Minggu, 22 Mei 2011

Pesantren Tremas Gelar Haflah Nasional

Pacitan, Haedar Nashir. Perguruan Islam Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur menggelar Haflah Nasional Akhiruddirosah dan Wisuda Purna Belajar santri? tahun pelajaran 1434 H/2013 M, pada Sabtu malam (29/6).

Pesantren Tremas Gelar Haflah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Haflah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Haflah Nasional

Kegiatan tersebut dihadiri seluruh wali santri kelas III Madrasah Salafiyah Mu’adalah dari seluruh indonesia, para alumni, dan santri. Para hadirin berduyun-duyun mendatangi komplek Perguruan Islam PondokTremas Pacitan untuk mengikuti jalanya kegiatan tahunan itu.

Walaupun hujan deras sempat turun diawal acara, namun tidak menyurutkan semangat para hadirin dan kemeriahan acara Haflah.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, sebanyak 164 santri kelas III Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah diwisuda sebagai bentuk formal? telah menyelesaikan jenjang pendidikan diPerguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.

Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan KH.Fuad Habib dalam sambutanya berharap, bahwa para santri yang sebentar lagi lulus dari pondok untuk terus melanjutkan menuntut ilmu, karena dalam agama, tidak ada bahasa cukup dalam menuntut ilmu.

Haedar Nashir

“Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya, bukan wajib 9 atau 12 tahun, Tapi Minal Mahdi Ilal Lahdi,dari bayi hingga meninggal dunia nanti”demikian kata beliau.

Pendiri, pelajar pertama Indonesia di AL-Azhar

Haflah Akhiruddirosah diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang disampikan oleh KH.Luqman Harist Dimyathi, Pimpinan Majlis Ma’arif Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.

Dalam pidatonya yang berlangsung 45 menit itu, ia menyampaikan banyak hal. Salah satunya mengulang kembali tentang ketokohan Pendiri Pondok Tremas, KH. Abdul Manan Dipomenggolo yang mashur itu.

Dalam buku yang dimilikinya; Jauh di Mata Dekat di Hati, cetakan Kedutaan Besar RI di Kairo Mesir di situ ditulis bahwa KH. Abdul manan, Pendiri PondokTremas adalah salah satu komunitas pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1850 M,” katanya disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Selain itu, Gus Luqman yang menjabat? sebagai Sekjen dalam kepengurusan Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah se-Indonesia, menyatakan bahwa ijazah Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan dari mulai pendidikan TK sampai Perguruan Tinggi sudah? diakui oleh Negara Republik Indonesia.

“Katakan kepada dunia, bahwa di Tremas mulai dari TK sampai perguruan tinggi ijazahnya maa fil muskilah, tidak ada masalah. Sudah diakui oleh negara Republik Indonesi.”

Kiai muda yang duduk sebagai A’wan Syuriah PWNU Jawa Timur menambahkan, hal itu sebagai bentuk penghargaan negara kepada pesantren melalui status pesantren Mu’adalah.

Di Indonesia saat ini pesantren yang mendapatkan status Pesantren Mu’adalah sesuai dengan SK terbaru dari Dirjen Pendis, Kemenag RI terhitung bulan januari hanya ada 32 pesantren. Salah satunya adalah Pondok Tremas.

Sementara itu, acara Haflah Akhiruddirosah dan Wisuda Purna Belajar santri baru berakhir padapukul 02.15 dini hari.

Redaktur: Abdullah Alawi

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Sejarah, Hikmah Haedar Nashir

Selasa, 17 Mei 2011

Pelajar NU Pacitan Kaji Islam Nusantara

Pacitan, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Pacitan menggelar pembacaan Barzanji dan shalawat dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung MUI, Pacitan, Senin (28/12) malam. Pada kesempatan ini mereka mengangkat Islam Nusantara sebagai bahan kajian.

Ketua IPNU Pacitan Amrudin mengatakan, pasca-Muktamar Ke-33 NU di Jombang warga NU tidak asing lagi dengan istilah Islam Nusantara. Sebuah istilah yang merujuk pada Islam yang menjaga dan menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia. "Pada kesempatan ini Islam Nusantara akan kita kaji agar keyakinan kita semakin bertambah kuat," ujarnya.

Pelajar NU Pacitan Kaji Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Pacitan Kaji Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Pacitan Kaji Islam Nusantara

Ketua PCNU Pacitan KH Mahmud mengingatkan bahwa tantangan NU ke depan bukan lagi hanya menghadapi paham keagamaan yang tidak mau melakukan amaliyah maulid nabi. Tetapi tantangan berat yang harus dipikirkan adalah perihal pendidikan karakter, masalah ekonomi, dan paham radikalisme.

Haedar Nashir

"Hanya NU dengan budaya Islam Nusantara-nya yang menjadi satu-satunya benteng pertahanan di Indonesia, yang mampu menjaga dan menghadapi tantangan itu," jelas dosen STAINU Pacitan itu.

Sementara Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits mengajak generasi muda NU untuk memahami dan menjaga tradisi Islam Nusantara. Membaca Barzanji merupakan warisan ulama Nusantara. “Kitab Barzanji itu asli NU, di pesantren seperti Tremas, Tebuireng, semuanya masih memakai Barzanji ini,” jelasnya.

Haedar Nashir

Koordinator gerakan nasional Ayo Mondok itu mengatakan, banyak shalawat dan syair dalam kitab Barzanji yang oleh kebanyakan masyarakat bahkan para santri masih dibaca dengan ala kadarnya tanpa memperhatikan tata cara membaca seperti yang telah diwariskan oleh ulama Nusantara terdahulu.

“Ulama terdahulu sangat memperhatikan kaidah dan keindahan dalam membaca shalawat. Sehingga shalawat yang dibaca dengan kaidah yang benar akan mudah merasuk di dalam hati,” imbuhnya.

Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan itu mengajak hadirin untuk selalu menjaga tradisi warisan ulama Nusantara yang sampai saat ini masih sangat relevan untuk dilakukan. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Amalan, News Haedar Nashir

Rabu, 11 Mei 2011

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan

Solo, Haedar Nashir - Banyak nama untuk penyebutan Bulan Ramadhan antara lain syahrus shiyam (bulan puasa), syahrul ibadah (bulan ibadah), syahrur rahmah (bulan penuh rahmat), syahrul Qur’an (bulan Al-Quran pertama kali diturunkan) dan lain sebagainya.

Banyaknya nama penyebutan itu menjadi salah satu ciri dari kemuliaan Ramadhan. “Ada ungkapan katsratul asma’ tadullu ‘ala syarafil musamma, banyaknya nama menunjukkan atas mulianya yang dikasih nama,” tutur Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Laweyan Kota Surakarta KH Agus Himawan kepada Haedar Nashir, Ahad (5/6) lalu.

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyaknya Nama Tandai Kemuliaan Ramadhan

Pengajar di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan ini menambahkan, sudah semestinya umat Islam menyambut gembira kedatangan bulan Ramadhan. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang dalam beberapa keterangan disebutkan, mereka telah bersiap menyambut kedatangan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya.

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa kembali agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan,” kata dia.

Haedar Nashir

Momentum bulan Puasa ini, lanjutnya, dapat digunakan untuk memperbanyak amalan ibadah.

Haedar Nashir

“Ini adalah bulan saling menolong, diterangkan dalam sebuah hadist, ‘Barang siapa memberi makanan berbuka untuk orang berbuka puasa berupa seteguk susu, atau sebutir kurma, atau seteguk air, maka Allah memberinya minuman dari telaga Nabi Muhammad SAW yang ia tidak akan kehausan sehingga masuk ke dalam surga,’” terangnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Ahlussunnah Haedar Nashir