalu menerapkan gaya hidup sederhana. Hal ini dimaksudkan untuk mengubah kondisi bangsa yang terdidik selama 32 tahun mencintai hidup berlebih-lebihan.

"Tanpa diubah dengan kesederhanaan, siapapun pemimpinnya  jangan berharap bangsa ini bisa berubah menjadi baik," tegas kiai yang budayawan itu.

Jika ingin membangun atmosfer generasi yang luar biasa, kata Gus Mus, harus dimulai menerapkan nilai-nilai kecintaan hidup sederhana. "Sebagai mana keteladanan Rasulullah, pimpinan bangsa ini harus memulai  mengajarkan kesederhanaan. Insya Allah, rakyat bisa sejahtera," tegasnya lagi.

Kuliah umum bertema "Membangun Atmosfer Akademik dan Generasi yang Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045" diikuti seluruh mahasiswa Unisnu. Tampak hadir dalam acara ini, rektor Unisnu H. Muhtarom, ketua umum Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YAPTINU) H. Ali Irfan dan tamu undangan lainnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Makam Haedar Nashir

Minggu, 09 Maret 2008

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

Surabaya, Haedar Nashir. Respon masyarakat terhadap keberadaan Aswaja NU Center demikian menggembirakan. Hal mendesak yang harus segera dilengkapi adalah ketersediaan pemateri yang bisa setiap saat dihadirkan.

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center Jawa Timur Bentuk Tim Narasumber

"Karena itu untuk periode ini kami membentuk tim narasumber," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9) petang. Keberadaan tim tersebut sebagai proses regenerasi sekaligus memberikan jaminan bagi ketersediaan pemateri yang sesuai spesifikasi, lanjut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini.

Ada tiga tugas utama dari tim yang beranggotakan 13 orang tersebut. "Pertama adalah memberikan tulisan tentang materi keaswajaan untuk dimuat di sejumlah media sosial," kata Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. Diharapkan lewat penjadwalan yang rutin, maka setiap narasumber bisa berbagi sudut pandang terkait masalah keaswajaan. "Khususnya yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial," lanjutnya.

Sedangkan tugas kedua adalah menyiapkan materi yang disampaikan dalam bentuk shoting video. "Konten atau isinya seputar Aswaja yang akan dishare di yuotube serta Aswaja TV," kata Kiai Navis, sapaan akrabnya. Dengan jumlah nara sumber yang tersedia, diharapkan setiap hari ada materi singkat seputar Aswaja yang disampaikan lewat audio visual tersebut.

Haedar Nashir

Dan yang juga tidak kalah penting adalah keberadaan mereka bisa menjadi narasumber pada kegiatan pendalaman materi yang dikelola Aswaja NU Center. "Karena banyak radio, televisi, sekolah, masjid atau mushalla serta jamaah pengajian yang berkeinginan mendapat pendalaman Aswaja," ungkapnya.

Keberadaan tim narasumber tersebut dibahas secara khusus pada kegiatan taaruf dan rapat kerja (raker) PW Aswaja NU Center Jatim di kantor setempat. Sejumlah nama yang dipercaya sebagai anggota antara lan KH Romadhon Khotib, Ustadz Fathul Qodir, Ahmad Muntaha AM, Nur Fauzi, Multazam Muslih, M. Luqmananul Hakim, HM Nasir Elhaq Abdi, Kholili Hasib, H Abd. Qodir Mahrus, M Syakur Dewa, M Badrul Munir, juga Hj. Mutimmah Faidah.

Kiai Navis juga mengingatkan bahwa para anggota hendaknya lebih peka terhadap problematika keumatan khususnya yang mengemuka di media sosial atau medsos. "Karenanya, harus ada yang ditugasi khusus untuk melakukan pemantauan untuk menangkap problem keumatan yang sedang hangat diperbincangkan," harap dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Olahraga, Pertandingan Haedar Nashir