Kamis, 18 Juni 2015

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami

? Jakarta, Haedar Nashir. Menyikapi beberapa kejadian terkait pelaksanaan pendidikan di sekolah sungguh sangat memperihatinkan. Terutama yang akhir-akhir ini banyak menyedot perhatian publik, terkait dugaan kekerasan oleh oknum guru terhadap murid, atau sebaliknya murid yang semena-mena terhadap guru.?

Ujung dari kejadian itu, seperti kasus yang terjadi beberapa bulan lalu yaitu ada orang tua melaporkan guru atas dugaan melakukan kekerasan kepada anaknya seperti yang baru ini terjadi di Sidoarjo Jawa Timur. Begitu juga di Sulawesi, seorang mahasiswa membunuh dosennya.

Hasil diskusi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menyimpulkan bahwa kejadian yang kontra dengan Adab Tholabul Ilmi tersebut disebabkan karena adanya mis understanding warga pendidikan akan substansi undang-undang dan peraturan yang menyangkut perlindungan anak, HAM, dan demokrasi.?

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami

“Misalnya orang tua sering menuntut pelayanan prima terhadap guru atau sekolah atas anaknya, tapi kadang mereka sayang anak yang berlebihan, maka perlakuan yang bertujuan mendidik anak sering kali tidak didukung, atau bahkan ada yang tidak terima atas nama kekerasan, pemaksaan, dan lain-lain yang pada ujungnya mejadi tindakan hukum,” ujar Aris Adi Leksono, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Sabtu (6/8).

Faktor berikutnya, imbuh Aris, adalah pengaruh negatif pemberitaan media cetak atau elektronik. Media terlalu belebihan di dalam pemberitaan kasus guru dan siswa yang berkonotasi pada kekerasan atau tindakan semena-mena lainnya, akibatnya kejadian yang sifatnya kasuistik dan masih banyak jalan keluar yang bisa diselesaikan dengan dialog dipaksa untuk masuk ke ranah hukum.?

“Buktinya sekarang semakin sering orang tua ? melaporkan guru atas tindakan yang hakikatnya bertujuan mendidik,” jelasnya.

Haedar Nashir

Untuk itu, tambahnya, Pergunu DKI Jakarta menghimbau kepada warga pendidikan, baik orang tua, pemerintah, maupun guru untuk menjaga "marwah" pendidikan. Ulama terdahulu sudah mengajarkan bagaimana adab tholabul ilma dengan baik dan benar. Dalam kitab talimul mutaallim misalnya sudah sangat jelas bagaimana seharusnya hubungan orang tua dengan guru, adab murid terhadap guru, dan lainya. Marwah pendidikan yang akan menghantarkan suksesnya anak di masa mendatang. Hal ini bisa terwujud jika ada sinergi yang baik antara orang tua dan guru.?

Haedar Nashir

"Orang tua harusnya pasrah sepenuhnya atas pendidikan anaknya ketika di sekolah kepada guru, karena hakikatnya tidak ada guru yang sengaja atau berkehendak melakukan kekerasan atau menyakiti anak ketika mendidik,” terang Aris yang juga guru di MTsN 34 Jakarta ini.

Lebih lanjut, Aris menegaskan agar orang tua tidak "cinta buta" pada anaknya. Akibatnya semua aduan anak dipercaya begitu saja, tanpa melakukan kroscek kebenaran dan kepatutan. Tindakan reaksioner orang tua justru akan merugikan dirinya dan anaknya, terutama untuk menghantarkan sukses di masa depan.

“Ingat marwah pendidikan sangat ditentukan kemualian warganya, disinilah pentingnya sinergi yang baik antar-steakholder pendidikan,” tandas Aris. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Sholawat, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 16 Juni 2015

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam.

Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung.

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang.

Haedar Nashir

Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustopa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial.

Haedar Nashir

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustopa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci.  Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika.

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya.

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. Sudah 36 tahun Ajengan Ruhiat, ajengan patriot dan pejuang itu meninggalkan kita. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Sholawat, Humor Islam Haedar Nashir

Rabu, 10 Juni 2015

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Jember, Haedar Nashir - Setelah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember sukses beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, kini tengah diupayakan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Menurut Rektor IAIN Jember, Babun Suharto, segala persiapan sudah dilakukan, mulai dari pengembangan sarana dan prsarana fisik hingga penambahan progam-program studi umum.

Dikatakannya, dorongan dan keinginan masyarakat untuk meningkatkan status IAIN Jember menjadi UIN, sungguh besar. “Tentu itu merupakan spirit bagi kami selaku pimpinan, untuk berjuang keras agar dalam waktu yang tidak lama, IAIN Jember sudah naik menjadi UIN Jember,” terangnya kepada Haedar Nashir di sela-sela mendampingi Wakil Bupati Jember Mukit Arief saat mengunjungi IAIN Jember, akhir pekan lalu.

Mantan Ketua GP Ansor Jember itu manambahkan, antusiasme dan kepercayaan masyarakat cukup besar untuk “menitipkan” anaknya dididik di kampus IAIN Jember. Tahun akademik 2016/2017 ini, ungkapnya, mahasiswa yang mendaftar dari tiga jalur yang disediakan, mencapai sekitar 12 ribu orang.

“Namun yang diambil hanya 1800 mahasiswa. Dari 1800 mahasiswa itu, beberapa orang di antaranya berasal dari Thailand,” ungkapnya.

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Sementara itu, Mukit Arief menyatakan sangat mendukung agar IAIN Jember secepatnya diusahakan naik status menjadi UIN Jember. Menurutnya, perkembangan IAIN Jember saat ini sungguh luar biasa, terutama dari sisi pembangunan fisik.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tukas Mukit, kondisi IAIN Jember saat ini sudah sangat jauh berkembang. “Sebagai Warga Jember, tentu kami sangat bangga. Karena kampus ini juga memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan sumber daya manusia warga Jember,” katanya.

A’wan Syuriyah PCNU Jember itu berharap kepercayaan masyarakat yang begitu besar terhadap IAIN Jember harus menjadi pemicu bagi pimpinan lembaga tersebut untuk terus meningkatkan dan mengembangkan lembaga yang dikelolanya. Ia yakin dalam sekian tahun ke depan, IAIN Jember akan sejajar dengan universitas-universitas negeri.

Haedar Nashir

“Saya mendukung penuh agar IAIN Jember menjadi UIN.” jelasnya. (aryudi a. razaq)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Kajian Haedar Nashir

Selasa, 02 Juni 2015

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme

Magelang, Haedar Nashir. Pada acara giat wawasan yang diselenggarakan di arena Perwimanas II, Kamis (21/9), peserta kemah diajak untuk meningkatkan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berkesempatan mengisi acara giat wawasan tersebut, Kolonel Armed Joko Purnomo dari Akademi Militer Magelang.

“Era sekarang perangnya bukan lagi adu otot, tapi proxy war. Indonesia ini ibarat gadis cantik yang diperebutkan banyak negara lain,” kata Kolonel Joko.

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Ma’arif NU Didorong Terus Jaga Nasionalisme

Menurut penuturan Kolonel Joko, Indonesia diserang oleh berbagai negara lain tapi bukan dengan tentara, tapi dengan narkoba, minuman keras, film-film tidak senonoh, dan lain sebagainya.

“Semua itu dilakukan untuk menghancurkan generasi muda Indonesia agar jadi generasi yang bodoh, malas, tidak mau belajar. Kalau generasi mudanya sudah hancur, sangat mudah sekali menguasai Indonesia,” tambah Kolonel Joko.

 

Haedar Nashir

Supaya negara ini besar, lanjut Kolonel Joko, semua komponen bangsa harus bahu-membahu membangun bangsa dan menjauhkan generasi muda dari barang-barang yang bisa merusak masa depannya. 

“Negara ini punya banyak pulau dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Ini butuh generasi muda yang cakap untuk mengurusnya di masa depan. Semoga Pramuka Ma’arif bisa menjawab tantangan itu,” ujar Kolonel Joko. 

Kolonel Joko mengajak segenap Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II untuk menjaga dan meningkatkan rasa nasionalisme, agar negara ini bisa menjadi negara besar yang disegani bangsa-bangsa lain di dunia.

“Belajar yang rajin, jangan sampai mencoba narkoba atau pun minum minuman keras. barang-barang itu semua merupakan senjata yang ampuh dari musuh-musuh Indonesia agar negara ini hancur,” tegas Kolonel Joko.

Haedar Nashir

Pada kesempatan tersebut, Kolonel Joko juga menerangkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini. Kolonel Joko berharap peserta bisa sadar dan berupaya memperbaiki keadaan.

“Negara ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Angklung misalnya, sudah digandrungi negara lain. Bahkan di Australia ada Fakultas Bahasa Jawa. Jangan sampai kalian yang orang Indonesia asli malah tidak merawatnya,” tandas Kolonel Joko. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Sholawat Haedar Nashir