Minggu, 27 Februari 2011

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta

Jakarta, Haedar Nashir. Acara lelang zakat yang diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU berhasil menggalang dana sebanyak 200 juta. Jumlah tersebut berhasil dikumpulkan hanya dalam waktu 45 menit sesaat sebelum berbuka puasa.

Acara lelang zakat yang dipandu oleh Dewi Hughes tersebut merupakan bagian dari launching sekaligus pelantikan Lazis NU. Hadir dalam acara tersebut Wapres Jusuf Kalla yang sebelumnya telah menyerahkan zakat keluarganya untuk didistribusikan oleh Lazis NU.

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelang Zakat Lazis NU Raih 200 Juta

Menakertrans Erman Suparno dan Bos RCTI Hary Tanoesubrata masing-masing menyerahkan 25 juta. Para pengurus PBNU tak ketinggalan menyerahkan zakatnya untuk didistribusikan melalui Lazis NU. LP Maarif NU juga menyerahkan dana sebesar 5 juta rupiah yang selanjutnya diikuti oleh beberapa lembaga NU lainnya seperti LDNU dengan sumbangan 5 juta dan Lakpesdam NU dengan nilai 2 juta.

“Kita harus menjemput bola dalam mengelola zakat dan selanjutnya kita harus bisa membuat mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pezakat),” tandas Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dalam sambutannya.

Dikatakannya bahwa untuk mengembangkan potensi ekonomi tersebut harus memberikan stimulan agar terjadi perubahan ekonomi. Dalam hal ini NU memiliki cita-cita untuk mengembangkan baytul qiroth atau lembaga keuangan mikro yang bisa membantu perekonomian nahdliyyin di tiap-tiap Majelis Wakil Cabang (MWC).

“Dari yang mustahik bisa menjadi pengusaha kecil, yang pengusaha kecil bisa menjadi pengusaha menengah dan yang menengah bisa menjadi besar,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Terdapat empat bidang yang menjadi bidang kerja NU meliputu pemberdayaan ekonomi ummat, peningkatan kualitas pendidikan kaum mustadzafin, jaminan kesehatan dan bantuan sosial kemanusiaan.

Haedar Nashir

Pedagang kaki lima, petani, peternak dan nelayan dan home industri adalah mereka yang menjadi sasaran pengembangan ekonomi sementara santri dan siswa diniyah dan guru-guru madrasah diniyah adalah mereka yang menjadi fokus perhatian dalam bidang pendidikan.

Sebagian dana juga dialokasikan untuk mengirimkan guru agama ke daerah terpencil dan pesantren di daerah minoritas dan untuk peningkatan fisik pendidikan dan tempat ibadah.

Gizi burung dan busung lapar akan menjadi bagian program jaminan kesehatan. Ustadz dan kyai mustadzafin yang telah mengabdikan hidupnya untuk agama juga akan mendapat layanan kesehatan.

Sementara itu, Bantuan social kemanusiaan akan difokuskan pada bantuan logistic kaum mustadzafien, korban bencana, janda, manula dan kaum cacat. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Rabu, 23 Februari 2011

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lumajang menilai pentingnya mengaji ulang setiap kebijakan penambangan pasir di daerah setempat. Kajian tersebut tak hanya pada aktivitas yang ilegal, tapi juga penambangan yang telah mendapatkan izin resmi.

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Sikap ini mencuat menyusul aktivitas penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur, yang berujung pada tragedi pembunuhan terhadap aktivis penolak tambang bernama Salim alias Kancil di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang.

Menurut Ketua PCNU Lumajang Syamsul Huda, di samping aspek keselamatan lingkungan, kajian ulang juga diperlukan untuk mencegah timbulnya konflik di masyarakat yang sebagaimana yang terjadi sepekan lalu. Apalagi, ia juga menengarai adanya indikasi pelanggaran terhadap pemberian izin tambang yang selama ini ada.

Haedar Nashir

“Saya mencium ada indikasi (pelanggaran itu) sehingga tambang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja,” tutur Syamsul saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (2/10), usai rapat koordinasi terkait peristiwa pembunuhan terhadap Salim “Kancil” (52) dan penganiayaan terhadap Tosan (51).

PCNU Lumajang memandang, segenap eksplorasi lingkungan mesti mempertimbangkan segi maslahat dan mudaratnya, di samping peraturan tertulis mengenai hal itu. PCNU Lumajang berharap ada penataan ulang terkait aksi penambangan di kabupaten yang berbatasan dengan Samudera Hindia di sisi selatan ini. (Mahbib Khoiron)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 18 Februari 2011

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari, yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim (2015) mepaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratussyaikh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing.

Haedar Nashir

Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Al-Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratusyaikh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjukklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni pondok Tebuireng, yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri.? (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Berita, Internasional Haedar Nashir

Sabtu, 05 Februari 2011

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba

Jombang, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang menggelar pertemun internal dengan kadernya dari seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mereka dipertemukan pada Seminar Anti Narkoba HIV/AIDS & Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba di Gedung Pertemuan Bung Tomo Pemkab Jombang, Sabtu (29/11).

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba

Acara ini berawal dari pemikiran PC GP Ansor Jombang bahwa sebagai pemuda nahdliyin harus mejadi pelopor di setiap lini kehidupan bermasyarakat, terlebih keterlibatan dalam pencegahan barang haram seperti narkoba.

“Kota yang mempunyai ratusan pesantren seperti Jombang ini, sudah seharusnya menjadi percontohan dengan kebersihannya dari narkoba. Maka seluruh kader Ansor juga harus menjadi pelopor pemberantasan narkoba ini,” kata Zulfikar Damam Ikhwanto, ketua PC GP Ansor Jombang.

Haedar Nashir

Kegiatan yang juga dalam rangka konsolidasi gerakan Ansor Jombang ini dibuka oleh Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab. Dalam sambutannya, ketua Badan Narkotika Kabupaten Jombang ini mengapresiasi terobosan yang dilakukan Ansor.

Haedar Nashir

“Selain menjadi pelopor anti narkoba, pemuda Ansor harus melakukan gerakan-gerakan pendidikan dan pelatihan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat ,” terang mantan Ketua Muslimat cabang Jombang ini.

Sementara Muslimin Abdilla, Sekretaris Tanfidiyah PCNU Jombang yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mendorong Ansor untuk memperkuat organisasi. “PCNU berharap seluruh banomnya terus berbenah menata organisasi dan anggotanya. Salah satu langkah yang bisa diambil memperkuat akidah, sosial dan ekonomi anggota dan masyarakat, ” papar Muslimin.

Selain ratusan kader Ansor yang hadir dalam forum ini, Kasat Reserce Narkoba Polres Jombang AKP Hariyono dan dokter Imam Ali Affandi juga diundang mengisi materi seminar anti narkoba yang spesifik menjelaskan tentang HIV/AIDS dan berbagai hal tentang narkoba. (Romza/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 04 Februari 2011

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah

Ain Issa, Haedar Nashir - Nurshardrina Khairadhania memberitahu keluarganya begitu sebuah konten di internet memikat hatinya. Gadis 17 tahun itu meyakinkan ke orang tua, saudara perempuan, bibi, paman, dan sepupunya bahwa mereka harus pindah ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Mimpi tentang perubahan nasib pun terpampang di depan mata mereka, mulai dari pendidikan gratis, pelayanan kesehatan, hingga prospek perbaikan ekonomi. Yang terpenting, tentu saja, adalah kesempatan hidup dalam apa yang mereka anggap sebagai masyarakat Islam ideal yang ditopang kekuasaan. Ajakan Nurshardrina berhasil. Lebih dari 20 anggota keluarga akhirnya berangkat ke sana.

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah

Dalam waktu yang relatif singkat, mimpi-mimpi itu hancur ketika apa yang dijanjikan informasi di internet itu ternyata tak ada. Sebaliknya, yang terpampang justru adalah para gadis dipaksa menikah dengan pejuang ISIS, para pria didorong maju di medan pertempuran, serta kebrutalan dan ketidakadilan lainnya.

Haedar Nashir

Hanya beberapa bulan setelah tinggal di sana, mereka berusaha untuk melarikan diri. Selama waktu itu pula Nur, sapaan akrab Nurshardrina Khairadhania, berpisah dengan orang-orang tersayangnya satu persatu. Neneknya meninggal dunia dan pamannya terbunuh dalam serangan udara.

"ISIS menyebarkan hanya yang bagus-bagus di internet," kata perempuan berhijab itu kepada AP, sebagaimana dikutip Haedar Nashir, Jumat (6/8).

Nurshardrina Khairadhania kini berusia 19 tahun. Ajakan Nur kepada keluarga besarnya untuk bergabung dengan ISIS di Raqqa, Suriah, dua tahun lalu, masih segar di ingatannya. Sungguh ia kecewa berat dengan realitas yang dihadapinya sekarang.

Haedar Nashir

Kini Nur tinggal bersama ibunya, dua saudara perempuan, tiga bibi, dan dua sepupu perempuan beserta ketiga anak mereka di Ain Issa, sebuah kamp milik pasukan pengungsi Kurdi yang berusaha mengusir ISIS dari Raqqa. Ayahnya dan empat saudara sepupu yang masih hidup berada dalam tahanan di utara sana. Saat para pria diinterogasi pasukan Kurdi terkait kemungkinan ada hubungan dengan ISIS, para wanita menunggu di sebuah tenda yang panas nan pengap, sambil berharap keluarga itu bisa bersatu lagi dan pulang ke rumah mereka di Jakarta.

Keluarga Nur hanyalah sebagian kecil di antara ribuan orang dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Timur Tengah yang mengejar impian "masyarakat Islam" baru yang dipromosikan ISIS lewat video propaganda, blog online dan media sosial lainnya. Saat mereka tiba di sana, pemandangan yang tampak adalah fenomena pemenggalan kepala secara brutal, penculikan, dan perbudakan perempuan oleh ISIS.

Semula Nur dan saudara perempuannya mengira pemandangan mengerikan semacam itu hanyalah kampanye murahan orang-orang yang tak suka dengan "khilafah Islam" yang baru lahir.

"Saya takut melihatnya. Pertama kali saya kira itu adalah kelompok lain... Pembenci ISIS," kisah Nur.

Masih terngiang di benaknya, beberapa bulan setelah para ekstremis menyatakan "kekhalifahan" di wilayah jajahan mereka di Suriah dan Irak pada musim panas 2014, Nur menyodorkan janji manis yang ada di blog ISIS kepada keluarganya: saudaranya yang berusia 21 tahun dapat melanjutkan pendidikan komputernya secara gratis. Sepupunya yang janda, Difansa Rachmani (32), bisa memperoleh perawatan kesehatan gratis untuk dirinya dan ketiga anaknya yang salah satunya menderita autisme.

Pamannya juga diharapkan bisa lepas dari lilitan utang yang ia keluarkan untuk menyelamatkan bisnis montir mekaniknya di Jakarta—bahkan bisa membuka bisnis baru serupa di Raqqa dengan bayangan permintaan bakal tinggi untuk keperluan senjata bom mobil yang biasa digunakan pasukan ISIS.

Keluarga itu pun menjual rumah, mobil, dan perhiasan emas mereka.? Dana pun berhasil terkumpul 38.000 dollar AS atau sekitar setengah miliar rupiah dan digunakan untuk perjalanan ke Turki lalu ke Suriah.

Tapi begitu sampai di Turki, pertengkaran pertama dimulai soal bagaimana atau apakah perlu menyelinap ke Suriah. Tujuh kerabat nekat mengambil keputusan sendiri dan akhirnya ditahan pihak berwenang Turki saat mencoba melewati perbatasan secara ilegal. Mereka dideportasi kembali ke Indonesia dan merasa selalu diawasi karena sisa keluarga mereka tinggal di wilayah ISIS.

Kisah tentang keluarga yang tercerai berai pun dimulai. Setelah tiba di wilayah kelompok ISIS pada Agustus 2015, keluarga tersebut dipencar lagi: para pria diperintahkan untuk mengikuti kelas pendidikan Islam, dan akhirnya dipenjara selama berbulan-bulan karena menolak pelatihan dan pengabdian militer. Setelah dibebaskan, mereka hidup dalam persembunyian demi menghindari rekrutmen paksa atau hukuman penjara baru. Sementara itu, para wanita dan anak perempuan dikirim ke asrama wanita.

Nur kaget dengan kehidupan di asrama yang dikelola ISIS. Para wanita kerap cekcok, bergosip, saling curi dan terkadang malah bertengkar dengan pisau. Nama Nur dan saudara perempuannya yang berumur 21 tahun dan sepupunya yang janda karena cerai, masuk ke dalam daftar calon istri pejuang ISIS. Para wanita harus siap ketika anggota milisi itu mengajukan permintaan istri, bahkan meski tanpa menemui mereka terlebih dahulu.

"Ini gila! Kami tidak tahu siapa mereka. Kami tidak tahu latar belakang mereka. Mereka ingin menikah dan menikah," katanya.

"ISIS cuma pengen tiga hal: wanita, kekuasaan, dan uang," kata Nur dan sepupunya, Rachmani, serentak.

"Mereka bertingkah seperti Tuhan," Nur menambahkan. "Mereka membuat hukum sendiri... Mereka sangat jauh dari Islam. "

Di sebuah pusat keamanan yang dikelola pasukan Kurdi di Kobani, utara Raqqa, sepupu Nur yang berusia 18 tahun mengaku bahwa tinggal di bawah ekstremis seperti hidup dalam "penjara".

"Kami (tidak) ingin pergi ke Suriah untuk perang," kata pria itu yang tak mau disebut namanya karena alasan keamanan. "Kami hanya ingin hidup di negara Islam. Tapi ini sungguh bukan negara Islam. Ini ketidakadilan, Muslim memerangi sesama Muslim." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Berita, Warta Haedar Nashir